Anda di halaman 1dari 12

HUMANIORA

Enos H. Rumansara
VOLUME 15 No. 2 Juni 2003 Halaman 212 -223

TRANSFORMASI UPACARA ADAT PAPUA:


WOR DALAM LINGKARAN HIDUP
ORANG BIAK
Enos H. Rumansara*

1. Pendahuluan sebagai seperangkat simbol-simbol yang


digunakan manusia dalam kehidupan
gama merupakan bagian/unsur penting sosialnya. Geerzt mengartikan simbol sebagai
dalam kehidupan manusia yang dapat suatu objek, kelakuan, dan hubungan yang
memberikan ajaran-ajaran yang merupakan jalan untuk konsepsi-konsepsi
berupa aturan-aturan serta petunjuk-petun-
yang dijadikan suatu simbol. Penelitian Turner
juk yang dijadikan pedoman dalam kehidupan
terhadap masyarakat Ndembu di Afrika
manusia dan diyakini kebenarannya.
Tengah mengemukakan juga bahwa unsur
Dalam kajian antropologi, agama dilihat
yang paling penting dalam upacara adalah
sebagai sistem kebudayaan atau sebagai
simbol. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa
pranata sosial atau sebagai seperangkat
mempelajari ritual berarti juga mempelajari
simbol yang dapat digunakan manusia
simbol-simbol dan struktur-struktur dalam
dalam kehidupan sosialnya. Geertz dalam
kajiannya melihat agama sebagai suatu sis- suatu upacara (Winangun, 1990: 18).
tem kebudayaan, yang kebudayaan itu Oleh karena itu, kajian agama tidak
sendiri dilihatnya sebagai pola bagi kelakuan, dapat dilepaskan dari upacara. Hal ini juga
yaitu terdiri atas serangkaian aturan-aturan, karena upacara merupakan unsur yang
resep-resep, rencana-rencana, dan petunjuk terpenting dalam kehidupan beragama. Mela-
yang digunakan manusia untuk mengatur lui kegiatan upacara, manusia dapat menya-
tingkah lakunya (Suparlan, 1980:X). Atas takan hubungannya dengan penguasa yang
dasar inilah agama digunakan oleh warga disembah. Selain itu, upacara selalu meng-
masyarakat sebagai pandangan hidup yang ingatkan manusia berkenaan dengan
berfungsi menjelaskan keberadaan manusia eksisitensi dan hubungan mereka dengan
di dunia, darimana ia berasal, dan kemana lingkungan mereka berada.
ia akan pergi sesudah meninggal. Dengan Agama dilihat sebagai sistem kebu-
demikian, agama adalah satu-satunya dayaan, sehingga sistem ini dapat meng-
bagian kebudayaan yang mampu menjelas- alami perubahan apabila mendapat pengaruh
kan arah dan tujuan hidup manusia. Itulah dari kebudayaan lain yang merupakan hasil
sebabnya agama dikatakan sebagai inti dari suatu akulturasi. Hal demikian merupa-
kebudayaan (Saifuddin, 1986: 5). Dengan kan kenyataan dalam kehidupan masyarakat.
demikian, dalam kajian antropologi agama Agama tradisional pun ikut mengalami
tidak dapat dikaji dengan pendekatan teologi, perubahan yang mengakibatkan transformasi
tetapi dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial. dalam kehidupan beragama warga masyara-
Telah dikemukan di atas, agama adalah kat, terutama aspek-aspek yang berhubung-
suatu sistem kebudayaan yang dilihat an dengan sistem, pola atau strukturnya.

* Doctorandus, Magister Antropologi, Staf Pengajar Program Studi Antropologi, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Cendrawasih, Jayapura, Papua.

212 Humaniora Volume XV, No. 2/2003


Transformasi Upacara Adat Papua: Wor dalam Lingkaran Hidup Orang Biak

Sehubungan dengan itu, artikel ini men- adalah karena diterimanya suatu unsur kebu-
coba membahas transformasi agama tradisi- dayaan baru dalam kelompok masyarakat
onal, terutama unsur upacara adat di Papua. itu. Akibat dari penerimaan unsur baru itu
Sebagai sampel pada kesempatan ini dikaji terjadilah perubahan struktur, bentuk, dan
upacara adat orang Biak, khusunya transfor- pola perilaku dalam kehidupan sosial budaya
masi Wor (upacara tradisional) dalam lingkar- suatu kelompok masyarakat. Seperti halnya
an hidup orang Biak setelah mereka menerima apa yang terjadi dalam kebudayaan kelom-
ajaran Agama Kristen dalam kehidupannya. pok-kelompok etnis yang ada di Papua,
Untuk memahami dan menganalisa terutama dalam kehidupan agama tradisonal
proses terjadinya transformasi dalam upa- mereka.
cara adat Papua, kasus Wor (upacara adat) Dikemukakan di atas bahwa unsur kebu-
dalam lingkaran hidup orang Biak, perlu dayaan baru yang diterima dapat mengaki-
dijelaskan konsep transformasi yang dapat batkan terjadinya perubahan. Diketahui
digunakan untuk memahami permasalahan bahwa masuknya kebudayaan baru dalam
tersebut. kebudayaan etnis-etnis di Papua pada
umumnya melalui proses difusi 1 dan
2. Transformasi Budaya akulturasi 2 .
Selain konsep transformasi, perlu
Transformasi merupakan suatu istilah diberikan gambaran umum tentang “siapa itu
yang akhir-akhir ini digunakan untuk menje- orang Biak”.
laskan dan memahami suatu perubahan dari
satu bentuk ke bentuk lain. 3. Orang Biak
Di sini ditemui dua istilah yaitu per-
ubahan dan transformasi. Dua istilah ini Orang Biak adalah salah satu dari 250
seringkali digunakan hampir selalu diacukan suku bangsa di Tanah Papua. Suku ini
pada pengertian yang sama, keduanya merupakan penduduk asli kabupaten Biak-
dianggap sebagai sinonim. Namun, ada batas- Numfor, Provinsi Papua. Wilayah Kabupaten
nya; perubahan merupakan proses yang Biak-Numfor terdiri atas gugusan pulau
terjadi secara dinamis, dan sebagai akibat (pulau Biak, Numfor, Supiori, dan kepulauan
proses itu muncullah bentuk-bentuk baru Padaido), terlepas dari Pulau Irian yang
disebut transformasi. Oleh karena itu, disebut orang Biak dengan istilah Sup Tabi
transformasi merupakan produk akhir dari (Tanah Besar). Pada masa pemerintahan
suatu perubahan. Proses transformasi sama Kolonial Belanda hingga dekade 1960-an, di
dengan perubahan. Transformasi adalah Papua, nama yang digunakan untuk menye-
akibat dari perubahan atau proses transfor- but kepulauan Biak Numfor adalah Schouten
masi itu. Dengan demikian, dapat dikatakan Eilanden, yang disesuaikan dengan nama
bahwa perubahan kebudayaan Papua orang Eropa pertama berkebangsaan
mengakibatkan transformasi kebudayaan itu Belanda yang mengunjungi daerah itu pada
kedalam bentuk, pola, atau konfigurasi yang awal abad ke-17. Sejak dulu (sekitar abad
baru (Masinambow, 1991:1). Selain itu, ke -15) banyak orang Biak yang melakukan
Ahimsa-Putra (2001 : 62) mengemukakan migrasi ke beberapa tempat di Papua seperti
bahwa transformasi diterjemahkan sebagai di kepulauan Raja Ampat, Manukwari, dan
alih rupa … yaitu sebuah perubahan yang kepualuan Komamba-Jayapura. Mata penca-
terjadi pada tataran permukaan, sedang pada harian pokok mereka adalah berkebun dan
tataran yang lebih mendalam lagi perubahan menangkap ikan dengan menggunakan
tidak terjadi. Maksudnya, walaupun terjadi perahu bercadik. Mereka menganut sistem
perubahan bentuk, tetapi makna dan pesan kekerabatan patrilineal dan adat perkawinan
yang dikandung masih sama. eksogami klen. Sifat keterbukaan dan bersa-
Perlu diketahui pula bahwa salah satu habat dengan orang lain yang bukan orang
dasar terjadinya suatu perubahan pada Biak menjadi kebiasaan hidup mereka sejak
kebudayaan kelompok masyarakat tertentu dulu, walaupun mereka dikenal di antara

Humaniora Volume XV, No. 2/2003 213


Enos H. Rumansara

suku-suku bangsa di Papua sebagai 4.2 Tradisi Wor dalam Kehidupan Orang
manusia berwatak keras. Biak sebelum Kristenisasi
Gambaran tentang tradisi Wor dalam
4. Transformasi Wor dalam Lingkaran
kehidupan orang Biak sebelum Kristenisasi
Hidup Orang Biak pada wilayah kebudayaan tersebut dapat
Transformasi Wor dalam lingkaran hidup dikemukakan sebagai berikut:
orang Biak, merupakan suatu kajian antro-
pologi yang dalam pembahasannya agama 4.2.1 Wor dalam Agama Tradisional
dilihat sebagai sistem kebudayaan atau Dahulu, sebelum pengaruh agama
pranata sosial. Untuk lebih memahami Kristen, orang Biak percaya akan adanya
“transformasi Wor dalam lingkaran hidup or- penguasa yang melebihi kekuatan atau
ang Biak” perlu diketahui kondisi awal Wor kekuasaaan manusia biasa yang menurut
dalam kebudayaan orang Biak karena mereka penguasa tersebut mendiami Nanggi
kondisi inilah yang menjadi tolok ukur untuk (surga) yang berada di Mandep (langit).
melihat tranformasi itu. Oleh karena itu, Selain itu, mereka percaya akan adanya pe-
dalam pembahasan berikut dikemukakan nguasa-penguasa yang mendiami Farsyos
beberapa sub-pokok sebagai materi (Jagad raya) dan ada juga yang menghuni
pembahasan: (1) pengertian Wor; (2) makna abyab (gua), karui beba (batu besar), bon
tradisi Wor dalam kehidupan orang Biak bekaki (gunung tinggi), soren (dasar laut),
sebelum Kritenisasi; (3) pekabaran agama war besyab (sungai), ai beba (pohon besar),
Kristen; (4) Transformasi Wor sesudah dan lain-lainnya.
menerima agama Kristen. Penguasa yang mendiami Nanggi
merupakan pusat kekuatan atau kekuasaan
4.1 Pengertian Wor yang mengatur alam semesta. Penguasa
Nanggi (Sang Langit) dikenal dengan sebutan
Dalam agama tradisional orang Biak, Manggundi 4 5 (Dia sendiri). Penguasa-
Wor merupakan suatu kewajiban yang harus penguasa yang mendiami Farsyos (jagad
diselenggarakan oleh setiap keluarga batih/ raya), abyab (gua), karui beba (batu besar),
inti mereka. Wor mempunyai dua arti : (a) bon bekaki (gunung), ai beba (pohon besar)
Wor sebagai upacara adat (upacara tradisi- dan lain-lainnya yang disebutkan di atas
onal); (b) Wor sebagai nyanyian adat adalah bersifat roh (spirit). Roh-roh ini
(Kapisa, 1994: 10-11). Tulisan ini mene- diklasifikasikan menjadi dua: yaitu: (1) Roh-
kankan pada arti yang pertama yaitu Wor roh/ arwah-arwah nenek moyang dan kerabat
sebagai upacara adat, sedangkan Wor mereka yang telah meninggal dunia yang
sebagai nyanyian dilihat sebagai bagian atau dikenal dengan istilah bahasa Biak yaitu
aspek pendukung dalam Wor (upacara adat). Karwar. Karwar ini mendiami Farsyos (jagad
Wor sebagai upacara adat merupakan raya), sup/meos aibui (wilayah/ tempat atau
upacara untuk memohon / mengundang atau pulau yang merupakan tempat berkumpulnya
meminta perlindungan dari penguasa alam arwah-arwah itu) dan juga Amfyanir. Selain itu,
semesta. Wor diselenggarakan setiap keluar- roh-roh itu mendiami wilayah-wilayah yang
ga batih/inti dengan melibatkan kerabat tidak ada penghuninya (sup bebewursba),
suami istri yang bertujuan memohon atau seperti lautan luas atau hutan-hutan belan-
meminta kepada penguasa agar melindungi tara. (2) Roh-roh halus jin. Roh-roh ini dibagi
anak-anak mereka yang hidup di dunia menjadi 3 (tiga) : (a) roh-roh halus / jin yang
sasor3 . Oleh karena itu, Wor dilakukan da- mendiami pohon-pohon besar yang dalam
lam lingkaran hidup (life cycle rites) orang istilah bahasa Biak disebut Arbur; (b) roh-
Biak, yaitu dilakukan untuk mengiringi roh halus/jin yang mendiami gua, gunung,
pertumbuhan fisik anak dari sejak anak batu, hutan rimba, sungai disebut dabyor,
dalam kandungan ibu, lahir, hingga pada yang dikenal juga dengan sebutan Manggun
masa tua dan kematian. (pemilik); dan roh-roh halu /jin yang mendiami

214 Humaniora Volume XV, No. 2/2003


Transformasi Upacara Adat Papua: Wor dalam Lingkaran Hidup Orang Biak

laut atau lautan disebut Faknik (lihat bagan). (Manggundi) dan kerabat-kerabat mereka
Hal ini menunjukkan bahwa orang Biak yang meninggal (Arwah-arwah nenek
percaya adanya makhluk supranatural. moyang). Telah dikemukakan bahwa dalam
Agama tradisional mereka mempunyai kehidupan beragama orang Biak, Wor
hubungan erat dengan mitologi mereka. merupakan suatu kewajiban yang diatur
Tokoh mitologi mereka adalah Manarmakeri berdasarkan sistem kekerabatan (patrilineal)
yang telah pergi ke sebelah barat dan dia dan sistem perkawinan mereka sehingga
akan datang kembali untuk memberikan apabila ada keluarga batih yang lalai
kebahagian atau kekayaan bagi mereka yang melakukannya maka keluarga tersebut akan
telah lama ditinggalkan. Mereka percaya mendapat sanksi dari Manggundi atau arwah-
bahwa Manggundi yang menjelma sebagai arwah nenek moyang mereka.
manusia biasa, yaitu Manarmakeri yang
pernah melakukan karya Koreri di Meokbundi 4.2.2 Makna dan Fungsi Wor
(salah satu pulau di Biak Timur). Namun, ia
tidak diterima oleh masyarakatnya (Orang Dalam kehidupan beragama orang Biak,
Biak), sehingga ia pergi ke bagian barat yaitu Wor merupakan suatu upacara yang sangat
Eropa, dan Ia akan kembali kepada mereka sakral. Dikatakan sakral karena Wor
dengan membawa kembali koreri, yaitu: berhubungan erat dengan kepercayaan
Dunia Kando Mob Oser; artinya, dunia yang tradisional mereka. Dalam Wor mereka selalu
tidak ada kesusahan lagi/dunia bahagia. berhubungan atau berkomunikasi dengan
Selain itu, Wor merupakan unsur penting Manggundi (penguasa tertinggi) yang mereka
dalam agama tradisonal mereka sehingga sembah. Selain itu, mereka percaya bahwa
mempunyai sifat religius cukup tinggi. dalam penyelenggaraan Wor melibatkan
Oleh karena itu, Wor merupakan suatu orang hidup dan yang mati, artinya mengikut-
perwujudan dari kehidupan religius yang sertakan arwah-arwah nenek moyang dan
menurut mereka sangat penting. Dikatakan kerabat-kerabat mereka yang telah mening-
sangat penting karena Wor mempunyai gal dunia. Hal demikian dapat diketahui dalam
fungsi sosial untuk mengintensifkan ucapan orang tua mereka yang mengemuka-
solidaritas orang Biak dan merupakan simbol kan bahwa “ngo wor ba ido nari ngo mar”5
hubungan mereka dengan Penguasa (Kamma, 1981). Ucapan ini mengandung

Bagan struktur kekuatan supranatural


yang disembah orang Biak

Nanggi/Mandep
MANGUNDI (Langit)
X

Faryos & Amfyanir


KARWAR
(Jagad Raya & Patung)
X

X
X
DABYOR AEBUR FAKNIK

Abyab (Goa) Ai Beba Soren


Karui beba (Batu besar) (Pohon-pohon Besar) (Lautan)
Bon karui (Gunung Batu)
War Besyab (Sungai)

Humaniora Volume XV, No. 2/2003 215


Enos H. Rumansara

makna yang sangat penting dalam kehidup- kan Wor Babyos6 atau Fasfesmandwampur
an orang Biak, karena wor mempunyai untuk melindungi anak dari segala macam
hubungan erat dengan objek-objek yang gangguan, terutama yang berasal dari roh-
mereka sembah, seperti Manggundi, karwar roh halus dalam jangka waktu 8–9 bulan.
(arwah-arwah), roh-roh halus lainnya, serta Pada penyelenggaraan Wor Babyos ini,
sesama kerabatnya yang dianggap masih paman/Me (Saudara laki-laki dari ibu anak
hidup dalam alam tidak nyata. perempuan yang hamil/MoBr) memberi-
Wor merupakan suatu kewajiban bagi tahukan Awow (janin) yang ada dalam Fnobin
setiap keluarga batih/inti orang Biak sehing- (keponakan perempuan/anak perempuan
ga apabila tidak dilakukannya, akan meng- yang sedang hamil) kepada Manggundi,
akibatkan ketidak-stabilan dalam kehidupan arwah-arwah nenek moyang dan roh halus
keluarga mereka, yaitu akan mendatangkan lainnya agar mereka tidak mengganggu
gangguan atau penyakit bagi keluarga yang pertumbuhan Awow (janin) itu, tetapi turut
lalai melakukannya. menjaganya.
Selain itu, Wor orang Biak mempunyai
beberapa fungsi: (a) merupakan suatu sarana Tahap kedua
untuk mendekatkan diri kepada penguasa/
Manggundi; (b) sarana untuk mengatasi Wor dilakukan sejak anak lahir yaitu
krisis; (c) sarana untuk pengendalian sosial; masa kapipare (bayi) 1 bulan – 1 tahun,
(d) sarana untuk mempererat hubungan hingga masa romawa/Inai (kanak-kanak),
sosial antara kerabat yang sudah ada; (e) yaitu 1 tahun – 10 tahun. Pada masa (fafisu)
mengikat solidaritas dalam kelompok dalam tersebut dimulai dengan wor anun besop/
hal memupuk rasa kebersamaan hidup fasasnai 7 , kemudian wor Anmam 8 , dan
kelompok orang Biak. selanjutnya Wor papaf (penyapihan), hingga
Wor Kapanaknik9 .
4.2.3 Jenis-jenis Wor
Tahap ketiga
Wor (upacara tradisional) dalam
lingkaran hidup Orang Biak, terdiri atas 17 Wor dimulai dari masa (fafisu) Romawa-
jenis yang dibagi dua; (a) 12 Wor siklus dibes/Inaidibes (pubertas) 11–14 tahun
hidup; dan (b) 5 (lima ) Wor insidental. hingga masa (fafisu) Snonkbor/binkor
(remaja). Pada kurun waktu ini, Wor diikuti
a. Wor dalam siklus hidup dengan jenis Kabor/ k’bor10 . (15 – 20 tahun)
Upacara yang dilakukan untuk
Tahap keempat,
mengikuti tahap pertumbuhan manusia
dikenal dengan sebutan upacara siklus hidup Wor dimulai dari masa (fafisu) snonfadu
(daur hidup). Menurut Van Gennep, upacara /binfadu (dewasa) 21–35 tahun. Pada kurun
siklus hidup (life cycle rites) adalah upacara waktu itu Wor dimulai dengan Wor Beba11 /
yang mengikuti tahap perkembangan atau fararur beba dan kemudian Wor Farbakbuk.12
pertumbuhan manusia sejak lahir, masa
kanak-kanak, melalui proses menjadi dewa- Tahap kelima
sa dan menikah, menjadi orang tua, hingga
akhir meninggal (Koentjaraningrat, 1985 : 31– Wor dimulai ketika roh seseorang beralih
33; Haviland, 1988 : 207 ) dari status sosial dunia nyata ke suatu sta-
Wor orang Biak, dimulai sejak anak tus sosial dalam dunia mahluk halus, seperti
dalam kandungan ibu (semasa Awow/janin) yang dikemukakan Hertz bahwa ada kehi-
hingga kematian. Berikut ini akan dijelaskan dupan sosial baru setelah mati, yaitu kehi-
beberapa tahap wor. dupan dalam dunia sosial baru (Koentjara-
ningrat, 1885 : 28-29). Proses peralihan ini
Tahap pertama dimulai dengan Wor Farbabei (upacara
Wor dilakukan pada masa (fafisu) Awow kematian), dan diakhiri dengan Wor rasrus
(janin). Pada masa ini, orang tuanya melaku- (upacara kematian yang kedua kalinya).

216 Humaniora Volume XV, No. 2/2003


Transformasi Upacara Adat Papua: Wor dalam Lingkaran Hidup Orang Biak

Dalam penyelenggaraan Wor Farbabei, sehingga masa ini juga disebut dunia hati-
kerabat yang ditinggal memakai atau hati (dunia sasor). Untuk itu, pada masa ini,
menggantungkan pakaian/cawat bekas pakai perlu dilakukan beberapa upacara untuk
dari saudaranya yang meninggal pada tubuh mengantar/mengiringi anak melalui abor
mereka sebagai simbol rasa duka yang (jembatan) agar jangan terganggu oleh
mendalam, sedangkan Wor Rasrus diseleng- segala ancaman hidup dari dunia tidak nyata
garakan oleh saudara/kerabat untuk dan nyata. Tahap ketiga, merupakan tahap
memindahkan tulang-tulang dari saudara ketika anak telah melewati pendidikan infor-
kerabat mereka yang meninggal ke dalam mal di Rumsram (rumah adat) sehingga anak
peti yang terbuat dari kayu lalu disimpan dapat bertanggung jawab terhadap kebudaya-
dalam gua. annya dan hidupnya sendiri sebagai orang
Dari uraian tentang jenis Wor tersebut Biak. Anak dapat bertanggung jawab terha-
di atas, dijelaskan bahwa jenis Wor yang dap diri sendiri dalam segala tantangan hidup
dilakukan antara tahap kedua, ketiga, dan dalam kelompoknya.
keempat merupakan Wor Abor (jembatan/
penghubung) yang mengantarkan anak dari b. Wor insidental
satu masa ke masa berikutnya. Masa ini Wor insidental merupakan suatu wujud
sangat ditakuti oleh orang Biak dalam kehidupan beragama yang dilakukan untuk
pertumbuhan anak, sehingga orang tua dari menyertai suatu situasi atau keadaan yang
anak-anak sangat berhati-hati pada masa dihadapi secara kelompok. Situasi atau keada-
antara ini. an yang dimaksud: (a) situasi/keadaan rasa
Untuk itu, jenis-jenis wor yang dilakukan bahagia; (b) situasi/keadaan kritis.
pada kurun waktu ini bertujuan meminta/ Atas dasar yang telah dikemukakan di
memohon perlindungan dari Manggundi atas, Wor yang bersifat insidental bertujuan
melalui arwah-arwah nenek moyang dan roh- untuk: (1) mengucap syukur kepada
roh halus. Maksudnya, agar mereka Manggundi atas keberhasilan dalam suatu
(Manggundi, Karwar, Arbur, Dabyor, dan usaha atau kegiatan (berhasil membangun
Faknik) menjaga anak dalam masa Abor rumah, panen, dan lain-lainnya); (2) meminta
yang dijuluki sebagai Dunia Sasor (dunia hati- pertolongan kepada Manggundi untuk me-
hati) yang penuh dengan bahaya. Pada masa ngatasi gangguan atau masalah yang di-
ini pula, orang tua, terutama ibu selalu berhati- hadapi dalam kehidupan suatu kelompok.
hati dalam memakan jenis makanan yang Salah satunya adalah Wor Fan Nanggi.
dilarang pada masa-masa tertentu karena Fan Nanggi terdiri dari dua kata, yaitu fan
menurut mereka ada hubungannya dengan yang berarti memberi makan dan nanggi
pertumbuhan dan kesehatan anak. Pada berarti langit. Jadi, Wor Fan Nanggi yaitu
masa-masa tersebut, terutama masa awow upacara memberi makan langit. Yang dimak-
(janin) dan masa romawa-inai (kanak-kanak) sud dengan upacara ini yaitu upacara untuk
muncul istilah Ansasor13 , yaitu masa ketika memberi sajian kepada penguasa yang ada
ibu berhati-hati memakan jenis-jenis di langit. Pemimpin Wor Fan Nanggi adalah
makanan tertentu. Tahap kedua, juga Moon (pemimpin upacara keagamaan).
merupakan tahap ketika anak mulai disiap- Selain sebagai pemimpin (upacara), Moon
kan untuk menghadapi masa depannya juga bertindak sebagai pemimpin wor
dalam hal mencari nafkah dan menjalankan (nyanyian tradisional). Syair yang dinaikkan
norma adat dan agamanya dengan baik. oleh seorang Moon dalam upacara / Wor Fan
Pada masa ini pula, anak mendapat pen- Nanggi adalah sebagai berikut:
didikan informal dalam keluarga dan berakhir
Neno.. neno…nene dadoi kyon do
(khusus anak-anak laki) di Rumsram14 .
Yen Saoneko – yen Saoneko,
Kedua masa tersebut di atas merupa-
kan suatu masa yang krisis sehingga sangat Yore Mamo-mamo dadoi kyon do Yen
dikhawatirkan oleh orang tua anak-anak Saoneko, yen Saoneko.

Humaniora Volume XV, No. 2/2003 217


Enos H. Rumansara

Neno.. neno…nene Manseren Beba I bersangkutan secara keseluruhan (Mauss,


dadoi kyon do Yen Saoneko, yen 1992 : 15-16; 34-45; 56-60).
Saoneko, Ararem (maskawin), ararem adalah
Yore Mamo-mamo Manseren Beba I harta maskawin yang harus diberikan oleh
dadoi kyon do Yen Saoneko, yen pihak calon suami kepada pihak calon istri
Saunek sebelum Wor farbakbuk (upacara kawin)
(Kapisa, 1994: 35) diselenggrakan. Kegiatan pemberian mas-
Artinya: Wahai .. Allah turunlah dan kawin ini merupakan suatu kegiatan yang
diami hati kami (Yen Saonek 15 ). melibatkan semua kerabat dari calon suami,
Saya mohon bapa Allah kami turun- dan sebaliknya mereka (keret/kerabat calon
lah dan diami hati kami. istri) yang menerima mas kawin juga memper-
hatikan secara baik siapa yang berhak
4.2.4 Kegiatan-kegiatan Pendukung dalam menerima mas kawin. Menurut keyakinan
Penyelenggaraan Wor mereka, apabila ada anggota keluarga yang
lalai dalam memperhatikan kewajiban-
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan kewajiban tersebut, anggota keluarga tersebut
dalam Wor lingkaran hidup orang Biak terdiri akan mendapat sanksi dari Manggundi dan
atas 3 kegiatan: (1) Fanfan (memberi makan- arwah-arwah nenek moyang mereka. Selain
an) dan Munsasu (membayar kembali); (2) itu, karena harta maskawin adalah pengganti
Ararem (mas kawin); (3) Tari dan Nyanyi. seorang wanita, maka posisi letak harta
Kegiatan Fanfan (memberi makan) dan maskawin secara tradisonal merupakan
munsasu (membayar kembali) merupakan simbol dari seorang wanita (Lihat posisi letak
suatu kegiatan yang tidak bisa lepas dari Wor maskawin pada halaman 20).
terutama wor siklus/daur hidup. Kegiatan ini Tari dan Nyanyi, merupakan bagian yang
sangat menentukan wibawa atau status tak dapat dipisahkan dari Wor, karena tari
seseorang atau keret (klen) dalam suatu dan nyanyi dalam wor merupakan media
kelompok komunitas. Fafan adalah salah penyampaian maksud dan tujuan dari Wor
satu kegiatan yang dilakukan oleh pihak yang bersifat relegius itu. Misalnya syair dari
keluarga dan kerabat suami terhadap pihak nanyian adat (wor) berisi permohonan atau
keluarga dan kerabat isteri dalam proses ucapan syukur kepada Manggundi dan
Wor, yaitu keluarga suami dan kerabatnya arwah-arwah nenek moyang. Selain itu, tari
memberi bahan makanan kepada keluarga dan nyanyi juga menunjukkan kehebatan
dan kerabat istri berupa sagu tuman, umbi- suatu keluarga batih atau suatu keret (klen).
umbian hasil kebun, dan hasil penangkapan Keramaian dan suguhan-suguhan berupa
ikan sebelum upacara diselenggarakannya makanan dan hiburan-hiburan pada pelak-
Wor. Munsasu adalah kegiatan yang sanaan wor sangat menentukan status
dilakukan oleh keluarga dan kerabat istri seseorang, suatu keluarga batih atau suatu
untuk membayar bahan-bahan makanan keret dalam kelompok komunitas.
yang telah diterima sebelum penyeleng-
garaan Wor. Munsasu dilakukan pada saat 4.3 Penyebaran Agama Kristen
upacara puncak dilakukan. Alat bayarnya
menggunakan samfar (gelang terbuat dari Injil masuk di Pulau Irian pada tanggal 5
siput/kerang), sarak (gelang terbuat dari Februari 1855, Ottow dan Geissler (orang
perak), dan ben (piring porselin cina). Pada Jerman) mendarat di pulau Mansinam yang
kegiatan Fanfan dan munsasu terlihat apa terletak di Teluk Doreri, Manukwari. Keduanya
yang dikemukakan oleh Malinowski dan adalah pekabar Injil yang pertama dalam
Marcel Mauss pada masyarakat Melanesia sejarah pekabaran agama Kristen yang tiba
di Trobian, Samoa, dan Fiji, yaitu tentang di pulau Irian/Papua (Kamma, 1981).
resiprositas atau sistem tukar-menukar Pada tahun 1908, wilayah Biak Numfor
pemberian yang melibatkan kelompok- dijadikan sebagai medan penginjilan. Pada
kelompok dan masyarakat-masyarakat yang saat itu pula, orang Biak dikenalkan dengan

218 Humaniora Volume XV, No. 2/2003


Transformasi Upacara Adat Papua: Wor dalam Lingkaran Hidup Orang Biak

norma Agama Kristen yang merupakan unsur 6. Ibadah/kebaktian (upacara) peneguhan


kebudayaan baru yang sangat bertentangan Nikah. Ibadah ini dipimpin oleh pelayan
dengan norma agama tradisional mereka, jemaat (pendeta, guru jemaat);
yang menurut penginjil norma agama kafir. 7. Ibadah/kebaktian (upacara) pemakam-
Oleh karena itu, kegiatan Wor dalam agama an/penguburan orang mati. Ibadah ini
tradisional orang Biak merupakan tantangan dipimpin oleh pelayan jemaat (pendeta,
berat bagi ajaran Agama Kristen. Namun, guru jemaat, majelis jemaat).
ajaran Agama Kristen dari waktu ke waktu
melalui proses difusi, akulturasi, dan inovasi 4.4 Transformasi Wor
berkembang hingga menyebar ke seluruh
wilayah Pulau Biak dan Numfor (Kamma, Beberapa aspek agama tradisonal yang
1994). mengalami tranformasi setelah orang Biak
Melalui kebaktian-kebaktian, kateksasi menerima agama kristen adalah sebagai
dan sekolah penginjil, orang Biak mengakui berikut.
Yesus sebagai Juru Selamat Manusia. Pada
saat itu, Doa Bapa kami, Pengakuan Iman 4.4.1 Agama Tradisional
Rasuli, dan Sepuluh Hukum Tuhan merupa- Sebelum Kristenisasi, orang Biak
kan pokok ajaran agama Kristen yang disam- percaya kepada Manggundi (Dia Sendiri)
paikan oleh pendeta, penginjil, dan guru yang artinya Penguasa Tunggal di Nanggi
jemaat melalui kebaktian-kebaktian, katek- (langit) dan setelah pengaruh Agama Kristen
kisasi, dan sekolah-sekolah minggu terha- Orang Biak menyebutnya dengan istilah
dap mereka. Pokok-pokok ajaran ini merupa- Mansren Nanggi (Orang Suci di Langit). Pada
kan norma agama/ide-ide agama baru yang saat agama Kristen diterima oleh orang Biak,
bertemu dengan agama asli/tradisional orang kepercayaan kepada Manggundi beralih
Biak. Dari pertemuan ini, terjadi proses kepada Tuhan yang berada di surga. Ada dua
perubahan. Melalui proses perubahan itu, istilah yang mengalami perubahan di sini
muncullah bentuk-bentuk baru atau terjadi yaitu, Manggundi (Penguasa Tunggal)
transformasi dalam agama tradisional orang berubah menjadi Tuhan dan Nanggi (langit)
Biak, terutama transformasi Wor (Upacara berubah menjadi surga. Perubahan ini dapat
tradisional) dalam lingkaran hidup mereka. ditemui dalam khotbah dan doa yang sering
Dalam agama Kristen, dikenal beberapa dibawakan dalam bahasa Biak. Dari pernyata-
ibadah/upacara, antara lain: an di atas, dapat dikemukakan bahwa orang
1. Ibadah/kebaktian (upacara) pengucapan Biak sejak dahulu menganut sistem keper-
syukur. Ibadah ini dipimpin oleh siapa cayaan adanya penguasa tunggal yaitu Tuhan,
saja yang telah mengikuti ketesasi dan walaupun mereka percaya pada kuasa arwah-
sidi jemaat; arwah nenek moyang dan roh-roh halus, yang
2. Ibadah/kebaktian (upacara) minggu. menentukan adalah Manggundi (Penguasa
Ibadah ini dipimpin oleh pelayan jemaat Tunggal) itu. Mereka yakin bahwa walaupun
(pendeta, penginjil, guru jemaat, anggota ada penguasa lain seperti arwah-arwah nenek
majelis jemaat/penatua); moyang dan roh-roh halus lainnya, yang
3. Ibadah/kebaktian (upacara) untuk hari- menentukan terakhir adalah Manggundi
hari besar Gerejani. Ibadah ini dipimpin (Penguasa Tunggal) yang ada di Langit.
oleh pelayan jemaat;
4. Ibadah/kebaktian (upacara) Sakramen 4.4.2 Wor (Upacara Adat Orang Biak)
(baptisan dan Perjamuan Kudus). Ibadah Sebelum kristenisasi, Wor merupakan
ini dipimpin oleh pelayan jemaat kewajiban setiap keluarga batih/inti orang
(pendeta); Biak yang melibatkan semua kerabat pihak
5. Ibadah/kebaktian (upacara) pengukuhan suami istri dalam rangka meminta atau me-
sebagai pelayan jemaat. Ibadah ini mohon perlindungan Manggundi melalui
dipimpin oleh pelayan jemaat (pendeta); arwah-arwah nenek moyang agar mereka

Humaniora Volume XV, No. 2/2003 219


Enos H. Rumansara

turut menjaga dan melindungi anak-anak 4.4.3 Pemimpin Wor


dalam masa pertumbuhannya. Setelah or-
Sejak dalam penyelenggaraan Wor dulu,
ang Biak dikristenkan, Wor menjadi pesta
Me (Paman) berperan sebagai pemimpin Wor
adat atau upacara/kebaktian pengucapan
atau mediator. Namun, peran itu sekarang
syukur, merupakan kewajiban orang beriman
diambil alih oleh Panitia Penyelenggara
yang juga melibatkan anggota jemaat, dalam Pesta Adat. Tata cara kebaktian dipimpin
arti bahwa tidak terbatas pada kerabat suami oleh pemimpin liturgi sedangkan pestanya
istri akan tetapi anggota jemaat, guru peng- dipimpin oleh pengacara. Selain itu,
injil, pendeta, serta mereka yang diundang pemimpin upacara Wor sebelum kristenisasi
untuk menghadiri pesta adat. Selain itu, dipimpin oleh Me (Paman) atau Moon dan
permohonan dari Moon dan Me pada waktu sesudah menerima agama Kristen dipimpin
upacara melalui puisi (formula-formula oleh pendeta, penginjil, guru Jemaat, dan
khusus) kepada Manggundi, kawar, dan roh- anggota majelis jemaat.
roh halus lainnya beralih menjadi doa Pembinaan dan pendidikan di Rumsram
permohonan yang disampaikan kepada (rumah adat) yang merupakan tanggung
Mansren Nanggi (Tuhan). Wor (permohonan jawab Me (Paman) dan Moon mengalami
melalui nyanyaian adat) yang digunakan transformasi: Rumsram menjadi sekolah for-
untuk memuja dan memohon kepada mal dan geraja, Me (paman) menjadi guru
Manggundi, kawar, dan roh-roh halus lainnya SD, dan Moon menjadi pendeta/penginjil/
beralih menjadi nyanyian-nayanyaian gereja guru jemaat atau majelis jemaat. Walaupun
untuk memuja dan memohon kepada terjadi transformasi, masa depan Fno/
Mansren Nanggi (Tuhan). keponakan (Siso/SiDa) masih merupakan

Komposisi Letak Harta Mas Kawin Sebelum dan Sesudah Menerima Agama Kristen

Posisi sebelum Menerima Agama Kristen Posisi sesudah Menerima Agama Kristen

III II I

Keterangan: Mun Bukor ; II Mun Sus; III Mun Baken/Snewar


- Mun Bukor (I) adalah bagian kepala dari sorang gadis/wanita yang diganti dengan mas
kawin. Piring porselin yang menempati posisi ini disebut Ben Bepon (piring tua).
- Mun Sus (II) adalah bagian dada atau bagian tempat buah dada. Buah Dada (Sus)
dihargai karena buah dada ini yang membesarkan seorang bayi.
- Mun Snewar (III) adalah bagian perut seorang wanita yang akan mengandung seorang
anak/janin.

220 Humaniora Volume XV, No. 2/2003


Transformasi Upacara Adat Papua: Wor dalam Lingkaran Hidup Orang Biak

tanggung jawab Me/Paman (Mobr). Hal dengan benda lain yang dianggap cukup
demikian terlihat dalam kehidupan mereka: mahal (motor tempel, televisi, mesin
(a) Me (paman) sebagai tempat bertanya dari jahit, dan lain-lainnya). Selain itu, posisi
Fno (keponakan); (b) bantuan Me (paman) letak harta mas kawin yang dulunya
berupa pembayaran SPP dan kebutuhan merupakan simbol seorang wanita
studi lainnya; (c) Mas kawin dan pesta nikah mengalami perubahan bentuk melingkar
Fno (keponakan) masih merupakan tanggung atau segitiga (lihat bagan).
jawab Me/Paman (MoBr). c. Tarian dan Nyanyian mengalami hal yang
sama. Tari Kankarem yang selalu
4.4.4 Kegiatan–kegiatan Pendukung dilakukan dalam Wor mengalami trans-
Penyelenggaraan Wor formasi. Dalam pesta adat, orang Biak
Kegiatan-kegiatan pendukung penye- menarikan Tari Yosim Pancar sebagai
lenggaraan Wor yang tidak dapat dipisahkan pengganti tari Kankarem. Tari Kankarem
dari Wor seperti: (a) Fanfan (memberi memiliki 6 gerak dasar tari tradisional,
makan) dan Munsasu (Membayar kembali); yaitu: Mas Kopra, Mas Mansaso, Mas
(b) Ararem (mas kawin); (c) nyanyian dan Kinsireb, Mas Mamprepe, dan fyer (gerak
tarian juga ikut mengalami tranformasi. Hal wanita). Gerak dasar itu mengalami
demikian dapat dilihat dalam beberapa transformasi pada tari Yosim Pancar
kegiatan berikut. menjadi Yosim, Gale, Seka, Pacul Tiga,
jef, dan Pancar. Bloking/formasi dalam
a. Fanfan dan Munsasu, jenis Fanfan
(bahan makanan) seperti sagu, keladi, tari Kankarem adalah sebagai berikut.
petatas, dan lauk pauk seperti; ikan, Penarinya membuat formasi tiga banjar,
kuskus pohon, babi hutan/piara, dan melingkar dengan posisi penari pria dan
minuman sauger mengalami transfor- wanita dibagi menjadi dua, yaitu penari
masi. Fanfan (bahan makanan) di atas pria di bagian depan barisan penari dan
dapat ditambah dengan bahan berupa wanita di bagian belakang barisan
beras, tepung terigu, ikan kaleng, daging penari. Dalam tari Yosim Pancar,
ayam, minuman beralkohol seperti: Beer, penarinya membuat barisan yang terdiri
Wisky, Anggur cap Kolesom, dan lain- dari dua banjar. Penari pria dan wanita
lainnya, sedangkan Munsasu (mem- berpasangan dan dalam melakukan
bayar kembali), yaitu alat pembayaran gerak selalu membentuk formasi
yang digunakan untuk membayar melingkar serta pada saat-saat tertentu
kembali (Munsu) seperti : samfar (gelang membentuk formasi bela rotan.
dari kulit kerang), Sarak (gelang perak), Tifa sebagai alat musik tradisional
Ben (piring porselin) mengalami pada tari Kankarem mengalami
perubahan bentuk. Hal demikian dise- perubahan bentuk menjadi gitar, ukulele,
babkan pada saat itu pihak gereja, dan string bass. Pemusik dalam tari
pemerintah Belanda, dan Dewan Adat kankarem merangkap sebagai penari,
Biak mengeluarkan suatu larangan sedangkan pada tari Yosim Pancar
terhadap penggunaan samfar (gelang pemusiknya berada di panggung musisi.
siput/kerang) sebagai alat tukar. Selain itu, nyanyian yang digunakan
b . Ararem (Mas kawin), yang sebelum Injil pada tari Kankarem adalah Wor
terdiri dari Samfar dan Ben Bepon (piring (nyanyian adat), sedangkan dalam tari
porselin cina tua) menempati posisi Yosim Pancar digunakan nyanyian rakyat
penting dalam mas kawin mengalami yang sudah dipengaruhi instrumen
perubahan bentuk. Samfar (uang) dan moder n, meskipun syairnya masih
Ben Bepon (piring tua) yang sering dipengaruhi Wor (nyanyian adat)
digunakan untuk maskawin Bukor (harta terutama wor Beyuser. Syair yang
mas kawin yang menempati posisi dilagukan dalam pesta Adat berbahasa
pertama) dapat digantikan posisinya Biak dan bahasa Indonesia Irian/Papua.

Humaniora Volume XV, No. 2/2003 221


Enos H. Rumansara

d. Norma-norma yang terkandung dalam dan faknik), jenis-jenis/bentuk wor, pemimpin


Pokok Ajaran Agama Kristen (Doa Bapa wor (moon, Me), fararyor/doa (Permohonan),
Kami; Pengakuan Iman Rasuli, dan kegiatan-kegiatan pendukung dalam
Sepuluh Hukum Tuhan) -norma-norma/ penyelenggaraan Wor (fanfan, munsasu,
aturan-aturan budaya baru/asing yang nyanyian dan tari).
masuk melalui proses difusi dan Perubahan bentuk terjadi dalam struktur/
akulturasi mempengaruhi agama tradisi- pola, jenis, dan bentuk dalam wor lingkaran
onal mereka. Proses perubahan terse- hidup mereka. Meskipun demikian, emosi
but di atas mengakibatkan terjadinya keagamaan masih tetap ada dalam
transformasi Wor dalam lingkaran hidup kehidupan mereka. Mereka masih percaya
mereka. Hal ini telah dijelaskan dalam adanya penguasa alam semesta atau
pembahasan terdahulu: (a) Manggundi kekuatan luar bisa yang mereka wajib
(Penguasa Tunggal) dalam kepercayaan disembah walaupun berubah bentuknya.
tradisional orang Biak menjadi Tuhan
pada Ajaran Agama Kristen; (b) Wor DAFTAR PUSTAKA
mengalami perubahan menjadi Pesta
Adat dan Kebaktian Pengucapan Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2001. Struk-
Syukur; (c) Fararyor (permohonan) turalisme Levi-Strauss: Mitos dan Karya
dalam wor menjadi Doa (permohonan) Sastra. Yogyakarta: Galang Press.
pada Pesta Adat/Kebaktian Pengucapan
Akwan, C. 1984 . Beberapa Aspek Teater
Syukur; (d) Nanggi adalah Sorga (tempat
Tradisional di daerah Kebudayaan Biak
suci) yang didiami oleh Tuhan; (e) Me
di Numfor. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
pemimpin Wor dalam agama tradisional
dan pendeta/penginjil/majelis pemimpin Alfian.1986. Transformasi Sosial Budaya
Pesta adat atau Kebaktian Pengucapan Dalam Pembangunan Nasional. Jakarta:
Syukur dalam Agama Kristen; (f) Tari UI – Press.
Kankarem menjadi Tari Yosim Pancar,
Barnett, H.G. 1953.Innovation: The Basis of
Nyanyian Adat (Wor) pada agama
Culture Change. New York: Mc Graw
tradisional menjadi Lagu-lagu Gereja dan
Hill.
lagu-lagu rakyat pengaruh musik mod-
ern setelah Agama Kristen, (g) Samfar Geertz, Clifford. 1989. Abangan, Santri,
merupakan alat bayar pada agama Priyai dalam Masyarakat Jawa (Cetakan
tradisional dan mata uang sebagai alat ke – 3). Penerjemah: Aswab Mahasin.
bayar setelah masuknya Agama Jakarta: Pustaka Jaya.
Kristen, dan lain-lainnya.
Haviland William A. 1988. Antropolog.
Penerjemah: R.G. Soekadijo. Jakarta :
5 Kesimpulan Erlangga.
Dari pembahasan tentang “transformasi Kamma, F.C. 1981.Ajaib di Mata Kita:
Wor dalam lingkaran hidup Orang Biak” di Masalah Komunikasi Timur dan Barat
atas, disimpulkan bahwa masuk dan ber- dilihat dari Sudut Pengalaman Selama
kembangnya norma dan aturan-aturan Seabad Pekabaran Injil di Irian Jaya
Agama Kristen dalam agama asli orang (Jilid I). Penerjemah: Koesalah Soebagyo
Papua, terutama Wor (Upacara Tradisional) Toer dengan Bantuan dr. Th. Van den
dalam kebudayaan orang Biak mengakibat- End. Jakarta: Penerbit BPK Gunung
kan terjadinya transformasi dalam struktur, Mulia.
pola, bentuk, dan norma atau aturan-aturan
__________ 1994. Ajaib di Mata Kita:
yang mengatur Wor (upacara Adat orang
Masalah Komunikasi Timur dan Barat
Biak). Hal tersebut terlihat pada beberapa
Dilihat dari Sudut Pengalaman Selama
aspek, di antaranya: aspek penguasa alam
Seabad Pekabaran Injil di Irian Jaya
semesta (Mangundi, karwar, dabyor, arbur
(Jilid III). Penerjemah: Koesalah

222 Humaniora Volume XV, No. 2/2003


Transformasi Upacara Adat Papua: Wor dalam Lingkaran Hidup Orang Biak

Soebagyo Toer dengan Bantuan dr. Th. Masinanbow, E. K. M. dkk. 1992 Masyarakat
Van den End. Jakarta: BPK Gunung Dani dan Pola-Pola Perobahannya.
Mulia. Jakarta: LIPI Jakarta.
Kapisa, Sam. 1994. “Eksistensi Wor Biak Mauss, Marcel. 1992. Pemberian Bentuk
dan Upaya Pelestariannya (makalah). dan Fungsi Pertukaran di Masyarakat
Jayapura: Seminar Jurusan Antropologi Kuno. Pangantar dan Penerjemah:
FISIP Universitas Cendrawasih. Parsudi Suparlan. Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia.
Kayam, Umar. 1993 “Transformasi Sosial
Budaya: Budaya Asli di Tengah-Tengah Winangun, Wartaya Y.W. 1990. Masyarakat
Pengaruh Budaya Asing”. Dalam M. Bebas Struktur, Liminalitas, dan
Mansyur Amin dan Mohammad Najib Kominitas Menurut Viktor Turnner.
(Editor), Agama, Demokrasi dan Trans- Yogyakarta: Kanisius .
formasi Sosial. Jakarta: Penerbit
Van Gennep, Arnold. 1960.The Rites of Pas-
LKPSM NU DIY.
sage. Rouldge Kegan Paul London and
Koentjaraningrat. 1985. Ritus Peralihan di In- Henley.
donesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.

1 Difusi; proses penyebaran unsur-unsur Biak). Selesai mengikuti mengikuti wor K,bor
kebudayaan secara meluas, sehingga melewati berarti secara resmi menjadi orang Biak yang
batas tempat dimana kebudayaan iru timbul bertanggung jawab atasa kebudayaannya.
(Sukamto, 1983:150). 11 Wor Beba/fararur Beba; upcara ini melibatkan
2 Akulturasi; proses pertemuan unsur-unsur dari banyak orang sehingga memakan biaya yang
berbagai kebudayaan yang berbeda yang diikuti cukup besar. Di dalam upacara ini ada wor kecil
dengan percampuran unsur-unsur tersebut. dalamnya, yaitu: wor Famarmar (memberi cawat
Perbedaan antara unsur-unsur asing dan asli untuk anak laki-laki) dan Sraikir Kneram
masih tampak (Soekanto, 1983: 4). (melobangi telinga anak perempuan)
3. Dunia sasor; artinya dunia yang penuh dengan 12 Wor farbakbuk (Upacara perkawinan); upacara
kehati-hatian atau bahaya. Dunia yang dimaksud ini melalui proses yaitu: (1) fakfuken (peminang-
adalah dunia nyata yang dihuni oleh manusia an), (2) peninjauan mas kawin (ararem), (3)
sekarang.
mengantar mas kawin. Setelah maskawin diterima
4. Manggundi (Dia Sendiri); yaitu Penguasa tunggal
oleh pihak perempuan maka selanjutnya mereka
yang tertinggi, tidak ada penguasa lain yang
menyelenggarakan wor Ramrem (upacara
melbihinya, hanya Dia sendiri. Penguasa Tunggal
peminyakan), kemudian Wor yakyaker ( keluarga
ini berada di Nanggi (langit).
pihak colon istri mengatarnya kerumah calon
5 ngo wor ba ido nari ngo mar; artinya apabila kami
suaminya dan dilanjutkan dengan Wor Wafwofer
tidak melakukan wor kami akan mati (Kamma,
(upacara pengukuhan perkawinan) dan Wor
1981: 274)
Anenfasus (upacara dimana ibu dari anak
6 Wor Babyos; upacara membuat ikatan dari kulit perempuan tidur dirumah suaminya).
kayu (mandwam) untuk menahan bagian bawa h
13 Ansasorartinya makan (An) hati-hati (sasor).
perut seorang ibu yang sedang hamil.
Istilah ini biasanya dikenakan pada Ibu, dimana
7 1 Wor Pasasnai; upcara memperlihatkan anak pada kurun waktu itu Ibu sangat berhati-hati dalam
kepada alam dan segala isinya agar alam dan memakan jenis-jenis makan yang disuguhkan oleh
isinya mengenal bayi atau anak yang baru lahir keluarga maupun kerabat-kerabatnya, karena
itu sehingga turut menjaganya. mempunyai pengaruh terhadap kesehatan anak.
8 Wor Anmam (penyapihan); yaitu upacara
penyauapan anak dengan makanan yang bukan 14 Rumsram; yaitu rumah Adat atau rumah laki-laki
ASI ibunya untuk pertama kalinya. Dan Wor ini yang berfungsi sebagai tempat atau pusat
dilakukan apabila sudah tumbuh giginya. pendidikan dan pemujaan kepada Mangundi,
arwah nenek moyang dan roh-roh halus lainnya
9 Wor Kapanaknik; yaitu upacara cukur rambut. yang mereka yakini memiliki kekuatan luar biasa.
10 Wor k,bor/kabor; yaitu upacara inisiasi yang 15 Yen saonek; adalah Pelabuhan pasir di kepulauan
diselenggrakan setelah anak selesai mengikuti Raja Ampat yang teduh. Nama ini digunakan
pendidikan pada Rumsram (rumah adat orang sebagai simbol dari hati manusia.

Humaniora Volume XV, No. 2/2003 223