Anda di halaman 1dari 150

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU

KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI SMKN 2 BINJAI


TAHUN 2016

TESIS

INGAN MERIAHTA BR. GINTING


140101040

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


DIREKTORAT PASCASARJANA
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
MEDAN
2016
FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU
KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI SMKN 2 BINJAI
TAHUN 2016

TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan Masyarakat
(MKM) Di Program Studi
Magister Kesehatan Masyarakat Minat Studi Kajian Kesehatan Reproduksi
Pada Direktorat Pascasarjana Universitas Sari Mutiara Indonesia

OLEH :

INGAN MERIAHTA BR. GINTING


140101040

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


DIREKTORAT PASCASARJANA
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
MEDAN
2016
SURAT PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU


KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI SMKN 2 BINJAI
TAHUN 2016

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah
diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam
naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Oktober 2016

Ingan Meriahta Br. Ginting


140101040
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. Data Pribadi
1. Nama Lengkap : Ingan Meriahta Br. Ginting
2. Tempat, Tanggal Lahir : Padang Brahrang, 28 Maret 1979
3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Kewarganegaraan : Indonesia
5. Agama : Islam
6. Status : Menikah
7. Alamat : Jl. Samanhudi Lk. V
Kelurahan Bakti Karya
Kecamatan Binjai Selatan

II. Pendidikan Formal


1. SD Negeri 050590 : Tahun 1986 – 1992
2. SMP Karya Bakti : Tahun 1992 – 1995
3. SPK Kesdam BB/ Binjai : Tahun 1996 – 1999
4. DIII Politeknik Kesehatan Medan : Tahun 1999 – 2002
5. S1 Pendidik UMN Al Wasliyah : Tahun 2006 - 2008
ABSTRAK

Perilaku kesehatan reproduksi remaja semakin memprihatinkan, modernisasi, globalisasi teknologi dan
informasi turut mempengaruhi perilaku kesehatan reproduksi remaja. Menurut Youth Risk Behavior
Suvey siswa SMA di Amerika 47% melakukan hubungan seksual. Data BKKBN 2012 bahwa aborsi
meningkat setiap tahunnya sekitar 15% dan dari jumlah tersebut sebanyak 800.000 kasus aborsi
dilakukan oleh remaja yang masih berstatus pelajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-
faktor yang hubungan dengan perilaku kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai. Jenis
penelitian ini adalah survei yang bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam
penelitian ini seluruh siswa-siswi SMK Negri 2 kelas XI berjumlah 300 orang dengan sampel
sebanyak 112 orang siswa menggunakan tehnik simple random sampling. Data diperoleh dengan
menggunakan kuesioner, dianalisis dengan uji chi-square pada α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan kesehatan reproduksi (nilai p value 0.000), ada
hubungan antara sikap dengan kesehatan reproduksi (nilai p value 0.000), ada hubungan antara
lingkungan dengan kesehatan reproduksi (nilai p value 0.000), dan ada hubungan antara informasi
dengan kesehatan reproduksi (nilai p value 0.000). Disarankan kepada pihak sekolah bagian unit
kesehatan siswa agar lebih meningkatkan promosi kesehatan reproduksi remaja dengan cara
menempelkan poster-poster yang melihatkan bahaya dari tidak menjaga kesehatan reproduksi dan
tenaga kesehatan di BKKBN untuk lebih memberikan penyuluhan tentang informasi yang baik tentang
pertumbuhan dan perkembangan remaja, mentruasi dan mimpi basah, pemeliharaan organ reproduksi,
seksualitas, kehamilan, dan aborsi pada remaja. Dukungan orang tua untuk dapat mengarahkan remaja
berprilaku yang bertanggung jawab terlebih untuk kesehatan reproduksi.

Kata Kunci : Kesehatan Reproduksi Remaja, Pengetahuan, Sikap, Lingkungan, Informasi


ABSTRACT

Reproductive health behavior in adolescents is becoming great concerned; modernization,


globalization, technology, and information are assumed to influence reproductive health behavior in
adolescents. According to the Youth Risk Behavior Survey, 47% of the Senior High School students in
the United States have committed sexual intercourses, and the data from BKKBN in 2012 revealed
that abortion increased 15% each year and 800,000 cases of abortion were done by adolescents. The
objective of this research was to analyze some factors which were correlated with adolescents
reproductive health behavior at SKMN 2 Binjai. The research wan an analytic survey with cross
sectional design. The population was 300 Grade XI students of SMKN 2, Binjai and 112 of them used
as the sample, using simple random sampling technique. the data were gathered by using were
questionnaires and analyzed by using chi square test at a = 5%. The result of the research showed that
there war the correlation of knowledge (p=0.000), attitude (p=0.000), environment (p=0.000), and
information (p=0.000) with reproductive health. it is recommended that the school management in
students health department increase promotion of reproductive health by providing posters about the
danger of ignoring reproductive health, and health care providers at BKKBN provide counseling
about good information about adolescence growth and development, menstruation, and wet dream,
keep reproductive organ hygienic, sexuality, pregnancy, and abortion in adolescents. It is also
recommended that parents guide their children toward responsibility for reproductive health.

Keywords : Factors, Reproductive Health Behavior, Adolescent


KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan, yang senantiasa

melimpahkan rahmat, karunia dan kasih sayang-Nya sehingga peneliti dapat

menyelesaikan tesis ini dengan judul “Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan

Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016”.

Dalam menyelesaikan tesis ini peneliti banyak mendapatkan bimbingan,

bantuan dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini

peneliti ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada:

1. Parlindungan Purba, SH., MM selaku Ketua Yayasan Sari Mutiara Indonesia

2. Dr.Ivan Elisabeth Purba, M.Kes selaku Rektor Universitas Sari Mutiara

Indonesia..

3. Prof. Dr. dr. Myrnawati, MS, PKK selaku direktur Program Studi Magister Ilmu

Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

4. Frida Lina Tarigan, SKM, M.Kes sebagai Sekretaris Program Studi Magister

Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

5. Dr. dr. Daniel Ginting, MMR selaku ketua penguji yang telah banyak

memberikan masukan serta pengarahan kepada peneliti.

6. Asima Sirait, S.Pd, M.Kes selaku anggota penguji I yang telah banyak

memberikan masukan serta pengarahan kepada peneliti.


7. Dr.Wisnu Hidayat, M.Kes selaku anggota penguji II yang telah banyak

memberikan masukan serta pengarahan kepada peneliti.

8. Evarina Sembiring, M.Kes selaku anggota penguji III yang telah banyak

memberikan masukan serta pengarahan kepada peneliti.

9. Kepada suami dan anak tercinta serta orang tua yang banyak memberikan

semangat dan dukungan yang tak ternilai.

10. Teman – teman seperjuangan di Program Studi Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan

Masyarakat unutk menyelesaikan tesis ini.

11. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu yang telah

membantu dalam proses penyelesaian tesis ini.

Akhir kata peneliti menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada

Bapak/Ibu serta teman-teman sekalian dan semoga tesis ini dapat bermafaat bagi

semua pihak dalam ilmu pengetahuan dibidang kesehatan.

Medan, Oktober 2016

Peneliti

Ingan Meriahta br. Ginting


140101040
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN PENGESAHAN
SURAT PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
ABSTRAK................................................................................................................ i
ABSTRACT............................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR.............................................................................................. iv
DAFTAR ISI............................................................................................................. vi
DAFTAR TABEL..................................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................ x

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah....................................................................... 6
1.3 Tujuan Penelitian........................................................................... 6
1.3.1 Tujuan Umum....................................................................... 6
1.3.2 Tujuan Khusus...................................................................... 6
1.4 Manfaat Penelitian......................................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Kesehatan Reproduksi Remaja...................................................... 9
2.1.1 Defenisi ............................................................................... 9
2.1.2 Tujuan dan Sasaran Kesehatan Reproduksi......................... 12
2.1.3 Kebijakan Program Depkes dalam Kesehatan Reproduksi.. 13
2.1.4 Keadaan yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi......... 13
2.1.5 Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Kesehatan Rep
roduksi.................................................................................. 23
2.2 Konsep Perilaku............................................................................. 35
2.2.1Definisi Perilaku.................................................................... 35
2.2.2 Domain Perilaku................................................................... 35
2.2.3 Jenis Perilaku........................................................................ 40
2.2.4 Determinan Perilaku............................................................. 43
2.3 Penelitian Terkait Kesehatan Reproduksi...................................... 47
2.4 Kerangka Teori.............................................................................. 48
2.5 Kerangka Konsep........................................................................... 49

BAB III METODE PENELITIAN


3.1 Jenis Penelitian.............................................................................. 50
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian......................................................... 50
3.3 Populasi dan Sampel...................................................................... 50
3.3.1 Populasi................................................................................ 50
3.3.2 Sampel.................................................................................. 50
3.4 Metode Pengumpulan Data............................................................ 51
3.4.1 Jenis Data............................................................................. 51
3.4.2 Validitas dn Reliabilitas....................................................... 52
3.5 Defenisi Operasional...................................................................... 56
3.6 Aspek Pengukuran......................................................................... 56
3.7 Pengolahan Data............................................................................ 61
3.8 Analisa Data................................................................................... 61

BAB IV HASIL PENELITIAN


4.1 Deskripsi Lokasi Peneltian............................................................ 63
4.2 Analisa Univariat........................................................................... 64
4.2.1 Distribusi frekuensi Faktor Pengetahuan Remaja Tentang
Perilaku Kesehatan Reproduksi............................................ 64
4.2.2 Distribusi frekuensi Faktor Sikap Remaja Tentang Perila...
ku Kesehatan Reproduksi..................................................... 64
4.2.3 Distribusi frekuensi Faktor Lingkungan Remaja Tentang P
erilaku Kesehatan Reproduksi.............................................. 65
4.2.4 Distribusi frekuensi Faktor Akses Informasi Remaja Tenta
ng Perilaku Kesehatan Reproduksi....................................... 66
4.2.5 Distribusi frekuensi Perilaku Kesehatan Reproduksi Rema
ja........................................................................................... 66
4.3 Analisa Bivariat............................................................................. 67
4.3.1 Analisis Bivariat Faktor Pengetahuan Dengan Perilaku Ke.
sehatan Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai................... 67
4.3.2 Analisis Bivariat Faktor Sikap Dengan Perilaku Kesehatan
Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai................................ 68
4.3.3 Analisis Bivariat Faktor Lingkungan Dengan Perilaku Kes
ehatan Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai.................... 69
4.3.4 Analisis Bivariat Faktor Akses Informasi Dengan Perilaku
Kesehatan Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai.............. 71
4.4 Analisa Multivariat........................................................................ 72

BAB V PEMBAHASAN
5.1 Hubungan Faktor Pengetahuan Dengan Perilaku Kesehatan Rep
roduksi Remaja di SMKN 2 Binjai................................................ 74
5.2 Hubungan Faktor Sikap Dengan Perilaku Kesehatan Reproduksi
Remaja SMKN 2 Binjai................................................................. 77
5.3 Hubungan Faktor Lingkungan Dengan Perilaku Kesehatan Repr
oduksi Remaja di SMKN 2 Binjai................................................. 80
5.4 Hubungan Faktor Akses Informasi Dengan Perilaku Kesehatan...
Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai......................................... 83
5.5 Faktor Pengetahuan, Sikap, Lingkungan dan Akses Informasi D.
engan Kesehatan Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun. .
2016............................................................................................... 97

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN


6.1 Kesimpulan.................................................................................. 98
6.2 Saran............................................................................................ 98

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Hasil Uji Validitas Variabel Pengetahuan, Sikap, Lingkungan,


Informasi dan Kesehatan Reproduksi
Remaja……………………………………………………….. 42

Tabel 3.2 Hasil Uji Reliabilitas Variabel Variabel Pengetahuan, Sikap,


Lingkungan, Informasi dan Kesehatan Reproduksi Remaja… 45

Tabel 3.3 Variabel,Cara, ALat, Skala dan Hasil Ukur…………………. 46

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Tentang Kesehatan


Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 64
2016…………………………………………………………...

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Sikap Remaja Tentang Kesehatan


Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016…………. 65

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Lingkungan Remaja Tentang Kesehatan


Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016………….. 65

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Informasi Remaja Tentang Kesehatan


Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016…………. 66

Tabel 4.5 Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Kesehatan


Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016…………. 67

Tabel 4.6 Hubungan Sikap Dengan Perilaku Kesehatan Reproduksi


Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016………………………. 68

Tabel 4.7 Hubungan Lingkungan Dengan Perilaku Kesehatan


Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016…………. 70

Tabel 4.8 Hubungan Informasi Dengan Perilaku Kesehatan Reproduksi


Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016………………………. 71
Analisis Multivariat Pengetahuan, Sikap, Lingkungan dan
Tabel 4.9 Informasi Dengan Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja di
SMKN 2 Binjai Tahun 2016………………………………….. 72

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuesioner Penelitian


Lampiran 2 Master Data Penelitian
Lampiran 3 Hasil Uji Statistik
Lampiran 4 Surat Izin Penelitian
Lampiran 5 Surat Balasan Penelitian
Lampiran 6 Berita Acara Perbaikan
Lampiran 7 Peta Lokasi
Lampiran 8 Dokumentasi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LatarBalakang

Perilaku kesehatan reproduksi remaja semakin memprihatinkan. Modernisasi,

globalisasi teknologi, dan informasi serta berbagai faktor lainnya turut mempengaruhi

pengetahuan, sikap dan perubahan perilaku kehidupan remaja yang kemudian

berpengaruh pada perilaku kehidupan kesehatan reproduksi mereka. Salah satu

bentuk perkembangan yang menonjol pada masa remaja, yaitu terjadi perubahan

perubahan fisik yang mempengaruhi pula perkembangan baik fisik maupun skunder

dari pertumbuhan dan perkembangan remaja, menstruasi dan mimpi basah, remaja

sudah kurang mengerti pemeliharaan organ reproduksinya sehingga kehidupan

seksualnya bisa berpengaruh pada perilaku kesehatan reproduksinya berupa

kehamilan pada remaja dan aborsi yang akan terjadi atau dilakukan remaja

(kusmiran 2014).

Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia-Kesehatan Reproduksi

Remaja (SDKI-KRR) Tahun 2012 tentang pengetahuan remaja laki-laki ditemukan

11,1% tidak tahu tentang perubahan fisik pubertas laki-laki dan 21,2% tidak tahu

tentang perubahan fisik pubertas anak perempuan. Diluar pendidikan formal banyak

remaja mendiskusikan tentang kesehatan reproduksi bersama teman, “tentang haid

pertama pada wanita yaitu 53,6% dan mimpi basah pada laki-laki yaitu 48%. Hasil

survei yang dilakukan YouthRisk Behavior Survey (YRBS) pada siswa SMA di

Amerika yaitu 47% melakukan hubungan seksual. Hampir 10.000 didiagnosa dengan
HIV, dan 273 juta remaja telah melahirkan 1,3% perempuan. Data Survei Demografi

dan Kependudukan Indonesia (SDKI) dan Hasil SKRRI 2012 menyatakan 1,3%

perempuan dan 3,7% laki-laki memiliki pengalaman seksual untuk pertama kali pada

usia <15 tahun. kehamilan terjadi pada kelompok usia 15-19 tahun sebesar 35 dari

1000 kehamilan dan meningkat tahun 2012 menjadi 48 dari 1.000 kehamilan.

(BKKBN 2012)

Angka aborsi di Indonesia cukup tinggi, mencapai 2,4 juta per tahun. Menurut

data BKKBN 2012 bahwa aborsi meningkat setiap tahunnya sekitar 15% dan dari

jumlah tersebut sebanyak 800.000 kasus aborsi dilakukan oleh remaja yang masih

berstatus pelajar. Adanya kemudahan remaja dalam mengakses informasi tentang

seks yang keliru melalui media cetak dan elektronik misalnya majalah, video dan

internet disebabkan munculnya dorongan seksual rasa ingin tahu pada tahapan usia

remaja, pada momen ini sangat memerlukan pengarahan dan bimbingan supaya

bisa dikendalikan dan tidak menimbulkan masalah yang bisa merugikan kehidupan

reproduksinya kelak. permasalahan baru seperti Infeksi Menular Seksual (PMS),

HIV/AIDS, dan kehamilan tidak di inginkan yang akan menyebabkan pernikahan dini

pada remaja. Kehamilan yang terjadi diluar nikah dapat menyebabkan tindakan aborsi

pada remaja. (BKKBN 2012)

Dikutip dari skripsi Landura Prima Data Kota Padang tahun 2012 SMAN 1 di

Kecamatan Lareh Sago Halaban Provinsi Sumatra Barat menyatakan 19% remaja

pernah melakukan hubungan seksual sampai menyebabkan kehamilan, sebanyak 68%

remaja mempunyai pengetahuan rendah tentang kesehatan reproduksi remaja. Data


dari SMAN 1 Kecamatan Lareh Sago Halaban Provinsi Sumatra Barat, selama satu

tahun terakhir terdapat 50% siswa mengaku berpacaran, 90% dari yang berpacaran

tersebut mengaku pernah melakukan pegangan tangan, Dalam kasus tahun 2014

ditemukan adanya foto ciuman, didapat 67,9% remaja perilaku berisiko, 50% remaja

pengetahuan rendah, 39,3% remaja bersikap negatif, 44% memiliki orang tua tidak

berperan, 33,3% memiliki teman yang tidak berperan.

Data Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cemara tahun 2013

menyatakan bahwa 10,5% remaja Kota Padang berperilaku seksual aktif, 16%

mengaku pernah melakukan hubungan seksual.

Pada tahun 2014 dalam tulisan Syafril, 45% siswa SMAN Kota Padang

nonton film porno, 21% remaja mengaku sudah melakukan hubungan seksual bebas.

Pada tahun 2014 jumlah penderita AIDS Kota Padang pada usia 15-19 tahun

ditemukan sebesar 4,55%.

Hasil penelitian Fitriana Ritonga ada hubungan yang bermakna antara sikap

remaja, akses informasi, peran orang tua, peran teman sebaya, tentang puberitas,

kehamilan tidak di inginkan, infeksi menular seksual, dan aborsi dengan perilaku

kesehatan reproduksi remaja di SMA Negri Medan sebesar 3%.

Isu-isu remaja terutama mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi

remaja di Indonesia belum dijadikan prioritas utama untuk diangkat. Hal ini semakin

membuat posisi remaja menjadi lemah dan terus terperosok. Akses informasi, layanan

kesehatan yang ramah remaja masih sangat minim, sehingga banyak remaja yang

memiliki permasalahan kesehatan menjadi semakin sulit untuk menyelesaikan


permasalahan remaja.

Remaja merupakan kelompok yang memiliki resiko yang tinggi terhadap

pergaulan saat ini yang berdampak pada narkoba, kehamilan tidak di inginkan, infeksi

menular seksual, HIV dan AIDS serta masih banyak lagi. Untuk itulah, diperlukan

pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan permasalahan remaja lainnya agar

remaja dapat melindungi dirinya dari berbagai permasalahan remaja yang ada saat ini.

Arus globalisasi yang begitu cepat berkembang membawa pengaruh

komunikasi dan informasi yang begitu cepat dan tanpa hambatan sehingga dapat

mempercepat adanya perubahan perilaku. Adapun salah satu penyebab terjadinya

perilaku seksual remaja antara lain disebabkan karena pengawasan dan perhatian

orang tua dan keluarga yang semakin longgar serta lingkungan sekitar yang

mendorong perilaku seksual remaja. Komunikasi aktif dengan orang tua, pola asuh

dengan pengawasan yang ketat dan orang tua yang masih lengkap, dan agama yang

menganjurkan tentang mengurangi dan menunda remaja melakukan hubungan seks

sebelum menikah, menjadi salah satu faktor penentu terkait dengan perilaku seksual

remaja (Prastana, 2005).

Perilaku kesehatan reproduksi pada remaja dapat di wujudkan dalam upaya

untuk mempertahankan kondisi prima dalam hal kesehatan reproduksi harus

didukung oleh perilaku hidup bersih dan sehat dalam hal memelihara kesehatan

sistim reproduksi dan persiapan reproduksi yang sehat. Menurut Peraturan

Pemerintah No.61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi dalam pasal 12 ayat 1

dan 2 bahwa pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dilaksanakan salah


satunya melalui pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi dengan materi

Pendidikan keterampilan hidup sehat, ketahanan mental melalui keterampilan sosial,

sistem, fungsi, dan proses reproduksi, perilaku seksual yang sehat dan aman, perilaku

seksual beresiko dan akibatnya, keluarga berencana, dan perilaku beresiko lain atau

kondisi kesehatan lain yang berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi.

Dikemukakan Asmara MS dalam acara penyuluhan Pola Hidup Sehat

Berbasis Pendidikan dan Berkompetensi terhadap 100 pelajar SMA se- Kota Binjai

di AULA Satria, Km 19,5 Binjai. Beliau menjelaskan kasus-kasus pergaulan seks

bebas dan kenakalan remaja, serta penyalahgunaan narkoba dan zat yang berbahaya

terjadi di beberapa daerah telah sampai pada tingkat mengkhawatirkan.

Laurenta di SMA Negri 2 Binjai dan Di SMA Bayu Pertiwi Sunggal Binjai

Tahun 2015 hasil penelitian tingkat pengetahuan remaja tentang dampak perilaku

seks terhadap kesehatan reproduksi mayoritas berpengetahuan kurang.

Dari survey pendahuluan yang dilakukan pada 10 siswa- siswi SMKN 2, 6

orang tinggal bersama orang tua, 4 orang tinggal di kontrakan, dari 10 siswa 3 orang

yang mendapat informasi kesehatan reproduksi dari orang tua, 7 orang lainnya

menyatakan dapat dari teman sepermainan (teman dekat, teman sebaya) dan

informasi-informasi dari luar (media atau lain sebagainya). 8 diantaranya sudah

pacaran , 2 orang mengistilahkan teman dekat, dari 10 orang siswa sudah pacaran

berpegangan tangan, dari 10 siswa/siswai 5 orang juga sudah ada pacaran dengan

meraba-raba bagian sensitif, dilakukan juga khusus pada siswa laki-laki yang sudah

merokok terdapat 6 orang yang sudah merokok,10 orang pada siswa wanita 1
diantaranya sudah pernah menghisap rokok. ada 2 siswa yang hamil di luar nikah

pada tahun 2015.

Berdasarkan survey awal di atas terlihat gambaran bahwa kesadaran siswa-

siswi di SMKN 2 Binjai terhadap kesehatan reproduksi remaja masih sangat rendah.

Hal ini dapat di lihat dari data survey awal dimana remaja tidak menjaga sistem

kesehatan reproduksinya dimana terjadi kehamilan yang tidak di inginkan dan

banyaknya siswa pria yang sudah merokok padahal dapat menyebabkan infertilitas

dan terganggunya sistem kesehatan reproduksi.

Hal inilah yang mendasari peneliti untuk mengetahui faktor-faktor yang

berhubungan dengan perilaku kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai 2016

yang diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat memberikan pengetahuan yang

baik terkait dengan reproduksi remaja.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian adalah

faktor–faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku kesehatan reproduksi remaja

di SMKN 2 Binjai 2016 ?

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor–faktor yang berhubungan dengan perilaku kesehatan

reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai tahun 2016.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui hubungan faktor pengetahuan dengan perilaku kesehatan


reproduksi SMK N 2 Binjai tahun 2016.

2. Untuk mengetahui hubungan faktor sikap dengan perilaku kesehatan

reproduksi SMK N 2 Binjai tahun 2016.

3. Untuk mengetahui hubungan faktor lingkungan dengan perilaku kesehatan

reproduksi SMK N 2 Binjai tahun 2016.

4. Untuk mengetahui hubungan faktor akses informasi dengan perilaku

kesehatan reproduksi SMK N 2 Binjai tahun 2016.

5. Untuk mengetahui faktor yang paling dominan terhadap perilaku kesehatan

reproduksi SMK N 2 Binjai tahun 2016

1.4. Manfaat Penelitian

1. Bagi Remaja

Dapat bermanfaat dalam memberi informasi untuk pengembangan pengetahuan

tentang kesehatan reproduksi, sehingga remaja dapat melakukan perilaku yang

tidak menjerumuskan mereka kepada hal-hal yang dapat merugikan mereka

dengan melakukan hal-hal yang merusak kesehatan fisik dan psikologi remaja

tersebut.

2. Bagi Sekolah

a. Sebagai bahan masukan penting untuk membuat program dan materi

kesehatan reproduksi yang lebih efektif terhadap remaja untuk mencegah

terjadinya hubungan seks pranikah.

b. Diharapkan bekerjasama dengan para orang tua siswa untuk pemberian

informasi dalam upaya peningkatan pengetahuan remaja tentang kesehatan


reproduksi yang sehat dalam mencegah dampak negatif terhadap perilaku

kesehatan reproduksi remaja.

3. Bagi Dinas Kesehatan

Sebagai bahan masukan dalam pengembangan program kesehatan peduli remaja,

serta lebih dapat memantau perkembangan program yang ada disekolah tentang

informasi kesehatan reproduksi remaja.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kesehatan Reproduksi Remaja

2.1.1. Definisi

Masa remaja adalah masa yang penting dalam perjalanan kehidupan

manusia. golongan umur ini penting karena menjadi jembatan antara masa kanak-

kanak yang bebas menuju masa dewasa yang menuntut tanggung jawab. Gunarsa

(1978) mengungkapkan bahwa masa remaja merupakan masa peralihan dari masa

anak-anak kemasa dewasa, yang meliputi semua perkembangan yang dialami

sebagai persiapan memasuki masa dewasa (kusmiran 2014).

Terdapat berbagai definisi tentang remaja berdasarkan umur kronologis dan

berbagai kepentingan, antara lain:

a. Remaja didefenisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak kemasa

dewasa. Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan social budaya

setempat.

b. Menurut WHO batasan usia remaja adalah 12 hingga 24 tahun. Sedangkan

dari segi program pelayanan, defenisi remaja yng digunakan oleh Departemen

Kesehatan adalah mereka yang berusia 10 hingga 19 tahun dan belum kawin.

c. Sementara itu, menurut BKKBN (Direktorat remaja dan perlindungan hak

reproduksi) batasan usia remaja adalah 10 hingga 19 tahun.


d. Pada buku pediatric seseorang dianggap memasuki remaja, bila seorang anak

telah mencapai umur 10-18 tahun untuk anak perempuan dan 12-20 tahun

untuk anak laki-laki.

e. Menurut UU no. 4 tahun 1979 mengenai kesejahtraan anak, remaja adalah

individu yang belum mencapai usia 21 tahun dan belum menikah.

f. Menurut undang-undang perburuhan, anak dianggap remaja apabila telah

mencapai umur 16-18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat

untuk tinggal.

g. Menurut Undang-Undang perkawinan No.1 tahun 1974, anak dianggap sudah

remaja apabila cukup matang untuk menikah, yaitu umur 16 tahun untuk anak

perempuan dan 19 tahun untuk anak laki-laki.

h. Menurut Diknas anak dianggap remaja bila sudah berumur 18 tahun, yang

sesuia dengan usia saat lulus sekolah menengah.

Definisi remaja dari tiga sudut pandang, yaitu :

1. Secara kronologis, remaja adalah individu yang berusia antara 11-12 tahun

sampai 20-21 tahun.

2. Secara fisik, remaja ditandai oleh cirri perubahan pada penampilan fisik dan

fungsi fisiologis, terutama yang terkait dengan kelenjar seksual.

3. Secara psikologis, remaja merupakan masa dimana individu mengalami

perubahan–perubahan dalam aspek kognitif, emosi, social, dan moral, diantara

masa anak-anak menuju masa dewasa.


Remaja terbagi menjadi tiga tahap, yaitu masa remaja awal, masa remaja

pertengahan, dan masa remaja akhir. Masa remaja awal dimulai ketika usia 11-13

tahun.ciri khas remaja pada tahap ini, antara lain lebih dekat dengan teman sebaya,

ingin bebas, dan lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berpikir

abstrak. Masa remaja pertengahan dimulai ketika usia 14-16 tahun. Pada tahap ini

remaja mulai mencari identitas diri, mulai timbul keinginan untuk berkencan,

memiliki rasa cinta yang dalam, mengembangkan kemampuan berpikir abstrak, dan

mulai mengkhayal mengenai aktivitas seksual. Masa remaja akhir, usia 17-20 tahun,

pada tahap ini remaja mulai mengungkapkan kebebasan diri, lebih selektif dalam

memilih teman sebaya, memiliki citra jasmani dirinya, dapat menghujudkan rasa

cinta, dan mampu berpikir abstrak.

2.1.2. Pengertian Kesehatan Reproduksi

Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan social secara

utuh, yang tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam semua hal

yang berkaitan dengan sistim reproduksi, serta fungsi dan prosesnya (Depkes 2008).

Tujuan kesehatan reproduksi remaja adalah membantu remaja agar memahami dan

menyadari ilmu tersebut sehingga memiliki sikap dan perilaku sehat dan tentu saja

bertanggung jawab kaitannya dengan masalah kehidupan reproduksi.upaya yang

dilakukan dapat melalui advokasi , promosi, KIE, konseling, dan pelayanan kepada

remaja yang memilili permasalahan khusus serta pemberian dukungan pada kegiatan

remaja yang bersifat positif.


2.1.3. Tujuan dan Sasaran Kesehatan Reproduksi Remaja

Kesehatan reproduksi remaja adalah menghujudkan keluarga berkualitas melalui

peningkatan pengetahuan, kesadaran, sikap, perilaku remaja dan orang tua agar peduli,

bertanggung jawab dalam kehidupan berkeluarga, serta pemberian pelayanan kepada

remaja yang memiliki permasalahan khusus.

Kesehatan reproduksi remaja adalah sebagai berikut :

a. Seluruh lapisan masyarakat mendapat informasi tentang kesehatan reproduksi

remaja. Sasaran tujuan ini adalah peningkatan cakupan penyebaran informasi

kesehatan reproduksi remaja melalui media massa.

b. Seluruh remaja di sekolah mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi

remaja. Sasaran tujuan ini adalah peningkatan cakupan penyebaran informasi

kesehatan reproduksi remaja disekolah umum, SLTP, SMU, SMK, Pesantren, dll.

c. Seluruh remaja dan keluarga yang menjadi anggota kelompok masyarakat

mendapat informasi tentang kesehatan reproduksi remaja. Sasaran tujuan ini ialah

peningkatan cakupan remaja dan orang tua yang memperoleh informasi kesehatan

reproduksi remaja melalui kelompok remaja dan orang tua, seperti karang taruna,

remaja masjid, perusahaan , remaja gereja, pramuka, pengajian, dan arisan.

d. Seluruh remaja diperusahaan tempat kerja mendapatkan informasi tentang

kesehatan reproduksi remaja. Sasaran tujuan ini ialah peningkatan cakupan remaja

yang memperoleh informasi dan layanan kesehatan reproduksi remaja melalui

perusahaan di tempat mereka bekerja.


e. Seluruh remaja yang membutuhkan konseling serta pelayanan khusus dapat

dilayani. Sasaran tujuan ini ialah peningkatan jumlah dan pemanfaatan pusat

konseling dan pelayanan khusus bagi remaja.

f. Seluruh masyarakat mengerti dan mendukung pelaksanaan program kesehatan

reproduksi remaja. Sasaran ialah peningkatan komitmen bagi politis, toga, toma,

serta lembaga swadaya masyarakat dalam pelaksanaan kesehatan reproduksi

remaja.

2.1.4. Kebijakan Program Departemen Kesehatan Dalam Kesehatan Reproduksi

Remaja

Adapun kebijakkan Departemen Kesehatan (2008) dalam kesehatan reproduksi

remaja adalah sebagai berikut

a. Pembinaan kesehatan reproduksi remaja untuk remaja awal, tengah, dan remaja

akhir.

b. Pembinaan kesehatan reproduksi remaja dilaksanakan terpadu lintas program dan

lintas sektoral.

c. Pembinaan kesehatan reproduksi remaja dilaksanakan melalui jaringan pelayanan

kesehatan dasar dan rujukanya.

d. Pembinaan kesehatan reproduksi remaja dapar dilakukan pada 4 daerah tangkapan,

yaitu rumah, sekolah, masyarakat, dan semua pelayanan kesehatan.

e. Peningkatan peran serta orang tua, unsur potensial dikeluarga, serta remaja sendiri.

2.1.5. Keadaan yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi Remaja

1. Pertumbuhan dan perkembangan remaja

Pertumbuhan adalah yang menyangkut segi kuantitatif yang ditandai dengan


peningkatan dalam ukuran fisik dan dapat diukur. Perkembangan adalah perubahan yang

menyangkut aspek kualitatif dan kuntitatif. Rangkaian perubahan dapat bersifat progresif,

teratur, berkesinambungan, serta akumulatif. Perubahan dipengaruhi oleh 2 organ penting

yaitu hipotalamus dan hipofisis ketika organ ini bekerja, ada 3 kelenjar yang dirangsang,

yaitu: kelenjar gondok, kelenjar anak ginjal, dan kelenjar organ reproduksi. Ketiga kelenjar

tersebut bekerja sama dan beriteraksi dengan faktor genetik maupun lingkungan yang

membuat adanya perubahan fisik remaja.

Perubahan fisik pada perempuan seperti tumbuh payudara, panggul mulai melebar

dan membesar dan akan mengalami mentruasi atau haid. Disamping itu akan mulai

tumbuh bulu-bulu halus disekitar ketiak dan vagina. Perubahan fisik pada laki-laki

tumbuhnya bulu-bulu halus disekitar ketiak, kemaluan, wajah, (janggut dan kumis), terjadi

perubahan suara pada remaja laki-laki, tumbuhnya jerawat dan mulai diproduksinya

sperma yang pada waktu-waktu tertentu keluar sebagai mimpi basah. Dengan perubahan

fisik pada remaja maka terjadi pula perkembangan dimana remaja mengalami gejolak dan

tekanan karena perubahan yang terjadi dalam dirinya, keinginan menjadi mandiri akan

timbul dalam diri remaja. Salah satu bentuk kemandirian itu adalah dengan mulai

melepaskan diri dari pengaruh orang tua dan ketergantungan secara emosional pada orang

tua.

Berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki (seperti menjadi egosentris, kebingungan peran

dan lain-lain), maka remaja mulai mencari pengakuan dirinya diluar rumah. Pada usia

remaja, seseorang menghabiskan lebih banyak waktu bersama teman sebayanya dibanding

bersama dengan orang tuanya, sehingga wajar saja jika tingkah laku dan norma/aturan-
aturan yang dipegang banyak dipengaruhi oleh kelompok sebayanya. Masalah umum yang

dialami remaja berkaitan dengan tumbuh kembangnya : masalah yang berkaitan enggan

lingkungan rumahnya seperti relasi dengan anggota keluarga, disiplin, dan bertentangan

dengan orang tua, masalah yang berkaiatan dengan lingkungan sekolah, kondisi fisik

(kesehatan atau latihan), penampilan (berat badan, cirri-ciri daya tarik, bau badan, jerawat,

kesesuaian dengan jenis kelamin, emosi (temperamen yang meledak-ledak,suasana hati

berubah-rubah), penyesuaian sosial (penerimaan oleh teman sebaya), masalah pekerjaan,

nilai-nilai (moral, penyalahgunaan obat-obatan, dan hubungan seksual), masalah yang

berhubungan dengan lawan jenis.

Perubahan dalam perilaku social ditunjukkan dengan: minat dalam hubungan

heteroseksual yang lebih besar, kegiatan-kegiatan social yang melibatkan kedua jenis

kelamin, bertambahnya wawasan sehingga remaja memiliki penilaian yang lebih baik serta

lebih bias mengerti orang lain. Remaja juga mengembangkan kemampuan sosial yang

mendorongnya lebih percaya diri dan aktif dalam aktifitas social, berkurangnya prasangka

dan diskriminasi.mereka cendrung tidak mempersoalkan orang yang tidak cocok latar

belakang budaya dan pribadinya.

2. Menstruasi dan Mimpi Basah

Menstruasi adalah proses peluruhan lapisan dalam/ endometrium yang banyak

mengandung pembulu darah dan melalui vagina. Ketika puberitas, ovarium mulai

berfungsi dan terjadi proses yang disebut siklus mentruasi jarak antara hari pertama

menstruasi bulan ini dengan hari pertama mentrusi bulan berikutnya, siklus mentrusi

berkisar antara 28 sampai 29 hari. Namun demikian, siklus yang berlangsung dari 2 sampai
35 hari masih dianggap normal. Siklus menjadi teratur setelah tahun pertama dan

seterusnya.

Tanda-tanda adanya masalah pada mentruasi

a. Apabila haid itu tidak pernah teratur sejak semula walau telah melewati tahun-

tahun” belajar” menarche (haid yang pertama).

b. Timbul nyeri hebat walaupun baru muncul kemudian yang diperkirakan ada

gangguan dalam organ reproduksi, terutama jika rasa nyeri itu semangkin lama

semangkin bertambah intensitasnya.

c. Satu hal yang perlu diwaspadai adalah jika darah mengalir sangat berlebihan

sehingga membutuhkan pembalut lebih selusin dalam sehari.

d. Panjang hair haid lebih sembilan hari.

e. Muncul noktah darah antara dua siklus haid(spotting)

f. Warna darah kelihatan tidak seperti biasa, menjadi lebih kecoklatan atau merah

darah segar.

Keluarnya cairan selain darah dari liang vagina diluar kebiasaan, baik berbau atau

tidak, serta disertai rasa gatal setempat. Kirannya berwarna putih tidak berbau dan jika

dilakukan pemeriksaan laboratorium tidak menunjukkan adanya kelainan.

Infeksi atau peradangan yang terjadi karena mencuci vagina dengan air kotor,

pemeriksaan dalam yang tidak benar, pemakaian pembilasan vagina yang berlebihan,

pemeriksaan yang tidak higienis, dan adanya benda asing dalam vagina. Selain infeksi,

keputihan dapat terjadi oleh masalah hormonal, celana dalam yang tidak menyerap

keringat, dan penyakit menular seksual.


Mimpi basah secara alamiah sperma akan keluar saat tidur,sering pada saat mimpi

tentang seks. mimpi basah sebetulnya merupakan salah satu cara tubuh laki-laki ejakulasi.

Ejakulasi terjadi karena sperma, yang terus –menerus diproduksi, perlu dikeluarkan, mimpi

basah umumnya terjadi secara periodic, berkisar setiap 2-3 minggu. Mereka yang sudah

dewasa/menikah jarang mengalami mimpi basah karena mereka teratur mengeluarkannya

melalui hubungan seksual dengan pasangan atau istri.

3. Pemeliharaan Organ Reproduksi

Perawatan organ –organ reproduksi sangatlah penting, jika tidak dirawat dengan

benar, maka dapat menyebabkan berbagai macam akibat yang dapat merugikan, misalnya

infeksi. Pemeliharaan organ reproduksi remaja perempuan : tidak memasukkan benda

asing kedalam vagina, menggunakan celana dalam yang menyerap keringat, tidak

menggunakan celana terlalu ketat, pemakaian pembilas vagina secukupnya, tidak

berlebihan.

Pemeriksaan organ reproduksi remaja laki-laki : tidak menggunakan celana yang

ketat yang dapat memengaruhi suhu testis, sehingga dapat memengaruhi suhu sperma,

melakukan sunat, untuk mencegah penumpukan kotoran atau smegma (cairan dalam

kelenjar sekitar alat kelamin dan sisa air seni)sehingga alat kelamin jadi bersih.

4. Seksualitas Remaja

Seks berarti jenis kelamin segala sesuatu yang berhubungan dengan jenis kelamin

disebut dengan seksualitas. Berdasarkan perspektif biologis (fisik), seksualitas berkaitan

dengan anatomi dan fungsional alat reproduksi atau alat kelamin manusia, serta

dampaknya bagi kehidupan fisik atau biologis manusia. Termasuk didalamnya menjaga

kesehatannya dari gangguan seperti penyakit menular seksual, infeksi saluran reproduksi,
bagaimana memfungsikan seksualitas sebagai alat reproduksi sekaligus alat rekreasi secara

optimal, serta dinamika munculnya dorongan seksual.

Seksual berdasarkan dimensi psikologi berhubungan erat dengan bagaimana

manusia menjalani fungsi seksual sesuai dengan identitas jenis kelaminnya, dan bagaimana

dinamika aspek-aspek psikologi (kognisi, emosi, motivasi, perilaku) terhadap seksual itu

sendiri, serta bagaimana dampak psikologis dari berfungsinya seksualitas dalam kehidupan

manusia. Remaja mulai ingin tahu tentang kehidupan sek manusia. Untuk itu, mereka

mencari informasi tentang seks, melalui buku, film, atau gambar-gambar lain yang

dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hal ini dilakukan remaja karena kurang terjalinnya

komunikasi yang bersifat dialogis antara remaja dengan orang dewasa, baik orang tua

maupun guru, mengenai masalah seksual, dimana kebanyakan masyarakat masih

menganggap tabu untuk membicarakan masalah seksual dalam kehidupan sehari -hari.

Perubahan fisik dan fungsi fisiologis pada remaja, menyebabkan daya tarik

terhadap lawan jenis yang merupakan akibat timbulnya dorongan –dorongan seksual.

Misalnya, pada anak laki-laki dorongan yang ada dalam dirinya terealisasi dengan

mendekati aktifitas mendekati teman perempuanya, hingga terjalin hubungan. Dengan

adanya dorongan-dorongan seksual dan rasa ketertarikan terhadap lawan jenis kelaminya,

Perilaku remaja mulai diarahkan untuk menarik perhatian lawan jenis kelaminya. Dalam

rangka mencari pengetahuan mengenai seks, ada remaja yang melakukannya secara

terbuka bahkan mulai mencoba mengadakan eksperimen dalam kehidupan seksual

misalnya dalam berpacaran, mereka mengekspresikan perasaanya dalam bentuk-bentuk

perilaku yang menuntut keintiman secara fisik dengan pasangannya, seperti berciuman,

bercumbu, dan lain-lain, sejalan dengan meningkatnya minat terhadap kehidupan seksual,
remaja selalu mencari informasi objektif seks (Hurlock, 1973).

Oleh karena itu hal yang paling membahayakan adalah bila informasi yang

diterima remaja berasal dari sumber yang kurang tepat sehingga akhirnya remaja

menginterprestasikanya dengan salah. Hal ini merupakan akibat kekurang pahaman remaja

terhadap masalah seputar seksual. Kekurang pahaman ini akan memunculkan perilaku

seksual remaja yang tidak bertanggung jawab, seperti melakukan ekperimen kelokalisasi

pekerja seks komersial, melakukan hubungan seks sebelum nikah dengan pasanganya

(pacar), melakukan oral seks, dan sebagainaya, tanpa pertimbangan kemungkinan masa

depan yang kurang cerah bagi dirinya.

Cara yang biasa dilakukan orang untuk melakukan dorongan seksual antara lain :

a. Manahan diri dengan berbagai cara

b. Menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas

c. Menghabiskan tenaga dengan berolahraga

d. Memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada tuhan yang maha esa

e. Menyalurkannya melalui mimpi erotis (mimpi basah)

f. Berkhayal atau berfantasi tentang seksual

g. Masturbasi atau onani

h. Melakukan aktifitas seksual nonpenetrasi (berpegangan tangan, berpelukan, cium

pipi, cium bibir, cumbuan berat, petting)

i. Melakukan aktifitas seksual petetrasi (intercourse).

Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku seksual remaja antara lain:

a. Perubahan biologis

b. Kurangnya pengaruh orang tua


c. Pengaruh teman sebaya

d. Remaja yang berprestasi rendah

e. Perspektif sosial kognitif

5. Kehamilan Pada Remaja

Kehamilan bisa menjadi dambaan, tetapi juga dapat menjadi suaktu malapetaka

apabila kehamilan itu dialami oleh remaja yang belum menikah. Kehamilan pada masa

remaja mempunyai resiko medis yang cukup tinggi, karena pada masa remaja ini, alat

reproduksi belum matang untuk melakukan fungsinya. Kehamilan tidak diinginkan (KTD)

adalah suatu kehamilan yang terjadi dikarenakan suatu sebab sehingga keberadaanya tidak

diinginkan oleh salah satu atau kedua calon orang tua bayi tersebut. KTD dapat disebabkan

oleh faktor-faktor :

1. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi

2. Faktor dari dalam diri remaja sendiri yang kurang memahami swadarmanya

sebagai pelajar.

3. Faktor dari luar, yaitu pergaulan bebas tanpa kendali orang tua yang menyebabkan

remaja merasa bebas untuk melakukan apa yang diinginkan.

4. Perkembangan teknologi media komunikasi yang semangkin canggih yang

memperbesar kemungkinan remaja mengakses apa saja termasuk hal-hal yang

negatif.

Sebagian besar kehamilan remaja merupakan kehamilan yang tidak diinginkan.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan kehamilan remaja yang tidak diinginkan,

diantaranya adalah sebagai berikut:


1. Usia menstruasi yang semangkin dini disertai usia kawin yang semangkin tinggi

menyebabkan masa-masa rawan yaitu kecendrungan perilaku seksual aktif

semangkin memanjang. Hal ini terbukti dengan banyaknya kasus kehamilan

remaja diluar nikah.

2. Ketidaktahuan atau minimnya pengetahuan tentang perilaku seksual yang dapat

menyebabkan kehamialn.

3. Tidak menggunakan alat kontrasepsi.

4. Kegagalan alat kontrasepsi akibat remaja menggunakan alat kontrasepsi tanpa

disertai pengetahuan yang cukup tentang metode kontrasepsi yang benar.

5. Kehamilan akibat pemerkosaan, diantaranya pemerkosaan oleh teman kencannya

(date rape).

Risiko yang timbul akibat kehamilan yang tidak diinginkan:

1. Resiko medis : aborsi tidak aman berkontribusi pada kematian dan kesakitan ibu,

gangguan kesehatan.

2. Psikologi : rasa bersalah, depresi, marah dan agresi, remaja atau calon ibu merasa

tidak ingin dan tidak siap untuk hamil

3. Psiko-sosial : ketegangan mental dan kebingungan akan peran social yang tiba-tiba

berubah, tekanan dari masyarakat yang mencela dan menolak keadaan tersebut,

dikucilkan dari masyarakat dan hilang kepercayaan diri.

4. Masa depan remaja dan janin : terganggunya kesehatan, resiko kelainan janin, dan

tingkat kematian bayai yang tinggi, pernikahan remaja dan pengguguran

kandungan, putus sekolah, bila bayi dilahirkan, masa depan anak mungkin saja

terlantar, perkembangan bayi yang tertahan, bayi lahir dengan berat rendah.
Kehamilan remaja dapat menyebabkan terganggunya perencanaan masa depan

remaja, remaja yang masih sekolah bila hamil maka akn meninggalkan sekolahnya ini

berarti terhambat bahkan tidak akan tercapai cita-citanya.

6. Aborsi Pada Remaja

Kehamilan yang tidak diinginkan remaja dapat memicu terjadinya pengguguran

kandungan atau aborsi, pada saat remaja mengalami kehamilan di luar nikah, mereka akan

cenderung mengambil jalan keluar seperti menggugurkan kandungan atau aborsi.

Resiko melakukan aborsi pada remaja antara lain:

1. Infeksi alat reproduksi karena kuretase yang dilakukan secara tidak steril

2. Perdarahan sehingga kemungkinan besar mengalami syok akibat perdarahan dan

gangguan neurologi syaraf dikemudian hari.

3. Oleh karean keadaan rahim yang belum kuat untuk menyangga kehamilan serta

kemungkinan kehamilan yang sulit, resiko rupture uterus dan penipisan dinding

rahim akibat kuretase sangat besar.

4. Terjadinya fistula genetalia traumatis

Resiko yang timbul akibat aborsi :

1. Resiko kesehatan dan keselamatan fisik

2. Resiko psikologi

3. Resiko psikososial

4. Resiko masa depan dan janin yang dikandung

Secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan factor yang dapat

berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi yaitu:

1. Faktor sosial ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat


pendidikan yang rendah, dan ketidaktahuan tentang perkembangan seksual

dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil.

2. Faktor budaya dan lingkungan (misalnya, praktek tradisional yang berdampak

buruk pada kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak anak banyak rezeki,

informasi tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak dan remaja

karena saling berlawanan satu dengan yang lainnya, dsb.

3. Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua pada remaja, depresi

karena ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharga wanita pada pria

yang memberi kebebasan secara materi, dsb.

4. Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi pasca

penyakit menular seksual, dsb). (Kusmiran 2011)

2.1.6. Faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku Kesehatan Reproduksi


Remaja

Perilaku kesehatan reproduksi sama dengan halnya masalah dalam perilaku

seksual, didalam penelitian Sekarini (2012) faktor –faktor yang berhubungan dengan

hal tersebut adalah :

1. Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja

Reproduksi berasal dari kata re = kembali dan produksi = membuat atau

menghasilkan, jadi reproduksi mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia

dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidup.

Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental maupun sosial

yang utuh, tidak hanya terbebas dari penyakit dalam segala hal yang berkaitan dengan
fungsi, peran dan sistem reproduksinya (Konferensi Internasional Kependudukan dan

Pembangunan, 1994).

Reproduksi yang sehat berkaitan dengan sikap dan perilaku yang sehat serta

bertanggung jawab yang semua hal tersebut berkaitan dengan alat reproduksi, fungsi,

dan prosesnya serta pencegahan terhadap gangguan-gangguan yang mungkin muncul

yang dapat menghambat fungsi dan proses reproduksi. Maka pemeliharaan kesehatan

reproduksi mutlak di perlukan dalam rangka mengembangkan keturunan yang sehat

dan berkualitas hidup yang lebih baik lagi.

Dengan demikian kesehatan reproduksi menyiratkan bahwa setiap orang

berhak menikmati kehidupan seks yang aman dan menyenangkan, dan

mereka memiliki kemampuan untuk bereproduksi, serta memiliki kebebasan untuk

menetapkan kapan dan seberapa sering mereka ingin bereproduksi.

Berdasarkan sudut pandang tersebut, pendidikan kesehatan reproduksi pada

dasarnya merupakan upaya untuk memberikan pengetahuan tentang fungsi, sistem

dan proses reproduksi yang merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari dan

merupakan bagian dari siklus kehidupan kita yang harus kita pahami, kita rawat, dan

kita jaga, sehingga semua keputusan yang di ambil terkait dengan organ reproduksi

kita, dapat diputuskan secara tanggung jawab dan berbekal pengetahuan kesehatan

reproduksi yang baik.

Pengetahuan remaja terhadap kesehatan reproduksi remaja masih rendah.

Laporan Survei Kesehatan Reproduksi Remaja di Indonesia (SKRRI) pada tahun

2002-2003 menunjukkan bahwa pengetahuan remaja terhadap ciri-ciri pubertas masih


terpaku pada perubahan fisik.

Berdasarkan penelitian Mawarni (2014) menyatakan secara umum remaja

lebih mengetahui tanda pubertas dari perubahan suara, berotot, umbuh rambut di

daerah kelamin (30%) dan pertumbuhan buah dada (49%). Didapatkan pengetahuan

remaja perempuan akan ciri pubertas pada dirinya cukup baik, 70% remaja

perempuan mengatakan ciri pubertas adalah menstruasi. Bagi remaja perempuan

sejak dia mentruasi sampai akhir masa suburnya, setiap bulan akan mengalami

masa subur dimana jika perempuan melakukan hubungan seksual dapat hamil.

Masa subur selama 2-4 hari yang berada di tengah diantara dua siklusnya. Sekitar

50% remaja mengatakan masa subur segera setelah menstruasi (44% perempuan dan

51% laki-laki). Hanya 30% remaja mengetahui dengan benar masa subur yang dialami

oleh seorang perempuan (29% perempuan dan 32% laki-laki).

Hasil Survei Kesehatan Reproduksi Remaja di Indonesia tahun 2012

melaporkan bahwa tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi cukup

memprihatinkan. Sekitar 86% tidak tahu kapan terjadinya masa subur. Di samping

itu, hanya ada satu diantara dua remaja yang mengetahui adanya kemungkinan hamil

apabila melakukan hubungan seksual meskipun hanya sekali. (BKKBN 2012)

Sedangkan yang disebut organ reproduksi adalah tubuh yang berfugsi untuk

reproduksi manusia. Kesehatan reproduksi remaja adalah suaktu kondisi sehat yang

menyangkut sistim, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja.

Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas

kecacatan, tetapi juga sehat secara mental serta social budaya.


2. Sikap Terhadap Perilaku Kesehatan Remaja

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang

terhadap objek atau stimulus, manifestasinya tidak dapat langsung dilihat tapi hanya

minim di tafsirkan terlebih dahulu dari perilaku tertutup. Sikap secara nyata

menunjukkan konotasi adanya kesesuaiannya reaksi terhadap stimulus tertentu dalam

kehidupan seharihari (Notoatmodjo, 2010).

Menurut Newcomb (1978) dalam Notoatmodjo (2010) sikap merupakan suatu

kesediaan untuk bertindak, belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, tetapi

merupakan predisiosisi tingkah laku. Predisposisi ini mencakup komponen kognisi,

afeksi dan konasi. Komponen kognisi berhubungan dengan keyakinan, ide dan

konsep, yang akan menjawab pertanyaan tentang apa yang di pikirkan atau di

persepsikan. Komponen afeksi menyangkut kehidupan emosional, yang menjawab

pertanyaan tentang apa yang dirasakan. Komponen konasi merupakan kecendrungan

bertingkah laku, yang menjawab pertanyaan bagaimana kesediaan/ kesiapan untuk

bertindak..

Sikap merupakan kondisi yang konstan karena merupakan kumpulan dari

pemikiran, keyakinan dan pengetahuan. Proses belajar mengacu pada pembentukan

sikap yang beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya (Mar'at, 2009).

Menurut Sari (2014), remaja lebih mudah dipengaruhi oleh perubahan

lingkungan hidup, sosial dan budaya karena masa remaja adalah masa pencarian

jati diri yang diterima oleh kelompoknya. Remaja mendapat banyak tekanan dari

kelompoknya untuk diterima. Seringkali remaja tidak menyadari bahwa sikap


berusaha diterima lingkungan bisa membuatnya terpapar pada perilaku beresiko.

Dari penelitian Sari (2014), didapatkan remaja yang setuju perempuan

boleh melakukan hubungan seksual sebelum menikah lebih sedikit (6,25% laki-laki

dan 8,47% perempuan) dibandingkan dengan yang setuju laki-laki boleh melakukan

hubungan seksual sebelum menikah (8,33% laki-laki dan 10,7% perempuan). Remaja

yang setuju dengan pernyataan hubungan seksual boleh dilakukan karena akan

menikah lebih besar (25,63% laki-laki dan 10% perempuan) dibandingkan yang

setuju karena saling mencintai (20% laki-laki dan 8% perempuan).

Masih banyak remaja yang menganggap sekali melakukan hubungan

seksual tidak akan menyebabkan kehamilan. Akhirya remaja terpaksa menikah atau

bahkan melakukan aborsi. Padahal, kehamilan pada usia muda dimana fisik dan

psikologis belum siap sangatlah beresiko. Begitu juga dengan aborsi yang dapat

mengakibatkan kematian atau rusaknya organ reproduksi.

3. Peran Lingkungan

Peran lingkungan dapat dibagi menjadi 2 faktor menurut Green yaitu :

a. Faktor Internal (Keluarga)

Struktur keluarga mempengaruhi perilaku seksual remaja. Tinggal dengan

kedua orang tua adalah faktor penting yang berhubungan dengan penunda remaja

melakukan hubungan seksual untuk pertama kali. Struktur keluarga yang lengkap dan

menyediakan lingkungan yang stabil berhubungan dengan pengurangan aktivitas

seksual remaja. Kedua orang tua yang kurang memberikan dukungan emosional yang

mendorong remaja mencari informasi dari teman mengenai informasi seksual dan
model perilaku seksual (Prastana, 2005).

Keluarga mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan remaja

karena keluarga merupakan lingkungan sosial pertama, yang meletakkan dasar-dasar

kepribadian remaja. Selain orang tua, saudara kandung dan posisi anak dalam keluarga

juga berpengaruh bagi remaja. Pola asuh orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap

remaja. Pola asuh otoriter, demokratik, ataupun permisif memberikan dampak yang

berbeda bagi remaja. Orang tua yang menerapkan pola asuh yang otoriter dimana orang

tua menerapkan disiplin yang kaku dan menuntut anak untuk mematuhi aturan-aturannya,

membuat remaja menjadi frustasi. Sebaliknya pola asuh yang permisif diaman orang tua

memberikan kebebasan kepada anak namun kurang disertai adanya batasan-batasan

dalam berperilaku, akan membuat anak kesuliatan dalam mengendalikan keinginan-

keinginannya maupun dalam perilaku untuk menunda pemuasan. Pola asuh demokratik

yang mengutamakan adanya dialog antara remaja dan orang tua akan lebih

menguntungkan bagi remaja, karena selain memberikan kebebasan kepada anak, tetapi

juga disertai dengan adanya kontrol dari orang tua sehingga apabila terjadi konflik atau

perbedaan pendapat diantara mereka dapat dibicarakan dan diselesaikan bersama-sama

(Marheni dalam Soetjiningsih, 2010).

Menurut Irmayani (2008), perilaku yang tidak sesuai dengan tugas perkembangan

remaja pada umumnya dapat dipengaruhi oleh orang tua. Bilamana orang tua mampu

memberikan pemahaman mengenai perilaku seks kepada anaknya, maka anak cenderung

mengontrol perilaku seksnya itu sesuai dengan pemahaman yang diberikan orang tuanya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh BKKBN tahun 2004


dilaporkan bahwa sumber informasi kesehatan reproduksi pada remaja laki-laki

diperkotaan berasal dari teman sebanyak 60,09%, guru sebanyak 26,83%, media

sebanyak 29,09% sedangnya orang tua hanya 16 %. Sedangkan pada remaja perempuan

perkotaan informasi terbanyak didapat dari teman yaitu sebanyak 48,97%, guru sebanyak

35,40%, media sebanyak 35,99% dan orang tua hanya sebanyak 37,76%. Hal ini

menunjukkan bahwa masih minimnya informasi kesehatan reproduksi yang

disampaikan oleh orang tua kepada anaknya.

Ketertutupan orang tua dalam pemberian informasi tentang seksualitas dan

kesehatan reproduksi akan mendorong remaja untuk mengetahui seksualitas dan

kesehatan reproduksi dengan caranya Orang tua dapat mempengaruhi perilaku

seksual anaknya melalui tiga cara yaitu komunikasi, bertindak sebagai contoh role

model) dan pengawasan.

Menurut Nugraha (2012) orang tua seharusnya pertama kali memberi

pengetahuan seksual bagi anaknya. Informasi dari teman, film, buku, internet yang

hanya setengah-setengah tanpa pengarahan mudah menjerumuskan, Pengetahuan

seksual bagi remaja bertujuan mempersiapkan remaja menghadapi puberitasnya.

Melalui komunikasi orang tua dapat memberi tahu hal-hal tentang seksualitas dan

perilaku beresiko dalam masa pubertas.

Sangatlah penting bagi orang tua membicarakan mengenai seksualitas dengan

anaknya, karena walaupun orang tua tidak membicarakannya anak akan

mendengarkan dari sumber lain. Jadi orang tua perlu mencari jalan untuk

mendiskusikan isu seksualitas ini dengan anaknya tentang bagaimana pendapatnya


dan keluarganya mengenai seksualitas dan penekanan akan resiko yang dihadapi saat

berhubungan seksual sebelum menikah (Critchell, 2006)

Dan analysis WHO (2004), pada literatur kesehatan reproduksi dan seksualitas

seluruh dunia dilaporkan bahwa struktur keluarga yang tidak lengkap berhubungan

secara signifikan dengan perilaku seksual dan merupakan faktor resiko melakukan

hubungan seksual pertama kali.

Dalam laporan Temu Ilmiah Sistem Kesejahteraan Anak Nasional, 2008

(dalam Garliah, 2013) pola asuh orang tua dirumuskan sebagai seperangkat sikap dan

perilaku yang tertata, yang diterapkan oleh orang tua dalam berinteraksi dengan

anaknya.

Kohn, 1986 (dalam Notoatmodjo 2010) mengatakan bahwa pola asuh

merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Sikap orang

tua ini meliputi cara orang tua memberikan aturan-aturan, hadiah maupun hukuman,

cara orang tua menunjukkan otoritasnya, dan cara orang tua memberikan perhatian

serta tanggapan terhadap anaknya.

b. Faktor Eksternal (Teman Sebaya)

Komunikasi teman sebaya memiliki cara yang berbeda untuk mencapai

keefektifan. Kesamaan bakat minat dan tujuan hidup membuat teman-teman sebaya

dapat berkomunikasi dengan efektif dan bahkan sangat efektif sehingga mencapai

tahap pemilahan. Kelompok anak-anak sekolahan biasa berktunpul dengan latar

belakang norma masing-masing narnun kesamaan minat menyatukan mereka dan

membuat komunikasi efektif.


Seorang anak yang suka belajar akan melihat hobi bermain bola aneh dan

sudut pandang ini sering membuat mereka salah paham dan bertengkar.

Kesalahpahaman semacam ini kadang tidak terjadi bila minimal salah satu dari

mereka sudah terbiasa berkomunikasi secara efektif dengan keluarga. Komunikasi

teman sebaya yang lain muncul dan kesamaan tujuan hidup dan ini biasa terjadi pada

manusia dewasa muda yaitu manusia berusia 17 tahun keatas. Komunikasi yang

efektif terjadi pada kesamaan tujuan, visi dan misi hidup.

Manusia dewasa muda cenderung menganggap kondisi mereka saat ini

bnkanlah sesuatu yang harus diperdebatkan, tetapi apa yang hendak mereka raih itu

yang terutama. Beberapa sinetron di televisi berusaha menggambarkan kondisi nyata

bahwa pasangan muda. akan mudah bertengkar bila mereka lebih suka

memperdebatkan minat, bakat dan pekerjaan masing-masing daripada apa yang

hendak mereka beli, berapa anak yang mereka bagaimana mereka nanti akan

mengasuh anak mereka dan hal-hal lain yang lebih kepada tujuan bersama.

Hasil penelitian kesehatan reproduksi remaja yang dilakukan Fadillah (2014)

menyatakan remaja laki-Jaki sering membicarakan kesehatan reproduksi dengan

teman (63,4%) dibanding dengan keluarga (20,09%), sedangkan pada remaja

perempuan 72,44% membicarakan kesehatan reproduksi dengan teman dan 60,86%

dengan keluarga.

Dari analisis WHO (2004) pada literatur kesehatan reproduksi dan seksual

dan seluruh dunia melaporkan bahwa pembicaraan tentang kesehatan reproduksi

dan seksual serta mempunyai teman yang aktif melakukan hubungan seksual
merupakan faktor resiko untuk melakukan hubungan seksual pertama kali.

4. Akses informasi

Banyak sekali informasi melalui media massa, cetak, elektronik yang

ditayangkan secara vulgar dan bersifat tidak mendidik, tetapi lebih cenderung

mempengaruhi dan mendorong perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab.

Keterpaparan remaja terhadap pornografi dalam bentuk bacaan berupa buku porno,

melalui film porno semakin meningkat. Konsultasi seks yang diberikan melalui media

elektronik yang disebut sebagai pendidikan seks, penayangan film tertentu di televisi

dapat menyebabkan salah persepsi atau pemahaman yang kurang tepat terhadap

kesehatan reproduksi (Pinem, 2009).

Menurut rancangan peraturan pemerintah (RPP Pornografi) tahun 2011,

Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar

bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui

berbagai bentuk media komunikasi dan atau pertunjukan di muka umum, yang

memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan

dalam masyarakat.

Sedangkan menurut rancangan Undang-undang anti-pornografi dan

pornoaksi (RUU APP) tahun 2011, pornogafi adalah substansi dalam media atau

alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang

mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan atau erotica.

Menurut Mohammad 2008, media cetak dan elektronik merupakan media

yang paling banyak . di pakai sebagai penyebarluasan pornografi. Perkembangan


hormonal pada remaja dipacu oleh paparan media massa yang mengundang rasa ingin

tahu dan keinginan untuk bereksperimen dalam aktivitas seksual, sedangkan yang

menentukan pengaruh tersebut bukanlah frekuensi tapi isi media itu sendiri.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Bungin talnam 2011, sifat media informasi

mengandung nilai manfaat, tetapi selain itu sering tidak sengaja menjadi media

informasi yang ampuh untuk menyebarkan nilai-nilai baru yang muncul

dimasyarakat. Media cetak dan elektronik mempunyai peran besar dalam memberikan

informasi seksual. Remaja yang belum pemah mengetahui masalah seksualitas dengan

lengkap akan mencoba dan meniru apa yang mereka lihat, dengar ataupun baca.

Berdasarkan data dari Effective Measure Firma yang memiliki spesialisasi

dalam pengukuran statistik web, sebanyak 61,88 persen dari pengguna internet

Indonesia mengakses melalui ponsel. Sementara 38,12 Persen lainnya mengakses

Internet bukan dari ponsel. Pengguna Internet tahun 2011 di Indonesia, mencapai

39:100.000 orang (peringkat Ice-8 di dunia). Jika mengacu pada data tersebut, maka

pengguna internet mobile di Indonesia adalah sekitar 24.195.080 orang. Untuk di

Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat pertama. Negara-negara lainnya,

seperti Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Malaysia, semua pengguna

internetnya mayoritas mengakses melalui perangkat bukan ponsel. Oleh karena itu

pasar internet mobil di Indonesia tidak akan dibiarkan saja, mengingat peluan gaya

yang sangat potensial. Jika skalanya di perbesar lagi, 2/3 pengguna internet dunia

mengakses data via ponsel. 50 juta lebih orang di AS adalah pengguna internet

mobile, sedangkan di China penggunanya bahkan menyentuh angka 200 juta orang
kian tingginya penggunaan internet dan kemudahan akses internet saat ini, banyak

manfaat yang bisa diambil dari penggunaan internet tetapi tentunya penggunaan

media ini tidak luput dari dampak yang bisa ditimbulkan, salah satunya yaitu

kemudahan akses pornografi, yang tidak didampingi dengan pengetahuan kesehatan

reproduksi dan seksualitas yang baik meniadikan remaja menjadi rentan terhadap

dampak media.(Effective Measure 2010)

Masalah kesehatan reproduksi bisa terjadi karena berbagai faktor, dikutip

dari Hyka’s blog 2010 sebagai berikut:

1. Remaja sering kekurangan informasi dasar mengenai kesehatan reproduksi.

2. Kurangnya pengawasan orang tua terhadap anaknya, sehingga

memungkinkan terjadinya masalah kesehatan reproduksi tersebut.

3. Biasanya dipengaruhi oleh faktor sosial-ekonomi, ini dihubungkan dengan

kemiskinan, pendidikan rendah, ketidaktahuan perkembangan seksual

4. Tekanan kelompok sebaya dan pengaruh media

5. Faktor lingkungan dimana remaja tersebut berada, baik itu dilingkungan

keluarga, kelompok sebaya

6. Faktor didalam individu yang cukup menonjol, adanya sikap persimif.

7. Faktor budaya,informasi yang membingungkan anak dan remaja mengenai

fungsi dan proses reproduksi

8. Faktor psikologis, keretakan orang tua atau peran orang tua dalam

pengawasan atau pemberian informasi yang baik kepada remaja.


2.2. Konsep Perilaku

2.2.1. Definisi Perilaku

Perilaku manusia merupakan hasil segala macam pengalaman serta interaksi

manusia yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku

merupakan suatu tindakan yang mempunyai frekuensi, lama, dan tujuan khusus,

baik yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar (Lawrence Green, dalam

Notoatmodjo 2010).

Menurut Notoatmodjo (2010) perilaku manusia adalah semua tindakan atau

aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas, baik

yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati. Dari segi biologis,

perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup yang

bersangkutan). Sedangkan dari segi kepentingan kerangka analisis, perilaku adalah apa

yang dikerjakan oleh organisme tersebut baik dapat diamati secara langsung maupun

tidak langsung.

2.2.2. Domain Perilaku

Perilaku manusia itu sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang

sangat luas. Benyakin Bloom 1908 (dalam Notoatmodjo 2010) seorang ahli psikologi

pendidikan membagi perilaku itu kedalam 3 domain (ranah / kawasan) meskipun

kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas dan tegas.

Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan. Bahwa

dalam tujuan suatu pendidikan adalah mengembangkan atau meningkatkan ketiga

domain perilaku tersebut yang terdiri dari a) ranah kognitif (cognitive domain) b) ranah
afektif (affective domain) c) ranah psikomotor (psychomotor domain).

Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan dan untuk

kepentingan hasil pendidikan, ketiga domain ini diukur dari :

a. Pengetahuan (knowledge).

Pengetahuan merupakan "tahu", dan ini terjadi setelah orang melakukan

pengindraan terhadap suatu obyek tertentu, pengindraan terjadi melalui panca indra

manusia, yakni indra pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian

besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmojo, 2010).

Pengetahuan merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya dominan

yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan atau

kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang

(overt behaviour).

Tingkat pengetahuan di dalam domain kognitif (Notoatmodjo, 2010), tercakup

dalam 6 tingkatan, yaitu:

1. Tahu (Know)

Tahu artinya meningkatkan kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh

bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima.

2. Memahami (Comprehension)

Memahami artinya kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang

diketahui dan dapat menginterpretasikan secara benar.

3. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi artinya kemampuan untuk menggunakan materi yang telah di pelajari


pada situasi yang sebenarnya.

4. Analisis (Analysis)

Analisis adalah kemampuan menjabarkan suatu obyek ke dalam komponen-

komponen, tetapi masilf dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih

ada kaitannya satu sama lain.

5. Sintesis (Sithesis)

Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau

penilaian terhadap suatu materi atau obyek.

Cara memperoleh pengetahuan. Menurut Notoatmodjo (2010) ada 2 cara

memperoleh pengetahuan, yaitu :

1. Cara tradisional atau non ilmiah

a. Cara coba-salah (trial and error), memperoleh pengetahuan dari cara coba

atau dengan kata yang lebih dikenal “trial and error”

b. Cara kekuasaan atau otoritas. Kebiasaan ini bisa diwariskan turun temurun

dari generasi ke generasi berikutnya

c. Berdasarkan pengalaman pribadi. Pengalaman adalah guru yang terbaik,

mengandung maksud bahwa pengalaman itu merupakan sumber

pengetahuan atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk

memperoleh kebenaran pengetahuan.


2. Cara modern.

Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih

sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih

populer disebut metodologi penelitian (research methodology)

b. Sikap atau tanggapan (attitude).

Masih menurut Notoatmodjo (2010), sikap merupakan reaksi atau respon

yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Dapat

disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya

dapat ditafsirkan terlebih dahulu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau

aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Alport (1954)

yang dikutip Notoatmodjo (2010) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3

komponen pokok yaitu :

1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek

2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.

3. Kecenderungan untuk bertindak (tend tobehave)

Newcomb (1998), salah seorang psikolog sosial menyatakan bahwa sikap

merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan

pelaksanaan motif tertentu. Dengan kata lain, fungsi sikap merupakan (reaksi

terbuka) atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi perilaku (tindakan) atau

reaksi tertutup. Seperti halnya pengetahuan, sikap terdiri dari beberapa tingkatan

yaitu :
1. Menerima (receiving), yaitu sikap dimana seseorang atau subjek mau dan

memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

2. Menanggapi (responding), yaitu sikap memberikan jawaban atau

tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi

3. Menghargai (valuing), yaitu sikap dimana subjek atau seseorang

memberikan nilai yang positif terhadap objek atau stimulus. Dalam arti

membahasnya dengan orang lain dan bahkan mengajak atau

mempengaruhi orang lain merespon

4. Bertanggungjawab (responsible), sikap yang paling tinggi tindakannya

adalah bertanggungjawab terhadap apa yang diyakininya

c. Tindakan (practice).

Seperti telah disebutkan di atas bahwa sikap adalah kecenderungan untuk

bertindak (praktik). Sikap belum tentu terwujud dalam bentuk tindakan. Untuk

mewujudkan sikap menjadi suatu tindakan diperlukan faktor pendukung atau suatu

kondisi yang memungkinkan, seperti fasilitas atau sarana dan prasarana. Setelah

seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian mengadakan

penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya diharapkan ia

akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang diketahui atau disikapinya (dinilai

baik). Inilah yang disebut praktik (practice) kesehatan (Notoatmodjo, 2005).

Menurut Notoatmodjo (2010), praktik atau tindakan ini dapat dibedakan

menjadi 3 tingkatan menurut kualitasnya, yakni :


1. Praktik terpimpin (guided response), yaitu apabila subjek atau seseorang telah

melakukan sesuatu tetapi masih tergantung pada tuntunan atau menggunakan

panduan, contoh : seorang ibu memeriksakan kehamilannya tetapi masih

menunggu diingatkan oleh bidan atau tetangganya.

2. Praktik secara mekanisme (mechanism), yaitu apabila subjek atau seseorang

telah melakukan atau mempraktikkan sesuatu hal secara otomatis. Misal :

seorang anak secara otomatis menggosok gigi setelah makan, tanpa disuruh

ibunya

3. Adopsi (adoption), yaitu suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang.

Artinya apa yang dilakukan tidak sekedar rutinitas atau mekanisme saja, tetapi

sudah dilakukan modifikasi, atau tindakan atau perilaku yang berkualitas.

Misalnya menggosok gigi, bukan sekedar gosok gigi, melainkan dengan

teknik-teknik yang benar.

2.2.3. Jenis Perilaku

Menurut Skinner 2001(dalam Notoatmodjo 2010) seorang ahli psikologi,

merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap

stimulus (rangsangan dari luar). Perilaku manusia dari segi biologis adalah tindakan

atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas

seperti berjalan, berbicara, menangis, bekerja dan sebagainya. Dilihat dari bentuk

respon terhadap stimulus Skinner membedakan perilaku menjadi dua:

1. Perilaku tertutup (Covert Behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung tertutup.


Respon terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi,

pengetahuan atau kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima

stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.

2. Perilaku terbuka (Overt Behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka.

Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktik

yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat orang lain.

Skinner mengemukakan bahwa perilaku adalah merupakan hasil hubungan

antara perangsang (stimulus) dan tanggapan atau respon- respon dibedakan menjadi

dua respon :

1. Respondent response atau reflexive respon, yaitu respon yang ditimbulkan

oleh ransangan-ransagan tertentu yang relatif tetap. Respond= respon

(Respondent behaviour) mencakup juga emosi respon clan emotional

behaviour.

2. Operant respons atau instrumental respon adalah respon yang timbul dan

berkembangnya diikuti oleh perangsang tertentu. Perangsang ini disebut

reinforsing stimuli atau reinforcer.

Proses pembentukan atau perubahan perilaku dapat dipengaruhi oleh

beberapa faktor baik dari dalam maupun dari luar individu. Aspek-aspek dalam

diri individu yang sangat berperan/berpengaruh dalam perubahan perilaku adalah

persepsi, motivasi dan emosi. Persepsi adalah pengamatan yang merupakan

kombinasi dari penglihatan, pendengaran, penciuman serta pengalaman masa lalu.


Motivasi adalah dorongan bertindak untuk memuaskan sesuatu kebutuhan. Dorongan

dalam motivasi diwujudkan dalam bentuk tindakan (Sarwono, 2013).

Sedangkan menurut Notoatrnojo 2010, perilaku adalah suatu aktivitas atau

kegiatan organisme yang bersangkutan, baik yang dapat diamati secara langsung

maupun tidak langsung. Perilaku juga dapat diartikan sebagai respon organisme

terhadap rangsangan dari luar subjek tersebut.

Menurut Bloom dalam Notoatmojo (2010), perilaku dibagi dalam tiga domain

(kognitif, afektif, dan psikomotorik) untuk kepentingan tujuan pendidikan dalam

pengembangan dan meningkatkan ketiga domain untuk pengukuran basil pendidikan.

Caranya dengan mengukur pengetahuan terhadap materi yang diberikan

(knowledge), sikap atau tindakan yang dilakukan sehubungan dengan materi

(practice).

Menurut Levey dan Loomba (1973) seperti dikutip oleh Azwar (2010) yang

dimaksud dengan pelayanan kesehatan adalah setiap upaya untuk dilaksanakan secara

sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan

meningkatkan kesehatan, mencegah, mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan

seseorang, keluarga, kelompok dan masyarakat.

Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah hasil dari proses pencarian

pelayanan kesehatan oleh seseorang maupun kelompok. Menurut Notoatmodjo

(2010), perilaku pencarian pengobatan adalah perilaku individu maupun kelompok

atau penduduk untuk melakukan atau mencari pengobatan. Perilaku pencarian

pengobatan di masyarakat terutama di negara sedang berkembang sangat bervariasi.


2.2.4. Determinan Perilaku

Lawrence Green (1975) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2010)

mendeskripsikan model sistem kesehatan yaitu suatu model kepercayaan kesehatan

yang disebut sebagai model perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan (behavior

model of health service utilization). Green mengelompokkan faktor determinan dalam

perilaku kesehatan ke dalam 3 kategori utama, yaitu:

1. Faktor Predisposisi (Predisposing)

Faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan,

tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan

kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial

ekonomi dan sebagainya.

Faktor ini digunakan untuk menggambarkan fakta bahwa tiap individu

mempunyai kecenderungan untuk menggunakan pelayanan kesehatan yang berbeda-

beda. Hal ini disebabkan karena adanya ciri-ciri individu, yang digolongkan ke dalam

3 kelompok:

a. Ciri-ciri demografi, seperti jenis kelamin, umur, dan status perkawinan.

b. Struktur sosial, seperti tingkat pendidikan, pekerjaan, kesukuan atau ras, dan

sebagainya.

c. Manfaat-manfaat kesehatan, seperti keyakinan bahwa pelayanan kesehatan

dapat menolong proses penyembuhan penyakit. Selanjutnya Anderson percaya

bahwa setiap individu atau orang mempunyai perbedaan karakteristik,

mempunyai perbedaan tipe dan frekuensi penyakit, dan mempunyai perbedaan


pola penggunaan pelayanan kesehatan. Setiap individu mempunyai perbedaan

struktur sosial, mempunyai perbedaan gaya hidup, dan akhirnya mempunyai

perbedaan pola penggunaan pelayanan kesehatan. Individu percaya adanya

kemanjuran dalam penggunaan pelayanan kesehatan.

2. Faktor Pemungkin (Enabling)

Faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas

kesehatan bagi masyarakat seperti, puskesmas, rumah sakit, poliklinik, posyandu,

polindes, pos obat desa, dokter atau bidan praktek swasta. Fasilitas ini pada

hakikatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan dan

lingkungan sekitar.

Faktor lingkungan sendiri dibagi menjadi 2 yaitu :

a. Faktor Internal (Keluarga)

Struktur keluarga mempengaruhi perilaku kesehatan. Tinggal dengan

kedua orang tua adalah faktor penting yang berhubungan dengan

penunda remaja melakukan hubungan seksual untuk pertama kali.

Struktur keluarga yang lengkap dan menyediakan lingkungan yang stabil

berhubungan dengan pengurangan aktivitas seksual remaja. Kedua orang

tua yang kurang memberikan dukungan emosional yang mendorong

remaja mencari informasi dari teman mengenai informasi seksual dan

model perilaku seksual (Prastana, 2005). Kohn, 1986 (dalam

Notoatmodjo 2010) mengatakan bahwa pola asuh merupakan sikap

orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Sikap orang tua


ini meliputi cara orang tua memberikan aturan-aturan, hadiah

maupun hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritasnya, dan cara

orang tua memberikan perhatian serta tanggapan terhadap anaknya.

b. Faktor Eksternal (Teman Sebaya)

Komunikasi teman sebaya memiliki cara yang berbeda untuk

mencapai keefektifan. Kesamaan bakat minat dan tujuan hidup membuat

teman-teman sebaya dapat berkomunikasi dengan efektif dan bahkan

sangat efektif sehingga mencapai tahap pemilcahan. Kelompok

anak-anak sekolatan biasa berktunpul dengan latar belakang norma

masing-masing narnun kesamaan minat menyatukan mereka dan

membuat komunikasi efektif. Seorang anak yang suka belajar akan

melihat hobi bermain bola aneh dan sudut pandang ini sering

membuat mereka salah paham dan bertengkar. Kesalahpahaman

semacam ini kadang tidak terjadi bila minimal salah satu dari mereka

sudah terbiasa berkomunikasi secara efektif dengan keluarga.

Komunikasi teman sebaya yang lain muncul dan kesamaan tujuan

hidup dan ini biasa terjadi pada manusia dewasa muda yaitu manusia

berusia 17 tahun keatas. Komunikasi yang efektif terjadi pada

kesamaan tujuan, visi dan misi hidup.

Faktor pemungkin adalah keadaan atau kondisi yang membuat seseorang

mampu untuk melakukan tindakan untuk memenuhi kebutuhannya terhadap


pelayanan kesehatan. Green (1975) dalam Notoatodjo (2010) membaginya ke dalam

3 golongan, yaitu:

a. Sumber daya keluarga, seperti: penghasilan keluarga, keikutsertaan dalam

asuransi kesehatan, kemampuan membeli jasa, dan pengetahuan tentang

informasi pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.

b. Sumber daya masyarakat, seperti: jumlah sarana pelayanan kesehatan yang

ada, jumlah tenaga kesehatan yang tersedia salam wilayah tersebut, rasio

penduduk terhadap tenaga kesehatan. Menurut Green semakin banyak sarana

dan jumlah tenaga kesehatan maka tingkat pemanfaatan pelayanan kesehatan

suatu masyarakat akan semakin bertambah (Notoatmodjo, 2010).

c. Lingkungan dimana faktor keluarga dan teman bergaul serta lokasi

pemukiman penduduk dapat mempengaruhi terbentuknya perilaku.

3. Faktor pendorong (Reinforcing)

Faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama

dan para petugas kesehatan. Termasuk juga disini undang-undang, peraturan-

peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan.

Untuk berperilaku sehat, masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan

dan sikap positif serta dukungan fasilitas saja, melainkan diperlukan perilaku contoh

(acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh agama dan para petugas terlebih lagi

petugas kesehatan. Di samping itu, undang-undang juga diperlukan untuk

memperkuat perilaku masyarakat tersebut.


Faktor kebutuhan merupakan komponen yang paling langsung berhubungan

dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan, Green menggunakan istilah kesakitan

untuk mewakili kebutuhan pelayanan kesehatan. Penilaian terhadap suatu penyakit

merupakan bagian dari kebutuhan. Penilaian individu ini dapat diperoleh dari dua

sumber, yaitu:

a. Penilaian individu (perceived need), merupakan penilaian keadaan kesehatan

yang paling dirasakan oleh individu, besarnya ketakutan terhadap penyakit

dan hebatnya rasa sakit yang diderita.

b. Penilaian klinik (Evaluated need), merupakan penilaian beratnya penyakit dari

dokter yang merawatnya, yang tercermin antara lain dari hasil pemeriksaan

dan penentuan diagnosis penyakit oleh dokter (Notoadmodjo, 2010).

2.3. Penelitian Terkait Kesehatan Reproduksi

Berdasarkan penelitian Imbarwati (2009), beberapa faktor yang berkaitan

dengan kesehatan reproduksi pada pasangan usia subur di Kecamatan Pedurangan

Kota Semarang terdapat hubungan pengetahuan dengan kesehatan reproduksi pada

pasangan usia subur dengan nilai p value <0.05 (0.001).

Menurut penelitian Junita Tatarini Purba (2008), bahwa faktor-faktor yang

mempengaruhi perilaku seksual pranikah pada remaja putra-putri di SMA Yapim

Namorambe adalah pengetahuan berpengaruh terhadap perilaku seksual pranikah

pada remaja putra-putri dengan nilai p value <0.05 (0.002), sikap remaja berpengaruh

terhadap perilaku seksual pranikah dengan nilai p value < 0.05 (0.001), peran orang

tua berpengaruh terhadap perilaku seksual pranikah dengan nilai p value < 0.05
(0.001), pelaksanaan keagamaan berpengaruh terhadap perilaku seksual pranikah

dengan nilai p value < 0.05 (0.000).

Berdasarkan penelitian Fadillah (2014), dengan judul hubungan perilaku

remaja dengan kesehatan reproduksi remaja di Kecamatan Labuhan Batu Selatan

bahwa terdapat hubungan pengetahuan dan sikap dengan kesehatan reproduksi

remaja dimana pengetahuan nilai p value < 0.05 (0.002) dan sikap dengan p value <

0.05 (0.001).

2.4. Kerangka Teori

Menurut teori Lawrence Green yang dikutip Notoatmojdo 2010, berangkat

dari analisa penyebab masalah kesehatan,.Selanjutnya Green menganalisis masalah

kesehatan. ada 3 faktor utama yaitu :

Faktor Predisposisi
Pengetahuan
1. Sikap
2. Kepercayaan
3. Keyakinan
4. Nilai-nilai
Faktor Pendukung
1. Fasilitas Kesehatan
2. Lingkungan Perilaku kesehatan
3. Sarana Kesehatan

Faktor Pendorong
1. Informasi
2. Perilaku petugas
kesehatan
3. Kelompok masyarakat

Sumber : Menurut Lawrence Greens dalam Notoadmojdo yang telah di modifikasi


2010.
2.5. Kerangka Konsep

Dari teori Lawrence Green (1991) di atas faktor predisposisi (pengetahuan,

sikap, kepercayaan, keyakinan, dan nilai-nilai), faktor pemungkin (fasilitas kesehatan,

sarana kesehatan dan lingkungan) serta faktor pendorong (informasi, perilaku petugas

kesehatan, dan kelompok masyarakat) maka peneliti hanya mengambil beberapa

variabel untuk di teliti yaitu pengetahuan, sikap, lingkungan dan akses informasi.

Variabel Independen Variabel Dependen

1. Pengetahuan
Perilaku Kesehatan
2. Sikap
Reproduksi
3. Lingkungan
Remaja
4. Akses informasi

Gambar 2.1 Kerangka Konsep


2.6. Hipotesa

1. Ada hubungan faktor pengetahuan dengan perilaku kesehatan reproduksi

SMK N 2 Binjai tahun 2016.

2. Ada hubungan faktor sikap dengan perilaku kesehatan reproduksi SMK N 2

Binjai tahun 2016.

3. Ada hubungan faktor lingkungan dengan perilaku kesehatan reproduksi SMK

N 2 Binjai tahun 2016.

4. Ada hubungan faktor akses informasi dengan perilaku kesehatan reproduksi


SMK N 2 Binjai tahun 2016.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survei analitik dengan

pendekatan cross sectional untuk menjelaskan hubungan pengetahuan, sikap, peran

orang tua, teman sebaya dan media dengan perilaku kesehatan reproduksi remaja di

SMK Negeri 2 Binjai tahun 2016

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMKN 2 Kota Binjai. Penelitian ini dilakukan

selama 6 bulan mulai dari bulan Februari sampai Agustus 2016.

3.3. Populasi dan Sampel

3.3.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi SMK N 2 kelas XI

berjumlah 10 kelas sebanyak 300 orang.

3.3.2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian populasi. Besar sampel yang

diperlukan dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan rumus Lemeshow (1997)

dalam buku Soedigdo (2010) sebagai berikut :

n=¿ ¿ ¿

50
dimana :

n = besar sampel

Z1-α = nilai distribusi normal baku (tabel z) pada α tertentu = 1,64

Z1-β = nilai distribusi normal baku (tabel z) pada β tertentu = 1,28

Po = proporsi di populasi = 0,50

Pa = perkiraan proporsi di populasi = 0,60

Pa-Po = perkiraan selisih proporsi yang diteliti dengan proporsi di populasi

0,60-0,50 = 0,10

n=¿ ¿

= 112,25 orang ≈ 112 orang

Tehnik pemilihan anggota sampel yang dilakukan secara simple random sampling

yaitu mengambil secara acak dengan menggunakan undian sampai memenuhi besar

sampel dimana semua populasi memiliki hak yang sama untuk di jadikan sampel.

3.4. Metode Pengumpulan Data

3.4.1. Jenis Data

a. Data Primer

Data primer diperoleh secara langsung dari remaja dengan menggunakan

kuesioner yang telah disusun dan mengacu pada variabel yang diteliti.

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari catatan atau dokumen dari

SMK Negeri 2 Binjai tahun 2016.

3.4.2. Uji Validitas dan Reliabilias


a. Uji Validitas

Uji validitas menggunakan rumus Pearson Product Moment dan dilihat

penafsiran dan indeks korelasinya. Uji validitas dalam penelitian ini berhubungan

dengan pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner mengenai pengetahuan,

sikap, peran orang tua, peran teman sebaya dan akses informasi dengan perilaku

kesehatan reproduksi.

Uji validitas bertujuan mengetahui sejauh mana suatu ukuran atau nilai yang

menunjukan tingkat kehandalan atau kesahihan suatu alat ukur dengan cara mengukur

kolerasi antara variabel pada analisis reliabilitas dengan melihat nilai correlation

corrected item, dengan ketentuan jika nilai r hitung > r tabel, maka dinyatakan valid

dan sebaliknya (Hidayat, 2007).

Berdasarkan hasil uji validitas variabel pengetahuan, sikap, faktor lingkungan,

sumber informasi dan pemeliharaan kesehatan reproduksi terlihat hasil korelasi

diketahui bahwa semua item mempunyai korelasi > 0,361 maka dapat dikatakan

bahwa item alat ukur tersebut valid dan dapat digunakan dalam pengumpulan data

penelitian, dapat dilihat pada tabel 3.1 :

Tabel 3.1. Hasil Uji Validitas Variabel Pengetahuan, Sikap, Lingkungan,


Sumber Informasi, dan Pemeliaraan Kesehatan Reproduksi.

No Variabel Corrected Item-Total Correlation Keterangan


1 Pengetahuan
Item1 0,988 Valid
Item2 0,882 Valid
Item3 0,951 Valid
Tabel 3.1. (Lanjutan)
Item4 0,901 Valid
Item5 0,945 Valid
Item6 0,945 Valid
Item7 0,891 Valid
Item8 0,931 Valid
Item9 0,753 Valid
Item10 0,951 Valid
2 Sikap
Item1 0,788 Valid
Item2 0,767 Valid
Item3 0,663 Valid
Item4 0,863 Valid
Item5 0,520 Valid
Item6 0,792 Valid
Item7 0,765 Valid
Item8 0,754 Valid
Item9 0,771 Valid
Item10 0,695 Valid
3 Lingkungan
Item1 0,741 Valid
Item2 0,827 Valid
Item3 0,769 Valid
Item4 0,791 Valid
Item5 0,673 Valid
Item6 0,763 Valid
Item7 0,838 Valid
Item8 0,859 Valid
Item9 0,787 Valid
Item10 0,751 Valid
Item11 0,691 Valid
Item12 0,872 Valid
Item13 0,897 Valid
Item14 0,789 Valid
Item15 0,747 Valid
Item16 0,872 Valid

Tabel 3.1. (Lanjutan)


4 Sumber Informasi
Item1 0,741 Valid
Item2 0,827 Valid
Item3 0,769 Valid
Item4 0,791 Valid
Item5 0,673 Valid
Item6 0,763 Valid
Item7 0,838 Valid
Item8 0,859 Valid
Item9 0,787 Valid
Item10 0,751 Valid
5 Kesehatan Reproduksi
Item1 0,691 Valid
Item2 0,872 Valid
Item3 0,897 Valid
Item4 0,789 Valid
Item5 0,747 Valid
Item6 0,872 Valid
Item7 0,897 Valid
Item8 0,763 Valid
Item9 0,673 Valid
Item10 0,789 Valid

b. Uji Reliabilitas

Setelah mengukur validitas maka perlu mengukur reliabilitas data, apakah alat

ukur dapat dipergunakan atau tidak. Dalam mengukur reliabilitas ini dengan

menggunakan rumus Cronbach’s Alpha.

Pertanyaan dikatakan reliabel, jika jawaban responden terhadap pertanyaan

(kuesioner) adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Reliabilitas

menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya,

untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik.

Instrumen yang sudah dapat dipercaya atau reliabel akan menghasilkan data yang

dapat dipercayai juga. Apabila datanya memang benar dan sesuai dengan kenyataan,
maka berapa kali diambil tetap akan sama (Riwidikdo, 2009).

Reliabilitas data merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat

pengukur dapat menunjukkan ketepatan dan dapat dipercayai dengan menggunakan

metode Cronbach’s Alpha, yaitu menganalisis reliabilitas alat ukur dari satu kali

pengukuran, dengan ketentuan, jika nilai r Alpha > r tabel, maka dinyatakan reliabel

(Riyanto 2009).

Berdasarkan hasil uji reliabilitas variabel pengetahuan, sikap, faktor

lingkungan, sumber informasi dan pemeliharaan kesehatan reproduksi terlihat nilai

Cronbach’s Alpha > 0,361 maka kuesioner tersebut dikatakan reliabel, dapat dilihat

pada tabel 3.2:

Tabel 3.2.Hasil Uji Reliabilitas Variabel Pengetahuan, Sikap, Faktor


Lingkungan, Sumber Informasi dan Pemeliharaan Kesehatan
Reproduksi

No Variabel Cronbach’s Alpha Keterangan


1 Pengetahuan 0,815 Reliabel
2 Sikap 0,778 Reliabel
3 Faktor Lingkungan 0,808 Reliabel
4 Sumber Informasi 0,815 Reliabel
5 Kesehatan Reproduksi Remaja 0,801 Reliabel

Uji validitas dan reliabilitas dilakukan pada siswa siswi di SMU N 1 Binjai

sebanyak 30 orang dengan asumsi karakteristik remaja di kota Binjai relatif sama.

3.5. Definisi Operasional


Cara dan
No Variabel Definisi Operasional Hasil Ukur skala
Alat Ukur
Variabel Dependent
1. Perilaku Tindakan remaja dalam Kuesioner 1.Baik Ordinal
kespro upaya pemeliharaan 2.Buruk
remaja kesehatan reproduksi.
Variabel Independent
2 Pengetahu Segala sesuatu yang harus Kuesioner 1.Baik Ordinal
an diketahui oleh remaja 2.Buruk
tentang kesehatan
reproduksi.
3 Sikap Tanggapan remaja tentang Kuesioner 1. Baik Ordinal
kesehatan reproduksi. 2. Buruk
4 Faktor Keadaan tempat remaja Kuesioner 1.Baik Ordinal
Lingkunga tinggal untuk mendapatkan 2.Buruk
n informasi tentang kespro
remaja
5 Akses Wadah untuk menyerap Kuesioner 1.Baik Ordinal
informasi informasi tentang kesehatan 2.Buruk
reproduksi

3.6. Aspek Pengukuran

3.6.1. Variabel Bebas

1. Pengetahuan

Pengetahuan diukur dengan memberikan kuesioner kepada remaja dengan 10

pertanyaan dengan meggunakan skala Guttem, bila benar diberi skor 1 untuk jawaban

benar, dan diberi skor 0 untuk jawaban salah, sehingga skor tertinggi 10 dan skor

terendah 0.

Untuk kategori pengetahuan di kutip rumus Sudjana (2005) yaitu sebagai

berikut :

Rentang
P=
BK
10 - 0
P=
2
= 10
Keterangan :

P = Panjang Kelas

Rentang = Skor tertinggi – Skor terendah

BK = Banyak Kelas

Berdasarkan kriteria di atas maka dapat dikategorikan tingkat pengetahuan

responden dengan kriteria sebagai berikut :

1. Buruk, apabila total skor responden 0-5

2. Baik, apabila total skor responden 6-10

2. Sikap

Sikap diukur dengan kuesioner menggunakan skala likert dengan jumlah

pertanyaan 10 pertanyaan dengan pilihan jawaban, bila responden sangat setuju diberi

skor 5, setuju diberi skor 4, tidak setuju diberi skor 3 dan sangat tidak setuju diberi

skor 2, sehingga diperoleh skor tertinggi adalah 40 dan skor terendah adalah 1.

Untuk kategori sikap dikutip dengan rumus Sudjana (2005) yaitu sebagai
berikut :
Rentang
P=
BK

P= 50 - 10
2
= 20
Keterangan :
P = Panjang Kelas

Rentang = Skor tertinggi – Skor terendah

BK = Banyak Kelas

Berdasarkan kriteria di atas maka dapat dikategorikan tingkat sikap responden

dengan kriteria sebagai berikut :

1. Buruk, bila skor 10-30

2. Baik, bila skor 31-50

3. Faktor Lingkungan

Penilaian faktor lingkungan dengan memberikan kuesioner kepada remaja

dengan 16 pertanyaan dengan menggunakan skala Guttmen, bila benar diberi skor 1

untuk jawaban ya, dan diberi skor 0 untuk jawaban tidak. Total skor pengetahuan

tertinggi adalah 16 dan terendah adalah 0.

Untuk kategori faktor lingkungan dikutip dengan rumus Sudjana (2005) yaitu

sebagai berikut :

Rentang
P=
BK
16 - 0
P=
2
=8

Keterangan :

P = Panjang Kelas

Rentang = Skor tertinggi – Skor terendah

BK = Banyak Kelas
Berdasarkan kriteria di atas maka dapat dikategorikan peran orang tua

responden dengan kriteria sebagai berikut :

1. Buruk, apabila total skor responden 0-8

2. Baik, apabila total skor responden 9-16

5. Akses Informasi

Akses informasi di ukur dengan memberikan 10 pertanyaan dengan menggunakan

skala Gutten. Untuk jawaban “ya” jawaban diberi skor 1 dan jawaban “tidak” diberi

skor 0. Sehingga skor tertinggi adalah 10 dan skor terendah 0.

Untuk kategori akses informasi dikutip dengan rumus Sudjana (2005) yaitu

sebagai berikut :

Rentang
P=
BK
10 - 0
P=
2
= 10
Keterangan :

P = Panjang Kelas

Rentang = Skor tertinggi – Skor terendah

BK = Banyak Kelas

Berdasarkan kriteria di atas maka dapat dikategorikan akses informasi

responden dengan kriteria sebagai berikut :

1. Buruk, apabila total skor responden 0-5

2. Baik, apabila total skor responden 6-10


3.6.2. Variabel Terikat

Perilaku kesehatan reproduksi remaja di ukur dengan memberikan 10 item

pertanyaan dengan menggunakan skala Guttman. Untuk jawaban “ya” jawaban diberi

skor 1 dan jawaban “tidak” diberi skor 0, sehingga skor tertingi adalah 10 dan skor

terendah adalah 0.

Untuk kategori perilaku kesehatan reproduksi di kutip dengan rumus Sudjana

(2005) yaitu sebagai berikut :

Rentang
P=
BK
10 - 0
P=
2
=5
Keterangan :

P = Panjang Kelas

Rentang = Skor tertinggi – Skor terendah

BK = Banyak Kelas

Berdasarkan kriteria di atas maka dapat dikategorikan perilaku kesehatan

reproduksi responden dengan kriteria sebagai berikut :

1. Buruk, apabila total skor responden 0-5

2. Baik, apabila total skor responden 6-10

3.7. Pengolahan Data


1. Editing

Setelah semua data terkumpul, dilakukan analisa data kembali dengan

memeriksa semua kuesioner apakah data dan jawaban sudah lengkap dan

benar

2. Coding

Pada langkah ini penulis melakukan pengkodean dengan cara merubah

jawaban responden kedalam bentuk angka, misalnya nama responden dirubah

menjadi 1,2,3....

3. Tabulating

Memasukkan data ke dalam table distribusi frekuensi dilakukan untu

mempermudah analisa data, pengolahan data, membuat ke dalam table

distribusi.

3.8. Analisa Data

1. Analisis univariat, yaitu analisis yang dilakukan terhadap tiap variabel dari

hasil penelitian. Pada umumnya dalam analisa ini hanya menghasilkan

distribusi dan persentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2005). Tujuan dari

analisis ini adalah untuk menjelaskan karakteristik masing-masing variabel

yang diteliti (Hastono, 2001).

2. Analisis bivariat, analisis hubungan antara variabel bebas dengan terikat dalam

bentuk tabulasi silang sehingga diketahui jumlah dan persentase

responden berdasarkan variabel bebas yang berhubungan dengan variabel

terikat. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square untuk
menghubungkan variabel kategorik dengan kategorik. Jika p value < 0,05

maka perhitungan secara statistik bahwa ada hubungan antara variabel

independen dengan variabel dependen.

3. Analisis Multivariat

Merupakan analisis untuk mengetahui faktor-faktor yang paling dominan dari

variabel independen. Analisis yang digunakan adalah Regresi Logistik

Berganda pada taraf kemaknaan nilai p < 0,25. Tujuan dari analisis regresi

logistik ganda adalah untuk memperoleh model prediksi yang paling sesuai

untuk menggambarkan determinan yang berhubungan dengan kesehatan

reproduksi remaja. Analisis Regresi Logistik Ganda merupakan perluasan dari

Regresi Logistik Sederhana, dengan persamaan sebagai berikut (Ariawan,

2008)
1
f (z) = 1 + e – (α β1x1 +β2x2 .... + βkxk)
atau f (z) = 1
1+ e – ( α + Σ βixi )

Keterangan : x1, x2, xk = Variabel independen


Z = Nilai indeks variabel independen (-∞ sampai +∞ )
f (Z) = Probabilitas untuk terjadinya keluaran
(outcome)/probabilitas
α, βi = Parameter yang akan diestimasi

BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Binjai adalah salah satu sekolah di

Kota Madya Binjai yang terletak di jalan Bejomura Kelurahan Timbang Langkat

Kecamatan Binjai Timur Sumatra Utara. Sekolah ini berdiri pada tahun 2007 dengan

keahlian tehnik mekanik otomotif, tehnik body repair, dan tehnik komputer. Pada

tahun 2009 SMKN 2 Binjai menambah satu lagi jurusan di sekolahnya yaitu tehnik

sepeda motor. SMKN 2 Binjai memiliki 25 ruang kelas untuk belajar mengajar dan di

dukung oleh para guru yang ahli di bidang nya masing-masing.

Setiap tahunnya SMKN 2 Binjai meluluskan 99% siswanya dan SMKN 2

Binjai juga bekerja sama dengan perusahaan otomotif di Sumatra Utara agar lulusan

SMKN 2 Binjai yang telah lulus siap di lapangan perkerjaan.

Pada tahun 2015 SMKN 2 Binjai bekerja sama dengan BKKBN Sumatra

Utara membentuk pusat informasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja (PIK

KRR) dengan harapan dapat membantu siswa untuk memberikan penjelasan tentang

kesehatan reproduksi remaja yang tidak di ajarkan baik di kurikulum pendidikan.

Pusat informasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja tersebut di jalankan oleh

siswa yang telah mendapatkan bekal dan pelatihan tambahan oleh BKKBN Sumatra

Utara dan dikontrol oleh sekolah memalui tenaga pengajar.

4.2. Analisa Univariat


Analisa univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-

masing variabel bebas (pengetahuan, sikap, lingkungan, dan informasi) dan variabel

terikat (perilaku kesehatan reproduksi remaja).

4.2.1. Faktor Pengetahuan Remaja Tentang Perilaku Kesehatan Reproduksi di


SMKN 2 Binjai Tahun 2016

Untuk melihat distribusi frekuensi faktor pengetahuan remaja di SMKN 2

Binjai Tahun 2016 dapat di lihat pada tabel 4.1 :

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Faktor Pengetahuan Remaja Tentang Perilaku


Kesehatan Reproduksi di SMKN 2 Binjai Tahun 2016

No Faktor Pengetahuan f %
1 Buruk 79 70.5
2 Baik 33 29.5
Jumlah 112 100

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa faktor pengetahuan remaja di

SMKN 2 Binjai Tahun 2016 mayoritas buruk yaitu 70.5%.

4.2.2. Faktor Sikap Remaja Tentang Perilaku Kesehatan Reproduksi di SMKN


2 Binjai Tahun 2016

Untuk melihat distribusi frekuensi faktor sikap remaja di SMKN 2 Binjai

Tahun 2016 dapat di lihat pada tabel 4.2 :

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Faktor Sikap Remaja Tentang Perilaku


Kesehatan Reproduksi di SMKN 2 Binjai Tahun 2016
No Faktor Sikap f %
1 Buruk 85 75.9
2 Baik 27 24.1
Jumlah 112 100

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa faktor sikap remaja di SMKN 2

Binjai Tahun 2016 mayoritas buruk yaitu 75.9%.

4.2.3. Faktor Lingkungan Remaja Tentang Perilaku Kesehatan Reproduksi di


SMKN 2 Binjai Tahun 2016

Untuk melihat distribusi frekuensi faktor lingkungan remaja di SMKN 2

Binjai Tahun 2016 dapat di lihat pada tabel 4.3 :

Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Faktor Lingkungan Remaja Tentang Perilaku


Kesehatan Reproduksi di SMKN 2 Binjai Tahun 2016

No Faktor Lingkungan f %
1 Buruk 84 75
2 Baik 28 25
Jumlah 112 100

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa faktor lingkungan remaja di

SMKN 2 Binjai Tahun 2016 mayoritas buruk yaitu 75%.

4.2.4. Faktor Akses Informasi Remaja Tentang Perilaku Kesehatan Reproduksi


di SMKN 2 Binjai Tahun 2016

Untuk melihat distribusi frekuensi faktor akses informasi yang di terima oleh

remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016 dapat di lihat pada tabel 4.4 :

Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Faktor Akses Informasi Remaja Tentang


Perilaku Kesehatan Reproduksi di SMKN 2 Binjai Tahun 2016
No Faktor Akses Informasi f %
1 Buruk 75 67
2 Baik 37 33
Jumlah 112 100

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa faktor akses informasi remaja

di SMKN 2 Binjai Tahun 2016 mayoritas buruk yaitu 67%.

4.2.5. Distribusi Frekuensi Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja di SMKN 2


Binjai Tahun 2016

Untuk melihat distribusi frekuensi kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2

Binjai Tahun 2016 dapat di lihat pada tabel 4.5 :

Tabel 4.5. Distribusi Frekuensi Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja di


SMKN 2 Binjai Tahun 2016

No Kesehatan Reproduksi f %
1 Buruk 81 72.3
2 Baik 31 27.7
Jumlah 112 100

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa perilaku kesehatan reproduksi

remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016 mayoritas buruk yaitu 72.3%.

4.3. Analisa Bivariat

Analisa Bivariat digunakan untuk mengidentifikasi hubungan variabel bebas

yaitu faktor pengetahuan, sikap, lingkungan dan akses informasi dengan perilaku

kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016.

4.3.1. Hubungan Faktor Pengetahuan Dengan Perilaku Kesehatan Reproduksi


Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016
Untuk melihat hubungan faktor pengetahuan dengan perilaku kesehatan

reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016 dapat di lihat pada tabel 4.6 :

Tabel 4.6. Tabulasi Silang Hubungan Faktor Pengetahuan Dengan Perilaku


Kesehatan Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016

Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja RP p


Faktor
Baik Buruk Total (95% CI) Value
Pengetahuan
f % f % f %
Buruk 6 7.6 73 92.4 79 100 3.812 0.000
Baik 25 75.8 8 24.2 33 100 2.078-6.990

Berdasarkan tabel di atas, hasil analisis bivariat antara hubungan faktor

pengetahuan dengan perilaku kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun

2016 didapati bahwa dari 79 orang remaja yang berpengetahuan buruk terdapat

sebanyak 73 orang (92.4%) remaja dengan perilaku kesehatan reproduksinya buruk

dan 6 orang remaja dengan tingkat pengetahuan buruk akan tetapi baik dalam

perilaku kesehatan reproduksi. Sedangkan dari 33 orang remaja dengan tingkat

pengetahuan baik terdapat sebanyak 8 orang (24.2.) remaja dengan perilaku

kesehatan reproduksinya buruk dan 25 orang (75.8%) remaja baik dalam perilaku

kesehatan reproduksinya,

Hasil uji statistik chi-square menunjukkan bahwa nilai p value 0.000 (< 0.05)

yang artinya ada hubungan yang bermakna antara faktor pengetahuan dengan

perilaku kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016. Dari hasil

analisis diperoleh pula nilai Rasio Prevalens = 3.812 (95% Confidence Interval:

2.078-6.990), artinya tingkat pengetahuan yang buruk 3.8 kali lebih besar untuk tidak
memelihara kesehatan reproduksinya dengan baik jika dibandingkan dengan remaja

yang memiliki pengetahuan baik terhadap kesehatan reproduksi.

4.3.2. Hubungan Faktor Sikap Dengan Perilaku Kesehatan Reproduksi


Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016

Untuk melihat hubungan faktor sikap dengan perilaku kesehatan reproduksi

remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016 dapat di lihat pada tabel 4.7 :

Tabel 4.7. Tabulasi Silang Hubungan Faktor Sikap Dengan Perilaku Kesehatan
Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016

Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja RP p


Faktor Sikap Baik Buruk Total (95% CI) Value
f % f % f %
Buruk 8 9.4 77 90.6 85 100 6.115 0.000
Baik 23 85.2 4 14.8 27 100 2.469-15.147

Berdasarkan tabel di atas, hasil analisis bivariat antara hubungan faktor sikap

dengan perilaku kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016 didapati

bahwa dari 85 orang remaja dengan sikap yang buruk terdapat sebanyak 77 orang

(90.6%) remaja memiliki perilaku yang buruk terhadap perilaku kesehatan reproduksi

dan sebanyak 8 orang (9.4%) remaja dengan sikap yang buruk akan tetapi memiliki

perilaku kesehatan reproduksi yang baik. Sedangkan dari 27 orang remaja dengan

sikap yang baik terdapat sebanyak 4 orang (14.8%) remaja dengan perilaku yang

buruk dalam perilaku kesehatan reproduksi remaja dan sebanyak 23 orang (85.2%)

remaja dengan sikap yang baik, maka baik pula dalam perilaku kesehatan

reproduksinya.

Hasil uji statistik chi-square menunjukkan bahwa nilai p value 0.000 (< 0.05)
artinya ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan perilaku kesehatan

reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016. Dari hasil analisis diperoleh pula

nilai Rasio Prevalens = 6.115 (95% Confidence Interval: 2.469-15.147), artinya

responden dengan sikap yang buruk 6 kali lebih besar untuk tidak memelihara

kesehatan reproduksinya dengan baik jika dibandingkan dengan responden yang

memiliki sikap baik terhadap kesehatan reproduksi.

4.3.3. Hubungan Faktor Lingkungan Dengan Perilaku Kesehatan Reproduksi


Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016

Untuk melihat hubungan faktor lingkungan dengan perilaku kesehatan

reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016 dapat di lihat pada tabel 4.8 :

Tabel 4.8. Tabulasi Silang Hubungan Faktor Lingkungan Dengan Perilaku


Kesehatan Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016

Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja RP p


Faktor Lingkungan Baik Buruk Total (95% CI) Value
f % f % f %
Buruk 15 17.9 69 82.1 84 100 1.917 0.000
Baik 16 57.1 12 42.9 28 100 1.235-2.947

Berdasarkan tabel di atas, hasil analisis bivariat antara hubungan faktor

lingkungan dengan perilaku kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun

2016 didapati bahwa dari 84 orang remaja dengan lingkungan yang buruk terdapat

sebanyak 69 orang (82.1%) remaja buruk dalam perilaku kesehatan reproduksi dan

sebanyak15 orang (17.9%) remaja dengan lingkungan yang buruk akan tetapi baik

dalam melalukan perilaku kesehatan reproduksi. Sedangkan dari sebanyak 28 orang

remaja dengan lingkungan yang baik terdapat sebanyak 12 orang (42.9%) remaja
buruk dalam perilaku kesehatan reproduksi remaja dan 16 orang (57.1%) remaja

dengan lingkungan yang baik, baik pula dalam perilaku kesehatan reproduksi.

Hasil uji statistik chi-square menunjukkan bahwa nilai p value 0.000 (< 0.05)

artinya ada hubungan yang bermakna antara faktor lingkungan dengan kesehatan

reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016. Dari hasil analisis diperoleh pula

nilai Rasio Prevalens = 1.917 (95% Confidence Interval: 1.235-2.947), artinya

responden dengan lingkungan yang buruk 1.9 kali lebih besar untuk tidak memelihara

kesehatan reproduksinya dengan baik jika dibandingkan dengan responden yang

memiliki lingkungan yang baik terhadap kesehatan reproduksi.

4.3.4. Hubungan Faktor Akses Informasi Dengan Perilaku Kesehatan


Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016

Untuk melihat hubungan faktor akses informasi dengan perilaku kesehatan

reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016 dapat di lihat pada tabel 4.9 :

Tabel 4.9. Tabulasi Silang Hubungan Faktor Informasi Dengan Perilaku


Kesehatan Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016

Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja RP p


Faktor Akses
Baik Buruk Total (95% CI) Value
Informasi
f % f % f %
Buruk 7 9.3 68 90.7 75 100 2.581 0.000
Baik 24 64.9 13 35.1 37 100 1.656-4.002

Berdasarkan tabel di atas, hasil analisis bivariat antara hubungan faktor akses

informasi dengan perilaku kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun

2016 didapati bahwa dari 75 orang remaja dengan informasi yang buruk terdapat

sebanyak 68 orang (90.7%) remaja buruk dalam perilaku kesehatan reproduksi dan
sebanyak 7 orang (9.3%) remaja tingat informasi yang buruk akan tetapi baik dalam

melakukan perilaku kesehatan reproduksi . Sedangkan dari 37 orang remaja dengan

tingkat informasi yang baik terdapat sebanyak 13 orang (35.1%) remaja buruk dalam

perilaku kesehatan reproduksi remaja dan sebanyak 24 orang (64.9) remaja dengan

tingkat informasi yang baik, baik dalam perilaku kesehatan reproduksi remaja.

Hasil uji statistik chi-square menunjukkan bahwa nilai p value 0.000 (< 0.05)

artinya ada hubungan yang bermakna antara informasi dengan kesehatan reproduksi

remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai Rasio

Prevalens = 2.581 (95% Confidence Interval: 1.656-4.002), artinya responden dengan

informasi yang buruk tentang kesehatan reproduksi 2.5 kali lebih besar untuk tidak

memelihara kesehatan reproduksinya dengan baik jika dibandingkan dengan

responden yang memiliki tingkat informasi yang baik terhadap kesehatan reproduksi.

4.4. Analisa Multivariat

Berdasarkan hasil uji chi-square diketahui bahwa pengetahuan, sikap,

lingkungan dan informasi terdapat hubungan dengan kesehatan reproduksi remaja

maka dapat di identifikasi variabel independen tersebut dapat dimasukkan dalam

analisis multivariat. Analisis multivariat merupakan analisis untuk mengetahui

variabel yang paling dominan terhadap kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2

Binjai Tahun 2016.

Untuk melihat faktor yang paling dominan terhadap kesehatan reproduksi

remaja dapat di lihat pada tabel 4.10 :

Tabel 4.10. Analisis Multivariat Faktor Pengetahuan, Sikap, Lingkungan dan


Informasi Dengan Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja di
SMKN 2 Binjai Tahun 2016

Variabel Independen Nilai Nilai Exp (B) 95% C.I.for Exp (B)
B p
Lower Uppr
Faktor Pengetahuan 5.428 0,013 48.172 5.662 226.301
Faktor Sikap 2.526 0,014 12.449 1.663 93.948
Faktor Lingkungan -0.374 0,034 0.688 0.126 3.726
Faktor Akses Informasi 2.361 0,004 10.602 2.141 52.487
Constant -9.227 0.000 0.000

Berdasarkan tabel di atas, dapat terlihat bahwa pengujian terhadap hipotesis

yang menyatakan bahwa faktor pengetahuan, sikap, lingungan dan informasi

berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016

dilakukan dengan uji regresi logistik berganda dengan metode enter dengan nilai

signifikansi masing-masing variabel < 0,05, dimana pengetahuan dengan p value

0.013 (<0.05), sikap dengan p value 0.014 (< 0.05), lingkungan dengan p value 0.034

(< 0.05), dan informasi dengan p value 0.004 (< 0.05).

Terlihat bahwa variabel sikap, lingkungan, dan informasi bernilai positif yang

artinya mempunyai pengaruh yang searah menunjukkan bahwa variabel tersebut

mempunyai pengaruh terhadap kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai

Tahun 2016, yaitu variabel sikap pada nilai koefisien regresi exp (B) 12.449, variabel

lingkungan pada nilai koefisien regresi exp (B) 0.688, dan variabel informasi pada

nilai koefisien regresi exp (B) 10.602.

Hasil analisis uji regresi logistik berganda menunjukkan bahwa variabel yang

paling dominan terhadap kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016
adalah variable pengetahuan yaitu pada nilai koefisien regresi exp (B) 48.172. Hal ini

menunjukkan variabel tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap

kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016.

Berdasarkan hasil analisis regresi logistik ganda tersebut dapat ditentukan

model persamaan regresi logistik berganda yang dapat menafsirkan faktor

pengetahuan, sikap, lingkungan dan informasi yang memengaruhi variabel dependen

(kesehatan reproduksi remaja) di SMKN 2 Binjai adalah sebagai berikut:

1
f (Z) =
1 + e –(-9.227 + 5.428 (X1) + 2.526 (X2) + -0.374 (X3) + 2.361 (X4)

f(Z) = Probabilitas Kesehatan Reproduksi

α = Konstanta

ß1- ß5 = Koefisien regresi

X1 = Pengetahuan
X2 = Sikap
X3 = Lingkungan
X4 = Informasi
E = Error (tingkat kesalahan)
BAB V
PEMBAHASAN

5.1. Hubungan Faktor Pengetahuan Dengan Perilaku Kesehatan Reproduksi


Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa faktor pengetahuan remaja

tentang perilaku kesehatan reproduksi remaja mayoritas buruk yaitu 70,5%.

Rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi terlihat dari

jawaban yang di berikan oleh remaja dimana sebanyak 66.1% remaja menjawab salah

pernyataan bahwa perubahan perkembangan perilaku seksual pada remaja di

pengaruhi oleh hormon seksual. Selain itu masih banyak remaja yang tidak tahu

bahwa pada saat seorang anak memasuki masa remaja ditandai dengan menstruasi

pertama pada remaja putri atau pun perubahan suara pada remaja putra. Adanya

perubahan tersebut pada masa remaja, hormon seseorang menjadi aktif dalam

memproduksi dua jenis hormon (gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang

berhubungan dengan pertumbuhan, yaitu: 1) Follicle-Stimulating Hormone (FSH);

dan 2). Luteinizing Hormone (LH). Pada anak perempuan, kedua hormon tersebut

merangsang pertumbuhan estrogen dan progesterone: dua jenis hormon kewanitaan.

Pada anak lelaki, Luteinizing Hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell

Stimulating Hormone (ICSH) merangsang pertumbuhan testosterone. Pertumbuhan

secara cepat dari hormon-hormon tersebut di atas merubah sistem biologis seorang

anak. Anak perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem

reproduksinya sudah aktif. Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara

mulai berkembang, dll. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara,
otot, dan fisik lainnya yang berhubungan dengan tumbuhnya hormon testosterone.

Bentuk fisik mereka akan berubah secara cepat sejak awal remaja dan akan membawa

mereka pada dunia lebih dewasa.

Remaja yang sedang mengalami puberitas merasa diri sudah dewasa sehingga

anak sering membantah atau menentang, emosi tidak stabil sehingga anak puber

cenderung merasa sedih, marah, gelisah, khawatir, mengatur dirinya sendiri sehingga

terkesan egois, dan sangat mengutamakan kepentingan kelompok atau genk sehingga

mudah terpengaruh oleh teman sekelompoknya. Karena rendahnya pengetahuan

tentang hal diatas anak mudah terpengaruh oleh lingkungan dan budaya baru yang

sering bertentangan dengan norma masyarakat, serta memiliki rasa keingintahuan

yang besar pada hal-hal baru yang mengakibatkan perilaku coba-coba tanpa didasari

dengan informasi yang benar dan jelas.

Berdasarkan tabel hasil tabulasi silang diketahui bahwa dari 79 orang remaja

yang berpengetahuan buruk terdapat 73 orang (92,4%) buruk dalam perilaku

kesehatan remaja, dan dari 33 orang remaja yang berpengetahuan baik terdapat 25

orang (75,8%) baik dalam perilaku kesehatan reproduksi remaja. Dari hasil ini dapat

di lihat bahwa faktor pengetahuan remaja berhubungan dengan perilaku kesehatan

reproduksi dimana remaja dengan pengetahuan yang buruk lebih cenderung

berperilaku buruk dalam kesehatan reproduksi dan begitu pula sebaliknya dimana

remaja dengan pengetahuan baik cenderung berperilaku baik dalam perilaku

kesehatan reproduksi.

Uji statistik chi-square menunjukkan bahwa nilai p value < 0.05 (0.000) maka
dapat disimpulkan ada hubungan pengetahuan dengan kesehatan reproduksi remaja di

SMKN 2 Binjai Tahun 2016. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai Rasio Prevalens

= 3.812 (95% Confidence Interval: 2.078-6.990), artinya tingkat pengetahuan yang

buruk 3.8 kali lebih besar untuk tidak memelihara kesehatan reproduksinya dengan

baik jika dibandingkan dengan remaja yang memiliki pengetahuan baik tentang

kesehatan reproduksi.

Menurut Notoatmojo (2010) Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini

terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu,

pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra pengelihatan,

pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh

melalui mata dan telinga. Pengetahuan merupakan dominan yang sangat penting untuk

terbentuknya dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk

tindakan seseorang.

Laporan Survei Kesehatan Reproduksi Remaja di Indonesia (SKRRI) pada

tahun 2002-2003 menunjukkan bahwa pengetahuan remaja terhadap kesehatan

reproduksi remaja masih rendah sehingga perlunya di tingkatkan lagi pendidikan

kesehatan reproduksi remaja.

Berdasarkan sudut pandang tersebut, pendidikan kesehatan reproduksi pada

dasarnya merupakan upaya untuk memberikan pengetahuan tentang fungsi, sistem

dan proses reproduksi yang merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari dan

merupakan bagian dari siklus kehidupan kita yang harus kita pahami, kita rawat, dan
kita jaga, sehingga semua keputusan yang di ambil terkait dengan organ reproduksi

kita, dapat diputuskan secara tanggung jawab dan berbekal pengetahuan kesehatan

reproduksi yang baik.

Usaha remaja untuk memperoleh kebebasan emosional sering disertai perilaku

pemberontakan dan melawan keinginan orang tua. Bila tugas perkembangan ini

sering menimbulkan pertentangan dalam keluarga dan tidak dapat diselesaikan di

rumah , maka remaja akan mencari jalan keluar dan ketenangan di luar rumah. Tentu

saja hal tersebut akan membuat remaja memiliki kebebasan emosional dari luar

orangtua sehingga remaja justru lebih percaya pada teman-temannya yang senasib

dengannya. Jika orang tua tidak menyadari akan pentingnya tugas perkembangan ini,

maka remaja Anda dalam kesulitan besar.

Pada masa remaja, remaja sudah seharusnya menyadari akan pentingnya

pergaulan. Remaja yang menyadari akan tugas perkembangan yang harus dilaluinya

adalah mampu bergaul dengan kedua jenis kelamin maka termasuk remaja yang

sukses memasuki tahap perkembangan ini.Ada sebagaian besar remaja yang tetap

tidak berani bergaul dengan lawan jenisnya sampai akhir usia remaja. Hal tersebut

menunjukkan adanya ketidakmatangan dalam perkembangan remaja tersebut.

Banyak remaja yang belum mengetahui kemampuannya. Bila remaja ditanya

mengenai kelebihan dan kekurangannya pasti mereka akan lebih cepat menjawab

tentang kekurangan yang dimilikinya dibandingkan dengan kelebihan yang

dimilikinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja tersebut belum mengenal

kemampuan dirinya sendiri. Bila hal tersebut tidak diselesaikan pada masa remaja ini
tentu saja akan menjadi masalah untuk perkembangan selanjutnya (masa dewasa atau

bahkan sampai tua sekalipun). Orang tua perlu membantu remaja agar memahami

keadaan fisik dan perubahan-perubahan yang dialami remaja, seperti memberikan

pengarahan kepada mereka berkaitan dengan pertumbuhan yang dialaminya.

Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental maupun sosial

yang utuh, tidak hanya terbebas dari penyakit dalam segala hal yang berkaitan dengan

fungsi, peran dan sistem reproduksinya (Konferensi Internasional Kependudukan dan

Pembangunan, 1994).

Berdasarkan sudut pandang tersebut, pendidikan kesehatan reproduksi pada

dasarnya merupakan upaya untuk memberikan pengetahuan tentang fungsi, sistem

dan proses reproduksi yang merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari dan

merupakan bagian dari siklus kehidupan kita yang harus kita pahami, kita rawat, dan

kita jaga, sehingga semua keputusan yang di ambil terkait dengan organ reproduksi

kita, dapat diputuskan secara tanggung jawab dan berbekal pengetahuan kesehatan

reproduksi yang baik.

Menurut BKKBN (2012), Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas

pada dasarnya merupakan upaya untuk memberikan pengetahuan tentang fungsi,

sistem dan proses reproduksi yang merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari

dan merupakan bagian dari siklus kehidupan kita yang harus kita pahami, kita rawat

dan kita jaga, sehingga semua keputusan yang diambil terkait dengan organ

reproduksi kita, dapat diputuskan secara bertanggung jawab dengan berbekal

pengetahuan kesehatan reproduksi dan seksualitas yang baik.


Dalam sistem pendidikan di Indonesia, pendidikan seksualitas bukanlah

pendidikan yang penting dibandingkan dengan pendidikan lainnya. Banyaknya

anggapan bahwa pendidikan seksualitas di Indonesia tidak perlu di formalkan namun

tidak di dukung dengan sarana dan prasarana untuk mengakses informasi tentang

seksualitas yang lengkap menjadikan ketabuan akan informasi seksualitas semakin

menjadi.

Menurut Surono (1997), pengetahuan yang setengah-setengah justru lebih

berbahaya dari pada tidak tahu sama sekali, tetapi bukan berarti tidak tahu tidak

membahayakan. Pengetahuan yang setengah-setengah ini tidak hanya mendorong

remaja untuk mencoba-coba, tetapi juga bisa menimbulkan salah persepsi.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Meutia (2007) yang menyatakan

bahwa ada pengaruh pengetahuan terhadap kesehatan reproduksi remaja (p value

0,001). Juga sejalan dengan penelitian Pardosi (2015) yang menyatakan bahwa secara

statistik diperoleh hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kesehatan

reproduksi pada pasangan usia subur (p value =0,001).

Pernyataan tersebut sama dengan penelitian Purwoko (2009) pengetahuan

menyumbangkan peran dalam melakukan pemeliharan kesehatan reproduksi.

Semakin tinggi tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, maka semakin

baik pula tindakan dalam pemeliharaan kesehatan reproduksi. Hasil penelitian yang

sama oleh Wijayanti (2014) melalui wawancara mendalam dan observasi dapat

diketahui bahwa ketidaktahuan atau kurangnya pengetahuan remaja tentang

kesehatan reproduksi inilah yang merupakan faktor utama penyebab rendahnya


tingkat pemeliharaan kesehatan reproduksi remaja.

Rendahnya tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi di

SMKN 2 Binjai bisa di sebabkan karena remaja tidak pernah mendapatkan

pembelajaran melalui kurikulum pendidikan atau kurangnya penyuluhan tentang

kesehatan reproduksi remaja. kebanyakan remaja hanya mendapatkan pengetahuan

tentang kesehatan reproduksi remaja melalui pengalaman pribadinya. Pembahasan

kesehatan reproduksi remaja masih di anggap tidak layak untuk di berikan kepada

remaja dengan alasan kurang etis.

5.2. Hubungan Faktor Sikap Dengan Perilaku Kesehatan Reproduksi


Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa faktor sikap remaja tentang

perilaku kesehatan reproduksi remaja mayoritas buruk yaitu 75,9%.

Rendahnya sikap remaja tentang kesehatan reproduksi terlihat dari jawaban

yang di berikan oleh remaja tentang kesehatan reproduksi dimana sebanyak 62.5%

remaja tidak inggin harus menunggu menikah sebelum melakukan hubungan seksual.

Kurang pahamnya dampak yang akan terjadi pada kesehatan reproduksi kalau

melakukan hubungan seksual sebelum menikah seperti kehamilan yang tidak di

inginkan yang beresiko untuk melakukan aborsi dimana dapat mengakibatkan

terganggunya kesehatan reproduksi dan putus dari sekolah sehingga akhirnya

terjerumus lebih dalam dimana dapat menjadi wanita pekerja seksual dan

menyebarkan penyakit infeksi menular seksual. Awalnya hanya ingin coba-coba dan

dipaksa pacarnya, namun lama kelamaan justru tidak ada lagi rasa takut dan malu.
Hubungan intim sudah seperti kebutuhan yang harus dilakukan. Selain itu, hubungan

intim sebelum menikah akan memperbesar kemungkinan terkena penyakit menular

seksual. bila ternyata hubungan itu membuat hamil bisa saja berpikir kalap lalu ambil

keputusan aborsi karena benar- benar tidak siap. Aborsi itu akan meninggalkan bekas

trauma yang amat sangat berdampak buruk, bahkan bisa seumur hidup. Itulah

pergumulan yang umum dirasakan perempuan yang kadung sudah melakukan

hubungan seks sebelum menikah. Pada pria kekwatiran atau risiko di atas tidak

seperti perempuan, kecuali pada perasaan bersalah (guilty feeling) dan penyakit

menular seksual.

Berdasarkan tabel hasil tabulasi silang diketahui bahwa dari 85 orang remaja

dengan sikap yang buruk terdapat 77 orang (90,6%) buruk dalam perilaku kesehatan

remaja, dan dari 27 orang remaja dengan sikap yang baik terdapat 23 orang (85,2%)

baik dalam perilaku kesehatan reproduksi remaja. Dari hasil ini dapat di lihat bahwa

faktor sikap remaja berhubungan dengan perilaku kesehatan reproduksi dimana

remaja dengan sikap yang buruk lebih cenderung berperilaku buruk dalam kesehatan

reproduksi dan begitu pula sebaliknya dimana remaja dengan sikap yang baik

cenderung berperilaku baik dalam perilaku kesehatan reproduksi.

Uji statistik chi-square menunjukkan bahwa nilai p value 0.000 (< 0.05) maka

dapat disimpulkan ada hubungan sikap dengan kesehatan reproduksi remaja di

SMKN 2 Binjai Tahun 2016. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai Rasio Prevalens

= 6.115 (95% Confidence Interval: 2.469-15.147), artinya responden dengan sikap

yang buruk 6.1 kali lebih besar untuk tidak memelihara kesehatan reproduksinya
dengan baik jika dibandingkan dengan responden yang memiliki sikap baik terhadap

kesehatan reproduksi.

Berdasarkan hasil analisis regresi logistik ganda variabel sikap diperoleh nilai

Exp (B) atau Odds Ratio (OR) sebesar 12.449 pada Confidence Interval 95% yaitu

antara 1.663 sampai 93.948, sehingga dapat disimpulkan bahwa remaja dengan sikap

yang buruk mempunyai kemungkinan 12.4 kali akan mengalami gangguan kesehatan

reproduksi jika dibandingkan dengan remaja yang memilik sikap yang baik.

Robbins, (2001) dalam Notoatmodjo (2010) menyatakan bahwa sikap

merupakan sesuatu yang kompleks, dapat diartikan sebagai pernyataan-pernyataan

evaluatif, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, atau

penilaian-penilaian mengenai obyek, manusia atau peristiwa-peristiwa. Sikap yang

kompleks ini dapat lebih mudah untuk dimengerti dengan mengenal adanya tiga

komponen yang berbeda dalam setiap sikap tertentu, yaitu komponen kognitif, afektif

dan kecenderungan perilaku. Komponen ini menggambarkan kepercayaan, perasaan

dan rencana tindakan dalam berhubungan dengan orang lain.

Komponen kognitif dari sikap tertentu berisi informasi yang dimiliki

seseorang tentang orang lain atau benda. Informasi ini bersifat deskriptif dan tidak

termasuk derajat kesukaan atau ketidaksukaan terhadap obyek tersebut. Komponen

afektif dari sikap tertentu berisikan perasaan-perasaan seseorang terhadap obyeknya.

Komponen ini melibatkan evaluasi dan emosi yang diekspresikan sebagai perasaan

suka atau tidak suka terhadap obyek dan sikapnya. Komponen afektif diperlukan

sebagai reaksi terhadap komponen kognitif. Komponen kecenderungan perilaku dan


sikap berisi cara direncanakan seseorang untuk bertindak terhadap obyeknya,

kecenderungan sangat dipengaruhi oleh komponen kognitif dan afektif.

Dari pernyataan di atas menunjukkan bahwa sikap merupakan faktor

predisposisi yang mencakup komponen kognisi, afeksi dan konasi yang merupakan

gabungan dari hubungan ide, keyakinan, konsep, kehidupan emosional dan

kecendrungan bertingkah laku yang terkait dengan kesiapan untuk bertindak.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sikap yang positif belum tentu tidak akan

berperilaku seksual beresiko dan sikap yang negatif juga belum tentu pasti melakukan

perilaku seksual yang beresiko.

Pengertian sikap sebagai kemampuan internal sangat berperan dalam

pengambilan tindakan, lebih-lebih jika terbuka beberapa peluang untuk bertindak,

sehingga orang yang memiliki sikap jelas akan mampu memilih diantara beberapa

kemungkinan. Sikap merupakan suatu pernyataan evaluatif seseorang terhadap obyek

tertentu, orang tertentu atau peristiwa tertentu, sikap juga merupakan cerminan

perasaan seseorang terhadap sesuatu.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Herlina dkk (2005) di wilayah

kerja kota Bogor menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara sikap dengan

kesehatan reproduksi remaja dengan nilai (p value =0,001) yang artinya ada

hubungan yang signifikan antara sikap dengan kesehatan reproduksi remaja dimana

Rasio Prevalens = 4,386 (95% Confidence Interval = 1,475-13,045) artinya bahwa

remaja dengan sikap yang baik memiliki kemungkinan 4,386 kali melaksanakan

pemeliharaan kesehatan reproduksi nya dengan baik pula. Pernyataan tersebut sama
dengan hasil penelitian Anita (2007) dengan judul penelitian hubungan perilaku

remaja dengan kesehatan dimana nilai (p value 0.003) yang artinya ada hubungan

yang bermakna antara sikap dengan kesehatan reproduksi.

Rendahnya sikap remaja di SMKN 2 Binjai sangat berhubungan dengan

tingkat pendidikan remaja. Sikap remaja dalam merespon sesuatu di pengaruhi oleh

pendidikan remaja tersebut. Rendahnya tingkat pendidikan remaja terhadap kesehatan

reproduksi remaja membuat sikap remaja terhadap kesehatan reproduksinya

cenderung buruk. Sikap remaja yang tidak perduli terhadap kesehatan reproduksinya

dapat mengakibatkan terjadinya hal yang menyimpang kepada remaja tersebut seperti

terjerumusnya remaja ke dalam pergaulan bebas.

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003

tentang Sisten Pendidikan Nasional, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan

terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta

didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan

tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi

manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,

sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis

serta bertanggung jawab. Untuk mecapai tujuan pendidikan tersebut diperlukan

Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas yang antara lain diwujudkan dengan

menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat bagi para peserta didik baik yang
tertampung dalam sistem pendidikan formal maupun yang mengikuti jalur pendidikan

non formal.

Permasalahan utama yang muncul pada siswa SMA yang sedang berada pada

masa remaja adalah, ketidaktahuan terhadap tindakan yang harus dilakukan

sehubungan dengan perkembangan yang sedang dialami, khususnya masalah

kesehatan reproduksi remaja. Kegiatan seksual menempatkan remaja pada tantangan

resiko terhadap berbagai masalah kesehatan reproduksi. Setiap tahun sekitar 15 juta

remaja berusia 15-19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi, dan hampir 100 juta

terinfeksi Penyakit Menular Seksual (PMS) yang dapat disembuhkan.

Secara global 40% dari semua kasus infeksi HIV terjadi pada kaum muda

yang berusia 15-24 tahun. Oleh sebab itu, penyebaran informasi kesehatan di

kalangan remaja, perlu diupayakan secara tepat guna agar dapat memberi informasi

yang benar. Salah satu upaya yang dianggap efektif terutama adalah pada institusi

pendidikan yang paling dekat dengan siswa, yaitu sekolah, khususnya pada

pembelajaran biologi. Pembelajaran biologi di sekolah, yang membahas tentang

sistem reproduksi manusia, seharusnya mempunyai peranan yang besar untuk

mengatasi masalah-masalah kesehatan reproduksi pada remaja. Berbagai upaya

mengatasi hal tersebut dalam bidang pendidikan dapat dilakukan, salah satunya

adalah dengan mengintegrasikan pendidikan kesehatan reproduksi dalam

pembelajaran biologi di SMA melalui penerapan kurikulum 2013. Pembelajaran

biologi di SMA seharusnya sudah mengkaji tentang keterkaitan antara sistem

reproduksi dengan kesehatan reproduksi. diharapkan muncul kesadaran dan


kepedulian remaja terhadap pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi, sehingga

remaja dapat terhindar dari masalah kesehatan reproduksi. Oleh sebab itu, diperlukan

suatu integrasi antara kajian pembelajaran biologi di SMA, khususnya pada bahasan

sistem reproduksi manusia dengan kesehatan reproduksi remaja. Hal ini bertujuan

agar siswa SMA mengetahui hal yang seharusnya dilakukan, dan apa yang tidak patut

ditiru, supaya tidak menimbulkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan

kesehatan reproduksi, serta pengintegrasikan pendidikan kesehatan reproduksi dalam

pembelajaran biologi di SMA dengan penerapan kurikulum 2013. Hasil dan

pembahasan Pendidikan menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia. Oleh sebab

itu, materi pembelajaran dalam pendidikan harus memberikan arti penting dalam

kehidupan subjek pembelajaran, yaitu siswa. Salah satu materi pendidikan yang dekat

dengan kehidupan siswa adalah pendidikan kesehatan reproduksi. Pendidikan

kesehatan reproduksi merupakan upaya untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan

reproduksi yang banyak muncul pada anak usia sekolah (remaja), khususnya Sekolah

Menengah Atas (SMA).

Di SMK, beda dengan SMA, ada pelajaran Produktif, di luar Adaptif dan

Normatif, yang mana memuat pelajaran Kejuruannya. SMK adalah Sekolah

Menengah Kejuruan yang mana siswanya dipersiapkan untuk bekerja dengan skills

sesuai bidang keahliannya Kalau kompetensi keahliannya adalah Otomotif, maka

pelajaran tentang Otomotif lah yang didapat dengan jumlah pembelajaran terbesar

pada praktek di bengkel Otomotif. Demikian juga kalau jurusannya Teknik

Informatika, Rekayasa Perangkat Lunak, maka sebagian besar pelajaran ada pada
kegiatan membuat program di Laboratorium Komputer.

Dampak globalisasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan, industrialisasi dan

modernisasi, telah menimbulkan perubahan-perubahan sosial yang amat cepat.

Perubahan-perubahan sosial yang dimaksud antara lain meningkatnya perilaku seks

pranikah, kehamilan di luar nikah yang dilakukan oleh remaja, sebagai akibat

berubahnya nilai-nilai kehidupan keluarga dan masyarakat. Kehamilan yang tidak

diinginkan membawa dampak pada dilakukannya aborsi yang dapat membawa resiko

kematian pada remaja. Dengan demikian pendidikan kesehatan reproduksi amat

penting untuk dilakukan, mengingat masih banyak remaja tidak memiliki

pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi. Pendidikan tersebut juga

diperlukan agar remaja dapat menghindari perilaku seks yang beresiko, yang

membahayakan kesehatan reproduksi dan seksualnya.

Oleh karena itu orangtua sangat berperan penting dalam memberikan

pendidikan kesehatan reproduksi. Bila remaja tidak mendapatkan pemahaman yang

lengkap tentang kesehatan reproduksi dari orangtua, maka remaja rentan terhadap

sumber-sumber informasi dari luar yang salah tentang seks. Agama secara langsung

maupun tidak langsung mengajarkan prinsip-prinsip kesehatan reproduksi wanita,

berupa pelarangan berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan yang belum

menikah. Pelarangan atau anjuran agama dalam masalah kesehatan reproduksi,

sebagai bentuk perlindungan pada wanita agar reproduksi menjadi sehat dan

bertanggung jawab.
5.3. Hubungan Faktor Lingkungan Dengan Perilaku Kesehatan Reproduksi
Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa faktor lingkungan remaja

tentang perilaku kesehatan reproduksi remaja mayoritas buruk yaitu 75%.

Buruknya peran lingkungan remaja terhadap kesehatan reproduksi terlihat dari

jawaban yang di berikan oleh remaja tentang kesehatan reproduksi dimana teman

sebaya pernah menawarkan untuk menonon video porno atau gambar porno sebanyak

58%. Melalui interaksi dengan teman sebaya, individu akan berkenalan dan mulai

pergaul dengan teman-temannya untuk kemudian membentuk kelompok-kelompok

jika perilaku temannya tersebut telah dirasa cocok. Pergaulan teman sebaya dapat

mempengaruhi perilaku baik positif maupun negatif.

Pengaruh positif yang dimaksud adalah ketika individu bersama teman-teman

sebayanya melakukan aktifitas yang bermanfaat seperti membentuk kelompok belajar

dan patuh pada norma-norma dalam masyarakat. Sedangkan pengaruh negatif dapat

berupa pelanggaran terhadap norma-norma sosial termasuk perilaku seksual

pranikah, mengajak nonton film dan foto-foto porno bersama-sama sehingga

terjerumus kepada perilaku seksual pranikah yang merupakan perilaku seksual yang

dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun

menurut agama dan kepercayaan masing- masing.

Berdasarkan tabel hasil tabulasi silang diketahui bahwa dari 84 orang remaja

dengan lingkungan yang buruk terdapat 69 orang (82,1%) buruk dalam perilaku

kesehatan remaja, dan dari 28 orang remaja dengan lingkungan yang baik terdapat 16
orang (57,1%) baik dalam perilaku kesehatan reproduksi remaja. Dari hasil ini dapat

di lihat bahwa faktor lingkungan remaja berhubungan dengan perilaku kesehatan

reproduksi dimana remaja dengan lingkungan yang buruk lebih cenderung

berperilaku buruk dalam kesehatan reproduksi dan begitu pula sebaliknya dimana

remaja dengan lingkungan baik cenderung berperilaku baik dalam perilaku kesehatan

reproduksi.

Uji statistik chi-square menunjukkan bahwa nilai p value 0.000 (< 0.05) maka

dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara lingkungan dengan kesehatan

reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016. Dari hasil analisis diperoleh pula

nilai Rasio Prevalens = 1.917 (95% Confidence Interval 1.235-2.947), artinya

responden dengan lingkungan yang buruk 1.9 kali lebih besar untuk tidak memelihara

kesehatan reproduksinya dengan baik jika dibandingkan dengan responden yang

memiliki lingkungan yang baik terhadap kesehatan reproduksi.

Berdasarkan hasil analisis regresi logistik ganda variabel lingkungan

diperoleh nilai Exp (B) atau Odds Ratio (OR) sebesar 0.126 pada Confidence Interval

95% yaitu antara 0.126 sampai 3.726 sehingga dapat disimpulkan bahwa remaja

dengan lingkungan yang buruk mempunyai kemungkinan 0.12 kali akan mengalami

gangguan kesehatan reproduksi jika dibandingkan dengan remaja dengan lingkungan

yang baik.

Peran keluarga terhadap kesehatan reproduksi remaja dapat di lihat dari

jawaban yang di berikan dimana sebanyak 75% keluarga remaja tidak mau

menjelaskan tentang kesehatan reproduksi remaja.


Orang tua diharapkan dapat menjadi media komunikasi untuk memberikan

informasi dan pelatihan moral bagi pemahaman dan pengembangan seksual remaja.

Pendidikan seksualitas informal dalam keluarga biasanya terjalin dalam bentuk

komunikasi yang hangat antara anak dan anggota keluarga lainnya (Purwandari,

2002).

Orang tua (khususnya ibu) adalah tokoh yang mendidik anak-anaknya, yang

memelihara perkembangan anak-anaknya dan juga mempengaruhi aktivitas-aktivitas

anak diluar rumahnya. Ibu merupakan sumber informasi yang paling penting tentang

masalah haid. Ibu dapat memberikan keterangan spesifik yang sederhana, misalnya

seberapa sering haid terjadi, berapa lama berlangsungnya atau seberapa banyak darah

yang keluar dan bagaimana cara menggunakan pembalut (Syarief, 2003)

Orang tua mempunyai peranan yang besar dalam memberikan informasi

tentang perkembangan pada remaja, oleh karena itu, orang tua terutama ibu

diharapkan dapat memberikan dukungan emosi sehingga remaja merasa nyaman dan

tidak takut untuk mengalami perkembangan terutama pada remaja putri yaitu

mengalami menstruasi pertama (menarche). Pengetahuan yang dapat diberikan

kepada remaja tentang menstruasi pertama berupa pengetahuan tentang proses

terjadinya menstruasi secara biologis, dukungan emosional, dan dukungan psikologis

Peran orang tua sangat diperlukan untuk memberikan informasi kepada anak

perempuannya tentang menstruasi, sehingga anak bisa melewati masa menarchea

pada usia dini dan terjaga kesehatan reproduksinya. Selain itu orang tua merupakan

orang terdekat bagi anak untuk melakukan komunikasi dan orang tua juga merupakan
pendidik utama, pendidik yang pertama dan yang terakhir bagi anaknya. Agar anak

tidak mendapatkan informasi yang keliru mengenai kesehatan reproduksi maka peran

orang tua sangat diharapkan

Orang tua adalah pusat kehidupan rohani si anak dan sebagai penyebab

berkenalnya dengan alam luar, maka setiap reaksi emosi anak dan pemikirannya

dikemudian ban terpengaruh oleh sikapnya terhadap orang tuanya di permulaan

hidupnya dahulu. Jadi, orangtua atau ibu dan bapak memegang peranan yang penting

dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anak. Sejak seorang anak lahir,

ibunyalah yang selalu ada di sampingnya. Oleh karena itu ia meniru perangai ibunya

dan biasanya seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabila ibu itu menjalankan

tugasnya dengan baik dan penuh kasih sayang. Ibu merupakan orang yang mula-mula

dikenal anak yang menjadi temanya dan yang pertama untuk dipercayainya.

         Orang tua yang tidak mendukung anak dalam memperkembangkan keinginan

bertindak sendiri, atau mungkin sama sekali menentang keinginan anak untuk

bertindak sendiri, maka perkembangan perubahan-perubahan peranan sosial tidak

dapat diharapkan mencapai hasil yang  baik.

Remaja membutuhkan dukungan yang berbeda dari masa sebelumnya, karena

pada saat ini remaja sedang mencari dalam mengeksplorasi diri sehingga dengan

sendirinya keterikatan dengan orang tua berkurang. Pengertian dan dukungan orang

tua, sangat bermanfaat bagi perkembangan remaja (Soetjiningsih, 2004).

Kesehatan reproduksi pada remaja sering dikonotasikan sebagai pendidikan

seks dimana sebagaian besar masyarakat Indonesia masih mentabukan hal ini.
Sementara itu, masa remaja adalah fase pertumbuhan dan perkembangan saat

individu mencapai usia 10-19 tahun. Dalam rentang waktu ini terjadi perubahan fisik

yang cepat, termasuk pertumbuhan serta kematangan fungsi organ reprodukai. Seiring

dengan pertumbuhan fisik, remaja juga mengalami perubahan jiwa. Remaja menjdai

individu yang sensitif, mudah menangis, mudah cemas, frustasi, tetapi juga mudah

tertawa. Perubahan emosi menjadikan remaja sebagai individu agresif dan mudah

bereaksi terhadap rangsangan. Remaja mulai mampu berfikir abstrak, senang

mengkritik, dan ingin mengetahui hal baru.

Cara-cara yang perlu diajarkan kepada orang tua/keluarga dalam rangka

memfasilitasi perkembangan remaja adalah sebagai berikut: Jelaskan tentang ciri-ciri

perkembangan remaja yang normal dan menyimpang, jelaskan cara yang dapat

dilaksanakan orang tua/keluarga untuk memfasilitasi perkembangan remaja yang

normal dengan cara: fasilitasi remaja berinteraksi dalam kelompok sebaya, anjurkan

remaja untuk bergaul dengan orang lain yang membuat remaja nyaman mencurahkan

perasaa, perhatian dan kekhawatirannya, anjurkan remaja untuk mengikuti organisasi

yang mempunyai kegiatan positif,  berperan sebagi teman berbagi cerita bagi remaja,

berperan sebagai contoh peran (role model) bagi remaja dalam melakukan interaksi

sosial yang baik, berikan lingkungan yang nyaman bagi remaja untuk melakukan

aktivitas bersama kelompoknya, membimbing remaja dalam menentukan rencana

masa depannya.

Perilaku remaja sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan. Di satu pihak,

remaja mempunyai keinginan kuat untuk mengadakan interaksi sosial dalm upaya
memdapatkan kepercayaan dari lingkungan, sedangkan di lain pihak ia mulai

memikirkan kehidupan secara mandiri serta terlepas dari pengawasan orang tua dan

sekolah. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan

anak.

Hal ini sesuai dengan yang di kemukakan oleh Lawrence Green yang dikutip

oleh Notoatmodjo (2010) yaitu faktor lingkungan (non behavior) seperti peran orang

tua dan teman sebaya sangat besar terhadap perilaku seksual remaja. Keluarga dan

lingkungan sekitar mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan

remaja karena keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang meletakkan

dasar-dasar kepribadian remaja.

Pola asuh orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap remaja, pola asuh

demokratik yang mengutamakan adanya dialog antara remaja dan orang tua akan

lebih menguntungkan bagi remaja, karena selain memberikan kebebasan kepada

anak, tetapi juga disertai dengan adanya kontrol dari orang tua sehingga apabila

terjadi konflik atau perbedaan pendapat diantara mereka dapat dibicarakan dan

diselesaikan bersama-sama (Marheni dalam Soetjiningsih, 2010).

Kebanyakan orang tua yakin bahwa menjauhkan pengetahuan seks dari

remaja akan menyelamatkan mereka dari seks bebas yang sudah menjadi trend hidup

modern saat ini. ini merupakan cara pandang yang kurang benar. Bagaimanapun juga

perkembangan biologis, fisiologis, dan psikologis remaja memang mendorong

mereka untuk mencari informasi tentang seks dengan sendirinya. Tanpa pengetahuan

yang benar mereka akan mencari informasi dengan cara mereka sendiri. Dan cara
tersebut sebagian besar tidak informatif serta menjerumuskan. Pengetahuan yang

benar tentang seks akan mendorong remaja untuk berpikir tentang risiko-risiko yang

akan mereka hadapi ketika mereka melakukan seks bebas.

Struktur keluarga mempengaruhi perilaku seksual remaja. Tinggal dengan

kedua orang tua adalah faktor penting yang berhubungan dengan penunda remaja

melakukan hubungan seksual untuk pertama kali. Struktur keluarga yang lengkap dan

menyediakan lingkungan yang stabil berhubungan dengan pengurangan aktivitas

seksual remaja. Kedua orang tua yang kurang memberikan dukungan emosional yang

mendorong remaja mencari informasi dari teman mengenai informasi seksual dan

model perilaku seksual (Prastana, 2005).

Menurut Irmayani (2008), perilaku yang tidak sesuai dengan tugas

perkembangan remaja pada umumnya dapat dipengaruhi oleh orang tua. Bilamana

orang tua mampu memberikan pemahaman mengenai perilaku seks kepada anaknya,

maka anak cenderung mengontrol perilaku seksnya itu sesuai dengan pemahaman

yang diberikan orang tuanya.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian kesehatan reproduksi remaja yang

dilakukan Fadillah (2014) menyatakan remaja laki-Jaki sering membicarakan

kesehatan reproduksi dengan teman (63,4%) dibanding dengan keluarga (20,09%),

sedangkan pada remaja perempuan 72,44% membicarakan kesehatan reproduksi

dengan teman dan 60,86% dengan keluarga.

Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Junita

Tatarini Purba (2008) di SMA Yapim Namorambe menyatakan bahwa peran orang
tua mempuyai hubungan yang bermaka dengan perilaku seksual pranikah dimana

nilai p value 0.001 (<0.05).

Buruk nya peran lingkungan terhadap kesehatan reproduksi remaja di SMKN

2 Binjai bisa di sebabkan oleh kurangnya perhatian orang tua kepada remaja. Peran

orang tua sebagai tempat anak untuk mencurahkan segala perasaan nya tidak berjalan

dengan baik. Komunikasi yang kaku yang di terapkan oleh keluarga kepada remaja

membuat remaja enggan berbagi masalah kesehatan reproduksinya.

Keluarga juga kurang terbuka terhadap remaja tentang kesehatan reproduksi.

Banyak keluarga yang enggan membahas kesehatan reproduksi kepada anaknya.

Kurangnya pengetahuan keluarga juga masih di anggap tidak pentingnya kesehatan

reproduksi oleh kelurga membuat remaja menjadi gampang terpengaruh oleh

informasi yang salah tentang kesehatan reproduksi. Sementara itu remaja yang lebih

terbuka oleh teman sepermainannya mendapatkan informasi yang salah mengenai

kesehatan reproduksi remaja.

5.4. Hubungan Faktor Informasi Dengan Perilaku Kesehatan Reproduksi


Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa faktor akses informasi remaja

tentang perilaku kesehatan reproduksi remaja mayoritas buruk yaitu 67%.

Buruknya informasi yang di terima remaja terhadap kesehatan reproduksi

terlihat dari jawaban yang di berikan oleh remaja tentang kesehatan reproduksi

dimana sebanyak 67% pernah mengakses situs porno. Banyak sekali informasi

melalui media massa, cetak, elektronik yang ditayangkan secara vulgar dan bersifat
tidak mendidik, tetapi lebih cenderung mempengaruhi dan mendorong perilaku

seksual yang tidak bertanggung jawab. Keterpaparan remaja terhadap pornografi

dalam bentuk bacaan berupa buku porno, melalui film porno semakin meningkat.

Konsultasi seks yang diberikan melalui media elektronik yang disebut sebagai

pendidikan seks, penayangan film tertentu di televisi dapat menyebabkan salah

persepsi atau pemahaman yang kurang tepat terhadap kesehatan reproduksi (Pinem,

2009).

Berdasarkan tabel hasil tabulasi silang diketahui bahwa dari 75 orang remaja

akses informasi yang buruk terdapat 68 orang (90,7%) buruk dalam perilaku

kesehatan remaja, dan dari 37 orang remaja dengan akses informasi yang baik

terdapat 24 orang (64,9%) baik dalam perilaku kesehatan reproduksi remaja. Dari

hasil ini dapat di lihat bahwa faktor akses informasi remaja berhubungan dengan

perilaku kesehatan reproduksi dimana remaja dengan akses informasi yang buruk

lebih cenderung berperilaku buruk dalam kesehatan reproduksi dan begitu pula

sebaliknya dimana remaja dengan akses informasi yang baik cenderung berperilaku

baik dalam perilaku kesehatan reproduksi.

Uji statistik chi-square menunjukkan bahwa nilai p value 0.000 (< 0.05) maka

dapat disimpulkan ada hubungan informasi dengan kesehatan reproduksi remaja di

SMKN 2 Binjai Tahun 2016. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai Rasio Prevalens

= 2.581 (95% Confidence Interval: 1.656-4.002), artinya responden dengan informasi

yang buruk tentang kesehatan reproduksi 2.5 kali lebih besar untuk tidak memelihara

kesehatan reproduksinya dengan baik jika dibandingkan dengan responden yang


memiliki tingkat informasi yang baik terhadap kesehatan reproduksi.

Berdasarkan hasil analisis regresi logistik ganda variabel informasi diperoleh

nilai Exp (B) atau Odds Ratio (OR) sebesar 10.602 pada Confidence Interval 95%

yaitu antara 2.141 sampai 52.487, sehingga dapat disimpulkan bahwa remaja dengan

tingkat informasi yang buruk mempunyai kemungkinan 10 kali akan mengalami

gangguan kesehatan reproduksi jika dibandingkan dengan remaja dengan tingkat

informasi yang baik.

Menurut Mohammad (1998), perkembangan hormonal pada remaja dipacu

oleh paparan media massa yang mengundang rasa ingin tahu dan keinginan untuk

bereksperimen dalam aktivitas seksual, sedangkan yang menentukan pengaruh

tersebut bukanlah frekuensi tapi isi media itu sendiri.

Menurut Nugraha (2002), orang tua seharusnya pertama kali memberikan

pengetahuan seksual bagi anaknya. Informasi dari teman, film, buku, internet yang

hanya setengah-setengah tanpa pengarahan mudah menjerumuskan. Pengetahuan

seksual bagi remaja bertujuan mempersiapkan remaja menghadapi pubertasnya.

Melalui komunikasi orang tua dapat memberi tahu hal-hal tentang seksualitas dan

perilaku beresiko dalam masa pubertas. Ketertutupan orang tua dalam pemberian

informasi tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi akan mendorong remaja untuk

mengetahui seksualitas dan kesehatan reproduksi dengan caranya sendiri.

Sangatlah penting bagi orang tua membicarakan mengenai seksualitas dengan

anaknya, karena walaupun orang tua tidak membicarakannya anak akan

mendengarkan dari sumber lain. Jadi orang tua perlu mencari jalan untuk
mendiskusikan isu seksualitas ini dengan anaknya tentang bagaimana pendapatnya

dan keluarganya mengenai seksualitas dan penekanan akan resiko yang dihadapi saat

berhubungan seksual sebelum menikah.

Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bungin (2001), sifat media

informasi mengandung nilai manfaat, tetapi selain itu sering tidak sengaja menjadi

media informasi yang ampuh untuk menyebarkan nilai-nilai baru yang muncul

dimasyarakat. Media cetak dan elektronik mempunyai peran besar dalam memberikan

informasi seksual. Remaja yang belum pemah mengetahui masalah seksualitas dengan

lengkap akan mencoba dan meniru apa yang mereka lihat, dengar ataupun baca.

Diterima atau tidaknya informasi tentang kesehatan oleh masyarakat akan

menentukan perilaku kesehatan masyarakat tersebut (Green, 2005). Informasi dapat

diterima melalui petugas langsung dalam bentuk penyuluhan, pendidikan kesehatan,

dan perangkat desa melalui siaran media massa, leaflet, siaran televisi dan lain-lain.

Kurangnya informasi dasar tentang kesehatan reproduksi mengakibatkan remaja

dapat terjerumus ke dalam hal yang tidak di inginkan seperti terjadinya kehamilan

yang tidak di inginkan, infertilitas dan lain-lain (Yuliwati, 2012).

Hal ini sesuai dengan penelitian yang di lakukan oleh Junita Tatarini Purba

(2008), bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah pada

remaja putra-putri di SMA Yapim Namorambe dimana sumber informasi mempunyai

hubungan yang bermakna dengan perilaku seks pranikah dengan nilai p value0.013

(<0.05).

Penelitian Imbarwati (2009), beberapa faktor yang berkaitan dengan


kesehatan reproduksi pada pasangan usia subur di Kecamatan Pedurangan Kota

Semarang menyatakan bahwa sumber informasi memilliki hubungan yang bermakna

dengan kesehatan reproduksi dimana nilai p value 0.023 (< 0.05).

Tidak berjalan dengan baik nya pusat informasi konseling kesehatan

reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai yang di bentuk oleh BKKBN dengan baik

membuat remaja tidak mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi dengan

benar. Kurangnya penyuluhan kepada remaja mengenai kesehatan reproduksi

membuat remaja semakin tidak perduli dengan kesehatan reproduksi. Rendahnya

minat remaja untuk mencari informasi yang mendalam tentang informasi kesehatan di

sebabkan karena remaja merasa bahwa kesehatan reproduksi remaja adalah hal yang

tidak penting. Burukya kemasan dalam penyajian informasi tentang kesehatan

reproduksi semakin membuat remaja enggan untuk memperluas pengetahuan nya

tentang kesehatan reproduksi.

5.5. Faktor Pengetahuan, Sikap, Lingkungan dan Informasi Dengan Perilaku


Kesehatan Reproduksi Remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016

Dari hasil analisis uji Regresi Logistik Berganda bahwa pengujian terhadap

hipotesis yang menyatakan bahwa faktor pengetahuan, sikap, lingungan dan

informasi berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai

Tahun 2016 dilakukan dengan uji regresi logistik berganda dengan metode enter

dengan nilai signifikansi masing-masing variabel < 0,05, dimana pengetahuan dengan

p value 0.013 (<0.05), sikap dengan p value 0.014 (<0.05), lingkungan dengan p

value 0.034 (<0.05), dan informasi dengan p value 0.004 (<0.05).


Hasil analisis uji regresi logistik berganda menunjukkan bahwa variabel yang

paling dominan terhadap kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016

adalah variabel pengetahuan yaitu pada nilai koefisien regresi exp (B) 48.172. Hal ini

menunjukkan variabel tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap

kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016.

Berdasarkan hasil analisis regresi logistik ganda, variabel pengetahuan

diperoleh nilai Exp (B) atau Odds Ratio (OR) sebesar 48.172 pada Confidence

Interval 95% yaitu antara 5.662 sampai 226.301, sehingga dapat disimpulkan bahwa

remaja dengan pengetahuan yang buruk mempunyai kemungkinan 48,1 kali akan

mengalami gangguan kesehatan reproduksi jika dibandingkan dengan remaja dengan

tingkat pengetahuan yang baik. Variabel sikap diperoleh nilai Exp (B) atau Odds

Ratio (OR) sebesar 12.449 pada Confidence Interval 95% yaitu antara 1.663 sampai

93.948, sehingga dapat disimpulkan bahwa remaja dengan sikap yang buruk

mempunyai kemungkinan 12.4 kali akan mengalami gangguan kesehatan reproduksi

jika dibandingkan dengan remaja yang memilik sikap yang baik. Variabel lingkungan

diperoleh nilai Exp (B) atau Odds Ratio (OR) sebesar 0.126 pada Confidence Interval

95% yaitu antara 0.126 sampai 3.726 sehingga dapat disimpulkan bahwa remaja

dengan lingkungan yang buruk mempunyai kemungkinan 0.12 kali akan mengalami

gangguan kesehatan reproduksi jika dibandingkan dengan remaja dengan lingkungan

yang baik. Variabel informasi diperoleh nilai Exp (B) atau Odds Ratio (OR) sebesar

10.602 pada Confidence Interval 95% yaitu antara 2.141 sampai 52.487, sehingga

dapat disimpulkan bahwa remaja dengan tingkat informasi yang buruk mempunyai
kemungkinan 10 kali akan mengalami gangguan kesehatan reproduksi jika

dibandingkan dengan remaja dengan tingkat informasi yang baik.

Hal ini sesuai dengan pendapat yang di kemukakan oleh Notoatmodjo (2010)

bahwa pengetahuan merupakan faktor dominan yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang

sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behaviour).

Hal ini sesuai dengan penelitian yang di lakukan oleh Rahmadi tentang

pengetahuan remaja di Kelurahan Tanah Merah Kota Binjai yang menyatakan bahwa

pengetahuan merupakan faktor yang paling dominan terhadap kesehatan reproduksi

remaja.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
1. Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan perilaku kesehatan

reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016.

2. Ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan perilaku kesehatan

reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016.

3. Ada hubungan yang bermakna antara lingkungan dengan perilaku kesehatan

reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016.

4. Ada hubungan yang bermakna antara informasi dengan perilaku kesehatan

reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016.

5. Pengetahuan adalah faktor yang paling dominan berhubungan dengan perilaku

kesehatan reproduksi remaja di SMKN 2 Binjai Tahun 2016.

6.2. Saran

1. Kepada SMK Negeri 2 Binjai

Pihak sekolah melalui guru pembimbing di unit kesehatan siswa harus mampu

memberikan informasi yang baik kepada siswa tentang kesehatan reproduksi

remaja melalui pusat informasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja

agar siswa mendapatkan pengetahuan yang baik. Menempelkan poster-poster

tentang bahaya dari tidak menjaga kesehatan reproduksi.

2. Petugas kesehatan di BKKBN

Agar petugas kesehatan di BKKBN yang membawahi tentang kesehatan

reproduksi harus lebih meningkatkan penyuluhuhan ke sekolah-sekolah agar


para remaja bisa mendapatkan informasi yang akurat tentang pengenalan

organ reproduksi, kehamilan yang tidak diinginkan dan bahaya aborsi.

Melakukan pelatihan dan bimbingan agar para guru pembimbing di sekolah

agar para guru pembimbing dapat menjalankan fungsinya dengan baik dalam

pusat informasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja (PIK KRR).

3. Kepada Orang tua

Diharapkan orang tua harus lebih proaktif dalam menjelaskan kesehatan

reproduksi remaja. Bersikap demokratis dan mampu menjelaskan dengan baik

kepada remaja tentang kesehatan reproduksi dapat menjadi contoh yang baik

untuk remaja dalam menjalankan kesehatan reproduksi.


DAFTAR PUSTAKA

Asmara,MS.Sumut.
(2011),http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/10/30/63562/pe
ntingnya_menjaga_kesehatan_reproduksi_remaja/#.TyglfPlAHUg :
tanggal diakses 11 Juni 2016.

Arikunto,S. (2002). Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta :EGC

BKKBN. (2006). Modul Worrkshop: Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja


Bagi Calon Konselor Sebaya. Jakarta.

________. (2006). Panduan Pengelolaan Pusat Informasi Dan Konseling


Remaja Dan Mahasiswa (Pik Remaja/Mahasiswa), Jakarta.

_________. (2012). Pedoman Pengelolaan Pusat Informasi dan Konseling


Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK — KRR), Jakarta.

Bungin T. (2011). Peran Media Sebagai Penyebar Informasi.


http://www.bisnisdaily.com/news/read/2011/10/30/ 63562/peran_media
/#.TyglfPlAHUg : tanggal diakses 18 Agusrus 2016.

Cumplung. (2011). Dampak Hubungan Seks Sebelum Menikah. Jakarta: Rineka Cipta

Depkes RI. (2008). Modul Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta.

Effective Maesure. (2010). Dampak Pengguna Internet di dunia dan Indonesia.


http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&i
d=172480: &catid=14:medan&Itemid=27. Diakses 02 juli 2016.

Fitriani. R. (2014). Hubungan Faktor Predisposisi, Pendorong, dan Penguat dengan


Kesehatan Reproduksi Remaja di Medan. : Skripsi FKM USU

Fadillah Siregar, S.R., Kusumaryani, M.S.W., Hidayat Z (2014). Menyiapkan


Generasi Muda Yang Sehat & Produktif: Kebutuhan Akan Pelayanan
dan Informasi Kesehatan Reproduksi. Jakarta: BKKBN bekerja sama
dengan LDFEUI & Bank Dunia.

Garliah, (2013). Laporan Ilmiah Sistem Kesejahteraan Anak Nasional. Journal


FKM UI Edisi III

Hidayat. A. A. 2007. Metode Penelitian Kebidanan Tehnik Analisis Data, Jakarta :


Salemba Medika.
___________. 2007. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia

Irmayani (2008). Fenomena Seks Pranikah Remaja.


http://www.duniapsikologi.com/fenomena-seks-pra-nikah-remaja/. Diakses 19
Juli 2016.

Imbarwati. (2009). Faktor faktor yang Berkaitan dengan Kesehatan Reproduksi


pada PUS di Kecamatan Pedurangan Semarang. : Skripsi FKM UGM

Junita, Tatarini Purba. (2008). Faktor faktor yang mempengaruhi Perilaku


Seksual Pranikah pada Remaja di SMU Yapim Namorambe. : Skripsi
FKM USU

Kusmiran, E. (2012). Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Salemba


Medika. Jakarta.

___________. (2012). Kesehatan Reproduksi. Cetakan Pertama. Yogyakarta :


Fitramaya

Landuri, Prima. (2012). Hubungan Faktor Faktor Remaja dengan Kesehatan


Reproduksi di SMAN Padang. : Skripsi FKM Andalas

Laurenta. (2015). Pengaruh Perilaku Remaja terhadap Kesehatan Reproduksi


Remaja di Medan. : Thesis FKM USU

Mariani, A, Bachtiar. I, (2010). Keterpaparan Materi Pornografi dan Perilaku


Seksual Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri. Makara Seri Sosial
Humaniora. 14(2): 83-90.

Muadz, M. (2008). Kurikulum dan Modul Pelatihan Pengelola Pusat PIK-KRR.


Jakarta : BKKBN

Notoatmodjo, S. (2010). Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta :


Rineka Cipta

_____________. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Nugraha. (2012). Peran Orang Tua Dalam Kesehatan Reproduksi Remaja :


Journal Edisi IV FKM Makassar

Mawarni, S, (2014). Menjaga Kesehatan Reproduksi : Rineka Cipta


Mar’at T. ( 2009). Perilaku Kesehatan Reproduksi : Jakarta : Salemba Medika.

Muhammad. (2006). Psikologi Remaja, Petunjuk bagi Guru dan Orang Tua.
Bandung: Pustaka Setia Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI)
Cemara tahun 2013

Pinem, S. (2009). Kesehatan Reproduksi dan Kontrasepsi, Jakarta, Trans Info Media.

Prastana. (2005). Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta : Rinaka Cipta

Rosa, Rinidwinaya. (2007). Peran Orang Tua Pada Remaja. Jakarta Salemba

Sari, M. (2014). Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja di SMAN Jakarta : Skripsi


FKM UI.

Syafril, (2013). Hubungan Perilaku Remaja dengan Kesehatan Reproduksi Remaja


di SMAN Padang : Skripsi FKM Sriwijaya.

Sekarini. (2012). Faktor –Faktor yang Berhubungan dengan Kesehatan


Reproduksi Remaja : Skripsi FKM UI

Setyonaluri, D., Kusumaryani, M.S.W., Antarwati, E., Tobing, H.M., Ahsan, A.


(2005). Laporan Hasil Temuan Survei Pemahaman Kesehatan
Reproduksi dan
Perkawinan Usia Dini. Depok: Kerjasama BKKBN DKI Jakarta dengan
LDFEUI.

Soetjiningsih, (2010). Perkembangan Psikososial Tumbuh Kembang Remaja dan


Permasalahannya . Jakarta :

Soedigdo, (2010). Metode Penelitian : Airlangga : Jakarta

Sarwono, (2011). Panduan Praktis Pelayanan Maternal dan Neonatal. Jakarta

Siti, dkk, (2006). Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja. BKKBN, Jakarta.

Siti hajar. (2014). Hubungan Peran Orang Tua, Teman Sebaya Dan Media
Dengan Perilaku Seks Remaja di SMA Negeri 1 Meulaboh Aceh
Barat. Tesis Fakultas Kesehatan Masyarakat USU.

Tukan. (1994). Metode Pendidikan Seks, Perkawinan dan Keluarga. Jakarta:


Erlangga
Varney Helen, dkk. (2006). Buku Ajar-Asuhan Kebidanan. (Buku Kedoteran). Jakarta
: EGC
KUESIONER
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU
KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA TENTANG KESEHATAN
REPRODUKSI DI SMK NEGERI 2 BINJAI

No. Responden : ..................................

PETUNJUK PENGISIAN
1. Jawablah pertanyaan berikut dengan cara memberi tanda silang (X) pada
jawaban yang kamu anggap benar, tepat dan sesuai.
2. Nama kamu serta identitas kamu tidak perlu ditulis
3. Isilah kueioner ini dengan sejujur-jujurnya sebab jawaban kamu terjamin
kerahasiaannya.
4. Jawaban kamu tidak akan mempengaruhi nilai kamu dan nama baik sekolah
kamu.
5. Jawaban kamu hanya akan di gunakan untuk kepentingan ilmiah penelitian
saja dan tidak akan disebarluaskan kemanapun.
6. Tidak dibenarkan bertanya kepada teman, hanya diperbolehkan bertanya pada
orang yang membagikan kuesioner.

A. Pengetahuan Remaja Tentang Kesehatan Reproduksi

No Pernyataan Benar Salah

1 Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik,


mental dan terbebas dari segala penyakit yang
berkaitan dengan sistem reproduksi
2 Sasaran kesehatan reproduksi agar seluruh remaja
mendapat informasi tentang kesehatan reproduksi
3 Melakukan hubungan seks dapat merusak sistem
kesehatan reproduksi remaja
4 Perubahan perkembangan perilaku seksual pada
remaja dipengaruhi oleh berfunginya hormon
seksual
5 Kehamilan pada umur remaja dapat mengganggu
kesehatan reproduksi remaja
6 Menstruasi/mimpi basah adalah bagian dari
kesehatan reproduksi remaja
7 Menggunakan celana dalam yang tidak terlalu ketat
juga berhubungan dengan kesehatan reproduksi
8 Memasukkan benda asing ke dalam kemaluan
adalah tindakan yang dapat mengganggu kesehatan
reproduksi remaja
9 Pengendalian emosi remaja bagian dari kesehatan
reproduksi
10 Perkembangan kepribadian remaja adalah bagian
dari kesehatan reproduksi

B. Sikap Remaja Tentang Kesehatan Reproduksi

Sangat Kurang
Tidak Sangat
No Pernyataan Tidak Setuju Setuju
Setuju Setuju
Setuju
1 Menjaga kesehatan reproduksi
dapat dilakukan dengan cara
berperilaku hidup sehat
2 Remaja tidak boleh melakukan
hubungan seks
3 Remaja harus menunggu
menikah sebelum melakukan
hubungan seksual
4 Aborsi/pengguguran
kandungan adalah perbuatan
yang merusak kesehatan
reproduksi
5 Remaja harus mengerti
tentang kesehatan reproduksi
6 Remaja menahan diri untuk
melawan dorongan seksual

7 Pembinaan kesehatan
reproduksi remaja
dilaksanakan terpadu lintas
program dan lintas sektoral

8 Setiap remaja berhak


mendapatkan informasi
kesehatan reproduksi didalam
sekolah
9 Menggunakan celana dalam
yang terlalu ketat tidak baik
bagi kesehatan reproduksi

10 Pendidikan tentang kesehatan


reproduksi perlu disampaikan
disekolah secara formal

C. Lingkungan Remaja Tentang Kesehatan Reproduksi

No Pertanyaan Ya Tidak
1 Keluarga adalah tempat pertama anda bercerita pada saat
mendapatkan haid/mimpi basah yang pertama kali

2 Apakah ayah/ibu anda pernah memberikan informasi tentang


bahaya seks pranikah pada anda

3 Apakah keluarga anda selalu mengizinkan anda keluar rumah


dengan bebas untuk bermain bersama teman anda

4 Apakah keluarga mau menjelaskan tentang kesehatan reproduksi

5 Apakah keluarga anda memperhatikan dan sering bertanya tentang


apa yang anda lakukan diluar rumah

6 Apakah keluarga anda mau membicarakan kesehatan reproduksi


bersama anda

7 Apakah teman anda suka membicarakan masalah seksual


pada saat bersama
8 Apakah anda mendengarkan saran tentang perlunya menjaga
kesehatan reproduksi dari teman
9 Apakah teman anda pernah memberitahu anda tentang
bahaya seks pranikah
10 Apakah teman anda pernah mengajak untuk berbuat sesuatu
yang dilarang oleh keluarga
11 Apakah teman anda pernah melarang anda untuk tidak
melakukan seks sebelum menikah
12 Apakah teman anda mau memberikan anda saran tentang
pentingnya menjaga kesehatan reproduksi
13 Apakah teman anda pernah menasehati anda jika anda
melakukan ciuman dengan pacar anda
14 Apakah teman anda mau menasehati anda jika anda ingin
melakukan aborsi
15 Apakah teman anda pernah memberikan nasehat untuk tidak
akan melakukan seks pranikah
16 Apakah teman anda pernah menawari anda untuk menonton
video atau gambar porno

D. Akses Informasi Tentang Kesehatan Reproduksi

No Pertanyaan Ya Tidak
1 Apakah anda pernah membaca tentang kesehatan reproduksi di
internet
2 Apakah anda pernah mengakses situs-situs porno
3 Apakah anda pernah membaca novel yang mengandung unsur
porno
4 Apakah anda pernah membaca tentang kesehatan reproduksi
dari buku
5 Apakah anda pernah mendengar tentang pembahasan
reproduksi di media elektronik
6 Apakah anda pernah mencari informasi yang merinci tentang
hal hal yang berkaitan kesehatan reproduksi
7 Apakah anda suka mengakses gambar-gambar porno dari
internet atau gadget
8 Apakah anda pernah membaca buku tentang perlunya menjaga
kesehatan reproduksi
9 Apakah anda pernah melihat iklan yang berkaitan dengan
kesehatan reproduksi
10 Apakah anda pernah mencari informasi tentang perubahan
bentuk fisik remaja

E. Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja

No Pernyataan Ya Tidak
1 Berperilaku hidup sehat adalah salah satu cara untuk menjaga
kesehatan reproduksi
2 Menggunakan celana dalam yang tidak terlalu ketat untuk
menjaga kesehatan reproduksi
3 Kehamilan diluar nikah merupakan dampak negatif dari
perilaku seks pranikah yang tidak bisa menjaga kesehatan
reproduksi
4 Aborsi adalah bentuk dari perilaku yang salah satu dari
buruknya kesadaran dalam perilaku kesehatan reproduksi
5 Masturbasi (onani) adalah salah satu bentuk perilaku yang salah
dalam kesehatan reproduksi
6 Remaja dilarang melakukan hubungan seks sampai telah
menikah
7 Perkembangan organ seksual mempunyai pengaruh kuat dalam
minat remaja terhadap lawan jenis
8 Dampak psikologis dari perilaku seksual pranikah pada remaja
diantaranya perasaan marah, takut, cemas, depresi, rendah diri,
bersalah dan berdosa
9 Mengendalikan emosi remaja adalah bentuk tindakan dari
kesehatan reproduksi
10 Remaja harus menahan diri untuk melawan dorongan seksual
Frequency Table
pertanyaan pengetahuan no.1

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid salah 58 51.8 51.8 51.8

benar 54 48.2 48.2 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan pengetahuan no.2

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid salah 64 57.1 57.1 57.1

benar 48 42.9 42.9 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan pengetahuan no.3

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid salah 70 62.5 62.5 62.5

benar 42 37.5 37.5 100.0

Total 112 100.0 100.0


pertanyaan pengetahuan no.1

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid salah 58 51.8 51.8 51.8

benar 54 48.2 48.2 100.0

pertanyaan pengetahuan no.4

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid salah 74 66.1 66.1 66.1

benar 38 33.9 33.9 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan pengetahuan no.5

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid salah 68 60.7 60.7 60.7

benar 44 39.3 39.3 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan pengetahuan no.6

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid salah 70 62.5 62.5 62.5

benar 42 37.5 37.5 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan pengetahuan no.7

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid salah 67 59.8 59.8 59.8

benar 45 40.2 40.2 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan pengetahuan no.8

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid salah 67 59.8 59.8 59.8

benar 45 40.2 40.2 100.0


pertanyaan pengetahuan no.1

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid salah 58 51.8 51.8 51.8

benar 54 48.2 48.2 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan pengetahuan no.9

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid salah 64 57.1 57.1 57.1

benar 48 42.9 42.9 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan pengetahuan no.10

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid salah 56 50.0 50.0 50.0

benar 56 50.0 50.0 100.0

Total 112 100.0 100.0

pengetahuan total kelompok

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid <5 buruk 79 70.5 70.5 70.5

>5 baik 33 29.5 29.5 100.0

Total 112 100.0 100.0


pertanyaan sikap no.1

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid sangat tidak setuju 20 17.9 17.9 17.9

tidak setuju 44 39.3 39.3 57.1

kurang setuju 37 33.0 33.0 90.2

setuju 6 5.4 5.4 95.5

sangat setuju 5 4.5 4.5 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan sikap no.2

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid sangat tidak setuju 2 1.8 1.8 1.8

tidak setuju 63 56.3 56.3 58.0

kurang setuju 34 30.4 30.4 88.4

setuju 7 6.3 6.3 94.6

sangat setuju 6 5.4 5.4 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan sikap no.3

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid sangat tidak setuju 5 4.5 4.5 4.5

tidak setuju 70 62.5 62.5 67.0

kurang setuju 20 17.9 17.9 84.8

setuju 11 9.8 9.8 94.6

sangat setuju 6 5.4 5.4 100.0

Total 112 100.0 100.0


pertanyaan sikap no.4

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid sangat tidak setuju 6 5.4 5.4 5.4

tidak setuju 67 59.8 59.8 65.2

kurang setuju 20 17.9 17.9 83.0

setuju 15 13.4 13.4 96.4

sangat setuju 4 3.6 3.6 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan sikap no.5

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid sangat tidak setuju 38 33.9 33.9 33.9

tidak setuju 14 12.5 12.5 46.4

kurang setuju 40 35.7 35.7 82.1

setuju 9 8.0 8.0 90.2

sangat setuju 11 9.8 9.8 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan sikap no.6

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid sangat tidak setuju 9 8.0 8.0 8.0

tidak setuju 34 30.4 30.4 38.4

kurang setuju 58 51.8 51.8 90.2

setuju 8 7.1 7.1 97.3

sangat setuju 3 2.7 2.7 100.0

Total 112 100.0 100.0


pertanyaan sikap no.7

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid sangat tidak setuju 12 10.7 10.7 10.7

tidak setuju 65 58.0 58.0 68.8

kurang setuju 17 15.2 15.2 83.9

setuju 11 9.8 9.8 93.8

sangat setuju 7 6.3 6.3 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan sikap no.8

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid sangat tidak setuju 14 12.5 12.5 12.5

tidak setuju 67 59.8 59.8 72.3

kurang setuju 13 11.6 11.6 83.9

setuju 9 8.0 8.0 92.0

sangat setuju 9 8.0 8.0 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan sikap no.9

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid sangat tidak setuju 37 33.0 33.0 33.0

tidak setuju 42 37.5 37.5 70.5

kurang setuju 17 15.2 15.2 85.7

setuju 8 7.1 7.1 92.9


pertanyaan sikap no.7

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid sangat tidak setuju 12 10.7 10.7 10.7

tidak setuju 65 58.0 58.0 68.8

kurang setuju 17 15.2 15.2 83.9

setuju 11 9.8 9.8 93.8

sangat setuju 7 6.3 6.3 100.0

sangat setuju 8 7.1 7.1 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan sikap no.10

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid sangat tidak setuju 36 32.1 32.1 32.1

tidak setuju 29 25.9 25.9 58.0

kurang setuju 33 29.5 29.5 87.5

setuju 4 3.6 3.6 91.1

sangat setuju 10 8.9 8.9 100.0

Total 112 100.0 100.0

sikap total kelompok

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid <20 buruk 85 75.9 75.9 75.9

>20 baik 27 24.1 24.1 100.0


pertanyaan sikap no.10

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid sangat tidak setuju 36 32.1 32.1 32.1

tidak setuju 29 25.9 25.9 58.0

kurang setuju 33 29.5 29.5 87.5

setuju 4 3.6 3.6 91.1

sangat setuju 10 8.9 8.9 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan lingkungan no.1

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 64 57.1 57.1 57.1

ya 48 42.9 42.9 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan lingkungan no.2

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 61 54.5 54.5 54.5

ya 51 45.5 45.5 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan lingkungan no.3

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 78 69.6 69.6 69.6

ya 34 30.4 30.4 100.0

Total 112 100.0 100.0


pertanyaan lingkungan no.4

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 84 75.0 75.0 75.0

ya 28 25.0 25.0 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan lingkungan no.5

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 82 73.2 73.2 73.2

ya 30 26.8 26.8 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan lingkungan no.6

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 73 65.2 65.2 65.2

ya 39 34.8 34.8 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan lingkungan no.7

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 79 70.5 70.5 70.5

ya 33 29.5 29.5 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan lingkungan no.8

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 68 60.7 60.7 60.7

ya 44 39.3 39.3 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan lingkungan no.9

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 67 59.8 59.8 59.8


pertanyaan lingkungan no.4

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 84 75.0 75.0 75.0

ya 28 25.0 25.0 100.0

ya 45 40.2 40.2 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan lingkungan no.10

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 71 63.4 63.4 63.4

ya 41 36.6 36.6 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan lingkungan no.11

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 62 55.4 55.4 55.4

ya 50 44.6 44.6 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan lingkungan no.12

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 59 52.7 52.7 52.7

ya 53 47.3 47.3 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan lingkungan no.13

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 67 59.8 59.8 59.8

ya 45 40.2 40.2 100.0

Total 112 100.0 100.0


pertanyaan lingkungan no.10

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 71 63.4 63.4 63.4

ya 41 36.6 36.6 100.0

pertanyaan lingkungan no.14

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 65 58.0 58.0 58.0

ya 47 42.0 42.0 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan lingkungan no.15

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 53 47.3 47.3 47.3

ya 59 52.7 52.7 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan lingkungan no.16

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 47 42.0 42.0 42.0

ya 65 58.0 58.0 100.0

Total 112 100.0 100.0

Lingkungan total kelompok

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid <8 buruk 84 75.0 75.0 75.0

> 8 baik 28 25.0 25.0 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan informasi no.1

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 69 61.6 61.6 61.6

ya 43 38.4 38.4 100.0


pertanyaan lingkungan no.10

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 71 63.4 63.4 63.4

ya 41 36.6 36.6 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan informasi no.2

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 75 67.0 67.0 67.0

ya 37 33.0 33.0 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan informasi no.3

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 61 54.5 54.5 54.5

ya 51 45.5 45.5 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan informasi no.4

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 60 53.6 53.6 53.6

ya 52 46.4 46.4 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan informasi no.5

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 65 58.0 58.0 58.0

ya 47 42.0 42.0 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan informasi no.6

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent


pertanyaan informasi no.5

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 65 58.0 58.0 58.0

ya 47 42.0 42.0 100.0

Valid tidak 69 61.6 61.6 61.6

ya 43 38.4 38.4 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan informasi no.7

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 65 58.0 58.0 58.0

ya 47 42.0 42.0 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan informasi no.8

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 70 62.5 62.5 62.5

ya 42 37.5 37.5 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan informasi no.9

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 68 60.7 60.7 60.7

ya 44 39.3 39.3 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan informasi no.10

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 67 59.8 59.8 59.8

ya 45 40.2 40.2 100.0

Total 112 100.0 100.0


informasi total kelompok

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid <5 buruk 75 67.0 67.0 67.0

>5 baik 37 33.0 33.0 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan kesehatan reproduksi no.1

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 62 55.4 55.4 55.4

ya 50 44.6 44.6 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan kesehatan reproduksi no.2

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 59 52.7 52.7 52.7

ya 53 47.3 47.3 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan kesehatan reproduksi no.3

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 67 59.8 59.8 59.8

ya 45 40.2 40.2 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan kesehatan reproduksi no.4

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 65 58.0 58.0 58.0

ya 47 42.0 42.0 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan kesehatan reproduksi no.5

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 53 47.3 47.3 47.3


informasi total kelompok

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid <5 buruk 75 67.0 67.0 67.0

>5 baik 37 33.0 33.0 100.0

ya 59 52.7 52.7 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan kesehatan reproduksi no.6

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 64 57.1 57.1 57.1

ya 48 42.9 42.9 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan kesehatan reproduksi no.7

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 70 62.5 62.5 62.5

ya 42 37.5 37.5 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan kesehatan reproduksi no.8

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 74 66.1 66.1 66.1

ya 38 33.9 33.9 100.0

Total 112 100.0 100.0

pertanyaan kesehatan reproduksi no.9

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 70 62.5 62.5 62.5

ya 42 37.5 37.5 100.0

Total 112 100.0 100.0


pertanyaan kesehatan reproduksi no.6

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 64 57.1 57.1 57.1

ya 48 42.9 42.9 100.0

pertanyaan kesehatan reproduksi no.10

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid tidak 73 65.2 65.2 65.2

ya 39 34.8 34.8 100.0

Total 112 100.0 100.0

kespro total kelompok

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid <5 buruk 81 72.3 72.3 72.3

> 5 baik 31 27.7 27.7 100.0

Total 112 100.0 100.0

Crosstabs
pengetahuan total kelompok * kespro total kelompok
Crosstab

kespro total
kelompok

<5 buruk > 5 baik Total

pengetahuan total <5 buruk Count 73 6 79


kelompok
% within pengetahuan 92.4% 7.6% 100.0%
total kelompok

% of Total 65.2% 5.4% 70.5%

>5 baik Count 8 25 33

% within pengetahuan 24.2% 75.8% 100.0%


total kelompok

% of Total 7.1% 22.3% 29.5%


Total Count 81 31 112

% within pengetahuan 72.3% 27.7% 100.0%


total kelompok

% of Total 72.3% 27.7% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)

Pearson Chi-Square 54.026a 1 .000

Continuity Correctionb 50.675 1 .000

Likelihood Ratio 53.117 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear 53.544 1 .000


Association

N of Valid Cases 112

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.13.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for pengetahuan total 38.021 12.017 120.297


kelompok (<5 buruk / >5 baik)

For cohort kespro total kelompok 3.812 2.078 6.990


= <5 buruk

For cohort kespro total kelompok .100 .045 .222


= > 5 baik

N of Valid Cases 112


sikap total kelompok * kespro total kelompok
Crosstab

kespro total kelompok

<5 buruk > 5 baik Total

sikap total kelompok <20 buruk Count 77 8 85

% within sikap total 90.6% 9.4% 100.0%


kelompok

% of Total 68.8% 7.1% 75.9%

>20 baik Count 4 23 27

% within sikap total 14.8% 85.2% 100.0%


kelompok

% of Total 3.6% 20.5% 24.1%

Total Count 81 31 112

% within sikap total 72.3% 27.7% 100.0%


kelompok

% of Total 72.3% 27.7% 100.0%


Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)

Pearson Chi-Square 58.774a 1 .000

Continuity Correctionb 55.050 1 .000

Likelihood Ratio 56.450 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear 58.250 1 .000


Association

N of Valid Cases 112

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
7.47.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for sikap total 55.344 15.274 200.534


kelompok (<20 buruk / >20 baik)

For cohort kespro total 6.115 2.469 15.147


kelompok = <5 buruk

For cohort kespro total .110 .056 .218


kelompok = > 5 baik

N of Valid Cases 112


Lingkungan total kelompok * kespro total kelompok
Crosstab

kespro total
kelompok

<5 buruk > 5 baik Total

Lingkungan total <8 Count 69 15 84


kelompok buruk
% within Lingkungan 82.1% 17.9% 100.0%
total kelompok

% of Total 61.6% 13.4% 75.0%

> 8 baik Count 12 16 28

% within Lingkungan 42.9% 57.1% 100.0%


total kelompok

% of Total 10.7% 14.3% 25.0%

Total Count 81 31 112

% within Lingkungan 72.3% 27.7% 100.0%


total kelompok

% of Total 72.3% 27.7% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)

Pearson Chi-Square 16.191a 1 .000

Continuity 14.288 1 .000


b
Correction

Likelihood Ratio 15.064 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear 16.047 1 .000


Association

N of Valid Cases 112


a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count
is 7.75.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for Lingkungan total 6.133 2.411 15.604


kelompok (<8 buruk / > 8 baik)

For cohort kespro total kelompok = <5 1.917 1.235 2.974


buruk

For cohort kespro total kelompok = > 5 .313 .179 .547


baik

N of Valid Cases 112

informasi total kelompok * kespro total kelompok


Crosstab

kespro total
kelompok

<5 buruk > 5 baik Total

informasi total <5 buruk Count 68 7 75


kelompok
% within informasi total 90.7% 9.3% 100.0%
kelompok

% of Total 60.7% 6.3% 67.0%

>5 baik Count 13 24 37

% within informasi total 35.1% 64.9% 100.0%


kelompok

% of Total 11.6% 21.4% 33.0%

Total Count 81 31 112


% within informasi total 72.3% 27.7% 100.0%
kelompok

% of Total 72.3% 27.7% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)

Pearson Chi-Square 38.169a 1 .000

Continuity 35.446 1 .000


b
Correction

Likelihood Ratio 37.636 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear 37.828 1 .000


Association

N of Valid Cases 112

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 10.24.

b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for informasi 17.934 6.403 50.233


total kelompok (<5 buruk /
>5 baik)

For cohort kespro total 2.581 1.656 4.022


kelompok = <5 buruk
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)

Pearson Chi-Square 38.169a 1 .000

Continuity 35.446 1 .000


b
Correction

Likelihood Ratio 37.636 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear 37.828 1 .000


Association

N of Valid Cases 112

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected
count is 10.24.

For cohort kespro total .144 .068 .303


kelompok = > 5 baik

N of Valid Cases 112

Logistic Regression
Dependent Variable Encoding

Original
Value Internal Value

<5 buruk 0

> 5 baik 1
Block 0: Beginning Block
Classification Tablea,b

Predicted

kespro total kelompok


Percentage
Observed <5 buruk > 5 baik Correct

Step 0 kespro total kelompok <5 buruk 81 0 100.0

> 5 baik 31 0 .0

Overall Percentage 72.3

a. Constant is included in the model.

b. The cut value is .500

Variables in the Equation

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)

Step 0 Constant -.960 .211 20.682 1 .000 .383

Variables not in the Equation

Score df Sig.

Step 0 Variables PtotK 54.026 1 .000

StotK 58.774 1 .000

LtotK 16.191 1 .000

iTotK 38.169 1 .000

Overall Statistics 68.159 4 .000

Block 1: Method = Enter


Omnibus Tests of Model Coefficients

Chi-square df Sig.

Step 1 Step 71.854 4 .000

Block 71.854 4 .000

Model 71.854 4 .000

Model Summary

Cox & Snell R Nagelkerke R


Step -2 Log likelihood Square Square

1 60.281a .474 .684

a. Estimation terminated at iteration number 6 because parameter


estimates changed by less than .001.

Classification Tablea

Predicted

kespro total kelompok


Percentage
Observed <5 buruk > 5 baik Correct

Step 1 kespro total kelompok <5 buruk 77 4 95.1

> 5 baik 6 25 80.6

Overall Percentage 91.1

a. The cut value is .500

Variables in the Equation

95% C.I.for EXP(B)

B S.E. Wald df Sig. Exp(B) Lower Upper

Step 1a PtotK 5.428 .939 2.312 1 .013 48.172 5.662 226.301

StotK 2.526 1.029 6.022 1 .014 12.499 1.663 93.948

LtotK -.374 .867 .186 1 .034 .688 .126 3.762

iTotK 2.361 .816 8.369 1 .004 10.602 2.141 52.487

Constant -9.227 1.610 32.838 1 .000 .000

a. Variable(s) entered on step 1: PtotK, StotK, LtotK, iTotK.


Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper

Odds Ratio for informasi total 17.934 6.403 50.233


kelompok (<5 buruk / >5 baik)

For cohort kespro total kelompok 2.581 1.656 4.022


= <5 buruk

For cohort kespro total kelompok .144 .068 .303


= > 5 baik

N of Valid Cases 112

Anda mungkin juga menyukai