Anda di halaman 1dari 11

Lampiran Nota : Dinas Persyarat K3 dan

Pengelolan Lingkunga Pendirian SPBU Nomor :


Nomor :
Tanggal : 29 Maret 2019
PENDAHULUAN

Kebakaran yang terjadi di SPBU merupakan suatu hal yang paling sering kita
saksikan atau dengar walaupun belum ada data akurat mengenai frekuensi kejadian
kebakaran namun dapat disimpulkan bahwa resiko kejadian kebakaran di SPBU sangatlah
besar. Seperti kejadian kebakaran 29 Agustus 2014 yang terjadi di SPBU Pertamina di Sentul
City yaitu tiga orang mengalami luka bakar dan dilarikan ke Rumah Sakit karena mengalami
luka bakar dan kerugian material yang mencapai miliaran rupiah yang ditimbulkan oleh
kebakaran tersebut dan contoh lain SPBU apung di Sungai Musi Kecamatan Mariana
Banyuasin Sumatera Selatan meledak. Akibat kejadian satu orang tewas dan lima lainnya
mengalami luka bakar serius. Sehingga bahaya kebakaran harus dikelola dengan baik dan
secara terencana dengan menerapkan sistem manajemen kebakaran yang baik.
Kebakaran adalah suatu nyala api baik kecil ataupun besar pada tempat, situasi dan
waktu yang tidak kita kehendaki,sangat merugikan dan pada umumnya sulit untuk
dikendalikan. Mengelola kebakaran bukan sekedar menyediakan alat-alat pemadam, atau
melakukan latihan pemadaman secara berkala setahun sekali, namun memerlukan program
terencana dalam suatu sistem yang disebut sistem manajemen kebakaran.
Disamping itu rencana pemeliharaan yang cermat dan teratur terhadap peralatan
operasional yang memiliki potensi bahan bakar, dan sumber penyalaan sangat diperlukan
sehingga kerusakan peralatan tersebut dapat diketahui secara dini dan perawatan bisa
dilakukan secara terencana. Pemeriksaan rutin peralatan pemadam kebakaran juga hal yang
sangat penting dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menghindari malfunction alat pemadam api
pada saat dibutuhkan.
Kebakaran perusahaan merupakan sesuatu hal yang sangat tidak diinginkan. Bagi
tenaga kerja, kebakaran perusahaan dapat merupakan penderitaan dan malapetaka khususnya
terhadap mereka yang tertimpa kecelakaan dan dapat berakibat kehilangan pekerjaan,
sekalipun mereka tidak menderita cidera.
Berikut dampak yang dapat diakibatkan oleh kebakaran tersebut sendiri :
1. Kerugian material dan korban jiwa yang tidak sedikit.
2. Kesan tidak terjaminya keselamatan kerja di tempat-tempat kerja.
3. Pengaruh psycologis yang dapat mengurangi semangat kerja karyawan yang merugikan
pembangunan sektor industri pada umumnya.
Sehingga sudah menjadi kewajiban bagi suatu perusahaan untuk mengupayakan
terciptanya tempat kerja yang aman dan melakukan upaya-upaya pencegahan terjadinya
kecelakaan dan bencana serta memberikan kesempatan/jalan menyelamatkan diri pada waktu
kebakaran atau kejadian kejadian yang berbahaya sesuai dengan regulasi :
 UU No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pada BAB II pasal 3 ayat 1 huruf d dan
e.
 PP no 67 tahun 2002 tentang badan pengatur dan pendistribusian bahan bakar minyak dan
kegiatan pengangkutan gas melalui pipa.
 Peraturan menteri pekerjaan umum no.26/PRT/M/2008 tentang persyaratan teknis system
proteksi kebakaran pada bangunan,gedung dan lingkungan.
 Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum no 11/KPTS/2000 serta ketentuan teknis
manajemen penanggulangan kebakaran di perkotaan.

1
I. SARANA DAN PRASARANA SPBU
Persyarat yang harus dipenuhi mendirikan SPBU Pertamina (Sumber : SPBU.
Pertamina.com)

1. Foto copy Kartu Tanda Penduduk pemilik ataupun pimpinan badan usaha
atau perusahaan persekutuan.
2. Biodata perusahaan atau akta pendirian perusahaan untuk badan usaha
3. Lay out bangunan SPBU dan juga konfigurasi SPBU yang akan dibangun
4. Peta lokasi dengan skala 1:10.000 atau lebih besar dari itu dan juga peta topografi atau
rupa bumi dengan skala 1:25.000 yang menunjukan titik dari lokasi rencana pembanguna
SPBU
5. Data kapasitas penyimpanan dna juga perkiraan peyaluran BBM
6. Data inventarisasi peralatan dan juga fasilitas yang akan dipakai
7. Rekomendasi dari penyedia BBM yang ditunjuk atau sudah diakui pemerintah dengan
dilampiri salina atau copy kontrak
8. Foto copy izin yang diperuntukan penggunaan tanah sesuai dengan skala dari kegiatan
9. Foto copy ijin gangguan
10. Foto copy ijin mendirikan bangunan Foto copy ijin rimbun tangki dari instasi yang
berwenang
11. Foto copy ijin peruntukan penggunaan tanah yang sesiao dengan skala kegiatan
12. Dokumen pengelolaan lingkungan hidup yang sesuai dengan skala kegiatan dan Izin
Lingkungan
13. Foto copy surat ijin pembangunan SPBU dari Jasa marga khusus untuk pendaftar yang
mempunyai lokasi di area jalan tol
14. Nama Kelurahan di sertifikat tanah haruslah sesuai dengan lokasi dari pendirian SPBU
yang sudah didaftarkan
15. Bukti pengesahan meter pompa SPBU dari instasi yang berwenang

Adapun sarana dan prasarana yang harus dimiliki oleh SPBU terkait dengan Keselamatan
Kesehatan Kerja / K3 dan Pengelolan Lingkungan (Sumber : SPBU. Pertamina.com) yaitu :

1. Sarana pemadam kebakaran:


 Sesuai dengan pedoman PT. Pertamina.
2. Sarana lindungan lingkungan:
 Instalasi pengolahan limbah.
 Instalasi oil catcher dan well catcher:
Saluran yang digunakan untuk mengalirkan minyak yang tercecer di area SPBU
kedalam tempat penampungan.
 Instalasi sumur pantau:
Sumur pantau dibutuhkan untuk memantau tingkat polusi terhadap air tanah di sekitar
bangunan SPBU yang disebabkan oleh kegiatan usaha SPBU.
 Saluran bangunan/drainase sesuai dengan pedoman PT. Pertamina.
3. Sistem Keamanan:
 Memiliki pipa ventilasi tangki pendam
 Memiliki ground point/strip tahan karat
 Memiliki dinding pembatas/pagar pengaman
 Terdapat rambu-rambu tanda peringatan.
4. Sistem Pencahayaan:
 SPBU memiliki lampu penerangan yang menerangi seluruh area dan jalur

2
pengisian BBM.
 Papan penunjuk SPBU sebaiknya berlampu agar keberadaan SPBU mudah dilihat
oleh pengendara. Peralatan dan kelengkapan filling BBM sesuai dengan standar
PT. Pertamina.
5. Security Tugas dan tanggung jawabnya :
 Menjaga keamanan dan ketertiban SPBU
 Mengawasi kelangsungan penjualan BBM kepada konsumen
 Bertanggung jawab kepada kepala SPBU

II. SARANA DAN PRASARANA STASIUN PENGISIAN BAHAN BAKAR


UMUM

Untuk melaksanakan kegiatan operasionalnya maka SPBU dilengkapi dengan


prasarana dan prasarana utama sebagai berikut :
1. Tanki timbun bawah tanah
Persyaratan tanki timbun bawah tanah mengikuti standard (iii) standards association
of Australia (1962) steel tank for the storage and flammable and combustible liquid

Gambar : tanki timbun

2. Jalur Pemipaan
Jalur pemipaan dari tangki timbun menuju ke unit dispenser sesuai dengan
persyaratan international, disesuaikan dengan tekanan kerja temperature dan tekanan
struktur.

Gambar : Jalur pemipaan

3
3. Mesin Dispenser
Unit dispenser disediakan untuk zona bahaya Api dan ledakan.

Gambar : Mesin Dispenser


4. Instalasi Listrik
Semua peralatan dan jaringan listrik yang digunakan di SPBU haruslah sesuai dengan
standar PUIL 2000 tentang listrik.

Gambar :Instalasi listrik


5. Bangunan SPBU
Konstruksi bangunan SPBU disesuaikan dengan bangunan standar.

Gambar :Stasiun bangunan SPBU

6. Peralatan Proteksi Kebakaran


Peralatan Proteksi Kebakaran yang harus disediakan di SPBU adalah sebagai berikut:
- Alat Pemadam Api Ringan

4
- Hose reels

- Absorbent berupa Pasir

- Hidran

5
- Kotak Alat Pelindung Diri Dari Kebakaran

Kegiatan Operasional Stasiun Pengisisan Bahan Bakar Umum.


Kegiatan operasional yang utama yang dilakukan di SPBU adalah sebagai berikut :
1. Pembongkaran BBM dari truk ke tanki timbunan
2. Penyimpanan BBM dalam tanki timbun
3. Penyaluran BBM dari tanki timbun ke area pelayanan
4. Pelayanan pengisian BBM ke kendaraan Pelanggan

Konsep Kebakaran dan Ledakan


Peristiwa terbakar adalah suatu reaksi yang hebat dari zat yang mudah terbakar dengan
zat asam. Reaksi kimia yang terjadi bersifat mengeluarkan panas.Pada berberapa zat, reaksi
tersebut mungkin terjadi pada suhu udara biasa. Namun pada umumnya reaksi tersebut
berlangsung sangat lambat dan panas yang ditimbulkannya hilang ke sekeliling.(Suma’mur,
1996)
Dasar teori yang digunakan untuk menjelaskan terjadinya ledakan adalah konsep
segitiga api menurut teori tersebut terjadinya kebakaran atau ledakan maka diperlukan tiga
syarat :
1. Bahan mudah terbakar (flammable substance) harus berada jumlah yang cukup untuk
menghasilkan campuran yang dapat tersulut atau meledak.
2. Pengoksidasi (oksidator) harus berada dalam jumlah yang cukup bersama bahan yang
mudah terbakar untuk mendapatkan campuran yang dapat meledak.
3. Sumber Pemantik (ignition) harus ada penyulut atau panas.
Ketiga elemen diatas menjadi syarat utama terjadinya kebakaran atau ledakan.jika
salah satu dari ketiga elemen yang dihilangkan dari proses proses tersebut maka tidak terjadi
kebakaran atau ledakan.

6
Gambar : Segitiga Api
bahan mudah terbakar (flammable substance) dapat dibagi menjadi 3 kelompok :
- Gas mudah terbakar
- Cairan mudah terbakar
- Padatan mudah terbakar

Proses Identifikasi pekerjaan yang dapat menyebabkan bahaya kebakaran di tempat


kerja khususnya:
1. Pemindaian BBM dari mobil tanki ke tanki timbun berada pada zona 1 resiko bahaya
kebakaran lebih besar.

Gambar : SOP pemindaian BBM dari mobil ke tanki pendam


Jenis sumber bahaya kebakaran dapat muncul dari :
- Tanki mobil
- Operator pemindah BBM
- Slang yang digunakan
- Pemasangan kerang pemindah yang tidak rapat
Jenis Antisipasi
- Menyediakan APAR khusus untuk menangkal terjadinya resiko kebakaran pada saat
pengisian BBM adalah APAR jenis tepung kimia,karena sesuai dengan bahaya yang
muncul seperti kebakaran pada kendaraan.
- Menggunakan pakaian safety ketika melakukan pemindaian BBM
- Supervisor melakukan identifikasi bahaya dan pengecekan sebelum dan selama proses
pemindaian BBM berjalan.

2. Pemindaian BBM dari dispenser ke Pengguna, berada pada zona 1 dimana resiko bahaya
lebih besar.

7
Gambar : Pengisian BBM ke Kendaraan Pelanggan

Jenis sumber bahaya kebakaran yang dapat muncul karena :


- Kelalaian Operator
- Pengguna tidak mematikan mesin pada saat mengisi BBM
- Radiasi HandPhone yang menjadi pemantik
- Pelanggan yang merokok

Jenis Antisipasi :
- Penempatan APAR dekat dengan dispenser pengisisan,yang dapat dijangkau oleh
operator pengisian BBM.APAR yang digunakan adalah
Bubuk kimia karena dapat efektif untuk memadamkan kebakaran kendaraan,selain itu
dapat juga menggunakan Pasir sebagai absorbent dalam mengurangi intensitas api.
- Memasang poster peringatan untuk pengguna,pembeli BBM.
- Memberikan pelatihan khusus terhadap karyawan tentang pencegahan kebakaran
secara cepat dan tepat.

3. Jenis Kebakaran Karena Listrik,berada pada zona 2 zona berbahaya

Gambar : Instalasi Listrik

Jenis sumber bahaya kebakaran yang dapat muncul karena :

- Hubungan arus pendek


- Penggunaan alat elektronik

8
Jenis Antisipasi :

- Penggunaan APAR untuk mengantisipasi kebakaran khususnya Dry chemical untuk


peralatan listrik
- Pemeriksaan berkala untuk alat listrik
- Pemberian informasi untuk panel listrik
- Menghubungi PLN jika terjadi kerusakan instalasi listrik.

4. Bahaya ledakan untuk tabung compressor,berada pada zona 2 zona bahaya.

Gambar : Kompressor pengisian angin

Jenis sumber bahaya ledakan yang dapat muncul karena :


- Jika terjadi kebakaran maka akan disrtai ledakan oleh kompressor tersebut

Jenis Antisipasi :
- Penggunaan komprsessor harus selalu dilakukan pengawasan oleh supervisor
- Pemberian informasi untuk barang mudah meledak
- Melakukan penempatan pada posisi jauh dari dispenser dan tabung pendam

Setelah melakukan identifikasi bahaya maka selanjutnya dilakukan pengendalian resiko :

1. Mengelompokkan jenis bahaya dan penanggulangannya.


2. Membuat check list untuk SOP yang dipatuhi dan diabaikan
3. Membuat JSA atau JSO untuk identifikasi
4. Membuat evaluasi dan perencanaan untuk jenis temuan probabilitasnya banyak
muncul untuk pemicu kebakaran.

Konsep proteksi terhadap kebakaran dan ledakan

Konsep proteksi kebakaran dan ledakan dapat dibagi 2 yaitu konsep proteksi primer
dan proteksi sekunder.
Proteksi primer adalah semua tindakan yang mengacu kepada semua tindakan untuk
mencegah timbulnya explosive atmosphere,misalnya melalui :
 Menghilangkan penggunaan bahan mudah meledak (replacement technology)
 Deaktifasi (misalnya penambahan karbon dioxide )
 Membatasi konsentrasi bahan

9
 Pengaturan ventilasi baik alami maupun buatan.

Gambar : Proteksi Kebakaran dan ledakan

1. Perencanaan darurat kebakaran.

Pencegahan kebakaran dimulai sejak perencanaan kegiatan usaha. Suatu prinsip penting
pada semua perencanaan adalah tidak meluasnya kebakaran yang terjadi dan dimungkinkan untuk
penanggulangan kebakaran yang efektif. Pendekatannya dilakukan dengan penelahan secara
cermat atas bangunan menurut kegunaannya dan penentuan lokasi yang diperlukannya.
Bangunan-bangunan tersebut harus diatur letaknya sedemikian, sehingga aman dari kebakaran,
dan cukup jarak diantara satu dengan yang lainnya. Perlengkapan penanggulangan kebakaran
termasuk alat-alat pemadam kebakaran harus tersedia dengan memperhatikan ketentuan-
ketentuan yang berlaku.(Suma’mur, 1996)

2. Organisasi/Unit Penanggulangan Kebakaran.

Unit penanggulangan kebakaran ialah unit kerja yang dibentuk dan ditugasi untuk
menangani masalah penanggulangan kebakaran di tempat kerja yang meliputi kegiatan
administratif, identifikasi sumber-sumber bahaya, pemeriksaan, pemeliharaan dan perbaikan
sistem proteksi kebakaran.
(Kepmenaker RI, No: KEP-186/MEN/1999 )
Unit penanggulangan kebakaran terdiri dari :
a. Petugas peran penanggulangan kebakaran.
Petugas peran penanggulangan kebakaran adalah petugas yang ditunjuk dan diserahi
tugas tambahan untuk mengidentifikasi sumber bahaya dan melaksanakan upaya penanggulangan
kebakaran di unit kerjanya.
Tugas dari petugas peran kebakaran adalah :
1. Mengidentifikasi dan melaporkan tentang adanya faktor yang dapat menimbulkan bahaya
kebakaran.
2. Memadamkan kebakaran pada tahap awal.
3. Mengarahkan evakuasi orang dan barang.
4. Mengadakan koordinasi dengan instansi terkait.
5. Mengamankan lokasi kebakaran. (Kepmenaker RI, No: KEP-186/MEN/1999) Koordinator unit
penanggulangan kebakaran.

10
Koordinator unit penanggulangan kebakaran adalah ialah orang yang mempunyai tugas
memimpin langsung suatu tempat kerja atau bagiannya yang
berdiri sendiri.
Tugas dari koordinator unit penanggulangan kebakaran :
1. Memimpin penanggulangan kebakaran sebelum mendapat dari instansi yang
berwenang.
2. Menyusun program kerja dan kegiatan tentang cara penanggulangan kebakaran.
3. Mengusulkan anggaran, sarana dan fasilitas penanggulangan kebakaran kepada
pengurus. (Kepmenaker RI, No: KEP-186/MEN/1999 )

3. Jalur/Tempat Evakuasi.

Secara ideal, semua bangunan harus memiliki sekurang-kurangnya dua jalan penyelamat
diri pada dua arah yang bertentangan terhadap setiap kebakaran yang terjadi pada sembarangan
tempat dalam bangunan tersebut, sehingga tak seorang pun bergerak kearah api untuk
menyelamatkan diri. Jalan-jalan penyelamatan demikian harus dipelihara bersih, tidak terhalang
oleh barang barang, mudah terlihat dan di beri tanda tanda yang jelas. (Suma’mur, 1996)
Jauh maksimum jalan penyelamatan yang pada umumnya diterima adalah sekitar 40 m,
sekalipun pada bangunan-bangunan yang resiko kebakarannya kecil atas dasar sifat tahan api
jarak tersebut dapat diperbesar menjadi 50 m. Sebaliknya, manakala bahaya perembetan api
sangat cepat, jarak tersebut harus dikurangi, katakanlah menjadi menjad 30 m atau kurang dari
30m. Jarak tersebut harus diperhitungkan menurut keadaan sebenarnya dan tidak menurut garis
lurus sebagai akibat barang-barang atau hadangan yang ada. (Suma’mur, 1996)

4. Fasilitas dan Peralatan Dalam Kebakaran.

a. Sarana Komunikasi

Sarana komunikasi yang perlu dipersiapkan antara lain : alarm, radio panggil, telepon
genggam dengan satuan khusus dan lain-lain. Karena fungsinya yang sangat penting maka sarana
komunikasi harus selalu dirawat dan dijaga agar senantiasa berfungsi dengan baik dan dapat
dipakai secara terus menerus dengan efektif.
b. Alat pelindung diri
Alat pelindung diri harus ditempatkan di lokasi yang strategis bagi tim emergency,
tergantung pada bahan kimia yang ada tempat kerja sesuai dengan jenis kecelakaannya. Alat
pelindung meliputi alat bantu pernafasan dan saluran oksigen, baju tahan bahan kimia dan tahan
api,sarung tangan tahan api, sepatu boot. Alat pilindung tersebut selalu diperiksa dan di uji coba
secara rutin sehingga dapat pada saat dibutuhkan selalu siap. Sebelum digunakan perlu dilakukan
pengujian untuk mencoba peralatan tersebut sebelum keadaan darurat yangsebenarnya terjadi.
(Kuhre, 1996)

c. Peralatan Pemadam Kebakaran

Peralatan pemadam kebakaran seperti fire extinguiser (Alat Pemadam Api


Ringan/APAR), hidran, sprinkler, dan lain sebagainya harus tersedia di seluruh bagian pabrik dan
harus dicek secara teratur.
d. Peralatan medis
Tim emergency harus dilengkapi dengan peralatan medik untuk pertolongan darurat
seperti oksigen, alat resusitasi jantung dan paru, pembalut dan obat-obatan.

11