Anda di halaman 1dari 6

RANCANG BANGUN DAN ANALISIS ALAT PENGHANCUR JARUM SUNTIK

MEMANFAATKAN EFEK ARUS EDDY

Pada suatu system, Arus Eddy merupakan suatu rugi-rugi yang diusahakan untuk dihilangkan.
Tetapi pada proyek akhir kali ini dibuat suatu alat pembangkit suhu yang memanfaatkan efek
Arus Eddy. Metode yang digunakan untuk menghancurkan jarum suntik pada alat yang akan
dibuat ini adalah pemanas induksi yaitu metode yang pembangkitan suhunya disebabkan karena
adanya medan magnet yang terjadi karena efek arus Eddy. Sebelumya sudah dibuat suatu alat
penghancur jarum suntik tetapi menggunakan Electric arc [4] Pada metode electric arc ini pada
dasarnya menggunakan busur api listrik pada ujung electrode yang bermuatan listrik .
Metode pemanasan secara induksi sendiri mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan
dengan metode-metode yang lain misalnya lebih stabil jika dibandingkan dengan metode electric
arc. Tidak membahayakn karena daerah pemanasan kecil. Tidak menimbulkan bunyi atau
gangguan lain jika dibanding pemanasan secara konvensional..
Masalah yang paling mendasar pada alat ini adalah bagaimana cara membangkitkan medan
magnet pada transformer sehingga dapat menghasilkan suhu tinggi yang dapat menghancurkan
jarum suntik. Karena pada kenyataanya sangat sulit mengatur induksi magnet dari transformer
yang memaliki medan magnet yang tidak seragam [2] Prinsip dasarnya adalah inti transformator
memiliki fluks magnetik yang berubah-ubah menurut waktu akan menimbulkan medan magnet
pada lilitan. Medan magnet inilah yang akan menginduksi elektrode. Akibatnya akan timbul arus
Eddy pada elektrode. Ada dua cara membangkitkan Arus Eddy pada transformer [1] :
• Dengan menggunakan bahan inti besi yang mempunyai bahan permeabilitas rendah
• Dengan menggunakan bahan yang mempunyai konduktivitas yang tinggi

Pemanfaatan transformator sebagai pembangkit arus Eddy yang nantinya dapat


menghasilkan panas. Karena inti transformator memiliki fluks yang berubah menurut waktu.
Akibat dari fluks yang berubah-ubah ini akan menimbulkan rugi-rugi arus Eddy. Arus Eddy
tersebut menyebabkan terjadinya rugi ohmic pada konduktor dan daya yang cukup besar untuk
menimbulkan panas. Penggunaan induksi magnetik untuk pemanasan ataupun pelelehan logam
disebut pemanasan induksi Pemanasan induksi inilah yang akan dimanfaatkan untuk
membangkitkan suhu Pemanasan induksi sendiri dipengaruhi oleh 3 faktor dasar yaitu induksi
elektromagnet, efek permukaan dan pemindahan panas. Pada dasarnya alat yang digunakan
untuk pembangkit panas sendiri berbentuk seperti transformator. Tetapi tujuan penggunaan yang
berbeda. Rangkaian ekuivalen dari transformator dasar. Dimana terdiri dari dua lilitan yaitu
lilitan primer yang dihubungkan dengan sumber dan rangkain sekunder yang dihubungkan
dengan beban dimana arus magnetik diabaikan. Pada lilitan sekunder dishortkan maka akan
timbul panas pada lilitan sekunder. Sedangkan di dalamnya terjadi suatu sistem dimana energi
yang dihasilkan lilitan primer mengakibatkan panas pada lilitan sekunder dan beban. Induksi
dari liltan primer ditujukan untuk memaksimalkan energi panas pada lilitan sekunder. Lubang
pada lilitan sendiri dibuat sekecil kecilnya. Pada sekunder sendiri dipilih bahan yang mempunyai
resistansi yang rendah dan permeabilitas yang tinggi .

Dari faktor yang mempengaruhi pemanasan induksi antar lain induksi elektromagnetik,
efek permukaan dan penyaluran panas. Mengenai faktor induksi elektromagnet sudah diketahui
hubunganya berdasarkan penjelasan diatas. Frekuensi yang tinggi yang diberikan pada lilitan
lebih efektif untuk menghasilkan menghasilkan arus induksi pada permukaan beban. Arus
induksi yang dihasilkan pada permukaan beban dan akan melakukan penetrasi pada permukaan
inilah yang dimaksud efek permukaan atau efek kelvin. Akibat dari efek inilah energi elektrik
dirubah pada bentuk energi panas pada permukaan beban. Untuk faktor yang terakhir yaitu untuk
memindahkan panas untuk menghancurkan jarum suntik sendiri. Perubahan bentuk energi listrik
menjadi suhu sendiri tergantungtung dari besarnya gaya disipasi yang dihasilkan.

Sudah menjadi hal yang sangat penting untuk dapat mengurangi atau meminimalkan
power losses pada switching elektronik (electronic switching) pada saat mendesain suatu
rangkaian elektronika daya. Switch losses terjadi karena terdapat perubahan dari kondisi satu ke
kondisi (low) yang lain (high) secara cepat. Drive citcuit MOSFET harus dapat dengan cepat
memberikan arus dan membuang arus pada saat berada pada switching frekuensi tinggi.
Rangkaian yang sangat cocok untuk digunakan sebagai drive circuit pada MOSFET adalah yang
dinamakan “totem-pole”, yang terdiri dari transistor NPN dan PNP.

Dalam JFET, besar keefektifan pada channel dikontrol oleh medan listrik yang diberikan ke
channel melalui P-N junction. Bentuk lain dari piranti pengaruh medan dicapai dengan
penggunaan bahan elektroda gate yang dipisahkan oleh lapisan oxide dari channel
semikonduktor. Pengaturan metal oxide semikonduktor (MOS) mengijinkan karakteristik
channel dikontrol oleh medan listrik dengan memberikan tegangan diantara gate dan body
semikonduktor dan pemindahan melalui lapisan oxide. Seperti halnya piranti yang disebut
dengan MOSFET atau MOS Transistor. Hal ini penting digaris bawahi dengan kenyataan bahwa
IC lebih banyak dibuat dengan piranti MOS dari pada jenis piranti semikonduktor lain. Ada dua
tipe MOSFET. Deplesi MOSFET mempunyai tingkah laku yang sama dengan JFET pada saat
tegangan gate nol dan tegangan drain tetap, arus akan maksimum dan kemudian menurun dengan
diberikan potensial gate dengan polaritas yang benar (piranti normally on). Jenis yang lain dari
piranti ini disebut dengan Enhancement MOSFET yang menunjukkan tidak ada arus pada saat
tegangan gate nol dan besar arus keluaran besar dengan bertambah besar potensial gate
(normally off). Kedua tipe dapat berada dalam salah satu jenis channel P atau N.

MOFSET adalah semikonduktor FET oksida logam yang mempunyai sumber, gerbang
dan penguras. Akan tetapi berbeda dengan JFET, gebang MOSFET diisolasikan dengan saluran.
Maka arus gerbang sangat kecil, untuk gerbang positif atau negatif. MOSFET yang sangat
penting dalam rangkaian-rangkaian digital dikenal dengan MOSFET jenis pengisian.

Untuk memperoleh arus penguras, harus menerapkan tegangan yang cukup positif pada
gerbang. Gerbang bekerja sebagai sebuah pelat 13, kapasitor, dioksida silikon bekerja sebagai
bahan dielektrik dan subtrat-p sebagai pelat kapasitor yang lain. Lapisan elektron bebas yang
terbentuk berdampingan dengan dioksida silikon. Lapisan ini tidak bekerja sebagai suatu
semikonduktor tipe-p melainkan nampak sebagai konduktor tipe-n disebabkan oleh elektron-
elektron bebas yang diimbas. Maka lapisan bahan p yang bersinggungan dengan dioksida silikon
disebut sebuah lapisan inversi tipe-n. Tegangan gerbang sumber minimum yang menghasilkan
lapisan inversi tipe-n disebut tegangan ambang (threshold voltage) dinyatakan dengan V.
Apabila tegangan gerbang kurang dari tegangan ambang, tidak ada arus yang mengalir dari
sumber ke penguras. Tetapi apabila tegangan gerbang lebih besar dari tegangan ambang, lapisan
inversi tipe n menghubungkan sumber ke penguras dan diperoleh arus. Tegangan ambang
tergantung pada tipe khusus dari MOSFET. Untuk MOSFET IRFP460 tegangan ambangnya 2v –
6v. gs

Untuk dapat membangkitkan induksi magnet secara maksimum maka harus dibuat juga desain
lilitan yang tepat. Dari dasar teori diatas ada beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya
induksi dari segi desain lilitan. Faktor pertama yaitu diameter lilitan. Faktor kedua adalah bentuk
lilitan. Untuk faktor kedua ini ditentukan dari bagian mana benda yang ingin dipanaskan.
Sedangkan faktor terakhir adalah banyaknya lilitan pada lilitan. Ini berhubungan juga dengan
besarnya nilai induktansi dari lilitan untuk menentukan nilai kapasitor yang digunakan agar
menghasilkan frekuensi resonansi yang diinginkan

Pada pembangkitan panas menggunakan induksi memanfaatkan arus AC dengan frekuensi


tinggi. Mengenai teori pengoprasianya dapat dilihat pada gambar 3.1 mula-mula tegangan AC
dari jala-jala digunakan sebagai sumber awal dari sistem. Tegangan AC dari jala-jala selanjutnya
dirubah dalam bentuk gelombang DC oleh block rectifier. Selanjutnya pada blok inverter
frekuensi tinggi gelombang dari rectifier diubah dalam bentuk gelombang AC dengan frekuensi
tinggi. Gelombang AC yang mempunyai frekuensi tinggi diubah dalam bentuk medan magnet
yang mempunyai frekuensi tinggi. Karena beban yang berbentuk elektrode diinduksi oleh medan
magnet tersebut sehingga menimbulkan arus Eddy dan arus induksi pada beban akibatnya akan
timbul panas. Panas yang timbul inilah yang digunakan untuk menghancurkan jarum suntik .

Berdasarkan prinsip dasar mendesain lilitan agar menghasilakan medan magnet yang maksimum
maka. Prinsip pertama adalah jarak antar lingkar lilitan yang satu dengan lain rapat. Tetapi tidak
menyentuh karena itu digunakan tembaga yang berpelindung agar jarak antar lilitan sanagnt
rapat karena dipisahkan oleh email dari tembaga sendiri. Prinsip kedua yaitu mengenai
banyaknya lilitan yang dipakai mempengaruhi medan magnet yang dihasilkan. Mengenai jumlah
lilitan disesuaikan dengan frekuensi resonansi yang diinginkan. Karena jumlah lilitan
mempengaruhi besarnya induktansi pada lilitan tersebut. Agar memudahkan dalam mendesain
rangkian resonansinya serta bentuk dari lilitan. Maka pada proyek ini digunakan lilitan dengan
jumlah 114 dengan nilai induktansi sebesar 20,78 H Untuk dapat membangkitkan induksi
magnet secara maksimum maka harus dibuat juga desain lilitan yang tepat. Ini berhubungan juga
dengan besarnya nilai induktansi dari lilitan untuk menentukan nilai kapasitor yang digunakan
agar menghasilkan frekuensi resonansi yang diinginkandari pengukueran diperoleh L sebesar
20,78 uH dan kapasitor sebesar 25 uF.

Prinsip ketiga mengenai peletakan besi yang diinduksi yaitu berada pada pusat lilitan. Karena
pada pusat lilitan akan menghasilkan medan magnet yang maksimum. Jadi besi pejal akan
menghasilkan suhu yang maksimum juga sebanding besarnya medam magnet yang megenaibesi
pejal tersebut. Berdasarkan prinsip keempat adalah memberi ruang pada sisi kiri dan sisi kanan
lilitan agar menghasilkan dapat menghasilkan induksi. Sedangkan untuk bentuk lilitan dipilih
bentuk lilitan around. Yang berbentuk seperti pegas. Jadi pada desain lilitan dibuat ruang antara
sisi kanan dan sisi kiri lilitan berbentuk lilitan. selain itu pemilihan bentuk around didasarkan
juga pada benda yang akan diinduksi berbentuk memanjang.

Untuk diameter tembaga yang digunakan didasarkan pada kapasitas temabaga dapat megalirkan
arus. Pada disain lilitan digunakan ukuran tembaga dengan diameter sebesar 1,5 mm yang
mempumyai kapasitas arus sebesar 10 A. Dalam sitem sendiri digunakan arus sebesar 3 A tetapi
untuk keamanan digunakan tembaga yang mempunyai kapasitas arus lebih besar. berikut adalah
gambar rangkian resonansi yang terdiri lilitan dan kapasitor.

Dari uji korelasi ternyata terdapat korelasi negatif yang hampir sempurna dengan nilai r = 0,689.
Ini berarti bahwa perubahan frekuensi kurang berpengaruh pada suhu yang dibangkitkan. Ini
dikarenakan faktor frekuensi resonansi. Semakin dekat dengan frekuensi resonansi semakin
maksimal suhu yang dibangkitkan. suhu kurang optimum jika semakin menjauhi frekuensi
resonansi meskipun frekuensinya ditambah. Sementara dari pengujian-pengujian secara stasistik
diperoleh kesimpulanbapat bahwa model hubungan antara y dan x memenuhi kriteria BLUE,
sehingga persamaan 16 yang dipakai dapat digunakan untuk memprediksi suhu yang yang akan
dibangitkan.

Setelah dilakukan proses perencanaan, pembuatan dan pengujian alat serta dengan
membandingkan dengan teori-teori penunjang, dan dari data yang didapat maka dapat kami
simpulkan mengenai alat penghancur jarum suntik maka dapat kita simpulkan bahwa perubahan
diameter logam yang diiduksi berpengaruh besar pada suhu yang dibangkitkan. Semakin kecil
nilai diameternya semakin besar suhu yang dibangkitkan dan terdapat korelasi positif yang
hampir sempurna dengan nilai r mendekati satu. Ini berarti bahwa perubahan arus berpengaruh
sangat besar pada suhu yang dibangkitkan. Semakin kecil nilai arusnya semakin kecil pula suhu
yang dibangkitkan. Perubahan frekuensi kurang berpengaruh pada suhu yang dibangkitkan. Ini
dikarenakan faktor frekuensi resonansi. Semakin dekat dengan frekuensi resonansi semakin
maksimal suhu yang dibangkitkan. suhu kurang optimum jika semakin menjauhi frekuensi
resonansi meskipun frekuensinya ditambah. Agar lilitan dapat membangkitkan suhu dengan
maksimum. Maka nilai induktansi yang didapatkan dari lilitan harus sesuai dengan yang
dibutuhkan untuk rangkaian resonansi untuk mencari frekuensi resonansi. Frekuensi resonansi
harus sama dengan frekuensi input agar arus eddy yang dihasilkan maksimum .