Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

“PERTUMBUHAN SEL, DIFERENSIASI SEL


DAN KELAINAN KONGENITAL”

Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah : Ilmu Dasar Keperawatan II
Dosen : Ns. Murniati Muchtar, SKM, S. Kep., M. Biomed

Disusun Oleh:
Wisye Novia Arman
NIM: 203310717

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN PADANG
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga saya dapat
menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Pertumbuhan Sel, Diferensiasi Sel dan
Kelainan Kongenital” ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penyusunan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari
bu Ns. Murniati Muchtar, SKM, S. Kep., M. Biomed pada mata kuliah Ilmu Dasar
Keperawatan. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan
tentang Pertumbuhan Sel, Diferensiasi Sel dan Kelainan Kongenital bagi para
pembaca dan juga bagi penyusun.

Saya mengucapkan terima kasih kepada bu Ns. Murniati Muchtar, SKM, S. Kep., M.
Biomed selaku dosen Mata Kuliah Ilmu Dasar Keperawatan yang telah memberikan
tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang
studi yang saya tekuni.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi
sebagian pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Saya
menyadari, makalah yang saya susun ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan
makalah ini.

Padang, 21 Januari 2021

Penyu
sun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................................................ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pertumbuhan Sel

Pertumbuhan dapat didefinisikan sebagai peningkatan komponen-


komponen seluler. Terdapat dua macam pertumbuhan sel, yaitu pertumbuhan
yang berakibat peningkatan ukuran sel tetapi tidak jumlah sel. Dan yang kedua
adalah pertumbuhan yang diikuti dengan peningkatan jumlah sel. Dalam hal
yang pertama, inti sel membelah tetapi tidak diikuti oleh pembelahan sel.

Organisme dalam golongan ini biasa disebut organisme koenositik


(coenocytic) atau multiseluller, sedangkan organisme yang termasukdalam
golongan kedua membesar dan membelah menghasilkan dua progeny dengan
ukuran yang kurang lebih sama. Berbagai faktor kimia maupun fisika dapat
mempengaruhi pertumbuhan sel, antara lain pH, suhu, konsentrasi oksigen,
tekanan, radiasi dan aktivitas air (water activity).
Fase Pertumbuhan Sel
a. Fase Lag
Pada saat pertama kali organisme ditumbuhkan pada media kultur
yang baru biasanya tidak segera didapati peningkatan jumlah atau masa
sel. Walaupun demikian sel tetap mensintesis komponen seluller. Fase
lag dapat terjadi karena beberapa faktor antara lain karena sel yang
sudah tua dan kekurangan ATP, essential cofactors serta ribosom.
Substansi- substansi ini harus terlebih dahulu disintesis sebelum
pertumbuhan berlangsung. Kemungkinan yang lain adalah media
pertumbuhan yang berbeda dengan media pertumbuhan sebelumnya.
Dalam hal ini enzim-enzim baru akan diperlukan untuk penggunaan
nutrisi yang berbeda. Selain itu lag fase dapat terjadi apabila sel
mengalami kerusakan sehingga membutuhkan waktu untuk perbaikan
kembali.

Lamanya lag phase bervariasi tergantung pada kondisi sel dan sifat
dari media. Sel yang sudah tua atau baru saja dikeluarkan dan tempat
penyimpanan (refrigerated) atau dikultur dalam suatu media dengan
kandungan nutrisi yang berbeda akan membutuhkan lag fase yang lebih
panjang jika dibandingkan dengan sel yang masih muda dan dikulturkan
pada media baru yang sama.
b. Fase Eksponensial

Fase ini disebut juga dengan fase log. Organisme tumbuh dan
membelah pada kecepatan maksimum tergantung pada sifat genetik,
medium dan kondisi pertumbuhan. kecepatan pertumbuhan konstant, sel
membelah dan meningkat jumlahnya (doubling) dalam interval yang
teratur. Pada fase ini sel mempunyai kesamaan sifat kimia dan fisiologi
sehingga banyak digunakan dalam studi-studi biokimia dan fisiologi.

c. Fase Stationer
Pada fase ini kurva pertumbuhan berhenti dan kurva horisontal.
Hal ini disebabkan ketidakseimbagan nutrient dan O 2, keseimbangan
jumlah sel yang membelah dan yang mati, tipe organisme serta
akumulasi limbah toksik seperti asam laktat. Bakteri mampu tumbuh
pada maksimum populasi sel (cell density) 1 x sel/ml sedangkan
protozoa dan alga hanya mampu tumbuh pada tingkat populasi 1 x 106
sel/ml.

d. Fase Kematian

Pada fase kematian adanya perubahan lingkungan tumbuh seperti


kehabisan nutrisi dan akumulasi limbah toksik menjadi faktor penyebab
menurunnya jumlah sel hidup. Sel mengalami kernatian dalam pola
logaritmik.

B. Pembelahan Sel
Pembelahan sel pada prokaryotes seperti bakteri lebih sederhana dan
cepat jika dibandingkan dengan eukaryotes. Beberapa jenis bakteri membelah
dalam kultur tiap 10 menit. Selama pembelahan molekul ds DNA mengalami
replikasi menghasilkan turunan yang identik. Pada saat pertumbuhan mencapai
ukuran tertentu dan replikasi DNA sudah selesai, molekul DNA yang baru
mempunyai tempat perlekatan yang baru pada membra plasma yang berbeda
dengan molekul DNA yang lama. Dan sini molekul DNA mulai membelah
menjadi dua terpisah oleh membran plasma dan dinding sel diantara tempat
perlekatannya.

Pembelahan sel terjadi secara binary fission dimana sel membelah


menghasilkan dua sel dengan ukuran yang hampir sama, masing-masing
mengandung satu salman materi genetik dan separoh jumlah sitoplasma
a) selama replikasi dua untaian induk DNA memisah (unwind),
b) Untai baru terbentuk dengan urutan basa yang saling
berpasangan dengan urutan basa induk
c) replikasi selesai, untaian DNA induk terpisah dengan untaian
DNA baru menghasilkan dua ds DNA yang identik.
Pembelahan sel pada eukaryotes lebih kompleks karena mengandung
materi genetik dalam jumlah yang lebih. Materi genetik terdiri dari banyak
molekul DNA yang masing-masing terorganisir dalam suatu kromosom.

a) molekul DNA sirkular (kromosom) melekat pada membrane


pada tempat yang spesifik,
b) DNA mengalamai replikasi,
c) dua salman DNA memisah akibat pengembangan mebran plasma
dan dinding sel diantara tempat perlekatan,
d) membran dan dinding sel memanjang membentuk lekukan ke
dalam membelah sel menjadi dua.
C. Siklus Sel
1. Pengertian
Siklus sel adalah perubahan yang terjadi pada satu generasi kehidupan
sel, dimulai pada saat sel diproduksi lewat pembelahan sel induk sampai
terbentuk anak sel yang baru. Dalam satu siklus sel, proses pembelahan sel
eukaryotes menempati bagian yang kecil dan keseluruhan siklus sel. Sel lebih
banyak dalam kondisi interfase.

Selama interfase, DNA dan molekul lain disintesis. Bagian pertama


dari interfase adalah fase G1 (gap 1) yang umumnya memakan waktu paling
lama. Sel yang aktif tumbuh segera memasuki fase S dimana DNA mengalami
replikasi. Pada akhir fase S, nukleus kelihatan lebih besar dan mengandung
DNA dalam jumlah dua kali lipat. Kemudian sel memasuki fase G2 (gap 2)
dimana sintesis komponen utama yang lain terjadi. Sel pada akhirnya
mempersiapkan pembelahan dan memasuki fase M (mitosis). Mitosis selesai
ketika dua anak inti sel terbentuk. Selelah pembelahan inti sel, pembelahan
seluruh sel terjadi pada fase C (Cytokinesis).

2. Variasi siklus sel

Sel embrio dan banyak organisme tingkat rendah menunjukkan


variasi pada siklus selnya. Banyak sel embrio hewan yang mempunyai
siklus sel lebih cepat dibandingkan dengan sel dewasa. Kecepatan sintesis
DNA sekitar 100X lebih cepat pada sel embrio dibandingkan dengan sel
dewasa pada spesies yang sama. Kadang tidak terdapat fase G1 seperti yang
banyak ditemukan pada kebanyakan protozoa, jamur dan organisme tingkat
rendah lainnya. Dapat disimpulkan bahwa sintesis DNA dimulai saat atau
segera selelah mitosis selesai berlangsung. Sebagai contoh adalah sel
Xenopus dimana fase S sel dewasa adalah 20 jam, sementara fase S sel
embrionya selama 25 menit dan fase G1 tidak ada atau sangat singkat.

Pada siklus seI eukaryotes fase G1, S dan G2 termasuk dalam


interfase dimana DNA dan molekul lain disintesis. Sel yang akan
membelah memasuki fase M (mitosis) dimana untaian panjang DNA
mengalami kondensasi membentuk kromosom. Selelah pembelahan inti sel,
sel membelah dengan cytokinesis (fase C)

a. Mitosis

Selelah replikasi DNA pada fase S dan sebelum mitosis, tiap


kromosom terdiri dari dua kromatid yang identik yang saling berlekatan
pada tempat khusus yang disebut sentromer. Sentromer adalah organel
sel yang terletak di pusat sel yang terutama terdiri dari pusat pengaturan
mikrotubule (MOC) dan berfungsi sebagai sumbu spindle selama proses
mitosis. Bagaimana perilaku kromosom selama proses mitosis
tergantung pada benang-benang mitosis (mitotic spindle) yang berperan
dalam pergerakan kromosom menuju equator dam pemisahan kromatid
sehingga tiap anak sel mengandung satu sel kromosom yang lengkap.

Mitosis, seperti juga siklus sel, terbagi menjadi beberapa tahap:


1) Prophase
Pada tahap ini kromosom mengalami kondensasi dalam inti
sel. Mikrotubul sitoplasma berpisah, benang-benang mitosis
terbentuk dibagian luar inti sel diantara sentromer yang terpisah.
2) Prometaphase
Membrane inti sel pecah nampak sebagai vesikie membrane
(seperti RE), benang mikrotubul masuk ke daerah inti sel.
Kinetochores (kompleks protein) mengalami pendewasaan pada
sentromer dan melekat pada beberapa benang mikrotubul yaitu
mikrotubul kinetochore. Terdapat tiga kelas mikrotubul dan spindle
mitosis yang dapat

3) Metaphase

Pada tahap ini mikrotubul kinetochore mengarahkan


kromosome di tengah-tengah diantara dua kutub spindle.
4) Anaphase

Pasangan kinetochores pada kromosom berpisah menuju tiap


kutub. Terdapat dua pergerakan yang dapat dibedakan yaitu
Anaphase A, dimana mikrotubul kinetochore memendek dan
Anaphase B, dimana mikrotubul polar memanjang dan dua kutub
spindle semakin menjauh.

5) Telophase

Anak kromosom tiba dikutub, mikrotubul kinetochores


menghilang. Mikrotubul polar masih memanjang dan membran inti
terbentuk kembali. Kromatin yang terkondensasi bergerak menjauh,
inti sel/nucleoli (yang hilang pada prophase) terbentuk kembali.
6) Cytokinesis

Pada tahap ini sitoplasma terbagi dalam proses yang disebut


“cleavage”. Bagian tengah sel saling menyatu membentuk
“cleavage furrow”. Pada proses ini mid body masih tetap ada sampai
pada akhirnya menyempit dan putus membentuk dua anak sel.

b. Meiosis

Siklus seksual ditandai dengan dua proses unik yaitu meiosis dan
pembuahan. Meiosis adalah pembelahan inti sel yang mengahsilkan
separoh jumlah kromosom induknya. Sebagai contoh, sel diploid (2n)
akan menghasilkan produk haploid (1n). Sedangkan pembuahan adalah
proses penggabungan dua inti sel menjadi satu sehingga inti sel haploid
bergabung menjadi satu inti sel diploid. Jumlah kromosom akan tetap
konstan dikarenakan penggandaan jumlah kromosom selama proses
pembuahan akan ompensasi dengan pengurangan separo jumlah
kromosom pada proses meiosis.

Tidak seperti proses mitosis, meiosis hanya terjadi pada sel jenis
tertentu dan pada tertentu selama proses perkembangan. Hanya spesies
seksual yang mampu menghasilkan sel dengan kemampuan meiosis.
Gamet adalah sel seks yang tidak bisa berkembang kecuali jika
bergabung dengan gamet lain yang cocok. Hasil dari gabungan dua
gamet rnenghasilkan zygot yang memiliki jumlah kromosom dua kali
lipat kromosom gamet.

Tanaman tingkat tinggi secara kontinyu menghasilkan spora


sebagai produk meiosis. Spora mengalami tingkat perkembangan yang
berbeda tergantung dari golongan tanaman dan pada akhirnya
berkembang membentuk suatu sistem penghasil gamet. Organ yang
rnenghasilkan gamet disebut gonad. Gonad betina adalah ovarium atau
oogonium dimana telur diproduksi. Gonad jantan adalah testis atau
spermatogonium dimana sperma terbentuk. Oocyte mengalami meiosis
untuk menghasilkan satu telur yang fungsional dan tiga sel abortif,
sedangkan spermatocyte menghasilkan empat sperma fungsional

Terdapat dua tahap pada proses meiosis. Tahap pertama (meiosisI)


melibatkan profase, prometafase, metafase, anafase dan telofase. Pada fase
profase terbagi tahap-tahap yang meliputi leptonema, zygonema,
pachynema, diplonema dan diakinesis. Pada fase leptonema terjadi
pembesaran inti sel yang didalamnya terdapat kromatin tersebar. Kromosom
homolog berpasangan membentuk kompleks synaptonemal tahap zygonema
dan berkondensasi pada tahap pachynema. Pada tahap ini terjadi pertukaran
daerah homologi pada kromosom yang dikenal dengan istilah “crossing
over”. Ada tahap diplonema kromosom terpisah, hanya bagian yang
homolog (chiasmata) yang masih berhubungan. Kondensasi kromosom
terus berlangsung pada tahap diakinesis membentuk suatu bivalent yang
kompak terpaking pada inti sel, inti dan membran sel menghilang dan
benang-benang mikrotubul terbentuk.

Tahap selanjutnya adalah Prometaphase I dimana kromosom


bergerak ke arah bagian tengah spindle. Pada fase Metafase I kromatid dan
kromosom homolog menghadap kutub yang berlainan yang selanjutnya
memisah ke kutub pada tahap anafase I. Pada tahap ini haploid belum
terjadi (jumlah DNA masih 2X). Pada tahap telofase kromosom sudah
terorganisasi dengan baik, inti dan membran sel terbentuk dan pada
akhirnya membentuk anak inti sel. Cytokinesis pada banyak kasus tertunda
sampai tahap meiosis II selesai dimana akan terbentuk empat sel.

Tahap kedua dari meiosis (meiosis II) melibatkan proses profase,


metafase, anafase dan telofase yang mirip dengan mitosis. Pada akhir
meiosis II dihasilkan kromosom haploid dengan kandungan DNA pada tiap
inti sel 1X.

D. Diferensiasi Sel
1. Pengertian

Diferensiasi merupakan sebuah proses umum dalam sel induk dewasa yang
membelah dan berdiferensiasi menjadi sel anak yang lebih khusus. Ada berbagai
jenis sel dalam tubuh manusia. Dalam sebuah sel yang dapat berdiferensiasi
menjadi semua jenis sel yang membentuk tubuh dikenal sebagai sel pluripotent.
Sel-sel ini dikenal sebagai sel embrionik pada hewan dan mamalia, sebuah sel yang
dapat berdiferensiasi menjadi hampir semua jenis tipe sel, termasuk sel-sel plasenta
dikenal sebagai sel totipoten.

Proses yang menyebabkan sekumpulan sel menjadi berbeda-beda dalam


dalam struktur, fungsi dan prilaku. Diferensiasi berlangsung waktu embrio, berkat
diferensiasi suatu indifidu bentuk definitif jadi terdiri atas berbagi macam jaringan.
Jaringan adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk, struktur, fungsi dan prilaku
sama. Jaringan berasosiasi membantuk sistem.Seluruh sistem berhimpun membina
tubuh suatu organisme.

Diferensiasi terjadi pada seluruh mahluk hidup. Dengan diferensiasi


terjadilah pembagian aktifitas tubuh, sehingga menjadi efektif. Pada makalah ini,
kita akan membahas tentang sifat dasar diferensiasi sel, tempat diferensiasi, faktor
diferensiasi, dan apa saja yang mempengaruhi proses diferensiasi sel.

2. Sifat Dasar Diferensiasi

Diferensiasi berlangsung sewaktu embrio, berkat diferensiasi suatu individu


bentuk definitive jadi terdiri atas berbagai macam jaringan.

Jaringan adalah kumpulan sel yang memiliki bentuk, struktur, fungsi, dan
prilaku sama.Jaringan berasosiasi membentuk alat, dan alat berasosiasi pula
membentuk sistem.Seluruh sistem berhimpun membina tubuh suatu
organisme.Proses diferensiasi adalah proses terbentuknya sifat-sifat yang baru atau
menghilangnya sifat yang tidak ada sehingga sel mendapat sifat dan struktur yang
baru. Jadi diferensiasi menekankan pada perubahan kualitatif.Dengan adanya
diferensiasi perbedaan struktur dan sifat-sifat pada sel, jaringan dan organ.

Diferensisasi dikatakan dapat terjadi jika ada perubahan nyata pada


morfologi sel (misalnya pembentukan sel epitel kulit dari sel ektodermal) atau
perubahan fungsi yang khusus dari sel. Sel-sel yang mempunyai berbagai variasi
diferensiasi dapat mempunyai karakteristik pertumbuhan yang berbeda.Variasi
diferensiasi juga mempengaruhi kemampuan beberapa sel untuk berpindah dengan
memperhatikan yang lainnya. Jadi, perkembangan embriologis yang normal
memerlukan kordinasi yang tinggi dari proses diferensiasi, tumbuhan, dan
perpindahan sel yang secarakeseluruhan membentuk morfogenesis (proses
pembentukan/perkembangan struktur, ukuran, dan bentuk organ.
Diferensiasi mutlak perlu bagi mahluk multiseluler komplek dengan
diferensiasi itu akan terjadi pembagian pekerjaan atau aktivitas tubuh, sehingga
menjadi efektif. Sebenarnya diferensiasi ada pada seluruh mahluk, bahkan pada
mahluk uniseluler seperti pada amoeba, dalam selnya sudah ada pembagian tugas
dan sudah memiliki organel.

Contoh organel pada amoeba ialah seperti vakuola makanan untuk tugas
mencerna makanan, vakuola berdenyut untuk tugas membuang ampas metabolisme
atau osmoregulator, pseudopodia untuk pergerakan pindah, dan inti untuk control
aktifitas sel. Selama diferensiasi, sel mendapat sifat-sifat dari, misalnya terbentuk
aktin dan miosin pada sel otot atau terjadinya perubahan pada susunan kimianya.
Misalnya, dengan adanya enzim.Pada diferensiasi juga ada struktur atau sifat yang
menghilang, misalnya pada diferensiasi sel darah mamalia.Mula-mula bakal sel
darah merah mengandung nukleus tetapi selelah mengalami diferensiasi terbentuk
sel darah merah yang tidak mengandung nukleus.

Hasil proses diferensiasi secara internal, yaitu pertumbuhan anda


terbentuknya macam-macam jaringan dan organ yang dipengaruhi faktor
lingkungan. Membentuk suatu struktur tubuh yang baru disebut morfogenesis.
Perkembangan dan diferensiasi dikontrol oleh DNA (gen) pada nucleolus.

Sel induk bersifat totipotent atau pluripotent.Artinya memiliki sel-sel anak


potensi yang lengkap dan banyak bermitosis terus dan berdiferensiasi ke segala
arah untuk aktfitas kehidupan.Dengan diferensiasi potensi sel anak menciut dan
khas untuk suatu aktifitas khusus, disebut unipoten. Artinya potensi sel itu hanya
tunggal: untuk bernafas, atau untuk mencerna, sekresi zat A, pergerakan dan
sebagainya.

a. Dengan diferensiasi terjadilah spesialisasi bagi berbagai populasi sel anak.


Spesialisasi itu terjadi baik intra maupun ekstraseseluler. Spesialisasi intra ialah:
Sel otot mengandung mikrofilamen aktin dan myosin yang banyak dan tersusun
berjajar rapat, disertai dengan banyaknya mitokondria yang perlu untuk sumber
energi bagi proses berkerut-kerut.
b. Sel kelenjar penghasil enzim mengandung retikulum endoplasma kasar yang
banyak dan alat golgi yang besar.

c. Sel epitel kulit mengandung retikulum endoplasma banyak dan giat


memeroduksi serat keratin.

d. Sel saraf memiliki bentuk khas, yaitu panjang halus seperti serat dan mampu
mengalirkan rangsangan listrik maupun kimia, pada ujung serabut dihasilkan
cairan kimia. Pada ujung serabut dihasilkan cairan kimia yang disebut
neurotransmitter.

3. Tahap Diferensiasi

Dalam diferensiasi terjadi kedalam beberapa tahapan yaitu pada tingkat


pertumbuhan embrio. Seperti zigot, blastula, grastula, tubulasi, organogenesis.

a. Zigot

Zigot adalah ovum yang fertilisasi dibuahi spermatozoa. Bagian atas


ovum Amphioxus, disebut kutub animal terdapat daerah ooplas (sitoplasma
ovum) yang nantinya akan menjadi bakal ektoderm. Bagian bawah kutub ovum
disebut kutub vegetal ooplas yang akan menjadi bakal mesoderm. Sedangkan
bagian samping antara kedua kutub akan menjadi bakal endoderm. Eksoderm
bakal tumbuh menjadi epidermis dan saraf. Endoderm bakal menjadi lapisan
lendir saluran pencernaan bersama kelnjar dan paru, mesoderm bakal menjadi
jaringan pengikat, penunjang, otot, alat dalam.

b. Blastula

Terjadi pada tingkat pertumbuhan embrio, terbentuk daerah kelompok


sel yang akan menjadi jaringan utama tubuh. Selelah berdiferensiasi, pupolasi
sel menjadi epidermis, saraf, notokord (sumbu penyokong primer),
mesoderm.Diferensiasi mulai terjadi pada kelompok sel. Blastomer (sel
blastula) sebelah bakal jadi endoderm, sebelah atas bakal jadi ektoderm, dan
bagian tengah bakal menjadi mesoderm.

c. Gastrula
Pada tingkat gastrula, embrio sudah mengandung 3 lapis benih yang
terdiri dari sel-sel yang tersusun di daerah tertuntu tubuh, yaitu ektoderm,
mesoderm dan endoderm.Pada tingkat grastula, baru berupa daerah sel
sedangkan pada tingkat gastrula sudah membentuk lapisan yang sangat
jelas.Diferensiasi berlanjut dengan terbentuknya 3 lapis benih yaitu ektoderm
sebelah luar, endoderm sebelah dalam dan mesoderm di tengah.

d. Tubulasi

Pada tingkat tubulasi, ketiga lapis benih, sudah berupa bumbung


sehingga merupakan bumbung epidermis yang melingkup seluruh permukaan
tubuh. Bumbung saraf bagian depan, bakal jadi otak dan yang belakang bakal
bakal jadi batang saraf punggung. Bumbung endoderm menjadi lapisan lendir
saluran pencernaan, dan bumbung mesoderm akan membentuk otot, alat dalam
dan rongga tubuh. Diferensiasi makin rinci pada tingkat tabulasi.Lapisan
ektoderm membentuk bumbung epidermis/kulit dan bumbung saraf, lapisan
endoderm membentuk bumbung saluran pencernaan, dan lapisan mesoderm
membentuk berbagi bumbung dan saluran pada berbagi alat dalam.

e. Organogenesis

Pada tingkat organogenesis, diferensiasi lebih rinci lagi, di sini sudah


terbentuk seluruh macam jaringan dan alat tubuh secara lengkap, sehingga pada
saat kelahiran anak sudah dalam bentuk yang tetap. Pada beberapa Vertebrata
rendah, seperti ikan dan amfibi masih ada tingkat berudu, sebagai bentuk tetap.

Bumbung mengalalami diferensiasi lagi berbentuk berbagai alat. Bumbung


saraf membentuk bagian-bagian otak dengan kuncup indera. Bumbung endoterm
berdiferensiasi membentuk saluran pencernaan dan saluran pernapasaan termasuk
kelenjar hati dan pankreas. Bumbung mesoderm berdiferensiasi membentuk otot ,
tulang, ginjal, gonad, jaringan pengikat, serta darah bersama pembuluh dan
jantung.
4. Tempat terjadinya diferensiasi

Diferensiasi terjadi pada tiga tempat, yaitu intra dan ekstrasel, populasi sel serta
jaringan dan alat.

a. Diferensiasi intrasel dan ekstrasel

Diferensiasi intrasel terjadi pada organel.Untuk menjadi sel otot terjadi


spesialisasi pada mikrotubul dan mikrofilamen, juga makin banyak
terbentuknya mitokondria dibandingkan dengan sel alin. Pada sel kelenjar
penggetah enzim dan lendir terjadi spesialisasi pada retikulum endoplasma,
ribosom dan badan golgi, akan sangat aktif dan banyak mengisi sel.

b. Diferensiasi populasi sel, diferensiasi jaringan dan alat.

Diferensiasi populasi sel terjadi pada bahan interseluler dan pertautan


sel atau komunikasi sesama sel sepopulasi.Semua sel sepopulasi mengandung
junction yang khas dan lewatnya dapat dilakukan komunikasi dan distribusi
bahan secara merata.Antara sel tetangga dibentuk semen(cement) untuk
merekatkan sel di sebelahnya.Sel sepopulasi atau sejaringan, biasanya memiliki
pertautan/sambungan/junction.Agar kerukunan dan keharmonisan dapat
dipelihara.Pada keadaan biasa, populasi sel dicegah agar tidak terjadi
pergerakan pindah meninggalkan populasinya, yaitu dengan adanya sifat
contact inhibition antara selnya.Sementara itu sel sepopulasi dicegah untuk
membelah terus yaitu dengan adanya zat khalon.

Khalon adalah substansi yang sukar diekstrak (glikoprotein dengan berat


molekul lebih kecil dari protein pada umumnya dan dapat merembes masuk sel
sacara difusi terikat, bertindak sebagai koresepsor dalam pengaturan sintesa
protein), terdapat dalam jaringan mamalia dan mempunyai pengaruh anti
mitosis dari suatu pengaturan diri yang bergantung pada ketebalan jaringan
yang memproduksinya. Hal ini perlu, agar suatu jaringan tidak terjadi over
populasi atau mengalami hyperplasia (pembelahan berlebihan pada sel dewasa).
Khalon akan terlepas dari jaringan jika terjadi luka sehingga sel di
sekitar luka dapat terdediferansiasi lalu bermitosis sehingga terjadi
penyembuhan sel. Sel kanaker tidak mengandung sifat contact inhibition
maupun zat khalon. Oleh sebab itu sel kanker berkeliaran, tidak diam dan rukun
dengan sel tetangga, namun terus bermitosis. Khalon terus bekerja mengontrol
pertumbuhan dan diferensiasi sel pada organogenesis, sehingga terbentuk
berbagai jenis jaringan dan organ. Adanya zat khalon, suatu alat/organ akan
tumbuh seimbang dengan alat/organ lain.

Sel embrio dan sel induk mampu berdifernsiasi. Sel embrio artinya
masih pluripoten, sel dewasa unipoten. Sel induk selalu bersifat muda dan
umurnya yang terbatas diperbaharui pada sel anak. Sel embrio yang terdapat
pada seluruh bagian tubuh embrio, sel induk terkandung dalam berbagai
jaringan atau alat/organ sejak embrio sampai dewasa.

Sel yang sudah berdiferensiasi tidak mampu lagi bermitosis, namun


akan menua. Hal ini disebabkan Karena sifat kehidupan memiliki umur terbatas,
fana, tidak kekal. Pada suatu ketika sel menua pun akan mati.

5. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya diferensiasi

a. Faktor Ekstrinsik

Faktor ekstrinsik adalah faktor yang berasal dari luar sel. Faktor
ekstrinsik terdiri dari suplai bahan metabolis dan elektrolit, gas pernapasan,
gravitasi, suhu, sinar matahari, pH, letak sel dan kadar zat induktor dan
mesoderm. Protoplasma, merupakan bahan sel anak, sebagian besar terdiri dari
protein dan lemak. Lemak membina membran bersama protein, sedangkan
protein sendiri membina sebagian besar organel dan bahan produksi. Oleh
sebab itu dalam pertumbuhan dan diferensiasi, sintesa protein memegang peran
utama. Arah diferensiasi ditentukan pada arah atau bentuk sintesa protein.
Factor intrinsik dan ekstrinsik diferensiasi di atas berpengaruh secara langsung
atau tidak langsung terhadap sintesa protein.
Contoh diferensiasi sel embrio jadi sel pigmen melanosit.Sel pigmen
mengandung pigmen melamin. Melanin dibentuk dari bahan mentah asam
amino fenilalanin, maka diperlukan enzim tironase. Enzim ini disintesa dalam
reticulum endoplasma, lalu disekresi berupa granula berisi pigmen melanin oleh
badan golgi. Enzim tersebut disintesa melalui proses transkripsi (pencetakan
ARN) dan tranlasi (menerjemahkan informasi genetis yang dibawa ARN-m
menjadi untaian asam amino dalam ribosom). Transkripsi dan translasi
ditentukan oleh kromatin dalam inti.Kadar fenilalanin dalam sitoplasma juga
ikut menentukan diferensiasi sel induk menjadi melanosit.

Diferensiasi sel embrio menjadi sel otot dipengaruhi oleh banyak factor
dan melalui proses yang panjang serta menempuh sintesa protein. Mikrofilamen
aktin dan myosin adalah protein.Untuk terbentuknya mikrofilamen diperlukan
enzim dan enzim terbentuk melaluisintesa protein.Pada sel otot banyak
mengandung mitokondria yang terdiri dari lemak dan protein.Diferensiasi sel
embrio menjadi sel epidermis melalui tahapan sintesa protein karena serat
keratin yang membina sel tersebut adalah protein.

Pada faktor ekstrinsik kadar dan komposisi bahan yang masuk sel
melalui membrane dapat menjadi faktor difernsiasi. Sampai saat ini belum
dapat ditelusuri bentuk kadar dan komposisi bahan yang tepat untuk
mengarahkan pertumbuhan suatu sel. Misalnya pada sel otot dapat menerima
dan mengalirkan rangsang berupa arus listrik serta zat cairan, terutama karena
membrane selnya peka akan perubahan konsentrasinya ion Na+ dan K+ semua
itu hanya faktor genetislah yang memprogram.

Dalam diferensiasi, O2 menentukan arah dan jalan diferensiasi. Sel yang


berada di sebelah luar akan mendapat lebih banyak gas pernafasan daripada sel
yang berada di sebelah dalam tubuh embrio. Oleh sebab itu terjadi perbedaan
dalam kadar ATP juga segala aktivitas sel.

Gravitasi berpengaruh pada distribusi bahan dalam sitosol, terutama


berpengaruh pada ovum yang mengandung banyak makanan cadangan yagn
disebut deutoplasma atau yolk. Deutoplasma menumpuk di daerah kutub
vegetal, sedangkan di daerah kutub animal sedikit sekali. Hal ini berakibat pada
daerah kutub animal lebih mudah dan lebih sering membelah diri; sedangkan di
daerah kutub vegetal lebih besar-besar selnya dan lebih banyak mengandung
deutoplasma. Dengan adanya dua perbedaan tersebut, maka terjadilah
diferensiasi sel. Sel-sel daerah kutub animal, ovum biasanya akan menjadi
jaringan epidermis dan saraf, sedangkan daerah kutub vegetal akan menjadi
lapisan lender, saluran pencernaan yang banyak mengandung kelenjar sedngkan
daerah antara kutub animal dan vegetal akan menjadi sel-sel membina lapisan
mesoderm yang akan menjadi jaringan penunjang, jaringan pengikat dan
jaringan otot.

Suhu dapat mempengaruhi arah dan jalan diferensiasi. Diferensiasi bias


terjadi melalui difernsiasi dalam sintesa protein. Proses sintesa protein
memerlukan banyak enzim dan enzim memerlukan suhu media yang optimum,
maka mudah dimengerti bahwa variasi pada suhu lingkugan dapat
mempengaruhi arah dan jalan difernsiasi. Faktor pH juga mempengaruhi
diferensiasi. Enzim bekerja optimal pada pH media yang cocok, jika pH naik-
turun akan menyebabkan difernsiasi.

Sinar terutama berpengaruh pada pertumbuhan sel berpigmen, baik pada


hewan maupun tumbuhan. Jika sinar matahari kurang atau tidak ada,
pertumbuhan sel pigmen akan tertahan. Letak sel dalam tubuh embrio dapat
menjadi factor difernsiasi. Sel yang letaknya sebelah luar akan lebih banyak
mendapat O2 , namun akan lebih banyak menerima tekanan fisik dan perubahan
suasana lingkungan. Embrio yang sudah menempuh tahap gastrula dan tubulasi
mengandung zat inductor, yang dihasilkan oleh sel-sel lapisan mesoderm.Zat ini
menginduksi pertumbuhan dan difernsiasi jaringan sekitarnya, termasuk
jaringan mesoderm sendiri.Jika lapisan ectoderm yang bakal jadi jaringan saraf
dilepaskan dari lapisan mesoderm yang berada di bawahnya, ternyata ectoderm
itu tidak berdiferensiasi jadi jaringan saraf.

b. Faktor Intrinsik
Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam sel. Faktor
intrinsik berada dalam inti dan sitoplasma.Faktor dalam inti adalah kromatin.
Faktor dalam sitoplasma sangat kompleks, terutama berupa enzim, kadar
metabolit dan elektrolit, serta komposisi suatu organel.

Hormon menjadi faktor diferensiasi ketika embrio sudah menempuh


tahap organogenesis. Hormon mungkin dihasilkan oleh tubuh embrio sendiri,
atau dihasilkan oleh tubuh induk, yang mengalirkannya ke tubuh embrio
melalui plasenta (pada mamalia). Hormon steroid dapat merembes masuk sel,
terus ke dalam inti dan merangsang ADN untuk melakukan transkripsi atau
replikasi untuk persiapan bermitosis. Hormon non-steroid merangsang zat
reseptor pada plasmalemma, dan secara estafet menyampaikan rangsangan
kepada ADN inti untuk aktif bertranskripsi atau replikasi.

Disini pengaruh hormon jelas sekali tampak pada perubahan yang


terjadi di daerah gembungan pada kromatin. Gembungan merupakan daerah gen
yang aktif melakukan transkripsi, mengandung banyak ARN-m dan protein
non-histon. Jika gen di daerah gembungan sedang aktif, berarti ADN-nya dalam
keadaan longgar dan pilihannya terbuka (despiralisasi). Ternyata jika ke dalam
sel dimasukkan hormon tertentu maka gembungan itu muncul dan besar.
Terbentuknya gembungan pada daerah tertentu kromatin bergantung pada jenis
hormone yang merembes masuk sel.

Faktor intrinsik beroperasi dalam tingkat transkripsi dan translasi.


Dalam tingkat transkripsi diferensiasi terjadi oleh pembedaan pada jenis daerah
kromatin yang sedang melakukan transkripsi.Saat interfase kromatin inti berada
dalam 2 fase heterokromatin dan eukromatin.Jika dalam fase hetero, pilinan
ADN rapat dan padat , dan non-aktif. Jika dalam fase eu-pilinan ADN longgar
lepas, maka aktif melakukan transkripsi. Menurut pengamatan hanya sekitar 5%
And kromatin dalam suatu sel yang eu pada suatu pertumbuhan. 95% lagi
dalam status hetero. Walau semua sel dalam tubuh embrio mengandung bahan
genetis dan susunan gen yang sama, namun dapat terjadi diferensiasi pada
daerah kromatin atau ADN mana yang yang sedang bertranskripsi.
Dalam proses transkripsi diperlukan enzim ARN-polimerase,
nukleosida, fosfat, ATP dan beberapa elektrolit seperti Na+, Ca+2 dan Mg+2.
Difernsiasi dalam tingkat transkripsi mungkin terjadi karena pembedaan dalam
salah satu atau beberapa bahan.

Diferensiasi terjadi pula pada transkripsi karena pembedaan dalam


enzim proteinsae yang melepaskan protein histon dan non-histon dari belitan
ADN. Supaya pilinan ADN longgar dan kedua molekul yang sepasang
merenggang, maka perlu kiranya terlebih dahulu histon dan non-histon yang
dililit serta tempatnya membenam terurai. Wilayah mana kromatin dan pada
kromatin mana yang menjadi onggar dapat nerdiferensiasi menurut perbedaan
pada penguraian histon non-histon tadi. Perbedaan supali bahan yang masuk ke
dalam inti terutama enzim-enzim, maka akan berbeda pula kodon pada ARN-m
dan pada translasi akan berbeda pula asam amino yang diuntaikan untuk jadi
peptide. Pada suatu protain, beda satu asam amino saja akan beda pula perilaku
dan sifatnya.

Contoh dalam sintesa hemoglobin yang mengandung protein


globulin.Hb normal yang umum pada orang disebut Hb A. dalam Hb terjadi
variasi orang yang memiliki Hb C, Hb S, Hb 0.Masing-masing Hb hanya
mempunyai perbedaan satu asam amino dari Hb A., lihat tabel 5.1 Hb
abnormal. Artinya hanya berbeda pada satu kodogen pada ADN eukromatin,
dari ratusan kodogen lain yang melakukan transkripsi pada bagian eukromatin
tersebut. Perbedaan pada kodogen umumnya terjadi karena mutasi. Mutasi
adalah perubahan pada susunan nukleotida AND terjadi karena gangguan pada
suasana lingkungan sel, intra maupun interseluler.

Gen dan ADN banyak yang rangkap dalam sel suatu organism. Artinya
ganda dalam komponen nukleotida maupun dalam transkripsi dan translasi. Jadi
gen A yang akan mensintesa protein A, banyak terdapat dalam suatu inti sel.
Hal ini perlu jika suatu ketika sel harus memproduksi protein yang banyak
dalam waktu singkat. Seperti pada sel plasma, harus menghasilkan anti bodi
(imunoglobulin) yang banyak, diperlukan untuk menyerang benda asing yang
masuk tubuh. Gen ganda ini berfungsi sebagai tindakan pengamanan, jika suatu
ketika gen A rusak atau bermutasi dan mutant (hasil mutasi) itu berakibat sangat
buruk sehingga dapat mematikan sel. Jika masih ada cadangan duplikatnya
maka transkripsi akan berlangsung normal.

Pembagian kerja antara gen rangkap, sampai saat ini belum diketahui,
namun dapat dibayangkan bahwa perubahan dalam komposisi bahan yang
masuk ke dalam inti dapat membuat diferensiasi dalam transkripsi. Hal ini
mungkin jumlah ARN-m dari berbagai gen yang berbeda, mungkin pula dalam
jumlah ARN-m dari atu gen. eksperimen menemukan bahwa jika sel diberi
ARN-polimerase yang diambil dari kromatin sel dewasa yang sudah
berdifernsiasi, maka sel itu hanya mampu mensintesa enzim tertentu, sesuai
dengan jenis enzim yang diproduksi oleh sel dari mana enzim itu diambil.

Transkripsi harus bekerja sama dan berinteraksi antara sitoplasma dan


inti/kromatin. Makin dewasa umur sel makin terspesialisasi bentuk transkripsi
untuk sintesa sejenis protein. Namun potnsi kromatin tetap pluripoten. Oleh
sebab itu potensi kromatin untuk diferensiasi dipengaruhi oleh umur sitoplasma
sel bersangkutan. Jika dilakukan pencangkokan inti blastomer atau inti sel epitel
lapisan lender usus ke ovum yang intinya sudah diangkat atau dibunuh dengan
sinar ultraviolet, maka akan tumbuh embrio normal. Hal ini menunjukkan
bahwa kromatin aktif, berarti pluripoten. Namun jika yang dicangkokkan ke
dalam ovum adalah inti gastromer (sel gastrula), maka terjadi berbagai macam
embrio yang abnormal dan tidak dapat melanjutkan pertumbuhan (mati).

Antara gen terjadi interaksi dalam transkripsi suatu jenis protein atau suatu
jenis karakter anatomi-fisiologi. Ada karakter yang ditumbuhkan oleh 1 gen, namun
banyak pula karakter yang ditumbuhkan oleh banyak gen, namun banyak pula
karakter yang ditumbuhkan oleh banyak gen yang bekerja sama dan berinteraksi.
Tinggi tubuh, warna kulit/bulu adalah contoh karakter yang ditumbuhkan oleh
banyak gen. jika salah satu gen tidak bekerja atau bermutasi maka karakter yang
mereka tumbuhkan akan beda dari asal, sehingga menyebabkan difernsiasi.
Hetero- atau eu-kromatinnnya bahan genetis dalam sel berdiferensiasi
menurut umur embrio. Embrio orang mengandung Hb F (f= fetus, janin) dan
selelah alhir digantikan oleh Hb A. berarti gen Hb berubah keaktifannya selelah
embrio lahir. Alat tubuh masa embrio banyak perbedaannya dengan masa anak dan
dewasa. Katak, waktu berudu bernafas dengan insang, berekor dan tidak berkaki,
ampas metabolisme protein berupa NH4OH2 pemakan tumbuhan vegetarian,
sedangkan saat dewasa bernafa dengan paru dan kulit, tak berekor, berkaki, ampas
metabolisme (eksresi) berupa urea dan karnivora. Maka dengan melihat kenyataan,
anatomi tubuhnya berbeda saat berudu dan dewasa. Artinya gen yang aktif saat
embrio berbeda dengan yang aktif saat dewasa. Jadi, diferensiasi transkripsi terjadi
sesuai dengan umur sel.

6. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya diferensiasi

Diferensiasi embrionik sel dipengaruhi beberapa faktor, antara lain kontrol


gen, hormon sistemik, letaknya, pertumbuhan pertumbuhan lokal, dan matriks
protein. Pengaturan tahap diferensiasi tergantung pada faktor-faktor tersebut.
Selain itu, growth factors juga mempengaruhi proses diferensiasi sel.

a. Kontrol gen

Seperti pada kebanyakan sel yang berdiferensiasi, perbedaan yang


terdapat diantara sel-sel lain bukan disebabkan oleh peningkatan atau
pembuangan gen. Perbedaan sel tersebut disebabkan sel mengekspresikan gen
yang berbeda. Gen diaktifkan dan dimatikan untuk mengatur sintesis produk
gen. Fakta mengatakan bahwa banyak tahap “keputusan” penting diferensiasi
dalam embriogenesis di bawah kontrol transkripsional (pengontrolan
pembentukan mRNA).

b. Asam retinoat

Salah satu yang berperan dalam diferensiasi sel antara lain adalah asam
retinoat yang berasal dari vitamin A. Asam retinoat berfungsi untuk
mendorong pertumbuhan dan diferensiasi normal jaringan epitel.
c. Growth factor

Growth factor yang mempengaruhi proses diferensiasi sel adalah BMP-


4 (Bone Morphogenic Protein). BMP-4 memiliki peran penting dalam
pembentukan tulang.Pada amfibi, BMP-4 aktif pada sel yang berada pada
ventral gastrula. Pada saat pertumbuhan embrio, terdapat faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan tersebut, antara lain:

1) Faktor genetic

2) Faktor nutrisi

3) Faktor lingkungan

Pada saat proses diferensiasi sel telah tercapai, kondisi sel harus dijaga. Hal
tersebut dilakukan melalui kombinasi berbagai faktor, yaitu:

a. Cell memory yang terdapat dalam genome.


b. Interaksi dengan sel-sel terdekat, melalui faktor parakrin.
c. Sekresi berbagai faktor (faktor autokrin), termasuk faktor tumbuh.

E. Kelainan Kongenital
1. Pengertian
Kelainan kongenital adalah kelainan pada tubuh yang muncul sejak dari
periode konsepsi sel telur. Pada umumnya bayi dengan kelainan kongenital
dilahirkan dengan berat lahir rendah dan dapat meninggal dalam minggu pertama
kehidupannya bila kelainannya berat. Para ahli juga menjelaskan bahwa kelainan
kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi. Kelainan
kongenital merupakan sering menjadi penyebab terjadinya abortus, lahir mati atau
kematian segera selelah lahir. Kematian bayi dalam bulan pertama sering
diakibatkan oleh kelainan kongenital yang berat.

2. Faktor Etiologi
Penyebab kelainan kongenital sulit diketahui, tetapi beberapa hal yang
mempengaruhinya diketahui dari faktor genetik, faktor lingkungan atau dari kedua
faktor secara bersamaan. Beberapa faktor etiologi yang sudah diketahui dapat
menyebabkan terjadinya kelainan kongenital antara lain:
a. Kelainan Genetik dan Khromosom
Kelainan genetik pada orang tua sangat besar berpengaruh terhadap
kejadian kelainan kongenital pada anaknya. Beberapa contoh kelainan genetika
dan kromosom sebagai berikut:
1) Sindrom turner
Kelainan ini terjadi pada wanita dengan ciri-ciri yaitu perkembangan sex
terhambat, payudara kecil, tubuh pendek dan sering mandul.
2) Sindrom Klinefelter
Kelainan yang terjadi pada laki- laki dengan ciri-ciri cenderung seperti
wanita, testis tidak normal, keterbelakangan mental dan memiliki payudara
tumbuh.
3) Sindrom down
Kelainan yang ditandai tubuh pendek, mental terbelakang, mata sipit, lidah
tebal dan wajah mongoloid.
4) Sindrom Edwards
Kelainan pada wanita yang nampak seperti normal tetapi ciri-ciri sekunder
wanita tidak berkembang.
b. Faktor Mekanik
Tekanan mekanik yang dialami janin intrauterin dapat menyebabkan
kelainan bentuk tubuh sehingga terjadi deformitas. Sebagai contoh deformitas
tersebut yaitu kelainan talipes pada kaki seperti talipes varus, talipes valgus dan
talipes equinus serta talipes equinovarus (clubfoot).
c. Faktor Infeksi
Kelainan kongenital yang disebabkan karena infeksi terjadi saat periode
organogenesis yaitu trimester pertama kehamilan. Infeksi yang dialami akan
menimbulkan gangguan dalam pertumbuhan tubuh. Sebagai contoh infeksi
virus Rubella dapat menyebabkan bayi menderita kelainan congenital l katarak
pada mata, kelainan sistem pendengarannyaitu tuli dan kelainan jantung
bawaan. Beberapa infeksi lain menyebabkan gangguan pertumbuhan dan sistem
saraf pusat seperti hidrosefalus, dan mikrosefalus.

d. Faktor Obat
Beberapa jenis obat yang diminum wanita hamil pada trimester pertama
kehamilan diduga menyebabkan terjadinya kelainan kongenital. Thalidomide
adalah obat yang terkenal sebagai obat yang mengakibatkan terjadinya
fokomelia atau mikromelia. Demikian halnya dengan jamu diduga erat pula
hubungannya dengan terjadinya kelainan kongenital, walaupun belum banyak
diketahui secara pasti.
===
e. Faktor Umur Ibu
Telah diketahui bahwa kelompok ibu berumur 35 tahun atau lebih; angka
kejadian melahirkan bayi dengan kelainan kongenital ialah 1: 5500 untuk
kelompok ibu berumur < 35 tahun, 1: 600 sedangkan untuk kelompok ibu
berumur 35-39 tahun. Kemudian 1 : 75 untuk kelompok ibu berumur 40-44
tahun dan 1 : 15 untuk kelompok ibu berumur 45 tahun atau lebih.
f. Faktor Hormonal
Faktor hormonal mempunyai hubungan dengan kejadian kelainan
kongenital seperti bayi yang dilahirkan oleh ibu hipotiroidisme dan ibu
penderita diabetes mellitus kemungkinan untuk menderita gangguan dan
kelainann lebih besar dibanding bayi yang dilahirkan oleh ibu normal.
g. Faktor Radiasi
Jika seorang ibu hamil terpapar radiasi pada permulaan kehamiIan mungkin
sekali akan dapat menimbulkan kelainan kongenital pada janin yang disebabkan
oleh mutasi gen.
h. Faktor Gizi
Frekuensi kejadian kelainan kongenital pada bayi yang dilahirkan oleh ibu
yang mengalami kekurangan gizi lebih tinggi dibanding dengan ibu yang baik
gizinya.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Anda mungkin juga menyukai