Anda di halaman 1dari 7

IDENTIFIKASI ANALISIS DAN DESKRIPSI ISU – ISU INSTANSI

TERKAIT PERAN DAN KEDUDUKAN ASN

Nama : Taufiq Hakim S.Pd


Angkatan / Kelompok : VII / 4
NDH : 37

1. Indentifikasi dan Deskripsi Isu Yang Terjadi


SMAN 1 Raren Batuah berdiri pada tahun 2014 di desa Unsum, kecamatan Raren
Batuah, kabupaten Barito Timur, berjarak kurang lebih 60 km dari ibukota kabupaten
Barito Timur. Banyak ditemukan kendala yang terjadi selama saya mengabdi pada sekolah
ini. Seperti kondisi sarana dan prasarana sekolah masih sangat kurang, hal ini dibuktikan
dengan jumlah ruang kelas hanya 4 ruangan, tidak adanya laboratorium, perpustakaan,
ruang UKS dan ruang komputer yang menyebabkan kurang maksimalnya proses belajar
mengajar. Upaya dalam pemenuhan terhadap sarana dan prasarana sekolah sebenarnya
sudah dilakukan yaitu dengan cara pengajuan kepada dinas terkait, namun masih terganjal
oleh terbatasnya anggaran dari pusat.
SMAN 1 Raren Batuah memiliki jumlah pegawai sebanyak 21 orang, yang terdiri
dari 1 kepala sekolah, 17 guru mata pelajaran dan 4 staff tata usaha. Namun dengan
jumlah pegawai yang banyak tersebut, manajemen pengelolan kedisipllinan pegawai tidak
berjalan maksimal. Ini ditunjukan oleh beberapa pegawai yang tidak hadir ke sekolah
ketika hari kerja efektif, hal ini menyebabkan kualitas pelayan publik yang seharusnya
berjalan tidak dapat terlaksana secara baik akibat tindakan indispliner Selain itu sejumlah
guru mengajar lebih dari 2 mata pelajaran di luar kompetensinya, tentunya sangat
bertentangan dengan prinsip ASN yaitu kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang
tugas.
Pandemi covid-19 yang terjadi saat ini di Indonesia menyebabkan, sekolah terpaksa
memindahkan proses belajar mengajar dari sekolah ke rumah melalui pembelajaran jarak
jauh. Namun pemanfaatan dan penggunaan teknologi oleh guru untuk menunjang
pembelajaran dirumah belum maksimal, ada beberapa guru yang masih menggunakan
metode pembelajaran konvensional dalam pemberian materi dan tugas kepada peserta
didik.
Beberapa isu diatas hendaknya dapat segera diselesaikan guna memaksimalkan
peran sekolah dan guru sebagai pelayanan publik di bidang pendidikan. Selanjutnya akan
saya bahas mengenai tepisan isu, analis isu, dampak serta solusi yang saya tawarkan untuk
mengatasi isu-isu tersebut.

2. Tepisan Isu
Pada tugas analisis isu instansi kali ini, saya menggunakan tepisan isu teknik
Urgency, Seriousness, Growth (USG). USG adalah salah satu alat untuk menyusun urutan
prioritas isu yang harus diselesaikan. Caranya dengan menentukan tingkat urgensi,
keseriusan, dan perkembangan isu dengan menentukan skala nilai 1 – 5 atau tidak sangat
USG sampai dengan sangat USG. Isu yang memiliki total skor tertinggi merupakan isu
prioritas.
Tabel 1.1
Prioritas
Isu Urgenc Total Skor
Seriousness Growth
y
Tingkat kedisplinan dan kehadiran
5 5 5 15
pegawai masih kurang
Kurangnya sarana dan prasarana
pendukung kegiatan mengajar,
4 4 5 13
seperti ruang kelas, laboratorium,
perpustakaan, dan kantin sekolah
Terbatasnya pemanfaatan dan
pengunaan teknologi oleh pegawai 5 4 5 14
dalam pembelajaran jarak jauh.
Guru multi subjek yang mengajar
3 3 4 11
lebih dari 2 mata pelajaran

Berdasarkan Tabel 1.1 diatas, dapat ditentukan bahwa dua isu prioritas yang
menjadi pokok bahasan yaitu: pertama mengenai tingkat kedisplinan dan kehadiran
pegawai, kedua kurangnya pemanfaatan dan pengunaan teknologi di SMAN 1 Raren
Batuah.

3. Teknik Analisis Isu


Setelah melakukan tapisan isu-isu yang terjadi di SMAN 1 Raren Batuah, langkah
selanjutnya adalah melakukan analisis isu. Analisis isu dilakukan dengan menggunakan
teknik Mind Mapping. Isu pertama yang di analisin adalah tingkat kedisplinan dan
kehadiran pegawai, selanjutnya isu kedua mengenai kurangnya pemanfaatan dan
pengunaan teknologi di SMAN 1 Raren Batuah.
Isu 1 Sikap
Malas

Sanksi Kedisplinan Kondisi


kurang Covid-
tegas Pegawai 19

Sistem
Absensi

Gambar 1.2.
Dari gambar 1.2. diatas, penyebab utama dari tingkat kedisplinan dan kehadiran
pegawai masih kurang didorong oleh berberapa faktor, antara lain:
1. Sikap Malas
Sikap malas adalah ketika seseorang menghindari pekerjaan yang seharusnya
dapat dikerjakan dengan potensi dan energi yang dimiliki. Begitupun pegawai yang
tidak dispin kepada tugas dan amanah yang diberikan menyebabkan mereka abai
terhadap tugasnya dan terkesan meremehkan sehingga timbul tindakan indispliner.
2. Kondis Covid-19
Pembelajaran yang dilakukan di rumah akibat pandemi covid-19 menyebabkan
tidak adanya aktivitas belajar mengajar di sekolah. Ini menjadi alasan beberapa
pegawai sekolah tidak hadir walapun sebenarnya merupakan hari kerja efektif.
3. Sistem Absensi
Sistem absensi yang berjalan selama ini masih mengandalkan sistem absensi
tanda tangan, dengan rekapitulasi yang dilakukan setiap akhir bulan. Sistem ini
sangat rentan terhadap penyalahgunaan karena tidak dapat terkontrol dengan baik
dan mudah dimanipulasi.
4. Sanksi Kurang Tegas
Kurang tegasnya sanksi terhadap pelanggaran displin menyebabkan tidak
adanya efek jera kepada pelaku tindakan indispliner.

Isu 2

Pengetahuan

Terbatasnya
pemanfaatan dan
pengunaan
teknologi

Ketersedian
Motivasi
Fasilitas
Gambar 1.3.

Dari gambar 1.3. diatas, penyebab utama dari terbatasnya pemanfaatan dan
pengunaan teknologi oleh pegawai dalam pembelajaran jarak jauh disebabkan oleh
berberapa faktor, antara lain:
1. Pengetahuan
Beberapa guru masih belum mengetahui pengunaan aplikasi yang dapat
menunjang kegiatan pembelajaran jarak jauh, seperti zoom, google form, google
meet, google class dan aplikasi lainya. Selama ini penggunaan teknologi maksimal
hanya melalui Whatsaap yang tentu saja terbatas dari sisi penyimpanan dan fitur-
fitur pendukung.
2. Ketersedian Fasilitas
Beberapa guru tidak memiliki fasillitas pendukung pembelajaran jarak jauh,
seperti laptop atau pc. Mereka hanya dapat memaksimakal penggunaan smartphone
sebagai alat utama pembelajaran, sedangkan fungsi dari smartphone sangat terbatas.
3. Motivasi
Guru enggan untuk menggunakan dan menerapakan pembelajaran jarak jauh
menggunakan teknologi karena takut untuk belajar, nyaman dengan pembelajaran
konvensional dan kurangnya motivasi untuk mempelajari hal-hal baru dalam
invovasi media pembelajaran.

4. Dampak
Isu permasalahan yang terjadi pada tingkat kedisplinan dan kehadiran pegawai dan
terbatasnya pemanfaatan dan pengunaan teknologi perlu dengan segera diselesaikan agar
tidak terjadi dampak sebagai berikut:
Isu 1
 Pelayanan publik menjadi terganggung karena tidak mampu memberikan pelayanan
yang maksimum kepada peserta didik atau pihak yang berkepentingan dengan
instansi.
 Dapat menjadi preseden buruk bagi peserta didik karena memiliki figur yang
harusnya menjadi teladan tidak menjalakan tanggungjawabnya.
 Pelayanan publik menjadi tidak efektif dan efisien karena membutuhkan waktu yang
lebih banyak.
 Terjadinya disharmoni dalam instansi karena adanya kecemburuan antar pegawai,
karena walaupun melakukan tindakan indispliner namun tidak ditindak.
 Turunnya kepercayaan terhadap instansi karena dianggap tidak profesional dalam
pelayanan publik pada masyarakat.

Isu 2
 Fungsi dari pelayanan publik yang diselenggarakan oleh sekolah tidak dapat
dijangkau oleh peserta didik secara mudah.
 Penurunan minat dan motivasi belajar peserta didik karena hanya menggunakan
model pembelajaran yang monoton.
 Terhentinya kreatifitas guru untuk berinovasi dan mengembangkan model, metode
dan alat pembelajaran
 Persepsi orang tua peserta didik yang dapat berubah,mengenai peran sekolah dalam
proses pembelajaran karena PJJ yang tidak maksimal.
 Tidak terjadinya efisiensi pada instansi sekolah karena masih mengandalkan
penggunaan kertas.
5. Pihak Yang Terlibat
Adapun pihak-pihak yang memiliki peran untuk penyelesaian isu-isu tersebut
antara lain: kepala sekolah sebagai pemimpin, pembina, penanggung jawab di instansi,
guru dan staff TU sebagai pelaksana pelayanan publik di sekolah, peserta didik sebagai
sasaran utama pelayanan publik, orangtua dan komite sekolah sebagai pengawas
pengeloaan sekolah, dan instansi lainya sebagai patner yang saling bersinergi dalam
melaksanakan tugas pelayanan publik.

6. Solusi
Mengingat sangat berbahayanya dampak yang ditimbulkan apabila isu-isu tersebut
tidak tertangani. Berikut solusi yang saya tawarkan untuk mengatasi isu-isu yang terjadi di
atas:
Isu 1
 Apabila ada pegawai yang diduga atau diindikasi melakukan tindakan pelanggaran
disiplin, maka segara dilakukan pemeriksaan dan pembinaan oleh atasan langsung, agar
pelanggaran tidak melebar, tetapi jika belum ada perubahan, atasan diharapkan segera
melaporkan kepada pejabat yang berwenang.
 Penjatuhan hukuman disiplin harus dilaksanakan sesuai prosedur yang telah ditetapkan
dan diberikan sesuai dengan jenis pelanggran disiplin yang dilakukan oleh pegawai.
 Dalam melakukan pembinaan disiplin agar tidak mengutamakan perasaan seperti rasa
kasihan, dan sungkan kepada para pelanggar.
 Penggunaan teknologi finger print untuk meminimalisir kecurang yang dilakukan
pegawai dalam pencatatan kehadiran.
 Diharapkan pegawai di SMAN 1 Raren Batuh agar dapat meningkatkan kesadaran
dalam menjalankan kewajibannya sebagai pegawai sesuai dengan peraturan yang
ditetapkan sehingga dapat bekerja secara professional dalam memberikan pelayanan
kepada masyarakat untuk mewujudkan good governance.

Isu 2
 Guru-guru secara aktif diikut sertakan dalam pelatihan teknologi terbaru di bidang
pendidikan untuk meningkatkan pengetahuannya.
 Berkerjasama dengan instansi dinas informasi dan komunikasi untuk melakukan
inovasi media, alat, dan aplikasi belajar guna menunjang proses pembelajaran yang di
lakukan disekolah.
 Pegawai yang memiliki kemampuan dalam bidang teknologi dituntut untuk
memberikan pendampingan kepada pegawai lain. Fungsinya agar terjadi transfer ilmu
dan meningkatkan kerjasama antar pegawai.
 Tersedianya anggaran atau dana yang cukup untuk untuk mengadakan,
mengembangkan dan merawat sarana prasarana teknologi dan informasi di sekolah.
 Adanya kemauan dan dukungan dari semua pihak, dalam hal ini kepala sekolah, guru,
dan peserta didik untuk menerapkan pembelajaran dengan dukungan teknologi
komunikasi dan informasi tersebut.

Anda mungkin juga menyukai