Anda di halaman 1dari 20

CASE BASED DISCUSSION

MODUL 2

(PENYAKIT KELAINAN JARINGAN PERIODONTAL)

“Periodontitis”

Diajukan untuk memenuhi syarat dalam melengkapi

Kepaniteraan Klinik pada Modul 2

Oleh:

SURYA NAVISA YUNID

19100707360804080

Dosen Pembimbing

drg. Maulida hayati, Mkes

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS BAITURRAHMAH

PA D A N G

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan CBD” Periodontitis” untuk
memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan kepanitraan klinik modul 2
(Penyakit Kelainan Jaringan Periodontal) dapat diselesaikan.
Dalam penulisan Laporan Kasus penulis menyadari, bahwa semua proses yang
telah dilalui tidak lepas dari bimbingan drg.Maulida hayati, M.Kes Selaku dosen
pembimbing, bantuan, dan dorongan yang telah diberikan berbagai pihak lainnya.
Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu.
Penulis juga menyadari bahwa laporan kasus ini belum sempurna sebagaimana
mestinya, baik dari segi ilmiah maupun dari segi tata bahasanya, karena itu kritik dan
saran sangat penulis harapkan dari pembaca.
Akhir kata penulis mengharapkan Allah SWT melimpahkan berkah-Nya
kepada kita semua dan semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat serta dapat
memberikan sumbangan pemikiran yang berguna bagi semua pihak yang memerlukan.

Padang, Februari 2021

Surya Navisa Yunid


CBD
MODUL 2 PERIODONTAL
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
PADANG

HALAMAN PENGESAHAN

Telah didiskusikanCBD”Periodontitis” guna melengkapi persyaratan

Kepaniteraan Klinik pada Modul 2.

Padang, Februari 2021

Disetujui Oleh
Dosen Pembimbing

(drg.Maulida Hayati, M.Kes)

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit periodontal merupakan salah satu masalah kesehatan yang

paling banyak diderita manusia. Penyakit periodontal adalah penyakit

inflamasi pada jaringan pendukung gigi yang disebabkan oleh mikroorganisme

spesifik tertentu atau mikroorganisme yang mengakibatkan kerusakan

progresif dari ligamen  periodontal dan tulang alveolar dengan pembentukan

poket, resesi atau keduanya.

Penyakit periodontal terbagi atas penyakit periodontal non destruktif

(gingivitis) dan penyakit periodontal destruktif (periodontitis). Plak

merupakan etiologi  penyakit periodontal. Penyakit periodontal merupakan

hasil interaksi antara agen mikroba dan penjamu yang rentan. Selain itu,

penyakit periodontal juga disebabkan adanya penumpukan plak pada gigi.

Plak adalah lapisan lunak dan tidak terkalsifikasi yang terdiri dari bakteri

yang menumpukkan dan melekat pada permukaan gigi atau objek lainnya di

rongga mulut seperti restorasi, gigi tiruan dan kalkulus. Lapisan plak yang

tebal terlihat massa deposit kekuning- kuningan atau keabu-abuan yang tidak

dapat dihilangkan dengan obat kumur dan penyikatan gigi yang benar.

Tindakan menyikat gigi dapat menyingkirkan plak dan debris \ makanan,

mengurangi jumlah mikroorganisme patogen. Kontrol terhadap plak

merupakan pecegahan penyakit periodontal yang utama. Perbaikan keadaan

ini perlu dilakukan mengingat arti pentingnya kesehatan gigi dan mulut bagi

seseorang.

1.2 Tujuan

Untuk mengetahui definisi,klasifikasi, etiologi, pathogenesis, serta

rencana perawatan dari penyakit periodontitis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Defenisi
Periodontitis merupakan suatu penyakit jaringan penyangga gigi yaitu
melibatkan gingiva, ligamen periodontal, sementum dan tulang alveolar karena
suatu proses inflamasi. Inflamasi berasal dari gingiva yang tidak dirawat dan
apabila proses berlanjut maka akan menginvasi struktur di bawahnya sehingga
akan terbentuk poket yang menyebabkan peradangan berlanjut dan merusak
tulang serta jaringan penyangga gigi, akibatnya gigi menjadi goyang dan
akhirnya dicabut. Karakteristik periodontitis dapat dilihat dengan adanya
inflamasi gingiva, pembentukan poket periodontal, kerusakan ligamen
periodontal dan tulang alveolar sampai hilangnya sebagian atau seluruh gigi.

2.2  Etiologi

Faktor penyebab penyakit periodontal dapat dibagi menjadi dua bagian

yaitu faktor lokal (ekstrinsik) dan faktor sistemik (intrinsik). Faktor lokal

merupakan penyebab yang berada pada lingkungan disekitar gigi,sedangkan

faktor sistemik dihubungkan dengan metabolisme dan kesehatan umum.

Faktor Lokal yang dapat menyebabkan terjadinya periodontitis adalah Plak,

bakteri, Kalkulus, Impaksi makanan, Pernafasan mulut, Sifat fisik makanan

,Iatrogenik Dentistry dan Trauma dari oklusi.

Faktor sistemik Respon jaringan terhadap bakteri, rangsangan kimia

serta fisik dapat diperberat oleh keadaan sistemik.Untuk metabolisme jaringan

dibutuhkan material-material seperti hormon, vitamin, nutrisi dan oksigen.

Bila keseimbangan material ini terganggu dapat mengakibatkan gangguan

lokal yang berat. Gangguan keseimbangan tersebut dapat berupa kurangnya

materi yang dibutuhkan oleh sel-sel untuk penyembuhan, sehingga iritasi

lokal yang seharusnya dapat ditahan atau hanya menyebabkan inflamasi

ringan saja, dengan adanya gangguan keseimbangan tersebut maka dapat

memperberat atau menyebabkan kerusakan jaringan periodontal. Periodontitis

umumnya disebabkan oleh plak. Plak adalah lapisan tipis biofilm yang


mengandung bakteri, produk bakteri, dan sisa makanan. Lapisan ini melekat

pada permukaan gigi dan berwarna putih atau putih kekuningan. Plak yang

menyebabkan gingivitis dan periodontitis adalah plak yang berada tepat di atas

garis gusi. Bakteri dan produknya dapat menyebar ke bawah gusi sehingga

terjadi proses peradangan dan terjadilah periodontitis

Etiologi periodontitis secara umum

  Terutama disebabkan oleh mikroorganisme dan produk-produknya yaitu:


plak supra dan sub gingiva.
  Faktor sistemik juga dapat berpengaruh pada terjadinya periodontitis,
meskipun tidak didahului oleh proses imflamasi.
  Tekanan oklusal yang berlebihan juga dapat memainkan peranan
penting pada progresivitas penyakit periodontitis dan terjadinya kerusakan
tulang (contohnya: pada pemakaian alat ortodonsi dengan tekanan
yang  berlebihan).

Keadaan gigi yang tidak beraturan, ujung tambahan yang kasar dan

alat- alat yang kotor berada dimulut (alat ortodontik, gigi tiruan) dapat

mengiritasi gusi dan meningkatkan faktor resiko.Serta kesalahan cara

menyikat gigi juga yang dapat mempengaruhinya. Faktor predisposing atau

faktor etiologi sekunder dari periodontitis dapat dihubungkan dengan

  Adanya akumulasi, retensi dan maturasi dari plak,

  Kalkulus yang terdapat pada gingiva tepi dan yang over kontur,

  impaksi makanan yang menyebabkan terjadinya kedalaman poket.

2.3 Klasifikasi Penyakit Periodontal

1. Periodontitis dewasa kronis ( adult periodontitis)


Tipe ini adalah tipe periodontitis yang berjalan lambat, terjadi pada 35

tahun keatas. Kehilangan tulang berkembang lambat dan didominasi oleh

bentuk horizontal.

Faktor etiologi utama adalah faktor lokal terutama bakteri gram negatif.

Tidak ditemukan kelainan sel darah dan disertai kehilangan tulang.

Periodontitis dewasa kronis ini ada dua yaitu lokalisata dan generalisata.
2. Periodontitis bermula dini (Early Onset Periodontitis (EOP) ).

A. Periodontitis prepubertas

Tipe ini adalah tipe yang terjadi setelah erupsi gigi sulung. Terjadi

dalam bentuk yang terlokalisir dan menyeluruh. Tipe ini jarang terjadi dan

penyebarannya tidak begitu luas.

B. Periodontitis juvenil

Periodontitis juvenil adalah penyakit peridontal yang muncul pada masa

pubertas. Periodontitis juvenil ada dua :

 Periodontitis Juvenil localized : tipe localized ini sering terjadi


pada insisivus dan molar

 Periodontitis Juvenil Generalized : tipe generalized ini terjadi padA

minimal 8 gigi

Gambaran klinis peridontitis juvenil ini ditandai dengan kehilangan

tulang vertikal yang hebat pada molar pertama tetap, dan mungkin pada

insisivus tetap. Biasanya, akumulasi plak sedikit dan mungkin tidak

terlihat atau hanya sedikit inflamasi yang terjadi. Bakteri yang terlibat pada

tipe ini adalah Actinobacillus actinomycetemcomittans.

Bakteri ini menghasilkan leukotoksin yang bersifat toksis terhadap

leukosit, kolagenase, endotoksin, dan faktor penghambat fibroblas. Selain

bentuk terlokalisir, juga terdapat bentuk menyeluruh yang mengenai seluruh

gigi-geligi.

c) Periodontitis yang berkembang cepat

Periodontitis berkembang cepat adalah penyakit yang biasanya dimulai

sekitar masa pubertas hingga 35 tahun. Ditandai dengan resorbsi tulang

alveolar yang hebat, mengenai hampir seluruh gigi. Bentuk kehilangan yang

terjadi vertikal atau horizontal, atau kedua- duanya. Banyaknya kerusakan


tulang nampaknya tidak berkaitan dengan banyaknya iritan lokal yang ada.

Penyakit ini dikaitkan dengan penyakit sistemik (seperti diabetes melitus,

sindrom down, dan  penyakit-penyakit lain), tetapi dapat juga mengenai

individu yang tidak memiliki penyakit sistemik.

3.   Periodontitis yang berkaitan dengan penyakit sistemik

Telah lama diakui bahwa penyakit periodontal disebabkan oleh

etiologi lokal dalam mulut, khususnya plak bakteri. Meskipun demikian,

dikenal pula beberapa penyakit sistemik yang dapat menurunkan pertahanan

serta respon hospes. Hal ini dapat menyebabkan individu yang menderita

penyakit sistemik lebih mudah mengalami kerusakan \ jaringan periodontal.

Periodontitis pada penyakit sistemik, yaitu:

A. Diabetes Mellitus
Periodontitis lebih sering terjadi dan lebih parah pada individu diabeti

yang disertai komplikasi sistemik yang lebih parah. Penampakan klinisnya

adalah adanya kehilangan perlekatan dan tulang, kedalaman poket parah

hingga gigi lepas.

B. AIDS

Insidensi kelainan periodontal meningkat seiring bertambahnya defisiensi

imun Setiyohadi dan Krishnamurthy (1993) menyatakan  bahwa pada pasien

AIDS, periodontitis dikenal sebagai HIV- periodontitis. HIV-Periodontitis

memiliki gambaran adanya eritema gingiva bebas, gingiva attached dan

mukosa alveolar, adanya ulserasi  berat pada jaringan lunak dan

kerusakan cepat pada periondontal attachment serat tulang.

C. Periodontitis refraktori

Sekitar daerah mulut terlihat kehilangan perlekatan yang berlanjut,

walaupun telah dilakukan terapi periodontal yang biasa.


D. Gingivo-Periodontitis Ulseratif Nekrosis

Periodontitis yang terjadi setelah tahap berulang dari gingivitis ulseratif

nekrosis akut dalam jangka lama dan tidak dirawat, atau dirawat tapi tidak

tuntas. Efek yang berulang menyebabkan kerusakan jaringan di

interproksimal, membentuk lesi seperti kawah pada jaringan lunak dan tulang

alveolar.

2.4 Tanda-tanda Klinis dari Periodontitis

Tanda-tanda klinis dari periodontitis adalah adanya inflamasi

gingiva,pembengkakka papilla interdental, kerusakan tepi gingiva,

terbentuknya poket atau saku gingiva, resesi gingiva, serta gambaran

radiologis menunjukkan adanya kerusakan tulang alveolar yang cukup besar.

Pada pemeriksaan klinis terdapat peningkatan kedalaman probing,

perdarahan saat probing (ditempat aktifnya penyakit) yang dilakukan dengan

perlahan dan perubahan kontur fisiologis. Dapat juga ditemukan kemerahan

dan pembengkakkan gingiva. Biasanya tidak ada rasa sakit. Pada pasien

dengan oral hygiene yang buruk, gingiva membengkak dan warnanya antara

merah pucat hingga magenta.Hilangnya gingiva stippling dan adanya

perubahan topografi pada permukaannya seperti menjadi tumpul dan rata

(cratered papila).

2.5 Patogenesis Periodontitis

Periodontitis dimulai dengan gingivitis dan bila kemungkinan

terjadi proses inflamasi, maka pada kebanyakan pasien tetapi tidak semua

pasien inflamasi secara bertahap akan memasuki jaringan periodontal yang

lebih dalam. Bersama dengan proses inflamasi akan timbul potensi untuk

menstimulasi resorpsi jaringan periodontal dan pembentukan poket

periodontal.

Dengan terbentuknya poket, penyakit inflamasi periodontal menjadi


dengan sendirinya mengekalkan faktor etiologi prinsipal, yaitu plak, yang pada

saat ini terbentuk di dalam lingkungan poket yang lehih anaerob, yang

mendorong pertumbuhan organisme patologis periodontal dan lebih sulit

diakses untuk dibuang sendiri oleh pasien. Bila urutan kejadian ini bertahan

dalam waktu yang lama, infeksi kronis bisa menyebabkan kerusakan

periodontium yang parah dan hilangnya gigi-gigi. Penelitian terbaru

menunjukan bahwa kemungkinan ada periode aktif resorpsi tulang dikuti

dengan waktu tidak aktif dimana ada poket periodontal tetapi tidak

menyebabkan attachment loss lebih lanjut.

2.6 Perawatan Periodontitis

Pada kasus ini periodontitis belum begitu parah, biasanya perawatan


yang diberikan adalah root planing dan kuretase, yaitu pengangkatan plak dan
jaringan yang rusak dan mengalami peradangan di dalam poket dengan
menggunakan kuret.

Tujuan utamanya adalah menghilangkan semua bakteri dan kalkulus


yang dapat menyebabkan peradangan. Setelah tindakan ini, diharapkan gusi
akan mengalami penyembuhan dan perlekatannya dengan gigi dapat
kembali dengan baik. Penyakit periodontal harus ditemukan secepatnya dan
dirawat sesegera mungkin setelah penyebab penyakit itu ditemukan. Tujuan
dari perawatan ini adalah untuk mencegah kerusakan jaringan yang lebih
parah dan kehilangan gigi. Menurut Glickman ada empat tahap yang dilakukan
dalam merawat penyakit periodontal yaitu :

1. Tahap jaringan lunak

Tahap ini dilakukan tindakan untuk meredakan inflamasi gingiva,


menghilangkan saku periodontal dan faktor-faktor penyebabnya. Disamping
itu juga untuk mempertahankan kontur gingiva dan hubungan mukogingiva
yang baik. Pemeliharaan kesehatan jaringan periodontal dapat dilakukan
dengan penambalan lesi karies, koreksi tepi tambalan proksimal yang cacat
dan memelihara jalur ekskursi makanan yang baik.

2. Tahap fungsional
Hubungan oklusal yang optimal adalah hubungan oklusal yang
memberikan stimulasi fungsional yang baik untuk memelihara kesehatan
jaringan periodontal. Untuk mencapai hubungan oklusal yang optimal, usaha
yang perlu dan dapat dilakukan adalah oklusal adjustment, pembuatangigi
palsu,perawatan ortodonti,  splinting  (bila terdapat gigi yang mobiliti) dan
koreksi kebiasaan jelek (misal bruksim atau clenching)  .

3. Tahap sistemik

Kondisi sistemik memerlukan perhatian khusus pada pelaksanaan

Perawatan penyakit periodontal, karena kondisi sistemik dapat mempengaruhi

respon jaringan terhadap perawatan atau mengganggu pemeliharaan kesehatan

jaringan setelah perawatan selesai. Masalah sistemik memerlukan kerja sama

dengan dokter yang biasa merawat pasien atau merujuk ke dokter spesialis.

4. Tahap pemeliharaan

Prosedur yang diperlukan untuk pemeliharaan kesehatan periodontal


yang telah sembuh yaitu dengan memberikan instruksi hygine  mulut (kontrol
plak), kunjungan berkala ke dokter gigi untuk memeriksa tambalan, karies
baru atau faktor penyebab penyakit lainnya.
BAB III

LAPORAN KASUS

Seorang pasien perempuan berusia 55 tahun datang ke RSGM Baiturrahmah

dengan keluhan terdapat banyak karang gigi, dan gusi sering berdarah pada saat

menyikat gigi serta nafas terasa bau.

A. identifikasi pasien

Nama : yuniati

Umur : 55 tahun

JK : Perempuan

Pekerjaan : IRT

Alamat : Pariaman,desa kajai

Pemeriksaan : 13 februari 2021

B. Pemeriksaan subjektif

Keluhan utama : Pasien datang dengan keluhan karang gigi yang

banyak, sering berdarah pada saat sikat gigi dan

nafas terasa bau.

Keluhan tambahan : Pasien mengeluh adanya perdarahan saat

menyikat gigi dan gigi depan bawah adanya

kegoyahan.

Riwayat penyakit sistemik : Pasien tidak ada kelainan sistemik

Riwayat kesehatan Gigi dan Mulut : Pasien belum pernah membersihkan

karang gigi sebelumnya

a. Menyikat Gigi

- Interval : 2 kali sehari

- Waktu : mandi pagi dan sore

- Gerakan : kiri kanan (vertikal)

b. Pasta : pepsodent

c. Obat kumur : tidak ada

C. Pemeriksaan objektif
1. Pemeriksaan ekstraoral

 TMJ : Normal

a. Inspeksi

ROM : Normal (pembukaan mulut 3 jari)

Wajah : Simetris

b. Palpasi : Normal

c. Auskultasi

Clicking : Tidak ada

Krepitasi : Tidak ada

 Kelenjar limfonode :Normal

 Wajah :Simetris

 Mata :Sama tinggi dan begerak kesegala arah

 Hidung : Simetris

 Bibir : Simetris

2. Pemeriksaan intraoral

 Mukosa bibir : Normal

 Mukosa pipi : Normal

 Palatum : Terdapat torus berukuan kecil

 Lidah : Normal

 Dasar mulut : Normal

 Oklusi : Normal

 Gusi : resesi, merah, terdapat poket

warna merah = vestibular 31 41 32 42 43,

oral 31 41 32 42 43 , 35, , tidak merah kebiruan dan tidak pucat

konsistensi oedema = vestibular 31 32 41 42 44

oral 31 41 32 42 43 11 34 12

resesi gingival = vestibular 41,42, 31, 32, 11 , 21

oral 41,, 31, 32, 42, 21, 11


Gingival Enlargemen bagian vestibular dan oral tidak ada.

Poket :

pada gigi

42,=4 mm

32,=4mm

31= 5mm

, 41 = 5mm

D. Odontogram

18 17 16 15 14 13 12 11 21 22 23 24 25 26 27 28

48 47 46 45 44 43 42 41 31 32 33 34 35 36 37 38

Keterangan :

 Kalkulus / stain : 3/1

E. Pemeriksaan Rontgen Foto

Kerusakan tulang : Regio 32, 31, 41, 42 (Horizontal)

F. Diagnosa

Periodontitis Kronis

Alasan : Karena berdasarkan hasil pemeriksaan pada pasien ditemukan

adanya penumpukan plak supra dan subgingiva,disetai dengan

terbentuknya kalkulus,serta adanya inflamasi pada gingival, serta

adanya mobility derajat 2 pada regio 41 42 31 32.

Faktor etiologi : plak dan kalkulus

G. Prognosis : baik

- Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik

- Pasien kooperatif

- Terdapat kegoyahan pada gigi pasien


H. Rencana Perawatan

1. Alat dan Bahan

- Alat standar (sonde,pinset,escavator,kaca mulut) 

- Prob Periodontal 

- Sickle scaler  

- Kuret 

- Providon iodin

- Chisel

- Hoe

- Kapas

- Dislossing solution

- Iodin tincture

- Pasta pletser

- Masker

- Hand scond

B.1 Kunjungan I (Setting I) : Membersihkan kalkulus / karang gigi

supragingival dan subgingival pada rahang atas 

Keterangan :

I. Melakukan pengukuran Papilary bleeding index pada bagian vestibular

dan oral baik sebelum dan sesudah melakukan setting I dengan

menggunakan Prob Periodontal

J. Melakukan pengukuran Plaque Control Record sebelum dan sesudah

melakukan setting I dengan menggunakan Disclosing Solution

K. Melakukan pengukuran kedalaman saku (KS), jarak CEJ-CGM (CC),

Level Attachment (LA), Lebar Keratin Gingiva (KG), dan Lebar


Attached Gingiva (AG) sebelum melakukan setting I dengan

menggunakan Prob Periodontal dan bahan iodine tincture. 

L. Melakukan pengukuran Oral Hygiene Index (Debris Index dan Calculus

Index) sebelum melakukan setting I dengan menggunakan sonde serta

melihat secara visual

M. Scalling, root planning dan kuretase supra gingiva dan sub

gingiva pada pada rahang atas dengan alat scaling manual

sebelumnya gunakan providon iodine dengan cara di oleskan pada sluruh

permukaan gigi sampai gingiva.

N. Melakukan polishing dengan menggunakan pasta serta pletser sesudah

scaling

O. Pemberian obat kumur pada pasien serta memberikan intruksibagaimana

cara menyikat gigi yang baik dan benar,serta menjelaskan kepasien

untuk datang kembali pada minggu berikutknya pada hari yang sama.

B.2 Kunjungan II (Setting II) : Membersihkan kalkulus/karang gigi

supragingival dan subgingival pada rahang bawah 

Keterangan :

 Melakukan pengukuran Papilary bleeding index pada bagian

vestibular dan oral baik sebelum dan sesudah melakukan setting I

dengan menggunakan Prob Periodontal

 Melakukan pengukuran Plaque Control Record sebelum dan sesudah

melakukan setting I dengan menggunakan Disclosing Solution

 Melakukan pengukuran kedalaman saku (KS), jarak CEJ-CGM

(CC), Level Attachment (LA), Lebar Keratin Gingiva (KG), dan

Lebar Attached Gingiva (AG) sebelum melakukan setting I dengan

menggunakan Prob Periodontal dan bahan iodine tincture. 

 Melakukan pengukuran Oral Hygiene Index (Debris Index dan

Calculus Index) sebelum melakukan setting I dengan menggunakan


sonde serta melihat secara visual

 Scalling, root planning dan kuretase supra gingiva dan sub

gingiva pada pada rahang bawah dengan alat scaling manual

sebelumnya gunakan providon iodine dengan cara di oleskan

pada sluruh permukaan gigisampai gingiva.

 Melakukan polishing dengan menggunakan pasta serta pletser

sesudah scaling

 Pemberian obat kumur dan Menjelaskan kembali cara menyikat gigi

yang baik dan benar serta Mengintruksikan untuk datang kembali

pada minggu berikutnya dihari yang sama.

B.3 Kunjungan III (Setting III) : Kontrol Membersihkan kalkulus

/karang gigi supragingival dan subgingival pada rahang atas dan rahang

bawah apabila masih belum bersih. 

Keterangan :

 Melakukan pengukuran Papilary bleeding index pada bagian

vestibular dan oral baik sebelum dan sesudah melakukan setting I

dengan menggunakan Prob Periodontal

 Melakukan pengukuran Plaque Control Record sebelum dan

sesudah melakukan setting I dengan menggunakan Disclosing

Solution

 Melakukan pengukuran kedalaman saku (KS), jarak CEJ-CGM

(CC), Level Attachment (LA), Lebar Keratin Gingiva (KG), dan

Lebar Attached Gingiva (AG) sebelum melakukan setting I dengan

menggunakan Prob Periodontal dan bahan iodine tincture. 

 Melakukan pengukuran Oral Hygiene Index (Debris Index dan

Calculus Index) sebelum melakukan setting I dengan menggunakan

sonde serta melihat secara visual


 Scalling, root planning dan kuretase supra gingiva dan sub

gingiva pada pada rahang atas dan rahang bawah dengan alat scaling

manual sebelumnya gunakan providon iodine dengan cara di oleskan

pada sluruh permukaan gigisampai gingiva.

 Melakukan polishing dengan menggunakan pasta serta pletser

sesudah scaling

 Pemberian obat kumur dan Menjelaskan kembali cara menyikat

gigi yang baik dan benar serta Mengintruksikan untuk mengkonsumsi

sayur serta buah-buahan,dan melakukan kunjungan kedokter

gigi minimal 6 bulan sekali.


BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Periodontitis merupakan suatu penyakit jaringan penyangga gigi yaitu

melibatkan gingiva, ligamen periodontal, sementum dan tulang alveolar karena

suatu proses inflamasi. Inflamasi berasal dari gingiva yang tidak dirawat dan

apabila proses berlanjut maka akan menginvasi struktur di bawahnya sehingga

akan terbentuk poket yang menyebabkan peradangan berlanjut dan merusak

tulang serta jaringan penyangga gigi. Tanda-tanda klinis dari periodontitis

pada kasus ini adalah adanya inflamasi gingiva, pembengkakkan papilla

interdental, kerusakan tepi gingiva, terbentuknya poket atau saku gingiva,

resesi gingiva, serta gambaran radiologis menunjukkan adanya kerusakan

tulang alveolar. Pada pemeriksaan klinis terdapat peningkatan kedalaman

probing, perdarahan saat probing (ditempat aktifnya penyakit) yang

dilakukan dengan perlahan dan  perubahan kontur fisiologis dan oral

hygieneyang sedang. Pada kasus inPeriodontitis belum begitu parah,

biasanya perawatan yang diberikan adalah root  planing dan kuretase, yaitu

pengangkatan plak dan jaringan yang rusak dan mengalami peradangan di

dalam poket dengan menggunakan kuret. Tujuan utamanya adalah

menghilangkan semua bakteri dan kotoran yang dapat menyebabkan

peradangan. Setelah tindakan ini, diharapkan gusi akan mengalami

penyembuhan dan perlekatannya dengan gigi dapat kembali dengan baik.


DAFTAR PUSTAKA

Daliemunthe,S.H.2008. Periodonsia.Departemen Periodonsia Fakultas


Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Ed: Revisi. Medan.
Hlm 183

Daliemunthe,S.H. 2008.  Periodonsia. Departemen Periodonsia


Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Ed: Revisi.
Medan. Hlm 1-8

Al Zahrani, M et al. (2005), “Increased Physical activity reduces prevalence of


periodontitis”, Journal of Dentistry, vol. 33, January 7, pp.703-710.

Caranza, FA., Newman, M.G., dan Takei, H.H. 2002. Clinical Periodontology.9th Ed.
W.B. Saunders. Philadelphia.

Linden ,GJ. (2013). “Periodontitis and systematic diseases: a record discussions of


working group 4 of the joint EFP/AAP Workshop on Periodontitis and
Systemic Disease”, J Periodontol , vol.84, no. 4, November 14, pp.S20-S23.

Manson JD, Eley BM. (1993), Tanda Klinis Penyakit Periodontal Kronis, dalam:
Kentjana, Susianti (ed) Buku Ajar Periodonti, edisi 2, Penerbit HIPOKRATES,
Jakarta, hal. 127-133.

Manson JD, Eley BM. (2000), Buku Ajar Periodonti. Hipokarates. Jakarta.
Ulipe.(2011), “Hubungan antara Periodontitis dengan Diabetes Melitus Tipe 2
Ditinjau dari Aspek Destruksi Periodontal”, USU Press.