Anda di halaman 1dari 143

Gambaran Umum Kondisi Daerah

BAB II
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Bagian ini menjelaskan aspek geografi dan demografi, aspek kesejahteraan


masyarakat, aspek pelayanan umum, aspek daya saing serta indikator kinerja
penyelenggaraan pemerintah daerah, yang selaras dan mendukung isu strategis,
permasalahan pembangunan daerah, visi dan misi kepala daerah serta kebutuhan
perumusan strategi.

2.1 Aspek Geografi dan Demografi


Salah satu faktor pendorong Keberhasilan pembangunan suatu daerah
adalah kondisi aspek geografi dan demografi. Kedua aspek tersebut merupakan
informasi dasar yang sangat penting dalam penyusunan rencana pembangunan.
Bagian ini menjelaskan tentang kondisi geografi daerah, potensi pengembangan
wilayah, dan wilayah rawan bencana. Kerangka pemikiran hubungan antara kondisi
geografi dengan potensi pengembangan kawasan budidaya seperti gambarberikut:

Kondisi
Geologi
Kondisi Kondisi
Klimatologi Hidrologi

Kondisi Penggunaan
Topografi Lahan

Letak, Luas Potensi Kondisi


dan Batas Pengembangan Geografi
Wilayah Wilayah Lainnya

Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Potensi Pengembangan Kawasan Budidaya

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 1
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Potensi pengembangan wilayah di Kabupaten Sampang dapat dilihat


melalui penelahaan berbagai aspek geografi. Beberapa aspek yanga akan di
analisa dalam dokumen ini meliputi aspek letak, luas dan batas wilayah, kondisi
topografi, kondisi klimatologi, kondisi geologi, kondisi hidrologi, serta aspek
penggunaan lahan. Disamping itu dijelaskan pula tentang kondisi demografi seperti
ukuran, struktur, dan distribusi penduduk serta dinamika perkembangan jumlah
penduduk setiap tahunnya.

2.1.1 Kondisi Geografi Daerah


2.1.1.1 Letak, luas dan batas wilayah
Kabupaten Sampang berada pada posisi strategis karena terletak
diantara Kabupaten Bangkalan dan Pamekasan. Posisi strategis tersebut dapat
menjadi peluang dalam pengembangan wilayah baik secara ekonomi maupun sosial.
Secara astronomis Kabupaten Sampang terletak pada koordinat 113°08’-113°39’
Bujur Timur dan 06°05’-07°13’ Lintang Selatan, dengan batas-batas administratif
sebagai berikut:
Sebelah Utara : Laut Jawa
Sebelah Selatan : Selat Madura
Sebelah Barat : Kabupaten Bangkalan
Sebelah Timur : Kabupaten Pamekasan

II - 2 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2019


Gambar 2.2
Peta Batas Administrasi Kabupaten Sampang

Kabupaten Sampang merupakan daerah dengan luas wilayah terluas di


Pulau Madura setelah Kabupaten Sumenep. Kabupaten Sampang memiliki luas
wilayah 1.233,30 km² dan secara administratif terbagi menjadi 14 kecamatan, 180
desa dan 6 kelurahan. Kecamatan yang paling luas wilayahnya adalah Kecamatan
Banyuates yaitu sebesar 141,23 km2 atau sekitar 11,45 persen dari luas wilayah
keseluruhan, dan yang paling kecil adalah Kecamatan Pangarengan dengan luas
wilayah 42,69 km2 atau 3,46 persen dari luas wilayah secara keseluruhan.
Tabel 2.1
Luas Wilayah dan Jumlah Desa/Kelurahan per Kecamatan se-Kabupaten Sampang
Persentase
No Kecamatan Luas (km2) Jumlah Desa/Kel
(persen)
1 Sreseh 71,95 5,83 12
2 Torjun 44,20 3,58 12
3 Pangarengan 42,69 3,46 6
4 Sampang 70,01 5,68 12/6
5 Camplong 69,93 5,67 14
6 Omben 116,31 9,43 20
7 Kedungdung 123,08 9,98 18
8 Jrengik 65,35 5,30 14
9 Tambelangan 89,97 7,30 10

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 3
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Persentase
No Kecamatan Luas (km2) Jumlah Desa/Kel
(persen)
10 Banyuates 141,23 11.45 20
11 Robatal 80,54 6,53 9
12 Karang Penang 84,25 6,83 7
13 Ketapang 125,28 10,16 14
14 Sokobanah 108,51 8,80 12
Total 1233,30 100,00 186
Sumber: BPS Kabupaten Sampang, 2021

2.1.1.2 Kondisi topografi


Topografi Kabupaten Sampang yang cenderung datar dan bergelombang
sangat cocok untuk pengembangan lahan pertanian. Topografi yang datar cocok
untuk ditanami padi atau sebagai lahan persawahan. Ketinggian permukaan wilayah
Kabupaten Sampang berada diantara 0–300 meter di atas permukaan laut.
Kecamatan Sampang merupakan kecamatan di Kabupaten Sampang dengan luas
wilayah terbesar berkategori datar, yaitu sebesar 5.849 ha seperti yang ditunjukkan
pada tabel berikut.
Tabel 2.2
Rincian Klasifikasi Kelerengan Tanah di Kabupaten Sampang
Kelerengan (ha)
No Kecamatan Datar Bergelombang Curam Sangat Curam
(0-2 persen) (>2-15 persen) (>15-40 persen) (>40 persen)
1 Sreseh 2.721,00 4.474,00 - -
2 Torjun 2.615,00 1.725,50 78,5 -
3 Pangarengan 2.595,63 1.674,37 - -
4 Sampang 5.849,63 985,75 165,62 -
5 Camplong 5,099,00 1.866,00 28 -
6 Omben 3,530,93 5,308,92 2.739,80 51,35
7 Kedungdung 3.370,60 7.576,40 1.148,00 213
8 Jrengik 3.349,00 2.240,00 493 453
9 Tambelangan 3.411,50 4.565,00 708,5 321
10 Banyuates 2.823,50 9,407,50 1.892,00 -
11 Robatal 301,5 7.364,50 398 -
12 Karangpenang 81,5 7.400,50 943 -
13 Ketapang 1.173,28 5.580,70 5.399,04 374,98
14 Sokobanah 863,57 7.638,00 1.253,47 1.085,96
Total 37.785,64 64.807,14 15.246,93 2.490,29
Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2021

Kelerengan wilayah Kabupaten Sampang bervariasi antara datar,


bergelombang, curam dan sangat curam. Klasifikasi kelerengan tanah tersebut
dapat di rinci sebagai berikut:

II - 4 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

 Kelerengan 0-2 persen meliputi luas 37.785,64 ha atau 31,40 persen dari luas
wilayah keseluruhan kecuali daerah genangan air, pada wilayah ini sangat
baik untuk pertanian tanaman semusim.
 Kelerengan >2-15 persen meliputi luas 67.807,14 ha atau 53,86 persen dari
luas wilayah keseluruhan, baik sekali untuk usaha pertanian dengan tetap
mempertahankan usaha pengawetan tanah dan air. Selain itu pada
kemiringan ini cocok juga untuk konstruksi/ permukiman
 Kelerengan >15-40 persen meliputi luas 15.246,93 ha atau 12,67 persen dari
luas wilayah keseluruhan. Daerah tersebut baik untuk pertanian tanaman
keras/tahunan, karena daerah tersebut mudah terkena erosi dan kapasitas
penahan air yang rendah. Karenanya lahan ini pun tidak cocok untuk
konstruksi.

Kelerengan >40 persen meliputi luas 2.490,03 ha atau 2,07 persen dari luas
wilayah keseluruhan. Daerah ini termasuk kedalam kategori kemiringan yang sangat
terjal (curam) dimana lahan pada kemiringan ini termasuk lahan konservasi karena
sangat peka terhadap erosi, biasanya berbatu diatas permukaannya, memiliki run off
yang tinggi serta kapasitas penahan air yang rendah. Karenanya lahan ini tidak
cocok untuk konstruksi. Daerah ini harus merupakan daerah yang dihutankan agar
dapat berfungsi

2.1.1.3 Kondisi klimatologi


Kabupaten Sampang beriklim tropis dengan dua musim, yaitu musim
hujan dan musim kemarau. Musim penghujan rata-rata berlangsung pada bulan
Oktober–April dan musim kemarau bulan April–Oktober. Namun berdasarkan data
curah hujan di Kabupaten Sampang 5 (lima) tahun terakhir, terjadi dinamika
pergeseran musim sebagimana ditunjukkan tabel di bawah.
Tabel 2.3
Data Curah Hujan di Kabubaten Sampang
Rata-rata curah hujan (mm)
No Bulan
2016 2017 2018 2019 2020
1 Januari 93 52 49 72 46
2 Februari 129 295 206 169 252
3 Maret 79 209 199 230 183
4 April 124 181 87 135 208
5 Mei 87 109 23 26 124
6 Juni 51 78 19 0 18

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 5
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Rata-rata curah hujan (mm)


No Bulan
2016 2017 2018 2019 2020
7 Juli 49 28 0 1 32
8 Agustus 25 0 0 0 26
9 September 79 14 4 0 0
10 Oktober 125 34 2 0 153
11 November 118 196 104 27 139
12 Desember 88 285 169 169 476
JUMLAH 1.045 1.481 862 829 1.657
Sumber: DPUPR Kabupaten Sampang, 2021

Selama lima tahun terakhir, rata-rata curah hujan mengalami fluktuasi.


Rata–rata curah hujan pada tahun 2018 dan 2016 sebesar 862 mm dan 829 mm
meningkat hampir dua kali lipat menjadi 1.657 mm pada tahun 2020. Dengan kondisi
klimatologi Kabupaten Sampang yang fluktuatif dan tidak bisa diprediksi, diperlukan
upaya antisipasi khususnya berkaitan dengan bencana banjir dan pola tanam para
petani.

2.1.1.4 Kondisi geologi


Kabupaten Sampang memiliki kondisi geologis dengan lima macam
batuan utama. Lima batuan tersebut adalah alluvium, pliosen fasies sedimen,
plistosen fasies sedimen, pliosen fasies batu gamping, dan mioses fasies sedimen. Jenis
geologi alluvium dan mioses fasies sedimen banyak digunakan oleh masyarakat
untuk tegalan dan sawah, serta sebagian kecil jenis batuan plistosen fasies sedimen
yang seluruhnya untuk tegalan. Visualisasi geologi di Kabupaten Sampang
ditunjukkan gambar di bawah ini:

II - 6 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2018


Gambar 2.3
Peta Geologi Kabupaten Sampang

Pengembangan komoditas pertanian akan sangat dipengaruhi


kesesuaian jenis. Jenis tanah yang berbentuk sangat dipengaruhi oleh beberapa
faktor, antara lain: bahan induk, batuan induk, curah hujan, bentuk wilayah dan
pengaruh kegiatan manusia. Sifat kimia dan sifat bahan induk sangat mempengaruhi
unsur hara yang tersedia dalam tanah, akan mempengaruhi kesuburan dan produksi
tanaman.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 7
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Tabel 2.4
Jenis Tanah di Kabupaten Sampang
Jenis Tanah (Ha)

Komplek Komplek
Komplek Komplek Komplek
No Kecamatan Aluvial Asosiasi Mediteran Mediteran
Aluvial Asosiasi Brown Forest Grumusol Grumusol Mediteran Litosol
Kelabu Litosol Litosol dan Merah Grumusol,
Hidromorf Hidromorf Soil ( +5 ) dan Kelabu kelabu dan Merah (Batu Merah
Kekuningan Mediteran (Batu Regasol dan
Mediteran litosol Pasir)
Kapur) Litosol

1 Sreseh 4.125,50 - 1.394,50 - - - - 1.675,50 - - - -


2 Torjun - 797,00 2.498,75 322,00 - - - - 501,25 - - -
3 Pangarengan 3.115,25 205,00 - - - - - 949,75 - - - -
4 Sampang 525,00 2.969,00 951,00 - 610,00 - 1.946,00 - - - - -
5 Camplong 2.170,50 - 3.049,00 - - - 179,00 1.595,00 - - - -
6 Omben - - 237,75 - 200,00 - - - - - 6.179,25 5.014,00
7 Kedungdung - 603,00 102,00 - - - 2.483,75 - - 9.119,25 -
8 Jrengik 783,75 2.609,00 1.025,00 2.117,25 - - - - - - - -
9 Tambelangan - 1.000,00 - 347,25 - - - - - - 7.649,75 -
10 Banyuates - 1.121,00 - 2.030,00 - 1.150,00 - - 3.307,50 4.130,00 2.384,50 -
11 Robatal - - - - - - - - - - 8.363,00 -
12 Karangpenang - - - - - - - - - - 8.425,00 -
13 Ketapang - - - 2.305,50 - 1.679,00 - - 2.315,25 3.275,00 2.953,25 -
14 Sokobanah - - - 275,00 - 1.305,00 - - - - 9.261,00 -
Jumlah 10.720,00 9.304,00 9.156,00 7.499,00 810,00 4.134,00 2.125,00 6.704,00 6.124,00 7.405,00 54.335,00 5.014,00
Sumber: Bappelibangda Kabupaten Sampang, 2018

Sebagian besar jenis tanah di Kabupaten Sampang sangat cocok untuk di


kembangkan komoditas pertanian khususnya tanaman pangan. Jenis tanah
yang ada di Kabupaten Sampang ditunjukkan tabel di atas. Bagian yang terluas
adalah tanah dari jenis komplek mediteran grumosol, regosol dan litosol yakni seluas
54.335 ha. Diikuti oleh jenis tanah alluvial hidromorf dengan luas sekitar 10.720 ha.
Sementara untuk proporsi jenis tanah terendah adalah jenis grumosol kelabu yang
hanya terdapat di Kecamatan Sampang dan Kecamatan Camplong, dengan luasan
2.125 ha.

2.1.1.5 Kondisi hidrologi


Profil hidrologi di Kabupaten Sampang menunjukan kondisi yang relatif
baik. Kondisi tersebut dapat dilihat dari tiga hal utama yaitu peyediaan air baku,
ketersediaan sawah fungsional dan jumlah himpunan petani pemakai air.
Penyediaan air baku digunakan untuk sektor pertanian seluas 6027.7 hektar. Total
luas areal saawah fungsional di Kabupaten Sampang adalah 6027.77 Hektar dengan
lebih dari 75 persen merupakan sawah teknis atau sekitar 4.254 hektar area. Dalam
upaya menjaga kesinambungan pemakaian air, di Kabupaten Sampang memiliki
sekitar 79 himpunan petani pemakai air.

II - 8 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Tabel 2.5
Profil Hidrologi Kabupaten Sampang 2020
Uraian Satuan Jumlah
a. Penyediaan Air Baku
- Pemukiman m3/detik n/a
- Pertanian ha 6.027,7
- Industri/Pembangkit Listrik/Pariwisata m3/detik n/a
Jumlah 6.027,7
b. Areal Sawah Fungsional
- Sawah Teknis ha 4.254
- Sawah Non Teknis/Setengah Teknis ha 681
- Belum Teknis/Sederhana ha 96
- Sawah Tadah Hujan ha n/a
- Sawah Non PU ha 0
- Sawah Irigasi Pompa/ Air Tanah ha 996,7
Jumlah 6027,77
c. Himpunan Petani Pemakai Air
- Pembentukan HIPPA kelompok 26
- Pembentukan Gabungan HIPPA kelompok 41
- Jumlah Gabungan HIPPA kelompok 12
- Pembinaan HIPPA Berprestasi kelompok n/a
- Pembinaan HIPPA Desa kelompok n/a
Jumlah 79
Sumber: DPUPR Kabupaten Sampang, 2021. Ket: n/a: data tidak tersedia

Kabupaten Sampang memiliki kondisi hidrologi yang sangat potensial


untuk dikembangkan. Selain untuk irigasi pertanian dan kegiatan ekonomi lainnya,
keberadaan sungai juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan energi
terbaharukan. Kabupaten Sampang terdapat 41 sungai yang tersebar di 7 wilayah
pengairan. Sungai Kamoning di wilayah Sampang merupakan sungai terpanjang
yaitu 58,1 km dengan catchment area seluas 345,5 ha diikuti oleh sungai Sodung di
wilayah Ketapang sepanjang 22 km dengan catchment area seluas 60,99 ha.
Tabel 2.6
Nama dan Panjang Sungai Menurut Wilayah Pengairan di Kabupaten Sampang
Catchment Panjang
Wilayah Pengairan Nama Sungai
(ha) (km)
1.       Ketapang 1.       Brambang 25,86 7
2.       Rabian 8,07 4,2
3.       Ketapang Barat 2,89 -
4.       Mandirah 20,63 5,6
5.       Sodung 60,99 22
6.       Ketapang Timur 1,76 -
7.       Bulanjang 2,7 -
8.       Bira Barat 8,74 -
9.       Tetean 9,49 -
10.   Pengereman 3,97 -

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 9
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Catchment Panjang
Wilayah Pengairan Nama Sungai
(ha) (km)
11.   Sowaan 18,28 1,15
2.       Sampang 1.       Kamoning 345,5 58,1
2.       Aeng Sareh 21,92 -
3.       Napoh - 6
4.       Gunung Maddah - 3,5
5.       Jelgung - 8,5
6.       Colak - 0,7
7.       Madegan - 3
3.       Torjun 1.       Klampis 26,24 14
2.       Cangkreman - 2
3.       Pangarengan - 2
4.       Keppai - 2
4.       Camplong 1.    Sejati 7,91 -
2.    Batu Karang 6,16 -
3.    Dharma Camplong 5,91 -
4.    Patemon 88,52 -
5.    Tambaan 3,4 -
6.    Banjar Taleta 2,55 -
7.    Taddan 3,46 1,2
5.       Pangarengan 1.    Mandangin 3,78 -
2.    Gulbung 3,4 2
3.    Duko 7,54 -
6.       Bayuates 1.    Gomorong 32,01 -
2.    Masaran 17,02 -
3.    Nipah 91,56 12
4.    Brumbung - 7
7.       Sokobanah 1.    Bira Timur 9,42 2,8
2.    Dempoawang 14,71 5,5
3.    Tamberu Barat 23,08 -
4.    Bira Tengah 15,8 -
5.    Panjengan 10,22 4,7
Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2018

Kabupaten Sampang memiliki enam Daerah Aliran Sungai (DAS).


Berdasarkan satuan wilayah penambangan daerah aliran sungai (SWP-DAS) di
Kabupaten Sampang meliputi:
1. DAS Kamuning, dengan luas 48.556 ha dan merupakan Prioritas penanganan
lahan kritis. Aliran sungai kemuning berada di zona tengah dan secara
administratif SWP-DAS Kamuning meliputi sebagian besar wilayah Kecamatan
Robatal (bagian hulu), Omben, Kedungdung (bagian tengah), Sampang dan
Camplong (bagian hilir).
2. DAS Nedung (Nepa-Sodung) dengan luas 37.142 ha berada di zona utara dan
merupakan prioritas II penanganan lahan kritis. Secara administratif DAS

II - 10 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Nedung meliputi sebagian besar wilayah Kecamatan Sokobanah, Ketapang dan


Banyuates
3. DAS Blega, dengan luas 34.381 ha berada di zona barat dan merupakan
prioritas III dalam penanganan lahan kritis. Secara administratif DAS Blega
meliputi wilayah Kecamatan Tambelangan, Jrengik, Torjun, dan Sreseh dan
sebagian kecil wilayah Kecamatan Kedungdung.
4. DAS Samajid, dengan luas 1.522 ha berada di zona timur dan merupakan
prioritas IV dalam penanganan lahan kritis. Secara Administratif DAS Samajid
meliputi sebagian kecil Kecamatan Robatal, Omben, dan Camplong.
5. DAS Tambengan, dengan luas 700 ha dan secara administratif berada di
sebagian kecil wilayah Kecamatan Banyuates bagian barat.
6. DAS Tamberu dengan luas 586 ha yang secara administratif berada di sebagian
kecil wilayah Kecamatan Sokobanah bagian Timur.

Kabupaten Sampang memiliki lebih dari 50 sumber mata air yang


tersebar di 11 wilayah. Wilayah Omben memiliki jumlah sumber mata air
terbanyak dibanding di wilayah lain yaitu sebanyak 9 buah yang salah satu
sumbernya memiliki debit mencaipai 140 liter per detik. Tersedianya sumber mata
air tidak hanya dapat menunjang kebutuhan air sehari-hari masyarakat namun juga
dapat mendorong kebutuhan usaha atau industri.
Tabel 2.7
Sumber Mata Air di Kabupaten Sampang
Debit
No Kecamatan Desa Nama Sumber
(lt/det)
S. Rajah  
Banyuanyar
S. Rubaru 20
Dalpenang S. Glisgis 60
1. Sampang
S. Kodas  
Gunung Maddah S. Panjelinan  
S. Blumbang  
S. Prajjan 20
S. Otok  
Prajjan S. kenek  
S. Karang Taman 5
2. Camplong S. Rabah 5
Dharma Camplong S. Dharma Camplong 5
Batukarang S. Batukarang 5
Banjartabulu S. Banjar  
Sejati S. Dawuhan  

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 11
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Debit
No Kecamatan Desa Nama Sumber
(lt/det)
Bancelok S. bancelok 10
S. Kermata  
Jungkarang
S. Jungkarang  
Taman S. Taman 2
3. Jrengik Kotah S. Kotah 2
Jrengik S. Brambang 2
Bukker S. Bukker  
Kalangan Prao S. Kalangan Prao  
Panyepen S. Pompa Panyiburas  
4. Torjun Tanah Merah S. Tanah Merah
Omben S. Omben 140
S. Morduka 10
S. Dlupangan 10
Raya Daya
S. Umbul 10
S. Ropa Daya 10
S. Pakes 10
Rapa Laok
5. Omben S. Rapa Laok 10
Angsokah S. Angsokah 10
Metteng S. Metteng 10
Madulang S. Madulang 10
Karang Gayam S. Penang 10
Napo Laok S. Napo Laok 10
Tambak S. Tambak 10
Karang Anyar S. Karang Anyar  
6. Tambelangan Tambelangan S. Tambelangan  
Baturasang S. Baturasang  
Banyukapah S. Banyupakah  
7. Kedungdung
Rabasan S. Rabasan  
S. Asem Jaran  
Asem jaran
S. Tlandung  
8. Banyuates Nangah S. Nanga  
Nagasareh S. Nagasereh  
Tapaan S. Tapaan  
Ketapang Barat S. Bhakti  
Ketapang Timur S. Payung  
9. Ketapang Bunten Barat S. Bunten Barat  
Paopak Laok S. Paopak laok  
Pangereman S. Pangereman  
S. Bhakti  
Sokobanah Daya
S. Lembung  
10. Sokobanah
Bira Timur S. Bira Timur  
Tamberu Timur S. Tamberu Timur  
Pandiyayar S. Pandiyayar  
11. Robatal
Gunung Rancak S. Gunung Rancak  
Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2021

II - 12 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Kabupaten Sampang memiliki 2 (dua) buah waduk, yaitu waduk


Klampis yang terletak di Kecamatan Kedungdung dan waduk Nipah di
Kecamatan Banyuates. Waduk Klampis terletak di Desa Kramat Kecamatan
Kedungdung, merupakan waduk terbesar yang ada di Kabupaten Sampang dengan
tujuan utama sebagai penyediaan air irigasi untuk areal sawah seluas 2.603 ha.
Berikut ini disajikan data teknis Waduk Klampis.
Tabel 2.8
Data Teknis Waduk Klampis
No. Data Teknis Keterangan
1 Catchment area 47 km2
2 Luas genangan 2,8 km2
3 Daya tampung rencana 10 juta m3
4 Daya tampung eksisting 4,1 juta m3
5 Luas daerah irigasi layanan 2.603 ha
6 Ketersediaan debit rata-rata 0,95 m3/det
Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2021

Waduk Nipah terletak di Desa Montor Kecamatan Banyuates dengan rencana


luas areal irigasi 1.150 ha. Pembebasan tanah dimulai pada tahun 1982. Pekerjaan
konstruksi dilaksanakan mulai tahun 2004.
Tabel 2.9
Data Teknis Waduk Nipah
No. Data Teknis Keterangan
1 Daerah Pengaliran Sungai (DPS) 82,75 km
2 Elevasi muka air banjir 49,23
3 Elevasi muka air banjir rencana 47,95
4 Elevasi muka air maksimum 46,15
5 Elevasi muka air terendah 40
6 Luas reservoir 1,70 km
7 Kapasitas tampungan 6,16 juta m3
8 Kapasitas tampungan mati 1,12 juta m3
9 Kapasitas tampungan efektif 5,04 juta m3
Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2021

2.1.1.6 Penggunaan lahan


Jenis penggunaan lahan di Kabupaten Sampang terbagi menjadi lahan
tidak terbangun dan lahan terbangun. Lahan tidak terbangun meliputi tegalan,
kebun, ladang, pengembalaan ternak, tambak, kolam/tebat/empang, sementara tidak
diusahakan, tanaman kayu, perkebunan, dan sawah. Sedangkan lahan terbangun
yaitu permukiman, fasilitas dan industri. Sebagian besar penggunaan lahan di

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 13
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Kabupaten Sampang didominasi oleh penggunaan lahan untuk tegal kebun dan
ladang sebesar 52,93 persen. Selanjutnya guna lahan terbesar kedua adalah guna
lahan berupa sawah sebesar 16,39 persen.

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2021


Grafik 2.1
Diagram Penggunaan Lahan Kabupaten Sampang

2.1.2 Potensi Pengembangan Wilayah


Terdapat tiga potensi utama dalam pengembangan wilayah di
Kabupaten Sampang. Tiga potensi tersebut meliputi fisik wilayah, sumber daya
alam, dan infrastruktur. Penjelasan lebih rinci mengenai tiga potensi tersebut dapat
diuraikan sebagai berikut:

II - 14 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Gambar 2.4
Potensi Pengembangan Wilayah di Kabupaten Sampang

1. Potensi Fisik Wilayah


Kondisi fisik wilayah Kabupaten Sampang merupakan potensi wilayah
yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan pembangunan, dimana tinjauan
akan potensi fisik dasar ini didasarkan atas kondisi topografi, jenis tanah,
hidrologi, dan iklim dengan penjelasan sebagai berikut:
1) Berdasarkan ketinggian wilayah yang dimiliki maka terdapat wilayah
pantai yang cukup panjang di bagian utara dan selatan yang secara tidak
langsung akan mempengaruhi mata pencaharian penduduk yaitu nelayan
serta sangat cocok juga untuk lokasi pengembangan industri maritim dan
perdagangan serta untuk wisata pesisir.
2) Pada wiayah dengan ketinggian sedang akan cocok untuk pengembangan
lahan pertanian dan perkebunan, komoditi yang banyak dibudidayakan
oleh masyarakat antara lain tembakau, kedelai, jagung dan wijen.
3) Berdasarkan kesamaan jenis tanah dan hidrologi untuk wilayah Sampang
bagian utara telah dikembangkan kawasan agropolitan meliputi kecamatan
Banyuates, Ketapang dan Tambelangan dengan jenis komoditas
holtikultura semangka, cabe jamu dan bentul.
4) Jenis tanah alluvial yang terdapat pada wilayah yang kebanyakan berada di
dijumpai di bagian hilir dan dekat dengan muara, dimana jenis tanah ini
merupakan endapan tanah liat pasir halus berwarna hitam kelabu dengan
daya tahan air cukup baik. Jenis tanah tersebut sangat baik digunakan
untuk areal penggaraman.
5) Jenis tanah mediteran merah dan litosol yang berasal dari bahan induk
volkan intermedier dimana pada wilayah dengan jenis tanah tersebut
merupakan wilayah batu kapur dan batu putih (dolomit) hingga oleh
masyarakat setempat dibutuhkan sebagai wilayah penambangan.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 15
Gambaran Umum Kondisi Daerah

2. Potensi Sumber Daya Alam


Kabupaten Sampang memiliki beragam potensi sumber daya alam
yang potensial untuk dikembangkan pada setiap kecamatan. Potensi SDA
tercermin atas komoditas yang paling dominan dari sektor-sektor yang
berkembang pada masing-masing kecamatan sehingga mempermudah dalam
pengembangan selanjutnya.

II - 16 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Tabel 2.10
Potensi Wilayah di Kabupaten Sampang Berdasarkan Sumber Daya Alam
Potensi
N
Kecamatan Pertambangan
o Perkebunan Perikanan Peternakan Pertanian Pariwisata
/Industri
bandeng, udang, ayam buras, Padi, jagung, kacang tanah, kacang hijau,
1 Sreseh wijen, kelapa, tembakau
kepiting domba mangga
Pasir laut Wisata Mangrove
2 Torjun tembakau, kelapa Perikanan air tawar kambing, ayam Padi, pisang - -
Wisata Kampung
bandeng, udang,
3 Pangarengan tembakau, kelapa kambing, ayam Padi, mangga Garam Belanda Desa
kepiting, teri
Krampon
Makam Ratu Ebu, Goa
Lebar, Sumber Welirang,
kuda, ayam,
4 Sampang tembakau, kelapa bandeng, udang
kambing, domba
Padi, ubi kayu, mangga batu kapur, batik Kerapan Sapi,
Snorkling/Diving Di
Pantai Pulau Mandangin
cakalan, teri, cumi sapi, kambing, Padi, jagung, ubi kayu, kacang tanah, kacang Dolomit, pasir
5 Camplong tembakau, kelapa
rajungan, kepiting ayam hijau, jambu air laut
Pantai Camplong
Wisata Religi/Budaya
Tembakau, kelapa, siwalan, sapi, kambing, Padi, jagung, ubi kayu, kacang hijau, bentul,
6 Omben asem jamu, kunyit, temu ireng ayam mangga
Dolomit Bhuju’ Napo, Bukit
Masegit
sapi, kambing,
7 Kedungdung Tembakau, kelapa
ayam, domba
Padi, ubi kayu, bentul, mangga, pisang batu bintang Waduk Klampis
sapi, kambing,
8 Jrengik Tembakau, kelapa
ayam, domba
Padi, jagung, mangga Batu kapur, batik
sapi, kambing, Padi, jagung, ubi kayu, kacang tanah, bentul,
9 Tambelangan Kelapa, pandan, wijen
ayam cabe rawit, mangga
batu kapur
Padi, ubi kayu, kacang tanah, kedelai, Hutan kera Nepa,
jambu mete, cabe jamu, cakalan, teri, cumi sapi, kambing,
10 Banyuates hortikultura rajungan, kepiting ayam, domba
kacang hijau, bentul, mangga, pisang, batu kapur Waduk Nipah, Wisata
semangka Agro
Ubi kayu, kedelai, bentul, cabe rawit, pengeboran
11 Robatal Tembakau, kunyit, lempuyang kambing, ayam
mangga, pisang minyak, batik
Jagung, ubi kayu, kedelai, bentul, pisang
Karang sapi, kambing, Tanah liat,
12 Tembakau, kunyit, lempuyang
ayam genteng
Penang
jambu mete, cabe jamu, cakalan, teri, cumi kambing, sapi, Jagung, ubi kayu, kacang tanah, kedelai,
13 Ketapang lengkuas rajungan, kepiting ayam, kuda kacang hijau, mangga, pisang
batik Air terjun Toroan

II - 17 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
II - 18 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4

Potensi
N
Kecamatan Pertambangan
o Perkebunan Perikanan Peternakan Pertanian Pariwisata
/Industri
Tembakau jambu mete, cakalan, teri, cumi Jagung, ubi kayu, kedelai, cabe rawit, Pantai Lon Malang,
14 Sokobanah hortikultura rajungan, kepiting
sapi, ayam, kuda
mangga, pisang
Dolomit
Pantai Jodoh
Sumber: Bapelitbangda Kabupaten Sampang, 2018
Gambaran Umum Kondisi Daerah

3. Potensi Infrastruktur
Kabupaten Sampang memiliki potensi infrastruktur yang dapat
dikembangkan melalui wilayah darat dan laut. Pada wilayah darat, aksesibilitas
Kabupaten Sampang menuju Surabaya lebih mudah. Dengan adanya jembatan
Suramadu yang menghubungkan antaran pulau jawa dan pulau madura,
perpindahan penduduk dalam melaksanakan aktivitas ekonomi ataupun
aktivitas lainnya dapat berjalan lebih lancar dan cepat. Pengembangan wilayah
laut juga dapat dilakukan melalui sistem transportasi laut yang berfungsi
sebagai jalur perdagangan ke luar daerah dalam memasarkan komoditi yang
dihasilkan oleh Kabupaten Sampang. Pada Selat Madura telah dibangun
Pelabuhan Pengumpan Regional Taddan, jalur yang dihubungkan adalah
Sampang–Pasuruan, Probolinggo, Situbondo dan Banyuwangi. Pelabuhan lokal
Tanglok merupakan pelabuhan untuk perdagangan, komoditas yang
diperdagangkan dari Sampang berasal dari sektor perikanan, sedangkan dari
Probolinggo yang diangkut adalah pasir hitam. Pada jalur laut Jawa yang
dilayani adalah Sampang-Kalimantan, dimana komoditas dari Sampang
berbasis perikanan dan tenaga kerja sedangkan dari Pulau Kalimantan yang
diangkut adalah kayu hutan.

Selain tiga potensi di atas, potensi pengembangan wilayah dapat juga


ditelaah melalui RTRW. Secara umum berdasarkan RTRW Kabupaten Sampang
menunjukkan bahwa karakteristik rencana penggunaan lahan meliputi dua kawasan
utama yaitu kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung adalah
kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian hidup yang
mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.

A. Kawasan Lindung
Pengelolaan kawasan lindung di Kabupaten Sampang secara umum
ditujukan untuk mencegah kemungkinan timbulnya berbagai kerusakan fungsi
lingkungan hidup terintegrasi antara kepentingan pemanfaatan sumber daya
alam secara optimal dengan pelestariannya. Dalam konteks ini diharapkan

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 19
Gambaran Umum Kondisi Daerah

bahwa penempatan ruang dalam rangka pengembangan wilayah diserasikan


dengan kemampuan dan daya dukung wilayahnya.

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2018


Gambar 2.5
Peta Rencana Kawasan Lindung

Kawasan lindung terdiri dari: Kawasan yang memberikan perlindungan


kawasan bawahannya; Kawasan perlindungan setempat; Kawasan RTH;
Kawasan pelestarian alam dan cagar budaya; dan Kawasan lindung lainnya.
Uraian terperinci mengenai berbagai kawasan lindung dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan
Bawahannya
Rencana pola pemanfaatan ruang kawasan yang memberikan
perlindungan kawasan bawahnya di Kabupaten Sampang antara lain berupa
resapan air. Adapun kebijaksanaan ruang di kawasan ini ditentukan
berdasarkan tujuan pemantapannya, yaitu untuk mencegah terjadinya
bencana dan menjaga kelestarian kawasan. Upaya pemantapan fungsi
lindung pada kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan

II - 20 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

bawahnya di Kabupaten Sampang dapat dilakukan dengan pendekatan


pengembangan daerah aliran sungai (DAS), yaitu untuk melindungi atau
tetap terjaganya kawasan yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air
(catchment area). Kawasan yang menjadi perlindungan dari kawasan ini di
dalamnya memiliki berbagai kegiatan strategis yang berpengaruh luas jika
tidak dilindungi.
Kawasan resapan air ditetapkan dengan kriteria kawasan yang
mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan dan sebagai
pengontrol tata air permukaan. Kawasan resapan air di Kabupaten Sampang
seluas kurang lebih 345,5 Km2 (sesuai dengan catchment area DAS
Kamoning yang ada di Kabupaten Sampang) yang berada di Kecamatan
Sampang, Kecamatan Kedungdung, Kecamatan Robatal, Kecamatan Omben
dan Kecamatan Tambelangan.
2. Kawasan Perlindungan Setempat
Kawasan yang berfungsi untuk melindungi kelestarian suatu manfaat
atau suatu fungsi tertentu, baik yang merupakan bentukkan alami maupun
buatan. Adapun kriteria kawasan perlindungan setempat, terdiri dari:
 Kawasan perlindungan setempat (KPS) sekitar mata air, ditetapkan
dengan radius 200 meter, dan direncanakan secara merata di seluruh
Kabupaten Sampang
 Kawasan perlindungan setempat (KPS) sekitar waduk/danau, yang
lebarnya antara 50–100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.
 Kawasan perlindungan setempat (KPS) sekitar sempadan sungai terdiri
atas sungai di kawasan bukan permukiman sekurang-kurangnya 100
meter dan anak sungai sekurang-kurangnya 50 meter, dan direncanakan
secara merata di seluruh wilayah Kabupaten Sampang.
 Kawasan perlindungan setempat (KPS) sekitar sempadan pantai secara
umum ditetapkan sekurang-kurangnya 100 meter dari titik pasang
tertinggi untuk kawasan pesisir, sedangkan sekurang-kurangnya 130 x
rata-rata perbedaan pasang tertinggi dan surut air terendah, untuk
pesisir pulau-pulau kecil.
 Kawasan Perlindungan Setempat (KPS) sekitar sempadan pantai

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 21
Gambaran Umum Kondisi Daerah

berhutan bakau minimal 130 kali rata-rata perbedaan air pasang


tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah
kearah darat yang merupakan habitat hutan bakau/mangrove. Adapun
kawasan perlindungan mangrove meliputi sepanjang Pantai Selatan
dikecamatan Sreseh, Jrengik, Pengarengan, Sampang dan Kecamatan
Camplong. Sedangkan kawasan sempadan pantai berada di pantai utara
berada di Kecamatan Banyuates, Kecamatan Ketapang dan Sokobanah.
 Ruang Terbuka Hijau Perkotaan.
 Kawasan ini tersebar di seluruh wilayah diKabupaten Sampang, dan
secara umum harus dilakukan perlindungan kawasan. Dalam beberapa
kondisi atau untuk kepentingan tertentu maka sebagian kawasan
lindung ini dapat digunakan untuk kawasan budidaya, tetapi harus
dilakukan dalam batasan tertentu.
3. Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya
 Sempadan Hutan Bakau/Mangrove
Kawasan perlindungan mangrove adalah kawasan tempat
tumbuhnya tanaman mangrove di wilayah pesisir/laut yang berfungsi
untuk melindungi habitat, ekosistem, dan aneka biota laut, melindungi
pantai dari sedimentasi, abrasi dan proses akresi (pertambahan pantai)
dan mencegah terjadinya pencemaran pantai. Berdasarkan kriteria
tersebut maka kawasan perlindungan hutan bakau/ mangrove meliputi
pantai selatan Kabupaten Sampang antara lain di Kecamatan Sampang,
Camplong, Kecamatan Sreseh, Kecamatan Pengarengan.
Tabel 2.11
Luas Potensi dan Sebaran Hutan Mangrove Kawasan Pesisir Selatan
Kabupaten Sampang (ha)
Potensi Luas Hutan
No Kecamatan Sisa
Pengembangan Mangrove
1 Camplong 133,50 80,00 53,50
2 Sampang 98,38 88,50 9,88
3 Pengarengan 115,50 83,50 32,00
4 Sreseh 251,00 208,00 43,00
Jumlah 598,38 460,00 138,38

Sumber: RTRW Sampang 2012-2032

II - 22 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

 Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan


1) Lingkungan Bangunan Non-gedung
Adalah suatu tempat yang dapat diperuntukkan sebagai cagar
budaya dan sejarah dengan bentuk bangunan non gedung yang
harus dilestarikan. Adapun yang dapat berfungsi sebagai cagar
budaya dan ilmu pengetahuan adalah:
- Situs Ratu Ebu di Kecamatan Sampang
- Situs Sumur Daksan di Kecamatan Sampang
- Situs Pababaran Trunojoyo di Kecamatan Sampang
- Situs Makam Pangeran Santo Merto di Kecamatan Sampang
- Situs Makam Bangsacara dan Ragapadmi di Pulau Mandangin
Kecamatan Sampang
- Situs Makam Sayyid Ustman Bin Ali Bin Abdullah Al-Habsyi di
Kecamatan Sokobanah.
2) Lingkungan Bangunan Gedung dan Halamannya
Adalah cagar budaya yang bersifat pelestarian terhadap bangunan
kuno peninggalan bersejarah yang harus dilestarikan sebagai ciri
cagar budaya setempat yaitu: Candi Mandangin di Kecamatan
Sampang dan Sumur Tujuh Petilasan Pangeran Panji Laras di
Kecamatan Sampang
4. Kawasan Rawan Bencana Alam
Kawasan rawan bencana alam terdiri atas 3 daerah: 1) Daerah rawan
gelombang pasang meliputi: Kecamatan Camplong, Kecamatan Sokobanah,
dan Kecamatan Ketapang; 2) Daerah rawan banjir berada di Kecamatan
Sampang; dan Daerah rawan longsor meliputi: Kecamatan Kedungdung,
Kecamatan Omben, Kecamatan Sampang, dan Kecamatan Robatal.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 23
Gambaran Umum Kondisi Daerah

5. Kawasan Lindung Geologi


Kawasan lindung geologi terdiri atas 2 kawasan yaitu: (1). Rawan
bencana alam geologi; dan (2). Kawasan yang memberikan perlindungan
terhadap air tanah. Kawasan rawan bencana alam geologi terdiri atas: a).
Kawasan rawan bencana gerakan tanah meliputi 9 kecamatan: Omben;
Kedungdung; Jrengik; Tambelangan; Ketapang; Sokobanah; Camplong;
Karang Penang; dan Robatal. b). Kawasan rawan bencana abrasi pantai
meliputi 5 kecamatan: Camplong; Sampang; Sokobanah; Ketapang; dan
Sreseh.
Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah terdiri
atas 2 kawasan yaitu: 1). Sempadan mata air meliputi 11 kecamatan:
Omben; Kedungdung; Robatal; Jrengik; Torjun; Karangpenang;
Tambelangan; Camplong; Sampang; Sokobanah; dan Banyuates. 2). Kawasan
imbuhan air tanah meliputi 5 kecamatan: Kedungdung; Sampang;
Tambelangan; Omben; dan Robatal.
6. Kawasan Lindung Lainnya
a) Kawasan Terumbu Karang
Kawasan perlindungan terumbu karang terdapat hampir di
sepanjang kawasan pesisir di Kabupaten Sampang khususnya di Pulau
Mandangin. Rencana kawasan cagar alam laut sebesar kurang lebih 50
ha. Untuk kawasan lindung pada terumbu karang diatasnya boleh
dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya perairan laut (rumput laut dan
mutiara) dan aktivitas wisata (seperti berenang, snorkelling, diving)
selama kegiatan ini tidak menganggu kelangsungan hidup dari terumbu
karang tersebut.
b) Kawasan Koridor Bagi Jenis Satwa Yang dilindungi
Kawasan koridor bagi jenis satwa yang dilindungi di wilayah
Kabupaten Sampang berupa taman wisata alam terdapat di Kecamatan
Banyuates yaitu Kawasan hutan kera Nepa dengan luas yang
direncanakan kurang lebih 1,5 ha.

II - 24 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

B. Kawasan Budidaya
Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama
untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber
daya manusia dan sumber daya buatan. Kawasan budidaya terdiri dari: kawasan
peruntukan hutan produksi; Kawasan pertanian; Kawasan perdagangan dan
jasa; Kawasan industri dan Kawasan perkantoran, Kawasan permukiman

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2018


Gambar 2.6
Peta Rencana Kawasan Budidaya

1. Kawasan Peruntukan Hutan Produksi


Berdasarkan UU No. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan menjelaskan
kawasan peruntukan hutan produksi adalah kawasan yang diperuntukkan
untuk kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil
hutan. Kawasan hutan produksi meliputi hutan produksi tetap, hutan
produksi terbatas, hutan produksi yang dikonversi.
Wilayah Kabupaten Sampang memiliki kawasan hutan yang
tersebar secara tidak merata pada wilayah kecamatan. Sebagian kawasan
hutan ini ada di bagian pinggiran, dimana diantara kawasan hutan ini masih

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 25
Gambaran Umum Kondisi Daerah

ada yang dimanfaatkan sebagai hutan produksi. Jenis hutan yang terdapat di
Kabupaten Sampang didominasi oleh kawasan hutan rakyat yang tersebar
merata di 8 kecamatan. Dari hasil sosialisasi ternyata banyak kawasan hutan
yang mengalami penggundulan sehingga dapat membahayakan kawasan di
sekitarnya baik berupa longsor, banjir bandang, dan bencana kekeringan.
Kawasan hutan produksi di Kabupaten Sampang mengacu kepada Peta
Penunjukan Kawasan Hutan di Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan hal
tersebut, luasan hutan produksi di Kabupaten Sampang sebesar 797 hektar.
Kecamatan yang terdapat hutan produksi ini antara lain Kecamatan
Banyuates, Jrengik, Kedungdung, Ketapang, Omben, Sampang, Sokobanah,
Tambelangan, dan Torjun.

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2018


Gambar 2.7
Peta Rencana Kawasan Hutan Produksi

2. Kawasan Peruntukan Hutan Rakyat


Kawasan peruntukan hutan rakyat adalah kawasan dimana hutan
yang tumbuh di atas tanah yang dibebani hak milik maupun hak lainnya
dengan ketentuan luas minimum 0,25 (nol koma dua puluh lima) hektar,
penutupan tajuk tanaman kayu-kayuan dan tanaman lainnya lebih dari 50%

II - 26 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

(lima puluh perseratus). Kawasan peruntukan hutan rakyat tersebar di


seluruh kecamatan. Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan peruntukan
hutan rakyat meliputi: 1. Diperbolehkan pendirian bangunan untuk
menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan; dan 2. Usaha peningkatan
kualitas hutan dan lingkungan dengan pengembangan obyek wisata alam
yang berbasis pada pemanfaatan hutan.

3. Kawasan Peruntukan Pertanian


Kawasan pertanian di Kabupaten Sampang diusahakan dalam bentuk
pertanian sawah seluas 20.590 ha dan tanah tegalan seluas 78.514 ha dan
kawasan jenis ini keberadaannya tersebar diseluruh kecamatan di
Kabupaten Sampang. Dari kondisi tersebut diharapkan kawasan ini mampu
menciptakan swasembada pangan terutama melalui program-program yang
ada yaitu melalui ekstensifikasi, intensifikasi, diversifikasi serta rehabilitasi
dan tidak menutup kemungkinan pembukaan lahan-lahan baru yang
diperuntukkan bagi pertanian daerah Kabupaten Sampang.
Data BPS (2018) menunjukkan sebagian besar sawah di Kabupaten
Sampang merupakan sawah dengan menggunakan sistem pengairan tadah
hujan, yaitu seluas 15.580 ha, atau 75,67 persen dari luasan sawah
keseluruhan. Sedangkan sebagian lagi merupakan sawah dengan jenis
pengairan irigasi teknis seluas 3.520 ha, yang beririgasi semi teknis seluas
910 ha, dan yang beririgasi sederhana sebesar 340 ha.
a) Peruntukan Tanaman Pangan
1) Kawasan Pertanian Lahan Basah
Kawasan pertanian jenis ini di Kabupaten Sampang banyak
dijumpai pada wilayah selatan terutama pada kecamatan Torjun,
Omben, Jrengik dan sebagian kecil di wilayah utara yaitu di
Kecamatan Banyuates. Dengan semakin tingginya perubahan fungsi
tanah pertanian menjadi kawasan terbangun, maka untuk
mempertahankan kawasan pertanian lahan basah khususnya sawah
beririgasi teknis dan lahan abadi pertanian pangan (sawah abadi) ini
perlu ditingkatkan intensifikasinya. Untuk menunjang peningkatan

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 27
Gambaran Umum Kondisi Daerah

dari nilai manfaat melalui peningkatan pelayanan irigasi dari


setengah teknis menjadi teknis dan sederhana menjadi setengah
teknis. Pengembangan sawah selain padi juga dilakukan penerapan
sistem mina padi, tumpang sari dan sebagainya. Tetapi dengan
adanya fenomena tersebut, pemerintah telah menetapkan peraturan
perundangan yang mengatur tentang pola penggunaan kawasan
pertanian. Dalam kaitan yang lebih komplek, hal tersebut dalam
rangka mempertahankan swasembada pangan yang terlahir dari
adanya tanah yang cukup untuk tanaman pertanian.
a) Luas lahan yang dibudidayakan untuk pertanian tahun 2018
adalah:
- Sawah irigasi
Sawah irigasi secara keseluruhan pada tahun 2018 memiliki
luasan sebesar 5.031 ha dimana sawah irigasi teknis seluas
4.254 ha, sawah irigasi setengah teknis sebanyak 681 ha, dan
sawah dengan irigasi sederhana sebesar 96 ha.
- Sawah tadah hujan
Sawah tadah hujan memiliki luas sebesar 12.274 ha, dengan
kecamatan terbanyak di Kecamatan Sampang sebesar 2.658 Ha.
b) Rencana penggunaan tanah untuk persawahan dengan
memperhatikan daya dukung lahan, rencana pengembangan
jaringan irigasi dan proyeksi kebutuhan pangan serta potensi
ekonomi.
- Pertanian persawahan irigasi teknis yang nantinya
direkomendasikan menjadi lahan pertanian pangan
berkelanjutan irigasi sebesar 4.714 Ha. Berdasarkan
kemampuan daerah juga ditetapkan untuk kawasan ini menjadi
lahan pertanian tanaman pangan berkelanjutan.
- Proyeksi lahan pertanian hingga tahun 2032 dilakukan dengan
memperhatikan kecenderungan tingkat konsumsi penduduk
terhadap komoditas padi (kebutuhan beras), tingkat produksi

II - 28 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

padi, serta kecukupan kebutuhan pangan dengan


membandingkan tingkat produksi dan konsumsi.
2) Kawasan Pertanian Lahan Kering
Tegalan tanah kering merupakan penggunaan tanah yang
memiliki luasan terbesar di Kabupaten Sampang. Keberadaan akan
kawasan ini di Kabupaten Sampang menyebar di seluruh kecamatan
terutama pada daerah yang kurang mendapatkan air dan
mengandalkan air hujan (tadah hujan), dimana untuk peningkatan
nilai manfaat dilakukan melalui penerapan sistem pergiliran,
tumpang sari dan sebagainya. Luas lahan ini di Kabupaten Sampang
secara keseluruhan mencapai 58,72 persen dari luas Kabupaten atau
72.423,74 Ha.
Beberapa bagian tegalan terutama yang terletak pada kawasan
lindung atau diperuntukkan tanaman keras, dapat dialihfungsikan
menjadi kawasan hutan atau perkebunan. Dengan alih fungsi ini maka
luas tegalan diperkirakan akan mengalami penurunan. Direncanakan
luas lahan tegalan ini menjadi kurang lebih 28.731 Ha. Pertanian
pangan pada lahan kering sebesar 28.731 ha ini ditetapkan sebagai
lahan pertanian pangan berkelanjutan non irigasi.
b) Peruntukan Hortikultura
Peruntukan holtikultura yang ada di Kabupaten Sampang antara
lain berupa kawasan yang ditanami jenis sayuran. Pengembangan
kawasan hortikultura dilakukan dengan cara:
- Pengembangan sistem agropolitan dan pengembangan kawasan
perdesaan khususnya pada pusat sentra produksi, diarahkan di
Kecamatan Banyuates dan Kecamatan Tambelangan
- Pengembangan sektor pertanian untuk kegiatan agribisnis, agrowisata
dan industri pengolahan hasil pertanian menjadi makanan dan
sejenisnya
- Pengembangan komoditas unggulan.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 29
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2018


Gambar 2.8
Peta Rencana Kawasan Pertanian

c) Kawasan Peruntukan Perkebunan


Pengembangan tanaman perkebunan di Kabupaten Sampang
dituntut untuk tetap memperhatikan keseimbangan aspek ekonomi,
ekologi dan sosial yang merupakan indikator pengelolaan sumber daya
perkebunan dan kehutanan yang lestari. Jenis komoditi perkebunan yang
cukup potensial dan merupakan tanaman unggulan di Kabupaten
Sampang antara lain adalah jambu mete, kelapa, cabe jamu dan
tembakau. Wilayah yang menghasilkan perkebunan ini umumnya
merupakan kawasan yang memiliki kondisi topografi perbukitan dan
sebagian kecil pada daerah dataran rendah dengan jenis tanaman yang
ditanam adalah termasuk jenis tanaman keras.
Di Kabupaten Sampang perkebunan banyak terdapat di
Kecamatan Banyuates, Kecamatan Sokobanah, Kecamatan Ketapang,
Kecamatan Robatal. Tambelangan dan kecamatan Jrengik, pemanfaatan
dilakukan dengan peningkatan produktivitas dan perlindungan kawasan.

II - 30 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Berdasarkan komoditasnya, pengembangan perkebunan dapat dibagi


dalam dua kelompok yakni perkebunan tanaman tahunan seperti: kelapa,
dan perkebunan tanaman semusim antara lain berupa: jambu mente,
tembakau dsb. Adapun luas kawasan perkebunan di Kabupaten Sampang
adalah 20.059 ha atau 31,53 persen dari luas Kabupaten Sampang.
Berbagai cara dalam pemanfaatan dan pengelolaan perkebunan
antara lain adalah:
- Pengembangan fasilitas sentra produksi dan pemasaran pada pusat
kegiatan ekonomi di Banyuates-Ketapang-Tambelangan
- Pengembangan perkebunan, misalnya merehabilitasi tanaman
perkebunan yang rusak atau pada area yang telah mengalami
kerusakan yaitu mengembalikan fungsi perkebunan yang telah
berubah menjadi peruntukan lainnya, khususnya yang telah berubah
menjadi area pertanian tanaman pangan;
- Pengembangan kawasan yang berpotensi untuk tanaman perkebunan
sesuai dengan rencana, seperti jambu mente, cabe jamu, dan
tembakau;
- Pengembangan kawasan potensi untuk pertanian pangan lahan
kering;
- Pengembangan pasar produksi perkebunan; serta
- Pengolahan hasil perkebunan terutama dengan membentuk
keterikatan antar produk.
Untuk rencana perkebunan yaitu pemantapan lahan untuk
perkebunan seluas kurang lebih 20.059 ha dengan komoditi
unggulannya:
- Budidaya kelapa tersebar di seluruh kecamatan
- Budidaya tembakau meliputi Kecamatan Sreseh, Torjun, Sampang,
Camplong, Omben, Kedungdung, Jengik, Sokobanah, Karangpenang,
Robatal dan Kecamatan Pangerengan.
- Budidaya jambu mete tersebar di seluruh kecamatan
- Budidaya kapuk randu tersebar di seluruh kecamatan

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 31
Gambaran Umum Kondisi Daerah

- Budidaya siwalan meliputi Kecamatan Sampang, Omben, Kedungdung,


Tambelangan, Banyuates, Robatal, Ketapang dan Kecamatan
Karangpenang.
- Budidaya cabe jamu meliputi Tambelangan, Banyuates, Robatal,
Ketapang, Sokobanah dan Kecamatan Karangpenang.
- Budidaya asam jawa tersebar di seluruh kecamatan
- Budidaya wijen tersebar di seluruh kecamatan
- Budidaya serat nanas meliputi Kecamatan Omben, Kedungdung,
Tambelangan, Banyuates, Robatal, Ketapang, Sokobanah dan
Karangpenang.
- Budidaya pandan meliputi Kecamatan Tambelangan dan Kecamatan
Banyuates
- Budidaya lada berada di Kecamatan Tambelangan;
- Budidaya temulawak tersebar di seluruh kecamatan;
- Budidaya kunyit tersebar di seluruh kecamatan;
- Budidaya lengkuas tersebar di seluruh kecamatan;
- Budidaya lempuyang tersebar di seluruh kecamatan;
- Budidaya tebu tersebar di seluruh kecamatan; dan
- Budidaya temu ireng tersebar di seluruh kecamatan.

II - 32 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2018


Gambar 2.9
Peta Rencana Kawasan Perkebunan

Berikut adalah tabel ketersedian lahan menurut Rencana Tata


Ruang Wilayah Kabupaten Sampang.
Tabel 2.12
Ketersediaan Lahan Menurut RTRW Kabupaten Sampang
Rencana Lahan Efektif
No Kecamatan
Permukiman (60 persen)
1 Sampang 791,765 475,06
2 Camplong 357,807 214,68
3 Torjun 241,590 144,95
4 Omben 268,053 160,83
5 Kedungdung 153,617 92,17
6 Jrengik 287,407 172,44
7 Sreseh 319,781 191,87
8 Tambelangan 134,379 80,63
9 Robatal 347,540 208,52
10 Ketapang 277,978 166,79
11 Banyuates 202,864 121,72
12 Sokobanah 484,798 290,88
13 Pangarengan 300,733 180,44
14 Karang Penang 151,611 90,97
TOTAL 4.319,923 2.591,95

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 33
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2018

d) Kawasan Peternakan
Sektor Peternakan di Kabupaten Sampang komoditas yang paling
menonjol adalah ternak sapi potong, diikuti oleh ternak kambing dan
ternak ayam. Pendekatan yang diterapkan dalam rangka meningkatkan
kualitas peternakan adalah dengan teknis terpadu dengan kebijakan
pengembangan populasi ternak, produksi ternak dan pelayanan.
Beberapa kecamatan yang memiliki potensi pengembangan
peternakan di Kabupaten Sampang, baik ternak besar maupun ternak
kecil, diantaranya adalah:
- Kecamatan Ketapang : sapi
- Kecamatan Sampang : kambing dan domba
- Kecamatan Robatal : sapi
Selain ternak besar diatas, masing-masing kecamatan juga
memiliki potensi pengembangan ternak kecil, yakni: ayam
buras/kampung, ayam ras, kambing, domba, kelinci dan sebagainya
terdistribusi secara merata.
Bagi pemenuhan kebutuhan internal Kabupaten Sampang dan
ekspor, maka pengembangan kegiatan peternakan yang ada saat ini dapat
dipertahankan. Kebutuhan pengembangan ke depan yang dapat diatur
pemanfaatan lahan atau kawasannya diatur sebagai berikut:
- Pengembangan ternak unggas yang berpusat di Kecamatan Sampang.
Wilayah pengembangan sentra produksinya meliputi pada sentra-
sentra produksi unggas di Kabupaten Sampang
- Pengembangan Hewan ternak berupa sapi yang berpusat di
Kecamatan Ketapang dan Kedungdung. Wilayah pengembangan sentra
produksinya meliputi pada sentra-sentra produksi ternak hewan di
Kabupaten Sampang

Sedangkan arahan lokasi pengembangna peternakan di


Kabupaten Sampang antara lain:
- Pengembangan ternak unggas berada di Kecamatan Sampang

II - 34 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

- Pengembangan hewan ternak berupa sapi meliputi Kecamatan Jrengi,


Banyuates, Ketapang dan Kecamatan Kedungdung.

4. Kawasan Perikanan
Sektor Kelautan dan Perikanan merupakan produksi penghasil protein
tinggi di Kabupaten Sampang dan yang paling menonjol adalah perikanan
laut. Hasil tangkapan ikan laut terbesar adalah Kecamatan Ketapang dan
Banyuates untuk bagian utara, sedangkan untuk bagian selatan adalah
Kecamatan Sreseh, Camplong dan Sampang. Peningkatan perekonomian
Kabupaten Sampang bidang perikanan dikembangkan melalui perikanan
laut atau tangkap di wilayah pantai di Kecamatan Sreseh dan Camplong
melalui penyediaan sarana dan prasarana pendukung penangkapan, TPI dan
gudang, pelabuhan penunjang bongkar muat barang ikan serta sandar
perahu.
Sektor perikanan yang ada di Kabupaten Sampang dibedakan menjadi
dua bagian, yaitu perikanan darat dan perikanan laut:
- Perikanan darat antara lain adalah: Usaha budidaya ikan berupa ikan
kolam, karamba dan kolam pembenihan ikan (KPI) yang terdapat di
Kecamatan Pengarengan.
- Perikanan laut, terdapat di Kecamatan Sampang, Camplong, Sreseh,
Pengarengan, Ketapang, Banyuates dan Sokobanah antara lain adalah:
usaha penangkapan ikan di laut, usaha penangkapan ikan dan restocking
di perairan umum, usaha perikanan di bidang pasca panen yaitu
pengolahan ikan

5. Kawasan Peruntukan Pertambangan


Kabupaten Sampang memiliki sumber daya potensial yang berupa
mineral batuan yang merupakan salah satu penunjang pembangunan
perekonomian di Kabupaten Sampang. Adapun jenis galian yang
dikembangkan di Kabupaten Sampang adalah pertambangan mineral,
diantaranya adalah Batu gamping, Dolomit, Fosfat, Lempung, Pasir Kuarsa,
Batu Pasir dan Kalsit. Selain itu juga terdapat potensi minyak dan gas bumi

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 35
Gambaran Umum Kondisi Daerah

di wilayah Kecamatan Kedungdung, Sreseh dan Camplong. Kawasan


peruntukan pertambangan terdiri atas:
- kawasan pertambangan mineral
- kawasan pertambangan migas

Kawasan pertambangan mineral terdiri atas:


 Pertambangan mineral batuan/non logam
 pertambangan batu gamping meliputi Kecamatan Jrengik, Torjun,
Sampang, Kedungdung, Omben, Banyuates, Sokobanah, Ketapang
dan Kecamatan Camplong.
 pertambangan batu putih meliputi Kecamatan Sampang, Ketapang,
Robatal, Sokobanah, dan Kecamatan Camplong.
 pertambangan phospat meliputi Kecamatan Jrengik, Torjun,
Sampang, Kedungdung, Omben, Sokobanah, Ketapang dan
Kecamatan Camplong.
 pertambangan kalsit meliputi Kecamatan Sampang, Kedungdung,
Omben dan Kecamatan Jrengik.
 pertambangan kuarsa meliputi Kecamatan Sokobanah, Jrengik dan
Kecamatan Tambelangan.
 pertambangan sirtu meliputi Kecamatan Banyuates, Jrengik, Torjun,
Sampang, Kedungdung, Ketapang dan Kecamatan Camplong.
 pertambangan tanah liat meliputi Kecamatan Omben, Karangpenang
dan Kecamatan Robatal

Kawasan pertambangan migas meliputi:


 Potensi migas meliputi:
 potensi migas lepas pantai meliputi Kecamatan Camplong, Sampang,
Pengarengan, Sokobanah, Banyuates, Ketapang dan Kecamatan
Sreseh
 potensi migas daratan tersebar di seluruh Kecamatan.

II - 36 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2018


Gambar 2.10
Peta Rencana Kawasan Pertambangan

6. Kawasan Peruntukan Industri


Dasar hukum yang digunakan dalam merencanakan kawasan
peruntukan industri ini aadalah Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2009
dan Keppres No. 41 Tahun 1996 tentang kawasan industri. Kawasan
industri adalah kawasan tempat pemusatan kegiatan industri yang
dilengkapi dengan prasarana dan sarana penunjang yang dikembangkan dan
dikelola oleh perusahaan kawasan industri yang telah memilki izin usaha
kawasan industri.
Pengembangan kawasan industri di Kabupaten Sampang didasarkan
pada potensi sumber daya alam yang ada. Berdasarkan hasil analisa
ekonomi, Kabupaten Sampang mempunyai potensi yang besar di sektor
pertanian tanaman pangan, peternakan, perkebunan dan perikanan. Saat ini
lahan industri yang ada pada umumnya menyatu dengan kawasan
permukiman yang lebih diorientasikan pada sektor perikanan dan
berkembang di sekitar kawasan pesisir. Adanya potensi pengembangan

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 37
Gambaran Umum Kondisi Daerah

pelabuhan peti kemas di wilayah Tanjungbumi Kabupaten Bangkalan, dan


pengembangan infrastruktur jalan di bagian wilayah utara dan selatan
Kabupaten Sampang diharapkan dapat meningkatkan aksesbilitas di
wilayah ini. Dengan kondisi tersebut, Kabupaten Sampang perlu adanya
kawasan industri yang mengolah hasil sumber daya alam yang dihasilkan.
Kabupaten Sampang memiliki beragam jenis industri yang memiliki
peranan penting dalam mendukung perekonomian wilayah kabupaten. Jenis
industri yang ada di Kabupaten Sampang antara lain: Industri genteng di
Kecamatan Karang Penang, Industri logam (pagar besi) di Kecamatan
Sampang, industri petis ikan di Kecamatan Camplong dan Kecamatan
Sampang, industri kerajinan aksesoris kerang-kerangan di Kecamatan
Camplong, industri ranjang palek di Kecamatan Sampang, industri batik tulis
di Kecamatan Sampang dan Kecamatan Jrengik, industri garam rakyat di
Kecamatan Sampang, Kecamatan Camplong, Kecamatan Torjun, Kecamatan
Pengarengan, Kecamatan Jrengik dan Kecamatan Sreseh.
Kawasan industri yang direncanakan di Kabupaten Sampang tepatnya
di Kecamatan Banyuates berbentuk industrial estate, dengan mengolah hasil
sumber daya alam yang ada. Luas kawasan industri direncanakan sekitar
250 Hektar dimana pengembangannya dilakukan secara bertahap.

II - 38 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2018


Gambar 2.11
Peta Rencana Kawasan Peruntukan Industri

7. Kawasan Peruntukan Pariwisata


Ditinjau dari karakteristik dan potensi daya tarik wisatanya, pola
pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Sampang dapat
dikelompokkan kedalam 2 kawasan parawisata yaitu alam dan budaya.
Lokasi daya tarik wisata yang ada di Kabupaten Sampang letaknya
cenderung menyebar, sehingga agar memudahkan wisatawan di dalam
melaksanakan aktivitas wisata perlu adanya suatu arahan jalur wisata.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan, dapat diketahui beberapa
permasalahan dalam kaitannya dengan jalur wisata, yaitu:
1. Belum adanya pola perjalanan wisata yang ada di Kabupaten Sampang,
hal ini terjadi karena sebagian besar objek wisata yang ada di Kabupaten
Sampang masih belum dikembangkan secara optimal, perkembangan
sektor pariwisata cenderung apa adanya.
2. Belum adanya paket-paket wisata yang di tawarkan pada wisatawan.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 39
Gambaran Umum Kondisi Daerah

3. Belum adanya program pengembangan sektor yang ada di Kabuparten


Sampang secara keseluruhan. Hal ini terbukti dengan keberadaan objek-
objek wisata yang masih belum banyak dikelola secara profesional.
Pengembangan sektor wisata di Kabupaten Sampang cukup
menjanjikan. Hal ini terlihat dari potensi keunikan dan keindahaan obyek
wisata dan budaya yang dimiliki cukup banyak. Obyek wisata tersebut
meliputi:
a. Pantai Wisata Camplong
Kawasan wisata alam ini terletak di Desa Dharma Camplong, Kec.
Camplong, dengan jarak ± 9 km dari pusat kota. Untuk mencapai
kawasan ini sangat mudah karena dilalui jalur arteri lintas kota pulau
madura Bangkalan-Sampang-Pamekasan-Sumenep dengan kondisi jalan
sangat baik. Kondisi Wisata Pantai Camplong didukung dengan tempat
penginapan berupa hotel resort bintang satu, restoran, kios makanan
tradisional, pasar wisata, tempat parkir yang memadai, fasilitas tempat
ibadah, taman bermain, MCK, gardu pandang, dan keamanan yang
terjamin.
b. Wisata Goa Macan
Gua macan terletak di Desa Bira Temor Kecamatan Sokobanah
Kabupaten Sampang. Objek wisata ini merupakan objek wisata alam
yang baru ditemukan atas dasar infromasi dari penduduk Desa Bira
Temor Kecamatan Sokobanah. Letak Gua macan ± 5 km dari Kantor
Kecamatan Sokobanah ke arah timur. Pada Gua Macan di bagian depan
dihiasai stalaktit dan stalakmit, sehingga menyerupai mulut Macan yang
sedang menganga. Stalaktit dan stalakmit juga terdapat dibagian dalam
gua. Di dalam gua juga terdapat suara tetesan air menyerupai alunan
musik yang berasal dari tetesan air dari atap gua. Pada musim kemarau
air ini dimanfaatkan oleh penduduk untuk menyiram tanaman Cabe
Jamu.
c. Wisata Goa Kelelawar
Goa Kelelawar terletak di Desa Bira Timur (sebelah timur Gua Macan)
Kecamatan Sokobanah Kabupaten Sampang. Objek wisata ini

II - 40 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

merupakan objek wisata alam yang baru ditemukan atas dasar infromasi
dari penduduk Desa Bira Timur Kecamatan Sokobanah. Letak Gua
macan ± 5,2 km dari Kantor Kecamatan Sokobanah ke arah timur. Pada
Gua Kelelawar di bagian dalam dihiasai stalakmit. Suhu di dalam gua
sangat sejuk, sehingga oleh Kelelawar dijadikan sarang yang jumlahnya
ribuan, dengan banyaknya kelelawar yang keluar masuk dari gua
tersebut oleh penduduk sekitar dinamakan Gua Kelelawar.
d. Wisata Air Terjun Toroan
Wisata Air Terjun Toroan merupakan destinasi wisata yang terletak di
pesisir utara Kabupaten Sampang, terletak di Desa Ketapang Daya, Kec.
Ketapang, dengan jarak ±43 km dari pusat kota ke arah utara dengan
akses jalan menuju lokasi di jalur transportasi umum Sampang–
Ketapang–Sokobanah. Air Terjun Toroan yang merupakan satu-satunya
air terjun di Kabupaten Sampang dan di Pulau Madura. Sumber mata Air
Terjun Toroan berasal dari sungai Sumber Payung yang berada di
Kecamatan Ketapang Timur, dengan posisi tinggi mencapai ± 20 m dari
permukaan air laut dan letak jatuh air terjun yang langsung bermuara ke
laut lepas pantai utara merupakan pesona tersendiri dari air terjun ini.
e. Wisata Hutan Kera Nepa
Hutan Kera Nepa juga merupakan destinasi wisata yang terletak di
pesisir utara Kabupaten Sampang, terletak di Desa Nepa, Kec. Banyuates
dari pusat kota ke arah utara jurusan Sampang-Ketapang-Banyuates
dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat sejauh ±50 km dan
dilanjutkan dengan kendaraan bermotor sejauh 1 km untuk masuk ke
hutan karena kondisi jalan masuk yang masih sempit. Merupakan suatu
keindahan tersendiri yang ditawarkan kawasan objek wisata Hutan Kera
Nepa, wisatawan akan dituntun untuk melihat pemandangan alam
sekitar pantai dan lautan lepas, melihat matahari terbit (sunrise),
menyusuri sungai dan hutan cagar alam seluas 1 ha dengan perahu
nelayan untuk melihat pemandangan hutan mangrove dan melihat
satwa kera pada habitatnya.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 41
Gambaran Umum Kondisi Daerah

f. Pantai Lon Malang


Pantai Lon Malang merupakan destinasi baru yang juga terletak di
pesisir utara Kabupaten Sampang, tepatnya di Desa Bira Tengah, Kec.
Sokobanah, dari pusat kota ke arah utara jurusan Sampang-Ketapang-
Sokobanah, dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat sejauh ±52
km. Di pantai ini pengunjung bisa bermain All Terrain Vehicle (ATV),
menikmati beberapa spot area swafoto, ataupun sekedar menikmati
pemandangan berlatar puluhan pohon cemara udang yang indah.
Selain beberapa obyek wisata alam di atas, terdapat puluhan obyek
potensi yang menjadi daya tarik wisata di Kabupaten Sampang sebagaimana
ditunjukkan gambar di bawah. Sebagian besar obyek daya tarik wisata yang
ada belum dikelola secara baik. Artinya, dalam waktu mendatang diperlukan
perhatian serius dalam pembangunan kepariwisataan yang meliputi 4
(empat) aspek, yaitu: destinasi pariwisata, industri pariwisata, pemasaran
pariwisata dan kelembagaan kepariwisataan.

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2019


Gambar 2.12
Peta Persebaran Daya Tarik Wisata Alam

II - 42 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

8. Kawasan Peruntukan Permukiman


Berdasarkan Undang-undang No. 1 tahun 2011 tentang Perumahan
dan Kawasan Permukiman, perumahan adalah kumpulan rumah sebagai
bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang
dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya
pemenuhan rumah yang layak huni. Adapun kawasan permukiman adalah
bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan
perkotaan maupun perdesaan, yang berfungsi sebagai lingkungan tempat
tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung
perikehidupan dan penghidupan.
Kawasan permukiman pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua
kelompok yakni permukiman perdesaan dan perkotaan. Rencana
pengembangan kawasan permukiman di Kabupaten Sampang secara
keseluruhan kurang lebih 22.407 ha atau kurang lebih 17 persen dari
wilayah Kabupaten Sampang.

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2018


Gambar 2.13
Peta Rencana Kawasan Permukiman

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 43
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Secara umum kawasan permukiman di Kabupaten Sampang,


berdasarkan penyediaan wilayah permukimannya dapat dibedakan menjadi:
1. Kawasan permukiman yang dibangun oleh pengembang (developer)
2. Kawasan permukiman yang dibangun secara mandiri oleh masyarakat.
Kawasan ini umumnya berupa kampung, serta permukiman formal yang
cenderung memiliki kapling lebih luas serta kawasan permukiman
pedesaan
3. Kawasan permukiman yang diperkirakan akan tumbuh sebagai akibat
adanya perkembangan wilayah, sentra ekonomi, industri dan
infrastruktur, diantaranya:
- Kawasan permukiman yang timbul karena pertumbuhan dan
perkembangan kota, seperti Kota Sampang, Ketapang, Camplong
- Kawasan permukiman yang timbul karena pengembangan Jalan
lintas utara dan selatan yang melintasi Kecamatan Banyuates,
Ketapang, Sokobanah (lintas utara), Sreseh, Pengarengan, Torjun,
Sampang, Camplong (Lintas Selatan)
- Kawasan permukiman yang timbul karena pembangunan kawasan
industri di Kecamatan Banyuates
- Kawasan permukiman yang timbul karena pembangunan pelabuhan
regional di Kecamatan Camplong.

9. Kawasan Peruntukan Lainnya


Kawasan peruntukan lainnya terdiri atas:
1. Kawasan andalan: a). Kawasan andalan Ketapang dan sekitarnya dengan
sektor unggulan pertanian, perikanan, perkebunan, industri dan
pariwisata; b). kawasan andalan Banyuates dan sekitarnya dengan
sektor unggulan pertambangan, pertanian, peternakan, dan perkebunan;
dan c). kawasan andalan Sampang dan sekitarnya dengan sektor
unggulan perikanan, pariwisata, industri dan pertanian.
2. Kawasan perdagangan dan jasa terdiri atas a). pengembangan pasar
grosir skala kabupaten berada di Kota Sampang; b). pengembangan

II - 44 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

pasar agribisnis berada di Kecamatan Banyuates; dan c). pengembangan


pasar skala kecamatan di tiap kecamatan; dan penyediaan lahan untuk
sektor informal di perkotaan.
3. Kawasan pengendalian ketat terdiri dari kawasan industri berada di
Kecamatan Banyuates; wilayah aliran sungai, sumber air dan stren kali;
area pelabuhan; sekitar jalan arteri primer; jaringan SUTET; dan
kawasan rawan bencana.
4. Kawasan pesisir dan pulau kecil berupa wilayah hingga batas
kewenangan perairan pesisir Kabupaten meliputi: a). wilayah pesisir
utara meliputi: Kecamatan Banyuates; Kecamatan Ketapang; dan
Kecamatan Sokobanah. b).Wilayah pesisir selatan meliputi: Kecamatan
Camplong; Kecamatan Sampang; Kecamatan Pengarengan; dan
Kecamatan Sreseh. c).Pulau Mandangin.
5. Kawasan pertahanan dan keamanan meliputi: Komando Distrik Militer
(Kodim) berada di Kecamatan Sampang; dan Komando Rayon Militer
(Koramil) berada di tiap kecamatan.

2.1.3 Wilayah Rawan Bencana


Beberapa wilayah di Kabupaten Sampang memiliki karakteristik alam
yang rawan bencana. Berdasarkan Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang
penanggulangan bencana menjelaskan bahwa bencana alam adalah peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam yang meliputi bencana gunung
meletus, banjir, tanah longsor, gempa bumi, dan tsunami yang berakibat timbulnya
korban jiwa, harta, benda, kerusakan sarana dan prasarana lingkungan hidup serta
fasilitas umum. Kawasan rawan bencana merupakan kawasan yang diindikasikan
sebagai kawasan yang sering terjadi bencana, baik bencana letusan gunung, banjir
dan gelombang tsunami sehingga dapat berakibat rusaknya lingkungan. Untuk
Kabupaten Sampang kawasan rawan bencana yaitu daerah rawan longsor, lahan
kritis, abrasi pantai dan banjir.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 45
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2018


Gambar 2.14
Peta Rawan Bencana dan Jalur Evakuasi

A. Tanah Longsor dan Lahan Kritis


Daerah yang rawan terhadap longsor di Kabupaten Sampang
meliputi wilayah perbukitan dengan prosentase terbesar terdapat pada
daerah perbukitan karena memiliki kelerengan yang lebih tinggi dan
sangat rentan terhadap longsor khususnya disekitar wilayah tengah
Kabupaten Sampang. Sedangkan lahan kritis di Kabupaten Sampang
meliputi lahan–lahan kering yang tersebar di seluruh Kabupaten
Sampang. Lahan-lahan kritis tersebut merupakan areal yang tengah
mengalami erosi. Penanganan lahan kritis ini tersebar di sepanjang DAS
di Kabupaten Sampang. DAS tersebut antara lain DAS Nodung yang
berada di Kecamatan Banyuates, Ketapang dan Sokobanah, DAS
Kamoning yang berada di Kecamatan Robatal, Omben, Kedungdung,
Sampang, dan Camplong, DAS Semajid yang berada di sebagian
Kecamatan Robatal, Sokobanah, Omben, Camplong dan DAS Blega yang

II - 46 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

terdapat di Kecamatan Tambelangan, Jrengik, Torjun, Kedungdung,


Sreseh. Namun, ada beberapa prioritas penanganan erosi tersebut
antara lain yang ada di Kecamatan Sampang, Omben, Kedungdung dan
Robatal.
Tabel 2.13
Luasan Erosi Tanah Yang Mendapat Prioritas Penanganan di Kabupaten Sampang
Luasan tidak ada Luasan ada
No Kecamatan Jumlah (ha)
erosi (ha) erosi (ha)
1 Sampang 6.567 680 7.247
2 Omben 3.891 5.975 9.866
3 Kedungdung 5.233 6.995 12.228
4 Robatal 144 16.910 17.054
Jumlah 15.835 30.560 46.395
Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2018

B. Abrasi
Abrasi atau erosi pantai adalah pengikisan pantai. Penyebab
abrasi pantai bisa berupa alami, karena manusia, atau pun keduanya.
Pembangunan pelabuhan, reklamasi pantai (untuk permukiman,
pelabuhan udara, dan industri), serta penambangan pasir laut memiliki
andil tinggi dalam pengikisan pantai. Secara alami, penyebab utama
abrasi adalah gerakan gelombang pada pantai terbuka. Disamping itu,
karena keterkaitan ekosistem, maka perubahan hidrologis dan
oseanografis juga dapat mengakibatkan erosi kawasan pantai. Erosi
pantai tergantung pada kondisi angkutan sedimaen pada lokasi tersebut
yang dipengaruhi: angin, gelombang, arus, pasang surut, sedimen, dan
kejadian lainnya.
Di wilayah pesisir selatan Kabupaten Sampang yang mengalami
abrasi adalah di wilayah Kecamatan Camplong. Adanya abrasi ini
disebabkan karena rusaknya dan berkurangnya hutan mangrove yang
menjadi barrier dari abrasi ini. Untuk meminimalisir adanya abrasi ini
maka rehabilitasi dan reboisasi hutan mangrove sangat diperlukan.
Sedangkan untuk wilayah pesisir utara, lebih rentan terhadap abrasi
yang disebabkan oleh gelombang laut yang lebih besar dan tidak adanya
mangrove di wilayah pesisir utara. Tidak adanya mangrove ini karena

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 47
Gambaran Umum Kondisi Daerah

kondisi pesisir wilayah utara merupakan pantai berkarang sehingga


sulit untuk ditumbuhi mangrove.
C. Banjir
Banjir disebabkan oleh keadaan alam dan ulah campur tangan
manusia. Keadaan alam yang dimaksud adalah kondisi dataran yang
cukup landai dan dilalui oleh sunga-sungai sehingga ketika air laut
pasang, sebagian daratan itu berada di bawah permukaan air laut.
Disamping itu, banjir juga bisa terjadi karena curah hujan tinggi.
Fenomena kenaikan paras muka air laut (sea level rise) juga menjadi
penyebab meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir.
Banjir yang terjadi di Kabupaten Sampang biasa melanda daerah
perkotaan Kecamatan Sampang dan sekitarnya. Bencana banjir tersebut
secara naturaldisebabkan oleh elevasi daerah Kecamatan Sampang yang
berada di dataran rendah. Adanya intrusi air laut dan kiriman air yang
berasal dari daerah hulu di sebelah utara mengakibatkan air sungai Kali
Kemuning yang melintasi Kecamatan Sampang meluap. Jika intensitas
hujan cukup tinggi dan bersamaan dengan air pasang besar, volume
banjir akan besar dan bisa memerendam 7 (tujuh) desa dan 6 (enam)
kelurahan.

2.1.4 Kondisi Demografi


Penduduk memiliki peran sentral dalam keberhasilan pembangunan
daerah. Namun demikian, keberadaan penduduk juga dapat menjadi beban dalam
pembangunan. Peran penduduk yang begitu strategis harus diberdayakan agar dapat
menjadi modal pembangunan. Bila penduduk memiliki kualitas diri yang tinggi
(memiliki pendidikan tinggi atau keterampilan) maka dapat menghasilkan
produktivitas yang tinggi. Sebaliknya bila kualitas penduduk rendah akan
membebani atau menghambat perkembangan suatu daerah. Kondisi demografis
penduduk Kabupaten Sampang dapat diuraikan kedalam tiga bagian utama yaitu
jumlah dan kepadatan penduduk; rasio jenis kelamin; dan komposisi penduduk
berdasarkan tingkat pendidikan.

II - 48 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

a. Jumlah dan Kepadatan Penduduk


Jumlah penduduk Kabupaten Sampang tersebar relatif merata di 14
kecamatan. Sampai dengan tahun 2020, jumlah penduduk Kabupaten Sampang
sebanyak 882.242 orang. Persebaran penduduk terbanyak berada di Kecamatan
Sampang diikuti oleh Kedungdung, Camplong dan Ketapang. Sedangkan
kecamatan dengan jumlah penduduk terendah yaitu Pangarengan diikuti oleh
kecamatan Sreseh, Jrengik dan Torjun dengan jumlah penduduk di bawah empat
puluh ribu.
882,242

860,649
856,414
J iw a

847,707

834,110

2016 2018 2017 2019 2020

Sumber: Dispendukcapil Kabupaten Sampang, 2021


Gambar 2.15
Jumlah Penduduk Kabupaten Sampang Tahun 2016-2020

882,242
1,000,000 2000
900,000 1735 1800
800,000 1600
700,000 1400
600,000 1151 1200
500,000 878 1000
815
400,000 678 689 715 800
620 605 630 572
300,000 474 537 537 515 600
121,467

84,745
80,517

78,868

78,882
72,775

68,649
65,702

200,000 400
49,928
48,292
38,792

35,087
34,126

24,412

100,000 200
0 0

Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk

Sumber: Dispendukcapil Kabupaten Sampang, 2021


Gambar 2.16
Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Sampang per Kecamatan Tahun 2020

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 49
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Jumlah penduduk Kabupaten Sampang tersebar relatif merata di 14


kecamatan. Dengan luas wilayah ± 1.233,30 km², maka tingkat kepadatan
penduduk Kabupaten Sampang pada tahun 2020 adalah 715 jiwa/km². Pada
level kecamatan, Kecamatan Sampang memiliki kepadatan penduduk tertinggi
yaitu sebesar 1.735 jiwa/km2 diikuti oleh Kecamatan Camplong, Torjun dan
Karang Penang dengan kepadatan penduduk diatas 800 jiwa/km 2. Sedangkan
kecamatan Sreseh memiliki tingkat kepadatan penduduk terendah yaitu sebesar
450,49 jiwa/km2. Secara spasial distribusi penduduk Kabupaten Sampang
ditunjukkan sebagaimana gambar berikut:

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2021


Gambar 2.17
Distribusi Penduduk Kabupaten Sampang Tahun 2018

b. Komposisi penduduk berdasarkan Umur dan Rasio Jenis Kelamin


Komposisi penduduk di Kabupaten Sampang di dominasi oleh
penduduk usia produktif. Persentase penduduk usia produktif pada rentang
usia 15–64 diperkiran lebih dari 60 persen dari total penduduk. Jumlah usia
produktif berdasarkan jenis kelamin menunjukan bahwa persentase penduduk
produktif perempuan lebih besar dibandingkan laki-laki yaitu masing masing

II - 50 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

sebesar 68,33 dan 67,16 persen. Kondisi tersebut merupakan sebuah modal
penting dalam upaya menggerakan roda pembangunan.

0-4
5-9
10-14
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
60-64
65-69
70-74
75+

Sumber: Dispendukcapil Kabupaten Sampang, 2021


Grafik 2.2
Komposisi penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin

Tabel 2.14
Persentase Penduduk menurut Karakteristik dan Kelompok Umur Tahun 2020
Kelompok Umur Jumlah
Karakteristik
0-14 15-64 65+
Jenis Kelamin
- Laki-laki 28,44 66,11 5,46 100
- Perempuan 26.14 67.11 6.75 100
Kelompok Pengeluaran
- 40 Persen Terbawah 31,13 62,13 6,74 100
- 40 Persen Tengah 25,35 69,38 5,27 100
- 20 Persen Teratas 23,30 70,10 6,60 100
Sampang 29.34 66,62 6,12 100
Sumber: Statistik kesejahteraan Sampang (BPS Kabupaten Sampang, 2021)

Rasio jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki di Kabupaten


Sampang lebih besar dibandingkan dengan penduduk berjenis kelamin
perempuan. Hal ini ditunjukkan dengan sex ratio Kabupaten Sampang tahun
2020 adalah sebesar 98,71 persen. Artinya, perbandingkan jumlah penduduk
laki-laki dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan 98,71: 100. Maka
bisa dikatakan bahwa dalam setiap 100 penduduk berjenis kelamin perempuan
terdapat 99 penduduk berjenis kelamin laki-laki.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 51
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Tabel 2.15
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2020
2020
N
Kecamatan
o Laki-laki Perempuan Sex ratio
1 Sreseh 16.836 17.290 97,37
2 Torjun 19.282 19.510 98,83
3 Sampang 60.086 61.381 97,89
4 Camplong 40.238 40.279 99,90
5 Omben 39.343 39.525 99,54
6 Kedungdung 42.009 42.736 98,30
7 Jrengik 17.600 17.487 100,65
8 Tambelangan 24.297 23.995 101,26
9 Banyuates 35.997 36.778 97,88
10 Robatal 25.109 24.819 101,17
11 Sokobanah 32.620 33.082 98,60
12 Ketapang 38.832 40.050 96,96
13 Pangarengan 12.137 12.275 98,88
14 Karang penang 33.861 34.788 97,34
  Jumlah 438.247 443.995 98,71
Sumber: Dispendukcapil Kabupaten Sampang, 2021

Sebagian besar kecamatan memiliki rasio jenis kelamin laki-laki


lebih besar dibandingkan perempuan. Daerah Kecamatan Jrengik memiliki
rasio jumlah laki-laki terhadap perempuan lebih banyak dibandingkan daerah
lainnya dengan sex rasio sebesar 102,90, artinya setiap 100 penduduk berjenis
kelamin perempuan terdapat 103 penduduk berjenis kelamin laki-laki.
Sebaliknya, di Kecamatan Ketapang memiliki rasio jenis kelamin yang rendah
sebesar 98,71. Hal ini menunjukan bahwa setiap 100 penduduk berjenis
kelamin perempuan terdapat 99 penduduk berjenis kelamin laki-laki.

c. Komposisi Penduduk berdasarkan Tingkat Pendidikan


Tingkat pendidikan dapat menjadi salah satu indikator kualitas
sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang unggul dengan tingkat
pendidikan yang tinggi dapt menjadi modal berharga bagi kemajuan
perekonomian Pada tahun 2018 tingkat pendidikan penduduk Kabupaten
Sampang masih sangat rendah. Penduduk dengan tingkat pendidikan yang
memenuhi standar minimal wajib belajar 9 tahun hanya di bawah 15 persen.
Sedangkan sisanya di bawah tamatan sekolah dasar. Dilihat dari jenis kelamin,

II - 52 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

penduduk perempuan memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah


dibandingkan laki-laki.
Tabel 2.16
Penduduk berdasarkan Tingkat Pendidikan Kabupaten Sampang Tahun 2020
Perempua
No. Pendidikan Laki-Laki Jumlah %
n
1 Tidak/Belum sekolah 143.813 150.512 294.325 33,36
2 Belum Tamat 101.466 114.256 215.722 24,45
SD/sederajat
3 Tamat SD/Sederajat 125.669 128.750 254.419 28,84
4 SMP/Sederajat 30.181 25.085 55.266 6,26
5 SMA/Sederajat 26.900 17.048 43.948 4,98
6 Diploma I/II 1.335 1.130 2.465 0,28
7 Akademi/Diploma III/ 1.027 1.344 2.371 0,27
Sarjana Muda
8 Diploma IV/Strata I 7.255 5.633 12.888 1,46
9 Strata II 567 216 783 0,09
10 Strata III 34 21 55 0,01
  JUMLAH 438.247 443.995 882.242 100
Sumber: Dispendukcapil Kabupaten Sampang, 2021

Sebagian besar masyarakat dengan usia diatas 15 tahun miliki


tingkat pendidikan dasar ke bawah. Sampai dengan tahun 2020, pendidikan
yang ditamatkan oleh penduduk usia 15 tahun keatas adalah tidak punya ijasah
setingkat SD sebanyak 15,96 persen, punya ijazah SD/Sederajat sebanyak 46,16
persen, punya ijazah SLTP/Sederajat sebanyak 17,14 persen, punya ijasah
SLTA/Sederajat sebanyak 14,55 persen dan tamat perguruan tinggi (D1-D3 =
0,36 persen, D4/S1 = 3,83 persen dan S2/S3 = 0,08 persen). Masih rendahnya
tingkat pendidikan masyarakat perlu menajdi perhatian dan prioritas
pembangunan di Kabupaten Sampang.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 53
Gambaran Umum Kondisi Daerah

14.55 1.93 0.36 3.83 0.08 15.96

17.14

46.16

Tidak Punya Ijazah SD SD/MI/Paket A SMP/MTs/Paket B SMA/SMK/MA/Paket C


SMA/MAK D1/D2/D3 D4/S1 S2/S3

Sumber: BPS Kabupaten Sampang, 2021


Grafik 2.3
Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Keatas menurut
Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan

Kemampuan membaca penduduk 15 tahun keatas masih relatif


rendah khususnya untuk kaum perempuan. Kemampuan membaca huruf
latin laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan begitu pula dengan melek
huruf lainnya.
Tabel 2.17
Persentase Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik dan
Kemampuan Membaca dan Menulis Tahun 2020
Karakteristik Huruf Latin Huruf Lainnya Melek Huruf
Jenis Kelamin
- Laki-laki 85,80 56,69
- Perempuan 72,71 46,29
Kelompok Pengeluaran
- 40 Persen Terbawah 74,07 47,61
- 40 Persen Tengah 79,90 53,09
- 20 Persen Teratas 86,05 54,31
Sampang 78,97 51,27 80,77
Sumber: Statistik Kesejahteraan Sampang 2020 (BPS Kabupaten Sampang, 2020)

2.1.5 Kondisi Daya Dukung dan Daya Tampung berdasarkan KLHS


Daya dukung dan daya tampung lingkungan dalam perencanaan tata ruang
dimaksudkan agar pemanfaatan ruang berdasarkan tata ruang nantinya tidak sampai
melampaui batas-batas kemampuan lingkungan hidup dalam mendukung dan
menampung aktivitas manusia tanpa mengakibatkan kerusakan lingkungan.
Kemampuan tersebut mencakup kemampuan dalam menyediakan ruang,

II - 54 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

kemampuan dalam menyediakan sumberdaya alam, dan kemampuan untuk


melakukan perbaikan kualitas lingkungan apabila terdapat dampak yang
mengganggu keseimbangan ekosistem. Penataan ruang yang mengabaikan daya
dukung lingkungan dipastikan akan menimbulkan permasalahan dan degradasi
kualitas lingkungan hidup seperti banjir, longsor dan kekeringan, pencemaran dan
lain sebagainya. Konsep dan metode pengukuran daya dukung lingkungan memiliki
banyak definisi, namun kesamaannya adalah bahwa daya dukung selalu
memperhatikan perbandingan dan keseimbangan antara ketersediaan (suplly) dan
permintaan (demand) dan ke-semuanya disesuaikan dengan tujuan yang diinginkan.
Daya dukung lingkungan mengandung pengertian kemampuan suatu tempat dalam
menunjang kehidupan mahluk hidup secara optimum dalam periode waktu yang
panjang. Daya dukung lingkungan dapat pula diatikan kemampuan lingkungan
memberikan kehidupan organisme secara sejahtera dan lestari bagi penduduk yang
mendiami suatu kawasan.

2.1.5.1 Daya Dukung Lahan Berdasarkan Kemampuan dan Kesesuaian Lahan


Berdasarkan pada tujuan dari perencanaan yang akan dicapai dapat
memberikan perlindungan terhadap lahan potensial dan mencegah pembangunan
pada kawasan lindung. Analisa ini dilakukan dengan tujuan mengatur peruntukan
tanah yang sesuai dalam pelestarian dan menjaga tingkat bahaya erosi, agar tidak
melebihi batas ambang. Kriteria tata cara penetapan kawasan lindung, kawasan
budidaya diatur berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.
837/KPTS/UM/II1980. Berdasarkan hasil perhitungan dan pengolahan peta dengan
tiap-tiap variabel seperti keadaan iklim, kondisi tanah, dan kemiringan lereng, maka
diperoleh klasifikasi kesesuaian lahan di Kabupaten Sampang . Kabupaten Sampang
paling sesuai untuk kawasan lindung sebesar 32,93% dan kawasan permukiman
sebesar 12,12%.
Tabel 2.18
Kesesuaian Lahan Kabupaten Sampang
Kesesuaian Lahan Luas (Ha) Persentase (%)
Kawasan Budidaya Tanaman Semusim Setahun 24,523.20 15.76
Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan 30,387.51 19.53
Kawasan Lindung 51,235.92 32.93
Kawasan Penyangga 30,584.91 19.66
Kawasan Permukiman 18,851.24 12.12
Grand Total 155,582.78 100.00

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 55
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Sumber: Hasil Analisis 2020

II - 56 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Tabel 2.19
Daya Dukung Lahan Pertanian terhadap Hasil Produksi Padi
Nilai Produksi Hb Ptvb N 2017
Total SL (Ha) DL (ha)
No` Kecamatan Perkebunan (Rp/kg) (kg/ha) (orang) KHLL Status Keterangan
Pertanian (kg) Peternakan (kg) Σ (Pi x Hi) (kg)
(kg)
1 TORJUN 282,283,100,200 111,264,341,500 991500000 845,159,681,500 11100 5727.33 13,294.24 48189 0.17 8,192 SL > DL surplus
2 BANYUATES 163,394,986,960 169,863,100,500 145950000 663,929,224,320 11100 5727.33 10,443.51 36720 0.17 6,242 SL > DL surplus
defisit atau
3 OMBEN 96,023,478,340 168,955,261,000 73500000 265,052,239,340 11100 5727.33 4,169.23 37910 0.17 6,445 SL < DL
terlampaui
defisit atau
4 KETAPANG 38,585,721,310 164,540,185,000 0 203,125,906,310 11100 5727.33 3,195.14 35897 0.17 6,102 SL < DL
terlampaui
5 SAMPANG 280,847,102,620 155,654,790,500 0 436,501,893,120 11100 5727.33 6,866.11 39912 0.17 6,785 SL > DL surplus
6 SOKOBANAH 637,218,233,670 318,203,485,000 3148950000 751,631,525,170 11100 5727.33 11,823.06 45951 0.17 7,812 SL > DL surplus
7 JRENGIK 209,978,135,450 69,869,328,500 100800000 279,948,263,950 11100 5727.33 4,403.55 15518 0.17 2,638 SL > DL surplus
8 KEDUNGDUNG 680,093,783,460 190,061,060,000 9016800000 879,171,643,460 11100 5727.33 13,829.25 34513 0.17 5,867 SL > DL surplus
9 CAMPLONG 214,408,482,300 203,394,373,500 0 417,802,855,800 11100 5727.33 6,571.98 34376 0.17 5,844 SL > DL surplus
10 SRESEH 474,640,924,400 166,906,267,500 0 641,547,191,900 11100 5727.33 10,091.45 40056 0.17 6,810 SL > DL surplus
defisit atau
11 ROBATAL 66,845,281,130 134,747,055,000 0 176,557,809,630 11100 5727.33 2,777.23 42139 0.17 7,164 SL < DL
terlampaui
defisit atau
12 PANGARENGAN 479,360,768,020 42,190,165,000 0 521,550,933,020 11100 5727.33 8,203.92 74724 0.17 12,703 SL < DL
terlampaui
13 TAMBELANGAN 525,964,696,500 232,578,728,500 0 514,861,828,700 11100 5727.33 8,098.70 33146 0.17 5,635 SL > DL surplus
KARANG
14 96,023,478,340 109,712,528,500 84000000 298,226,041,960 11100 5727.33 4,691.05 15931 0.17 2,708 SL > DL surplus
PENANG
JUMLAH 4,195,519,693,000 16569650000 14,042,777,618,500 11100 5727.33 220,890.90 776912 0.17 132,075 SL > DL surplus
Sumber: Hasil Analisis 2021

II - 57 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

2.1.5.2 Daya Dukung Lahan Pertanian


Daya dukung lahan pertanian merupakan ukuran kemampuan produksi
tanaman pangan/ padi dan atau tanaman pangan yangn lain dalam memenuhi
kebutuhan pangan penduduk di suatu wilayah.

II - 58 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Tabel 2.20
Luas Panen Tanaman Pangan Per Kapita Kabupaten Sampang
luas lahan
untuk
luas panen tanaman pangan perkapita
swasembada
No` Kecamatan x
pangan
K
2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032
1 TORJUN 0.11 0.11 0.11 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.02
2 BANYUATES 0.10 0.10 0.10 0.09 0.09 0.09 0.09 0.09 0.09 0.09 0.09 0.09 0.09 0.09 0.09 0.02
3 OMBEN 0.11 0.11 0.11 0.11 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.09 0.09 0.09 0.09 0.02
4 KETAPANG 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.02
5 SAMPANG 0.16 0.16 0.16 0.16 0.16 0.16 0.16 0.16 0.16 0.16 0.16 0.16 0.15 0.15 0.15 0.02
6 SOKOBANAH 0.16 0.16 0.16 0.16 0.16 0.16 0.16 0.16 0.16 0.15 0.15 0.15 0.15 0.15 0.15 0.01
7 JRENGIK 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.02
8 KEDUNGDUNG 0.15 0.15 0.15 0.15 0.15 0.14 0.14 0.14 0.14 0.14 0.14 0.14 0.14 0.14 0.14 0.02
9 CAMPLONG 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.19 0.02
10 SRESEH 0.16 0.16 0.16 0.16 0.16 0.15 0.15 0.15 0.15 0.15 0.15 0.15 0.15 0.15 0.15 0.02
11 ROBATAL 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.10 0.09 0.09 0.09 0.02
12 PANGARENGAN 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03 0.02
13 TAMBELANGAN 0.07 0.07 0.07 0.06 0.06 0.06 0.06 0.06 0.06 0.06 0.06 0.06 0.06 0.06 0.06 0.02
KARANG
14 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.02
PENANG
Jumlah 0.14 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.13 0.02
Sumber: Hasil Analisis 2021

II - 59 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
II - 60 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4

Tabel 2.21
Luas Daya Dukung Lahan Pertanian Kabupaten Sampang
daya dukung lahan pertanian
No` Kecamatan T
2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032
1 TORJUN 6.06 6.01 5.97 5.92 5.87 5.83 5.78 5.73 5.69 5.64 5.60 5.55 5.51 5.47 5.42
2 BANYUATES 5.90 5.86 5.81 5.77 5.72 5.68 5.63 5.59 5.55 5.50 5.46 5.42 5.38 5.33 5.29
3 OMBEN 6.86 6.76 6.67 6.57 6.48 6.38 6.29 6.20 6.11 6.03 5.94 5.86 5.77 5.69 5.61
4 KETAPANG 6.15 6.15 6.16 6.16 6.17 6.17 6.18 6.18 6.18 6.19 6.19 6.20 6.20 6.21 6.21
5 SAMPANG 10.51 10.46 10.40 10.35 10.30 10.25 10.20 10.15 10.10 10.05 10.00 9.95 9.90 9.85 9.80
6 SOKOBANAH 11.22 11.18 11.14 11.11 11.07 11.03 10.99 10.96 10.92 10.88 10.84 10.81 10.77 10.73 10.70
7 JRENGIK 11.56 11.55 11.54 11.53 11.52 11.51 11.50 11.48 11.47 11.46 11.45 11.44 11.43 11.42 11.40
8 KEDUNGDUNG 8.92 8.87 8.82 8.77 8.73 8.68 8.63 8.59 8.54 8.49 8.45 8.40 8.36 8.31 8.27
9 CAMPLONG 12.29 12.28 12.26 12.25 12.24 12.23 12.22 12.20 12.19 12.18 12.17 12.15 12.14 12.13 12.12
10 SRESEH 10.17 10.13 10.09 10.05 10.01 9.97 9.94 9.90 9.86 9.82 9.78 9.74 9.71 9.67 9.63
11 ROBATAL 6.86 6.81 6.76 6.71 6.65 6.60 6.55 6.51 6.46 6.41 6.36 6.31 6.26 6.22 6.17
12 PANGARENGAN 1.67 1.66 1.66 1.65 1.65 1.64 1.64 1.63 1.63 1.63 1.62 1.62 1.61 1.61 1.60
13 TAMBELANGAN 3.39 3.36 3.33 3.31 3.28 3.25 3.23 3.20 3.17 3.15 3.12 3.10 3.07 3.05 3.02
14 KARANG PENANG 6.82 6.82 6.82 6.82 6.82 6.82 6.83 6.83 6.83 6.83 6.83 6.83 6.83 6.83 6.83
Jumlah 8.78 8.73 8.68 8.63 8.58 8.53 8.49 8.44 8.39 8.35 8.30 8.25 8.21 8.16 8.12
Sumber: Hasil Analisis 2021
Gambaran Umum Kondisi Daerah

2.1.5.3 Daya Dukung Air Berdasarkan Ketersediaan dan Kebutuhan


Perbandingan ketersediaan dan kebutuhan air dilakukan untuk menghitung
daya dukung air di suatu wilayah, dengan mempertimbangkan ketersediaan dan
kebutuhan akan sumber daya air bagi penduduk yang hidup di wilayah itu. Dengan
metode ini, dapat diketahui secara umum apakah sumber daya air di suatu wilayah
dalam keadaan surplus atau defisit. Keadaan surplus menunjukkan bahwa
ketersediaan air di suatu wilayah tercukupi, sedangkan keadaan defisit menunjukkan
bahwa wilayah tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan akan air. Guna memenuhi
kebutuhan air, fungsi lingkungan yang terkait dengan sistem tata air harus
dilestarikan.
Tabel 2.22
Perhitungan Daya Dukung Air Kabupaten Sampang
Kebutuhan Air (DA)
Domestik
Ketersediaan Daya
(m3/tahun Pertanian
No` Kecamatan Total Keb Air Air hingga Dukun
) Sawah
2038 tahun 2038 g Air
rencana (m3/tahun)
2038  
1 TORJUN 600.499,9 7.852.46 8.452.963,9 12.847.453 1,5 surplus
1 4 1 2
2 BANYUATES 476.972,6 12.456.720 12.933.692,63 21.014.906 1,62 surplus
3
3 OMBEN 337.434,63 5.203.440 14.795.82 5.540.874,63 2,67 defisit
8
4 KETAPANG 485.203,40 315.360 800.563,4 7.973.788 9,96 surplus
0
5 SAMPANG 486.247,53 - 486.247,5 7.275.856 14,96 surplus
3
6 SOKOBANAH 482.772,49 - 482.772,49 11.180.346 23,16 surplus
7 JRENGIK 299.053,32 220.752 519.805,32 20.635.769 39,70 surplus
8 KEDUNGDUNG 787.287,83 9.971.683 60.202.480 10.758.971,0 5,60 defisit
3
9 CAMPLONG 855.942,71 3.585.643 46.649.57 4.441.585,91 10,50 defisit
6
10 SRESEH 271.245,05 5.361.120 5.632.365,05 29.036.585 5,16 surplus
11 ROBATAL 517.244,91 - 517.244,91 7.069.502 13,67 surplus
12 PANGARENGA 335.832,85 - 335.832,85 2.268.683 6,76 surplus
N
13 TAMBELANGA 634.495,57 - 634.495,57 11.291.790 17,80 surplus
N
14 KARANG 392.675,74 - 392.675,74 9.796.723 24,95 surplus
PENANG
Kab Sampang 11.990.95 84.197.966, 96.188.925,3 313.839.253 3,26  
9 4
Sumber: hasil analisis 2021

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 61
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut di atas dapat diketahui bahwa secara


umum daya dukung air di Kabuapten Sampang selalu SURPLUS. Hal ini diperkirakan
masih tergolong dalam kategori tersebut hingga akhir tahun perencanaan yaitu
2038. Namun beberapa wilayah di Kabupaten Sampang termasuk dalam kategori
defisit, antara lain Kecamatan Omben, Kedundung,Camplong .
Kebutuhan air dapat pula dihitung dengan berdasarkan standar Dirjen Cipta
Karya, DPU mengenai tingkat pelayanan air bersih yaitu:
a. Kebutuhan Sambungan Rumah (SR) membutuhkan 120 Lt/ orang/ hari
b. Kebutuhan Hidran Umum (HU) memerlukan 30 Lt/ orang/ hari
c. Kebutuhan non-Rumah Tangga memerlukan 30% dari jumlah SR dan HU
d. Kehilangan air adalah diperkirakan 20% dari SR – HU
e. Cakupan pelayanan dari air bersih di perkotaan ditetapkan 75%. Namun
distribusi target pada tiap-tiap kota kecamatan berbeda-beda.
Berdasarkan perhitungan menggunakan formula Dirjen Cipta Karya tersebut,
maka dapat diketahui kebutuhan air bersih Kabupaten Sampang hingga tahun 2038
adalah 96.188.925,3 lt. Sedangkan bila dibandingkan dengan perhitungan
kebutuhan sebelumnya (SL), dapat diketahui bahwa ketersediaan air adalah
313.839.253. Dengan demikian dapat diketahui bahwa daya dukung air masih
SURPLUS.

2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat


Tujuan pembangunan daerah pada dasarnya ingin mewujudkan
kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Tolok ukur keberhasilan pembangunan
ekonomi suatu daerah, dapat ditunjukkan dari berbagai indikator kinerja baik dari
sisi ekonomi maupun sosial.
Kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah Kabupaten Sampang
dianalisa dari tiga aspek utama sesuai dengan amanat UU No. 23/2014 dan
Permendagri No. 86/2017. Ketiga aspek tersebut yaitu aspek kesejahteraan
masyarakat, aspek layanan umum dan aspek daya saing sebagaimana ditunjukkan
gambar diatas. Aspek kesejahteraan masyarakat fokus pada kesejahteraan dan
pemerataan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan seni budaya dan olah raga.
Aspek pelayanan umum berfokus pada tiga hal yaitu urusan wajib pelayanan dasar,

II - 62 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

urusan wajib pelayanan non dasar, dan layanan urusan pilihan. Sedangkan aspek
daya saing mempunyai lima fokus yaitu kemampuan ekonomi daerah, fasilitas
wilayah/infrastruktur, iklim berinvestasi, dan sumber daya manusia. Analisa kinerja
terhadap ketiga aspek tersebut disesuaikan dengan ketersedian data.

Sumber: Ringkasan dari UU No. 23/2014 dan Permendagri 86/2017


Gambar 2.18
Komponen pembentuk indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah daerah

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 63
Gambaran Umum Kondisi Daerah

2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi


1. Perkembangan PDRB
Salah satu indikator keberhasilan pembangunan ekonomi dapat
dilihat dari perkembangan Produk Domestik Regional bruto (PDRB). PDRB
mencerminkan aktivitas ekonomi yang meliputi tujuh belas sektor diantaranya
Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; Pertambangan dan
Penggalian; Industri Pengolahan; Pengadaan Listrik dan Gas; Pengadaan Air,
Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang; Perdagangan Besar dan Eceran,
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor; Transportasi dan Pergudangan; Penyediaan
Akomodasi dan Makan Minum; Informasi dan Komunikasi; Jasa Keuangan dan
Asuransi; Real Estate; Jasa Perusahaan; Administrasi Pemerintahan, Pertahanan
dan Jaminan Sosial Wajib; Jasa Pendidikan; Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial;
dan Jasa lainnya.
PDRB merupakan nilai tambah bruto seluruh barang dan jasa yang
tercipta atau dihasilkan di wilayah domestik suatu daerah yang timbul akibat
berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu periode tertentu tanpa memperhatikan
apakah faktor produksi yang dimiliki residen atau non-residen. Perhitungan
PDRB dibagi menjadi dua yaitu atas dasar harga berlaku (ADHB) dan atas
adasar harga konstan (ADHK). Disebut sebagai harga berlaku karena seluruh
agregat dinilai dengan menggunakan harga pada tahun berjalan, sedangkan harga
konstan penilaiannya didasarkan kepada harga satu tahun dasar tertentu.
PDRB ADHB merupakan salah satu indikator ekonomi yang memberikan
gambaran secara menyeluruh mengenai produk barang dan jasa yang diproduksi
di suatu wilayah tertentu. PDRB ADHB bisa menggambarkan struktur ekonomi
padata tahun berkenaan. Adapun PDRB harga konstan (riil) dapat digunakan
untuk menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan atau setiap
lapangan usaha dari tahun ke tahun

II - 64 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Tabel 2.23
Nilai dan Kontribusi Lapangan Usaha dalam PDRB Tahun 2016–2020 Atas Dasar Harga Berlaku (dalam juta rupiah)
Kategor 2016 2017 2018 2019* 2020**
Uraian
i (Rp) Persen (Rp) Persen (Rp) Persen (Rp) Persen (Rp.) Persen
A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 5,564,431.55 34.25 5,951,582.30 33.78 6,116,758.40 32.01 6,152,788.40 31.23 6.488.925,1 32,70
B Pertambangan dan Penggalian 2,966,057.15 18.26 3,259,294.70 18.50 3,570,167.80 18.69 3,245,615.30 16.48 3.002.719,8 15,13
C Industri Pengolahan 560,120.24 3.45 605,238.20 3.44 668,145.00 3.50 714,553.90 3.63 715.507,3 3,61
D Pengadaan Listrik dan Gas 5,219.53 0.03 5,806.70 0.03 6,263.70 0.03 6,635.90 0.03 6.713,8 0,03

E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, 11,878.04 0.07 12,711.80 0.07 13,664.50 0.07 14,327.40 0.07 15.153,1 0,08
Limbah dan Daur Ulang
F Konstruksi 1,462,999.57 9.01 1,603,143.60 9.10 1,909,204.60 9.99 2,173,576.00 11.03 2.099.221,3 10,58
G Perdagangan Besar dan Eceran; 2,758,317.23 16.98 2,983,756.10 16.93 3,317,297.40 17.36 3,613,153.80 18.34 3.577.534,9 18,03
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
H Transportasi dan Pergudangan 155,845.87 0.96 173,430.40 0.98 193,563.90 1.01 212,717.30 1.08 203.025,7 1,02

I Penyediaan Akomodasi dan Makan 65,714.80 0.40 73,321.00 0.42 81,406.50 0.43 88,777.40 0.45 83.189,8 0,42
Minum
J Informasi dan Komunikasi 707,769.82 4.36 782,358.60 4.44 853,848.10 4.47 934,714.00 4.74 1.052.951,6 5,31

K Jasa Keuangan dan Asuransi 216,847.26 1.33 241,513.60 1.37 268,196.00 1.40 286,971.50 1.46 289.758,7 1,46

L Real Estate 211,518.26 1.30 226,446.80 1.29 243,957.80 1.28 258,339.50 1.31 267.751,4 1,35
M,N Jasa Perusahaan 48,968.37 0.30 53,432.80 0.30 58,676.30 0.31 62,839.80 0.32 58.719,8 0,30

O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan 767,679.39 4.73 836,231.70 4.75 919,225.40 4.81 972,155.60 4.93 990.628,6 4,99
dan Jaminan Sosial Wajib
P Jasa Pendidikan 499,712.54 3.08 551,012.60 3.13 606,467.10 3.17 667,819.30 3.39 702.103,7 3,54

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 87,760.60 0.54 95,021.70 0.54 102,324.40 0.54 109,864.40 0.56 120.996,0 0,61

R,S,T,U Jasa lainnya 154,141.08 0.95 165,196.90 0.94 177,612.90 0.93 185,260.40 0.94 167.672,9 0,85

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 16,244,981.29 100 17,619,499.50 100 19,106,779.90 100 19,700,109.80 100 19.842.573,4 100

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO TANPA 14,135,518.91   15,288,655.90   16,540,336.10   17,517,433.90   17.857.896,3
MIGAS
Sumber: BPS Kabupaten Sampang, 2021

II - 65 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

PDRB ADHB Kabupaten Sampang dalam lima tahun terakhir


mengalami peningkatan. PDRB ADHB tahun 2016 sebesar 16,24 trilyun
meningkat menjadi 19,84 trilyun tahun 2020. Peningkatan lebih dari 5 trliyun
dalam lima tahun terakhir menunjukan bahwa kondisi ekonomi masih relatif
stabil meskipun dalam situasi pandemic Covid-19.
Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan memiliki
konstribusi tertinggi dalam pembentukan PDRB ADHB selama lima tahun
terakhir. Lapangan usaha penyumbang terbesar selanjutnya adalah Lapangan
Usaha Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
mengalami tren peningkatan dalam konstribusinya terhadap PDRB. Pada tahun
2016, lapangan usaha ini berkonstribusi sebesar 16,98 persen meningkat
menjadi 18,03 persen pada tahun 2020.
Lapangan Usaha Pengadaan Listrik dan Gas merupakan lapangan
usaha dengan kontribusi terkecil dalam pembentukan PDRB. Lapangan
usaha ini hanya mampu menyumbang sekitar 0,03 persen dalam pembentukan
PDRB selama lima tahun terakhir. Hal ini dikarenakan pengadaan listrik dan gas
masih dilakukan Badan Usaha Milik Negara. Lapangan usaha penyumbang
terkecil selanjutnya adalah pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur
ulang memiliki kontribusi terkecil dibanding lapangan usaha lainnya. Lapangan
usaha ini hanya mampu menyumbang sebesar 0,08 persen terhadap
pembentukan PDRB. Kondisi ini sangat wajar terjadi karena Kabupaten Sampang
belum mengembangkan lapangan usaha ini berbasis teknologi.

II - 66 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

2,300,000.0 2,252,289.0 1.40


2,200,000.0
2,100,000.0 1.26
2,000,000.0 1.20
1,900,000.0
1,800,000.0
1,700,000.0
1,600,000.0 1.00
1,500,000.0 0.87
1,400,000.0 0.79
1,300,000.0 0.75 0.80
1,200,000.0
1,100,000.0
1,000,000.0 0.60
900,000.0
800,000.0
700,000.0 0.40
600,000.0
500,000.0
400,000.0
300,000.0 0.20
200,000.0
100,000.0 19,586.5 17,857.9 16,793.8 28,392.7
- 0.00
1 2 3 4 Jatim

Sumber: BPS Provinsi Jawa Timur, 2021


Grafik 2.4
Nilai dan Konstribusi PDRB ADHB kabupaten di Pulau Madura
terhadap Provinsi Jawa Timur Tahun 2020

Di pulau Madura, Kabupaten Sampang merupakan daerah


penyumbang terbesar ketiga dalam pembentukan PDRB ADHB Provinsi
Jawa Timur. Perekonomian Sampang menyumbang sekitar 0,79 persen terhadap
pembentukan PDRB ADHB Jawa Timur tahun 2020. Nilai kontribusi ini lebih
besar dibandingkan Kabupaten Pamekasan yang hanya mampu berkonstribusi
sebesar 0,75 persen. Namun demikian, kontribusi perekonomian Kabupaten
Sampang masih tertinggal dibandingkan Kabupaten Sumenep dan Bangkalan
dengan masing-masing kontribusi sebesar 1,26 persen dan 0,87 persen.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 67
II - 68 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4

Tabel 2.24
Nilai dan Pertumbuhan Lapangan Usaha dalam PDRB Tahun 2016–2020 Atas Dasar Harga Konstan 2010 (dalam juta rupiah)
2016 2017 2018 2019* 2020**
Kategori Uraian
(Rp) Persen (Rp) Persen (Rp) Persen (Rp) Persen (Rp.) Persen
A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 3,831,667.6 2,62 3,955,112.00 3,22 3,945,125.40 -0,25 3,900,517.30 -1,13 4.057.720,5 4,03
B Pertambangan dan Penggalian 2,841,489.1 10,13 2,935,992.00 3,33 3,020,778.30 2,89 2,753,297.50 -8,85 2.679.754,3 -2,67
C Industri Pengolahan 451,659.7 5,58 473,079.80 4,74 500,501.30 5,80 524,771.40 4,85 515.580,3 -1,75

D Pengadaan Listrik dan Gas 4,765.3 4,14 4,901.60 2,86 5,057.60 3,18 5,249.20 3,79 5.177,2 -1,37

E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, 9,533.1 3,41 9,865.80 3,49 10,243.70 3,83 10,662.60 4,09 11.152,3 4,59
Limbah dan Daur Ulang
F Konstruksi 1,062,078.5 5,64 1,127,183.90 6,13 1,294,232.60 14,82 1,463,388.80 13,07 1.407.277,2 -3,83

G Perdagangan Besar dan Eceran; 2,099,345.4 7,55 2,242,068.20 6,80 2,403,649.90 4,57 2,556,384.30 8,99 2.414.083,5 -5,53
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
H Transportasi dan Pergudangan 121,384.1 7,29 129,514.00 6,70 140,245.80 8,29 150,752.70 7,49 141.445,1 -6,17

I Penyediaan Akomodasi dan Makan 50,258.2 8,40 54,507.90 8,46 58,795.60 7,87 63,457.00 7,93 58.634,8 -7,60
Minum
J Informasi dan Komunikasi 652,078.8 8,82 704,179.90 7,99 767,274.40 8,96 831,034.90 8,31 932.271,0 12,18

K Jasa Keuangan dan Asuransi 161,820.2 6,28 171,830.70 6,19 183,140.90 6,58 192,440.20 5,08 192.103,9 -0,17

L Real Estate 168,944.7 6,16 175,668.70 3,98 184,223.80 4,87 191,942.80 4,19 197.005,0 2,64

M,N Jasa Perusahaan 35,928.5 4,88 37,692.60 4,91 39,807.10 5,61 41,506.90 4,27 38.291,6 -7,75

O Administrasi Pemerintahan, 565,972.9 4,68 592,630.20 4,71 621,550.60 4,88 641,712.40 3,24 625.102,0 -2,59
Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib
P Jasa Pendidikan 365,666.1 7,12 391,994.10 7,20 424,255.20 8,23 459,256.20 8,25 475.744,9 3,59

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 65,328.5 6,89 68,666.80 5,11 72,416.00 5,46 76,572.60 5,74 83.522,9 9,08

R,S,T,U Jasa lainnya 118,891.6 4,32 123,575.90 3,94 128,719.00 4,16 132,863.80 3,22 118.871,0 -10,53

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO 12,606,812.3 6,17 13,198,464.00 4,69 13,800,017.20 4,11 13,995,810.50 1,85 13.953.737,5 -0,29
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO TANPA
10,377,254.3 4,95 10,898,451.90 5,02 11,441,354.80 4,44 11,925,284.80 4,76 11.910.655,1 -0,11
MIGAS
Sumber: BPS Kabupaten Sampang, 2021
Gambaran Umum Kondisi Daerah

PDRB ADHK selama lima tahun terakhir menunjukkan


perkembangan yang positif, hanya pada tahun 2020 mengalami kontraksi.
PDRB ADHK adalah pertumbuhan riil yang tidak terpengaruhi oleh unsur
kenaikan harga atau inflasi. PDRB ADHK tahun 2020 sebesar Rp13,953 triliyun
menurun hampir 0,05 trilyun dibanding tahun sebelumnya yaitu sebesar
Rp13,995 triliyun.
Menurut lapangan usaha di dalam PDRB (ADHK), Pada tahun 2020,
hampir seluruh lapangan usaha mengalami kontraksi. Adanya pandemi
Covid-19 yang memberikan banyak perubahan pada tatanan kehidupan social
ekonomi masyarakat Sampang. Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh
lapangan usaha informasi dan komunikasi yaitu sebesar 12,18 persen.
Penyebabnya adalah selama masa pandemi covid-19 yang mengharuskan adanya
pembatasan aktivitas masyarakat termasuk kegiatan belajar mengajar yang
mengharuskan dilakukan secara daring (dalam jaringan). Sehingga dibutuhkan
penggunaan kuota untuk melancarkan aktivitas tersebut.
Lapangan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial juga mengalami
peningkatan. Lapangan usaha ini tumbuh 9,08 persen pada tahun 2020, karena
mewabahnya covid-19 kebutuhan akan jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Begitu
pula dengan Lapangan Usaha Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan
Daur Ulang pertumbuhannya mengalami peningkatan dibandingkan dengan
tahun sebelumnya, yaitu 4,09 persen tahun 2019 menjadi 4,59 persen tahun
2020. Lapangan usaha lainnya yang mengalami peningkatan yaitu Pertanian,
Kehutanan, dan Perikanan; Jasa Pendidikan; dan Real Estate.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 69
Gambaran Umum Kondisi Daerah

1,800,000.0 1.60

1.46 1,610,419.6
1,600,000.0 1.40

1,400,000.0
1.20

1,200,000.0 1.09
1.00
1,000,000.0 0.87
0.80
800,000.0 0.69
0.60
600,000.0

0.40
400,000.0

200,000.0 0.20

17,514.6 13,953.7 11,117.6 23,546.5


- 0.00
1 2 3 4 Jatim

Sumber: BPS Provinsi Jawa Timur, 2017


Gambar 2.19
Nilai dan Konstribusi PDRB ADHK 2010 kabupaten/kota di Pulau Madura
terhadap Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

2. Pertumbuhan Ekonomi
Dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Kabupaten
Sampang tetap mengalami pertumbuhan walaupun relatif melambat.
Namun pada tahun 2020 pertumbuhan ekonomi mengalami pertumbuhan minus
yang dialami tidak hanya di Kabupaten Sampang namun juga di tingkat nasional.
Pertumbuhan ekonomi tersebut berdampak pada kondisi angkatan kerja antara
lain pengurangan kesempatan kerja atau lapangan kerja, pengurangan
pendapatan perusahaan sehingga berdampak kepada pengurangan upah
pegawai.

II - 70 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

0
2016 2017 2018 2019 2020
-1

-2

-3

Sumber: BPS Kabupaten Sampang, 2021


Gambar 2.20
Pertumbuhan Ekonomi Sampang, Jawa Timur dan Nasional Tahun 2016-2020

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sampang dalam tiga tahun


terakhir mengalami penurunan bahkan di tahun 2020 terkontraksi 0,11%.
Pandemi covid-19 menjadi penyebab pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sampang
minus. Pandemi memaksa masyarakat mengurangi aktivitasnya di luar rumah
sebagai bagian dari upaya penyebaran virus corona tersebut. Situasi itu
berdampak besar terhadap permintaan dan penawaran barang serta jasa karena
masyarakat mengurangi konsumsinya
3. Pendapatan Perkapita
Pendapatan per kapita dapat digunakan untuk menentukan
pendapatan rata-rata per orang untuk suatu daerah dan untuk
mengevaluasi standar hidup dan kualitas hidup. Semakin besar pendapatan
per kapitanya, semakin makmur daerah tersebut. Pendapatan per kapita juga
merefleksikan. Pendapatan per kapita juga merefleksikan PDRB per kapita,
sehingga untuk menghitung pendapatan per kapita KAbupaten Sampang
menggunakan pendekatan PDRB per kapita. PDRB per kapita dihitung dengan 2
(dua) metode, yaitu:

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 71
Gambaran Umum Kondisi Daerah

a. Berdasarkan harga yang berlaku atau disebut dengan PDRB per kapita
nominal
b. Berdasarkan harga tetap (konstan) diambil dari tahun acuan. Perhitungan
semacam ini disebut juga dengan PDRB per kapita riil

4.50 12,500.0

4.00 3.88
3.75 3.65
3.31 12,000.0
3.50

3.00
11,500.0
2.50

12,282.9
12,181.6
2.00
11,752.3
11,000.0
1.50
11,375.3
10,950.9

1.00 0.83
10,500.0

0.50

- 10,000.0
2016 2017 2018 2019 2020

PDRB per kapita riil non migas Pertumbuhan PDRB Per kapita non migas

Sumber: BPS Kabupaten Sampang, 2018


Gambar 2.21
Pendapatan Per Kapita ADHK Kabupaten Sampang Tahun 2016–2020

Perkembangan pendapatan per kapita Kabupaten Sampang


menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pendapatan per kapita
Kabupaten Sampang pada tahun 2020 melambat sebesar 0,83 persen, menjadi
Rp12,28 juta meningkat dibandingkan tahun 2019 sebesar Rp12,18 juta.
Peningkatan pendapatan perkapita di Kabupaten Sampang mengindikasikan
adanya peningkatan kesejahteraan penduduk walaupun tidak signifikan.
Besar kecilnya jumlah penduduk akan mempenaruhi nilai PDRB per
kapita, sedangkan besar kecilnya nilai PDRB sangat tergantung pada potensi
sumber daya alam dan faktor-faktor produksi yang terdapat di suatu daerah. Nilai
PDRB per kapita Kabupaten Sampang atas dasar harga berlaku sejak tahun 2016
hingga 2020 senantiasa mengalami kenaikan. Pada tahun 2016 PDRB per kapita
tercatat sebesar 17,14 juta rupiah dan secara nominal mengalami kenaikan
hingga tahun 2020 mencapai 20,46 juta rupiah. Kenaikan angka PDRB per

II - 72 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

kapitan masih dipengaruhi oleh hasil produksi primer yaitu sector pertanian,
kehutanan dan perikanan.

21.00 20.46
20.22
19.73
20.00

19.00 18.39

18.00
17.14

17.00

16.00

15.00
2016 2017 2018 2019* 2020**

PDRB per Kapita Harga Berlaku

Sumber: BPS Kabupaten Sampang, 2021; * Angka sementara


Gambar 2.22
PDRB Perkapita Kabupaten Sampang Tahun 2016-2020

4. Ketimpangan Pendapatan
Gini Ratio salah satu alat yang mengukur tingkat kesenjangan
pembagian pendapatan relatif antar penduduk suatu wilayah. Nilai rasio gini
berkisar antara 0 dan 1. Koefisien gini bernilai 0 menunjukkan adanya
pemerataan pendapatan yang sempurna. Sebaliknya, gini rasio yang bernilai 1
mengindikasikan adanya pemerataan pendapatan yang tidak sempurna, atau
dengan kata lain terjadi ketimpangan sempurna. Menurut BPS (2018), terdapat
tiga kelompok ketimpangan, yaitu ketimpangan tinggi untuk gini rasio > 0,5;
ketimpangan sedang 0,36 – 0,49, dan ketimpangan rendah < 0,36.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 73
Gambaran Umum Kondisi Daerah

0.31
0.24 0.31
0.25 0.26
0.36
0.33 0.34
0.33 0.32

0.31 0.29
0.26 0.27 0.26

0.31 0.3 0.31 0.32


0.29

0.4 0.4 0.38 0.37 0.37

2016 2017 2018 2019 2020

Jawa Timur Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep

Sumber: BPS Provinsi Jawa Timur, 2021


Gambar 2.23
Perkembangan Gini Rasio Kabupaten Sampang dan Daerah Sekitar tahun 2016-2020

Gini rasio Kabupaten Sampang selama lima tahun terakhir


menunjukkan nilai yang relatif menurun. Dibandingkan Provinsi Jawa Timur,
Gini rasio Sampang masih lebih rendah. Penurunan gini rasio diikuti dengan
menurunnya pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya angka kemiskinan di
Kabupaten Sampang. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya pemerataan
kemiskinan akibat pandemic Covid-19.

5. Inflasi
Tingkat inflasi Kabupaten Sampang dalam kurun waktu lima tahun
mengalami fluktuasi dengan tren yang relatif menurun. Inflasi merupakan
suatu instrumen yang menunjukkan tingkat perkembangan harga secara umum,
yang besarannya diperoleh dari perkembangan nilai indeks implisit, yaitu suatu
indeks yang menggambarkan perbandingan antara PDRB atas dasar harga
berlaku dengan PDRB atas dasar harga konstan.

II - 74 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

4.5

3.5

2.5

1.5

0.5

0
2016 2017 2018 2019 2020

Sumber: BPS Kabupaten Sampang, 2019


Gambar 2.24
Inflasi Kabupaten Sampang, Jawa Timur, dan Nasional Tahun 2013–201 8

Dalam periode lima tahun terakhir, tingkat inflasi Kabupaten


Sampang menunjukkan ada kecenderungan semakin menurun. Semakin
rendahnya tingkat inflasi Sampang dapat mengindikasikan bahwa rata-rata harga
barang di daerah ini lebih rendah di banding level provinsi maupun nasional.
Selain itu, rendahnya inflasi juga dapat mengindikasikan rendahnya daya beli
masyarakat. Pada tahun 2020, inflasi di Sampang sebesar 1,72 persen lebih tinggi
dibandingkan nasional (1,68 persen) dan Jawa Timur (1,44 persen).

6. Perkembangan Angka Kemiskinan


Perkembangan tingkat kemiskinan di Kabupaten Sampang dari tahun
2016 sampai dengan tahun 2020 mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Persentase tingkat kemiskinan menurun dari 21,21 persen tahun 2018
meningkat menjadi 22,78 persen pada tahun 2020. Peningkatan angka
kemiskinan yang terjadi di tahun 2020 sebagai dampak pandemi covid-19 yang
terjadi sejak Bulan Maret 2020 yang memberikan pengaruh terhadap tatanan
kehidupan masyarakat salah satunya adanya perubahan pola konsumsi
masyarakat. Berdasarkan angka kemiskinan tersebut menjadi evaluasi bagi
Pemerintah Daerah Kab. Sampang untuk meningkatkan kualitas program
pembangunan dalam rangka pengentasan kemiskinan.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 75
Gambaran Umum Kondisi Daerah

300,000 30

24.11
250,000 23.56
22.78 25
21.21 20.71
200,000 20

150,000 15

227,800 225,130
100,000 204,820 202,210 10
178,240

50,000 5

- 0
2016 2017 2018 2019 2020

Jumlah Penduduk Miskin % Penduduk Miskin


Sumber: BPS Kabupaten Sampang, 2021
Gambar 2.25
Perkembangan Angka Kemiskinan Kabupaten Sampang 2013-2018

2016 2017 2018 2019 2020

Sumber: BPS Provinsi Jawa Timur, 2021


Gambar 2.26
Angka Kemiskinan Kabupaten Sampang dan Daerah Sekitar Tahun 2016-2020

Persentase penduduk miskin Kabupaten Sampang selama lima tahun


terakhir menempati posisi tertinggi baik di pulau Madura maupun di
tingkat Provinsi Jawa Timur. Pada tahun 2020, dengan persentase penduduk
miskin sebesar 22,78 Kabupaten Sampang berada di peringkat tertinggi tingkat

II - 76 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

kemiskinannya diikuti oleh Kabupaten Sumenep, Kabupaten Bangkalan, dan


Kabupaten Pamekasan. Jika di bandingkan dengan rata-rata provinsi dan
Nasional, persentase penduduk miskin Kabupaten Sampang lebih dari dua kali
lipat persentase di level provinsi (11,09) dan nasional (9,78). Salah satu faktor
yang mempengaruhi peningkatan angka kemiskinan di tingkat nasional,
provinsi dan wilayah Madura adalah adanya Pandemi Covid-19 yang
berdampak pada perubahan perilaku serta aktivitas ekonomi penduduk.
Secara geografis, kantong-kantong kemiskinan di Kabupaten
Sampang banyak tersebar di wilayah tengah Kabupaten Sampang. Wilayah
tersebut meliputi Kecamatan Kedungdung, Robatal, Karang Penang, dan
Tambelangan. Salah satu kecamatan di wilayah selatan yang menjadi kantong
kemiskinan yaitu Kecamatan Camplong. Wilayah tersebut sebagian besar
merupakan wilayah perdesaan yang sebagian besar penduduknya bercocok
tanam dengan sistem pertanian lahan kering. Sebaran penduduk miskin tersebut
dapat diketahui sampai tingkat kecamatan dan tingkat desa melalui identifikasi
tingkat kemiskinan relatif. Sebaran kemiskinan relatif diantaranya dapat
diketahui melalui pendekatan identifikasi sebaran penduduk dengan status
kesejahteraan 10 persen terendah (Desil 1) yang diperoleh dari Pemutakhiran
Basis Data Terpadu (PBDT) yang dipublikasikan oleh Tim Nasional Percepatan
Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 77
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2021


Gambar 2.27
Sebaran Penduduk Miskin Kabupaten Sampang

7. Angka Kriminalitas
Angka kriminalitas menjadi salah satu indikator dalam mewujudkan focus
kesejahteraan dan pemerataan ekonomi dalam suatu wilayah. Ekspektasi gaya
hidup masyarakat dengan adanya peningkatan pendapatan perkapita akan
meningkat, sehingga komitmen melakukan kejahatan akan menurun. Penurunan
kesejahteraan menimbulkan banyak konflik yang mendorong orang melakukan
kejahatan, artinya apabila PDRB perkapita menurun maka konflik akan terjadi
dan meningkatkan kasus kriminalitas (Simandjuntak, 1984).
Penelitian yang dilakukan di Malaysia oleh (Tang, 2015) menunjukkan bahwa
adanya pengaruh secara positif dan signifikan dalam jangka panjang maupun
jangka pendek, perihal adanya kemiskinan sangat mempengaruhi tindakan
kejahatan. Faktanya individu yang berada di bawah tekanan hidup yang serba
kekurangan atau dalam hal ini adalah orang miskin, mendorong untuk
melakukan tindakan pencurian, sehingga tingkat kemiskinan yang meningkat
atau tumbuh positif mendorong seseorang berbuat tindakan kriminal. Adapun

II - 78 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

gambaran tindak kejahatan yang terjadi di Kabupaten Sampang dalam 5 (lima)


tahun terakhir sebagaimana tabel berikut:
Tabel 2.25
Data Tindak Kriminal Tahun 2016 - 2020
N TAHUN JUMLAH
JENIS KASUS
O 2016 2017 2018 2019 2020
1 CURAT 45 68 41 35 56 245
2 CURAS 3 6 6 4 3 22
3 CURANMOR 58 31 58 64 73 284
4 ANIRAT   7 3 1 4 15
5 KEBAKARAN           0
6 PEMBUNUHAN 6 9 6 3 4 28
7 PERAMPASAN /PEMERASAN   5 2 3 1 11
8 PERKOSAAN 1 3 2 2   8
9 PERJUDIAN 15 15 9 9 6 54
10 UANG PALSU/STNK PALSU 1         1
11 SURAT PALSU/PEMALSUAN   1 2 3 1 7
12 PENGEROYOKAN / 170 5 12 10 5 11 43
13 PENCULIKAN           0
14 PENIPUAN 36 58 57 51 53 255
15 PENGGELAPAN 2 3 4 6 7 22
16 SENPI/HANDAK 1 0     1 2
17 PENGRUSAKAN / 406 4 4 6 2 2 18
18 PEMBAKARAN       1 1 2
19 MEMBERIKAN KET PALSU           0
20 ANIRING / ANIAYA 18 25 25 31 32 131
21 CUR HEWAN 6 9 5 2 2 24
22 RAMPAS MERDEKA ORG     1     1
23 PENCURIAN BIASA/KLRGA 6 9 8 21 46 90
24 PERSETUBUHAN           0
25 PERASAAN TDK SENANG   1 4 2 3 10
26 SAJAM 18 13 28 39 31 129
27 PERZINAHAN     3 1   4
28 PERCOBAAN CURAT/167 3     3 3 9
29 MIRAS/PSK           0
30 LARI ANAK/PREMPUAN/332 1 1 1 1 3 7
31 CURWATPHON           0
32 PERBUATAN CABUL 1   1   1 3
33 PENGHINAAN   3   3   6
34 CEMAR NAMA BAIK 1 0 2 2 2 7
35 KERASAN THDP PEREMPUAN / KDRT 9 9 6 13 11 48
36 PERLINDUNGAN ANAK 13 13 32 19 26 103
37 TADAH   1 2 1 8 12
38 PERCOBAAN BUNUH       1   1
39 LAWAN PETUGAS     1     1
40 PENGANCAMAN           0
41 SEMBUNYI KAWIN            
42 CABUT HAK ANAK/330/ PENYEKAPAN           0
43 PERADILAN ANAK           0
44 COBA KOSA           0

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 79
Gambaran Umum Kondisi Daerah

N TAHUN JUMLAH
JENIS KASUS
O 2016 2017 2018 2019 2020
45 TURUT SERTA CURI           0
46 AKIBAT KELALAIAN     1     1
47 SEROBOT TANAH 1 2   2 2 7
  JUMLAH TOTAL KRIMUM 258 306 326 330 393 1613
1 TKI / TPPO       1   1
2 TRANSAKSI ELEKTRONIK / ITE 4 3 13 10 5 35
3 FIDUSIA   1       1
4 UU KONSUMEN/ UU DAGANG   3       3
III KEJAHATAN KEKAYAAN NEGARA           0
1 KORUPSI   5 2   1 8
  JUMLAH TOTAL KRIMSUS 4 12 15 11 6 48
  JML TOTAL KRIMUM DAN KRIMSUS 262 318 341 341 399 1661
Sumber: POLRES Sampang, 2021

2.2.2 Fokus Kesejahteraan Masyarakat


1. Indeks Pembangunan Manusia
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator penting
untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup
manusia. Penghitungan IPM terdiri dari tiga aspek dasar yaitu: (i) Kesehatan (umur
panjang dan hidup sehat) yang diukur dari Angka Harapan Hidup (AHH); (ii)
Pendidikan (pengetahuan), yang diukur dari Harapan Lama Sekolah (HLS) penduduk
usia 7 tahun keatas dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk usia 25 tahun
keatas; dan (iii) Standar hidup layak, yang dihitung dari Pengeluaran per Kapita yang
disesuaikan.
Selama lima tahun terakhir kualitas sumber daya manusia di Kabupaten
Sampang menunjukkan peningkatan. IPM Kabupaten Sampang pada tahun 2020
sebesar 62,70 atau mengalami peningkatan sebesar 0,76 dari tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa kualitas SDM Kabupaten Sampang
mengalami perbaikan meskipun nilainya masih relatif rendah.

II - 80 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

2016 2017 2018 2019 2020

Sumber: BPS Provinsi Jawa Timur, 2021


Gambar 2.28
IPM Kabupaten Sampang Tahun 2016-2020

Kabupaten Sampang memiliki IPM terendah dibandingkan dengan


kabupaten Sekitar bahkan di Provinsi Jawa Timur. Tahun 2018 merupakan tahun
pertama bagi Kabupaten Sampang dengan IPM di atas 60 menyusuli kabupaten
lainnya di pulau Madura. Jika dibandingkan dengan rata-rata kabupaten kota di Jawa
Timur, IPM Kabupaten Sampang jauh tertinggal sekitar 10 satuan unit. Rendahnya
angka IPM ini tidak saja akan berdampak pada proses pembangunan namun juga
pada capaian kesejahteraan.
Tabel 2.26
IPM Kabupaten Sampang Tahun 2016–2020
Uraian 2016 2017 2018 2019 2020
AHH (tahun) 67,59 67,67 67,79 67,96 68,03
HLS (tahun) 11,37 11,38 11,76 12,08 12,37
RLS (tahun) 3,79 4,12 4,36 4,55 4,85
Pengeluaran 8.145,86 8.352,00 8.569,00 8.760,00 8.739,00
PerKapita (000)
IPM 59,09 59,90 61,00 61,94 62,70
Sumber: BPS Kabupaten Sampang, 2019

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 81
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Peningakatan IPM Kabupaten Sampang dalam lima tahun terakhir


relatif lambat. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya angka IPM
Kabupaten Sampang adalah masih sangat rendahnya rata-rata lama sekolah (RLS).
RLS tahun 2020 meningkat menjadi 4,85 tahun dibandingkan tahun 2018 yang
mencapai 4,36 tahun. Tingkat RLS tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar
masyarakat Sampang masih berpendidikan SD ke bawah. Harapan Lama Sekolah
(HLS) juga mengalami sedikit peningkatan dari 11,76 tahun di tahun 2018 menjadi
12,37 tahun di tahun 2020. Angka HLS tersebut mengindikasikan bahwa sebagian
besar masyarakat Kabupaten Sampang memiliki harapan lama sekolah sampai
jenjang pendidikan menengah. Angka Harapan Hidup (AHH), juga relatif
menunjukkan perbaikan, meningkat 0,07 tahun daripada tahun sebelumnya, yaitu
dari 67,96 tahun di tahun 2019 menjadi 68,03 tahun di tahun 2020. Pengeluaran per
kapita sebagai indikator untuk menggambarkan pengeluaran rata-rata penduduk
selama 1 tahun pada tahun 2020 mengalami penurunan sebesar Rp.21.000
dibandingkan tahun 2019 sebagai dampak adanya pandemic covid-19 yang merubah
daya beli masyarakat Kab. Sampang.

2. Indeks Pembangunan Gender (IPG)


Indeks Pembangunan Gender merupakan indikator yang digunakan
untuk mengukur pencapaian dimensi dan variabel pembangun kualitas hidup
manusia dari sisi pendapatan, kesehatan serta pendidikan yang lebih fokus
pada perbandingan ketidakadilan pencapaian antara laki-laki dan perempuan.
Selama lima tahun terakhir IPG Kabupaten Sampang mengalami kenaikan yang
artinya semakin tahun kesetaraan antara laki-laki dan perempuan mendekati
sempurna, namun pada tahun 2020 IPG mengalami penurunan karena Kegiatan
Penguatan kelembagaan PUG (Pengarusutamaan Gender) dan PUHA
(Pengarusutamaan Hak Anak) tidak bisa dilaksanakan karena adanya refocusing:
Tabel 2.27
Indikator Kinerja Urusan Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Indek Pembangunan Gender 83.5 83.78 84,25 84,7 85,50
-
(IPG)b 4 9
Sumber: BPS Provinsi Jawa TImur

II - 82 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Secara umum, beberapa kinerja dalam urusan Pemberdayaan


Perempuan dan Pelindungan Anak selama 5 (lima) tahun terakhir
mengalami peningkatan. Hal ini diindikasikan oleh indeks pembangunan
gender (IPG) yang semakin meningkat. IPG adalah indikator yang
menggambarkan perbandingan (rasio) capaian antara IPM Perempuan dengan
IPM Laki-laki, dimana berdasarkan tabel di bawah IPM laki-laki di Kabupaten
Sampang masih lebih tinggi atau masih terdapat kesenjangan sebagaimana yang
digambarkan dalam grafik sebagai berikut:
80

70 66.61 67.39 67.8


65.48

57.14 57.97
60
55.1
56.17
50

40

30

20

10

0
2017 2018 2019 2020

IPM laki-laki IPM Perempuan

Grafik 2.5
Perbandingan IPM Laki-Laki dan IPM Perempuan

3. Indeks Pemberdayaan Gender (IDG)


Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) mengalami peningkatan dalam
beberapa tahun terakhir. IDG Kabupaten Sampang secara umum mengalami
kenaikan dari 48,18 tahun 2017 meningkat menjadi 55,99 pada tahun 2019 yang
menunjukkan meningkatnya tingkat partisipasi dan kesadaran perempuan untuk
berkiprah di ruang publik, seiring dengan keterbukaan akses bagi perempuan.
Tingginya pertumbuhan pemberdayaan gender tahun 2019 dibandingkan tahun
2018 disebabkan adanya peningkatan secara tajam pada indikator keterlibatan
perempuan di parlemen.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 83
Gambaran Umum Kondisi Daerah

58

56 55.99

54

52

50
49.67

48 48.18

46

44
2017 2018 2019

Grafik 2.6
Perkembangan IDG Kab. Sampang

4. Pendidikan
Fokus kesejahteraan masyarakat dalam bidang pendidikan dapat dilihat
dari beberapa indikator, diantaranya Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan
Harapan Lama Sekolah (HLS). Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di bidang
pendidikan, maka beberapa upaya yang dilakukan adalah pemerataan dan perluasan
akses pendidikan, dengan memperluas daya tampung satuan pendidikan dan
memberikan kesempatan yang ssama bagi semua peserta didik dari berbagai
golongan masyarakat. Perkembangan masing-masing indikator dijelaskan sebagai
berikut:

a. Rata-rata Lama Sekolah (RLS)


Salah satu indikator penting dalam mengukur kinerja pendidikan
adalah Rata-rata Lama Sekolah (RLS). RLS didefinisikan sebagai jumlah tahun
yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal. Cakupan
penduduk yang dihitung RLS adalah penduduk berusia 25 tahun ke atas. RLS
dihitung untuk usia 25 tahun ke atas dengan asumsi pada umur 25 tahun proses
pendidikan sudah berakhir. Rata-rata Lama Sekolah di Kabupaten Sampang
menunjukkan peningkatan dalam lima tahun terakhir. Pada Tahun 2016, RLS di
Kabupaten Sampang sebesar 3,79 tahun meningkat hingga mencapai 4,85 tahun
pada Tahun 2020. Rata-rata lama sekolah mencapai target yang telah ditetapkan

II - 84 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

dalam RKPD Perubahan Tahun 2020. Perkembangan RLS Kabupaten Sampang


dapat dilihat dalam grafik berikut:
6

5 4.85
4.71
4.55
4.36
4.12
4
3.79

3 Target
Realisasi

0
2016 2017 2018 2019 2020

Sumber: BPS Kabupaten Sampang, 2021


Grafik 2.7
Rata-rata Lama Sekolah di Kabupaten Sampang Tahun 2016-2020

b. Harapan Lama Sekolah (HLS)


Selain RLS, Angka Harapan Lama Sekolah (HLS) juga di jadikan
indikator dalam mengukur kinerja pendidikan. HLS didefinisikan sebagai
lamanya sekolah yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu
di masa mendatang. HLS dihitung pada usia 7 tahun ke atas karena mengikuti
kebijakan pemerintah yaitu program wajib belajar. HLS dapat digunakan untuk
mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang. HLS di
Kabupaten Sampang peningkatan selama 5 (lima) tahun terakhir. Pada tahun
2016, HLS sampang sebesar 11,37 tahun meningkat menjadi 12,37 tahun 2020
yang maknanya penduduk berusia 7 tahun Kab. Sampang memiliki peluang
untuk menamatkan pendidikan mereka hingga lulus D1. Peningkatan HLS dalam
kurun waktu lima tahun terakhir sebagaimana grafik berikut:

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 85
Gambaran Umum Kondisi Daerah

12.6

12.37
12.4
12.35
12.2
12.08
12

11.8
11.76
Target
11.6 Realisasi

11.4 11.37 11.38

11.2

11

10.8
2016 2017 2018 2019 2020

Sumber: BPS Kabupaten Sampang, 2021


Grafik 2.8
Harapan Lama Sekolah di Kabupaten Sampang Tahun 2016-2020

c. Angka Partisipasi Kasar (APK)


Indikator selanjutnya dalam mengukur tingkat kesejahteraan dalam
bidang pendidikan adalah Angka Partisipasi Kasar (APK). APK digunakan
untuk mengukur keberhasilan program pembangunan pendidikan yang
diselenggarakan dalam rangka memperluas kesempatan bagi penduduk untuk
mengenyam pendidikan. APK SD/MI diperoleh dari jumlah siswa yang
bersekolah dijenjang pendidikan SD/MI/Paket A dibagi dengan jumlah
penduduk kelompok usia 7-12 tahun. APK SMP/MTs/Paket B diperoleh dari
jumlah siswa yang bersekolah dijenjang pendidikan SMP/MTs dibagi dengan
jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun. APK SMA/SMK/MA/Paket C
diperoleh dari jumlah siswa yang bersekolah dijenjang pendidikan
SMA/MA/SMK/ Paket C dibagi dengan jumlah penduduk kelompok usia 16-18
tahun.
Tabel 2.28
Angka Partisipasi Kasar Kabupaten Sampang Tahun 2016–2020
Satua 2017 2018 2019 2020
APK 2016
n
115,3 109,3 108,5 103,78
SD/MI/Paket A persen 112,11
9 2
105,7 102,1 102,2 100,31
SMP/MTs/Paket B persen 102,18
4 1
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang (2021)

II - 86 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Perkembangan tingkat APK untuk setiap jenjang pendidikan di


Kabupaten Sampang mengalami peningkatan. Pada level SD dan sederajat,
APK tahun 2016 sebesar 115,39 persen menurun menjadi 103,78 persen tahun
2020. APK Pada level SMP dan sederajat pada tahun 2016 sebesar 105,74 persen
menurun menjadi 100,31 persen tahun 2020. Jika nilai APK mendekati atau
lebih dari 100 persen menunjukkan bahwa ada penduduk yang sekolah belum
mencukupi umur dan/atau melebihi umur yang seharusnya. Menurunnya APK
setiap tahunnya menunjukkan semain meningkatnya kesadaran masyarakat
akan ketepatan usia sekolah level SD dan sederajat serta level SMP sederajat..
Hal ini juga dapat menunjukkan bahwa wilayah tersebut mampu menampung
penduduk usia sekolah lebih dari target yang sesungguhnya.

d. Angka Partisipasi Murni (APM)


Indikator kinerja pendidikan selanjutnya adalah Angka Partisipasi
Murni (APM). APM adalah persentase jumlah anak pada kelompok usia sekolah
tertentu yang sedang bersekolah pada jenjang pendidikan yang sesuai dengan
usianya terhadap jumlah seluruh anak pada kelompok usia sekolah yang
bersangkutan. Bila APK digunakan untuk mengetahui seberapa banyak
penduduk usia sekolah yang sudah dapat memanfaatkan fasilitas pendidikan di
suatu jenjang pendidikan tertentu tanpa melihat berapa usianya, maka Angka
Partisipasi Murni (APM) mengukur proporsi anak yang bersekolah tepat waktu.
Bila seluruh anak usia sekolah dapat bersekolah tepat waktu, maka APM akan
mencapai nilai 100. Secara umum, nilai APM akan selalu lebih rendah dari APK
karena nilai APK mencakup anak diluar usia sekolah pada jenjang pendidikan
yang bersangkutan. Selisih antara APK dan APM menunjukkan proporsi siswa
yang terlambat atau terlalu cepat bersekolah.
Tabel 2.29
Angka Partisipasi Murni Kabupaten Sampang Tahun 2016–2020
APM Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
98,6 97,9 94,41
SD/MI/Paket A Persen 97,31 97,40
5
81,7 75,76 81,76
SMP/MTs/Paket B Persen 73,86 74,76
2
Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang (2021)

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 87
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Perkembangan APM Kabupaten Sampang selama kurun waktu lima


tahun terakhir berdasarkan jenjang pendidikan menunjukkan
peningkatan. APM SD sederajat mengalami penurunan dari tahun 2018 sebesar
97,40 persen menjadi 94,41 persen tahun 2020. Angka Partisipasi Murni (APM)
SD/MI/Paket A pada tahun 2020, diperoleh dari jumlah siswa kelompok usia 7 -
12 tahun yang bersekolah dijenjang pendidikan SD/MI/Paket A sebanyak
104.392 siswa dibagi jumlah penduduk kelompok usia 7 - 12 tahun sebesar
110.576 siswa. Semakin menurunnya APK ini karena masih ada siswa yang
masuk sekolah lebih awal atau melebihi dari usia yang seharusnya masuk
jenjang SD/MI (7 – 12 Tahun).
Peningkatan APM juga terjadi di level SMP sederajat yaitu sebesar 74,76
persen tahun 2018 menjadi 81,76 persen tahun 2020. Angka Partisipasi Murni
(APM) SMP/MTs/Paket B, diperoleh dari jumlah siswa kelompok usia 13 – 15
tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMP/MTs/Paket B sejumlah
42.116 siswa dibagi jumlah penduduk kelompok usia 13 - 15 tahun sebanyak
51.511 siswa.

5. Kesehatan
Kesejahteraan masyarakat di bidang kesehatan suatu wilayah dapat
diukur melalui indikator Angka Harapan Hidu (AHH), angka kematian bayi,
angka kematian ibu, dan persentase stunting. Peningkatan angka harapan
hidup bisa dicapai apabila ada upaya untuk meminimalkan angka kematian bayi,
kematian ibu melahirkan dan persentase stunting. Rincian perkembangan
indikator kesehatan Kabupaten Sampang tahun 2016–2020 adalah sebagai
berikut:
Tabel 2.30
Indikator Kesehatan Kabupaten Sampang Tahun 2016 –2020
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Angka Harapan Hidup tahun 67,59 67,67 67,79 67,96 68,03
Angka Kematian Ibu per 100.000 84,51 86,4 91,5 66,30 60,54
Melahirkan kelahiran hidup
Angka Kematian Bayi per 1.000 11,95 8,46 7,02 5,90 3,9
kelahiran hidup
Persentase Stunting Persen 47,9 17,4 9,92 8

II - 88 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang, 2021

Perkembangan angka harapan hidup di Kabupaten Sampang


menunjukkan peningkatan dalam periode lima tahun terakhir. Sampai
dengan tahun 2020, capaian angka harapan hidup Kabupaten Sampang
mencapai 68,03 tahun, artinya bahwa rata-rata usia penduduk di Kabupaten
Sampang mencapai usia 68 tahun. Peningkatan angka harapan hidup diiringi
dengan dengan penurunan angka kematian ibu melahirkan. Angka kematian ibu
melahirkan pada tahun 2020 sebesar 60,54 per 1000 kelahiran hidup (10
kematian ibu dari 16.518 kelahiran hidup).
Angka kematian bayi selama lima tahun terakhir juga mengalami
penurunan. Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan Dinas Kesehatan
Kabupaten Sampang pada Tahun 2020 Angka Kematian Bayi di Kabupaten
Sampang mencapai 3,99 per 1000 Kelahiran Hidup (66 kasus dari 16.518
kelahiran hidup). Penyebab utama dari kematian bayi adalah asfiksia kelahiran,
pneumonia, komplikasi kelahiran infeksi neonatal, diare, BBLR dan kelainan
bawaan. Penurunan angka kematian bayi juga sejalan dengan persentase
stunting. Berdasarkan hasil operasi timbang Agustus 2020 diketahui bahwa
persentase stunting di Kabupaten Sampang sebesar 8%. Pencegahan stunting
menitikberatkan pada penanganan penyebab masalah gizi, yaitu faktor yang
berhubungan dengan ketahanan pangan khususnya akses terhadap pangan
bergizi (makanan), lingkungan sosial yang terkait dengan praktik pemberian
makanan bayi dan anak (pengasuhan), akses terhadap pelayanan kesehatan
untuk pencegahan dan pengobatan (kesehatan), serta kesehatan lingkungan
yang meliputi tersedianya sarana air bersih dan sanitasi (lingkungan). Intervensi
terhadap keempat faktor tersebut diharapkan dapat mencegah malnutrisi pada
balita. Berikut adalah peta sebaran desa stunting di Kabupaten Sampang
berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana
Nomor: 880/645/SK/434.101/2021 tentang Penetapan Desa Prioritas
Pencegahan dan Penanganan serta Intervensi Gizi Spesifik dan Sensitif di
Kabupaten Sampang Tahun 2021:

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 89
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Gambar 2.29
Sebaran Desa Stunting Kabupaten Sampang

6. Tenaga Kerja
Partisipasi angkatan kerja Kabupaten Sampang selama lima tahun
terakhir mengalami fluktuatif. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
pada tahun 2020 sebesar 69,93 persen meningkat 5,28 persen dari tahun 2019.
Peningkatan angka TPAK juga diikuti dengan angka TPT yang menunjukkan
bahwa jumlah penduduk usia kerja (15 Tahun keatas) yang bekerja, atau punya
pekerjaan tapi sementara tidak bekerja dan pengangguran mengalami
peningkatan karena adanya pandemic Covid-19 yang memaksa adanya
pemberhentian aktivitas perekonomian. Hal tersebut berdampak kepada
pemutusan hubungan kerja (PHK) dan memilih untuk pulang kampung dan
menjadi pelaku usaha mikro. Secara rinci, perkembangan TPAK dan TPT adalah
sebagai berikut:

II - 90 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

80

67.31 69.04
70 66.42 69.93
64.48

60

50

40 TPAK
TPT
30

20

10
2.31 2.45 2.38 2.81
3.35
0
2016 2017 2018 2019 2020

Sumber: BPS Kabupaten Sampang, 2021


Grafik 2.9
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan TPT Kabupaten Sampang
Tahun 2016-2020

2.2.3 Fokus Seni Budaya dan Olah Raga


Seni budaya dan olah raga menjadi aspek penting yang perlu di
tingkatkan. Tersedianya kesenian dan budaya khas sampang dapat menunjukan
sejarah dan karakter budaya setempat. Sedangkan olah raga berkaitan dengan aspek
kesehatan dan budaya hidup masyarakat. Ketersedian sarana dan prasana asapek
tersebut tidak hanya dapat menimgkatkan kondisi sosial yang lebih baik namun juga
dapat menjadi potensi pariwisata yang dapat di kembangkan.
Tabel 2.31
Perkembangan Seni, Budaya, dan Olah Raga Kabupaten Sampang
Tahun 2016–2020
No Indikator Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Jumlah budaya daerah yang Buah 11 13 15 17 19
1
dilestarikan
Persentase prestasi % n/a n/a 52 291,3 75
2
olahraga
Sumber: Disporabudpar Kabupaten Sampang, 2021

Pada tahun 2019 budaya daerah yang dilestarikan sebanyak 17 budaya


daerah dari target 42 budaya daerah yang dilestrikan, sedangkan pada tahun
2020 budaya daerah yang dilestarikan terealisasi sebanyak 19 budaya daerah dari
target 42 budaya daerah yang dilestarikan, jadi ada 2 (dua) penambahan budaya
daerah yang dilestarikan yaitu Pa’ Kupak dan Mantan Toddu’.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 91
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Persentase prestasi olahraga pada tahun 2020 mengalami penurunan


dari tahun sebelumnya, penurunan prestasi olahraga karena pandemi covid 19 dan
tidak ada kepastian pelaksanaan event olahraga baik dari provinsi maupun dari
pusat. Pada tahun 2019 prestasi yang diperoleh sebanyak 201 prestasi dari 69 event
yang diikuti, sedangkan pada tahun 2020 prestasi yang diperoleh sebanyak 6
prestasi dari 8 event yang diikuti.

2.3 Aspek Pelayanan Umum


2.3.1 Fokus Urusan Wajib Layanan Dasar
Urusan Wajib Layanan Dasar sebanyak 6 urusan. Urusan tersebut terdiri
dari urusan pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum dan penataan ruang,
perumahan rakyat dan kawasan permukiman, ketenteraman, ketertiban umum dan
pelindungan masyarakat, dan urusan sosial. Perkembangan dari indikator-indikator
kinerja urusan wajib pelayanan dasar adalah sebagai berikut:

1. Pendidikan
Urusan Pendidikan di Kabupaten Sampang dilaksanakan oleh
Dinas Pendidikan. Rincian beberapa perkembangan indikator kinerja Urusan
Pendidikan tahun 2016-2020 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.32
Indikator Kinerja Pendidikan Kabupaten Sampang Tahun 2013-2018
Satua 2018 2019 2020
Indikator Kinerja 2016 2017
n
Rasio Siswa PAUD per Rombel n/a n/a 16,23 16,68 17,44
Rasio Guru terhadap Murid % 17 13,66 13 12  12
SD/MI
Rasio Guru terhadap Murid % 11 12,72 13  12 9
SMP/MTs
Angka Putus Sekolah (APS) 0,63 0,12 0,14 0,13 0,23
%
SD/MI
Angka Putus Sekolah (APS) 0,72 0,49 0,26 0,25 0,60
%
SMP/MTs
Persentase Sekolah SD dalam 75,70 64,79 77,48 77,92 98,52
%
kondisi baik
Persentase Sekolah SMP dalam 91,17 85,61 87,12 90,23 94,44
kondisi baik
n/a n/a 61,63 65,15  75,51
Rata-rata Nilai USBN -
n/a n/a 41,27 41,7 78,56 
Rata-rata Nilai UN -

II - 92 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang, 2021

Rasio siswa PAUD per Rombel setiap tahun mengalami peningkatan


yang menunjukkan semakin meningkatnya kesadaran orang tua untuk
menyekolahkan anaknya dijenjang PAUD. Selain itu peningkatan kualitas dan
kuantitas sarana dan prasarana menjadi faktor pendukung meningkatnya rasio
siswa PAUD per rombel.
Rasio Guru terhadap Murid SD/MI pada tahun 2020 adalah 1:12 dimana
jumlah guru SD/MI di Kabupaten Sampang sebanyak 9.354 orang dengan jumlah
murid SD/MI sebanyak 116.251 orang. Pada tahun 2019 jumlah murid SD/MI
sebanyak 123.449 orang dengan jumlah guru yang ada sebanyak 9.342, sehingga
terjadi penurunan jumlah murid pada tahun 2020 yang disebabkan oleh
meningkatnya angka putus sekolah. Rasio Guru terhadap Murid SMP/MTs pada
tahun 2020 sebesar 1:9 atau jumlah guru SMP/MTs sebanyak 4.457 orang
dengan murid sebanyak 52.965 orang. Pada tahun 2019 jumlah guru sebanyak
4.360 orang dan jumlah murid sebanyak 56.338 orang. Rasio guru terhadap
murid mengalami penurunan karena angka putus sekolah tingkat SMP/MTs
meningkat.
Angka Putus Sekolah (APS) adalah Proporsi anak menurut kelompok
usia sekolah yang sudah tidak bersekolah lagi atau yang tidak menamatkan
suatu jenjang pendidikan tertentu. APS ini penting untuk menjadi perhatian guna
mendongkrak Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS)
yang menjadi komponen penting dalam penghitungan Indeks Pembangunan
Manusia (IPM). Secara umum, Angka Putus Sekolah SD/MI Kabupaten Sampang
menunjukkan perkembangan yang fluktuatif pada tahun 2020 berada pada
angka 0,23 persen. Begitu juga Angka Putus Sekolah SMP/MTs, angkanya
menunjukkan perkembangan yang buruk dimana terakhir berada pada angka
0,60 persen.
Penyediaan sarana dan prasarana Pendidikan menjadi salah satu faktor
pendukung untuk meningkatkan kualitas Pendidikan. Persentase sekolah SD
dalam kondisi baik selama lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan
yang baik bahkan pada tahun 2020 bangunan SD dalam kondisi baik sebesar
98,52% atau dari 1.093 sekolah yang baik sebanyak 1.077 sekolah. Persentase
sekolah SMP dalam kondisi baik juga mengalami peningkatan dalam lima tahun

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 93
Gambaran Umum Kondisi Daerah

terakhir. Pada tahun 2020 jumlah sekolah SMP dalam kondisi baik sebanyak 477
sekolah dari 505 sekolah SMP yang ada di Kabupaten Sampang.

Perkembangan rata-rata Nilai USBN terakhir mengalami peningkatan,


yaitu pada tahun 2019 sebesar 65,15 menjadi 75,51 pada tahun 2020.
Perkembangan terakhir rata-rata nilai UN dari 41,7 pada tahun 2019 juga
mengalami peningkatan menjadi 78,56 pada tahun 2020. Peningkatan rata-rata
nilai USBN dan UN dikarenakan tidak ada USBN dikarenakan adanya Pandemi
Covid-19, nilai tesebut merupakan nilai ujian sekolah.

2. Kesehatan
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, kinerja urusan Kesehatan
menunjukkan peningkatan pada beberapa indikator. Hal tersebut
ditunjukkan oleh meningkatnya usia harapan hidup; menurunnya Angka
Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi, dan persentase Balita Gizi Buruk;
meningkatnya CNR seluruh kasus TB; menurunnya prevalensi kusta, Insidence
Rate DBD, dan prevalensi hipertensi; meningkatnya persentase puskesmas
terakreditasi, dan meningkatnya persentase masyarakat yang menjadi peserta
JKN. Indikator kinerja urusan Kesehatan sebagaimana ditunjukkan tabel berikut:
Tabel 2.33
Indikator Kinerja Urusan Kesehatan

Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020

Persentase Puskesmas yang persen n/a n/a 0 19,05 19,05


Terakreditasi Minimal
Terakreditasi Utama
Persentase Rumah Sakit yang persen 100 100 100 100 50
Terakreditasi
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang, 2021

Akreditasi Puskesmas merupakan salah satu persyaratan


kredensial sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang
bekerjasama dengan BPJS sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri
Kesehatan nomor 71 Tahun 2013. Kabupaten Sampang memiliki 21 Puskesmas
yang tersebar di 14 Kecamatan. Sejak Tahun 2018 sebanyak 21 Puskesmas
(100%) telah terakreditasi, selanjutnya akan dilakukan re-akreditasi setiap 3
tahun sekali. Tahun 2019 sebanyak 4 puskesmas telah dilakukan re-akreditasi
dengan strata akreditasi utama (19,05%), sedangkan pada tahun 2020 ini tidak

II - 94 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

dapat dilakukan re-akreditasi, sehingga capaian kinerja untuk indikator


persentase Puskesmas terakreditasi minimal terakreditasi utama tidak
mengalami perubahan, yaitu tetap diangka 19,05%.
Akreditasi Rumah Sakit merupakan pengakuan terhadap rumah sakit
yang diberikan oleh lembaga independen penyelenggara Akreditasi yang
ditetapkan oleh Menteri, setelah dinilai bahwa Rumah Sakit itu memenuhi
Standar Pelayanan Rumah Sakit yang berlaku untuk meningkatkan mutu
pelayanan Rumah Sakit secara berkesinambungan. Dengan diresmikannya
operasional pelayanan rumah sakit daerah Ketapang tahun 2020, maka
Pemerintah Kabupaten Sampang memiliki dua Rumah Sakit yang harus
terakreditasi, yaitu RSD dr. Mohammad Zyn dengan status akreditasi utama dan
RSD Ketapang yang belum terakreditasi. Sehingga di tahun 2020 ini capaian
kinerja pada indikator persentase rumah sakit yang terakreditasi capaian
kinerjanya adalah 50%
Selain indikator diatas, kinerja urusan kesehatan dapat dilihat dari
empat hal. Keempat hal tersebut adalah Rasio Pos Pelayanan Terpadu
(Posyandu) Per Satuan Balita, Rasio Puskesmas, Poliklinik dan Peskesmas
Pembantu (Pustu), Rasio Rumah Sakit Per Satuan Penduduk, dan Rasio Dokter
Per Satuan Penduduk. Urain kinerja tersebut adalah sebagai berikut:
a. Rasio Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Per Satuan Balita
Posyandu merupakan wadah peran serta masyarakat untuk
menyampaikan dan memperoleh pelayanan kesehatan dasarnya, maka
diharapkaan pula strategi operasional pemeliharaan dan perawatan
kesejahteraan ibu dan anak secara dini, dapat dilakukan di setiap posyandu.
Terkait dengan hal tersebut diatas perlu dilakukan analisis rasio posyandu
terhadap jumlah balita dalam upaya peningkatan fasilitas pelayanan
pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan, dan
agar status gizi maupun derajat kesehatan ibu dan anak dapat dipertahankan
dan atau ditingkatkan. Adapun perkembangan rasio jumlah posyandu
terhadap balita di Kabupaten Sampang dapat dilihat pada tabel berikut:

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 95
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Tabel 2.34
Jumlah Posyandu dan Balita Kabupaten Sampang Tahun 2016–2020
No URAIAN 2016 2017 2018 2019 2020
1 Jumlah Posyandu 1.020 1.038 1.031 1.039 1.040
2 Jumlah Balita 76.603 62.433 76.181 76.044 75.947
3 Rasio (per 100 balita) 1,33 1,66 1,35 1,36 1,37
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang, 2019

Rasio posyandu di Kabupaten Sampang menunjukkan peningkatan


setiap tahunnya. Pada Tahun 2020, rasio posyandu per 100 balita mencapai
1,37. Angka tersebut menunjukan bahwa rata-rata 1 (satu) posyandu
melayani 73 balita.
b. Rasio Puskesmas, Poliklinik dan Peskesmas Pembantu (Pustu)
Sarana kesehatan seperti Puskesmas, Poliklinik maupun Puskesmas
Pembantu (Pustu) merupakan faktor penting dalam pembangunan kesehatan
utamanya berfungsi sebagai pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang
tersebar ke pelosok. Dengan tersebarnya sarana kesehatan sampai ke pelosok
berarti memudahkan jangkauan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Berikut ini disajikan pada Tabel Jumlah Puskesmas, Poliklinik dan Pustu di
Kabupaten Sampang.
Tabel 2.35
Jumlah Puskesmas, Poliklinik dan Pustu Kabupaten Sampang Tahun 2015–2018
No URAIAN 2016 2017 2018 2019 2020
1 Jumlah Puskesmas 21 21 21 21 21
2 Jumlah Poliklinik 7 11 11 11 11
3 Jumlah Pustu 57 59 59 59 59
4 Jumlah Penduduka 834.110 847.707 856.414 860.649 882.242
5 Rasio Puskesmas Persatuan 39.720 40.367 40.782 40.983 42.011
Penduduk
6 Rasio Poliklinik Persatuan 119.159 77.064 77.856 78.240 80.204
Penduduk
7 Rasio Pustu Persatuan Penduduk 14.634 14.368 14.515 14.587 14.953
a
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang, 2021; Dispendukcapil Kabupaten Sampang, 2021

Dari data di atas menunjukkan bahwa ketersediaan Puskesmas belum


memenuhi standar kecukupan. Secara ideal rasio puskesmas adalah 1
puskesmas per 30.000 penduduk. Sedangkan pada tahun 2020 rasio di
Kabupaten Sampang yaitu 1 puskesmas per 42.011 penduduk. Sedangkan

II - 96 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

rasio poliklinik dan Pustu per satuan penduduk masing-masing sebesar


80.204 dan 14.953 per penduduk.

c. Rasio Rumah Sakit Per Satuan Penduduk


Rumah sakit adalah suatu organisasi yang memiliki tenaga medis
profesional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen
menyelenggarakan pelayanan kesehatan. asuhan keperawatan yang
berkesinambungan. diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh
pasien. Rasio rumah sakit per satuan penduduk di Kabupaten Sampang adalah
sebagai berikut:
Tabel 2.36
Jumlah dan Rasio Rumah Sakit per Jumlah Penduduk Kabupaten Sampang
Tahun 2015–2018
N 2019 2020
URAIAN 2016 2017 2018
o
Jumlah Rumah Sakit Umum 1 1 1 1 1
1
(Pemerintah)
Jumlah Rumah Sakit Jiwa/Paru dan 0 0 0 0 0
2 Penyakit Khusus Lainnya Milik
Pemerintah
3 Jumlah Rumah Sakit AD/AU/AL/POLRI 0 0 0 0 0
4 Jumlah Rumah Sakit Swasta 0 0 1 1 1
5 Jumlah Seluruh Rumah Sakit 1 1 2 2 2
6 Jumlah Penduduka 834.110 847.707 856.414 860.649 882.242

7 Rasio (per 100.000 penduduk) 0,12 0,12 0,23 0,23 0,23

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang, 2021; aDispendukcapil Kabupaten Sampang, 2021

d. Rasio Dokter Per Satuan Penduduk


Indikator rasio dokter (spesialis dan umum) per jumlah penduduk
menunjukkan tingkat pelayanan yang dapat diberikan oleh dokter
dibandingkan jumlah penduduk yang ada. Apabila dikaitkan dengan standar
sistem pelayanan kesehatan, idealnya 1 orang dokter melayani 15.000
penduduk. Jumlah Dokter di Kabupaten Sampang saat sudah memenuhi
kebutuhan sesuai standar rasio tersebut. Pada tahun 2018 rasio dokter di
Kabupaten Sampang yaitu 1,75 per 15.000 penduduk, artinya 1 orang dokter
melayani 8.571 penduduk.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 97
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Tabel 2.37
Rasio Jumlah Dokter Per Satuan Penduduk Kabupaten Sampang
Tahun 2016–2020
No URAIAN 2016 2017 2018 2019 2020
1 Jumlah dokter 78 132 100* 126 123
2 Jumlah penduduka 834.110 847.707 856.414 860.649 882.242
3 Rasio (per 15.000 penduduk) 1,40 2,34 1,75 2,19 2,09
a
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang, 2021; Dispendukcapil Kabupaten Sampang,
2021
Ket: *Hanya menghitung di RSUD dan Puskesmas

3. Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang


Beberapa indikator kinerja pada Urusan Pekerjaan Umum
menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Indeks kualitas
pelayanan jalan selama tiga tahun terakhir mengalami peningkatan. Indeks
tersebut merupakan representasi dari kondisi jalan, jembatan, dan drainase.
Adapun indeks kinerja sumberdaya air merupaka indikator yang digunakan
untuk mengukur kondisi jaringan irigasi dan kualitas pengelolaan sungai agar
mampu meningkatkan produksi hasil pertanian yang merupakan salah satu
sector penting dalam struktur perekonomian masyarakata Kabupaten Sampang.
Tabel 2.38
Indikator Kinerja Urusan Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
201
Indikator Kinerja Satuan 2017 2018 2019 2020
6
Indeks Kualitas Pelayanan n/a n/a 52,88 50,16 53,61
Jalan
Indeks Kinerja Sumberdaya n/a n/a 56,37 59,57 62,05
Air
Persentase Kepatuhan % 100 100 100 100 100
Pemanfaatan Ruang
terhadap RTRW
Persentase tingkat % n/a n/a 48,82 54,27 60,07
kemantapan jalan
kabupaten
Persentase Jaringan Irigasi % n/a n/a 81,57 83,74 87,22
dalam kondisi baik
Persentase kualitas % n/a n/a 31,17 37,14 36,89
pengelolaan sungai
Sumber: DPUPR Kabupaten Sampang, 2021

Berkaitan dengan Penataan Ruang di Kabupaten Sampang


menunjukkan kinerja yang stabil. Hal tersebut diindikasikan tindakan awal
terhadap pelanggaran di bidang penataan ruang juga sudah terlaksana 100
persen. Disamping itu, dokumen RTRW yang ditetapkan dengan Peraturan

II - 98 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Daerah juga sudah tersedia, namun demikian penjabaran dokumen RTRW


kedalam RDTRK yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah belum
terealisasi.
Dalam rangka meningkatkan kualitas dan efektifitas penyelenggaraan
penataan ruang dan untuk meningkatkan kualitas struktur ruang dan pola ruang
di Kabupaten Sampang serta untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam
penyelenggaraan penataan ruang maka telah disusun Peraturan Daerah
Kabuaten Sampang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Sampang Tahun 2012-2032. Berdasarkan amanah Peraturan Daerah
tersebut, maka seluruh aktiftas kegiatan yang dalam aktifitasnya memanfaatkan
ruang atau tempat atau lokasi baik aktifitas ekonomi, sosial dan pemerintahan
harus memiliki dokumen kesesuaian tata ruang wilayah/rekomendasi tata ruang
wilayah.
Urusan Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang di Kabupaten Sampang
dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang dengan
perkembangan layanan di bidang jalan, jembatan dan irigasi sebagai berikut:

Tabel 2.39
Kondisi Jalan, Jembatan, dan Jaringan Irigasi di Kabupaten Sampang
Uraian Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
A. Jalan Kabupaten km 1.112,636 1.112,636 1.379,270 1.379,270 1.379.270
- Kondisi baik km 497,682 519,935 673,307 778,521 828,574
- Kondisi rusak ringan km 255,906 244,780 302,564 218,503 270,000
- Kondisi rusak berat km 359,048 347,921 403,399 382,246 280,696
- Persentase dalam % 44,73 46,73 48,82 56,44 60,07
kondisi baik
B. Jembatan unit 353 353 353 353 353
Kabupaten
- Kondisi baik unit 187 194 201 214 230
- Kondisi rusak ringan unit 131 127 124 116 103
- Kondisi rusak berat unit 35 32 28 19 20
- Persentase dalam % 52,97 54,96 56,94 60,62 65,16
kondisi baik
C. Jaringan Irigasi

- Luas jaringan irigasi ha 5.031 5.031 5.031 5.031 5.031


total
- Luas jaringan irigasi ha 2.692,99 2.695,79 3.402,07 3.402,18 3.410,51
dalam kondisi baik
- Persentase luas % 53,53 53,58 67,62 67,62 67,79
jaringan irigasi dalam
kondisi baik
Sumber: DPUPR Kabupaten Sampang, 2021

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 99
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Kondisi jalan kabupaten dalam kondisi baik mengalami


peningkatan selama beberapa tahun terakhir. Kondisi jalan kabupaten yang
baik sebesar 48,82 persen pada tahun 2018 menjadi 60,07 persen pada tahun
2020. Begitu pula kondisi jembatan kabupaten juga mengalami peningkatan dari
56,94 persen pada tahun 2018 menjadi 65,16 persen pada tahun 2020. Adapun
jaringan irigasi dalam baik juga menunjukkan peningkatan dari 67,62 persen
pada tahun 2018 menjadi 67,79 persen pada tahun 2020.

4. Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman


Penyelenggaran urusan Perumahan Rakyat dan Kawasan
Permukiman di Kabupaten Sampang dilaksanakan oleh Dinas Perumahan
Rakyat dan Kawasan Permukiman. Secara umum, kualitas perumahan dan
permukiman di Kabupaten Sampang menunjukkan kondisi yang semakin baik
dan layak huni. Hal tersebut diindikasikan oleh meningkatnya cakupan
perumahan sehat yang didukung PSU, persentase rumah layak huni, persentase
rumah tangga berakses air minum, persentase rumah tangga berakses sanitasi;
serta menurunnya Persentase permukiman kumuh sebagaimana ditunjukkan
tabel berikut:
Tabel 2.40
Indikator Kinerja Urusan Perumahan dan Kawasan
Satua
Indikator Kinerja 2016 2017 2018 2019 2020
n
Persentase Perumahan dan persen 14,55 16,0 52,03 63,17 67,13
Permukiman Sehat 0
Persentase permukiman kumuh persen 0 0,94 1,06 0,107 0,01
persen 47,67 47,6 47,71 57,96 58,00
Persentase rumah layak huni
8
Persentase rumah tangga berakses persen 33,00 33,7 35,54 44,44 45,00
air minum 0
Persentase rumah tangga berakses persen 57,35 57,8 58,86 65,37 65,92
sanitasi 8
Sumber: DPRKP Kabupaten Sampang, 2021

Kinerja urusan perumahan dan kawasan mengalami peningkatan


dalam beberapa tahun terakhir. Cakupan perumahan sehat yang didukung
PSU mengalami peningkatan yang sangat pesat yaitu dari 16,00 persen tahun
2017 menjadi 67,13 persen tahun 2018. Persentase rumah tangga berakses air
minum dan sanitasi mengalami peningkatan masing–masing menjadi 45,00

II - 100 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

persen dan 65,92 persen pada tahun 2020. Persentase pemukiman kumuh
mengalami penurunan dari 1,06 persen tahun 2018 menjadi 0,01 persen tahun
2020.

5. Ketenteraman, Ketertiban Umum, dan Pelindungan Masyarakat


Penyelenggaran Urusan Ketenteraman, Ketertiban Umum, dan
Pelindungan Masyarakat di Kabupaten Sampang dilaksanakan oleh Satpol
PP. Beberapa Indikator kinerja menunjukkan perkembangan yang baik pada
kondisi tiga tahun terakhir. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya
persentase cakupan tingkat penyelesaian pelanggaran K3 (Ketertiban,
Ketentraman, Keindahan) dan persentase penanganan bahaya bencana
kebakaran. Perkembangan indikator kinerja Urusan Urusan Ketenteraman,
Ketertiban Umum, dan Pelindungan Masyarakat ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 2.41
Indikator Kinerja Urusan Ketenteraman, Ketertiban Umum, dan
Pelindungan Masyarakat
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Persentase Penurunan persen n/a n/a 9,52 -71,05 40
Gangguan Ketentraman
Masyarakat dan Ketertiban
Umum
Sumber: Satpol PP Kabupaten Sampang, 2021

Persentase penurunan gangguan keamanan dan ketertiban Sasaran


RPJMD Kabupaten Sampang tahun 2020 target 4,55% dan terealisasi 40% atau
sebesar 879,12%. Selama tahun 2020 jumlah gangguan ketentraman masyarakat
dan ketertiban umum sebanyak 90 gangguan menurun dibandingkan tahun
2019 terjadi 150 gangguan.

6. Sosial
Beberapa kinerja penyelenggaraan urusan sosial di Kabupaten
Sampang menunjukkan perubahan yang fluktuatif selama 5 (lima) tahun
terakhir. Persentase jumlah PMKS yang ada sebanyak 80.039 orang terhadap
jumlah penduduk sebesar 882.242 orang. Angka tersebut belum mencapai target
yang ditetapkan dalam dokumen RKPD Perubahan TAhun 2020 yaitu 8,90%
dengan capaian sebesar 90,09%. Hal ini terjadi karena adanya penambahan
jumlah PMKS sebesar 689 orang dari fakir miskin (desil 1) sebagai dampak

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 101
Gambaran Umum Kondisi Daerah

adanya pandemi Covid-19. Persentase jumlah PMKS yang mendapatkan bantuan


sebanyak 55.736 orang (terdiri dari Fakir Miskin sebanyak 4.499 orang,
Disabilitas sebanyak 149 orang, Orang Terlantar sebanyak 81 orang, Anak
Berhadapan dengan Hukum sebanyak 44 orang, Orang dengan Gangguan Jiwa
sebanyak 52 orang, Lansia sebanyak 2.366, dan Korban Bencana Alam/Korban
COVID-19 sebanyak 48.545 orang) terhadap jumlah PMKS yang ada sebanyak
80.039 orang. Angka tersebut melebihi target yang ditetapkan dengan capaian
sebesar 2.246,45%. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan jumlah bantuan
bagi Masyarakat terdampak bencana Covid-19 di 14 Kecamatan yang di fasilitasi
APBD Kab. Sampang pada program Bantuan Tidak Terduga (BTT) sebanyak
48.545 orang.
Tabel 2.42
Indikator Kinerja Urusan Sosial Kabupaten Sampang
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Persentase PMKS % 10,38 9,90 9,68 8,77 9,07
Persentase PMKS yang terpenuhi % 12,76 13,44 1,81 1,77 69,64
kebutuhan dasarnya
Sumber: Dinas Sosial Kabupaten Sampang, 2021

2.3.2 Fokus Urusan Wajib Bukan Layanan Dasar


Urusan Wajib Bukan Layanan Dasar yang dijelaskan pada bagian ini
sebanyak 17 urusan. Urusan tersebut terdiri dari urusan tenaga kerja,
pemberdayaan perempuan dan pelindungan anak, pangan, pertanahan, lingkungan
hidup, administrasi kependudukan dan pencatatan sipil, pemberdayaan masyarakat
dan desa, pengendalian penduduk dan keluarga berencana, perhubungan,
komunikasi dan informatika, koperasi, usaha kecil dan menengah, penanaman
modal, kepemudaan dan olah raga, statistik, kebudayaan, perpustakaan, serta urusan
kearsipan. Perkembangan dari indikator-indikator kinerja urusan wajib pelayanan
dasar adalah sebagai berikut:
1. Tenaga Kerja
Aspek pelayanan umum dalam urusan ketenaga kerjaan diukur
menggunakan indikator Persentase Pencari Kerja yang Dilatih di BLK dan
Persentase Pencari Kerja yang Ditempatkan. Selama 5 (lima) tahun terakhir
perkembangan capaian indikator mengalami peningkatan namun pada tahun

II - 102 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

2020 karena adanya pandemic covid-19 yang mengakibatkan adanya refocusing


anggaran, sehingga pelaksanaan pelatihan tidak berjalan maksimal. Urusan
Tenaga Kerja di Kabupaten Sampang dilaksanakan oleh Dinas Koperasi, Usaha
Mikro dan Tenaga Kerja dengan perkembangan kinerja sebagai berikut:
Tabel 2.43
Indikator Kinerja Urusan Tenaga Kerja
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Persentase Pencari Kerja yang persen 64,48 67,31 69,04 97,5 38
Dilatih di BLK
Persentase pencari kerja yang persen 22,51 58,60 94,66 95,73 56,91
ditempatkan
Sumber: Diskumnaker Kabupaten Sampang, 2021

2. Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak


Urusan Pemberdayan Perempuan dan Pelindungan Anak di
Kabupaten Sampang dilaksanakan oleh Dinas Keluarga Berencana,
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBPPPA) dengan rincian
perkembangan kinerja sebagai berikut:
Tabel 2.44
Indikator Kinerja Urusan Pemberdayan Perempuan dan Pelindungan Anak
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Indeks Pemberdayaan Gender n/a 48,1 49,67 55,99 n/a
(IDG)b 8
Persentase Keterlibatan persen 2,22 2,22 2,22 6,67 6,67
Perempuan di Parlemenb
Persentase Perempuan sebagai persen n/a 36,3 39,71 42,56 n/a
Tenaga Profesionalb 2
Persentase Sumbangan persen n/a 30,9 31,02 31,14 n/a
Pendapatan Perempuan 8
Sumber: aBPS Nasional, 2021; bKementerian PPPA, 2021

3. Pangan
Berdasarkan perhitungan Realisasi Indeks Ketahanan Pangan (IKP)
kabupaten sampang tahun 2020 mencapai 69,91 artinya Kabupaten Sampang
Cukup Tahan Pangan dan mengalami penurunan dibanding realisasi tahun
2019 yaitu sebesar 0,38. Nilai Indeks Ketahanan Pangan Daerah merupakan hasil
penjumlahan dari 3 (tiga) nilai aspek kerentanan pangan antara lain :

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 103
Gambaran Umum Kondisi Daerah

a. Aspek ketersediaan Pangan = 48,06


b. Aspek Keterjangkauan Pangan = 12,08
c. Aspek Pemanfaatan Pangan = 9,77
Tabel 2.45
Perkembangan Indikator Kinerja Urusan Pangan
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Indeks Ketahanan Pangan n/a n/a 68,69 70,29 69,91
Skor PPH Ketersediaan - 73,96 73,96 79,47 83,56 81,16
Skor PPH Konsumsi 79,40 86,47 81,50 85,38 87,7
Sumber: DKP Kabupaten Sampang, 2021

Indeks ketahanan pangan mengalami penurunan sebanding dengan


penurunan skor PPH Ketersediaan tahun sebelumnya. Nilai Skor PPH
Ketersediaan merupakan penjumlahan nilai energi dari setiap bahan pangan
dikalikan dengan bobot yang ditetapkan pada Widya Karya Nasional Pangan dan
Gizi (WKNPG) 2012 yaitu sebesar 2.400 kkal/kap/hari. Adapun Skor PPH
Konsumsi mengalami kenaikan yang artinya Hal ini mencerminkan bahwa mutu
gizi konsumsi pangan dan tingkat keanekaragaman konsumsi pangan
masyarakat Sampang sudah cukup tahan pangan.
Tujuan utama penyusunan PPH adalah untuk membuat rasionalisasi
pola konsumsi pangan yang dianjurkan yang terdiri dari kombinasi aneka ragam
pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi dan sesuai cita rasa. Dengan
pendekatan PPH, keadaan perencanaan penyediaan dan konsumsi pangan
penduduk diharapkan tidak hanya dapat memenuhi kecukupan gizi tetapi
sekaligus mempertimbangkan keseimbangan gizi yang didukung cita rasa, daya
terima masyarakat kuantitas dan kemampuan daya beli.
4. Pertanahan
Penatagunaan tanah merupakan salah satu urusan yang penting untuk
ditangani. Perkembangan Penyelesaian Pengaduan Masyarakat tentang
pertanahan di Kabupaten Sampang selama periode 2016-2020 dapat dilihat
dalam tabel di bawah ini.

II - 104 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Tabel 2.46
Perkembangan Indikator Kinerja Urusan Pertanahan
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Persentase penyelesaian % 11,76 11,76 17,86 10,71 66,67
pengaduan masyarakat
tentang pertanahan
Persentase Luas Lahan % 10,39 10,39 10,40 10,40 18,36
Bersertifikat
Sumber: DPRKP Kabupaten Sampang, 2021

Jumlah pengaduan masyarakat tentang pertanahan sampai dengan tahun


2020 sebanyak 3 pengaduan, yang diselesaikan sebanyak 2 pengaduan.
Pengaduan tentang pertanahan yang belum terselesaikan adalah kasus tanah
RSUD Moh. Zyn. Luas lahan di Kabupaten Sampang yang telah bersertifikat
selama 5 (lima) tahun mengalami peningkatan yang menunjukkan bahwa
semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan tertib administrasi dalam
urusan pertanahan. Pada tahun 2020 luas lahan yang sudah berstifikat di
Kabupaten Seampang sebanyak 226.406.417 Ha.

5. Lingkungan Hidup
Perkembangan kinerja urusan lingkungan hidup di Kabupaten
Sampang menunjukkan perkembangan yang fluktuatif pada beberapa
indikator kinerja. Hal ini ditunjukkan dengan Indeks Kualitas Lingkungan
Hidup (IKLH) yang mengalami penurunan sejak tahun 2019 yang disebabkan
oleh penurunan indeks kualitas tutupan lahan. lKTL mengalami penurunan
dikarenakan ada penurunan setiap jenis tutupan lahan hutan dan non hutan
yang lumayan tinggi.
Luas lahan kritis juga direhabilitasi sampai pada tahun 2020 seluas 473
ha. Ruang Terbuka Hijau (RTH) juga mengalami peningkatan dari 32 persen
pada tahun 2016 menjadi 35,86 persen pada tahun 2020. Penyelenggaraan
urusan lingkungan hidup di Kabupaten Sampang dilaksanakan oleh Dinas
Lingkungan Hidup dengan rincian perkembangan kinerja sebagai berikut:

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 105
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Tabel 2.47
Indikator Kinerja Urusan Lingkungan Hidup
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
IKLH - 51,46* 51,70* 73,85 73,70 72,53
Indeks Kualitas Air - 43,50 43,52 53,64 50,49 53
Indeks Kualitas Udara - 77,40 77,67 76,60 79,91 83,77
Indeks Kualitas - - - 86,83 86,45 78,74
Tutupan Lahan
(IKTL)
Luas lahan kritis yang ha 265 375 399 419 473
direhabilitasi
Luas Tutupan Hutan ha 18.919 19.444 18.319 18.099 17.874
Ruang Terbuka Hijau persen 32,00 33,33 33,70 33,96 35,86
Sumber: DLH Kabupaten Sampang, 2021

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kab. Sampang jika dibandingkan


dengan PDRB Kab. Sampang menggambarkan bahwa dengan meningkatnya nilai
PDRB Kab. Sampang dalam kurun waktu 5 (lima) tahun tidak sebanding dengan
nilai IKLH yang menunjukkan bahwa aktivitas perekonomian tidak
memperhatikan aspek lingkungan terutama dalam sector tutupan lahan.

6. Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil


Pada beberapa indikator, kinerja dalam Urusan Kependudukan dan
Pencatatan Sipil menunjukkan peningkatan. Perkembangan kinerja
penyelenggaraan urusan kependudukan dan pencatatan sipil di Kabupaten
Sampang, yang dilaksanakan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil adalah
sebagai berikut:
Tabel 2.48
Indikator Kinerja Urusan Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Persentase penduduk yang persen 63,72 60,9 69,61 69,7 72,05
memiliki dokumen kependudukan 7 1
Persentase penduduk yang persen 25,01 25,5 37,08 41,9 44,89
memiliki dokumen pencatatan 7 8
sipil
Sumber: Dispendukcapil Kabupaten Sampang, 2021

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan hal-hal sebagai berikut:


a. Jumlah penduduk yang memiliki dokumen kependudukan (KTP elektronik
dan KIA) pada tahun 2020 sebanyak 639.642 jiwa atau 72,50%. Masih ada
penduduk di Kabupaten Sampang yang belum memiliki dokumen
kependudukan, karena :

II - 106 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

 penduduk yang kategori lanjut usia (lansia) belum seluruhnya memiliki


dokumen kependudukan;
 penduduk Sampang yang bekerja diluar Sampang dan atau luar negeri;
 jaringan internet di beberapa desa belum memadai untuk mendukung
pelayanan dengan mobil keliling;
 tingkat pemahaman masyarakat terhadap pentingnya KIA masih belum
maksimal dan pelayanan jemput bola tidak berjalan terkendala pandemi
Covid-19.
b. Penduduk yang memiliki dokumen pencatatan sipil (Akta kelahiran dan akta
kematian) sampai dengan tahun 2020 sebanyak 396.286 jiwa atau 44,89%.
Walaupun jumlah penduduk yang memiliki dokumen penacatan sipil
terdapat peningkatan namun jumlah tersebut belumlah mencapai target
yang ditentukan dalam dokumen RKPD-P tahun 2020 yaitu 45,62%. Hal
tersebut dikarenakan tingkat pemahaman akan pentingnya dokumen
pencatatan sipil masih kurang khususnya usia dewasa diatas 18 tahun dan
dampak pandemi Covid-19 berpengaruh terhadap upaya percepatan
pelayanan akta pencatatan sipil. Inovasi senantiasa dilakukan untuk
memberikan pelayanan yang maksimal terhadap masyarakat antara lain:
 LAPAK SERDADU (Layanan Paket Administrasi Kependudukan Satu
Berkas Dapat Dua),
 PELAPAS DAHAGA (Pelayanan Paket Administrasi Kependudukan Satu
Dapat Tiga),
 SAKERA MESEM (Satu Pintu Administrasi Kependudukan Rakyat
Menjadi Sejahtera dan Membahagiakan),
RESEP DOKTER (Reaksi Cepat Dokumen Terselesaikan)

7. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa


Upaya pemerintah dalam peningkatan Desa Mandiri serta pengentasan
Desa Tertinggal perlu didukung dengan adanya Penyusunan Indeks Desa
Membangun. Indeks Desa Membangun adalah Indeks Komposit yang dibentuk
dari Indeks Ketahanan Sosial, Indeks Ketahanan Ekonomi dan Indeks Ketahanan

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 107
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Ekologi Desa (Permendesa Nomor 2 Tahun 2016), yang bertujuan untuk: a)


menetapkan status kemajuan dan kemandirian Desa serta b) menyediakan data
dan informasi dasar bagi pembangunan Desa.
Status Desa berdasarkan Indeks Desa Membangun diklasifikasikan
menjadi 5 Status, yaitu: Desa Mandiri, Desa Maju, Desa Berkembang, Desa
Tertinggal dan Desa Sangat Tertinggal. Klasifikasi Status Desa ditetapkan dengan
ambang batas sebagai berikut:
1) Desa Mandiri adalah Desa dengan IDM > 0,8155.
2) Desa Maju adalah Desa dengan IDM > dari 0,7072 dan ≤ 0,8155
3) Desa Berkembang adalah Desa dengan IDM > 0,5989 dan ≤ 0,7072
4) Desa Tertinggal adalah Desa dengan IDM > 0,4907 dan ≤ 0,5989
5) Desa Sangat Tertinggal adalah Desa dengan IDM ≤ 0,4907
Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pembangunan dan
Pemberdayaan Masyarakat Desa Nomor 303 Tahun 2020 Indeks Desa
Membangun (IDM) Kabupaten Sampang meningkat menjadi 0,662 dari target
yang direncanakan sebesar 0,61, artinya kondisi indeks ketahanan social (IKS),
indeks ketahanan ekonomi (IKE) dan indeks ketahanan lingkungan (IKL) yang
menjadi bagian dalam menentukan IDM meningkat dari tahun sebelumnya
sehingga kemampuan dan kemandirian desa lebih baik/meningkat. Adapun
perkembangan kinerja sebagai berikut:
Tabel 2.49
Indikator Kinerja Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Indeks Desa Membangun n/a n/a 0,580 0,648 0,662
(IDM)
Jumlah Desa Mandiri % 14 14 14 16 18
Persentase Desa dengan %
Tata Kelola Pemerintahan
Desa yang Baik
Sumber: DPMD Kabupaten Sampang, 2021

8. Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana


Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan Laju Pertumbuhan
Penduduk (LPP) sebagai angka yang menunjukkan tingkat pertambahan
penduduk pertahun dalam jangka waktu tertentu. LPP ini digunakan untuk
mengetahui perubahan jumlah penduduk antar dua periode waktu. Angka ini

II - 108 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

dinyatakan sebagai persentase dari penduduk dasar. Laju Pertumbuhan


Penduduk dapat dihitung mengunakan tiga metode, yaitu aritmatik, geometrik,
dan eksponensial. Sedangkan mentode yang sering digunakan di BPS adalah
metode geometrik.
Adapun untuk laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Sampang
menggunakan metode eksponensial dengan asumsi pertumbuhan penduduk
berlangsung terus menerus akibat adanya kelahiran dan kematian di setiap
waktu. Adapun laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Sampang dapat
dilihat sebagaimana berikut:

1.4

1.2 1.19

0.97 0.99
1

0.87
0.8

0.6

0.4
0.33

0.2

0
2016 2017 2018 2019 2020

Sumber: DKBPPPA Kabupaten Sampang, 2021


Grafik 2.10
Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Sampang Tahun 2016-2020

Kabupaten Sampang behasil mengendalikan Laju Pertumbuhan


Penduduk (LPP) pada beberapa tahun terakhir mendekati angka satu,
artinya jumlah penduduk relatif tetap dan mampu ditekan. Hal ini dikarenakan
keberhasilan pembangunan keluarga berencana, yang didukung oleh perbaikan
kondisi kesehatan dan ekonomi penduduk.
Indikator yang mendukung pencapaian pengendalian laju pertumbuhan
adalah sebagai berikut:

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 109
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Tabel 2.50
Indikator Kinerja Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Persentase Pasangan Usia % 72,58 75,72 75,09 73,51 72,41
subur menjadi peserta KB
aktif
Total Fertllity Rate (TFR) % n/a n/a 2,1 2,05 1,99
Sumber: Dinkes-KB Kabupaten Sampang, 2021

Persentase Pasangan Usia Subur menjadi peserta KB aktif Kabupaten


Sampang tahun 2020 sebesar 72,41% diperoleh dari jumlah peserta KB aktif
sebanyak 171.676 akseptor dibagi Jumlah PUS sebanyak 237.094 pasang.
Capaian indikator ini masih belum memenuhi target uang ditentukan yaitu
77,11%. Indikator ini berguna untuk mengukur perbaikan kesehatan ibu melalui
pengaturan kelahiran. Indikator ini juga digunakan sebagai proksi untuk
mengukur akses terhadap pelayanan reproduksi kesehatan yang sangat esensial.
Untuk menetapkan kebijakan pengendalian kependudukan, penyediaan
pelayanan KB serta sterilisasi, pemasangan IUD, persiapan alat dan obat, serta
pelayanan konseling untuk menampung kebutuhan dan menanggapi keluhan
pemakaian kontrasepsi.
Capaian indikator TFR tahun 2020 di Kabupaten Sampang adalah
sebesar 1,99% artinya bahwa wanita (usia 15-49 tahun) secara rata-rata
mempunyai 1-2 anak selama masa usia suburnya. Capaian ini sudah melebihi
target yang ditentukan yaitu 2%. TFR yang tinggi merupakan cerminan rata-rata
usia kawin yang rendah, tingkat pendidikan rendah terutama wanitanya dan
tingkat sosial ekonomi rendah (tingkat kemiskinan tinggi).

9. Perhubungan
Pemenuhan kebutuhan pelayanan trasportasi merupakan salah
satu hak dasar setiap warga Negara yang harus dipenuhi oleh pemerintah.
Kebutuhan layanan trasportasi di Kabupaten Sampang dari waktu ke waktu
selalu mengalami peningkatan baik secara kualitas maupun kuantitas. Seiring
dengan peningkatan kebutuhan pelayanan trasportasi ini, maka timbul
persoalan di dalam penyelenggaraannya. Transportasi merupakan salah satu
sektor yang cukup besar perannya dalam pembangunan suatu daerah. Panjang
jalan dapat menunjukkan tingkat keterbukaan dan perkembangan masyarakat

II - 110 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

suatu wilayah. Semakin panjang suatu jalan, maka tingkat keterbukaan dan
perkembangannya semakin tinggi. Oleh karena itu, tersedianya fasilitas jalan
yang sangat dibutuhkan dalam melayani kebutuhan masyarakat terutama
menggerakkan lalu lintas perekonomian. Kinerja pemenuhan sarana prasarana
perhubungan darat maupun laut di Kabupaten Sampang sebagaimana
ditunjukkan table berikut:
Tabel 2.51
Kinerja Pemenuhan Sarana Prasarana Perhubungan Darat dan Darat Laut
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Indeks Layanan n/a n/a 7 7,2 7,30
Perhubungan*
Jumlah Sarana dan Prasarana Unit 12.262 12.865 13.215 13.890 14.432
Perhubungan Darat Dalam
Kondisi Baik
Jumlah Sarana dan Prasarana unit 24 27 27 33 39
Perhubungan Laut dalam
kondisi Baik
Sumber: Dinas Perhubungan Kabupaten Sampang, 2021

Kinerja pemenuhan sarana prasaranana perhubungan


menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Jumlah saranan dan
prasarana perhubungan darat dalam kondisi baik menunjukkan peningkatan
dari 13.215 unit tahun 2018 menjadi 14.432 unit tahun 2020. Sedangkan jumlah
cakupan penyediaan sarana perhubungan laut mengalami peningkatan dari 27
unit pada tahun 2018 menjadi 39 unit pada tahun 2020.

10.Komunikasi dan Informatika


Evaluasi SPBE ini merupakan proses penilaian terhadap
pelaksanaan SPBE di Instansi Pemerintah untuk menghasilkan suatu nilai
Indeks SPBE yang menggambarkan tingkat kematangan (maturity level) dari
pelaksanaan SPBE di Instansi Pemerintah. Ada 3 (tiga) unsur penting dalam
penerapan SPBE tersebut, yaitu: Penyelenggaraan pemerintahan merupakan
unsur tata kelola dari birokrasinya, kehandalan Teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) sebagai pengungkit (enabler) dalam pelaksanaannya, dan yang
terakhir adalah kemudahan layanan pemerintah yang diberikan kepada
pengguna, sesuai tugas dan fungsinya masing-masing.Dari 3 (tiga) unsur yang
dievaluasi, aspek kehandalan Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 111
Gambaran Umum Kondisi Daerah

aspek layanan pemerintah yang nilainya masih rendah, sedangkan untuk aspek
kebijakan sudah baik.
Dari hasil evaluasi tersebut menunjukkan bahwa tingkat kematangan
SPBE di Kabupaten Sampang menunjukkan predikat CUKUP, namun pada tahun
2020 nilai indeks SPBE Kab. Sampang belum tersedia karena tidak termasuk
dalam Kabupaten yang di evaluasi oleh Menpan RB. Berikut adalah
perkembangan realisasi indeks SPBE selama lima tahun terakhir:
Tabel 2.52
Indikator Kinerja Urusan Komunikasi dan Informatika
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Indeks SPBE unit n/a n/a 1,50 1,81 n/a
Sumber: Diskominfo Kabupaten Sampang, 2021

11.Koperasi dan Usaha Kecil Menengah


Secara umum, kinerja dalam urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah
menunjukkan peningkatan. Persentase Koperasi Aktif Bersertifikat merupakan
indikator kinerja dengan formulasi rumusan Jumlah koperasi bersetifikat NIK
dibanding dengan jumlah koperasi aktif pada tahun 2020 dan terealisasi sebesar
50.90% dimana Jumlah koperasi bersetifikat NIK tahun 2020 sebesar 141
koperasi Bersertifikat berbanding dengan jumlah koperasi yang aktif sebanyak
277 koperasi. Sedangkan target yang dicanangkan sebesar 50,90%. sehingga
capaian kinerja terpenuhi 100%. Hal tersebut karena banyaknya gerakan
koperasi yang melakukan RAT dan sudah memenuhi persyaratan perpanjangan
untuk Pengajuan NIK. Jika di bandingkan sertifikat tahun sebelumnya yang
sebanyak 128 Koperasi, maka mengalami peningkatan kenaikan sebanyak 13
koperasi yang tersertifikasi. Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah di
Kabupaten Sampang dengan rincian perkembangan kinerja sebagai berikut:
Tabel 2.53
Indikator Kinerja Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah

Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020

Persentase Koperasi % 55,38 47,77 55,38 47,06 50,9


Aktif Bersertifikat
Persentase % n/a n/a 2,58 3,01 3,36
Pertumbuhan UM
Mandiri
Sumber: Diskumnaker Kabupaten Sampang, 2021

II - 112 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Indikator Persentase Pertumbuhan UM Mandiri adalah pertumbuhan


pelaku usaha yang dalam kegiatan usahanya sudah memiliki izin –izin
usaha/legalitas untuk bisa akses dan layak pada kegiatan partisipasi
peningkatan pembangunan ekonomi. Persentase Pertumbuhan UM Mandiri pada
tahun 2020 dari target 3.18% yang cantumkan dapat terealisasi sebesar 3.36%
(=(2.120 -2.051)/L13*100)) sehingga capaian kinerja sebesar 105.90%. dengan
penumbuhan 69 UM mandiri. Jika di banding dengan penambahan tahun 2019
sebanyak 60 UM Mandiri, maka pada tahun 2020 terjadi Penambahan 69 UM
Mandiri. Tercapainya Peningkatan Indikator kinerja tersebut diatas karena telah
dilakukanya berbagai pembinaan melalui edukasi yang dilakukan segenap para
Tenaga Konsultan Bisnis (TKB), Para pembina OPD terkait serta melalui
serangkaian pemberdayaan seperti Penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan,
Peningkatan usaha ekonomi produktif dan kreatif bagi KUMKM, Pemberian
Bantuan pembiayaan modal usaha serta penyelenggaraan promosi hasil produk
KUMKM.

12.Penanaman Modal
Secara umum, kinerja dalam Urusan Penanaman Modal di
Kabupaten Sampang mengalami perkembangan yang fluktuatif. Kondisi
tersebut dapat dilihat dari grafik persentase kenaikan investasi selama 5 (lima)
tahun terakhir. Pada Tahun 2020 investasi Kab. Sampang tidak mengalami
kenaikan realisasi investasi karena banyaknya pelaku usaha besar yang tidak
dapat mengembangkan usahanya sehingga menarik investasinya di Kab.
Sampang. Urusan penanaman modal di Kabupaten Sampang dilaksanakan oleh
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dengan
perkembangan kinerja sebagai berikut:

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 113
Gambaran Umum Kondisi Daerah

124.76

13.8
9.7 9.96
-10.94
2016 2017 2018 2019 2020

-29.69

Target Realisasi

Sumber: DPMPTSP Kabupaten Sampang, 2021

Grafik 2.11
Perkembangan Persentase Kenaikan Realisasi Investasi

Realisasi investasi pada tahun 2020 mengalami penurunan yang cukup


signifikan. Namun demikian walaupun nilai investasi mengalami penurunan
jumlah pelaku usaha bertambah karena banyaknya korban PHK yang pulang
kampung serta memilih untuk buka usaha mikro yang mampu menyerap tenaga
kerja dari tahun 2019 jumlah tenaga kerja sebanyak 2.658 meningkat menjadi
10.709 orang di tahun 2020. Kondisi kinerja penanaman modal dapat dilihat
dalam tabel berikut:
Tabel 2.54
Indikator Kinerja Urusan Penanaman Modal

Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020

Jumlah investor berskala orang 302 507 822 840 2.523


nasional (PMDN/PMA)
Jumlah nilai investasi juta 380.107 338.577 385.297 422.583 408.514
berskala nasional rupiah
(PMDN/PMA)
Sumber: DPM PTSP Kabupaten Sampang, 2021

13.Kepemudaan dan Olah Raga


Kinerja dalam urusan Pemuda dan Olahraga di Kabupaten Sampang
mengalami peningkatan pada dua indikator kinerja. Urusan kepemudaan dan
olahraga meliputi perumusan kebijakan, evaluasi dan pelaporan bidang
kepemudaan dan olahraga. Kebijakan dalam bidang ini bertujuan untuk
mendorong peran aktif organisasi kepemudaan daerah dalam pembangunan

II - 114 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

serta mendongkrak prestasi dalam cabang-cabang olah raga yang memerlukan


pembinaan. Persentase peningkatan prestasi pemuda di tingkat nasional sebagai
berikut:
Tabel 2.55
Indikator Kinerja Kepemudaan dan Olah Raga
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Persentase Peningkatan % - - 8 107,69 -94,44
Prestasi Pemuda di Tingkat
Nasional
Sumber: Disporabudpar Kabupaten Sampang, 2021

Capaian persentase peningkatan prestasi pemuda di tingkat nasional


pada tahun 2020 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, hal ini
dikarenakan pandemi covid 19 dimana banyak event-event / perlombaan yang
ditunda dan tidak ada kepastian pelaksanaan event sampai akhir tahun baik dari
provinsi maupun pusat. Pada tahun 2019 prestasi nasional yang diperoleh
sebanyak 54 prestasi sedangkan pada tahun 2020 prestasi nasional yang
diperoleh sebanyak 3 prestasi. Prestasi Tingkat Nasional / Internasional yang
diperoleh sebagai berikut :
a. Juara 1 Pemuda Pelopor Tingkat Nasional Kementerian Pemuda dan Olaraga
Republik Indonesia Bidang Agama, Sosial dan Budaya oleh Abdul Rozak, SH;
b. KEJURNAS Bulog Cup (Juara II) Ganda Putra di Kutai Kartanegara Tahun 2020
oleh Ari Fahresi;
c. KEJURNAS Bulog Cup (Juara I) Ganda Putra di Kutai Kartanegara Tahun 2020
oleh M. Gunawan T.

14.Statistik
Perkembangan urusan statistik tidak mengalami perubahan dari
tahun 2016 hingga 2020. Jenis Dokumen Statistik yang disediakan meliputi
terdiri dari Buku Tinjauan Ekonomi Makro, Executive Summary SUSENAS
Kabupaten Sampang, Kompilasi Data Kabupaten (DDA), Kompilasi Data
Kecamatan (KDA). Urusan statistik di Kabupaten Sampang dilaksanakan oleh
Dinas Komunikasi dan Informatika yang bekerjasama dengan BPS Kabupaten
Sampang. Badan ini bertugas melakukan proses pengumpulan, penyusunan,
publikasi dan analisa terkait data kuantitatif yang ada di Kabupaten Sampang.

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 115
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Perkembangan kinerja urusan statistik di Kabupaten Sampang adalah sebagai


berikut:
Tabel 2.56
Indikator Kinerja Urusan Statistik
201 201 201
Indikator Kinerja Satuan 2016 2020
7 8 9
Persentase Penyediaan Data Statistik
% 100 100 100 100 100
dalam Pembangunan
Sumber: Diskominfo Kabupaten Sampang, 2021

15.Kebudayaan
Kinerja urusan kebudayaan di Kabupaten Sampang pada Tahun
2020 adalah persentase budaya daerah yang dilestrikan sesuai dengan target
100%, hal ini sesuai dengan yang diharapkan. Pada tahun 2019 budaya daerah
yang dilestarikan sebanyak 17 budaya daerah dari target 42 budaya daerah yang
dilestrikan, sedangkan pada tahun 2020 budaya daerah yang dilestarikan
terealisasi sebanyak 19 budaya daerah dari target 42 budaya daerah yang
dilestarikan, jadi ada 2 (dua) penambahan budaya daerah yang dilesetarikan
yaitu Pa’ Kupak dan Mantan Toddu’ rincian perkembangan kinerja sebagai
berikut:

Tabel 2.57
Indikator Kinerja Urusan Kebudayaan
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Persentase Budaya Daerah yang Buah n/a n/a 35,7 40,48 45,24
Dilestarikan 1
Sumber: Disporabudpar Kabupaten Sampang, 2021

16.Perpustakaan
Indeks Minat Baca Masyarakat Kabupaten Sampang selama 2 (dua)
terakhir menunjukkan peningkatan didukung oleh Program Pengelolaan
Perpustakaan dan Program Pengelolaan Kearsipan. Selain dengan
pengukuran indeks minat baca kinerja perpustakaan juga digambarkan
dengan Jumlah kunjungan perpustakaan (dan kearsipan) selama tiga
tahun terakhir menunjukkan penurunan. Pada tahun 2019, jumlah
pengunjung perpustakaan sebayak 36.058 orang. Jumlahnya menurun pada
tahun 2020 menjadi 18.062 orang karena adanya pandemi Covid-19 yang

II - 116 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

menyebabkan semua jenis pelayanan di Perangkat Daerah harus ditutup


sementara. Jumlah ini merupakan kunjungan perpustakaan Tahun 2020 dari :
- Perpustakaan MOHAMMAD NOER
- Car Free Day (pada Triwulan I)
- Mobil Perpustakaan Keliling yang mengunjungi sekolah-sekolah di 14
Kecamatan di Kabupaten Sampang (pada Triwulan I)
- Kunjungan TK ke Rumah Pintar (pada Triwulan I) dan Kunjungan Rumah
Pintar ke TK atau rumah-rumah penduduk di Desa/Luring (pada
Triwulan III dan IV)
Tabel 2.58
Indikator Kinerja Urusan Perpustakaan
Satua
Indikator Kinerja 2016 2017 2018 2019 2020
n
Indeks Minat Baca n/a n/a 34,94 37,08 37,03
 17.58 36.08
Jumlah kunjungan perpustakaan orang 13.730 24.355 18.062
9 5
Sumber: Disarpus Kabupaten Sampang, 2021; Ket n/a data tidak tersedia

17.Kearsipan
Penyelenggaraan Urusan Kearsipan dan Urusan Perpustakaan di
Kabupaten Sampang dilaksanakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan
(Disarpus). Perkembangan kinerja Urusan Kearsipan di Kabupaten Sampang
adalah sebagai berikut:
Tabel 2.59
Indikator Kinerja Urusan Kearsipan
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Jumlah kunjungan orang n/a n/a 786 5.066 1.631
kearsipan
Sumber: Disarpus Kabupaten Sampang, 2021

Jumlah pengunjung Wisata Arsip Masyarakat Sampang (WAMAS) pada


tahun 2020 mengalami penurunan yaitu 1.631 orang pengunjung dari target
pengunjung sebanyak 2.848 orang pengunjung yang mana target sudah
mengalami penyesuaian karena adanya pandemi Covid-19. Maka dari itu, target
Persentase Kunjungan Layanan Kearsipan pada tahun 2020 mengalami
penyesuaian dari 9,48% menjadi -43,78%. Persentase peningkatan kunjungan

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 117
Gambaran Umum Kondisi Daerah

layanan kearsipan tahun 2020 terealisasi sebesar -67,80%. Artinya capaian


peningkatan kunjungan layanan kearsipan tahun 2020 adalah sebesar 64,42%.

2.3.3 Fokus Urusan Pilihan


Urusan Pilihan meliputi 5 urusan. Urusan tersebut terdiri dari urusan
Kelautan dan Perikanan, Pariwisata, Pertanian, Perdagangan, dan Urusan
Perindustrian. Perkembangan dari indikator-indikator kinerja urusan pilihan adalah
sebagai berikut:
1. Kelautan dan perikanan
Pertumbuhan ekonomi pada sub kategori Perikanan seama 5 (lima)
tahun terakhir cenderung mengalami fluktuatif. Pada tahun 2020 pertumbuhan
sub kategori perikanan 4,82% yang disebabkan adanya anomaly cuaca yang
mempengaruhi hasil produksi perikanan laut.

P e r t u m b u h a n S u b K a t e g o ri P e r i k a n a n ( % )
7.00
6.57
6.00 6.12

5.00
4.82

4.00 4.13

3.00

2.00

1.00

0.00
2016 2017 2018 -0.24
2019 2020

-1.00

Sumber: BPS Sampang, 2021


Grafik 2.12
Pertumbuhan Ekonomi Sub Kategori Perikanan Kabupaten Sampang

Produksi perikanan Kabupaten Sampang dalam beberapa tahun


terakhir menunjukkan kecenderungan yang berfluktuasi. Produksi
perikanan tersebut meliputi kelompok perikanan kolam, perairan umum, laut,
dan tambak. Keadaan ini mengakibatkan kinerja perikanan laut sangat
berpengaruh terhadap total produksi ikan secara keseluruhan. Pada tahun 2016-
2020 jumlah produksi perikanan laut berada pada performa yang rendah,

II - 118 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

mengakibatkan produksi perikanan secara agregat juga rendah. Keadaan in


disebabkan oleh cuaca yang ekstrim yang berdampak pada pengurangan trip
penangkapan ikan oleh nelayan. Namun demikian, pada tahun 2018 produksi
perikanan laut kembali meningkat hingga 9.336,25 ton dan mendongkrak
agregat produksi perikanan hingga mencapai 10.263,96 ton.
Perikanan budidaya baik kolam maupun tambak secara umum juga
menunjukkan peningkatan masing-masing mencapai 101,32 ton dan 808,19 ton
pada tahun 2018. Angka ini merupakan pencapaian tertinggi jika dibandingkan
dengan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini berbeda dengan capaian kinerja
produksi perikanan kelompok perairan umum yang cenderung turun setiap
tahunnya dari 28,90 ton pada tahun 2013 hingga menjadi 18,20 ton pada tahun
2018. Urusan kelautan dan perikanan di Kabupaten Sampang dilaksanakan oleh
Dinas Perikanan dengan rincian perkembangan kinerja sebagai berikut:
Tabel 2.60
Indikator Kinerja Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Sampang Tahun 2013-2018
Uraian 2016 2017 2018 2019 2020
A. Produksi perikanan
(ton)
1. Kolam 60,18 62,48 101,32 103,28 115,73
2. Perairan Umum 17,73 21,16 18,20 20,70 15,6
3. Laut 7.543,71 6.965,59 9.336,25 14.132,90 15.151,50
4. Tambak 750,14 662,17 808,19 737,15 934,79
Total 8.371,76 7.711,40 10.263,96 14.994,03 16.217,62
B. Produksi garam 4.606,76 170.568,45 346.665,0 307.714 174.598
rakyat (ton)
Sumber: Dinas Perikanan Kabupaten Sampang, 2019

Produksi garam berfluktuasi setiap tahunnya, sangat bergantung pada


lamanya bulan kering dalam tahun berjalan. Dalam tiga tahun terakhir, produksi
garam mengalami penurunan karena harga garam murah yang menyebabkan
sebagian besar petani garam tidak melalakukan kegiatan tambak garam.

2. Pariwisata
Pariwisata merupakan sektor ekonomi penting daerah. Retribusi
sektor wisata turut berkontribusi terhadap PAD. Berkembangnya sektor
pariwisata akan diikuti pula oleh berkembangnya sektor perdagangan dan
usaha. Kekayaan alam dan budaya merupakan komponen penting bagi sektor

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 119
Gambaran Umum Kondisi Daerah

wisata daerah. Pengembangan kedua komponen ini berkaitan erat dengan daya
tarik objek wisata dalam rangka meningkatkan jumlah kunjungan wisata.
Tingginya jumlah kunjungan wisata menjadi parameter bahwa objek wisata
tersebut menarik.

200 900,000
842,241
167.76
154.15 800,000
150
700,000
100
600,000
72.69
50 500,000
16.12
0 400,000
314,552
300,000
-50
-93.28 200,000
123,768
-100
71,672 56,633 100,000

-150 -
2016 2017 2018 2019 2020

Sumber: Disporabudpar Kabupaten Sampang, 2021


Grafik 2.13
Jumlah Kunjungan Wisata Kabupaten Sampang

Jumlah kunjungan pada tahun 2020 sebanyak 56.633 orang yang terdiri
dari wisatawan nusantara sebanyak 56.630 orang dan wisatawan mancanegara
sebanyak 3 orang. Dibandingkan tahun 2019 jumlah kunjungan turun dari
842.241 orang menjadi 56.663 orang, hal ini disebabkan pandemi covid 19
dimana seluruh detinasi ditutup mulai bulan Maret 2020 sampai bulan Agustus
2020.

3. Pertanian
Dalam mengukur tingkat keberhasilan pembangunan sektor pertanian
dalam suatu wilayah salah satu alat ukur yang sering digunakan adalah indikator
produktivitas dibanding produksi ataupun luas panen. Indikator ini
menunjukkan seberapa besar produksi yang dihasilkan suatu komoditas
tertentu per-satuan luas panen pada saat masa pengukuran. Pertumbuhan

II - 120 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

ekonomi pada kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan berfluktuasi selama


5 (lima) tahun terakhir. Fluktuasi tersebut terjadi pada subkategori Pertanian,
Peternakan, Perburuan, dan Jasa Pertanian, khususnya Tanaman Pangan dan
jasa Pertanian. Pada tahun 2020, sub kategori ini tumbuh sebesar 3,85 persen.
Sepanjang tahun 2020 rata-rata curah hujan cukup tinggi tidak seperti biasanya
di tahun 2019 hal ini sangat berdampak terhadap hasil produksi pertanian di
Kabupaten Sampang, terbukti produktivitas pertanian meningkat .

Pertumbuhan Sub Kategori Pertanian

3.85

2.17
1.61

2016 2017 2018 2019 2020

-1.45
-1.70

Sumber: BPS Kabupaten Sampang, 2021


Grafik 2.14
Pertumbuhan Ekonomi Sub Kategori Pertanian

Adapun data produksi hasil pertanian dapat digambarkan dalam tabel


berikut:
Tabel 2.61
Produksi Komoditas Pertanian
Komoditas 2019 2020
Produksi (ton):
a) Padi 322,444 270,224
b) Jagung 165,602 175,014
c) Ubi Kayu 64,751 55,418
d) Kacang Tanah 21,162 24,890
e) Kedelai 6,914 885
f) Bawang Merah 30,895 35,097
g) Cabai 21,396 73,524
h) Mangga 32,926,174 37,488.676
i) Pisang 18,850,468 18,654.972
j) Jambu Air 1,850,515 1,831.83

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 121
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Komoditas 2019 2020


k) Semangka 808 422
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Sampang, 2021

Jambu mete, kelapa dan cabe jamu masih menjadi komoditas perkebunan
yang berpotensi dikembangkan menjadi produk unggulan. Produksi tanaman
perkebunan dua tahun terakhir sebagaimana tabel berikut :
Tabel 2. 62
Produksi Tanaman Perkebunan Tahun 2019-2020
Komoditas 2019 2020
Produksi (ton):
a) Jambu Mete 2.931 2,572
b) Kelapa 747 606
c) Tembakau 3.278,93 1,923
d) Wijen 109 463
e) Cabe jamu 787 741
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Sampang, 2021

Pada komoditas peternakan, sapi dan kambing masih berpotensi


dikembangkan menjadi unggulan daerah dengan memperhatikan populasi yang
cukup besar dan produksinya yang cenderung meningkat, sebagaimana pada
tabel berikut :
Tabel 2.63
Populasi Ternak dan Hasil Peternakan Tahun 2019 – 2020
No Komoditas 2019 2020
A. Populasi Ternak (ekor) :    
1. Sapi 215,772 216,450
2. Kambing 47,884 48,240
3. Domba 9,593 9,641
4. Ayam Buras 752,707 779,216
5. Ayam Petelur 106,041 73,043
6. Ayam Pedaging 768,099 946,941
7. Itik 44,932 38,630
B. Hasil Peternakan (ton) :
1. Produksi Daging 4.491,001 4,889,645
2. Produksi Telur 2.035,792 1,706,803

4. Perdagangan
Pertumbuhan Ekonomi Sub-sektor ini selama 5 (lima) tahun terakhir
mengalami fluktuatif. Kondisi ini mengindikasikan fluktuasi aktivitas ekonomi di
Kabupaten Sampang. Keadaan ini juga bisa juga menggambarkan aktivitas

II - 122 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

perdagangan masyarakat Kabupaten Sampang yang setiap tahunnya bervariasi.


Perkembangan pertumbuhan sub kategori perdagangan sebagaimana
ditunjukkan oleh grafik berikut:
10.00
8.99
8.00
7.55
6.80
6.00

4.57
4.00

2.00

0.00
2016 2017 2018 2019 2020

-2.00

-4.00

-5.53
-6.00

-8.00

Sumber: BPS Kabupaten Sampang, 2021


Grafik 2.15
Pertumbuhan Sub Kategori Perdagangan

Berdasarkan grafik di atas pertumbuhan sub kategori perdagangan


mengalami kontraksi yang sangat signifikan. Kontraksi pertumbuhan sub
kategori perdagangan salah satunya dipengaruhi oleh nilai volume usaha
perdagangan yang mengalami penurunan dari Rp.878,38 M pada tahun 2019
menurun menjadi Rp.873,85 M pada tahun 2020 sebagai dampak adanya
pandemi covid-19

5. Perindustrian
Secara nominal, Industri Pengolahan mengalami kontraksi dari
524.771,4 juta rupiah pada tahun 2019 menjadi 515.580,3 juta rupiah pada
tahun 2020. Walaupun pertumbuhan PDRB kategori industri mengalami
kontraksi namun pertumbuhan industri formal di Kab. Sampang mengalami
peningkatan sebagaimana yang digambarkan dalam grafik berikut:

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 123
Gambaran Umum Kondisi Daerah

7.00

6.00 5.80
5.58
5.00 4.85
4.74
4.00

3.00 3.15 2.97


2.75
2.00

1.00 0.79
0.64
0.00
2016 2017 2018 2019 2020
-1.00
-1.75
-2.00

-3.00

Pertumbuhan PDRB Kategori Industri Pertumbuhan Industri Formal

Sumber: BPS dan Diskopindag Kabupaten Sampang, 2021


Grafik 2.16
Kontribusi Sektor Industri terhadap PDRB

2.3.4 Fokus Unsur Penunjang Urusan Pemerintahan


Unsur Penunjang Urusan Pemerintahan meliputi 6 hal, yaitu:
Perencanaan, Keuangan, Kepegawaian, pendidikan dan pelatihan, Penelitian dan
pengembangan, serta Fungsi penunjang lainnya. Perkembangan indikator-indikator
kinerja hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan
Secara umum, perencanaan pembangunan daerah di Kabupaten
Sampang sudah terpenuhi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Dokumen-dokumen perencanaan daerah berupa Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Daerah (RPJPD) dalam kurun waktu 20 tahun, Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dalam kurun waktu 5 tahun dan Rencana
Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), merupakan rencana pembangunan bersifat
tahunan. Urusan perencanaan pembangunan di Kabupaten Sampang
dilaksanakan oleh Bappelitbangda, dengan rincian perkembangan kinerja
sebagai berikut:
Tabel 2.64
Indikator Kinerja Urusan Perencanaan Pembangunan
201
Indikator Kinerja Satuan 2017 2018 2019 2020
6
Persentase Dokumen Perencanaan
Pembangunan Daerah yang persen 100 100 100 100 100
Berkualitas

II - 124 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2021

Dokumen perencaan pembangunan daerah telah disusun dengan baik


yang dapat diketahui dari indikator Persentase Perangkat Daerah dengan
kualitas Dokumen Perencaaannya Baik dan Persentase program dalam RPJMD
tertuang dalam RKPD sudah mencapai 100 persen pada tahun 2019. Persentase
usulan kegiatan yang disepakati dalam musrenbang dan pokok-pokok pikiran
DPRD yang dijabarkan ke dalam RKPD juga sudah mencapai 100 persen. Namun
demikian, indikator persentase capaian indikator kinerja sasaran dalam RPJMD
≥100 persen memerlukan perhatian lebih.

2. Keuangan
Untuk pertama kalinya Opini BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah (LKPD) Kabupaten Sampang Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) pada
tahun 2018. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun tersebut, Kabupaten
Sampang dianggap mampu memberikan informasi yang bebas dari salah saji
material. Artinya berdasarkan bukti-bukti audit yang dikumpulkan, Pemerintah
Kabupaten Sampang dianggap telah menyelenggarakan prinsip akuntansi yang
berlaku umum dengan baik, dan kalaupun ada kesalahan, kesalahannya
dianggap tidak material dan tidak berpengaruh signifikan terhadap pengambilan
keputusan.
Beberapa tahun sebelum 2018 Pemerintah Kabupaten Sampang
menerima opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Pada tahun 2017 opini yang
diterima masih WDP disebabkan oleh masih adanya beberapa catatan yang
memerlukan langkah perbaikan, yaitu:
a. Penyajian nilai investasi PT. GSM pada neraca Pemerintah Kabupaten
Sampang mendasarkan pada laporan keuangan PT. GSM yang masih
mengandung permasalahan
b. Asset lain-lain tidak ada rinciannya dan tidak dapat ditelusuri keberadaannya
c. Terdapat kelebihan pembayaran realisasi belanja modal gedung dan
bangunan karena kekurangan volume pekerjaan yang nilainya berdampak
pada kurang andalnya penyajian belanja modal gedung bangunan yang
disajikan pada LRA

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 125
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Tabel 2.65
Opini BPK terhadap Kinerja Keuangan Daerah
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020

Opini BPK - WDP WDP WTP WTP n/a

Sumber: BPPKAD Kabupaten Sampang, 2021

3. Kepegawaian, pendidikan dan pelatihan


Dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik adalah
peningkatan kapasitas dan kompetensi aparatur. Salah satunya melalui
pengukuran Indeks Profesionalitas ASN (IP ASN). Indeks Profesionalitas ASN
adalah sebuah indikator untuk mengukur secara kuantitatif, tingkat
profesionalitas individu atau kelompok dalam suatu organisasi yang dilihat dari
aspek kesesuaian antara syarat dengan pejabat, kinerja, kompensasi dan disiplin.
Adapun dimensi IP ASN adalah sebagai berikut :
a. Kualifikasi (25%)
b. Kompetensi (30%)
c. Kinerja (40%)
d. Disiplin (5%)
Tabel 2.66
Indeks Profesionalitas ASN
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Indeks Profesionalitas ASN - 83,50 80,76 56* 62,21 62,99
Sumber: BKPSDM Kabupaten Sampang, 2021 | *Pengukuran dilakukan secara online

Pada tahun 2020 penghitungan IP ASN dilakukan dengan 2 cara, yaitu


dengan cara updating data SAPK dan cara manual menggunakan rumus excel
sederhana. Pada pengukuran manual kami dapatkan hasil sebesar 62,99
sebagaimana terlihat pada tabel capaian tiap unsur/dimensi IP ASN di bawah ini:
Tabel 2.67
Nilai Indeks Profesionalitas ASN Kabupaten Sampang Tahun 2020
BOBOT HASIL PENGUKURAN % TERHADAP
NO DIMENSI
DIMENSI IP ASN 2020 BOBOT DIMENSI
1 Kualifikasi 25 12,86 51,44%
2 Kompetensi 40 20,09 50,23%
3 Kinerja 30 25,06 83,53%
4 Disiplin 5 4,98 99,55%
Jumlah 100 62,99 62,99%
Sumber : BKPSDM Kabupaten Sampang, 2021

II - 126 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Sebagaimana terlihat pada tabel capaian tiap-tiap unsur/dimensi IP ASN


bahwa capaian yang rendah terdapat pada unsur/dimensi kualifikasi dan
kompetensi. Hal ini disebabkan karena pengembangan kompetensi yang diikuti
oleh ASN Kabupaten Sampang hanya pada diklat penjenjangan saja, baik
penjenjangan structural maupun penjenjangan fungsional sedangkan diklat
teknis dan workshop/seminar hanya diikuti oleh sebagian kecil ASN saja.

4. Penelitian dan pengembangan


Pelitian dan pengembangan (Litbang) berperan penting dalam
mendorong kemajuan suatu daerah. Hasil litbang yang akurat dalam bentuk
konsep, model, skenario, maupun pilihan kebijakan yang tepat dapat menjadi
rekomendasi dalam mengatasi berbagai masalah pembangunan dan membantu
dalam pengambilan kebijakan dan dijadikan dasar pelaksanaan pembangunan.
Tabel 2.68
Persentase Hasil Kajian Penelitian dan Pengembangan yang
Dijadikan Dasar Pembangunan
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Persentase hasil litbang yang % 100 100 100 100 100
dimanfaatkan dalam
perencanaan pembangunan
Sumber: Bappelitbangda Kabupaten Sampang, 2021

5. Fungsi penunjang lainnya


Kinerja fungsi penunjang lainnya secara umum menunjuukan
perkembangan yang positif. Beberapa indikator kinerja berkaitan dengan
fungsi penunjang lainnya ditunjukkan oleh tabel berikut ini:
Tabel 2.69
Indikator Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Sampang Tahun 2016-2020
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Indeks Reformasi
Birokrasi
Indeks Kepuasan 78,87 79,97 80,40 81,30 81,43
-
Masyarakat (IKM)b
CC CC B B n/a
Hasil Evaluasi SAKIPb - (50,06) (55,83 (64,23) (64,99
) )
Persentase Desa n/a n/a 55,50 66,67 77,7
dengan Tata Kelola
%
Pemerintahan Desa
yang Baik

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 127
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020


Indeks Reformasi
Birokrasi
Persentase 100 100 100 100 100
Penyelesaian Konflik
Sosial Politik (pindah %
urusan pemerintahan
umum)
Indeks Risiko Bencana n/a n/a 154,80 140,68 127,19
(Kemudahan Investasi
%
aspek keamanan dan
ketertiban)
a
Sumber: Bagian Pemerintahan dan Otonomi Daerah Setda Kabupaten Sampang,
2021; bBagian Organisasi Setda Kabupaten Sampang, 2021; cSekretariat
Dewan Kabupaten Sampang, 2021; dInspektorat Kabupaten Sampang, 2021;
e
Bakesbangpol Kabupaten Sampang, 2021; fBPBD Kabupaten Sampang,
2021.

2.4 Aspek Daya Saing Daerah


Daya saing daerah adalah kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai
pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap
terbuka pada persaingan dengan provinsi dan kabupaten/kota lainnya yang
berdekatan, nasional atau internasional. Aspek daya saing daerah terdiri dari
kemampuan ekonomi daerah, fasilitas wilayah atau infrastruktur, iklim berinvestasi
dan sumber daya manusia. Untuk menganalisis gambaran umum kondisi daerah
pada aspek daya saing daerah, terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap
variabel yang akan dianalisis menurut kabupaten/kota di wilayah provinsi.
Sedangkan untuk kabupaten/kota disusun menurut kecamatan diwilayah
kabupaten/kota masing-masing. Indikator variabel aspek daya saing daerah terdiri
dari:

2.4.1 Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah


Salah satu indikator yang dapat menggambarkan aspek kemampuan
ekonomi daerah dari perannya mampu memicu daya saing daerah adalah
pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita. Indikator pengeluaran
konsumsi rumah tangga per kapita dimaksudkan untuk mengetahui tingkat
konsumsi rumah tangga yang menjelaskan seberapa atraktif tingkat pengeluaran
rumah tangga. Semakin besar rasio atau angka konsumsi RT semakin atraktif bagi
peningkatan kemampuan ekonomi daerah. Selama 5 (lima) tahun terakhir konsmusi

II - 128 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

rumah tangga per Kapita mengalami peningkatan dan masih didominasi oleh
konsumsi makanan.
Tabel 2.70
Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita Kabupaten Sampang Tahun 2016 – 2020
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Pengeluaran Konsumsi Rp. 627.923 644.200 662.441 646.386 667.972
Rumah Tangga Per
Kapita
Sumber: BPS Kabupaten Sampang, 2021

Kemampuan ekonomi daerah bisa juga dilihat dari besaran Derajat


Desentralisasi Fiskal (DDF). DDF menunjukkan kewenangan dan tanggung jawab
yang diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk menggali dan
mengelola pendapatan. Secara operasioanl, DDF diperoleh dari rasio Pendapatan Asli
Daerah (PAD) terhadap total pendapatan daerah. Rasio ini dimaksudkan untuk
mengukur tingkat kontribusi PAD sebagai sumber pendapatan yang dikelola sendiri
oleh daerah terhadap total pendapatan daerah. Semakin tinggi rasio Derajat
Desentralisasi Fiskal, maka semakin tinggi pula kemampuan keuangan daerah dalam
mendukung otonomi daerah. Perkembangan DDF Kabupaten Sampang ditunjukkan
sebagaimana tabel di bawah.
Tabel 2.71
Derajat Desentralisasi Fiskal Kabupaten Sampang

Total Pendapatan Daerah DDF


Tahun Realisasi PAD (Rp)
(Rp) (%)

2016 135.785.953.318,16 1.716.788.104.536,16 7,91


2017* 209.545.224.677,58 1.605.112.287.120,58 13,05
2018 135.349.867.961,19 1.697.685.535.639,24 7,97
2019 168.778.008.507,65 1.855.492.183.263,02 9,10
2020 175.518.944.949,09 1.757.707.108.484,17 9,99
Rata-rata 824.977.999.413,67 8.632.785.219.043,17 9,56
Sumber: BPPKAD Kabupaten Sampang, 2021 | *Perhitungan PAD menyertakan
komponen dana BOS

Secara umum, DDF Kabupaten Sampang tidak pernah mencapai angka 10


persen. DDF Kabupaten Sampang pernah melewati 13 persen pada tahun 2017
disebabkan oleh pada tahun tersebut PAD-nya juga menghitung komponen dana
BOS. Rata-rata DDF Kabupaten Sampang selama lima tahun terakhir sebesar 9,56

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 129
Gambaran Umum Kondisi Daerah

persen. Angka ini menggambarkan bahwa Kabupaten Sampang mempunyai derajat


desentralisasi fiskal yang sangat kurang. Artinya Kabupaten Sampang memiliki
kemampuan keuangan daerah yang sangat lemah dalam mendukung otonomi daerah
sehingga masih sangat tergantung dana transfer dari pusat. Nilai DDF tersebut juga
bisa dimaknai bahwa pembiayaan pembangunan di Kabupaten Sampang memiliki
ketergantungan pada fiskal pusat sebesar sekitar 90,44 persen.
Persentase pertumbuhan pelaku ekonomi kreatif
2.4.2 Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastuktur
Perkembangan dan pertumbuhan kota pada dasarnya merupakan
perwujudan tuntutan kebutuhan ruang yang diakibatkan oleh perkembangan
dan pertumbuhan penduduk serta kegiatan fungsionalnya, serta interaksi
antarkegiatan tersebut. Pertumbuhan dan perkembangan kota dapat berjalan
dengan sendirinya tetapi pada suatu saat dapat menimbulkan masalah yang sulit
untuk diatasi yang bersifat keruangan, struktural, dan fungsional.
Tabel 2.72
Kinerja Infrastruktur Daerah Kabupaten Sampang
Satua
Indikator Kinerja 2016 2017 2018 2019 2020
n
IKLI
Persentase Panjang Jalan % 44,73 46,73 48,82 56,44 60,07
dalam Kondisi mantapa
Persentase Jembatan dalam % 52,97 54,96 56,94 60,62 65,16
Kondisi Baika
Persentase Panjang Saluran % n/a n/a 32,35 35,59 35,59
Drainase dalam Kondisi Baika
Persentase Jaringan Irigasi % 53,53 53,58 81,57 82 87,22
dalam kondisi baika
Persentase ketersediaan % 29,97 30,02 30,02 30,02 31,27
sarana air baku b
Sumber: aDPUPR, bDPRKP Kabupaten Sampang, 2021

Kualitas jalan dalam kondisi mantap dalam lima tahun terakhir


mengalami peningkatan. Jalan dengan kondisi pelayanan mantap adalah ruas-ruas
jalan dengan kondisi baik atau sedang sesuai umur rencana yang diperhitungkan
serta mengikuti suatu standar tertentu. Adapun kualitas jembatan dalam kondisi
mantap juga mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir.

II - 130 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Kinerja dalam infrastruktur sumber daya air juga menunjukkan


peningkatan dalam capaian kinerjanya. Jaringan irigasi dalam kondisi baik
mencapai 53,53 persen pada tahun 2016 meningkat hingga 87,22 persen pada tahun
2020. Ketersediaan air baku dari 29,97 persen pada tahun 2016 meningkat hingga
31,27 persen pada tahun 2020.

2.4.3 Fokus Iklim Berinvestasi


Dalam rangka mendorong pertumbuhan investasi di Kabupaten
Sampang, maka perlu menciptakan iklim investasi yang kondusif. Terdapat
beberapa langkah yang bisa diambil guna bisa menarik investor untuk berinvestasi
di daerah antara lain menyediakan infrastruktur pendukung yang memadai,
menyederhanakan proses perijinan, dan menciptakan lingkungan yang aman.
Infrastruktur pendukung sebagaimana diulas pada sub-sub bab sebelumnya. Adapun
dalam hal penyederhanaan perijinan, semua perijinan dikoordinir melalui satu pintu
oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Satu Pintu (DPM PTSP).

2.4.3.1 Persentase Perijinan yang Diterbitakan Tepat Waktu


Proses pengajuan perijinan mengikuti SOP yang telah dibuat agar
pengajuan perijinan memiliki kepastian durasi proses. Perijinan yang
diterbitkan tepat waktu di Kabupaten Sampang terus mengalami peningkatan pada
tiga tahun terakhir bahkan pada tahun 2018 mencapai 100 persen sebagaimana
ditunjukkan tabel berikut:
Tabel 2.73
Persentase Perijinan yang Diterbitkan Tepat Waktu
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Persentase Perijinan yang % 96,50 97,41 100 100 100
Diterbitkan Tepat Waktu
Sumber: DPM PTSP Kabupaten Sampang, 2021

2.4.3.2 Realisasi PMDN Kabupaten Sampang


Realisasi Investasi PMDN di Kabupaten Sampang secara keseluruhan
baik yang berskala nasional, regional maupun kabupaten pada beberapa tahun
terakhir terus mengalami peningkatan. Kenaikan mulai signifikan terjadi sejak
tahun 2016 dan terus menanjak hingga mencapai Rp385 milyar rupiah pada tahun

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 131
Gambaran Umum Kondisi Daerah

2019 dan menurun pada tahun 2020 karena adanya pandemi Covid-19 sehingga
banyak pelaku usaha besar yang tidak dapat mengembangkan usahanya bahkan
banyak yang mengalami penurunan/kerugian bahkan ada yang menutup usahanya.
450,000 422,584

385,577
400,000
338,577
350,000
297,115
300,000

250,000
210,989

200,000

150,000

100,000

50,000

-
2016 2017 2018 2019 2020

Sumber: DPMPTSP Kabupaten Sampang, 2021


Grafik 2.17
Nilai Realisasi PMDN Kabupaten Sampang 2016-2020

Berdasarkan amanah Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2018 dengan


diimplementasikan Aplikasi OSS (Online Single Submition) setiap investor atau
pemohon bisa dengan mudah mendaftar dengan keadaan yang kondusif., sehingga
berdampak pada meningkatnya nilai investasi. Disamping itu, lingkungan yang aman
juga menjadi pertimbangan bagi investor dalam menentukan tempat untuk
berinvestasi. Masyarakat yang toleran yang ditunjukkan dengan Indeks Toleransi
juga mempengaruhi minat penanam modal untuk berinvestasi di suatu daerah.
Indeks Toleransi di Kabupaten Sampang sebagaimana dalam grafik berikut:

II - 132 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

3.7

3.65 3.67
3.65

3.6

3.55

3.52
3.5

3.45

3.4
2018 2019 2020

Sumber: Bappelitbangda, 2021


Grafik 2.18
Indeks Toleransi Kab. Sampang Tahun 2016 - 2020

Indeks toleransi senantiasa mengalami peningkatan dalam waktu tiga tahun


dan berada dalam kategori “tinggi”. Hal ini berarti masyarakat Sampang merasa
dalam kondisi sosial kemasyarakatan yang kondusif.

2.4.4 Fokus Sumber Daya Manusia


Sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam pembangunan,
selain sebagai objek pembangunan juga sebagai subyek pelaksanaan
pembangunan. Perbaikan dalam sumber daya manusia tidak lepas dari usaha
pemerintah melalui perbaikan tingkat pendidikan, kesehatan, dan peningkatan
pendapatan masyarakat. Analisis kinerja atas sumber daya manusia dilakukan
terhadap indikator rasio lulusan S1/S2/S3, rasio ketergantungan, dan pencari kerja
yang ditempatkan sebagaimana ditunjukkan tabel berikut:
Tabel 2.74
Pencari Kerja yang Ditempatkan, Rasio lulusan S1/S2/S3, dan Rasio Ketergantungan
Indikator Kinerja Satuan 2016 2017 2018 2019 2020
Rasio lulusan S1/S2/S3 % 7,60 3,40 2,57 2,77 4,92
Rasio ketergantungan % 32,58 38,23 40,92 44,91 47,59
Pencari kerja yang % 22,51 58,60 94,66 95,73 56,91
ditempatkan
Sumber: Diskumnaker Kabupaten Sampang, 2021

Rasio Lulusan S1/S2/S3 merupakan perbandingan jumlah Lulusan


S1/S2/S3 terhadap jumlah angkatan kerja. Perkembangannya selama priode
2016-2020 menunjukkan fluktuasi setiap tahunnya. Pada tahun 2020 tercatat Rasio
Lulusan S1/S2/S3 sebesar 4,92% yang diperoleh dari jumlah lulusan S1/S2/S3

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 133
Gambaran Umum Kondisi Daerah

sebesar 25.301 orang dibagi Jumlah angkatan kerja sebesar Tahun 2020 sebanyak
513.758 orang. Rasio Lulusan S1/S2/S3 tersebut dipengaruhi oleh kemauan dan
kemampuan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang
pendidikan tinggi.
Rasio Ketergantungan (dependency ratio) adalah perbandingan antara jumlah
yang tidak produktif (usia 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) terhadap jumlah
penduduk produktif (usia 15-64 tahun). Semakin tingginya rasio ketergantungan
menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang
produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak
produktif lagi. Sedangkan rasio ketergantungan yang semakin rendah menunjukkan
semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk
membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Rasio
ketergantungan di Kabupaten Sampang selama periode 2016-2020 menunjukkan
peningkatan. Kondisi pada tahun 2020 rasio ketergantungan adalah 47,59%, artinya
setiap 100 orang yang berusia kerja (dianggap produktif) mempunyai tanggungan
sebanyak 48 orang yang belum produktif dan dianggap tidak produktif lagi. Jumlah
penduduk yang tidak produktif masih didominasi oleh penduduk dengan kelompok
usia sekolah.
Pencari kerja yang ditempatkan di Kabupaten Sampang cenderung mengalami
peningkatan selama periode 2016-2019, sedangkan untuk tahun 2020 mengalami
penurunan. Kondisi terakhir pada tahun 2018 menunjukkan angka tertinggi yaitu
94,30% yang diperoleh dari jumlah seluruh pencari kerja yang ditempatkan 745
orang dari seluruh jumlah pencari kerja ya di terdaftar di bidang tenaga kerja
sebanyak 790 orang. Upaya Penempatan Tenaga kerja terlebih dalu melalui adanya
kegiatan untuk mendukung peningkata SDM tenaga kerja melalui kegiatan pelatihan
berbasis masyarakat yang teknis pelaksanaannya dilakukan barhari-hari sampai
target peserta pelatihan mendapatkan pekerjaan dan/atau mampu untuk membuka
lapangan kerja.

II - 134 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Tabel 2.1 Luas Wilayah dan Jumlah Desa/Kelurahan per Kecamatan se-Kabupaten
Sampang........................................................................................................................................................ 3
Tabel 2.2 Rincian Klasifikasi Kelerengan Tanah di Kabupaten Sampang...........................4
Tabel 2.3 Data Curah Hujan di Kabubaten Sampang...................................................................5
Tabel 2.4 Jenis Tanah di Kabupaten Sampang............................................................................... 8
Tabel 2.5 Profil Hidrologi Kabupaten Sampang 2020.................................................................9
Tabel 2.6 Nama dan Panjang Sungai Menurut Wilayah Pengairan di Kabupaten
Sampang........................................................................................................................................................ 9
Tabel 2.7 Sumber Mata Air di Kabupaten Sampang..................................................................11
Tabel 2.8 Data Teknis Waduk Klampis........................................................................................... 13
Tabel 2.9 Data Teknis Waduk Nipah............................................................................................... 13
Tabel 2.10 Potensi Wilayah di Kabupaten Sampang Berdasarkan Sumber Daya Alam
......................................................................................................................................................................... 17
Tabel 2.11 Luas Potensi dan Sebaran Hutan Mangrove Kawasan Pesisir Selatan
Kabupaten Sampang (ha)..................................................................................................................... 22
Tabel 2.12 Ketersediaan Lahan Menurut RTRW Kabupaten Sampang.............................33
Tabel 2.13 Luasan Erosi Tanah Yang Mendapat Prioritas Penanganan di Kabupaten
Sampang...................................................................................................................................................... 46
Tabel 2.14 Persentase Penduduk menurut Karakteristik dan Kelompok Umur Tahun
2020.............................................................................................................................................................. 50
Tabel 2.15 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2020............................51
Tabel 2.16 Penduduk berdasarkan Tingkat Pendidikan Kabupaten Sampang Tahun
2020.............................................................................................................................................................. 52
Tabel 2.17 Persentase Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik dan
Kemampuan Membaca dan Menulis Tahun 2020......................................................................53
Tabel 2.18 Kesesuaian Lahan Kabupaten Sampang..................................................................55
Tabel 2.19 Daya Dukung Lahan Pertanian terhadap Hasil Produksi Padi.......................56
Tabel 2.20 Luas Panen Tanaman Pangan Per Kapita Kabupaten Sampang....................58
Tabel 2.21 Luas Daya Dukung Lahan Pertanian Kabupaten Sampang..............................59
Tabel 2.22 Perhitungan Daya Dukung Air Kabupaten Sampang..........................................60
Tabel 2.23 Nilai dan Kontribusi Lapangan Usaha dalam PDRB Tahun 2016–2020 Atas
Dasar Harga Berlaku (dalam juta rupiah)..................................................................................... 64

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 135
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Tabel 2.24 Nilai dan Pertumbuhan Lapangan Usaha dalam PDRB Tahun 2016–2020
Atas Dasar Harga Konstan 2010 (dalam juta rupiah)...............................................................67
Tabel 2.25 Data Tindak Kriminal Tahun 2016 - 2020..............................................................78
Tabel 2.26 IPM Kabupaten Sampang Tahun 2016–2020........................................................80
Tabel 2.27 Indikator Kinerja Urusan Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan
Anak.............................................................................................................................................................. 81
Tabel 2.28 Angka Partisipasi Kasar Kabupaten Sampang Tahun 2016–2020...............85
Tabel 2.29 Angka Partisipasi Murni Kabupaten Sampang Tahun 2016–2020...............86
Tabel 2.30 Indikator Kesehatan Kabupaten Sampang Tahun 2016 –2020.....................87
Tabel 2.31 Perkembangan Seni, Budaya, dan Olah Raga Kabupaten Sampang Tahun
2016–2020................................................................................................................................................. 90
Tabel 2.32 Indikator Kinerja Pendidikan Kabupaten Sampang Tahun 2013-2018.....91
Tabel 2.33 Indikator Kinerja Urusan Kesehatan........................................................................93
Tabel 2.34 Jumlah Posyandu dan Balita Kabupaten Sampang Tahun 2016–2020.......94
Tabel 2.35 Jumlah Puskesmas, Poliklinik dan Pustu Kabupaten Sampang Tahun
2015–2018................................................................................................................................................. 95
Tabel 2.36 Jumlah dan Rasio Rumah Sakit per Jumlah Penduduk Kabupaten Sampang
Tahun 2015–2018................................................................................................................................... 96
Tabel 2.37 Rasio Jumlah Dokter Per Satuan Penduduk Kabupaten Sampang Tahun
2016–2020................................................................................................................................................. 96
Tabel 2.38 Indikator Kinerja Urusan Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang................97
Tabel 2.39 Kondisi Jalan, Jembatan, dan Jaringan Irigasi di Kabupaten Sampang......98
Tabel 2.40 Indikator Kinerja Urusan Perumahan dan Kawasan..........................................99
Tabel 2.41 Indikator Kinerja Urusan Ketenteraman, Ketertiban Umum, dan
Pelindungan Masyarakat................................................................................................................... 100
Tabel 2.42 Indikator Kinerja Urusan Sosial Kabupaten Sampang....................................101
Tabel 2.43 Indikator Kinerja Urusan Tenaga Kerja................................................................101
Tabel 2.44 Indikator Kinerja Urusan Pemberdayan Perempuan dan Pelindungan
Anak........................................................................................................................................................... 102
Tabel 2.45 Perkembangan Indikator Kinerja Urusan Pangan............................................102
Tabel 2.46 Perkembangan Indikator Kinerja Urusan Pertanahan...................................103
Tabel 2.47 Indikator Kinerja Urusan Lingkungan Hidup.....................................................104

II - 136 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Tabel 2.48 Indikator Kinerja Urusan Kependudukan dan Pencatatan Sipil.................105


Tabel 2.49 Indikator Kinerja Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa................107
Tabel 2.50 Indikator Kinerja Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa................108
Tabel 2.51 Kinerja Pemenuhan Sarana Prasarana Perhubungan Darat dan Darat Laut
...................................................................................................................................................................... 109
Tabel 2.52 Indikator Kinerja Urusan Komunikasi dan Informatika.................................110
Tabel 2.53 Indikator Kinerja Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.................111
Tabel 2.54 Indikator Kinerja Urusan Penanaman Modal.....................................................113
Tabel 2.55 Indikator Kinerja Kepemudaan dan Olah Raga..................................................113
Tabel 2.56 Indikator Kinerja Urusan Statistik..........................................................................114
Tabel 2.57 Indikator Kinerja Urusan Kebudayaan..................................................................115
Tabel 2.58 Indikator Kinerja Urusan Perpustakaan...............................................................115
Tabel 2.59 Indikator Kinerja Urusan Kearsipan......................................................................116
Tabel 2.60 Indikator Kinerja Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Sampang Tahun
2013-2018............................................................................................................................................... 118
Tabel 2.61 Produksi Komoditas Pertanian................................................................................. 120
Tabel 2. 62 Produksi Tanaman Perkebunan Tahun 2019-2020........................................121
Tabel 2.63 Populasi Ternak dan Hasil Peternakan Tahun 2019 – 2020.......................121
Tabel 2.64 Indikator Kinerja Urusan Perencanaan Pembangunan..................................123
Tabel 2.65 Opini BPK terhadap Kinerja Keuangan Daerah.................................................125
Tabel 2.66 Indeks Profesionalitas ASN........................................................................................ 125
Tabel 2.67 Nilai Indeks Profesionalitas ASN Kabupaten Sampang Tahun 2020........125
Tabel 2.68 Persentase Hasil Kajian Penelitian dan Pengembangan yang Dijadikan
Dasar Pembangunan............................................................................................................................ 126
Tabel 2.69 Indikator Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Sampang Tahun 2016-
2020........................................................................................................................................................... 126
Tabel 2.70 Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita Kabupaten Sampang Tahun 2016 –
2020........................................................................................................................................................... 128
Tabel 2.71 Derajat Desentralisasi Fiskal Kabupaten Sampang..........................................128
Tabel 2.72 Kinerja Infrastruktur Daerah Kabupaten Sampang.........................................129
Tabel 2.73 Persentase Perijinan yang Diterbitkan Tepat Waktu......................................130

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 137
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Tabel 2.74 Pencari Kerja yang Ditempatkan, Rasio lulusan S1/S2/S3, dan Rasio
Ketergantungan..................................................................................................................................... 132

II - 138 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Potensi Pengembangan Kawasan Budidaya................1


Gambar 2.2 Peta Batas Administrasi Kabupaten Sampang.......................................................3
Gambar 2.3 Peta Geologi Kabupaten Sampang..............................................................................7
Gambar 2.5 Potensi Pengembangan Wilayah di Kabupaten Sampang..............................15
Gambar 2.6 Peta Rencana Kawasan Lindung............................................................................... 20
Gambar 2.7 Peta Rencana Kawasan Budidaya............................................................................25
Gambar 2.8 Peta Rencana Kawasan Hutan Produksi................................................................26
Gambar 2.9 Peta Rencana Kawasan Pertanian............................................................................ 30
Gambar 2.10 Peta Rencana Kawasan Perkebunan....................................................................32
Gambar 2.11 Peta Rencana Kawasan Pertambangan...............................................................36
Gambar 2.12 Peta Rencana Kawasan Peruntukan Industri...................................................38
Gambar 2.13 Peta Persebaran Daya Tarik Wisata Alam.........................................................41
Gambar 2.14 Peta Rencana Kawasan Permukiman...................................................................42
Gambar 2.15 Peta Rawan Bencana dan Jalur Evakuasi............................................................45
Gambar 2.16 Jumlah Penduduk Kabupaten Sampang Tahun 2016-2020........................48
Gambar 2.17 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Sampang per Kecamatan
Tahun 2020................................................................................................................................................ 48
Gambar 2.18 Distribusi Penduduk Kabupaten Sampang Tahun 2018.............................49
Gambar 2.21 Komponen pembentuk indikator Kinerja Penyelenggaraan Pemerintah
daerah.......................................................................................................................................................... 62
Gambar 2.23 Nilai dan Konstribusi PDRB ADHK 2010 kabupaten/kota di Pulau
Madura terhadap Provinsi Jawa Timur Tahun 2016...............................................................69
Gambar 2.24 Pertumbuhan Ekonomi Sampang, Jawa Timur dan Nasional Tahun
2016-2020.................................................................................................................................................. 70
Gambar 2.25 Pendapatan Per Kapita ADHK Kabupaten Sampang Tahun 2016–2020
......................................................................................................................................................................... 71
Gambar 2.26 PDRB Perkapita Kabupaten Sampang Tahun 2016-2020...........................72
Gambar 2.27 Perkembangan Gini Rasio Kabupaten Sampang dan Daerah Sekitar
tahun 2016-2020..................................................................................................................................... 73
Gambar 2.28 Inflasi Kabupaten Sampang, Jawa Timur, dan Nasional Tahun 2013–
2018.............................................................................................................................................................. 74
Gambar 2.29 Perkembangan Angka Kemiskinan Kabupaten Sampang 2013-2018....75

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 139
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Gambar 2.30 Angka Kemiskinan Kabupaten Sampang dan Daerah Sekitar Tahun
2016-2020.................................................................................................................................................. 75
Gambar 2.31 Sebaran Penduduk Miskin Kabupaten Sampang.............................................77
Gambar 2.32 IPM Kabupaten Sampang Tahun 2016-2020....................................................80
Gambar 2.35 Sebaran Desa Stunting Kabupaten Sampang....................................................89

II - 140 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

Grafik 2.1 Diagram Penggunaan Lahan Kabupaten Sampang...............................................14


Grafik 2.3 Komposisi penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin............................50
Grafik 2.4 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Keatas menurut Pendidikan
Tertinggi yang Ditamatkan.................................................................................................................. 53
Grafik 2.5 Nilai dan Konstribusi PDRB ADHB kabupaten di Pulau Madura terhadap
Provinsi Jawa Timur Tahun 2020..................................................................................................... 66
Grafik 2.6 Perbandingan IPM Laki-Laki dan IPM Perempuan...............................................82
Grafik 2.7 Perkembangan IDG Kab. Sampang.............................................................................. 83
Grafik 2.8 Rata-rata Lama Sekolah di Kabupaten Sampang Tahun 2016-2020.............84
Grafik 2.9 Harapan Lama Sekolah di Kabupaten Sampang Tahun 2016-2020..............85
Grafik 2.10 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan TPT Kabupaten Sampang Tahun
2016-2020.................................................................................................................................................. 90
Grafik 2.11 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Sampang Tahun 2016-2020...........108
Grafik 2.12 Perkembangan Persentase Kenaikan Realisasi Investasi.............................112
Grafik 2.13 Pertumbuhan Ekonomi Sub Kategori Perikanan Kabupaten Sampang. .117
Grafik 2.14 Jumlah Kunjungan Wisata Kabupaten Sampang..............................................119
Grafik 2.15 Pertumbuhan Ekonomi Sub Kategori Pertanian..............................................120
Grafik 2.16 Pertumbuhan Sub Kategori Perdagangan...........................................................122
Grafik 2.17 Kontribusi Sektor Industri terhadap PDRB........................................................123
Grafik 2.18 Nilai Realisasi PMDN Kabupaten Sampang 2016-2020................................131
Grafik 2.19 Indeks Toleransi Kab. Sampang Tahun 2016 - 2020......................................132

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 141
Gambaran Umum Kondisi Daerah

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH....................................................................................... 1

2.1 Aspek Geografi dan Demografi......................................................................................................... 1

2.1.1 Kondisi Geografi Daerah........................................................................................................2

2.1.1.1 Letak, luas dan batas wilayah.........................................................................................2

2.1.1.2 Kondisi topografi.............................................................................................................3

2.1.1.3 Kondisi klimatologi..........................................................................................................4

2.1.1.4 Kondisi geologi................................................................................................................5

2.1.1.5 Kondisi hidrologi.............................................................................................................6

2.1.1.6 Penggunaan lahan........................................................................................................11

2.1.2 Potensi Pengembangan Wilayah.........................................................................................12

2.1.3 Wilayah Rawan Bencana......................................................................................................37

2.1.4 Kondisi Demografi...............................................................................................................39

a. Jumlah dan Kepadatan Penduduk.....................................................................................40

b. Komposisi penduduk berdasarkan Umur dan Rasio Jenis Kelamin....................................41

c. Komposisi Penduduk berdasarkan Tingkat Pendidikan.....................................................43

2.1.5 Kondisi Daya Dukung dan Daya Tampung berdasarkan KLHS..............................................45

2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat............................................................................................... 47

2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi.........................................................51

2.2.2 Fokus Kesejahteraan Sosial..................................................................................................71

1. Pendidikan............................................................................................................................71

2. Kesehatan..........................................................................................................................73

3. Kepemilikan Lahan.............................................................................................................74

4. Kesempatan Kerja..............................................................................................................75

2.2.3 Fokus Seni Budaya dan Olah Raga.......................................................................................75

2.3 Aspek Pelayanan Umum............................................................................................................. 76

2.3.1 Fokus Urusan Wajib Layanan Dasar.....................................................................................76

II - 142 | P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4
Gambaran Umum Kondisi Daerah

1. Pendidikan.........................................................................................................................77

2. Kesehatan..........................................................................................................................79

3. Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.............................................................................83

4. Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman.................................................................84

5. Ketenteraman, Ketertiban Umum, dan Pelindungan Masyarakat.....................................85

6. Sosial..................................................................................................................................86

2.3.2 Fokus Urusan Wajib Bukan Layanan Dasar..........................................................................86

2.3.3 Fokus Urusan Pilihan.........................................................................................................102

2.3.4 Fokus Unsur Penunjang Urusan Pemerintahan.................................................................106

2.4 Aspek Daya Saing Daerah............................................................................................................. 109

2.4.1 Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah.................................................................................110

2.4.2 Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastuktur..................................................................................111

2.4.3 Fokus Iklim Berinvestasi.....................................................................................................112

2.4.3.1 Persentase Perijinan yang Diterbitkan Tepat Waktu..................................................113

2.4.3.2 Realisasi PMDN Kabupaten Sampang.........................................................................113

2.4.4 Fokus Sumber Daya Manusia.............................................................................................114

P - R P J M D K a b u p a t e n S a m p a n g T a h u n 2 0 1 9 - 2 0 2 4 | II - 143

Anda mungkin juga menyukai