Anda di halaman 1dari 22

MATERI – Memahami Penataan Produk

Posted on 25 Mei 2021 by Menik Yuni Hartini


Begitu memasuki supermarket, disadari atau tidak, kita kayak udah disihir sama apa yang ada di
sana. Di muka depan, misalnya, kita akan menemukan tumpukan roti dan bagian buah. Lalu di
dekatnya ada kulkas yang berisi minuman dingin. Di lorong-lorong tengah, ada
bagian snacks  yang jadi lorong kesukaan kita.

Tanpa sadar, kita jadi hafal dengan posisi benda-benda yang ada di sana. Mereka semua disusun
dengan rapi dan memudahkan kita untuk mencari barang yang kita mau.

Ternyata, hal-hal kayak gini tuh bukan nggak sengaja. Ada ilmu yang bernama penataan produk.
Kebayang, kan, kacaunya kalau kita menemukan mie instan, minyak, panci, dan helm dalam satu
rak? Itu mah bukan supermarket. Lebih kayak dapur anak kos. Mana bawah pancinya item.
Kerannya dibungkus kaos kaki. Terus di tempat piring ada kertas yang ditulis “YANG MAKE
MANGKOK GUE TOLONG CUCI LAGI!”

Oke, kembali ke persoalan. Penataan produk ini disebut juga dengan display. Bagi sebagain
orang kayaknya kata “display” lebih sering didengar ya daripada penataan produk yang terlalu…
ummm, kaku? Tapi, keduanya sebenernya sama kok.

Penataan produk (display) adalah cara mengelompokkan barang sesuai dengan jenis dan
kegunaan dengan memperhatikan keindahan untuk menarik minat konsumen dan keinginan
membeli produk tersebut.”

A. Pengertian Penataan Produk


1. Pengertian Penataan Produk (Display)
Pernah liat buah yang disusun kayak piramida ke atas? Atau tumpukan coklat yang dihias
cantik pakai pita? Nah, itu bagian dari penataan produk. Bayangin aja kalo
penataannya ngasal dan gak seru. Apalagi kita ada di zaman yang orang-orangnya senang
memperhatikan hal-hal yang berbau visual. Atau dalam bahasa gaul
sekarang: “instagrammable”.
Secara umum, display adalah suatu usaha yang dilakukan untuk menata produk di
toko/supermarket sedemikian rupa sehingga mendorong ketertarikan calon pembeli
untuk melihat dan memutuskan membelinya.

Pengertian Display
Berikut pengertian display menurut para ahli.

a. Ngadiman (2008: 329)

Display adalah tata letak barang dengan memperhatikan unsur pengelompokan jenis dan
kegunaan barang, kerapian, dan keindahan agar terkesan menarik dan mengarahkan konsumen
untuk melihat, mendorong, dan memutuskan untuk membeli.

b. Buchari Alma (2007: 189)

Display adalah keinginan membeli sesuatu yang tidak didorong oleh seseorang, tapi didorong
oleh penglihatan ataupun oleh perasaan lainnya.

c. Widianingsih dan Samsul (2012: 29)

Display adalah suatu cara pemajangan produk dan penataan produk yang diterapkan oleh
perusahaan dengan tujuan menarik minat pelanggan agar melihat dan membeli produk yang
ditawarkan.

d. William J. Shultz dalam Sutrisno (2012: 29)

Display adalah suatu cara mendorong perhatian dan minat konsumen pada toko atau barang dan
mendorong keinginan membeli melalui daya tarik penglihatan langsung.

e. Shultz dalam Buchari dalam Foster (2008: 72

Display berarti usaha mendorong perhatian dan minat konsumen pada toko atau barang dan
mendorong keinginan membeli dalam daya tarik penglihatan langsung 

2. Tujuan Penataan Produk


Penataan produk merupakan suatu bentuk sarana promosi yang bertujuan memengaruhi
pelanggan untuk membeli produk di sebuah toko. Oleh karena itu, penataan produk harus
dilakukan dengan terencana, terorganisir, kreatif, informatif, dan komunikatif. 

a. Tujuan Penataan Produk

Tujuan penataan produk adalah sebagai berikut.

1) Attention and Interst

Artinya display produk harus menarik. Produk didata sedemikian rupa sehingga setiap
pengunjung yang melihat penataan produk langsung tertarik untuk mendekat. Agar menarik dan
memancing minat pengunjung biasanya digunakan warna dinding, hiasan, dan tata pencahayaan
yang sesuai.

2) Desire and Action

Artinya, display diharapkan dapat memancing keingintahuan, mendorong orang untuk masuk ke
dalam toko, dan pada akhirnya membangkitkan hasrat untuk memiliki produk. Kesan pertama
terhadap display harus benar-benar menggoda pengunjung toko untuk masuk ke dalam toko,
melihat secara terperinci produk yang ditampilkan, lalu tergerak untuk membeli. Ada desire
(hasrat untuk mengetahui lebih dalam dan hasrat untuk memiliki), lalu action (keputusan untuk
membeli).

Tujuan Display
b. Konsep Penataan Produk Model AIDA

Ini sebetulnya teori lawas yang diperkenalkan oleh ahli penjualan Elmo Lewis di tahun 1898.
Kemudian, seiring berjalannya waktu, diadopsi dan dikembangkan lagi oleh Philip
Kotler untuk dipakai di dunia marketing.

Konsep penataan produk tersebut senada dengan model AIDA (Attention, Interest, Desire,
Action) yang diperkenalkan oleh seorang ahli pemasaran bernama Philip Kotler (2009).

1) Attention (Perhatian)
Artinya display produk harus memenangkan perhatian pengunjung. Dengan kata lain,
membuat mata pengunjung tertuju ke produk ini/itu, bukan ke produk-produk lain, kemudian
berkata, “Wih, apa nih?”

2) Interest (Minat)

Artinya penataan produk harus menarik minat (attention). Setelah memenangkan perhatian
pengunjung, display yang baik mendorong pengunjung untuk melihat dari dekat produk
tersebut. Pada tahap ini, pengunjung akan melihat secara langsung bentuk fisik produk,
selanjutnya menimbang-nimbang apakah produk itu sesuai dengan kebutuhannya atau
tidak. Hal itu menunjukan minat terhadap produk.

3) Desire (Keinginan)

Artinya, display produk harus dibuat sedemikian rupa sehingga mendorong calon pembeli
melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu mencari informasi lebih dalam tentang harga serta
kelebihan dan kekurangan produk kepada pramuniaga. Ketika pengunjung menanyakan
informasi yang terperinci tentang harga dan kelebihan produk, itu berarti dia tertarik untuk
memiliki produk tersebut. Nah, tugas pramuniaga di sini harus dapat memberikan keyakinan ke
konsumen.

4) Action (Tindakan)

Artinya, pengunjung mengambil keputusan untuk membeli (action) produk yang di-display.


Display yang baik adalah suatu display yang pada akhirnya mampu membuat pengunjung
mengambil keputusan untuk membeli.

c. Karakteristik Penataan Produk

Berdasarkan tujuan penataan produk di atas, Kotler (2012) menyarankan beberapa karakteristik


penataan produk (display) yang baik, yaitu sebagai berikut.

1) Khas dan Dramatis


Artinya calon konsumen menaruh perhatian dan minat terhadap produk karena adanya interaksi
dramatis antara elemen warna, alat peraga, aksesori, pencahayaan, dan pergerakan di
dalam toko/supermarket.

2) Menarik dan Tepat

Artinya, semua elemen yang memainkan peran dalam penataan produk harus tepat agar efek
yang dihasilkan dapat diterima dan dipahami.

3) Sederhana

Artinya, pesan penataan produk (display) dapat dengan cepat diterima dan dipahami.

4) Memiliki Tema Dominan

Artinya, perhatian, minat, dan daya tarik pengunjung toko meningkat ketika display produk
menggunakan tema-tema sentral tertentu.

5) Rapi dan Bersih

Artinya, display produk tetap menjaga kebersihan dan kerapian.

B. Tipe-tipe Penataan (Display) Produk


Menurut Alma (2009), dalam penataan produk dikenal tiga macam display, yaitu sebagai
berikut.

1. Window Display
Window display adalah pemajangan barang dagang di etalase atau jendela toko.
Dengan window display, diharapkan calon pembeli akan tertarik dengan pajangan tersebut dan
mendorong mereka untuk masuk ke dalam toko. Selain untuk menarik minat konsumen, window
display dapat menjaga keamanan barang dagang karena window display hanya
memperlihatkan barang dagang yang ditawarkan saja, tanpa dapat disentuh oleh
konsumen. Apabila konsumen ingin mengetahui lebih lanjut, konsumen dipersilakan masuk ke
dalam toko dan mencari informasi tentang produk tersebut. Penataan window display harus
dipersiapkan dengan baik agar barang yang dipajang dapat dilihat dari kejauhan.

Contoh Window Display
Manfaat window display di antaranya sebagai berikut.

a. Untuk menarik perhatian pengunjung atau orang yang lewat di depan toko. Atau dengan kata
lain, sekedar ngasih liat produk kita, orang-orang yang sebelumnya cuma pengin lewat dan
jalan-jalan, jadi tertarik dan masuk ke toko kita. 

b. Untuk menimbulkan minat beli terhadap barang yang dipajang.

c. Memperlihatkan jenis dan merek barang tertentu.

d. Untuk memperkenalkan barang baru atau produk andalan.

e. Menciptakan store image dan menimbulkan daya tarik terhadap keseluruhan suasana


toko. Berhubung posisinya ada di paling depan, window display ini jadi sangat
menentukan citra ataukarakter toko. Apakah vintage, simple, ataukah minimalis, semua
tergantung penataan yang dilakukan toko.

f. Menimbulkan dorongan seketika untuk membeli (impulse buying).

g. Menimbulkan daya tarik terhadap keseluruhan display produk di dalam toko. 

2. Interior Display
Pernah masuk ke dalam toko tas lalu di bagian tengah toko ada semacam rak gahul yang
memajang tas-tas unggulan toko itu? Itulah interior display.

Interior display adalah pemajangan barang dagang, gambar, kartu harga, dan simbol-simbol di
dalam toko. Interior display merupakan suatu metode  memanfaatkan ruangan toko atau area
penjualan untuk menata produk dan semua elemen pelengkap display. 

Interior display dikelompokan dalam beberapa jenis, di antaranya sebagai berikut.


a. Merchandise Display

Merchandise display pemajangan produk di dalam toko. Bentuk pemajangan merchandise


display antara lain sebagai berikut.

Contoh Merchandise Display
1) Open Display

Yaitu pemajangan produk di tempat terbuka (konsumen dapat menyentuh), sehingga calon
pembeli dapat mengamati, memegang, dan memilih barang tersebut tanpa bantuan
pramuniaga. Contohnya, barang-barang yang diletakan di rak dan gondola.

2) Closed Display

Yaitu pemajangan barang dagang di tempat tertutup (biasanya untuk benda berharga/mewah),


sehingga pengunjung hanya dapat mengamati saja. Barang-barang tersebut tidak dapat
dipegang oleh calon pembeli. Konsumen harus dibantu pramuniaga untuk mengambil barang
tersebut. Peralatan display yang digunakan biasanya adalah showcase (lemari kaca) atau
etalase.

Tujuan closed display adalah sebagai berikut.

a) Untuk melindungi produk agar tidak mudah rusak. Contoh: jam tangan.

b) Untuk menghindari risiko kehilangan dan pencurian. Contoh: perhiasan.

c) Untuk menjaga kebersihan produk. Contoh: display kue dan makanan.

3) Architectural Display

Yaitu pemajangan barang dagang dengan memperlihatkan cara penggunaan barang-barang


tersebut. Contoh: kalung yang dipajang dengan peraga bagian leher, kasur diletakan di kamar
tidur, kitchen set dipajang di sebuah ruangan menyerupai dapur, meja tamu diletakan di
ruangan menyerupai ruang tamu.
Tujuan dari architectural display adalah memberikan gambaran pada konsumen mengenai
fungsi dan kegunaan produk, sehingga konsumen tertarik dan melakukan impulse
buying (pembelian spontan tanpa perencanaan).

Contoh Architectural Display Informa


b. Store Design and Decoration

Store sign decoration artinya adalah “petunjuk toko”. Kalau kamu di supermarket pasti di bagian
tengah lorong ada papan yang digantung bertuliskan jenis barang di lorong itu. Misalnya,
“SUSU”, atau “KOPI”, atau “SCHOOL SHOP”. Si papan inilah yang disebut store sign.

Store sign decoration dapat berupa tanda, simbol, lambang, poster, gambar, semboyan, dan
sebagainya disimpan di atas meja atau digantung di dalam toko. Store design tersebut digunakan
untuk membimbing calon pembeli ke arah barang dagang dan memberi keterangan kepada
mereka tentang kegunaan barang-barang tersebut.

Contoh Store Design Display


Sementara itu, decoration pada umumnya digunakan dalam rangka peristiwa khusus, seperti
penjualan pada saat-saat hari raya Idul Fitri, Natal, Tahun Baru, dan sebagainya.

Contoh Decoration Display


c. Dealer Display

Dealer display adalah simbol atau petunjuk penggunaan barang yang dibuat oleh produsen.


Simbol dan petunjuk ini memberi peringatan kepada para petugas penjualan agar
mereka memberikan keterangan yang sesuai dengan petunjuk yang ada dalam gambar
tersebut.

Contoh Dealer Display


3. Exterior Display
Kalo interior di dalam ruangan, maka eksterior adalah penataan produk untuk di luar ruangan.
Pernah liat Gramedia sedang buka sale gede-gedean lalu memajang buku-buku berdiskon di
luar gedung/tokonya? Itulah yang dinamakan exterior display.

Exterior display adalah pemajangan produk di tempat tertentu di luar toko dan di luar kegiatan
usaha yang biasa digunakan. Pemajangan ini banyak digunakan untuk
tujuan promosi dan pengenalan produk baru serta penjualan istimewa. Contoh: cuci
guudang, discount, pameran, dan sejenisnya. Exterior display hanya tepat dipergunakan untuk
kondisi penjualan tertentu.

Contoh Exterior Display


Buat apa, sih, sebuah toko repot-repot memajang barangnya di luar toko?

Fungsi exterior display antara lain sebagai berikut.

a. Memperkenalkan suatu produk secara cepat dan ekonomis, atau jika ada kegiatan tertentu,
seperti pameran.
b. Membantu produsen menyalurkan barangnya dengan cepat dan ekonomis.

c. Berhubung menata barangnya di luar, tipe display ini juga mempermudah


koordinasi antara tim advertising dan merchandising sebuah toko.

d. Membangun hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar, seperti dalam rangka Idul


Fitri, atau ulang tahun toko, misalnya.

4. Solari Display
Solari display yaitu pemajangan produk melalui media lain dengan tujuan menarik perhatian
calon konsumen terhadap produk yang dipajang. Contoh: memajang pakaian model terbaru
melalui boneka model (manekin). Penggunaan media yang menarik, seperti manekin,
diharapkan dapat memancing perhatian pengunjung, tetapi juga memunculkan daya tarik untuk
membeli. Hal itu karena di mata calon konsumen, media itu dianggap menjadi representasi
konsumen serta menggambarkan kualitas produk yang dipajang. Biasanya, produk yang
menggunakan media seperti manekin adalah produk unggulan.

Contoh Solari Display


Ingat, sekilas ini memang mirip dengan window display, tapi sebenarnya beda jauh. Kamu harus
perhatikan lokasi tempat penataan produknya. Kalau mannequin-nya berada di jendela muka,
ya itu berarti window display ya!

C. Syarat Penataan Produk


1. Bersih dan Rapi
Pramuniaga memiliki peran penting dalam menjaga kerapian dan kebersihan display barang.
Pramuniaga harus rutin membersihkan produk dan menata kembali kerapian produk. Contohnya,
produk yang diletakan tidak pada tempatnya oleh konsumen atau terjadinya perubahan posisi
produk karena ada produk yang sudah dibeli konsumen harus kembali dirapikan. Kebersihan dan
kerapian adalah nilai jual yang harus diperhatikan demi menunjang keberhasilan display.

2. Mudah Dijangkau
Display barang dagang harus diletakan sesuai dengan penataan yang baik agar mudah dilihat,
dicari, dan dijangkau oleh konsumen. Hal ini mmerupakan persyaratan mutalk mengingat toko
swalayan bersifat self-service, artinya konsumen mengambil sendiri semua barang yang akan
dibeli. Kemudahan dalam mencari dan mengambil barang dapat menjadi nilai tambah bagi
kepuasan konsumen. Oleh karena itu, peritel perlu menguasai teknik pen-display-an barang
dagang dengan baik.

3. Lokasinya Tepat
Dalam men-display barang harus diperhatikan aspek visual merchandising (VM) sehingga
display mampu menimbulkan daya tarik dan keinginan konsumen untuk membeli. Pemilihan
lokasi untuk memajang barang dalam supermarket sangat berpengaruh terhadap daya tarik
konsumen. Penempatan produk pada lokasi yang tepat disesuaikan dengan jenis, ukuran, warna,
dan lain-lain harus diperhatikan.

4. Aman
Display harus memperhatikan aspek keamanan, baik keamanan bagi pengelola toko dari potensi-
potensi kehilangan maupun keamanan bagi pengunjung (konsumen) yang berada di dalam toko.
Berkaitan dengan aspek keamanan, hal-hal yang perlu diperhatikan para peritel adalah sebagai
berikut.

a. Para peritel biasanya tidak akan menempatkan barang-barang yang mudah pecah di sembarang
rak.

b. Barang-barang yang mahal dipajang secara closed display.

c. Barang yang fisik ukurannya kecil biasanya dipajang di etalase.

d. Barang-barang kemasan kaleng yang cukup berat ditempatkan pada tingkatan rak paling
bawah untuk menghindari risiko timbulnya cedera bagi pengunjung (terutama anak-anak) jika
barang tersebut terjatuh.

5. Menarik
Display berkaitan dengan seni penataan produk di supermarket. Oleh karena itu, kreativitas
peritel dituntut dalam menata barang dan ruangan agar menarik dan indah untuk dilihat. Penataan
produk dapat memadukan model window display, interior display, exterior display, perpaduan
warna, bentuk kemasan, kegunaan barang, serta manambahkan kelengkapan display yang lain,
seperti POP, SKU, dan lain-lain.

Point of Purchase (POP) adalah pemajangan poster, petunjuk dalam toko, dan alat promosi yang
dipasang dalam toko. POP dibuat dengan berbagai macam dan bentuk, serta memuat informasi
mengenai produk. Informasi tersebut dapat berupa harga, promo produk, dan informasi produk
baru.

Biasanya, POP diterapkan pada produk yang sedang promo. Display POP ditempatkan di dekat
pintu keluar dan di tempat-tempat yang mudah dilihat oleh konsumen, ditulis dengan ukuran
huruf yang mudah terbaca dan mudah dipahami, serta menggunakan desain yang menyolok (eye-
ctaching) dengan bahan bermutu, sehingga menarik perhatian.

Sementara itu, Stock Keeping Unit (SKU) adalah suatu tulisan yang berisi keterangan mengenai
nama produk, harga, nomor Price Look Up Unit (PLU) suatu produk, baik yang dibeli maupun
dijual oleh perusahaan. Sering juga disebut dengan nama lain, seperti part number, product
number, atau product identifier.

6. Self-Service
Supermarket memiliki metode penjualan barang dagang secara self-service, artinya konsumen
diberi kebebasan untuk memilih dan mengambil sendiri barang yang dibutuhkan tanpa bantuan
dari pramuniaga. Oleh karena itu, penataan produk dagang harus memudahkan konsumen dalam
mencari barang yang dibutuhkan dengan cara menggunakan keterangan-keterangan, baik berupa
gambar, simbol, poster, dan tulisan.

Hal-hal yang perlu dihindari dalam men-display barang, antara lain sebagai berikut.

a. Barang kotor.

b. Label barang hilang.


c. Kemasan rusak.

d. Berubah warna.

e. Kaleng berkarat/penyok.

f. Isi kemasan hancur.

g. Barang bocor/berlubang/robek.

h. Kedaluwarsa (expired date)

D. Penataan Produk Fresh


Area display produk fresh pada umumnya berada di bagian belakang area supermarket karena
display produk fresh memerlukan perlakuan dan ruangan khusus serta menggunakan peralatan
yang memakai listrik. Untuk menjaga kualitas dan kesegaran produk fresh, suhu udara di area
tersebut diatur. Penataan produk fresh dilakukan dengan terlebih dahulu mengelompokan produk
berdasarkan kategorinya, yaitu sayuran, daging, buah-buahan, produk olahan susu, dan produk
yang dibekukan.

1. Produk Sayuran (Vegetables)


Penataan produk sayuran di supermarket tampak pada tabel berikut.
2. Buah-buahan (Fresh Fruits)
Penataan buah-buahan (fresh fruit) di supermarket adalah sebagai berikut.

3. Daging (Fresh Meat)


Penataan daging di supermarket adalah sebagai berikut.
4. Produk Olahan Susu (Dairy Products)
Penataan produk olahan susu (dairy product) di supermarket adalah sebagai berikut.

5. Produk yang Dibekukan (Chilled & Frozen Products)


Penataan produk yang dibekukan (chilled & frozen product) di supermarket adalah sebagai
berikut.
E. Penataan Produk Fashion dan Sport
1. Pengertian Produk Fashion dan Sport
Produk fashion adalah suatu produk yang mempunyai ciri-ciri khusus yang dapat mewakili style
yang sedang tren dalam suatu kurun waktu tertentu.  Fashion merupakan suatu gambaran
mengenai kebudayaan, pemikiran, dan gaya hidup orang dalam kurun waktu tertentu. Seseorang
dikatakan fashionable apabila selalu mengikuti style/gaya yang sedang trendy, seperti cara
berpakaian, bentuk sepatu, tas, potongan rambut, dan lainnya.

Supermarket harus selalu menyediakan produk fashion yang mengikuti style/gaya yang sedang
trendy. Produk fashion meliputi keseluruhan yang mendukung penampilan seseorang wanita,
pria, anak laki-laki dan perempuan, serta bayi. Contoh: pakaian, sepatu, tas, aksesori, pakaian
bayi. Sementara itu, sport meliputi pakaian olahraga dan aksesorinya, sepatu sport, alat olahraga,
dan perlengkapan olahraga.

2. Pengelompokan Produk Fashion


a. Pengelompokan produk fashion bayi.
b. Pengelompokan produk fashion anak-anak.

c. Pengelompokan produk fashion remaja.


d. Pengelompokan produk fashion dewasa.

3. Penataan Produk Fashion


a. Penataan produk fashion bayi.
Penataan produk bayi dilakukan dengan cara:

1) Grouping, yaitu pengelompokan berdasarkan kategorinya, mislanya perlengkapan bayi yang


baru lahir, pakaian bayi berdasarkan usia (1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, dan lain-lain), perlengkapan
bayi, dan perlengkapan tidur bayi.

2) Untuk display baju, setelan dipadankan dengan aksesorinya, misalnya sarung tangan, kaos
kaki, dan topi rajut.

b. Penataan produk fashion anak-anak.

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Karakter toko idola sangat berpengaruh dalam pemilihan
produk fashion. Jadi, jenis pakaian cenderung mengikuti jenis pakaian tokoh idolanya.

Penataan produk fashion untuk anak-anak dikelompokan berdasarkan urutan atau tahapan, yaitu
sebagai berikut.

1) Penataan sesuai dengan koleksi.

2) Tiap-tiap koleksi kemudian ditata menurut style (model, jenis bahan, jenis print, atau
motif/gambar kain).

3) Produk ditata menurut intensitas warna.

4) Produk ditata menurut size atau ukuran (baik ukuran baju maupun ukuran print atau motif
tiap-tiap kelompok).

c. Penataan produk fashion remaja.

Pada prinsipnya, penataan produk fashion remaja sama dengan penataan produk fashion anak-
anak. Fashion remaja cenderung ke dunia modis atau tren fashion. penataan produk fashion
remaja adalah sebagai berikut.

1) Penataan sesuai dengan koleksi atasan dan bawahan.

2) Koleksi terbaru dipajang paling depan.


3) Dari tiap-tiap koleksi kemudian ditata menurut style (model, jenis bahan, jenis print, atau
motif/kain).

4) Produk ditata menurut intensitas warna.

5) Display dengan mix and match, misalnya atasan ditambah jacket/sweater, bawahnya celana
panjang atau rok.

6) Produk ditata menurut size atau ukuran.

D. Penataan produk fashion orang dewasa.

Penataan produk fashion orang dewasa tetap memakai prinsip penataan produk fashion, yaitu
sebagai berikut.

1) Penataan dilakukan menurut koleksinya.

2) Penataan menurut style (model dan jenis motif atau print): polos, bunga-bunga, kotak-kotak,
bulat-bulat, garis-garis, motif gambar.

3) Barang terbaruu dari tiap-tiap kelompok dipajang di depan, yang agak lama di tengah, dan
yang paling lama di bagian belakang.

4) Penataan menurut intensitas warna. Dari tiap-tiap kelompok display dirapikan lagi
berdasarkan intensitas warna tau print-nya.

5) Penataan menurut size (ukuran pakaian).

6) Memadupadankan produk yang sedang menjadi tren.

4. Pengelompokan Produk Sport


a. Fashion Olahraga (Sport)
Ada berbagai jenis fashion olahraga (sport), yaitu baju sport, sepatu, dan aksesorinya. Produk
fashion sport sangat beragam, terutama untuk baju olahraga yang dapat dispesifikasikan
berdasarkan cabang olahraga. Saat ini, banyak sepatu sport yang ditawarkan di pasar.

b. Peralatan Olahraga

Saat ini, banyak toko yang secara khusus menjual sarana-sarana dan perlengkapan olahraga. Alat
olahraga ini juga dikelompokan berdasarkan jenis olahraganya, misalnya peralatan fitness,
sepeda sport, bola basket, raket tenis lapangan, raket badminton, dan lain-lain.

c. Pengelompokan Produk Sport

Produk sport dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu:

1) Berdasarkan usia, produk sport dikelompokan lagi menjadi 2 (dua), yaitu produk sport anak-
anak dan produk sport orang dewasa.

2) Produk sport berdasarkan kategori dan fungsinya.

a) Berdasarkan jenis kelamin. Contoh: baju sport laki-laki dan baju sport perempuan.

b) Berdasarkan jenisnya. Contoh: kios dan celana (training, celana pendek).

c) Berdasarkan fungsinya. Contoh: baju renang, baju basket, baju senam, baju sepak bola, dan
lain-lain.

d) Berdasarkan bahan kain yang digunakan. Contoh: katun, spandek, dan polyester.