Anda di halaman 1dari 2

Keadaan dan Masalah Kesehatan Gigi dan

Mulut di Indonesia
Posted on November 2, 2010 by admin

Program kesehatan gigi dan mulut telah dilaksanakan sejak Pelita I sampai dengan Pelita VI.
Diharapkan pada tahun 2000, setiap orang baik di perkotaan maupun di perdesaan memperoleh
pemeliharaan kesehatan yang memadai sehingga mereka dapat hidup produktif secara sosial dan
ekonomi. Dengan demikian, berarti masyarakat harus mampu memelihara dan meningkatkan
kemandirian di bidang kesehatan. Hal ini berbeda dengan keadaan pelayanan kesehatan gigi dan
mulut walaupun telah telah dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan gigi dan mulut, angka
kesakitan penyakit gigi dan mulut cenderung terus meningkat.

Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKIRT) pada tahun 1995, penyakit gigi
dan mulut yang ditemukan di masyarakat masih berkisar penyakit yang menyerang jaringan
keras gigi (karies) dan penyakit periodontal, yang menyatakan bahwa 63% penduduk Indonesia
menderita kerusakan gigi aktif (kerusakan pada gigi yang belum ditangani). Pengalaman karies
perorangan rata-rata (DMF-T = Decay Missing Filling-Teeth) berkisar antara 6,44 dan 7,8 yang
berarti telah melebihi indeks DMF-T yang telah ditetapkan oleh WHO ( World Health
Organization), yaitu 3. Adapun untuk prevalensi penyakit periodontal menunjukan 42,8%.

Masalah tingginya angka penyakit gigi dan mulut saat ini sangat dipengahui oleh beberapa faktor
antara lain faktor perilaku masyarakat. Berdasarkan SKRT 1995 dan Susenas (Survei Sosial
Ekonomi Nasional) 1998 dinyatakan bahwa masyarakat belum menyadari pentingnya
pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Hal ini terlihat dari 22,8% penduduk Indonesia tidak
menyikat gigi dan dari 77,2% yang menyikat gigi hanya 8,1% yang menyikat gigi tepat waktu.
Kesadaran masyarakat untuk datang berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan masih rendah. Hal
ini terlihat dari 87% masyarakat yang mengeluh sakit gigi tidak berobat, 12,3% masyarakat yang
mengeluh sakit gigi datang berobat ke fasilitas kesehatan gigi sudah dalam keadaan terlambat
sehingga dari rata-rata 6,4% gigi yang rusak 4,4% gigi sudah dicabut, dan 0,7% mencari
pengobatan tradisional.

Pemilihan pola makan yang salah dan pengaruh gaya hidup modern yang menyebabkan
perubahan komsumsi pole makanan dari makanan berserat menjadi makanan tidak berserat
diperkirakan depot mempengaruhi pertumbuhan rahang, sehingga mengakibatkan gigi tetap akan
tumbuh berjejal. Dan hasil penelitian ada beberapa tempat yang kadar fluornya nol seperti di
Kalimantan, Sulawesi, Jambi sehingga prevalensi kariesnya tinggi.

Untuk mengatasi masalah di atas, pemerintah melalui Departemen Kesehatan telah melakukan
berbagai upaya pendekatan pelayanan kesehatan, yaitu promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif yang terpadu dan berkesinambungan. Melalui strategi pembangunan berwawasan
kesehatan dengan visi menuju Indonesia Sehat 2010, Departemen Kesehatan memiliki visi
sebagai berikut:
a. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan.
b. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga, masyarakat, beserta
lingkungannya.
c. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau.
d. Mendorong kemandirian masyarakat untuk sehat.

Pustaka
Pendidikan Kesehatan Gigi

Kata Kunci artikel:

penyakit gigi dan mulut remaja, Depkes 2010 tentang kesehatan gigi dan mulut, masalah
kesehatan gigi dan mulut di indonesia, menurut who perawatan gigi dan mulut, prevalesi
penyakit gigi mulut d indonesia, skrt depkes tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut,
survei kesehatan rumah tangga 2010 kesehatan gigi

Baca Juga:
• Mengurangi Dan Mengalahkan halitosis – Cara Melakukannya
• Halitosis – Sebuah Bau Foul Dari Mulut Anda
• Fight luka terbuka Canker Dengan Vitamin Dan Over The Counter Produk
• Gum Disease – Sebuah Kondisi Mudah Dicegah
• Cara Mencegah Penyakit Gum

http://www.ilmukesehatangigi.com/2010/11/02/keadaan-dan-masalah-kesehatan-
gigi-dan-mulut-di-indonesia