Anda di halaman 1dari 82

2

BAGIAN 2

PELAKSANAAN KEGIATAN PEMBANGUNAN


SARANA & PRASARANA
KATA PENGANTAR

Kegiatan Lingkungan yang dilaksanakan melalui Kelompok Swadaya Masyarakat


(KSM) merupakan salah satu bagian pelaksanaan yang didanai program PNPM
Mandiri Perkotaan secara stimulan untuk mengentaskan dan memperbaiki
kualitas hidup masyarakat miskin. PNPM Mandiri Perkotaan hanya
menyediakan alternative kegiatan pembangunan lingkungan, namun masyarakat
sendiri yang menentukan jenis dan bentuk kegiatan prasarana dan sarana agar
sejalan dengan kebutuhan dalam rangka pengentasan kemiskinan.

Pelaksanaan seluruh tahapan pembangunan kegiatan prasarana dan sarana


lingkungan yang meliputi perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan perlu
didukung dengan berbagai kriteria teknis sehingga dapat tepat sasaran,
terlaksana dengan baik, memiliki umur kelayakan yang optimal untuk
mendukung pemanfaatan sesuai dengan harapan P2KP khususnya PNPM
Mandiri Perkotaan. Untuk mencapai hal tersebut maka petunjuk pelaksanaan
berupa supplemen teknis pelaksanaan kegiatan prasarana dan sarana mutlak
untuk diberikan, dipahami dan dilaksanakan seluruh pelaku kegiatan lingkungan.

Supplemen Teknis Pelaksanaan Kegiatan Prasarana dan Sarana Lingkungan


dibuat sebagai acuan bagi pelaku kegiatan lingkungan yang juga mengatur hal-
hal teknis yang wajib dilaksanakan pelaku agar proses perencanaan,
pelaksanaan pembangunan dan pemeliharaan berjalan baik dan tepat sasaran
sesuai dengan program pengentasan kemiskinan melalui PNPM Mandiri
Perkotaan.

Melalui buku Supplemen Teknis ini, diharapkan pelaksanaan kegiatan prasarana


dan sarana lingkungan bagi masyarakat miskin dalam rangka program
penanggulangan kemiskinan dapat dilaksanakan oleh seluruh pelaku secara
efektif dan optimal.

Semoga bermanfaat

Jakarta, Agustus 2008


Direktur Jendral Cipta Karya
Departemen Pekerjaan Umum

Budi Yuwono P
DAFTAR ISI
Daftar Isi ................................................................................................. (i)
I. PENDAHULUAN ..................................................................................1
1.1 Maksud dan Tujuan ......................................................................1
1.2 Ruang Lingkup ..............................................................................1
II. PERAN PELAKU PADA TAHAP PELAKSANAAN ............................2
III. LANGKAH-LANGKAH TAHAP PELAKSANAAN KEGIATAN...........5
3.1 Tahap Persiapan ..........................................................................5
1. Penyiapan Organisasi Pengelola O&P ...................................5
2. Penajaman Rencana Kerja .....................................................7
3. Penandatanganan SPPD-L .....................................................8
4. Musyawarah Persiapan Pelaksanaan Konstruksi (MP2K) ......8
5. Pelatihan (Coaching) KSM ....................................................11
6. Sosialisasi Kegiatan ..............................................................11
7. Pembuatan & Pemasangan Papan Nama Kegiatan .............11
3.2 Tahap Pelaksanaan Konstruksi ..................................................12
1. Pencairan Dana .....................................................................12
2. Mobilisasi ...............................................................................12
3. Musyawarah Pengadaan .....................................................22
4. Praktek Kerja Lapangan (OJT) .............................................22
5. Pelaksanaan Konstruksi ........................................................23
6. Supervisi Pelaksanaan Konstruksi ........................................26
7. Rapat Evaluasi Kemajuan Kegiatan ......................................28
8. Pemantauan Dampak Lingkungan ........................................29
9. Pembuatan Dokumentasi (50%, 100%) ................................30
10. Perubahan Pekerjaan di Lapangan ...................................30
11. Penyelesaian Pekerjaan ....................................................31
12. Pemeriksaan/Sertifikasi Kegiatan ......................................33
IV. ADMINISTRASI & PEMBUKUAN KSM LINGKUNGAN ...................39
4.1 Pengertian Administrasi Kegiatan KSM.......................................39
4.2 Tujuan Administrasi Kegiatan KSM ............................................39
4.3 Bentuk Administrasi Pada Tahap Pelaksanaan ..........................40
4.4 Laporan Kemajuan Kegiatan (Dwi-Mingguan) KSM ...................48
4.5 Laporan Pertanggung Jawaban Kegiatan KSM .........................48
4.6 Musyawarah Pertanggungjawaban Kegiatan KSM .....................49
4.7 Administrasi Keuangan KSM Lingkungan .................................49
4.8 Siapa Yang Melakukan Pencatatan ...........................................54
4.9 Dimana Menyimpan Hasil Pencatatan ......................................55
LAMPIRAN :
1. CONTOH BENTUK SPPD-L
2. CONTOH BENTUK RENCANA KERJA & SYARAT (RKS) PENGADAAN
3. CONTOH FORMULIR SERTIFIKASI, BAP2 DAN SP3
4. CONTOH BENTUK LAPORAN DWI-MINGGUAN & LAPORAN
PERTANGGUNGJAWABAN KEGIATAN KSM LINGKUNGAN

Bagian 2 : Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana (i)


I. PENDAHULUAN
Pelaksanaan kegiatan Pembangunan sarana & prasarana merupakan
kelanjutan dari tahapan persipan & perencanaan teknis kegiatan. Posisi
kegiatan ini dalam siklus PNPM Mandiri Perkotaan adalah termasuk kegiatan
pemanfaatan dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). Sederhananya
adalah tahapan ini merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh KSM
dalam rangka untuk mewujudkan bangunan atau sarana & prasarana yang
yang dibutuhkan sesuai dengan standar atau hasil perencanaan sebelumnya.
Pelaksanaan kegiatan pembangunan sarana dan prasarana, harus
memperhatikan kesesuaian dari spesifikasi teknis (persyaratan teknis) agar
bangunan yang dibuat lebih aman dan kuat sehingga benar-benar dapat
dimanfaatkan lebih lama.
Salah satu hal penting yang perlu mendapat perhatian dari keseluruhan proses
pelaksanaan pembangunan ini adalah (1). Hasil yang dicapai/Bangunan yang
terwujud harus berkualitas baik, bermanfaa/berfungsi sesuai umur rencana
bangunan (minimal 3 tahun) dan dipelihara secara bersama-sama oleh warga
masyarakat pemakai sehingga terjadi kesinambungan manfaat dan lestari.

1. MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud dari buku ini adalah untuk dijadikan pegangan dalam pelaksanaan
Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana bagi KSM Lingkungan, dalam
rangka memenuhi persyaratan pelaksanaan kegiatan lingkungan program
PNPM Mandiri Perkotaan.

Tujuannya adalah untuk memberikan petunjuk dalam pelaksanaan kegiatan


Pelaksanaan Pembangunan Sarana & Prasarana bagi KSM Lingkungan, agar
memenuhi ketentuan teknis dan administrasi kegiatan sesuai dengan
persyaratan kegiatan lingkungan yang telah ditetapkan program PNPM Mandiri
Perkotaan.

2. RUANG LINGKUP
Buku ini mencakup maksud, tujuan, ruang lingkup, peran pelaku pada kegiatan
pembangunan, Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan tahap pelaksanaan
pembangunan, Administrasi & Pembukuan KSM.
Buku ini juga sekaligus dapat digunakan sebagai pedoman teknis
pelaksanaan kegiatan PAKET dan ND, khususnya kegiatan sebagaimana
diuraikan dalan Bagian III, Langkah-Langkah Pelaksanaan (kecuali
Pengorganisasian O&P dan SPPD-L, untuk PAKET harus disesuaikan
kembali) dan Bagian IV. Administrasi dan Pembukuan.

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 1


II. PERAN PELAKU PADA TAHAP
PELAKSANAAN PEMBANGUNAN

Pelaksanaan kegiatan pembangunan sarana dan prasarana lingkungan perlu


didukung oleh berbagai pihak seperti BKM, UPL, serta masyarakat penerima
manfaat langsung yaitu warga miskin dan warga sekitar. Sedangkan
KSM/Panitia sebagai pelaksana pembangunanpun akan didukung peran
sertanya oleh Fasilitator Kelurahan. Berikut ini penjelasan peran-peran pelaku
pembangunan ;

1. Peran BKM
a. Memfasilitasi KSM dalam Pengadaan Bahan/Alat, terutama pengadaan
yang bernilai diatas Rp. 15 Juta;
b. Melaksanakan pencairan dana kepada KSM/Panitia;
c. Dana BLM tidak boleh dipakai untuk biaya ganti rugi apapun;
d. Memfasilitasi Peningkatan Swadaya Masyarakat
e. Menyelenggarakan rembug/musyawarah pertanggungjawaban
pelaksanaan kegiatan KSM;
f. Membuat Surat Perjanjian Pemanfaatan Dana Lingkungan (SPPD-L)
dengan KSM pelaksana kegiatan Lingkungan;
g. Memfasilitasi penyelesaian permasalahan yang mungkin muncul ditingkat
kelurahan, termasuk memberikan sanksi/peringatan kepada KSM atas
pelanggaran pemanfaatan dana dan atau pelanggaran atas ketentuan-
ketentuan dalam SPPD-L;

2. Peran UPL
a. Memfasilitasi pembentukan Organisasi Pengelola O&P setiap KSM (Tim
Pengelola dan Rencana Kerjanya);
b. Menyelenggarakan Musyawarah Persiapan Pelaksanaan Konstruksi
(MP2K) bagi semua KSM Lingkungan;
c. Menyiapkan dan Memfasilitasi penandatanganan Surat Perjanjian
Pemanfaatan Dana Lingkungan (SPPD-L) antara BKM dengan KSM
pelaksana kegiatan Lingkungan;
d. Bersama Faskel/Askot Infra memfasilitasi kegiatan Coaching atau On
The Job Training (OJT) kepada KSM;
e. Memfasilitasi dan Memverifikasi administrasi pencairan dana kepada
KSM (RPD, LPD, BA Pembayaran);
f. Merekomendasi dan Memfasilitasi pencairan dana kepada Panitia;
g. Menyusun Tim, Jadwal dan Melaksanakan Pengadaan Bahan/Alat
secara Terbatas (Bernilai diatas Rp. 15 Juta) yang dibutuhkan oleh KSM,
(bila ada);

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 2


h. Memfasilitasi, mengawasi dan mengkoordinir seluruh pelaksanaan
kegiatan Panitia/KSM termasuk memberikan penguatan teknik konstruksi
maupun administrasi kegiatan;
i. Menyelenggarakan rapat-rapat evaluasi rutin bersama KSM untuk
mengevaluasi kemajuan kegiatan infrastruktur dan mendorong upaya-
upaya percepatan penyelesaiaan kegiatan lapangan;
j. Bersama Faskel Teknik dan KSM melakukan Opname pekerjaan
dilapangan;
k. Memastikan seluruh kegiatan KSM tidak menimbulkan dampak
lingkungan dan sosial;
l. Memfasilitasi penyusunan dan memverifikasi laporan-laporan Kegiatan
KSM (Harian, Mingguan, Bulanan, LPJ, termasuk photo2 dokumentasi);
m. Memfasilitasi dan merekomendasikan perubahan (amandemen) SPPD-L
akibat adanya perubahan pekerjaan dilapangan (bila ada)
n. Membuat dan menyampaikan laporan perkembangan kemajuan
pekerjaan Infrastruktur kepada BKM;
o. Memastikan semua infrastruktur memenuhi ”Lifetime’ minimal 3 tahun
(Bangunan berKualitas Baik/Kuat & Tahan Lama, Bermanfaat/Berfungsi
dan Ada O&P termasuk Rencana Kerjanya);
p. Bersama Faskel/Askot Infrastruktur dan pihak KSM melakukan Sertifikasi
Kegiatan (termasuk membuat BAP2-nya);
q. Memfasilitasi Peningkatan Swadaya Masyarakat
r. Menyelenggarakan rembug/musyawarah pertanggungjawaban
pelaksanaan kegiatan KSM;
s. Memfasilitasi penyelesaian permasalahan yang mungkin muncul ditingkat
kelurahan, termasuk merekomendasikan sanksi/peringatan atas
pelanggaran pemanfaatan dana dan atau pelanggaran atas ketentuan-
ketentuan dalam SPPD-L;

3. Peran KSM
a. Memperoleh amanat masyarakat untuk mengelola kegiatan infrastruktur
yang transparan dan dapat dipertanggung jawabkan
b. Mengikuti coaching/OJT yang dilaksanakan UPL/faskel baik terkait teknis
infrastruktur, administrasi maupun pembukuan keuangan KSM;
c. Memastikan prasarana yang dibangun tidak boleh menimbulkan Dampak
Lingkungan dan Social
d. Melakukan musyawarah untuk Membentuk Organisasi Pemanfaat dan
Pemelihara (O&P)
e. Menyampaikan Jadwal Kerja, Rencana Pengadaan Bahan/Alat, Rencana
Pemeliharaan, Rencana Tenaga Kerja, Tim Pelaksana Kegiatan yang
lebih rinci kepada UPL sebelum MP2K/PCM;
f. Melaksanakan Musyawarah Pengadaan Bahan/Alat, Musyawarah
Pertanggungjawaban Pelaksanaan Kegiatan dan memastikan Tim O&P
turut serta dalam MP2K;
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 3
g. Membangun Prasarana dengan kualitas baik dan bermanfaat minimal 5
tahun
h. Membuat Papan Nama/Informasi Proyek sehingga dapat diketahui oleh
masyarakat umum;
i. Membuat administrasi, termasuk photo-photo, laporan-laporan
pertanggungjawaban kegiatan dan mengarsipkannya;
j. Melakukan penggantian atau perbaikan prasarana yang diperintahkan
oleh konsultan/UPL selama proses konstruksi berlangsung;
k. Mendorong Peningkatan Swadaya Masyarakat, minimal merealisasikan
seluruh swadaya yang telah disepakati sebelumnya;
l. Mendorong pelibatan masyarakat sebanyak-banyaknya dalam
pelaksanaan kegiatan;
m. Dana BLM tidak boleh dipakai untuk biaya ganti rugi apapun;
n. Aktif melakukan penyelesaian permasalahan yang mungkin muncul
akibat pelaksanaan kegiatannya;

4. Bagaimana hubungan antara KSM dengan BKM ?


¾ Organisasi Pelaksana PNPM
Mandiri Perkotaan di tingkat
desa/kelurahan terdiri dari
Badan Keswadayaan
Masyarakat (BKM) dan
Kelompok Swadaya
Masyarakat (KSM/Panitia);
¾ Kedudukan BKM dan
KSM/Panitia pada dasarnya
adalah mitrakerja;
¾ Pada Organisasi BKM
terdapat UP-UP (Unit-
Pengelola), diantaranya
adalah UPL (Unit Pengelola
Lingkungan). UPL inilah yang
akan memfasilitasi
pelaksanaan kegiatan
pembangunan infrastruktur yang dikerjakan oleh Panitia;
¾ BKM bertanggungjawab dalam hal penyaluran dana BLM kepada Panitia
dan pengawasan pemanfaatan dana tersebut, sedangkan Panitia
bertanggunjawab untuk melaksanakan langsung kegiatan Pembangunan
Sarana dan Prasarana (pemanfaatan dana BLM);
¾ Pengurus BKM (termasuk UPL) tidak boleh rangkap jabatan sebagai
pengurus KSM/Panitia, begitu juga sebaliknya;

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 4


III. LANGKAH - LANGKAH PELAKSANAAN
KEGIATAN PEMBANGUNAN (Konstruksi)

Tahap Pelaksanaan kegiatan pembangunan sarana dan prasarana pada


dasarnya merupakan pelaksanaan kegiatan tahapan pemanfaatan dana dalam
Siklus kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan.
Kegiatan dalam tahapan ini pada garis besarnya dibagi atas 2 tahapan yaitu (1).
tahap persiapan pelaksanaan dan (2). tahap pelaksanaan konstruksi itu sendiri.
Adapun mekanisme kegiatan pada tahap pelaksanaan sebagaimana terlihat pada
gambar 1. diagram alir pelaksanaan kegiatan pembangunan prasarana.
Masing-masing kegiatan pada diagram tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
3.1. TAHAP PERSIAPAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN
(KONSTRUKSI)
1. Penyiapan Organisasi Pengelola Pemanfaatan & Pemeliharaan
Penyiapan organisasi Pengelola Pemanfaatan & pemeliharaan prasarana
disini mencakup kegiatan (1). pembentukan Organisasi Pengelola
(Struktur Organisasi) termasuk penentuan orang-orang yang akan
bertanggungjawab pada setiap unit kerja, (2). Penyusunan Rencana Kerja
Pemanfaatan dan pemeliharaan.
Pada prinsipnya semua prasarana yang telah dibangun harus dipelihara.
Namun demikian, mengingat pemanfaat setiap prasarana tidak seluruhnya
sama maka pembentukan/pengorganisasian O&P disini hanya
diprioritaskan pada prasarana yang berifat umum/publik dan prasarana
kelompok. Sedangkan untuk prasarana yang bersifat individu atau
pengunaan oleh satu keluarga saja, tidak perlu dibentuk Organisasi
Pengelolanya, seperti Jamban Keluarga, Saluran Limbah Rumah Tangga,
karena sudah langsung dipelihara oleh masing-masing keluarga
pengguna.
Waktu pelaksanaan pembentukan organisasi Pengelola ini dilakukan sejak
awal persiapan pelaksanaan kegiatan. Jadi tidak dibentuk setelah
pekerjaan fisik selesai. Pendekatan ini diharapkan dapat memunculkan
“kesadaran dan rasa tanggungjawab” bagi KSM untuk memelihara sarana
dan prasarana yang telah dibangunnya sehingga dapat memberikan
manfaat yang berkesinambungan dan lestari. Selain itu juga diharapkan
agar Tim Pengelola yang dipilih sejak awal dapat terlibat langsung dalam
pelaksanaan pembangunan fisik/konstruksi sehingga setelah pekerjaan
selesai masyarakat/tim pengelola sudah siap melaksanakan pemeliharaan.
Penyelenggaraan penyiapan organisasi pemanfaat dan pemeliharaan ini
dilakukan oleh KSM melalui forum musyawarah warga pemanfaat (atau
forum musyawarah pengambilan keputusan tertinggi KSM). Dan difasilitasi
oleh pihak BKM/UPL, Konsultan, Ka Desa/Lurah.
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 5
Gambar 1. Diagram Alir Tahap Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Prasarana
SIKLUS : PEMANFAATAN BLM (PERTAHAP)
PERSIAPAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI PELAKSANAAN KONSTRUKSI

Rembug
Penyiapan Rembug
Organisasi & Pengadaan
R. Kerja Bahan,
O&P Alat
Pelaksanaan Konstruksi,
Pencairan Dana,
Musyawarah
Mobilisasi Pengamanan Dampak,
T. Tangan Persiapan
(T. Kerja, Laporan Kemajuan,
SPPD-L Pelaksanaan
Bahan, Rapat Evaluasi Lapangan,
Konstruksi
Alat) Administras,
(MP2K) PHOTO (50%, 100%)

Penajaman Coaching
Rencana KSM (Teknis, Praktek Kerja Lapangan (OJT)
Kerja AdminstrasiK
euangan)
Supervisi Pelaksanaan

Sosialisasi Kegiatan

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 6


Secara lebih detail penjelasan apa dan bagaimana pelaksanaan dari
kedua tahapan kegiatan tersebut diatas dapat dilihat pada Buku Tatacara
Pemanfaatan & Pemeliharaan Sarana & Prasarana.

2. Penajaman Rencana Kerja

Suatu rencana kerja hendaklah dibuat serinci mungkin agar lebih mudah
untuk dipahami dan dilaksanakan. Untuk mencapai hal tersebut tidak
cukup mudah, apalagi ada keterbatasan kemampuan teknis personil dalam
menyusun perencanaan dan keterbatasan waktu yang tersedia untuk
merencankan kegiatan. Untuk mengantisipasi adanya kelemahan-
kelemahan dalam perencanaan tersebut maka perlu dilakukan evaluasi
atau penajaman kembali rencana kerja sebelum pelaksanaan dimulai.
Penajaman rencana kerja disini merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
KSM selaku pelaksana kegiatan pembangunan, khususnya oleh Tim
Pelaksana yang telah dibentuk, dengan tujuan untuk memperoleh suatu
rencana pelaksanaan pembangunan yang lebih rinci dari rencana kerja
awal (sudah diajukan dalam proposal/SPPD-L) sehingga lebih siap
dijalankan dilapangan. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai langkah
antisipasi adanya perubahan-perubahan dalam rencana kerja awal baik
yang disebabkan oleh adanya pemahaman baru yang lebih mendalam
tentang pelaksanaan kegiatan, perubahan kondisi lapangan dilokasi
prasarana, ketersediaan tenaga kerja, bahan, peralatan ataupun kondisi
Tim Pelaksana kegiatan sendiri, dan lain-lain yang akan mempengaruhi
metode kerja pelaksanaan untuk mencapai target-target yang sudah
ditentukan dalam pelaksanaan konstruksi.
Penajaman rencana kerja yang dicakup disini antara lain adalah rencana
jadwal pelaksanaan, rencana pengadaan/mobilisasi tenaga kerja/
bahan/alat, rencana tim pelaksana lapangan, rencana Calon Tenaga Kerja
yang akan terlibat, termasuk rencana pelatihan administrasi dan teknis
konstruksi bagi tim pelaksana lapangan.
Pelaksanaan hal tersebut dilakukan dengan cara mengevaluasi atau
memeriksa kembali dari setiap rencana yang telah ada, apakah semua
hal-hal yang diuraikan pada rencana semula (SPPD-L/Proposal) masih
dapat diterapkan dilapangan. Jika ada rencana yang perlu disesuaikan
kembali maka dapat langsung diperbaiki. Hasil perbaikan/perubahan inilah
yang selanjutnya akan dipergunakan oleh Tim Pelaksana Lapangan
sebagai acuan dalam pelaksanaan, disamping juga sebagai alat
monitoring suatu pekerjaan dilapangan nanti.
Keseluruhan hasil penajaman rencana ini akan menjadi masukan dalam
penyelenggaraan Musyawarah Persiapan Pelaksanaan Konstruksi yang
diselenggarakan oleh UPL.

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 7


3. Penandatangan Surat Perjanjian Pemanfaatan Dana-Lingkungan
(SPPD-L)
SPPD-L merupakan salah satu bentuk kesepakatan perjanjian kerjasama
antara BKM dengan KSM dalam rangka pemanfaatan dana BLM untuk
pembangunan sarana & prasarana sesuai ketentuan-ketentuan yang
dipersyaratkan. Hal-hal yang diatur dalam perjanjian ini antara lain :
• Hal – hal yang terkait dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan yaitu ;
Lingkup kegiatan, dokumen perjanjian kerja, jangka waktu pelaksanaan
serta nilai perjanjian kerja
• Hal-hal khusus yang masuk dalam perjanjian seperti hak dan kewajiban
para pihak, tahap pencairan dana, penyelesaian pekerjaan dan
pemeliharaan hasil pekerjaan
• Sedangkan hal – hal umum yang perlu diatur dalam perjanjian untuk
mengantisipasi berbagai permasalahan yang timbul selama
pelaksanaan pekerjaan seperti : sanksi, force majeure dan
penyelesaian perselisihan
Dengan adanya perjanjian tersebut maka semua pihak baik BKM/UPL
maupun KSM harus mentaatinya. Secara teknis bagaimana pelaksanaan
isi kontrak tersebut agar dijelaskan kembali oleh UPL/BKM kepada KSM
pada saat penyelenggaraan MP2K. Adapun contoh bentuk SPPD-L
sebagaimana terlampir.

4. Musyawarah Persiapan Pelaksanaan Konstruksi (MP2K)


Musyawarah Persiapan Pelaksanaan Konstruksi disingkat MP2K adalah
merupakan Rapat/Forum musyawarah warga dalam rangka Persiapan
Pelaksanaan Konstruksi Fisik/Pembangunan Infrastruktur (Pre
Construction Meeting/PCM). Jadi Rapat ini diselenggarakan sesegera
mungkin setelah ditandatanganinya SPPD-L dan sebelum dimulainya
kegiatan pembangunan prasarana/fisik. Penyelenggara kegiatan MP2K ini
adalah BKM/UPL (dengan difasilitasi oleh Faskel Teknik) dan dihadiri oleh
seluruh pihak KSM/Panitia yang akan melaksanakan kegiatan
pembangunan infrastruktur diwilayahnya.
Forum ini ditujukan untuk membahas dan mengetahui sejauh mana
persiapan-persiapan yang telah dilakukan KSM/Panitia serta untuk
memberikan penjelasan-penjelasan dan penyepakatan hal-hal yang
menyangkut teknis maupun administrasi dalam rangka pelaksanaan
pembangunan prasarana. Jadi pada forum ini juga pihak KSM dapat
melakukan konsultasi terkait hal-hal yang belum dipahami baik teknis
maupun administrasi kegiatan.
a) Mengapa MP2K penting untuk diadakan sebelum dilakukannya
pelaksanaan konstruksi ?
™ Pentingnya pengendalian waktu pelaksanaan sesuai dengan jadwal
pelaksanaan yang tercantum dalam proposal sebagai bagian dari
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 8
substansi proses, maupun kualitas teknis konstruksi prasarana guna
memenuhi persyaratan LIFETIME prasarana yang pada umumnya
belum sepenuhnya dipahami dan mampu dilaksanakan oleh KSM;
™ Masyarakat belum terbiasa menyusun rencana Jadwal, organisasi
pelaksanaan pekerjaan, calon tenaga kerja dan rencana swadaya
masyarakat, seperti yang tertuang dalam Proposal, sehingga belum
sepenuhnya dipedomani dilapangan dan cenderung bersifat global
bahkan banyak dipahami hanya sebagai persyaratan proposal saja;
™ Pentingnya pengelolaan dan Rencana Pengadaan kebutuhan
bahan/alat bagi KSM yang sinkron dengan ketersediaan dana dan
Jadwal Pelaksanaan;
™ Sejak awal KSM harus membentuk Organisasi O&P dan anggotanya
seharusnya dapat dilibatkan langsung pada pelaksanaan kegiatan
fisik;
b) Apakah hasil yang diharapkan dari pelaksanaan MP2K
™ Adanya Organisasi & Rencana Kerja O&P yg telah disepakati KSM;
™ Adanya Rencana & Jadwal Pengadaan Bahan/Alat bagi KSM;
™ Adanya Kepastian Daftar Calon T. Kerja yang akan dimobilisasi;
™ Adanya Tim Pelaksana Kegiatan Yang Paham Tugas-tugasnya;
™ Adanya kesepakatan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan;
™ Meningkatnya pemahaman KSM untuk melaksanakan SPPD-
L/kegiatan secara tepat waktu, tepat kualitas, tepat biaya, tertib
administrasi, dan tidak bertentangan dengan ketentuan PNPM;
c) Apa Saja Yang Perlu Dipersiapkan UPL Dalam Pelaksanaan MP2K
(1) Menyiapkan/memastikan : Jadwal/Waktu Pelaksanaan MP2K;
Tempat Penyelenggaraan MP2K; Agenda/Susunan Acara &
Metode Pembahasan; Daftar Undangan; Form Daftar Hadir
Peserta; Draft BA Pelaksanaan;
(2) Membuat dan mendistribusikan Undangan kepada seluruh Peserta;
d) Apa Saja Yang Perlu Dipersiapkan KSM Dalam Pelaksanaan MP2K
1) Berita Acara Pembentukan Organisasi/Susunan Pengurus O&P
Prasarana, termasuk rencana kerjanya;
2) Daftar Rencana Pengadaan Bahan/Alat yang siap dilaksanakan;
3) Daftar Calon Tenaga Kerja untuk BLM maupun Swadaya (siap
dimobilisasi);
4) Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan lebih rinci;
5) Struktur Organisasi, termasuk susunan Tim Pelaksana Kegiatan;
Untuk selain point 1 diatas, apabila tidak ada perubahan/revisi KSM
terbaru, maka dapat membawa salinan dari pada proposal sebelumnya.
e) Siapa Saja Pelaksana Dan Peserta MP2K?
Pelaksana : Penanggungjawab penyelenggaraan kegiatan MP2K
adalah UPL/BKM dengan difasilitasi oleh Tim Faskel. Sedangkan
Peserta : Peserta adalah semua Tim Pelaksana dari Panitia yang ada
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 9
dan mengundang BKM, Tomas, Lurah/ Kades dan Tim Konsultan serta
undangan lain yang dianggap perlu.
f) Bagaimana mekanisme pelaksanaan MP2K?
Secara rinci langkah-langkah pelaksanaan MP2K sbb :
No Tahapan Pelaksana Hasil Pelaksanaan
1 Penyampaian BKM/UPL Surat Und. Semua Tim Pelaksana dari
Undangan diterima/ diketahui KSM, BKM, UPL, Tomas,
MP2K peserta Lurah/Kades dan Tim
Konsultan serta undangan
lain yang dianggap perlu.
2 Pelaksanaan UPL/Faskel • Adanya Orgn. • Peserta diminta mengisi
MP2K O&P (& Renc. Daft. Hadir;
Kerjanya), Jadwal • Acara dibuka oleh Ketua
Kegiatan, Renc. BKM/UPL;
Pengadaan, Tim • Penjelasan Maksud,
Lapangan dan Tujuan, Hasil Yang Ingin
kesiapan Calon Dicapai serta tatacara
Tenaga Kerja, forum;
tiap KSM; • Pembahasan setiap
• Meningkatnya Agenda. Proses
pemahaman KSM pembahasan dipandu
untuk oleh UPL dan Faskel.
melaksanakan Untuk pembahasan
SPPD-L/kegiatan materi O&P (termasuk
secara tepat rencana kerjanya),
waktu, tertib Jadwal, Organisasi
administrasi, Lapangan, apabila waktu
memenuhi tidak memungkinkan
lifetime dan tidak maka dapat meminta
bertentangan cukup 1 KSM untuk
dengan ketentuan mempresentasikan
PNPM; kemudian ditanggapi oleh
• Daftar Hadir; peserta lain (khususnya
• BA Pelaksanaan; faskel & UPL
mengarahkan untuk hasil
yang benar & optimal).
Selanjutnya KSM yang
lain dapat langsung
melakukan
perbaikan/melengkapi
sesuai masukan
presentasi sebelumnya;
• Pembacaan Hasil
Kesepakatan;
• Penyusunan BA MP2K

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 10


5. Pelatihan (Coaching) Teknis dan Administrasi Pelaksanaan
Konstruksi
Yaitu bimbingan/coaching yang diberikan terutama oleh Faskel
Teknik dan UPL tentang teknik-teknik pelaksanaan konstruksi
prasarana dan administrasi pencatatan atau pelaporan kegiatan
pembangunan prasarana yang akan dilakukan KSM selam
pelaksanaan konstruksi.
Kegiatan ini sangat penting dan diharapkan dapat dilakukan sebelum
pelaksanaan kegiatan konstruksi guna meningkatkan pemahaman
dan keterampilan KSM sehingga tidak menemui kesulitan dalam
melaksanakan kegiatan konstruksi secara benar, sesuai persyarata
teknis yang ditentukan.
Kegiatan ini harus dilakukan sesederhana mungkin dengan bahasa
yang mudah dimengerti oleh KSM sehingga mereka benar-benar
mampu dan siap untuk melaksanakan kegiatan fisik dan
pengadministrasiannya. Adapun cakupan substansi materi kegiatan
ini mengacu pada standar teknis dan administrasi yang telah ada
dalam PNPM Mandiri Perkotaan dan dapat disesuaikan dengan
kebutuhan setiap KSM, khususnya terkait jenis prasarana yang
dibangunnya.
Proses pembelajaran KSM ini diharapkan akan berlanjut pada kegitan
“Praktek Kerja dilapangan/On the Job Trainning (OJT)” pada setiap
awal pelaksanaan kegiatan konstruksi dilapangan (tahap
pelaksanaan konstruksi).
6. Sosialisasi Kegiatan
Pada tahap ini, KSM melakukan sosialisasi kepada warga, khususnya
anggota KSM bersangkutan mengenai keseluruhan rencana kegiatan
yang akan dilaksanakan sesuai SPPD-L;
7. Pembuatan & Pemasangan Papan Nama Kegiatan
Sebelum kegiatan fisik dimulai, KSM harus membuat dan memasang
papan nama kegiatan/sub-proyek pada tempat strategis dilokasi
kegiatan. Papan nama ini dimaksudkan untuk memberikan informasi
dan transparansi kegiatan serta wajib terpasang selama kegiatan
pembangunan prasarana berlangsung.
Informasi yang perlu tercantum dalam Papan Nama Proyek ini antara
lain : Wilayah administratif kegiatan (kelurahan, kecamatan &
kabupaten); Nama BKM Penanggung jawab Kegiatan; Jenis/Nama
Kegiatan; Volume Kegiatan; Biaya Kegiatan (Swadaya, BLM dan
Total); Waktu pelaksanaan; Lokasi kegiatan; Nama KSM Pelaksana
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 11
3.2. TAHAP PELAKSANAAN PEMBANGUNAN (KONSTRUKSI)
1) Pencairan Dana (Uang Muka dan Termin)
a) Bagaimana cara mengajukan uang muka/tahap pertama?
Setelah ditandatanganinya SPPD-L, KSM dapat mengajukan
pembayaran uang muka kepada BKM sebagai pembayaran tahap
pertama sebesar 20% dari nilai SPPD-L.
Ada 3 dokumen yang harus disiapkan untuk penarikan uang muka,
yaitu :
i. SPPD-L
ii. Berita Acara Penarikan Uang Muka
iii. Rencana Penggunaan Dana (RPD) Uang Muka
b) Bagaimana cara mengajukan pembayaran tahap kedua
KSM dapat mengajukan pembayaran tahap kedua sebesar 50% dari
nilai SPPD-L setelah pekerjaan fisik mencapai kemajuan minimal
sebesar 30% .
Ada 4 jenis dokumen yang diperlukan untuk pengajuan angsuran
tahap kedua adalah :
1) Laporan Kemajuan Pelaksanaan Pekerjaan (Laporan Dwimingguan
dilengkapi photo-photo infrastruktur terakhir)
2) Laporan Penggunaan Dana (LPD) Termin Pertama/Uang Muka;
3) Berita Acara Pembayaran Termin Kedua;
4) Rencana Penggunaan Dana (RPD) Termin Kedua.
c) Bagaimana caranya mengajukan pembayaran tahap ketiga/terakhir
Angsuran tahap ketiga (sebesar 30% dari SPPD-L) atau terakhir
diajukan setelah prestasi pekerjaan mencapai minimal 90% dan KSM
sudah benar-benar mengambil alih tugas pemeliharaan prasarana
sebagaimana yang ditunjukkan oleh surat kesanggupan pemeliharaan
yang ditantatangani di atas materai dan struktur organisasi O&P
(termasuk rencana kerjanya) yang disampaikan sebelumnya. Adapun
kelengkapan dokumen yang diperlukan KSM pada tahap ini ada 4,
yaitu :
1) Laporan Kemajuan Pelaksanaan Pekerjaan (Laporan Dwimingguan
dilengkapi photo-photo infrastruktur terakhir)
2) Laporan Penggunaan Dana (LPD) Termin Kedua;
3) Berita Acara Pembayaran Termin Ketiga;
4) Rencana Penggunaan Dana (RPD) Termin Ketiga.

2) Mobilisasi Tenaga Kerja/Bahan/Alat


Kegiatan mobilisasi Tenaga Kerja adalah mendatangkan tenaga kerja
yang diperlukan (masyarakat yang terdaftar untuk bekerja) guna
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 12
melaksanakan kegiatan pembangunan fisik dilokasi pekerjaan.
Sedangkan mobilisasi bahan dan alat adalah mendatangkan bahan
(pembelian) dan alat (sewa) yang diperlukan untuk pembangunan
sarana/prasarana kelokasi pekerjaan. Sebagai pedoman
pelaksanaannya adalah Daftar Rencana Pengadaan yang telah dibuat
dan disepakati dalam MP2K sebelumnya (tahap persiapan pelaksanaan
konstruksi).
Hal terpenting yang juga harus diperhatikan dalam keseluruhan proses
ini adalah kesesuaian jumlah maupun kualitas/ketrampilan dari tenaga
kerja/bahan/alat yang akan dipergunakan/dimobilisasi serta ketepatan
waktunya karena hal ini akan sangat mempengarhi kualitas akhir dan
waktu penyelesaiaan suatu pekerjaan dilapangan.
Dalam rangka pengadaan bahan/alat ini, maka terdapat 2 (dua) ”Metode
Pengadaan” yang telah ditentukan dalam PNPM (maupun untuk kegiatan
seperti PAKET, Chanelling dan ND) yang wajib diikuti, yaitu (1). metode
pengadaan secara langsung dan (2). metode pengadaan Terbatas.
Kedua metode tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
Batasan
No Metode Pengadaan Nilai Penjelasan
Biaya
1 Pengadaan Secara sampai Pengadaan Perjenis Bahan
Langsung atau tanpa dengan Bangunan dan atau Sewa
penawaran dari minimal 3 Rp. 15 perjenis Peralatan Konstruksi
toko, yaitu Pengadaan yang Juta yang dilakukan secara
dilakukan oleh KSM (minimal bertahap atau sekaligus,
2 orang) secara langsung disatu toko/pemasok tertentu
bahan/alat yang dibutuhkan dengan nilai total pembelian
pada toko/suplier tidak melebihi Rp. 15 Juta).
setempat/terdekat dengan Contoh:
mengacu pada harga satuan ™ Pembelian bahan semen
hasil survey sebelumnya. atau pasir saja pada satu
toko tertentu dengan nilai
masing-masing tidak
melebihi Rp.15 juta);
™ Pembelian bahan yang
sama seperti Kayu
Jembatan sekaligus (Tiang,
Gelagar, Lantai, Sandaran)
disatu toko tertentu dengan
jumlah nilai keseluruhannya
tidak melebihi Rp.15 juta);
2 Pengadaan Secara lebih Pengadaan Perjenis Bahan
Terbatas, yaitu pengadaan besar Bangunan dan atau Sewa
yang harus menggunakan dari Rp. perjenis Peralatan Konstruksi
pihak ketiga sebagai 15 Juta yang dilakukan secara
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 13
Batasan
No Metode Pengadaan Nilai Penjelasan
Biaya
pemasok (minimum ada bertahap atau sekaligus,
penawaran dari 3 disatu toko/pemasok tertentu
toko/pemasok setempat yang dengan nilai total pembelian
berbeda). Dilakukan oleh Tim melebihi Rp. 15 Juta). Contoh
Pengadaan yang dibentuk :
oleh BKM selaku ™ Pembelian bahan Pipa Air
Penanggungjawabnya. Bersih saja atau kayu
Proses Pemasukan jembatan atau sewa mesin
Penawaran sampai gilas saja pada satu
Penetapan Pemenang toko/pemasok tertentu
dilakukan melalui Forum dengan nilai masing-masing
”Musyawarah” melebihi Rp.15 juta);
™ Pembelian bahan
Kabel/Seling Jembatan
Gantung sekaligus (Seling
Utama, Penggantung, Angin
dan Aksesoris), pada satu
toko tertentu dengan jumlah
nilai keseluruhannya
melebihi Rp.15 juta);
™ Sewa peralatan secara
bersama oleh beberapa
KSM, seperti mesin gilas
pada satu pemasok tertentu
dengan nilai sewa total
melebih Rp. 15 Juta)
Dalam keadaan tertentu dimana Metode Pengadaan Terbatas ini tidak dapat
dilakukan, karena calon pemasok/toko yang menyediakan bahan/alat yang
diperlukan hanya ada satu (satu-satunya) diwilayah provinsi bersangkutan
dan atau karena calon pemasok/toko penyedia bahan/alat tersebut berada
diluar wilayah provinsi bersangkutan maka metode pengadaa terbatas ini
dapat dilakukan secara khusus. Kata kuncinya adalah jika jumlah calon
pemasok/toko yang ada, hanya ada satu-satunya diwilayah provinsi lokasi
KSM dan atau kedudukan toko/pemasok berada diluar wilayah provinsi KSM
bersangkutan.
Penggunaan metode khusus ini hanya dapat dilakukan apabila telah
mendapat persetujuan dari KMW/Askot Infrastruktur. Contohnya adalah
Pembelian bahan Kabel/Seling Jembatan Gantung sekaligus (Seling Utama,
Penggantung, Angin dan Aksesoris),dll, pada satu toko tertentu dengan
jumlah nilai keseluruhannya melebihi Rp.15 juta).
Sebagai bagian dari metode Pengadaan Terbatas maka Pengadaan khusus
ini juga dilakukan oleh Tim Pengadaan yang dibentuk oleh BKM selaku
Penanggungjawab pengadaan Terbatas;

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 14


Batasan nilai/biaya pembelian bahan bangunan atau sewa peralatan
sebagaimana diuraikan pada Metode pengadaan diatas haruslah dilihat
per-jenis bahan bangunan/peralatan dan bukan hanya pada nilai
keseluruhan pembelian/sewa yang dilakukan saja, misalnya pengadaan
sekaligus pasir + semen + besi (paket) disatu toko, meskipun nilai total
keseluruhannya melebihi Rp. 15 Juta tetapi diantara ketiga jenis bahan
tersebut tidak ada yang bernilai diatas Rp. 15 Juta sendiri maka
pengadaan ini dapat dilakukan dengan metode pengadaan secara
langsung. Dan sebaliknya bila salah satu diantaranya terdapat nilai diatas
Rp. 15 Juta maka bahan tersebut harus dilakukan dengan metode
Pengadaan Terbatas.
Penjelasan terkait Metode pengadaan ini juga dapat dilihat pada ”Buku
Suplemen Teknis : Persiapan & Perencanaan Teknis, bagian Penyusunan
Rencana Pengadaan Bahan/Alat”.
Adapun tatacara Pelaksanaan Kedua Metode Pengadaan tersebut adalah
sebagai berikut :
1) Tatacara Pelaksanaan Pengadaan Langsung
Pelaksanaan Pengadaan Secara Langsung atau tanpa penawaran
dari toko, dilaksanakan secara langsung oleh KSM minimal terdiri dari 2
orang, dengan langkah-langkah berikut :
a. Tentukan jenis-jenis bahan/alat yang akan dibeli/dipesan. Acuan
yang digunakan adalah Daftar Rencana Pengadaan yang telah
ditetapkan sebelumnya. Beberapa hal perlu diperhatikan disini
adalah :
(1) Pembelian material/alat harus sesuai dengan kebutuhan
pekerjaan dilapangan pada saat itu, sebab jika pembelian
terlampau banyak (tidak terkontrol) maka dapat berlebih
(merupakan pemborosan), akibatnya dana yang ada bisa-bisa
tidak cukup untuk membeli bahan lain atau membayar upah, dll).
(2) Harus memperhatikan kecukupan dana yang ada untuk
kebutuhan lain, misalnya membayar upah pekerjaan dilapangan
(pemasangan bahan yang dibeli). Hal ini penting untuk menjaga
agar kegiatan dilapangan tetap berjalan terus-menerus (ada
kemajuan pekerjaan). Jangan sampai dilakukan pembelian
bahan/alat tetapi tidak dapat dipasang dilapangan karena tidak
ada dana untuk membayar upah kerja;
(3) Harus memperhatikan kemampuan gudang untuk menyimpan
bahan/alat yang dibeli secara baik dan aman, karena kalau
sampai pembelian material terlampau banyak sedangkan ruang
gudang tidak cukup maka bisa mengakibatkan bahan yang dibeli
bisa rusak/hilang sebelum digunakan.
(4) Harus selalu memperhatikan/membandingkan total volume
pembelian yang sudah dilakukan dengan volume yang
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 15
direncanakan pada RAB untuk tiap jenis bahan, apabila
ditemukan kemungkinan bahwa volume pembelian akan
melebihi volume RAB maka segera lakukan konsultasi dengan
Tim Konsultan.
b. Tetapkan Toko/Pemasok yang akan memasok bahan/alat tersebut.
Acuan yang digunakan adalah Daftar Rencana Pengadaan yang
telah ditetapkan sebelumnya.
c. Buat Surat Pesanan Bahan/Alat yang ditujukan kepada
Toko/Pemasok yang dipilih. Penting untuk diperhatikan bahwa surat
pesanan ini agar sampaikan juga ke bagian keuangan/Bendahara
KSM untuk persiapan pembayarannya.
d. Bahan yang diterima di proyek harus diperiksa kesesuaian jumlah
dan kualitasnya, kemudian dicatat pada Nota Penerimaan Bahan
untuk selanjutnya dapat langsung dipergunakan dilapangan atau
disimpan sementara digudang dengan aman dan baik. Penting untuk
diperhatikan, agar Nota Penerimaan Bahan/Alat ini juga disampaikan
kebagian bendahara/keuangan untuk pembayarannya.
e. Tatacara pembayaran material/alat dilakukan oleh bendahara atau
bagian keuangan KSM.
Beberapa Ketentuan Umum berkaitan dengan pengadaan ini :
1. Pihak KSM/Panitia selaku pelaksana kegiatan pembangunan
infrastruktur dalam melakukan proses Pengadaan harus berpedoman
pada metode pengadaan yang telah ditetapkan diatas;
2. Pelaksanaan pengadaan oleh pihak KSM (metode langsung) atau Tim
Pengadaan (metode Terbatas) pada toko/pemasok yang menyediakan
bahan bangunan atau menyewakan peralatan konstruksi. Dan tidak
boleh menggunakan pihak ketiga/perantara (orang atau badan yang
bukan pemasok/toko), kecuali sebagi fasilitator saja;
3. Sebagai pedoman harga bagi KSM/Panitia dalam pelaksanaan
pengadaan Bahan/alat untuk kegiatan pembangunan Infrastruktur
adalah HARGA SATUAN BAHAN/ALAT HASIL SURVEY minimal dari
3 pemasok setempat/terdekat;
4. Bagi KSM/Panitia yang melaksanakan kegiatan pembangunan
infrastruktur lebih dari 1 (satu) bulan maka sebelum melakukan
kegiatan pengadaan bahan/alat pada bulan berikutnya, terlebih dahulu
harus melakukan kembali survey harga;
5. Untuk meningkatkan kualitas/mutu bangunan maka sangat penting
untuk dipertimbangkan agar menggunakan peralatan konstruksi,
khususnya pekerjaan pemadatan pada jalan perkerasan (Sirtu/Kerikil,
Telford/Makadam);
6. Tidak dibenarkan personil Tim KMW/Konsultan duduk sebagai Tim
Pengadaan atau sebagai Pelaksana Pengadaan dan Pemasok.

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 16


2) Tatacara Pelaksanaan Pengadaan Secara Terbatas
Jadwal Pelaksanaan Penanggung Output/Hasil Kegiatan
No. Uraian Kegiatan
Mulai Selesai Durasi jawab
1. Pembentukan Tim Selambat- Selambat- 2 hr BKM/UPL Terbentuknya Tim Pengadaan
Pengadaan, lambatnya lambatnya 1
o Tim ini dibentuk dan 1 hari hari sebelum
ditetapkan oleh setelah pengumuman
BKM/UPL. BKM
o Jumlah Tim melakukan
Pengadaan minimal pencairan
terdiri dari 5 orang Dana ke
dan harus berjumlah rekening
ganjil; KSM
o Anggota Tim
Pengadaan harus
terdapat wakil UPL
dan KSM terkait dan
boleh ditambah pihak
ketiga yang dianggap
lebih mampu (tidak
boleh Konsultan
PNPM duduk
sebagai Anggota Tim
Pengadaan)

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 17


Jadwal Pelaksanaan Penanggung Output/Hasil Kegiatan
No. Uraian Kegiatan
Mulai Selesai Durasi jawab
2 Penyusunan dokumen Selambat- 2 hr Tim Dokumen pengadaan/RKS yang
pengadaan lambatnya 1 hr Pengadaan minimal memuat :
sebelum Nama/Volume/Spesifikasi Teknis
Contoh bentuk Dokumen Pendaftaran/ Pekerjaan, Sumber Dana,
RKS, terlampir. pengambilan Tempat Pekerjaan dan Pemberi
dokumen pekerjaan; Jadwal Pengadaan
(Penjelasan Kantor/Lapangan,
Pemasukan Penawaran),
Ketentuan Penawaran (bentuk
surat penawaran, bentuk Rincian
Harga Penawaran, Cara
penyampaian penawaran),
persyaratan penyedia jasa,
Metode Evaluasi Penawaran.
3 Pengumuman selambat- Tim Pengumuman melalui media
lambatnya 1 Pengadaan yang ada. Diupayakan informasi
hari setelah ini dapat diketahui oleh pihak
Ada-nya Tim pemasok yang ada di desa
Pengadaan setempat/terdekat;
4 Pendaftaran Peserta & pada hari Selambat- 3 hr Tim Daftar Peserta & Tanda Terima
Pengambilan Dokumen dikeluarkan- lambatnya 3 hr Pengadaan Dokumen Pengadaan
nya pengu- sejak
muman. pengumman
5 Undangan/Penyampaian Sejak hari Selambat- 3 hr Tim Undangan diterima Pemasok
Undangan kepada Calon pertama lambatnya 1 Pengadaan
Peserta untuk mengikuti pendaftaran hari setelah
Penjelasan Kantor berakhirnya
pengambilan
dokumen

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 18


Jadwal Pelaksanaan Penanggung Output/Hasil Kegiatan
No. Uraian Kegiatan
Mulai Selesai Durasi jawab
6 Penjelasan Kantor 1 hari - 1 hr Tim Daftar Hadir Peserta Pemasok
(diikuti Penjelasan setelah Pengadaan dan BA Penjelasan (masing-
Lapangan bila berakhirnya masing untuk kantor &
diperlukan) pendaftaran Lapangan)
7 Pemasukan, 3 hr setelah Pada Jam yang 1 hr Tim ¾ Daftar Hadir seluruh Peserta
Pembukaan Penawaran, penjelasan disepakti oleh Pengadaan (baik Peserta undangan
Evaluasi Penawaran & kantor Tim & seluruh maupun Peserta Pemasok)
Penetapan Pemenang Peserta
(Musyawarah Pemasok bahwa ¾ BA Hasil Pemasukan,
Pengadaan) Pembukaan Pembukaan Penawaran,
Penawaran telah Evaluasi Penawaran &
Catatan : selesai hari yang Penetapan Pemenang
Untuk meningkatkan sama dengan ¾ Sebaiknya Daftar Hadir
transparanasi dan pemasukan) Pemasok dan Undangan
akuntabilitas kegiatan dibuat terpisah.
maka pada acaran :
Pemasukan,
pembukaan, Evaluasi &
Penetapan Pemenang
ini, Tim Pengadaan
harus mengundang
seluruh anggota KSM
terkait, wakil BKM, wakil
UPL, Kepala
Desa/Lurah, Tomas
setempat dan Faskel.
Penjelasan Tatacara Pemasukan, Pembukaan Penawaran, Penilaian/Evaluasi Penawaran & Penetapan
Pemenang :
1. Peserta Pemasok menyampaikan penawaran dalam satu sampul tertutup kepada Tim Pengadaan, selanjutnya
peserta mengisi daftar hadir;
2. Setelah waktu/Jam yang ditentukan (sesuai jadwal pemasukan pada dokumen pengadaan) untuk pemasukan
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 19
Jadwal Pelaksanaan Penanggung Output/Hasil Kegiatan
No. Uraian Kegiatan
Mulai Selesai Durasi jawab
selesai, Tim Pengadaan menyampaikan kepada peserta bahwa waktu pemasukan penawaran telah selesai/ditutup;
3. Tim Pengadaan meminta 2 orang dari wakil peserta pemasok yang berbeda untuk menjadi saksi;
4. Tim membuka satu-persatu penawaran yang di terima dihadapan seluruh peserta/undangan yang hadir, lalu
membacakan kelengkapan dokumen penawaran yang disampaikan (besarnya nilai penawaran, Surat Pernyataan
Kesanggupan Pengadaan dan Surat Pernyataan Kebenaran Usaha);
5. Segera setelah poin 2 selesai, Tim secara langsung melakukan pengecekan kebenaran hasil perkalian/penjumlahan
nilai biaya penawaran seperti yang tertera pada Rincian harga penawaran yang diajukan pemasok (koreksi
aritmetika), lalu menyampaikan kebenaran atau kesalahan yang terjadi apabila ditemukan.
6. Apabila ditemukan perbedaan antara Nilai Penawaran yang ditulis dalam Angka dan Huruf maka Nilai yang dipakai
harus yang tertera sesuai tulisan huruf.
7. Apabila hasil koreksi aritmetika ditemukan ada kesalahan maka Nilai akhir penawaran peserta yang digunakan
adalah nilai hasil koreksi aritmetika (bukan sebagaimana yang tertulis dalam surat penawaran).
8. Apabila ada Nilai penawaran pemasok yang berubah menjadi terendah diantara seluruh penawaran yang ada, maka
Tim wajib melakukan klarifikasi langsung kepada pemasok bersangkutan yang hadir, apakah masih sanggup
menyediakan seluruh bahan/alat sesuai volume dan spesifikasi yang dipersyaratkan? Apabila untuk menjawab
pertanyaan tersebut, pemasok yang bersangkutan membutuhkan waktu untuk klarifikasi/konfirmasi kepada
atasannya/Tuan Toko, maka Tim harus menyepakati dengan seluruh peserta besarnya tambahan/kelonggaran
waktu yang akan diberikan pemasok tersebut. Apabila sesuai waktu yang diberikan tidak ada tanggapan atau
tanggapannya menyatakan tidak mampu maka langsung dinyatakan bahwa pemasok tersebut GUGUR.
9. Dalam proses pengadaan ini sedapat mungkin diupayakan tidak ada peserta yang gugur, kecuali (peserta dinyatakan
gugur) apabila :
a. Didalam Dokumen Penawarannya tidak terdapat rincian harga penawaran;
b. Dinyatakan gugur berdasarkan prosedur poin 8 diatas.
c. Ketiadaan salah satu atau ketiga-tiganya dari surat pernyataan tidak menuntut ganti rugi, pernyataan
kesanggupan penyediaan bahan/alat yang diadakan dan surat Pernyataan Kebenaran Usaha, tidak dapat
menggugurkan pemasok, kecuali bila pemasok yang bersangkutan tidak dapat menyediakan surat-surat tersebut
dalam waktu 2 jam (waktu ini hendaknya disepakati bersama oleh semua peserta).
d. Peserta/Pemasok yang tidak mengambil dokumen dan atau tidak mengikuti Acara Penjelasan Kantor/Lapangan
tidak dapat dijadikan alasan untuk digugurkan.
10. Panitia menetapkan peringkat pemenang berdasarkan urutan nilai penawaran dari nilai terendah sampai tertinggi;

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 20


Jadwal Pelaksanaan Penanggung Output/Hasil Kegiatan
No. Uraian Kegiatan
Mulai Selesai Durasi jawab
11. Peserta dengan Peringkat Pemenang Pertama dinyatakan sebagai Pemenang sekaligus berhak melakukan
perjanjian Kerjasama dengan KSM.

8 Penandatangan Selambat- 2 hr Ketua KSM Surat Perjanjian Pengadaan


Perjanjian Kerjasama lambatnya 2 Bahan/Alat.
antara KSM selaku hari setelah
Pemberi Kerja dengan Pengumuman
Pemasok Pemenang

Catatan :
Bentuk perjanjian kerjasama ini dapat berbentuk Harga Satuan atau Lampsum dan tanpa kompensasi berupa kenaikan
harga meskipun ada perubahan harga kemudian hari;

Sedangkan untuk pelaksanaan Pengadaan secara Khusus pada prinsipnya dilaksanakan oleh Tim
Pengadaan dan langsung dapat dilakukan negosiasi harga (sampai dilokasi) sesuai volume & spesifikasi
bahan/alat yang dibutuhkan. Dalam hal ini pihak pemasok tetap harus memberikan dokumen penawaran
sebelum negosiasi harga kepada Tim Pengadaan (dalam metode ini harus tetap ada dokumen penawaran dari
pahak toko/pemasok) dan menjadi bahan pertanggungjawaban tim pengadaan. Sedangkan untuk langkah-
langkahnya teknis lainnya dapat dilakukan penyesuain pada langkah - langkah pengadaan terbatas.

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 21


3) Musyawarah Pengadaan Bahan dan Alat
Musyawarah Pengadaan Bahan/Alat adalah forum musyawarah
pengadaan terbatas, untuk menetapkan siapa pihak ketiga yang akan
menjadi mitra kerja KSM dalam rangka Pengadaan Bahan/Alat yang
dibutuhkan. Jadi Forum ini hanya dilakukan pada setiap ada kegiatan
Pengadaan Terbatas.
Penyelenggaraan Forum Musyawarah Pengadaan ini dimaksudkan untuk
meningkatkan adanya transparanasi dan akuntabilitas pelaksanaan
kegiatan, khususnya dalam pemanfaatan dana pada kegiatan pengadaan
bahan/alat, bagi KSM Lingkungan.
Mekanisme pelaksanaan forum ini pada dasarnya merupakan
mekanisme pelaksanaan secara sekaligus dari rangkaian acara :
Pemasukan, Pembukaan, Evaluasi Penawaran Pemasok & Penetapan
Pemenang pada proses pengadaan terbatas. Sedangkan peserta yang
diundang adalah calon pemasok/toko dan anggota KSM terkait, wakil
BKM, wakil UPL, Kepala Desa/Lurah, Tomas setempat dan Tim
Konsultan.

4) Praktek Kerja dilapangan/”On the Job Training” (OJT)


Yaitu magang atau latihan kerja atau pemberian contoh kerja langsung
dilapangan, khususnya tentang teknik atau cara-cara pelaksanaan suatu
kegiatan pembangunan prasarana yang akan dilaksanakan.
Difasilitasi/dibimbing oleh fasilitator kelurahan/desa bidang teknik, UPL
atau pihak ketiga yang akan melaksanakan pekerjaan konstruksi
tersebut. Fokus perhatiaannya lebih kepada bagaimana cara pengerjaan
yang benar dari suatu pekerjaan, misalnya bagaimana cara
melaksanakan komposisi campuarn beton, bagaimana cara pengadukan
(pemberian air), bagaimana cara pengangkutan atau pemasangannya,
bagaimana cara pemadatan, bagaimana cara penyambungan, bagaiman
cara perapihan/finishing pekerjaan, dll.
Pendekatan pelaksanaannya adalah :
• Disesuaikan dengan jenis pekerjaaan yang akan dilaksanakan
dilapangan. Artinya OJT ini mengikuti tahapan/jadwal pekerjaan
dilapangan sehingga tidak memerlukan biaya khusus untuk pengadaan
tenaga kerja atau bahan/alat yang diperlukan, tetapi dapat langsung
menggunakan tenaga kerja atau bahan yang sudah tersedia untuk
pekerjaan tersebut. Sebaiknya tidak melakukan OJT pekerjaan
plesteran sementara pekerjaan dilapangan masih melakukan pasangan
batu/bata, dll.
• Dilaksanakan pada awal memulai pekerjaan. Hal ini dimaksudkan agar
dengan pemahaman/keterampilan yang telah dipraktekkan pada saat
OJT tadi, dapat langsung diikuti oleh masyarakat untuk menyelesaikan
seluruh volume pekerjaan tersebut;
Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 22
• Dilakukan untuk pekerjaan tertentu yang diprioritaskan. Artinya OJT ini
tidak perlu dilakukan untuk semua pekerjaan tetapi cukup diprioritaskan
pada pekerjaan tertentu yang dianggap paling menentukan kualitas dan
atau kurang dipahami oleh pelaksana lapangan/tenaga kerja.
On the Job Training harus dilakukan terutama untuk pelaksanaan
kegiatan-kegiatan yang kurang dipahami oleh masyarakat/tenaga kerja
selama pelaksanaan kegiatan konstruksi di kegiatan PNPM maupun
kegiatan lain seperti PAKET, Chanelling dan ND.

5) Pelaksanaan Konstruksi/Fisik
Pelaksanaan Konstruksi adalah serangkaian pelaksanaan kegiatan
pembangunan/fisik saran & prasarana untuk mewujudkan bangunan
yang direncanakan. Termasuk juga disini adalah kegiatan-kegiatan
penanganan Dampak
Lingkungan/mitigasi yang telah
direncanakan. Dalam
pelaksanaan kegiatan
pembangunan sarana dan
prasarana tersebut, harus
diperhatikan kesesuaian dari
spesifikasi teknis (persyaratan
teknis) agar bangunan yang
dibuat lebih aman dan kuat
sehingga benar-benar dapat
dimanfaatkan lebih lama.
Pelaksanaan setiap jenis
pekerjaan/kegiatan
membutuhkan cara-cara penanganan yang berbeda-beda sesuai
spesifikasi dari masing-masing jenis prasarana tersebut.
Untuk itu maka pelaksanaan kegiatan pembangunan infrastruktur harus
mengacu pada ketentuan-ketentuan teknis, cara pelaksanaan kegiatan
sebagaimana ditetapkan dalam pedoman teknis pembangunan
prasarana, baik untuk kegiatan yang didanai melalui swadaya maupun
melalui BLM. Petunjuk pelaksanaan konstruksi dapat dilihat buku Jilid I-
IV, Pedoman Teknis pembangunan sarana & prasarana, tentunya sesuai
dengan prasarana yang ditangani.
Untuk menjaga capaian hasil pekerjaan fisik tetap berkualitas baik sesuai
dengan persyaratan teknis yang berlaku maka pelaksanaan kegiatan
pembangunan sarana & prasarana oleh KSM dapat dilakukan selain
dengan cara gotong-royong juga dapat dilaksanakan dengan cara
kerjasama dengan pihak ketiga yang lebih mampu, khususnya untuk
pekerjaan yang memerlukan teknologi yang rumit/sulit atau tidak mampu
ditangani oleh masyarakat sendiri.

Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 23


Tujuan Pelaksanaan melalui cara kerjasama oleh KSM/Panitia dengan
pihak ketiga ini adalah selain untuk memenuhi persyaratan teknis
konstruksi, juga untuk meningkatkan prinsip transparansi, akuntabilitas
pelaksanaan dan sekaligus dapat menjadi wahana pembelajaran bagi
masyarakat dalam hal pekerjaan yang memerlukan teknologi yang
rumit/sulit. Penting untuk diperhatikan bahwa pelaksanaan dengan cara
kerjasama ini bukanlah ditujukan untuk mencari keuntungan finansial
bagi KSM/Panitia melainkan semata-mata untuk memenuhi persyaratan
teknis dan prinsip-prinsip diatas.
Beberapa hal yang berkaitan dengan cara pelaksanaan kerja tersebut
dapat diuraikan sebagai berikut :
‰ Metode Kerja
Metode Kerja atau cara kerja disini adalah merupakan cara
bagaimana pekerjaan konstruksi dilaksanakan. Apakah menggunakan
tenaga kerja atau dengan peralatan berat/besar.
Pada prinsipnya penentuan metode kerja telah dilakukan sejak awal
perencanaan teknis sebelumnya, seperti tahap penyusunan RAB,
Penyusunan Jadwal Pelaksanaan. Dengan tetap mengacu pada
metode kerja yang telah dibuat sebelumnya tersebut maka pada
tahapan ini peranan metode kerja lebih difokuskan untuk memilih dan
menentukan bagian mana dari pekerjaan yang akan ditangani sendiri
atau ada yang perlu Disub-kontrakan (dipihak ketigakan).
Untuk pelaksanaan kegiatan PNPM, maka metode pelaksanaan
pekerjaan konstruksinya dapat dilaksanakan dengan salah satu
metode kerja berikut :
i. Metode Gotong-Royong, adalah pelaksanaan kegiatan konstruksi
dengan cara mengunakan tenaga kerja swadaya dari masyarakat;
ii. Metode Semi Gotong-Royong, adalah pelaksanaan kegiatan
konstruksi, selain dengan cara mengunakan tenaga kerja swadaya
dari masyarakat, juga dilakukan dengan cara kerjasama dengan
pihak ketiga yang lebih mampu.
iii. Metode Kerjasama (Disub-kontrakkan), adalah pelaksanaan
kegiatan konstruksi dengan cara dikerjasamakan dengan pihak
ketiga yang lebih mampu untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
‰ Apa saja Jenis Kegiatan yang boleh dikerjasamakan oleh KSM
dengan pihak Ketiga ?
Secara umum jenis kegiatan yang dapat dilakukan oleh KSM melalui
bentuk kerjasama dengan pihak ketiga, dapat dibedakan atas 2
macam, yaitu :
1). Pelaksanaan pekerjaan/bagian pekerjaan tertentu yang secara
teknis tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh KSM/Panitia, yaitu

Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 24


pekerjaan/kegiatan yang memerlukan Teknologi/Metode Kerja yang
Sulit, dengan kriteria berikut :
a. Bila dikerjakan oleh KSM/Panitia sendiri akan memerlukan
waktu yang lebih lama dari yang ditetapkan oleh program
PNPM;
b. Pekerjaan memerlukan alat-alat berat, seperti Excavator, Mesin
Gilas/Pemadat, dll.
c. Pekerjaan memerlukan Tenaga Kerja yang mempunyai
keahlian/pengalaman khusus dan tidak dimiliki oleh
KSM/Panitia.
Misalnya : kegiatan Pemadatan Konstruksi Perkerasan Jalan,
Pemasangan kabel Jembatan Gantung atau Pemasangan
rangka/gelagar jembatan baja, dll.
2). Pengadaan Bahan Bangunan atau Peralatan Konstruksi (alat
berat/besar) dengan nilai biaya diatas Rp. 15 Juta. (Penjelasan
tatacara pengadaan ini secara rinci dapat dilihat pada buku
Suplemen Teknis Tatacara Pengadaan Bahan/Alat Konstruksi).
‰ Siapa Pihak Ketiga Yang boleh bekerjasama dengan KSM ?
Sesuai dengan keterlibatan pihak ketiga didalam pelaksanaan
kegiatan pembangunan sarana dan prasarana, maka pihak ketiga
yang boleh bekerjasama dengan KSM, dapat dibedakan atas dua,
yaitu :
a. Pihak ketiga untuk pengadaan Bahan/Alat : a). Toko/Pemasok
Bahan Bangunan atau b). Pemasok/Penyewa Alat Besar/Berat;
b. Pihak ketiga untuk pelaksanaan kegiatan konstruksi : dapat
berbentuk Kelompok Tenaga Kerja (atau perorangan) yang
mempunyai keahlian/pengalaman dan lebih mampu melaksanakan
kegiatan dan atau Pemasok Alat berat/besar (termasuk operator
alatnya).
Untuk pengadaan
tenaga kerja maka
diprioritaskan kepada
tenaga kerja setempat
yang memenuhi
persyaratan yang
dibutuhkan. Dan
pelaksanaannya dapat
dilakukan dengan cara
upah Borongan atau
upah Harian.
Penting untuk
diperhatikan bahwa meskipun kegiatan tertentu dapat dilakukan
dengan cara kerjasama dengan pihak ketiga, hal tersebut bukan
Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 25
berarti bahwa tanggunjawab pelaksanaan kegiatan berpindah
kepada pihak ketiga tersebut, tetapi tetap ada ditangan KSM
sendiri. Jadi KSM harus bisa mengendalikan/mengatur semua
kegiatannya agar sesuai dengan hasil yang diharapkan, termasuk
kegiatan yang dikerjakan oleh pihak ketiga (bila ada);

6) Supervisi Pelaksanaan Konstruksi


Pengawasan/supervisi dapat diartikan sebagai tindakan yang dilakukan
untuk menjadikan segala kegiatan di proyek berlangsung dan berhasil
sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Dengan demikian maka Supervisi pelaksanaan pekerjaan konstruksi
mencakup kegiatan/tindakan mengawasi pelaksanaan pekerjaan sesuai
standar konstruksi/rencana yang telah ditetapkan, kemudian
mengadakan pengukuran/penilaian pelaksanaan sesuai standar
pengukuran kegiatan tersebut dan membandingkan antara hasil
pelaksanaan yang dicapai dengan standar/rencananya untuk mengetahui
apakah ada penyimpangan (evaluasi). Standar yang dipergunakan
adalah mencakup standar konstruksi itu sendiri atau
spesifikasi/persyaratan teknis pekerjaan, seperti kuantitas,
dimensi/ukuran, kualitas, cara pengerjaan atau rencana kerja yang telah
ditetapkan sebelumnya seperti biaya atau jadwal/waktu pelaksanaan
kegiatan, dan lain-lain. Sedangkan penyimpangan disini dapat
merupakan hasil yang sesuai atau lebih baik (hal ini merupakan suatu
prestasi) dan penyimpangan yang negatif atau tidak sesuai/dibawah
standar yang telah ditetapkan (merupakan suatu masalah yang harus
diselesaikan).
Sasaran pengawasan pekerjaan konstruksi adalah untuk melihat apakah
terjadi penyimpangan negatif dari standar teknis atau rencana yang telah
ditetapkan, seperti apakah kualitas bahan yang dipergunakan kurang,
apakah volume atau ukuran/dimensi pekerjaan kurang atau apakah cara
pengerjaan salah, atau apakah waktu pelaksanaan pekerjaan terlambat,
dll, yang bisa berakibat pada kualitas dan kuantitas bangunan yang
hendak dibangun tidak terpenuhi sesuai standar teknis/rencana awalnya.
Sedangkan tujuannya adalah agar dilakukan tindakan perbaikan atau
penyelesaiaan (pengendalian) bilamana ditemukan adanya kesalahan
atau kukurangan dari pekerjaan yang sedang dilaksanakan sehingga
tujuan untuk mewujudkan bangunan/infrastruktur yang berkualitas baik
(kuat) dan dapat berfungsi/dimanfaatkan minimal 5 tahun dapat tercapai
dengan baik.
Pengawasan secara teratur merupakan cara yang diperlukan untuk
menghindari hasil yang tidak dapat diterima yang disebabkan oleh faktor-
faktor seperti bentuk/ukuran konstruksi yang dibuat dilapangan tidak
sesuai dengan desain/gambar kerja, ketrampilan kerja yang kurang,
perubahan bahan (bermutu jelek), peralatan yang tidak sesuai atau tidak
Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 26
memadai, kuantitas yang kurang dan kondisi lain yang
merugikan/menghambat kelancaran pekerjaan di lapangan.
Pengawasan pelaksanaan pembangunan prasarana pada prinsipnya
dilakukan terhadap semua aspek kegiatan, namun demikian dalam
proses pengawasan ini dapat difokuskan pada 5 (lima) aspek-aspek
pengawasan pelaksanaan berikut :
1. Volume pekerjaan, termasuk dimensi atau ukuran konstruksi, yang
perlu disupervisi antara lain, adalah :
¾ Jenis dan volume tiap pekerjaan, termasuk dimensi atau ukuran
konstruksi yang tercantum dalam daftar kuantitas dan gambar
rencana, apakah sesuai dengan kondisi pada saat supervisi;
¾ Kondisi lokasi, apakah sesuai dengan perencanaan/gambar atau
ada perubahan;
¾ Apakah secara keseluruhan bangunan dapat berfungsi/bermanfaat;
¾ Termasuk juga disini adalah apakah semua rencana pengamanan
dampak lingkungan sudah dilaksanakan;
2. Mutu/Kualitas pekerjaan, yang perlu disupervisi antara lain, adalah :
¾ Apakah sumber, kualitas, kuantitas bahan/Alat/tenaga kerja yang
dipergunakan pada sestiap jenis pekerjaan sesuai rencana;
¾ Apakah kualitas hasil pekerjaan sudah sesuai/baik;
¾ Apakah kelengkapan bangunan sudah cukup atau kurang untuk
keamanan dan atau kenyamanan pemakai;
¾ Apakah metode atau cara pelaksanaan tiap jenis pekerjaan benar;
¾ Apakah telah dilakukan koordinasi pelaksanaan dengan
pihak/instansi/dinas terkait setempat, seperti :
9 Sumur dalam/Bor harus koordinasi dengan dinas pertambangan
atau perindustrian dan geologi setempat,
9 Prasarana Pendidikan harus berkoordinasi dengan dinas
Pendidikan setempat;
9 Prasarana kesehatan harus berkoordinasi dengan dinas
kesehatan setempat;
9 Prasarana persampahan dengan dinas kebersihan kota/terkait.
¾ Khusus air bersih yang sumber airnya bukan dari Air
PDAM/Sejenis, Air Hujan, apakah telah dilakukan pengujian
kualitas Air bersih;
3. Waktu pelaksanaan, yang perlu disupervisi antara lain, adalah :
¾ Apakah Pelaksanaan tiap-tiap item pekerjaan tetap mengacu pada
jadual yang telah direncanakan.
¾ Apabila terjadi keterlambatan dan/atau percepatan waktu
pelaksanaan pekerjaan maka harus diperhitungkan perubahan
waktu kerja tersebut terhadap jadual kerja sehingga dapat
dipastikan bahwa seluruh pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu

Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 27


sesuai jangka waktu yang ditetapkan dalam SPPD-L atau
perubahannya (bila ada)
¾ Apabila diperkirakan seluruh pekerjaan tidak dapat diselesaikan
sesuai jadual, maka konsultan memberikan justifikasi/pertimbangan
teknis kepada UPL/BKM untuk : memperpanjang jangka waktu
pelaksanaan kontrak atau menghentikan pekerjaan/pemutusan
kontrak (bila perlu).
4. Biaya, yang perlu disupervisi antara lain, adalah :
¾ Apakah tidak terjadi pembelanjaan atau penggunaan dana yang
berlebihan pada suatu kegiatan sehingga dapat mengakibatkan
pekerjaan tidak dapat diselesaikan secara keseluruhan;
¾ Apakah tidak terjadi penyelewengan dana;
¾ Apakah proses transaksi selalu disertai dengan bukti-bukti tertulis;
¾ Apakah dilaksanakan pembukuan Keuangan dengan baik;
¾ Apakah aspek kontribusi swadaya masyarakat dipenuhi.
5. Administrasi pelaksanaan, yang perlu disupervisi, adalah :
¾ Apakah semua administrasi yang diperlukan dibuat lengkap, benar
dan sesuai kondisi lapangan/yang sebenarnya;
¾ Apakah semua administrasi diarsipkan dan dipelihara dengan baik,
Tanggungjawab Supervisi ini dilakukan secara rutin selama proses
pelaksanaan kegiatan konstruksi oleh pihak UPL bersama Konsultan
(pihak diluar KSM) dan tentunya juga oleh KSM/Tim Pelaksana
Lapangan secara internal sebagai fungsi yang melekat pada
tugas/tanggungjawabnya. Termasuk hasil monitoring partisipatif yang
dilakukan oleh warga masyarakat sebagai masukan dalam proses
pengawasan ini.

7) Rapat Evaluasi Kemajuan Lapangan


Kegiatan evaluasi pada prinsipnya merupakan bagian dari proses
pengawasan/pengendalian pelaksanaan kegiatan, hanya umumnya
dilakukan untuk periode waktu tertentu, meskipun juga dapat dilakukan
sewaktu-waktu (mendesak).
Rapat Evaluasi Kemajuan Pelaksanaan Kegiatan adalah merupakan
pertemuan yang dilaksanakan oleh KSM (tim pelaksana kegiatan) pada
setiap setiap peride waktu tertentu (biasanya mingguan atau sesuai
periode waktu yang disepakati) untuk mengevaluasi sejauhmana
kemajuan pelaksanaan kegiatan telah dicapai, termasuk penyelesaiaan
masalah yang muncul. Rapat ini dihadiri oleh semua pengurus/pelaksana
kegiatan (termasuk dapat mengundang pihak-pihak terkait lainnya yang
diperlukan).
Rapat Evaluasi ini sangat penting dilakukan karena selain untuk
membagi/memberikan informasi hasil-hasil kegiatan yang telah dicapai
juga untuk melaksanakan evaluasi (menilai laporan atau hasil temuan
Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 28
dalam pengawasan) dan merumuskan tindakan-tindakan yang perlu
diambil apabila hasil pengawasan menunjukan adanya penyimpangan
yang berarti dari rencana semula atau terdapat permasalahan-
permasalahan yang mengganggu kelancaran kegiatan. Sehingga dengan
adanya rapat-rapat rutin ini maka diharapkan semua permasalahan yang
terjadi dapat diselesaikan secara bersama-sama, terjadi koordinasi kerja
yang baik antar semua unsur pelaksana yang pada gilirannya akan
membawa kelancaran pelaksanaan kegiatan dilapangan sesuai dengan
yang diharapkan/direncanakan.
Beberapa hal penting yang perlu menjadi agenda evaluasi berkaitan
dengan pelaksanaan kegiatan dilapangan, antara lain :
9 Apakah Volume pekerjaan (kemajuan pelaksanaan) yang telah dicapai
sesuai dengan yang direncanakan?
9 Apakah Realisasi Volume Pengadaan Bahan/Alat/Tenaga Kerja
sampai saat ini sesuai atau apakah masih cukup/memungkinkan untuk
menyelesaikan seluruh pekerjaan sesuai dengan yang direncanakan?
Coba bandingkan total Volume dari hasil pengadaan
Tenaga/Bahan/Alat sampai saat ini dengan Volume yang masih harus
dibeli/dibayar lagi sampai proyek selesai;
9 Apakah Realisasi Biaya Pengadaan Bahan/Alat/Tenaga Kerja sampai
saat ini sesuai dan cukup/masih memungkinkan untuk menyelesaikan
seluruh pekerjaan sesuai dengan yang direncanakan? Coba
Bandingkan total biaya dari hasil pembayaran Upah/Bahan/Alat
sampai saat ini dengan Biaya yang masih harus dikeluarkan/dibayar
lagi sampai proyek selesai (termasuk total dana yang Belum
dicairkan).
9 Apakah Realisasi Swadaya Masyarakat sesuai rencana swadaya ?
9 Apakah Administrasi/laporan-laporan sudah dibuat dan diarsipkan ?
9 Apakah masalah-masalah yang timbul dilapangan, termasuk dampak
lingkungan/sosial sudah diselesaikan?, dll.
Hasil pembahasan setiap agenda/permasalahan hendaknya dapat
memberikan/menyepakati apa bentuk penyelesaian, siapa yang
bertanggung jawab untuk pelaksanaannya, bagaimana cara
pelaksanaannya dilapangan dan kapan akan dilakukan tindakan tersebut.
Hasil-hasil kesepakatan/pembahasan tersebut dicatat pada
Notulen/Catatan Hasil Rapat Mingguan dan diarsipkan dengan baik.

8) Pemantauan Dampak Lingkungan kondisi 50% & 100%


Pengamanan dampak lingkungan adalah pelaksanaan seluruh kegiatan
penanganan dampak lingkungan sebagaimana telah direncanakan
sebelumnya. Sedangkan Pemantauan Dampak Lingkungan disini adalah
merupakan monitoring atau pengecekan atas hasil pelaksanaan rencana
tindakan penanganan dampak/mitigasi tersebut. Apakah telah dikerjakan
atau belum selesai?
Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 29
Kegiatan Pemantauan ini dilakukan pada Pada tahap pelaksanaan
Konstruksi/pelaksanaan pembangunan dengan menggunakan instrumen
pemantauan berupa Ceklist/Daftar Uji Identifikasi Dampak Lingkungan
(sesuai Form-7, Proposal) yang telah dibuat sebelumnya, yaitu :
a) Kira-kira pertengahan proses konstruksi (kondisi kemajuan 50%),
disaat peluang untuk memperbaiki masih ada maka dilakukan
pemantauan kelapangan dimana daftar yang sama (checklist tadi) di
cocokkan lagi, apakah semua tindakan yang telah direncanakan telah
dilakukan atau belum. Dan terakhir,
b) Di akhir konstruksi (kondisi kemajuan selesai 100%), daftar yang sama
(checklist tadi) dicocokkan lagi dibandingkan dengan rencana aslinya
guna memastikan bahwa semua tindakan pengamanan yang telah
direncanakan.
Keseluruhan kegiatan pemantauan diatas dilakukan baik oleh KSM
sendiri maupun oleh UPL dan Tim Konsultan dilapangan.

9) Membuat Dokumentasi (Photo-photo) kondisi 50%, 100%;


Yaitu potret kondisi atau keadaan pertengahan pelaksanaan pekerjaan
(kira-kira pada progres mencapai 50%) atau keadaan akhir setelah
pekerjaan selesai 100% pada lokasi dibangun Infrastruktur. Jumlah titik
lokasi yang diambil/potret minimal sama dengan titik lokasi pengambilan
potret kondisi nol (0%) sebelumnya. Penting untuk diperhatikan bahwa
titik lokasi dan arah pengambilan gambar kondisi 50% dan 100% ini
harus sama dengan titik dan arah pengambilan gambar kondisi awal
(0%) sebelumnya.

10) Perubahan Pekerjaan dilapangan


Dalam pelaksanaan pekerjaan infrastruktur, seringkali tidak dapat
dihindari adanya perubahan pekerjaan karena kesalahan desain atau
perubahan kondisi lokasi prasarana yang mengakibatkan perubahan
kontrak kerja/SPPD-L. Meskipun demikian, sedapat mungkin perubahan
pekerjaan dilapangan dihindari karena bila terjadi kekurangan
dana/volume pekerjaan dari rencana awal maka harus diupayakan
dengan mengusahakan melalui swadaya. Dalam keadaan tertentu,
dimana usaha swadaya atau lainnya tidak cukup juga untuk menutupi
volume sesuai rencana awal maka dapat dilakukan perubahan kegiatan
dari rencana awal atau perubahan SPPD-L sehingga kegiatan tetap
dapat selesai sesuai kontrak. Perubahan SPPD-L adalah cukup dengan
membuat Berita Acara Perubahan yang memuat adanya perubahan
kegiatan yang terjadi dilapangan dari keadaan awal (SPPD-L
sebelumnya). Apabila terjadi perubahan demikian maka KSM/Panitia
akan melaksanakan kegiatan dilapangan sesuai perubahan tersebut.
Adapun yang boleh mengusulkan perubahan tersebut adalah dapat
diajukan oleh BKM (bila menurut keputusan BKM perlu perubahan) atau
Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 30
boleh diajukan oleh KSM/panitia karena menurut KSM/Panitia harus
dilakukan adanya perubahan dilapangan. Semua perubahan tersebut
harus disetujui oleh Tim KMW.
Perubahan SPPD-L tersebut dapat dilakukan diawal, ditengah atau
diakhir pelaksanaan pekerjaan, apabila :
a) Adanya perubahan total Volume Pekerjaan menjadi lebih kecil dari
rencana awal sedangkan jumlah total dana BLM/PNPM tetap (tidak
berubah). Misalnya Jalan Kerikil direncanakan 100 meter berubah
menjadi 90 meter, dll;
b) Adanya perubahan berupa penambahan volume item kegiatan
tertentu atau pengurangan/penghilangan item pekerjaan tertentu pada
pekerjaan, Sedangkan nilai total dana BLM tetap (tidak berubah);
c) Adanya perubahan jumlah total dana BLM yang digunakan dari
rencana semula, misalnya SPPD-L semula Rp. 15 Juta berubah
menjadi Rp. 14 Juta;

11) Penyelesaiaan pekerjaan KSM


Penyelesaian pekerjaan adalah pencapaian realisasi pelaksanaan
pekerjaan dilapangan sesuai kuantitas/volume dan Nilai/biaya pekerjaan
sebagaimana dicantumkan dalam SPPD-L beserta semua dokumen
perjanjian yang merupakan bagian tak terpisahkan dari SPPD-L.
Dengan demikian maka Pekerjaan hanya dapat dikatakan selesai apabila
dana BLM yang diusulkan oleh KSM/Panitia sesuai SPPD-L (atau
perubahannya), sudah habis dimanfaatkan untuk kegiatan pembangunan
infrastruktur dan volume pekerjaan yang dilaksanakan telah sesuai
rencana sebagaimana tercantum dalam SPPD-L atau perubahannya.
Jadi ukuran untuk menyatakan bahwa kegiatan BLM telah selesai adalah
dana BLM yang sudah habis (tidak ada sisa) dan jumlah volume
pekerjaan yang dibuat dilapangan sudah dicapai sesuai dengan rencana
(dinyatakan dalam dokumen SPPD-L).
Setelah pekerjaan selesai 100% atau minimal 97%, KSM berhak
mengajukan secara tertulis kepada BKM/UPL dan Konsultan untuk
melakukan Sertifikasi Pekerjaan. Hasil Sertifikasi Pekerjaan yang
dilaksanakan secara bersama-sama oleh kedua belah pihak dan KMW ini
dituangkan dalam Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan (BAP2).
Penting diperhatikan :
¾ Dana BLM hanya boleh dipakai untuk membiayai pembangunan
infrastruktur (Biaya Upah, Bahan, Alat, Administrasi);
¾ Tidak diperbolehkan dana BLM digunakan untuk insentif atau
fee/keuntungan bagi KSM/Panitia.
• Bagaimana jika pada akhir pelaksanaan pekerjaan masih terdapat sisa
dana yang belum digunakan untuk pembangunan infrastruktur?

Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 31


Apabila terdapat sisa dana pelaksanaan kegiatan infrastruktur maka sisa
dana tersebut dapat dimanfaatkan kembali oleh KSM/Panitia
bersangkutan untuk meningkatkan fungsi pelayanan prasarana/sarana
yang dibangun. Caranya adalah dengan :
i. Menambah volume item kegiatan yang sudah ada, misalnya
pembangunan jalan kerikil yang semula hanya 200 meter ditambah
panjangnya menjadi 210 meter;
ii. Menambah item kegiatan baru (masih satu kesatuan) dilokasi
prasarana yang bersangkutan, misalnya semula hanya direncanakan
membangun perkerasan kerikil, tetapi karena ada sisa dana maka
dapat digunakan untuk membuat saluran atau penahan tanah
ditempat yang memerlukan disepanjang jalan kerikil yang dibangun.
iii. Menambah kegiatan baru dilokasi yang berbeda tetapi masih
mendukung secara langsung peningkatan fungsi layanan prasarana
yang bersangkutan, misalnya semula hanya direncanakan
membangun jembatan kayu, namun karena ada sisa dana maka dapat
digunakan untuk membangun gorong-gorong pada jalan yang
menghubungkan jembatan tersebut, dll.
Untuk mendukung pemanfaatan dana tersebut, maka administrasi yang
perlu dibuat oleh KSM adalah :
i. Surat Pernyataan Kesanggupan KSM untuk menyelesaikan seluruh
kegiatan fisik (100%) sebelum berakhirnya masa pencairan BLM;
ii. Perubahan SPPD-L disertai Justifikasi/alasan Teknisnya.

• Bagaimana jika hasil pelaksanaan pekerjaan tidak sama dengan


bestek/perencanaan awal?
Jika hasil pekerjaan melebihi rencana volume pekerjaan awal maka
kelebihan itu merupakan prestasi KSM dan dapat dicatat sebagai
keswadayaan yang dilakukan.
Namun jika hasil pelaksanaan pekerjaan tidak sesuai dengan yang
diperjanjikan dalam SPPDL, baik yang ditemukan sebelum maupun
setelah Sertifikasi maka pihak KSM selaku pelaksana pekerjaan wajib
memperbaiki ketidak sesuaian tersebut dengan cara swadaya, dan
dalam waktu yang disepakati antara KSM dengan pihak BKM/UPL. Masa
perbaikan/penyempurnaan ini selambat-lambatnya harus selesai
sebelum laporan pertanggungjawaban KSM/Panitia dilaksanakan.
• Bagaimana jika terdapat sisa dana tetapi KSM/Panitia sudah tidak
bersedia memanfaatkan kembali sisa tersebut untuk pembangunan
infrastruktur ?
Pada dasarnya dana kegiatan fisik yang dianggarkan untuk tiap kegiatan
KSM harus dimanfaatkan seluruhnya untuk pembangunan infrastruktur,
namun apabila volume pekerjaan yang dibuat sudah sesuai SPPD-L dan
masih terdapat sisa dana, sedangkan pihak KSM sudah tidak bersedia
Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 32
memanfaatkan sisa dana tersebut untuk menambah volume kegiatannya,
maka KSM harus mengembalikan semua sisa dana kepada BKM
dengan melampirkan surat pernyataan bahwa KSM.

12) Pemeriksaan/Sertifikasi Kegiatan


Kegiatan pembangunan sarana & prasarana atau kegiatan Lingkungan
yang dilaksanakan oleh masyarakat (KSM Lingkungan/Panitia)
merupakan salah satu komponen pendekatan pembelajaran masyarakat,
yang didukung melalui dana pinjaman luar negeri (Bank Dunia) dan
disalurkan kepada masyarakat secara langsung sebagai dana stimulan
(dana BLM/PNPM MANDIRI PERKOTAAN).
Melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat terjadi proses pembelajaran
masyarakat untuk mewujudkan kebutuhkan akan sarana & prasarana
yang berkualitas baik (berfungsi, kuat dan tahan lama) dan dapat
bermanfaat bagi masyarakat secara berkesinambungan (minimal 3
tahun).
Sejalan dengan hal tersebut, maka konsultan selaku pendamping
masyarakat harus dapat mengawal dengan baik agar Investasi (melalui
pembangunan fisik) yang diberikan benar-benar dapat bermanfaat
sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat.
Salah satu upaya yang diperlukan untuk memenuhi terwujudnya
pembangunan sarana & prasarana yang berkualitas baik maka perlu
dilakukan fasilitasi kepada masyarakat agar proses dan hasil
penyusunan perencanaan teknik pembangunan sarana & prasarana
sesuai ketentuan teknik yang dipersyaratkan. Selanjutnya, untuk
memastikan bahwa hasil yang diharapkan benar-benar telah memenuhi
ketentuan-ketentuan program dan teknis (kualitas baik dan bermanfaat)
maka konsultan, khususnya tenaga-tenaga infrastruktur bersama UPL
harus melakukan sertifikasi atau penilaian kegiatan tersebut.
• Apa saja Tujuan dan Hasil Yang diharapkan
Sertifikasi disini merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memeriksa
dan menilai capaian kualitas dan pemanfaatan dari sarana &
prasarana yang telah dibangun oleh KSM. Adapun tujuannya adalah
untuk mengetahui apakah hasil pelaksanaan kegiatan pembangunan
sarana & prasarana telah memenuhi persyaratan teknik (kualitas yang
baik) dan dapat bermanfaat lebih lama (minimal 3 tahun). Sedangkan
hasil yang diharapkan dari kegiatan Sertifikasi ini adalah adanya
rekomendasi atas kelayakan (kualitas dan manfaat) dari sarana dan
prasarana yang telah dibangun tersebut.
• Apa saja Materi Sertifikasi
Pelaksanaan Sertifikasi hasil pembangunan sarana & prasarana
dilakukan terhadap aspek capaian kualitas proses, kualitas konstruksi,
manfaat dan pemanfaatan dana (termasuk penanganan dampak dan
Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 33
dokumen proses kegiatan yang mendukung). Sedangkan uraian
secara terinci dari masing-masing aspek tersebut dapat dilihat pada
Formulir Sertifikasi, terlampir.
• Bagaimana Mekanisme Pelaksanaan Sertifikasi Kegiatan
Pendekatan pelaksanaan Sertifikasi ini adalah dilakukan langsung
dilapangan secara Tim yang terdiri atas : wakil UPL (masing-masing
BKM), Faskel Teknik/Askot Infrastruktur dan Wakil KSM
bersangkutan. Sedangkan TA. Infra KMW selaku Penanggungjawab
kegiatan. Adapun mekanismenya secara diagram dapat dilihat pada
gambar 1, yang dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Berdasarkan laporan kemajuan pekerjaan KSM yang menunjukan
bahwa kemajuan pekerjaan telah selesai 100%, maka KSM
mengajukan surat permohonan kepada Tim Sertifikasi (c.q. Askot
Infra selaku Ketua Tim Sertifikasi) untuk dilakukan Sertifikasi hasil
pekerjaan;
Surat ini juga agar disampaikan kepada Penanggung Jawab
Operasional Kegiatan (PJOK) agar dapat ikut serta sekaligus
pemberitahuan.
b. Askot Infra bersama-sama dengan Faskel Teknik, UPL dan wakil
KSM melakukan pemeriksaan dan penilaian atas semua aspek
sertifikasi. Hasil Penilaian masing-masing aspek sertifikasi
disepakati bersama-sama oleh Tim (termasuk KSM);
c. Setelah seluruh pemeriksaan aspek selesai, maka dilanjutkan
dengan membuat kesimpulan dan rekomendasi. Adapun alternatif
bentuk kesimpulan dan rekomendasi, yaitu :
i. Pekerjaan dinyatakan Layak/Selesai (berkualitas baik &
bermanfaat);
Apabila pekerjaan dinyatakan selesai maka dilanjutkan dengan
pembuatan Surat Pernyataan Penyelesaiaan Pekerjaan (SP3).
ii. Pekerjaan dinyatakan Belum Selesai/Layak dengan
Penyempurnaan;
Adapun tindaklanjutnya adalah KSM harus melakukan perbaikan
sebagaimana catatan/rekomendasi pemeriksaan.
Penyempurnaan ini harus dievaluasi kembali oleh Tim
Sertifikasi. Dan setelah hasil perbaikan/penyempurnaan
dinyatakan diterima baru dapat dilanjutkan dengan pembuatan
SP3.
d. Seluruh hasil Sertifikasi ini dimasukan dalam Berita Acara
Pemeriksaan Pekerjaan (BAP2) dan dilaporkan kepada Askot
Infrastruktur dan PJOK.

Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 34


• Bagaimana Langkah – langkah Pelaksanaan Sertifikasi Kegiatan
A. Persiapan Tim Sertifikasi :
• UPL dan Faskel memperoleh penjelasan cara melaksanakan
Sertifikasi (termasuk cara pengisian formulir) dari Askot Infra/TA.
Infra;
• UPL menginformasikan jadwal sertifikasi kepada KSM;
• Membawa laporan kemajuan pekerjaan terakhir yang disampaikan
oleh KSM;
• Menyiapkan Formulir Penilaian Sertifikasi (Form-S1);

B. Pelaksanaan Sertifikasi :
Langkah-langkah pelaksanaan Sertifikasi:
1. Kegiatan Sertifikasi dilakukan untuk setiap jenis Kegiatan yang
dilaksanakan oleh KSM;
2. Metode yang digunakan dapat mencakup pemeriksaan terhadap
dokumen yang diperlukan, pemeriksaan langsung dilapangan (fisik)
maupun wawancara langsung dengan pihak KSM (yang terkait
langsung dengan pelaksanaan kegiatan dilapangan);
3. Acuan proses Sertifikasi adalah formulir Sertifikasi (Form : S.1),
contoh format terlampir;
4. Jawaban atas setiap pertanyaan Sertifikasi dilakukan sebagai
berikut :
a. Jawaban Pertanyaan bagian A. Capaian Kualitas Proses &
Pemanfaatan dituliskan pada Kolom Penilaian berupa tanda (√)
yaitu :
• Apabila hasil pemeriksaan/penilaian adalah telah
dilakukan/telah dibuat/sesuai secara benar/ lengkap maka
jawabannya ”Ya”, kemudian tuliskan tanda (√) pada kolom
jawaban ”Ya” yang tersedia, dan sebaliknya apabila
jawabannya belum//tidak benar/tidak lengkap maka tuliskan
tanda (√) pada kolom jawaban ”Tidak” yang tersedia.
• Apabila terdapat jawaban ”Tidak” maka cantumkan/dicatat
apa saja kekurangan/kesalahan yang ditemukan. Hal-hal
yang menjadi catatan ini dituliskan pada kolom ”Catatan”
yang telah disediakan;
b. Jawaban Pertanyaan Pertanyaan bagian B. Kesesuaian
Volume & Kualitas Pekerjaan, yaitu :
• Kolom No. Diisi dengan nomor urut;
• Kolom Uraian Kegiatan diisi dengan nama jenis kegiatan/item
kegiatan sesuai uraian pekerjaan yang ada (mengacu pada
Daftar Kuantitas Pekerjaan);
Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 35
Gambar 2. Diagram Alir Proses Sertifikasi Kegiatan

Hasil
Pembangunan &
Administrasi
PANITIA

Permintaan
Sertifikasi
(Oleh Panitia)

Pemeriksaan
Oleh UPL,
Faskel/Askot Infra
bersama Panitia

Selesai Penyusuna
Penyusunan SP3
Layak n LPJ
BAP2

Belum Selesai/
Layak dgn Penyempurnaan

• Kolom Kesesuaian Volume diisi dengan tulisan ”Ya” (apabila


volume yang telah dilaporkan oleh KSM benart/sesuai
dengan hasil pengukuran/pemeriksaan lapangan) atau
”Tidak” (apabila volume yang telah dilaporkan oleh KSM
ternyata kurang atau tidak sesuai dengan hasil
pengukuran/pemeriksaan lapangan).
• Kolom Cacat & Kekurangan diisi dengan catatan jenis/macam
dari cacat/kekurangan kualitas pekerjaan dilapangan (setelah
membandingkan antara spesifikasi rencana & realisasi
lapangan);
• Kolom Rekomendasi Perbaikan diisi dengan catatan
tindaklanjut penyelesaiaan dari setiap temuan (cacat &
kekurangan) atau hal-hal yang harus disempurnakan kembali
oleh KSM;
c. Jawaban Pertanyaan bagian C. Pemanfaatan Dana BLM &
Swadaya, yaitu:
• Pertanyaan poin (a) s//d poin (c) adalah pertanyaan untuk
dana BLM yang dijawab berdasarkan data kontrak/SPPD-L
untuk rencana dan data laporan pembukuan/Laporan
Keuangan KSM untuk Realisasi;
Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 36
• Pertanyaan poin (d) s//d poin (f) adalah pertanyaan untuk
Nilai Swadaya Masyarakat yang dijawab berdasarkan data
RAB/Proposal untuk rencana dan data laporan Swadaya
KSM untuk Realisasinya;
5. Berikan Kesimpulan dan Rekomendasi Hasil Sertifikasi dengan
pilihan berikut :
a. Pekerjaan dinyatakan Selesai/Layak (berkualitas baik &
bermanfaat), apabila :
• Jawaban atas pertanyaan bagian A. Capaian Kualitas Proses
& Pemanfaatan, seluruhnya terisi ”Ya” atau minimal 6
pertanyaan berikut, terjawab ”Ya”.
A. Capaian Kualitas Proses & Pemanfaatan
1 Apakah KSM sudah memperoleh pelatihan/coaching
mengenai cara perencanaan teknis, pelaksanaan
konstruksi dan pemeliharaan ?
2 Apakah kelengkapan Bangunan yang dibuat dapat
memberikan keamanan/kenyamanan bagi pemakai ?
3 Apakah bangunan dapat berfungsi/bermanfaat ?
4 Apakah semua tindakan penanganan dampak telah
dilaksanakan dengan baik/terpenuhi?
5 Apakah KSM telah membentuk dan menyepakati
Organisasi Pengelola Pemanfaatan & Pemeliharaan
Prasarana
6 Apakah KSM telah membuat dan menyepakati Rencana
Kerja Pemeliharaan?

• Jawaban atas pertanyaan bagian B. Kesesuaian Volume &


Kualitas Pekerjaan, terisi jawaban ”Ya/sesuai” untuk kolom
kesesuaian volume dan tidak terdapat cacat & kekurangan
untuk seluruh jenis kegiatan.
• Jawaban atas pertanyaan bagian C. Pemanfaatan Dana BLM
dan Swadaya Masyarakat, point (c). sisa dana SPPD-L
adalah Nol atau apabila ada sisa yang tidak digunakan telah
dikembalikan kepada BKM.
b. Pekerjaan dinyatakan Belum Selesai/Layak Dengan
Penyempurnaan;
Apabila terdapat satu atau lebih jawaban yang tidak memenuhi
status Selesai/Layak diatas.
Perlu diperhatikan bahwa kesimpulan atau rekomendasi yang
dimasukan dalam hasil sertifikasi ini agar telah disepakti bersama
oleh seluruh Tim dengan pihak KSM selaku penanggungjawab
pelaksana.
Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 37
6. Buatlah Berita Acara Hasil Pemeriksaan Pekerjaan (BAP2),
dilampiri lembar Sertifikasi yang telah diisi dan ditandatangani.
Semua administrasi ini diarsipkan minimal oleh UPL dan Askot
Infra, termasuk dilaporkan juga kepada PJOK.

• Apa yang dimaksud dengan BAP2?


Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan disingkat BAP2, adalah bukti
secara administrasi bahwa telah dilakukan pemeriksaan atas seluruh
hasil pekerjaan KSM, khususnya terkait teknis dan keuangan.
BAP2 dibuat bersama-sama antara KSM dengan UPL dan Tim
Konsultan setelah melakukan pemeriksaan/Sertifikasi pekerjaan
dilapangan. Jadi syarat BAP2 dibuat adalah apabila telah dilakukan
pemeriksaan pekerjaan bersama-sama (Tim Serifikasi).
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam BAP2 adalah :
1) Pengisian tabel Status Penyelesaiaan Fisik yang belum selesai
100%, diambil berdasarkan hasil kesimpulan/rekomendasi dari
Pemeriksaan/Sertifikasi sebelumnya.
2) Batasan waktu penyelesaiaan kekurangan/penyempurnaan yang
ditetapkan, hendaknya disepakti bersama dengan pihak KSM
selaku penanggungjawab pelaksananya.
3) Status Pencairan Dana dan Pemanfaatannya, agar diambil sesuai
hasil laporan pembukuan KSM bersangkutan. Dalam BAP2 ini
seharusnya tidak terdapat sisa dana atau sisa adalah nihil (Nol/0)
atau hanya sisa dana yang harus dikembalikan kepada BKM
karena tidak dimanfaatkan kembali oleh KSM bersangkutan. Sebab
bilamana terdapat sisa dana dan masih dapat dimanfaatkan
kembali oleh KSM harusnya diakomodir terlebih dahulu dalam
perubahan pekerjaan/perubahan SPPD-L, sebelum terjadi proses
serttifikasi pekerjaan (lihat penjelesan penyelesaiaan
pekerjaan/perubahan pekerjaan). Contoh Bentuk SP3 ini
sebagaiman format terlampir.

• Apa yang dimaksud dengan SP3 ?

Surat Pernyataan Penyelesaiaan Pekerjaan disingkat SP3,


merupakan Pernyataan Bersama antara pihak KSM, BKM dan
Konsultan yang menyatakan bahwa seluruh kegiatan KSM sesuai
SPPD-L yang disepakti awal telah selesai 100%.

Dengan demikian maka SP3 ini merupakan tindak lanjut dari hasil
Sertifikasi/Pemeriksaan Pekerjaan, termasuk telah dilakukan
penyempurnaan pekerjaan (bila ada) atau yang dinyatakan telah
layak/Selesai. Contoh Bentuk SP3 ini sebagaiman format terlampir.

Suplemen Teknis : Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 38


IV. ADMINISTRASI KEGIATAN & PEMBUKUAN
KSM LINGKUNGAN

1. Pengertian Administrasi KSM/Panitia


Administrasi KSM adalah proses pencatatan setiap kegiatan yang
dilaksanakan oleh KSM/PANITIA dalam program PNPM. Pencatatan dilakukan
pada formulir – formulir yang telah disediakan dan tinggal mengisikan hal-hal
yang terjadi, dilaksanakan, dan diperlukan dalam formulir tersebut.
Pencatatan yang dilakukan KSM adalah untuk mendokumentasikan atau
merekam seluruh kegiatan KSM terkait dengan program PNPM Mandiri
Perkotaan.

2. Tujuan dilakuan administrasi KSM secara tertib


Dengan pencatatan yang tertib dan kemudian menghimpun atau
mengarsipkannya maka akan dapat digambarkan kembali proses-proses yang
telah dilalui dan dilakukan KSM/PANITIA, sehingga apabila pada suatu saat
dibutuhkan dapat dibuka kembali.
Tujuan dilaksanakannya administrasi KSM/PANITIA adalah untuk :
a. Keterbukaan; dengan adanya pencatatan atas setiap kegiatan, dan hasil
pencatatan tersebut dapat diketahui oleh semua pihak, maka akan sangat
kecil sekali kemungkinan untuk menyembunyikan sesuatu, sebab semua
kejadian sudah tercatat dalam formulir administrasi.
b. Menghindari pertentangan; konflik dalam suatu organisasi biasanya terjadi
karena adanya kesalahpahaman, sedangkan salah paham terjadi karena
adanya perbedaan informasi di antara pihak-pihak yang berselisih tersebut.
Perbedaan informasi tersebut dapat diperkecil atau bahkan dihilangkan
dengan adanya pencatatan/administrasi.
c. Alat monitoring; dokumen administrasi KSM/PANITIA adalah dokumen
yang terbuka dalam arti siapapun pihak yang terlibat dalam kegiatan yang
sedang berjalan, berhak untuk mengetahui setiap kejadian ataupun
kesepakatan yang telah dibuat bersama.
d. Bahan penyusunan laporan; selama pelaksanaan kegiatan konstruksi
fisik, KSM/PANITIA harus menyusun beberapa laporan secara bertahap
sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat serta berdasarkan
perkembangan pelaksanaan pekerjaan. Apabila pencatatan administrasi
KSM/PANITIA dilakukan secara disiplin dan tertib, maka hasilnya dapat
digunakan sebagai bahan penyusunan laporan. Sebagai data – data yang
mempertanggungjawabkan seluruh kegiatan di lapangan, termasuk mutu
pekerjaan.

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 39


3. Bentuk-bentuk Administrasi KSM Pada Tahap Pelaksanaan
Pembangunan
Bentuk-bentuk formulir administrasi KSM/PANITIA, khusus untuk tahap
konstruksi/pembangunan sarana & prasarana akan mencakup administrasi :
1). Catatan Harian Pelaksanaan Kegiatan, terdiri dari formulir berikut :
a. Daftar Hadir Harian Tenaga Kerja dari Swadaya dan BLM (Form TK2)
b. Daftar Hadir Harian Tenaga Kerja untuk Penyediaan Material dari
Swadaya (Form TK2a);
c. Daftar Harian Penerimaan Bahan/Alat dari Swadaya & BLM (Form-BA1)
d. Nota Penerimaan Bahan/Alat;
2). Daftar Mingguan Pelaksanaan Kegiatan, terdiri dari formulir berikut :
Administrasi Mingguan ini dapat dibuat untuk periode pelaksanaan
kegiatan KSM per minggua yang mencakup :
a. Daftar Hadir Mingguan Tenaga Kerja dari Swadaya (Form-TK3a)
b. Daftar Hadir Mingguan & Pembayaran Upah Tenaga Kerja dari BLM
(Form-TK3b)
c. Daftar Mingguan Penerimaan Bahan/Alat dari Swadaya & BLM (Form-
BA2)
d. Daftar Mingguan/Dwi-Mingguan Opname Pekerjaan (Form-Opname)
3). Laporan Kegiatan yang mencakup :
a. Laporan Dwi Mingguan (dua mingguan) Kemajuan Kegiatan KSM
(Form-L.Lm);
b. Laporan Akhir/Pertanggungjawaban Kegiatan KSM (Form-L.LPJ).
Masing – masing jenis administrasi tersebut dapat diuraikan sebagai beriut :

1). Apa yang dimaksud dengan Daftar Hadir Harian Tenaga Kerja ?
Formulir ini sangat penting untuk mengetahui siapa saja masyarakat yang
bekerja dilapangan dan berapa lama bekerjanya, baik tenaga kerja dari
swadaya maupun dari BLM/PNPM.
Formulir Daftar Hadir Harian Tenaga Kerja Swadaya & BLM/PNPM (Form TK-
2), merupakan formulir harian (dibuat setiap hari) untuk mencatat kehadiran
Tenaga Kerja yang ikut melaksanakan pekerjaan konstruksi (Mandor, Tukang,
Pekerja) dilapangan. Yang dimaksud tenaga kerja dari swadaya adalah
tenaga kerja gotong royong atau upahnya diswadayakan (tidak langsung
menerima upah dari BLM). Sedangkan tenaga kerja BLM/PNPM adalah
tenaga kerja yang akan mendapat upah dari BLM/PNPM.
Formulir ini sangat penting, khususnya untuk mendukung kebenaran
pembayaran tenaga kerja BLM/PNPM (sumber utama pembukuan keuangan
tenaga kerja-Form KSML-5, buku Ongkos Tenaga Kerja).
Khusus untuk tenaga kerja dari BLM/PNPM, hal penting yang harus
diperhatikan/disosialisasikan kepada pekerja disini, bahwa khusus untuk
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 40
jumlah HOK pekerjaan konstruksi, ini selanjutnya akan digunakan sebagai
dasar untuk pembayaran upah masing-masing tenaga kerja yang bekerja
melaksanakan pekerjaan konstruksi. Misalnya HOK, Ali (tukang) pada hari itu
= 0,5 dan besarnya upah tukang per hari Rp. 40.000, maka besarnya Upah
yang diterima Ali adalah 0,5 x Rp. 40.000, sebesar Rp. 20.000 saja.
Sedangkan untuk tenaga kerja pengumpulan bahan besarnya pembayaran
upah dapat dibayar sesuai volume masing-masing bahan yang dikumpulkan.
Adapun Cara pengisian formulirnya adalah sebagaiberikut :
a. Sebelum tenaga kerja bersangkutan memulai kerja maka harus mengisi
nama, keahlian, umur, jenis kelamin, jam mulai kerja dan apakah hari
tersebut bekerja sebagai tenaga swadaya atau BLM;
b. Kemudian pada saat selesai bekerja atau hendak pulang, baru mengisi
kembali jam selesai kerja, jumlah HOK dan tanda tangan;
c. Terakhir, pelaksana KSM/Panitia melakukan/melengkapi dan memeriksa
kebenaran pengisian jumlah dari masing-masing tenaga kerja tersebut
(baris/kolom) termasuk mengisi rekapitulasi jumlah tenaga kerja dan HOK
untuk swadaya dan BLM masing-masing.
Cara Pengisian/perhitungan HOK adalah :
a. Tetapkan sesuai kebiasaan setempat mengenai lama kerja tiap hari,
misalnya 6 jam per hari (tidak termasuk istirahat/makan siang). Berdasarkan
Jam Kerja yang dicatat pada formulir, maka dapat diketahui jumlah jam
kerja tiap tiap tenaga kerja;
b. Nilai HOK diperoleh dengan cara, jumlah jam kerja hari itu dibagi jumlah jam
kerja yang ditetapkan sesuai kebiasaan setempat. Nilai HOK ini dapat
berbentuk angka bulat yaitu 1 HOK (artinya tenaga kerja bekerja penuh satu
hari kerja) atau berbentuk angka pecahan seperti 0,5 HOK (artinya tenaga
kerja hanya bekerja setengah hari kerja saja).
Untuk pengisian jumlah HOK tiap tenaga kerja sebaiknya dilakukan oleh
pelaksana kegiatan KSM supaya kebenarannya lebih terjamin.
Contoh Formulir sebagai berikut :

Penjelasan :
‰ Nama, adalah nama tenaga kerja

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 41


‰ K/T/P, adalah kualifikasi tenaga kerja (K=Kepala Kelompok/Mandor,
T=Tukang, P=Pekerja)
‰ Umur/Usia, adalah umur tenaga kerja bersangkutan
‰ Jenis kelamin, adalah jenis kelamin tenaga kerja (L=Laki-laki, P=Perempuan)
‰ M/KM, adalah status kemampuan tenaga kerja (M=Mampu; KM=Kurang
Mampu/Miskin)
‰ Jam Kerja Mulai, adalah waktu/jam tenaga kerja mulai kerja, misalnya pukul
08.00
‰ Jam Kerja Selesai, adalah waktu/jam tenaga kerja selesai bekerja, misalnya
pukul 17.00
‰ Hari Orang Kerja (HOK), adalah jumlah Hari Kerja dari tenaga kerja tersebut.
‰ Sumber dana, adalah menunjukan apakah tenaga kerja pada hari tersebut
bekerja sebagai tenaga Swadaya atau tenaga kerja BLM/PNPM. Isilah salah
satu kolom swadaya bila dari tenaga swadaya atau kolom BLM bila dari tenaga
BLM/PNPM, dengan tanda ” √ ”.
‰ Tandatang/cap jempol, adalah tandatangan tenaga kerja bersangkutan.
‰ Jumlah (K/T/P/L/P/M/KM) adalah jumlah masing-masing tenaga kerja
(K/T/P/L/P/M/KM) pada hari itu.

2). Apa yang dimaksud dengan Daftar Harian Penerimaan Bahan/Alat dari
Swadaya & BLM/PNPM ?
Daftar Harian Penerimaan Bahan/Alat dari Swadaya & BLM/PNPM (Form-
BA1), adalah merupakan formulir untuk mencatat penerimaan bahan/alat yang
diperoleh melalui swadaya masyarakat/pihak ketiga (pemerintah/swasta) dan
yang diperoleh melalui BLM/PNPM dari pemasok/toko;
Untuk Bahan yang diterima untuk BLM/PNPM, Formulir ini sangat penting,
khususnya untuk mendukung kebenaran volume dan kualitas serta
pembayaran kepada pemasok/toko (sumber utama pembukuan keuangan
Material/Alat-Form KSML-5, buku Material/Alat).
Formulir ini juga dibuat harian oleh KSM. Sedangkan contoh formulirnya
adalah sebagai berikut :

Penjelasan:
‰ No, adalah nomor urut pencatatan;
‰ Hari/Tanggal, adalah Hari/Tanggal bahan/alat diterima diproyek;
‰ Nama Donatur/Pemasok/Toko, adalah nama masyarakat/pihak
ketiga/Pemasok/Toko yang menyerahkan bahan.
‰ Alamat, Alamat Donatur/Pemasok/Toko;

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 42


‰ Uraian Jenis Bahan, adalah tempat mencatat nama tiap jenis bahan/alat yang
diterima;
‰ Ukuran, adalah ukuran/dimensi sesuai tiap jenis bahan (P=Panjang, L=Lebar,
T=tebal). Ukuran ini diisi bila dianggap penting seperti balok gelagar/papan
jembatan, dll.
‰ Volume dan Satuan, adalah jumlah volume dan satuan yang sesuai dari tiap
jenis bahan/alat;
‰ Sumber dana, adalah menunjukan apakah Bahan/Alat yang diterima pada hari
tersebut merupakan Swadaya atau BLM/PNPM. Isilah salah satu kolom
swadaya bila dari swadaya atau kolom BLM bila bahan/alat dari BLM/PNPM,
dengan tanda ” √ ”.
Penting untuk diperhatikan bahwa, hendaknya formulir tersebut diisi
berdasarkan tanda terima/Nota Penerimaan Bahan/Alat yang sebelumnya
telah dilakukan pengecekannya (volume, kualitas) sesuai pesanan KSM,
khususnya bahan/alat dari BLM/PNPM.

3). Apa yang dimaksud dengan Nota Penerimaan Bahan/Alat ?


Nota Penerimaan Bahan/Alat, merupakan surat bukti bahwa KSM/Panitia telah
menerima Bahan/Alat dilokasi pekerjaan. Nota ini hendaknya dibuat/ada untuk
setiap periode waktu penerimaan bahan/alat, baik bahan/alat dari swadaya
maupun dari pihak toko/pemasok.
Nota ini sangat penting, terutama untuk mencocokan volume & jenis
bahan/alat (kualitas) antara yang diterima dan yang dibayar sekaligus dapat
menghindari kesalah pahaman yang bisa muncul dikemudian hari.
Nota ini, baik yang dibuat untuk swadaya yang diterima KSM maupun Nota
pembelian dari toko selanjutnya merupakan bagaian yang tak terpisahkan
dengan buku material/alat (Form KSML-4).

4). Apa yang dimaksud dengan Daftar Hadir Mingguan Tenaga Kerja dari
Swadaya ?
Formulir ini merupakan Rekapitulasi Mingguan Daftar Hadir Harian Tenaga
Kerja dari Swadaya (Mandor, Tukang, Pekerja) yang terlibat dalam
pelaksanaan kegiatan konstruksi. Sumber data pengisian formulir ini adalah
dari data-data Formulir Daftar Hadir Harian TK Swadaya & BLM/PNPM yang
telah dibuat sebelumnya (Form-TK2 untuk bagian sumber dana Swadaya).
Cara pengerjaan :
a. Perhatikan bahwa pada formulir ini, data yang diperlukan hanyalah data
terkait tenaga kerja swadaya saja pada Form TK2, dan tidak termasuk
tenaga Kerja BLM/PNPM. Untuk BLM/PNPM akan dihitung pada formulir
TK3b).
b. Kumpulkan semua Daftar Hadir Harian Tenaga Kerja Swadaya &
BLM/PNPM (Form-TK2) yang ada pada minggu tersebut;

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 43


c. Mulai-lah memindahkan data yang ada pada hari pertama (misalnya hari
senin), mulai no, nama, jenis tenagakerja, jenis kelamin, kemampuan,
rincian HOK;
d. Kemudian diikuti oleh data hari berikutnya (hari kedua/selasa) dan
seterusnya sampai semua data yang ada pada formulir hari pertama
sampai ke-6 dipindahkan.
e. Hitung jumlah HOK dengan cara menjumlahkan semua nilai HOK mulai dari
HOK hari pertama sampai hari ke enam/terakhir untuk masing-masing
tenaga kerja.
f. Lengkapi semua data-data yang belum terisi, seperti judul dan tandatangan
Contoh Formulir-nya sebagai berikut :

Penjelasan:
‰ No, adalah nomor urut penulisan
‰ Nama, adalah nama tenaga kerja
‰ K/T/P, adalah kualifikasi tenaga kerja (K=Kepala Kelompok/Mandor,
T=Tukang, P=Pekerja)
‰ Jenis kelamin, adalah jenis kelamin tenaga kerja (L=Laki-laki, P=Perempuan)
‰ M/KM, adalah status kemampuan tenaga kerja (M=Mampu; KM=Kurang
Mampu/Miskin)
‰ Rincian HOK diisi dengan Jumlah HOK tenaga Kerja sesuai hari kerjanya. Nilai
yang ditulis adalah bentuk angka. Misalnya Hari Senin (kolom Sn) = 0,5;
Selasa (kolom Sl) = 1; Rabu (R) : 1, Kamis (K) : 0,5; Jumat (J) : 1, Sabtu (Sb) :
1.
‰ Jumlah HOK, jumlah nilai HOK mulai hari pertama (Sn) sampai hari terakhir
(Sb) untuk tiap tenaga;
‰ Tandatang/cap jempol, adalah tandatangan tenaga kerja bersangkutan.
‰ Jumlah (K/T/P/L/P/M/KM) adalah jumlah masing-masing tenaga kerja
(L/P/M/KM) pada minggu bersangkutan.
‰ Jumlah Total HOK : Jumlah HOK dari semua tenaga kerja selama minggu
bersangkutan.

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 44


5). Apa yang dimaksud dengan Daftar Hadir Mingguan & Pembayaran
Upah Tenaga Kerja dari BLM/PNPM?
Formulir Daftar Hadir Mingguan Tenaga Kerja dari BLM/PNPM (Form-TK3b),
merupakan Rekapitulasi Mingguan dari Formulir Daftar Hadir Harian Tenaga
Kerja untuk pekerjaan konstruksi dan Perhitungan Pembayaran Upah yang
diperoleh/dibayarkan kepada masing-masing tenaga kerja dari BLM/PNPM.
Sumber data pengisian formulir ini adalah dari data-data Formulir Daftar Hadir
Harian Tenaga Kerja dari Swadaya & BLM/PNPM yang telah dibuat
sebelumnya (Form-TK2 untuk bagian sumber dana BLM/PNPM). Formulir ini
juga sangat diperlukan untuk memastikan besarnya pembayaran upah yang
harus diterima oleh setiap tenaga kerja dari BLM/PNPM dalam satu kurun
waktu atau periode mingguan. Data ini selanjutnya dipergunakan sebagai
surat bukti untuk proses pembukuan Ongkos tenaga kerja BLM/PNPM (Form-
KSML-5).
Cara pengerjaan :
1) Perhatikan bahwa pada formulir ini, data yang diperlukan hanyalah data
terkait tenaga kerja BLM/PNPM saja dari Form TK2.
2) Kumpulkan semua Daftar Hadir Harian Tenaga Kerja dari BLM (Form-TK2)
yang ada pada minggu tersebut;
3) Mulai-lah memindahkan data yang ada pada hari pertama (misalnya hari
senin), mulai nomor urut, nama, jenis tenagakerja, jenis kelamin,
kemampuan, rincian HOK;
4) Kemudian diikuti oleh data hari berikutnya (hari kedua/selasa) dan
seterusnya sampai semua data yang ada pada formulir hari pertama
sampai ke-6 dipindahkan.
5) Hitung jumlah HOK dengan cara menjumlahkan semua nilai HOK mulai
dari HOK hari pertama sampai hari ke enam/terakhir untuk masing-masing
tenaga kerja.
6) Masukkan Harga Satuan Upah (per hari) untuk masing-masing jenis
tenaga kerja, sesuai nilai yang disepakati sebelumnya;
7) Hitung Jumlah Biaya Upah dengan cara : Nilai HOK dikalikan dengan
besarnya upah untuk masing-masing tenaga kerja.
Contoh formulirnya sebagai berikut :

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 45


Penjelasan:
‰ Nama, adalah nama tenaga kerja
‰ K/T/P, adalah kualifikasi tenaga kerja (K=Kepala Kelompok/Mandor,
T=Tukang, P=Pekerja)
‰ Jenis kelamin, adalah jenis kelamin tenaga kerja (L=Laki-laki, P=Perempuan)
‰ M/KM, adalah status kemampuan tenaga kerja (M=Mampu; KM=Kurang
Mampu/Miskin)
‰ Rincian HOK diisi dengan Jumlah HOK tenaga Kerja sesuai hari kerjanya. Nilai
yang ditulis adalah bentuk angka. Misalnya Hari Senin (kolom Sn) = 0,5;
Selasa (kolom Sl) = 1; Rabu (R) : 1, Kamis (K) : 0,5; dst.
‰ Jumlah HOK, jumlah nilai HOK mulai hari pertama (Sn) sampai hari terakhir
(Sb) untuk tiap tenaga, misalnya dari rincian diatas maka jumlah HOKnya = 5.
‰ Tandatang/cap jempol, adalah tandatangan tenaga kerja bersangkutan.
‰ Jumlah adalah jumlah total masing-masing tenaga kerja
(K/T/P/L/P/M/KM/HOK/Biaya) pada minggu bersangkutan.

6). Apa yang dimaksud dengan Daftar Mingguan Penerimaan Bahan/Alat


dari Swadaya & BLM/PNPM ?
Seperti halnya daftar mingguan tenaga kerja sebelumnya, Daftar Mingguan
Penerimaan Bahan/Alat dari Swadaya & BLM/PNPM (Form-BA2), adalah
merupakan formulir Rekapitulasi pencatatan Penerimaan Harian bahan/alat
yang diberikan melalui swadaya masyarakat/pihak ketiga (pemerintah/swasta)
dan yang dari pemasok/toko untuk sumber BLM/PNPM. Formulir ini dibuat
setiap minggu oleh KSM/panitia.
Kalau pada Formulir Harian Penerimaan Bahan/alat dilakukan pencatatan
terhadap semua jenis bahan/alat pada satu formulir, maka pada formulir
Mingguan ini dilakukan rekapitulasi pencatatan bahan berdasarkan tiap jenis
bahan untuk sumber dari swadaya maupun BLM pada satu formulir. Jadi
setiap Formulir dibuat hanya untuk satu jenis bahan saja.
Sumber data yang digunakan adalah data formulir harian penerimaan bahan
dari swadaya & BLM/PNPM (form-BA1). Contoh formulirnya dapat dibuat
sebagai berikut :

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 46


Penjelasan:
‰ No, adalah nomor urut pencatatan;
‰ Tanggal, adalah tanggal bahan/alat diterima (sesuai form harian);
‰ Nama Donatur/Pemasok/Toko/Suplier, adalah nama Donatur/Pemasok/
Toko/Suplier pihak ketiga yang menyerahkan swadaya atau pembelian;
‰ Nomor Bukti, adalah Nomor bukti Penerimaan Bahan/Alat;
‰ Satuan, adalah satuan volume yang sesuai Jenis Bahan/Alat yang diterima
(sesuai bukti/nota);
‰ Volume, adalah jumlah volume dari tiap jenis bahan/alat. Volume Swadaya bila
bahan/alat dari swadaya dan volume untuk bila bahan/alat dari
pembelian/sewa (sesuai bukti/nota);
‰ Biaya, adalah jumlah biaya dalam rupiah dari tiap jenis bahan/alat yang
dibeli/sewa melalui dana BLM/PNPM. Jumlah biaya disini ditulis sesuai jumlah
volumenya sebagaimana yang tercantum di Nota pemeblian bahan/sewa alat.
Formulir ini sangat penting dipergunakan untuk alat pengendalian
pembelian atau pengadaan bahan (baik volumenya atau biayanya) apakah
tidak berlebih dari rencana dalam RAB.

7). Apa Yang dimaksud dengan Daftar Mingguan Opname Pekerjan ?


Formulir ini penting untuk mengetahui berapa besarnya volume tiap pekerjaan
yang sudah dicapai, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai data untuk
menghitung kemajuan pekerjaan pada laporan kemajuan pekerjaan pada
minggu tersebut.
Daftar Mingguan Opname Pekerjaan (Form-Opname) adalah Formulir
pencatatan hasil pengukuran/perhitungan dari Volume tiap jenis kegiatan yang
dihasilkan selama periode satu minggu. Formulir ini dibuat oleh KSM/Panitia
pada setiap akhir minggu. Agar pengukuran hasil pekerjaan tersebut akurat
dan tidak menimbulkan perbedaan penafsiran dikemudian hari, maka
sebaiknya KSM/Panitia pada saat melakukan pengukuran opneme ini
mengundang pihak UPL dan Faskel Teknik untuk dilakukan bersama-sama.
Dalam hal salah satu atau kedua-duanya dari UPL dan Faskel Teknik tidak
dapat hadir, maka KSM/Panitia tetap dapat melaksanakannya sendiri.
Contoh formulir Daftar Mingguan Opname (Form-Opname) sebagai berikut :

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 47


Penjelasan:
‰ Uraian Pekerjaan, adalah Nama jenis kegiatan yang dikerjakan;
‰ Satuan, adalah satuan volume yang sesuai Jenis kegiatan;
‰ Volume, adalah jumlah volume dari tiap jenis bahan/alat;
‰ Sketsa, Ukuran dan Perhitungan Volume, diisi dengan sketsa/gambar dari
kegiatan yang dikerjakan dilapangan dengan dilengkapi ukuran-ukurannya
seperti Panjang, lebar, tebal/tinggi. Kemudian tuliskan dibawah/disamping
sketsa tersebut perhitungan volume pekerjaan sampai didapatkan nilainya;
‰ Volume Yang dicapai, adalah nilai volume tiap kegiatan yang dihasilkan pada
minggu tersebut. Nilai ini diperoleh dari hasil perhitungan tadi (pada sketsa).
‰ Keterangan, diisi dengan keterangan lokasi, misalnya jalan dari sta. .... s/d sta.
... atau hal lain yang secara spesifik menunjukan lokasi pekerjaan yang diukur.

4. Laporan Kemajuan Pelaksanaan Kegiatan (Dwi-Mingguan)


Laporan Dwi-Mingguan (Form-L.Lm) merupakan formulir laporan tentang
kemajuan kegiatan yang telah dicapai/dihasilkan oleh KSM selama periode
dua mingguan. Jadi laporan ini dibuat setiap akhir pelaksanaan dua mingguan.
Laporan ini dibuat minimal 3 rangkap, masing-masing rangkap disampaikan
untuk UPL, Faskel Teknik dan arsip KSM. Formulir ini pada dasarnya
merupakan rekapitulasi dari formulir Daftar Mingguan yang telah dibuat.
Dengan demikian maka sumber data utama untuk pengisian formulir ini adalah
data-data dari rekapitulasi datrar mingguan dan harian.
Hal-hal yang dilaporkan adalah :
1). Kemajuan Fisik Pekerjaan, adalah Nilai prosentase (dan volume) yang
telah dicapai oleh keseluruhan kegiatan, termasuk sisa pekerjaan yang
belum dikerjakan. Kemajuan pelaksanaan pekerjaan dibuat berdasarkan
tiap bagian pekerjaan dan dihitung bobot atau persentasenya terhadap
hasil akhir keseluruhan pekerjaan.
2). Realisasi dana, adalah besarnya dana yang telah terealisasi (pencairan
BLM, Realisasi Swadaya dan Realisasi Dana Lain-lain (bila ada));
3). Realisasi Penggunaan dana BLM dan Penggunaan Swadaya, yaitu
Realisasi penggunaan dana BLM dan realisasi Swadaya untuk kegiatan
konstruksi (dirinci untuk komponen upah, bahan, alat, administrasi dan
konsumsi);
4). Realisasi Tenaga Kerja, adalah realisasi penggunaan tenaga kerja baik
dari sumber dana BLM maupun Swadaya (jumlah HOK, Jumlah Tenaga
Kerja (L/P/Miskin);
Contoh bentuk format laporan dwi-mingguan, seperti terlampir.
5. Laporan Akhir atau Pertanggungjawaban Kegiatan
Laporan Akhir atau Pertanggungjawaban Kegiatan KSM (Form-L.La)
merupakan laporan yang dibuat oleh KSM setelah pekerjaan selesai (setelah
dibuat Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan/BAP2, termasuk telah dilakukan
perbaikan pekerjaan bila ada). Laporan ini sekaligus menjadi laporan dwi-
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 48
mingguan terakhir pelaksanaan kegiatan. Jadi pada periode terakhir
pelaksanaan kegiatan, KSM tidak perlu membuat laporan Dwi-Mingguan
terakhir lagi, melainkan langsung membuat Laporan Akhir.
Adapun cakupan laporan akhir ini adalah juga cakupan laporan laporan Dwi
Mingguan terakhir ditambah 2 (dua) substansi, yaitu (1). Realisasi Usulan
Kegiatan dan (2). Rincian Realisasi Penggunaan Dana BLM dan Swadaya
sejak awal sampai akhir pelaksanaan kegiatan, termasuk dokumentasi/photo.
Contoh format Laporan Akhir, seperti terlampir (Form-L.La).
6. Musyawarah Pertanggungjawaban
Musyawarah Pertanggungjawaban Kegiatan merupakan forum pertemuan
yang diselenggarakan oleh BKM/UPL dengan agenda untuk penyampaian
laporan Akhir Pelaksanaan atau Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan
kegiatan KSM.
Forum ini dihadiri oleh BKM/UPL selaku penyelenggara, KSM selaku yang
menyampaikan laporan, Pihak Konsultan (Faskel) dan undangan, seperti
Pemerintah Kelurahan/Desa, Warga, dan lain-lain yang dianggap perlu.
Pendekatan pelaksanaannya adalah dapat dilakukan bersamaan/sekaligus
beberapa KSM atau bisa juga hanya satu KSM yang menyampaikan laporan
pertanggungjawaban. Pendekatan mana yang dipilih hendaknya disesuaikan
dengan kondisi penyelesaiaan kegiatan KSM dilapangan.
Hasil kegiatan ini menjadi masukan bagi bahan evaluasi atau laporan
pertanggungjawaban BKM. Contoh bentuk laporan, terlampir

7. Administrasi Keuangan KSM Lingkungan


Bentuk-bentuk formulir administrasi Keuangan KSM, meliputi :
a. Buku Tabungan KSM di Bank (Form KSM L-1)
b. Buku Kas (Form KSM L-2)
c. Buku Transport Bahan dan Alat (Form KSM L-3)
d. Buku Material dan Peralatan (Form KSM L-4)
e. Ongkos Tenaga Kerja (Form KSM L-5)
f. Administrasi (Form KSM L-6)
g. Rencana Penggunaan Dana (RPD);
h. Laporan Penggunaan Dana (LPD)
Masing-masing administrasi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1). Apa yang dimaksud dengan Buku Tabungan KSM di Bank
Buku tabungan KSM di Bank adalah buku/kartu untuk mencatat data dan
mutasi tabungan masing- masing KSM sebagai penabung di Bank.
Pencatatan dilakukan untuk setiap transaksi uang masuk dan keluar
berdasarkan tanggal, uraian dan nomor bukti, untuk kemudian dihitung saldo
pada tanggal tersebut. (Lihat Form KSM L-1)
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 49
Penjelasan:
‰ Tanggal, adalah tanggal pada saat terjadi pencatatan transaksi;
‰ Uraian, adalah transaksi/jenis kegiatan yang dikerjakan;
‰ Nomor Bukti , adalah nomor urutan yang dicatat sebagai pembuktian
‰ Transaksi , adalah catatan jumlah uang masuk (M) dan uang keluar (K)
‰ Saldo (D), adalah jumlah total transaksi yang tercatat pada tanggal tersebut

2). Apa yang dimaksud dengan Buku Kas Harian


Buku Kas Harian adalah catatan tentang pemasukan dan pengeluaran uang
tunai pada tanggal pelayanan, untuk mengetahui sisa kas pada setiap akhir
hari (tanggal tercatat). (Lihat Form KSM L-2)

Penjelasan:
‰ Tanggal, adalah tanggal pada saat terjadi pencatatan transaksi;
‰ Keterangan, adalah jumlah saldo awal;
‰ Nomor Bukti , adalah nomor urutan yang dicatat sebagai pembuktian
‰ Masuk, adalah catatan jumlah uang masuk (M)
‰ Keluar, adalah catatan jumlah uang keluar (K)
‰ Saldo (D), adalah jumlah total transaksi yang tercatat pada tanggal tersebut

3). Apa yang dimaksud dengan Buku Transport Bahan/Alat


Buku Transport Bahan/Alat adalah catatan tentang biaya pengeluaran pada
tanggal terjadinya pengiriman bahan/alat, sesuai dengan yang tercatat pada
nota. (Lihat Form KSM L-3).

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 50


Penjelasan:
‰ Tanggal, adalah tanggal pada saat terjadi pencatatan transaksi;
‰ Keterangan, adalah jenis kegiatan transport bahan/alat ;
‰ Nomor Bukti , adalah nomor urutan yang dicatat sebagai pembuktian
‰ Jumlah (Rp), adalah catatan jumlah uang dalam rupiah yang dibayarkan sebagai
biaya transport
‰ Jumlah Total, adalah jumlah total pengeluaran yang tercatat pada tanggal
tersebut
4). Apa yang dimaksud dengan Buku Material & Peralatan
Buku Material dan Peralatan adalah catatan tentang pengadaan
material/peralatan yang meliputi jenis, jumlah dan harga tiap unit serta sumber
dana yang diperlukan untuk pengadaannya sesuai dengan nomor bukti. (Lihat
Form KSM L-4)

Penjelasan:
‰ Tanggal, adalah tanggal pada saat terjadi pencatatan transaksi;
‰ Jenis material/peralatan, adalah jenis material/peralatan yang diadakan sesuai
dengan kegiatan ;
‰ Nomor Bukti , adalah nomor urutan yang dicatat sebagai pembuktian
‰ Jumlah Unit, adalah catatan jumlah material/peralatan yang diadakan
‰ Harga per unit, adalah satuan harga material/peralatan yang diadakan
‰ Jumlah Rupiah Swadaya, jumlah dana yang diberikan masyarakat untuk
pengadaan material/peralatan secara swadaya
‰ Jumlah Rupiah BLM, jumlah dana BLM yang dipergunakan untuk pengadaan
material/peralatan
‰ Jumlah Total, adalah jumlah total pengeluaran yang tercatat pada tanggal
tersebut

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 51


5). Apa yang dimaksud dengan Buku Ongkos Tenaga Kerja
Buku Ongkos Tenaga Kerja adalah catatan tentang pengadaan tenaga kerja
yang diperlukan suatu kegiatan yang meliputi nama/jabatan, rentang waktu dan
jumlah hari kerja, upah per orang/hari serta sumber dana yang diperlukan
untuk pengadaannya sesuai dengan nomor bukti. (Lihat Form KSM L-5)

Penjelasan:
‰ Tanggal, adalah tanggal pada saat terjadi pencatatan transaksi;
‰ Jenis material/peralatan, adalah jenis material/peralatan yang diadakan sesuai
dengan kegiatan ;
‰ Nomor Bukti , adalah nomor urutan yang dicatat sebagai pembuktian
‰ Jumlah Unit, adalah catatan jumlah material/peralatan yang diadakan
‰ Harga per unit, adalah satuan harga material/peralatan yang diadakan
‰ Jumlah Rupiah Swadaya, jumlah dana yang diberikan masyarakat untuk
pengadaan material/peralatan secara swadaya
‰ Jumlah Rupiah BLM, jumlah dana BLM yang dipergunakan untuk pengadaan
material/peralatan
‰ Jumlah Total, adalah jumlah total pengeluaran yang tercatat pada tanggal
tersebut

6). Apa yang dimaksud dengan Biaya Administrasi


Biaya Administrasi adalah catatan tentang biaya – biaya administrasi yang
dikeluarkan sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan .(Lihat form KSM-6)

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 52


Penjelasan:
‰ Tanggal, adalah tanggal pada saat terjadi pencatatan transaksi;
‰ Keterangan, adalah macam kegiatan administrasi yang terjadi;
‰ Nomor Bukti , adalah nomor urutan yang dicatat sebagai pembuktian
‰ Jumlah Rp, adalah jumlah pengeluaran untuk tiap kegiatan administrasi
‰ Jumlah Total , adalah jumlah pengeluaran berbagai kegiatan administrasi yang
dicatat pada tanggal yang sama

7). Apa yang dimaksud dengan Rencana Penggunaan Dana (RPD)


Rencana Penggunaan Dana (RPD) merupakan Formulir atau Daftar yang
memuat rincian rencana kebutuhan biaya Tenaga Kerja/Bahan/Alat dan
administrasi yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan lingkungan. RPD ini
merupakan syarat administrasi untuk pencairan dana bagi KSM sehingga
harus dibuat oleh KSM setiap akan mengajukan termin atau pencairan dana ke
BKM. Adapun bentuk formulirnya dapat dibuat seperti tabel berikut.

Penjelasan:
‰ Kolom (1), dikosongkan (sudah terisi);
‰ Kolom (2), diisi uraian tiap jenis tenaga kerja/bahan/alat/administrasi yang
diperlukan ;
‰ Kolom (3), diisi satuan tiap jenis tenaga kerja/bahan/alat/administrasi;
‰ Kolom (4), diisi volume/jumlah tiap jenis tenaga kerja/bahan/alat/administrasi;
‰ Kolom (5), diisi Harga satuan dari tiap jenis tenaga
kerja/bahan/alat/administrasi
‰ Kolom (6), diisi Jumlah biaya dari tiap jenis tenaga
kerja/bahan/alat/administrasi (nilai kolom (4) di kali nilai kolom (5));

8). Apa yang dimaksud dengan Laporan Penggunaan Dana (LPD)


Laporan Penggunaan Dana (LPD) merupakan Formulir atau Daftar yang
memuat rincian penggunaan dana BLM yang telah dimanfaatkan untuk
membiayai pelaksanaan kegiatan dilapangan.
Seperti halnya RPD, LPD ini juga merupakan syarat administrasi untuk
pencairan dana termin Kedua dan Ketiga bagi KSM dari ke BKM.

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 53


Sumber data yang dipergunakan adalah adalah buku material/Peralatan, buku
Ongkos kerja dan buku Administrasi.
Adapun bentuk formulirnya dapat dibuat seperti tabel berikut.

Penjelasan:
‰ Kolom (1), dikosongkan (sudah terisi);
‰ Kolom (2), diisi uraian tiap jenis tenaga kerja/bahan/alat/administrasi yang
telah diadakan melalui dana BLM;
‰ Kolom (3), diisi satuan tiap jenis tenaga kerja/bahan/alat/administrasi;
‰ Kolom (4), diisi volume/jumlah tiap jenis tenaga kerja/bahan/alat/administrasi;
‰ Kolom (5), diisi Harga satuan pengadaan dari tiap jenis tenaga
kerja/bahan/alat/ administrasi;
‰ Kolom (6), diisi Jumlah biaya dari tiap jenis tenaga
kerja/bahan/alat/administrasi (nilai kolom (4) di kali nilai kolom (5));
‰ Baris (E),diisi Jumlah total nilai kolom (6)
‰ Baris (F),diisi Jumlah nilai BLM yang telah diterima (yang sedang
dipertanggungjawabkan)
‰ Baris (G),diisi Jumlah sisa dana BLM yang diterima (Nilai (F) dikurang nilai (G))

8. Siapa yang melakukan pencatatan ?


Pencatatan formulir-formulir administrasi KSM tersebut dilakukan oleh
sekretaris, bagian pengadaan, pelaksana lapangan dan bendahara sesuai
dengan tugas-tugas yang telah ditetapkan kepada setiap unit/bagian kerja
KSM tersebut.

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 54


9. Dimana menyimpan hasil pencatatan administrasi ?
Hasil pencatatan administrasi KSM/PANITIA disimpan di Kantor KSM/Panitia
sendiri, sebagai butki pelaksanaan pekerjaan PANITIA dan juga sebagai
bahan bukti pertanggungjawaban kepada pihak pemberi pekerjaan dan
kepada masyarakat. Dengan demikian perlu diarsipkan atau dihimpun
sehingga siap digunakan atau dilihat bilamana diperlukan.

10. Kapan pencatatan dilakukan?


Pencatatan dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berjalan atau segera
dilakukan setelah suatu pekerjaan selesai. Jadi tidak perlu menunggu sampai
beberapa lama untuk mencatat suatu kejadian kegiatan, sebab kalau
pencatatan ditunda-tunda, maka kemungkinan besar akan terjadi kesalahan-
kesalalahan yang timbul karena lupa.

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 55


LAMPIRAN :

1) CONTOH BENTUK SPPD-L


2) FORMULIR SERTIFIKASI, BAP2 &
SP3 KEGIATAN
3) CONTOH BENTUK LAPORAN DWI-
MINGGUAN dan PERTANGGUNG
JAWABAN KEGIATAN

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 56


CONTOH BENTUK SPPD-L
SURAT PERJANJIAN PEMANFAATAN DANA LINGKUNGAN (SPPD-L)
PNPM MANDIRI PERKOTAAN

Proyek : PNPM MANDIRI Perkotaan Tahun Anggaran 200…1)


Paket Perjanjian Kerja : Pekerjaan/Kegiatan .....................2)
No Perjanjian Pemanfaatan Dana Lingkungan : …..................3)

Berdasarkan :
1. Surat Perjanjian Penyaluran Bantuan BLM (SPPB BLM) antara BKM dengan
Penanggungjawab Operasional Kegiatan (PJOK) PNPM Mandiri Perkotaan
Kec....................... Kab./Kota ...................... 5), Nomor : .....................
tanggal.............................. 5)

Kami yang bertandatangan dibawah ini :

I. Nama : .....................................................................6)
Jabatan : Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) ................................ 7)
Desa/Kelurahan ........................…, Kecamatan .......................…, Kabupaten/Kota
.......................…, Provinsi .......................…8)
Berdasarkan Hasil Musyawarah Masyarakat Desa/Kelurahan dan
disyahkan/dicatatkan di Notaris ..............................…, tanggal ................................ 9)
Alamat : ..................................................................… 10)
Selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA

II. Nama : .....................................................................11)


Jabatan : Ketua KSM/Panitia*) ................................. 12),
Desa/Kelurahan ........................…, Kecamatan .......................…, Kabupaten/Kota
.......................… Provinsi .......................…13)
Berdasarkan Hasil Musyawarah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan
disyahkan/dicatatkan pada buku register BKM tentang KSM dengan No.
Induk..............................…14),
Alamat : ..................................................................… 15)
Selanjutnya disebut PIHAK KEDUA

Maka dengan ini disetujui oleh dan diantara PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA
tersebut, hal-hal sebagai berikut :

PASAL 1
LINGKUP PEKERJAAN
PIHAK KEDUA harus melaksanakan, menyelesaikan, memperbaiki Pekerjaan, yaitu :
Nama Paket/Jenis Pekerjaan : ......................................................................16)
Lokasi : ..........................................................................................17)

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 57


PASAL 2
DOKUMEN PERJANJIAN KERJA
Dokumen Perjanjian Kerja sebagaimana ditentukan dibawah ini harus dibaca serta
merupakan bagian dari Perjanjian Kerja ini, yaitu :
(1) Surat Perjanjian Pemanfaatan Dana Lingkungan (SPPD-L)
(2) Persyaratan Umum Perjanjian sebagaimana terlampir
(3) Pedoman Umum dan Petunjuk Teknis Pembangunan Sarana & Prasarana
(4) Dokumen Usulan Proposal Pelaksanaan Kegiatan (termasuk catatan/perubahan
hasil verifikasinya) :
(i) Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan
(ii) Struktur Organisasi dan Usulan Tim Pelaksana Kegiatan KSM
(iii) Rencana Anggaran Biaya Pelaksanaan & Kuantitas Pekerjaan
(iv) Daftar Usulan Tenaga Kerja
(v) Gambar Rencana
(iv) Adendum, bila ada
PASAL 3
JANGKA WAKTU PELAKSANAAN PEKERJAAN
3.1. Sesuai dengan SPPD-L dan lampirannya ini, jangka waktu penyelesaian pekerjaan
dihitung sejak Tanggal Mulai Kerja, adalah………18) (.................................……19)
hari kalender kerja).
3.2. Perjanjian Kerja tersebut berlaku sejak tanggal penanda-tanganan oleh kedua
belah pihak yang bersangkutan. Surat Perjanjian ini juga sekaligus sebagai Surat
Perintah Mulai Kerja.
PASAL 4
JUMLAH NILAI PERJANJIAN KERJA
Jumlah Nilai Perjanjian Kerja untuk pekerjaan yang tertuang didalam Pasal (1) SPPD-L
ini, sebagaimana dicantumkan dalam Rencana Anggaran Biaya pada dokumen Usulan
Proposal Pelaksanaan Kegiatan PIHAK KEDUA bersangkutan, sebesar :
Rp..................................... (........................................................ Rupiah)20) tanpa Pajak
Pertambahan Nilai (PPN).
PASAL 5
HAK DAN KEWAJIBAN
5.1. PIHAK KEDUA menerima dari PIHAK PERTAMA untuk melaksanakan pekerjaan
sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 1, berdasarkan uraian pekerjaan,
persyaratan serta gambar-gambar kerja dan ketentuan lain yang terdapat dalam
SPPD-L ini.
5.2. PIHAK KEDUA berkewajiban :
(1). Melaksanakan, menyelesaikan, dan memperbaiki pekerjaan dengan penuh
ketelitian dan kesungguhan, serta menyediakan tenaga teknis pelaksana
lapangan (atau mandor), tenaga kerja, bahan-bahan bangunan, peralatan
kerja, pengangkutan ke atau dari lapangan dan di dalam atau disekitar
pekerjaan, serta melaksanakan segala sesuatu baik yang bersifat permanen
maupun bersifat sementara yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan,
penyelesaian, dan perbaikan pekerjaan.
(2). Melaksanakan, menyelesaikan, dan memperbaiki seluruh pekerjaan sesuai
dengan spesifikasi teknis yang telah ditentukan dalam perjanjian ini sampai

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 58


diterima baik oleh Konsultan Manajemen Wilayah, kecuali apabila menurut
hukum ataupun secara fisik tidak mungkin dilakukan.
(3) Menyediakan dan memenuhi seluruh kontribusi swadaya berupa uang dan
natura atau lainnya, dalam jumlah dan waktu sesuai yang tercantum pada
usulan proposal kegiatan KSM/Panitia sebelumnya;
(4) Melakukan pembongkaran dan atau perbaikan atas kekurangan pekerjaan
yang telah dilaksanakan atas biaya sendiri/swadaya sesuai rekomendasi hasil
sertifikasi atau sesuai perintah yang disampaikan oleh KMW.
(5) Membuat papan nama pekerjaan dilokasi pekerjaan;
(6) Membuat administrasi dan laporan kemajuan pekerjaan secara berkala
maupun laporan akhir pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan dan
keuangan dengan dilampiri photo-photo kegiatan.
(7) Dalam hal terdapat kelebihan sisa dana nilai perjanjian dan PIHAK KEDUA
tidak bersedia ataupun secara fisik tidak mungkin melakukan pekerjaan
tambah untuk memanfaatkan kembali sisa dana tersebut maka PIHAK KEDUA
wajib mengembalikannya kepada PIHAK PERTAMA.
5.2. PIHAK PERTAMA berkewajiban :
(1). Membayar kepada PIHAK KEDUA atas pelaksanaan, penyelesaian, perbaikan
pekerjaan pada waktu dan dengan cara yang telah ditentukan dalam Perjanjian
ini.
(2). Memantau dan memberikan bimbingan keterampilan kepada PIHAK KEDUA
agar mutu konstruksi dan administrasi hasil pekerjaan dapat tercapai.
Pelaksanaan hal ini selanjutnya secara harian akan dijalankan oleh Unit
Pengelola Lingkungan (UPL).
5.3 Tanggungjawab kedua belah pihak dijelasakan secara lebih rinci pada persyaratan
umum perjanjian ini dan merupakan satu kesatuan dengan perjanjian ini.

PASAL 6
TAHAP PENCAIRAN
6.1. Pelaksanaan pencairan pekerjaan tersebut dalam pasal (1) Surat Perjanjian ini
akan dilaksanakan dalam 3 (tiga) tahap melalui Bank PIHAK KEDUA oleh PIHAK
PERTAMA;
6.2. Tahap Pertama sebesar 30 % (tigapuluh per seratus) dari nilai SPPD-L diberikan
sebagai uang muka setelah penandatanganan dokumen SPPD-L tanpa harus ada
jaminan/Bank Garansi. PIHAK PERTAMA mengajukan surat permintaan
pembayaran dengan melampirkan Rencana Kerja dan Rencana Penggunaan
Dana (RPD);
6.3. Tahap Kedua sebesar 60 % dari nilai SPPD-L dengan ketentuan prestasi
pekerjaan telah mencapai minimum sebesar 30% dengan melampirkan RPD,
Laporan Penggunaan Dana (LPD) dan Laporan Mingguan/Bulanan terakhir dan
Surat Pernyataan Kesanggupan Menyelesaikan Seluruh Kegiatan Fisik.
6.4. Tahap Ketiga sebesar 10 % dari nilai SPPD-L dengan ketentuan prestasi
pekerjaan telah mencapai minimum sebesar 90% dengan melampirkan RPD,
Laporan Penggunaan Dana (LPD), Laporan Mingguan/Bulanan terakhir.

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 59


PASAL 7
SANKSI
7.1. Berdasarkan hasil penilaian Konsultan Manajemen Wilayah dan atau PJOK,
apabila PIHAK KEDUA terbukti melakukan penyimpangan terhadap ketentuan
teknis atau ditemukan adanya penyalahgunaan dana maka PIHAK PERTAMA
dapat memberikan sanksi kepada PIHAK KEDUA berupa penghentian sementara
pencairan dana dan atau pemutusan perjanjian dan atau pengembalian dana dan
atau sanksi sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
7.2. Bentuk-bentuk sanksi tersebut sebagaimana diuraikan secara rinci pada
Persyaratan Umum Perjanjian Pemanfaatan Dana Lingkungan.

PASAL 8
PENYELESAIAN PEKERJAAN
8.1. Setelah pekerjaan selesai 100% atau minimal 97%, PIHAK KEDUA berhak
mengajukan secara tertulis kepada PIHAK PERTAMA dan Konsultan untuk
melakukan Sertifikasi Pekerjaan.
8.2. Hasil Sertifikasi Pekerjaan yang dilaksanakan secara bersama-sama oleh kedua
belah pihak dan KMW ini dituangkan dalam Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan
(BAP2).
PASAL 9
PEMELIHARAAN HASIL PEKERJAAN
PIHAK KEDUA sepakat dan berjanji untuk memelihara hasil pekerjaan atau sarana dan
prasarana yang telah dibangun melalui swadaya masyarakat dengan sebaik-baiknya.

PASAL 10
KEADAAN MEMAKSA (FORCE MAJEUR)
10.1 Selambat-lambatnya 14 (empatbelas) hari dari hari terjadinya keadaan memaksa,
Para Pihak harus saling berkonsultasi untuk memperoleh kesepakatan mengenai
tindakan tepat apa yang harus dilakukan dalam keadaan itu.
10.2 Yang dimaksud “Keadaan Memaksa” (“Force Majeure”) adalah sebagai suatu
kejadian yang tidak dapat dihindari dan diluar kemampuan salah satu pihak, yang
menyebabkan salah satu pihak tersebut tidak mungkin melaksanakan
tanggungjawabnya, atau tidak dapat melaksanakan tugasnya; Keadaan seperti itu
termasuk, tapi tidak terbatas pada, perang, huru-hara, epidemi, gempa bumi,
badai, banjir atau akibat dari kondisi alam lainnya, pemogokan masal (kecuali
apabila dalam hal pemogokan, larangan bekerja atau gangguan industri tersebut,
Kedua belah pihak atau salah satu pihak memiliki kemampuan untuk mencegah
terjadinya Keadaan Memaksa), penyitaan atau tindakan lain oleh pemerintah.
10.3 Keadaan memaksa tidak termasuk (i) kejadian yang disebabkan oleh kelalaian
atau tindakan disengaja dari salah satu pihak. (ii) kejadian dimana salah satu
pihak dapat menduga hal-hal sebagai berikut: (A) Pada saat itu sudah bisa
mempertimbangkan konsekuensi dari adanya SPPD-L, (B) menghindari atau
mengatasi kendala dalam pelaksanaan kewajiban-kewajiban yang ditentukan
dalam proyek.
10.4 Keterlambatan pelaksanaan pekerjaan yang diakibatkan oleh karena terjadinya
keadaan memaksa tidak dapat dikenai sanksi.

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 60


PASAL 11
PENYELESAIAN PERSELISIHAN
(a) Para Pihak yang akan mencari jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan setiap
perselisihan yang timbul, atau perselisihan yang berhubungan dengan pasal-pasal
dalam SPPD-L ini atau perselisihan yang timbul karena penafsiran atas SPPD-L ini .
(b) Jika ada perselisihan yang timbul diantara para pihak dalam SPPD-L ini yang tidak
dapat diselesaikan secara musyawarah, maka salah satu pihak atau kedua belah
pihak dapat menyelesaikan melalui ketentuan hukum yang berlaku.
PASAL 12
PENUTUP
Surat Perjanjian Pemanfaatan Dana Sosial (SPPD-L) ini dianggap sah setelah
ditandatangani oleh kedua belah pihak pada tanggal, bulan, dan tahun tersebut
dibawah, dan dibuat dalam rangkap 3 (tiga), terdiri dari 2 (dua) lembar asli dan
bermaterai secukupnya dan 1 (satu) lembar asli tanpa materai, serta mempunyai
kekuatan hukum yang sama untuk PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA.
......................., ................ - ......... 200 ...20)

PIHAK PERTAMA, PIHAK KEDUA,


Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat Ketua KSM/Panitia*)

Meterai
6000
...............……..........……7) ………………....................13)

Mengetahui,
Konsultan Manajemen Wilayah

21
………………………………… )

PENJELASAN
1) = Tahun Anggaran Pelaksanaan Proyek
2) = Nama Pekerjaan/Paket Pekerjaan yang akan dilaksanakan
3) = Nomor Perjanjian Kerja
4) = Nama Kecamatan dan Kab/Kota Lokasi Kegiatan
5) = Nomor dan Tanggal SPPB BLM
6) = Nama Koordinator BKM bersangkutan
7) = Nama BKM bersangkutan
8) = Nama Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kab/Kota dan Provinsi Lokasi Kegiatan
9) = Nomor dan Tanggal Pengesahan Notaris dari BKM
10) = Alamat Sekretariat BKM
11) = Nama Ketua KSM/Panitia
12) = Nama KSM/Panitia
13) = Nomor Induk/Registari KSM yang tercatat dibuku Registrasi BKM
14) = Alamat Sekretariat KSM/Panitia
15) = Lokasi Kegiatan/Prasarana (RT/RW/Dusun/Kampung)
16) = Tanggal Mulai Kerja yang sama dengan tanggal penandatangan perjanjian ini
17) = Jumlah hari kalender pelaksanaan pekerjaan
18) = Jumlah Nilai BLM dalam angka dan huruf
19) = Tempat, Tanggal Perjanjian dibuat
20) = Nama KMW (atau yang mewakili dari Infrastruktur)
…* = Dipilih yang sesuai

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 61


Lampiran SPPD-L
PER
ERSYARATAN UMUM PERJANJIAN PEMANFAATAN DANA LINGKUNGAN

Lampiran ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari SPPD-L dan memiliki
ketentuan yang mengikat.
A. Definisi
Kecuali apabila di dalam konteks kalimatnya mengharuskan diartikan lain, istilah yang
digunakan dalam Surat Perjanjian Pemanfaatan Dana Lingkungan ini diartikan sebagai
berikut:
1. “Hukum yang berlaku” berarti hukum dan segala perangkatnya yang ditetapkan dan
dinyatakan berlaku di Pemerintah Indonesia;
2. “SPPD-L” berarti Surat Perjanjian Pemanfaatan Dana Lingkungan PNPM MANDIRI
PERKOTAAN yang ditandatangani oleh kedua belah pihak, dimana persyaratan
umum terlampir, bersama-sama dengan seluruh dokumen yang tercantum pada
pasal 2 SPPD-L PNPM MANDIRI PERKOTAAN yang ditandatangani;
3. “Persyaratan Umum” berarti persyaratan umum pada SPPD-L ini;
4. “Pemerintah” berarti Pemerintah Indonesia, yang dalam hal ini Satker PNPM
MANDIRI PERKOTAAN Pusat
5. PJOK adalah Penanggung Jawab Operasional Kegiatan yang berkedudukan di
Kecamatan
6. KMW adalah Konsultan Manajemen Wilayah yang berkedudukan di
Regional/Propinsi
7. UPL adalah Unit Pengelola Lingkungan, dibentuk oleh BKM sebagai unit operasional
bidang lingkungan
8. Nilai Perjanjian adalah nilai/harga yang tercantum dalam SPPD-L dan selanjutnya
dapat disesuaikan menurut ketentuan-ketentuan dalam perjanjian.
9. Hari adalah hari kalender; Bulan adalah bulan kalender.
10. Kekurangan adalah bagian Pekerjaan yang tidak sesuai dengan Perjanjian.
11. Sertifikasi disini diartikan sebagai Pemeriksaan adalah kegiatan mengukur dan
menilai hasil Pekerjaan KSM/Panitia.
12. Pengukuran adalah kegiatan mengukur panjang, lebar, tinggi, luas atau isi hasil
Pekerjaan
13. Pekerjaan Sementara adalah pekerjaan yang dirancang, dibangun, dipasang dan
dibongkar oleh KSM/Panitia yang diperlukan untuk pelaksanaan dan pemasangan
Pekerjaan
14. Pekerjaan adalah hal-hal yang ditentukan didalam SPPD-L yang mewajibkan
KSM/Panitia untuk melaksanakan, memasang, memperbaiki bila ada yang rusak
dan setelah selesai harus dimanfaatkan dan dipelihara secara swadaya oleh
KSM/Panitia (melalui Organisasi Pengelola Pemanfaaat & Pemeliharaan).
15. Penyelesaian pekerjaan adalah pencapaian realisasi pelaksanaan pekerjaan
dilapangan sesuai kuantitas/volume dan Nilai/biaya pekerjaan sebagaimana
dicantumkan dalam SPPD-L beserta semua dokumen perjanjian .yang
merupakan bagian dari SPPD-L ini.
B. Tanggungjawab
1. Tanggungjawab BKM:
(a) Menjamin bahwa anggota KSM/Panitia adalah masyarakat miskin dan masyarakat
yang berhak mendapat bantuan PNPM MANDIRI PERKOTAAN, berdasarkan peta

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 62


kemiskinan yang disusun melalui proses pemetaan swadaya yang dilakukan
masyarakat sendiri;
(b) Menjamin bahwa usulan-usulan kegiatan yang diajukan, dinilai kelayakan oleh UPL
dan kemudian disetujui BKM adalah merupakan kegiatan yang didasarkan dari hasil
pemetaan swadaya dan perencanaan partisipatif (baik PJM maupun rencana
tahunan Pronangkis) yang telah disusun dan disepakati sebelumnya oleh
masyarakat.
(c) Menjamin bahwa usulan-usulan kegiatan yang disetujui telah dipilih dengan
menggunakan kriteria yang ditetapkan dalam Buku-Buku Pedoman PNPM MANDIRI
PERKOTAAN maupun kriteria tambahan yang ditetapkan Pemerintah Indonesia,
dalam hal ini Satker PNPM MANDIRI PERKOTAAN;
(d) Menjamin bahwa usulan-usulan kegiatan KSM/panitia telah diverifikasi dan
dinyatakan layak serta telah direkomendasi/disetujui oleh KMW;
(e) Menjamin jumlah kebutuhan dana yang diperjanjikian tidak melebihi nilai biaya
usulan kegiatan sebagaimana dicantumkan dalam proposal kegiatan (termasuk hasil
verifikasinya bila ada);
(f) Mengundang pemeriksa keuangan independen untuk memeriksa laporan keuangan
BKM, minimal satu kali satu tahun dengan biaya BKM. Selain itu, BKM juga akan
terbuka terhadap pemeriksa keuangan yang ditunjuk oleh BPKP atau instansi
pemeriksa lainnya.
(g) Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penyimpangan penggunaan dana oleh
BKM, maka BKM wajib mengembalikan dana yang dimaksud.
(h) BKM wajib menyimpan catatan dan bukti-bukti pengeluaran terkait dengan PNPM
MANDIRI PERKOTAAN selama jangka waktu 5 tahun.
(i) Menyerahkan laporan kemajuan setiap bulan ke PJOK dan KMW; Selain itu
memberikan kesempatan juga kepada instansi pemerintah, dan perwakilan donor
untuk mendapatkan salinan laporan dimaksud dan salinan-salinan laporan lainnya,
serta mengadakan peninjauan lapangan. Pada akhir pekerjaan, BKM berkewajiban
menyerahkan laporan akhir penyelesaian pekerjaan kepada PJOK dan KMW.
(j) Menjamin bahwa dalam proses pengajuan usulan, penilaian kelayakan, persetujuan
usulan, hingga pelaksanaan kegiatan maupun pemeliharaan kegiatan senantiasa
didasarkan pada penerapan prinsip dan nilai PNPM MANDIRI PERKOTAAN secara
konsisten oleh segenap pelaku di tingkat masyarakat, KSM/Panitia, UPL dan BKM.
(k) Menjamin bahwa pelaksanaan usulan-usulan kegiatan pembangunan atau
rehabilitasi prasarana lingkungan dan permukiman, didasarkan pada pedoman
pengadaan, pedoman pembebasan lahan dan penampungan serta pedoman
lingkungan sebagaimana diatur Panduan PNPM MANDIRI PERKOTAAN dan/atau
peraturan perundangan yang berlaku.
(l) Menjamin bahwa usulan-usulan kegiatan yang akan dilaksanakan dari bantuan dana
BLM PNPM MANDIRI PERKOTAAN adalah bukan kegiatan yang termasuk dalam
daftar kegiatan yang dilarang di PNPM MANDIRI PERKOTAAN (negatif list).
(m) Menjamin bahwa pelaksanaan usulan kegiatan didasarkan padat karya atau
dengan cara lain yang membuka peluang kesempatan kerja seluas-luasnya bagi
masyarakat miskin di lokasi kegiatan.
2. Tanggung jawab KSM/Panitia
(a) Menjamin dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan usulan, pedoman lingkungan
dan pedoman pembebasan lahan dan penampungan (jika diperlukan, dilampirkan di
perjanjian ini).
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 63
(b) Menjamin bahwa dalam keseluruhan pelaksanaan kegiatan di KSM/panitia, sejak
tahap penyusunan usulan kegiatan hingga pelaksanaan dan pemeliharaan kegiatan,
senantiasa didasarkan pada prinsip dan nilai serta ketentuan PNPM MANDIRI
PERKOTAAN.
(c) Menjamin bahwa kegiatan yang akan dilaksanakan dari bantuan dana BLM PNPM
MANDIRI PERKOTAAN adalah bukan kegiatan atau hal-hal yang termasuk dalam
daftar kegiatan yang dilarang di PNPM MANDIRI PERKOTAAN (negatif list).
(d) Melibatkan tim atau petugas teknis Organisasi Pemanfaat & Pemelihara Sarana &
Prasarana yang telah dibentuk sebelumnya oleh KSM/Panitia dalam pelaksanaan
pekerjaan.
(e) Menjamin bahwa hasil keseluruhan pekerjaan yang dilaksanakan berkualitas baik,
sarana dan prasarana tersebut berfungsi dengan baik dan dibentuk organisasi
pengelola pemanfaat dan pemelihara sehingga dapat bermanfaat minimal sampai 3
(tiga) tahun kedepan.
(f) Menjamin pengelolaan pelaksanaan pekerjaan dan pemeliharaan dan
pengembangan hasil-hasil kegiatan yang telah dibangun, dilaksanakan secara
bertanggungjawab, transparan dan akuntabel.
(g) Menjamin keterbukaan terhadap pemeriksaan keuangan yang ditentukan oleh BPKP,
maupun pemeriksa keuangan independen yang diundang oleh BKM. Jika hasil
pemeriksaan menunjukkan adanya penyimpangan penggunaan dana maka
KSM/panitia wajib mengembalikan dana dimaksud, sejumlah perhitungan
penyimpangan yang telah terjadi. KSM/Panitia wajib menyimpan catatan, laporan
dan bukti-bukti pengeluaran berkaitan dengan PNPM MANDIRI PERKOTAAN
selama jangka waktu 3 tahun.
(h) Menjamin bahwa dilakukan sosialisasi atau publikasi rencana kegiatan dan hasil-
hasilnya (termasuk rencana anggaran dan penggunaannya) kepada masyarakat
melalui papan-papan informasi PNPM atau media lainnya yang ada dimasyarakat.
(i) Namun demikian, KSM/Panitia diperkenankan untuk tidak melaksanakan kegiatan
setelah dana diterima, jika:
1) Terjadi force majeure, yaitu suatu kejadian yang mengganggu atau merusak
pekerjaan di luar kemampuan pengendalian KSM/Panitia. Dalam keadaan
demikian, KSM/Panitia wajib melaporkan kepada BKM untuk dibahas dan
ditetapkan dalam Rapat Anggota BKM. Selanjutnya BKM melaporkan kepada
KMW dalam batas waktu 7 hari setelah Rapat Anggota BKM dimaksud dan
keputusan harus diambil KMW dalam batas waktu 14 hari;
2) Terdapat tanda-tanda yang menunjukkan bahwa sebaiknya kegiatan itu
dibatalkan. Dalam keadaan demikian, maka keputusan dimaksud harus
dilaporkan kepada KMW dalam batas waktu 7 hari dan keputusan diambil dalam
batas waktu 14 hari;
Untuk berbagai kasus di atas, pencairan dana selanjutnya akan ditinjau kembali.
Peninjauan kembali pencairan dana dapat juga terjadi jika KSM/Panitia melalaikan
kewajiban dan/atau kegiatannya. Dalam keadaan demikian, maka KMW harus
mempelajari dan menentukan langkah-langkah selanjutnya.

3. Tanggung jawab KMW:


(a) Memfasilitasi penyiapan usulan kegiatan oleh masyarakat dalam hal ketepatan
sasaran, kesesuaian dengan prinsip dan nilai PNPM MANDIRI PERKOTAAN, serta
pembelajaran masyarakat untuk membuat usulan kegiatan berdasarkan
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 64
kebutuhannya, khususnya dalam kegiatan Survey & Investigasi, RAB, Detailed
Engineering Design (DED), penyusunan Proposal Kegiatan dan lainnya sehingga
dapat menjamin capaian masa pemanfaatan minimal 3 tahun (kualitas baik,
prasarana fungsi dan dapat dipelihara oleh masyarakat).
(b) Memfasilitasi penguatan kapasitas UPL untuk mampu memberikan fasilitasi dan
bimbingan (teknis, administrasi, keuangan, dan lingkungan) baik selama tahap
persiapan, perencanaan teknis, pelaksanaan maupun pemeliharaan kepada
KSM/Panitia.
(c) Menilai dan memberikan rekomendasi terhadap proses dan hasil penilaian kelayakan
oleh UP apakah telah memenuhi kesesuaian dengan prinsip dan nilai PNPM
MANDIRI PERKOTAAN serta standard penilaian kelayakan proposal/usulan
kegiatan;
(d) Mengawasi dan memfasilitasi proses prioritas dan persetujuan usulan kegiatan yang
dilakukan oleh BKM.
(e) Membantu BKM dan PJOK dalam memproses administrasi pencairan dana.
(f) Melakukan pendampingan dan pengawasan pelaksanaan kegiatan fisik dilapangan.
(g) Melaksanakan pengecekan keabsahan pengeluaran BKM dan KSM-KSM/panitia
serta menandatangani dokumen pembayaran.
(h) Menyelesaikan perbedaan-perbedaan pendapat yang mungkin terjadi antara KSM
dan BKM berdasarkan bukti-bukti faktual dan perjanjian yang ada.
(i) Mengadakan penyesuaian biaya bila terjadi perubahan dalam rincian awal pekerjaan,
dan perubahan ini dibenarkan oleh KMW. Perubahan spesifikasi pekerjaan ini harus
dituangkan dalam Perjanjian Tambahan/Amanademen.
(j) Senantiasa menjaga konsistensi penerapan prinsip dan asas PNPM MANDIRI
PERKOTAAN oleh masyarakat, KSM/Panitia, UPL dan BKM dalam keseluruhan
proses kegiatan PNPM MANDIRI PERKOTAAN di wilayah itu.
(k) Menjamin bahwa kegiatan yang disetujui telah memenuhi Pedoman Pembebasan
Lahan dan Penampungan, dan Rencana Pengelolaan Lingkungan, jika diharuskan,
atau persyaratan teknis lainnya, sebagai prasyarat pencairan dana.
(l) Bersama dengan PJOK, melakukan verifikasi dan penilaian terhadap kinerja BKM
maupun pencapaian hasil keseluruhan kegiatan KSM/Panitia sebagai dasar
pertimbangan untuk memberikan rekomendasi pembayaran dana tahap berikutnya.
(m) Memfasilitasi BKM sedemikian rupa sehingga menjamin BKM memiliki kemampuan
untuk berkelanjutan (sustainability) dan mandiri.
C. Sanksi
1. Sanksi Terhadap Penyimpangan Ketentuan Teknis PNPM MANDIRI
PERKOTAAN:
(a) Definisi Penyimpangan Ketentuan Teknis PNPM MANDIRI PERKOTAAN
(1) Dimaksud dengan penyimpangan ketentuan teknis PNPM MANDIRI
PERKOTAAN adalah tindakan dan kegiatan yang dilaksanakan oleh PIHAK
KEDUA yang tidak sesuai atau bertentangan dengan Buku-Buku
Pedoman/Petunjuk PNPM MANDIRI PERKOTAAN, ketentuan-ketentuan yang
ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Pemimpin Proyek PNPM
MANDIRI PERKOTAAN, serta ketentuan-ketentuan yang diatur di SPPD-L ini
beserta lampirannya.
(2) Termasuk penyimpangan ketentuan teknis PNPM MANDIRI PERKOTAAN dalam
hal ini, antara lain ialah: ketidaksesuaian terhadap prinsip dan nilai PNPM
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 65
MANDIRI PERKOTAAN, ketidaksesuaian dengan tujuan dan sasaran PNPM
MANDIRI PERKOTAAN, ketidakmampuan mengelola dana lingkungan sesuai
dengan prinsip standard, dan bentuk-bentuk penyimpangan lainnya, dengan
indikator-indikator antara lain:
o Terdapat indikasi bahwa prinsip dan nilai PNPM MANDIRI PERKOTAAN tidak
dapat dilaksanakan oleh PIHAK KEDUA secara taat asas dan konsisten;
dan/atau
o Pelaksanaan kegiatan oleh PIHAK KEDUA tidak melibatkan dan/atau tidak
bermanfaat bagi kepentingan perbaikan kesejahteraan masyarakat miskin;
dan/atau
o Pencapaian kemajuan Pekerjaan KSM/Panitia tidak memuaskan dalam kurun
waktu pelaksanaan yang telah ditetapkan; dan/atau
o Diketemukan indikasi adanya penyalahgunaan wewenang dan keputusan
dalam penggunaan dana bantuan PNPM MANDIRI PERKOTAAN; dan/atau
o Tidak terdapat indikasi potensi keberlanjutan (sustainability) kegiatan; dan/atau
o Terdapat indikasi bahwa PIHAK KEDUA mengabaikan tanggungjawab dan
kewajibannya sesuai dengan ketentuan dalam SPPD-L ini beserta
lampirannya.
(b) Sanksi Selama Masa Proyek PNPM MANDIRI PERKOTAAN
(1) Sanksi Penghentian Bantuan Yang Bersifat Sementara
i. Apabila berdasarkan penilaian KMW dan PJOK, PIHAK KEDUA dinilai
melakukan penyimpangan ketentuan teknis PNPM MANDIRI PERKOTAAN,
maka PIHAK PERTAMA berhak menghentikan bantuan untuk sementara waktu
sampai batas waktu yang ditetapkan oleh PIHAK PERTAMA.
ii. Selama penghentian bantuan sementara waktu tersebut, PIHAK KEDUA diberi
kesempatan untuk memperbaiki kinerjanya hingga telah dapat memenuhi
ketentuan teknis PNPM MANDIRI PERKOTAAN, sebagaimana ditetapkan pada
Buku-Buku Pedoman PNPM MANDIRI PERKOTAAN, SPPD-L beserta
lampirannya dan ketentuan-ketentuan lain yang ditetapkan Pemerintah
Indonesia.
iii. Selama penghentian bantuan sementara waktu tersebut, PIHAK PERTAMA
berhak menunjuk pihak tertentu untuk melakukan pemeriksaan maupun
langkah-langkah lainnya yang dianggap perlu agar ketentuan teknis PNPM
MANDIRI PERKOTAAN dapat dilaksanakan dengan baik oleh PIHAK KEDUA.
iv. Termasuk kategori sanksi penghentian yang bersifat sementara ini adalah
penundaan atau penghentian sementara pelaksanaan kegiatan, penundaan
atau penghentian sementara pembayaran dana BLM tahap berikutnya dan
tindakan lain yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia.
(2) Sanksi Penghentian Bantuan Yang Bersifat Tetap/Permanen
i. Dalam hal setelah diberi kesempatan untuk memenuhi ketentuan teknis PNPM
MANDIRI PERKOTAAN, dengan difasilitasi oleh KMW ataupun bentuk bantuan
teknis lainnya yang diberikan oleh PIHAK PERTAMA, ternyata PIHAK KEDUA
dinilai masih tidak mampu memenuhi ketentuan teknis yang berlaku di PNPM
MANDIRI PERKOTAAN sampai batas waktu yang ditetapkan, maka PIHAK
PERTAMA berhak menghentikan pencairan dana bantuan PNPM MANDIRI
PERKOTAAN secara tetap/permanen di KSM/Panitia tersebut.
ii. Melalui penghentian pencairan dana bantuan PNPM MANDIRI PERKOTAAN
yang bersifat tetap/permanen, maka PIHAK PERTAMA berhak untuk menunjuk
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 66
pihak lain untuk melaksanakan, menyelesaikan, memperbaiki pekerjaan
dimaksud. Hal ini berarti bahwa PIHAK KEDUA tidak diperkenankan lagi
diikutsertakan dalam pelaksanaan PNPM MANDIRI PERKOTAAN.
2. Sanksi Terhadap Penyimpangan atau Penyalahgunaan Dana Bantuan PNPM :
(a) Definisi Penyimpangan atau Penyalahgunaan Dana Bantuan PNPM Mandiri
Perkotaan :
1) Dimaksud dengan penyimpangan atau penyalahgunaan Dana Bantuan PNPM
MANDIRI PERKOTAAN adalah penggunaan, pengelolaan dan pemanfaatan dana
bantuan PNPM MANDIRI PERKOTAAN yang tidak sesuai dengan ketentuan yang
ditetapkan dalam PNPM MANDIRI PERKOTAAN, ketentuan yang ditetapkan oleh
Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Satker PNPM, serta ketentuan-ketentuan
yang diatur di SPPD-L ini beserta lampirannya.
2) Termasuk penyimpangan atau penyalahgunaan Dana Bantuan PNPM MANDIRI
PERKOTAAN dalam hal ini, antara lain ialah:
o Dana Bantuan PNPM MANDIRI PERKOTAAN digunakan atau dimanfaatkan
untuk kegiatan fiktif; dan/atau
o Dilakukan potongan dana Bantuan PNPM MANDIRI PERKOTAAN yang
disalurkan kepada KSM/Panitia atau masyarakat yang tidak sesuai dengan
ketentuan PNPM MANDIRI PERKOTAAN; dan/atau
o Menggelapkan atau Melarikan Dana Bantuan (BLM) PNPM MANDIRI
PERKOTAAN; dan/atau
o Penggunaan dana yang tidak dapat dipertanggungjawabkan; dan/atau
o Bentuk-bentuk penyalahgunaan dana bantuan (BLM) PNPM MANDIRI
PERKOTAAN lainnya.
(b) Sanksi Selama Proyek PNPM MANDIRI PERKOTAAN
1) Sanksi Penghentian Sementara Bantuan PNPM MANDIRI PERKOTAAN dan
Audit Khusus
i. Apabila terdapat indikasi bahwa PIHAK KEDUA melakukan penyimpangan
atau penyalahgunaan dana bantuan PNPM-PNPM MANDIRI PERKOTAAN,
Pemerintah Indonesia, dalam Satker PNPM-PNPM MANDIRI PERKOTAAN
Pusat berhak melakukan penghentian kegiatan dan bantuan PNPM-PNPM
MANDIRI PERKOTAAN untuk sementara waktu di wilayah bersangkutan.
ii. Selama masa penghentian bantuan sementara tersebut Pemerintah Indonesia,
dalam hal ini Satker PNPM-PNPM MANDIRI PERKOTAAN, berhak menunjuk
auditor independent untuk melakukan audit khusus kepada PIHAK KEDUA.
2) Sanksi Penghentian Bantuan PNPM MANDIRI PERKOTAAN dan Tindakan
Hukum
i. Apabila berdasarkan hasil audit khusus tersebut menunjukkan secara nyata
adanya penyimpangan atau penyalahgunaan dana bantuan PNPM MANDIRI
PERKOTAAN, maka PIHAK PERTAMA menghentikan kegiatan dan bantuan
PNPM MANDIRI PERKOTAAN secara tetap
ii. PIHAK PERTAMA berhak untuk melakukan tindakan hukum sesuai dengan
ketentuan hukum yang berlaku
iii. PIHAK KEDUA berkewajiban untuk mengembalikan dana bantuan PNPM
MANDIRI PERKOTAAN kepada Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Satker
PNPM MANDIRI PERKOTAAN Pusat, untuk selanjutnya disetor ke kas
negara, sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 67
D. Berlaku Jujur, Adil, Transparan dan Akuntabel
Para Pihak yang terikat dalam SPPD-L ini harus berlaku jujur, menghormati hak-hak
pihak lain, transparan, akuntabel serta harus menjalankan semua keputusan-keputusan
yang telah disepakati untuk merealisasikan SPPD-L ini.
E. Perubahan Kegiatan Pekerjaan
1). Apabila menurut penilaian KMW atau PJOK, terdapat perbedaan yang signifikan
antara kondisi lapangan pada saat pelaksanaan dengan gambar dan spesifikasi yang
ditentukan dalam dokumen perjanjian atau jika setelah pekerjaan dinyatakan selesai
100%, tetapi masih terdapat kelebihan sisa dana nilai perjanjian maka PIHAK
PERTAMA dan Kedua yang telah disetujui KMW dapat melakukan perubahan
perjanjian, yang meliputi antara lain :
a. menambah atau mengurangi volume pekerjaan yang tercantum dalam perjanjian.
b. mengurangi atau menambah jenis pekerjaan.
c. mengubah spesifikasi pekerjaan sesuai dengan kebutuhan lapangan.
d. melaksanakan pekerjaan tambah yang belum tercantum dalam perjanjian yang
diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan.
2). Pekerjaan Tambah dilaksanakan dengan pertimbangan tidak ada dana tambahan
atau tetap mengioptimalkan dana yang tercantum dalam nilai surat perjanjian SPPD-
L yang telah ada.
3) Perintah perubahan pekerjaan dibuat oleh PIHAK PERTAMA secara tertulis kepada
PIHAK KEDUA setelah mendapat persetujuan KMW, ditindak lanjuti dengan verifikasi
teknis dan harga dengan tetap mengacu pada ketentuan-ketentuan yang tercantum
dalam perjanjian awal.
4) Hasil verifikasi teknis dan harga tersebut dituangkan dalam Berita Acara sebagai
dasar penyusunan adendum perjanjian.
F. Penyelesaian Perselisihan
1. Penyelesaian Secara Musyawarah:
Para Pihak yang akan mencari jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan setiap
perselisihan yang timbul, atau perselisihan yang berhubungan dengan pasal-pasal
dalam SPPD-L ini atau perselisihan yang timbul karena penafsiran atas SPPD-L ini .

2. Penyelesaian Sesuai Ketentuan Hukum Yang Berlaku:


Jika terjadi perselisihan yang timbul diantara para pihak dalam SPPD-L ini yang tidak
dapat diselesaikan secara musyawarah dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari setelah
diterima oleh satu pihak dari pihak yang lain, permintaan penyelesaian masalah dapat
dimintakan oleh salah satu pihak untuk diselesaikan sesuai dengan ketentuan hukum
yang berlaku.

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 68


CONTOH BENTUK FORMULIR SERTIFIKASI Form : S.1

SERTIFIKASI INFRASTRUKTUR
Nama KSM/Panitia : …………………………... Desa/Kelurahan : ……………………………….
Jenis Kegiatan : . ..……………………….. Kecamatan : ……………………………....
Volume : . ..……………………….. Kota/Kabupaten : ……………………………….
Progres Fisik : . ..………… % KMW/Provinsi : ……………………………….

Berilah tanda (√) pada Kolom ”Ya/Tidak” yang sesuai


PENILAIAN
No BUTIR SERTIFIKASI CATATAN
YA TIDAK
A. CAPAIAN KUALITAS PROSES & PEMANFAATAN
1 Apakah Panitia sudah memperoleh pelatihan/coaching mengenai cara
perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi dan pemeliharaan ?
2 Apakah kelayakan Teknik Kegiatan Panitia telah diverifikasi dan disetujui
oleh Tim KMW ?
3 Apakah Panitia melakukan pemeriksaan terhadap kesesuaian bahan yang
diterima dengan spesifikasi teknik/contoh yang disetujui konsultan ?
4 Apakah pekerjaan dilaksanakan oleh tenaga kerja/tukang yang memahami
cara melakukan pekerjaan?
5 Apakah kelengkapan Bangunan yang dibuat dapat memberikan
keamanan/kenyamanan bagi pemakai ?
6 Apakah bangunan dapat berfungsi/bermanfaat ?
7 Apakah prosedur penanganan dampak telah dilaksanakan dengan
baik/terpenuhi? (Jawaban pertanyaan ini berdasarkan hasil ceklist
pengamanan dampak/Form 5,Proposal)
8 Apakah ada Surat Pernyataan Kesanggupan Pemanfaatan & Pemeliharaan
Prasarana dari Panitia ?
9 Apakah Panitia telah membentuk dan menyepakati Organisasi Pengelola
Pemanfaatan & Pemeliharaan Prasarana ?
10 Apakah Panitia telah membuat dan menyepakati Rencana Kerja
Pemeliharaan?
B. CAPAIAN KESESUAIAN VOLUME & KUALITAS PEKERJAAN
Total Realisasi Volume Pekerjaan s.d saat ini adalah ...................... dan hasil Pemeriksaan Kegiatan sbb :
KESESUAIAN
No URAIAN KEGIATAN CACAT & KEKURANGAN REKOMENDASI PERBAIKAN
VOLUME

1
2
3
4
5
6
7
8
9
Dst
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 69
C. PEMANFAATAN DANA BLM & CAPAIAN SWADAYA MASYARAKAT

a. Nilai BLM (SP3 s.d perubahan. terakhir (bila ada)) : Rp. ……...……….........
b. Jumlah dana SP3 yang telah terserap dari BKM : Rp………………...........

c. Sisa dana SP3 (a-b) : Rp……..………............

d. Jumlah Nilai Target Swadaya : Rp. ……...……….........


e. Jumlah Nilai Realisasi Swadaya : Rp………………...........
f. Prosen Raealisasi Swadaya terhadap total nilai Kegiatan (dx100/e) : ........... %

Kesimpulan & Rekomendasi :

Demikian hasil Sertifikasi ini dibuat dalam keadaan yang sebenarnya dan apabila dikemudian hari
ditemukan ada ketidaksesuaian maka bersedia mempertanggungjawabkan dan menerima sanksi
sesuai ketentuan yang ada.
............................, ......... - ............. – 200....

Tim Sertifikasi :
Faskel Teknik U P L, Ketua KSM

(…………………………) (…………………………) (…………………………)

Askorkot Infra

(…………………………)

Catatan : Lampirkan Copy Ceklist Daftar Uji Identifikasi Lingkungan yang telah terisi

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 70


BERITA ACARA PENYELESAIAN PEKERJAAN (BAP2)

Nomor : …………………………………………..

Pada hari ini,…………tanggal …………………bulan …….tahun...…… kami yang


bertanda-tangan dibawah ini masing-masing :

1. N a m a : ……………………………………
Jabatan : Koordinator BKM/UPL*) : ……..…………………………….,
Kel/Desa………………… Kecamatan………………………….
Kab. …….……………
Alamat : …………………………………………………………………..
Untuk selanjutnya disebut sebagai PIHAK PERTAMA

2. N a m a : …………………………………..
Jabatan : Ketua KSM : …………………………………..,
Kel/Desa………………… Kecamatan………………………….
Kab. …….……………
Alamat : …………………………………………………………………..
Untuk selanjutnya disebut sebagai PIHAK KEDUA
Berdasarkan :

b. Surat Perjanjian Pemanfaatan Dana Lingkungan (SPPD-L)/Perubahan terakhir :


Nama Pekerjaan : ……………………………………
Volume (sesuai : ……………………………………
perubahan terakhir)
Nomor : ……………………………………
Tanggal : ……………………………………

c. Laporan Dwi-Mingguan Terakhir


Nomor : ……………………………………
Tanggal : ……………………………………
Kemajuan Pelaksanaan Pekerjaan sampai saat ini sebesar…….…… %

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan yang telah dilakukan bersama-sama oleh UPL,
pihak KSM dan Konsultan Manajemen Wilayah (TA/Infra/Askot Infra/Faskel Teknik*),
disepakati :
1. KSM Telah Membentuk Organisasi (Pengelola) Pemanfaatan & Pemeliharaan dan
bertanggungjawab atas pelaksanaan pemeliharaan Infrastruktur yang telah dibangun;
2. Status Penyelesaian Fisik Pekerjaan yang telah dicapai, adalah *) :
a. Realisasi fisik seluruh pekerjaan telah selesai 100%;
b. Realisasi fisik seluruh pekerjaan telah selesai 100%, namun masih perlu
dilakukan penyempurnaan pada beberapa pekerjaan berikut :

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 71


No Jenis Pekerjaan Pekerjaan yang perlu disempurnakan
1
2
3
4
5
dst
Penyempurnaan pekerjaan tersebut diatas akan diselesaikan oleh KSM/Panitia,
selambat - lambatnya tanggal ………………. atau sebelum dilaksanakan Laporan
Pertanggungjawaban KSM.

3. Status pencairan dana BLM pada saat pemeriksaan sebagai berikut :


a) Nilai SPPD-L (s.d perubahan terakhir (bila ada)) : Rp. ……...………....
b) Jumlah dana SPP-L yang telah terserap dari BKM : Rp……………….....

c) Sisa dana SPP-L (a-b) : Rp……..……….......


4. Capaian atas kemanfaatan/fungsi infrastruktur yang dibangun terhadap tujuan
awalnya*) :
Tercapai Tidak Tercapai
Demikian Berita Acara ini kami buat rangkap …….(…..) dalam keadaan sehat dan tanpa
ada unsur paksaan dari pihak manapun, untuk dipergunakan seperlunya dan dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya.

PIHAK KEDUA PIHAK PERTAMA


KSM, BKM/UPL*),

(..………………….……….) (..………………….……….)

Disetujui Oleh Mengetahui


Konsultan Manajemen Wilayah P J O K,

(..………………….……….) (..………………….……….)
TA. Infra/Askot Infra/Faskel Teknik*)
Keterangan :
*) pilih yang sesuai
Lampirkan Copy Formulir Sertifikasi yang telah terisi

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 72


SURAT PERNYATAAN PENYELESAIAN PEKERJAAN BLM (SP3 BLM)

Kelurahan/Desa : ___________________
Kecamatan : ___________________
Kotamadya/Kabupaten : ___________________
SWK :___________________

Yang bertandatangan di bawah ini, Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat dan


Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat *) ………………………… di Kelurahan
sebagaimana dimaksud di atas, dengan ini secara bersama-sama menyatakan bahwa
pelaksanaan kegiatan ………………..........…… oleh Kelompok Swadaya Masyarakat
tersebut, telah mencapai kemajuan 100% sebagaimana dalam Proposal yang disetujui.

Dengan selesainya pelaksanaan kegiatan tersebut, maka tanggungjawab


“pengoperasian dan pemeliharaan prasarana berada di tangan Tim Pemelihara
(masyarakat) dibawah pendampingan UPL” .

Yang Membuat Pernyataan,


KSM/Panitia………………….. Badan Keswadayaan Masyarakat

(___________________________) (____________________)
Ketua/Penanggungjawab Koordinator,

Pernyataan KMW,
Kami telah meneliti Surat
Pernyataan di atas dan
dengan ini menyatakan turut
bertanggung jawab atas
kebenaran isinya

(_____________________)
Nama jelas dan tandatangan Team
Leader/Koorkot serta cap KMW

(* Coret yang tidak perlu)

Catatan : Format ini merupakan bagian harus dilengkapi untuk pencairan Dana BLM tahap II dan tahap
III, dibuat sesuai jumlah KSM atau panitia prasarana yang telah menerima dana BLM PNPM MANDIRI-
P2KP tahap sebelumnya.
Selanjutnya Format ini harus tersimpan di BKM dan tersedia setiap saat dilakukan pemeriksaan. Untuk
kelengkapan dokumen pencairan BLM, cukup dibuat Berita Acara Pernyataan Penyelesaian
Pekerjaan (BA PPP) yang didasarkan pada SP3 di atas

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 73


Contoh Bentuk Laporan Kemajuan Kegiatan (Dwi-Mingguan)

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 74


Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 75
Contoh Bentuk Laporan Akhir/Pertanggungjawaban

A. USULAN KEGIATAN

Kota/Kabupaten :
Kecamatan :
Kelurahan/Desa :
Nama BKM :
Jumlah Pengurus & Anggota
Nama KSM/Panitia
KSM/Panitia (Org)
KSM/Panitia : L P Jumlah

Kegiatan : Lingkungan

Nama Pekerjaan :

Volume :
Pekerjaan

Alasan :
Pembangunan
Prasarana

Lokasi : Dusun/RT/RW : ……………..........................


Pekerjaan Kelurahan/Desa : ……………..........................

Penerima : Jumlah : ……...... KK Miskin : ……...... KK Miskin : …...... %


Manfaat

Metode : Gotong Semi Gotong Kerjasama


Konstruksi Royong Royong Pihak Ketiga

Status
Tanah/Lokasi
Kegiatan

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 76


Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 77
Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 78
Seterusnya............ Laporan Pembukuan Keuangan dan Bukti/Kuitansi

Seterusnya............ Laporan Pembukuan Keuangan dan Bukti/Kuitansi

Halaman berikutnya diisi dengan Laporan Pembukuan


Keuangan dan Bukti/Kuitansi Belanja KSM (Asli)

Bagian 2. Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Sarana & Prasarana 79