Anda di halaman 1dari 11

Komunitas 3 (1) (2011) : 40-50

JURNAL KOMUNITAS
http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/komunitas

Sistem Budaya Bahari Komunitas Nelayan Lungkak


Desa Tanjung Luar, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat

Fadly Husain 

Jurusan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Info Artikel Abstrak


Sejarah Artikel: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana sistem pengetahuan komunitas
Diterima Desember 2010 nelayan Lungkak sebagai salah satu kearifan lokal dan modal sosial dalam mengelo-
Disetujui Januari 2011 la dan memanfaatkan sumberdaya laut. Penelitian dilakukan dengan metode kuali-
Dipublikasikan Maret 2011
tatif dengan tipe penelitian deskriptif. Lokasi penelitian tersebut ditentukan secara
Keywords: purposive menurut pokok permasalahan penelitian yang dirumuskan. Data kualitatif
maritime culture; akan dikumpulkan melalui wawancara mendalam (In-depth Interview) dan pengama-
lombok island; tan terlibat (observation participation). Dalam penelitian ini pengolahan dan analisis
knowledge system. data dilakukan secara bersamaan dalam sebuah proses yang dilakukan secara terus
menerus sejak pengumpulan data dilakukan khususnya dalam proses pengorganisa-
sian, pemilihan, dan kategorisasi antar data dalam bentuk uraian naratif atau thick
description. Komunitas nelayan Lungkak mempunyai kearifan lokal berupa sistem
pengetahuan tentang pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya laut. Sistem peng-
etahuan ini berupa pengetahuan tentang biota laut bernilai ekonomi, pengetahuan
tentang tempat penangkapan dan posisi rumah ikan, pengetahuan tentang musim
(Pola musim dan waktu-waktu munculnya ikan), pengetahuan tanda-tanda di laut
dan di angkasa, pengetahuan tentang lingkungan sosial budaya, sistem keyakinan/
kepercayaan (upacara/ritual dan pantangan-pantangan).

Abstract
The purpose of this study was to determine how knowledge system of fishing community of
Lungkak as one of the local knowledge and social capital in managing and utilizing their
natural resources. The study was conducted with qualitative methods with the type of descriptive
research. The study site is purposively determined according to basic research problems
formulation. Qualitative data will be collected through in-depth interview and participation
observation. In this study the processing and data analysis carried out simultaneously in a
process that is conducted continuously since data collection is done especially in the organizing
process, selection, and categorization between data in the form of thick description or narrative
description. Fishing community of Lungkak has a system of local knowledge in management
and utilization of marine resources. Knowledge system is a knowledge of the economic value
of marine life, the knowledge of the location and the location of the house catching fish, the
knowledge of the seasons (winter pattern and emergence times of fish), the knowledge of the
signs at sea and in space, the knowledge of the socio-cultural environment, system of beliefs
(rituals and taboos).
© 2011 Universitas Negeri Semarang

Alamat korespondensi: ISSN 2086-5465
Gedung C7 Lantai 1 FIS UNNES
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail: fadly_husain@staff.unnes.ac.id
Fadly Husain / Komunitas 3 (1) (2011) : 40-50

Pendahuluan atau kearifan lokalnya (Folke : 2004). Seperti


halnya pada masyarakat nelayan yang bera-
Indonesia merupakan negara maritim sumsi bahwa interaksi manusia dengan lingkungan
terbesar di dunia. Menurut Badan Koor- lautnya berdasarkan atas pengetahuan dan konsep
dinasi Survey dan Pemetaan Nasional tahun yang dimiliki mengenai arti baik itu konsum-
2006, Indonesia memiliki luas laut sekitar tif maupun non-konsumtif dari sumberdaya
3.3 juta km2 (Badan Pusat Statistik : 2010). dan lingkungan dan fungsi serta manfaatnya
Dengan luas laut yang begitu besar, Indone- bagi kehidupannya (Lampe : 2003). Selanjutnya
sia menyimpan potensi sumberdaya kelautan menurut Lampe (2003) sebuah konsep baru
dan perikanan yang sangat penting bagi ma- muncul yaitu pentingnya kerjasama dan kelembagaan
syarakatnya. Meskipun demikian diperlukan sebagai usaha untuk mendapatkan keperluan
pengkajian dari berbagai disiplin ilmu agar yang wajib ada dalam proses ekspoitasi seper-
proses pengelolaannya berjalan efektif. Na- ti kapal, perahu dan peralatan lainnya serta
ping (2003) menjelaskan bahwa laut Indo- modal. Hal tersebut sesuai dengan pendapat
nesia merupakan wilayah yang penuh daya McCay (1988) yang menjelaskan perlunya
tarik dan menantang dari sudut pengkajian kerjasama nelayan dalam mengatur sumber-
berbagai ilmu pengetahuan. Hal ini memer- daya alam lokal maupun secara komunitas.
lukan kajian multidimensi dan dari berbagai Dalam proses eksploitasi sumberdaya serta akti-
perspektif baik itu ekologis maupun sosial vitas laut lainnya nelayan memanfaatkan sistem
budaya karena ekosistem laut Indonesia ter- pengetahuannya, kelembagaan (organisasi sosial,
dapat banyak fenomena yang sangat menarik institusi), dan teknologi (peralatan, perleng-
(Naping : 2003) kapan baik tradisional dan modern).
Pada sudut pandang sosiobudaya ba- Khususnya sarana dan prasarana teknologi
nyak hal yang menarik untuk dikaji temasuk eksploitasi sumberdaya (fisik/material) meski-
diantaranya adalah sistem budaya kebaha- pun masih menggunakan teknologi sesuai
rian. Komunitas nelayan mempunyai sistem dengan pengetahuan lokalnya namun tidak
budaya yang unik dan berbeda dengan ko- menutup penggunaan teknologi modern.
munitas masyarakat agraris. Sistem pengeta- Teknologi modern memberi dampak yang
huan yang dimiliki merupakan adaptasi dari sangat positif dalam pengelolaan sumber
lingkungan mereka yang berada pada wila- daya laut. Mulai dengan motorisasi pada ta-
yah pesisir dan laut. Wilayah pesisir tempat hun tahun 1970-an di Indonesia sampai pada
mereka hidup dan laut sebagai tempat meng- penggunaan Information and Communication
gantungkan hidupnya diperlukan sistem bu- Technology (ICT) seperti Global Positioning
daya yang mumpuni yang tercermin di da- System (GPS) yang digunakan oleh nelayan
lam sistem pengetahuan nelayan baik dalam Venezuaela, Suriname dan Mexico (Kalman
kehidupannya sehari-hari maupun pada saat dan Correa : 2009).
menangkap ikan. Pengetahuan-pengetahuan Selain gagasan di atas yang perlu juga
ini muncul akibat dari gagasan bahwa kon- diketahui dalam rangka sistem budaya keba-
disi laut yang berbahaya dan kondisi sumber harian yang mencakup sistem-sistem penge-
daya laut yang tidak mudah dikelola meny- tahuan, kepercayaan, nilai dan norma dalam
ebabkan pekerjaan menangkap ikan di laut rangka pemanfaatan sumber daya laut. Hal
penuh resiko bahaya mengenai keselamatan ini dapat dilihat pada masyarakat nelayan Sri
jiwa manusia, dan ketidakmenentuan dalam Lanka bahwa kesuksesan yang didapatkan
pendapatan nelayan (Acheson 1981). Faktor adalah lebih kepada kekuatan supernatural
resiko yang dihadapi oleh nelayan ini juga (Pallson : 1988). Sistem pengetahuan berupa
akan berbeda pada masyarakat tradisional pengetahuan tentang biota laut yang benilai
dan masyarakat modern diantaranya resiko ekonomi, lokasi penangkapan, pola musim,
sosial dan resiko teritorial (Smith : 1988). tanda-tanda di laut dan angkasa, lingkungan
Sebuah asumsi bahwa terdapat hubun- sosialnya dan gagasan-gagasan tentang laut,
gan antara manusia dan lingkungannya den- serta taktik-taktik menangkap ikan seperti
gan menggunakan sistem pengetahuannya yang dilakukan oleh masyarakat nelayan Is-

41
Fadly Husain / Komunitas 3 (1) (2011) : 40-50

landia (Derrenberger & Palsson : 1986), serta huan nelayan tentang biota laut bernilai ting-
sistem keyakinan atau kepercayaan dan hal- gi, lokasi peangkapan ikan, tanda-tanda di
hal yang dianggap tabu (lihat Poggie : 1980, laut dan angkasa, pengetahuan tentang ling-
Poggie, Pollnac dan Gersuny : 1976 dan Pal- kungan sosial budaya serta gagasan-gagasan
mer : 1989). tentang laut, serta sistem keyakinan atau ke-
Dari gagasan-gagasan inilah dapat percayaan yang mereka anut.
diungkapkan bagaimana pengetahuan ko-
munitas nelayan dalam rangka kehidupan Hasil dan Pembahasan
kebaharian. Ini penting karena dari sinilah
akan diidentifikasi keinginan-keinginan dan Dusun Lungkak secara administra-
harapan komunitas nelayan maupun berba- tif masuk dalam wilayah pemerintantahan
gai permasalahan yang dihadapi oleh seba- Desa Tanjung Luar Kecamatan Keruak Ka-
gaian besar komunitas-komunitas yang men- bupaten Lombok Timur. Dusun ini adalah
diami seluruh wilayah pesisir Indonesia yang salah satu dusun dari sepuluh dusun yang
besar ini. ada di Desa Tanjung Luar. Adapun jumlah
Pengetahuan-pengetahuan lokal atau penduduknya sebanyak 1.674 jiwa (laki-laki
kearifan lokal masyarakat sudah bayak dikaji 798 jiwa dan perempuan 876 jiwa) sedang-
khususnya bagi komunitas nelayan namun kan jumlah rumah tangga sebanyak 484 KK.
dengan luasnya wilayah pesisir dan Laut In- Mayoritas penduduknya menganut agama
donesia, keberagaman budaya masyarakat Islam.
serta subetnik yang hidup dalam suatu ke- Dusun Lungkak termasuk dalam ka-
budayaan yang sama sekalipun, maka dari wasan wilayah pesisir kawasan Teluk Ju-
perspektif di atas dipandang perlu untuk me- kung. Kawasan ini merupakan kesatuan
lakukan suatu penelitian yang berfokus pada wilayah bersama Desa Tanjung, Desa Pijot,
system pengetahuan kebaharian komunitas Pemongkong dan Desa Jerowaru Lombok
nelayan untuk identifikasi sistem budaya se- Timur. Desa-desa tersebut memiliki kesa-
bagai kearifan lokal. maan kepentingan dalam pemanfaatan dan
pengelolaan sumberdaya perikanan laut den-
Metode Penelitian gan mayoritas penduduknya bermata penca-
harian sebagai nelayan.
Penelitian tentang Sistem Pengetahu- Komunitas Lungkak menurut cerita
an Kebaharian Komunitas Nelayan dilak- dari beberapa informan berasal dari keturu-
sanakan di Gili Beleq Desa Pemongkong nan etnis Bajo yang memang banyak men-
Kecamatan Jerowaru Lombok Timur den- diami wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
gan metode deskriptif kualitatif. Data ku- Orang-orang Lungkak meyakini bahwa ketu-
alitatif diperoleh melalui wawancara men- runan mereka berasal dari Sulawesi Selatan
dalam (Indepth interview) dan pengamatan tempat etnis Bajo yang besar berasal. Walau-
terlibat (observation participation). Data yang pun di Sulawesi Selatan etnis Bajo merupa-
diperoleh dianalisa secara bersamaan dalam kan sub etnis dari etnis Bugis dan Makassar
sebuah proses yang dilakukan secara terus disamping empat lainnya yaitu Mandar dan
menerus sejak pengumpulan data dilakukan, Toraja. Adanya hubungan etnik tersebut da-
khususnya dalam proses pengorganisasi, pe- pat dikenali dari informasi beberapa tokoh
milihan, dan kategorisasi antara data dalam masyarakat bahwa Desa Tanjung Luar dan
bentuk uraian naratif atau thick description Lungkak bahwa yang pertama mengadakan
(Geertz, 1992). Deskripsi narasi tersebut upacara-uparara yang berhubungan dengan
merefleksikan berbagai hubungan-hubungan laut adalah keturunan raja Goa yang berasal
variabel sosial (domain) yang lahir dari pro- dari Sulawesi-Selatan yang bernama Pungga-
ses interpretatif dan refleksif, sehingga hasil wa Rattung.
penelitian akan lebih obyektif dan kredibel Pola pemukiman komunitas Lungkak
(Spradley, 1997). adalah berbentuk kampung atau gubug yang
Fokus penelitian ini adalah pengeta- saling berdekatan dan padat dengan jalan-

42
Fadly Husain / Komunitas 3 (1) (2011) : 40-50

jalan kecil. Meskipun agak jauh dari pusat Jenis-jenis ikan tertentu harus ditang-
desa Tanjung Luar akan tetapi tetap ramai kap dengan alat tertentu. Jenis ikan yang pa-
pada saat-saat tertentu seperti pagi dan sore ling banyak ditangkap adalah ikan trijo yang
hari. Pada saat malam hari biasanya sangat ditangkap dengan menggunakan jala weh. Je-
sepi karena sebagian dari warganya turun ke nis ikan ini merupakan ikan yang paling ba-
laut mencari ikan khususnya yang laki-laki. nyak populasinya, terutama di sekitar dusun
Pada saat malam hari para perempuan tidak Lungkak desa Tanjung Luar. Banyak sedi-
tampak keluar rumah karena ada keyakinan kitnya ikan trijo yang diperoleh oleh nelayan
bahwa pada saat suami atau kerabat yang itu juga dipengaruhi oleh musim. Musim ke-
laki-laki turun ke laut istri/para perempuan marau adalah waktu munculnya banyak ikan
dilarang untuk meninggalkan rumah. Me- tersebut sedangkan pada musim hujan ikan
reka wajib berdiam di dalam rumah sambil ini mulai berkurang.
berdo’a untuk keselamatan suaminya atau Selain itu ada juga ikan yang jarang
kerabatnya dan diberikan hasil tangkapan didapat oleh para nelayan yaitu ikan cotek.
yang banyak. Ikan jenis ini ditangkap dengan jala rompoh.
Dari segi mata pencaharian hidup ko- Ikan lain yang jarang didapat di sekitar laut
munitas Lungkak mayoritas bekerja seba- di Dusun Lungkak desa Tanjung Luar yai-
gai nelayan. Baik mereka sebagai punggawe, tu ikan tongkol. Ikan ini banyak terdapat di
sabi(tambahkan keterangan keduanya ini apa?) lautan lepas yang di sekitar pulau Sumbawa,
atau nelayan yang bekerja sendiri dan tidak pulau Maringkik dan lain-lain. Ikan ini bany-
menpunyai juragan dan atau tenaga kerja/ ak berada di tengah-tengah laut dan biasanya
anak buah. Sebagian yang bekerja sebagai ditangkap dengan menggunakan perahu be-
pegawai, petani dan lain-lain. Menurut in- sar (kapal besar) atau juga sampan besar.
formasi tokoh masyarakat setempat bahwa Hasil tangkapan ikan biasanya dijual
sekarang ini banyak warga setempat yang ti- di pasar Tanjung Luar melalui pedagang
dak mau lagi bekerja sebagai sabi khususnya perantara, terutama jika hasil tangkapan
laki-laki karena diyakini dengan berprofesi berlimpah. Sedangkan jika hasil tangkapan
sebagai nelayan tidak banyak mendatangkan mereka sedikit, mereka menjual langsung
uang. Sebagai gantinya para juragan men- di tepi pantai saat nelayan pulang melaut.
datangkan sabi dari luar Dusun Lungkak. Para pembeli (penjali) sudah menunggu ke-
Anak-anak muda Lungkak baik laki-laki datangan para nelayan untuk membeli ikan
maupun perempuan lebih banyak yang men- yang diperoleh. Pengangkutan hasil ikan ke
jadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar ne- tempat penjualan dilakukan dengan meng-
geri seperti Malaysia, Singapura, Korea dan gunakan kapal nelayan secara langsung teta-
Saudi Arabia karena mereka menganggap pi jika dalam kondisi banjir penjualan akan
bahwa dengan menjadi TKI mereka akan mengalami kesulitan.
mendapatkan banyak pengahasilan. Para nelayan umumnya menjual hasil
Jenis-jenis ikan yang biasa diperoleh tangkapannya ke pasar Tanjung Luar mela-
(ditangkap) oleh para nelayan yang ada di lui pedagang perantara. Hal ini dilakukan
Dusun Lungkak desa Tanjung Luar sangat untuk mengantisipasi jika mengalami keku-
beranekaragam baik jenis, ciri-ciri, rasa mau- rangan keuangan. Pedagang perantara ter-
pun jumlahnya. Adanya keanekaragaman sebut akan mencukupi kebutuhan keuangan
ini tentunya berpengaruh terhadap tinggi dengan memberikan pinjaman atau hutang
rendahnya harga penjualan di pasar. Jenis- termasuk kepada punggawa.
jenis ikan yang dimaksud yaitu antara lain: Hasil penjualan ikan yang diperoleh
ikan trijo, Tongkol, Cumi-cumi, Layang, Cotek, para nelayan jumlahnya sangat bervariasi
Tamban, Duluq, Asaq-asaq, Layur, Nyanggi, tergantung dari jumlah ikan yang didapat
Biotos, Talang, Kotok, Tabbao, Oras, Ikan Jo- dan tergantung dari harga ikan di pasaran.
get, Ikat Bembeq, Cingor, Mereq, Koeje, Tambaq, Jika berhasil menangkap banyak ikan, nela-
Pantoq Empat, Merekong, Udang, Cepak, Tang- yan bisa memperoleh uang 5 juta rupiah da-
gor, Pai/Pari, Buntak. lam sekali melaut, namun ada kalanya hanya

43
Fadly Husain / Komunitas 3 (1) (2011) : 40-50

memperoleh + 10.000 rupiah bahkan sama saja tidak diperkenankan menggunakan jala
sekali tidak mendapatkan ikan. Saat ini jenis harimau/jala besar dan jala mini (ukurannya
ikan yang paling mahal adalah cumi-cumi. lebih kecil dari jala besar). Penggunaan Jala
Tingginya harga cumi-cumi disebabkan ka- besar/jala harimau diatur melalui peraturan
rena jenis ini banyak digemari orang dan (awik-awik) karena jala tersebut hanya dipa-
cara penangkapannya sangat sulit. Harga kai/dimiliki oleh kapal besar. Jala tersebut
cumi-cumi basah 1 ekor berkisar RP. 1000 memiliki lubang jarring yang rapat sehingga
– 3000 untuk ukuran besar, sedangkan yang dapat menyaring semua ikan baik yang besar
kecilnya harganya berkisar Rp. 500. Harga maupun yang kecil sehingga sangat merugi-
cumi-cumi kering mencapai Rp. 40.000/kg kan nelayan yang memiliki perahu kecil dan
dan yang basah sekitar Rp. 300.000/bak. be- dengan jala yang sederhana.
rat satu bak kurang lebih 8kg Para nelayan memiliki pengetahu-
Selain mencari ikan, para nelayan ti- an tentang letak/lokasi rumah ikan. Men-
dak hanya menangkap ikan tetapi juga men- urut para nelayan, rumah ikan berada di
gambil hasil laut yang lain seperti rumput Gaura,yaitu di sebelah timur pulau Tanjung
laut. Terdapat beberapa jenis rumput laut Ringgit. Untuk mencapai tempat itu diperlu-
yaitu rumput laut yang warnanya hijau agak kan waktu 2-3 hari pada cuaca baik. Sedang-
putih dan merah. Rumput laut dijual ke pa- kan dalam kondisi cuaca buruk bisa menca-
sar untuk menambah pendapatan di samping pai 1 minggu. Jenis ikan yang paling banyak
hasil dari menangkap ikan. Harga rumput terdapat di Gaura adalah cumi-cumi, pari,
laut akan naik saat langka diperoleh, yaitu ikan joget, layah, preang, tongkol, ikan bem-
mencapai sekitar Rp. 30.000 per bak. berat beq, dan lain-lain. Tempat ikan yang paling
per bak kurang lebih 5kg sedangkan saat ber- banyak berada di tengah-tengah dan di ping-
limpah harganya jatuh mencapai Rp. 10.000- gir lautan. Di tengah lautan banyak terdapat
15.000/bak. Hasil lain yang didapat dari laut ikan yang agak besar sampai ikan yang pa-
adalah base/keke (sejenis kerang) , namun itu ling besar sedangkan kalau yang dipinggir itu
hanya didapatkan dalam kondisi air surut. yang banyak adalah ikan teri. Aktivitas men-
Harga base/keke adalah Rp. 20 ribu/setengah angkap ikan di pinggir pantai disebut dengan
bak. Harga base/keke termasuk mahal kare- Ngerabus. Ngerabus dilakukan apabila tidak
na sulit didapat ada ikan yang didapat di tengah laut.
Para nelayan yang tinggal di dusun Tempat banyaknya ikan (letak rumah
Lungkak desa Tanjung Luar tidak hanya ikan) itu tidak diberi tanda karena ikan sif-
melaut di sekitar wilayah mereka saja teta- atnya tidak menetap dan selalu mengikuti
pi hingga ke luar wilayah perairan mereka, arus, kecuali kalau memancing, lokasi me-
salah satunya keke Sumbawa, Sumba, pulau mancing diberi tanda bendera. Tujuannya
Maringkik, Tanjung Ringgit, Labu Pandan, agar tidak diambil alih oleh orang lain. Para
dan lain-lain. Para nelayan yang melaut nelayan mengetaui banyak sedikitnya ikan
hingga ke luar wilayah harus dilengkapi dari jala (jaring) kalau siang dan dari lampu
surat izin penangkapan ikan (melaut) yang kalau malam yaitu terutama jika akan men-
dibuat di kepala desa mereka. Tujuannya su- angkap cumi-cumi dimana cumi-cumi akan
paya mereka dapat menangkap ikan dengan bermunculan jika melihat mampu.
leluasa. Apabila tidak membawa surat izin Ikan memiliki pola musim artinya ia
mereka akan dikeroyok oleh nelayan lain bisa bermunculan pada musim dan waktu
atau diharuskan membayar jika tetap ingin tertentu dan dapat berkurang pada musim
melaut, tapi jika tidak membayar akan disu- dan waktu tertentu pula. Menurut para ne-
ruh pulang. layan pada bulan Juli sampai Desember jenis
Para nelayan bebas menangkap ikan ikan yang paling banyak adalah cumi-cumi,
dimanapun selama masih di wilayah laut di sedangkan pada bulan Januari sampai Mei
sekitar dusun Lungkak desa Tanjung Luar. yang paling banyak adalah ikan tongkol, tri-
Saat melaut para nelayan tidak memiliki pe- jo, dan lain-lain. Adapun jenis ikan yang ba-
raturan, siapa saja bebas untuk melaut hanya nyak muncul pada musim hujan adalah cu-
44
Fadly Husain / Komunitas 3 (1) (2011) : 40-50

mi-cumi, udang dan ketumbung. Sedangkan Sedangkan tanda-tanda di angkasa yai-


jenis ikan yang banyak muncul pada musim tu seperti mendung (awan hitam), halilintar
kemarau adalah ikan trijo, trilayang, nyanggi (kisap), langit, dan bintang.
cotek, doloq dan lain-lain. Ikan yang banyak Bagi para nelayan, jika sudah sam-
muncul pada musim hujan akan berkurang pai di tengah laut dan datang angin, mere-
pada musim kemarau dan sebaliknya ikan ka dapat mengetahui arah datangnya angin
yang banyak muncul pada musim kemarau tersebut yaitu dengan cara melihat ombak.
akan berkurang pada musim hujan. Pada Jika angin datang, dari arah barat maka om-
malam hari para nelayan melaut dengan baknya lebih besar dan keras hingga naik 2
menggunakan lampu namun saat menjelang m sedangkan jika angin berasal dari sebelah
fajar tidak memakai lampu. Dalam melaut timur ombaknya tidak terlalu besar/keras te-
mereka memiliki prinsip “ada air ada ikan”. tapi naiknya sama yaitu naik 2 m.
Pada malam hari para nalayan akan Selain itu, perbedaan antara angin ba-
menggunakan lampu agar menarik ikan-ikan rat dan angin timur yaitu kalau angin barat,
dan cumi-cumi akan bermunculan di sekitar ketika angin datang, ombaknya juga datang
cahaya lamput. Tetapi saat bulan purnama dan ketika anginnya sudah tidak ada om-
ikan yang muncul berkurang. Hal ini karena baknya juga akan kembali seperti semula.
terangnya cahaya bulan bercampur dengan Sedangkan angin timur, kadang ombaknya
cahaya dengan cahaya lampu nelayan mam- lebih dahulu datang atau terkadang angin-
pu menembus sampai ke dalam laut sehing- nya. Kondisi akan kembali normal setelah
ga ikan dan cumi-cumi dapat bergerak kesa- sekitar 4 jam. Angin barat dan angin timur
na kemari sehingga sulit untuk ditangkap. datang tidak tentu, kadang datangnya siang
Para nelayan tetap pergi melaut pada dan kadang juga malam. bahkan kadang
musim hujan dan musim panas (kemarau). juga dating bersamaan hingga bertabrakan/
Mereka tidak melaut hanya apabila ada ha- bersamaan.
langan yang mendadak seperti sakit, cuaca Para nelayan di dalam melaut juga me-
yang sangat buruk, ada keluarga/tetangga lihat bintang sebagai tanda-tanda di dalam
yang meninggal, atau sampannya rusak. melaut. Bintang yang digunakan untuk me-
Cara penangkapan ikan pada siang hari dan lihat kondisi laut salah satunya digunakan
malam hari berbeda. Terutama dalam hal sebagai petunjuk arah yaitu bintang Tenggale
penggunaan alat. Selain itu perbedaan cara Bentuknya seperti tenggale (alat untuk mem-
tangkap juga ditentukan oleh jenis ikan yang bajak sawah yang terbuat dari kayu). Bintang
akan ditangkap serta kondisi musim. ini berada di sebelah timur dan biasanya
Para nelayan di dusun Lungkak desa muncul dari bulan Agustus-Desember. Jika
Tanjung Luar, memiliki kemampuan dalam bintang ini muncul maka ikan juga banyak.
membaca tanda-tanda di laut maupun di Bintang Rowot Dikatakan rowot ka-
angkasa untuk mengetahui kondisi/keadaan rena jumlahnya sangat banyak yaitu seperti
laut, sehingga dapat mengantisipasi terha- rowot (daun asam yang masih muda). Bin-
dap kendala/rintangan yang mungkin terja- tang ini muncul di sebelah timur pada seki-
di. Beberapa tanda tersebut antara lain yaitu: tar bulan Agustus-Desember. Jika bintang
Tanda-tanda di laut yang dikenali se- ini muncul maka ikan akan banyak naik ke
perti adanya gurita yang menyala. Bila men- permukaan.
dapati hal itu maka para nelayan tidak boleh Bintang Tegedoq Bute Bintang ini se-
berbicara karena akan mengakibatkan baha- benarnya ada 2 yaitu bintang Tegedoq dan
ya seperti datangnya ombak yang besar. Para bintang Bute, tetepi karena keduanya selalu
nelayan menyebutnya dengan istilahnya bing- muncul bersamaan dan letaknya berdeka-
kai yaitu arus air laut yang memutar-mutar di tan, sehingga disebut bintang Tegedoq Bute.
bagian tengah. Kondisi arus yang demikian Bintang ini muncul di sebelah selatan pada
tentunya menjadi kendala / rintangan para sekitar bulan Januari-Juli, bintang ini akan
nelayan di dalam melaut yaitu badai, ombak hilang ningga menjelang pagi. Juka bintang
yang besar dan pasang surut air laut. ini muncul maka angin akan datang dari se-

45
Fadly Husain / Komunitas 3 (1) (2011) : 40-50

belah selatan. Kemunculan bintang ini men- Hasil tangkapan dibagi menjadi 10
jadi tanda akan banyaknya ikan trijo. bagian. Punggawa mendapat 2 bagian, ja-
Ketiga bintang tersebut tidak digu- ring mendapat 1,5 bagian, lampu 1 bagian,
nakan sebagai pertanda bahaya melainkan sampan 1 bagian, mesin 1,5 bagian sedang-
digunakan sebagai petunjuk arah termasuk kan sabi masing-masing mendapat 1 bagian.
juga waktu untuk melaut (baik ketika menje- Sehingga apa bila dikalkulasi Punggawa akan
lang pagi maupun sore). Bintang yang digu- mendapatkan bagian 7 bagian karena mem-
nakan untuk melihat waktu saat menjelang bawa alat sedangkan 3 orang sabi akan men-
pagi dinamakan bintang perekmenah. Tanda- dapatkan 3 bagian.
tanda lain dikenali dengan melihat jam dan Hubungan antara punggawa dan sabi di
juga tanda adalah air laut agak bercahaya dalam melaut kadang-kadang sering terjadi
(mengkilat). perselisihan. Perselisihan yang terjadi biasa-
Adapun yang menjadi pertanda bahaya nya berupa adu mulut saja tidak sampai ter-
sekaligus sebagai rintangan para nelayan da- jadi adu fisik. Perselisihan akan terjadi jika
lam melaut adalah awan hitam (mendung), ada perbedaan pendapat antara punggawa
hujan dan kisap (halilintar). Kisap sebagai dan sabi saat menentukan arah pencarian
pertanda bahaya dapat dilihat/diketahui ikan. Misalnya sabi menginginkan ke arah
dengan cara yaitu jika kisap tersebut Nampak barat, tetapi punggawa ingin ke timur, selain
seperti angka satu dan berada di sebelah ba- itu juga disebabkan karena sabi malas mem-
rat berarti pertanda bahaya, tetapi jika tidak bawa barang perlengkapan melaut. Perselisi-
seperti angka satu dan berada di mana-mana han yang terjadi biasanya cukup diatasi den-
itu tandanya tidak berbahaya. gan teguran saja atau juga kadang berhenti
Masyarakat yang ada di Dusun Lung- dengan sendirinya.
kak Desa Tanjung Luar sebagian besar Perselisihan tidak hanya terjadi anta-
bermata pencaharian sebagai nelayan atau ra punggawa dan sabi tapi juga antara nelay-
menggantungkan hidup mereka pada laut an yang satu dengan yang lain. Perselisihan
yaitu dengan memanfaatkan kekayaan laut yang terjadi disebabkan oleh beberapa hal
termasuk ikan-ikan yang ada dan yang lain- yaitu “nempel” nelayan satu mendekati nela-
nya seperti base/keke dan geranggang (rum- yan lain saat menangkap ikan sehingga lam-
put lau). Menurut mereka laut sangatlah pu yang dibawa saling berdekatan. Perselisi-
penting terutama untuk mencukupi kebutu- han umumnya hanya berupa pertengkaran
han sehari-hari. Dalam pandangan mereka adu mulut.
laut adalah milik semua orang sehingga sia- Penggunaan jala harimau/seret/jala
papun boleh melaut/mencari ikan. besar seringkali juga menimbulkan konflik
Para nelayan yang ada di Dusun Lung- dinatar nelayan, karena jala tersebut sangat
kak terdiri dari 2 golongan yaitu golongan merugikan nelayan. Jala harimau/seret/jala
punggawa (pemilik perahu) dan golongan sabi besar dapat menjaring habis semua ikan mu-
(pekerja/orang yang bekerja pada pungga- lai dari yang besar sampai yang kecil. Jala
wa). Di Dusun Lungkak, sabi lebih banyak harimau bisanya digunakan oleh kapal besar.
daripada punggawa. Untuk mencari sabi para Para nelayan yang menggunakan sampan ke-
punggawa merasa kesulitan karena mereka cil akan menegur nelayan yang mengguna-
harus mencari sabi yang tekun dan tidak pin- kan jala harimau, tetapi kalau tidak diikuti
dah ke punggawa lain. Kadang pencarian sabi mereka akan menghancurkan jala harimau
dilakukan sampai di luar Dusun Lungkak tersebut dan mengambil ikan-ikannya be-
karena para punggawa dapat memiliki sam- ramai-ramai. Hal seperti ini pernah terjadi
pan tiga hingga empat sampan. pada tahun 1987-an hingga terjadi perkela-
Pada saat melaut, 1 sampan itu biasa- hian antara para nelayan yang memiliki sam-
nya dinaiki oleh 4 atau 5 orang yang terdiri pan kecil dengan nelayan yang memiliki jala
dari 1 punggawa dan 3 atau 4 sabi. Sampan harimau. Perselisihan tersebut berlangsung
yang besar itu bisa dinaiki samapi 7 orang hingga terjadi penyerangan dengan memba-
yang terdiri dari satu punggawa dan 6 sabi. wa kayu, tongkat, batu dan lain-lain kepada

46
Fadly Husain / Komunitas 3 (1) (2011) : 40-50

nelayan pengguna jala harimau. Perselisihan gian sampan. Setelah itu orang yang ikut
akan terjadi jika kapal besar tersebut tidak dalam dzikiran tersebut diberi makanan.
mau dinasehati dan melanggar awik-awik Janis makanan yang tidak boleh terlupakan
(peraturan lokal) yang melarang penggu- adalah bubur atau rekambang, dalam bahasa
naan jala besar/harimau dipantai sekitar 3 bajonya disebut lungkak. Pelopo atau orang
mil dari pesisir pantai. Tetapi sekarang itu yang bertugas membawa sesajian adalah per-
sudah tidak terjadi lagi, kalaupun ada jala empuan. Tidak ada ketentuan apapun bagi
harimau yang beroperasi kurang dari 3 mil perempuan yang membawanya, siapa saja
atau melanggar awik-awik akan ditegur atau boleh membawa sesajen itu asalkan ia per-
dirusak alat-alatnya dan mengambil hasil empuan. Upacara ini bisanya disebut dengan
tangkapannya. istilah Tampoh Tawar Sampan artinya selama-
Hubungan kerja sama dan tolong me- tan sampan dan pemilikannya.
nolong pada masyarakat nelayan yang ada Selain upacara selamatan sampan para
di dusun Lungkak itu tidak hanya dilakukan masyarakat nelayan di dusun lungkak desa
dengan sesama nelayan yang berasal dari du- Tanjung Luar juga melakukan suatu upaca-
sun Lungkak saja tetapi dengan semua nelay- ra secara besar yaitu upacara selamatan laut.
an yang berasal dari tempat atau daerah yang Upacara ini tidak pernah ditinggalkan dan
berbeda. bahkan merupakan suatu kegiatan yang di-
Para nelayan yang ada di dusun Lung- haruskan/diwajibkan karena sudah menjadi
kak jarang melakukan musyawarah karena tradisi tahunan yang diselenggarakan oleh
adanya keterbatasan waktu artinya mereka masyarakat Tanjung Luar. Upacara ini dila-
jarang dapat kumpul disebabkan oleh akti- kukan karena para nelayan yakin bahwa laut
vitas mereka yang selalu melaut. Kegiatan terdapat penghuni yang tidak bisa dilihat dan
seperti bakti sosial, siskamling sering dilaku- berbentuk jin. Tujuan dilakukan upacara ter-
kan oleh pemuda. Sehingga golongan muda sebut supaya ikan banyak yang muncul dan
lebih aktif dalam berpartisipasi dalam berba- para nelayan juga selamat ketika melaut dan
gai kegiatan sosial. mendapat ikan yang banyak . Upacara ini bi-
Pada masyarakat nelayan yang ada di sanya dilakukan 1 kali dalam 5 tahun. Jika
dusun Lungkak desa Tanjung Luar sering upacara ini tidak dilakukan maka akan ter-
melakukan kegiatan upacara/ritual dian- jadi suatu musibah seperti banyak yang kera-
taranya adalah upacara selamatan sampan sukan setan, ikan tidak ada pendapatan nela-
baru dan selamatan laut. yan tidak sedikit dan akan terjadi sesuatu hal
Upacara selamatan sampan baru dila- yang tidak diinginkan ketika melaut.
kukan dengan membaca dzikir bersama para Adapun yang dibutuhkan di dalam
nelayan yang lain. Zikiran tersebut dipimpin upacara tersebut adalah kepala kerbau, ke-
oleh seorang kyai (ustadz). Dalam upacara menyan, emas (seperti anting, cincin), ayam,
tersebut disediakan sesaji yang terdiri dari beras hitam (beras yang digoreng sampai
kemenyan, beras tumbuk yang dicampur gosong tapi tanpa minyak), beras putih, be-
dengan Kunyit dan daun Parempes. Tujuan ras kuning, (beras yang dicampur dengan
upacara ini adalah supaya sampan dan pe- kunyit) empok-empok (beras yang digoreng
miliknya termasuk para sabi akan selalu se- tanpa minyak). Tebu yang dipotong kecil-
lamat saat melaut dan mendapat rezeki yang kecil, makanan seperti ketupat, tikel, dan
banyak. semua jenis makanan tradisional. Selain itu
Pelaksanaannya dzikiran dilakukan juga memerlukan kain putih dan alat pengi-
di atas sampan yang masih berada di darat. ring yaitu gendang seruni. Upacara tersebut
Pada waktu dzikiran dkyai membakar ke- menggunakan kerbau karena marupakan
menyan sambil berdzikir diikuti oleh orang- upacara besar-besar tetapi kalau upacara ke-
orang yang hadir. Setelah itu lalu berdoa. cil-kecilan menggunakan kambing. Upacara
Selesai berdoa beras tumbuk yang telah di tersebut menggunakan emas karena sebagai
campur dengan kunyit dan daun perampes bukti terima kasih kepada penghuni laut atau
diambil dan dioles-oleskan ke seluruh ba- sebagai penghargaan dimana semua itu dibe-

47
Fadly Husain / Komunitas 3 (1) (2011) : 40-50

li dari hasil melaut. Ayam digunakan untuk membacakan mantra disertai dengan mem-
sebagai sesaji untuk mangku. Upacara ter- bakar kemenyan. Keesokan harinnya. yaitu
sebut dipimpin oleh mangku/sandro. Untuk ketika upacara akan dimulai, rakit dibawa ke
dapat menjadi mangku/sandro harus dari ke- pantai oleh mangku/sandro dengan berjalan
turunan asli bajo yang memiliki ilmu terten- kaki diiringi oleh orang-orang asli Bajo yang
tu yaitu mampu berbicara dengan makhluk berasal dari setiap dusun yang ada di desa
halus jin/penghuni laut tersebut. Tanjung Luar. Pengiring tersebut berpakian
Adapun prosesi upacara tersebut ada- serba hitam dengan ikat kepala yang berbe-
lah sebagai berikut a). Tujuh hari sebelum da sambil membawa tombak pusaka. Selain
upacara dimulai kerbau itu diajak jalan-jalan itu, juga diiringi oleh gedung seruni dan para
di tepi pantai dengan diiringi oleh gedang se- penari dan juga semua masyarakat mulai
runi dan diikuti oleh para penari keturunan dari yang kecil sampai yang tua. Pada saat
Bajo asli. Penari itu terdiri dari laki-laki dan berlangsungnya upacara para pengiring dan
perempuan baik tua maupun muda. Selain itu penari memakai ikat kepala yang berbeda ka-
yang juga diikuti mangku/sandro dan masya- rena menurut mereka hal itu menunjukkan
rakat lainnya. Ascara itu biasanya dilakukan bahwa penghuni laut itu bermacam-macam
saat sore setelah sholat asar sampai saat mag- rupa dan bentuknya termasuk ada yang baik
rib. Semua pengiring menggunakan pakaian dan ada juga yang jahat.
hitam dengan ikat kepala yang berlainan. Setelah sampai di pinggir pantai,
Sedangkan sandro itu menggunakan pakaian sandro dan pengiringnya beserta rakit berisi
dan ikat kepala serba hitam. b). musik gen- kepala kerbau naik ke sampan yang paling
dang seruni dibunyikan setiap malam sam- besar. Orang yang membawa alat musik gen-
pai tiba pelaksanaan upacara tersebut. Mu- dang seruni beserta penari naik di sampan
sik tersebut juga diikuti oleh tarian adat yang yang lain. Masyarakat ikut mengiringi den-
mana para penari tersebut menari di pang- gan menaiki sampan yang lain. Ada juga ma-
gung dekat rumah sandro yaitu di kampung syarakat hanya menunggu dipinggir pantai.
Tengaq (Desa Tanjung Luar) penari meng- Setelah semuanya siap sampan tersebut me-
gunakan pakaian adat Bajo (pakaiannya se- laju ke tengah laut untuk mencari batu daenq
ragam) tapi ikat kepalanya berlainan. Penari bangkiq yang letaknya di depan desa Tanjung
wanita ikat kepalanya merah sedangkan ka- Luar. Batu tersebut kadang-kadang kelihatan
lau laki-laki warnanya hitam, c). setelah tiba dan kadang tidak. Batu tersebut akan keliha-
hari ke-7 atau waktu upacara dimulai mang- tan saat sesji berupa kepala kerbau tersebut
ku/sandro memasang cincin/anting emas se- akan dibuang.
berat 2-3 gram pada tanduk kerbau. Setelah Setelah sampai di tengah laut, sampan
itu kerbau dipotong oleh seorang kyai atau berisi kepala kerbau berada di barisan posisi
orang yang dipercayakan dapat memotong paling depan. Sesampainya di sekitar tempat
atau menyemblih kerbau. Setelah kerbau ter- batu batu daeng bangkiq berada sampan itu
sebut dipotong, kepalanya diambil diambil akan mengitarinya sebanyak 3 kali. Sampan
karena menurut kepercayaan mereka yang lain tidak ikut memutar dan hanya menung-
diinginkan oleh penghuni laut adalah kepala gu saja, di dekat sampan sandro. Setelah
kerbau. Sedangkan bagian lainnya dibagikan batu yang dicari tampak, semua orang yang
kepada masyarakat secara merata. Pemoton- berada di tempat itu tidak diperbolehkan
gan kerbau tersebut dilakukan pada malam berbicara. Apa bila larangan itu dilanggar,
hari, kepala kerbau yang sudah terpotong akan mengakibatkan adanya musibah seper-
itu kemudian oleh mangku/sandro diletakkan ti kedongkoan atau kesurupan. Akibat lain-
di atas kain putih kemudian dimasukkan ke nya ikan tidak ada yang naik ke permukaan
dalam rakit dari bambuyang disertai dengan Satu-satunya orang yang boleh berbicara
sesaji. Setelah itu rakit tersebut dibawa ke hanyalah sandro yang membaca mantra sam-
rumah penggung milik mangku/sandro. Sam- bil membakar kemenyan. Setelah itu batu
pai di rumah mangku/sandro rakit tersebut daeng bangkiq akan membelah lalu sandro/
ditaruh di ditempat khusus. Mangku/sandro mangku menusuk kepala kerbau yang ada di

48
Fadly Husain / Komunitas 3 (1) (2011) : 40-50

dalam rakit dengan menggunakan tombak ditinggalkan di rumah yaitu tidak boleh
pusaka, dan melemparkan kepala kerbau itu menggosok panci dan tidak boleh bersisir ke-
ke celah batu yang membelah. Tombak ke- tika akan melaut karena kalu itu dilakukan
mudian ditarik hingga terlepas dari kepala maka ikan yang didapat sedikit dan akan ter-
kerbau. Kalau kepala kerbau itu muncul lagi jadi sesuatu yang tidak diinginkan.
sandro akan kembali menusuknya dengan
tombak dan melemparnya kembali ke celah Simpulan
batu. Tindakan itu hanya dapat diulang se-
banyak 3 kali saja tidak boleh lebih. Setelah Pembahasan di atas menunjukkan bah-
kepala kerbau dilemparkan maka air laut wa komunitas nelayan Lungkak mempunyai
di sekitarnya akan memutar dan akhirnya sistem budaya kenelayanan berupa sistem
menghilang. Saat kepala kerbau menghilang pengetahuan tentang kenelayanan yang sam-
berarti acara selesai dan orang-orang boleh pai sekarang masih melekat erat dalam kehi-
berbicara. Orang-orang akan bersorak sorai, dupannya. Sistem pengetahuan ini merupa-
saling melempar makanan yang dibawa, sa- kan hasil berpikir dan menyesuaikan kondisi
ling menyiram air. Sandro akan diceburkan lingkungannya di mana mereka berada. Pen-
ke laut diikuti oleh yang lainnya. Hal itu di- getahuan ini berupa pengetahuan tentang
lakukan sebagai ekspresi rasa senang biota laut bernilai ekonomi, pengetahuan
Jika kepala kerbau tetap muncul se- tentang tempat penangkapan dan posisi ru-
telah dilemparkan hingga 3 kali, maka hal mah ikan, pengetahuan tentang musim (pola
itu menjadi pertanda bahwa penghuni laut musim dan waktu-waktu munculnya ikan),
tersebut tidak menerima sesajian itu. penye- pengetahuan tanda-tanda di laut dan di ang-
babnya karena adanya suatu kesalahan pada kasa serta sistem keyakinan/kepercayaan
pelaksanan upacara tersebut sehingga perlu (upacara/ritual dan pantangan-pantangan).
mengulang upacara Tetapi jika kepala ker- Kemudian komunitas Lungkak bersa-
bau itu tidak muncul menandakan penghuni ma komunitas nelayan lainnya yang berada
laut menerimanya. Tanda ini dapat diketahui di dalam tiga kawasan yang ada di Lombok
setelah hari ke 4 setelah acara dilaksanakan. Timur membuat kesepakatan untuk mencip-
Prosesi itu selesai ketika menjelang takan awig-awig yaitu suatu aturan tentang
malam, kemudian dilakukan pesta selama 3 pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya
malam. Pesta ini berupa pesta kecil-kecilan kelautan demi terciptanya sumber daya alam
dengan mengadakan pertunjukan dan per- yang lestari atau berkelanjutan. Walaupun
lombaan permainan tradisional kuntauq atau aturan-aturan ini dibuat dengan menyesuai-
joget silat. Setelah upacara tersebut dilaku- kan dengan kondisi lingkungan serta kondisi
kan, para nelayan tidak boleh pergi melaut sosial budaya komunitas yang ada di dalam
hingga 1 minggu. Setelah tiba saatnya me- tiga kawasan tersebut. Ini terlihat adanya per-
laut maka ikan akan lebih banyak didapat bedaan dalam pemanfaatan dan pengelolaan
daripada sebelumnya. sumber daya kelautan di mana pada komu-
Selama berlangsungnya upacara ter- nitas nelayan Lungkak yang bertipe nelayan
sebut semua masyarakat ikut berpartisipasi pemburu ikan sangat melarang penangkapan
dan ikut terlibat dengan masing-masing ke- ikan dengan menggunakan teknologi bagang
luarga mengeluarkan uang untuk membeli ataupun teknologi budidaya keramba. Ke-
segala yang dibutuhkan seperti kerbau, emas nyataan ini menunjukkan bahwa walaupun
dan lain-lain. Hal ini juga dapat dilihat dari aturan-aturan pemanfaatan sumberdaya ke-
antusiasme para nelayan dalam membuat lautan dibuat bersama namun tetap harus
hiasan pada sampan. Semua sampan itu di- disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan
hias sesuai dengan keinginan dan kemampu- sosial budaya masing-masing komunitas.
an masing-masing nelayan. Sistem budaya yang dimiliki dan dip-
Adapun pantangan-pantangan bagi raktekkan oleh nelayan Lungkak ini merupa-
para nelayan di dalam melaut baik bagi ne- kan pegangan atau pedoman dalam rangka
layan itu sendiri maupun bagi keluarga yang hidup dan penghidupannya sebagai nelayan.

49
Fadly Husain / Komunitas 3 (1) (2011) : 40-50

Pedoman inilah yang akan dipegang dalam Annual Review of Anthropology. Vol. 10: 275-316.
proses kenelayanan dan diharapkan dengan Badan Pusat Statistik. 2010. Perkembangan Beberapa
Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.
mempedomani sistem budaya mereka bisa Badan Pusat Statistik: Jakarta
meminimalisir kemungkinan-kemungkinan Durrenberger, E. Paul and Gisli Palsson. 1986. Find-
yang akan terjadi selama proses penang- ing Fish: The Tactics of lcelandic Skippers.
kapan ikan yang mana laut sebagai lahan American Ethnologist 13(2):213-29.
Folke, C. 2004. Traditional knowledge in social–eco-
pencaharian hidup nelayan dikenal sebagai
logical systems. Ecology and Society 9(3): 7
lahan yang tidak menentu. Geertz, C. 1984. Culture and Social Change: The In-
Dari hasil penelitian di atas dan penga- donesian Case. Man (N.S) 9: 511-532.
matan peneliti selama beberapa bulan men- Kalman, Judy dan María de los Ángeles Liceaga Cor-
gadakan penelitian di komunitas nelayan rea. 2009. The coexistence of local knowledge
and GPS technology: Looking for Things in the
Lungkak maka ada beberapa rekomendasi Water. MAST 8(2): 9-34
saran kepada pamerintah sebagai penentu Lampe, M. 2003. Budaya Bahari dalam Konteks Glob-
kebijakan dalam pembangunan supaya lebih al dan Modern (Kasus komuniti-komuniti Ne-
banyak memperhatikan masyarakat nelayan layan di Indonesia). Makalah dalam Kongres
Kebudayaan V di Bukit Tinggi Sumatra Barat
di manapun mereka berada. Kenyataan yang
Tanggal 20-23 Oktober 2003.
ada bahwa komunitas nelayan mayoritas McCay, BJ. 1980. A Fishernlen’s Cooperative, Lim-
masih hidup miskin khususnya nelayan kecil ited: Indigenous Resource Management in a
baik itu yang mengoperasikan sendiri pera- Complex Society. Anthropological Quarterly
hunya ataupun ikut menjadi anak buah atau 53(1):29-38
Naping, H. 2003. Teknologi dan Pemanfaatan Ling-
tenaga kerja pada seorang juragan. Para ne- kungan Laut bagi Nelayan Bagang Rambo di
layan kecil seakan terjebak di dalam sebuah Sulawesi Selatan. Makalah dalam Kongres
pola hubungan kerja nelayan yang merugi- Kebudayaan V di Bukit Tinggi Sumatra Barat
kan mereka tanpa bisa berbuat banyak apa- Tanggal 20-23 Oktober 2003.
Palsson, Gisli. 1988. Models for Fishing and Model of
lagi berubah menjadi nelayan mandiri yang
Success. MAST 1(1):15-28
bisa mengangkat derajat sosial ekonominya. Palmer, Craig T. 1989. The Ritual Taboos of Fisher-
Pemerintah bisa menciptakan pro- men: An Alternative Explanation. MAST
gram-program yang menguntungkan bagi 2(1):59-68
nelayan kecil tidak hanya keuntungan jangka Poggie, J.J. Jr. 1980. Ritual Adaptation Risk and Tech-
nological Development Ocean Fisheries: Ex-
pendek tapi juga jangka panjang, sehingga ploitation from New England. Anthropological
para nelayan kecil bisa mandiri dalam men- Quarterly 53(1):122-129
jalankan usahanya dan keluar dari pola-pola Poggie, J.J. Jr., R. Pollnac dan C. Gersuny. 1976. Risk
hubungan kerja nelayan yang hanya memi- as a Basis for Taboos among Fishermen in
Southern New England. Journal for the Scientific
hak pada juragan-juragan.
Study of Religion 15(3):257-62
Smith, E. Estelle. 1988. Fisheries Risk in Modern Con-
Daftar Pustaka text. MAST 1(1): 29-48
Spradley, James., 1997 Metode Etnografi (terjemahan).
Acheson, James, M. 1981. Anthropology of Fishing. Yogyakarta, PT. Tiara Wacana.

50