Anda di halaman 1dari 4

Wolves and a Flower that Always Bloom

“Otogibanashi mitai datte, warwaeru kamo shirimasen, sonna fushigi na koto aru wake naitte, demo
kore wa tashika ni, watashi no haha no monogatari desu”

-It may sound like a fairytale, you may laugh and say that something mysterious as that is impossible,
but this is wiyhout a doubt my mothers story-

Tahun 2012 studio Chizu dan Madhouse membuat gebrakan baru dengan animasi layar lebar berjudul
“Ookami Kodomo no Ame to Yuki” (Wolf Children: Ame & Yuki). Sebuah kisah inspiratif tentang seorang
ibu yang super tegar bernama Hana dan perjuangannya membesarkan dua anak serigala. Penulis akan
sedikit mengambil beberapa pelajaran sembari mengulas serial yang satu ini. Awas kena tumpahan
(spoiler)!

1. Shoujo to ookami otoko: Ai no Hajimari

“Hana no youni egao o tayosanai ko sodatsu younitte, tsurai toki to ka kurushi toki ni toriaizu demo
muriari demo warateirotte, soushitara taite norikoerareru karatte.”

"I will raise my kid to have a smile as beautiful as a flower that won’t fade away, whether faced with
difficulties or suffering, we will smile whether we feel like it or not, then we’ll be able to overcome almost
everything.”

Hana merupakan seorang mahasiswi di suatu perguruan tinggi di Tokyo. Pada suatu ketika ia bertemu
seorang pria pendiam yang kerap masuk kelas namun tak mengisi absen. Hana mengejarnya dan
mengetahui bahwa pria tersebut bukan merupakan mahasiswa perguruan tinggi tersebut. Dengan
kebaikan hatinya, Hana membantu pria tersebut untuk tetap belajar tanpa ketahuan dan menjadi sangat
akrab dengannya. Hana membantunya menyusup ke dalam perpustakaan, meminjami bukunya dan
menemaninya jalan-jalan. Pada suatu malam, pria tersebut menunjukkan sosok sebenarnya: manusia
serigala. Terlanjur sudah jatuh cinta, Hana tak mempersalahkannya, keduanya menjadi sepasang kekasih
yang memiliki rahasia bersama.

2. Ookami kodomo o sodatte: Okaasan wa tsuyoi

“Kodomo tachi o yoroshiku tanomu yo” Sou itta you ni, haha wa kikoemashita.

“I’ll leave the children to your care.” My mother heard it like he said that.
Pada suatu malam, pria itu tewas di tengah guyuran hujan. Hana yang berduka harus tegar bersama dua
buah hati hasil jalinan cintanya dengan pria itu: Yuki dan Ame. Yuki merupakan anak pertama, ia lahir
pada musim salju dan memiliki sifat yang enerjik dan tak bisa cicing (pen: diam). Ame yang lahir tidak
lama setelah Yuki merupakan anak laki-laki yang pendiam dan tidak makan banyak serta selalu menangis
di tengah malam dan meminta dimanjakan ibunya. Membesarkan kedua anak tersebut di tengah kota
merupakana tantangan yang besar bgi seorang ibu, karena tak akan aman jika ketahuan kedua anak
tersebut merupakan manusia serigala. Dengan kehati-hatiannya, Hana membesarkan mereka berdua
dengan diam-diam di apartemen peninggalan kediamannya dan suaminya. Sialnya, kecurigaan yang

muncul di masyarakat semakin membesar sehingga Hana memutuskan untuk pindah ke sebuah desa
jauh nun di atas gunung.

Sekali lagi ketabahan Hana diuji dengan berbagai kesukaran. Rumah bobrok, bocor dan kotor yang harus
direnovasi dengan susah payah dilakukannya seorang diri. Siang harinya Hana mencoba bercocok tanam
dan setiap malamnya Hana membaca buku tentang serigala. Gagal panen sempat membuat Hana dan
kedua anaknya putus asa, namun masyarakat desa membantu keluarga mereka dengan segenap tenaga
sehingga dapat bertahan hidup desa tersebut.

3. Ookami to ningen: Sorezore no michi

“Haha ni yoru to, watashi tachi kyoudai wa ningen to ookami dochira no iki kata ga sureba yoi ka”

-According to our mother, she was wondering whether to have us live as humans or wolves-

Yuki memutuskan keinginannya untuk pergi sekolah. Dengan berbagai janji manis dan kerja keras, Yuki
berhasil merayu ibunya untuk pergi sekolah dengan janji akan hati-hati tidak membocorkan identitasnya.
Hana mulai bekerja di lembaga konservasi alam dan berhasil mendapatkan penghasilan tambahan. Ia
kerap ditemani Ame yang sering kabur sekolah.
Permasalahan muncul ketika seorang anak baru bernama Souhei mencurigai Yuki karena mempunyai
bau seperti binatang berbulu. Karena takut ketahuan, Yuki selalu kabur ketika didatangi Souhei dan
alhasil menyebabkan suatu perkara yang tak sedap: Yuki melukai Souhei. Karena peristiwa tersebut Yuki
semakin memantapkan niatnya untuk totalitas menjadi manusia biasa.

Berbeda dengan kakaknya, Ame mendapatkan sosok seorang guru: serigala penguasa gunung dekat
rumahnya. Ame belajar mengasah nalurinya sebagai serigala dan selalu belajar hal-hal baru dari gurunya.
Segala hal berubah ketika gurunya menghembuskan nafas terakhir, Ame memutuskan suatu hal yang
akan mengubah hidupnya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Okaasan wa ookami ga suki yo, minna ga ookami ga kirattemo, okaasan dake wa ookami no mikata
dakara”

-Mother likes wolves, even though everyone hates wolves, your mother is their friends even just by
herself-

Kisah yang sangat menyentuh hati gan! Ketika ane menonton kisah ini perasaan warm and cozy
menyelimuti hati ane, benar-benar hangat dan menyentuh. Character design yang sederhana dan lucu
membawa kesan fresh pada setiap adegan. Perawakan Yuki dan Ame yang lucu dan unyu-unyu kerap
membuat ane gemes ingin memeluk mereka satu-satu. Musik yang klasik dan ringan melengkapi suasana
tenang dalam movie ini. Walau begitu, satu hal yang membuat ane benar-benar tersentuh adalah
ketegaran sang ibu; Hana dalam menyikapi segala persoalan hidup yang dialaminya. Merawat anak-anak
serigala dari hiruk-pikuk keramaian tidak membuatnya gentar dan trauma terhadap masyarakat sekitar.
Kecintaannya terhadap anak-anaknya membuat ia rela menjadi seorang tukang bangunan dan seorang
petani sekaligus seorang ibu. Satu hal yang ane salut: Hana tak pernah mengeluh dan selalu tampil
dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.

Ane berpikir jika ketegaran seorang Hana dimiliki oleh setiap ibu atau bahkan setiap orang di Indonesia,
maka tak akan ada lagi yang namanya KDRT, perceraian serta hal-hal lain yang ditimbulkan oleh kelabilan
dan kerendahan karakter individu yang terlibat di dalam rumah tangga. Sifat tegar akan menjaga
kestabilan dan kontinuitas senyum akan terus menorehkan cahaya baru di setiap lembar kehidupan.

Semoga kita semua dapat menjadi “Hana” yang selalu tersenyum dan tabah ketika dihadapi dengan
tantangan apapun, kapanpun dan dimanapun.
Wallahu a’lam