Anda di halaman 1dari 53

LAPORAN AKHIR PRAKTIK KEBIDANAN FISIOLOGIS

ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN DAN BBL FISIOLOGIS


PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III PADA IBU “KS” UMUR 34
TAHUN DI PMB NI WAYAN DARSANI, S.ST

OLEH

Ni Kadek Mita Widiari (P07124218004)

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I.


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR
JURUSAN KEBIDANAN PRODI STR KEBIDANAN
2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat, rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan akhir
yang berjudul “Asuhan Kebidanan Persalinan dan BBL Fisiologis Primigravida
Trimester III pada Ibu “KS” umur 34 tahun di PMB Ni Wayan Darsani, S.ST”
tepat pada waktunya. Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih
banyak kekurangan, baik dari segi isi, penulisan maupun kata-kata yang
digunakan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan segala kritik dan saran yang
bersifat membangun guna perbaikan laporan ini lebih lanjut.
Penulis menyadari bahwa makalah ini dapat terwujud berkat bantuan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan
terima kasih kepada yang terhormat :
1. Dr. Ni Nyoman Budiani, M. Biomed, selaku Ketua Jurusan Kebidanan
Poltekkes Kemenkes Denpasar.
2. Ni Komang Erny Astiti, SKM, M.Keb selaku Penanggung Jawab Mata Kuliah
Praktik Kebidanan Fisiologis.
3. Ni Wayan Armini, S.ST., M.Keb, selaku Pembimbing Institusi Praktik
Kebidanan Fisiologis.
4. Ni Wayan Darsani, SST, selaku Pembimbing Lapangan di Praktik Mandiri
Bidan.
Semua pihak yang terlibat yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu
yang telah membantu dalam penyusunan laporan akhir praktik kebidanan fisiologis
ini. Semoga laporan ini bermanfaat untuk semua pihak. Akhir kata saya ucapkan
terima kasih.

Denpasar, Januari 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR..................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB I.............................................................................................................................1
PENDAHULUAN.........................................................................................................1
A. Latar Belakang....................................................................................................1
B. Tujuan.................................................................................................................3
C. Waktu dan Tempat Pengambilan Kasus.............................................................3
D. Manfaat Penulisan Laporan................................................................................3
BAB III..........................................................................................................................5
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................5
A. Konsep Dasar Persalinan....................................................................................5
B. Adaptasi Psikologi Ibu Bersalin.........................................................................9
C. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin......................................................10
D. Asuhan Persalinan............................................................................................13
E. Asuhan Bayi Baru Lahir...................................................................................25
BAB III........................................................................................................................30
TINJAUAN KASUS...................................................................................................30
A. DATA SUBJEKTIF.........................................................................................30
B. DATA OBJEKTIF............................................................................................34
C. ANALISIS........................................................................................................36
D. PENATALAKSANAAN..................................................................................36
CATATAN PERKEMBANGAN............................................................................37
BAB IV........................................................................................................................44
PEMBAHASAN..........................................................................................................44
BAB V.........................................................................................................................47
PENUTUP...................................................................................................................47
A. SIMPULAN......................................................................................................47
B. SARAN.............................................................................................................47
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................48

ii
iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu, pemerintah bertanggung jawab
agar setiap ibu memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas,
mulai sejak hamil, persalinan, perawatan pasca persalinan (nifas) serta
kesehatan bayi baru lahir. Kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil yang diperoleh
ibu hamil akan mempengaruhi kesehatan ibu beserta janinnya, bayi yang akan
dilahirkan serta kesehatan ibu nifas) (Dharmayanti et al., 2019).
Bencana non alam yang disebabkan oleh Corona Virus atau COVID-19 telah
berdampak meningkatnya jumlah korban dan kerugian harta benda. Di Indonesia,
kematian ibu dan kematian neonatal masih menjadi tantangan besar dan perlu
mendapatkan perhatian dalam situasi bencana COVID-19. Dalam situasi pandemi
COVID-19 ini, banyak pembatasan hampir ke semua layanan rutin termasuk
pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Maka dari itu, adaptasi kebiasaan baru
harus dilakukan agar masyarakat dapat melakukan kegiatan sehari-hari sehingga
dapat terhindar dari COVID-19. Dengan adaptasi kebiasaan baru diharapkan hak
masyarakat terhadap kesehatan dasar dapat tetap terpenuhi (Kementerian Kesehatan
RI, 2020). Penyebaran kasus COVID-19 berlangsung sangat cepat, baik di dunia
maupun di Indonesia. Covid-19, tidak mengenal batas, dapat menyerang siapa saja
tanpa kecuali, termasuk ibu hamil dan anak-anak. Selama pandemi COVID-19 dan
menghadapi era New Normal, pelayanan kesehatan harus tetap berjalan secara
optimal, aman bagi pasien dan bidan dengan berbagai penyesuaian berdasarkan
panduan penanganan covid atau protokol kesehatan. Telah dikembangkan berbagai
panduan pelayanan KIA & KB: Kemkes, POGI, IDAI, IBI dan lain-lain agar
pelayanan tetap berjalan dan aman bagi pasien dan provider dengan berbagai
penyesuaian yang relevan dengan pencegahan COVID-19. Dikembangkan pelayanan
kesehatan berbasis tekhnologi informasi sebagai solusi inovatif seperti telemedicine,

1
konsultasi On-Line (whatsapp dan media sosial lainnya) dan Media Aplikasi KIE
(Nurjasmi, 2020).
Beberapa himbauan yang harus dipatuhi oleh anggota ibu dalam pelayanan
PMB yaitu membuat informasi tentang protokol pencegahan covid-19 dan
penyesuaian pelayanan (Pengumuman/Banner) di tempat praktik. Bidan terus
melakukan edukasi terhadap pasien, keluarga dan masyarakat untuk beradaptasi
dengan era New Normal dengan menerapkan protokol kesehatan saat kunjungan/on-
line. PMB menerapkan protokol kesehatan pencegahan covid-19 dengan
menyediakan masker dan tempat cuci tangan untuk pasien dan pengunjung. Bidan
harus tetap menjalin komunikasi dan koordinasi dengan pihak terkait (PKM, Dinkes,
BKKBN, IBI serta lintas sektor lainnya). Menggunakan dan melepaskan APD dengan
benar dan melaksanakan Pencegahan Infeksi sesuai standar. PMB memberikan
pelayanan memenuhi standar kilinis dan standar New Normal dengan menerapkan
protokol kesehatan pencegahan covid-19 (Nurjasmi, 2020).
Kartu Skor Poedji Rochajti (KSPR) adalah alat untuk mendeteksi dini
kehamilan berisiko dengan menggunakan skoring. Jumlah skor kehamilan dibagi
menjadi tiga kelompok yaitu Kehamilan Risiko Rendah (KRR) dengan jumlah skor 2,
Kehamilan Risiko Tinggi (KRT) dengan jumlah skor 6-10, dan Kehamilan Risiko
Sangat Tinggi (KRST) dengan jumlah skor 12. Skor yang digunakan adalah angka
bulat dibawah angka 10 yaitu 2, 4, 8. Skor awal ibu hamil adalah 2 4 dan tiap faktor
risiko memiliki skor 4 kecuali pada riwayat sectio caesarea, letak sungsang, letak
lintang, perdarahan antepartum, preeklampsia berat dan eklampsia. Sehingga, bidan
berwewenang memberikan asuhan dan pelayanan kepada ibu hamil dengan skor 2-4
karena memiliki kehamilan risiko rendah. (Syaiful, 2019).
Dengan demikian, penulis melakukan pelayanan asuhan persalinan dan BBL
kepada ibu “KS” umur 34 tahun melakukan asuhan persalinan normal di PMB Ni
Wayan Darsani yang sebelumnya sudah melakukan janji dengan bidan dan saat
dilakukan asuhan sudah sesuai dengan protokol kesehatan. Ibu “KS” juga sudah
dilakukan skrining COVID-19 yaitu dengan melakukan rapid test (NR). Ibu “KS”
saat ini telah melahirkan anak pertama pada usia kehamilan 40 minggu 2 hari, dimana

2
UK ibu KS sudah memasuki usia aterm. Berdasarkan kartu skor Poedji Rochajti ibu
“KS” mendapat skor 2 yaitu KRR (kehamilan Risiko Rendah) dan dapat ditolong
oleh bidan.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari laporan akhir ini yaitu
1. Tujuan Umum
Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan melakukan asuhan kebidanan
persalinan normal menggunakan 60 langkah persalinan normal kebidanan sesuai
dengan wewenang bidan.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat memberikan Asuhan Persalinan Fisiologis Kala I, II, III, dan
IV.
b. Mahasiswa dapat memberikan Asuhan Fisiologis pada Bayi Baru Lahir.
c. Mahasiswa dapat memahami Pendokumentasian dalam Asuhan Persalinan
dan BBL, meliputi SOAP di PMB Ni Wayan Darsani, S.ST

C. Waktu dan Tempat Pengambilan Kasus


Pengambilan kasus dilakukan pada hari Selasa, 19 Januari 2021, Pukul 23.20
WITA di PMB Ni Wayan Darsani, S.ST.

D. Manfaat Penulisan Laporan


1. Bagi Penulis
Dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman sekaligus
penanganan dalam menerapkan ilmu yang diperoleh selama di akademik, serta
menambah wawasan dalam penerapan Asuhan Persalinan Normal dan BBL
Fisiologis.
2. Bagi Praktik Mandiri Bidan

3
Sebagai bahan informasi dan masukan bagi bidan untuk memberikan kualitas
pelayanan dalam menangani kasus khususnya yang berkaitan dengan Persalinan
dan BBL Fisiologis.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan laporan akhir ini dapat menjadi referensi bagi institusi pendidikan
mengenai penerapan asuhan kebidanan persalinan dan BBL Fisiologis.

4
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Persalinan


1. Pengertian Persalinan
a. Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun ke
dalam jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran
janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan
dengan presentasi belakang kepala, tanpa komplikasi baik ibu maupun janin (Asri
& Clervo, 2010).
b. Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi
cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan
selaput janin dari tubuh ibu (Erawati, 2011).
c. Menurut Erawati Ambar Dwi, persalinan ada tiga jenis, yaitu sebagai berikut :
1) Persalinan Spontan, jika persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri
dan melalui jalan lahir ibu tersebut.
2) Persalinan buatan, jika persalinan dibantu tenaga dari luar, misalnya ekstraksi
forsep atau operasi seksio sesaria.
3) Persalinan anjuran, persalinan yang tidak dimulai dengan sendirinya, tetapi
baru berlangsung setelah pemecahan ketuban pemberian pitosin atau
prostaglandin.
d. Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan persalinan berdasarkan usia
kehamilan dan berat badan bayi, yaitu sebagai berikut.
1) Abortus, artinya pengeluaran hasil kehamilan sebelum usia kehamilan 22
minggu atau bayi dengan berat badan kurang dari 500 gram.
2) Partus imatur, artinya pengeluaran hasil kehamilan antara usia kehamilan 22
minggu sampai 28 minggu atau bayi dengan berat badan antara 500 gram
sampai 999 gram.

5
3) Partus premature, artinya pengeluaran hasil kehamilan antara usia kehamilan
28 minggu sampai 37 minggu atau bayi dengan berat badan antara 1.000 gram
sampai 2.499 gram.
4) Partus matur atau partus aterm, artinya pengeluaran hasil kehamilan antara
usia kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu atau bayi dengan berat badan
2.500 gram atau lebih.
5) Partus pascamatur atau partus serotinus, pengeluaran hasil kehamilan setelah
usia kehamilan 42 minggu (Asri & Clervo, 2010).
2. Konsep Paritas dan Klasifikasi
a. Paritas adalah keadaan melahirkan anak baik hidup ataupun mati, tetapi bukan
aborsi, tanpa melihat jumlah anaknya. Dengan demikian, kelahiran kembar hanya
dihitung sebagai satu kali paritas.
b. Klasifikasi Jumlah Paritas
Berdasarkan jumlahnya, maka paritas seorang perempuan dapat dibedakan
menjadi:
1) Nullipara adalah perempuan yang belum pernah melahirkan anak sama sekali.
2) Primipara adalah perempuan yang telah melahirkan seorang anak, yang cukup
besar untuk hidup didunia luar sebanyak satu kali.
3) Multipara adalah perempuan yang telah melahirkan seorang anak lebih dari
satu kali. Multipara adalah perempuan yang telah melahirkan dua hingga
empat kali.
4) Grandemultipara adalah perempuan yang telah melahirkan 5 orang anak atau
lebih dan biasanya mengalami penyulit dalam kehamilan dan persalinan
(Manuaba, 2011).
3. Sebab-Sebab Mulanya Persalinan
Sebab mulainya persalinan belum diketahui dengan jelas. Agaknya banyak
faktor yang memegang peranan dan bekerjasama sehingga terjadi persalinan.
Beberapa teori yang dikemukakan adalah: penurunan kadar progesteron, teori
oksitosin, keregangan otot-otot, pengaruh janin, dan teori prostaglandin. Beberapa
teori yang menyebabkan mulainya persalinanadalah sebagai berikut :

6
a. Penurunan Kadar Progesteron
Progesteron menimbulkan relaksasi otot uterus, sedangkan estrogen
meningkatkan kerentanan otot uterus. Selama kehamilan terdapat keseimbangan
antara kadar progesteron dan estrogen di dalam darah, namun pada akhir kehamilan
kadar progesteron menurun sehingga timbul his.
b. Teori Oksitosin
Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis parst posterior. Perubahan
keseimbangan estrogendan progesteron dapat mengubah sensitivitas otot rahim,
sehingga sering terjadi kontraksi Braxton Hicks. Di akhir kehamilan kadar
progesteronmenurun sehingga oxitocinbertambah dan meningkatkan aktivitas otot-
otot rahim yang memicu terjadinya kontraksi sehingga terdapat tanda-tanda
persalinan.
c. Keregangan Otot
Uterus seperti halnya kandung kemih dan lambung. Jika dindingnya teregang
karena isinya bertambah, timbul kontraksi untuk mengeluarklan isinya. Dengan
bertambahnya usia kehamilan, semakin teregang otot-otot uterus dan semakin rentan.
d. Pengaruh Janin
Hipofisis dan kelenjar suprarenal janin tampaknya juga memegang peranan
karena pada anensefalus, kehamilan sering lebih lama dari biasanya, karena tidak
terbentuk hipotalamus. Pemberian kortikosteroid dapat menyebabkan maturasi
janin, dan induksi (mulainya) persalinan.
e. Teori Prostaglandin
Prostaglandin yang dihasilkan oleh desidua, diduga menjadi salah satu
penyebab permulaan persalinan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa prostaglandin
F2 atau E2 yang diberikan melalui intravena, intraamnial, dan ekstraamnial
menimbulkan kontraksi miometrium pada setiap usia kehamilan. Hal ini juga
disokong dengan adanya kadar prostaglandin yang tinggi, baik dalam air ketuban
maupun darah perifer pada ibu hamil sebelum melahirkan atau selama persalinan
(Asri, 2010).

7
4. Tahapan Persalinan
a. Kala I
Kala satu atau kala pembukaan adalah periode persalinan yang dimulai dari
his persalinan yang pertama sampai pembukaan cervix menjadi lengkap. Berdasarkan
kemajuan pembukaan maka kala I dibagi menjadi:
1) Fase latent, yaitu fase pembukaan yang sangat lambat ialah dari 0 sampai 3 cm
yang membutuhkan waktu 8 jam.
2) Fase aktif, yaitu pembukaan yang lebih cepat yang terbagi lagi menjadi:
a) Fase Accelerasi (fase percepatan), dari pembukaan 3 cm sampai 4 cm yang
dicapai dalam 2 jam.
b) Fase Dilatasi Maksimal, dari pembukaan 4 cm sampai 9 cm yang dicapai
dalam 2 jam.
c) Fase Decelerasi (kurangnya kecepatan), dari pembukaan 9 cm sampai 10 cm
selama 2 jam (Departemen Kesehatan RI, 2007).
b. Kala II
Kala II atau kala pengeluaran adalah periode persalinan yang dimulai dari
pembukaan lengkap sampai lahirnya bayi. Gejala dan tanda kala II persalinan, yaitu:
1) Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
2) Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rectum dan atau vaginanya.
3) Perineum menonjol
4) Vulva dan sfingter ani membuka
5) Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah
Tanda pasti kala dua ditentukan melalui periksa dalam yang hasilnya yaitu
1) Pembukaan serviks sudah lengkap
2) Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina (Kemenkes RI, 2016).
c. Kala III
Kala III atau kala uri adalah periode persalinan yang dimulai dari lahirnya bayi
sampai dengan lahirnya plasenta (Kemenkes RI, 2016).
d. Kala IV

8
Kala IV merupakan masa 1-2 jam setelah plasenta lahir. Dalam klinik, atas
pertimbangan – pertimbangan praktis masih diakui adanya kala IV persalinan
meskipun masa setelah plasenta lahir adalah masa dimulainya masa nifas
(puerperium), mengingat pada masa ini sering timbul perdarahan (Kemenkes RI,
2016).
5. Tanda-Tanda Persalinan
a. Kala I
1) Penipisan dan pembukaan servik
2) Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan servik (frekuensi minimal 2x
dalam 10 menit).
3) Cairan lendir bercampur darah melalui vagina
b. Kala II
1) Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi
2) Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rectum dan atau vaginanya.
3) Perineum menonjol
4) Vulva dan sfingter ani membuka
5) Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah
Tanda pasti kala dua ditentukan melalui periksa dalam yang hasilnya adalah
1) Pembukaan serviks sudah lengkap
2) Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina
(Kemenkes RI. 2014

B. Adaptasi Psikologi Ibu Bersalin


Pada awal persalinan, gelisah, gugup, cemas dan khawatir terjadi sehubungan
dengan rasa tidak nyaman karena kontraksi. Pada fase laten, ibu biasanya mersa lega
dan bahagia karena masa kehamilannya akan segera berakhir. Namun pada fase aktif,
kekhawatiran ibu meningkat. Kontraksi menjadi semakin kuat dan lebih sering
sehingga wanita tidak dapat mengontrol emosinya. Dalam keadaan ini, wanita akan
lebih serius. Wanita tersebut menginginkan seseorang untuk mendapinginya karena

9
dia merasa takut tidak mampu beradaptasi terhadap kontraksinya (Kemenkes RI,
2016).

C. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin


1. Pemberian Cairan dan Nutrisi
Anjurkan ibu untuk mendapat asupan (makanan ringan dan minum air) selama
persalinan dan proses kelahiran bayi. Anjurkan anggota keluarga untuk sesering
mungkin menawarkan minum dan makanan ringan selama proses persalinan karena
jika ibu mendapat asupan makanan dan minuman yang cukup maka akan memberi
lebih banyak energi dan mencegah dehidrasi. Dehidrasi dapat memperlambat
kontraksi dan membuat kontraksi tidak teratur dan tidak efektif (Kemenkes RI, 2016).
2. Teknik Pengurangan Rasa Nyeri, yaitu :
a. Masase
Yaitu melakukan tekanan tangan pada jaringan lunak, biasanya otot tendon atau
ligamentum, tanpa menyebabkan gerakan atau perubahan posisi sendi untuk
meredakan nyeri, menghasilkan relaksasi, dan /atau memperbaiki sirkulasi
b. Aromatherapi
Minyak lavender, geranium Bermanfaat untuk Mengatasi kram di kaki,
melancarkan sirkulasi dan pernafasan, dapat menginduksi persalinan. Minyak
jojoba Bermanfaat untuk melembutkan daerah seputar vagina agar lebih lentur
sehingga tidak perlu digunting saat persalinan.
c. Pernapasan
Bernafas dalam dengan cara rileks sewaktu ada his dengan cara meminta ibu
untuk menarik napas panjang, tahan nafas sebentar kemudian dilepaskan dengan
cara meniup sewaktu ada his
d. Hidroterapi
Tekanan yang merata pada bagian tubuh yang terendam dan kehangatan
menghasilkan penurunan nyeri dan kemajuan persalinan aktif yang lebih cepat.
e. Conterpressure

10
Tekanan yang terus menerus 🡪pada tulang sakrum wanita atau kepalan salah satu
tangan dapat mengurangi rasa nyeri. Peremasan pada kedua pinggul membantu
mengurangi nyeri pungung
f. Penggunaan Bola
Bola untuk persalinan adalah sebuah bola berukuran besar ,berdiameter antara 65
– 75 cm. Terbuat dari bahan yang tidak mudah pecah, apabila tertusuk sesuatu
tidak langsung pecah secara tiba – tiba. Permukaan bola non slip, sehingga tidak
mudah meluncur.
g. Musik
Musik adalah seni yang mempengaruhi pusat fisik dan jaringan saraf. Musik juga
mempengaruhi sistem saraf parasimpatis atau sistem saraf autonom, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Salah satu jenis musik yang biasa dipakai
sebagai terapi kesehatan adalah musik klasik
(Annisa, 2019)
3. Kehadiran pendamping
Dukungan fisik dan emosional dapat membawa dampak positif bagi ibu
bersalin. Beberapa tindakan perawatan yang bersifat suportif tersebut dapat berupa
menggosok gosok punggung ibu atau memegang tangannya, mempertahankan kontak
mata, ditemani oleh orang-orang yang ramah dan meyakinkan ibu bersalin bahwa
mereka tidak akan meninggalkannya sendiri. Banyak penelitian yang mendukung
pentingnya kehadiran orang kedua pada saat berlangsung persalinan. Hasil penelitian
itu menunjukkan bahwa kehadiran orang kedua atau pendamping atau penolong
persalinan dapat memberi kenyamanan pada saat bersalin. Terdapat bukti lain bahwa
kehadiran pendamping pada saat persalinan dapat menimbulkan efek positif terhadap
persalinan, dalam arti dapat menurunkan morbiditas, mengurangi rasa sakit,
mempersingkat persalinan dan menurunkan angka persalinan dengan operasi
termasuk bedah besar (Pastuty, Rosyanti. 2010).
Kehadiran pendamping persalinan dapat memberikan rasa nyaman, aman,
semangat, dukungan emosional dan dapat membesarkan hati ibu. Oleh karena itu,
anjurkan ibu bersalin untuk ditemani oleh suami atau anggota keluarga atau temannya

11
yang ia inginkan selama proses persalinan. Anjurkan pendamping untuk berperan
aktif dalam mendukung ibu bersalin dan identifikasi langkah-langkah yang mungkin
sangat membantu kenyamanan ibu. Bidan harus menghargai keinginan ibu untuk
menghadirkan teman atau saudara yang khusus untuk menemaninnya. Adapun
dukungan yang dapat diberikan oleh pendamping adalah mengusap keringat,
menemani atau membimbing jalan-jalan, memberi minum, mengubah posisi dan lain-
lain (Pastuty, Rosyanti. 2010).
4. Pengosongan kandung kemih
Sarankan ibu untuk sesering mungkin berkemih. Kandung kemih yang kosong
dapat menyebabkan nyeri pada bagian abdominal dan menyebabkan bagian terendah
dari janin sulit turun (Erawati, 2011).
5. Eliminasi
Anjurkan ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya secara rutin selama
persalinan, ibu harus kencing minimal 1 kali setiap 2 jam (Erawati, 2011).
6. Istirahat
Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang mutlak harus dipenuhi
oleh semua orang. Dengan istirahat dan tidur yang cukup, tubuh dapat berfungsi
secara optimal. Istirahat dan tidur sendiri memiliki mana yang berbeda setiap
manusia. Secara umum, istirahat merupakan suatu keadaan tenang, rileks, tanpa
tekanan emosional, dan bebas dari perasaan yang gelisah (Erawati, 2011).
7. Kebersihan dan kenyamanan tubuh
a. Menjaga kebersihan diri
Ibu dapat dianjurkan untuk membasuh sekitar kemaluannya setelah buang air
kecil atau BAK atau buang air besar atau BAB, selain menjaga kemaluannya tetap
bersih dan kering. Hal ini dapat menimbulkan kenyamanan dan relaksasi serta
menurunkan risiko infeksi. Akumulasi antara darah haid (bloody show), keringat,
cairan amnion (larutan untuk pemeriksaan vagina), dan feses dapat menyebabkan rasa
tidak nyaman pada ibu bersalin. Mandi di bak atau shower dapat menjadi sangat
menyegarkan dan santai. Ibu dapat menjadi merasa sehat, tetapi bila fasilitasnya tidak
memungkinkan, mandi di tempat tidur dapat menyebarkan ibu (Kemenkes RI, 2016)

12
b. Perawatan mulut
Selama proses persalinan, mulut ibu biasanya mengeluarkan napas yang tidak
sedap, bibir kering dan pecah-pecah, disertai tenggorokan kering. Hal ini dapat
dialami ibu terutama beberapa jam selama menjalani persalinan tanpa cairan oral dan
perawatan mulut. Kondisi tersebut juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan
tidak menyenangkan bagi orang di sekitarnya (Kemenkes RI, 2016)

D. Asuhan Persalinan
1. Tujuan Asuhan Persalinan
a. Memberikan asuhan yang memadai selama persalinan dalam upaya mencapai
pertolongan persalinan yang bersih dan aman, dengan memperhatikan aspek
sayang ibu dan bayi.
b. Melindungi keselamatan ibu dan bayi baru lahir (BBL),mulai dari hamil hingga
bayi selamat.
c. Mendeteksi dan menatalaksana komplikasi secara tepat waktu.
d. Memberi dukungan serta cepat bereaksi terhadap kebutuhan ibu, pasangan dan
keluarganya selama persalinan dan kelahiran bayi (Asri, 2010).
2. Tahapan-tahapan persalinan
a. Asuhan persalinan Kala I
1) Anamnesis : Tujuan anamnesis adalah mengumpulkan informasi tentang
riwayat kesehatan, kehamilan dan persalinan. Informasi ini digunakan dalam
proses membuat keputusan klinik untuk menentukan diagnosis dan
mengembangkan rencana asuhan atau perawatan yang sesuai.
2) Pemeriksaan Fisik : Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk menilai kondisi
kesehatan ibu dan bayinya serta tingkat kenyamanan fisik ibu bersalin.
Informasi dari hasil pemeriksaan fisik dan anamnesis diramu/diolah untuk
membuat keputusan klinik, menegakkan diagnosis dan mengembangkan
rencana asuhan atau keperawatan yang paling sesuai dengan kondisi ibu.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan yaitu
a) Keadaan umum ibu

13
b) Pemeriksaan tanda-tanda vital
c) Pemeriksaan abdomen (Menentukan TFU, Memantau kontraksi uterus,
Memantau DJJ, Menentukan presentasi janin dan Menentukan penurunan
bagian terbawah janin) dan Pemeriksaan dalam. Sebelum melakukan
pemeriksaan abdomen, minta ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya
terlebih dahulu.
Lakukan Pemeriksaan Dalam berupa :
a) Inspeksi dan palpasi vulva apakah terdapat keputihan, lesi, kutil, jengger
ayam, oedema, dan pembengkakan kelenjar bartholin.
b) Apakah di vagina ada septum/vistel.
c) Raba porsio, melunak/tidak.
d) Raba serviks, sudah mendatar/belum, kanalis servikalis sudah mengalami
pipisan/belum.
e) Periksa pembukaan serviks.
f) Periksa selaput ketuban, masih utuh/sudah pecah.
g) Tentukan presentasi janin.
h) Molase/penyusupan kepala janin.
i) Turunnya kepala.
j) Memeriksa bagian kecil.
k) Periksa keadaan panggul
3) Pelaksanaan Asuhan Kala I (Kemenkes RI, 2016).
Penggunaan Partograf
Penggunaan patograf untuk memantau kemajuan persalinan, kesejahteraan
ibu dan janin. Patograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan kala I
persalinan untuk membuat keputusan klinik. Patograf terdiri dari 3 komponen
besar yaitu Memantau Kesejahteraan Janin, Kemajuan Persalinan, dan
Kesejahteraan Ibu.
a) Kesejahteraan janin terdari dari: DJJ, air ketuban dan penyusupan.
b) Kemajuan persalinan terdiri dari: Pembukaan serviks, penurunan bagian
terbawah janin dan kontraksi terus.

14
c) Kesejahteraan Ibu terdiri dari : Nadi, Tekanan darah, hidrasi, urin, dan obat-
obatan. (JNPK-KR, 2017).
Penggunaan Patograf :
a) Informasi tentang ibu : Lengkapi bagian awal (atas) partograf secara teliti
pada saat memulai asuhan persalinan. Waktu kedatangan dan perhatikan
apakah ibu datang pada fase laten atau aktif (JNPK-KR, 2017).
b) Kondisi janin : Bagian di atas grafik pada partograf adalah untuk pencatatan
denyut jantung janin (DJJ), air ketuban dan penyusupan (kepala janin) :
(1) Denyut jantung janin : Nilai dan catat denyut jantung janin (DJJ) setiap 30
menit dan lebih sering apabila ada tanda-tanda gawat janin.
(2) Warna dan adanya air ketuban : Nilai kondisi air ketuban setiap kali
melakukan periksa dalam dan nilai warna air ketuban jika selaput ketuban
pecah. Catat temuan dalam kotak yang sesuai di bawah lajur DJJ.
Gunakan lambang- lambang berikut :
U = Selaput ketuban masih utuh
I = Selaput ketuban sudah pecah dan warna air ketuban jernih
M = Selaput ketuban sudah pecah dan bercampur mekonium
D = Selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur darah
K = Selaput ketuban sudah pecah tetapi air ketuban tidak mengalir lagi
(kering)
(3) Penyusupan (Moulage) tulang kepala janin : Setiap kali melakukan
pemeriksaan dalam, nilai penyusupan antar tulang (moulage) kepala janin.
Catat temuan yang ada di kotak yang sesuai di bawah lajur (row) air
ketuban. Gunakan lambang-lambang berikut :
0 = Tulang-tulang kepala janin terpisah
1 = Tulang-tulang kepala janin hanya bersentuhan
2 = Tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih tetapi masih dapat
dipisahkan
3 = Tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih tetapi tidak dapat
dipisahkan (JNPK-KR, 2017).

15
c) Kemajuan persalinan : Kolom dan lajur kedua pada partograf adalah untuk
pencatatan kemajuan persalinan. Angka 0-10 yang tertera di kolom paling kiri
adalah ukuran dilatasi serviks. Nilai setiap angka sesuai dengan besarnya
dilatasi serviks dalam satuan sentimeter dan menempati lajur dan kotak
tersendiri. Perubahan nilai perpindahan dari lajur satu ke lajur yang lain
menunjukan penambahan dilatasi serviks sebesar 1 cm. Pada lajur dan kotak
yang mencatat penurunan bagian terbawah janin tercantum angka 1-5 yang
sesuai dengan metode perlimaan. Setiap kotak segi empat atau kubus
menunjukan waktu 30 menit untuk pencatatan waktu pemeriksaan denyut
jantung janin, kontraksi uterus dan frekuensi nadi ibu (JNPK-KR, 2017).
(1) Pembukaan serviks : Nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam. Saat
ibu berada dalam fase aktif persalinan, catat pada partograf setiap temuan
dari setiap pemeriksaan. Tanda ‘X’ harus dicantumkan di garis waktu
yang sesuai dengan lajur besarnya pembukaan serviks.
(2) Penurunan bagian terbawah janin : Dilakukan pemeriksaan setiap kali
melakukan pemeriksaan dalam (4 jam) atau lebih sering. Cantumkan hasil
pemeriksaan penurunan kepala yang menunjukan seberapa jauh bagian
terbawah janin telah memasuki rongga panggul.
(3) Garis waspada dan garis bertindak : Garis waspada dimulai pada
pembukaan 4 cm dan berakhir pada titik dimana pembukan lengkap
diharapkan terjadi jika laju pembukaan adalah 1 cm per jam.jika
pembukaan mengarah ke sebelah kanan garis waspada maka
dipertimbangkan adanya penyulit. Garis bertindak tertera sejajar di
sebelah kanan (berjarak 4 jam) garis waspada. Jika pembukaan telah
melampaui sebelah kanan garis bertindak maka ini menunjukan perlu
dilakukan tindakan untuk menyelesaikan persalinan.sebaiknya ibu harus
sudah berada di tempat rujukan sebelum garis bertindak terlampaui.
(4) Jam dan waktu
(a) Waktu mulainya fase aktif persalinan : Di bagian bawah partograf
(pembukan serviks dan penurunan) tertera kotak-kotak yang diberi

16
angka 1-12. Setiap kotak menyatakan 1 jam sejak dimulainya fase
aktif persalinan.
(b) Waktu aktual saat pemeriksaan atau penilaian : Dibawah lajur kotak
untuk waktu mulainya fase aktif, tertera kotak-kotak untuk mencatat
waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan. Saat ibu masuk dalam fase
aktif persalinan, cantumkan pembukaan serviks di garis waspada.
Kemudian catatkan waktu aktual pemeriksaan ini di kotak waktu yang
sesuai. Contoh, jika pemeriksaan pembukaan serviks adalah 6 cm pada
pukul 15.00, cantumkan tanda ‘X’ di garis waspada yang sesuai
dengan lajur angka 6 yang tertera di sisi luar kolom paling kiri dan
catat waktu aktual di kotak lajur waktu di bawah lajur pembukaan.
(5) Kontraksi uterus : Di bawah lajur waktu partograf, terdapat 5 kotak
dengan tulisan “kontraksi per 10 menit” di sebelah luar kolom paling kiri.
Setiap kotak menyatakan 1 kontraksi. Setiap 30 menit, raba dan catat
jumlah kontraksi per 10 menit dan lamanya kontraksi dalam satuan detik.
(a) Beri titik-titik di kotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang
lamanya kurang dari 20 detik.
(b) Beri garis-garis di kotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang
lamanya 20-40 detik.
(c) Isi penuh kotak yang sesuai untuk menyatakan kontraksi yang lamanya
lebih dari 40 detik (JNPK-KR, 2017).
Persiapan Persalinan alat dan PI
Mempersiapkan Ruangan untuk Persalinan dan Kelahiran Bayi. Persalinan
dan kelahiran bayi mungkin terjadi di rumah (rumah ibu atau rumah kerabat). di
bidan Praktik, Puskesmas, Polindes atau Rumah Sakit. Pastikan ketersediaan
bahan-bahan dan sarana yang memadai. Laksanakan upaya pencegahan infeksi
(PI) sesuai dengan standar yang ditetapkan. Di mana persalinan dan kelahiran
bayi terjadi, diperlukan hal-hal seperti berikut ini:
a) Ruangan yang hangat dan bersih, memiliki sirkulasi udara yang baik dan
terlindung dari tiupan angin.

17
b) Sumber air bersih dan mengalir untuk cuci tangan dan memandikan ibu
sebelum dan sesudah melahirkan.
c) Air disinfeksi tingkat tinggi (air yang dididihkan dan didinginkan) untuk
membersihkan vulva dan perineum sebelum dilakukan periksa dalam dan
setelah bayi lahir.
d) Kecukupan air bersih, klorin, deterjen kain pembersih, kain pel dan sarung
tangan karet untuk membersihkan ruangan, lantai, perabotan, dekontaminasi
dan proses peralatan.
e) Kamar mandi yang bersih untuk kebersihan pribadi ibu dan penolong
persalinan. Pastikan bahwa kamar kecil dan kamar mandi telah
didekontaminasi dengan larutan klorin 0,5% dibersihkan dengan deterien dan
air sebelum persalinan dimulai (untuk melindungi dari resiko infeksi), dan
setelah bayi lahir (untuk melindungi keluarga dari risiko infeksi melalui darah
dan sekresi tubuh ibu).
f) Tempat yang cocok untuk ibu berjalan-jalan dan menunggu saat persalinan,
melahirkan bayi dan untuk memberikan asuhan bagi ibu dan bayinya setelah
persalinan. Pastikan bahwa ibu mendapat privasi yang diinginkannya.
g) Penerangan yang cukup, baik siang maupun malam hari.
h) Tempat tidur yang bersih untuk ibu. Tutupi kasur dengan plastik atau
lembaran yang mudah dibersihkan jika terkontaminasi selama persalinan atau
melahirkan bayi
i) Tempat yang bersih untuk memberikan asuhan bayi yang baru lahir.
j) Meja yang bersih atau tempat untuk menaruh peralatan persalinan.
k) Meja untuk resusitasi bayi baru lahir (JNPK-KR, 2017).
Persiapan perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan yang diperlukan.
Pastikan kelengkapan dan jumlah bahan-bahan yang diperlukan dalam
kondisi siap pakai pada setiap persalinan dan kelahiran bayi. Jika tempat
persalinan dan kelahiran bayi akan terjadi jauh dari fasilitas bawalah semua
keperluan tersebut ke lokasi persalinan. Ketidakmampuan untuk menyediakan
semua perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obat yang diperlukan pada saat

18
diperlukan meningkatkan penyulit pada ibu dan bayi baru lahir sehingga keadaan
ini dapat membahayakan keselamatan jiwa mereka. Pada setiap persalinan dan
kelahiran bayi :
a) Periksa semua peralatan sebelum dan setelah memberikan asuhan. Segera ganti
peralatan yang hilang dan rusak.
b) Periksa semua obat-obatan dan bahan-bahan sebelum dan setelah menolong
ibu bersalin dan melahirkan bayinya. Segera ganti obat apapun yang sudah
digunakan atau hilang.
c) Pastikan bahwa perlengkapan dan bahan-bahan sudah bersih dan siap dipakai.
Partus set, peralatan untuk melakukan penjahitan, dan peralatan untuk
resusitasi bayi baru lahir sudah dalam keadaan disinfeksi tingkat tinggi atau
steril (JNPK-KR, 2017).
Pencegalan Infeksi
Upaya menjaga lingkungan yang bersih merupakan hal penting dalam
mewujudkan kelahiran yang bersih dan aman bagi bu dan bayinya. Hal tersebut
tergolong dalam unsur esensial asuhan sayang ibu. Kepatuhan dalam menjalankan
praktik pencegahan infeksi yang baik dapat juga melindungi penolong persalinan
dan keluarga ibu dari infeksi. Ikuti praktik pencegahan infeksi yang sudah
ditetapkan ketika mempersiapkan persalinan dan kelahiran.
Anjurkan ibu untuk mandi pada awal persalinan dan pastikan ibu memakai
pakaian yang bersih. Lakukan mencuci tangan mereka sebelum dan setelah
melakukan kontak dengan ibu dan bayi baru lahir. Pencegahan infeki sangat
penting dalam menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir.
Upaya dan keterampilan dalam melaksanakan prosedur pencegahan infeksi yang
baik dapat melindungi penolong persalinan terhadap risiko infeksi (JNPK-KR,
2017).
Latihan Meneran
Latihan meneran ini dapat dilakukan sebelum memasuki kala II persalinan.
Dengan latihan meneran ini diharapkan saat bidan siap membimbing persalinan ibu
sudah dapat meneran dengan secara efektif dan benar (JNPK-KR, 2017).

19
b. Asuhan Persalinan Kala II
1) Posisi Bersalin : Posisi bersalin diantaranya yaitu Posisi duduk, Posisi setengah
duduk, Posisi jongkok, posisi berdiri, Posisi merangkak dan Posisi berbaring
miring kiri. Ibu dapat melahirkan bayinya dalam posisi apapun kecuali pada
posisi berbaring terlentang, karena jika berbaring terlentang maka berat uterus
dan isinya (janin, cairan ketuban, placenta, dll) akan menekan vena cava
inferior ibu. Hal ini akan mengurangi pasokan oksigen melalui sirkulasi utero-
plasenter sehingga akan menyebabkan hipoksi pada bayi. Berbaring terlentang
juga akan mengganggu kemajuan persalinan dan menyulitkan ibu untuk
meneran secara efektif.
2) Amniotomi : Apabila selaput ketuban belum pecah dan pembukaan sudah
lengkap maka perlu dilakukan tidakan amniotomi. Perhatikan warna dan
jumlah air ketuban yang keluar saat dilakukan amniotomi.
3) Membimbing Ibu Meneran : Bila tanda pasti kala dua telah diperoleh, tunggu
sampai ibu merasakan adanya dorongan spontan untuk meneran. Bimbing ibu
untuk meneran secara efektif dan benar.
a) Mengikuti dorongan alamiah yang terjadi selama kontraksi
b) Beritahukan untuk tidak menahan nafas saat meneran
c) Minta untuk berhenti meneran dan istirahat di antara kontraksi
d) Minta ibu untuk tidak mengangkat bokong saat meneran
e) Tidak diperbolehkan mendorong fundus untuk membantu kelahiran bayi
4) Pencegahan Laserasi : Kejadian laserasi akan meningkat jika bayi dilahirkan
terlalu cepat dan tidak terkendali. Hal ini bisa diatasi dengan episiotomi.
Namun episiotomi rutin tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan :
a) Meningkatnya jumlah darah yang hilang dan resiko hematoma
b) Kejadian laserasi derajat tiga dan empat lebih banyak
c) Meningkatnya rasa nyeri pasca persalinan di daerah perineum
d) Meningkatnya resiko infeksi
Indikasi melakukan episiotomi untuk mempercepat kelahiran bayi apabila :
a) Gawat janin dan bayi akan segera dilahirkan dengan tindakan

20
b) Penyulit kelahiran pervaginam
c) Jaringan parut pada perineum atau vagina yang dapat memperlambat
kemajuan persalinan.
(Kemenkes RI, 2016).
Alur Penatalaksanaan Fisiologi Kala Dua Persalinan

c. Asuhan Persalinan Kala III


1) Manajemen Aktif Kala III
Syarat : Janin tunggal/memastikan tidak ada lagi janin di uterus.
Tujuan : Menghasilkan kontraksi uterus yang efektif sehingga dapat
mempersingkat waktu, mencegah perdarahan dan mengurangi kehilangan
darah kala III persalinan jika dibandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis
Keuntungan :
a) Lama kala III lebih singkat.

21
b) Jumlah perdarahan berkurang sehingga dapat mencegah perdarahan post
partum.
c) Menurunkan kejadian retensio plasenta
Manajemen Aktif Kala III terdiri dari :
a) Pemberian oksitosin 10 IU dalam 1 menit setelah bayi lahir
b) Penegangan tali pusat terkendali
c) Masase fundus uteri
2) Pemeriksaan Plasenta
Selaput ketuban utuh atau tidak
a) Bagian maternal : jumlah kotiledon , keutuhan pinggir kotiledon
b) Bagian fetal : utuh atau tidak
c) Tali pusat : jumlah arteri dan vena, adakan arteri atau vena yang terputus
untuk mendeteksi plasenta suksenturia. Insersi tali pusat, apakah sentral,
marginal serta panjang tali pusat.
3) Pemantauan Kala III
a) Perdarahan : Jumlah darah yang keluar, disertai dengan bekuan
darah atau tidak
b) Kontraksi uterus : bentuk uterus, intensitas Robekan jalan lahir/ laserasi ,
rupture perineum (Kemenkes RI, 2016).
d. Asuhan Persalinan Kala IV
1) Memperkirakan Kehilangan Darah
Satu cara untuk menilai kehilangan darah secara tepat adalah dengan
melihat volume darah yang terkumpul dan memperkirakan berapa banyak botol
500 ml dapat menampung semua darah tersebut. Jika darah bisa mengisi dua
botol, ibu kehilangan 250 ml darah. Memperkirakan kehilangan darah hanyalah
salah satu cara untuk menilai kondisi ibu (Kemenkes RI, 2016).
Cara tak langsung untuk mengukur jumlah kehilangan darah adalah
melalui penampakan gejala dan tekanan darah. Apabila perdarahan menyebabkan
ibu lemas, pusing dan kesadaran menurun serta tekanan darah sistolik turun lebih
dari 10 mmHg dari kondisi sebelumnya maka telah terjadi perdarah lebih dari 500

22
ml. bila ibu mengalami syok hipovolemik maka ibu telah kehilangan darah 50%
dari total jumlah darah ibu (2000-2500 ml). Penting untuk selalu memantau
keadaan umum dan menilai jumlah kehilangan darah ibu selama kala empat
melalui tanda vital, jumlah darah yang keluar dan kontraksi uterus (Kemenkes RI,
2016).
2) Memeriksa Perdarahan dari Perineum
Perhatikan dan temukan penyebab perdarahan dari laserasi atau robekan
perineum dan vagina. Nilai perluasan laserasi perineum, laserasi
diklasifikasikan berdasarkan luas robekannya antara lain :
No. Klasifikasi Daerah Robekan Tindakan
Robekan
1. Derajat Mukosa vagina, komisura Tidak perlu dijahit jika tidak
Satu osterior, kulit perineum. ada perdarahan dan aposisi
luka baik.
2. Derajat Mukosa vagina, komisura posterior, Lakukan penjahitan
Dua kulit perineum, otot perineum.
3. Derajat Mukosa Vagina, Komisura Posterior,
Tiga Kulit perineum, otot perineum, otot
sfingter ani.
Penolong APN tidak dibekali
ketrampilan untuk reparasi
laserasi perineum derajat tiga
atau empat. Segera rujuk ke
fasilitas pelayanan kesehatan

4. Derajat Mukosa Vagina, Komisura


Empat posterior, kulit perineum, otot
perineum, otot sfingter ani, dinding
depan rectum.

23
Sumber: Midwifery Manual Of Maternal Care dan Varney’s Midwifery Edisi 3

3) Pencegahan Infeksi
Setelah persalinan, dekontaminasi alas plastic, tempat tidur dan matras
dengan larutan klorin 0,5% kemudian cuci dengan deterjen dan bilas dengan air
bersih. Jika sudah bersih, keringkan dengan kain bersih supaya ibu tidak
berbaring di atas matras yang basah. Dekontaminasi linen yang digunakan selama
persalinan dalam larutan klorin 0,5% dan kemudian cuci segera dengan air dan
deterjen (Kemenkes RI, 2016).
4) Pemantauan Keadaan Umum Ibu
Sebagaian besar kejadian kesakitan dan kematian ibu yang disebabkan
oleh perdarahan pascapersalinan terjadi selama empat jam pertama setelah
kelahiran bayi. Karena alasan ini sangatlah ini sangatlah penting untuk memantau
keadaan ibu secara ketat segera setelah persalinan. Jika tanda- tanda vital dan
kontraksi uterus masih dalam batas normal selama dua jam pertama
pascapersalinan, mungkin ibu tidak akan mengalami perdaran pascapersalinan.
Selama dua jam pertama pascapersalinan :
a) Pantau tekanan darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih dan darah yang
keluar setiap 15 menit selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama
satu jam kedua kala empat. Jika ada temuan yang tidak normal, tingkatkan
frekuensi observasi dan penilaian kondisi ibu.
b) Masase uterus.
c) Pantau temperature tubuh setiap jam dalam dua jam pertama
pascapersalianan.
d) Nilai perdarahan. Periksa perineum dan vagina setiap 15 menit selama satu
jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua pada kala empat.

24
e) Ajarkan ibu dan keluarganya bagaimana menialai kontaksi uterus dan jumlah
darah yang keluar dan bagaimana melakukan masase jika uterus menjadi
lembek.
f) Minta anggota keluarga untuk memeluk bayi. Jaga agar bayi diselimuti
dengan baik, bagian kepala tertutup baik, kemudian berikan bayi ke ibu dan
anjurkan untuk dipeluk dan diberi asi.
g) Ajarkan pada mereka bagaimana mencari pertolongan jika ada tanda- tanda
bahaya seperti : Demam, Perdarahan aktif (Keluar banyak bekuan darah), Bau
busuk dari vagina, Pusing, Lemas luar biasa, Penyulit dalam menyusukan
bayinya dan Nyeri panggul atau abdomen yang lebih hebat dari nyeri
kontraksi biasa.
(Kemenkes RI, 2016).

E. Asuhan Bayi Baru Lahir


Masa  bayi  baru  lahir  (neonatal)  adalah  masa  28  hari  pertama kehidupan
manusia. Pada masa ini terjadi proses penyesuaian sistem tubuh bayi dari kehidupan
dalam rahim ke kehidupan di luar rahim. Masa ini adalah masa yang perlu
mendapatkan perhatian dan perawatan yang ekstra karena pada masa ini terdapat
mortalitas paling tinggi (Rudolf, 2006).
1. Asuhan Segera Bayi Baru Lahir
a. Penilaian Segera
Segera lakukan penilaian awal pada bayi baru lahir :
1) Apakah bayi bernafas atau menangis kuat tanpa kesulitan
2) Apakah bayi bergerak aktif
3) Bagaimana warna kulit, apakah berwarna kemerahan ataukah ada sianosis
4) Apabila bayi mengalami kesulitan bernafas maka lakukan tindakan resusitasi
pada bayi baru lahir.
(JNPK-KR, 2017).
b. Pencegahan Kehilangan Panas

25
Mekanisme pengaturan temperatur tubuh pada BBL belum berfungsi
sempurna. Oleh karena itu, jika tidak segera dilakukan upaya pencegahan kehilangan
panas tubuh maka BBL dapat mengalami hipotermi. Bayi dengan hipotermi sangat
beresiko tinggi untuk mengalani sakit berat atau bahkan kematian. Mekanisme
kehilangan panas tubuh bayi :
1) Evaporasi adalah kehilangan panas akibat penguapan cairan ketuban pada
permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri. Kehilangan panas juga terjadi
jika saat lahir tubuh bayi tidak segera dikeringkan atau terlalu cepat
dimandikan.
2) Konduksi adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara
tubuh bayi dengan permukaan yang dingin.
3) Konveksi adalah kehilangan panas tubuh yang terjadi saat bayi terpapar udara
sekitar yang lebih dingin.
4) Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di
dekat benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah dari suhu tubuh bayi.
(JNPK-KR, 2017).
c. Pencegahan Perdarahan Tali Pusat
Setelah plasenta lahir dan kondisi ibu dinilai sudah stabil maka lakukan
pengikatan tali pusat. Periksa tali pusat setiap 15 menit apabila terjadi perdarahan
lakukan pengikatan ulang yang lebih ketat. Perawatan Tali Pusat :
1) Jangan membungkus puntung tali pusat atau mengoleskan cairan apapun ke
puntung tali pusat.
2) Mengoleskan alkohol/povidon masih diperkanankan, tetapi tidak
dikompreskan karena menyebabkan tali pusat basah/lembab.
3) Lipat popok dibawah puntung tali pusat
4) Jika puntung tali pusat kotor, bersihkan dengan air DTT dan sabun kemudian
segera keringkan dengan kain bersih.
5) Jelaskan pada ibu untuk segera mencari bantuan bila tali pusat merah,
bernanah dan berbau.
d. Inisiasi Menyusu Dini

26
Prinsip pemberian ASI adalah dimulai sedini mungkin, memberikan dampak
positif bagi ibu dan bayi antara lain menjalin/memperkuat ikatan emosional antara ibu
dan bayi, memberikan kekebalan pasif yang segera kepada bayi melalui kolostrum,
merangsang kontraksi uterus dan sebagainya.
Langkah-Langkah IMD :
1) Bayi harus mendapatkan kontak kulit dengan kulit ibunya segera setelah lahir
2) Bayi harus dibiarkan untuk melakukan IMD dan ibu dapat mengenali bahwa
bayinya siap untuk menyusu serta memberi bantuan jika diperlukan. Menunda
semua prosedur lainnya yang harus dilakukan kepada BBL hingga inisiasi
menyusu selesai dilakukan (JNPK-KR, 2017).
2. Asuhan 1 Jam Setelah Lahir
a. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik bayi baru lahir adalah pemeriksaan awal terhadap setelah
berada di luar rahim yang bertujuan untuk memeriksa adanya kelainan fisik dan ada
atau tidaknya reflek primitif.
1) Kepala : Meraba sepanjang garis sutura dan fontanel. Perhatikan ketegangan
dan ukurannya fontanela yang sangat besar mengindikasikan prematuritas dan
hidrosefalus sedangkan yang terlalu kecil terjadi pada mikrosefali. Fontanel
yang terlalu menonjol mengindikasikan adanya peningkata tekanan
intracranial dan yang cekung dapat terjadi pada dehidrasi periksa pula adanya
caput suksedaneum, sefal hematoma, perdarahan subaponeurotik. Perhatikan
adanya kelainan congenital
2) Wajah : Perhatikan kesimetrisan wajah bayi.
3) Mata : Periksa jumlah, posisi atau letak mata. Periksa adanya gloukoma
kongenital, katarak, adanya trauma, periksa adanya secret pada mata yang
mengindikasikan infeksi
4) Hidung : Periksa adanya nafas cuping hidung. Adanya pengeluaran secret
yang mukopurulen yang terkadang berdarah
5) Mulut : Periksa apakah adanya kelainan kongenital pada bibir dan langit-
langit

27
6) Telinga : Periksa adanya kelainan pada telinga, perhatikan letak daun telinga
7) Leher : Perhatikan adanya pembesaran kelenjar vena juguralis dan tiroid.
8) Klavikula : Perhatikan adanya kemungkinan fraktur pada klavikula dengan
bayi presentasi bokong dan distosia bahu
9) Tangan : Periksa kelengkapan jari tangan dan adanya kemungkinan terjadinya
kelainan kongenital seperti podaktili atau sidaktili
10) Dada : Periksa kesimetrisan dada saat bernafas serta adanya retraksi dada saat
bernafas yang mengindikasikan adanya gangguan pernafasan
11) Abdomen : Kaji terjadinya kemungkinan hernia diafragma pada perut yang
sangat cekung. Sedangkan pada perut yang sangat membuncit kemungkinan
adanya hepatosmegali atau tumor lainnya. Periksa adanya perdarahan tali
pusat
12) Genetalia : Pada bayi laki –laki yang harus diperiksa adalah adanya penis,
lubang uretra, pastikan tidak adanya hipospadia dan epispadia, sedangkan
pada skrotum pastikan jumlah testis dua. Pada bayi perempuan labia mora
menutupi labia minora, lubang uretra, terkadang adanya pengeluaran secret
yang berdarah dari vagina yang disebabkan karena pengaruh hormone ibu
(withdrawal bledding)
13) Anus : Periksa adanya kemungkinan atresia ani
14) Tungkai dan Kaki : Periksa adanya kesimetrisan dan kedua tungkai dapat
bergerak bebas. Periksa juga kemungkinan adanya polidaktili atau sindaktili
pada jari kaki, simeline, congenital talipes equino varus
15) Spinal : Periksa kemungkinan adanya spina bifida
16) Kulit : Periksa verniks, warna kulit dan tanda lahir
(JNPK-KR, 2017).
b. Pemberian Vitamin K
Sistem pembekuan darah pada bayi baru lahir belum sempurna, sehingga bayi
akan berisiko untuk mengalami perdarahan. Perdarahan bisa ringan atau menjadi
sangat berat, berupa perdarahan pada Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi ataupun
perdarahan intrakranial. Untuk mencegah kejadian tersebut, maka pada semua bayi

28
baru lahir, diberikan suntikan vitamin K1 (Phytomenadione) sebanyak 1 mg dosis
tunggal atau Vitamin NEO – K dengan dosis 0,5 ml secara intra muskular pada antero
lateral paha kiri. Suntikan Vitamin K1 dilakukan setelah proses IMD dan sebelum
pemberian imunisasi hepatitis B. Perlu diperhatikan dalam penggunaan sediaan
Vitamin K1 yaitu ampul yang sudah dibuka tidak boleh disimpan untuk dipergunakan
kembali (JNPK-KR, 2017).
c. Pencegahan Infeksi Mata
Salep atau tetes mata untuk pencegahan infeksi mata diberikan segera setelah
proses IMD dan bayi selesai menyusu, sebaiknya 1 jam setelah lahir. Pencegahan
infeksi mata dianjurkan menggunakan salep mata antibiotik tetrasiklin 1%. Upaya
profilaksis infeksi mata tidak akan efektif apabila diberikan lebih dari 1 jam.
Pemberian salaep mata bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi karena pada saat
bayi lahir melewati vagina ibu yang terdapat banyak bakteri sehingga perlu diberikan
salep mata untuk pencegahan infeksi (JNPK-KR, 2017).
d. Imunisasi Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B bermanfaat untuk mencegah infeksi Hepatitis B terhadap
bayi, terutama jalur penularan ibu ke bayi. Pemberian imunisasi hepatitis B diberikan
1-2 jam setelah pemberian vitamin K dengan dosis 0.5 ml IM di paha kanan (JNPK-
KR, 2017).
e. Pemberian Pakainan
Bayi menggunakan pakaian yang bersih dan kering. Penggunaan gurita dan
bedong yang terlalu ketat sudah tidak dianjurkan lagi (JNPK-KR, 2017).
f. Pemberian ASI Selanjutnya
1) Mulai menyusui segera setelah lahir (dalam waktu 1 jam)
2) Jangan berikan makanan atau minuman lainnya
3) Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama
4) Berikan ASI secara on demand
(JNPK-KR, 2017).

29
BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN DAN BBL PRIMIGRAVIDA


TRIMESTER III PADA IBU “KS” USIA 34 TAHUN
DI PMB NI WAYAN DARSANI, SST

Tanggal Kunjungan : 19 Januari 2021 (Pukul 23.20 Wita)


Pendamping Ibu : Suami
Sumber Data : Ibu dan Suami (Pengkajian data pukul 23.20 Wita)

A. DATA SUBJEKTIF
3. Identitas
Identitas : Ibu Suami
Nama : KS NS
Umur : 34 tahun 40 tahun
SukuBangsa : Bali Bali
Agama : Hindu Hindu
Pendidikan : SMA SMA
Pekerjaan : Tidak Bekerja Wiraswasta (Toko)
Alamat Rumah : Jl. Tukad Banyusari Gg Perak No. X Denpasar
No HP : 085338xxxxxx
Jaminan Kesehatan : umum umum
Penghasilan : Tidak ada 3.500.000/bulan

30
2. Alasan Berkunjung dan Keluhan Utama
Ibu mengeluh sakit perut hilang timbul, dari punggung ke perut sejak pukul 17.10
Wita (19/01/2021), disertai keluar lendir bercampur darah 23.05 Wita
(19/01/2021).

3. Riwayat Persalinan Ini


Ibu tiba di PMB Ni Wayan Darsani, SST pukul 23.20 Wita tanggal 19/01/2021
dengan keluhan sakit perut hilang timbul, bertambah sakit ketika dibawa berjalan
serta sakit menjalar dari punggung keperut sejak pukul 17.10 wita, keluar lendir
bercampur darah sejak 23.05 Wita, tidak terdapat tanda-tanda pecah ketuban. Gerak
janin masih aktif dan dirasakan sejak 5 bulan yang lalu (usia kehamilan 20 minggu).

4. Riwayat Kebidanan Lalu


Keha Tgl Jenis
milan lahir/ U Persali Tempat Keadaan Komplikasi Laktasi Ket
ke- Umur K nan bersalin/ Bayi ibu dan
BB/ J
anak penolong bayi
PB K
1 INI

5. Riwayat Kehamilan Sekarang


a. HPHT : 10-04-2020 TP  : 17-01-2021.
b. Ibu melakukan pemeriksaan ANC sebanyak 5 kali di Bidan (trimester I 2 kali,
trimester II 1 kali, trimester III 2 kali), 1 kali di Puskesmas untuk melakukan
pemeriksaan laboratorium (Trimester III) dan 2 kali di Dokter SpOg (trimester
I 1 kali dan trimester II 1 kali). Status TT Ibu TT4 (saat hamil pertama),
Gerakan janin dirasakan sejak 5 bulan yang lalu.
c. Obat yang pernah ibu konsumsi yaitu Trimester I (asam folat dan Vitonal M
masing-masing 1x1 sehari), Trimester II (Vitonal F dan Vitonal Calci masing-

31
masing 1x1 sehari) dan Trimester III (Vitonal F dan Vitonal Calci masing-
masing 1x1 sehari).
d. Ibu pernah mengeluh mual dan muntah pada umur kehamilan 9 minggu dan
tidak pernah mengalami tanda bahaya selama kehamilan baik pada Trimester
I, Trimester II, dan Trimester III.
e. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan tanggal 11 Januari 2021 dengan hasil
Hb 12,1 gr%, Sifilis non reaktif, HbSAg non reaktif, PPIA non Reaktif,
Golongan darah O, Reduksi dan protein urine negatif.

6. Riwayat Kesehatan
Ibu mengatakan ia dan keluarga belum pernah memeriksakan diri dan tidak
pernah merasakan tanda gejala penyakit jantung, hipertensi, asma, TBC, Hepatitis,
PMS, HIV/AIDS, TORCH, Infeksi Saluran Kencing, Epilepsi, Malaria, DM,
Kelaianan Congenital, Kelaianan Jiwa, dan Kelainan Darah.
7. Riwayat Menstruasi dan KB
Ibu mengatakan siklus menstruasinya teratur yaitu 28-29 hari, dan lama haidnya
4-5 hari. Ibu belum pernah menggunakan kontrasepsi sebelumnya dan akan
berencana menggunakan kontrasepsi KB suntik 3 bulan.
8. Data Biologis, Psikologis, Sosial, Spiritual
a. Keluhan Bernafas
Ibu tidak mengalami keluhan bernafas
b. Nutrisi
Ibu mengatakan makan terakhir pada pukul 21.30 Wita (19/01/2021) porsi
sedang, jenis nasi jingo. Minum terakhir pada pukul 21.45 Wita dengan
jumlah kurang lebih 200 cc, jenis minumannya yaitu air mineral dan teh
hangat. Ibu mengatakan bahwa nafsu makannya baik.
c. Istirahat
Ibu mengatakan bahwa ia tidur selama kurang lebih 7-8 jam di malam hari
dan 30 – 60 menit di siang hari. Ibu juga mengatakan bahwa ia tidak

32
mengalami keluhan saat tidur. Ibu mengatakan kondisinya saat ini sehat dan
bisa istirahat di luar kontraksi. Kondisi fisiknya kuat.
d. Eliminasi
Ibu mengatakan BAB terakhir pada pukul 19.00 Wita (19/01/2021) dengan
konsistensi lembek, sedangkan BAK terakhir pukul 22.15 Wita (19/01/2021)
dengan jumlah kurang lebih 100 cc. Ibu mengatakan tidak ada keluhan saat
BAB maupun BAK.
e. Psikologis
Ibu mengatakan bahwa ia siap melahirkan dan perasaannya saat ini bahagia
dan ibu bersikap kooperatif.
f. Sosial
Ibu mengatakan bahwa saat ini merupakan perkawinannya yang pertama
selama 1 tahun 3 bulan dan hubungannya dengan suami harmonis,
pengambilan keputusan dilakukan oleh istri. Ibu mengatakan persiapan
persalinan semuanya telah disiapkan seperti perlengkapan ibu dan bayi, biaya
(tabungan pribadi), calon donor (kakak kandung ibu), pendamping (suami dan
kakak kandung ibu) dan transportasi (mobil).
g. Spiritual dan ritual yang perlu dibantu
Ibu mengatakan bahwa tidak mengalami masalah dalam spiritual.
9. Pengetahuan ibu dan pendamping yang dibutuhkan
a. Tanda dan gejala persalinan : ibu telah mengetahui apa saja ciri-ciri persalinan
telah dimulai seperti keluarnya cairan yang tidak dapat dikontrol, keluar lendir
bercampur darah, merasakan sakit dari arah punggung keperut serta
bertambah sakit jika berjalan. Ibu juga mengetahui jika ibu mengalami hal
tersebut Ibu harus datang ke fasilitas kesehatan.
b. Teknik mengatasi rasa nyeri : Ibu mengatakan bahwa ia sudah belajar melalui
video youtube mengatasi rasa nyeri persalinan dengan teknik relaksasi nafas
c. Teknik meneran : Ibu telah mengetahui teknik meneran
d. Peran pendamping : Suami ibu mampu memberikan dukungan dan semangat
kepada ibu

33
e. Mobilisasi dan posisi persalinan : Ibu mengetahui posisi yang baik selama
persalinan
f. Proses persalinan : Ibu sudah memiliki gambaran proses persalinan melalui
KIE yang telah diberikan dan menonton melalui video youtube.
g. Teknik Inisiasi Menyusu Dini (IMD) : Ibu belum mengetahui teknik IMD
B. DATA OBJEKTIF
1. Keadaan Umum
a. Keadaan umum : baik
b. GCS : 15 (E = 4, V = 5, M = 6)
c. Kesadaran : compos mentis
d. Keadaan emosi : stabil
e. Keadaan psikologi : baik dan tidak terlihat perasaan takut, murung, atau
bingung.
f. Antropometri : Berat badan ibu 86 Kg, berat badan sebelum hamil 75 Kg
dan tinggi badan 165 cm.
g. Tanda-tanda vital : Suhu : 36,5oC, Nadi : 76x/menit, Respirasi : 22x/menit,
TD : 120/70 mmHg, TD sebelumnya : 110/70 mmHg
2. Pemeriksaan Fisik
a. Wajah : wajah ibu normal, tidak ada kelainan, tidak ada oedema, dan tidak
pucat
b. Mata : conjunctiva mata berwarna merah muda dan sclera berwarna putih
c. Mulut : mukosa lembab dan bibir segar
d. Leher : tidak ada kelainan pada leher seperti pembengkakan kelenjar
limfe, bendungan vena jugularis, dan pembesaran kelenjar tiroid
e. Dada dan aksila : tidak ada kelainan, bentuk payudara simetris, puting
susu menonjol, sudah ada pengeluaran kolostrom, dan tidak ada kelainan
lainnya
f. Abdomen : pembesaran perut ibu sudah sesuai dengan masa kehamilan,
arahnya memanjang, dan tidak terdapat luka bekas operasi. Hasil palpasi
yaitu :

34
1) Leopold I : TFU pertengahan pusat px, teraba 1 bagian besar bulat
lunak, tidak ada lentingan dibagian atas kesan bokong.
2) Leopold II : Teraba 1 bagian memanjang, keras, ada tahanan dan datar
pada bagian kanan Ibu, teraba bagian-bagian kecil janin pada bagian
kiri ibu.
3) Leopold III : Teraba 1 bagian, bulat, keras, dan tidak bisa digoyangkan
di bagian bawah kesan kepala.
4) Leopold IV : Divergen (tangan pemeriksa tidak bertemu).
Perlimaan : 3/5, McDonald : 30 cm, TBBJ : 2945 gram, His : ada,
4x/10menit dengan durasi 35-45 detik, DJJ : 139x/menit kuat dan teratur.
g. Genetalia dan anus
1) VT tanggal 19 Januari 2021 pukul 23.30 dilakukan oleh Ni Kadek
Mita Widiari
a) Vulva : ada sedikit pengeluaran blood slime, tidak terdapat
kelainan, tidak ada varises, tidak ada oedema, tidak ada tanda
infeksi seperti merah, bengkak, dan nyeri.
b) Vagina : normal, tidak terdapat skibala, tidak nyeri, tidak terdapat
tumor/massa
c) Portio : Konsistensi lunak, dilatasi 4 cm, penipisan (effacement)
50%
d) Selaput ketuban : utuh
e) Presentasi : kepala, denominator UUK, posisi : kanan depan
f) Moulage : 0
g) Penurunan : Hodge II-III
h) Bagian kecil : tidak teraba bagian kecil janin
i) Tali pusat : tidak teraba tali pusat
j) Kesan panggul : normal
k) Perineum : normal
l) Anus : normal tidak terdapat hemoroid

35
2) VT tanggal 20 Januari 2021 pukul 05.35 dilakukan oleh Ni Kadek
Mita Widiari
a) Vulva : ada pengeluaran blood slime, tidak terdapat kelainan, tidak
ada varises, tidak ada oedema, tidak ada tanda infeksi seperti
merah, bengkak, dan nyeri.
b) Vagina : normal, tidak terdapat skibala, tidak nyeri, tidak terdapat
tumor/massa
c) Portio : tidak teraba, dilatasi 10 cm, penipisan (effacement) 100%
d) Selaput ketuban : jernih
e) Presentasi : kepala, denominator UUK, posisi : kanan depan
f) Moulage : 0
g) Penurunan : Hodge III-IV
h) Bagian kecil : tidak teraba bagian kecil janin
i) Tali pusat : tidak teraba tali pusat
j) Kesan panggul : normal
k) Perineum : normal
l) Anus : normal tidak terdapat hemoroid
m) DJJ : 144x/menit
h. Tangan : tidak terdapat oedema pada tangan, kuku jari merah muda
i. Kaki : simetris, tidak ada oedema dan varises, serta kuku jari merah muda.
Refleks patella kanan dan kiri positif (+/+).
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Rapid Test COVID-19 (20/01/2021)
Hasil : Non Reaktif

C. ANALISIS
Ibu “KS” umur 34 tahun G1P0000 UK 40 minggu 2 hari PUKI Preskep U + PK II
Masalah :
1. Ibu belum mengetahui teknik IMD

36
D. PENATALAKSANAAN
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada ibu dan
suami bahwa hasil pemeriksaan dalam keadaan normal serta hasil Rapid Test
COVID-19 Non Reaktif, ibu dan suami paham penjelasan bidan.
2. Melakukan informed consent mengenai tindakan yang
akan dilakukan, ibu dan suami paham penjelasan bidan dan bersedia.
3. Membimbing ibu untuk melakukan teknik relaksasi
dengan cara mengatur nafas dalam bila kontraksi, ibu paham dan mampu
melakukannya.
4. Memberikan KIE mengenai pentingnya nutrisi dan
cairan selama persalinan berlangsung, ibu bersedia makan roti dan minum teh
hangat.
5. Menyiapkan partus set dan memastikan alat sudah
lengkap, partus set sudah siap dan lengkap.
6. Mencuci tangan dan menggunakan APD, mencuci
tangan dan menggunakan APD sudah dilakukan.
7. Mendekatkan alat, alat sudah dekat.
8. Membersihkan vulva dengan kapas DTT, vulva sudah
dibersihkan.
9. Mengatur posisi bersalin, ibu memilih posisi berbaring.
10. Memimpin persalinan sesuai APN, bayi lahir pukul
05.55 WITA, tangis kuat gerak aktif, jenis kelamin perempuan.
11. Meletakkan bayi diatas perut ibu dan menyelimuti bayi
dengan handuk kering, telah dilakukan.

CATATAN PERKEMBANGAN
Hari/Tanggal Catatan Perkembangan Nama Terang
Jam (SOAP) dan
Nama : Ibu “KS” Tanda Tangan
Umur : 34 tahun

37
Alamat: Jl. Tukad Banyusari Gg Perak No. X Denpasar
20/02/2021 S : Ibu “KS” senang bayinya sudah lahir dengan
Pukul 05.55 selamat.
WITA
O : Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis,
TFU sepusat, tidak ada janin kedua dan kandung kemih
tidak penuh. Bayi menangis kuat, gerak aktif.

A : Ibu “KS” umur 34 tahun G1P0000 PsptB + PK III


+ bayi masa adaptasi

P:
1. Menginformasika
n hasil pemeriksaan, ibu dan keluarga menerima
penjelasan bidan.
2. Memeriksa uterus
untuk memastikan tidak ada janin kedua, TFU
sepusat dan tidak ada janin kedua.
Pukul 05.56 3. Memberitahu ibu
WITA dan keluarga bahwa akan dilakukan
penyuntikkan oksitosin kepada ibu pada paha
kanan secara IM, ibu dan pendamping
persalinan bersedia.
4. Menyuntikkan
Pukul 05.57 oksitosin 10 IU pada 1/3 anterolateral paha
WITA kanan, kontraksi uterus baik.
5. Mengeringkan
Pukul 06.00 bayi dan memberi selimut hangat dan topi, telah
WITA dilakukan.
6. Menjepit dan

38
memotong tali pusat, tidak ada perdarahan tali
pusat.
7. Memposisikan
bayi dan membimbing ibu untuk IMD, posisi
bayi aman.
8. Memindahkan
klem tali pusat 5 cm didepan vulva, telah
dilakukan.
9. Melakukan PTT,
plasenta lahir pukul 06.05 WITA
10. Melakukan
Pukul 06.05 masase fundus uteri selama 15 detik, uterus
WITA berkontraksi dengan baik.
11. Memastikan
kelengkapan plasenta dan selaput ketuban,
plasenta dan selaput ketuban lengkap.
12. Memeriksa jalan
lahir, terdapat laserasi pada mukosa vagina,
komisura posterior, kulit perineum dan otot
perineum.

S : Ibu merasa lega karena bayi dan plasenta sudah


lahir

O : KU baik, kesadaran compos mentis, TFU : 2 jari


bawah pusat, kontraksi baik, perdarahan tidak aktif,
plasenta kesan lengkap. Terdapat laserasi pada mukosa
vagina, komisora posterior, kulit perineum dan otot
perineum (grade II). Bayi sedang IMD, gerak aktif.

39
A : Ibu “KS” umur 34 tahun P1001 PsptB + PK IV
dengan laserasi perineum grade II + bayi masa adaptasi

P:
1. Menginfor
masikan hasil pemeriksaan kepada ibu dan
keluarga bahwa ibu dan bayi sehat, namun ibu
mengalami luka robekan pada jalan lahir, ibu
dan keluarga paham.
2. Melakuka
n informed consent penjahitan luka perineum,
ibu dan suami setuju
3. Memastik
an kelengkapan hecting set, hecting set sudah
lengkap.
4. Mengatur
posisi ibu, posisi ibu berbaring
5. Mengganti
sarung tangan, sarung tangan sudah diganti.
6. Melakuka
Pukul 06.55 n penjahitan perineum dengan cara jelujur
WITA (dilakukan oleh Bidan Darsani), luka sudah
bertaut dan tidak ada perdarahan.
7. Melakuka
n ekplorasi ke dalam vagina untuk memastikan
tidak ada bekuan darah, bekuan darah telah
dibersihkan.
8. Merapikan
dan membersihkan ibu, alat dan area kerja, ibu,
area dan alat kerja sudah dibersihkan.

40
9. Mengeval
uasi inisiasi menyusu dini, telah keluar
kolostrom dan bayi dapat menyusu dengan baik.
10. Melanjutk
an observasi kala IV sesuai dengan partograf,
hasil terlampir.

Asuhan Bayi Baru Lahir


S : Ibu mengatakan tidak ada keluhan pada bayi

O : Warna kulit kemerahan, tangis kuat, gerak aktif,


berat bayu lahir 2850 gram, LK/LD : 33/31 cm, PB :
49 cm, HR : 139, R : 47x/menit, pemeriksaan head to
toe dalam keadaan normal.

A : Bayi Ibu “KS” usia 1 jam + bayi masa adaptasi

P:
1. Me
nginformasikan hasil pemeriksaan bahwa bayi
Pukul 08.00 dalam keadaan normal dan sehat, ibu dan suami
WITA paham.
2. Me
lakukan informed consent mengenai tindakan
pemberian Vit. K, ibu bersedia.
3. Me
mberikan salep mata erlamycetin 1% pada
konjungtiva kiri dan kanan, salep sudah
diberikan dan tidak terdapat reaksi alergi.

41
4. Me
nyuntikkan Vit. K 1 mg pada 1/3 anterolateral
paha kiri secara IM, Vit. K sudah disuntikkan
dan tidak ada reaksi alergi.
5. Me
makaikan pakaian lengkap dan juga selimut
hangat kepada bayi, kehangatan bayi sudah
terjaga.
6. Me
mberikan bayi kepada ibu untuk disusui, bayi
menyusu.
7. Me
lanjutkan observasi kala IV hasil terlampir
dalam partograf.

S : Tidak ada keluhan

O:
Ibu
TD : 120/70 mmHg, N : 79x/menit, kontraksi baik,
TFU : 2 jari bawah pusat, kandung kemih tidak penuh,
dan perdarahan tidak aktif, luka perineum terawat,
laktasi (+), BAB (-), BAK (+), mobilisasi (+).
Bayi
KU : baik, tangis kuat, gerak aktif, HR : 141x/menit,
R : 50x/menit, S : 36,8oC, BAB (+), BAK (+).
A : Ibu “KS” umur 34 tahun P1001 + 2 jam postpartum
+ bayi masa adaptasi

42
P:
1. Menginformasikan hasil
pemeriksaan ibu dan bayi dalam keadaan
normal dan sehat, ibu dan suami paham.
2. Melakukan informed consent
tindakan pemberian imunisasi Hb 0 pada bayi,
ibu bersedia bayinya dilakukan imunisasi Hb 0.
3. Memberikan imunisasi Hb 0 0,5
cc pada 1/3 anterolateral paha kanan bayi secara
IM, injeksi sudah dilakukan dan tidak ada reaksi
alergi.
4. Mengajarkan ibu untuk
melakukan masase uterus, ibu dapat melakukan
masase uterus dengan baik dan benar.
5. Memberikan terapi :
a. Tablet amoxicillin 3 x 500mg
b. Tablet paracetamol 3 x 500mg
c. Tablet SF 1 x 200 mg
d. Tablet Vitamin A 1 x 200.000 IU
Ibu bersedia
6. Memberikan KIE tentang :
a. Nutrisi ibu nifas, ibu paham mengenai
nutrisi yang diperlukannya saat ini.
b. Tanda bahaya masa nifas, ibu memahami
dan mengerti tanda bahaya apa saja yang
dapat terjadi.
c. Pemberian ASI on demand, ibu paham
mengenai pemberian ASI on demand.
d. Personal hygiene, ibu paham bagaimana
personal hygiene yang benar sehingga ibu

43
dan bayi terhindar dari infeksi.
7. Memindahka ibu dan bayi ke
ruang nifas untuk rawat gabung, ibu dan bayi
sudah berada di ruang nifas untuk dirawat
gabung.
8. Mendokumentasikan hasil
pemeriksaan pada partograf, buku KIA dan
rekam medis pasien, pendokumentasian sudah
dilakukan.
1.
e
n
g
i
n
f

BAB IV
PEMBAHASAN

44
Persalinan adalah proses dimana bayi, placenta dan selaput ketuban keluar
dari uterus ibu dan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada kehamilan cukup
bulan (setelah UK 37 minggu) tanpa disertai penyulit. Tanda-tanda persalinan yaitu:
his teratur yang menyebabkan pembukaan serviks, keluar lendir bercampur darah dan
pecahnya air ketuban. Pada kasus diatas, Ibu “KS” datang ke PMB Ni Wayan
Darsani, SST dengan keluhan sakit perut hilang timbul, dari punggung ke perut,
disertai keluar lendir bercampur darah sejak, saat dilakukan pemeriksaan dalam
(20/01/2021 pukul 01.30 WITA), portio lunak, pembukaan 4 cm. Selanjutnya empat
jam kemudian dilakukan lagi pemeriksaan dalam (20/01/2021 pukul 05.30 WITA)
portio tidak teraba, pembukaan lengkap. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa
Ibu “KS” akan segera melahirkan karena sudah mengalami tanda-tanda persalinan
dan air ketuban sudah pecah pada pukul 04.30 WITA, maka dari itu bidan melakukan
informed concent mengenai tindakan yang akan dilakukan.
Anamnesis yang telah dilakukan terhadap Ibu “KS” pada riwayat ANC
sebelumnya didapatkan riwayat pemeriksaan kehamilan sebanyak 5 kali di Bidan dan
Puskesmas serta melakukan pemeriksaan laboratorium 1 kali (11/01/2021).
Berdasarkan riwayat ANC ibu dapat ditemukan bahwa pemeriksaan kehamilan ibu
sudah memenuhi standar pemeriksaan yang baik untuk ibu hamil karena ibu sudah
memeriksakan kehamilannya lebih dari 4x, karena standar kunjungan pemeriksaan
hamil minimal 4x. Tidak terdapat kesenjangan jadwal pemeriksaan kehamilan namun
kesenjangan dalam pemeriksaan laboratorium pada Ibu “KS” karena standar
pelayanan antenatal yang telah di tetapkan. Berdasarkan 10 T, pemeriksaan Hb
dilakukan sebanyak 2x yaitu pada Trimester I 1x dan Trimester III 1x, namun Ibu
“KS” melakukan pemeriksaan Hb hanya sekali yaitu pada Trimester III. Pemeriksaan
ini dilakukan untuk mengetahui ibu hamil tersebut menderita anemia atau tidak
selama kehamilannya karena hal tersebut dapat memengaruhi proses tumbuh
kembang janin dalam kandungan dan risiko terjadinya perdarahan saat persalinan.
Data objektif yang telah diperoleh melalui beberapa pemeriksaan seperti
pemeriksaan umum, pemeriksaan fisik dan periksa dalam (VT). Dari pemeriksaan

45
umum yang meliputi pemeriksaan tanda-tanda vital dan keadaan umum diperoleh
bahwa keadaan Ibu “KS” masih dalam batas normal. Pemeriksaan fisik dilakukan
dengan tujuan untuk mendeteksi secara dini kelainan yang ada di fisik ibu, sehingga
dapat dibuat keputusan klinik dan menentukan asuhan yang sesuai dengan kondisi
ibu. Berdasarkan pemeriksaan fisik yang dilakukan dari ujung kepala sampai ujung
kaki (head to toe) tidak ditemukan kelainan pada fisik ibu.
Lamanya kala I fase aktif pada persalinan yang dialami oleh Ibu “KS” adalah
6 jam 5 menit, dimana tidak ada kompikasi yang dialami selama kala I. Ini sudah
sesuai dengan teori (JNPK-KR, 2017). Pada Kala II persalinan Ibu “KS” berlangsung
selama 20 menit. Menurut JNPK-KR (2017), menyatakan bahwa persalinan kala II
yang fisiologis pada ibu primipara akan berlangsung selama maksimal 2 jam,
menunjukkan persalinan kala II yang dialami Ibu “KS” berlangsung secara fisiologis
tidak lebih dari 2 jam. Pada Kala III persalinan Ny.”AS’ dapat dikatakan normal
karena berlangsung selama 10 menit, tidak komplikasi yang dialami selama kala III
dan uterus berkontraksi baik serta keras. Hal ini menunjukkan persalinan kala III Ibu
“KS” berlangsung secara fisiologis karena tidak lebih dari 30 menit. Kondisi ini
disebabkan yaitu dengan melakukan manajemen aktif kala III untuk melahirkan
plasenta. Pada kala IV bidan melakukan pemeriksaan dan pemantauan kondisi ibu 2
jam post partum. Pada kasus Ibu “KS” tidak dilakukan tindakan episiotomi, namun
terdapat laserasi grade II dan sudah dilakukan penjahitan perineum oleh Bidan
Darsani. Dalam memberikan asuhan kebidanan persalinan normal pada Ibu “KS”
bidan sudah mengacu pada standar-standar asuhan kebidanan pada persalinan.
Asuhan pada Neonatus Ibu ”KS” berjenis kelamin perempuan tangis kuat dan
gerak aktif. Pada asuhan bayi baru lahir 1 jam, dilakukan pemeriksaan fisik bayi baru
lahir, pemeriksaan antopometri dan pemberian tetes mata profilaksis dan injeksi
vitamin K dosis 1 mg IM paha kiri. Secara umum kondisi fisik neonatus Ibu “KS”
normal dan tidak ada kelainan. Hasil pemeriksaan antropometri normal dengan berat
badan lahir 2850 gram (normal 2500-4000 gram), panjang badan 49 cm (normal 48-
52 cm), lingkar kepala 33 cm (normal 33-35 cm), lingkar dada 31 cm (normal 30-38
cm). Menurut Permenkes Nomor 53 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan

46
Neonatal Esensial menyatakan bahwa asuhan yang diberikan meliputi perawatan tali
pusat, memberikan salep mata, memberikan vitamin K1 dan imunisasi Hepatitis B-0
(Kemenkes RI, 2014). Berdasarkan hasil asuhan tersebut diketahui bahwa bayi telah
mendapatkan asuhan bayi pada jam pertama dan tidak ada kesenjangan antara
pelayanan neonatal esensial menurut Kemenkes RI (2014) dengan asuhan yang
diberikan pada bayi Ibu “KS”

BAB V
PENUTUP

47
A. SIMPULAN
Setelah dilakukannya asuhan kebidanan persalinan dan bayi baru lahir yang
diberikan kepada Ibu “KS” G1P0000 di PMB Ni Wayan Darsani, SST pada tanggal
19 Januari 2021 Pukul 23.20 WITA dan telah di dokumentasikan dalam bentuk
SOAP. Dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil anamnesa dan pemeriksaan yang dilakukan pada Ibu “KS” didapatkan
diagnosa Ibu “KS” Usia 34 Tahun G1P0000 UK 40 minggu 2 hari PUKI Preskep
U + PK II T/H Intrauterin. Hasil pemeriksaan fisik dalam batas normal 
2. Bayi Lahir Pukul 05.55 WITA tangis kuat gerak aktif dengan jenis kelamin
perempuan dengan BB : 2850 gram, LK/LD : 33/31, PB : 40 cm APGAR Skor :
9-10.
3. Tatalaksana dilakukan sesuai dengan interpretasi data dasar yaitu dengan
memberikan KIE tentang pemberian ASI on demand, istirahat, tanda bahaya
nifas, personal hygiene ibu dan nutrisi yang ibu konsumsi.

B. SARAN
Berdasarkan simpulan di atas maka penulis akan menyampaikan saran yang
mungkin bermanfaat yaitu:
1. Bagi Penulis, Diharapkan bagi penulis agar dapat meningkatkan pengetahuan
dan pengalaman pada kasus dalam memberikan asuhan kebidanan persalinan pada
usia dini. 
2. Bagi Profesi, Diharapkan bidan lebih mampu melakukan tindakan segera,
mengasah keterampilan dan merencanakan asuhan kebidanan khususnya
persalinan dan bayi baru lahir.

DAFTAR PUSTAKA

48
Annisa, N. H., 2019. Efektivitas Metode Relaksasi Pernapasan Pada Nyeri Persalinan.
Jurnal Ilmiah Forilkesuit. 1(2):29-37.

Asri, Dewi. 2010. Asuhan Persalinan Normal. Nuha Medika. Yogyakarta.

Departemen Kesehatan RI. 2007. Asuhan Persalinan Normal Jannah, Nurul. 2014.
ASKEB II Persalinan Berbasis Kompetensi. Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Dharmayanti, I., K. Azhar, D. H. Tjandrarini, P. S. Hidayangsih, 2019. Pelayanan


Pemeriksaan Kehamilan Berkualitas Yang Dimanfaatkan Ibu Hamil Untuk
Persiapan Persalinan Di Indonesia. The Indonesian Journal of Health Ecology.
18(1):60-69.

Erawati, A. D. 2011, Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan Normal, EGC, Jakarta.

JNPK-KR, 2017. Asuhan Persalinan Normal. Edisi V. POGI. Jakarta.

Kemenkes RI. 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan
Dasar dan Rujukan. Kementerian Kesehatan RI. Jakarta.

Kemenkes RI. 2014. Buku Ajar Kesehatan Ibu dan Anak. Kementerian Kesehatan RI.
Jakarta.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016. Asuhan Kebidanan Persalinan.


Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan. Badan Pengembangan dan
Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan. Jakarta.

Manuaba, 2015. Pengantar Kuliah Obstetri. EGC. Jakarta.

Nurjasmi, E. 2020. Situasi Pelayanan Kebidanan pada Masa Pandemi COVID-19


dan Memasuki Era New Normal. Ikatan Bidan Indonesia. Jakarta.

Pastuty, Rosyanti. 2010. Buku Saku Asuhan Ibu Bersalin. Buku Kedokteran EGC.
Jakarta .

Yanti. 2010. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan. Yogyakarta: Pustaka Rihama

49