Anda di halaman 1dari 2

Nama : Ayuvera Rifani Ray

NIM : 447384
Kelas : MAK 40/A

Summary UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas


Perseroan Terbatas (PT) adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan
berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi
dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan serta peraturan pelaksanaannya.
Secara khusus badan usaha Perseroan Terbatas diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas (UU PT), yang secara efektif berlaku sejak tanggal 16 Agustus 2007.
Sebelum UU PT 2007, berlaku UU PT No. 1 Tahun 1995 yang diberlakukan sejak 7 Maret 1996
(satu tahun setelah diundangkan) sampai dengan 15 Agustus 2007. PT merupakan perusahaan
yang oleh undang-undang dinyatakan sebagai perusahaan yang berbadan hukum. Dengan status
yang demikian itu, PT menjadi subyek hukum yang menjadi pendukung hak dan kewajiban,
sebagai badan hukum. Tujuan perusahaan serta penyusunan Anggaran Dasar perusahaan tidak
boleh bertentangan dengan undang-undang. Dalam menjalankan kegiatan usaha yang baik,
perusahaan juga berpedoman pada Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia
tahun 2006 yang dirancang oleh National Committee on Governance.

Unsur- unsur perseroan terbatas

Berdasarkan pengertian tersebut maka untuk dapat disebut sebagai perusahaan ,PT menurut
UUPT harus memenuhi unsur-unsur:

1. Berbentuk badan hukum, yg merupakan persekutuan modal;

2. Didirikan atas dasar perjanjian;

3. Melakukan kegiatan usaha;

4. Modalnya terbagi saham-saham;

5. Memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam UU PT serta peraturan lainnya

Dalam perseroan terbatas selain kekayaan perusahaan dan kekayaan pemilik modal terpisah, juga
ada pemisahan antara pemilik perusahaan dan pengelola perusahaan. Pengelolaan perusahaan
dapat diserahkan kepada tenaga-tenaga ahli dalam bidangnya (profesional). Struktur organisasi
perseroan terbatas terdiri dari pemegang saham, direksi, dan komisaris. Dalam PT, para
pemegang saham melimpahkan wewenangnya kepada direksi untuk menjalankan dan
mengembangkan perusahaan sesuai dengan tujuan dan bidang usaha perusahaan. Dalam kaitan
dengan tugas tersebut, direksi berwenang untuk mewakili perusahaan, mengadakan perjanjian
dan kontrak, dan sebagainya. Apabila terjadi kerugian yang amat besar (diatas 50 %) maka
direksi harus melaporkannya ke para pemegang saham dan pihak ketiga, untuk kemudian
dirapatkan.Komisaris memiliki fungsi sebagai pengawas kinerja jajaran direksi perusahaan.
Komisaris bisa memeriksa pembukuan, menegur direksi, memberi petunjuk, bahkan bila perlu
memberhentikan direksi dengan menyelenggarakan RUPS untuk mengambil keputusan apakah
direksi akan diberhentikan atau tidak.Dalam RUPS/Rapat Umum Pemegang Saham, semua
pemegang saham sebesar/sekecil apapun sahamnya memiliki hak untuk mengeluarkan suaranya.
Dalam RUPS sendiri dibahas masalah-masalah yang berkaitan dengan evaluasi kinerja dan
kebijakan perusahaan yang harus dilaksanakan segera. Bila pemegang saham berhalangan, dia
bisa melempar suara miliknya ke pemegang lain yang disebut proxy. Hasil RUPS biasanya
dilimpahkan ke komisaris untuk diteruskan ke direksi untuk dijalankan.

RUPS dapat dilangsungkan jika dalam RUPS lebih dari 1/2 (satu perdua) bagian dari jumlah
seluruh saham dengan hak suara hadir atau diwakili, kecuali Undang-Undang dan/atau anggaran
dasar menentukan jumlah kuorum yang lebih besar. Dalam hal kuorum tidak tercapai, dapat
diadakan pemanggilan RUPS kedua. Dalam pemanggilan RUPS kedua harus disebutkan bahwa
RUPS pertama telah dilangsungkan dan tidak mencapai kuorum. RUPS kedua sah dan berhak
mengambil keputusan jika dalam RUPS paling sedikit 1/3 (satu pertiga) bagian dari jumlah
seluruh saham dengan hak suara hadir atau diwakili, kecuali anggaran dasar menentukan jumlah
kuorum yang lebih besar. Dalam hal kuorum RUPS kedua tidak tercapai, Perseroan dapat
memohon kepada ketua pengadilan negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan
Perseroan atas permohonan Perseroan agar ditetapkan kuorum untuk RUPS ketiga. Pemanggilan
RUPS ketiga harus menyebutkan bahwa RUPS kedua telah dilangsungkan dan tidak mencapai
kuorum dan RUPS ketiga akan dilangsungkan dengan kuorum yang telah ditetapkan oleh ketua
pengadilan negeri. Penetapan ketua pengadilan negeri mengenai kuorum RUPS bersifat final dan
mempunyai kekuatan hukum tetap. Pemanggilan RUPS kedua dan ketiga dilakukan dalam
jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum RUPS kedua atau ketiga
dilangsungkan. RUPS kedua dan ketiga dilangsungkan dalam jangka waktu paling cepat 10
(sepuluh) hari dan paling lambat 21 (dua puluh satu) hari setelah RUPS yang mendahuluinya
dilangsungkan

Dalam bab 7 UU PT diatur tentang peran, tugas dan wewenang dari Direksi dan Dewan
Komisaris. Perusahaan di Indonesia dalam menjalankan kegiatan operasionalnya dipimpin oleh
direksi. Direksi menjalankan perusahaan sesuai maksud dan tujuan dari perusahaan.
Pengangkatan, pembagian tugas, dan wewenang direksi ditetapkan berdasarkan keputusan
RUPS. Direksi dalam kerjanya diawasi oleh dewan komisaris. Dewan komisaris melakukan
pengawasan atas kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya serta memberikan
nasihat kepada direksi. Pengangkatan dewan komisaris dilakukan melalui RUPS. Tata cara
pengangkatan, penggantian, dan pemberhentian anggota dewan komisaris diatur dalam anggaran
dasar. Perusahaan yang baik tercermin dari tata kelola perusahaan yang baik. Penerapan tata
kelola perusahaan di Indonesia diatur dalam Pedoman Umum Good Corporate Governance
Indonesia yang dikeluarkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance tahun 2006. Asas
Good Corporate Governance menurut pedoman KNKG ini terdiri dari: transparansi,
akuntabilitas, responsibilitas, independensi, kewajaran dan kesetaraan. Selain itu, pada pedoman
ini juga membahas mengenai etika bisnis dan pedoman perilaku.