Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM PENENTUAN KADAR ASAM SALISILAT

DENGAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis

Oleh:

Nama : SURYA FATMADEWI

NPM : 102419005

Mata kuliah : Kimia Farmasi Kuantitatif

Dosen Pengampuh : Trie Yuni Elfasyari, S. Far., M. farm

PROGRAM STUDI S1 SARJANA FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BATAM
2021
SPEKTROFOTOMETRI

I.TUJUAN PRAKTIKUM

Mampu menetapkan kadar asam salisilat dalam sampel dengan metode spektrofotometri UV-
Vis

II.TINJAUAN PUSTAKA

Asam salisilat merupakan salah satu bahan kimia yang penting dalam kehidupan
sehari-hari, serta memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi karena dapat digunakan sebagai
perantara dari obat-obatan seperti antiseptic dan analgesic serta pembuatan bahan baku untuk
keperluan farmasi. Asam salisilat merupakan analgesic, antipiretik, dan anti inflamasi
(Soraya,2014)

Asam salisilat (salisilic acid) dengan nama turunan BHA atau Beta Hydroxy Acid
biasanya terdapat pada produk kosmetik untuk mencegah dan mengobati jerawat yang juga
bisa berfungsi sebagai antiaging. Penggunaan asam salisilat pada dosis tinggi dapat
menyebabkan iritasi kulit. (Novitri,2018)

Asam salisilat merupakan senyawa yang berkhasiat sebagai fungisidal dan


bakteriostatis lemah. Asam salisilat bekerja keratolitis sehingga digunakan dalam sediaan
obat luar terhadap infeksi jamur yang ringan. Asam salisilat bersifat sukar larut dalam air.
Apabila asam salisilat diformulasikan sebagai sediaan topical (Astuti dkk,2007)

Asam salisilat adalah salah satu obat yang diketahui untuk mengobati keratonoid dan
pengobatan yang baik khusus kondisi kulit, termasuk psoriasis. Ketika mekanisme kerja
keratonoid- keratonoid dengan baik dengan perlahan-lahan untuk mengurangi pH pada
stratum corneum, efek ini menjadi awal dari berkurangnya skala dan kelembutan pada daerah
yang terkena. (K. Rao, 2010)

Asam salisilat dapat menyerap radiasi UV karena memiliki gugus kromofor atau
ikatan rangkap terkonjugasi dan ausokorm dalam strukturnya. Gugus kromofor adalah ikatan
atau gugus fungsispesifik dalam molekul yang bertanggung jawab atas penyerapan cahaya
pada panjang gelombang tertentu. Gugus kromofor pada asam salisilat adalah gugus benzyl
(memilki ikatan rangkap terkonjugasi). Panjang gelombang serapan maksimum dan λ
koefesien ekstingsi molar akan bertambah dengan bertambahnya jumlah ikatan rangkap
terkonjugasi. Sedangkan gugus ausokorm adalah gugus fungsi dalam suatu molekul yang
dapat mempengaruhi absorpsi radiasi gugus kromofor. Jika gugus ausokorm terdelokalisasi
ke gugus kromofor, maka intensitas absorbansi akan meningkat dan terjadi pergeseran
batokromik dan hipsokromik. Gugus kromofor yang terdapat pada asam mefenamatanatara
lain gugus-OH (Hidroksi).
(Charke,2005)

Berdasarkan perizinan Peraturan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan


Republik Indonesia (BPOM RI) Nomor HK.00.05.42.1018 Tahun 2010 tentang Daftar Bahan
Diizinkan Digunakan Dalam Kosmetik dengan Pembatasan dan Persyaratan Penggunaan
asam salisilat yang diizinkan dalam produk kosmetika yaitu tidak lebih dari 2%
(Novitri,2010)

Spektrofometri UV-Visibel merupakan metode Analisa yang didasarkan pada


pengukuran penyerapan sinar monokromatik oleh senyawa tak berwarna di jalur spectrum
ultraviolet (200-380 nm). Metode ini menggunakan sumber radiasi elektromagnetik dan sinar
tampak dengan menggunakan instrument yang didasarkan pada hukum Bounger- Lambert-
Beer, yang menetapkan bahwa absorbansi larutan berbanding lurus dengan konsentrasi
analit.Adapun prinsip dasar kerja dari spektrofotometer yang meliputi daerah UV yang terdiri
dari cahaya interval panjang gelombang yang melewati dengan pelarut dan jatuh ke fotolistrik
yang mengubah energi radiasi menjadi energi listrik (Gandimathi,2012)

Spektrofometri Ultra Violet dan cahaya tampak dapat berguna pada penentuan
struktur molekul organic dan pada Analisa kuantitatif. Spectrum electron suatu molekul
adalah hasil transmisi antara dua tingkat energi electron pada molekul tersebut. Molekul-
molekul yang memerlukan lebih banyak energy untuk promosi electron akan menyerap pada
panjang gelombang yang lebih sedikit akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih
panjang (Creswell,2005)

Panjang gelombang cahaya UV-Vis jauh lebih pendek daripada panjang gelombang
inframerah. Satuan yang digunakan uuntuk menentukan panjang gelombang ini adalah
monokromator. (1 nm=10,7 cm). Spectrum tampak kisaran 400 nm (ungu) sampai 750 nm
(merah) sedangkan spectrum UV adalah 100 – 400 nm. Radiasi UV-Vis berenergi lebih
tinggi daripada radiasi inframerah. Absorbsi cahaya UV atau Visible mengakibatkan
transmisi elektromagnetik yaitu promosi electron-electron dari orbital keadaan dasar yang
berenergi rendah ke orbital keadaan yang berenergi lebih tinggi, transisi ini memerlukan
energy 40-330 kkal/mol. Energy yang terserap selanjutnya terbang sebagai cahaya atau
tersalurkan melalui reaksi kimia isomerase atau reaksi kimia lainnya (Day and
Underwood,2002)

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis spektrofotometri UV-Vis


senyawa terutama untuk senyawa yang semula tidak berwarna yang akan dianalisis dengan
spektrofometri UV-Vis senyawa tersebut harus diubah menjadi senyawa yang berwarna.
Karena pembentukan molekul yang dianalisis tidak menyerap pada daerah tersebut.
Spektrofotometri yang sesuai dengan pengukuran daerah spectrum UV dan visible terdiri atas
sesuatu system optic dengan kemampuan menghasilkan sinar monokromatis dalam jangkauan
panjang gelombang 200-800 nm. Dengan komponen-komponen meliputi sumber
sinar,monokromator dan system optic (Gandjar,2012).

Panjang gelombang maksimum (λ maks) merupakan panjang gelombang dimana


terjadi eksitasi elektronik yang memberikan absorbansi maksimum. Alasan dilakukan
pengukuran pada panjang gelombang maksimum adalah perubahan absorban untuk setiap
satuan konsentrasi adalah paling besar pada panjang gelombang maksimum, sehingga akan
diperoleh kepekaan analisis yang maksimum. Penentuan panjang gelombang pada penelitian
ini dilakukan dengan mengukur absorbansi pada panjang gelombang ultraviolet yaitu antara
panajang gelombang 200- 400 nm (Tulandi,2015).

Kurva baku adalah kurva yang diperoleh dengan memplotkan nilai absorban dengan
konsentrasi larutan standar yang bervariasi menggunakan panjang gelombang maksimum.
Kurva ini merupakan hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi. Bila hukum Lambert-
Beer terpenuhi maka kurva kalibrasi berupa garis lurus. Pada pembuatan kurva baku ini
digunakan persamaan garis yang diperoleh dari metode kuadrat terkecil yaitu y= bx +a,
persamaan ini akan menghasilkan koefesien korelasi (r) (Tulandi,2015)

Penggunaan metode Spektrofometri UV-Vis merupakan suatu metode penetapan


kadar yang memiliki sensitivitas yang tinggi dan memberikan hasil yang akurat untuk
mengetahui kandungan asam salisilat. Penggunaan asam salisilat yang berlebih akan
mengakibatkan efek samping yang membahayakan oleh karena itu perlu dilakukan analisis
kandungan asam salisilat yang beredar di pasaran sesuai dosis yang diperlukan agar tidak
merugikan penggunaanya.
III. CARA KERJA

ALAT DAN BAHAN

III.1 Alat -alat:

• Gelas Ukur

• Kuvet

• Instrumen

• Pipet tetes

• Beaker glass

• Labu ukur 50 ml

• Labu ukur 500 ml

• Spektrofotometri UV-Vis

• Timbangan

III.2 Bahan:

• Asam salisilat

• Aquadest

• Etanol 95%

• Sampel bedak

III.3 Langkah-langkah:

Pembuatan larutan sampel

√ Timbang sampel asam salisilat murni sebanyak 0,05 gr

√ Sampel yang telah ditimbang dimasukkan kedalam labu ukur 500 ml

√ Larutkan dengan menggunakan etanol 95 % sebanyak 15 ml


√ Cukupkan dengan aquadest hingga tanda batas 500 ml, sehingga diperoleh larutan
stock dengan konsentrasi 100 ppm

√ Lakukan pengenceran sebanyak 5 x dengan steril konsentrasi dengan 1 ppm, 2 ppm,


3 ppm, 4 ppm, dan 5 ppm.

Penyiapan sampel menggunakan sampel bedak salycil

√ Timbang sampel bedak salycil sebanyak 0,05 gr

√ Sampel yang telah ditimbang dimasukkan kedalam labu ukur 500 ml

√Larutkan dengan menggunakan alcohol 95 % sebanyak 3,75 ml, kemudian


homogenkan

√ Cukupkan volume dengan aquadest hingga tanda batas 500 ml diperoleh larutan
stock dengan konsentrasi 100 ppm, kemudian homogenkan

√ Larutan stock 100 ppm dilakukan pengenceran sebanyak 1x dengan seri konsentrasi
1 ppm, kemudian ditambahkan 5 ml feri nitrat 1 % dalam asam nitrat 1 %

√ Lalu di tambahkan aquadest hingga tanda batas 100 ml

Pembuatan larutan blangko

√ Dipipet 1,5 ml etanol 95%

√ Kemudian ditambahkan 5 ml feri nitrat 1 % dalam asam nitrat 1%

√ Cukupkan dengan aquadest hingga tanda batas 100 ml

pengukuran kadar dengan metode spektrofotometri

√ Pastikan kabel terhubung dengan listrik

√ Nyalakan tombol ON

√ Tunggu sampai proses initialization hingga 100 %

√Tekan enter kemudian gotoλ kemudian masukkan panjang gelombang yang


diinginkan kemudian enter

√ Kemudian tunggu hingga muncul tampilan di layer

√ Pengukuran pertama dimasukkan larutan blanko ke dalam kuvet


√ Pastikan jangan menyentuh sisi kuvet yang dilewati oleh cahaya

√ Masukkan kuvet kedalam instrument kemudian tutup dan tekan tombol zero pada
woflet control

√ Tunggu sampai absorbansi bernilai 0

√ Diisi larutan standar dan larutan sampel pada masing masing kuvet

√ Ganti kuvet yang berisi larutan blanko dengan kuvet larutan standar dan larutan
sampel yang telah disiapkan tadi

√ Amati dan catat hingga absorbansi terbaca pada layar control

√ Lakukan prosedur kerja yang sama untuk seri konsentrasi yang lainnya
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 HASIL PENGAMATAN

Penimbangan Asam salisilat: 0,05 gram= 50 mg→ 50 mg


—— = 0,1 ppm
500 ml

Pengamatan absorbansi dengan menggunakan λ maks: 525 nm

Larutan Konsentrasi Absorbansi


A 1 ppm 0,004
B 2ppm 0,007
C 3 ppm 0,002
D 4 ppm 0,021
E 5 ppm 0,007
Rentang absorbansi 0,2-1,5

C1-C5 = O,2
—— x 10.000 ppm = 7,22 ppm
277

1,5
—— X 10.000 ppm = 54,15 ppm
277

C1-C5 = 7,22-54,15 ppm

Kadar asam salisilat

(% b/v) = b/v (konsentrasi asam salisilat total x volume awal x FP)

59,6479μg/ml x500 ml

29,823,95 μg = 2,982395 mg

Kadar asam salisilat total

(% b/b) = berat asam salisilat total/berat sampel awal x 100%

= 2,982395 mg/50 x 100%

=0,05964 %
IV.2 PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk penetuan kadar asam salisilat dalam
sediaan farmasi dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis,asam salisilat
memiliki gugus kromofor dan ikatan rangkap sehingga bisa ditentukan kadarnya
dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis.

Spektrofotometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur energi secara


relative jika energi tersebut ditransisikan, direflesikan atau diemisikan sebagai fungsi
dari panjang gelombang.

Spektrofotometer UV memiliki range panjang gelombang dari 200-400 nm.


Pengukuran pada panjang gelombang 300 nm atau 400 nm, juga bisa dilakukan, tetapi
energi tidak terserap secara maksimal pada panajng gelombang ini untuk melakukan
eksitasi. Sehingga absorbansi yang didapatkan bila diukur pada panjang gelombang
300 nm atau 400 nm dengan panjang gelombang 278 nm dan 308 akan berbeda.

Sebelum diidentifikasi dengan menggunakan spektrofotometri UV, terlebih


dahulu diisolasi untuk menghilangkan matriks yang tercampur dengan sampel dan
untuk mendapatkan senyawa murni dari asam salisilat. Sampel yang diberikan dalam
bentuk serbuk yang berisi analit dengan matriksnya, maka harus dilakukan ekstraksi
dengan cara penambahan pelarut yang sesuai. Pelarut yang digunakan adalah etanol
karena etanol karena kelarutannya asam salisilat mudah larut etanol,

Konsentrasi analitit (asam salisilat) daalam larutan bisa ditentukan dengan


mengukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimalnya dengan mengikuti
hukum Lambert- Beer, yang menyatakan bahwa hubungan antara absorbansi dengan
konsentrasi berbanding lurus.

Bedak salicyl merupakan sediaan bedak yang mengandung asam salilsilat


sebagai bahan aktifnya. Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatan untuk
menentukan kadar asam salisilat dalam bedal salicyl menggunakan metode
spektrofometri UV-Vis. Langkah awal yang dilakukan adalah memilih pelarut yang
sesuai serta λ dimana memberikan serapan absorbansi yang maksimal pula. Disini
digunakan pelarut etanol 95 % untuk melarutkan baku dan sampel. Penggunaan etanol
sebagai pelarut dikarenakan asam salisilat pada bedak salicyl mempunyai kelarutan
yang baik terhadap etanol. Dan penggunaan etanol yang digunakan sebagai blanko
sehingga etanol yang dilakukan untuk blanko harus sama kadarnya. Karena analisis
yang digunakan adalah analisis kuantitatif.

V. KESIMPULAN
Kadar asam salisilat yang diperoleh adalah 0,05964 %

VI. DAFTAR PUSTAKA


Soraya, R., 2014. Sintetis Asam Salisilat dari Minyak Gandapura dan Kenaikan Titik
Leleh.http://kupdf.com/download/sintetis-asam-salisilat-dari-minyak-gandapura-dan ujititik-
leleh-59bc640408bbc59404656me.pdf.diakses pada tanggal 22 oktober 2017 pukul 22.31
WIB

Creswell C.J. 2005. Analisis Spektrum Senyawa Organik. Bandung: ITB

Rohman .2007. Kimia Farmasi Analisis.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Day, R.A dan A.L. Underwood.2002. Analisis Kimia kuantitatif. Jakarta: Erlangga.

Dirjen POM.1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan: Jakarta.

Fatmawati,F ., dan Herlina, L. 2017. Validasi Metode dan Penentuan Kadar Asam Salisilat
Bedak Tabur dari Pasar Majalaya, Jurnal Kimia dan Pendidikan; Vol.2(2): 141-150.

Roth, H.J dan Blaschke. (1988). Analisis Farmasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press

Sulistyaningrum, S.K., Nilasari, H., Effendi, E.H.2012.Penggunaan Asam Salisilat dalam


Dermatologi.J indon Med Assoc;62:277-84.

Anda mungkin juga menyukai