Anda di halaman 1dari 20

BAB I

Kata Pengantar

Atas rahmat Allah SWT kami telah berhasil membuat sebuah makalah
dengan judul Pengetahuan dan Kebenaran untuk tugas pada mata kuliah Filsafat
Ilmu di faklutas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Berdasarkan hal tersebut kami membuat makalah ini dengan menggunakan


bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami berdasarkan dari kumpulan buku
yang telah kami ambil.

Akhir kata kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala
bantuan atau bimbingan atas pembuatan makalah ini.

Jakarta, 2011
Penulis

BAB II

1
ISI
Pengetahuan dan Kebenaran

2.1 Definisi Pengetahuan


Apa itu pengetahuan (knowledge)? Seberapa yakinkah manusia sebagai
“penahu” mengetahui sesuatu? Apakah pengetahuan mengenai sesuatu itu
merupakan gambaran lengkap mengenai sesuatu? Pertanyaan-pertanyaan ini
menjadi bagian dari perkara filsafat pengetahuan. Kita bisa memulai
menjawabnya dengan membedakan berbagai pengetahuan yang kita kenal,
katakan saja pengetahuan sehari-hari (1), pengetahuan filsafat (2), pengetahuan
teologis (3), pengetahuan mistik (4), pengetahuan jurnalistik (5), dan pengetahuan
ilmiah (6).

Seluruh catatan yang ada di sini masih berupa refleksi pendahuluan, karena itu
masih sangat jauh dari memadai. Sumbangan pemikiran dan gagasan Anda
melalui kolom tanggapan akan memperkaya refleksi filosofis mengenai
pengetahuan.

Dalam Encyclopedia of Philosophy, pengetahuan didefinisikan sebagai


kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). Menurut Sidi
Gazalba, pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan mengetahui.
Mengetahui itu hasil kenal, sadar, insaf, mengerti, benar dan pandai. Pengetahuan
itu harus benar, kalau tidak benar maka bukan pengetahuan tetapi kekeliruan atau
kontradiksi.
Pengetahuan merupakan hasil suatu proses atau pengalaman yang sadar.

1. Jenis Pengetahuan

1. Pengetahuan biasa (common sense) yang digunakan terutama untuk


kehidupan sehari-hari, tanpa mengetahui seluk beluk yang sedalam-
dalamnya dan seluas-luasnya.

2
2. Pengetahuan ilmiah atau Ilmu, adalah pengetahuan yang diperoleh dengan
carak husus, bukan hanya untuk digunakan saja tetapi ingin mengetahui
lebih dalam dan luas mengetahui kebenarannya, tetapi masih berkisar pada
pengalaman untuk mengetahui hal yang dianggap penting saja
3. Pengetahuan filsafat, adalah pengetahuan yang tidak mengenal batas,
sehingga yang dicari adalah sebab-sebab yang paling dalam dan hakiki
sampai diluar dan diatas pengalaman biasa.
4. Pengetahuan agama, suatu pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan
lewat para Nabi dan Rosul-Nya. Pengetahuan ini bersifat mutlak dan wajib
diyakini oleh para pemelu kagama.

2. Gejala Mengetahui
Gejala mengetahui manusia dapat dikelompokkan sebagai berikut :

• Manusia tahu, bahwa ia tahu


• Manusia tahu, bahwa ia tidak tahu
• Manusia tidak tahu, bahwa ia tahu
• Manusia tidak tahu, bahwa ia tidak tahu.

Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh manusia itu sebenarnya


baru ada, kalau manusia sudah mengambil kesimpulan dari berbagai
pengalamannya bahwa objek yang ingin diketahuinya itu sudah benar-benar
diketahui.

3. Pengetahuan Ilmiah
Adapun berbagai Pengertian Ilmu dapat dibedakan menjadi beberapa
bagian diantara adalah :
a. Hakekat Pengetahuan
Ada duateori yang digunakan untuk mengetahui hakekat Pengetahuan:

3
1. Realisme, teori ini mempunyai pandangan realistis terhada palam.
Pengetahuan adalah gambaran yang sebenarnya dariapa yang ada dalam
alam nyata.
2. Idealisme, teori ini menerangkan bahwa pengetahuan adalah proses-proses
mental/ psikologis yang bersifat subjektif. Pengetahuan merupakan
gambaran subjektif tentang sesuatu yang ada dala malam menurut
pendapat atau penglihatan orang yang mengalami dan mengetahuinya.
Pengetahuan pokok adalah jiwa yang mempunyai kedudukan utama dalam
alam semesta. Sebenarnya realisme dan idealisme mempunyai kelemahan-
kelemahan tertentu.

4. Sumber Pengetahuan

Ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain :

1. Empirisme, menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui


pengalaman (empereikos = pengalaman). Dalam hal ini harus ada 3 hal,
yaitu yang mengetahui (subjek), yang diketahui (objek) dan cara
mengetahui (pengalaman). Tokoh yang terkenal: John Locke (1632 –
1704), George Barkeley (1685 -1753) dan David Hume.
2. Rasionalisme, aliran ini menyatakan bahwa akal (reason) merupakan dasar
kepastian dan kebenaran pengetahuan, walaupun belum didukung oleh
fakta empiris. Tokohnya adalah Rene Descartes (1596 –1650, Baruch
Spinoza (1632 –1677) dan Gottried Leibniz (1646 –1716).
3. Intuisi. Denganintuisi, manusia memperoleh pengetahuan secara tiba-tiba
tanpa melalui proses pernalaran tertentu. Henry Bergson menganggap
intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi, tetapi
bersifat personal.
4. Wahyu dalah pengetahuan yang bersumber dari Tuhan melalui hambanya
yang terpilih untuk menyampaikannya (NabidanRosul). Melalui wahyu
atau agama, manusia diajarkan tentang sejumlahp engetahuan baik yang
terjangkau ataupun tidakterjangkau oleh manusia.

4
5. Ukuran Kebenaran

a. Teori Korespondensi

Teori kores pondensi (Correspondence Theory of Truth) menerangkan bahwa :


Kebenaran atau sesuatu keadaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian
antara arti yang dimaksud suatu pernyataan/ pendapat dengan objek yang dituju/
dimaksud oleh pernyataan/ pendapat tersebut.
Kebenaran adalah kesesuaian pernyataan dengan fakta, yang berselaras
dengan realitas, yang serasi dengan situasi aktual. Dengan demikian ada lima
unsur yang perlu yaitu pernyataan (statement), persesuaian (agreement), situasi
(situation), kenyataan (realitas) danputusan (judgement).
Kebenarana dalah fidelity to objective reality. Atau dengan bahasa
latinnya: edaequatioin telectuset rei (kesesesuaian pikiran dengan kenyataan).
Teori ini dianut oleh aliran realis. Pelopornya Plato, Aristoteles dan
Moore. Dikembangkan lebih lanjut oleh IbnuSina, Thomas Aquinas di abad
skolastik, serta oleh Bertrand Russel pada abad Modern. Cara berfikiri lmiah yaitu
logika induktif menggunakan teori korespondensi ini.

b. Teori Koherensi

Teori koherensi (The Coherence Theory of Truth) menganggap suatu pernyataan


benar bila didalamnya tidak ada pertentangan, bersifat koheren dan konsisten
dengan pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar.
Dengan demikian suatu pernyataan dianggap benar, jika pernyataan itu
dilaksanakan atas petimbangan yang konsisten dan pertimbangan lain yang telah
diterima kebenarannya. Rumusan kebenarana dalah, truth is a systematic
coherence, dan truth is consistency.
Jika A = B danB = C, makaA = C. Logika matematik yang deduktif
memakai teori kebenaran koherensi ini. Logika ini menjelaskan bahwa

5
kesimpulan akan benar, jika premis-premis yang digunakan juga benar. Teori ini
digunakan oleh aliran metafisikus-rasionalis dan idealis.
Teori ini sudah ada sejak pra Socrates, kemudian dikembangkan oleh
Benedictus Spinoza dan George Hegel. Suatu teori dianggap benar apabila telah
dibuktikan (justifikasi) benar dan tahan uji (testable). Kalau teori ini bertentangan
dengan data terbaru yang benar atau dengan teori lama yang benar, maka teori itu
akan gugur atau batal dengan sendirinya.

c. Teori Pragmatisme

Teori pragmatisme (the pragmatic theory of truth) menganggap suatu pernyataan,


teori atau dalil itu memiliki kebenaran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi
kehidupanmanusia.
Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenarannya dengan kegunaan (utility),
dapat dikerjakan (workability), dan akibat yang memuaskan (satisfactory
consequence). Oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutlak/ tetap,
kebenarannya tergantung pada kerja, manfaat dan akibatnya. Akibat/ hasilyang
memuaskan bagi kaumpragmatis adalah :
• Sesuai dengan keinginan dan tujuan
• Sesuai dan teruji dengan suatu eksperimen
• Ikut membantu dan mendorong perjuangan untukt etape ksis (ada).
Teori ini merupakan sumbangan paling nyata dari para filsup Amerika. Tokohnya
adalah Charles S. Pierce (1839 –1914) dan diikuti oleh William James dan John
Dewey ( 1859 –1952 ).

d. Agama sebagai teori Ilmu Dan Pengetahuan kebenaran

Ketiga teori kebenaran sebelumnya menggunakan akal, budi, fakta, realitas dan
kegunaan sebagai landasannya. Dalam teori kebenaran agama digunakan wahyu
yang bersumber dari Tuhan.

6
Sebagai makluk pencari kebenaran, manusia dapat mencari dan
menemukan kebenaran melalui agama.
Dengan demikian, sesuatu dianggap benar bila sesuai dan koheren dengan
ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak. Agama dengan kitab
suci dan haditsnya dapat memberikan jawaban atas segala persoalan manusia,
termasuk kebenaran.

Berbicara tentang kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan
fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh
manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap-
tahap metode ilmiah. Kriteria ilmiah dari suatu ilmu memang tidak dapat
menjelaskan fakta dan realitas yang ada. Apalagi terhadap fakta dan kenyataan
yang berada dalam lingkup religi ataupun yang metafisika dan mistik, ataupun
yang non ilmiah lainnya. Di sinilah perlunya pengembangan sikap dan
kepribadian yang mampu meletakkan manusia dalam dunianya.
Penegasan di atas dapat kita pahami karena apa yang disebut ilmu
pengetahuan diletakkan dengan ukuran. Pertama, pada dimensi fenomenalnya
yaitu bahwa ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai masyarakat, sebagai
proses dan sebagai produk. Kedua, pada dimensi strukturalnya, yaitu bahwa ilmu
pengetahuan harus terstruktur atas komponen-komponen, obyek sasaran yang
hendak diteliti (begenstand), yang diteliti atau dipertanyakan tanpa mengenal titik
henti atas dasar motif dan tata cara tertentu, sedang hasil-hasil temuannya
diletakkan dalam satu kesatuan sistem (Wibisono, 1982). Tampaknya anggapan
yang kurang tepat mengenai apa yang disebut ilmiah telah mengakibatkan
pandangan yang salah terhadap kebenaran ilmiah dan fungsinya bagi kehidupan
manusia. Ilmiah atau tidak ilmiah kemudian dipergunakan orang untuk menolak
atau menerima suatu produk pemikiran manusia.

7
BAB III
ARTI KEBENARAN

3.1 Arti Kebenaran


Kata kebenaran dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret
maupun abstrak (Hamami, 1983). Jadi ada 2 pengertian kebenaran, yaitu
kebenaran yang berarti nyata-nyata terjadi di satu pihak, dan kebenaran dalam arti
lawan dari keburukan (ketidakbenaran) (Syafi’i, 1995). Jika subjek hendak
menuturkan kebenaran artinya adalah proposisi yang benar . Proposisi maksudnya
adalah makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement. Apabila
subjek menyatakan kebenaran bahwa proposisi yang diuji itu pasti memiliki
kualitas, sifat atau karakteristik, hubungan dan nilai, hal yang demikian itu karena
kebenaran tidak dapat begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan, dan nilai
itu sendiri.
Dalam bahasan ini, makna “kebenaran” dibatasi pada kekhususan makna
“kebenaran keilmuan (ilmiah)”. Kebenaran ini mutlak dan tidak sama atau pun
langgeng, melainkan bersifat nisbi (relatif), sementara (tentatif) dan hanya
merupakan pendekatan (Wilardo, 1985). Kebenaran intelektual yang ada pada
ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan.
Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian maka
pengabdian ilmu secara netral, tak bermuara, dapat melunturkan pengertian
kebenaran sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang
masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya
kebenaran (Daldjoeni, 1985). Selaras dengan Poedjawiyatna (1987) yang
mengatakan bahwa persesuaian antara pengatahuan dan obyeknya itulah yang
disebut kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang
diketahui. Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif.
Kebenaran pertama-tama berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya,
setiap pengtahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui sesuatu objek

8
dilihat dari jenis pengetahuan yang dibangun. Adapun pengetahuan itu berupa
berikut ini:
1. Pengetahuan biasa disebut juga Knowledge of the man in the street atau
ordinary knowledge atau common sense knowledge. Pengetahuan seperti ini
memiliki inti kebenaran yang sifatnya subjektif. Artinya sangat terikat pada
subjek yang mengenal. Dengan demikian, pengetahuan tahap pertama ini
memiliki sifat selalu benar sejauh sarana untuk memperoleh pengetahuan
bersifat normal atau tidak ada penyimpangan.
2. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang telah menetapkan objek yang
khas dengan menerapkan atau hampiran metodologis yang khas pula.
Artinya, metodologi yang telah mendapatkan kesepakatan di antara para ahli
yang sejenis. Maksudnya kandungan kebenaran dari jenis pengetahuan ilmiah
selalu mendapatkan revisi yaitu selalu diperkaya oleh hasil penemuan yang
paling mutakhir. Dengan demikian, kenbenaran dalam pengetahuan ilmah
selalu mengalami pembaharuan sesuai dengan hasil penelitian yang paling
akhir dan mendapatkan persetujuan, adanya agreement konvensi para
ilmuwan sejenis.
3. Pengetahuan filsafat adalah sejenis pengetahuan yang pendekatanya melalui
metodologi pemikiran filsafat yang bersifat mendasar dan menyeluruh dengan
model pemikiran yang analistis, kritis dan spekulatif. Sifat kebenaran yang
terkandung dalam penegetahuan filsafati adalah absolute intersubjektif.
Maksudnya nilai kebenaran yang terkandung jenis pengetahuan filsafat
selalu merupakan pendapat yang selalu melekat pada pandangan filsafat dari
seorang pemikir filsafat serta selalu mendapat pembenaran dari filsafat
kemudian yang menggunakan metodologi pemikiran yang sama pula. Jika
pendapat filsafat itu ditinjau dari sisi lain, artinya dengan pendekatan filsafat
yang lain sedah dapat dipastikan hasilnya akan berbeda atau bahkan
bertentangan atau menghilangkan sama sekali. Mis alnya, filsafat matematika
atau geometri dari Phytagoras sampai sekarang masih tetap seperti eaktu
Phytagoras itu pertama kali memunculkan pendapatnya pada abad VI SM.

9
4. Kebenaran jenis pengetahuan adalah kebenaran pengetahuan yang terkandung
dalam pengetahuan agama. Pengetahuan agama memiliki sifat dogmatis,
Artinya pernyataan dalam suatu agama selalu dihampiri oleh keyakinan yang
telah tertentu sehingga pernyataan-pernyataan dalam ayat-ayat kitab suci
agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan
untuk memahaminya itu. Implikasi makna dari kandungan kitab suci dapat
berkembang secara dinamik sesuai dengan perkembangan waktu. Akan tetapi,
kandungan maksud dari ayat kitab suci itu tidak dapat diubah dan sifanya
absolut.
Kebenaran kedua dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana
cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuanya itu. Apakah
ia membangun dengan penginderaan atau sense experience, akal pikiran atau
ratio, intuisi, atau keyakinan. Implikasi dari penggunaan alat untuk memperoleh
pengetahuan melalui alat tertentu akan mengakibatkan karakteristik kebenaran
yang dikandung oleh pengetahuan itu akan memiliki cara tertentu untuk
membuktikanya. Artinya, jika seseorang membangunnya melalui indera atau
sense experience. Maka pada saat ia membuktikan kebenaran pengetahuan itu
harus melalui indera pula. Begitu juga dengan cara yang lain misalnya dengan
indra kimiawi. Jenis pengetahuan menurut kriteria karakteristiknya dibedakan
dalam jenis pengetahuan seperti berikut ini:
1. pengetahuan indrawi
2. pengetahuan akal budi
3. pengetahuan intuitif
4. pengetahuan kepercayaan atau pengetahuan otoritatif dan pengetahuan
yang lainnya.
Kebenaran pengetahuan ketiga adalah nilai kebenaran pengetahuan yang
dikaitkan atau ketergantungan terjadinya pengetahuan. Artinya bagaimana relasi
atau hubungan antara subjek dan objek. Juka subjek yang berperan maka jenis
pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran yang sifatnya subjektif. Artinya
nilai kebenaran dari pnegetahuan yang dikandungnya sangat tergantung pada

10
subjek yang memiliki pengetahuan itu atau jika objek yang berperan . Sifatnya
objektif seperti pengetahuan tentang alam dan ilmu-ilmu alam.
Meskipun demikian, apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran
mungkin suatu saat akan hanya pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang
lebih jati lagi dan demikian seterusnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan
keberadaan manusia yang transenden,dengan kata lain, keresahan ilmu bertalian
dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Dari sini terdapat petunjuk
mengenai kebenaran yang trasenden, artinya tidak henti dari kebenaran itu
terdapat diluar jangkauan manusia.

3.2 Teori Tentang Kebenaran


Dalam perkembangan pemikiran filsafat perbincangan tentang kebenaran
sudah dimulai sejak Plato, kemudian diteruskan oleh Aristoteles. Plato melalui
metode dialog membangun teori pengetahuan yang cukup lengkap sebagai teori
pengetahuan yang paling awal. Sejak itu teori pengetahuan berkembang terus
dengan mendapatkan penyempurnaan sampai sekarang. Hal itu seperti yang
dikemukakan seorang filusuf abad XX Jaspers yang dikutip oleh Hamersma
(1985) mengemukakan bahwa sebenarnya para pemikir sekarang ini hanya
melengkapi dan menyempurnakan filsafat plato dan filsafat Aristoteles. Teori
kebenaran selalu paralel dengan teori pengetahuan yang dibangunnya. Teori-teori
kebenaran yang telah terlembaga itu seperti berikut:
1. Teori kebenaran Korespondensi
2. Teori kebenaran Koherensi
3. Teori kebenaran Pragmatis
4. Teori kebenaran Sintaksis
5. Teori kebenaran Semantis
6. Teori Kebenaran Non-Deskripsi
7. Teori Kebenaran Logis yang berlebihan

11
Teori-teori di atas akan dijelaskan secara rinci pada uraian berikut:

1. Teori Kebenaran Korespondensi


Ujian kebenaran yang dinamakan teori korespondensi ini adalah teori yang
paling diterima secara luas oleh kelompok realis. Menurut teori ini, kebenaran
adalah kesetiaan kepada realita obyektif (fidelity to objective reality). Kebenaran
adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri, atau
antara pertimbangan (judgement) dan situasi yang pertimbangan itu berusaha
untuk melukiskan, karena kebenaran mempunyai hubungan erat dengan
pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu (Titus, 1987).
Jadi, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori
korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang
dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang
dituju oleh pernyataan tersebut (Suriasumantri, 1990). Misalnya jika seorang
mahasiswa mengatakan “kota Yogyakarta terletak di pulau Jawa” maka
pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat
faktual, yakni kota Yogyakarta memang benar-benar berada di pulau Jawa.
Sekiranya orang lain yang mengatakan bahwa “kota Yogyakarta berada di pulau
Sumatra” maka pernnyataan itu adalah tidak benar sebab tidak terdapat obyek
yang sesuai dengan pernyataan tersebut. Dalam hal ini maka secara faktual “kota
Yogyakarta bukan berada di pulau Sumatra melainkan di pulau Jawa”.
Menurut teori koresponden, ada atau tidaknya keyakinan tidak mempunyai
hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan, oleh karena atau
kekeliruan itu tergantung kepada kondisi yang sudah ditetapkan atau
diingkari. Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta, maka pertimbangan ini
benar, jika tidak, maka pertimbangan itu salah (Jujun, 1990).

2. Teori Kebenaran Koherensi


Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu
bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang
dianggap benar (Jujun, 1990), artinya pertimbangan adalah benar jika

12
pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima
kebenarannya, yaitu yang koheren menurut logika. Misalnya, bila kita
menganggap bahwa “semua manusia pasti akan mati” adalah suatu pernyataan
yang benar, maka pernyataan bahwa “si Hasan seorang manusia dan si Hasan
pasti akan mati” adalah benar pula, sebab pernyataan kedua adalah konsisten
dengan pernyataan yang pertama.
Seorang sarjana Barat A.C Ewing (1951:62) menulis tentang teori
koherensi, ia mengatakan bahwa koherensi yang sempurna merupakan suatu idel
yang tak dapat dicapai, akan tetapi pendapat-pendapat dapat dipertimbangkan
menurut jaraknya dari ideal tersebut. Sebagaimana pendekatan dalam aritmatik,
dimana pernyataan-pernyataan terjalin sangat teratur sehingga tiap pernyataan
timbul dengan sendirinya dari pernyataan tanpa berkontradiksi dengan
pernyataan-pernyataan lainnya. Jika kita menganggap bahwa 2+2=5, maka tanpa
melakukan kesalahan lebih lanjut, dapat ditarik kesimpulan yang menyalahi tiap
kebenaran aritmatik tentang angka apa saja.
Kelompok idealis, seperti Plato juga filosof-filosof modern seperti Hegel,
Bradley dan Royce memperluas prinsip koherensi sehingga meliputi dunia;
dengan begitu maka tiap-tiap pertimbangan yang benar dan tiap-tiap sistem
kebenaran yang parsial bersifat terus menerus dengan keseluruhan realitas dan
memperolah arti dari keseluruhan tersebut (Titus, 1987). Meskipun demikian
perlu lebih dinyatakan dengan referensi kepada konsistensi faktual, yakni
persetujuan antara suatu perkembangan dan suatu situasi lingkungan tertentu.

3. Teori Kebenaran Pragmatis


Teori pragmatik dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam
sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yangberjudul “How to Make Ideals
Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang
kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering
dikaitkan dengan filsafat Amerika. Ahli-ahli filasafat ini di antaranya adalah
William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Hobart Mead
(1863-1931) dan C.I. Lewis (Jujun, 1990)

13
Pragmatisme menantang segala otoritanianisme, intelektualisme dan
rasionalisme. Bagi mereka ujian kebenaran adalah manfaat (utility),kemungkinan
dikerjakan (workability) atau akibat yang memuaskan (Titus, 1987), Sehingga
dapat dikatakan bahwa pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa
yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan
akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatis adalah
logika pengamatan dimana kebenaran itu membawa manfaat bagi hidup praktis
(Hadiwijono, 1980) dalam kehidupan manusia.
Kriteria pragmatisme juga dipergunakan oleh ilmuan dalam menentukan
kebenaran ilmiah dalam prespektif waktu. Secara historis pernyataan ilmiah yang
sekarang dianggap benar suatu waktu mungkin tidak lagi demikian. Dihadapkan
dengan masalah seperti ini maka ilmuan bersifat pragmatis selama pernyataan itu
fungsional dan mempunyai kegunaan maka pernyataan itu dianggap benar,
sekiranya pernyataan itu tidak lagi bersifat demikian, disebabkan perkembangan
ilmu itu sendiri yang menghasilkan pernyataan baru, maka pernyataan itu
ditinggalkan (Jujun, 1990), demikian seterusnya. Tetapi kriteria kebenaran
cenderung menekankan satu atu lebih dati tiga pendekatan (1) yang benar adalah
yang memuaskan keinginan kita, (2) yang benar adalah yang dapat dibuktikan
dengan eksperimen, (3) yang benar adalah yang membantu dalam perjuangan
hidup biologis. Oleh karena teori-teori kebenaran (koresponden, koherensi, dan
pragmatisme) itu lebih bersifat saling menyempurnakan daripada saling
bertentangan, maka teori tersebut dapat digabungkan dalam suatu definisi tentang
kebenaran. kebenaran adalah persesuaian yang setia dari pertimbangan dan ide
kita kepada fakta pengalaman atau kepada alam seperti adanya. Akan tetapi
karena kita dengan situasi yang sebenarnya, maka dapat diujilah pertimbangan
tersebut dengan konsistensinnya dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang
kita anggap sah dan benar, atau kita uji dengan faidahnya dan akibat-akibatnya
yang praktis (Titus, 1987).

4. Teori Kebenaran Sintaksis

14
Para penganut teori kebenaran sintaksis berpangkal tolak pada keteraturan
sintaksis atau garamatika yang dipakai ole suatu pernyataan atau tata bahasa yang
melekatnya. Dengan demikian, suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan
itu mengikuti aturan-aturan sinaksis yang baku atau apabila proporsisi itu tdak
mengikuti syarat atau keluar dari hal yang diisyaratkan proporsisi itu tidak
mempunyai arti. Teori ini berkembang diantara para pilsuf analisa bahasa,
terutama yang bgitu ketat terhadap pemakaian gramatikal, seperti Friederich
Schleiermacher (1768-1834).

5. Teori Kebenaran Semantis


Teori kebanaran semantis dianut oleh faham filsafat Bertrand Russel
sebagai kokoh pemula dari filsafat Analitika Bahasa. Menurut teori kebenaran
semantis bahwa suatu proporsisi memiliki nilai benar ditinjau dari segi arti atau
makna. Apakah proporsisi yang merupakan pangkal tumpunya inti mempunyai
pengacu (referent) yang jelas. Oleh karena itu, teori ini memiliki tugas untuk
menguak kesyahan proporsisi dalam referensinya.
Teori kebenaran emantis sebenarnya berpangkal atau mengacu pada
pendapat Aristoteles sebagaimana yang dgambarkan oleh White (1978) seperti
berikut ini:
“To say of what is that is or of what is not, is true”,
Atau mengacu pada teori tradisional korespondensi yang mengatakan:
“ …that truth consists in correspondence of what is said and what is fact.
Dengan demikian, teori kebenaran semantik menyatakan bahwa proporsisi
itu mempunyai nilai kebenaran jika proporsisi itu memiliki arti. Arti ini
menunjukkan makna yang sesungguhnya dengan menunjuk pada referensi atau
kenyataan. Selain itu juga arti yang dikemukakan itu memiliki arti yang bersifat
definitive (arti yang jelas dengan menunjuk cirri yang khas dari sesuatu yang ada).

6. Teori Kebenaran Non-Deskripsi


Teori kebenaran non-deskripsi dikembangkan oleh penganut filsafat
fungsionalisme karena pada dasarnya suatu statemen atau pernyataan itu akan

15
mempunyai nilai benar yang sangat tergantung peran dan fungsi pada pernyataan
itu.
White (1978) menggambarkan tentang kebenaran sebagaimana
dikemukakanya berikut ini:
“….to say. It is true that not many people are likely to do that “is away of
agreeing with the opinion that not many people are likely to do that anda not a
way of talking about the opnion , much less of talking about the sentence used to
express the opinion.
Memiliki pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa pengetahuan akan
memiliki nilai banar sejauh pernyataan itu memiliki fungsi yang sangat praktis
dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan itu juga merupakan kesepakatan bersama
untuk menggunakan praktis dalam kehidupan sehari-hari.

7. Teori Kebenaran Logis yang berlebihan


Teori ini dikembangkan oleh kaum Positivistik yang diawali oleh Ayer.
Pada dasarnya menurut teori kebenaran ini adalah bahwa problem kebenaran
hanya merupakan kekacauan bahasa saja, dan hal ini akibatnya merupakan suatu
pemborosan karena pada dasarnya apa, pernyataan yang hendak dibuktikan
kebenaranya memiliki derajat logic yang sama dan masing-masing saling
melingkupinya. Dengan demikian , sesungguhnya setiap proporsisi yang bersifat
logic dengan menunjukkan bahwa proporsisi itu mempunyai isi yang sama,
memberikan informasi yang sama, dan semua orang sepakat sehingga apabila kita
membuktikanya lagi hal yang demikian itu hanya merupakan bentuk logis yang
berlebihan.
Hal yang demikian itu sesungguhnya karena suatu pernyataan yang
hendak dibuktikan nilai kebenaranya sebenarnya telah merupakan fakta atau data
yang telah memiliki evidensi. Artinya, objek pengetahuan itu sendiri telah
menunjukkan kejelasan dalam dirinya sendiri (Gallagher, 1984).

16
3.3 Sifat Kebenaran Ilmiah

Suatu kebenaran ilmiah lahir dari hasil penelitian ilmiah. Jadi agar
kebenaran tersebut dapat muncul maka harus melalui proses-proses atau suatu
prosedur. Prosedur baku yang harus dilalui adalah tahaan-tahapan untuk
memperoleh pengetahuan ilmiah, yang pada hakikatnya berupa teori, melalui
metodologi ilmiah yang baku sesuai dengan sifat dasar ilmu. Maksudnya, adalah
setiap ilmu secara tegas menetapkan jenis objek secara ketat apakah objek itu
berupa hal konkrit atau abstrak. Selain itu ilmu menetapkan langkah-langkah
ilmiah sesuai dengan objek yang dihadapinya itu.
Kebanaran data ilmu adalah kebenaran yang sifatnya objektif. Maksudnya,
bahwa kebenaran dari suatu teori atau lebih tinggi dan aksioma atau paradigma,
harus didukung oleh fakta-fakta yang berupa kenyataan dalam keadaan
objektifnya. Kebenaran yang benar-benar lepas dari keinginan subjek. Kenyataan
yang dimaksud adalah kenyataan yang berupa suatu dapat dipakai sebagai acuan
atau kenyataan yang pada mulanya merupakan objek dalam pembentukan
pengetahuan ilmiah itu.
Mengacu pada status ontologisme objek, pada dasarnya kebenarana dalam
ilmu dapat digolongkan dalam dua jenis teori yaitu teori kebenaran koepondensi
atau teori kebenaran kohensi. Ilum-ilmu kealaman pada umumnya menuntut
kebenaran korespondensi karena fakta-fakta objektif sangat dituntut dalam
pembuktian terhadap setiap proposisi atau pernyataan (statement) . Akan tetapi,
berbeda dengan ilmu-ilmu kemausiaan, ilmu-ilmu social, ilmu logika dan
matematika. Ilmu-ilmu tersebut menuntut konsistensi dan keherensi diantara
proposisi-proposisi sehingga pembenaran bagi ilmu-ilmu itu mengikat teori
kebenaran koherensi.
Hal yang cukup penting dan perlu mendapatkan perhatian dalam
kebenaran ini adalah kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil
persetujuan dan konvensi dari para ilmuwan di bidangnya. Sifat kebenaran ilmu
memiliki sifat universal sejauh kebenaran ilmu itu dapat dipertahankan.
Pernyataan tersebut karena kebenaran ilmu harus selalu merupakan kebenaran

17
yang disepakati dalam konfensi sehingga keuniversalan sigat ilmu harus selalu
harus masih dibatasi oleh penemuan baru atau penemuan lainnya yang hasilnya
menolak pertemuan terdahulu atau bertentangan sama sekali. Apabila terdapat hal
semacam ini, diperlukan suatu penelitian yang mendalam apabila hasilnya
berbeda. Kebenaran yang lama harus diganti oleh penemuan baru atau kedua-
duanya berjalan bersama dengan kekuatanya atas kebenaranya amasing-masing .
Contoh kasus yang terjadi adalah teori geometri, Euklides dan teori geometri.
Reinnan yang bersama-sama dengan Labocevsky tentang jumlah besar 3 sudut
dari suatu segitiga. Contoh yang lain adalah tentang peralihan teori tentang pusat
alam raya dari bumi nmenjadi matahari atau bahkan teori baru yang menunjukkan
bahwa pusat alam raya pada pusat galaksi bimasakti.

2.1 Cara Untuk Menemukan Kebenaran Ilmiah


Untuk menentukan kebenaran Ilmiah (AR-lacey) adalah:
1. Menemukan kebenaran dari masalah
2. Pengamatan dan teori
3. Metode Hipotetico-dedukatif
4. Pengamatan dan eksperimen
5. Falsification/operasionalm
6. Konfirmasi kemungkinan

18
BAB IV
KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kebenaran ilmiah tidak bisa
dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan
dan dimanfaakan oleh manusia serta proses atau prosedur suatu penelitian ilmiah.
Teori-teori kebenaran ada tujuh, yakni korespondensi, koherensi, pragmatis,
sintaksis, semantis, non-deskripsi, dan kebenaran logis yang berlebihan. Teori-
teori tersebut mencoba untuk menjelaskan tentang apa itu kebenaran. Kebenaran
ilmiah bersifat obyektif dan universal.
Dalam teori keilmuan, untuk membuktikan kebenaran ilmiah dari suatu
pernyataan ilmiah harus sesuai dengan sifat dasar metodologis yang digunakan
dan sangat bergantung pada konvensi serta peran masyarakat dalam menentukan
karakteristik kebenaran ilmiah tersebut.

19
DAFTAR PUSTAKA
Awing, A.C. 1951. The Fundamental Questions of Philosophy. Routledge and
Kegan Paul. London.

Burhanuddin Salam. 1995. Pengantar Filsafat. Bumi Aksara. Jakarta.

Butler, J. Donald. 1951. Four Philosophies and Their Practice in Education and
Religion. Horper and Brothers. New York.

Dharmono, M.Si. 2008. Filsafat Saints & Bioetika. Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan UNLAM. Banjarmasin.

Hadiwijono, H. 1980. Sari Sejarah Filsafat Barat II. Kanisius. Yogyakarta.

I.R. Poedjawijatna. 1987. Tahu dan Pengetahuan, Pengantar ke IImu dan


Filsafat. Bina Aksara. Jakarta.

Jujun S. Sumiasumantri (ed). 1985. Ilmu dalam Prespektif. Gramedia. Jakarta.

_______________________. 1990. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer.


Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.

Kneller, George F., Movement of Thought in Modern Education, New York: John
Witey and Sound, 1984

Koento, W. 1982. Arti Perkemabangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste


Comte. Gadjah Mada Univercity Press. Yogyakarta.

Rapar, J.H. 1996. Pengantar Filsafat. Kanisius. Yogyakarta.

Richard Pratte. 1977. Conteporary Theories of Education. Intext International


Publisher. Scranton.

Syafi’i, I.K. 1995. Filsafat kehidupan (Prakata). Bumi Aksara. Jakarta.

Titus, Harold H., dkk. 1987. Living Issues in Philasophy, Terj. H. M.


Rasyidi, Persoalan-Persoalan Filsafat. Bulan Bintang. Jakarta.

20