Anda di halaman 1dari 32

Ê Ê

   


‘  

Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan meletakkan di dalamnya


berbagai macam rahasia yang berupa makhluk, hukum ± hukum, sifat ± sifat,
kekhususan, dan berbagai macam warna-warni lainnya. Allah juga telah
menciptakan manusia, lalu diberi alat untuk menyerap pengetahuan dan
menyingkap kebodohan, yaitu berupa akal. Kemudian dilengkapi dengan panca
indera dan anggota badan sebagai pasukan untuk menjalankan apa yang
dipikirkan oleh akal. Lalu Allah mengirimkan cahaya petunjuk kepada para Rasul
Nya yang mulia, agar dengan cahaya itu manusia dapat memilih jalan yang
menbahagiakan dan maslahat bagi kehidupannya di dunia dan di alam semesta.

Allah tidak menciptakan sesuatu kecuali menjadikan baginya berbagai


macam sarana yang multi fungsi, dimana di satu sisi dapat digunakan untuk
kebaikan dan di sisi lain di gunakan untuk kejahatan. Untuk itu, Allah menyeru
manusia agar dia menggunakan sarana itu untuk kepentingan dan kebahagiaan
dirinya serta menjauhkannya dari segala sesuatu yang dapat menghancurkannya
dan membinasakannya dengan meminta pertolongan kepada petunjuk yang telah
diturunkan Allah kepada para rasul dan nabi Nya.

Pada zaman sekarang, pengetahuan dan penemuan manusia telah


menyebar luas di segala bidang, khususnya dalam bidang ilmu ± ilmu kealaman,
dan tidak dapat dipungkiri bahwa penemuan rahasia alam dan hukum ± hukumnya
ini sangatlah penting, karena dengan penemuan ± penemuan itu, akan semakin
terbentang luas di hadapan manusia berbagai macam alternatif dan pilihan ±
pilihan yang sesuai dengan kehendaknya. Akan tetapi kebahagiaan manusia tidak
dapat diukur hanya dengan kualitas pengetahuan dan banyaknya ilmu yang
diperoleh saja, melainkan untuk apa ilmu pengetahuan itu digunakan dan
membuahkan apa ilmu pengetahuan itu bagi kehidupan manusia.

c
alah satu bidang ilmu yang sangat berbahaya bagi perkembangan ilmu
pengetahuan dan eksperimentasi manusia adalah bidang ilmu pengetahuan yang
berkaitan dengan jiwa dan raga manusia, karena manusia telah dijadikan allah
sebagai pemeran peradaban di muka bumi. ehingga apabila baik urusan manusia
di muka bumi, maka peradaban mereka pun akan berdiri kokoh diatasnya. Namun,
jika urusan manusia rusak, maka rusak pulalah peradabannya.

Maka dari itu, salah satu masalah penting yang perlu mendapat perhatian
dalam pembahasan ilmiah secara mendasar, yang hingga saat ini masih tetap
hangat diperbincangkan dan dikembangkan, adalah bidah kedokteran. emoga
melalui pembahasan di bidang ini, akan dapat mengantarkan kita kepada dasar ±
dasar pengetahuan yang benar tentang manusia, sehinnga hasilnya dapat
memberikan sumbangan ilmiah bagi perbaikan kehidupan manusia di masa
mendatang.

Karena islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah untuk meluruskan
kehidupan manusia, baik dari gerak ± gerik maupun kegiatan ± kegiatannya, maka
Islam berperan pula dalam mengatur segala sesuatu yang ditemukan oleh
manusia, baik yang berkaitan dengan hukum ± hukum, cara ± cara mengambil
manfaat darinya, maupun cara ± cara berinteraksi dengannya. Maka tidak
diragukan lagi, para ulama hukum ( ahli fikih ) juga bertanggung jawab untuk
mengambil hukum ± hukum dan membahas masalah ± masalah tersebut dengan
tujuan dan dasar ± dasar syariat Allah secara umum, serta dengan metodologi para
salafush-shalih yang mereka gunakan dalam mengambil hukum ketika bertemu
dengan suatu permasalahan yang baru.

‘   

Masalah utama yang dibahas didalam buku ini adalah mengenai berbagai
macam masalah kedokteran yang semuanya dikemas dalam tinjauan fikih Islam.
Dimulai dari kapankah hidup seorang manusia dimulai? Dan kapan seseorang
dinyatakan meinggal? iapakah yang mengendalikan anggota badan kita, otakkah
atau roh? Kenapa mesti ada gerakan refleks, padahal otak tidak memerintahkan?

ë
Pertanyaan ± pernyataan ini menurut syariat, sangat besar pengaruhnya dalam
kaitannya dengan dunoa kedokteran.

Problematika kedokteran kian kompleks. Apalagi jika dihadapkan dengan


hukum Islam. Harus dipertimbangkan matang ± matang sebelum memutuskan
boleh tidaknya melakukan suatu tindakan medis. Karena dalam diri manusia, yang
berhak bukan hanya manusia yang bersangkutan, namun ada hak Allah disana.
Bagaimanapun juga Allah-lah yang telah menciptakan manusia.

‘ 

Buku ini terdiri dari kumpulan artikel yang membahas tentang masalah ±
masalah yang dimaksud, guna meletakkan dasar ± dasar hukum syariat dan akhlak
bagi pengembangan ilmu kedokteran. Buku ini, dapat dikatakan cukup obyektif
dan tidak ada nuansa fanatisme madzhab ataupun radikalisme pendapat disana.
emuanya dibahas secara detail, sistematis dan moderat, disertai dengan dalil ±
dalil shahih dari Al ± quran dan sunnah Rasulullah.

‘  

Manfaat dari makalah ini dibuat oleh penulis dengan tujuan untuk
menambah pengetahuan untuk penulis khususnya dan untuk pembaca umunya.
Buku ini merupakan kumpulan artikel ± artikel dari pendapat para ulama dan para
dokter yang membahas tentang berbagai masalah kedokteran dan semuanya
dikemas didalam tinjauan fikih islam sehingga memberikan pengetahuan bagi
pembaca dan penulis dalam menelaah berbagai kesehatan yang dilihat dari segi
kedokteran dan islam.

u
Ê Ê

 ! " #  ! "$ 


 % &

Kerangka teori terdiri dari unsur ± unsur ekstrinsik dan intrinsik. Unsur
ekstrinsik merupakan segala sesuatu yang menginspirasi penulisan karya sastra
dan mempengaruhi karya sastra secara keseluruhan. edangkan unsur Inrinsik
adalah segala sesuatu yang terkandung di dalam karya sastra dan mempengaruhi
karya sastra tersebut.

Buku ini berjudul Fikih Kedokteran yang dikarang oleh Prof. Dr. M.
Nu¶aim Yasin yang merupakan seorang ahli fikih berasal dari Universitas
Yordania Fakultas yariah ± Jurusan Fikih. Buku ini merupakan buku terjemahan
yang diterbitkan di Darus ± alam, Cairo. Yang kemudian diterjemahkan oleh
Munirul Abidin.M.Ag. Tema dari buku ini adalah masalah kedokteran yang
dikemas dalam tinjauan fikih Islam. Gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini
adalah percampuran antara bahasa dengan ditambahkan bahasa arab.

Latar belakang dari alasan penulis membuat buku ini karena penulis
berpendapat bahwa ada perbedaan antara pengobatan dan kedokteran. Dalam
kitab pengobatan ala Nabi, Imam Ibnul Qayyim banyak sekali menyebutkan
berbagai macam penyakit berikut cara ± cara pengobatannya. elain itu, memang
pada masa Imam Ibnul Qayyim, tidak sekompleks zaman sekarang ini. Pada masa
itu, mungkin orang harus menahan rasa sakit ketika akan di operasi. Adapun kini,
rasa sakit itu sama sekali sudah tidah terasa lagi karena pengaruh obat bius.

  % &'

Buku Fikih Kedokteran ini merupakan kumpulan dari beberapa artikel


yang membahas tentang masalah-masalah dari awal kehidupan manusia hingga
selaput dara wanita. Hal ini berguna untuk meletakkan dasar-dasar hukum syariat
Islam dan akhlak bagi pengembangan ilmu kedokteran.

º
  '   berjudul, Êatasan Awal dan Akhir Kehidupan Manusia
Dalam Perspektif Nash-Nash Syariat dan Ijtihad Para Ulama Muslim.
Titik tolak pada pembahasan ini terdapat dalam dua macam, yaitu;
1.‘ Nash-Nash syariah dari Kitabullah dan unnah Rasul Nya serta Ijtihad
para ulama dalam masalah ini
2.‘ Beberapa pertimbangan ilmiah dalam ilmu kedokteran.
A.‘ Awal Kehidupan Manusia

Dalil-dalil syariat dan ijtihad-ijtihad yang muncul mengenai kehidupan


manusia bermula setelah janin berusia empat bulan di dalam kandungan ibunya,
adapun kehidupan sebelum itu tidak disebut sebagai kehidupan manusia,
walaupun di dalamnya terdapat tanda-tanda kehidupan secara mutlak seperti
perkembangan, pembentukan, gerakan, dan aktivitas-aktivitas kehidupan lainnya
yang ditemukan oleh kedokteran modern melalui alat-alat yang canggih.

alah satu dalil syariat yang membahas tentang masalah ini adalah sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas¶ud1, yang artinya;

³Sesungguhnya kejadian seseorang itu dikumpulkan di dalam perut ibunya


selama empat puluh hari. Setelah genap empat puluh hari kedua terbentuklah
segumpal darah beku. Manakala genap empat puluh hari ketiga berubahlah
menjadi segumpal daging. Kemudian Allah SWT mengutus malaikat untuk
meniupkan roh serta memerintahkan supaya menulis empat perkara, yaitu
deitentukan rezeki, waktu kematian, amalnya dan nasib baiknya atau nasib
buruknya´.

alaupun dalam hadits tersebut tidak dijelaskan secara rinci tentang


tahap-tahap penciptaan manusia, namun faedah yang kita ambil dari hadits
tersebut adalah penetapan waktu yang disebutkan terdapat dua hal, yaitu;
penetapan takdir manusia yang diciptakan dan peniupan roh di dalamnya.
Penetapan waktu dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa sifat-sifat

1
Lihat Fath Al-Êari, yang merupakan syarah dari Shahih Al-Êukhori, Juz XI, 405, Penerbit Al-
Bahiyyah Al-Mishriyyah, 1348 H. Shahih Muslim yang disyarah oleh An-Nawawi, Juz XVI, h.
190, Al-Mathba¶ah Al-Misriyyah di Al-Azhar, cet,1, tahun 1349 H/1930M.

·
kemanusiaan tidak diberikan oleh Allah kepada makhluk yang diciptakan di
dalam perut seorang ibu sebelum memasuki usia tersebut. Hadits tersebut juga
menunjukkan bahwa maksud peniupan roh itu adalah masa-masa transisi dimana
Allah meningkatkan kualitas kehidupan janin tersebut dari masa kehidupan
hewani kepada masa kehidupan yang memiliki sifat-sifat kemanusiaan.

Berdasarkan pemahaman terhadap hadits Ibnu Mas¶ud diatas, maka kita


dapat mengetahui adanya dua macam kehidupan yang berkaitan dengan badan di
dunia ini, yaitu;

Pertama kehidupan mutlak yang merupakan bagian dari sifat kemanusiaan


dan sebagian ilmuan kedokteran manamakannya dengan kehidupan hampa.
Karakteristik dari kehidupan ini adalah; makan, tumbuh, dan bergerak tanpa
kehendak.

Kedua kehidupan manusiawi yang karakteristiknya adalah adanya


keinginan dan pengetahuan.

Pembagian semacam ini dijelaskan secara tegas dalam hadits tersebut


bahwa janin sebelum ditiupkan roh kepadanya juga tumbuh, berkembang dan
membentuk air mani kepada segumpal darah dan kepada segumpal daging dan
inilah tanda-tanda kehidupan pada macam pertama. elanjutnya, setelah peniupan
roh, maka janin tersebut akan menjadi manusia yang memiliki ciri-ciri
kemanusiaan.

Perkembangan ilmu pada zaman sekarang juga memperkuat adanya


pembagian ini dan menegaskan bahwa jasad manusia merupakan tempat bagi
adanya dua macam kehidupan di dunia. Bukti otentik dalam hal ini adalah adanya
penemuan para dokter dimana mereka dapat memisahkan anggota badan manusia
namun tetap terjaga dalam keadaan hidup di luar jasad manusia dan di luar kontrol
akal manusia serta diluar kekuasaan rohnya.

B.‘ Akhir Kehidupan Manusia

Ë
Tidak ada Nash yang bisa dijadikan acuan untuk pembahasan tenang
berakhirnya hidup manusia ini, maka acuan dalam hal ini adalah dasar-dasar yang
diperoleh dari pembahasan sebelumnya, yaitu awal mula hidup manusia.

Dasar Pertama,bahwa akhir hidup manusia adalah kebalikan dari


awalnya. Jika hidup manusia bermula setelah adanya keterkaitan antara makhluk
yang dinamakan oleh Allah dan Rosul Nya dengan roh dan badan, berdasarkan
atas perintah dan takdir Allah, maka akhir hidup manusiapun terjadi dengan
berpisahnya roh dengan jasadnya.

Dasar Kedua, bahwa roh adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah,
yang memungkinkan bagi manusia untuk membahas ciri-ciri, sigat-sifat, aktivitas,
pengaruhnya terhadap jasad, perannya di dalam jasad, waktu bertemunya dengan
jasad dan juga waktu berpisahnya.

Dari dasar pertama menghasilkan sebuah silogisme, awal mulanya adalah


kaidah sebab-akibat yang dijadikan Allah agar berlaku di alam wujud ini, segala
kegiatan bersumber dari keberadaannya, sehingga segala sesuatu dijadikan oleh
Allah terjadi karena adanya sebab dan tidak akan terjadi kecuali adanya sebab
tersebut. Karena Allah telah menjadikan sebab adanya permulaan hidup karena
pertemuan antara roh dan jasad, maka berakhirnya hidup adalah karena adanya
perpisahan antara keduanya.

Berikut adalah tabel kesimpulan tentang gambaran antara roh dan jasad:

No Ulama yariat Ahli Kedokteran Hasil


Rohlah yang mengetahui Aktivitas berfikir dilakukan Mengetahui berbagai
1 berbagai macam oleh otak manusia macam pengetahuan
pengetahuan melalui perantara
Rohlah yang mengatur Otaklah yang menguasai Rohlah yang mengatur
2 segala gerakan jasad aktivitas berkehendak dari anggota badan melalui
yang berkehendak seluruh anggota badan perantara otak
3 Tanda adanya hubungan Tanda-tanda sehatnya otak Tanda adanya

â
antar roh dan jasad adalah adanya rasa dan keterkaitan antar roh
adalah adanya rasa dan aktivitas berkehendak dan jasad adalah
gerakan berkehendak sehatnya otak
Tanda adanya perpisahan Tanda kematian otak adalah Tanda berpisahnya roh
antar roh dan jasad tidak adanya rasa dan dengan jasad adalah
4 adalah hilangnya rasa aktivitas berkehendak sama matinya otak sama
dan gerakan berkehendak sekali sekali
sama sekali
Gerakan refleksi tidak Gerakan refleks tidak Gerak refleks tidak
menunjukkan adanya menunjukkan sehatnya otak, menunjukkan hidup
5
hubungan antara roh dan baik sebagian ataupun atau matinya manusia
jasad seluruhnya
Roh dan jasad tidak Memungkinkan untuk Kehidupan hampa
bertemu kecualisetelah memisahkan sebagian badan jasad tidaklah sama
janin berusia empat bulan dari jasad dengan tetap dengan kehidupan roh,
menjaga kehidupan hampa dan memungkinkan
6
yang ada pada anggota itu untuk menyambung
ataupun memisahkan
antara anggota badan
satu dengan yang lain
  # berjudul, makikat Janin dan mukum Memanfaatkannya
untuk Pencangkokan dan Eksperimentasi Ilmiah.

A.‘ Hakikat Janin

Janin manusia adalah makhluk yang tercipta di dalam rahim seorang


wanita dari hasil pertemuan antara sel telur dengan sel sperma yang berasal dari
air mani seorang laki ± laki.1 Para ahli fikih menggunakan istilah janin, hanya saja

c
Al ± Kindi, Al ± Mishbah Al ± Munir, Juz II, hal 171, dan Tafsir Al ± Qurthubi, juz XVII, hal,
110.

o
sebagian dari mereka membatasinya pada kehamilan yang dikandung oleh
manusia, sedangkan makhluk ± makhluk lainnya tidak disebut demikian.1

edangkan para dokter, menggunakannya untuk menyebut anak yang ada


didalam perut ibunya ketika telah muncul tanda ± tanda bahwa anak itu telah
terbentuk manusia dengan anggota badannya yang lengkap, yang terjadi setelah
anak itu berumur tiga bulan didalam perut hingga datang massa kelahiran.2

Janin telah diciptakan oleh Allah pada masa kehamilan mengalami dua
masa perkembangan :   ( perkembangan materi yang bisa dilihat dan
disaksikan oleh para ahli. Obyeknya adalah unsur ± unsur materi yang telah
membentuk janin tersebut, serta perubahan yang telah terjadi setelah itu, seperti
pertumbuhan, perkembangan, pembentukan, dan sebagainya. # (
perkembangan yang tidak bersifat materi, tidak dapat diindera, disaksikan ataupun
dieksperimentasikan. Obyeknya adalah makhluk rohani.

Jika manusia adalah salah satu dari seluruh alam wujud yang senantiasa
mencari akhlak terpuji dan perbuatan yang mendapat ridha, maka kita tidak boleh
melihatnya dari karateristik dan perilaku yang juga dimiliki oleh makhluk ±
makhluk lainnya, karena itu adalah wewenang dari ilmu alam. Adapun karateristik
yang khusus dimiliki oleh manusia adalah masalah kehendak yang kepadaNya lah
kekuatan berfikir dan membedakan itu bergantung.3

Jika hakikat manusia terjadi karena menempelnya roh pada badannya,


maka perkembangan yang menjadikan janin berpindah ± pindah, dari suatu
hakikat ke hakikat lain, lalu menjadikannya manusia yang sebelumnya belum
terjadi. Dengan demikian, bahwa yang menyebabkan perubahan hakikat itu adalah
karena adanya peniupan roh.

Adapun bagi orang ± orang yang tidak percaya adanya roh, karena bagi
mereka janin yang sudah dianggap manusia ketika terjadi pertemuan antara sel
c
Al ± Kasani, Êadai¶u Ash ± shanai, juz VII, hal 325, Al ± Maushu¶ah Al ± Fiqhiyyah, juz XVI
hal 117
ë
Muhyiddin Thabu, Tathawwur Al ± janin wa Shihhah Al maml, hal 12.
u
Tahdzib Al ± akhlak, hal 10


sperma dan sel telur. Jasad janin mampu berkembang sedikit demi sedikit, hingga
akhirnya sempurnalah penciptaanya hingga lahir. Beberapa pendapat ulama
mengenai peniupan roh pada janin :

1.‘ Dalam menafsirkan sabda Rasulullah, ü Ditiupkan roh kepadanya,´ Al ±


Qurthubi mengatakan bahwa peniupan roh itu merupakan sebab
penciptaan kehidupan manusia pada janin. Dan ini terjadi karena
diciptakan oleh Allah swt.1
2.‘ Ibnu Qudamah Al ± Hambali dalam pembahasannya tentang hukum
kandungan yang keguguran mengatakan, ³ Adapun sebelum peniupan roh,
maka janin itu tidak memiliki jiwa, sehingga dia tidak perlu dishalati
seperti benda mati dan darah.2

   %  berjudul, mukum Donor Anggota Êadan dalam Perspektif


Kaidah Syariat dan Ilmu Kedokteran.

A.‘ Pendonoran Anggota Badan Menurut Teks Fikih Klasik

ecara umum didalam pembahasan teks ± teks fikih klasik, memberikan


ruang yang sangat sempit untuk memperbolehkan perlakuan itu pada jasad
manusia, baik pada saat masih hidup maupun sudah mati. Hukum dasar dari yang
mereka pegang dalam memanfaatkan anggota badan ini adalah haram, baik
dengan cara jual beli maupun cara ± cara lainnya.teks ± teks ini serupa dengan
yang tertulis didalam buku ± buku fikih menunjukkan bahwa pada dasarnya
memanfaatkan anggota badan manusia hukumnya haram, baik karena
kehormatannya ,aupun karena tidak mungkin memanfaatkannya pada jalan yang
disyariatkannya.

Namun demikian, para fuqaha memberikan pengecualian dari dasar


hukum ini. Adapun pengeculiannya adalah diperbolehkannya menjual susu wanita
yang telah diperah. Mereka beralasan bahwa susu wanita itu suci dan sangat
bermanfaat, sehingga Allah memperbolehkan untuk meminumnya, walaupun

c
Tafsir Al ± Qurthubi, juz XII, hal. 6
ë
Al ± Mughni, juz II, hal. 398

c
tidak dalam keadaan terpaksa, sehingga menjadi harta yang bisa diperjual ±
belikan.1

Hanafiyah dan sekelompok orang dari mazhab Hambali mengharamkan


penjualan susu wanita yang telah diperah, alasan penting yang mereka gunakan
bahwa susu manusia adalah bagian dari anggota tubuh manusia dan manusia
adalah makhluk terhormat, maka tidak boleh sesuatu dari anggota tubuhnya untuk
dihina dan direndahkan.2

Tidak ditemukan ulama lain yang membahas masalah tentang


memanfaatkan tulang manusia mati kecuali ulama yafiiyah, selain yang
disebutkan oleh sebagian ulama Hanafiyah tentang makruhnya mengambil gigi
mayit untuk mengganti gigi manusia yang masih hidup.3

B.‘ Macam ± Macam Hak yang Berkaitan dengan Jasad Manusia

Jasad hidup berkaitan dengan dua macam hak yaitu hak Allah dan hak
manusia. Pendapat ini ditegaskan secara langsung oleh para ulama. Diantaranya
Al ± Izz bin Abdissalam berkata, ³ Begitu juga penganiayaan manusia terhadap
anggota badannya sendiri, dosanya bertingkat ± tingkat sesuai dengan manfaat
anggota badan yang dianiayanya dan sesuai dengan pengaruh keadilan dan
kepekaannya terhadap manusia. Tidak seorangpun boleh merusak dirinya sendiri,
karena hak dalam masalah ini, berhubungan antara dirinya dengan Allah.4

Keterkaitan hak manusia dengan jasad dan anggota tubuhnya ini tampak
juga didalam beberapa hukum syariat berikut :

1.‘ Hak untuk menuntut qishah bagi orang yang dianiaya salah satu anggota
tubuhnya dan bagi ahli warisnya jika dia terbunuh karena disengaja.

c
Al ± Furuq wa Tahdzib Al ± Furuq, juz III, hal. 240 ± 241
ë
Ibid, dan Al ± Êada¶i, juz V, hal. 145
u
masyiyah asy ± syirwani, juz II, hal. 125-126.
‘ Qawa¶id Al ± Ahkam, juz I, hal. 130
º

cc
2.‘ Jika seseorang berkata kepada orang lain ³ Bunuhlah aku,´ lalu dia
membunuhnya, maka dia tidak bisa diqishas menurut Abu Hanifah dan
dua sahabatnya.

Begitu juga jumhur fuqaha berpendapat bahwa jika seseorang berkata


kepada orang lain, ´ Potonglah tanganku, lalu dia memotongnya, maka pemotong
tidak bisa dituntut apaun.´1 Dengan demikian, jelaslah bahwa jumhur fuqaha
berpendapat bahwa izin seseorang untuk memotong salah satu anggota badannya,
menggugurkan qishas baginya di dunia.

C.‘ Kemungkinan Memindahkan dan Menggugurkan Hak Allah dan Hak


Manusia

etiap dasar hukum memiliki pengecualian, kadang ada hak manusia


yang tidak bisa dipindahkan dan digugurkan, dan kadang pula ada hak Allah
yang dapat dipindahkan dan digugurkan. Hak manusia yang tidak dapat
dipindahkan dan digugurkan,dasarnya dikembalikan kepada alasan bahwa hak
menurut pandangan Islam adalah pemberian dari Allah kepada manusia. Al
Izz berkata, ³ Tidak ada hak manusia yang gugur atau digugurkan kecuali
karena adanya hak Allah untuk dilaksanakan dan ditaati´2 Allah yang
menetapkan jalan itu, melarang manusia untuk terlalu berlebihan dalam
membela haknya sehingga membahayakan orang lain dan menghilangkan hak
mereka.3

Berdasarkan kaidah ini, diharamkan bagi pemilik hak untuk


mengugurkan atau memindahkannya jika itu menyebabkan gugurnya hak
orang lain atau membahayakannya, baik orang yang dirugikan itu jumlahnya
sedikit ataupun banyak.

c
Êada¶i ush ± shanai¶i, jiz VII, hal. 127
ë
Qawa¶id Al ± Ahkam, juz I, hal. 167
u
Al ± muwafaqat, juz II, hal.348


D.‘ Hukum Pendonoran Anggota Badan ecara Umum.

yarat ± syarat bolehnya mendonorkan anggota badan manusia adalah :

1.‘ Kemampuan para ahli kedokteran dalam memprediksi terhadap hal ± hal
yang akan menimpa pendonor, akibat pemotongan anggota badannya
berdasarkan ukuran ± ukuran ilmiah yang tepat.
2.‘ Kemampuan para ahli kedokteran untuk melakukan prediksi yang tepat
terhadap hal ± hal yang akan menimpa pendonor, dengan melihat keadaan
sakitnya, berdasarkan ukuran ± ukuran ilmiah yang tepat.
3.‘ Kemampuan para ahli kedokteran untuk melakukan prediksi yang tepat
terhadap hal ± hal yang akan menimpa pendonor, setelah dilakukan
pemindahan anggota badannya kepada yang didonor, berdasarkan ukuran
± ukuran ilmiah yang tepat.
4.‘ Perbandingan antara kemashlahatan dan kerusakan yang diakibatkan oleh
praktik pendonoran.
5.‘ Pendonoran anggota badan hanya untuk menyelamatkan orang yang
didonor dari kerusakan.
6.‘ Pendonoran tidak menghilangkan hak Allah atas anggota badan pendonor.
7.‘ Orang yang didonor adalah orang ± orang Islam.
8.‘ Pendonoran itu tidak boleh menyebabkan adanya pelecehan terhadap
kehormatan manusia.
9.‘ ang pendonor haruslah orang yang mengerti tentang pendonoran.
10.‘Pelaksanaan pencangkokan anggota badan yang didasarkan pada
pendonoran harus dibawah pengawasan yayasan resmi, yang diakui secara
keilmuan dan moral.

  ' ( berjudul mukum menggugurkan Kandungan dalam


Perspektif Fikih Islam.

A.‘ Hukum Pengguguran Janin etelah Peniupan Roh

Para fuqaha sepakat atas haramnya pengguguran janin setelah janin


berusia empat bulan di dalam perut ibunya. Karena pada saat itu telah ditiupkan

cu
roh dan tidak boleh dibunuh tanpa sebab yang jelas, sehingga tidak ada pula sebab
± sebab yang syar¶i yang memperbolehkan pengguguran janin pada fase ini.1
begitupun dengan pendapat para ulama lainnya. Tidak ada teks ± teks fikih yang
berbeda pendapat dalam masalah ini, karena hukum dasarnya adalah bahwa
membunuh jiwa yang diharamkan secara syariat tidak boleh hukumnya dengan
alasan apapun. Jadi tidak boleh membunuh jiwa yang suci untuk menyelamatkan
jiwa orang lain, dan tidak halal bagi orang yang tidak mau mati lalu mebunuh
orang lain, walaupun dalam keadaan yang terpaksa.

Namun demikian, para penelitian ilmiah dalam perspektif fikih yang


dibentuk oleh kementrian wakaf di Kuwait membolehkan pengguguran janin
walaupun telah ditiupkan ruh kepadanyajika itu merupakan jalan satu ± satunya
untuk menyelamatkan ibunya dari kematian. Karena menjaga kehidupan ibunya
jika keberadaan janin didalam perutnya membahayakannya lebih diutamakan,
karena kehidupannya lebih dulu ada dan sudah ada secara meyakinkan.2

Dari pendapat para fuqaha dalam masalah ini, dapat menyimpulkan


menjadi dua hukum.

  (tidak diwajibkan qishash bagi asal ( ibu ) bila menyuruh cabang
( janin ) , walaupun disengaja dan direncanakan. Dasar hukumnya adalah karena
asal telah dijadikan oleh Allah sebagai sebab untuk mewujudkan cabang, maka
tidak layak jika cabang menjadi sebab kematian asalnya.3

# ( sebagian besar fuqaha sepakat bahwa pembunuh janin tidak


diqishash walaupun disengaja, walaupun janinnya lahir dalam keadaan mati, dan
walaupun pekerjaan itu haram hukumnya.4

c
masyiyah Ibnu Abidin, juz I, hal. 602, juz VI, hal. 591
ë
Al ± Mausu¶ah Al ± Fiqhiyyah, juz II, hal. 57
u
Ibnu Qudamah, Al ± Mughni, juz IX, hal. 359
º
Ibid, hal. 22, At ± Tasyri¶ Al ± Islami, juz II , hal. 14


Dari kedua hum ini dapat disimpulkan bahwa kehormatan ibu lebih tinggi
daripada kehormatan janin jika keduanya bertemu. Maka tidak ada jalan lain
kecuali mengorbankan salah satu jiwa untuk menyelamatkan jiwa yang lain.

B.‘ Hukum Pengguguran Janin ebelum Peniupan Roh

 #) *  

Para fuqaha dari madzhab hanafi memperbolehkan pengguguran janin


sebelum peniupan roh jika mendapat izin dari pemilik janin, yaitu kedua orang
tuannya, baik disengaja ataupun tidak.

 #) * 

Para ulama dari madzhab maliki mengharamkan pengguguran kandungan


dari satu fase perkembangan ke fase berikutnya, keharamannya itu bertingkat ±
tingkat sesuai dengan perkembangan umur janin hingga akhirnya pengguguran
kandungan itu dianggap pembunuhan setelah peniupan roh.

 #) *$+ ,

Para ulama dari madzhab syafi¶i memperbolehkan secara mutlak dan


apabila ada halangan. Akan tetapi mungkin tujuan para ulama itu adalah
mensyaratkan bagi orang ± orang yang mengharamkan atau memakruhkan dari
ulama madzhab ini, bahwa memang pengguguran

 #) * * 

Dari perkataan Ibnu Qudamah dalam Al ± Mughni tidak menunjukkan


bahwa dia mengharamkan ataupun memperbolehkannya sebelum peniupan roh,
melainkan secara jelas dia berpendapat bahwa pengguguran kandungan sebelum
peniupan roh tidak dianggap sebagai pembunuhan terhadap jiwa manusia, baik
dari segi larangan di dunia maupun dosanya di akhirat. 1

c
Ibnu Qudamah di dalam kitab Al ± Mausu¶ah Al ± Fiqhiyyah, juz II, hal. 59


 #) ** ) )-. 

Ibnu Hazm berpendapat bahwa dia tidak menganggapnya sebagai


pembunuhan, tetapi dia mengatakan bahwa itu adalah perbuatan yang harus
didenda. edangkan denda tidak diwajibkan pada perbuatan yang menghilangkan
manfaat tanpa ada uzur penghilangannya hukumnya adalah haram.

  ( berjudul èperasi Selaput Dara dalam Perspektif Syariat

A.‘ Manfaat dan Mudharat yang Mungkin Timbul Akibat Operasi elaput
Dara

isi positif dilakukannya operasi selaput dara, diantaranya :

1.‘ Untuk menutupi Aib


2.‘ Melindungi keluarga
3.‘ Pencegahan dari prasangka buruk
4.‘ Mewujudkan keadilan antara pria dan wanita
5.‘ Mendidik masyarakat

isi negatif dilakukannya operasi selaput dara, diantaranya:

1.‘ Penipuan
2.‘ Mendorong perbuatan keji
B.‘ Menimbang isi Positif dan Negatif Dilihat dari sisi Penyebab Hilangnya
Keperawanan

Pertama, sebab yang tidak dianggap maksiat. Misalnya karena jatuh dan
tabrakan. Dalam rangkamenyebarkan prasangka baik, operasi untuk
menghilangkan bekas kecelakaan, karena tindakan itu akan menghapuskan sebab
± sebab samar, yang bisa mendorong masyarakat untuk berprasangka buruk
apabila dibiarkan.


Dari segi fiqih, hampir semua fuqaha sepakat bahwa tiadanya
keperawanan tidak dianggap aib yang mengharuskan batalnya pernikahan jika hal
itu tidak disyaratkan oleh suami secara jelas.1

Dari pembahasan ini sisi positif dari tindakan ini jauh lebih besar darpada
sisi negatifnya. Dapat pula dikatakan bahwa operasi selaput dara hukumnya boleh
untuk menutupi aib gadis yang disebabkan karena kecelakaan atau ketidak
sengajaan.

Kedua, sobeknya selapu dara karena zina. Dalam kondisi ini tidak akan
terwujud manfaat apapun dari pengembalian keperawanan. Operasi keperawanan
untuk wanita jenis ini tidak ada manfaatnya sama sekali, bahkan akan membawa
sisi negatif yang lebih besar, sehingga mengharamkannya jauh lebih dekat pada
tujuan syariat daripada memperbolehkannya.

c
Êadai¶ush ± shanai, juz II, hal. 327


Ê Ê

! $ Ê

ecara umum buku ini membahas tentang lima persoalan pokok dalam
dunia kedokteran modern, yaitu tentang batasan awal dan akhir kehidupan,
transplantasi janin dan penggunaannya untuk eksperimentasi ilmiah, pengguguran
kandungan, donor anggota badan, dan oprasi selaput dara.

Dalam buku ini kajian tentang batasan awal dan akhir kehidupan, sangat
penting karena akan dijadikan pijakan bagi penetapan hukum dalam masalah-
masalah lainnya, seperti masalah transplantasi janin dan penggunaannya untuk
eksperimentasi ilmiah, masalah aborsi, dan masalah donor anggota badan.

Menurut Nu¶aim Yasin, dari hasil kajiannya, bahwa awal dan akhir
kehidupan manusia ditetapkan berdasarkan ada dan tidaknya ruh pada badan.
Menurutnya, kehidupan manusia bermula, ketika ruh sudah ditiupkan ke dalam
jasad, yaitu ketika janin berusia empat bulan (120 hari) setelah pertemuan sel
sperma dan ovum. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits Nabi :

³esungguhnya kejadian seseorang itu dikumpulkan di dalam perut ibunya


selama empat puluh hari. etelah genap empat puluh hari kedua terbentuklah
segumpal darah beku. Manakala genap empat puluh hari ketiga berubahlah
menjadi segumpal daging. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan
roh serta memerintahkan supaya menulis empat perkata, yaitu ditentukan rizkinya,
waktu kematiannya (ajalnya), amalnya dan nasib baik atau nasib buruknya.´ (HR.
BukhariMuslim).

Pandangan ini berbeda dengan pandangan dunia kedokteran pada


umumnya yang menganggap bahwa awal kehidupan bermula sejak adanya
pertemuan antara sperma dan ovum. Menurutnya, sebelum peniupan ruh, janin
belum mengalami kehidupan manusiawi yang berkehendak, tetapi baru
mengalami kehidupan hewani, yaitu makan dan minum. Konsekuensi hukumnya,

co
segala sesuatu yang terjadi pada janin sebelum peniupan ruh, tidak dihukumi
seperti hukum manusia.

edangkan batas akhir kematian menurutnya adalah setelah ruh itu


meninggalkan badan, bukan setelah tidak berfungsinya otak seperti anggapan
secara umum dalam dunia kedokteran. Karena bila batasan kematian itu
didasarkan pada otak, ternyata setelah manusia mati (rohnya hilang), otak masih
bisa disimpan, dicangkokkan dan difungsikan oleh manusia lain, berarti otak
belum mati.

Dari pembahasan tentang batasan awal dan akhir kehidupan itu, Nuaim
Yasin mencoba untuk mengelaborasi masalah-masalah lain, seperti penggunaan
janin untuk eksperimentasi ilmiah, pencangkokan sel janin pada tubuh manusia,
dan masalah menggugurkan kandungan.

Menurutnya, hukum dasar penggunaan janin untuk eksperimentasi ilmiah,


pengambilan selnya untuk pengobatan, dan aborsi, sebelum janin berusia empat
bulan hukumnya haram, akan tetapi, bila itu dilakukan karena ada kemaslahatan
di dalamnya atau untuk menghindari bahaya, baik pada janin itu sendiri atau pada
orang lain yang akan diselamatkan, maka hukumnya boleh. Alasan
pembolehannya adalah karena waktu itu janin belum ditiupkan ruh padanya dan
melum mengalami kehidupan manusiawi, sementara manusia yang ingin
diselamatkan dengan pengorbanan janin yang belum berusia empat bulan itu,
lebih tinggi derajatnya daripada janin. Adapun setelah janin berusia empat bulan
tidak boleh dijadikan sebagai sarana eksperimentasi ilmiah, tidak boleh diambil
selnya untuk pengobatan dan tidak boleh diaborsi, karena janin sudah mengalami
kehidupan manusiawi dan jika janin dibnunuh atau digugurkan, maka nilainya
sama dengan membunuh nyawa manusia.

Mengenai pendonoran anggota tubuh manusia baik dari orang hidup


ataupun orang mati, pada dasarnya diperbolehkan dengan syarat harus
memperhatikan kemaslahatan dan mudharat yang ditimbulkan dari pendonoran
itu. Jika kemaslahatannya lebih besar daripada bahaya yang ditimbulkan, maka


hukumnya boleh, tetapi jika mudharatnya lebih besar, baik bagi pendonor maupun
yang didonor, maka hukumnya haram. Di samping itu, donor boleh dilakukan jika
mendapat persetujuan dari orang yang mendonorkan dan tidak melanggar syariat,
karena pada anggota tubuh manusia itu ada dua hak yang saling terkait, yaitu hak
manusia dan hak Allah. Hak manusia gugur manakala mendapatkan izin dari
pemiliknya dan hak Allah gugur manakala dipergunakan untuk hal-hal yang tidak
bertentangan dengan syariat.

edangkan hukum oprasi selaput dara, juga dilihat dari sisi kemaslahatan
dan mudharat yang ditimbulkannya, serta dilihat dari sebab robeknya selaput dara
tersebut. Bila selaput dara robek karena kecelakaan, diperkosa, atau sebab-sebab
yang tidak disengaja lainnya, maka diperbolehkan bahkan dianjurkan demi
menjaga nama baik dan kelangsungan hidup sang gadis yang malang itu. Tetapi
bila robeknya selaput dara itu karena perbuatan keji, seperti zina, maka hukumnya
dilarang dan haram. Namun jika dia bertobat dan ingin menjaga kesuciannya
setelah bertobat serta tidak akan mengulanginya lagi, maka diperbolehkan
melakukan oprasi selaput dara demi kelangsungan hidupnya di masa mendatang.

Alasan Nu¶aim Yasin memperbolehkan oprasi selaput dara adalah karena


Islam menganjurkan untuk menjaga nama baik. Dalam masyarakat juga ada
perlakuan
yang tidak adil terhadap wanita, khususnya yang hilang keperawanannya, tanpa
melihat sebabnya, mereka menganggap bahwa semua wanita yang tidak perawan
berarti tidak suci dan keji. Untuk menyelamatkan gadis yang malang itu, maka
oprasi selaput dara mungkin bisa sedikit membantunya.

Dari uraian Nu¶aim Yasin dalam buku Fikih Kedokteran ini dapat
disimpulkan beberapa catatan penting bagi pengembangan ilmu dan praktek
kedokteran yang islami di masa mendatang:

Pertama, bahwa Nu¶aim Yasin berhasil membuktikan bahwa syariat Islam


sama sekali tidak menghalang-halangi perkembangan ilmu dan praktek
kedokteran,

ë
bahkan banyak di antara praktek kedokteran yang selama ini dianggap amoral dan
tidak sesuai dengan syariat, seperti pengguguran kandungan dan penggunaan janin
untuk eksperimentasi ilmiah, sebelum janin berusia empat bulan, ternyata
legitimated menurut syariat Islam. Kedua, pengembangan ilmu dan praktek
kedokteran harus senantiasa memperhatikan norma-norma syariat Islam, sehingga
diharapkan nantinya tidak terjebak dalam kegelapan ilmiah yang mungkin
menguntungkan dari sisi material, tetapi bertentangan dengan hukum-hukum
syariat.

ëc
Ê Ê/

 $$

  '  berjudul( Êatasan Awal dan Akhir Kehidupan Manusia


Dalam Perspektif Nash-Nash Syariat dan Ijtihad Para Ulama Muslim.

Kita tidak bisa menempatkan bahwa hasil yang dicapai dalam menetapkan
akhir kehidupan manusia itu bersifat sesuatu yang tidak bisa dibantah lagi,
melainkan hasil itu dasarnya hanyalah prasangka ± prasangka yang paling
memungkinkan, karena premis ± premis yang dijadikan untuk mencapai hasil itu,
walaupun ada sebagian yang bersifat qahti¶i, namun sebagian lainnya adalah
bersifat zhanni, yaitu bahwa tentang penetapan lemahnya otak secara total, seperti
yang ditemukan oleh para ilmuwan modern, kadang masih kemasukan unsur
keraguan.

ementara itu, tidak ada dalil syariat dan bukti ilmiah yang qahti¶i, yang
menyatakan bahwa roh lah yang memimpin anggota badan itu, bukan yang
lainnya. Berhentinya otak menyebabkan berbagai macam penyakit tertentu dan
setiap penyakit yang ada atau akan ada, baik yang telah ditemukan maupun yang
belum ditemukan obatnya. Para dokter saat ini menemukan tentang kematian otak
secara total,

Menurut pendapat salah seorang dokter, bahwa memindahkan otak yang


hidup kepada orang lain tidak diperkenankan secara syariat karena menurutnya,
jika si pemilik itu otaknya hidup, maka orangnya juga masih hidup, apabila
mengambil otaknya maka sama saja dengan membunuhnya. ementara menurut
ilmu kedokteran, seperti yang dinyatakan oleh beberapa dokter, sangat mungkin
untuk menjaga kondisi otak tetap dalam keadaan hidup hingga beberapa saat, dan
dapat dihidupkan kembali setelah itu, yang artinya adalah ada kemungkinan untuk
menjaga roh dalam jasad dengan menggantikan otaknya yang rusak dengan otak
yang baru.

ëë
Berdasarkan pemikiran diatas, sangatlah mungkin bagi kita membuat
hukum ± hukum terapan yang diperlukan berdasarkan hasil yang telah kita capai.
Hanya saja, setiap kali hasil pembahasan seperti ini dijadikan sebagai pijakan
untuk membuat hukum terapan, maka semua persyaratan yang diperlukan untuk
mencegah adanya hambatan dan kesalahan, harus sudah dipersiapkan, seperti
adanya keputusan dari para dokter ahli bahwa orang itu benar ± benar telah mati.
ebelum memindahkan otak haruslah mendapat persetujuan dari pemiliknya
terlebih dahulu pada saat dia masih hidup dan dia tidak membatalkan persetujuan
itu sebelum mati.

atu kenyataan bahwa kebenaran prasangka mayoritas, sangat mendekati


kebenaran atas dasar keyakinan. Misalnya tentang kematian, sebelum salah satu
anggota badan mayit mati, misalnya hati, bisa diaktifkan kembali dan bisa
dimanfaatkan dengan memindahkannya untuk menghidupkan manusia yang akan
mati.

  #  berjudul( makikat Janin dan mukum Memanfaatkannya


untuk Pencangkokan dan Eksperimentasi Ilmiah.

Dasar ± dasar teoritis yang kita jadikan sebagai dasar untuk menetapkan
kerusakan dan nilai kepentingannya adalah pengetahuan yang kita dapatkan
tentang hakikat janin sebelum peniupan roh, bahwa dia bukan manusia dan dia
adalah makhluk yang didalamnya ada kehidupan yang berbeda dengan kehidupan
yang disebabkan oleh bertemunya roh dengan jasad, sehingga menjadi manusia.

Pertemuan antara jasad dan roh manusia ini diciptakan oleh Allah setelah
janin berumur seratus dua puluh hari. Maka dari itu dari sudut pandang teoritis,
maka objek kajian dalam penetapan hukum secara global ini adalah janin yang
hidup dengan kehidupan alami, yang umurnya belum mencapai seratus dua puluh
hari, dan ini akan diketahui secara pasti bahwa janin itu belum mencapai umur
tersebut.

Akan tetapi semua cara yang dikenal pada saat ini untuk menetapkan umur
janin masih perkiraan, baik yang didasarkan pada pengakuan orang yang hamil

ëu
tentang awal kehamilannya dan terjadinya pembuahan, melalui penanggalan,
ataupun yang didasarkan pada perhitungan medis, semuanya itu masih
mengandung unsur ± unsur kesalahan, maka dari itu haruslah berhati ± hati dalam
menetapkan umur janin ini, sebelum berusia seratus dua puluh hari, sehingga kita
bisa memperlakukannya sesuai dengan hukum yang berlaku pada janin yang
belum ditiupkan roh itu.

Masalah - masalah realitis yang harus diketahui yang membahas tentang


hukum memanfaatkan janin untuk pencangkokan anggota tubuh dan
eksperimentasi ilmiah adalah fase ± fase perkembangan yang telah dilalui oleh
janin berdasarkan penelitian para dokter, sehingga kepentingan yang diletakkan
dalam masalah penggguguran janin sesuai dengan fase perkembangan yang telah
dilalui oleh jasad janin tersebut, baik dekat maupun jauhnya dari waktu
kesempurnaan janin sehingga roh bisa berhubungan langsung dengannya. Maka
menjadi dasar atas bolehnya pengguguran janin pada masa perkembangan yang
dekat dengan masa peniupan roh sebelum masuk masa pengharamannya, lebih
tinggi kedudukannya daripada kepentingannya yang memperbolehkan
penggugurannya pada masa ± masa yang jauh dari masa peniupan roh.

Alasannya, bahwa janin sebelum peniupan roh adalah makhluk hidup yang
sedang bersiap ± siap untuk menerima roh manusia, maka segala sesuatunya
dipersiapkan untuk orang lain, sehinnga semakin dekat kepada kesempurnaan,
semakin tinggi pula nialinya. eperti rumah yanh dipersiapkan untuk
penghuninya, dipersiapkan berdasarkan tahap ± tahap tertentu. emakin dekat
masa persiapan itu dengan masa kesempurnaa, maka akan semakin mahal pula
nilainya.

   % berjudul, mukum Donor Anggota Êadan dalam Perspektif


Jaidah Syariat dan Kedokteran.

Para fuqaha klasik menyelesaikan masalah perlakuan terhadap anggota


badan manusia dan sangat berhati ± hati, dimana mereka meletakkan hukum ±
hukum dasar dalam masalah itu adalah dilarang dan mereka mempersempit

ëº
pengecualian yang mungkin bisa memperbolehkannya. Diantara ulama yang
paling keras dalam hal ini adalah madzhab Hanafi, mereka tidak memberikan
pengecualian sama sekali terhadap hukum dasar tersebut, selain yang
diriwayatkan dari Abu Hanifah mengenai pendapatnya tentang bolehnya
membedah perut wanita yang mati untuk mengeluarkan janinnya yang diharapkan
kehidupannya. Adapun ulama yang paling banyak memberikan pengecualian
dalam amsalah ini adalah fuqaha dari madzhab yafi¶i, walaupun mereka tidak
sampai keluar dari kehati ± hatian yang ketat dalam masalah ini.

Makna dari kehati ± hatian mereka, yang selalu dijaga oleh para fuqaha di
dalam ijtihad mereka dalam masalah ini adalah kehormatan yang telah ditetapkan
oleh islam pada manusia. ebagian fuqaha berpendapat, bahwa makna
kehormatan diatas berbeda antara manusia yang hidup dengan manusia yang mati.
Menurut mereka kehormatan orang yang hidup lebih besar daripada kehormatan
mayat.

Akan tetapi dalam masalah ini mereka melupakan makna yang mereka
senantiasa berhati ± hati terhadapnya, ketika mereka membahas tentang maslah
penjualan air susu manusia, sehingga mereka memperbolehkannya dan mereka
tidak melihat bahwa memperjual ± belikan air susu manusia ini bertentangan
dengan kehormatan manusia manapun.

Dari sini dapat dilihat bahwa menurut fuqaha, pemahaman tentang


kehormatan manusia, masuk didalamnya dan bercampur dengannya unsur
kepentingan jasad disamping adanya unsur maknawi lainnya, seperti hak manusia
untuk tidak melukai tubuhnya tanpa sebab. Hal ini diperkuat oleh pendapat
mereka tentang bolehnya memakan badan manusia ketika jelas bahwa itu dapat
menyelamatkan hidup orang yang sedang dalam kesulitan, mereka juga
memperbolehkan mengambil sesuatu dari mayat untuk kepentingan tertentu.

ebagian besar pengecualian yang diberikan oleh para fuqaha atau


sebagian mereka, dari hukum dasar perlakuan terhadap anggota badan manusia
itu, mereka bangun diatas dasar ± dasar kaidah syariat yang disepakati, yaitu

ë·
kaidah tentang keharusan mengambil resiko paling kecil untuk menolak bahaya
yang lebih besar. Adapun jika mereka berselisih pendapat dalam pengecualian
yang mereka ambil dari hukum dasar itu, bukan karena perbedaab mereka dalam
menetapkan unsur ± unsur praktis dalam masalah tersebut dan penerapan kaidah
itu dalam praktik, karena dalam penerapannya harus ada bahaya yang lebih ringan
dan lebih berat, serta tidak memungkinkan untuk menolak dua bahaya itu
sekaligus. Untuk menetapkan besar kecilnya bahaya itu, perlu ditetapkan dengan
ukuran ± ukuran yang didasarkan pada kaidah, sehingga unsur ± unsur yang ada
pada maslah ± masalah itu, menimbulkan perbedaan diantara ulama dan
menetapkan ukurannya.

alaupun hasil kajian para fuqaha itu dapat memberikan arah bagi
keselamtan ilmiah dalam bidang fikih, akan tetapi masih sangat jauh dari
kenyataan yang mungkin dicapai oleh dunia kedokteran berdasarkan hasil yang
meyakinkan atau mendekati keyakinan dalam menetapkan bahaya penyakit yang
diperkirakan dan kepentingan pengobatannya atau menetapkan pengaruh yang
diakibatkan oleh praktek operasi. ebaliknya, kebenaran diagnosa kedokteran
pada masa mereka, telah memberikan pengaruh yang besar terhadap kebenaran
hasil kajian para fuqaha dan sebagian dari mereka mengatakan secara terus terang
bhwa prasangka yang diambil dari diagnosa itu berada pada derajat pertengahan
antara yakin dan ragu.

Adanya kemajuan dalam dunia kedokteran telah menambah kepercayaan


ulama syariat kepada hukum ± hukum kedokteran, sehingga menjadikan mereka
memahami banyak masalah dari pemahaman yang tadinya hanya berderajat
prasngka yang tidak kuat, kepada prasangka yang kuat, bahkan kadang ± kadang
hingga sampai kepada prasangka yang mendekati keyakinan.

Itulah unsur ± unsur yang didapat dalam masalah perlakuan terhadap


anggota badan manusia secara umum, yang realitasnya pembahasan dalam
masalah pencangkokan anggota badan manusia ini tidak bisa merujuk langsung
kepada pembahsan para fuqaha klasik, sehingga mereka harus mengekuarkan

ëË
hukum ± hukum baru, yang terilhami dari kaidah ± kaidah syariat yang dijadikan
pegangan oleh mereka. Lalu melakukan pengukuran baru terhadap karakteristik
pencangkokan anggota badan manusia yang berbeda ± berbeda itu, baik
karakteristik dari aspek kerusakan maupun kepentingannya, yang diambil dari
unsur ± unsur yang baru didapatkan.

 ' berjudul, mukum Absorbsi dalam Perspektif Fikih Islam.

Dari penjelasan sebelumnya pada kerangka konsep, tampaklah dengan


jelas bahwa semua fuqaha itu sangat terpengaruh oleh adanya hadist tentang
peniupan roh dan penjelasan tentang fase ± fase penciptaan yang dilaui oleh janin,
sesuai dengan ketentuan dan kehendak Allah.

Ulama berpendapat, ´esungguhnya janin yang telah ditiupkan roh


padanya harus dishalati bila mati, yaitu bila usianya telah sampai empat bulan
penuh. Adapun jika janin itu gugur sebelum itu maka tidak perlu dishalati, karena
dia bukan mayat, karena belum ditiupkan roh kepadanya.´ ementara Asy ±
yaukani dari Imam yafi¶i berpendapat bahwa, ³Dimandikan bagi janin yang
telah berusia empat bulan, karena pada empat puluh hari keempat ditetapkan
rezeki dan ajalnya dan itu ditetapkan hanya untuk makhluk hidup.´

Perbedaan antara kedua fase perkembangan itu sangat jelas bagi orang ±
orang yang memperbolehkan pengguguran janin sebelum peniupan roh dan
mengharamkannya sesudahnya. Adapun bagi orang ± orang yang mengharamkan
kedua fase itu ( sebelum dan sesudah peniupan roh ), menunjukkan tingkat
keharaman pengguguran kandungan itu menurut mereka, berbeda ± beda sesuai
dengan tingkat umur janin yang telah berumur empat bulan pertama dianggap
sebagai pembunuhan terhadap manusia, sedangkan sebelum itu tidak dianggap
pembunuhan.

Adapun bagi madzhab ± madzhab yang mengharamkannya pengguguran


janin sebelum peniupan roh, mungkin mereka tidak bermaksud
mengharamkannya dalam keadaan yang ada alasannya. Hingga Malikyah yang
sangat keras pengharamannya dalam masalah ini, ada ulama yang berpendapat

ëâ
bahwa perlunya mensyaratkan pengharaman yang dipegang oleh madzhab, agar
diperbolehkan menggugurkan janin, jika kehamilan itu disebabkan karena
perbuatan zina, khususnya jika wanita itu takut pada dirinya sendiri apabila
kehamilannya diketahui orang banyak.

Pada saat ini, dimana ilmu kedokteran sudah maju pesat, seorang dokter
bisa mengetahui berbagai macam bahaya pada janin jika ada didalam perut ibunya
dan berbagai macam bahaya yang akan menimpa ibu yang hamil jika janin
dibiarkan hingga bulan ± bulan terakhir kehamilan. Yaitu alasan ± alasan yang
tidak kalah pentingnya dengan alasan ± alasan yang disebutkan oleh para fuqaha,
sehingga sebaiknya madzhab ± madzhab itu perlu memperhatikannya.

Dari paparan diaatas, tidak ada satupum sumber yang mengharamkan


pengguguran kandungan pada fase sebelum peniupan roh ini, bahkan mereka
sendiri sepakat untuk mengatakan bahwa menggugurkan kandungan sebelum
peniupan roh tidak dianggap membunuh manusia. alaupun hukumnya haram,
tetapi karena merusak sesuatu yang bermanfaat, karena seandainya janin itu masih
hidup dia nantinya akan menjadi manusia . adapun jalan keluar yang akhirnya
ditempuh oleh para ulama, bahwa dosa itu bertingkat ± tingkat derajat dan
bobotnya.

  berjudul, èperasi Selaput Dara dalam Perspektif Syariat

esungguhnya kepentingan yang ingin dicapai dari pelaksanaan operasi


pengembalian selaput dara, seperti yang telah disebutkan dalam permulaan ini,
begitu juga sisi negati yang mungkin timbul jika dokter tidak bersedia melakukan
operasi tersebut. Masalah ini lebih banyak terletak pada adat istiadat dan
kebiasaan sosial yang berkembang dalam masyarakat Islam yang bermacam ±
macam.

eandainya masyarakat mennjalankan batas ± batas syariat dalam masalah


ini, tidak memberikan perhatian yang lebih terhadap sobeknya selaput dara, maka
opersi selaput dara tidak akan menjadi jalan untuk mewujudkan sisi negatif dan
ketidaksediaan dokter untuk melakukan operasi tidak menyebabkan terwujudnya

ëo
sisi negatif yang diperkirakan akan terjadi. Karena pada saat itu tidak ada artinya
menutupi aub, menangkis prasangka buruk, dan mewujudkan keadilan antara
lelaki dan perempuan, yang pada dasarnya syariat tidak membedakan antara
keduanya, dan tidak ada pula makna pendidikan yang ingin dicapai.

Pendapat yang ada dalam kasus ini adalah tujuan yang ingin dicapai dalam
hal ini, tidak cukup kuat untuk memperbolehkan dibukannya aurat wanita didepan
dokter. Para fuqaha sepakat bahwa robeknya selaput dara saja tidak dianggap
sebagai dalil atas perbuatan zina. Kita lihat bahwa mayoritas fuqaha berpendapat
bahwa wanita yang selaput daranya tidak utuh tidak wajib untuk dihukum dera.
Meskipun disaksikan oleh empat orang saksi atau lebih.

Ketidakmampuan kita untuk mengetahui hikmah penciptaan selaput dara


ini tidak berarti bisa merubah hukum syariat, lalu menganggap sobeknya selaput
dara seorang wanita adalah sebagai bukti atan perbuatan keji.

ë
Ê Ê/



0
‘ ' 

Buku ini terdiri dari kumpulan artikel yang membahas tentang masalah
masalah kedokteran, dengan meletakkan dasar ± dasar hukum syariat dan akhlak
pengembangan ilmu kedokteran .

  '   berjudul, Êatasan Awal dan Akhir Kehidupan Manusia


Dalam Perspektif Nash-Nash Syariat dan Ijtihad Para Ulama Muslim.
Titik tolak pada pembahasan ini terdapat dalam dua macam, yaitu;
3.‘ Nash-Nash syariah dari Kitabullah dan unnah Rasul Nya serta Ijtihad
para ulama dalam masalah ini
4.‘ Beberapa pertimbangan ilmiah dalam ilmu kedokteran.

Dalam hal ini ada dua permasalahan pokok:   (batasan waktu awal
kehidupan manusia. # (batasan tentang kapan kehidupan manusia berakhir.

Artikel kedua berjudul, makikat Janin dan mukum Memanfaatkannya


untuk Pencangkokan Anggota Êadan serta Pemanfaatan Janin untuk
Eksperimentasi Ilmiah.

Pembahasan artikel ini difokuskan tentang hakikat janin dalam berbagai


fase perkembangannya supaya diketahui apa saja perlindungan yang perlu
dikerjakan pada tiap ± tiap fase perkembangannya supaya diketahui apa saja
perlindungan yang perlu dikerjakan pada tiap ± tiap fase perkembangan itu.

Artikel ketiga berjudul, mukum Donor Anggota Êadan dalam Perspektif


Jaidah Syariat dan Kedokteran.
ebagian penyakit yang menimpa jasad manusia bisa menyebabkan
rusaknya sebagian anggota badan.
Artikel keempat berjudul, mukum Absorbsi dalam Perspektif Fikih Islam.

u
Para fuqaha memperbolehkan pengguguran kandungan yang merupakan
akibat dari pengetahuan yang baru tentang keadaan janin dalam berbagai macam
fase perkembangannya.
Artikel terakhir berjudul, Mengembalikan Keperawanan dalam Perspektif
Tujuan Syariat.
Pada dasarnya setiap orang berhak memperbaiki bagian dari anggota
tubuhnya yang rusak. Akan tetapi khusus masalah keperawanan ini, kadang ±
kadang menjadi tanda kesucian bagi seorang gadis dan kadang menjadi syarat
utama dalam suatu pernikahan.
0 ‘ $  

Didalam buku ini banyak menggunakan istilah atau bahasa dari bahasa
arab, sehingga orang awam kurang dapat memahami kata ± kata yang dibuat oleh
penulis tersebut. arannya adalah supaya penulis menggunakan kata ± kata yang
umum digunakan atau jika mau menggunakan kata ± kata tersebut sebaiknya
disertakan arti atau maksud dari istilah tersebut.

uc
 1 $  

Abidin,M.Ag,Dr.Munirul.2001.Menuju Fikih Kedokteran yang Ishlahi.Jakarta:


Pustaka Al ± Kautsar.

Ad-duraini,Dr. Fathi.1977.Al ± maq wa Mada Sulthan Ad ± daulah fi


Taqydihi.Berut. Ar ± Rissalah.

Al ± Bar,Dr. Muhammad Ali.1987.Intifa¶u Al ± Insan bi A¶dhai Jismi Insan Akhar


mayyan wa Mayyitan.Beirut:Darul Kutub.

Al±µAlbi,Dr. Muhyidin Thalu.1987.Tathawwur Al-Janin wa Shihhah Al-


maml.Kuwait:izarah Al ± Auqaf.

Al-Hafizh.1979.Mukhtasar Shahih Muslim.Beirut:izarah Al- Auqaf.

Ash-habuni,Muhammad Ali.1981.Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir.Beirut:Darul


Qur¶an Al ± µazhim.

Azhim,Abdul.1988.At ± Targhibwa At ± Tarhib.Kairo:Mushthafa Al ± Halabi.

Najim,Ibnu.1985.Al ± Asybah wa An ± nazhair.Beirut:darul Kutub.

alid.2008.Fikih Kedokteran.Jakarta:Fahima.

Yasin,Prof. Dr. Muhammad Nu¶aim.2009.Fikih Kedokteran.Jakarta:Pustaka Al -


Kautsar.