Anda di halaman 1dari 57

1

OPTIMALISASI PATROLI DAN PENGAWALAN


OLEH SAT PJR POLDA KALIMANTAN TIMUR
GUNA MENGAMANKAN KAMPANYE PEMILU 2019
DALAM RANGKA TERWUJUDNYA KAMSELTIBCARLANTAS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lalu lintas merupakan urat nadi kehidupan, cermin budaya
dan refleksi atas modernitas suatu bangsa. Lalu lintas membutuhkan
adanya keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran agar
setiap mobilitas masyarakat yang menggunakan ruang lalu lintas
merasa aman dan nyaman. Hal tersebut sesuai dengan amanat UU
No 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan yang salah
satu tujuannnya adalah mewujudkan keamanan, keselamatan,
ketertiban dan kelancaran lalu lintas di jalan.
Di Indonesia kesadaran masyarakatnya dalam mewujudkan
Kamseltibcarlantas masih sangat rendah dibandingkan dengan
negara-negara lain di dunia. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh
World Health Organization (WHO) Indonesia menempati urutan
kelima sebagai negara dengan jumlah kematian terbanyak akibat
kecelakaan lalu lintas. Indonesia dilaporkan mengalami kenaikan
jumlah kecelakaan lalu lintas hingga lebih dari 80 persen. Di
Indonesia, jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas
mencapai 120 jiwa per harinya. Diperkirakan, angka tersebut akan
meningkat hingga tiga kali lipat pada 2030. Berawal dari keprihatinan
tersebut dan sebagai tindak lanjut resolusi Perserikatan Bangsa-
Bangsa Nomor 64/255 tanggal 10 Maret 2010 tentang Improving
Global Road Safety melalui program Decade of Action for Road

1
2

Safety 2011-2020, maka pemerintah mengeluarkan Inpres No. 4


tahun 2013 tentang Program Dekade Aksi keselamatan Jalan .
Di Polda Kaltim, Inpres No 4 tahun 2013 di tindaklanjuti
dengan pencanangan Tahun Keselamatan untuk Kemanusian tahun
2017 – 2018 dengan tujuan untuk menurunkan tingkat kecelakaan
dalam berlalu-lintas. Hal tersebut mengingat jumlah korban jiwa yang
disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas cukup tinggi. Dari data yang
ada selama tahun 2016 sebanyak 377 orang meninggal dunia akibat
kecelakaan lalu lintas dan selama tahun 2017 sebanyak 176 orang.
Salah satu penyebab utama terjadinya kecelakaan lalu lintas di
wilayah hukum Polda Kaltim diawali dengan adanya pelanggaran
yang dilakukan oleh para pengguna jalan. Situasi tersebut diatas
tentunya membutuhkan perhatian yang serius dari seluruh
stakeholders yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan lalu
lintas, termasuk Polri dalam hal ini Polda Kaltim.
Dari kondisi yang telah penulis uraikan di atas, dapat dilihat
bahwa masih tingginya angka kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas
disebabkan oleh masih rendahnya kesadaran masyarakat akan
pentingnya keamanan dan keselamatan di jalan serta masih
lambannya penanganan petugas terhadap korban kecelakaan lalu
lintas. Menyingkapi hal tersebut, Dit Lantas Polda Kaltim
mengedepankan Satuan Patroli Jalan Raya untuk meminimalisir
angka kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas dengan membentuk
Bhayangkara Pembina Keamanan, Keselamatan dan Ketertiban
serta Kelancaran Lalu Lintas (Bhabinkamseltibcarlantas) yang
bertugas membina, memantau, memberikan pembinaan terhadap
masyarakat pengguna jalan, mendeteksi setiap potensi gangguan
Kamtibmas yang ada di jalan raya dan penanggulangan kejahatan
jalanan.
Saat ini Bhabinkamseltibcarlantas yang telah ada masih perlu
dioptimalkan perannya agar lebih quick respon terhadap setiap
kejadian kecelakaan lalu lintas dan tanggap terhadap setiap
permasalahan lalu lintas yang terjadi di jalan sehingga terciptanya
3

keamanan, keselamatan, ketertiban, kelancaran lalu lintas bagi


seluruh masyarakat pengguna jalan.
B. Permasalahan
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut diatas maka dapat
diidentifikasi sebuah pokok permasalahan , bahwa “Bagaimana
mengoptimalkan Peran Bhabinkamseltibcarlantas dalam
meminimalisir pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas sehingga
Kamseltibcarlantas dapat terwujud?”

C. Persoalan
Dari identifikasi pokok permasalahan, kemudian dapat
diinventarisir beberapa pokok-pokok persoalan sebagai berikut :
1. Bagaimana dukungan Sumber Daya Manusia (SDM)
Bhabinkamseltibcarlantas dalam meminimalisir pelanggaran
dan kecelakaan lalu lintas?
2. Bagaimana dukungan anggaran untuk mengoptimalkan peran
Bhabinkamseltibcarlantas dalam meminimalisir pelanggaran
dan kecelakaan lalu lintas?
3. Bagaimana dukungan sarana dan prasarana untuk
mengoptimalkan peran Bhabinkamseltibcarlantas dalam
meminimalisir pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas?
4. Bagaimana metode yang diterapkan oleh
Bhabinkamseltibcarlantas dalam meminimalisir pelanggaran
dan kecelakaan lalu lintas?

D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pembahasan dalam NKP ini dibatasi pada
upaya Dit Lantas Polda Kaltim dalam mengoptimalkan Peran
Bhabinkamseltibcarlantas dalam meminimalisir pelanggaran dan
kecelakaan lalu lintas sehingga Kamseltibcarlantas di wilayah hukum
Polda Kalimantan Timur dapat terwujud.
4

E. Maksud dan Tujuan


1. Maksud
Maksud penulisan Naskah Karya Perorangan (NKP) ini
adalah untuk memenuhi persyaratan mengikuti tes seleksi
pendidikan Sespimmen Polri Dikreg 58 T.A. 2018 dan
memberikan sumbangsih pemikiran kepada unsur pimpinan
Polri dalam mengoptimalkan peran Bhabinkamseltibcarlantas
guna meminimalisir kecealakaan dan pelanggaran lalu lintas
dalam rangka mewujudkan Kamseltibcarlantas.

2. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan Naskah Karya
Perorangan ini adalah untuk memberikan gambaran tentang
pentingnya optimalisasi peran Bhabinkamseltibcarlantas guna
meminimalisir kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas dalam
rangka mewujudkan Kamseltibcarlantas.

F. Metode dan Pendekatan


1. Metode
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif
analisis, yaitu dengan mengangkat fenomena dan temuan-
temuan dilapangan yang dan relevansinya dengan penulisan,
selanjutnya penulis menganalisa dengan mengggunakan teori
manajemen, teori kompetensi, teori manajemen strategi, teori
motivasi, dan analisa SWOT, sehingga diperoleh sebuah
analisis yang komprehensif untuk merumuskan suatu
kesimpulan yang dapat mendukung upaya optimalisasi peran
Bhabinkamseltibcarlantas.

2. Pendekatan
5

Pembahasan Naskah Karya Perorangan ini dilakukan


melalui kajian empiris melalui pendekatan tugas, baik terkait
dengan profesi maupun wawasan, pengetahuan dan
pengalaman penulis selama menjabat sebagai Kepala Satuan
Patroli Jalan Raya Ditlantas Polda Kaltim.

G. Sistematika
Sistematika yang dipergunakan dalam penulisan Naskah
Karya Perorangan ini, secara keseluruhan dapat digambarkan
sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan tentang latar belakang,
rumusan permasalahan dan persoalan, ruang lingkup,
maksud dan tujuan, metode dan pendekatan,
sistematika serta pengertian-pengertian.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini menguraikan tentang landasan teori yang


digunakan sebagai dasar pembahasan dan merupakan
kerangka pola pikir penulis dalam mengatasi
permasalahan yang ada berdasar pada kajian teoritis
yang digunakan.

BAB III KONDISI FAKTUAL


Bab ini menguraikan tentang gambaran
Bhabinkamseltibcarlantas yang ada di Ditlantas Polda
Kaltim ditinjau dari aspek sumber daya manusia,
dukungan anggaran, kondisi sarana dan prasarana
serta metode yang digunakan dalam meminimalisir
kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas.
6

BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


Bab ini menguraikan mengenai berbagai faktor-
faktor yang mempengaruhi kondisi Bhabinkamseltibcar
lantas, baik ditinjau dari sisi internal maupun sisi
eksternal dengan menggunakan pisau analisis SWOT.

BAB V KONDISI IDEAL


Bab ini merupakan tinjauan tentang kondisi ideal
Bhabinkamseltibcarlantas Ditlantas Polda Kaltim yang
diharapkan, dari aspek sumber daya manusia, dukungan
anggaran, kondisi sarana dan prasarana dan metode
dalam meminimalisir kecelakaan dan pelanggaran lalu
lintas.

BAB VI UPAYA PEMECAHAN MASALAH


Bab ini akan menguraikan konsepsi pemecahan
masalah yang dirumuskan melalui langkah - langkah
yang dideskripsikan dengan menggunakan pendekatan
manajemen strategik dalam bentuk konsepsi pemecahan
masalah untuk menjawab persoalan yang dituangkan
dalam translation process yang meliputi: perumusan Visi,
Misi, Tujuan, Sasaran, Kebijakan, Strategi dan
Implementasi Strategi (Action Plan).

BAB VII PENUTUP


Bab penutup akan diuraikan mengenai
kesimpulan dari pembahasan yang disertai dengan
rekomendasi untuk optimalisasi peran
Bhabinkamseltibcarlantas guna meminimalisir
pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas dalam rangka
terwujudnya Kamseltibcarlantas.
7

H. Pengertian-pengertian
Dalam penulisan Naskah Karya perorangan ini, Penulis perlu
memberikan batasan terhadap istilah-istilah yang ada dalam
pembahasan, hal tersebut untuk menghindari kesalahpahaman dan
menyamakan persepsi tentang beberapa istilah yang digunakan,
pengertian dimaksud sebagai berikut :
1. Optimalisasi
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Tahun
2009, “Optimalisasi” berasal dari kata optimal yang artinya
adalah yang terbaik, yang paling menguntungkan; menjadikan
yang paling baik. Dengan kata lain arti optimalisasi berarti
suatu tindakan untuk menjadikan suatu keadaan yang sudah
ada melalui daya gerak yang percepatannya semakin cepat
sehingga selalu menyesuaikan dengan keadaan 1.

2. Peran
Peran adalah aspek dinamis dari kedudukan atau
status. Seseorang melaksanakan hak dan kewajiban, berarti
telah menjalankan suatu peran2.

3. Bhabinkamseltibcarlantas
Bhabinkamseltibcarlantas adalalah Bhayangkara
Pembina Keamanan, Keselamatan dan Ketertiban serta
Kelancaran Lalu Lintas terdiri dari personel Sat PJR Ditlantas
Polda Kaltim yang bertugas melaksanakan patroli, memantau,
mendeteksi setiap potensi gangguan Kamtibmas yang ada di
jalan raya, pengawasan dan menggali info tentang potensi
kecelakaan lalu lintas , membantu pelaksanaan TPTKP

1
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Hal-628
Balai Pustaka
2
Diakses dari website http://www.artikelsiana.com/2014/10/pengertian-peran-definisi-
fungsi-apa-itu.html#
8

kecelakaan lalu lintas, membina komunitas pengguna jalan


yang berada diwilayah tugasnya serta sebagai fasilitator
penyelesaian persoalan-persoalan yang terjadi dijalan raya. 3

4. Pelanggaran
Pelanggaran adalah perbuatan (perkara) melanggar;
tindak pidana yang lebih ringan daripada kejahatan 4.

5. Kecelakaan Lalu Lintas


Kecelakaan Lalu Lintas adalah peristiwa di Jalan yang
tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan Kendaraan
dengan atau tanpa Pengguna Jalan lain yang mengakibatkan
korban manusia dan/atau kerugian harta benda5.

6. Lalu Lintas
Lalu lintas adalah gerak Kendaraan dan orang di
Ruang Lalu Lintas Jalan.

7. Kamseltibcarlantas
Keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran
lalu lintas adalah suatu keadaan terbebasnya setiap orang,
barang, dan kendaraan dari gangguan perbuatan melawan
hukum, dan/atau rasa takut dalam berlalu lintas, terhindarnya
setiap orang dari resiko kecelakaan selama berlalu lintas yang
disebabkan oleh manusia, kendaraan, jalan, dan/atau
lingkungan, suatu keadaan berlalu lintas yang berlangsung
secara teratur sesuai dengan hak dan kewajiban setiap
pengguna jalan, dan suatu keadaan berlalu lintas dan

3
Peraturan Direktur Lalu Lintas Polda kaltim Nomor Tahun 2017
4
Di akses dari website http://artikata.com/pelanggaran
5
Pasal 1 ayat 24 Undang-Undang No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan
9

penggunaan angkutan yang bebas dari hambatan dan


kemacetan di jalan6.
BAB II
LANDASAN TEORI

Pada bab ini berisi tentang teori-teori maupun konsep-konsep yang


dijadikan sebagai landasan berpikir atau sebagai acuan untuk membahas
permasalahan dalam penulisan ini guna selanjutnya dijadikan kerangka
dalam menentukan langkah-langkah strategi yang tepat dalam melakukan
optimalisasi peran Bhabinkamseltibcarlantas guna meminimalisir
pelanggaran Dan Kecelakaan Lantas dalam rangka terwujudnya
Kamseltibcarlantas.

A. Konsep Analisa SWOT


Analisis SWOT adalah sebuah teknik analisis yang bisa
digunakan untuk memformulasikan strategi atau kebijakan yang akan
diambil oleh sebuah organisasi. Idealnya analisis SWOT terhadap
suatu organisasi tidak akan pernah ada akhirnya, sebab dinamika
lingkungan eksternal selalu ada dan keterpengaruhannya sangat
besar terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki oleh
organisasi7
Konsep analisis SWOT dikemukakan oleh Freddy Rangkuti
yang mensyaratkan dilakukannya suatu identifikasi faktor-faktor
internal dan eksternal yang melingkupi suatu organisasi. Identifikasi
faktor internal terkait dengan strengths (kekuatan) dan weaknesses
(kelemahan) yang dimiliki oleh suatu organisasi. Sedangkan
identifikasi faktor eksternal terkait dengan opportunities (peluang)
dan threats (ancaman) yang dihadapi oleh sebuah organisasi. Teori
ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan
(strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan
6
Pasal 1 (ayat 30;31;32;33) Undang-undang No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan
7
Rangkuti, Freddy, 2009 Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis Hal 1 - 5

9
10

dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman


(threats). untuk kemudian dianalisis dan dijadikan landasan
pengambilan keputusan.
Analisa SWOT merupakan identifikasi berbagai faktor secara
sistematis untuk memutuskan strategi organisasi, analisis ini
didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan
(Strengths) dan peluang (Opportunities) namun secara bersamaan
dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman
(Threats).8
Konsep ini akan penulis gunakan untuk menganalisa faktor
internal berupa kekuatan dan kelemahan serta faktor eksternal yang
berupa peluang dan kendala yang menjadi acuan dalam
mengoptimalkan peran Bhabinkamseltibcarlantas yang dibahas di
bab IV.

B. Teori Manajemen dari George R. Terry


George Terry dalam principles management, menyebutkan 4
unsur fungsi manajemen, yaitu: Perencanaan (Planning),
Pengorganisasian (Organizing), Pelaksanaan (Actuating),
Pengendalian (Controlling). Menjelaskan pimpinan dapat
mengevaluasi prestasi kerja, dan dapat segera dilakukan tindakan-
tindakan korektif sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan rencana-
rencana (Winardi : 1986).9
1. Perencanaan; Kegiatan seorang manajer adalah menyusun
rencana. Menyusun rencana berarti memikirkan apa yang
akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki.
2. Pengorganisasian; Pengorganisasian bertujuan membagi
suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih
kecil. Selain itu, mempermudah manajer dalam melakukan

8
Rangkuti Freddy. 2006. Analisis Swot Teknik Membedah Kasus Bisnis, Cetakan ke-14.
Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama
9
KBP.Dr.M Said Saile, M.SI (Koordinator) : Himpunan teori pendapat para sarjana yang
berkaitan dengan Kepolisian PTIK jakarta 2008 Hal 77
11

pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk


melaksanakan tugas-tugas yang telah diatur.
3. Pelaksanaan; Adalah suatu tindakan untuk mengusahakan
agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai
sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial.
4. Pengawasan dan pengendalian; Adalah proses pengawasan
performa perusahaan untuk memastikan bahwa jalannya
perusahaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Teori ini akan penulis aplikasikan pada metode yang
diterapkan oleh Bhabinkamseltibcarlantas dalam meminimalisir
pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas dibahas pada bab III dan
bab V.

C. Teori Manajemen Strategi


Manajemen strategik merupakan serangkaian keputusan dan
tindakan manajerial (Wheelen dan Hunger 2004: 2) yang dihasilkan
dari proses formulasi dan implementasi rencana. 10 Manajemen
Strategik merupakan rangkaian dua perkataan terdiri dari kata
“Manajemen” dan “Strategik” yang masing–masing memiliki
pengertian tersendiri, yang setelah dirangkaikan menjadi satu
terminologi berubah dengan memiliki pengertian tersendiri pula.
Dalam proses manajemen strategis harus melalui empat
eleman dasar yaitu pengamatan lingkungan, perumusaan strategi,
implementasi strategi dan evaluasi serta pengendalian 11. Konsep ini
diterapkan untuk merealisasikan atau mencapai visi suatu organisasi
yang keberadaannya masih bersifat abstrak menjadi suatu hal yang
nyata. Perlu dipahami bahwa visi merupakan sasaran organisasi
yang sifatnya jauh kedepan atau suatu gambaran mengenai tujuan
dan cita-cita di masa depan. Oleh karena itu agar, agar visi tersebut
dapat menjadi suatu kenyataan dan dapat diraih, maka proses

10
Ismail Solihin, Adi Maulana (editor) 2014. Manajemen strategik. Penerbit Erlangga,
Jakarta : hal 18-65
11 12
Hunger, david and Thomas L Wheelen, 2001, Manajemen Strategis, Yogyakarta CV
Andi
12

manajemen strategik berikutnya adalah merumuskan suatu misi,


dimana misi ini adalah proses untuk menghadirkan visi menjadi
kenyataan.
Selanjutnya setelah merumuskan visi dan misi proses
menajemen strategi berikutnya adalah menentukan tujuan. Tujuan ini
merupakan turunan dari visi yang sudah nyata atau sudah lebih rinci.
Visi masih menyatakan tentang arah tetapi objektif sudah
menyatakan tujuan yang jelas. Guna mencapai tujuan maka perlu
diterapkan strategi yang dijabarkan ke dalam implementasi strategi.
Teori ini berkorelasi dengan konsep analisa SWOT dan
penulis aplikasikan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi terkait peran Bhabinkamseltibcarlantas. Kemudian
untuk mengidentifikasi alternatif-alternatif pemecahan masalah dan
menetapkan tujuan dan sasaran yang hendak dicapai. Disamping itu
juga untuk menentukan pilihan dan implementasi strategi baik jangka
pendek, jangka sedang dan jangka panjang yang dibahas di bab VI.

D. Teori Kompetensi
Spencer dan Spencer mengatakan bahwa kompetensi
merupakan karakteristik mendasar seseorang yang berhubungan
timbal balik dengan suatu kriteria efektif dan atau kecakapan terbaik
seseorang dalam pekerjaan atau keadaan. Ini berarti bahwa
kompetensi tersebut cukup mendalam dan bertahan lama sebagai
bagian dari kepribadian seseorang sehingga dapat digunakan untuk
memprediksi tingkah laku seseorang ketika berhadapan dengan
berbagai situasi atau masalah; kompetensi dapat menyebabkan atau
memprediksi perubahan laku12.
Teori ini sebagai analisa pada pokok persoalan terkait V1
dalam pembahasan SDM Bhabinkamseltibcarlantas pada bab III dan
bab V.

12
Diakses dari http://www.bpkp.go.id/sesma/konten/244/mac-kompetensi
13

E. Teori Sumber Daya Organisasi


Bicara sumber daya adalah bicara soal potensi atau kekuatan
yang ada dan atau dimiliki baik seseorang, suatu kelompok maupun
suatu lembaga atau organisasi. Manajemen Sumber
daya menduduki posisi utama dan strategis dalam organisasi apapun
jenis dan ukurannya, dan memegang peranan penting dalam proses
manajemen pada sebuah organisasi. Henry Fayol mengemukakan
bahwa dalam pencapaian sasaran dan tujuan yang ingin dicapai
organisasi, terdapat 4 (empat) komponen utama yakni man
(manusia), money (uang), material (Sarana Prasarana),  dan
methode (metode) yang merupakan sebagai sumber daya organisasi
yang harus ditingkatkan13.
Teori ini penulis gunakan sebagai kajian dalam merumuskan 4
pokok persoalan yaitu SDM, anggaran, Sarpras, dan metode yang
digunakan dalam optimalisasi peran Bhabinkamseltibcarlantas.
Dibahas pada seluruh bab dalam NKP ini.

BAB III
13
M. Manullang. 1988. Dasar-dasar Manajemen. Bogor: Ghalia Indonesia. Hal 6
14

KONDISI FAKTUAL

A. Situasi Umum Wilayah Hukum Polda Kalimantan Timur


Secara demografi Polda Kaltim membawahi Provinsi
Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang memiliki luas 211.440
Km2, dengan panjang jalan Negara sepanjang 82.791 Km2, Jalan
Provinsi sepanjang 2.044.692 Km2, dan jalan Kabupaten 1.802.050
Km2 dengan jumlah penduduk mencapai 3.328.094 jiwa. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar sebagai berikut :

Gambar 3.1
Peta administratif Provinsi Kalimantan Timur

Sumber: Laporan Kesatuan Polda Kaltim T.A 2017

Sebagai provinsi yang cukup luas, Kalimantan Timur dan


Kalimantan Utara dihadapkan dengan permasalah di bidang lalu
lintas. Tingginya aktifitas lalu lintas di Provinsi Kaltim dan Kaltara
ternyata berkorelasi dengan tingginya tingkat pelanggaran dan

14
15

Kecelakaan lalu lintas. Pelanggaran di Kaltim khususnya Ibu Kota


Samarinda yang mendominasi, mulai melanggar marka jalan,
menerobos traffic light (lampu lalu lintas), tidak menggunakan helm,
hingga perlengkapan standar keselamatan berkendara lain 14.
Kesadaran masyarakat berlalu lintas di wilayah Kaltim dan
Kaltara terbilang rendah. Akibat dari rendahnya kesadaran dalam
berlalu lintas berdampak terhadap tingginya pelanggaran lalu lintas
sehingga dengan semakin meningkatnya pelanggaran lalu lintas,
maka angka kecelakaan lalu lintas akan meningkat. Angka
kecelakaan di Kaltim dan Kaltara memang cenderung menurun pada
2017. Namun, rasio angka kematian setiap kecelakaan masih
berkibat fatal. Untuk data terkait pelanggaran dan kecelakaan lalu
lintas di wilayah hukum Polda Kaltim, dapat di lihat pada diagram di
bawah ini:

Tabel 3.1
Jumlah Pelanggaran lalu lintas dengan tilang Tahun 2016 s.d tahun 2017
(dari Bulan Januari – Agustus)

Tahun 2016 Tahun 2017


Kesatuan Total Total KET
Pelanggaran Pelanggaran

Polda Kaltim 4.060 4.201


Sumber: Ditlantas Polda Kaltim tahun 2017

Berdasarkan tabel di atas, semakin tingginya pelanggaran lalu


lintas di wilayah hukum Polda Kaltim berkorelasi dengan tingginya
angka kecelakaan lalu lintas. Untuk jumlah angka Kecelakaan lalu
lintas di wilayah hukum Polda Kaltim dapat di lihat pada tabel
sebagai berikut :

Tabel 3.2

14
http://kaltim.prokal.co/read/news/312005-sangat-tak-disiplin-640-menit-6931-pelanggar-
di-jalan
16

Jumlah Kecelakaan lalu lintas di wilayah Polda Kaltim


Meninggal Luka Luka Kerugian
No Tahun Kejadian Ket
Dunia Berat Ringan Material (Rp)
1 2016 667 377 362 397 4.037.700.000
2017
2 361 176 216 248 2.246.480.000
(Jan-Agst)
Sumber: Ditlantas Polda Kaltim tahun 2017
Dari tabel di atas mengindikasikan bahwa terjadinya
Kecelakaan lalu lintas di wilayah hukum Polda Kaltim dikarenakan
pelanggaran lalu lintas para pengguna jalan. Kecelakaan lalu lintas
senantiasa menimbulkan kerugian bagi masyarakat baik dari segi
moril maupun materiil. Tingkat pelanggaran dan kecelakaan lalu
lintas ternyata mengalami peningkatan, baik dari segi kuantitas /
jumlah kecelakaan maupun kualitas/jumlah korban. Untuk mengatasi
hal tersebut itu, Ditlantas Polda Kaltim mengedepankan Satuan
Patroli Jalan Raya (Sat PJR) dengan membentuk Bhayangkara
Pembina Keamanan, Keselamatan dan Ketertiban serta Kelancaran
Lalu Lintas (Bhabinkamseltibcarlantas) yang bertugas membina,
memantau serta mendeteksi potensi gangguan Kamtibmas yang ada
dijalan raya, khususnya jalan nasional Trans Kalimantan serta
berperan sebagai fasilitator penyelesaian persoalan-persoalan yang
terjadi di jalan raya.
Pelaksanaan tugas Bhabinkamseltibcarlantas sudah berjalan
cukup baik, akan tetapi masih terdapat beberapa kekurangan yang
dirasakan, hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

B. Dukungan Sumber Daya Manusia Bhabinkamseltibcarlantas


Dalam Meminimalisir Pelanggaran dan Kecelakaan Lalu Lintas
Salah satu aspek yang paling penting dalam mengoptimalkan
peran Bhabinkamseltibcarlantas adalah faktor SDM itu sendiri karena
merupakan pelaku atau pelaksanaan dari apa yang seharusnya
menjadi tugasnya dengan didasari pada aspek profesionalisme.
Untuk kondisi personel Bhabinkamseltibcarlantas, dapat dianalisa
dari aspek kuantitas dan kualitasnya dengan acuan dari teori
17

kompetensi, yang terdiri dari pengetahuan (knowledge), keterampilan


(skill), dan sikap (attitude) sebagai prasyarat dari profesionalisme
terhadap bidang pekerjaan yang dilakoninya. Untuk kondisi sumber
daya manusia itu sendiri, didapatkan fakta sebagai berikut :
1. Aspek Kuantitas
Kuantitas atau jumlah personel berpengaruh terhadap
peran Bhabinkamseltibcarlantas dalam meminimalisir
pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas. Dengan jumlah
personel yang memadai, tentunya titik-titik rawan terjadinya
pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas akan dapat tercover
oleh personil dan lokasi-lokasi yang merupakan daerah yang
rawan terjadinya kecelakaan dapat didirikan pos unit PJR.
Saat ini jumlah Personel Unit Sat PJR Polda Kaltim adalah
sebagai berikut :
Tabel 3.3
Kuantitas personel Sat PJR Ditlantas Polda Kaltim
JUMLAH
NO GOLONGAN DSP RIIL KET

1 PAMEN 1 1 -
2 PAMA 24 11 -11
3 BINTARA 64 58 -6
4 PNS 10 - -10
Jumlah 99 70 -29
Sumber: Ditlantas Polda Kaltim tahun 2017
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa untuk jumlah
Sat PJR Polda Kaltim berdasarkan DSPP berjumlah 99
personel namun kondisi riil personel hanya berjumlah 70
personel atau kekurangan 29 personel. Hal tersebut
diperparah dengan adanya anggota yang disprinkan untuk
pengawalan Gubernur dan pengawalan pimpinan yang
sifatnya menetap sehingga praktis jumlah personil Sat PJR
yang merangkap sebagai anggota Bhabinkamseltibcarlantas
hanya berjumlah 50 personil yang tersebar di 5 Pos Unit PJR.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 3.4
18

Data personel Bhabinkamseltibcarlantas Sat PJR Ditlantas


Polda Kaltim
Jumlah
No. Unit Wilayah Pantau Ket
Personel
Jl. Soekarno Hatta KM. 5 s.d
Unit I 13
KM. 38
Jl. Soekarno Hatta KM. 38
Unit II 12
s.d KM. 93
Jl. Samarinda-Bontang KM.
Unit III 8
45 s.d KM. 97
Jl. Negara Kaltim-Kalsel KM.
Unit IV 9
135 s.d KM. 200
Jl. Perdau-Berau KM 135
Unit V 8
s.d KM. 383
Sumber: Sat PJR Ditlantas Polda Kaltim Tahun 2017
Dari data di atas, dapat dilihat bahwa jumlah anggota
Bhabinkamseltibcarlantas Dit Lantas Polda Kaltim sebanyak
50 personel yang tersebar di 24 titik di sepanjang jalan daerah
Kalimantan Timur dengan panjang jalan mencapai 139 KM.
Dari jumlah titik dan luas jalan yang harus dicover oleh
personel Bhabinkamsletibcarlantas dengan panjang jalan
yang di wilayah Provinsi Kaltim yang dinilai masih kurang. Hal
tersebut akan berdampak terhadap beban dan tanggung
jawab menjadi cukup besar dalam meminimalisir pelanggaran
dan Kecelakaan lalu lintas disepanjang ruas jalan daerah
Provinsi Kalimantan Timur. Kondisi tersebut berakibat pada
peran Bhabinkamsletibcarlantas menjadi tidak optimal dalam
meminimalisir pelanggaran dan Kecelakaan lalu lintas.

2. Aspek Kualitas
Dari 70 personel Sat PJR Ditlantas Polda Kaltim, belum
semuanya pernah mengikuti Dikjur pengembangan khusus
sertifikasi PJR / Pengawalan maupun Latihan fungsi sehingga
berpengaruh terhadap kompetensinya dalam meminimalisir
pelanggaran dan Laka Lanta. Untuk lebih jelasnya dapat di
lihat pada tabel berikut :
19

Tabel 3.5
Data Dikjur/Bangspes/Latfung Personel Sat PJR Ditlantas Polda Kaltim
T.A. 2017
Sudah Belum Sertifikasi PJR/
Latfung
Sat Dikjur Dikjur Pengawalan
Perwira Bintara Perwira Bintara Perwira Bintara Perwira Bintara
SAT
6 23 6 35 3 6 12 58
PJR
Sumber: Ditlantas Polda Kaltim tahun 2017

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa dari 70


personel PJR, baru 29 personel atau sekitar 41 % yang
pernah mengikuti Dikjur dan 9 personel atau sekitar 12,67 %
yang memiliki sertifikasi pengawalan. Kondisi demikian
tentunya mempengaruhi kualitas personel Bhabinkamseltibcar
lantas dalam melaksanakan tugasnya. Di tinjau dari aspeki
pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap
perilaku (attitude) personel Bhabinkamseltibcarlantas dapat
dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut:
a. Pengetahuan (knowledge)
1) Masih kurangnya pemahaman personel
Bhabinkamseltibcarlantas terkait peraturan lalu
lintas dan angkutan jalan, pembinaan para
komunitas pengguna jalan serta dalam
memahami pelaksanaan TPTKP pada
Kecelakaan lalu lintas.
2) Masih adanya personel Bhabin
Kamseltibcarlantas yang belum mengetahui
mekanisme tehnik pertolongan pertama
terhadap korban kecelakaan apabila ada
laporan terjadinya kecelakaan lalu lintas
sehingga seringkali korban tidak dapat tertolong.
20

b. Keterampilan (skill)
1) Masih kurangnya keterampilan personel dalam
menggali informasi tentang potensi Kecelakaan
lalu lintas sehingga masih ada jalur jalan yang
tidak dilengkapi dengan sarana dan prasarana
lalu lintas jalan yang memenuhi standar kelaikan
keselamatan.
2) Keterampilan personel Bhabinkamseltibcar
lantas dalam berkomunikasi dengan masyarakat
masih kurang komunikatif sehingga pesan
keselamatan berlalulintas kepada pengguna
jalan belum tersampaikan dengan baik.

c. Sikap / Perilaku (attitude)


1) Masih adanya personel Bhabinkamseltibcar
lantas yang kurang peduli/proaktif dalam
melaksanakan tugasnya sebagai Bhabin
kamseltibcarlantas dilihat dari keengganan/acuh
tak acuh dalam melaksanakan tugas pembinaan
terhadap pengguna jalan.
2) Masih ada personel yang belum bisa dijadikan
contoh bagi masyarakat pengguna jalan.

C. Dukungan anggaran untuk mengoptimalkan peran


Bhabinkamseltibcarlantas dalam meminimalisir pelanggaran
dan kecelakaan lalu lintas
Anggaran mempunyai peranan yang sangat penting bagi
manajemen dalam melaksanakan dan mengendalikan organisasi
agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien. Bagi Sat
PJR Polda kaltim anggaran merupakan salah satu faktor yang sangat
berperan dalam mengoptimalkan peran Bhabinkamseltibcarlantas.
Saat ini alokasi anggaran Sat PJR Ditlantas Polda Kaltim adalah
sebagai berikut :
21

Tabel 3.6
DIPA Sat PJR Ditlantas Polda Kaltim Tahun 2017
DIPA
NO. DETAIL KEGIATAN KET
TA. 2017 (RP.)
PROGRAM HARKAMTIBMAS 525.500.000
Dukungan Manajemen dan Teknis
1 328.500.000
Harkamtibmas
a. ULP Non Organik POS PJR KM 51
65.700.000
(6 Org X 365 Hari)
b. ULP Non Organik POS PJR PRANGAT
65.700.000
(6 Org X 365 Hari)
c. ULP Non Organik POS PJR TERIK
65.700.000
(6 Org X 365 Hari)
d. ULP Non Organik POS PJR KR. JOANG
65.700.000
(6 Org X 365 Hari)
e. ULP Non Organik POS PJR KONGBENG
65.700.000
(6 Org X 365 Hari)
Peningkatan Pelayanan Keamanan dan
2 197.000.000
keselamatan Masyarakat di Bidang Lantas
a. Honor Tilang 5.000 Lembar 50.000.000
b. Kegiatan Pembinaan di Bidang Tupoksi Sat
120.000.000
PJR
JUMLAH 525.500.000
Sumber: Sat PJR Ditlantas Polda Kaltim tahun 2017
Berdasarkan tabel di atas, anggaran Sat PJR Polda Ditlantas
Kaltim tahun 2017 adalah sebesar Rp. 525.500.000,-., dilihat dari
angkanya memang cukup besar, namun bila dilihat dari kebutuhan
dan biaya operasional yang harus dilaksanakan tentunya anggaran
tersebut masih dirasakan kurang, apalagi letak 5 Pos PJR yang ada
jaraknya berbeda, ada yang letaknya dekat dengan Mako Dit Lantas
Polda Kaltim dan ada yang letaknya cukup jauh, tentunya hal ini
berpengaruh terhadap biaya operasional perjalanan anggota menuju
Posnya masing-masing, mengingat besaran dukungan anggaran
bagi personel yang bertugas di Pos PJR yang jauh tidak dibedakan
dengan personel yang bertugas di Pos PJR yang dekat. Selain itu
juga untuk dukungan ULP Non Organik hanya diberikan dukungan
untuk 30 personel sedangkan jumlah personel PJR yang menempati
Pos PJR ada 59 personel.
22

Kurangnya dukungan anggaran tersebut tentunya sangat


mempengaruhi peran Bhabinkamseltibcarlantas dalam
melaksanakan tugasnya untuk meminimalisir pelanggaran dan
kecelakaan lalu lintas.

D. Dukungan Sarana dan Prasarana Untuk Mengoptimalkan Peran


Bhabinkamseltibcarlantas Dalam Meminimalisir Pelanggaran
Dan Kecelakaan Lalu Lintas
Satuan Patroli Jalan Raya Ditlantas Polda Kaltim memiliki 5
Pos Unit PJR yang tersebar di wilayah propinsi Kaltim. Adapun
kondisi bangunan Pos unit Sat PJR Polda Kaltim adalah sebagai
berikut :

Tabel 3.7
Data Pos Unit Sat PJR Ditlantas Polda Kaltim tahun 2017
STATUS
POS UKURAN LUAS UKURAN LUAS
NO KEPEMILIKAN KET
UNIT TANAH TANAH BANGUNAN BANGUNAN
TANAH
1 2 3 4 5 6 7 8
8 X 12 Pinjam Pakai
1. UNIT 1 10 X 80 M 800 M2 Lebar = 8 M 96 M2 Pemkot
Panjang =12M Balikpapan
8x9
2. UNIT 2 15 X 20 M 300 M2 Lebar = 8 M 72 M2 Hibah
Panjang= 9 M
10,5 x 9,5
3. UNIT 3 80 X 109 M 8.769 M2 Lebar = 10,5M 90,26 M2 Hibah
Panjang=9,5M
8 x 10
4. UNIT 4 40 X 25 M 965 M2 Lebar = 8 M 80 M2 Hibah
Panjang =10M
4x8
5. UNIT 5 9X5M 45 M2 Lebar = 4 M 32 M2 Hibah
Panjang = 8 M
Sumber: Sat PJR Ditlantas Polda Kaltim tahun 2017
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa 5 pos unit PJR yang
tersebar di wilayah Provinsi Kaltim belum seluruhnya status
kepemilikannya merupakan milik dari Ditlantas Polda Kaltim, selain
itu ada beberapa Pos unit PJR yang kondisinya belum representatif
dan nyaman bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan, seperti
untuk tempat singgah bagi para pengguna jalan yang membutuhkan
tempat beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh.
23

Untuk kondisi Sarana dan Prasarana (Sarpras) yang dimiliki


Sat PJR Ditlantas Polda Kaltim dapat di lihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 3.8
Sarpras Sat PJR Ditlantas Polda Kaltim tahun 2017
KONDISI
NO. JENIS SARPRAS JUMLAH KET.
B RR RB
1 SENPI BAHU 5 5
2 SENPI GENGGAM 52 42 8 2
3 BODY VERST 9 9
4 CHAINSHAW 5 5
Unit 5 belum memiliki
5 SEDAN 15 15
Sedan
6 JEEP/KABIN 9 8 1
7 MOTOR 10 9 1
Unit 1,3,4 dan 5 belum
8 AMBULANCE 1 1
memiliki ambulance
Unit 1,3,4 dan 5 belum
9 DEREK 1 1
memiliki derek
10 HT 54 54
11 GPS - - - -
Sumber: Lapsat Sat PJR Ditlantas Polda Kaltim Tahun 2017
Pada tabel diatas dapat dijelaskan bahwa saat ini dukungan
Sarpras yang dimiliki Sat PJR Ditlantas Polda Kaltim belum
sepenuhnya dapat mendukung peran Bhabinkamseltibcar lantas
secara optimal. Hal ini dikarenakan masih ada beberapa unit yang
belum memiliki ambulance, mobil derek dan kendaraan pendukung
operasional yang masih kurang serta jaringan Alkom HT yang belum
bisa berkomunikasi antar pos unit sehingga dapat menghambat
pelaksanaan tugas personel Bhabinkamseltibcarlantas dalam
meminimalisir pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas mengingat 24
titik yang harus dicover oleh personel Bhabinkamseltibcarlantas yang
berjumlah 50 personel dengan luas wilayah jalur jalan daerah
Provinsi Kaltim yang mencapai panjang ± 139 KM, tentunya dengan
kuantitas dan kualitas sarana tersebut belum optimal dalam
mendukung pelaksanaan tugas Bhabinkamseltibcarlantas dalam
meminimalisir pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas.
24

E. Metode Yang Diterapkan Oleh Bhabinkamseltibcarlantas Dalam


Meminimalisir Pelanggaran dan Kecelakaan Lalu Lintas
Berdasarkan kondisi obyektif dilapangan harus diakui bahwa
metode yang diterapkan oleh Bhabinkamseltibcarlantas dalam
meminimalisir pelanggaran dan Kecelakaan lalu lintas belum
sepenuhnya berjalan efektif, hal tersebut disebabkan karena belum
sempurnanya pola perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,
pengawasan dan pengendalian. Sebagai indikatornya, hal tersebut
dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Aspek Perencanaan (Planning)
Lemahnya aspek perencanaan Bhabinkamseltibcar
lantas dalam melaksanakan tugasnya ditandai dengan :
a. Belum adanya penyusunan kebutuhan yang menjadi
unsur pendukung pelaksanaan tugas Bhabin
kamseltibcarlantas dalam melaksanakan tugasnya.
b. Belum adanya rencana penyusunan Perkap dan
peraturan lainnya terkait pelaksanaan tugas anggota
lalu lintas yang mengemban tugas sebagai
Bhabinkamseltibcarlantas sebagai tindak lanjut dari
Peraturan Dirlantas Polda Kaltim Nomor 05/V/2017
tentang Standar Operasional Prosedur Bhabin
kamseltibcarlantas Sat PJR Ditlantas Polda Kaltim.

2. Aspek pengorganisasian (Organizing)


a. Secara struktural fungsi Bhabinkamseltibcarlantas saat
ini masih dirangkap oleh personel Satuan Patroli Jalan
Raya Ditlantas Polda Kaltim.
b. Penunjukan Bhabinkamseltibcarlantas hanya
berdasarkan kebutuhan tanpa mengacu kepada
kualifikasi dan kompetensi yang dimiliki, sehingga
pelaksanaan tugasnya belum optimal.
25

3. Aspek Pelaksanaan (Actuating)


a. Personel Bhabinkamseltibcarlantas belum intensif
melakukan tatap muka / sambang dengan para tokoh
masyarakat dan komunitas pengguna jalan. Kegiatan
sambang / tatap muka dengan tokoh masyarakat dan
komunitas pengguna jalan hanya dilakukan secara
insidentil / mendadak apabila ada perintah dari
pimpinan.
b. Peran Bhabinkamseltibcarlantas masih kurang optimal
dalam melakukan koordinasi, konsultasi serta diskusi
dengan masyarakat pengguna jalan dalam menentukan
prioritas penanganan masalah yang terjadi di jalan raya.
c. Masih kurangnya peran Kamseltibcarlantas sebagai
fasilitator penyelesaian masalah di jalan raya dan
motivator keselamatan berlalu lintas untuk masyarakat
pengguna jalan.

4. Aspek pengawasan dan pengendalian (Controlling)


a. Pengawasan terhadap personil yang mengemban tugas
sebagai Bhabinkamseltibcarlantas tidak bisa dilakukan
secara melekat mengingat letak pos unit PJR yang
cukup jauh.
b. Belum adanya standar yang menjadi ukuran
keberhasilan pelaksanaan tugas Bhabinkamseltibcar
lantas yang dapat dijadikan sebagai indikator
dilaksanakannya analisa dan evaluasi terhadap
pelaksanaan tugas Bhabinkamseltibcarlantas serta
penerapan reward dan punishment masih belum
dilakukan secara tegas, transparan dan akuntabel baik
kepada personel yang berhasil dalam menjalankan
tugasnya maupun kepada personel yang melakukan
pelanggaran kode etik.
26

F. Implikasi Kurang Optimalnya Peran Bhabinkamseltibcarlantas


Dalam Meminimalisir Pelanggaran dan Kecelakaan Lalu Lintas
Dari pembahasan yang penulis kemukakan diatas, dapat
ditarik benang merah / korelasi bahwasannya Peran Bhabin
kamseltibcarlantas memiliki pengaruh terhadap keamanan dan
keselamatan bagi pengguna jalan. Untuk implikasi dari kurang
optimalnya Peran Bhabinkamseltibcarlantas adalah sebagai berikut :
1. Belum optimalnya peran dari personel Bhabinkamseltibcar
lantas dalam melakukan pendekatan dan sosialisasi
keselamatan berlalu lintas kepada masyarakat pengguna jalan
di wilayah pantauannya sehingga kesadaran masyarakat
dalam berlalu lintas yang aman semakin rendah. Dengan
demikian, jumlah pelanggaran lalu lintas akan meningkat.
Dengan meningkatnya pelanggaran maka angka kecelakaan
lalu lintas akan meningkat pula, hal ini dikarenakan
pelanggaran lalu lintas merupakan awal terjadinya kecelakaan
lalu lintas.
2. Penegakan hukum dan penjatuhan sanksi kepda masyarakat
pengguna jalan yang melakukan pelanggaran lalu lintas belum
memberikan efek jera sehingga angka pelanggaran dan
kecelakaan lalu lintas belum dapat di minimalisir.
3. Upaya meminimalsir pelanggaran dan Kecelakaan lalu lintas
yang masih belum optimal dapat berimplikasi terhadap
kurangnya upaya perbaikan dan peningkatan kualitas
keselamatan bagi para pengguna jalan dalam membangun
budaya tertib berlalu lintas serta belum terwujudnya pelayanan
prima kepolisian di bidang LLAJ. Dengan demikian,
Kamseltibcarlantas bagi masyarakat Kaltim masih belum dapat
terwujud.
27

BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi optimalisasi


peran Bhabinkamseltibcarlantas guna meminimalisir pelanggaran dan
kecelakaan lalu lintas guna menciptakan Kamseltibcarlantas, maka penulis
menggambarkan faktor-faktor dimaksud melalui identifikasi terhadap SWOT
(Strenght, Weakness, Opportunities dan Threat) yang terdapat dilingkungan
internal dan eksternal organisasi sebagaimana dimaksud berikut :

A. Faktor Internal
1. Kekuatan
a. Adanya penjabaran rencana kerja tahunan Dit Lantas
Polda Kaltim guna membangun kepercayaan
masyarakat khususnya pada program peningkatan
pelayanan publik.
b. Adanya kebijakan Dir Lantas Polda Kaltim yang
dituangkan dalam Peraturan Dir Lantas Polda Kaltim
Nomor.: Perdir/05/V/2017 tanggal 29 Mei 2017 tentang
SOP Bhabinkamseltibcarlantas.
c. Adanya pencanangan tahun Keselamatan untuk
kemanusiaan Tahun 2017-2018 oleh Kor Lantas Polri.
d. Adanya komitmen yang kuat dari pimpinan dan
dedikasi yang ditunjukan oleh personel untuk
melakukan pembenahan kinerja Satuan Patroli Jalan
Raya dengan mengoptimalkan peran Bhabin
kamseltibcarlantas sebagai Pilot Project dalam
meminimalisir terjadinya pelanggaran dan kecelakaan
lalu lintas.
e. Adanya beberapa personel yang telah mengikuti
Dikjur/pelatihan fungsi dan sertifikasi sehingga dapat
dimanfaatkan untuk memberikan pengetahuan yang

27
28

telah didapatnya kepada personel yang belum


mengikuti Dikbangspes/pelatihan (snow ball effect).

2. Kelemahan
a. Masih kurangnya / terbatasnya kuantitas personel
Bhabinkamseltibcarlantas dibandingkan dengan
panjang jalan yang harus di cover mengingat tingkat
pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas di wilayah
Polda Kaltim tiap tahunnya meningkat.
b. Terbatasnya kualitas sumber daya manusia
Bhabinkamseltibcarlantas yang terindikasi dari masih
minimnya personel yang pernah mengikuti Dikjur dan
memiliki sertifikasi pengawalan.
c. Masih minimnya anggaran untuk menunjang peran
Bhabinkamseltibcarlantas dalam meminimalisir
pelanggaran dan Kecelakaan lalu lintas.
d. Belum memadainya dukungan sarana dan prasarana
untuk menunjang keberhasilan tugas personel
Bhabinkamseltibcarlantas.
e. Metode yang diterapkan oleh personel
Bhabinkamseltibcarlantas masih belum optimal
sehingga belum dapat untuk meminimalisir
pelanggaran dan Kecelakaan lalu lintas.

B. Faktor Eksternal
1. Peluang
a. Adanya dukungan dari pemerintah melalui Inpres No 4
tahun 2013 tentang program dekade aksi keselamatan
jalan
b. Adanya kontrol publik / masyarakat yang semakin
intensif terhadap perilaku anggota Polri di lapangan,
baik secara langsung maupun pengaduan melalui
media cetak maupun elektronik dengan memberikan
29

informasi terkait adanya pelanggaran dan


penyimpangan yang dilakukan oleh anggota.
c. Perkembangan teknologi informasi dapat dimanfaatkan
untuk meningkatkan peran Bhabinkamseltibcarlantas
dalam meminimalisir pelanggaran dan Kecelakaan lalu
lintas.
d. Adanya dukungan dari instansi terkait dan pemerintah
Provinsi terhadap kinerja Bhabinkamseltibcarlantas
seperti memberikan bantuan berupa kendaraan
ambulance untuk mempercepat tindakan pertolongan
kepada korban Kecelakaan lalu lintas.

2. Kendala/ Hambatan
a. Adanya penilaian negatif / labelling masyarakat
termasuk masih tingginya komplain masyarakat
terhadap kinerja Polri khususnya Polisi lalu lintas.
b. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri
khususnya pada Polisi lalu lintas yang masih rendah.
c. Kondisi geografis Kaltim dan Kaltara yang memiliki jalur
jalan darat yang cukup panjang dan belum semuanya
dapat di cover oleh personel Bhabinkamseltibcarlantas
yang tersebar di 5 Pos unit PJR.
d. Masih rendahnya kesadaran dan ketaatan berlalu lintas
masyarakat pengguna jalan di wilayah Kaltim dan
Kaltara yang ditandai tingginya angka pelanggaran dan
kecelakaan lalu lintas.
e. Kurang dioptimalkannya peran dari instansi terkait yang
bergerak di bidang lalu lintas dalam membantu kinerja
Bhabinkamseltibcarlantas dalam meminimalisir
pelanggaran dan Kecelakaan lalu lintas.
30

BAB V
KONDISI YANG DIHARAPKAN

Dari penjelasan pada bab III , dapat diketahui bahwa saat ini peran
Bhabinkamsletibcarlantas masih belum optimal. Hal tersebut dapat dilihat
dari dukungan dukungan SDM, dukungan anggaran, dukungan Sarpras
maupun metode yang diterapkan , untuk menjawabnya maka pada Bab ini
akan dibahas kondisi yang diharapkan dari peran Bhabinkamsletibcarlantas
sebagai berikut:

A. Dukungan Sumber Daya Manusia Bhabinkamseltibcarlantas


Dalam Meminimalisir Pelanggaran dan Kecelakaan Lalu Lintas
1. Aspek Kuantitas
Sebagaimana telah diuraikan pada Bab sebelumnya,
bahwa kuantitas personel Sat PJR Ditlantas Polda Kaltim
belum sesuai dengan DSPP yang dibutuhkan. Untuk kondisi
yang diharapkan adalah jumlah personel Sat PJR Ditlantas
Polda Kaltim sesuai dengan dengan Perkap No. 22 Tahun
2010 tentang susunan organisasi dan tata kerja tingkat Polda
yaitu 99 personel dengan perincian sebagai berikut:
Tabel 5.1
Kuantitas yang diharapkan personel Sat PJR Ditlantas
Polda Kaltim
NO GOLONGAN DSPP KET
1 PAMEN 1
2 PAMA 24
3 BINTARA 64
4 PNS 10
JUMLAH 99

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa untuk kondisi


yang diharapkan terkait dukungan SDM secara kuantitas
dapat sesuai DSPP yakni berjumlah 99 personel sehingga
dengan jumlah tersebut personil Sat PJR yang merangkap

30
31

sebagai personel Bhabinkamseltibcarlantas dari segi


kuantitasnya dapat bertambah 25 personel menjadi 75
personel. Dengan jumlah personel Bhabinkamseltibcarlantas
sebanyak 75 personel personil, Pos unit PJR dapat ditambah
menjadi 8 Pos sehingga panjang jalur jalan daerah Provinsi
Kaltim yang dapat dicover oleh personel Bhabinkamseltibcar
lantas juga dapat bertambah. Dengan demikian, peran
Bhabinkamseltibcarlantas dalam meminimalisir pelanggaran
dan Kecelakaan lalu lintas dapat lebih optimal.

2. Aspek Kualitas
Sedangkan secara kualitas, diharapkan seluruh
personel Bhabinkamseltibcarlantas telah mengikuti Dikjur
pengembangan khusus sertifikasi PJR / Pengawalan maupun
Latihan fungsi. Kondisi demikian tentunya akan berkontribusi
terhadap peran Bhabinkamseltibcarlantas dalam
meminimalisir pelanggaran dan Kecelakaan lalu lintas. Untuk
kualitas personel Bhabinkamseltibcarlantas, kondisi yang
diharapkan adalah sebagai berikut:
a. Pengetahuan (knowledge)
1) Meningkatnya pemahaman personel Bhabin
kamseltibcarlantas terkait peraturan lalu lintas
dan angkutan jalan, pembinaan para komunitas
pengguna jalan serta senantiasa memahami
pelaksanaan TPTKP pada Laka Lantas.
2) Seluruh personel Bhabinkamseltibcarlantas
dapat memahami mekanisme tehnik pertolongan
pertama terhadap korban kecelakaan sehingga
apabila ada laporan terjadinya kecelakaan lalu
lintas para petugas dapat segera memberikan
pertolongan kepada korban. Dengan demikian,
korban Kecelakaan lalu lintas dapat
terselamatkan.
32

b. Keterampilan (skill)
1) Meningkatnya keterampilan personel dalam
menggali informasi tentang potensi Kecelakaan
lalu lintas sehingga jalur jalan dapat dilengkapi
dengan sarana dan prasarana lalu lintas jalan
yang memenuhi standar kelaikan keselamatan.
2) Keterampilan personel Bhabinkamseltibcar
lantas dalam berkomunikasi dengan masyarakat
semakin komunikatif sehingga pesan-pesan
keselamatan berlalulintas kepada para
pengguna jalan dapat tersampaikan dengan
baik.
c. Sikap / Perilaku (attitude)
1) Personel Bhabinkamseltibcarlantas senantiasa
peduli / proaktif dalam melaksanakan tugasnya
sebagai Bhabinkamseltibcarlantas dilihat dari
integritas dan dedikasi yang tinggi dalam
melaksanakan tugas pembinaan terhadap
masyarakat pengguna jalan.
2) Seluruh personel Bhabinkamseltibcarlantas
dapat menjadi contoh yang baik/ menjadi suri
tauladan bagi masyarakat bagi masyarakat
pengguna jalan.

B. Dukungan anggaran untuk mengoptimalkan peran


Bhabinkamseltibcarlantas dalam meminimalisir pelanggaran
dan kecelakaan lalu lintas
Untuk dukungan anggaran yang diharapkan yaitu adanya
pagu anggaran untuk peningkatan peran Bhabinkamseltibcarlantas.
Anggaran yang dialokasikan tersebut, dapat dipergunakan untuk
memenuhi kebutuhan dan biaya operasional bagi seluruh personel
Bhabinkamseltibcarlantas dalam menjalankan tugasnya. Selain itu
juga, untuk Pos PJR yang jaraknya cukup jauh dengan Mako
33

Ditlantas Polda Kaltim agar anggotanya dapat diberikan anggaran


operasional yang lebih besar dari anggota yang jaraknya berdekatan
dengan Mako Ditlantas Polda Kaltim khususnya untuk biaya
transportasi serta dukungan anggaran untuk ULP Non Organik
diharapkan dapat sesuai dengan jumlah personel yakni sebanyak 59
personel.
Dengan meningkatnya dukungan anggaran tentunya akan
berkontribusi terhadap semakin optimanya peran Bhabinkamseltibcar
lantas dalam melaksanakan tugasnya untuk meminimalisir
pelanggaran dan kecelakaan Lalu lintas.

C. Dukungan Sarana dan Prasarana Untuk Mengoptimalkan Peran


Bhabinkamseltibcarlantas Dalam Meminimalisir Pelanggaran
Dan Kecelakaan Lalu Lintas
Untuk kondisi sarana dan prasarana yang ideal untuk
menunjang peran Bhabinkamseltibcarlantas adalah adanya
penambahan pos Unit PJR yang disesuaikan dengan DSPP yaitu
sebanyak 8 Pos unit PJR yang kepemilikan tanahnya juga dapat
segera ditingkatkan menjadi Sertifikat Hak Milik dan terdaftar dalam
SIMAK BMN sehingga apabila ada rencana perluasan bangunan
tidak akan terkendala dengan masalah administrasi.
Selain itu juga perlu juga terpenuhinya sarana transportasi
mengingat jarak pantau personel Sat PJR yang jaraknya cukup jauh
sehingga diperlukan sarana transportasi yang dapat sesuai dengan
kebutuhan, seperti tersedianya ambulance di setiap Pos Unit PJR,
mobil derek, dan kendaraan pendukung operasional lainnya baik R2
maupun R4 yang dilengkapi dengan GPS dan setiap Pos Unit PJR
dapat dilengkapi dengan alat pengecekan kesehatan yang lengkap
dan tempat istirahat yang representatif bagi para pengguna jalan
yang akan singgah setelah menempuh perjalanan yang jauh serta
alat komunikasi yang canggih untuk dapat berkomunikasi antar pos
unit dan dimonitor oleh semua pos unit.
34

Dengan terpenuhinya dukungan sarana dan prasarana


tersebut tentunya peran Bhabinkamseltibcarlantas dapat optimal
dalam meminimalisir pelanggaran dan Kecelakaan lalu lintas.

D. Metode Yang Diterapkan Oleh Bhabinkamseltibcarlantas Dalam


Meminimalisir Pelanggaran dan Kecelakaan Lalu Lintas
Dalam mengoptimalkan peran Bhabinkamseltibcarlantas,
tentunya dibutuhkan Metode yang tepat sehingga hasilnya dapat
lebih optimal .Metode yang digunakan untuk meningkatkan peran
Bhabinkamseltibcarlantas tertuang secara jelas melalui proses
manajemen yang merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan-
tujuan organisasi yang telah ditetapkan melaui kegiatan perencanaan
(planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating)
dan pengendalian/pengawasan (controlling)15. Untuk Metode yang
digunakan dalam mengoptimalkan peran Bhabinkamseltibcarlantas
dalam meminimalisir pelanggaran dan Kecelakaan lalu lintas, dikaji
dari teori manajemen adalah sebagai berikut:

1. Aspek Perencanaan (Planning)


a. Adanya penyusunan kebutuhan yang menjadi unsur
pendukung pelaksanaan tugas Bhabinkamseltibcar
lantas dalam melaksanakan tugasnya.
b. Adanya penyusunan Perkap dan peraturan lainnya
terkait pelaksanaan tugas anggota lalu lintas yang
mengemban tugas sebagai Bhabinkamseltibcarlantas
sebagai tindak lanjut dari Peraturan Dirlantas Polda
Kaltim Nomor 05/V/2017 tentang Standar Operasional
Prosedur Bhabinkamseltibcarlantas Sat PJR Ditlantas
Polda Kaltim.

15
Terry, George R. 2012. Dasar-Dasar Manajemen (cetakan kedua belas). Jakarta: Bumi
Aksara.
35

2. Aspek pengorganisasian (Organizing)


a. Diharapkan fungsi Bhabinkamseltibcarlantas dapat
dibentuk secara struktural di tingkat Polda dan di
tingkat Polres sehingga pelaksanaan tugas
Bhabinkamseltibcarlantas tidak hanya dilaksanakan
oleh personil Sat PJR Ditlantas Polda Kaltim tapi juga
dapat dilaksanakan oleh personil lalu lintas di Polres
dan di Polsek.
b. Penunjukan Bhabinkamseltibcarlantas dilakukan
berdasarkan kebutuhan dengan mengacu kepada
kualifikasi dan kompetensi yang dimiliki. Dengan
demikian, pelaksanaan tugasnya dapat optimal.

3. Aspek Pelaksanaan (Actuating)


a. Personel Bhabinkamseltibcarlantas harus proaktif,
terprogram dan terjadwal dalam melakukan tatap
muka/sambang dengan para tokoh masyarakat dan
komunitas pengguna jalan. Kegiatan sambang/tatap
muka dengan tokoh masyarakat dan komunitas
pengguna jalan senantiasa dilakukan secara
terprogram sesuai dengan situasi dilapangan.
b. Meningkatnya peran Bhabinkamseltibcarlantas dalam
melakukan koordinasi, konsultasi serta diskusi dengan
masyarakat pengguna jalan sebagai upaya dalam
menentukan prioritas penanganan masalah yang terjadi
di jalan raya.
c. Personel Bhabinkamseltibcarlantas harus dapat
menjadi fasilitator penyelesaian masalah di jalan raya
dan motivator keselamatan berlalu lintas untuk
masyarakat pengguna jalan.
36

4. Aspek pengawasan dan pengendalian (Controlling)


a. Pengawasan terhadap personil yang mengemban tugas
sebagai Bhabinkamseltibcarlantas dilakukan secara
melekat dan berjenjang dari mulai Kasat, Kanit dan
Panit sehingga pelaksanaan tugas
Bhabinkamseltibcarlantas dapat lebih optimal..
b. Adanya instrumen untuk mengukur keberhasilan
pelaksanaan tugas Bhabinkamseltibcarlantas sehingga
dapat dijadikan sebagai indikator untuk
dilaksanakannya Anev terhadap pelaksanaan tugas
Bhabinkamseltibcarlantas serta penerapan reward dan
punishment senantiasa dilakukan secara tegas,
transparan dan akuntabel baik kepada personel yang
berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik maupun
kepada personel yang melakukan pelanggaran kode
etik.

E. Kontribusi optimalnya Peran Bhabinkamseltibcarlantas Dalam


Meminimalisir Pelanggaran dan Kecelakaan Lalu Lintas
Apabila Peran Bhabinkamseltibcarlantas dalam meminimalisir
pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas berjalan optimal, maka akan
berkontribusi terhadap hal-hal sebagai berikut :
a. Semakin optimalnya personel Bhabinkamseltibcarlantas
dalam melakukan pendekatan dan sosialisasi keselamatan
berlalu lintas kepada masyarakat pengguna jalan di wilayah
pantauannya, maka kesadaran masyarakat dalam berlalu
lintas yang aman akan semakin meningkat sehingga jumlah
pelanggaran lalu lintas dapat menurun. Dengan menurunnya
pelanggaran lalu lintas maka tingkat Kecelakaan lalu lintas
dapat ditekankan mengingat bahwa Kecelakaan lalu lintas
terjadi diawali dengan adanya pelanggaran lalu lintas.
b. Penegakan hukum dan penjatuhan sanksi yang diberikan
personel Bhabinkamseltibcarlantas terhadap para pelanggar
37

lalu lintas dapat memberikan efek jera sehingga mampu


meminimalisir pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas.
c. Upaya meminimalsir pelanggaran dan Kecelakaan lalu lintas
dapat berjalan optimal sehingga dapat berkontribusi terhadap
menigkatnya upaya perbaikan dan peningkatan kualitas
keselamatan bagi para pengguna jalan dalam membangun
budaya tertib berlalu lintas serta terwujudnya pelayanan prima
kepolisian di bidang LLAJ. Dengan demikian,
Kamseltibcarlantas bagi masyarakat Kaltim dapat terwujud.
38

BAB VI
UPAYA PEMECAHAN MASALAH

Optimalisasi Peran Bhabinkamseltibcarlantas dalam meminimalisir


pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas memerlukan proses yang panjang
dan langkah-langkah strategi yang konkrit serta ada target pencapaian yang
dapat diukur, seperti dalam pembuatan metode yang efektif dan efisien
melalui kegiatan yang dilaksanakan bersama oleh bagian yang berwenang.
Oleh karena itu, untuk menentukan optimalisasi Peran
Bhabinkamseltibcarlantas dalam meminimalisir pelanggaran dan
kecelakaan lalu lintas, penulis menuangkan ke dalam manajemen strategis
dengan menentukan perumusan yang dimulai dari visi, misi, tujuan, dan
sasaran. Kemudian, untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut perlu
ditetapkan kebijakan, strategi dan implementasi strategi yang tepat sesuai
dengan permasalahan dan persoalannya. Kemampuan mengintegrasikan
alat fungsional berupa penggunaan teori untuk di implementasikan dalam
organisasi sangat diperlukan sehingga akan dijadikan acuan dalam
menentukan kinerja organisasi dalam jangka panjang untuk mencapai
tujuan organisasi.
Konsepsi pemecahan masalah mengacu pada teori
manajemen strategis menurut Wheelen dan Hunger dengan
menjabarkan elemen dasar dalam perumusan strategi
(meliputi pernyataan Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Strategi,
Kebijakan, dan Action Plan). Adapun untuk penjabaran lebih
jelasnya yaitu sebagai berikut :
A. Visi
Rumusan visi pada setiap karya tulis mengacu kepada
permasalahan dan persoalan yang menjadi pokok bahasan penulis.
Adapun visi yang ditetapkan penulis pada NKP ini adalah sebagai
berikut :
39

“Optimalnya Peran Bhabinkamseltibcarlantas dalam


meminimalisir pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas sehingga
Kamseltibcarlantas terwujud”
B. Misi
Misi merupakan suatu38pernyataan tentang apa yang harus
dikerjakan oleh organisasi dalam usaha mewujudkan Visi yang telah
ditetapkan sebelumnya. Misi akan memberikan arah sekaligus
batasan-batasan proses pencapaian tujuan. Adapun misi yang
ditetapkan penulis pada NKP ini adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia
Bhabinkamseltibcarlantas untuk dapat mengoptimalkan
perannya guna meminimalisir pelanggaran dan kecelakaan
lalu lintas dalam rangka terwujudnya Kamseltibcarlantas.
2. Mengalokasikan dukungan anggaran yang mencukupi untuk
mendukung upaya meningkatkan peran Bhabinkamseltibcar
lantas.
3. Meningkatkan kebutuhan sarana dan prasarana untuk
mendukung peran Bhabinkamseltibcarlantas.
4. Melakukan pembenahan dan peningkatan metode yang tepat,
efektif dan efisien untuk mendukung optimalisasi peran
Bhabinkamseltibcar lantas.

C. Tujuan
Tujuan merupakan penjabaran/implementasi dari pernyataan
misi. Tujuan adalah sesuatu (apa) yang akan dicapai atau dihasilkan
pada jangka waktu tertentu. Mengacu pada visi dan misi yang telah
ditetapkan, maka tujuan yang ingin dicapai dalam optimalisasi peran
Bhabinkamseltibcarlantas dalam meminimalisir pelanggaran dan
kecelakaan lalu lintas adalah:
1. Meningkatnya sumber daya manusia Bhabin
kamseltibcarlantas baik secara kuantitas maupun kualitas
dalam upaya menciptakan Kamseltibcarlantas.
40

2. Tersedianya anggaran yang memadai untuk menunjang tugas


Bhabinkamseltibcarlantas
3. Terpenuhinya sarana dan prasarana untuk menunjang tugas
Bhabinkamseltibcarlantas dalam upayanya menciptakan
Kamseltibcarlantas bagi masyarakat pengguna jalan.
4. Terwujudnya metode yang tepat, efektif dan efisien dalam
menunjang tugas Bhabinkamseltibcarlantas.

D. Sasaran
Sasaran adalah sesuatu yang akan dihasilkan oleh
organisasi dalam jangka waktu 1 (satu) tahun yang capaiannya dapat
disusun dengan tahapan semesteran, triwulanan, atau bulanan.
Adapun sasaran dari optimalisasi peran Bhabinkamseltibcarlantas
adalah sebagai berikut :
1. Sumber daya manusia yang secara kuantitas dan kualitas
mampu menjadi Bhabinkamseltibcarlantas.
2. Dukungan anggaran yang mencukupi untuk meningkatkan
peran Bhabinkamseltibcarlantas.
3. Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai untuk
meningkatkan peran Bhabinkamseltibcarlantas.
4. Metode yang digunakan untuk meningkatkan peran
Bhabinkamseltibcarlantas harus tepat, efektif dan efisien.

E. Kebijakan
Suatu kebijakan harus mengandung ciri-ciri utama, yaitu
harus masuk akal/tergapai bukan sekedar angan-angan, dapat
dilaksanakan secara nyata dan dinyatakan secara tertulis dengan
bahasa yang mudah dimengerti, sehingga mudah dijabarkan menjadi
beberapa strategi. Adapun kebijakan dari optimalisasi peran
Bhabinkamseltibcarlantas adalah sebagai berikut :
1. Direktur lalu lintas berkomitmen untuk mengoptimalkan peran
Bhabinkamseltibcarlantas dengan mengajukan penambahan
personel kepada satuan atas secara bertahap dan melakukan
41

pelatihahan peningkatan kemampuan personel serta mengikut


sertakan personel untuk mendapatkan sertifikasi di tingkat
Mabes Polri.
2. Direktur lalu lintas bersama unsur pimpinan Dit Lantas
berkomitmen untuk mengoptimalkan peran Bhabin
kamseltibcarlantas dengan mengajukan tambahan dukungan
anggaran untuk biaya operasional dan ULP Non organik.
3. Direktur lalu lintas bersama unsur pimpinan Dit Lantas
berkomitmen untuk meningkatkan sarana dan prasarana
untuk mendukung peran Bhabinkamseltibcar lantas.
4. Direktur lalu lintas bersama unsur pimpinan Dit Lantas
memformulasikan metode yang tepat, efektif dan efisien untuk
mengoptimalkan peran Bhabinkamseltibcarlantas.

F. Strategi
Untuk mewujudkan peran Bhabinkamtibmas yang optimal
dalam meminimalisir pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas harus
dilakukan dengan formulasi strategi sebagai berikut :

Tabel 6.1
Matriks TOWS

KEKUATAN (STRENGTH) S KELEMAHAN (WEAKNESS) W


INTERNAL
1.Adanya penjabaran Renja 1.Masih terbatasnya kuantitas
tahunan Dit Lantas Polda dan personel
Kaltim. Bhabinkamseltibcar lantas
2.Adanya Kebijakan Dir Lantas dibandingkan dengan panjang
Polda Kaltim yang jalan.
dituangkan dari Peraturan 2.Terbatasnya kualitas SDM
Dir Lantas. Bhabinkamseltibcarlantas
3.Adanya Pencanangan 3. Minimnya anggaran untuk
Tahun Keselamatan untuk menunjang peran Bhabin
kemanusiaan oleh Kor kamseltibcarlantas.
Lantas Polri, 4.Belum memadainya duk
4.Komitmen kuat dari sarpras guna menunjang
pimpinan dan dedikasi yang keberhasilan pelaksanaan
ditunjukan personel untuk tugas Bhabin
lakukan pembenahan kinerja kamseltibcarlantas.
Sat PJR. 5.Belum optimalnya metode
5.Adanya personel yang telah yang diterapkan.
EKSTERNAL mengikuti Dikjur dan
42

memiliki sertifikasi.
PELUANG (OPPORTUNITY) O STRATEGI SO STRATEGI WO
1.Adanya dukungan dari 1.Meningkatkan peran 1.Meningkatkan kuantitas dan
pemerintah pusat melalui Bhabinkamseltibcar lantas kualitas personel Bhabin
Inpres No 4 tahun 2013 melalui kebijakan pimpinan kamseltibcarlantas untuk
2.Adanya kontrol publik yang dan program pencangan meminimalisir pelanggaran
semakin intensif terhadap tahun keselamatan untuk dan kecelakaan lalu lintas.
perilaku anggota Polri di untuk kemanusiaan (S1, S2- (W1-01,O3)
lapangan. 01, O4)
2.Mengajukan dukungan
3.Perkembangan teknologi
2.Memanfatkan anggaran Bhabin
dan informasi.
perkembangan teknologi Kamseltibcarlantas guna
4.Adanya dukungan dari
untuk mengingkatkan kinerja kegiatan operasional (W2-
instansi terkait dan
dan peran O1)
pemerintah propinsi .
Bhabinkamseltibcarlantas.
3.Melibatkan masyarakat dan
(S4-O1, O3)
instansi terkait untuk bersama-
3.Meningkatkan kemampuan sama dengan personel
personel Sat PJR Ditlantas Bhabin Kamseltibcarlantas
Polda Kaltim guna meminimalisir pelanggaran
mendukung keberhasilan dan Kecelakaan lalu lintas.
peran (W5-O3,O4)
Bhabinkamseltibcarlantas.
(S4, S5-O2)
KENDALA (THREATH) T STRATEGI ST STRATEGI WT
1.Adanya penilaian negatif / 1.Melaksanakan sosialisasi 1.Membenahi metode untuk
labelling masyarakat kepada masyarakat tentang mengoptimalkan peran
terhadap kinerja Polantas keamanan dan keselamatan Bhabinkamseltibcarlantas.
2.Tingkat kepercayaan berlalu lintas di jalan (S2- (W2,W5-T4,)
masyarakat terhadap Polri S3,T3-T4)
2.Mengoptimalkan Sarpras yang
yang masih rendah
2.Memanfaatkan personel dimiliki dan mengajukan
3.Kondisi geografis Kaltim dan
Bhabinkamseltibcarlantas pemenuhan Sarpras yang
Kaltara yang memiliki jalur
yang telah Dikjur PJR serta dibutuhkan untuk mendukung
darat yang panjang.
Pengawalan dan memiliki peran Bhabin
4.Masih rendahnya kesadaran
sertifikasi untuk Kamseltibcarlantas (W4-T5)
dan ketaatan berlalu lintas
meningkatkan kompetensi
masyarakat pengguna jalan 3.Menempatkan personel
bagi personel
di wilayah Kaltim dan Bhabin Kamseltibcarlantas
Bhabinkamseltibcarlantas
Kaltara. berdasarkan kompetensi dan
yang belum pernah ikut
5.Kurang optimalnya peran merupakan personel yang
Dikjur PJR dan Pengawalan.
dari instanst terkait yang bersih dari penyimpangan
(S!, S3, S4, S5-T2, T4)
bergerak dibidang lalu lintas. (W1-T2)

Mengacu pada matrik TOWS di atas, diperoleh strategi yang


telah dirumuskan berdasarkan pengaruh faktor internal dan eksternal
yang selanjutnya rumusan strategi tersebut disusun dalam strategi
untuk mengoptimalkan peran Bhabinkamseltibcarlantas yang
dikelompokkan ke dalam strategi jangka pendek, jangka menengah,
dan jangka panjang sebagai berikut :
43

1. Jangka Pendek ( 0 - 6 Bulan )


a. Memanfaatkan perkembangan teknologi informasi
untuk meningkatkan kinerja dan peran Bhabin
kamseltibcarlantas.
b. Melibatkan masyarakat dan instansi terkait untuk
bersama-sama dengan personel Bhabin
Kamseltibcarlantas meminimalisir pelanggaran dan
Kecelakaan lalu lintas.
c. Melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat
pengguna jalan tentang keamanan dan keselamatan
berlalu lintas di jalan.
d. Menempatkan personel Bhabin Kamseltibcarlantas
berdasarkan kompetensi dan merupakan personel yang
bersih dari penyimpangan.

2. Jangka Menengah ( 0 – 12 Bulan )


a. Memanfaatkan personel Bhabinkamseltibcarlantas yang
telah Dikjur PJR serta Pengawalan dan memiliki
sertifikasi untuk meningkatkan kompetensi bagi
personel Bhabinkamseltibcarlantas yang belum pernah
ikut Dikjur PJR dan Pengawalan.
b. Meningkatkan kemampuan pesonel Sat PJR Dit Lantas
Polda Kaltim guna mendukung keberhasilan peran
Bhabinkamseltibcarlantas.
c. Mengoptimalkan Sarpras yang dimiliki dan mengajukan
pemenuhan Sarpras yang dibutuhkan untuk mendukung
peran Bhabinkamseltibcarlantas.
d. Meningkatkan peran Bhabinkamseltibcar lantas melalui
kebijakan pimpinan dan program pencanangan tahun
keselamatan untuk untuk kemanusiaan.
44

3. Jangka Panjang ( 0 – 24 Bulan )


a. Meningkatkan kuantitas dan kualitas personel
Bhabinkamseltibcarlantas untuk meminimalisir
pelanggaran dan Kecelakaan lalu lintas.
b. Membenahi metode untuk mengoptimalkan peran
Bhabinkamseltibcarlantas.
c. Mengajukan dukungan anggaran Bhabin
Kamseltibcarlantas guna kegiatan operasional.

G. Upaya yang Dilakukan (Action Plan)


Upaya yang dilakukan/action plan merupakan langkah riil atau
tindakan nyata dan bersifat teknis sebagai jabaran dari strategi yang
ditetapkan di atas. Untuk upaya peran Bhabinkamseltibcarlantas
dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :

1. Jangka Pendek ( 0 - 6 bulan )


a. Memanfaatkan perkembangan teknologi informasi
untuk meningkatkan kinerja dan peran Bhabin
kamseltibcarlantas, melalui upaya :
1) Kasat PJR menginstruksikan seluruh personel
Bhabinkamseltibcarlantas untuk memanfaatkan
media sosial seperti facebook, twitter, Instagram
dan sebagainya sebagai sarana mengajak
masyarakat pengguna jalan untuk ikut berperan
sebagai pelopor keselamatan berlalu lintas.
2) Kasat PJR mengintruksikan seluruh personel
Bhabinkamseltibcarlantas untuk mensosialisasi
kan nomor hotline dan nomor HP para
Bhabinkamseltibcarlantas yang sudah
terpampang di sepanjang jalan wilayah pantauan
yang dapat diakses 24 jam oleh pengguna jalan.
45

b. Melibatkan masyarakat dan instansi terkait untuk


bersama-sama dengan personel Bhabin
Kamseltibcarlantas meminimalisir pelanggaran dan
Kecelakaan lalu lintas, melalui upaya :
1) Kasat PJR mengintruksikan seluruh personel
Bhabinkamseltibcarlantas untuk berkolaborasi
dengan masyarakat untuk bersama-sama
membentuk Komunitas peduli keselamatan
berlalu lintas dengan masyarakat disekitar Pos
Unit PJR sebagai sarana membantu personel
Bhabinkamseltibcarlantas menggali informasi
tentang potensi Kecelakaan lalu lintas.
2) Kasat PJR mengintruksikan seluruh personel
Bhabinkamseltibcarlantas untuk melakukan
pembinaan secara terjadwal terhadap
komunitas-komunitas pengguna jalan untuk
dapat bersama-sama menjadi bagian dari
pelopor keselamatan berlalu lintas.
3) Kasat PJR bekerjasama dengan Dishub
melakukan rapat koordinasi untuk bersama-
sama mengatasi persoalan-persoalan yang
terjadi di jalan raya sebagai upaya menciptakan
rasa aman kepada masyarakat.
c. Melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat
pengguna jalan tentang keamanan dan keselamatan
berlalu lintas di jalan, melalui upaya :
1) Kasat PJR, Kanit dan Panit beserta jajarannya
melakukan kunjungan, sambang desa secara
rutin kepada Tomas, Toga dan Todat di daerah
pantauan untuk memberikan penyuluhan dan
pembinaan hukum berlalu lintas serta
membahas persoalan lalu lintas yang sering
terjadi.
46

2) Kasat PJR menginstruksikan personel Bhabin


Kamseltibcarlantas untuk memasang banner,
spanduk, pamflet dan stiker himbauan
Kamseltibcarlantas yang dipasang ditempat-
tempat strategis, khususnya di tempat rawan
terjadinya kecelakaan.
d. Menempatkan personel Bhabin Kamseltibcarlantas
berdasarkan kompetensi dan merupakan personel yang
bersih dari penyimpangan, melalui upaya sebagai
berikut:
Kasat PJR menginventarisir personel Sat PJR
yang memiliki kompetensi dan track record yang baik
untuk ditugaskan sebagai fungsi Bhabin
Kamseltibcarlantas yang nantinya ditempatkan di Pos
yang rawan terjadinya pelanggaran dan Laka Lantas.
e. Melakukan Anev manakala implementasi strategi yang
dilakukan pada jangka pendek kurang optimal.

2. Jangka Menengah ( 0 - 12 bulan )


a. Melanjutkan action plan yang kurang optimal
dilaksanakan pada jangka pendek.
b. Memanfaatkan personel Bhabinkamseltibcarlantas
yang telah Dikjur PJR serta Pengawalan dan memiliki
sertifikasi untuk meningkatkan kompetensi bagi
personel Bhabinkamseltibcarlantas yang belum pernah
ikut Dikjur PJR dan Pengawalan, melalui upaya :
1) Kasat PJR mengadakan diskusi setiap minggu
antara personel unit PJR yang telah Dikjur PJR
dan Pengawalan dengan personel unit PJR yang
belum Dikjur PJR dan Pengawalan untuk
transfer pengetahuan dan keterampilan.
2) Kasat PJR membuat jadwal rutin bagi personel
yang telah mengikuti Dikjur PJR dan
47

Pengawalan untuk memberikan keterampilan


mereka kepada personel yang belum Dikjur PJR
dan Pengawalan.
3) Kasat PJR memerintahkan personel unit PJR
yang telah mengikuti Dikjur PJR dan memiliki
sertifikasi pelatihan untuk mendampingi personel
yang belum pernah mengikuti Dikjur agar tidak
ada kendala dalam menjalankan tugasnya
sebagai personel Bhabinkamseltibcarlantas.
c. Meningkatkan kemampuan personel PJR Dit Lantas
Polda Kaltim guna mendukung keberhasilan peran
Bhabinkamseltibcarlantas, melalui upaya :
1) Kasat PJR bersama Karo SDM mengusulkan ke
satuan atas agar personel yang telah memenuhi
syarat dan belum pernah mengikuti pelatihan/
Dikjur untuk diikutsertakan Dikjur dan
Dikbangspes secara bergiliran serta memberikan
kesempatan anggota yang ingin melanjutkan
kuliah sepanjang tidak menggangu pelaksanaan
tugas.
2) Kasat berkoordinasi dengan Karo SDM untuk
menyelenggarakan pelatihan dalam lingkup
intern untuk mengembangkan aspek intelektual
dan kepribadiannya sehingga akan memiliki nilai
tambah peningkatan penguasaan ilmu
pengetahuan/penguatan pengetahuan (kognitif),
sikap (efektif) dan keterampilan (skills)/
kompetensi tertentu (khas). Secara lebih spesifik,
Tujuan utama pelatihan dengan demikian,
mencakup dua hal yaitu :
a) Meningkatkan pengetahuan, keahlian dan
keterampilan serta pembentukan sedini
48

mungkin kepribadian personel


Bhabinkamseltibcarlantas.
b) Meningkatkan efisiensi dan efektivitas
kerja personel Bhabinkamseltibcarlantas
dalam mencapai sasaran-sasaran kerja
yang telah ditetapkan, sesuai visi Polri
yaitu memberikan pelayanan prima
kepada masyarakat pengguna jalan
d. Mengoptimalkan Sarpras yang dimiliki dan mengajukan
pemenuhan Sarpras yang dibutuhkan untuk
mendukung peran Bhabinkamseltibcarlantas, melalui
upaya :
1) Kasat PJR mengintruksikan seluruh personel
Bhabinkamseltibcarlantas untuk senantiasa
melakukan pemeliharaan dan perawatan
Sarpras yang dimiliki Sat PJR agar dapat
dipergunakan oleh personel Bhabinkamseltibcar
lantas dalam menjalankan tugasnya.
2) Kasat PJR merumuskan kebutuhan Sarpras
yang dibutuhkan untuk mendukung peran
Bhabinkamseltibcarlantas, khususnya sarana
transportasi dan Alkom.
3) Kasat PJR melailui Dir Lantas berkoordinasi
dengan Biro Rena dan Biro Sarpras untuk
pengusulan penambahkan Pos Unit PJR
mengingat panjang jalur daerah Provinsi Kaltim
dan Kaltara.
4) Kasat PJR menjalin kerjasama dengan instansi
terkait dan pihak lain (Pemprov, swasta) dalam
mendukung proses mengoptimalkan peran
Bhabinkamseltibcarlantas melalui pengadaan
sarana prasarana pendukung.
49

e. Meningkatkan peran Bhabin Kamseltibcarlantas melalui


kebijakan pimpinan dan program pencanangan tahun
keselamatan untuk kemanusiaan.
1) Kasat PJR menganalisa dan mengevaluasi
situasi lalu lintas di sepanjang jalan daerah
Kaltim dan Kaltara dan selanjutnya merumuskan
program keselamatan di wilayah Kaltim melalui
rapat teknis.
2) Kasat PJR dan Karo SDM membuat
perencanaan pengembangan kemampuan
personel Sat PJR yang mengemban fungsi
Bhabin Kamseltibcarlantas yang akan
diikutsertakan pada lembaga sertifikasi
PJR/pengawalan dengan tujuan seluruh
personel Sat PJR yang mengemban fungsi
Bhabin Kamseltibcarlantas memiliki sertifikasi
khusus PJR/pengawalan.
f. Melakukan Anev manakala implementasi strategi yang
dilakukan pada jangka sedang kurang optimal.

3. Jangka Panjang ( 0 - 24 bulan )


a. Melanjutkan action plan jangka pendek dan jangka
sedang yang belum optimal.
b. Meningkatkan kuantitas dan kualitas personel
Bhabinkamseltibcarlantas untuk meminimalisir
pelanggaran dan Kecelakaan lalu lintas, melalui upaya :
1. Kasat PJR mengajukan penambahan personel
Sat PJR agar memenuhi DSPP yang dibutuhkan
berkoordinasi dengan Biro SDM Polda Kaltim.
2. Meningkatkan keterampilan (skills) personel
Bhabinkamseltibcarlantas, melalui:
a) Meningkatkan keterampilan dalam
menggali informasi tentang potensi
50

Kecelakaan lalu lintas melalui kegiatan


seminar dan sosialisasi mengenai materi
keterampilan teknis (technical skill) yang
menunjang tugas, misalnya: (1)
Keterampilan mengamati (observing skill);
(2) Keterampilan menjelaskan (describing
skill); (3) Keterampilan mendengarkan
(listening skill); (4) Keterampilan bertanya
(questioning skill); (5) Keterampilan
meringkas (summarizing skill); serta (6)
Keterampilan memberikan dan menerima
umpan balik (feedback skill).
b) Meningkatkan keterampilan
berkomunikasi dengan melaksanakan
pelatihan public relation atau
berkomunikasi yang efektif khususnya
dengan masyarakat pengguna jalan agar
pesan-pesan keselamatan berlalu lintas
dapat disampaikan dengan baik.
3. Memperbaiki sikap dan perilaku (attitude)
personel Bhabinkamseltibcarlantas, melalui:
a) Kasat PJR memberikan pengarahan dan
pembinaan kepada personel Bhabin
Kamseltibcarlantas untuk meningkatkan
kesadaran mereka akan tanggung
jawabnya terhadap masyarakat pengguna
jalan sehingga dapat senantiasa peduli
dan proaktif dalam melaksanakan
tugasnya sebagai
Bhabinkamseltibcarlantas dalam melayani
masyarakat.
b) Kasat PJR mengintruksikan kepada
seluruh personel pengemban fungsi
51

Bhabin Kamseltibcarlantas yang senior


agar secara berjenjang memberikan
contoh keteladanan dalam bekerja agar
menjadi panutan bagi personel lainnya
sehingga menjadi motivasi untuk
berperan lebih baik dalam melaksanakan
tugasnya sebagai Bhabin
Kamseltibcarlantas.
c. Membenahi metode untuk mengoptimalkan peran
Bhabinkamseltibcarlantas, dilakukan melalui upaya
sebagai berikut :
1. Aspek Perencanaan (Planning)
a) Kasat PJR menyusun rencana kebutuhan
setiap Unit dengan membuat road map
yang didasarkan pada kerawanan yang
berpotensi kecelakaan lalu lintas
sehingga dapat diketahui titik-titik rawan
yang perlu diberikan atensi khusus agar
peran Bhabinkamseltibcarlantas dapat
optimal.
b) Kasat PJR membuat buku saku mengenai
SOP Bhabinkamseltibcarlantas Sat PJR
Ditlantas Polda Kaltim sebagai pedoman
pelaksanaan tugas Bhabin
Kamseltibcarlantas.
2. Aspek pengorganisasian (Organizing)
a) Kasat PJR mengusulkan kepada Dirlantas
Polda Kaltim untuk membentuk
Bhabinkamseltibcarlantas di tingkat
Polres dan Polsek yang pelaksanaan
tugasnya dapat dirangkat oleh anggota
Sat Lantas Polres dan Polsek.
52

b) Kasat PJR membagi tim dan penetapan


kinerja Bhabinkamseltibcarlantas yang
mengacu kepada kualifikasi dan
kompetensi yang dimiliki yang dituangkan
dalam HTCK yang jelas dan terstruktur.
3. Aspek Pelaksanaan (Actuating)
a) Kasat PJR membuat jadwal kegiatan di
setiap Pos Unit PJR untuk melakukan
tatap muka / sambang dengan para tokoh
masyarakat dan komunitas pengguna
jalan secara berjenjang.
b) Kasat PJR mengadakan rapat-rapat
teknis dan seminar dengan mengundang
pakar ahli terkait persoalan yang terjadi di
jalan raya agar peran
Bhabinkamseltibcarlantas sebagai
fasilitator penyelesaian masalah di jalan
raya dan motivator keselamatan berlalu
lintas dapat meningkat.
4. Aspek pengawasan dan pengendalian
(Controlling)
a) Kasat PJR melaksanakan pengawasan
dan pengendalian secara melekat dan
insidentil terhadap kinerja personel
Bhabinkamseltibcarlantas melalui
kunjungan serta sidak yang dilakukan
secara rutin ke setiap Pos Unit PJR.
b) Kasat PJR melaksanakan pengawasan
dan pengendalian terhadap kinerja
Bhabinkamseltibcarlantas melalui analisa
dan evaluasi yang dilaksanakan setiap
bulan serta mengisi instrumen untuk
mengukur keberhasilan kinerja personel
53

Bhabinkamseltibcar Lantas yang


dilaksanakan oleh personel Sat PJR serta
mengimplementasikan sistem reward dan
punishment secara tegas, transparan dan
akuntabel.
d. Mengajukan dukungan anggaran Bhabin
Kamseltibcarlantas guna kegiatan operasional, melalui
upaya sebagai berikut:
1) Kasat PJR berkoordinasi dengan Dirlantas
Polda Kaltim untuk membahas kebutuhan
anggaran pelaksanaan tugas peran
Bhabinkamseltibcarlantas disesuaikan dengan
indeks di Provinsi Kaltim.
2) Kasat PJR membuat perencanaan untuk
meningkatkan anggaran DIPA, anggaran
pelatihan, serta anggaran pengadaan sarana
dan prasarana kegiatan/operasional
Bhabinkamseltibcarlantas.
3) Kasat PJR mengajukan dukungan anggaran
untuk honor Bhabinkamseltibcarlantas agar
dapat dialokasikan pada DIPA/RKA KL pada
tahun selanjutnya.
e. Melakukan Anev manakala implementasi strategi yang
dilakukan pada jangka panjang kurang optimal.

BAB VII
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada dasarnya Bhabinkamseltibcarlantas adalah terobosan
kreatif untuk memecahkan permasalahan lalu lintas khususnya untuk
meminimlisir pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas. Saat ini tugas
54

Bhabinkamseltibcarlantas diemban oleh personil Sat PJR Dit Lantas


Polda Kaltim. Dalam pelaksanaan tugas Bhabinkamseltinbcarlantas
belum optimal hal tersebut dapat dilihat dari beberapa indikator
sebagai berikut :
1. Kondisi Sumber Daya Manusia Bhabinkamseltibcarlantas
ditinjau dari aspek kuantitas masih belum ideal dan secara
kualitas pun pengetahuan dan keterampilan serta sikap yang
dimiliki oleh personel Bhabinkamseltibcarlantas saat ini masih
kurang optimal. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah
atau upaya mengajukan penambahan personel Sat PJR agar
memenuhi DSPP yang dibutuhkan dan melakukan upaya
peningkatan kemampuan pengetahuan (knowledge) personel
Bhabinkamseltibcarlantas dengan mengikutsertakan setiap
personel Bhabinkamseltibcarlantas secara bergiliran pada
setiap Dikjur lalu lintas, Dikbangspes/latihan fungsi dan
mengikuti pelatihan–pelatihan lainnya; Meningkatkan
keterampilan menggali informasi tentang potensi Kecelakaan
lalu lintas melalui kegiatan seminar dan sosialisasi mengenai
materi keterampilan teknis (technical skill) yang menunjang
tugas, meningkatkan keterampilan berkomunikasi dengan
melaksanakan pelatihan public relation atau berkomunikasi
yang efektif serta memperbaiki sikap dan perilaku (attitude)
dengan memberikan pengarahan dan pembinaan kepada
personel sehingga personel Bhabin Kamseltibcarlantas
senantiasa peduli dan proaktif dalam melaksanakan tugasnya
serta memberikan instruksi kepada anggota yang senior agar
secara berjenjang 54
memberikan contoh keteladanan dalam
bekerja agar menjadi panutan bagi personel lainnya.
2. Pada aspek pengelolaan anggaran, belum ada dukungan
anggaran operasional khusus untuk pergeseran anggota dari
Mako Dit Lantas ke Pos Unit PJR mengingat letak Pos Unit
PJR tidak sama jaraknya antara pos yang satu dengan pos
yang lainnya dari Mako Ditlantas. Saat ini dukungan anggaran
55

yang ada adalah dukungan ULP Non Organik yang jumlahnya


pun masih kurang dari jumlah anggota Bhabinkamseltibcar
lantas yang ada. Untuk itu perlu diajukan dukungan
operasional dan tambahan dukungan anggaran untuk ULP
Non Organik bagi personel Bhabinkamseltibcarlantas agar
dialokasikan pada DIPA/RKA KL pada tahun selanjutnya.
3. Dukungan Sarpras saat ini belum sepenuhnya dapat
mendukung peran Bhabinkamseltibcarlantas secara optimal
dikarenakan panjang jalan yang harus di pantau oleh personel
Bhabinkamseltibcarlantas belum sebanding dengan Sarpras
yang ada. Untuk mengatasinya dilakukan dengan
mengoptimalkan Sarpras yang dimiliki dan mengajukan
pemenuhan Sarpras yang dibutuhkan melalui satuan atas
melalui kerjasama dengan pemerintah Provinsi dan instansi
terkait untuk mendukung peran Bhabinkamseltibcarlantas.
4. Metode yang diterapkan oleh Bhabinkamseltibcarlantas saat
ini masih kurang efektif baik dari aspek perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan maupun pengawasan dan
pengendalian. Untuk mengoptimalkan metode yang
diterapkan oleh Bhabinkamseltibcarlantas maka dilakukan
langkah-langkah perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan dan pengawasan yang tepat, efektif dan efisien
seperti penyusunan rencana kebutuhan setiap Unit dengan
membuat road map yang didasarkan pada kerawanan potensi
kecelakaan lalu lintas, membuat jadwal kegiatan di setiap Pos
Unit PJR untuk melakukan tatap muka/sambang dengan para
tokoh dan melaksanakan pengawasan dan pengendalian
secara melekat terhadap kinerja personel Bhabinkamseltibcar
lantas melalui kunjungan serta sidak yang dilakukan secara
rutin ke setiap Pos Unit PJR serta mengimplementasikan
sistem reward dan punishment secara adil dan akuntabel.

B. Rekomendasi
56

Mengacu pada kesimpulan di atas, maka dalam penulisan


NKP ini diajukan beberapa saran/rekomendasi guna upaya
optimalisasi peran Bhabinkamseltibcarlantas, yaitu :
1. Merekomendasikan kepada Kapolda Kaltim melalui Karo SDM
dan Dirlantas Polda Kaltim untuk menambahkan personel
Bhabin kamseltibcarlantas secara bertahap serta
mengikutsertakan personel untuk mengikuti Dikjur PJR dan
Pengawalan maupun kegiatan pelatihan lainnya agar seluruh
personel Bhabin Kamseltibcarlantas dapat lebih profesional
pada pelaksanaan tugasnya mengingat besarnya peran
Bhabinkamseltibcarlantas dalam meminimalisir pelanggaran
dan kecelakaan lalu lintas.
2. Merekomendasikan kepada Kapolri melalui As SDM agar
peran Bhabinkamseltibcarlantas dapat menjadi jabatan non
struktural dan dapat dimasukkan dalam SOTK tingkat Polsek
3. Merekomendasikan kepada Kapolda Kaltim melalui Karo
Rena Polda Kaltim untuk mengusulkan dukungan anggaran
dalam DIPA untuk tahun anggaran selanjutnya agar ada
penambahan anggaran untuk ULP Non organik dan anggaran
Honor Bhabinkamseltibcarlantas.
4. Merekomendasikan kepada Kapolri melalui As SDM untuk
membuat Perkap terkait dengan Bhabinkamseltibcarlantas
sebagai acuan kinerja Bhabinkamseltibcarlantas agar tugas,
fungsi dan peranannya menjadi lebih jelas dan dapat
dilaksanakan oleh semua polisi pengemban fungsi lalu lintas.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia.


Balai Pustaka
Hunger, david. Wheelen, Thomas L. 2001, Manajemen Strategis.
Yogyakarta. CV Andi
57

Indonesia, Republik. 2002. Undang – Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang


Kepolisian Negara Republik Indonesia
Indonesia, Republik. 2009. Undang – Undang Nomor 22 tahun 2009
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
Instruksi Presiden Nomor 4 tahun 2013 Tentang Program Dekade Aksi
Keselamatan Jalan
Manullang, M. 1988. Dasar-dasar Manajemen. Bogor: Ghalia Indonesia.
Peraturan Direktur Lalu Lintas Polda Kalimantan Timur Nomor 5 Tahun
2017 tentang SOP Bhabinkamseltibcarlantas
Peraturan Kapolri Nomor 22 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan
Tata Kerja pada Tingkat Kepolisian Daerah
Peraturan Kapolri Nomor 23 tahun 2010 Susunan Organisasi dan Tata
Kerja pada tingkat Kepolisian Resort dan Kepolisian Sektor
Rangkuti, Freddy. 2009. Analisis SWOT: teknik membedah kasus bisnis.
Jakarta: PT. Gramedia pustaka utama
Saile, Said M. 2008. Himpunan teori pendapat para sarjana yang berkaitan
dengan Kepolisian. Jakarta
Solihin, Ismail. Maulana, Adi. 2014. Manajemen strategik. Jakarta. Erlangga
Terry, George R. 2012. Dasar-Dasar Manajemen (cetakan kedua belas).
Jakarta: Bumi Aksara.
http://www.bpkp.go.id/sesma/konten/244/mac-kompetensi
http://kaltim.prokal.co/read/news/312005-sangat-tak-disiplin-640-menit-
6931-pelanggar-di-jalan
http://www.artikelsiana.com/2014/10/pengertian-peran-definisi-fungsi-apa-
itu.html#
http://artikata.com/pelanggaran