Anda di halaman 1dari 2

KATA GANTI ORANG PERTAMA DAN KEDUA TUNGGAL

Saya, aku, daku, diriku.  Engkau, kau, kamu, dikau, dirimu. 

"Saya", formal.  "Aku", informal.  Pernah ketemu salah seorang tetua di Groningen. 
Sebut aja pak X.  Waktu acara makan-makan Natal, pak X bertanya pada Priza,
"Mengambil jurusan apa di Hanze, dik?" Priza menjawab, "Aku ambil jurusan ..." Segera
dikoreksi oleh pak X, "Aku itu tidak sopan.  Harus bilang saya"

Iya, dulu aku memang diajar untuk bilang saya dan bukan aku.  Dulu di rumahku, tidak
pernah terdengar kata "aku".  Yang ada, "saya".  Di sekolah juga begitu, sampai
sekarangpun demikian.  Keponakanku ditanya guru TK nya, "siapa yang mau
menyanyi?" Serempak anak-anak menjawab, "Saya, bu.  Saya, bu!"  Bukan, "Aku, bu.
Aku, bu." Jadi pak X memang betul, kalau bicara sama orang yang lebih tua harusnya
pakai "saya", bukan "aku". 

Engkau, kau dan kamu.  Jarang banget ya kita dengar orang bilang "engkau".  Yang
paling banyak adalah "kamu".  Konon, "kau" juga jarang dipakai karena dianggap
kasar.  Padahal "kau" adalah bahasa Indonesia yang baik juga.  Dalam logat Makassar
dan Batak, misalnya, yang dipakai justru "kau".  Tetapi di Makassar lebih sering disebut
"ko" (bukan kau).

Kalau "daku" dan "dikau", kayaknya ini untuk bahasa sastra atau lirik lagu.  Tapi
sekarang ini juga sudah carut marut.  Kadang-kadang "daku" dan "dikau" juga dipakai
dalam pembicaraan tidak resmi.  Misalnya, daku jadi bete nih kalau dikau oon begitu. 

"Diriku" dan "dirimu" sebenarnya untuk kata ganti orang (obyek) yang refleksif kan? 
Misalnya aku memandang diriku di cermin.  Kamu mengencingi dirimu (maksudnya,
ngompol!).  Kan ga bisa kita bilang: aku memandang aku, kamu mengencingi kamu. 
Tapi, sekarang ini "diriku" dan "dirimu" juga sering dipakai sebagai kata ganti subyek. 
Misalnya, dirimu ini gimana sih?  Diriku sudah sejak tadi menunggu dirimu. 

Wah ga jelas banget nih bahasa Indonesia.  Kata ganti orang yang informal (misalnya,
aku) dipakai untuk suasana yang formal.  Sementara suasana yang harusnya informal
memakai kata ganti yang formal (misalnya, daku dan dikau).  Kata ganti orang (obyek)
yang refleksif dipakai sebagai subyek (misalnya, diriku dan dirimu).
KATA GANTI ORANG KEDUA DAN KETIGA TUNGGAL (FORMAL)

Anda, Bapak/Ibu, Saudara/i.  Pemakaian "anda" sangat terbatas pada hal-hal yang
sifatnya formal komersial.  Paling ketara dalam urusan iklan.  Untuk bahasa sehari-hari,
"anda" jarang banget dipakai.  Kalau dengar ada yang bilang "anda" padaku, aku
merasa orang itu sedang marah.  Entah mengapa.  Nah, untuk hal-hal formal
administratif biasanya dipakai "Bapak/Ibu", "Saudara/i".  Misalnya, Bapak/Ibu, Saudara/i
diharapkan hadir tepat waktu. 
 
Yang paling sering rancu adalah kata ganti kepunyaan orang kedua tunggal.  Hampir
setiap surat diakhiri dengan: Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.  Lho kok
"nya"?  Harusnya, atas perhatianmu atau atas perhatian anda.  Kelihatan banget bahwa
penggunaan kata ganti kepunyaan orang kedua sedapat mungkin dihindari.  Biasanya
dengan cara ini: Atas perhatian dan kerjasama yang baik kami ucapkan terima kasih.
 
Dia, ia, dirinya.  Kayaknya ga ada yang istimewa untuk "dia", "ia" dan "dirinya".  Yang
menarik justru kata ganti orang ketiga formal: "beliau".  Seingatku, dulu, penggunaan
"beliau" sangat terbatas untuk kasus yang amat sangat formal dan dalam lingkungan
birokrasi, misalnya untuk pejabat tinggi, atau dalam suasana yang sangat formal dan
seremonial.  Herannya, sekarang "beliau" dipakai sangat sering bahkan untuk teman. 
Misalnya, "Mas Harry, tolong sampaikan email ini ke mbak Mia. Email beliau hilang,
euy!"  Duilleh, aku kaget banget dibeliaukan.