Anda di halaman 1dari 13

1

PEMANFAATAN PUPUK KANDANG DALAM LINGKUNGAN


PERKEBUNAN

PAPER

OLEH :
SEHAT BAHRIN PADANG / 080307012
YOPPI OPERASISCO G. / 080307016
AMRI PUTRA SEMBIRING / 080307019

MATA KULIAH INTEGERASI TERNAK DAN PERKEBUNAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010
2

PENDAHULUAN

Jumlah ternak ruminansia lokal Indonesia menurut laporan Direktorat

Jenderal Peternakan cukup besar yaitu 11,86 juta ekor yang dikelola sekitar 4,6

juta Rumah Tangga Peternak (RTP). Namun sampai saat ini hampir 42%

konsumsi daging dalam negeri masih diimpor. Diperkirakan pada tahun 2015, bila

tidak dilakukan upaya-upaya yang serius maka hampir 55% konsumsi daging sapi

masyarakat akan dibanjiri oleh produk bakalan impor dan daging impor.

Indonesia menghabiskan devisa sekitar 5,5 trilyun rupiah pada tahun 2008 untuk

mengimpor sapi bakalan 550.000 ekor, daging sapi beku dan jeroan sapi ribuan

ton (Eliantika, 2010).

Untuk mengurangi ketergantungan pada impor sapi potong, Departemen

Pertanian mengeksekusi program “Percepatan Pencapaian Swasembada Daging

Sapi (P2SDS)” dengan target pemenuhan kebutuhan daging pada 2010 secara

domestik sebesar 90 – 95%. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain dengan

mendistribusikan bibit sapi potong ke berbagai propinsi potensial untuk

dikembangkan secara intensif. Jadi jumlah sapi sebanyak itu dapat dipergunakan

kotorannya menjadi pupuk kandang, sehingga terjadi penghematan terhadap

pupuk anorganik. Mahalnya biaya pupuk anorganik merupakan salah satu biaya

yang paling besar yang mesti ditanggung oleh perkebunan

(Dirjen Peternakan, 2009).

Menurut Dirjen Peternakan (2009), secara garis besar integrasi terkait

dengan sistem produksi ternak dibagi menjadi dua sistem yaitu:


3

1. Sistem produksi berbasis ternak (solely livestock production system) yaitu

sekitar 90% bahan pakan dihasilkan dari on-farm-nya, sedangkan

penghasilan kegiatan non peternakan kurang dari 10%.

2. Sistem campuran (mix farming system) yaitu ternak memanfaatkan pakan

dari hasil sisa tanaman.

Dengan integrasi tersebut maka akan tercipta sentra pertumbuhan

peternakan baru dimana komoditi ternak dapat saja menjadi unggulan (solely) atau

komoditi ternak hanya sebagai penunjang (mix faming). Tetapi bisa saja terjadi,

ternak yang tadinya sebagai unsur penunjang kemudian secara bertahap menjadi

unsur utama atau sebalikya (Ishak, 2009)


4

KEUNTUNGAN PEMANFAATAN PUPUK KANDANG

Untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia, Urea, NPK yang harganya

mahal, dapat digunakan pupuk organik yang diperoduksi oleh pabrik yang

harganya juga tidak murah tapi penyuburan lahan pertanian secara organik dapat

dengan :

• Menggunakan pupuk alami dengan mengembangkan kombinasi

tanaman yang dapat berfungsi sebagai pupuk (semacam jenis

tanaman kacang-kacangan yang mampu menghasilkan butiran akar

yang mengandung nitrogen).

• Menggunakan pupuk organik lengkap yang dapat dibuat sendiri

dari berbagai kotoran ternak.

• Menggunakan pupuk organik majemuk buatan pabrik akan sangat

menentukan dalam mensukseskan pengembangan sistem pertanian

organik terpadu, khususnya dalam meningkatkan kondisi

kesuburan tanah.

(Adiwijoyo, 2005).

Keuntungan sistem integrasi tanaman – ternak adalah: (1) diversifikasi

penggunaan sumberdaya, (2) mengurangi resiko usaha, (3) efisiensi penggunaan

tenaga kerja, (4) efisiensi penggunaan input produksi, (5) mengurangi

ketergantungan energi kimia, (6) ramah lingkungan, (7) meningkatkan produksi,

dan (8) pendapatan rumah tangga petani yang berkelanjutan. Sistem integrasi

tanaman – ternak memadukan sistem usahatani tanaman dengan sistem usahatani


5

ternak secara sinergis sehingga terbentuk suatu sistem yang efektif, efisien dan

ramah lingkungan (Ishak, 2009).

Tujuan integrasi perkebunan dengan ternak sapi adalah selain

dimanfaatkan kotorannya sebagai pupuk kandang, juga untuk mendapatkan

produk tambahan yang bernilai ekonomis, peningkatan efisiensi usaha,

peningkatan kualitas penggunaan lahan, peningkatan kelenturan usaha

menghadapi persaingan global, dan menghasilkan lingkungan yang bersih dan

nyaman (Ishak, 2009).

Pada umumnya, menggunakan pupuk organik berupa kotoran ayam

dengan dosis 3 ton/Ha. Kotoran ayam ini sendiri harus didatangkan dari luar desa,

kecamatan bahkan luar kabupaten dengan harga bervariasi antara Rp 5.000 -

8.500 per zak tergantung jarak, kualitas dan waktu pembelian. Sementara petani

pada umumnya memelihara ternak sapi yang juga menghasilkan kotoran yang

belum dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan kotoran sapi sekitar 10-20

persen saja. Potensi ternak sapi untuk menghasilkan kotoran dalam bentuk kering

kira-kira 5 kg/ekor/hari. Jadi bila populasi ternak sapi di Tanah Laut sebesar

60.000 ekor maka dapat dihasilkan pupuk sebesar 300 ton/hari atau 108.000

ton/Ha. Jumlah ini dapat dimanfaatkan untuk memupuk tanaman seluas 36.000 Ha

dengan dosis 3 ton/Ha. Penggunaan kotoran sapi untuk pertanian selama ini

belum optimal hal ini disebabkan karena pada umumnya pemeliharaan ternak

dilakukan secara tradisional atau dilepas sehingga kesulitan dalam pengumpulan

kotoran. Untuk mengatasi kekurangan ini dapat dilakukan dengan cara

pengomposan atau fermentasi agar dihasilkan fine compost. Fermentasi itu sendiri

dapat dilakukan dengan menggunakan probiotik misalnya Stardec, EM 4 atau


6

produk lainnya. Produksi tanaman yang dihasilkan antara yang dipupuk dengan

menggunakan kotoran sapi dan kotoran ayam relatif tidak berbeda. Berdasarkan

ubinan diperoleh hasil antara 5 sampai 7,6 ton/Ha dengan rataan 6,3 ton.

Berdasarkan hasil analisis dengan produksi di atas diperoleh pendapatan sebesar

Rp 2 juta/Ha (http://kalsel.litbang.deptan.go.id., 2010).

Seekor sapi dapat menghasilkan kotoran sebanyak 8-10 kg setiap hari.

Apabila kotoran sapi ini diproses menjadi pupuk Organic dapat diharapkan akan

menghasilkan 4-5 kg per hari. Dengan demikian, pada luasan sawah satu hektar

dapat diharapkan akan menghasilkan sekitar 7,3 ton sampai dengan 11,0 ton

pupuk organic perhektar. Sementara itu, penggunaan pupuk organic pada lahan

persawahan adalah 2 ton perhektar untuk setiap kali tanam, sehingga potensi

pupuk organic yang ada dapat menunjang kebutuhan pupuk organic untuk 1,8 ha

sampai dengan 2,7 ha dengan dua kali tanam setahun

(http://sulsel.litbang.deptan.go.id, 2010).

Pemanfaatan kotoran sapi untuk usahatani tanaman dapat menghemat

biaya antara Rp 300.000-350.000/Ha. Potensi kotoran sapi yang besar inipun

merupakan peluang usaha yang dapat dilakukan oleh kelompok/koperasi atau

organisasi swasta lainnya, membuka lapangan kerja dan meningkatkan

pendapatan melalui proses pengomposan kotoran sapi menjadi fine compost.

Teknologi pakan lengkap memberikan pengaruh yang positif karena dapat

memacu pertumbuhan sapi dalam usaha penggemukan. Hal ini memberikan 2

peluang usaha yaitu untuk usaha penggemukan sapi dan usaha pembuatan pakan

lengkap sehingga membuka lapang pekerjaan (Eni Siti Rohaeni, Peneliti BPTP

Kalsel).
7

SIFAT DAN CIRI PUPUK KANDANG

Sifat dan ciri pupuk kandang ditentukan oleh berbagai faktor antara lain :

jenis ternak dan umurnya, makanan hewan ternak, hasil hewan ternak, jumlah dan

macam alas kandang, bentuk atau struktur kandang, dan tempat penyimpanan

pupuk.

Jenis hewan ternak mempengaruhi sifat dari pupuk atau kotoran yang

dihasilkannya. Hara yang terdapat dalam pupuk kandang rata-rata 0,5 % N,

0,25 % P2O5, dan 0,5% K2O, hewan yang masih muda dalam kotorannya masih

kurang terdapat zat-zat makanan tanaman dibandingkan dengan kotoran hewan

dewasa. Selain itu pupuk kandang juga mengandung unsur Ca , Mg, S, serta unsur

mikro. Kadar N dari bagian cair pupuk lebih tinggi dari kadar N dari bagian padat

pupuk. Kadar fosfat sebagian lebih besar terdapat pada bagian pupuk padat dan

urine tidak banyak mengandung fosfat.

Bahan pakan yang berasal dari biji akan menghasilkan nilai dan sifat

pupuk kandang yang berbeda dengan pakan rumput atau sagu. Pakan yang berasal

dari biji lebih banyak mengandung unsur P dan protein. Kadar N, P. dan K

kotoran ternak pedaging sedikit lebih tinggi daripada ternak perah.

Kandang ternak yang tertutup menguntungkan karena dapat mengurangi

pembentukan dan penguapan NH3. Kotoran padat dan cair tercampur. Kandang

terbuka, kotoran padat dan cair terpisah. Pada jenis kandang lepas kotoran padat

juga bercampur dengan kotoran cair dan sisa-sisa makanan. Dan kandang tingkat

bertutup kandang penuh dengan rongga yang memungkinkan kotoran jatuh ke

lantai paling bawah.


8

Untuk memperoleh pupuk kandang yang baik, maka seharusnya pupuk

kandang disimpan pada tempat yang memenuhi syarat. Untuk itu penyimpanan

pupuk kandang dapat secara tercampur atau terpisah. Untuk mengurangi

kehilangan ammonia biasanya tumpukan pupuk padat dilindungi dengan selapis

tanah karena dapat mengikat ammonia ( Damanik, dkk., 2010).

.
9

JENIS PUPUK KANDANG YANG DAPAT DIMANFAATKAN

Jenis pupuk kandang yang dimaksudkan disini berdasarkan atas jenis

ternak atau hewan yang menghasilkan kotoran yang umum terdapat diperkebunan,

yaitu : pupuk kandang sapi dan kerbau, pupuk kandang kuda dan pupuk kandang

kambing atau domba.

1. Pupuk kandang sapi dan kerbau

Pupuk ini termasuk pupuk dingin, karena perubahan yang ditimbulkan

oleh jasad renik berlangsung perlahan-lahan dan tidak banyak menghasilkan

panas. Unsur hara tanaman dilepaskan secara berangsur-angsur oleh karena itu

kerjanya lambat. Hal ini disebabkan oleh kotoran padatnya banyak mengandung

air dan lendir.

2. Pupuk kandang kuda

Termasuk pupuk panas. Jika pupuk kotoran kuda dicampur dengan

kotoran sapi atau kerbau, maka penguraiannya akan menjadi lambat sedangkan

kotoran sapi dan kerbau dipercepat. Kotoran kuda terutama bentuk cairnya banyak

mengandung senyawa N, sehingga memungkinkan giatnya perkembangan bakteri

dan jasad renik lain.

3. Pupuk kandang kambing atau domba

Kotoran kambing atau domba mempunyai banyak persamaan dan banyak

mengandung N. Kadar airnya lebih rendah dari kotoran sapi dan kerbau. Oleh

karena itu perubahan yang terjadi berlangsung cepat dan hampir sama dengan

kotoran kuda, sehingga digolongkan sebagai pupuk panas.


10

PEMBUATAN PUPUK KANDANG

1. Siapkan 300 kg kotoran hewan, 10 kg dedak, 200 kg sekam padi, 10

sendok makan gula dan 200 ml EM (effective microorganisme).

2. Larutkan EM dan gula dengan air secukupnya.

3. Campurkan kotoran hewan, sekam, dan dedak hingga rata.

4. siramkan larutan tersebut kedalam campuran kotoran hewan, dedak

dan sekam sampai rata hingga kandungan airnya mencapai 30% (kalau

digenggam air tidak keluar, jika genggaman dilepas campuran akan

mekar kembali).

5. Campuran ditumpuk diatas ubin kering setinggi 15-20 cm dan ditutup

dengan karung goni selama 3-4 hari. Pertahankan suhu antara 40-50

derajat celcius (bila terlalu panas cek suhu setiap pagi buka karung

penutupnya dan gundukan dibalik kemudian ditutup lagi).

6. Setelah 4 hari , proses fermentasi seleksi dan pupuk kotoran hewan

siap dipakai (Adiwijoyo, 2005).

IDE PEMANFAATAN

Selama ini pupuk kandang lebih dimanfaatkan sebagai pupuk dasar

sebelum tanaman ditanam dilahan. Namun pupuk kandang apabila telah dicampur

dengan mikroorganisme yang berguna (EM) dapat kita manfaatkan juga sebagai

pupuk susulan saat tanaman telah ditanam. Terlebih lagi apabila mikroorganisme

tersebut merupakan mikroorganisme penambat N, sehingga penggunaan pupuk N


11

anorganik dapat dikurangi bahkan dihilangkan. Perlu penelitian lebih lanjut agar

petani percaya terhadap keefektifan pupuk kandang tersebut.

Pupuk kandang juga dapat menigkatkan kesuburan lahan dan

meningkatkan kehidupan biologi tanah, seperti cacing, organisme penyubur tanah

dan bakteri penambat nitrogen juga dapat mengurangi penguapan dan menjaga

kelembaban tanah.

Dengan kemajuan teknologi dan rekayasa genetika, pupuk kandang dapat

dicampur dengan mikroorganisme yang bersifat parasit bagi patogen tanah,

mikroorganisme yang dapat menyerap dan memaksimalkan unsur hara.


12

KESIMPULAN

1. Potensi populasi ternak di Indonesia sangat potensial pemanfaatannya

sebagai penghasil pupuk kandang.

2. Pembuatan pupuk kandang sangat mudah dan sederhana.

3. Pupuk kandang dapat menggantikan pupuk anorganik.

4. Pupuk kandang dapat digunakan sebagai pupuk susulan.

5. Potensi pupuk kandang masih dapat dikembangkan lagi.


13

DAFTAR PUSTAKA

Adiwijoyo, S., 2005. Reformasi Bidang Pertanian. Pakar. Jakarta.

Damanik, M. M. B., Fauzi, Sarifuddin, H. Hanum., 2010. Kesuburan Tanah dan


Pemupukan. USU Press. Medan

Eliantika, E. F., 2010. Biogas Limbah Peternakan Sapi. Dikutip dari


http://www.tenangjaya.com/index.php/relevan-artikel/biogas-limbah-
peternakan-sapi.htm.

http://kalsel.litbang.deptan.go.id., 2010. Integerasi Ternak Dan Tanaman Pakan.


Dikutip dari http://kalsel.litbang.deptan.go.id/ind/index.php
option=com_content&view=article&id=39:integrasi-ternak-dengan
tanamanpangan&catid=14:alsin

http://sulsel.litbang.deptan.go.id ., 2010. Integerasi Padi dan ternak. Dikutip dari


http://sulsel.litbang.deptan.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=123:intergasi-padi-dan-
ternak&catid=47:panduanpetunjuk-teknis--brosur-&Itemid=53

Ishak, A., 2009. Sistem Integerasi Ternak dengan Tanaman Perkebunan. Dikutip
dari http://uripsantoso.wordpress.com/2009/11/30/sistem-integrasi-ternak-
dengan-tanaman-perkebunan/