Anda di halaman 1dari 1

Seragam Reka

Matahari lagi malu-malu buat bersinar, justru embun yang dengan gampangnya menyeruak bikin pagi
itu terasa lebih gelap serta dingin. Terlihatlah sosok remaja laki-laki yang lagi menggosok punggung
tangannya untuk memberikan sedikit rasa hangat. Seragam putih birunya sama sekali tak membantu
bikin tubuhnya hangat. Tapi dia masih bersyukur hujan tak turun dan bikin seragamnya makin kusam.

Dia terus memerhatikan lampu lalu lintas dengan sangat cermat hingga tak akan terlewatkan perubahan
warnanya. Saat lampu berubah jadi merah, Reka jalan nerobos lalu lintas untuk menjajakan koran. Tak
jarang kadang Reka nerima penolakan, bahkan ada yang beri tatapan sinis padanya. Sebenarnya apa sih
salahnya? Ini kan pekerjaan halal bukan nyuri ataupun hal buruk yang lainnya. “Woi Reka! Cepattan
udah mau masuk nih” ujar seorang remaja yang pakek seragam putih biru kayak Reka yang lewat di
depan Reka dengan motor miliknya. Reka tersenyum “Iya, ini bentar lagi gue nyusul kok” ucap Reka
sambil menyusuri jalan yang mulai padat dengan kendaraan. Saat udah di pinggir jalan Reka masukin
sisa korannya ke dalam tas. Walau masih sisa cukup banyak, Reka harus bersyukur karna hari ini emang
sebesar inilah rezekinya.

Koran sisa ini tak bisa dijual lagi karna saat siang sudah tak ada yang nyari koran. Sedangkan Reka tak
dapat melanjutkan berjualan karena jam masuk telah mulai mendekat. Namun seenggaknya hari ini
adiknya di rumah dapat makan siang nanti setelah Reka pulang dari sekolah nya.