Anda di halaman 1dari 7

LOG BOOK HARIAN PESERTA

PELATIHAN ASESMEN KOMPETENSI TEKNIS PERAWAT

Nama Peserta : Ns. Yuliyana Kumaladewi, S.Kep,. M.Kep

Asal Instansi : RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang

Tempat Pelatihan : HPMI

PETUNJUK PENGERJAAN :
I. Hari 1 : Isilah hasil studi literatur yang sudah anda pelajari.
II. Hari 2,3,4,5 : Isilah dengan memberikan tanda checklist ( V) berdasarkan penyelesaian penugasan
yang diberikan.

HARI I : Rabu, 11 Agustus 2021

NO KEGIATAN HASIL KET


1 Mempelajari dasar hukum UU No.36 tahun 2009
asesmen kompetensi lebih Pasal 23 :
mendalam, khususnya • ayat (1) Tenaga kesehatan berwenang untuk
menyelenggarakan pelayanan kesehatan;
Permenkes no.40 tahun
• ayat (2) Kewenangan untuk menyelenggarakan
2017 Tentang pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud
Pengembangan Jenjang pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan bidang
Karir Profesional Perawat keahlian yang dimiliki
Klinis UU tenaga kesehatan No.36 Tahun 2014
Pasal 11 :
• ayat (4) Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk
dalam kelompok tenaga keperawatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
terdiri atas berbagai jenis perawat
• Pasal 30 : ayat (1) Pengembangan Tenaga
Kesehatan diarahkan untuk meningkatkan mutu
dan karier Tenaga Kesehatan.
UU No. 38 Tahun 2014
• Pasal 28 : ayat (3) Praktik Keperawatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
didasarkan pada kode etik,standar pelayanan,
standar profesi, dan standar prosedur
operasional
• Pasal 53 :
• ayat (2) Pengembangan Praktik
Keperawatan bertujuan untuk
mempertahankan atau meningkatkan
keprofesionalan Perawat;
• ayat (4) Dalam hal meningkatkan
keprofesionalan Perawat sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dan dalam
memenuhi kebutuhan pelayanan,
pemilik atau pengelola Fasilitas
Pelayanan Kesehatan harus
memfasilitasi Perawat untuk mengikuti
pendidikan berkelanjutan
KMK 49 tahun 2013 :
• Pasal 4 : ayat (2) Untuk mewujudkan tata kelola
klinis yang baik sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2, semua asuhan keperawatan dan asuhan
kebidanan yang dilakukan oleh setiap tenaga
keperawatan di Rumah Sakit dilakukan atas
Penugasan Klinis dari kepala/direktur Rumah
Sakit
Permenkes no.40 tahun 2017 Tentang Pengembangan
Jenjang Karir Profesional Perawat Klinis
Pasal 1 : Pengembangan jenjang karir profesional
perawat bertujuan untuk :
a. meningkatkan moral kerja dan mengurangi
kebuntuan karir (dead end job/career);
b. menurunkan jumlah perawat yang keluar dari
pekerjaannya (turn over);
c. menata sistem promosi berdasarkan
persyaratan dan kriteria yang telah ditetapkan
sehingga mobilitas karir berfungsi dengan baik
dan benar;
d. meningkatkan profesionalisme perawat yang
mampu memberikan askep yang aman, efektif
dan efisien
e. meningkatkan kepuasan individu perawat
terhadap bidang kerja profesi yang ditekuninya
Pasal 2 (4) : Pengembangan karir perawat sebagaimana
dimaksd pada ayat (2) dilaksanakan melalui
penempatan perawat pada jenjang karir sesuai dengan
kompetensinya.
Pasal 3 (2) : Pengembangan Jenjang Karir Profesional
perawat dimaksud dalam ayat (1) umtuk perawat klinis
dilakukan melalui:
a. pengembangan profesional berkelanjutan yaitu
dengan mengikuti pendidikan formal, pelatihan,
penelitian, dan pengabdian masyarakat.
b. Pengakuan terhadap kemampuan yang
didasarkan kepada pengalaman kerja
PEDOMAN PENGEMBANGAN JENJANG KARIR
PROFESIONAL PERAWAT KLINIS
Kredensialing : Asesmen Kompetensi (Sertifikasi)
• Assesmen Kompetensi Perawat baru yang telah
melalui proses internship dengan preceptor
serta telah dilaksanakan evaluasi proses oleh
preceptor dan juga didokumentasikan dalam log
book dapat mengajukan permohonan assement
kompetensi
• Pengelolaan asesmen kompetensi menjadi
tanggung jawab kepala bidang keperawatan.
2 Melakukan mapping Saya yuliyana kumaladewi mulai bekerja di RSMH tahun
kompetensi masing-masing 2009 di ruang neurologi kemudian pindah ke ruang
peserta dan perawat lain di penyakit dalam wanita 2010-2012. Tahun 2012 saya
dipindahkan ke ICU kemudian 2015 melanjutkan
instansinya masing-
sekolah keperawatan kritis MKEP di unpad sampai 2018
masing. namun belum spesialis. Kemudian 2018 saya kembali ke
icu sampai dengan sekarang menjadi karu GICU. Saya
memiliki sertifikat PK III di area keperawatan kritis
(masa kerja saya 12 tahun)
Analisa mapping:
Berdasarkan PMK no.40 ners dengan masa kerja 9-12
tahun saya seharusnya berada pada PK IV . Saya belum
mengambil spesialis karena memang belum ada
spesialis kritis di Indonesia. Jadi yang diperhitungkan
pada kredesialing tetap ijazah ners saya.

Staf saya nama erlinda saputri, S.kep, Ns masa kerja 2


tahun memiliki sertifikat pelatihan ICU 3 dasar 3 bulan
dan magang, baru 3 bulan dinas di ICU sebelumnya
diruang bedah laki-laki dan memiliki sertifikat PK 1.
Analisa mapping:
Berdasarkan PMK erlinda berada di PK I (Ners dengan
pengalaman kerja ≥ 1 tahun dan menjalani masa klinis
level I selama 2 -4 tahun.) Seharusnya tidak boleh di ICU
karena harus melewati PK II generalis dulu baru ke ICU.
3 Membuat masing-masing 1 A. Prinsip asesmen:
(satu) contoh penerapan : 1) Valid : Seluruh aktifitas asesmen mengacu
a. prinsip asesmen kepada acuan pembanding (benchmark) yang
sah.
b. aturan bukti
2) Reliabel: Instruksi yang diberikan kepada asesi
c. dimensi kompetensi memastikan penerapan yang konsisten pada
aktifitas asesmen dan jika digunakan oleh
asesor yang berbeda, dalam situasi yang
berbeda dan asesi yang berbeda, hasilnya tetap
konsisten
3) Fleksibel: Seluruh aktivitas asesmen memenuhi
kebutuhan asesi dan organisasi/instansi. Contoh
fleksibel ini adalah jika
4) Fair/ Adil: Aktifitas-aktifitas asesmen memenuhi
kebutuhan dan karakteristik asesi serta bebas
dari bias dan memberikan kesempatan bagi
asesi yang memiliki kebutuhan khusus
Contoh penerapan pada prinsip asesmen ini :
Pada saat dilaksanakannya penilaian dengan
menggunakan metode observasi tentang pemasangan
infus asesor menemukan asesi membawa plastik kuning
sebagai pengganti bengkok sebagai tempat sampah
sementara ( prinsip fleksibel), asesor melakukan
penilaian dengan melampirkan SPO pemasangan infus
sebagai acuan dalam menilai ( prinsip valid ); saat
diskusi dengan asesor lain menggunakan perangkat
yang sama tentang pemasangan infus asesor
menyepakati modifikasi diperbolehkan sepanjang tidak
melanggar prinsip ( prinsip realiabel ); semua asesi
diberikan penjelasan, perlakuan dan hak yang sama
tanpa dibeda-bedakan dalam proses asesmen ( prinsip
adil )

B. Aturan Bukti

1) Valid :Semua bukti yang terkumpul memenuhi


keabsahan
2) Otentik (Authentic) : Bukti yang dikumpulkan adalah
milik asesi
3) Terkini (Current) : Bukti yang terkumpul terkini
4) Cukup (Sufficient) : Semua bukti dinyatakan cukup
memenuhi kriteria yang terdapat pada acuan
pembanding (benchmark)
Contoh penerapan aturan bukti:
Pada saat konsultasi pra asesmen asesi melampirkan
berkas ijazah ners, asesor menilai sesuai aturan bukti,
hasil penilaiannya sebagai berikut : Ijazah tersebut Valid
dikarenakan sah di keluarkan oleh institusi milik
kemenkes akreditasi A; Authentic ( Otentik ) bukti
tersebut memang milik asesi, asli dan ada photo serta
identitas asesi ; Current (terkini), ijazah tersebut terkini
dan tidak expired date nya ; Cukup (Sufficient) sebagai
bukti ijazah cukup memadai untuk dilakukannya
asesmen

C. Dimensi Kompetensi
1) Keterampilan menjalankan tugas (Task-skills), yaitu
keterampilan untuk melaksanakan tugas-tugas rutin
sesuai dengan standar di tempat kerja.
2) Keterampilan mengelola tugas (Task management
skills), yaitu keterampilan untuk mengelola serangkaian
tugas yang berbeda yang muncul di dalam pekerjaan.
3) Keterampilan mengambil tindakan (Contingency
management skills), yaitu keterampilan mengambil
tindakan yang cepat dan tepat bila timbul suatu masalah
di dalam pekerjaan.
4) Keterampilan bekerja sama (Job/ role environment
management skills), yaitu keterampilan mengelola dan
menyesuaikan serta memelihara kenyamanan
lingkungan kerja/lingkungan sekitar pasien sesuai
dengan patient safety
Ilustrasi kasus penerapan Dimensi kompetensi :
Pada saat dilaksanakannya proses pengumpulan bukti
asesor menilai kompetensi pengkajian dan
dilaksanakan dengan baik oleh asesi karena memang
merupakan bagian dari tugas sehari-hari asesi sesuai
dengan Surat Penugasan Klinisnya ( Task Skill );
penilaiaan berlanjut terhadap 1 pasien yang sama
akan di lakukan perawatan luka, pemasangan infus
dan pemberain obat-obatan asesi mampu mengatur
Tindakan sesuai dengan prioritas saat itu yaitu
pemasangan infus dahulu, pemberian obat
dilanjutkan dengan perawatan luka ( Task
Management Skill); saat dilakukan pemberian
obat=obatan antibiotic dilakukan skin test kulit pasien
kemerahan dan gatal sekitar area penyuntikan asesi
langsung melaporkan ke PJ perawat yang pegang
pasien ( Contigency Management Skill ); saat itu
kondisi pasien yang gelisah asesi menyesuaikan
denganSPO resiko jatuh dengan memasang tanda
kuning dan side rail di pasang dan menjelaskan
kepada keluarga (job/role environment management
skill )

4 Mempelajari metode- Observasi – penilaian kompetensi karyawan melalui


metode yang digunakan unjuk kerja sehari-hari terhadap unit atau cluster
dalam asesmen komptensi yang dimaksudkan untuk mengobservasi
perilaku mereka yang kemudian dicatat dan dimasukkan
kompetensi
ke dalam kategori yang sesuai dengan model
kompetensi sesuai kriteria standar.

Uji tulis– alat pengukuran yang bertujuan menampilkan


knowledge yang diberikan dalam pertanyaan tertulis,
peserta akan membaca soal dan mengisi nya di lembar
jawaban sesuai dengan tingkat kesukaran yang di buat
oleh panitia assesmen ( assesor kompetensi )

Wawancara/ uji lisan – sesi tanya jawab ini berbeda


dengan wawancara konvensional, sebab materinya lebih
terstruktur dan berdasarkan perilaku yang telah
ditetapkan di setiap kemampuan. Tujuannya untuk
memperoleh gambaran lebih detail tentang tindakan
dan sikap pegawai
Portofolio– pengumpulan berkas terkait tuntutan
kriteria unjuk kerja dari unit/cluster kompetensi yang di
assess sesuai dengan aturan bukti dan prinsip assesmen

Metode lain yang biasa di pakai, yaitu:


Role play – simulasi bagaimana para karyawan
melakukan interaksi intepersonal yang diajarkan untuk
melihat perilaku spesifik yang dapat muncul saat tes.

Analisis kasus – bentuknya menyerupai cara role


playing, tetapi ada penambahan kompetensi untuk
analisa dan sintesis dengan mendalam. Dalam
penerapan ini, pegawai diharuskan menguasai kasus
tertentu dan memberikan pandangan jitu terhadap
permasalahan tersebut.

Presentasi – karyawan diminta untuk


mempresentasikan suatu produk atau jasa di depan
atasannya. Cara ini memberikan gambaran mengenai
kompetensi orang tersebut dalam membawakan
presentasi, menerangkan produk secara jelas dan
mudah dipahami, dan membuat audiens tertarik.

Group Disscusion : assessor menguji assesse dalam


berkomunikasi dengan rekan kerjanya, melihat
keikutsertaan assesse dalam sebuah diskusi kelompok.
dll

HARI 2 :

NO KEGIATAN PENCAPAIAN KET


YA TIDAK
1 Mempelajari, membuat dan mengeprint Form 01
2 Mempelajari, mengisi dan mengeprint Form 02
3 Mempelajari, mengisi dan mengeprint Form 03
4 Mempelajari, membuat dan mengeprint Form 03 A,B,C,D

HARI 3 :

NO KEGIATAN PENCAPAIAN KET


YA TIDAK
1 Mempelajari, membuat dan mengeprint Form 01
2 Mempelajari, mengisi dan mengeprint Form 02
3 Mempelajari, mengisi dan mengeprint Form 03
4 Mempelajari, membuat dan mengeprint Form 03 A,B,C,D
HARI 4 :

NO KEGIATAN PENCAPAIAN KET


YA TIDAK
1 Mempelajari, membuat dan mengeprint Form 04 A,B,C,D
2 Mempelajari dan mengeprint Form 05
3 Mempelajari dan mengeprint Form 06
4 Mempelajari, membuat dan mengeprint Form 07
5 Mempelajari dan mengeprint Form 08
6 Mempelajari dan mengeprint Form 09 A,B

HARI 5 :

NO KEGIATAN PENCAPAIAN KET


YA TIDAK
1 Melakukan Role Play ( Berkas Form 01-09 )
2 Mempersiapkan Real Asesmen ( Video dan Berkas Form 01-09)

Ket : Log book ini sebagai pra syarat mengikuti Real Asesmen (RA) yang merupakan salah satu metode
asesmen dalam sertifikasi asesor kompetensi teknis.

Nama Peserta : Fasilitator :


TTD : TTD :

Anda mungkin juga menyukai