Anda di halaman 1dari 6

Pentingnya Atmosfer Bumi

Manusia dapat bertahan sampai satu hari tanpa air di daerah gurun yang paling panas, tetapi tanpa udara manusia
hanya bertahan beberapa menit saja. Jadi Anda tentu bisa menyimpulkan sendiri betapa pentingnya udara bagi
kehidupan di bumi. Karena tanpa udara, maka manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan tidak dapat hidup. Udara
untuk kehidupan sehari-hari terdapat di atmosfer.
Struktur Lapisan Atmosfer

Gambar 1: Struktur Lapisan Atmosfer  (Annenberg, 2009)


Bumi yang kita huni ini terdiri dari tiga unsur: padat, cair, gas. Bumi padat disebut juga litosfer, meliputi bagian inti
bumi hingga lapisan terluar yang tampak sebagai permukaan tanah. Bumi cair disebut hidrosfer, mencakup air
permukaan seperti laut, danau, sungai, juga berupa air di dalam tanah atau disebut air tanah, dan air yang
terkandung di dalam atmosfer atau disebut air atmosfer. Bumi gas atau atmosfer merupakan seluruh gas yang
menyelubungi bumi baik di bagian padat maupun cair. Ketiga unsur tersebut terkait erat dan saling mempengaruhi
proses-proses yang terjadi di bumi secara keseluruhan. Atmosfer bumi merupakan lapisan gas yang menyelimuti
bumi dan penting bagi kehidupan makhluk hidup.atmosfer setinggi 5.5-5.6 km telah mencakup 50% dari massa total
dan pada ketinggian 40 km mencakup 99.99%. Batas bawah atmosfer relatif lebih mudah ditentukan berdasarkan
ketinggian permukaan laut. Sedangkan puncaknya sulit ditentukan karena disamping besarnya keragaman ukuran
dan massa partikel terdapat pula keragaman suhu permukaan bumi dan kekuatan angin yang mempengaruhi
pengangkatan bahan (Nasir, dalam Handoko, 1995). Atmosfer dapat dibedakan berdasarkan parameter-parameter
seperti tekanan udara, masa atmosfer dan profil temperatur. Profil temperatur vertikal dapat dibagi menjadi empat
lapisan yang berbeda yaitu troposfer, stratosfer, mesosfer, dan termosfer. Puncak dari lapisan-lapisan tersebut
adalah tropopause, stratopause, mesopause, dan termopause.
Nasir, dalam Handoko (1995) mengemukakan perubahan suhu udara di atmosfer secara vertikal (menurut
ketinggian) berbeda-beda dapat dikelompokkan menjadi tiga hal:
1. dT/dz > 0 Suhu naik, dengan bertambahnya ketinggian. Hal ini disebut inversi suhu
2. dT/dz = 0 Suhu tetap walaupun ketinggian berubah. Hal ini disebut  isotermal
3. dT/dz < 0 Suhu udara turun dengan bertambahnya ketinggian disebut lapse rate
Troposfer merupakan lapisan terbawah dari atmosfer terdapat pada ketinggian dari 8 km di daerah kutub dan 16 km
di ekuator. Ruang terjadinya sirkulasi dan turbulensi seluruh bahan atmosfer sehingga menjadi salah satu lapisan
yang mengalami pembentukan dan perubahan cuaca seperti angin, awan, presipitasi, badai, kilat dan guntur.
Kecepatan angin pada lapisan ini bertambah dengan naiknya ketinggian dan di troposfer ini pemindahan energi
berlangsung. Radiasi surya menyebabkan pemanasan permukaan bumi yang selanjutnya panas tersebut diserap oleh
air untuk berubah menjadi uap. Akibat proses evaporasi, energi panas diangkat oleh uap ke lapisan atas yang lebih
tinggi berupa panas laten. Setelah terjadi pendinginan berlangsung proses kondensasi.
Pada lapisan ini suhu udara turun dengan bertambahnya ketinggian (dT/dz < 0) atau pada keadaan lapse rate.  Rata-
rata lapse rate seluruh dunia pada keadaan normal adalah      -6.5K setiap kenaikan ketinggian 1 km. Pada atmosfer
normal, suhu troposfer berubah dari 150C pada permukaan laut menjadi -600C di puncak troposfer. Tekanan dan
kerapatan udara di permukaan laut masing-masing adalah 1013.2 mb dan 1.23 km m-3. Lapisan di atasnya dengan
suhu tetap atau meningkat disebut stratofer  kisaran ketinggiannya antara 12-50 km diatas permukaan laut. Lapisan
ini terdiri dari 3 wilayah antara lainStratofer bawah  krtinggiannya 12-20 km daerah isotermis, Stratosfer
tengah  ketinggiannya 20-35 km daerah inversi suhu,Stratosfer atas ketinggiannya 35-50 km daerah inversi suhu
yang kuat. Lapisan ini tidak mengalami turbulensi maupun sirkulasi. Stratosfer merupakan lapisan atmosfer utama
yang mengandung gas ozon.
Lapisan dengan suhu menurun dari 50-80 km disebut mesosfer  dengan perubahan suhu terhadap ketinggian
adalah lapse rate.Pada lapisan inisuhu udara sekitar -50C pada lapisan hingga -950C pada puncaknya. Tidak
mengalami turbuleni atau sirkulasi udara. Merupakan daerah penguraian 02 menjadi atom O. Batas atasnya adalah
lapisan mesopause dengan perubahan suhu terhadap ketinggian mulai bersifat isotermal. Lapisan di atasnya dengan
suhu yang meningkat disebut termosfer. Lapisan ini ditandai dengan beberapa ciri yaitu memiliki ketinggian 80 km
hingga batas yang sulit ditentukan karena sangat jarangnya partikel gas yang mencapai lapisan ini. Lapisan ini
merupakan tempat berlangsungnya proses ionisasi gas ionasasi gas N2 dan O2 sehingga lapisan ini disebut ionosfer.
Dimana diatas ketinggian 100km pengaruh radiasi uv dan sinar x makin kuat.
Karakteristik Atmosfer
Atmosfer merupakan udara yang menyelubungi bumi dan sangat berguna bagi keberlangsungan kehidupan di bumi
karena beberapa sebab.  
Pertama, atmosfer melindungi bumi dari pancaran radiasi
matahari yang bersuhu 6000 derajat Kelvin. 
Kedua, atmosfer berperan penting dalam siklus hidrologi pada
proses penampungan air dari permukaan bumi (daratan dan
lautan). 
Ketiga, atmosfer mengandung oksigen yang dibutuhkan
makhluk hidup untuk bernapas.
Keempat, atmosfer merupakan medium tempat bercampurnya
beraneka unsur kimia yang berdampak pada kualitas udara.
 
 
 
 

Atmosfer terdiri dari beberapa lapisan dari yang terdekat


dengan bumi: troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer.
Lapisan tersebut dibedakan antara satu dan lainnya
berdasarkan profil temperaturnya. Pada lapisan troposfer,
ketinggian 10-12 km, profil temperaturnya berkurang terhadap ketinggian. Di stratosfer, ketinggian 50 km, profil
temperaturnya bertambah terhadap ketinggian. Dan di termosfer, ketinggian 1000 km, profil temperaturnya kembali
bertambah terhadap ketinggian.
Di atas termosfer adalah ionosfer merupakan puncak atmosfer
yang langsung bersentuhan dengan ruang hampa udara.
Lapisan terdekat bumi, troposfer, mengandung 6/7 bagian dari
massa total atmosfer yang relatif tercampur secara sempurna,
sangat basah, dan merupakan pusat aktivitas dan pembentukan
awan maupun hujan.
 

Studi Troposfer menggunakan GPS

ATMOSFER BUMI

Atmosfer adalah campuran gas yang mengelilingi permukaan bumi. Campuran gas ini mengitari bumi
karena ditarik oleh gaya gravitasi yang ada pada bumi dan campuran gas ini disebut dengan udara. Lapisan
gas tersebut mengelilingi bumi dengan ketebalan yang sulit untuk ditentukan secara teliti, namun ketebalan
rata-rata dari atmosfer ini ditentukan kira kira 500 km [Spiegel & Gruber, 1983].

Udara bercampur secara baik di atmosfer. Meskipun bercampur, atmosfer mempunyai perbedaan-perbedaan
yang signifikan dalam temperatur dan tekanan dalam setiap perbedaan ketinggiannya. Perbedaan ini
didefinisikan ke dalam sejumlah lapisan atmosfer.
Lapisan atmosfer ini terdiri dari troposfer (0-16 km), stratosfer (16-50 km), mesosfer (50-80 km) dan
termosfer (80-640 km). batas antara keempat lapisan ditentukan dengan perubahan temperatur yang
mencolok, dan termasuk berturut-turut tropopause, stratopause, dan mesopause. Di dalam troposfer dan
mesosfer, temperatur secara umum menurun sesuai dengan kenaikan ketinggian, sebaliknya pada
stratosfer dan termosfer, temperatur naik seiring dengan kenaikan ketinggian [pettersen,1958;Miller et
al,1983].

Hampir seluruh udara (90 %) mengandung uap air dan sisanya tidak mengandung uap air [Kurniawan,
1998]. Udara yang tidak mengandung uap air ini disebut dengan udara kering.

—————————————————————————————————————————————————

LAPISAN TROPOSFER

Lapisan troposfer merupakan persentase terbesar dari total masa atmosfer yaitu lebih dari 75%. Sedangkan
sisanya menyebar pada lapisan yang lain [Spiegel &Gruber, 1983]. Troposfer tersusun atas nitrogen ( 78 %)
dan oksigen (21 %) dengan hanya sedikit konsentrasi gas lainnya.

Penurunan rata-rata temperatur pada troposfer adalah 6.5° C/km [Pettersen, 1958]. Tingkat penurunan ini
dikenal dengan susut temperatur rata-rata troposfer. Susut temperatur maksudnya adalah derajat
penurunan temperatur. Di tempat yang temperaturnya berkurang sejalan dengan ketinggian seperti
lazimnya pada troposfer susut temperaturnya adalah positif.  Berkurangnya temperatur terhadap ketinggian
pada troposfer ini disebabkan oleh [ Yulanda, 1997] : Pemanasan udara yang terbanyak berasal dari bumi,
uap air dan debu yang menyerap panas, semakin keatas semakin berkurang, udara pada lapisan bawah
lebih rapat daripada lapisan diatas sehingga udara pada lapisan bawah lebih panas

Ketika melalui troposfer, sinyal GPS akan mengalami refraksi yang menyebabkan perubahan kecepatan dan
arah sinyal GPS. Efek utama dari troposfer dalam hal ini adalah terhadap hasil ukuran jarak dari satelit GPS
ke receiver GPS di permukaan [Abidin, 2000]. Data pseudorange dan data fase keduanya sama diperlambat
oleh troposfer, dan besar magnitudo dari bias troposfer pada kedua data pengamatan tersebut adalah sama.
Magnitudo dari bias troposfer berkisar sekitar ≈ 2.3 m di arah zenit sampai ≈ 20 m pada 100 m di atas
horison [Abidin, 2000; Seeber, 1993; Wells et al, 1986].

—————————————————————————————————————————————————

Kandungan Uap Air dalam Troposfer

Uap air adalah air yang berada pada fase gas. kandungan uap air dalam troposfer menurun secara tajam
dengan kenaikan ketinggian. Kandungan uap air memainkan peranan penting dalam mengatur temperatur
udara karena menyerap radiasi matahari dan radiasi termal dari permukaan bumi. Uap air terbesar berada
diatas daerah tropis. Jumlahnya bervariasi dari waktu ke waktu dan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Namun secara umum diperkirakan jumlah atau konsentrasi uap air di atmosfer berkisar antara hampir 0%
sampai 4%. Maksudnya adalah 4 gram air untuk setiap 100 gram udara. Perubahan ekstrim  menurut
tempat dan waktu dari jumlah uap air di atmosfer tersebut disebabkan karena kemampuan air yang unik
untuk berada pada tiga fase (gas, cair, dan padat) pada temperatur yang biasanya terdapat di bumi [Miller,
1983]

Dari jumlah yang berkisar antara 0 % sampai denga 4% tersebut, hampir keseluruhannya ( 99 %) berada
pada lapisan troposfer. Pada troposfer, air pada bentuk cair ditemukan sebagai gerimis (hujan rintik), awan,
kabut, dan embun. Es merupakan air dalam bentuk padat dan ditemukan dalam atmosfer dalam berbagai
bentuk, seperti salju, hujan es (hail), hujan es yang bercampur salju, awan kristal es, dan butiran salju
(snow pellets) [Spiegel &Gruber, 1983]. Sedangkan bentuk gas dari air disebut dengan uap air,
sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Semua fenomena cuaca terjadi di dalam lapisan troposfer. Ini disebabkan karena pegerakan vertikal atau
konveksi udara membangkitkan awan-awan yang menyebabkan terjadinya hujan dari uap air dalam
troposfer, dan memberikan banyak perubahan dalam cuaca.
Pada tropopause, temperatur mengalami kestabilan. Tropopause ini adalah lapisan yang membatasi
troposfer dan stratosfer. Temperatur udara mulai meningkat di dalam stratosfer. Peningkatan temperatur
mencegah terjadinya konveksi udara diluar tropopause, dan konsekuensinya banyak fenomena cuaca,
termasuk awan petir cumulonimbus yang paling tinggi terjadi di dalam troposfer.

Jumlah kandungan uap air yang tepat yang berada pada setiap tempat dan waktu sangat penting untuk
diketahui oleh para ahli meteorologi. Peranan penting yang dimaksud adalah [Miller, 1983] : Uap air
merupakan penyerap radias yang sangat penting di udara dan dengan demikian mempengaruhi
keseimbangan energi di atmosfer.  Pelepasan panas laten dari proses kondensasi merupakan sumber energi
yang penting untuk memelihara proses-proses cuaca yang terjadi di atmosfer. Kandungan uap air
merupakan komponen yang sangat penting bagi peramalan cuaca.

————————————————————————————————————————————————–

STUDI TROPOSFER MENGGUNAKAN TEKNOLOGI GPS  


 
Satelit GPS memancarkan sinyal-sinyal gelombang elektromagnetik yang sebelum diterima oleh antena
receiver GPS akan melewati medium lapisan-lapisan atmosfer yaitu ionosfer dan troposfer. Dalam kedua
lapisan ini, sinyal GPS akan mengalami gangguan (bias) sehingga jarak yang dihitung akan memberikan
nilai yang mengandung kesalahan. Jarak digunakan untuk menghitung posisi titik.  Dalam lingkup kajian
GPS, kedua lapisan ini menjadi bias tersendiri yang harus dikoreksi sebelum menentukan posisi titik.

Bias yang disebabkan oleh adanya lapisan troposfer dan ionosfer ini ditambah dengan kesalahan orbit dan
waktu akan menyebabkan kesalahan pada ukuran jarak dari satelit GPS ke antena receiver, yang akan
menyebabkan kekurang telitian pada penentuan posisi pengamat. Oleh karena itu estimasi besaran bias
troposfer dan ionosfer perlu dilakukan untuk memperoleh hasil yang lebih teliti. Bias yang diakibatkan oleh
lapisan troposfer memberikan efek yang lebih signifikan jika diakibatkan oleh bias yang diakibatkan oleh
lapisan ionosfer, terutama terhadap komponen tinggi yang di berikan oleh GPS [Abidin et al,1998].

Metode yang digunakan dalam penentuan bias troposfer ini adalah dengan menggunakan metode inversi
GPS. Metode inversi ini pada dasarnya adalah menentukan besarnya penyimpangan jarak dari satelit GPS ke
antena receiver GPS sebagai akibat dari perlambatan waktu tempuh selama sinyal melewati lapisan
troposfer. Penyimpangan jarak akibat perlambatan waktu tempuh sinyal GPS umumnya disebut dengan
Zenith Tropospheric Delay (ZTD). Harga ZTD ini nantinya dijadikan sebagai faktor koreksi untuk
menentukan jarak dari satelit GPS ke antena receiver GPS yang bebas pengaruh troposfer.

Besaran ZTD juga dapat digunakan untuk mengkarakterisasi dan menganalisis kondisi troposfer di sekitar
daerah pengamatan GPS. Hal ini dapat dilakukan dengan memisahkan komponen basah (wet component)
dari ZTD, sehingga diperoleh ZWD (Zenith Wet Delay) yang lebih dikenal dengan sebutan wet delay. Wet
delay yang diperoleh selanjutnya akan dipantau dan dipetakan, yang pada tahapan berikutnya akan
dianalisis untuk berbagai keperluan aplikasi, terutama dalam bidang meteorologi (GPS-Meteorology).

Analisis dari pemantauan wet delay terhadap kondisi meteorologis suatu daerah tentunya berlainan antara
yang satu dengan yang lainnya, diantaranya tergantung dari lokasi geografis dan kondisi topografis dari
daerah penelitian tersebut. Selain itu cakupan wilayah juga menjadi faktor penting dalam analisis tersebut.

Atmosfer (Troposfer)
Posted by mtnugraha in Ilmu Kebumian. 2 Comments

Postingan berikut ini merupakan sambungan dari postingan sebelumnya mengenai atmosfer. Kali ini
akan dibahas mengenai struktur vertikal atmosfer, dan akan diawali dengan lapisan troposfer.
Gambar 1 Berbagai Lapisan Dalam Atmosfer
(Sumber : Essentials of Meteorology – C. Donald Ahrens)
Pembagian struktur vertikal atmosfer menjadi berbagai lapisan seperti troposfer, stratosfer, mesosfer,
dan termosfer, didasarkan atas perbedaan suhu pada berbagai lapisan diatas. Nah, untuk lapisan
troposfer yang merupakan lapisan terbawah dari struktur lapisan vertikal atmosfer (lihat Gambar 1),
terjadi penurunan suhu yang nilainya antara 0,5 dan 10 C tiap 100 m dengan nilai rata-rata 0,650 C tiap
100 meter atau 3,6 derajat Fahrenheit setiap 1000 kaki (penurunan suhunya tergantung dari pada situasi
meteorologi). Penurunan suhu terhadap ketinggian ini biasa disebut sebagai temperatur lapse rate.
Penurunan suhu tersebut banyak diakibatkan dikarenakan oleh sangat sedikitnya troposfer menyerap
radiasi gelombang pendek dari matahari, sebaliknya permukaan tanah memberikan panas pada lapisan
troposfer yang terletak diatasnya melalui konduksi, konveksi, dan panas laten kondensasi atau sublimasi
yang dilepaskan oleh uap air atmosfer.
Konduksi : Suatu mekanisme perpindahan panas melalui suatu media/bahan oleh gerakan
molekul tanpa disertai gerakan media/bahan itu sendiri
Konveksi : Suatu gerakan internal dalam lapisan udara yang mengakibatkan perpindahan panas
secara vertikal, momentum dan sebagainya
Kondensasi : Proses perubahan fasa, dari fasa gas ke fasa cair
Sublimasi : Proses perubahan fasa, dari fasa es ke fasa uap
Panas laten : Panas yang tersimpan dalam suatu bahan/media
Dari Gambar 1, dapat dilihat bahwa ada suatu lapisan pembatas antara lapisan troposfer dengan lapisan
stratosfer yang dinamakan lapisan tropopause. Dari gambar tersebut terlihat bahwa setelah ketinggian
sekitar 10 atau 11 km yaitu di lapisan tropopause, terjadi penghentian penurunan suhu terhadap
ketinggian (lapse rate-nya sama dengan 0), dan setelah itu malah terjadi kenaikan suhu terhadap
ketinggian  ( biasa disebut dengan inversi suhu). Ketinggian tropopause sendiri sendiri sebenarnya
berbeda-beda di setiap lintang, dan yang paling tinggi berada di atas ekuator (antara 16-18 km) dengan
suhu mencapai -800C, sedangkan di kutub ketinggian tropopause hanya mencapai 6-8 km dengan suhu
mencapai -400 C. Hal ini dikarenakan karena di ekuator terjadi pemanasan dan turbulensi serta konveksi
vertikal yang kuat.
Lapisan troposfer itu sendiri dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu lapisan batas (boundary layer) dan
atmosfer bebas. Apa itu lapisan batas?
Gambar 2 Lapisan Troposfer Dibagi Menjadi 2 Bagian – Lapisan Batas & Atmosfer Bebas
(Sumber : Tri WH – PPT Dinamika Lapisan Batas Planeter)
Seperti telah diterangkan sebelumnya, bahwa lapisan troposfer ini merupakan lapisan terbawah dan salah
satu bagiannya yaitu lapisan batas planeter merupakan bagian dimana  sifat-sifat fisis dan dinamisnya
banyak dipengaruhi oleh kondisi permukaan bumi serta lapisan batas ini memberikan respon terhadap
pengaruh gaya-gaya permukaan dalam selang waktu sekitar satu jam atau kurang. Pengaruh gaya-gaya
yang dimaksud berupa gesekan, penguapan dan transpirasi, emisi polutan, transfer panas dan aliran
udara yang dipengaruhi oleh topografi. Sedangkan pengertian atmosfer bebas sendiri dapat diartikan
sebagai suatu bagian dari lapisan troposfer yang tidak mendapatkan pengaruh dari permukaan bumi.
Nah, sekian dulu pembahasan mengenai troposfer, semoga bermanfaat. Postingan selanjutnya saya akan
bercerita lebih dalam mengenai lapisan batas. See You!
Daftar Pustaka
v  Abidin, Zainal.(2009), Pengamatan Turbulensi Atmosfer Di Lapangan Meteorologi ITB
v  Ahrens, C. Donald., Essentials of Meteorology – An Invitation to the Atmosphere 3rdEdition.
v  Prawirowardoyo, Susilo. (1996), Meteorologi, Penerbit ITB : Bandung
v  Tjasyono, Bayong HK. (2004), Klimatologi, Penerbit ITB : Bandung
v  Wahyu Hadi, Tri., PPT Dinamika Lapisan Batas Planeter