Anda di halaman 1dari 3

G3P1A1 usia kehamilan 38-39 minggu tunggal hidup dengan Pre-eklampsia

Ny.L 27 tahun datang berobat ke IGD RS Salak atas rujukan dari puskesmas karena tekanan darah tinggi
dan kaki bengkak. Pasien seorang ibu G3P1A1 merasa hamil 9 bulan berobat karena tekanan darah
tinggi dan kaki terlihat bengkak sejak 1 minggu. Riwayat tekanan darah tinggi sebelum dan selama
kehamilan disangkal. Keluhan nyeri kepala hebat, pandangan kabur, dan nyeri ulu hati disangkal.
Keluhan disertai mules-mules yang bertambah sering dan bertambah kuat sejak 1 hari sebelum berobat
disertai keluar lendir bercampur sedikit darah dari jalan lahir sejak 3 hari sebelum berobat. Keluar cairan
banyak dari jalan lahir disangkal. Gerak anak masih aktif dirasakan ibu.

Tanda-tanda Vital :

Keadaan Umum: sakit sedang

Kesadaran : compos mentis (GCS 15)

Tekanan Darah : 150/100 mmHg

Nadi : 80 kali/menit

Pernapasan : 20 kali/menit

Suhu : 36,5 oC

Abdomen :

Inspeksi : Cembung

Palpasi : TFU 31 cm;

Leopold 1 = teraba bagian lunak, bundar dan tidak melenting

Leopold 2 = bagian kiri ibu teraba bagian rata dan keras, pada bagian kanan teraba bagian
kecil janin

Leopold 3 = bagian bawah perut ibu teraba bagian bulat dan keras

Leopold 4 = Kepala belum masuk ke pintu atas panggul

Auskultasi : Bising usus (+) normal, DJJ 143 kali/menit

Pemeriksaan dalam:

- Pembukaan: 2 cm

- Effacement: 25%

- Ketuban: (+)
- Presentasi: Kepala

- Penurunan kepala: Hodge 1

- His: (+)

1. Laboratorium Puskesmas (30 April 2020):

Hb = 12,8 g/dl

Protein urin (dipstick) = positif lemah (+1)

HIV = negative

G3P1A1 usia kehamilan 38-39 minggu tunggal hidup dengan Pre-eklampsia

- IVFD RL:D5 2:1

- Injeksi IV Ceftriaxon 1 gram

- Injeksi IV Dexamethasone 2 ampul

- Injeksi IM MgSO4 40% 12,5 cc bokong kanan dan 12,5 cc bokong kiri

- PO Nifedipin 3 x 10 mg

- Rippening Invitec ¼ tablet oral + ¼ tablet pervaginam setiap 6 jam sampai dengan pembukaan
serviks > 6 di lanjutkan oksitosin drip

Penanganan pre-eklampsia dan kualitasnya di Indonesia masih beragam diantara praktisi dan rumah
sakit. Hal ini dikarenakan belum adanya patogenesis penyakit ini secara jelas dan kurangnya kesiapan
sarana dan prasarana di daerah. Selain masalah kedokteran, masalah ekonomi juga timbul karena biaya
yang dikeluarkan untuk kasus ini cukup tinggi untuk menangani morbiditas maternal maupun neonatal.
Mengingat tingginya angka kasus dan komplikasi serius terhadap ibu dan janin, pembahasan secara
berkala dan lebih lanjut dibutuhkan dalam manajemen kasus ini.

KESIMPULAN

1. Diagnosis pada kasus ini sudah ditegakkan dengan benar berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang

2. Faktor risiko pada kasus ini adalah multigravida (persalinan ke-3)


3. Diagnosis banding lain dapat disingkirkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang

4. Dengan menegakkan diagnosis dan menyesuaikan dengan indikasi, tatalaksana pada kasus ini
sudah dilakukan dengan benar

5. Pencegahan primer, sekunder, dan tersier perlu diperhatikan dalam manajemen kasus
hipertensi pada kehamilan