Anda di halaman 1dari 10

6/6/2021

Prodi Teknologi Pangan


Fakultas Pertanian
Motivasi Belajar
Unitomo Surabaya

Surabaya, Selasa, 01 Juni 2021

TM09
Kompetensi Akhir yang Diharapkan

Perumusan dan Menjelaskan (C1), memahami (C2)


dan menerapkan (C3) perumusan
Pengujian Hipotesis serta pengujian hipotesis.

 Merumuskan Hipotesis. Indikator:


 Menguji Hipotesis
 Menjelaskan, memahami dan menerapkan
cara merumuskan hipotesis.
 Menjelaskan, memehami dan menerapkan
pengujian hipotesis.

1
6/6/2021

PENDAHULUAN Ya Jika penelitian ilmiah berkenaan dengan verifikasi,


yang mana langkah pokok dituntun oleh komponen
“masalah hipotesis-data-analisis-kesimpulan”.
Memformulasikan
Sukar Komponen-komponen ini dijalin oleh suatu kerang-
hipotesis
 Terasa  jika permasalahan yang ingin ka teori, maka hipotesis ini tidak dapat dipungkiri
dipecahkan tidak mempunyai kerangka merupakan langkah yang amat penting dalam meto-
teori yang jelas. de ilmiah.
 Kesukaran merumuskan hipotesis dise-
babkan oleh kurangnya kemampuan un- Tidak Jika penelitian masih bersifat eksploratif dan des-
tuk menggunakan kerangka teori secara kriptif, maka hipotesis tidak diperlukan
logis, di samping kurang mengenal tek-
nik serta metode penelitian yang ada. Hipotesis yang telah dirumuskan, kemudian harus diuji.
 Cara mengujinya bergantung dari metode penelitian serta de-
Hal yang masih Apakah hipotesis diperlukan dalam suatu sain penelitian itu sendiri.
kontroversial penelitian?  Yang penting adalah  hipotesis harus diuji dan dievaluasikan.
 Hipotesis tersebut harus dicari kecocokannya dengan fakta
Dapat ya Dapat tidak ataupun dengan logika.

Merumuskan Hipotesis  Definisi hipotesis dari beberapa ahli:

1. Definisi hipotesis Trelease (1960):


“Suatu keterangan sementara dari suatu fakta yang dapat
 Hipotesis tidak lain dari jawaban sementara terhadap masalah pe-
diamati”
nelitian, yang kebenarannya harus diuji secara empiris.
 Hipotesis menyatakan hubungan apa yang kita cari atau yang Good dan Scates (1954):
ingin kita pelajari. “Hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang diru-
 Hipotesis adalah pernyataan yang diterima secara sementara se- muskan serta diterima untuk sementara yang dapat mene-
bagai suatu kebenaran sebagaimana adanya, pada saat fenome- rangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi
na dikenal dan merupakan dasar kerja serta panduan dalam veri- yang diamati, dan digunakan sebagai petunjuk untuk lang-
fikasi. kah-langkah penelitian selanjutnya?”
 Hipotesis adalah keterangan sementara dari hubungan fenomena-
fenomena yang kompleks. Kerlinger (1973):
“Hipotesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan dari hu-
bungan antara dua atau lebih variabel”

2
6/6/2021

 Hipotesis amat berguna dalam penelitian.  Secara garis besar, kegunaan hipotesis adalah sbb:

Cohen (1956): a) Memberikan batasan serta memperkecil jangkauan pe-


• Tanpa antisipasi terhadap alam ataupun tanpa hipotesis, nelitian dan kerja penelitian.
tidak akan ada progress dalam wawasan atau pengertian b) Menyiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubung-
ilmiah dalam mengumpulkan fakta empiris. an antarfakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari
• Tanpa ide yang membimbing, maka sulit dicari fakta-fakta perhatian peneliti.
yang ingin dikumpulkan dan sukar menentukan mana c) Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta
yang relevan mana yang tidak. yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu
kesatuan penting dan menyeluruh.
d) Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian
dengan fakta dan antarfakta.

2. Ciri-ciri Hipotesis
 Tinggi rendahnya kegunaan hipotesis sangat bergantung dari
hal berikut:  Hipotesis yang baik mempunyai ciri-ciri berikut:
a) Pengamatan yang tajam dari peneliti. a) Hipotesis yang menyatakan hubungan.
b) Imajinasi serta pemikiran kreatif dari si peneliti. Hipotesis harus merupakan pernyataan terkaan tentang
c) Kerangka analisis yang digunakan oleh si peneliti. hubungan-hubungan antarvariabel  berarti mengandung
d) Metode serta desain penelitian yang dipilih oleh si pene- 2 atau lebih variabel yang dapat diukur ataupun secara
liti. potensial dapat diukur.
Hipotesis menspesifikasikan bagaimana variabel-variabel
 Bagi penelitian yang tidak menggunakan hipotesis  hipotesis tersebut berhubungan.
tidak berguna sama sekali. Hipotesis yang tidak mempunyai ciri tersebut, sama sekali
bukan hipotesis dalam pengertian metode ilmiah.

3
6/6/2021

b) Hipotesis harus sesuai dengan fakta. d) Hipotesis harus dapat diuji.


Artinya hipotesis harus terang. Hipotesis harus dapat diuji, baik dengan nalar dan kekuat-
Kandungan konsep dan variabel harus jelas. an memberi alasan ataupun dengan menggunakan alat-
alat statistika.
Hipotesis harus dapat dimengerti, dan tidak mengandung
hal-hal yang metafisik. Alasan yang diberikan biasanya bersifat deduktif.
Sesuai dengan fakta bukan berarti hipotesis baru diterima Agar dapat diuji, hipotesis harus spesifik.
jika hubungannya yang dinyatakan harus cocok dengan Jika terlalu umum, maka akan kesulitan dalam pengujian.
fakta. e) Hipotesis harus sederhana.
c) Hipotesis harus berhubungan dengan ilmu, serta sesuai Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk yang sederhana
dengan tumbuhnya ilmu pengetahuan. dan terbatas untuk mengurangi timbulnya kesalahpaham-
Hipotesis juga harus tumbuh dari dan ada hubungannya an pengertian.
dengan ilmu pengetahuan dan berada dalam bidang pe- Semakin spesifik atau khas sebuah hipotesis dirumuskan,
nelitian yang sedang dilakukan. semakin kecil pula kemungkinan terdapat salah penger-
Jika tidak, maka hipotesis bukan lagi terkaan, tetapi me- tian dan semakin kecil pula kemungkinan memasukkan
rupakan suatu pertanyaan yang tidak berfungsi sama se- hal yang tidak relevan ke dalam hipotesis.
kali.

f) Hipotesis harus dapat menerangkan fakta. 3. Jenis-jenis Hipotesis


Hipotesis juga harus dinyatakan dalam bentuk yang dapat  Isi dan rumusan hipotesis bermacam-macam.
menerangkan hubungan fakta-fakta yang ada dan dapat  Bergantung pada pendekatan kita, hipotesis dapat dibagi men-
dikaitkan dengan teknik pengujian yang dapat dikuasai. jadi beberapa, yaitu:
Hipotesis juga harus dirumuskan sesuai dengan kemam- a) Hipotesis tentang perbedaan vs hubungan.
puan teknologi serta keterampilan menguji dari si peneliti. b) Hipotesis kerja vs hipotesis nul.
c) Hipotesis comman sense dan ideal.
 Secara umum, hipotesis yang baik:
• harus mempertimbangkan semua fakta-fakta yang relevan,
• harus masuk akal,
• tidak bertentangan dengan hukum alam yang telah dicipta-
kan Tuhan,
• harus dapat diuji dengan aplikasi deduktif atau induktif untuk
verifikasi,
• harus sederhana.

4
6/6/2021

a) Hipotesis hubungan dan perbedaan b) Hipotesis kerja dan hipotesis nul

• Hipotesis dapat kita bagi dengan melihat apakah pernya- • Dengan melihat cara penyusunan pernyataan dalam hipo-
taan sementara yang diberikan adalah hubungan ataukah tesis  dapat dibedakan antara hipotesis kerja dan nul.
perbedaan. • Hipotesis kerja mempunyai rumusan dengan implikasi alter-
• Hipotesis tentang hubungan adalah pernyataan rekaan natif di dalamnya.
yang menyatakan tentang saling berhubungan antara dua • Hipotesis kerja, biasanya dirumuskan sebagai berikut:
variabel atau lebih, yang mendasari teknik korelasi ataupun
“Andaikata ………, maka ………”
regresi.
• Hipotesis kerja biasanya diuji untuk diterima dan dirumus-
• Hipotesis yang menjelaskan perbedaan menyatakan ada- kan oleh peneliti-peneliti ilmu sosial dalam desain yang
nya pengaruh variabel yang berbeda-beda. Hipotesis ini
noneksperimental.
mendasari teknik penelitian yang komparatif.
• Dengan adanya hipotesis kerja, si peneliti dapat bekerja le-
• Hipotesis tentang hubungan dan perbedaan  hipotesis bih mudah dan terbimbing dalam memilih fenomena yang
hubungan analisis.
relevan dalam rangka memecahkan masalah penelitiannya.
• Hipotesis ini, secara analisis menyatakan hubungan atau
perbedaan satu sifat dengan sifat yang lainnya.

c) Hipotesis tentang ideal vs common sense


• Hipotesis nul (dikenalkan oleh statistikawan Fisher)  di-
formulasikan untuk ditolak sesudah pengujian. • Hipotesis acapkali menyatakan terkaan tentang dalil dan
• Dalam hipotesis nul, selalu ada implikasi “tidak ada beda”. pemikiran bersahaja dan common sense.
Perumusan dapat dalam bentuk: • Hipotesis ini biasanya menyatakan hubungan keseragaman
“Tidak ada beda antara …….. dengan ………” kegiatan terapan.
“………..tidak mem…………” • Contohnya:
• Hipotesis nul biasanya diuji dengan menggunakan statis-  hipotesis sederhana tentang produksi dan status pemi-
tika. likan tanah,
• Dengan menolak hipotesis nul, maka kita dapat menerima  hipotesis mengenai hubungan tenaga kerja dengan luas
hipotesis pasangan (hipotesis alternatif). garapan,
• Hipotesis nul biasanya digunakan dalam penelitian ekspe-  hubungan antara dosis pemupukan dengan daya tahan
rimental. terhadap insekta,
• Hipotesis nul juga digunakan dalam penelitian sosial (bi-  hubungan antara kegiatan-kegiatan dalam industri,
dang sosiologi, pendidikan dll.).  dsb.

5
6/6/2021

• Hipotesis yang menyatakan hubungan yang kompleks di- 4. Meggali dan Merumuskan Hipotesis
namakan hipotesis jenis ideal.
• Hipotesis ini bertujuan untuk menguji adanya hubungan lo-  Menemukan suatu hipotesis memerlukan kemampuan si pene-
gis antara keseragaman-keseragaman pengamalan empi- liti dalam mengaitkan masalah-masalah dengan variabel-varia-
ris. bel yang dapat diukur dengan menggunakan suatu kerangka
• Hipotesis ideal adalah peningkatan dari hipotesis analitis. analisis yang dibentuknya.
• Misalnya:  Menggali dan merumuskan hipotesis  merupakan seni ter-
sendiri.
 Kita mempunyai suatu hipotesis ideal tentang kesera-
gaman empiris dan hubungan antar daerah, jenis tanah,  Si peneliti harus sanggup memfokuskan permasalahan sehing-
luas garapan, jenis pupuk dan sebagainya. ga hubungan-hubungan yang terjadi dapat diterka.
 Tentang hubungan jenis tanaman A dengan jenis tanah
A* dan jenis tanaman B dengan jenis tanah B*
 Jika diperinci hubungan ideal di atas, misalnya dengan
mencari hubungan antara varietas-varietas tanaman A
saja, maka kita memformulasikan hipotesis analisis.

 Dalam menggali hipotesis, si peneliti harus:  Empat buah sumber untuk menggali hipotesis (Goode dan
a) mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin Hatt, 1952):
dipecahkan dengan jalan banyak membaca literatur-lite- a) Kebudayaan tempat ilmu tersebut dibentuk.
ratur yang ada hubungannya dengan penelitian yang se- b) Ilmu itu sendiri yang menghasilkan teori, dan teori mem-
dang dilaksanakan; beri arah kepada penelitian.
b) mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan c) Analogi juga merupakan hipotesis. Pengamatan terhadap
tentang tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang ber jagad raya yang serupa atau pengamatan yang serupa
hubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang pada ilmu lain merupakan sumber hipotesis yang baik.
diselidiki; Mengamati respons berat hewan terhadap makanan,
c) mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu memberikan analog tentang adanya respons tanaman
keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuai dengan terhadap zat unsur hara. Darinya dapat dirumuskan hu-
kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan. bungan antara tumbuh dengan zat hara dalam tanah.
d) Reaksi individu dan pengalaman. Reaksi individu terha-
dap sesuatu ataupun pengalaman-pengalaman sebagai
suatu konsekuensi dari suatu fenomena dapat merupakan
hipotesis.

6
6/6/2021

 Good dan Scates (1954), memberikan beberapa sumber un-  Merumuskan hipotesis bukanlah hal yang mudah.
tuk menggali hipotesis:  Ada 3 penyebab kesukaran dalam memformulasikan hipotesis,
• Ilmu pengetahuan dan pengertian yang mendalam ten- yaitu:
tang ilmu. 1) Tidak adanya kerangka teori atau pengetahuan tentang
• Wawasan serta pengertian yang mendalam tentang suatu kerangka teori yang terang;
wawasan. 2) Kurangnya kemampuan untuk menggunakan kerangka
• Imajinasi atau angan-angan. teori yang sudah ada, dan
• Materi bacaan dan literatur. 3) Gagal berkenalan dengan teknik-teknik penelitian yang
• Pengetahuan tentang kebiasaan atau kegiatan dalam da- ada untuk dapat merangkaikan kata-kata dalam mem-
erah yang sedang diselidiki. buat hipotesis secara benar.
• Data yang tersedia.
• Analogi atau kesamaan.

Menguji Hipotesis  Seorang ilmuwan tidak dapat mengetahui bukti positif atau negatif
suatu fenomena, kecuali ilmuwan tersebut mempunyai hipotesis
dan dia telah menguji hipotesis tersebut.
 Fungsi hipotesis  memberi suatu pernyataan terkaan tentang
hubungan tentatif antara fenomena-fenomena dalam penelitian   Untuk menguji hipotesis diperlukan data atau fakta-fakta.
hubungan tentatif ini akan diuji validitasnya menurut teknik-teknik  Kerangka pengujian harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum si
yang sesuai untuk keperluan pengujian. peneliti mengumpulkan data.
 Hipotesis bukan vested interest  artinya tidak harus selalu dite-  Pengujian hipotesis memerlukan;
rima kebenarannya. • pengetahuan yang luas mengenai teori;
 Jika hipotesis ditolak karena tidak sesuai dengan data  tidak • kerangka teori;
berarti si peneliti kehilangan muka  bahkan harga dirinya dapat • penguasaan penggunaan teori secara logis, statistik dan
naik jika si peneliti dapat menerangkan mengapa hipotesisnya tekinik-teknik pengujian.
tidak valid.
 Cara pengujian hipotesis bergantung dari metode dan desain pe-
 Penolakan hipotesis dapat merupakan penemuan yang positif, nelitian yang digunakan.
karena telah memecahkan ketidaktahuan (ignorance) universal
 Yang penting disadari adalah  hipotesis harus diuji dan dievalu-
dan memberi jalan kepada hipotesis yang lebih baik.
asikan.

7
6/6/2021

1. Menguji Hipotesis dengan Konsistensi Logis


 Secara umum hipotesis dapat diuji dengan dua cara, yaitu:
• Mencocokan dengan fakta.  Penggunaan logika memegang peranan penting.
 diperlukan percobaan-percobaan untuk memperoleh data.  Logika adalah ilmu yang mempelajari cara memberi alasan.
 data tersebut kemudian dinilai untuk mengetahui apakah  Secara luas  logika adalah studi tentang operasional mem-
hipotesis tersebut cocok dengan fakta tersebut atau tidak. beri alasan, dengan mana fakta-fakta diamati, bukti-bukti di-
 cara ini biasanya dikerjakan dengan menggunakan desain kumpulkan, dan kesimpulan yang wajar diambil.
percobaan.  Dengan kata lain  logika tidak lain adalah metode memberi
• Mempelajari dengan logis. alasan.
 Peneliti memilih desain yang mana logika dapat digunakan,  Logika adalah cara menalar yang mana data diamati dan diba-
untuk menerima atau menolak hipotesis. gi-bagi, buktinya dicari dan dipertimbangkan, dan kemudian
 Cara ini sering digunakan dalam menguji hipotesis pada pe- kesimpulan diambil.
nelitian yang menggunakan metode noneksperimen seperti  Ada dua cara dalam memberi alasan, yaitu:
metode deskriptif, metode sejarah dsb. • cara deduktif (dari umum menjadi spesifik), dan
• cara induktif (dari spesifik menjadi umum).

a) Alasan Deduktif  Dalam program berpikir secara deduktif, ada tiga jenis sillogis-
 Alasan deduktif adalah cara memberi alasan dengan berpikir ma yang dapat digunakan, yaitu
dan bertolak dari pernyataan yang bersifat umum dan menarik a) sillogisma alternatif;
kesimpulan yang bersifat khusus atau spesifik. b) sillogisma hipotesis;
 Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya dengan jalan c) sillogisma kategori.
menggunakan pola berpikir yang disebut sillogisma (dr kata
 Satu contoh sillogisma alternatif, terdiri dari 3 proposisi, yaitu:
Yunani yang berarti ‘bersama-sama’).
 premis mayor, merupakan sebuah alernatif;
 Suatu sillogisma terdiri dari tiga kalimat:
 premis minor, merupakan sebuah proposisi kategori;
• dua kalimat pertama adalah dua proposisi atau premis dan,
• kalimat terakhir adalah suatu kesimpulan.  kesimpulan, yang juga merupakan sebuah proposisi kategori.
 Keuntungan penggunaan sillogisma: Contoh:
• pengorganisasian pengetahuan dalam suatu pengalaman,  Ayam itu tidur atau mati  premis mayor.
atau kepercayaan yang telah diterima;  Ayam itu tidak mati  premis minor.
• merupakan alat yang ampuh dalam menentukan apakah  Ayam itu tidur  kesimpulan.
sebuah kesimpulan yang diambil konsisten dengan hukum-
hukum umum atau tidak.

8
6/6/2021

b) Alasan Induktif
 Penggunaan alasan induktif dalam menguji hipotesis mempu-
 Alasan induktif adalah cara berpikir untuk memberi alasan nyai dua macam keuntungan, yaitu:
yang dimulai dengan pernyataan-pernyataan yang spesifik un- 1) Pernyataan atau kesimpulan yang diambil yang mempu-
tuk menyusun suatu argumentasi yang bersifat umum. nyai sifat umum, lebih ekonomis. Berbagai fakta mempu-
 Alasan secara induktif banyak digunakan untuk menjajaki atur- nyai hubungan dan pengumpulan fakta tersebut dapat me-
an-aturan alamiah dari suatu fenomena. rupakan satu esensi yang menyeluruh.
 Dalam alasan induktif, suatu kesimpulan umum ditarik dari per 2) Pernyataan yang bersifat umum tersebut dapat digunakan
nyataan spesifik, misal: sebagai dasar untuk memberikan alasan lebih lanjut, baik
Ikan ada mulut, kodok ada mulut, ayam ada mulut, kuda ada secara induktif maupun deduktif.
mulut, kambing ada mulut,burung ada mulut, maka ditarik  Secara induktif, dari pernyataan yang bersifat umum dapat di-
kesimpulan bahwa semua binatang ada mulut. simpulkan menjadi sifat yang lebih umum lagi, misalnya:
 Dalam menguji hipotesis secara konsistensi logis, tidak ada Karena binatang mempunyai mulut, dan manusia mempu-
suatu ketentuan apakah seorang peneliti menggunakan alasan nyai mulut, maka disimpulkan bahwa semua makhluk Tuhan
deduktif atau induktif. mempunyai mulut.

2. Menguji Hipotesis dengan Mencocokkan Fakta


 Urut-urutannya adalah sbb:
 Menguji hipotesis dengan cara mencocokan fakta sering dila-
kukan pada penelitian dengan metode percobaan. 1) Masalah
 Si peneliti, dalam hal ini, mengadakan percobaan untuk me- Apakah biji jagung memerlukan cahaya untuk tumbuh?
ngumpulkan data yang akan digunakan untuk menguji hipote- 2) Hipotesis
sisnya. Biji jagung tidak memerlukan cahaya untuk tumbuh.
 Contoh pengujian hipotesis dengan mencocokan dengan fakta 3) Hipotesis alternatif
dapat dilihat sbb: Biji jagung memerlukan cahaya untuk tumbuh.
• Masalah penelitian  Apakah diperlukan cahaya supaya 4) Menguji hipotesis
biji jagung dapat tumbuh?
Hipotesis diuji dengan mengadakan percobaan.
• Dari masalah ini, si peneliti merumuskan sebuah hipotesis
a) Si peneliti menyediakan biji jagung yang daya ke-
nul, yaitu “ Biji jagung tidak memerlukan cahaya untuk tum
cambahnya baik.
buh”.
b) Disediakan suatu tempat dengan kondisi tanah, su-
• Hipotesis tersebut diuji dengan cara mencocokkan dengan
hu, cuaca dan sebagainya cukup ideal untuk pertum
fakta dari percobaan.
buhan jagung.

9
6/6/2021

c) Si peneliti membagi biji jagung atas dua perlakuan:


• sebagian dibiarkan memperoleh cahaya;
• sebagian lagi tidak diberi cahaya (ditutup).
d) Si peneliti melakukan pengamatan selama tujuh hari.
5) Hasil pengamatan
Biji jagung yang kena cahaya tumbuh dengan baik dalam Tugas 4
tempo tujuh hari. Sebaliknya biji jagung yang tertutup (tan-
pa cahaya) tidak tumbuh dalam tempo tujuh hari. Lihat Lampiran Tugas TM09
6) Kesimpulan
Biji jagung memerlukan cahaya untuk tumbuh. Dengan
perkataan lain, si peneliti menolak hipotesis nulnya, dan
menerima hipotesis alternatif.

10