Anda di halaman 1dari 25

RESUME

ILMU DASAR KEPERAWATAN 2


OBAT – OBAT TRADISIONAL

Oleh :

INDAH NOVIA HENDRA


NIM : 203310698

DOSEN : Ns. Hj. MURNIATI MUCHTAR, SKM, S.Kep, M. Biomed

PROGRAM STUDI NERS TINGKAT 1


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG
PADANG
2021
OBAT – OBAT TRADISIONAL

A. Sejarah Obat Tradisional


Pengobatan secara tradisional tertua yang tercatat dalam sejarah yaitu pada Bangsa
Yunani kuno juga banyak menyimpan catatan mengenai penggunaan tanaman obat yaitu
Hyppocrates ( tahun 466 sebelum masehi ) membuat himpunan keterangan terinci mengenai
ribuan tanaman obat dalam De Materia Medica. Orang-orang Yunani kuno juga telah
melakukan pengobatan herbal.  Zaman Mesir kuno ( tahun 2500 sebelum masehi ) yang
ditulis dalam Papyrus Ehers meyebutkan Sejumlah besar resep penggunaan produk tanaman
untuk pengobatan berbagai penyakit, gejala-gejala penyakit dan diagnosanya, Pada saat itu,
para pendeta Mesir kuno telah melakukan dan mempraktekkan pengobatan Herbal. Dalam
kepercayaan agama Islam tentang pengobatan,  telah disabdakan oleh  Rasullullah SAW
“Setiap kali Allah menurunkan penyakit, pasti Allah menurunkan (pula) obatnya.” (HR.
Bukhari-Muslim).
Obat tradisional telah dikenal dan digunakan secara luas di berbagai belahan dunia,
terutama di negara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia. Di
negara-negara maju, penggunaan obat tradisional juga semakin populer.
Pemanfaatan obat tradisional di Indonesia telah dimulai sejak berabad-abad yang
lalu. Hal tersebut dapat dibuktikan dari relief yang dapat ditemui di candi
Borobudur. Pada relief Karmawibhangga digambarkan seorang laki-laki mendapat
perawatan dari beberapa wanita dengan cara memijat kepalanya serta memegang
tangan dan kakinya. Relief lain mengilustrasikan tanaman yang sampai sekarang
masih digunakan sebagai komponen jamu, antara lain: nagasari, semanggen,
cendana wangi, kecubung, dan lain-lain. Dari relief-relief tersebut dapat diidentifikasi
lebih dari 50 jenis tanaman. Gambaran yang serupa juga ditemukan pada
relief-relief di Candi Prambanan, Candi Penataran, Candi Sukuh, dan Candi
Tegawangi.
Selain dari relief candi, bukti penggunaan obat tradisional oleh masyarakat Indonesia
juga dapat ditemukan dari informasi tertulis pada Serat Kawruh dan Serat Centhini yang
tersimpan di perpustakaan Keraton (istana) Surakarta. Serat Centhini memuat semua
pengetahuan yang ada di Jawa sejak masa pemerintahan Sultan Agung sampai serat tersebut
ditulis yaitu pada tahun 1814. Pada tahun 1831 ditulis Serat Kawruh Bab Jampi-Jampi Jawi
yang merupakan kumpulan ramuan obat asli Indonesia (Jawa). Buku yang ditulis dalam
bahasa Jawa dan dengan aksara Jawa tersebut memuat 1166 resep; terdiri atas 922 resep
ramuan bahan alam dan 244 resep berupa catatan rajah dan jimat atau gambar-gambar do’a,
rapal dan mantra yang mempunyai daya penyembuh.
Bagi masyarakat Jawa dan Madura, obat tradisional lebih dikenal luas sebagai jamu.
Istilah jamu berasal dari Bahasa Jawa yang berarti obat tradisional yang berasal dari
tanaman. Saat ini istilah jamu telah diadopsi ke dalam Bahasa Indonesia dengan arti yang
sama. Jamu gendong adalah salah satu jenis jamu yang dijual tanpa label, disiapkan segar
dari bahan tanaman, tanpa bahan pengawet dan dijual secara luas di warung-warung. Jamu
gendong juga dapat disiapkan secara instan kepada mereka yang memesannya. Penjual
kemudian membawanya dari pintu ke pintu. Istilah gendong sendiri berarti membawa
sesuatu dengan punggung. Sediaan jamu dimasukkan ke dalam botol-botol, kemudian botol
diletakkan ke dalam sebuah keranjang bambu atau rotan dan dibawa dengan punggung
menggunakan kain panjang dan lebar yang disebut sebagai selendang.

B. Pengertian Obat Tradisional


Obat adalah bahan atau zat yang berasal dari tumbuhan, hewan,mineral maupun zat
kimia tertentu yang dapat digunakan untuk mencegah, mengurangi rasa sakit, memperlambat
proses penyakit dan atau menyembuhkan penyakit. Obat harus sesuai dosis agar efek terapi
atau khasiatnya bisa kita dapatkan.
Obat tradisional adalah obat-obatan yang diolah secara tradisional, turuntemurun,
berdasarkan resep nenek moyang, adat-istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan setempat, baik
bersifat magic maupun pengetahuan tradisional. Menurut penelitian masa kini, obat-obatan
tradisional memang bermanfaat bagi kesehatan dan saat ini penggunaannya cukup gencar
dilakukan karena lebih mudah dijangkau masyarakat, baik harga maupun ketersediaannya.
Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), definisi obat tradisional
(OT) adalah bahan atau ramuan berupa tumbuhan, bagian hewan, mineral, atau campuran
dari bahan-bahan tersebut yang digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan. Obat
tradisional juga sering disebut Obat Bahan Alam (OBA).
Obat tradisional pada saat ini banyak digunakan karena menurut beberapa penelitian
tidak terlalu menyebabkab efek samping, karena masih bisa dicerna oleh tubuh. Bagian dari
obat tradisional yang banyak digunakan atau dimanfaatkan di masyarakat adalah akar,
rimpang, batang, buah, daun dan bunga. Seperti misalnya akar alang-alang dipergunakan
untuk obat penurun panas. Rimpang temulawak dan rimpang kunyit banyak dipergunakan
untuk obat hepatitis. Batang kina dipergunakan untuk obat malaria. Kulit batang kayu manis
banyak dipergunakan untuk obat tekanan darah tinggi. Buah mengkudu banyak
dipergunakan untuk obat kanker. Buah belimbing banyak dipergunakan untuk obat tekanan
darah tinggi. Daun bluntas untuk obat menghilangkan bau badan. Bunga belimbing Wuluh
untuk obat batuk.

Obat Tradisional Lisensi adalah obat tradisional asing yang diproduksi oleh suatu
Industri obat tradisional atas persetujuan dari perusahaan yang bersangkutan dengan
memakai merk dan nama dagang perusahaan tersebut.
Pilis adalah obat tradisional dalam bentuk padat atau pasta yang digunakan dengan
cara mencoletkan pada dahi.
Parem adalan obat tradisional dalam bentuk padat, pasta atau bubur yang digunakan
dengan cera melumurkan pada kaki dan tangan atau pada bagian tubuh lain.
Tapel adalah obat tradisional dalam bentuk, padat pasta atau bubur yang digunakan
dengan cara melumurkan pada seluruh permukaan perut.
Sediaan Galenik adalah ekrtaksi bahan atau campuran bahan yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan atau hewan.
Bahan tambahan adalah zat yang tidak berkhasiat sebagai obat yang ditambahkan
pada obat tradisional untuk meningkatkan mutu, termasuk mengawetkan, memberi warna,
mengedapkan rasa dan bau serta memantapkan warna, rasa, bau ataupun konsistensi.
Obat yang beredar sekarang ini tak lepas dari perkembangan obat di masa lalu yang
berawal dari coba-mencoba yang dilakukan oleh manusia purba, di sebut empiris. Empiris
berarti berdasarkan pengalaman dan disimpan serta dikembangkan secara turun-temurun
hingga muncul apa yang disebut Ilmu Pengobatan Rakyat atau Pengobatan Tradisional.

C. Kelebihan Dan Kekurangan Obat Tradisional


Kelebihan obat tradisional :
1. Efek sampingnya relatif kecil bila digunakan secara benar dan tepat
2. Ramuan dengan komponen yang berbeda memiliki efek samping yang mendukung
3. Pada satu tanaman memiliki lebih dari satu efek farmakologi serta lebih sesuai untuk
penyakit-penyakit metabolic dan degeneral.
Kekurangan obat tradisional :
1. Efek farmakologinya lemah
2. Pada obat tradisional tertentu bahan bakunya belum standar
3. Belum di lakukan uji klinik (Pada jamu dan obat herbal terstandar)
4. Untuk bahan yang belum di standarisasi mudah tercemar berbagai jenis
mikroorganisme

D. Jenis Dan Sumber Obat Tradisional


Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Dirjen
POM) yang kemudian beralih menjadi Badan POM mempunyai tanggung jawab dalam
peredaran obat tradisional di masyarakat. Obat tradisional Indonesia semula hanya
dibedakan menjadi 2 kelompok,yaitu obat tradisional atau jamu dan fitofarmaka. Namun,
dengan semakin berkembangnya teknologi,telah diciptakan peralatan berteknologi tinggi
yang membantu proses produksi sehingga industri jamu maupun industri farmasi mampu
membuat jamu dalam bentuk ekstrak. Namun, sayang pembuatan sediaan yang lebih praktis
ini belum diiringi dengan penelitian sampai dengan uji klinik. Dengan keadaan tersebut
maka obat tradisional sebenarnya dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu jamu, obat ekstrak
alam dan fitofarmaka.

1. Jamu (Empirical bused herbal medicine)


Jamu adalah obat tradisional yang berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan,
hewan dan mineral dan atau sediaan galeniknya atau campuran dari bahan-bahan
tersebut yang belum dibakukkan dan dipergunakan dalam upaya pengobatan
berdasarkan pengalaman. Bentuk sediaannya berwujud sebagai serbuk
seduhan,rajangan untuk seduhan,dan sebagainya. Istilah penggunaannya masih
memakai pengertian tradisional seperti galiansingset, sekalor, pegel linu, tolak angin,
dan sebagainya.
Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, misalnya
dalam bentuk serbuk seduhan, oil, dan cairan yang berisi seluruh bahan tanaman
yang menjadi penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional. Pada
umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur yang
disusun dari berbagai tanaman obat yang jumlahnya cukup banyak, berkisar antara 5-
10 macam bahkan lebih.
Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis,
tetapi cukup dengan bukti empiris. Jamu yang telah digunakan secara turun-temurun
selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun,telah membuktikan
keamanan dan manfaat secara langsung untuk tujuan kesehatn tertentu.
2. Ekstrak bahan alam ( Scientific based herbal medicine)
Ekstrak bahan alam adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau
penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral.
Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan
berharga mahal, ditambah dengan tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan
maupun keterampilan pembuatan ekstrak.
Selain proses produksi dengan teknologi maju, jenis ini pada umumnya telah
ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pra-klinik seperti
standar kandungan bahan berkhasiat, standar pembuatan ekstrak tanman obat, standar
pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akut maupun kronis.
3. Fitofarmaka (Clinical based herbal medicine)
Fitofarmaka adalah sediaan obat yang telah dibuktikan keamanannya dan
khasiatnya, bahan bakunya terdiri dari simplisia atau sediaan galenik yang telah
memenuhi persyarakatan yang berlaku. Istilah cara penggunaanya menggunakan
pengertian farmakologik seperti diuretic,analgesic,antipiretik,dan sebagainya.
Selama ini obat-obat fitofarmaka yang berada di pasaran masih kalah bersaing
dengan obat paten. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor,antara lain kepercayaan,
standar produksi, promosi dan pendekatan terhadap medis, maupun konsumennya
secara langsung. Fitofarmaka merupakan bentuk obat tradisional dari bahan alam
yang dapat disejajarkan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah
terstandar,ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dnegn uji klinik pada manusia. Oleh
karena itu, dalam pembuatannya memerlukan tenaga ahli dan biaya yang besar
ditunjang dengan peralatan berteknologi modern pula.
Obat tradisional dapat diperoleh dari berbagai sumber sebagai pembuat atau
yang memproduksi obat tradisional yang dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. Obat tradisional buatan sendiri
Obat tradisional jenis ini merupakan akar dari pengembangan obat
tradisional di Indonesia saat ini. Pada zaman dahulu, nenek moyang kita
mempunyai kemampuan untuk menyediakan ramuan obat tradisional yang
digunakan untuk keperluan keluarga.
b. Obat tradisional berasal dari pembuat jamu (Herbalist)
Membuat jamu merupakan salah satu profesi yang jumlahnya masih
cukup banyak. Saalah satunya adalah pembuat sekaligus penjual jamu
gendong. Pembuat jamu gendong merupakan salah satu penyedia obat
tradisional dalam bentuk cairan minum yang sangat digemari masyarakat.
c. Obat tradisional buatan industri
Berdasarkan peraturan Departemen Kesehatan RI, industri obat
tradisioanl dapat dikelompokkan menjadi industri kecil dan industri besar
berdasarkan modal yang harus mereka miliki. Dengan semakin maraknya
obat tradisional, tampaknya industri farmasi mulai tertarik untuk
memproduksi obat tradisional. Akan tetapi,pada umumnya yang berbentuk
sediaan modern berupa ektrak baham alam atau fitofarmaka. Sedangkan
industri jamu lebih condong untuk memproduksi bentuk jamu yang sederhana
meskipun akhir-akhir ini cukup banyak industri besar yang memproduksi
jamu dalam bentuk sediaan modern (tablet,kapsul, sirup dan lain-lain) dan
bahkan fitofarmaka.

Tabel 1. Tanaman Obat Fitofarmaka yang Prospektif

No Tanaman Obat Bagian tanaman obat Indikasi potensi


Temulawak (Curcuma Umbi Hepatitis, artritis
1.
Xantorrhiza
Kunyit ( Curcuma demostica Umbi Hepatitis, arthritis,
2.
Val ) antiseptik
Bawang Putih (Allium sativum Umbi Kandidiasis, hiperlipidemia
3.
Lynn)
Jati Blanda (Guazuma Daun Anti hiperlipidemia
4.
ulmitblia Lamk)
Handeuleum (Daun ungu) Daun Hemoroid
5.
(Gratophyllum picium Griff)
Tempuyung (Sonchus arvensis Daun Nefrolitiasis, diuretik
6.
Linn)
Kejibeling (Strobilanthes Daun Nefrolitiasis, diuretik
7.
cripus BJ)
Labu merah (Cucurbita Biji Taeniasis
8.
moschata Durch)
9. Katuk (Sauropus androgynus Daun Meningkatkan produksi ASI
Merr)
Kumis kucing (Orthosiphon Daun Diuretik
10.
stamineus Benth)
Seledri (Apium graveolena Daun Hipertensi
11.
Linn)
Pare (Momordica charantia Buah biji Diabetes mellitus
12.
Linn)
Jambu biji (Klutuk) (Psidium Daun Diare
13.
guajava Linn)
Ceguk (wudani) (Quisqualis Biji Askariasis,oksiurtasis
14.
indica Linn)
Jambu mede (Anacardium Daun Analgesik
15.
occidentale)
16. Sirih (Piper betle Linn) Daun Antiseptik
Saga tekik (Abrus precatorius Daun Stomatitis attosa
17.
Linn)
Sabung (Blumca balsamitera Daun Analgesik, antipiretik
18.
D.C)
Benalu the (Loranthus spec, Batang Ahli kanker
19.
div)
Pepaya (Carica papaya Linn) Getah daun biji Sumber papain, Anti
20.
malaria, Kontrasepsi pria
Butrawali (Tinospora rumphii Batang Antimalaria, Diabetes
21.
Boerl) mellitus
Pegagan (kaki kuda)(Centella Daun Diuretika, antis-
22.
asiatica Urban) hipertensieptic, antikeloid,
23. Legundi (Vitcx trifolia Linn) Daun Antiseptik
24. Inggu (Ruta graveolens Linn) Daun Analgesik, antipiretik
Sidowajah (Woodfordia Daun Antiseptik, diuretika
25.
floribunda Salibs)
26. Pala (Myristica fragrans Houtt) Buah Sedatif
Sambilata (Adrographis Seluruh tanaman daun Antiseptik,diabetes mellitus
27.
paniculata Nees)
Jahe (Halia) (Zingibers Umbi Analgesik, Antipiretik,
28.
officinale Linn) antiinflamasi
Delima putih (Punica granalum Kulit buah Antiseptik, antidiare
29.
Linn)
30. Dringo (Acorus calamus Linn) Umbi Sedatif
Jeruk ninja (Citrus aurantifolia Buah Antibatuk.
31.
Svviqk)

E. Pengembangan Obat Tradisional Indonesia


Terdapat 2 macam pendekatan yang dapat ditempuh dalam upaya pengembangan
obat tradisional tersebut yakni kearah :
1. Obat kelompok fitoterapi, yang mendasarkan kepada simplisia (termasuk sediaan
galeniknya) yang digunakan sebagai obat.
2. Obat kelompok kemoterapi, yang mendasarkan kepada zat aktif yang dalam keadaan
murni diisolasi dari tumbuhan
Seperti telah disinggung di muka, Departemen Kesehatan menekankan
pengembangan obat tradisional kelompok fitoterapi. Tujuannya agar dapat menghasilkan
sediaan-sediaan fitoterapik baik dalam bentuk simplisia ataupun sediaan galenik, yang
segera dapat dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan formal.
Dalam hal ini pertama-tama perlu dilakukan pengumpulan data tentang obat
tradisional yang ada dan pernah ada di Indonesia. Kemudian menyeleksi mana yang perlu
dikembangkan dan mana pula yang tidak. Untuk obat tradisional yang akan dikembangkan,
perlu penelitian lanjutan menyangkut keamanan penggunaan, farmakologi serta khasiatnya
secara klinik. Tahap berikutnya adalah mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan
sediaan yang dapat digunakan dan penelitian mutu ditinjau dari sudut teknologi farmasi. Jika
obat tradisional telah mengalami penelitian dan pengembangan seperti diuraikan diatas dapat
dikatakan telah memenuhi persyaratan medic dan farmasetik.
Pemilihan obat tradisional yang akan dikembangkan ke arah obat kelompok fitoterapi
didasarkan atas pertimbangan :
1. Obat tradisional tersebut diharapkan mempunyai manfaat untuk penyakit-penyakit
yang angka kejadiannya menduduki urutan atas (pola penyakit).
2. Obat tradisional tersebut diperkirakan mempunyai manfaat untuk penyakit-penyakit
tertentu berdasarkan pengalaman pemakaiannya.
3. Obat tradisional tersebut diperkirakan merupakan alternatif yang jarang atau bahkan
merupakan satu-satunya alternatif untuk penyakit tertentu.
F. Komposisi Dan Persyaratan Obat Tradisional
Dalam upaya pembinaan industri obat tradisional, pemerintah melalui Depkes telah
memberikan petunjuk pembuatan obat tradisional dengan komposisi rasional melalui
pedoman rasionalisasi komposisi obat tradisional dan petunjuk formularium obat tradisional.
Hal ini terkait dengan masih banyaknya ditemui penyusunan obat tradisional yang tidak
rasional (irrational) ditinjau dari jumlah bahan penyusunnya. Sejumlah simplisia penyusun
obat tradisional tersebut seringkali merupakan beberapa simplisia yang mempunyai khasiat
yang sama. Oleh karena itu, perlu diketahu racikan khasiat yang sama. Oleh karena itu, perlu
diketahui racikan simplisia yang rasional agar ramuan obat yang diperoleh mempunyai
khasiat sesuai maksud pembuatan jamu tersebut.
Komposisi obat tradisional yang biasa diproduksi oleh industri jamu dalam bentuk
jamu sederhana pada umumnya tersusun dari bahan baku yang sangat banyak dan bervariasi.
Sedangkan bentuk obat ekstrak alam dan fitofarmaka pada umumnya tersusun dari simplisia
tunggal atau maksimal 5 macam jenis bahan tanaman obat. Pada pembahasan ini lebih
ditekankan pada penyusunan obat tradisional bentuk sederhana atau jamu, mengingat cukup
banyak komposisi jamu yang irrasional seperti penggunaan simplisia yang tidak sesuai pada
satu ramuan, penggunaan simplisia yang tidak sesuai dengan manfaat yang diharapkan dan
sebagainya. Agar dapat disusun suatu komposisi obat tradisional maka beberapa hal yang
perlu diketahui adalah:
1. Nama umum obat tradisional/ jamu
Jamu yang diproduksi pada umumnya mempunyai tujuan pemanfaatan yang
tercermin dari nama umum jamu.Perlu diketahui bahwa terdapat peraturan tentang
penandaan obat tradisional. Jamu yang diproduksi dan didistribusikan kepada
konsumen harus diberi label yang menjelaskan tentang obat tradisional tersebut,
diantaranya tentang manfaat atau khasiat jamu. Penjelasan tentang manfaat jamu
hanya boleh disampaikan dalam bentuk mengurangi atau menghilangkan keluhan
atau gejala yang dialami seseorang dan bukan menyembuhkan suatu diagnosis
penyakit.
Secara umum, jamu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang bertujuan untuk
menjaga kesehatan atau promotif dan mencegah dari kesakitan,serta jamu yang
dimanfaatkan untuk mengobati keluhan penyakit.
2. Komposisi bahan penyusun jamu
Menyusun komposisi bahan penyusun jamu dapat dilakukan dengan
memperhatikan manfaat yang akan diambil dari ramuan yang dibuat derta kegunaan
dari masing-masing simplisia penyusun jamu tersebut. Tujuan pemanfaatan jamu
untuk suatu jenis keadaan tertentu harus memperhatikan keluhan yang biasa dialami
pada kondisi tersebut. Misalkan pada orang hamil tua sering mengalami kejang pada
kaki, badan mudah lelah, dan lain sebagainya, penderita rematik biasa mengeluhkan
nyeri pada persendian.
Keterbatasan yang dijumpai dalam penyusunan kompisisi jamu adalah
takaran dari masing-masing simplisia maupun dosis sediaan. Penelitian ilmiah dalam
hal ini masih sangat kurang sehingga seringkali penetapan takaran maupun dosis
hanya mengacu pada pengalaman peracik obat tradisional yang lain dan atas dasar
kebiasaan penggunaan terdahulu.
3. Simplisia dan kegunaan
Simplisia ialah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apa pun dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah
dikeringkan. Dari jenis simplisia yang umum digunakan oleh industri jamu, ada
beberapa tanaman yang mempunyai kegunaan yang mirip satu dengan lainnya
meskipun pasti juga terdapat perbedaan mengingat kandungan bahan berkhasiat
antara satu tanaman dengan lainnya tidak dapat sama. Bahkan, untuk jenis tanaman
yang sama, masih ada kemungkinan kadar bahan berkhasiat yang terkandung tidak
sama persis mengingat adanya pengaruh dari tanah tempat tumbuh, iklim, dan
perlakuan, misalnya pemupukan.
Pengetahuan tentang kegunaan masing-masing simplisia sangat penting,
sebab dengan diketahui kegunaan masing-masing simplisia, diharapkan tidak terjadi
tumpang tindih pemanfaatan tanaman obat serta dapat mencarikan alternatif
pengganti yang tepat apabila simplisia yang dibutuhkan ternyata tidak dapat
diperoleh.
4. Penelitian yag telah dilakukan terhadap simplisia penyusun obat tradisional
Obat tradisional terdiri dari berbagai jenis tanaman dan bagian tanaman.
Sesuai dengan Sistem Kesehatan Nasional maka obat tradisional yang terbukti
berkhasiat perlu dimanfaatkan dan ditingkatkan kualitasnya. Untuk dapat
membuktikan khasiatnya, sampai saat ini telah banyak dilakukan penelitian. Akan
tetapi, masih bersifat pendahuluan dan masih sangat sedikit percobaan dilakukan
sampai fase penelitian klinik. Penelitian yang telah dilakukan terhadap tanaman obat
sangat membantu dalam pemilihan bahan baku obat tradisional. Pengalaman empiris
ditunjang dengan penelitian semakin memberikan keyakinan akan khasiat dan
keamanan obat tradisional.
Penelitian dan pengembangan obat dan perbekalan kesehatan pada dasarnya
mencakup sistem (managemen obat, SDM, penggunaaan obat rasional, dan lain-lain),
komoditas (obat,bahan obat, obat tradisional kosmetik, bahan berbahaya, bahan
tambahan makanan, dan lain-lain), proses (pengembangan obat baru kimia farmasi,
formulasi, uji preklinik, uji klinik), kajian regulasi dan kebijakan (obat esensial, obat
generic, cara pembuatan obat yang baik).
Riset operasional memfasilitasi implimentasi, monitoring dan evaluasi
berbagai aspek dalam kebijakan obat. Riset operasional merupakan alat utama dalam
menilai dampak kebijakan obat dalam sistem pelayanan kesehatan disuatu Negara,
meneliti aspek ekonomis penyediaan obat, dan aspek sosial budaya dalam
penggunaan obat (WHO, 2011).

G. Regulasi Obat Dan Perbekalan Kesehatan


Menurut WHO (2001), otoritas regulasi obat adalah lembaga yang menyusun dan
melaksanakan berbagai peraturan mengenai kefarmasian untuk menjamin keamanan,
khasiat, mutu dan kebenaran informasi mengenai obat. Pengawasan obat merupakan salah
satu upaya mengatasi masalah penyalahgunaan obat yang merupakan masalah kompleks dan
harus ditangani secara lintas sektor dan lintas program. Selain itu, pengawasan obat juga
mencakup perlindungan kepada masyarakat terhadap penggunaan obat yang salah sebagai
akibat dari kekurangtahuan masyarakat serta informasi yang tidak benar, tidak lengkap, dan
menyesatkan.
Dalam melaksanakan regulasi obat perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Otoritas regulasi obat harus independen dan transparan.
2. Pengawasan yang dilaksanakn nasional, perizinan sarana produksi dan
distribusi,pengawasan terhadap sarana produksi dan distribusi, pengawasan terhadap
sarana produksi dan distribusi,akses laboratorium pemeriksaan mutu, surveilens
pasca pemasaran, uji klinik, serta ekspor dan impor dan impor obat dan pembekalan
kesehatan.
3. Pembentukkan pusat informasi obat di sarana kesehatan dan dinas kesehatan untuk
ontensifikasi penyebaran informasi obat;
4. Pengembangan sistem Monitoring Efek Samping Obat Nasional (MESO Nasional).
Dengan demikian, yang menjadi elemen inti dalam regulasi obat adalah pengaturan
mengenai mutu, keamanan, khasiat, dan informasi obat.

H. Pengertian Pengobatan Tradisional


Pengobatan Tradisional adalah suatu upaya kesehatan dengan cara lain dari ilmu
kedokteran dan berdasarkan pengetahuan yang diturunkan secara lisan maupun tulisan yang
berasal dari Indonesia atau luar Indonesia. WHO menyatakan Pengobatan tradisional ialah
ilmu dan seni pengobatan berdasarkan himpunan dari pengetahuan dan pengalaman praktek,
baik yang dapat diterangkan secara ilmiah ataupun tidak, dalam melakuakn diagnosis,
prevensi dan pengobatan terhadap ketidakseimbangan fisik, mental ataupun sosial.

I. Jenis Pengobatan Tradisional Di Indonesia


Berbagai jenis dan cara pengobatan tradisional terdapat dan dikenal di Indonesia.
Ada yang asli Indonesia dan ada pula yang berasal dari luar negeri. Secara garis besar ada 4
jenis pengobatan tradisional yaitu :
5. Pengobatan tradisional dengan ramuan obat :
a. Pengobatan tradisional dengan ramuan asli Indonesia
b. Pengobatan tradisional dengan ramuan obat cina
c. Pengobatan tradisional dengan ramuan obat India
6. Pengobatan tradisional spiritual/kebatinan:
a. Pengobatan tradisional atas dasar kepercayaan
b. Pengobatan tradisional atas dasar agama
c. Pengobatan dengan dasar getaran magnetis
7. Pengobatan tradisional dengan memakai peralatan/perangsangan :
a. Akupuntur, pengobatan atas dasar ilmu pengobatan tradisional Cina yang
menggunakan penusukan jarum dan penghangatan moxa (Daun Arthmesia
vulgaris yang di keringkan);
b. Pengobatan tradisional urut pijat
c. Pengobatan tradisional patah tulang
d. Pengobatan tradisional dengan peralatan (tajam/keras)
e. Pengobatan tradisional dengan peralatan benda tumpul.
8. Pengobatan tradisional yang telah mendapat pengarahan dan pengaturan
pemerintah ;
a. Dukun beranak
b. Tukang gigi tradisional

J. Kelebihan Dan Kekurangan Pengobatan Tradisional


Ada beberapa pengobatan tradisional yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk
mengobati penyakit yang dideritanya. Namun ada keuntungan dan kerugian dibalik
pengobatan alternatif ini. Selama ini masyarakat mengenal pengobatan konvensional yaitu
dengan menggunakan obat-obatan medis, dan juga pengobatan alternatif seperti akupuntur
dan relaksasi yang masih diperdebatkan.
Berikut ini beberapa keuntungan dan kerugian dari pengobatan alternatif yang
dilakukan, seperti dikutip dari Lifemojo, Jumat (22/7/2011) yaitu:
1. Kelebihan
a. Menggunakan pendekatan holistic
Kebanyakan dasar dari pengobatan alternatif adalah untuk mengobati kondisi
dan bukan gejala karenanya ia akan berfokus pada perawatan seluruh tubuh.
Untuk itu biasanya pengobatan ini tidak hanya untuk fisik tapi juga kesehatan
spiritual dan emosional pasien.
b. Pengobatannya lebih personal
Terapi alternatif umumnya bersifat personal tergantung pada kebutuhan
pasien, karenanya ia tidak bisa diproduksi massal dan terfokus pada tubuh
pasien sehingga secara individu.
c. Mengurangi stress
Stres adalah faktor penting dalam mempengaruhi sistem kekebalan tubuh
seseorang. Terapi alternatif seperti yoga dan meditasi bisa membantu
mengurangi stres, hal ini akan membantu memerangi penyakit dan
meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
2. Kekurangan
a. Membutuhkan waktu penyembuhan yang lama
Terapi alternatif umumnya tidak bisa memberikan penyembuhan secara instan
sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk menyembuhkan dibanding
dengan pengobatan konvensional.
b. Diperlukan ketelatenan dari pasien
Beberapa pengobatan alternatif memerlukan adanya perubahan gaya hidup
untuk menunjang terapi agar bisa bekerja lebih baik, sehingga diperlukan
disiplin dan ketelatenan dari pasien.
c. Penelitiannya masih terbatas
Beberapa obat alternatif kini telah banyak di daerah setempat.

K. Penyakit Yang Dapat Diatasi Dengan Obat Tradisional


1. Sakit gigi
a. Cengkeh
Cengkeh atau cengkih (Syzygium aromaticum) adalah tanaman asli
Indonesia dan memiliki beragam manfaat seperti penyedap rasa makanan juga
untuk mengobati berbagai macam penyakit :

 Mengobati sakit gigi.


Cara pemanfaatannya adalah sangrai 5 sampai 10 butir bunga cengkih
lalu ditumbuk hingga halus. Bubuk cengkeh yang dihasilkan
kemudian ditaburkan di bagian gigi yang sakit. Cara lainnya, 10 Butir
cengkeh disangrai lalu ditumbuk hingga menjadi bubuk, kemudian
bubuk cengkeh dimasukkan ke dalam gigi yang berlubang lalu ditutup
dengan kapas. 
 Mengatasi Infeksi Pernafasan
Menurut profesor dari Mount Sinai School of Medicine di New York
City; Neil Schachter, MD: Cengkeh bekerja sebagai ekspektoran.
yaitu dapat mengencerkan lendir yang ada di kerongkongan dan
tenggorokan. Teh yang mengandung cengkeh dapat membantu
mengatasi infeksi saluran pernapasan.
 Mengatasi noda jerawat
Menurut Cornelia Zicu (staf Elizabeth Arden Red Door Spas),
kandungan senyawa Euganol (dikenal sebagai antiseptik alami untuk
menyeimbangkan kulit) yang dikandung cengkeh dapat dimanfaatkan
untuk mencegah timbulnya jerawat dan menghilangkan noda bekas
jerawat.
 Pembersih Kuman alternatif 
Senyawa Euganol atau antiseptik alami pada cengkeh bermanfaat
untuk menjaga kebersihan barang-barang anda. Minyak cengkeh dapat
mengurangi bakteri atau jamur yang ada pada perabotan rumah tangga
dan mencegah kuman datang kembali. Caranya yaitu dengan
mencampur 1/2 sendok minyak cengkeh dengan dua gelas air
kemudian semprotkan ke tempat-tempat yang rentan terpapar bakteri
atau kuman, misalnya dinding kamar mandi.
 Pewangi alami pakaian
Aroma cengkeh yang pedas secara alami akan menutupi bau tak
sedap, selain itu dapat menjaga kesegaran barang-barang. Caranya:
simpanlah beberapa batang cengkeh ke dalam lemari pakaian dan
ganti setiap 2-4 minggu sekali, agar aroma segar tetap terjaga
2. Minyak cengkeh.
Minyak cengkeh digunakan untuk mengobati sakit gigi yang berlubang. Cara
menggunakannya, buatlah butiran kapas steril kemudian teteskan minyak cengkeh,
jangan terlalu basah karna rasanya yang pahit, panas dan bagi yang sensitif akan
menimbulkan luka pada kulit atau gusi yang terkena. Masukkan butiran kapas steril
yang telah ditetesi minyak cengkeh ke dalam gigi kemudian tutup dengan kapas steril
lalu si penderita disuruh mengigit kapas sehingga cairan akan meresap kedalam gigi.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama sakit akan menghilang.
3. Bawang Putih
Bawang putih mengandung antiseptik alami. Caranya bawang putih di kupas
hingga kulitnya habis, potong kecil – kecil dan cuci dengan air hangat. Kemudian di
lumatkan hingga halus. Buatlah butiran kira-kira sebesar lobang pada gigi. Masukkan
butiran bawang putih yang telah di haluskan ke dalam gigi kemudian tutup dengan
kapas steril lalu si penderita disuruh menggit kapas sehingga cairan akan meresap
kedalam gigi.

4. Batok Kelapa
Sediakan 3 sampai 4 buah batok kelapa, kemudian bakar batok tersebut
sampai berminyak. Ambil kapas bersih untuk mengambil minyak yang keluar
tersebut. Selanjutnya masukkan ke dalam gigi yang sakit. 
5. Cabai hijau
Cabai hijau dipotong ujungnya sedikit lalu dibakar. Setelah panas, tempelkan
cabai tsb pada gigi yang sakit.
6. Daun kembang sore
Daun kembang sore direbus dengan air 600 cc hingga tersisa 300 cc, lalu
selagi hangat digunakan berkumur-kumur.
7. Perut kambung
Parut bawang merah dan tambahkan minyak kelapa / minyak telon / minyak
kayu putih. Kemudian tempelkan bawang yang sudah diparut tersebut di bagian
pusar. Bisa juga, gunakan daun jarak pagar yang dihangatkan. Olesi dengan minyak
kelapa, pilin-pilin, lalu tempelkan pada pusar si kecil.Mengkudu (pace) juga bisa
digunakan Untuk meringankan perut kembung pada bayi. Caranya, panaskan daun
mengkudu diatas api beberapa saat, lalu olesi minyak kelapa. Tempelkan pada perut
anak sewaktu hangat. Bisa diulang beberapa kali.
8. Masuk angin
Ambil 8 siung bawang merah, dicuci, tumbuk halus, campur dengan air kapur
sirih secukupnya. Balurkan dipunggung, leher, perut dan kaki.
9. Diare
Sediakan 1/2 jari kunyit yang sudah bersih dibakar, dipotong-potong, 7 pucuk
daun jambu biji, air 2 gelas, dan garam 1/4 sendok teh, rebus dengan api kecil.
Minum airnya, 1 sendok teh satu jam sekali. Untuk mengusir gas, maka pusarnya
ditapeli dengan parutan bawang merah yang sudah diberi minyak telon. Untuk anak
yang sudah agak besar, boleh juga dengan mengunyah halus pucuk daun jambu
klutuk yang sudah bersih ditambah garam lalu ditelan.
10. Muntah-muntah
Muntah bisa disebabkan perut mual atau kembung. Sediakan 1/2 sendok teh
ketumbar, 3 butir kapulaga, 5 butir adas hitam, dan air setengah gelas. Kemudian
direbus. Setelah dingin, berikan ke anak sedikit-sedikit, sesering mungkin atau 2 jam
sekali.
Selain itu dengan air beras kencur. Caranya, cuci 1 sendok makan beras dan
direndam sebentar. Sangrai beras tersebut sampai berwarna kecokelatan, lalu
ditumbuk halus bersama dengan 1 ruas jari kencur, 1 ruas jari kunyit, dan 1/4 sendok
teh adas manis. Setelah itu diseduh dengan air panas, tambahkan gula merah, sedikit
garam, dan asam jawa. Saring, lalu diminumkan pada anak agar tubuhnya hangat.
11. Muntaber
Air kelapa muda dapat digunakan untuk obat muntaber karena air kelapa
muda banyak mengandung mineral kalium, yang banyak keluar ketika anak
muntaber. Dosisnya tak ada takarannya, sekendak anak.
12. Kolik dan erupsi gigi
Teh adas dapat dipakai untuk meringankan bayi yang menderita kolik atau
yang kesakitan akibat erupsi (keluarnya) gigi. Untuk obat masuk angin dan kolik,
caranya 1 sdt teh adas dilarutkan dengan 1 cangkir air mendidih, aduk hingga larut.
Setelah agak dingin, larutan dapat diminumkan pada bayi/anak dengan takaran sesuai
umurnya.
13. Penurun panas
Parut bawang merah, tambahkan minyak kelapa / minyak telon / minyak kayu
putih, lalu balurkan pada punggung sampai bagian pantat sambil sedikit diurut. Juga
pusar dan ubun-ubun. Untuk penurun panas bisa juga parutan bawang merah yang
ditambah minyak kelapa dicampur air jeruk nipis lalu dioleskan pada seluruh tubuh
anak.
14. Batuk
Ambil air jeruk nipis satu sendok makan beri kecap secukupnya dan sedikit
garam lalu panaskan hingga mendidih tunggu sampai hangat-hangat kuku,
minumkan.
Belimbing wuluh (belimbing asam, belimbing buluk) biasanya digunakan
untuk obat batuk anak. Caranya, kukus (dalam panci kecil tertutup selama beberapa
jam) satu genggam (sekitar 11-12 gram) bunga belimbing wuluh segar, 5 butir adas,
1 sendok makan gula batu dan 1/2 gelas air. Saring dan minumkan 2-3 kali/hari.
15. Batuk seratus hari
Sediakan umbi bidara kupas sebesar 1/2 jempol yang sudah bersih, parut dan
seduh dengan air panas, lalu aduk-aduk dan dinginkan. Saring dan tambahkan sedikit
madu. Minum sampai habis. Buatlah ramuan ini 3 kali sehari.
Selain itu, juga gunakan ramuan lidah buaya. Lidah buaya dikupas kulitnya
dan ambil bagian dagingnya sebanyak dua jari, kemudian dicacah. Tambahkan air
hangat dan madu, lalu diminumkan pada anak 1-2 kali sehari.
16. Batuk karena angin atau dahak susah keluar
Sediakan 1 butir bawang merah diparut, 1 ruas jari jahe diparut dan diperas
airnya, 7 butir adas manis, 1 ruas jari kunyit diparut dan diperas airnya, 1 sendok
makan air jeruk nipis, dan 1/2 gelas air. Masukkan semua bahan di cangkir,
kemudian kukus dan setelah itu saring. Minum 3 kali sehari masing-masing 2 sendok
teh.

17. Batuk berlendir


Campurkan air jahe 1 sendok makan, air kunyit 1 sendok makan, bawang
putih 1 siung diparut, air jeruk nipis 1 sendok makan, madu 1 sendok makan, dan 3
sendok makan air matang, kemudian dikukus. Diminumkan 3-4 kali sehari 2 sendok
teh.
18. Pilek
Siapkan bawang merah yang diparut, lalu tapelkan pada tulang leher ketujuh
(bagian tengkuk) dan ubun-ubun anak setelah sebelumnya diolesi minyak kelapa /
minyak telon / minyak kayu putih. Beri juga minuman yang hangat-hangat, seperti
minuman beras kencur. Selain itu, jemur anak di bawah sinar matahari pagi sekitar
jam 7 atau di bawah jam 9 pagi. Panaskan bagian dada seperempat jam dan
kemudian punggung seperempat jam. Ini bisa dilakukan sambil jalan-jalan pagi.
19. Mata bintitan
Ambil getah dari batang tanaman patikan kebo atau getah dari batang pohon
meniran. Tempelkan sedikit pada kapas, lalu oleskan pada bagian bintitnya, sedikit
saja, jangan sampai terkena mata.
20. Mata merah
Taruh 3 lembar daun sirih yang sudah dicuci bersih pada wadah mangkok.
Seduh dengan air panas. Setelah airnya dingin, minta anak untuk mengedip-
ngedipkan matanya dalam air tersebut.
21. Sariawan
Ambil sebuah tomat matang, seduh dengan air panas dan kupas kulitnya.
Haluskan tomat tersebut dengan menggunakan sendok, saring dan tambahkan sedikit
gula. Beri anak minumam sari tomat tsb.
22. Tidak nafsu makan  
Hilangnya nafsu makan dapat disebabkan cacingan atau hal lain seperti
masuk angin. Cara mengatasinya, bersihkan 1 lembar daun jarak pagar, setelah itu
hangatkan sebentar di atas tutup panci. Beri olesan minyak kelapa pada daun tersebut
dan dipilin, kemudian tempelkan daun tersebut di atas pusar anak, yang sebelumnya
sudah diolesi dengan minyak telon.Untuk menambah nafsu makan anak bisa juga
dengan ramuan: 1 ruas jari temulawak, gula merah, air secukupnya, dan sedikit
garam, kemudian rebus dan saring. Minumkan pada anak 1-2 sendok makan sehari.
23. Asma
Sepuluh siung bawang putih diparut, ditambah madu 1 gelas, kemudian
dikukus. Berikan pada anak sebanyak 1 sendok teh, dua kali sehari. Bisa juga, 10
siung bawang putih diparut, 1 ons gula batu, direbus bersama 1 gelas air.
24. Keracunan
Minum air kelapa hijau muda 3 kali sehari 1/4 gelas.
25. Mimisan
Selembar daun sirih yang sudah dicuci bersih dipilin dan disumpalkan ke
hidung anak. Untuk pengobatan dari dalam tubuh lakukan dengan ramuan: 1/2
jempol umbi bidara kupas yang sudah bersih diparut dan diseduh dengan 1 cangkir
air panas, kemudian disaring, dan setelah dingin diminumkan ke anak ditambah
sedikit madu.
26. Benjol karena benturan
Rendam 1 sendok makan beras. Tumbuk bersama kencur dan beri sedikit
garam. Setelah halus, tempelkan ke bagian yang benjol. Bisa juga diberi ramuan :
awang putih diparut dan dan diberi madu, setelah itu dioleskan ke bagian yang
benjol.
27. Keringat buntet
Sesering mungkin dibedaki tepung kanji. Selain itu kentang bisa juga
digunakan untuk ruam kulit yang disebabkan biang keringat atau keringat buntet
(miliaria), karena sifat kentang yang mendinginkan. Caranya parut kentang dan
peras. Oleskan sari air dan parutan kentang segar dioleskan pada keringat buntet 3-4
kali per hari.
28. Panu
Dua jari langkuas merah diparut dan diberi sedikit cuka, oles-oleskan pagi
dan sore atau malam hari pada bagian tubuh yang berpanu tersebut.
29. Congekan
Cuci bersih 7 lembar daun sambiloto atau 3 lembar daun miana atau lengkuas
merah muda, lalu tumbuk halus. Peras pakai kain bersih dan teteskan air perasannya
ke telinga. Lakukan dua kali sehari, masing-masing 3 tetes.
30. Digigit nyamuk
Hilangkan bekas gigitannya dengan tanaman sambiloto yang diremas-remas
dan dioleskan ke bagian bekas gigitan tersebut. Kalau tak ada sambiloto bisa
digunakan minyak sereh.
31. Luka-luka berdarah
Cuci bersih daun jambu biji atau daun bandotan, kemudian remas-remas.
Tapelkan pada luka tersebut. Darah akan berhenti segera.
32. Luka-luka dan gata-gatal akibat kudis (scabies)
Ambil 2-3 jari batang brotowali (Putrawali, andawali) dipotong kecil-kecil,
rebus dengan 6 gelas air. Setelah mendidih, biarkan selama ½ jam. Saring air dan
gunakan untuk mengobati luka serta gatal-gatal.
33. Luka bakar
Oleskan daging daun lidah buaya pada seluruh permukaan kulit yang
menderita luka bakar.
34. Biduran atau kaligata
Balurkan tubuh dengan minyak telon, minyak kayu putih atau minyak tawon.
Untuk ramuan minum: 1 jari temulawak dipotong-potong, beri sedikit gula merah,
dan garam direbus dengan 1 gelas air. Saring dan bila sudah dingin diminumkan 3
kali sehari 1/4 gelas.
35. Kerak kepala atau ketombe pada bayi (craddle crap)
Ambil minyak zaitun sebanyak 1-2 kali per hari dioleskan pada kulit kepala.
36. Bisul
Parut kentang dan peras. Oleskan sari air dan parutan kentang segar dioleskan
pada bisul 3-4 kali per hari.
37. Borok
Ambil 3 siung bawang merah dan 2 jari rimpang kunyit dicuci, diparut, lalu
dicampur dengan 2 sendok minyak kelapa baru. Hangatkan diatas api kecil sambil
diaduk. Setelah dingin, oleskan pada bagian tubuh yang sakit sebanyak 2 kali sehari.
38. Koreng atau borok kelapa
Batang brotowali dipotong-potong se-banyak 5 jari. Rebus dengan sedikit air,
oleskan pada bagian kepala.Bisa juga diberi ramuan: daun brotowali, parutan kunyit
dan sedikit garam ditumbuk halus. Oleskan ke kepala. Boleh juga hanya dengan
kunyit saja.
DAFTAR PUSTAKA

Foster, George M. 1986. Antropologi Kesehatan. Jakarta. Penerbit Universitas Indonesia.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta. Rineka Cipta.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta. Rineka Cipta.

Adisasmito, Wiku. 2007. Sistem Kesehatan. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.

Agoes, Azwar. Jacob, T. 1992. Antropologi Kesehatan Indonesia. Jakarta. EGC

Badan Pusat Statistik. 2001. Statistik Kesejahteraan Rakyat (Welfare Statistics) 2000.Jakarta: 46-
73

http://pipot.ubaya.ac.id/artikel/mengetahui-sekilas-sejarah-obat-tradisional-indonesia

Anda mungkin juga menyukai