Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS OBAT, MAKANAN DAN KOSMETIKA

PERCOBAAN ANALISIS HIDROKUINON PADA KRIM DOKTER

Disusun oleh : Kelompok 6


Kelas: VI C

Ayu Putri Lestari 11194761920290


Aulia Rahmah Triastanti 11194761920289
Maria Dwi Ayu Listiawati 11194761920305
Ni Nyoman Risnayanti 11194761920314
Ota Priadi 11194761920319
Saridah Marhani 11194761920325

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MULIA
BANJARMASIN
2021
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................................1
A. Latar Belakang.......................................................................................................1
B. Kompetensi Praktikum...........................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................3
A. Deskripsi Bahan.....................................................................................................3
BAB III METODE PRAKTIKUM.........................................................................................4
A. Alat.........................................................................................................................4
B. Bahan.....................................................................................................................4
C. Prosedur Kerja........................................................................................................4
BAB IV HASIL..................................................................................................................7
BAB V PEMBAHASAN.....................................................................................................9
BAB VI KESIMPULAN....................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................12

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Kosmetik adalah bahan atau sediaan yang digunakan pada bagian luar tubuh
manusia terutam untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan
memperbaiki atau melindung tubuh serta memelihara tubuh dalam kondisi baik
(BPOM RI, 2008).
Krim merupakan bentuk sediaan setengah padat yang mengandung satu atau
lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai (Depkes
RI, 1995). Kosmetik ini hanya terdiri dari zat pewarna dan pembawa saja. Salah
satu jenis kosmetik adalah krim pemutih. Krim pemutih kulit adalah sediaan
kosmetika yang berbentuk krim, merupakan campuran bahan kimia atau bahan
lainnya yang digunakan untuk memucatkan noda hitam/coklat pada kulit. Bahan-
bahan pemutih berbahaya seperti hidrokuinon dan merkuri yang terdapat pada
produk kosmetik (BPOM RI, 2007).
Hidrokuinon merupakan senyawa kimia berupa kristal putih berbentuk
jarum, tidak berbau, rumus kimia C6H4(OH)2 dengan nama kimia 1, 4-benzendiol
atau quinol dan mengalami oksidasi terhadap cahaya dan udara. Senyawa ini
digunakan sebagai bahan pemutih dan pencegahan pigmentasi yang bekerja
menghambat enzim tirosinase yang berperan dalam penggelapan kulit (Mansur,
2015).
Sediaan kosmetik seperti krim yang berfungsi sebagai pemutih kulit masih
beredar sebagai kosmetik yang digemari, oleh karena itu bahan-bahan yang dapat
digunakan sebagai pemutih kulit banyak diteliti dan dikembangkan. Salah satu
bahan pemutih kulit yang terkenal dan telah banyak digunakan adalah
hidrokuinon (Carissa, 2014). Komposisi utama dari kosmetik adalah bahan dasar
yang berkhasiat, bahan aktif ditambah bahan tambahan lain seperti bahan
pewarna, dan bahan pewangi. Pada pencampuran tersebut harus memenuhi kaidah

1
pembuatan kosmetik ditinjau dari berbagai segi teknologi pembuatan kosmetik
termasuk farmakologi, farmasi, kimia teknik dan lainnya (Wasitaatmadja, 1997).
Hidrokuinon dalam kosmetik mampu mengelupas kulit bagian luar dan
menghambat pembentukan melanin yang membuat kulit tampak hitam.
Penggunaan krim hidrokuinon dibawah 1% dalam produk pencerah kulit untuk
mengontrol hiperpigmentasi telah dianggap aman dan efektif. Hidrokuinon
dengan kandungan diatas 2% dikategorikan sebagai bahan berbahaya bagi
kesehatan dan bersifat toksik bagi tubuh (Rubiyati, 2018).
Berdasarkan permasalahan di atas kami tertarik untuk melakukan
penelitian menganalisis kadar hidrokuinon pada krim pemutih.

B. Kompetensi Praktikum

1. Memahami prinsip-prinsip metode analisis hidrokuinon.


2. Menganalisis hidrokuinon pada produk kosmetik yang beredar di Banjarmasin

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Deskripsi Bahan

1. FeCl3
Pemerian : Hablur biru, tidak berasa, tidak berbau
Stabilitas : Besi (III)klorida relatif stabil
Kelarutan : Larut didalam air dingin
Ph : Asam
Berat Molekul : 162,21 gram/mol.
2. Aquadest
Nama lain : Aqua Destilata
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
mempunyai rasa
Rumus kimia : H2O
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan cegah pemaparan
terhadap panas berlebih
Kegunaan : Pelarut
3. Etanol
Rumus Molekul :  C2H5OH
Pemerian : Cairan tak berwarna dengan bau yang khas
Kelarutan : Larut dalam air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
4. Metanol

Rumus Molekul / BM : CH3OH / 34,00.


Pemerian : Cairan tidak bewarna, jernih, bau khas.
Kelarutan :Dapat bercampur dengan air, membentuk cairan jernih
dan tidak berwarna.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup.

3
Kegunaan : Sebagai pereaksi.

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah:


1. Spektrofotometer UV-Vis
2. Kromatografi Lapis Tipis
3. Silica Gel
4. Pipet
5. Labu takar
6. Pipa Kapiler
7. Alat-alat gelas

B. Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah:


1. Krim Dokter
2. Hidrokuinon
3. FeCl3
4. Methanol
5. Etanol
C. Prosedur Kerja

1. Uji Kualitatif Hidrokuinon

a. Uji Pereaksi Warna (FeCl3)


Sampel krim ditimbang sebanyak 0,1 gram, dilarutkan dengan etanol
96% sebanyak 5 ml sampai larut

4
kemudian ditambahkan 4 tetes FeCl3 1%.

Sampel positif mengandung hidrokuinon ditunjukkan dengan perubahan


warna hijau sampai hitam.

2. Uji Kuanitatif Hidrokuinon


a. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum

Pipet 2,8 ml dari larutan baku 50 ppm dan dimasukkan dalam labu
ukur 10 ml.

Kemudian diencerkan dengan larutan metanol sampai tanda batas

Kocok hingga didapat hidrokuinon dengan konsentrasi 14 ppm

5
Larutan 14 ppm diukur pada panjang gelombang 200-400 nm.

b. Pembuatan Larutan Baku Hidrokuinon

Timbang Hidrokuinon sebanyak 5 mg dan dilarutkan dalam 2 ml


metanol. Larutan tersebut dipindah ke dalam labu ukur 100 ml

Tambahkan metanol sampai tanda batas 100 ml, dikocok larutan sampai
homogen, hingga diperoleh konsentrasi baku hidrokuinon 50 ppm dalam
methanol.

c. Pembuatan Kurva Standar

Pipet larutan baku 50 ppm sebanyak 0, 0,4, 0,8, 1,2, 1,6, 2,0 ml.
Dimasukkan masingmasing ke dalam gelas ukur 10 ml

Kemudian tambahkan dengan larutan methanol sampai tanda lalu


dikocok hingga homogen

Didapatkan larutan dengan konsentrasi 0, 2, 4, 6, 8, 10 ppm, kemudian


diukur pada panjang gelombang maksimum yang didapatkan pada
pengukuran panjang gelombang sebelumnya dan methanol sebagai
blanko.

6
d. Pengujian Sampel

Timbang 25 mg sampel krim pemutih

Kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml dan ditambahkan


methanol sampai tanda batas selanjutnya dilakukan pengocokan dan
disaring

Larutan sampel kemudian diambil 4 ml dan ditambahkan masing-masing


3 ml larutan teofilin dan larutan hidrokuinon. kemudian dikocok hingga
homogen

Selanjutnya sampel yang akan diuji dimasukkan ke dalam kuvet dan


dilihat spektrofotometri yang terbentuk pada panjang gelombang 200 –
400 nm

Kemudian dibandingkan dengan spektrum yang dibentuk oleh larutan


standar hidrokuinon dan larutan standar teofilin. Diukur pada panjang
gelombang maksimum yang didapatkan pada pengukuran panjang
gelombang sebelumnya.

7
BAB IV
HASIL

A. Analisis kualitatif Kromatografi Warna

no Larutan sampel Gambar

1. Sampel + FeCl3 a.
(Tidak ada perubahan warna yang terjadi b.
setelah Sampel (a) ditetesi dengan FeCl3,
Sedangkan jika sampel mengandung
hidrokuinon akan berubah menjadi warna
hijau sampai hitam seperti pada gambar (b).
Sehingga dapat dikatakan bahwa sampel
yang digunakan tidak mengandung
Hidrokuinon

B. Analisis kuantitatif Spektrofotometri uv-vis

8
a. Perhitungan
1. λ hidrokuinon = 200 nm – 400 nm
2. λ hidrokuinon di laboratorium = 293 nm ( 1000 ppm)
3. Perhitungan Konsentrasi Hidrokuinon
Tabel 4.1 Konsentrasi Hidrokuinon

No Konsentrasi Absorbansi
1 0 0,00
2 2 0,102
3 4 0,272
4 6 0,322
5 8 0,483
6 10 0,587

b. Perhitungan Konsentrasi Sampel produk dengan panjang gelombang 293 nm

Tabel 4.2 Konsentrasi Sampel produk kosmetik


No Absorbansi Konsentrasi (ppm)
1 0,363 6,16

c. Spektrofotometri UV-VIS Hidrokuinon

a = - 0,0005
b = 0,059
r = 0,994

y = b.x+a

x=y-a/b

9
x = 0,363 – (-0,0005) / 0,059

= 0,354 / 0,059

= 6,16 ppm

BAB V
PEMBAHASAN

Hidrokuinon merupakan zat aktif yang paling banyak digunakan dalam sediaan
pemutih wajah. Hal ini dikarenakan efektivitas kerja dari hidrokuinon yaitu dapat
menginaktivasi enzim tirosinase melalui penghambatan reaksi oksidasi enzimatik dari
tirosin ke 3,4-dihidroksifenilamin. Enzim tirosinase ini merupakan enzim utama
dalam pembentukan melanin, sehingga jika kerjanya dihambat maka jumlah pigmen
melanin pemberi warna kulit menjadi berkurang dan kulit menjadi lebih putih
(Wilkinson, 1982). Hidrokuinon lebih dari 2% termasuk golongan obat keras yang
hanya dapat digunakan berdasarkan resep dokter. Bahaya pemakaian obat keras ini

10
tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan iritasi kulit, kulit menjadi merah dan
rasa terbakar juga dapat menyebabkan kelainan pada ginjal (nephropathy), kanker
darah (leukemia) dan kanker sel hati (hepatocelluler adenoma). Pemakainan yang
lebih dapat menyebabkan iritasi kulit, namun jika dihentikan seketika akan berefek
lebih buruk (BPOM, 2007).

Tujuan dari penelitan ini adalah menganalisis adanya kandungan hidrokuinon


pada krim dokter. Krim pemutih adalah salah satu jenis kosmetik yang mengandung
zat aktif yang dapat menekan atau menghambat pembentukan melanin sehingga akan
memberikan warna kulit yang lebih putih. Hidrokuinon merupakan salah satu
senyawa aktif yang sering ditambahkan dalam krim pemutih. Hidrokuinon digunakan
sebagai pemutih dan pencegahan pigmentasi yang bekerja menghambat enzim
tirosinase yang berperan dalam penggelapan kulit. Krim yang mengandung
hidrokuinon akan terakumulasi dalam kulit dan dapat menyebabkan mutasi dan
kerusakan,sehingga kemungkinan pada pemakaian jangka panjangbersifat
karsinogenik (Ibrahim dkk., 2004).

Pada praktikum kali ini dilakukan analisis kandungan hidrokuinon pada krim
dengan metode analisis kualitatif (Uji Warna) dan analisis kuantitatif
(Spektrofotometri uv-vis). Uji dilakukan dengan menggunakan sampel yaitu Krim
siang racikan dokter, Uji Identifikasi Kualitatif Hidrokuinon dengan Reaksi Warna,
dimana Sampel krim ditimbang sebanyak 0,1 gram, dilarutkan dengan etanol 96%
sebanyak 5 ml sampai larut kemudian ditambahkan 4 tetes FeCl3 1%. Sampel positif
mengandung hidrokuion menunjukan dengan perubahan warna menjadi hijau sampai
hitam. Hasil yang kami dapatkan menghasilkan warna kuning tua pada Krim siang
Racikan Dokter yang menunjukan bahwa Krim tersebut tidak mengandung
hidrokuinon. Sedangkan pada uji melalui Spektrofotometer uv-vis yang merupakan
penentuan yang diuji pada panjang gelombang maksimum kisaran 200-400 nm. Dari
uji ini nilai abr yang kami dapatkan sebagai berikut, absorvias (a) pada sampel
adalah 0,0005, nilai absorvitas molar (b) yaitu sebesar 0,059 dan nilai koefisien

11
relasinya (r) adalah sebesar 0,994. Hasil tersebut kemudian dihitung dan dimasukkan
rumus persamaan garis y = a + bx untuk mendapatkan persamaan regrasi sebagai
berikut y=0,0005+0,059x. Dimana nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan
sebanding dengan konsentrasi sampel dengan absorbansinya adalah berbanding lurus.
Data yang didapatkan untuk 2ppm, 4ppm, 6ppm, 8ppm, dan 10ppm berturut-turut
adalah 0,102, 0,272, 0,322, 0,483, dan 0,587. Hasil yang kami dapatkan ini sudah
sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi suatu
senyawa dalam larutan, maka semakin banyak sinar yang diserap. Hal ini sesuai
dengan hukum Lambert Beer. dimana absorbansi akan berbanding lurus dengan
konsentrasi, karena b atau l harganya 1 cm dapat diabaikan dan merupakan suatu
tetapan. Artinya konsentrasi makin tinggi maka absorbansi yang dihasilkan makin
tinggi, begitupun sebaliknya konsentrasi makin rendah absorbansi yang dihasilkan
makin rendah. Penentuan panjang gelombang dilakukan pada larutan baku
Hidrokuinon yang diencerkan oleh methanol yang memilki panjang gelombang 293
nm sehingga didapat nilai absorbansi pada 0,363 untuk menentukan nilai konsentrasi
pada sampel 6,16. Maka dapat disimpulkan bahwa krim tersebut aman digunakan
karna tidak menunjukan adanya kandungan hidrokuinon pada kedua uji identifikasi
tersebut.

12
BAB VI
KESIMPULAN

Pada praktikum kali ini dilakukan analisis kandungan hidrokuinon pada krim
dengan metode analisis kualitatif (Uji Warna) dan analisis kuantitatif Spektrofotomrti
uv-vis). Hasil yang kami dapatkan pada uji warna menghasilkan warna kuning tua
menunjukan bahwa Krim tersebut tidak mengandung hidrokuinon serupa dengan .
Hasil ditetapkan pada panjang gelombang 293 nm dengan nilai absorbansi pada krim
dokter 0,363. Maka dapat disimpulkan bahwa kedua krim tersebut aman digunakan
karna tidak menunjukan adanya kandungan hidrokuinon pada kedua uji identifikasi
tersebut.

13
DAFTAR PUSTAKA

Arif, Mansyur. 2015. Penuntun Praktikum Hematologi. Universitas Hasanudin


Makassar.

Badan POM RI. 2007. Kenalilah Kosmetika Anda, Sebelum Menggunakannya.

14
Jakarta: BPOM RI.

BPOM RI. 2015. Peraturan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan
Republik Indonesia Nomor 18 tentang Teknis Persyaratan Bahan Kosmetik.
JakartaKepala BPOM RI.

Ibrahim, S., Damayanti, S., dan Riani, Y., 2004, Penetapan dan Keseksamaan Metode
Kalorimetri Menggunakan Pereaksi Floroglusin Untuk Penetapan Kadar
Hidrokuinon dalam Krim Pemucat, Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. 29
(1).

Rubiyati, S.A. 2016. Pengaruh Pemberian Hidrokuinon Terhadap Perkembangan


Fetus Mencit (Mus Musculus L) Swiss Webster. Jurnal Akademika
Baiturrahim. Vol 5 No 1. Hal. 1- 13

Wasitaatmadja, 1997, Penuntun Kosmetik Medik, Universitas Indonesia, Jakarta.

Wilkinson, J. B. dan Moore, R. J., 1982, Harry’s Cosmeticology, 7th Ed., 223-224

15

Anda mungkin juga menyukai