Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN

MATA KULIAH ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGI IBU DAN


ANAK
“Prinsip Kondisi Patologi pada Kesehatan Reproduksi”

Oleh :
Kelompok III

Ni Kadek Ayu Diantari Lestari (P07124218002)


Ni Kadek Mita Widiari (P07124218004)
Made Chika Devirya (P07124218007)
Dwi Wulan Tuisnayani Putri (P07124218010)

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I.


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR
JURUSAN KEBIDANAN PRODI SARJANA TERAPAN
KEBIDANAN
2021

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat, rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Prinsip Kondisi Patologi pada Kesehatan Reproduksi” tepat pada
waktunya. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan, baik dari segi isi, penulisan maupun kata-kata yang digunakan. Oleh
karena itu, kami mengharapkan segala kritik dan saran yang bersifat membangun
guna perbaikan makalah ini lebih lanjut.
Kami menyadari bahwa tugas ini dapat terwujud berkat bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya menyampaikan terimakasih kepada:
1. Dr. Ni Komang Yuni Rahyani, M.Kes sebagai Pengampu Mata Kuliah
Asuhan Kebianan Patologi Ibu dan Anak
2. Semua pihak yang telah membantu terhadap pembuatan makalah ini.
Saya berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca.

Denpasar, April 2021

Penyusun

i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ............................................................................................. i

BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................... 1

A. Latar Belakang ...................................................................................... 1

B. Tujuan ................................................................................................... 2

C. Manfaat ................................................................................................. 3

BAB II TINJAUAN TEORI ........................................................................ 4

A. Priinsip Kesehatan Reproduksi ............................................................. 4

B. Deteksi dini kesehatan Reproduksi ....................................................... 4

BAB III PENUTUP ................................................................................... 27

A. Kesimpulan ...........................................................................................27

B. Saran .....................................................................................................27

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................28

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1
A.

Latar Belakang
Kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat secara menyeluruh mencakup
fisik, mental dan kehidupan sosial, yang berkaitan dengan alat, fungsi serta proses
reproduksi. Dengan demikian kesehatan reproduksi bukan hanya kondisi bebas
dari penyakit, melainkan bagaimana seseorang dapat memiliki kehidupan seksual
yang aman dan memuaskan. (Jeini Ester, 2019, 3). Menguraikan ruang lingkup
kesehatan reproduksi sebenarnya menggunakan pendekatan siklus hidup, yang
berarti memperhatikan kekhususan kebutuhan penanganan sistem reproduksi pada
setiap fase kehidupan. Dalam pendekatan siklus hidup ii dikenal dengan lima
tahapan, yaitu: konsepsi, bayi dan anak, remaja, usia subur, dan usia lanjut. (Jeini
Ester, 2019, 5).
Gangguan reproduksi adalah kegagalan wanita dalam manajemen kesehatan
reproduksi. Permasalahan dalam bidang kesehatan reproduksi salah satunya
adalah masalah reproduksi yang berhubungan dengan gangguan sistem
reproduksi. Hal ini mencakup infeksi, kanker serviks, masalah struktur,
keganasan pada alat reproduksi wanita, infertil, dan lain-lain.

2
Kanker serviks adalah suatu keganasan dengan ciri pertumbuhan sel dan jaringan
yang tidak terkontrol pada serviks. Kanker dapat bermetastase ke bagian tubuh
yang lain. Kanker serviks disebabkan oleh infeksi kronik leher rahim oleh satu
atau lebih virus HPV (Human Papilloma Virus) yang ditularkan melalui
hubungan seksual (Kemenkes RI, 2016). Gejala pada kanker stadium dini atau
lesi prakanker biasanya asimptomatik dan baru bisa terdeteksi dengan
pemeriksaan dini kanker serviks. Boon dan Suurmeijer melaporkan bahwa
sebanyak 76% kasus tidak menunjukkan gejala sama sekali. Gejala dan tanda
tersebut sesuai dengan stadium dari kanker serviks yang terjadi dari stadium 0
sampai stadium 4 (Kemenkes RI, 2016). Berdasarkan data yang dipaparkan
Kemenkes pada tanggal 31 Januari 2019, terdapat kasus kanker serviks sebesar
23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000
penduduk. Prevalensi kanker tertinggi adalah provinsi DI Yogyakarta yaitu 4,86
per 1000 penduduk. Selain itu, ada kanker payudara dimana kanker payudara
adalah pertumbuhan sel-sel abnormal yang mengganggu pertumbuhan sel
jaringan tubuh terutama sel epitheel payudara. Angka kejadian untuk perempuan
yang tertinggi adalah kanker payudara yaitu sebesar 42,1 per 100.000 penduduk
dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk yang diikuti kanker leher
rahim sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per
100.000 penduduk (Kemenkes RI, 2019).
Selain itu, kekerasan Dalam Rumah tangga juga termasuk kekerasan dalam
reproduksi, dimana Kekerasan yang terjadi di rumah tangga dikenal dengan
kekerasan pasangan terjadi saat seseorang di dalam hubungan intim atau
pernikahan mencoba mendominasi atau mengontrol terhadap orang lain,
kekerasan tersebut dapat berupa kekerasan fisik dan lebih dikenal dengan istilah
kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) (Kemenkes RI, 2016). Data
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
(KemenPPPA ), per 1 Januari hingga 6 November 2020 menunjukkan dari
seluruh kasus kekerasan terhadap perempuan (5.573 kasus), mayoritas
kasusnya adalah KDRT (3.419 kasus atau 60,75 persen).

3
Khasus infertilpun banyak dijumpai oleh pasangan suami istri, dimana Infertilitas
adalah ketidakmampuan sepasang suami istri untuk memiliki keturunan dimana
wanita belum mengalami kehamilan setelah bersenggama secara teratur 2-
3x/minggu, tanpa mamakai matoda pencegahan selama 1 tahun.
Banyak penyakit yang harus dibahas, maka dengan itu kami akan menjelaskan di
dalam makalah ini

B.
T
ujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui prinsip kesehatan reproduksi
2. Untuk mengetahui Deteksi dini pada kesehatan reproduksi

C.
M
anfaat
Manfaat pembuatan makalah ini adalah agar dapat digunakan sebagai bahan
pengkajian atau referensi di bidang pendidikan maupun praktik khususnya pada
pembelajaran Asuhan Kebidanan Patologi Ibu dan Anak

4
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Prinsip Kesehatan Reproduksi


1. Pengertian Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sejahtera fisik,mental, dan sosial
secara utuh tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam suatu yang
berkaitan dengan system reproduksi, fungsi dan prosesnya. Kesehatan Reproduksi
adalah suatu keadaan sehat secara menyeluruh mencakup fisik, mental dan kehidupan
sosial yang berkaitan dengan alat, fungsi serta proses reproduksi yang pemikiran
kesehatan reproduksi bukannya kondisi yang bebas dari penyakit melainkan
bagaimana seseorang dapat memiliki kehidupan seksual yang aman dan memuaskan
sebelum dan sesudah menikah (Kemenkes RI, 2016). Begitu sebaliknya, kondisi
patologi pada kesehatan reproduksi adalah suatu kondisi dimana tidak sejahteranya
fisik, mental, dan sosial secara utuh yang berkaitan sistem reproduksi, fungsi, dan
prosesnya.

B.
D
eteksi Dini pada Kesehatan Reproduksi
1. Deteksi Dini pada Kanker Serviks
Kanker serviks adalah suatu keganasan dengan ciri pertumbuhan sel dan
jaringan yang tidak terkontrol pada serviks. Kanker dapat bermetastase ke bagian
tubuh yang lain. Kanker serviks disebabkan oleh infeksi kronik leher rahim oleh satu
atau lebih virus HPV (Human Papilloma Virus) yang ditularkan melalui hubungan
seksual (Kemenkes RI, 2016).
a. Faktor Risiko Infeksi HPV pada Wanita
1) Hubungan seksual pada usia dini.
2) Berhubungan seks dengan berganti-ganti pasangan atau memiliki pasangan
yang suka berganti-ganti pasangan.

5
3) Terpapar infeksi yang ditularkan secara seksual (IMS).
4) Tes deteksi dini kanker sebelumnya abnormal.
5) Perokok aktif maupun pasif.
6) Imunnosupresi.
7) Paritas yang tinggi.
8) Faktor sosial ekonomi.
(Kemenkes RI, 2016)
b. Gejala Kanker Serviks
Gejala pada kanker stadium dini atau lesi prakanker biasanya asimptomatik
dan baru bisa terdeteksi dengan pemeriksaan dini kanker serviks. Boon dan
Suurmeijer melaporkan bahwa sebanyak 76% kasus tidak menunjukkan gejala sama
sekali. Gejala dan tanda tersebut sesuai dengan stadium dari kanker serviks yang
terjadi dari stadium 0 sampai stadium 4 (Kemenkes RI, 2016).
1) Pada stadium 0, lesi belum menembus membrana basalis, stadium I terjadi
karsinoma invasif yang berada di serviks.
2) Stadium II, karsinoma bermetastase ke vagina sampai perimetrium.
3) Stadium III, karsinoma bermetastase sampai ke panggul bagian bawah.
4) Stadium IV karsinoma, bermetastase sampai ke rektum, kandung kemih dan
organ lain yang lebih jauh.
Gejala dan tanda yang terjadi adalah perdarahan pervaginam pada saat kontak
seksual atau secara spontan di luar masa haid atau setelah menopause, adanya rasa
nyeri pada kelenjar lympa dan adanya bau yang menyengat pada sekret vagina. Jika
tumornya besar, dapat terjadi infeksi dan menimbulkan cairan berbau yang mengalir
keluar dari vagina. Gejala dan tanda kanker serviks pada stadium yang sudah lanjut
adalah akan timbul nyeri panggul, gejala yang berkaitan dengan kandung kemih dan
usus besar, gangguan organ yang terkena, misalnya otak (nyeri kepala, gangguan
kesadaran), paru (sesak atau batuk darah), tulang (nyeri atau patah), hati (nyeri perut
kanan atas, kuning, atau pembengkakan) dan lain-lain (Kemenkes RI, 2016).
c. Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Pap Smear
1) Pengertian Pap Smear

6
Pap Smear adalah pemeriksaan sitologi dari serviks dan porsio untuk
melihat adanya perubahan/keganasan pada serviks atau portio. Melalui tes Pap
Smear, sel-sel yang berasal dari eksfoliasi serviks diambil dan diwarnakan secara
khusus dan sel-sel yang abnormal dapat terlihat di bawah mikroskop. Pap smear
mempunyai efektifitas yang tinggi untuk skrining sehingga dipercaya untuk
mendeteksi lesi prakanker. Lesi prakanker adalah kelainan pada epitel serviks
akibat terjadinya perubahan sel-sel epitel (kelainan belum menembus lapisan
basal). Deteksi dini lesi prakanker dapat mencegah lesi prakanker tidak berlanjut
menjadi kanker leher rahim jika segera dilakukan pengobatan (Kemenkes RI,
2016).
2) Indikasi Pap Smear
a) Wanita yang sudah melakukan seksual aktif.
b) Deteksi dini adanya keganasan pada serviks.
c) Wanita dengan gejala: perdarahan diantara siklus haid, perdarahan pasca
menopause, contact bleeding.
d) Pemantauan setelah pembedahan, radioterapi atau kemoterapi kanker
serviks.
e) Wanita pasca histerektomi sub total.
3) Waktu Pemeriksaan Pap Smear
a) Dilakukan secara rutin pada wanita 3 tahun sesudah intercourse pertama
kali atau tidak melebihi umur 21 tahun.
b) Dilakukan rutin setiap tahun (pemeriksaan pap smear konvensional) atau 2
tahun (dengan liquid based) sampai umur 30 tahun.
c) Dilakukan setiap 2-3 tahun bila dalam 3 kali pemeriksaan berturut-turut
dengan hasil normal pada usia diatas 30 tahun.
d) Pemeriksaan pap smear bisa dilakukan lebih sering bila ditemukan hasil
yang abnormal.
e) WHO menyarankan, skrining dalam dilakukan pada setiap wanita sekali
dalam hidupnya pada wanita yang berumur 35-40 tahun. Jika fasilitas
tersedia, lakukan setiap 10 tahun pada wanita berumur 35-55 tahun. Jika

7
fasilitas tersedia lebih, maka lakukan setiap 5 tahun pada wanita berumur
35-55 tahun. Ideal atau jadwa yang optimal setiap 3 tahun pada wanita
yang berumur 25-60 tahun.
4) Persiapan Klien Sebelum Pemeriksaan Pap Smear
a) Hindari melakukan pembilasan vagina, penggunaan tampon vagina,
spermisida foam, krim/jelly/obat-obatan vagina minimal 2 hari sebelum
dilakukan pemeriksaan.
b) Tidak melakukan hubungan seksual paling sedikit 24 jam sebelum
dilakukan tes.
5) Hal Yang Perlu Diperhatikan pada Prosedur Pap Smear
a) Mengisi blanko permintaan secara lengkap
b) Tidak melakukan pemeriksaan vagina lainnya sebelum pengambilan
sampe
c) Tidak menggunakan lubrik/antiseptic pada speculum
d) Penderita pascasalin, pascaoperasi rahim, pascaradiasi sebaiknya datang 6-
8 minggu kemudian
e) Sebaiknya dilakuka di luar menstruasi kecuali pada perdarahan vaginal
abnormal sampel dapat diambil dengan melakukan tampon vagina
sebelum mengambil sampel
f) Pada kasus yang dicurigai keganasan endometrium disarankan untuk
mengambil sampel pada forniks posterior atau melakukan kerokan pada
endometrium secara langsung
g) Specimen dapat diambil dari sekresi vagina, serket serviks, secret
endometrium dan fornik posterior. Tempat lokasi pengambilan yang tepat
adalah pada daerah sambungan skuamosaKolumnar (SSK).
d. Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Tes IVA
Tes IVA merupakan salah satu deteksi dini kanker serviks yang cukup mudah,
murah, efektif, mampu laksana dan dapat dilakukan oleh semua tenaga kesehatan
yang terlatih termasuk bidan di semua tingkat pelayanan kesehatan. Inspeksi visual
asam asetat (IVA) adalah suatu metode skrining kanker mulut rahim dengan

8
menggunakan larutan asam cuka (asam asetat 3-5%) pada serviks dan melihat
perubahan warna yang terjadi setelah dilakukan olesan (Kemenkes RI, 2016).
Test IVA merupakan suatu tes yang bertujuan untuk melihat adanya sel
serviks yang mengalami displasia. Pemberian asam asetat 3-5% pada serviks akan
mempengaruhi epitel pada serviks yang abnormal dan akan meningkatkan
osmolaritas cairan ekstraseluler. Cairan ekstraseluler yang bersifat hipertonik akan
menarik cairan dari intraseluler sehingga membran akan kolaps dan jarak antar sel
akan semakin dekat. Sebagai akibatnya, jika permukaan epitel mendapat sinar, sinar
tersebut tidak akan diteruskan ke stroma, tetapi dipantulkan keluar sehingga
permukaan epitel abnormal akan berwarna putih, disebut juga epitel putih
(acetowhite). Penelitian telah membuktikan bahwa IVA memiliki tingkat sensitifitas
dan spesifisitas yang tinggi untuk digunakan sebagai metode penapisan lesi pra
kanker. Sasaran pemeriksaan IVA adalah seluruh wanita yang telah melakukan
hubungan sexual terutama usia 30 sampai 50 tahun.Tidak direkomendasikan pada
wanita menopause, karena daerah zona transisional seringkali terletak pada kanalis
servikalis dan tidak tampak dengan pemeriksaan inspekulo. Sama seperti tes PAP
Smear, pemeriksaan IVA sebaiknya dilakukan setiap 3 tahun sekali untuk hasil yang
optimal dan fasilitas tersedia, jika tidak memungkinkan pemeriksaan IVA dapat
dilakukan setiap 5 tahun sekali (Kemenkes RI, 2016).
1) Tabel Kategori Temuan IVA
Kategori
1. Normal Licin, merah muda, bentuk porsio normal
2. Infeksi Servisitis (inflamasi, hiperemisis), banyak flour,
ekstropion, polip
3. Positif IVA Plak putih, epitel acetowhite (bercak putih), biasanya
dekat SSK
4. Kanker Leher Rahim Pertumbuhan seperti bunga kol, pertumbuhan mulai
berdarah
Sumber : (Kemenkes RI, 2016)
2) Penatalaksanaan Hasil Tes IVA

9
a) Penatalaksanaan hasil tes IVA dilakukan berdasarkan alur pendekatan
program See and Treat.
b) Apabila hasil tes IVA menunjukan hasil negatif maka ibu diharapkan
untuk menjalani pemeriksaan tes IVA kembali 3 tahun kemudian.
c) Apabila hasil tes IVA menunjukan hasil positif, maka selanjutnya
dilakukan penilaian apakah lesi berukuran 75% dari permukaan serviks
yang meluas ke dinding vagina (lebih dari 2 mm di luar krioprobe) atau
tidak.
d) Apabila lesi berukuran kurang dari 75% dari permukaan serviks maka
selanjutnya dapat dilakukan cryotherapy.
e) Jika tidak cocok dengan cryotherapy, maka dilakukan penilaian lebih
lanjut dengan kolposkopi dan biopsi untuk menentukan hasilnya apakah
normal, prakanker atau kanker.
f) Selain hasil tes IVA dinyatakan positif atau negatif, pada saat pemeriksaan
inspekulo pada tes IVA dapat terlihat pula apakah ibu menderita suspek
kanker serviks atau tidak dengan tampaknya jaringan pada serviks seperti
bunga kol dan mudah berdarah.
g) Jika ibu terdiagnosa suspek kanker serviks maka tidak perlu melakukan
tes IVA, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut dengan kolposkopi dan
biopsi untuk menentukan kepastian diagnosis kanker serviks tersebut.
h) Jika pada saat tes IVA, Sambungan Skuamokolumnar (SSK) tidak dapat
ditampakan seluruhnya maka tetap dilakukan pulasan asam asetat 3-5%,
tetapi beri catatan bahwa SSK tidak terlihat seluruhnya, sebaiknya
lanjutkan dengan pemeriksaan pap smear.
i) Jika Sambungan skuamokolumnar (SSK) terlihat semua lanjutkan dengan
melakukan pulasan asam asetat 3-5% pada serviks.
2. Deteksi Dini Kanker Payudara
a. Pengertian Tumor dan Kanker Payudara
Tumor payudara adalah pertumbuhan sel-sel abnormal yang mengganggu
pertumbuhan sel jaringan tubuh terutama sel epitheel payudara. Kanker payudara

10
adalah suatu penyakit pertumbuhan sel, akibat adanya onkogen yang menyebabkan
sel normal menjadi sel kanker pada jaringan payudara, merupakan tumor ganas yang
dapat terjadi di kelenjar susu, aliran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat
payudara. Perbedaan keduanya, pertama kanker lebih cepat tumbuh dibandingkan
dengan tumor. Dalam 8-200 hari, sel-sel kanker bisa membelah dengan sangat cepat.
Sementara tumor jinak pertumbuhannya lebih lambat. Kedua, ketika diraba, benjolan
kanker terasa padat dan keras. Sel-sel kanker bila teraba rasanya akan seperti meraba
tulang, Sementara itu, benjolan tumor akan teraba lebih lunak. Benjolan tumor pun
bisa mengalami pergeseran jika ditekan, tidak seperti kanker yang kaku.Ini karena
sel-sel kanker umumnya melakukan infiltrasi (penyusupan) terhadap jaringan-
jaringan di sekitarnya, maka sulit untuk digerakan (Kemenkes RI, 2016).
Benjolan akibat kanker yang sudah berkembang lebih lanjut juga
menyebabkan perubahan pada permukaan payudara, misalnya puting yang tertarik ke
dalam, itu karena infiltrasi. Pemeriksaan payudara yang dilakukan secara rutin akan
meningkatkan sensitivitas pemeriksanya untuk mendeteksi adanya benjolan. Artinya,
kemampuan membedakan antara benjolan kanker dan tumor juga meningkat
(Kemenkes RI, 2016).
b. Tanda-Tanda Perubahan Payudara Yang Mengarah Kanker
1) Adanya benjolan
2) Perubahan ukuran dan bentuk payudara
3) Terdapat kerutan di payudara
4) Keluarnya cairan dari putting secara tiba-tiba
5) Nyeri tidak kunjung hilang di bagian tertentu payudara
6) Payudara nampak kemerahan dan bengkak.
7) Gatal, bersisik, sakit dan ruam pada putting susu.
c. Mendeteksi Kanker Payudara dengan SADARI
Pemeriksaan payudara sendiri adalah pemeriksaan payudara yang dilakukan
oleh perempuan itu sendiri setelah mendapatkan menstruasi, jadi pemeriksaan
payudara dilakukan setiap bulan. Tujuan dari SADARI adalah untuk mengetahui
adanya benjolan pada payudara. SADARI harus dilakukan karena wanita mempunyai

11
risiko yang besar untuk terkena tumor atau keganasan pada payudara (Kemenkes RI,
2016).
Pemeriksaan payudara sendiri (sadari) dapat dilakukan oleh wanita siapa pun
setelah berusia 20 tahun. Para wanita disarankan untuk melakukannya sendiri, karena
mereka pasti mengenal struktur payudara normalnya. Oleh karenanya, jika ada
benjolan atau hal tidak normal yang lain, maka mereka akan langsung menyadarinya.
Saat yang paling tepat untuk melakukan pemeriksaan ini adalah pada hari ke 5-7
setelah menstruasi datang, saat payudara tidak mengeras, membesar, atau nyeri lagi.
Untuk wanita yang telah menopause, atau tidak menstruasi lagi, mereka dapat
melakukannya kapan saja, dan disarankan untuk memeriksanya sendiri setiap awal
atau akhir bulan. Langkah-langkah pemeriksaan payudara sendiri, yaitu:
1) Mulailah pemeriksaan dengan mengamati bentuk payudara Anda di cermin.
Pastikan bahu lurus sejajar, dan letakkan tangan Anda di pinggang. Perhatikan
bentuk, ukuran, dan warnanya. Kelainan yang mungkin ditemukan seperti
kerutan, benjolan, lekukan, posisi puting yang tidak normal, atau struktur kulit
yang tidak normal (merah, kasar,bengkak, berkerut), atau bahkan nyeri.
2) Angkat tangan ke atas, dan lihat adakah perubahan pada payudara. Saat
berdiri di depan cermin, lihat tanda-tanda keluarnya cairan dari puting ( dapat
berupa cairan bening, putih, kuning atau darah).
3) Raba payudara saat berbaring, gunakan tangan kanan untuk meraba payudara
kiri dan kemudian gunakan tangan kiri untuk meraba payudara kanan.
Gunakan sentuhan yang lembut, tekan perlahan permukaan payudara dan
rasakan apakah ada benjolan. Rabalah sesuai dengan pola berikut: melingkar,
dari atas ke bawah, dari tengah ke samping, sampai area ketiak. Lakukan
langkah ini pada kedua payudara. Ikuti pola gerakan melingkar, dimulai dari
puting, bergerak melingkar lebih besar hingga ke bagian luar dari payudara.
Anda dapat juga menggerakan jari-jari ke atas dan ke bawah secara vertikal.
Yakinkan Anda meraba semua jaringan dari depan ke belakang. Untuk kulit
dan jaringan dibawah, gunakan tekanan ringan, gunakan tekanan sedang pada
jaringan di bagian tengah payudara, dan gunakan tekanan yang kuat untuk

12
jaringan yang lebih dalam pada bagian belakang. Saat mencapai jaringan yang
dalam, Anda harus meraba ke bawah ke bagian rusuk.
4) Terakhir, rabalah payudara saat berdiri atau duduk. Banyak perempuan
menemukan bahwa cara yang termudah untuk meraba payudara adanya
kelainan atau tidak yaitu pada saat kulit payudara basah dan licin, sehingga
mereka melakukannya pada saat mandi.
3. Kekerasan dalam Rumah Tangga
Kekerasan yang terjadi di rumah tangga dikenal dengan kekerasan pasangan
terjadi saat seseorang di dalam hubungan intim atau pernikahan mencoba
mendominasi atau mengontrol terhadap orang lain, kekerasan tersebut dapat berupa
kekerasan fisik dan lebih dikenal dengan istilah kekerasan dalam rumah tangga
(KDRT) (Kemenkes RI, 2016).
a. Tanda KDRT
1) Tanda Umum dari KDRT
a) Terlihat takut atau cemas untuk menyenangkan pasangan mereka.
b) Menyetujui apapun yang dikatakan atau dilakukan oleh pasangan.
c) Sering melaporkan kepada pasangan dimana dan apa yang dilakukan.
d) Sering menerima telepon yang mengganggu dari pasangan.
e) Membicarakan temperamen pasangannya, kecemburuannya dan
possessive.
2) Tanda dari kekerasan fisik
a) Mengalami cedera yang sering tetapi harus dibedakan dengan
“kecelakaan”.
b) Menggunakan pakaian yang dirancang untuk menutupi memar atau
goresan.
3) Tanda dari Menutup diri
a) Dibatasi dari bertemu keluarga dan teman.
b) Jarang pergi ke tempat umum tanpa pasangannya.
c) Akses terbatas terhadap uang, kartu kredit dan kendaraan.
b. Kekerasan Emosional

13
Tujuan dari kekerasan emosional adalah menjauhkan perasaan seseorang dari
ketidaktergantungan jika Anda korban dari perlakuan kasar emosi, anda merasa
bahwa tidak ada jalan dalam hubungan tersebut, atau tanpa pasangan pelaku
kekerasan kasar, anda tidak berarti. Kekerasan emosi termasuk perlakuan kasar secara
verbal seperti berteriak/bersorak, memanggil nama dengan nama yang tidak
baik,menyalahkan dan membuat malu. Perilaku mengisolasi, intimidasi dan
mengontrol juga merupakan kekerasan emosi. Pelaku kekerasan emosi akan
mengarah pada perilaku kasar secara fisik (Kemenkes RI, 2016).

4. Infertilitas
Infertilitas adalah ketidakmampuan sepasang suami istri untuk memiliki keturunan
dimana wanita belum mengalami kehamilan setelah bersenggama secara teratur 2-
3x/minggu, tanpa mamakai matoda pencegahan selama 1 tahun. Tidak hamil setelah
12 bulan melakukan hubungan intim secara rutin (1-3 kali seminggu) dan bebas
kontrasepsi bila perempuan berumur kurang dari 34 tahun. Tidak hamil setelah 6
bulan melakukan hubungan intim secara rutin (1-3 kali seminggu) dan bebas
kontrasepsi bila perempuan berumur lebih dari 35 tahun. Perempuan yang bisa hamil
namun tidak sampai melahirkan sesuai masanya (37-42 minggu). Jenis infertilitas ada
2 yaitu:
a. Infertilitas primer : bila pasangan tersebut belum pernah mengalami kehamilan
sama sekali, pasangan dengan infertilitas primer tidak bisa hamil.
b. Infertilitas sekunder : bila pasangan tersebut sudah pernah melahirkan namun
setelah itu tidak pernah hamil lagi, sulit untuk hamil setelah sudah pernah sekali
hamil dan melahirkan secara normal sebelumnya

Berbagai gangguan yang memicu terjadinya infertilitas pada wanita antara lain:
a. Gangguan organ reproduksi
1) Infeksi vagina sehingga meningkatkan keasaman vagina yang akan membunuh
sperma dan pengkerutan vagina yang akan menghambat transportasi sperma ke
vagina.

14
2) Kelainan pada serviks akibat defesiensi hormon esterogen yang mengganggu
pengeluaran mukus serviks. Apabila mukus sedikit di serviks, perjalanan sperma
ke dalam rahim terganggu. Selain itu, bekas operasi pada serviks yang menyisakan
jaringan parut juga dapat menutup serviks sehingga sperma tidak dapat masuk ke
rahim.
3) Kelainan pada uterus, misalnya diakibatkan oleh malformasi uterus yang
mengganggu pertumbuhan fetus, mioma uteri dan adhesi uterus yang
menyebabkan terjadinya gangguan suplai darah untuk perkembangan fetus dan
akhirnya terjadi abortus berulang.
4) Kelainan tuba falopii akibat infeksi yang mengakibatkan adhesi tuba falopii dan
terjadi obstruksi sehingga ovum dan sperma tidak dapat bertemu
b. Gangguan ovulasi Gangguan ovulasi ini dapat terjadi karena ketidakseimbangan
hormonal seperti adanya hambatan pada sekresi hormon FSH dan LH yang
memiliki pengaruh besar terhadap ovulasi. Hambatan ini dapatterjadi karena
adanya tumor kranial, stress, dan penggunaan obat-obatan yang menyebabkan
terjadinya disfungsi hipothalamus dan hipofise. Bila terjadi gangguan sekresi
kedua hormon ini, maka folicle mengalami hambatan untuk matang dan berakhir
pada gengguan ovulasi.
c. Kegagalan implantasi Wanita dengan kadar progesteron yang rendah mengalami
kegagalan dalam mempersiapkan endometrium untuk nidasi. Setelah terjadi
pembuahan, proses nidasi pada endometrium tidak berlangsung baik. Akibatnya
fetus tidak dapat berkembang dan terjadilah abortus.
d. Endometriosis Kondisi menebalnya lapisan endometrium di tuba falopii atau
ovarium. Kondisi ini sering menimbulkan kista. Kista dapat
mengganggupematangan folikel dan pelepasan sel telur.
e. Abrasi genetis Translokasi Robertsonian menyebabkan aborsi spontan atau
infertilitas primer
f. Faktor immunologis Apabila embrio memiliki antigen yang berbeda dari ibu,
maka tubuh ibu memberikan reaksi sebagai respon terhadap benda asing. Reaksi
ini dapat menyebabkan abortus spontan pada wanita hamil.

15
g. Lingkungan Paparan radiasi dalam dosis tinggi, asap rokok, gas ananstesi, zat
kimia, dan pestisida dapat menyebabkan toxic pada seluruh bagian tubuh termasuk
organ reproduksi yang akan mempengaruhi kesuburan.
h. Usia Usia 35 tahun peluang seorang wanita akan hamil adalah 95% setelah rutin
melakukan hubungan seks selama 3 tahun, pada wanita 38 tahun peluangnya akan
turun menjadi 75%.

Manifestasi klinis infertilitas pada wanita yaitu terjadi kelainan system endokrin,
Hipomenore dan amenore, diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak
adekuat menunjukkan masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau aberasi
genetik, wanita dengan sindrom turner biasanya pendek, memiliki payudara yang
tidak berkembang,dan gonatnya abnormal, wanita infertil dapat memiliki uterus,
motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat infeksi, adhesi,
atau tumor, dan traktus reproduksi internal yang abnormal.
Patofisiologi infertilitas pada wanita yaitu beberapa penyebab dari gangguan
infertilitas dari wanita diantaranya gangguan stimulasi hipofisis hipotalamus yang
mengakibatkan pembentukan FSH dan LH tidak adekuat sehingga terjadi gangguan
dalam pembentukan folikel di ovarium. Penyebab lain yaitu radiasi dan toksik yng
mengakibatkan gangguan pada ovulasi. Gangguan bentuk anatomi sistem reproduksi
juga penyebab mayor dari infertilitas, diantaranya cidera tuba dan perlekatan tuba
sehingga ovum tidak dapat lewat dan tidak terjadi fertilisasi dari ovum dan sperma.
Kelainan bentuk uterus menyebabkan hasil konsepsi tidak berkembang normal
walapun sebelumnya terjadi fertilisasi. Abnormalitas ovarium, mempengaruhi
pembentukan folikel. Abnormalitas servik mempegaruhi proses pemasukan sperma.
Faktor lain yang mempengaruhi infertilitas adalah aberasi genetik yang menyebabkan
kromosom seks tidak lengkap sehingga organ genitalia tidak berkembang dengan
baik. Beberapa infeksi menyebabkan infertilitas dengan melibatkan reaksi imun
sehingga terjadi gangguan interaksi sperma sehingga sperma tidak bisa bertahan,
infeksi juga menyebebkan inflamasi berlanjut perlekatan yang pada akhirnya
menimbulkan gangguan implantasi zigot yang berujung pada abortus.

16
Penatalaksanaan infertilitas pada wanita yaitu:
a. Pengetahuan tentang siklus menstruasi, gejala lendir serviks puncak dan waktu
yang tepat untuk coital
b. Pemberian terapi obat, seperti;
1) Stimulant ovulasi, baik untuk gangguan yang disebabkan oleh supresi
hipotalamus, peningkatan kadar prolaktin, pemberian TSH.
2) Terapi penggantian hormon
3) Glukokortikoid jika terdapat hiperplasi adrenal
4) Penggunaan antibiotika yang sesuai untuk pencegahan dan penatalaksanaan infeksi
dini yang adekuat
5) GIFT ( gemete intrafallopian transfer )
6) Laparatomi dan bedah mikro untuk memperbaiki tuba yang rusak secara luas
7) Bedah plastic misalnya penyatuan uterus bikonuate,
8) Pengangkatan tumor atau fibroid
9) Eliminasi vaginitis atau servisitis dengan antibiotika atau kemoterapi
c. Obat stimulasi ovarium (Induksi ovulasi) Klomifen sitrat
1) Meningkatkan pelepasan gonadotropin FSH & LH
2) Diberikan pd hari ke-5 siklus haid
3) 1 x 50 mg selama 5 hari
4) Ovulasi 5 – 10 hari setelah obat terakhir
5) Koitus 3 x seminggu atau berdasarkan USG transvaginal
6) Dosis bisa ditingkatkan menjadi 150 – 200 mg/hari
7) 3 – 4 siklus obat tidak ovulasi dengan tanda hCG 5000 – 10.000 IU
d. Epimestrol Memicu pelepasan FSH dan LH, Hari ke 5 – 14 siklus haid, 5 – 10
mg/hari
e. Bromokriptin Menghambat sintesis & sekresi prolactin Indikasi : Kdr prolaktin
tinggi (> 20 mg/ml) dan Galaktore. Dosis sesuai kadar prolaktin : Oligomenore
1,25 mg/hari. Gangguan haid berat : 2 x 2,5 mg/hari Gonadotropin. HMG (Human
Menopausal Gonadotropine). FSH & LH : 75 IU atau 150 IU. Untuk memicu

17
pertumbuhan folikel Dosis awal 75 – 150 IU/hari selama 5 hari dinilai hari ke 5
siklus haid.
f. hCG 5000 IU atau 10.000 IU, untuk memicu ovulasi Diameter folikel 17-18 mm
dengan USG transvaginal Mahal, sangat beresiko : Perlu persyaratan khusus
Hanya diberikan pada rekayasa teknologi reproduksi Catatan : Untuk pria diterapi
dengan FSH, Testosteron
g. Terapi hormonal pada endometriosis Supresif ovarium sehingga terjadi atrofi
Endometriosis
h. Danazol Menekan sekresi FSH & LH Dosis 200 – 800 mg/hari, dosis dibagi 2x
pemberian
i. Progesteron Desidualisasi endometrium pada Atrofi jaringan Endometritik
j. Medroksi progesteron asetat 30 – 50 mg/hari 9) GnRH agonis Menekan sekresi
FSH & LH. Dosis 3,75 mg/IM/bulan. Tidak boleh > 6 bulan : penurunan densitas
tulang
k. Fertilisasi Invitro (FIV) Fertilisasi diluar tubuh dengan suasana mendekati
alamiah.Metode ini menjadi alternatif atau pilihan terakhir. Syarat : Uterus &
endometrium normal Ovarium mampu menghasilkan sel telur. Mortilitas sperma
minimal. 50.000/ml. Angka kehamilan : 30 -35%

5. Infeksi Menulaar Seksual


a. Pengertian Infeksi Menular Seksual
Penyakit kelamin ( veneral disease ) sudah lama di kenal dan beberapa di
antaranya sangat populer di Indonesia yaitu sifilis dan gonorrea. Dengan semakin
majunya ilmu pengetahuan ,dan semakin banyaknya penyakit–penyakit baru,
sehingga istilah tersebut tidak sesuai lagi dan diubah menjadi Sexually
Transmitted Diseases ( STD ) atau Penyakit Menular Seksual (PMS). Kemudian
sejak 1998, istilah Sexually Transmitted Diseases (STD) mulai berubah menjadi
Infeksi menular seksual (IMS) agar dapat menjangkau penderitaan asimptomatik
(Daili, 2019).

18
Infeksi menular Seksual ( IMS ) adalah berbagai infeksi yang dapat menular
dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual. Semua teknik hubungan
seksual baik lewat vagina, dubur, atau mulut baik berlawanan jenis kelamin
maupun dengan sesama jenis kelamin bisa menjadi sarana penularan penyakit
kelamin. Sehingga kelainan ditimbulkan tidak hanya terbatas pada daerah genital
saja, tetapi dapat juga di daerah ekstra genital. Kelompok umur yang memiliki
risiko paling tinggi untuk tertular IMS adalah kelompok remaja sampai dewasa
muda sekitar usia (15-24 tahun).
b. Tanda dan Gejala
Gejala infeksi menular seksual (IMS ) di bedakan menjadi berikut:
Pada Perempuan
1) Luka dengan atau tanpa rasa sakit di sekitar alat kelamin, anus, mulut atau
bagian tubuh ang lain, tonjolan kecil – kecil, diikuti luka yang sangat sakit
disekitar alat kelamin.
2) Cairan tidak normal yaitu cairan dari vagina bisa gatal, kekuningan, kehijauan,
berbau atau berlendir.
3) Sakit pada saat buang air kecil yaitu IMS pada wanita biasanya tidak
menyebabkan sakit atau burning urination.
4) Tonjolan seperti jengger ayam yang tumbuh disekitar alat kelamin
5) Sakit pada bagian bawah perut yaitu rasa sakit yang hilang muncul dan tidak
berkaitan dengan menstruasi bisa menjadi tanda infeksi saluran reproduksi
(infeksi yang telah berpindah kebagian dalam sistemik reproduksi, termasuk
tuba fallopi dan ovarium )
6) Kemerahan yaitu pada sekitar alat kelamin.

Pada Laki – laki


1) Luka dengan atau tanpa rasa sakit di sekitar alat kelamin, anus , mulut atau
bagian tubuh yang lain, tonjolan kecil – kecil , diikuti luka yang sangat sakit di
sekitar alat kelamin

19
2) Cairan tidak normal yaitu cairan bening atau bewarna berasal dari pembukaan
kepala penis atau anus.
3) Sakit pada saat buang air kecil yaitu rasa terbakar atau rasa sakit selama atau
setelah urination.
4) Kemerahan pada sekitar alat kelamin, kemerahan dan sakit di kantong zakar.

c. Macam-Macam Penyakit Menular Seksual


Berdasarkan penyebabnya, Infeksi Menular Seksual di bedakan menjadi
empat kelompok yaitu:
1) IMS yang disebabkan bakteri, yaitu: Gonore, infeksi genital non spesifik, Sifilis,
Ulkus Mole, Limfomagranuloma Venerum,Vaginosis bakterial
2) IMS yang disebabkan virus, yaitu: Herpes genetalis, Kondiloma Akuminata,
Infeksi HIV, dan AIDS, Hepatitis B, Moluskus Kontagiosum.
3) IMS yang disebabkan jamur, yaitu: Kandidiosis genitalis 4. IMS yang disebabkan
protozoa dan ektoparasit, yaitu: Trikomoniasis, Pedikulosis Pubis, Skabies.

Berdasarkan cara penularannya, infeksi menular seksual dibedakan menjadi


dua, yaitu IMS mayor (penularannya dengan hubungan seksual) dan IMS minor
(Penularannya tidak harus dengan hubungan seksual).
IMS Mayor
1) Gonore
Etiologi Gonore: Neisseria gonorrhoeae. Masa inkubasi: Pria 2-5 hari, gejala
pada wanita sulit diketahui oleh karena sering asimtomatik. Gejala klinis: Pria duh
tubuh uretra, kental, putih kekuningan atau kuning, kadang-kadang mukoid atau
mukopurulen; eritema dan atau edema pada meatus. Sedangkan pada wanita
seringkali asimtomatik, apabila ada duh tubuh serviks purulen atau mukopurulen,
kadangkadang disertai eksudat purulen dari uretra atau kelenjar Bartholini. Pada
wanita biasanya datang berobat setelah ada komplikasi antara lain servisitis,
bartilinitis, dan nyeri pada panggul bagian bawah.

20
Diagnosis ditegakan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis, dan beberapa
pemeriksaan penunjang yaitu: sediaan langsung, kultur (biakan), tes
betalaktamase, tes Thomson. Komplikasi: Pada pria epididimitis, orkitis =>
infertilitas, sedangkan komplikasi pada wanita adneksitis, salpingitis => kehamilan
ektopik, infertilitas, striktur uretra, konjungtivitas, meningitis, dan endokarditis.
Pencegahan: Tidak berhubungan intim, setia pada pasangan dan menggunakan
kondom.
2) Sifilis
Etiologi Sifilis: Treponema Palidum. Merupakan penyakit menahun dengan
remisi dan ekserbasi,dapat menyerang seluruh organ tubuh. Mempunyai periode
laten tanpa manifestasi lesi pada tubuh,dan dapat di tularkan dari ibu kepada
janinnya. Sifilis di bagi menjadi sifilis akuisita (di dapat) dan sifilis kongenital.
Sifilis akuisita di bagi menjadi 3 stadium sebagai berikut:
a) Stadium I : erosi yang selanjutnya menjadi ulkus durum
b) Stadium II : dapat berupa roseola, kondiloma lata, bentuk varisela atau bentuk plak
mukosa atau alopesia
c) Stadium III : bersifat destruktif, berupa guma di kulit atau alat – alat dalam dan
kardiovaskuler serta neurosifilis.
Diagnosis di tegakan dengan diagnosis klinis di konfirmasi dengan
pemeriksaan labolatorium berupa pemeriksaan lapangan gelap (pemeriksaan
lapangan gelap, mikroskop fluorensi) menggunakan bagian dalam lesi guna
menemukan T.pallidum. Selain itu menggunkan penentuan antibody dalam serum
( tes menentukan anti body nonspesifik, tes menentukan antibodi spesifik,
antibody terhadap kelompok antigen yaitu tes Reiter Protein Complement
Fixation).
3) Ulkus Mole
Etiologi: Haemophillus ducreyi gram negatif streptobacillus, biasa disebut
chancroid merupakan penyakit infeksi genentalia akut. Gejala klinis: Ulkus
multipel, bentuk tidak teratur, dasar kotor, tepi bergaung, sekitar ulkus eritema dan
edema, sangat nyeri. Kelenjar getah bening inguinal bilateral atau unilateral

21
membesar, nyeri, dengan eritema di atasnya, seringkali disertai tanda-tanda
fluktuasi, biasanya tidak disertai gejala sistemik.
Diagnosis ulkus mole di tegakan berdasarkan riwayat pasien, keluhan dan
gejala klinis,serta pemeriksaan labolatorium. Pemeriksaan langsung bahan ulkus
dengan pengecatan gram memperlihatkan basil kecil negatif gram yang berderat
berpasangan seperti rantai di intersel atau ekstrasel. Dengan menggunkan kultur
H.ducreyi, pemeriksaan yang di peroleh lebih akurat.Bahan di ambil dari dasar
ulkus yang di peroleh lebih akurat. Bahan di ambil dari dasar ulkus yang purulen
atau pus. Selain itu bisa dengan tes serologi ito-Reenstierma ,tes ELISA,
presipitin, dan aglutinin. Komplikasi: Luka terinfeksi dan menyebabkan nekrosis
jaringan. Pencegahan: Tidak berhubungan intim sebelum menikah, setia pada
pasangan, dan menggunakan kondom.
4) Limfogranuloma Venerum
Limfogranuloma Venerum adalah infeksi menular seksual yang mengenai
sistem saluran pembuluh limfe dan kelenjar limfe, terutama pada daerah genital,
inguinal, anus, dan rectum. Penyebabnya adalah Clamydia trachomatis, yang
merupakan organisme dengan sifat sebagian seperti bakteri dalam hal pembelahan
sel, metabolisme, struktur, maupun kepekaan terhadap antibiotika dan kemoterapi,
dan sebagian lagi bersifat seperti virus yaitu memerlukan sel hidup untuk
berkembang biaknya. Gejala penyakit berupa malaise, nyeri kepala, athralgia,
anoreksia, nausea, dan demam. Kemudian timbul pembesaran kelenjar getah
bening inguinal medial dengan tanda – tanda radang.Penyakit ini dapat berlanjut
memberikan gejala – gejala kemerahan pada saluran kelenjar dan fistulasi.
Diagnosis dapat di tegakan berdasarkan gambaran klinis, tes GPR, tes Frei, tes
serologi, pengecatan giemsa dari pus bubo,dan kultur jaringan. Komplikasi:
Elefantiasis genital atau sindroma anorektal Pencegahan: Tidak berhubungan intim
sebelum menikah, setia pada pasangan, menggunakan kondom.
5) Granuloma Inguinal
Granuloma Inguinal merupakan penyakit yang timbul akibat proses
granuloma pada daerah anogenital dan inguinal. Etiologinya adalah: Donovania

22
granuloma ( Calymatobacterium granulomatosis ). Lebih banyak menerang usia
aktif ( 20 – 40 tahun ) . Dan lebih sering terdapat pada pria dari pada wanita.
Perjalanan penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan, awalnya
timbul lesi bentuk papula atau vesikel yang berwana merah dan tidak nyeri,
perlahan berubah menjadi ulkus granulomatosa yang bulat dan mudah berdarah,
mengeluarkan sekret yang berbau amis.
IMS Minor
1) Herpes Genetalis
Herpes genitalis adalah infeski pada genital yang disebabkan oleh Herpes
simpleks virus dengan gejala khas berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar
eritema dan bersifat rekurens. Hubungan resiko yang beresiko tinggi dengan
seseorang penderita herpes dapat meningkatkan resiko terkena virus herpes
simpleks. Manifestasi klinis di pengaruhi oleh faktor hospes, pajanan HSV
sebelumnya, episode terdahulu dan tipe virus. Daerah predileksi pada pria
biasanya di preputium, gland penis, batang penis, dapat juga di uretra dan daerah
anal (homoseksual). Sedangkan pada wanita biasanya di dareah labia mayor atau
labia minor, klitoris, introitus vagina, serviks.
Gejala klinis => diawali dengan papul – vesikel. Ulkus/erosi multipel
berkelompok, di atas dasar eritematosa, sangat nyeri, nyeri dan edema di inguinal,
limfadenopati bilateral, dan kenyal, disertai gejala sistemik => umumnya lesi tidak
sebanyak seperti pada lesi primer, dan keluhan tidak seberat lesi primer, timbul
bila ada faktor pencetus. Herpes genital dapat kambuh apabila ada faktor pencetus
daya tahan menurun, faktor stress pikiran, senggama berlebihan, kelelahan dan
lain-lain. Umumnya lesi tidak sebanyak dan seberat pada lesi primer Komplikasi
dapat ditumpangi oleh infeksi bakteri lain. Pencegahannya tidak berhubungan
intim sebelum menikah, setia pada pasangan, menggunakan kondom, dan hindari
faktor pencetus.
2) Non Spesifik Uretritis
Non spesifik uretritis adalah peradangan uretra yang penyebabnya dengan
pemeriksaan sederhana tidak dapat di ketahui atau di pastikan. Organisme

23
penyebab uretritis nonspesifik: - Chlamidya trachomatis (30- 50 %) - Ureaplasma
urealyticum ( 10 -40 %) - Lain – lain ( 20 – 30 %): Trichomonas vaginalis,
ragi,virus Herpes simpleks, adenovirus, Haemophylus sp, Bacteroides ureolyticus,
Mycoplasma geniculatum, dan bakteri lain.
3) Tricomoniasis
Merupakan infeksi dari penyakit protozoa yang disebebakan oleh
Trichomonas vaginalis, biasanya di tularkan melalui hubungan seksual dan sering
menyerang traktus urogenitalis bagian bawah pada pria maupun wanita,namun
peranannya pada pria sebagai penyebab penyakit masih diragukan. Gejalapada
wanita sering asimptomatik . Bila ada keluhan biasanya berupa sekret vagina yang
berlebihan dan berbau.Sekret berwarna kehijauan dan berbusa.
4) Kandidiasis vaginalis
Kandidiasis adalah infeksi dengan berbagai manifestasi klinis yang
disebabkan oleh candida, candida albicans dan ragi (yeast) lain (terkadang
C.glabarata) dari genus candida. Kandida pada wanita umumnya infeksi pertama
kali timbul pada vagina yang di sebut vaginitis dan dapat meluas sampai vulva
(vulvitis),jika mukosa vagina dan vulva keduanya terinfeksi disebut kandidiosis
vulvovaginalis ( KVV). Gejala penyakit ini adalah rasa panas dan iritasi pada
vulva, selain itu juga sekret vagina yang berlebihan berwarna putih susu. Pada
dinding vagina terdapat gumpalan seperti keju.
5) Vaginosis bacterial
Adalah suatu sindrom perubahan ekositem vagina dimana terjadi pergantian
dari lactobacillus yang normalnya memproduksi H2O2 di vagina dengan bakteri
anaerob ( seperti Prevotella Sp, Mobiluncus Sp,Gardenerella vaginalis, dan
Mycoplasma hominis) yang menyebabkan peningkatan pH dari nilai kurang 4,5
sampai 7,0. Wanita dengan vaginosis bacterialis dapat tanpa gejala atau
mempunyai bau vagina yang khas seperti bau ikan, amis, terutama waktu
berhubungan seksual. Bau tersebut di sebabkan karena adanya amin yang
menguap bila cairan vagina menjadi basa 9.
6) Kondiloma Akuminata

24
Kondiloma Akuminata ialah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh
human papiloma virus (HPV) dengan kelainan berupa fibroepitelioma pada kulit
dan mukosa. Sinonim genital warts,kutil kelamin, penyakit jengger ayam. Untuk
kepentingan klinis maka KA dibagi menjadi 3 bentuk: bentuk papul, bentuk
akuminata, bentuk datar. Meskipun demikian tidak jarang di temukan bentuk
peralihan. Diagnosis ditegakan berdasarkan gejala klinis. Untuk lesi yang
meragukan bisa menggunakan asam asetat 5 % yang di bubuhkan ke lesi selama 3-
5 menit,lesi kondiloma akan berubah menjadi putih. Dapat juga dilakukan
pemeriksaan histopatologis.
7) Moluskum Kontagiosum
Moluskum Kontagiosum merupakan neoplasma jinak padajaringan kulit dan
mukosa yang di debabkan oleh virus moluskum kontagiosum. Terutama
menyerang anak – anak. Orang dewasa yang kehidupan seksualnya sangat aktif,
serta orang yang mengalami gangguan imunitas. Lesi MK berupa papul milier,ada
lekukan ( delle ), permukaan halus,konsistensi kenyal, dengan umbilikasi pada
bagian sentral. Lesi berwarna putih, kuning muda, atau seperti warna kulit. Bila di
tekan akan keluar masa putih seperti nasi. Jumlah lesi biasanya berkisar 30 buah,
tetapi bisa lebih kemiudian membentuk plakat dan kulit di sekitar lesi dapat
mengalami esktimatisasi (dermatitis moluskum). Prinsip penatalaksanaannya
adalah mengeluarkan masa putih di dalamnya dengan alat seperti ekstrator
komedo,jarum suntik , bedah beku, dan elektrocauterisasi.
8) Skabies
Adalah penyakit kulit yang disebebkan oleh infestasi dan sensitisasi Sarcoptes
Scabies Var. hominis. Gambaran klinisnya terjadi pada malam hari karena aktifitas
tungau meningkat padasuhu kulit yang lembab dan hangat. Lesi khas adalah papul
yang gatal sepanjang terowongan yang berisi tungau. Lesi pada umumnya simetrik
dan berbagai tempat predileksinya adalah sela jari tangan, fleksor siku dan lutut,
pergelangan tangan. Aerola mammae, umbilicus, penis, aksila, abdomen, bagian
bawah, dan pantat.
9) Hepatitis

25
Virus hepatitis dapat menyebabkan peradangan pada hepar dengan gejala
klinik berupa penyakit kuning yang akut di sertai malaise,mual,dan muntah, serta
dapat pula disertai peningkatan suhu badan. Virus hepatitis yang saat ini di
temukan dan patogen pada manusia adalah : - Virus hepatitisA - Virus hepatitis B -
Virus hepatitis C - Virus hepatitis D - Virus hepatitis E .
10) AIDS
Acquired Imunodeficiency Syndrome adalah kumpulangejala yang timbul
akibat menurunnya kekebalan suhu tubuh yang di peroleh,di sebabkan oleh human
imunodeficiency virus ( HIV ). AIDS disebebkan oleh masuknya HIV kedalam
tubuh manusia. Jika sudah masuk dalam tubuh ,HIV akanmenyerang sel- sel darah
putih yang mengatur system kekebalan tubuh,yaitu sel –sel penolong,” sel T
Helper”

Gejala mayor:
1) Penurunan BB yang mencolok/ pertumbuhan abnormal
2) Diare kroniklebih dari 1 bulan
3) Demamlebih menjadi 1 bulan

Gejala minor:
1) Limfadenopati umum
2) Kandidiasis orofaring
3) Infeksi umum berulang
4) Batuk lebih 1 bulan
5) Dermatitis umum
6) Infeksi HIV maternal.

d. Pencegahan Penyakit Menular Seksual


Beberapa cara efektif yang dapat mengurangi resiko tertular penyakit menular
seksual antara lain :
1) Abstinensia

26
2) Tidak berganti- ganti pasangan
3) Vaksin (Hepatitis Bdan HPV)
4) Menggunakan kondom

27
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sejahtera fisik,mental, dan sosial
secara utuh tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam suatu
yang berkaitan dengan system reproduksi, fungsi dan prosesnya. Gejala pada
kanker stadium dini atau lesi prakanker biasanya asimptomatik dan baru bisa
terdeteksi dengan pemeriksaan dini kanker serviks. Boon dan Suurmeijer
melaporkan bahwa sebanyak 76% kasus tidak menunjukkan gejala sama
sekali. Gejala dan tanda tersebut sesuai dengan stadium dari kanker serviks
yang terjadi dari stadium 0 sampai stadium 4 (Kemenkes RI, 2016). Selain
kanker serviks yang menyebabkan gangguan pada sistem reproduksi, masi ada
penyakit seperti : infertil, IMS, tumor payudara, dll. Jadi untuk menghindari
terjadinya hal tersebut sebaiknya tetap melakukan pemeriksaan rutin.

B. SARAN
Meskipun penulis menginginkan kesempurnaan dalam penyusunan hasil
observasi ini akan tetapi pada kenyataannya masih banyak kekurangan yang
perlu penulis perbaiki. Hal ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan
penulis. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca
sangat penulis harapkan sebagai bahan evaluasi untuk kedepannya.

28
DAFTAR PUSTAKA

Anindia DE. 2015. Tanda Anda Tertular Penyakit Menular Seksual. Jakarta

Daili SF. 2019. Infeksi Menular Seksual. Jakarta: Balai penerbit FK UI.

Ester Jaini, N. (2019). Epidemiologi Kesehatan Reproduksi. CV Budi Utama:


Yogyakarta

Fatmawati, L. 2019. Keperawatan Maternitas Ii Infertilitas. Gresik: Universitas


Gresik
Hasyanah, H. 2016. Pemahaman Kesehatan Reproduksi Bagi Perempuan: Sebuah
Strategi Mencegah Berbagai Risiko Masalah Reproduksi Remaja. Jurnal UIN.
11(2): 229-252.

Kementerian Kesehatan RI. 2016. Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana.


Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan. Jakarta

Kementerian Kesehatan RI. 2016. Praktik Kesehatan Reproduksi dan Keluarga


Berencana. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia
Kesehatan. Jakarta

29