Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR ILMU DAN TEKNOLOGI BENIH (AGH250)

PENETAPAN KADAR AIR BENIH

Eva Qurniasi
X1004202028

Dosen
1. Dr. Ir. Abdul Qadir, M.Si
2. Dr. Ir. Endah Retno Palupi, M.Sc
3. Dr. Maryati Sari, S.P., M.Si

Asisten
1. Adhitya Vishnu Pradana
2. Ni Kadek Ema Sustia Dewi

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2021
I. PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Benih adalah biji atau bagian tanaman yang digunakan sebagai alat untuk
perbanyakan atau perkembangbiakan tanaman. Benih merupakan salah satu
komponen penting dalam peningkatan produksi tanaman. Oleh karena itu, penting
untuk menggunakan benih yang bermutu. Namun, persediaan benih bermutu
dalam jumlah yang memadai dan tepat waktu sering menjadi kendala, karena
mutu benih sangat bergantung pada kadar air benih.
Kadar air beih adalah kandungan air yang terdapat dalam benih, kadar air
sangat mempengaruhi kualitas dan masa simpan dari benih, penetapan kadar air
benih dinyatakan dalam bentuk persen, yang dihitung berdasarkan perhitungan
berat asal atau berat basah benih dan berat pasca kehilangan kandungan air atau
berat kering. Kadar air benih dapat diukur dengan 2 cara yaitu dengan
menggunakan metode langsung dan metode tidak langsung. Metode langsung
adalah dengan proses menggunakan oven, dengan suhu tertentu, yaitu suhu rendah
dengan suhu sekitar 103oC dan suhu tinggi di atas 130oC. Sedangkan metode tidak
langsung yakni dengan alat grain moisture meter.
Pada dasarnya kadar air benih bergantung pada kadar air lingkungannya.
Benih yang bermutu sangat diincar di pasaran sebagai salah satu aspek penting
dalam peningkatan produksi pertanian. Mutu dan kualitas benih terdiri dari mutu
fisik, mutu genetik, dan mutu fisiologis. Salah satu variabel dari mutu benih
adalah kadar air benih. Oleh karena itu, dilakukan pengujian kadar air benih, pada
praktikum kali ini dilakukan penetapan kadar air benih dengan metode langsung
yakni dengan oven suhu tinggi dan suhu rendah pada beberapa jenis benih, lalu
dilakukan perhitungan dalam menentukan kadar air benih melalui data berat basah
dan berat kering benih.

1.2.Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar
air benih menggunakan metoda langsung dengan oven suhu tinggi (1300C).
II. TINJAUAN PUSTAKA

Benih yang digunakan pada praktikum penetapan kadar air benih yaitu benih
rambutan, padi, dan kacang. Benih rambutan merupakan benih rekalsitran yang
umumnya memiliki viabilitas yang cepat menurun sehingga tidak dapat disimpan
dalam waktu yang lama (Jawak et al, 2020). Benih rekalsitran tidak dapat
disimpan pada suhu yang tidak sesuai dan saat kadar airnya turun sampai kadar air
kritis. Ketika benih masak secara fisiologis kadar air benih rekalsitran berkisar
antara 50% sampai 70% (Widajati et al, 2014).
Metode yang umum digunakan pada penetapan kadar air benih, yaitu metode
langsung dengan cara oven untuk mengeringkan benih, 2 metode oven yaitu suhu
rendah 103±2 °C dan metode suhu tinggi 130-133oC (Bonner, 1995 dalam
Widajati et al, 2014).
Dalam penetapan kadar air benih, metode oven dengan suhu konstan dibagi
dalam dua teknik o pelaksanaan, yaitu oven suhu rendah konstan (103oC selama
48 jam) dan oven suhu tinggi konstan (130oC selama 3 jam). Penggunaan kedua
teknik pengukuran kadar air tersebut mempunyai kekurangan dan kelebihan
masing-masing, namun potensi perbedaan hasil yang diperoleh perlu diketahui
untuk menghindari terjadinya kesalahan pembacaan kadar air benih yang didapat
dan kesesuaian jenis benih. Pada penetapan kadar air benih, benih dianjurkan
untuk digiling. Namun, untuk benih yang besar dan mengandung minyak yang
tinggi sebaiknya tidak digiling karena dapat menyebabkan oksidasi minyak yang
dapat mengakibatkan kekeliruan dalam penetapan kadar air benih. Oleh karena
itu, untuk benih besar dan mengandung minyak tinggi sebaiknya dilakukan
pengirisan. Pengirisan dilakukan untuk mempermudah proses penguapan. Benih
dipotong menjadi bagian-bagian kecil yang memiliki ukuran kurang dari 7 mm
(ISTA, 2010 dalam Arif dan Illahi, 2018).
Berdasarkan penelitian Widajati et al (2014), untuk penetapan kadar air benih
pada benih pala yang direkomendasikan adalah dengan metode suhu rendah
konstan 105oC dengan lama pengeringan 17 jam sampai 19 jam, dan metode suhu
tinggi konstan 130oC dengan lama pengeringan 4 jam sampai 6 jam. Berdasarkan
penelitian Arif dan Illahi (2018) Penetapan kadar air benih pada benih kelapa
sawit disarankan dengan menggunakan metode oven suhu rendah konstan 103 ± 2
o
C selama 48 jam.
Benih kacang hijau termasuk benih yang memiliki kadar air tinggi sekitar
8,5%. Untuk melakukan penyimpanan benih, termasuk benih kacang-kacangan
dengan kadar air optimum antara 6-11%. Dalam hal ini, kadar air optimum
merupakan kandungan air benih saat benih disimpan tanpa mengalami penurunan
mutu benih. Kadar air benih mempengaruhi vigor dan viabilitas benih (Tustiyani
et al, 2016).
Benih padi termasuk ke dalam benih ortodoks, tempat penyimpanan atau
kemasan benih yang tidak sesuai dapat menurunkan mutu benih. Kadar air benih
yang tinggi saat penyimpanan dapat menyebabkan peningkatan aktivitas
metabolisme dan respirasi amilum. Sehingga pada saat benih di semai, cadangan
makanan dalam benih telah habis dan menyebabkan pertumbuhan benih menjadi
abnormal (Sutopo, 2000 dalam Dewi, 2013).
III. METODE

2.1 Alat dan Bahan


Pada percobaan penetapan kadar air benih yakni menggunakan data sekunder.

2.2 Langkah Kerja


1. Ambil benih padi kurang lebih 5 gr, benih rambutan sekitar 8 gr, lalu
benih dihancurkan dengan grinder, atau bisa juga untuk benih yang besar
dipotong kecil-kecil untuk memperluas permukaan penguapan.
2. Timbanglah cawan dan tutup (M1), kemudian masukkan benih yang sudah
dihancurkan ke dalam cawan lalu timbang kembali (M2)
3. Masukkan cawan tersebut ke dalam oven dengan kondisi cawan terbuka,
suhu yang digunakan ada 2 yaitu suhu rendah sekitar 1030C di oven
selama 17 jam dan suhu tinggi sekitar 1300C di oven selama 2 jam,
(dihindari penggunaan suhu tinggi pada benih yang banyak mengandung
minyak).
4. Setelah itu, keluarkan benih dari oven dalam keadaan cawan tertutup dan
dimasukkan ke dalam desikator selama 45 menit hingga dingin.
5. Setelah itu, timbang benih yang telah di oven tadi dalam keadaan cawan
tertutup (M3)
6. Hitunglah kadar air benih dengan menggunakan rumus:

%KA = × 100%

2.3 Rancangan Praktikum


Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan
analisis Statistik Inferensial menggunakan Anova dua faktor.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Data Sekunder Benih Rambutan


M1 M2 M3 %KA
U1A 63 72,99 69,47 35,235
U2A 58,93 72,99 65,4 53,982
U3A 62,35 72,99 68,21 44,924
U1B 59,25 72,99 65,79 52,401
U2B 62,19 72,99 67,88 47,314
U3B 60,51 72,99 68,15 38,782
U1C 63,46 72,99 70,29 28,331
U2C 63,77 72,99 69,5 37,852
U3C 61,18 72,99 66,87 51,820
U1D 58,22 72,99 64,79 55,517
U2D 64,21 72,99 70,03 33,712
U3D 64,02 72,99 70,37 29,208

Tabel 2. Kadar Air Benih Rambutan


U1 U2 U3
A 35,2 54,0 44,9
B 52,4 47,3 38,8
C 28,3 37,8 51,8
D 55,5 33,7 29,2

Penetapan kadar air benih pada praktikum ini adalah dengan menggunakan
4 perlakuan yaitu perlakuan A dengan oven suhu rendah 103oC sebagai kontrol,
perlakuan B oven suhu tinggi 130oC selama 2 jam, perlakuan C oven suhu tinggi
130oC selama 3 jam, dan perlakuan D oven suhu tinggi 130oC selama 4 jam.
Masing-masing perlakuan diulang 3 kali.
Dari tabel 1 dan tabel 2. data sekunder secara keseluruhan, pada pengujian
kadar air benih rambutan, data dengan kadar air terendah yaitu pada U1C yaitu
28,3% dengan suhu oven yaitu 130oC selama 3 jam., dan kadar air tertinggi pada
data U1D yaitu 55,5% dengan suhu oven yaitu 130oC selama 4 jam.

60,00

50,00

40,00
U1
30,00
U2
20,00 U3

10,00

0,00
A B C D

Gambar 1. Grafik Pengaruh Suhu Dan Lama Pengovenan Pada Benih


Rambutan

Pada grafik (gambar 1.) ditunjukkan bahwa kadar air benih yang terendah
yaitu pada perlakuan C di ulangan 1 dan kadar air benih tertinggi pada perlakuan
D di ulangan 1.

Tabel 3. Anova Pengaruh Suhu Dan Lama Pengovenan Pada Kadar Air
Benih Rambutan
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 112,382 3 37,460 0,240 0,865 4,757
Ulangan 9,460 2 4,730 0,030 0,970 5,143
Error 936,210 6 156,035

Total 1058,053 11

Dari tabel 3. diketahui bahwa F hitung perlakuan lebih kecil dari F tabel
sehingga perlakuan suhu dan lama pengovenan tidak berpengaruh nyata pada
kadar air benih rambutan dan F hitung ulangan lebih kecil dari F tabel berarti
setiap individu antar ulangan tidak berbeda nyata.
Benih rambutan adalah benih rekalsitran yang berukuran besar dan
mengandung minyak, pada praktikum ini perlakuan yang digunakan adalah suhu
tinggi, dimana tidak dianjurkan untuk benih besar dan mengandung minyak
karena dapat menyebabkan oksidasi minyak sehingga dapat terjadi kekeliruan
dalam perhitungan dan penetapan kadar air benih (Arif dan Illahi, 2018).

Tabel 4. Data Sekunder Benih Kacang


M1 M2 M3 %KA
U1A 38,9 43,72 43,43 6,016
U2A 33,44 38,69 38,38 5,904
U3A 38,31 43,39 43,07 6,299
U1B 39,65 44,42 44,12 6,289
U2B 38,62 43,45 43,14 6,418
U3B 40,8 45,69 45,39 6,134
U1C 37,94 42,93 42,65 5,611
U2C 38,88 43,65 43,37 5,870
U3C 37,78 42,52 42,19 6,962
U1D 38,11 43,13 42,8 6,573
U2D 36,97 42,03 41,72 6,126
U3D 38,26 43,21 42,89 6,464

Tabel 5. Kadar Air Benih Kacang


U1 U2 U3
A 6,0 5,9 6,3
B 6,3 6,4 6,1
C 5,6 5,9 6,9
D 6,6 6,1 6,4

Dari pengukuran kadar air benih kacang, pada tabel 3 dan tabel 4 kadar air
benih kacang yang terendah adalah pada U1C yaitu 5,6% dan kadar air benih
tertinggi yaitu pada perlakuan U3C yaitu 6,9%.
8,00
7,00
6,00
5,00
U1
4,00
U2
3,00
U3
2,00
1,00
0,00
A B C D

Gambar 2. Grafik Pengaruh Suhu Dan Lama Pengovenan Pada Benih


Kacang
Pada grafik (gambar 2.) ditunjukkan bahwa antar perlakuan dan ulangan
berpengaruh tidak nyata pada masing-masing data yang tertera dalam diagram
batang, kadar air rendah dan kadar air tertinggi terletak pada perlakuan C dengan
suhu tinggi 130oC selama 3 jam, kadar air tertinggi pada ulangan ke 3 dan kadar
air benih padi terendah pada ulangan ke 1 pada perlakuan C.

Tabel 6. Anova Pengaruh Suhu Dan Lama Pengovenan Pada Kadar Air
Benih Kacang
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Perlakuan 0,175 3 0,058 0,389 0,764 4,757
Ulangan 0,356 2 0,178 1,185 0,368 5,143
Error 0,902 6 0,150

Total 1,435 11

Dari tabel 6. diketahui bahwa F hitung perlakuan lebih kecil dari F tabel
sehingga perlakuan suhu dan lama pengovenan tidak berpengaruh nyata pada
kadar air benih kacang dan F hitung ulangan lebih kecil dari F tabel berarti setiap
individu antar ulangan tidak berbeda nyata.
Biji kedelai termasuk biji ortodoks yang bijinya bisa dikeringkan tanpa
mengalami kerusakan. Viabilitas biji ortodoks tidak mengalami penurunan yang
berarti dengan penurunan kadar air hingga di bawah 20%, sehingga biji tipe ini
bisa disimpan dalam kadar air yang rendah. Biji kedelai mudah menurun daya
kecambahnya, terutama bila kadar air dalam biji di atas 13% dan disimpan pada
ruangan yang suhunya diatas 250 °C, (Ernawati, 2012).

Tabel 7. Data Sekunder Benih Padi


M1 M2 M3 %KA
U1A 40,04 45,17 44,52 12,670
U2A 40,65 45,54 44,93 12,474
U3A 36,76 41,87 41,25 12,133
U1B 37,89 42,9 42,3 11,976
U2B 30,47 35,66 35,03 12,138
U3B 39,57 44,69 44,07 12,109
U1C 38,44 43,22 42,63 12,343
U2C 39,32 44,17 43,56 12,577
U3C 36,16 41,28 40,61 13,085
U1D 38,23 43,78 43,05 13,153
U2D 38,82 43,77 43,13 12,929
U3D 39,13 44,13 43,47 13,2

Tabel 8. Kadar Air Benih Padi


U1 U2 U3
A 12,7 12,5 12,1
B 12,0 12,1 12,1
C 12,3 12,6 13,0
D 13,1 12,9 13,2

Pada penetapan kadar air benih padi, dari tabel 5 dan 6. kadar air benih
padi terendah yaitu pada data U1B 11,97% dan kadar air benih padi tertinggi pada
data U3D 13,2%.
13,40
13,20
13,00
12,80
12,60
12,40 U1
12,20 U2
12,00 U3
11,80
11,60
11,40
11,20
A B C D

Gambar 3. Pengaruh Suhu Dan Lama Pengovenan Pada Benih Padi

Pada grafik (gambar 3.) kadar air benih padi terendah terdapat pada
perlakuan B yakni di ulangan ke 1, dan kadar air benih tertinggi yaitu pada
perlakuan D di ulangan ke 3. Pengaruh perlakuan pada masing-masing ulangan
memiliki hasil yang berbeda-beda. Kadar air 14% pada benih padi dapat
meningkatkan viabilitas dan penyimpanan 1 bulan dan meningkatkan vigor benih
pada peubah indeks vigor 0,89% pada periode simpan 3 bulan (Tefa, 2017).

Tabel 9. Anova Pengaruh Suhu Dan Lama Pengovenan Pada Kadar Air
Benih Padi
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Rows 1,651 3 0,550 7,072 0,021 4,757
Columns 0,026 2 0,013 0,169 0,848 5,143
Error 0,466 6 0,077

Total 2,144 11

Dari tabel 9. diketahui bahwa F hitung perlakuan lebih besar dari F tabel
sehingga perlakuan suhu dan lama pengovenan berpengaruh sangat nyata pada
kadar air benih padi dan F hitung ulangan lebih kecil dari F tabel berarti setiap
individu antar ulangan tidak berbeda nyata.
V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah;

1. Perlakuan yang digunakan adalah oven suhu tinggi 130oC dan suhu 103oC
sebagai kontrol.
2. Kadar air benih rambutan terendah yaitu pada U1C (Perlakuan oven 130oC
selama 3 jam) yaitu 28,3% dengan suhu oven yaitu 130oC selama 3 jam, dan
kadar air tertinggi pada data U1D yaitu 55,5% selama 4 jam. Perlakuan suhu
dan lama pengovenan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air benih
rambutan.
3. Kadar air benih kacang yang terendah adalah pada U1C yaitu 5,6% dan kadar
air benih tertinggi yaitu pada perlakuan U3C yaitu 6,9% dengan suhu oven
yaitu 130oC selama 3 jam. Perlakuan suhu dan lama pengovenan tidak
berpengaruh nyata terhadap kadar air benih kacang.
4. Kadar air benih padi terendah yaitu pada data U1B 11,97% dengan suhu
oven yaitu 130oC selama 2 jam dan kadar air benih padi tertinggi pada data
U3D 13,2% dengan suhu oven yaitu 130oC selama 4 jam. Perlakuan suhu
dan lama pengovenan berpengaruh nyata terhadap kadar air benih padi.
DAFTAR PUSTAKA

Arif, M., & Illahi, N. M. A. 2018. Aplikasi metode oven suhu tinggi tetap dan
benih utuh dalam pengujian kadar air benih kelapa sawit (Elaeis guineensis
L. Jacq.). Jurnal Penelitian Kelapa Sawit. 26(3): 153-159.

Dewi, I. N. 2013, December). Viabilitas Dan Vigor Benih Padi (Oryza Sativa L)
Varietas IR 64 Berdasarkan Variasi Tempat Dan Lama Penyimpanan. In
Prosiding Seminar Nasional MIPA.

Ernawati, A. 2012. Pengaruh Suhu Dan Lama Penyimpanan Terhadap Viabilitas


Benih Kedelai (Glycine mak (L). merrill) (Doctoral dissertation,
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).

Jawak, G., Widajati, E., & Palupi, E. R. 2020. Pengaruh Invigorasi Terhadap
Viabilitas Benih Rambutan (Nephelium Lappaceum). CIWAL (Jurnal Ilmu
Pertanian dan Lingkungan). 1(1): 1-8.

Tefa, A. 2017. Uji viabilitas dan vigor benih padi (Oryza sativa L.) selama
penyimpanan pada tingkat kadar air yang berbeda. Savana
Cendana, 2(03), 48-50.

Tustiyani, I., Pratama, R. A., & Nurdiana, D. 2016. Pengujian Viabilitas dan
Vigor dari Tiga Jenis Kacang-kacangan yang Beredar di Pasaran Daerah
Samarang, Garut. Jurnal Agroekoteknologi. 8(1).

Widajati, E., Suwarno, F. C., & Apriyani, S. N. 2014. Metode uji penetapan kadar
air benih untuk sertifikasi benih pala (Myristicaspp.). In Prosiding
Seminar Nasional Perhimpunan Agronomi Indonesia. Universitas Sebelas
Maret. Surakarta (pp. 143-151).

Anda mungkin juga menyukai