Anda di halaman 1dari 5

Liturgis vs.

Liturgos:
Sebuah Analisis Penyerapan Kata Berdasarkan
Kaidah-Kaidah Penyerapan Kata dan Pembentukan Istilah dalam Bahasa Indonesia

Andrea K. Iskandar1

Abstrak
Dalam beberapa tahun belakangan ini di dalam ibadah-ibadah di kalangan Kristen di Indonesia
diperkenalkan dengan sebuah istilah baru “liturgos” yang konon dimunculkan dalam bahasa
Indonesia sebagai koreksi atas kata “liturgis”. Hingga kini di berbagai gereja dijumpai sejumlah
ketidaksepahaman apakah kata “liturgis” atau “liturgos” yang lebih tepat dipakai. Keberadaan
“liturgis” dan “liturgos” sebagai dua kata yang bersaing tetap perlu diselesaikan untuk menjelaskan
duduk perkara kedua kata ini dan demi kejernihan pemahaman bersama. Kaidah-kaidah penyerapan
kata dan pembentukan istilah dalam bahasa Indonesia akan digunakan untuk menilik ketepatan
penyerapan kedua kata ini serta apa istilah yang tepat yang seharusnya digunakan untuk merujuk
kepada fungsi seseorang yang memimpin kebaktian Minggu. Pada akhirnya ditemukan bahwa
bentuk yang sah, sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku adalah “liturgis” dan “leiturgos”, bukan
“liturgos”. Tetapi dari antara dua bentuk yang sah, “liturgis” merupakan bentuk yang lebih tepat
untuk tetap dipergunakan dalam praksis hidup bergereja.

Pendahuluan
Dalam beberapa tahun belakangan ini di dalam ibadah-ibadah di kalangan Kristen di Indonesia
diperkenalkan dengan sebuah istilah baru “liturgos” yang konon dimunculkan dalam bahasa
Indonesia sebagai koreksi atas kata “liturgis”. Hingga kini di berbagai gereja dijumpai sejumlah
ketidaksepahaman apakah kata “liturgis” atau “liturgos” yang lebih tepat dipakai. Untuk
menghindari perdebatan ini, ada yang mengambil jalan tengah dengan menggunakan istilah
“pemimpin liturgi” atau “worship leader” atau “MC”.
Walaupun telah diperkenalkan berbagai istilah untuk menyebutkan fungsi seseorang yang
memimpin jalannya kebaktian Minggu di gereja, keberadaan “liturgis” dan “liturgos” sebagai dua
kata yang bersaing tetap perlu diselesaikan untuk menjelaskan duduk perkara kedua kata ini dan
demi kejernihan pemahaman bersama. Melalui tulisan ini diharapkan segenap umat Kristen yang
berbahasa Indonesia dapat memahami dengan jelas asal-muasal kata ini dan bagaimana kata ini
diserap ke dalam bahasa Indonesia. Lebih lanjut, diharapkan gereja-gereja berbahasa Indonesia pun
dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan tepat sehingga melalui penggunaan ungkapan-
ungkapan yang tepat iman jemaat dapat dibangun dengan lebih sistematis melalui setiap pesan yang
diutarakan oleh gereja.
Penggunaan istilah-istilah lainnya yang begitu beragam seperti “pemimpin liturgi”, “worship
leader” dan “MC” akan mengundang diskusi tersendiri lagi baik mengenai kesetaraan di antara

1
Alumnus M.Div. STT Cipanas, bekerja di Yayasan Bina Nusantara, melayani di Gereja Kristus Ketapang sebagai
Ketua Bagian Pemuda dan Anggota Tim Litbang.

1
semua istilah tersebut maupun ketepatan maknanya. Karena itu, tulisan ini tidak akan membahas
lebih jauh istilah-istilah lainnya ini.

I. Asal Kata “Liturgi”


Kata “liturgis” atau “liturgos” berasal dari kata benda “liturgi”. “Liturgi”, menurut The American
Heritage Dictionary of the English Language (AHDEL) adalah kata benda yang berarti “1. A
prescribed form or set of forms for public Christian ceremonies; ritual. 2. The sacrament of the
Eucharist.” Dalam konteks gereja-gereja secara umum, dan di dalam tulisan ini, pemahaman yang
akan digunakan adalah pemahaman yang pertama. Sejalah dengan itu Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) mendefinisikan “liturgi” sebagai “1 ibadat umum di gereja; 2 tata cara
kebaktian”. Pemahaman kedua yang diajukan KBBI ini sejalan dengan pemahaman pertama
AHDEL. Jadi, untuk kepentingan penulisan makalah ini, “liturgi” akan didefinisikan sebagai “satu
rangkaian tata cara kebaktian yang digunakan dalam gereja-gereja Kristen.”
Kata “liturgi”, menurut AHDEL, berasal dari bahasa Yunani: lao.j (laos, orang banyak) dan
e;rgon (ergon, pekerjaan). Dari kedua kata ini terbentuklah leitourgo.j (leitourgos) yang berarti
pegawai negeri sipil, orang yang melakukan pelayanan kepada publik. Bahasa Yunani ini kemudian
diserap ke dalam bahasa Latin menjadi liturgia, yang berarti serangkaian pekerjaan yang dilakukan
untuk kepentingan publik. Dari bahasa Latinlah kemudian kata liturgia diserap ke dalam bahasa
Inggris menjadi liturgy.
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PU-EyD) membuka
Bagian IV (Penulisan Unsur Serapan) dengan paragraf ini:
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain, baik dari
bahasa daerah maupun dari bahasa asing seperti Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris. 2

Dari paragraf tersebut didapati bahwa kelima bahasa itu, sekurang-kurangnya, adalah bahasa-bahasa
yang paling dominan mempengaruhi pembentukan bahasa Indonesia. Dari kelima bahasa yang
disebutkan, bahasa Portugis, Belanda dan Inggris-lah yang mungkin menjadi sumber penyerapan
istilah-istilah “liturgi” dan turunan-turunannya sebab ketiga bahasa inilah yang memiliki latar
belakang kebudayaan Kristen dan secara taksonomi bahasa dekat dengan bahasa Latin dan Yunani,
sumber-sumber kata “liturgi”.”Liturgi” dalam bahasa Portugis adalah liturgia, sedangkan dalam
bahasa Belanda adalah liturgie.
Dari analisis kata “liturgi” ini perhatian akan dialihkan kepada “liturgis” atau “liturgos”. Di
dalam bahasa Indonesia tidak dikenal sufiks -is maupun -os, karena itu tidak mungkin kata
“liturgis” maupun “liturgos” dibentuk dari kata “liturgi” dalam bahasa Indonesia yang lalu
ditambahi imbuhan tertentu. Kata “liturgis” atau “liturgos”, ketika dijumpai dalam bahasa
Indonesia, haruslah diserap seutuhnya dari bahasa aslinya. Karena itu selanjutnya akan ditilik lebih
jauh dalam bahasa apa dari semua bahasa yang sudah dijumpai tadi bisa ditemukan bentuk
“liturgis” maupun “liturgos” untuk memaknai orang yang memimpin jalannya liturgi untuk
menentukan apakah “liturgis” atau “liturgos” yang merupakan bentuk yang tepat, dilanjutkan
dengan penelaahan aturan penyerapan bahasa asing dan pembentukan istilah dalam bahasa
Indonesia dalam kaidah-kaidah yang berlaku.

2
KBBI, hlm. 1.155.

2
II. Asal Kata “Liturgis” dan “Liturgos”
Bahasa-bahasa yang sudah dijumpai sejauh ini adalah bahasa Yunani, Latin, Inggris, Portugis, dan
Belanda. Bentuk “liturgi” baru muncul dalam bahasa Latin, liturgia. Karena itu padanan kata
“liturgis” dalam bahasa Yunani yang memiliki bentuk leitourgos sebelum bentuk liturgia ada tidak
akan dicari. Di dalam bahasa Inggris dijumpai kata liturgist. Dalam bahasa Portugis, dijumpai
liturgia dan dalam bahasa Belanda liturgist. Bahasa Indonesia tidak mengenal penyerapan sufiks -
ia, maka bentuk Portugis dalam hal ini gugur dan tersisa satu bentuk homonim liturgist dari bahasa
Inggris dan Belanda yang akan ditelaah kemudian di dalam tulisan ini.
Bentuk “liturgos”, sebagaimana diklaim oleh orang-orang yang mempopulerkannya, diserap
dalam bahasa Yunani. Memang dalam semua alternatif yang telah diulas di atas, hanya dalam
bahasa Yunanilah dijumpai sufiks -os. Maka, penyerapan bentuk leitourgos akan ditelaah sebagai
sumber bagi kata “liturgos” dalam bahasa Indonesia.
Sebelum melangkah lebih lanjut dalam penelaahan penyerapan bentuk liturgist menjadi
“liturgis” dan leitourgos menjadi “liturgos”, akan dipaparkan terlebih dulu kaidah-kaidah
penyerapan kata dan pembentukan istilah dalam bahasa Indonesia.

III. Kaidah-Kaidah Penyerapan Kata dan Pembentukan Istilah dalam Bahasa Indonesia 3
Pada umumnya tolok ukur yang dipakai dalam menilai ketepatan sebuah kata adalah KBBI. Namun,
di atas KBBI ada dua pedoman lain yang lebih tinggi otoritasnya yang menjadi pedoman bagi
penyusunan KBBI. Kedua pedoman inilah yang kini akan dijadikan pedoman penelaahan lebih
jauh, berturut-turut dari yang lebih kecil ruang lingkupnya ke yang lebih besar.
Di dalam tata bahasa Indonesia ada kaidah yang dikenal sebagai “Pedoman Umum
Pembentukan Istilah” (PUPI). Edisi kedua dari pedoman ini ditetapkan berdasarkan Keputusan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0389/U/1988 tanggal 11 Agustus 1988 dan
dicermatkan dalam Rapat Kerja Panitia Kerja Sama Kebahasaan tanggal 16-20 Desember 1990.
Singkatnya, PUPI ini mengatur bahwa ketika seseorang menemukan suatu kata dalam bahasa asing
yang dipandangnya cocok untuk digunakan menyampaikan makna tertentu, tidak semerta-merta
kata asing itu dapat diindonesiakan entah dengan menyesuaikan bunyinya dengan “lidah” Indonesia
atau mengubah bentuk kata itu supaya terdengar lebih alami.
Berawal dari sebuah konsep yang hendak disampaikan, perlu terlebih dulu dicari kata yang
tepat untuk menyampaikan makna itu di enam lokasi menurut prosedur pembentukan istilah: 1) kata
dalam bahasa Indonesia yang lazim dipakai, 2) kata dalam bahasa Indonesia yang sudah tidak lazim
dipakai, 3) kata dalam bahasa serumpun yang lazim dipakai, 4) kata dalam bahasa serumpun yang
tidak lazim dipakai, 5) istilah dalam bahasa Inggris, 6) istilan dalam bahasa asing. Dengan
demikian, diadakan semacam tender untuk menentukan pilihan kata mana yang paling tepat untuk
diserap ke dalam bahasa Indonesia.
Bagi pilihan-pilihan kata yang berasal dari lokasi ke-1 hingga ke-4, ada satu rangkaian tes
yang harus dilalui agar pilihan-pilihan kata ini dapat dipertimbangkan di dalam tender:
a. Ungkapan yang tepat.
b. Ungkapan yang paling singkat.
c. Ungkapan yang tidak berkonotasi buruk.
d. Ungkapan yang sedap didengar.

3
Naskah-naskah semua kaidah ini, yaitu PU-EyD dan PUPI tersedia sebagai lampiran pada KBBI.

3
Bagi pilihan-pilihan kata yang berasal dari lokasi ke-5 dan ke-6, ada dua tes yang harus
dilalui. Tes pertama adalah:
a. Ungkapan asing dengan arti umum diterjemahkan dengan arti umum.
b. Ungkapan asing yang berhubungan diterjemahkan dengan yang bersistem.

Tes kedua adalah:


a. Ungkapan asing memudahkan pengalihan antarbahasa.
b. Ungkapan asing lebih cocok.
c. Ungkapan asing lebih singkat.
d. Ungkapan asing memudahkan kesepakatan.

Dari langkah-langkah di atas lalu didapat sejumlah kata yang lalu dipilih untuk diserap dan
digunakan di dalam bahasa Indonesia untuk menyampaikan makna yang dimaksud. Artinya,
keinginan-keinginan untuk menyerap liturgist menjadi “liturgis” dan leitourgos menjadi “liturgos”
harus ditenderkan untuk ditemukan yang mana dari kedua alternatif ini yang merupakan penyerapan
kata yang tepat sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Mengingat natur tulisan ini yang membahas
pemilihan antara “liturgis” dan “liturgos”, dua kata yang pada praksisnya sudah lazim digunakan di
gereja-gereja berbahasa Indonesia, maka tahap ini akan dilalui. Namun kaidah ini membuka ruang
di sini bagi para pemikir yang hendak menelusuri lebih jauh ketepatan pemakaian istilah-istilah
seputar kata “liturgi” di dalam bahasa Indonesia.
Bagian lain dari PUPI yang perlu diperhatikan adalah seksi 6.5 (Penyesuaian Ejaan), 6.6
(Penyesuaian Huruf Gugus Konsonan Asing) dan 6.7 (Penyesuaian Imbuhan Asing).
Di luar PUPI, ada satu lagi kaidah yang lebih umum dan turut menaungi PUPI, yaitu PU-
EyD yang edisi keduanya ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
RI No. 0543a/U/1987 tanggal 9 September 1987 dan diterima pada Sidang ke-30 Majelis Bahasa
Brunei Darussalam – Indonesia – Malaysia di Bandar Seri Begawan, 4-6 Maret 1991. Dalam
kaitannya dengan penyerapan liturgist menjadi “liturgis” dan leitourgos menjadi “liturgos”, Bagian
IV dari PU-EyD inilah yang akan dipergunakan.

IV. Ketetapan Penyerapan liturgist menjadi “liturgis” dan leitourgos menjadi “liturgos”
Berdasarkan Bagian IV PU-EyD, diutarakan bahwa “… unsur pinjaman yang pengucapan dan
penulisannya disesuaikan dalam bahasa Indonesia … diusahakan agar ejaannya hanya diubah
seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.”
Kalimat ini menjadi pedoman umum dalam penyerapan istilah sehingga bentuk-bentuk liturgist dan
“liturgis” serta leitourgos dan “liturgos” masih dapat dikenali satu sama lain.
Dalam hal penyerapan liturgist menjadi “liturgis”, berikut adalah kaidah-kaidah penyerapan
yang diatur:
1. g tetap g
2. -ist menjadi –is
Selebihnya dari bentuk liturgist tetap dipertahankan. Dengan demikian, liturgist dengan sah dapat
diserap menjadi “liturgis”.
Dalam hal penyerapan leitourgos menjadi “liturgos”, berikut adalah kaidah-kaidah
penyerapan yang diatur:

4
1. ei tetap ei
2. ou jika lafalnya u, menjadi u
3. g tetap g
Selebihnya dari bentuk leitourgos tetap dipertahankan. Dengan demikian, leitourgos, jika diserap ke
dalam bahasa Indonesia, menjadi “leiturgos”.
Jika kata “liturgis” dan “leiturgos” ini kemudian kembali diuji menurut kaidah penyerapan
kata yang terdapat dalam PUPI sebagaimana dijabarkan di atas, maka akan dijumpai bahwa
“liturgis” akan lebih unggul dari “leiturgos” dalam segi kesingkatan dan kesedapan didengar (fonem
i lebih alami dalam bahasa Indonesia dibandingkan fonem ei), kemudahan pengalihan antarbahasa
(“liturgis” merupakan hasil evolusi bahasa yang lebih lanjut dan lebih banyak bahasa yang
menggunakan “liturgis” daripada “leiturgos”) serta kemudahan kesepakatan (bahasa Inggris sebagai
lingua franca internasional menggunakan bentuk padanan “liturgis”).

V. Kesimpulan
Di dalam praksis beribadah di gereja-gereja berbahasa Indonesia telah diperkenalkan kata “liturgis”
dan “liturgos”. Kata “liturgos” yang baru saja digunakan dalam beberapa tahun terakhir
dimaksudkan sebagai koreksi atas kata “liturgis”. Di dalam tulisan ini telah dipaparkan runutan
asal-usul kedua kata tersebut dan bagaimana mereka diserap ke dalam bahasa Indonesia. Dari hasil
pemaparan tersebut, ternyata bahwa kata yang dapat dipakai secara sah adalah “liturgis” atau
“leiturgos”. Kata “liturgos” adalah bentuk penyerapan yang tidak sah menurut kaidah-kaidah yang
berlaku dalam tata bahasa Indonesia. Ketika “liturgos” dan “leiturgos” diuji menurut prosedur
pembentukan istilah, maka “liturgis” akan menjadi kata yang lebih tepat untuk digunakan
dibandingkan “leiturgos”, walaupun kedua-duanya sama-sama merupakan pilihan yang sah.
Demi kepraktisan penggunaan istilah, para praktisi bidang ibadah di gereja-gereja berbahasa
Indonesia disarankan tetap menggunakan istilah “liturgis” untuk merujuk kepada orang yang
bertugas memimpin jalannya kebaktian Minggu di gereja.

Daftar Pustaka
American Heritage Dictionary of the English Language, The. Edisi ke-3. Boston: Houghton Mifflin
Company, 1992.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ke-2. Jakarta: Balai Pustaka, 1991.