Anda di halaman 1dari 190

Mr.Mr.

RescuerRe

1
Mr. Rescuer

Copyright©
Karya2020,
LianFand
Mr. Rescuer

Hak cipta dilindungi undang-undang


All Right Reserved
Undang-undang No. 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta.
Sanksi Pelanggaran Pasal 72:
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan,
mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau
barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan
pidana penjara paling lambat 5 (lima) tahun / denda paling
banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

2
Mr. Rescuer

PROLOG

Langit di atas sana masih biru. Gumpalan awan berarak perlahan. Aku
menengadah. Birunya nampak indah. Matahari bahkan bersembunyi di
balik awan, seolah mendukung aku untuk menikmati siang yang hampir
terbenam. Menikmati rasa yang terpaksa harus kucabut demi sebuah
persahabatan.

Kutarik panjang nafasku. Nyeri ini masih saja terasa. Entah sampai
berapa lama aku akan terpenjara dalam hati yang patah. Meskipun
keinginan melupakan itu sangat kuat, namun hati tidak bisa diatur-atur
pada siapa ia seharusnya membuka diri.

"Sudah hampir senja. Sebaiknya kita pulang."

Aku tengadah. Langit perlahan mulai semburat memerah.

"Aku masih ingin di sini. Pulang saja dulu," jawabku berusaha


menyunggingkan senyum.

"Dan Bia akan memarahiku karena meninggalkanmu? Tidak, terima


kasih."

"Kenapa Bia harus marah?"

"Dia merasa bersalah padamu. Kalau saja dia bisa menolak perjodohan
itu, kau tidak akan sakit hati, Ca."

"Rin, sepertinya aku harus pergi," putusku memberitahunya.

"Apa maksudmu?"

3
Mr. Rescuer

"Aku tidak mungkin terus menerus di sini dan membuat Bia selalu
merasa bersalah. Perjodohan itu mungkin sudah garis takdir. Aku dan
Oris tidak mungkin bisa bersama. Oris milik Bia. Bia milik Oris. Meskipun
aku menangis darah sekalipun, itu kenyataan yang tidak bisa disangkal,"
aku kembali menarik nafas panjang untuk sedikit melonggarkan
kesesakan di dadaku.

"Bia akan semakin merasa bersalah kalau kau pergi, Ca."

"Maka tugasmu memberinya pengertian, Rin. Biarkan semua mengalir.


Aku pasti bisa melupakan Oris. Mungkin dengan pergi dari sini, aku bisa
menemukan laki-laki yang bisa membuatku jatuh cinta lagi dan bisa
membuatku melupakan Oris," aku tersenyum pahit. Dan sepahit apapun,
aku harus bisa menerima.

"Aku akan ikut denganmu."

"Jangan! Uhm... maksudku, sebaiknya kau tetap di sini. Kasihan Bia.


Kurasa dia lebih membutuhkanmu di sampingnya. Bagaimanapun,
perjodohan ini membawa tekanan tersendiri untuknya."

Bukan aku menolak kebaikan hati Orin, tapi aku ingin melupakan
semuanya. Karena setiap kali melihat Orin, aku pasti teringat Oris.
Mereka berdua kembar sepasang. Wajah mereka mirip. Hanya gender
yang membedakan.

"Kau ingin meninggalkan dan melupakan kami semua, Ca?"

"Tentu saja tidak. Aku menyayangi kalian semua. Kau dan Bia sudah
seperti saudara bagiku. Bagaimana mungkin aku melupakan kalian," aku
tersenyum, mencoba menyingkirkan segumpal rasa ngilu. Persahabatan
kami begitu indah. Namun lukaku tidak mungkin mengering jika aku
masih melihat Oris dan Bia di sini.

Tiba-tiba Orin menghambur memelukku. Ia terisak di bahuku.

4
Mr. Rescuer

"Hei? Kau kenapa?"

"Maafkan aku, Ca. Aku tidak bisa mencegah perjodohan itu," ia


sesenggukan, memelukku erat.

"Aku tidak apa-apa, Rin. Mungkin dengan pergi, aku bisa menata hati,
menerima semua ini dengan ikhlas dan lapang dada. Dan mungkin aku
bisa menemukan pria yang baik, yang bisa membuatku jatuh cinta lagi
dan melupakan Oris," kutepuk punggungnya lembut. Kalimat yang
mungkin lebih tepat untuk menghibur diriku sendiri.

"Aku tidak bisa menahanmu ya?"

"Aku harus pergi, Rin."

Orin melepaskan pelukannya. Ia memandangku dan mengusap pipinya


yang basah.

"Jangan lupakan kami ya, Ca. Terus kirim kabar padaku dan Bia. Kami
menyayangimu, Ca," Orin memelukku lagi, namun kali ini hanya sekilas.

Aku mengangguk.

"Kapan kau berangkat?"

"Besok."

Mata basahnya membulat.

"Kenapa begitu cepat? Kau sudah merencanakannya jauh-jauh hari?"

Aku tersenyum. Mengangguk. Aku sudah memutuskan untuk pergi sejak


mendengar keputusan itu sebulan yang lalu. Keputusan yang tidak bisa
diubah. Keputusan yang tidak bisa dibantah. Dan aku mencoba untuk
tidak lari dari tempatku berdiri saat itu. Sanggahan dan penolakan Oris
maupun Orin tidak ada artinya.

5
Mr. Rescuer

Dan kupikir ini sebuah ketololan yang kulakukan karena cukup lama
bertahan tetap di sini dan berdarah-darah setiap melihat mereka dengan
ikatan yang tersimpul erat.

---o0o---

Aku tidak terkejut ketika melihatnya. Tubuh tingginya berjalan cepat ke


arahku. Pasti Orin yang sudah mengatakan pada mereka.

"CACA!"

Aku memejamkan mata, menikmati pelukan hangat ini untuk terakhir


kalinya.

"Apakah kau harus pergi?" tanyanya lirih.

Aku hanya mengangguk. Dadaku sesak. Namun aku tidak boleh


menangis. Aku harus tegar. Ini keputusan paling tepat yang kuambil.
Aku tidak boleh lemah.

"Ris, jangan begini," aku bergerak pelan, mengurai pelukannya.

Oris menatapku sedih.

"Jangan lupakan aku," pintanya mengiris hatiku.

"Tidak akan," kupaksakan senyumku mengembang, mempertahankan


mati-matian lengkungan di sudut bibirku agar tetap ke atas. Hatiku
berontak. Bukankah aku harus melupakannya? Kenapa ia memintaku
untuk tidak melupakannya? Ini konyol.

Aku menoleh. Wajah Bia dan Orin sudah basah oleh air mata. Aku
menghambur pada mereka.

6
Mr. Rescuer

"Hei, jangan menangis! Aku hanya pergi sementara. Tidak selamanya,"


aku tidak janji untuk kembali. Luka hati ini begitu dalam dan lebar. Aku
tidak tau kapan ia akan mengering.

"Maafkan aku Ca…maaf…maaf…" Bia tersedu.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Bia. Bukan salahmu," kuuraikan


pelukan kami bertiga. Kuusap air mata mereka berdua dengan jariku.

"Ayo tersenyum! Aku tidak mau kepergianku ini dipenuhi air mata.
Doakan aku sukses di tempat baru nanti," kataku seriang mungkin.

"Ca, sudah saatnya," suara Papa menginterupsiku.

Aku mengangguk, meraih koper kecilku yang hanya berisi peralatan


pribadi dan beberapa potong pakaian.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Ini saatnya.

"Aku pergi. Kalian jaga Bia baik-baik ya. Selamat tinggal," aku
melambaikan tangan dan berjalan mundur dua langkah.

Tiba-tiba Oris berlari, menghambur dan memelukku lagi. Kali ini


kudengarisakan di bibirnya. Dia menangis?

"Ris?" tubuhku kaku.

"Please, jangan pergi. Aku akan mencari cara agar kita bisa bersama
lagi. Aku mencintaimu, Ca."

Kulepaskan pelukannya dengan hati-hati. Kutatap wajah tampannya dan


menggeleng pelan.

"Jangan! Kamu harus jaga Bia. Cintai Bia. Dia yang akan menemanimu
dan menjadi tanggung jawabmu kelak. Semoga kalian bahagia,"
sungguh, rasanya sangat nyeri dan pedih.

7
Mr. Rescuer

Oris menggeleng. Matanya menatapku sendu.

"Kau harus pulang bulan depan," katanya menangkup pipiku.

"Pertunangan kalian? Kuusahakan," anggukku tersenyum pahit. Apa


boleh aku memohon untuk mati rasa saja? Ini sangat menyakitkan. Dan
aku pastikan pada diriku sendiri, aku tidak akan pulang jika hanya untuk
menambah torehan luka di jantungku.

"Berjanjilah untuk hadir, Caca," desaknya membuat mataku mengabur


oleh genangan air mata yang mulai merebak.

Aku menunduk. Apa aku sanggup berjanji?

Lalu ciuman itu tidak terelakkan. Ia mengangkat wajahku, menempelkan


bibirnya di bibirku. Hanya menempel, namun begitu lekat, seolah takut
terlepas dan hilang. Aku bisa merasakan rasa basah di wajahku. Aku
tidak ingin menangis. Tidak. Tapi kenapa air mata ini mengalir begitu
saja?

Bibir kami masih melekat sampai seseorang menyentakkan kami berdua


hingga terpisah.

BUGH!
Satu pukulan melayang ke rahang Oris hingga ia terhuyung mundur.

"PAPA!" teriakan Mama kudengar.

"Jangan pernah menyentuh Calista lagi. Aku sudah cukup bersabar


dengan semua ini. Jangan sakiti putriku lebih dalam lagi!" Papa berdiri
dengan marah. Tangannya terkepal. Sementara Mama mengusap bahu
dan punggung Papa yang terengah, mencoba menenangkan.

"Maafkan saya, Om. Maafkan saya," hanya itu yang kudengar, karena
aku sudah berbalik, berlari meninggalkan mereka semua.

8
Mr. Rescuer

Selamat tinggal semuanya.

---o0o--

9
Mr. Rescuer

BAB 1

Kurapatkan jaketku, melangkah pelan meninggalkan bangku taman


yang sepi. Saat weekend begini aku selalu bingung mencari kesibukan,
dan pada akhirnya selalu berujung pada duduk melamun di bangku
taman hingga sore menjelang malam.

Kalau hitunganku tidak salah, Oris dan Bia bertunangan hari ini. Lalu
setelahnya, mereka akan menikah bukan? Tidak ada yang tersisa. Tidak
ada celah untuk kembali menggapai asa masa lalu. Tidak sedikitpun.

Aku berjalan menunduk. Menapaki jalanan berbatu menuju pondok yang


kudiami selama satu bulan ini. Beruntung adik Papa mempunyai tempat
ini. Meski agak terpencil, namun cukup memberikan ketenangan
untukku.

Meskipun cukup jauh dari kota, namun aku sedikit bisa mengalihkan
pikiranku di sini. Istri Om Rega mempunyai usaha catering kesehatan.
Aku membantu Tante Martha sebulan ini, sembari mencari pekerjaan
yang bisa kugunakan untuk mengalihkan laraku.

"Calis!"

Aku mendongak, mendapati Om Rega terkekeh melihatku hampir


terbentur daun pintu jika tidak mendongak karena panggilannya.

"Makanya kalau jalan jangan suka menunduk terus. Cari apa sih? Uang
recehan jatuh?" goda Om Rega,

Aku meringis, berjalan mendekat ke rumah induk, tempat Om Rega dan


Tante Martha tinggal.

10
Mr. Rescuer

"Baru pulang?" tanya Om Rega lagi.

Aku mengangguk.

"Ca, kamu mau kerja di perusahaan teman Om apa tidak?"

"Perusahaan apa, Om?"

"Masuk dulu. Nanti Om jelaskan," ajak Om Rega.

Aku menurut dan duduk di sofa ruang tamu. Tante Martha sudah duduk
terlebih dulu di sana. Ia tersenyum menepuk sofa sebelahnya. Aku
mendekat dan duduk di sampingnya.

"Relasi Om membutuhkan tenaga keuangan. Apa kamu mau?"

"Perusahaan apa, Om?"

"Perusahaan penerbitan. Bagaimana? Apa kamu mau?"

"Mau Om. Apa Calis harus membuat lamaran?"

"Tidak. Tidak perlu. Om akan membawamu menemuinya besok. Dia


ingin mewawancaraimu langsung," ujar Om Rega.

"Tidak pakai CV?"

"Kalau dia cocok, CV dan lain-lain menyusul saja sebagai pelengkap


persyaratan."

"Terima kasih, Om," aku mengangguk dan berteima kasih pada Om


Rega.

"Semoga dia cocok dan kamu bisa bekerja di sana, Ca. Kamu bisa
tinggal lama di sini kalau kamu betah bekerja di perusahaan itu," sahut
Tante Martha memelukku senang.

11
Mr. Rescuer

Om Rega dan Tante Martha tidak mempunyai anak. Jadi mereka


menyambut dengan senang hati ketika aku mengatakan ingin tinggal
bersama mereka sementara waktu.

---o0o---

Kukira teman Om Rega itu seusia, tapi ternyata tidak. Usianya sekitar
tiga puluhan. Wajahnya tampan. Di usianya yang terbilang muda, ia
memiliki beberapa perusahaan besar selain usaha penerbitan. Tetapi
karena penerbitan adalah usaha miliknya yang pertama, maka ia sangat
perhatian dan menjaga sekali perusahaan itu.

Dan di sinilah aku dan Om Rega berada. Di sebuah restoran yang cukup
besar, salah satu milik teman Om Rega itu.

"Siapa namamu?"

"Calista," jawabku sopan dan menjabat tangannya.

"Kudengar kamu bisa mengisi lowongan di bagian keuangan?"

"Ya ya. Saya bisa."

"Jadi apa kamu bisa mulai bekerja besok? Atau kamu memerlukan
waktu beberapa hari?"

"Tidak apa. Saya bisa bekerja mulai besok," anggukku mantap. Mungkin
dengan bekerja di perusahaan penerbitan itu aku bisa melupakan luka
yang masih berdarah di hatiku.

12
Mr. Rescuer

"Baiklah. Datanglah besok jam delapan pagi, kita akan membicarakan


kontrak kerja dan salary yang akan kamu terima," ujarnya mengulurkan
kartu nama miliknya.

Dante Gregory Javonne.

Aku mengangguk menjabat kembali tangannya. Genggamannya erat


dan mantap, menunjukkan ia adalah pria yang penuh percaya diri.

Om Rega tertawa, menepuk bahu laki-laki yang akan menjadi Boss-ku.

"Kau tidak akan kecewa, Dante."

"Kuharap begitu, Mr. Rega," senyum Mr. Dante mengiyakan. Ia lalu


dengan gesturnya mempersilakan aku dan Om Rega menikmati sajian
makanan yang sudah kami pesan sebelumnya.

Selanjutnya aku hanya diam mendengarkan keduanya berbicara soal


bisnis dengan seru. Pengetahuan laki-laki itu begitu luas. Pemikirannya
sangat maju dan inovatif. Tidak mengherankan jika ia sudah meraih
kesuksesannya di usia yang terbilang muda. Tiga puluh tiga tahun
dengan delapan perusahaan besar, lima hotel berbintang dan beberapa
restoran dan kafe.

---o0o---

Dengan sopan aku duduk di hadapannya. Ia tampak sangat berwibawa


dengan setelan jas abu-abu tua-nya yang mahal, sangat pas
membungkus tubuh tinggi proporsionalnya.

Ia menerangkan beberapa hal, memberitahukan pasal-pasal dalam


perjanjian kontrak juga salary yang akan aku terima. Ia dengan

13
Mr. Rescuer

wibawanya memanggil bagian HRD-nya untuk mengurus semua yang


diperlukan.

Akhirnya aku diantar menuju ke bagian keuangan. Di sana ada dua


staff, dan aku diperkenalkan untuk mengisi lowongan yang ada.

"Nah Calista, yang ini Felix dan yang ini Katherine. Jika ingin bertanya,
tanyakan pada mereka. Saya tinggal dulu ya," Bu Jenny meninggalkanku
bersama Felix dan Katherine.

Keduanya menyambutku dengan hangat.

"Selamat datang, Calista. Mejamu di sana. Dan tanyakan saja apa yang
ingin kau tanyakan pada kami. Kami siap membantumu," kata Felix
ramah, menunjuk sebuah meja di dekat meja Katherine.

"Benar. Senang rasanya mendapat tenaga baru. Kami sudah kewalahan


dengan pekerjaan ini," sambung Katherine tertawa renyah.

"Terima kasih. Mohon bimbingannya," sahutku sedikit membungkuk,


berterima kasih.

Sepertinya aku akan betah di sini. Mendapat teman baru, kesibukan


baru yang kuharap bisa membuatku melupakan semua kenangan indah
bersama Oris.

Aku memang segera mengganti nomor ponselku begitu aku sampai di


Inggris. Aku sudah memberitahu Mama dan Papa untuk tidak
memberikan nomorku pada siapapun di sana. Aku ingin menjalani
kehidupan baru tanpa Oris. Meskipun kurasa sangat sulit, tapi aku
berharap, aku bisa membalut luka hatiku. Setidaknya agar tidak
berdarah lagi meskipun tetap membekas.

---o0o---

14
Mr. Rescuer

Tidak terasa, hampir enam bulan aku bekerja di perusahaan milik Dante
Gregory Javonne. Ayahnya yang seorang Itali menikah dengan ibunya
yang asli Inggris, membuat wajah Mr. Dante memiliki karisma yang
berbeda dari orang Inggris kebanyakan. Pertemuanku dengannya hanya
terjadi beberapa kali. Kesibukan membuatnya harus sering melakukan
perjalanan ke luar kota.

Kesibukanku sendiri semakin hari semakin bertambah seiring semakin


aku menguasai pekerjaan yang dibebankan padaku. Tapi semakin sibuk,
semakin aku bersyukur karena pikiranku tidak lagi tertuju pada masa
lalu yang menyedihkan.

Aku baru saja menghidupkan komputer ketika Katherine datang sambil


meletakkan tas-nya dengan kasar ke meja.

"Ada apa?" tanyaku heran. Tidak biasanya Katherine datang


dengan mood yang buruk. Gadis itu biasanya selalu ceria.

"Aku putus!"

"Kau apa?"

"Iya, aku memutuskan hubunganku dengan Bryan. Lelaki pengecut itu


menerima begitu saja dijodohkan dengan putri atasan ayahnya,"
Katherine terdengar gusar. Lalu sedetik kemudian bahunya terguncang.
Ia terisak.

Aku buru-buru memeluknya. Berusaha mengatakan sesuatu yang bisa


menenangkannya, tapi tidak bisa. Mulutku seolah terkunci. Ingatan
masa lalu menyerbu bagaikan air bah. Bukankah kondisi kami tidak jauh
berbeda?

Oris dan Bia terpaksa menerima perjodohan mereka di depan mataku.


Tidak ada yang bisa kami lakukan karena keputusan itu mutlak. Dan

15
Mr. Rescuer

siapakah aku hingga kedua orang tua Oris harus mempertimbangkan


perasaanku? Bia sudah bersama mereka sejak kecil. Hubungan kedua
orang tua mereka sangat erat. Mereka sepakat menjodohkan keduanya
sejak mereka masih sangat kecil. Lalu Mama Bia meninggal, membuat
gadis itu terpuruk dan merawat Papanya yang jatuh sakit setelahnya.

Sebelum meninggal, Papa Bia menitipkan sekaligus mengharap janji


perjodohan Oris dan Bia segera dilaksanakan. Itu merupakan sebuah
wasiat yang harus dilaksanakan.

Yang aku sesali hingga hari ini, kenapa kedua orang tua Oris tidak
melarang ketika aku dan Oris mulai dekat? Mereka baik padaku. Seolah
olah menerima kehadiranku di sisi Oris. Tapi setelahnya, dengan tiba
tiba membunuh semua harapan hanya dengan kata perjodohan.

"Bryan bilang mencintaiku. Tapi memperjuangkan cinta kami saja dia


tidak mau. Apa itu yang ia bilang cinta?" racau Katherine semakin
tersedu.

"Apakah kau sudah memastikannya pada Bryan?" tanyaku mengusap


punggungnya. Siapa yang akan mengusap dan menenangkanku saat
aku berada dalam posisi Katherine?

"Dia sendiri yang mengatakan padaku tadi pagi. Aku marah. Aku bodoh
sudah percaya padanya," sedu sedan Katherine tidak juga berhenti.

"Kate, mungkin ini klise. Tapi mungkin ada sesuatu yang lebih indah
untukmu nanti. Dan itu bukan bersama Bryan," aku ingin menjerit. Siapa
yang menghiburku saat aku terpuruk dan patah hati?

"Kau tidak pernah merasakan mencintai seseorang dengan begitu


dalam, Calista. Kau tidak akan pernah bisa memahami perasaanku!"
tangisnya makin keras.

"Mungkin. Tapi Kate, jangan terpuruk. Bangkit dan tunjukkan bahwa kau
bisa hidup lebih baik tanpanya," aku tercekat. Apa aku sendiri bisa

16
Mr. Rescuer

menjalani apa yang kuucapkan? Bohong! Bahkan sampai sekarang aku


masih saja tenggelam dalam lingkaran masa lalu.

"Ada apa kalian peluk-pelukan begitu?"

Aku menoleh dan refleks melepaskan pelukanku pada Katherine. Felix


melihat kami berdua dengan bingung.

"Kate? Kenapa Kate menangis?" tanya Felix dengan heboh mendekati


Katherine, menghadapkan tubuh gadis itu ke hadapannya dan
memeluknya.

Aku hanya melongo memandang interaksi keduanya. Aku tau keduanya


dekat. Tapi reaksi yang ditunjukkan oleh Felix membuatku mengerti
bahwa laki-laki itu mempunyai perasaan lebih dari sekedar rekan kerja
pada Katherine.

"Ssshhh... Kate, katakan ada apa?"

Aku memejamkan mata. Siapa yang menjadi sandaranku di saat aku


berada dalam posisi Katherine? Orin? Setiap bertemu, Orin hanya
mengulang kata maaf tanpa ada satupun kesalahan yang ia perbuat.
Orin hanya mengikutiku, menungguiku, memastikan aku tidak bunuh diri
karena patah hati. Miris sekali rasanya.

Kulihat Felix sibuk menghibur Katherine. Aku hanya bisa tersenyum


pahit.

---o0o---

"Calista, Mr. Dante memanggilmu ke ruangannya," beritahu Sherine di


telepon.

17
Mr. Rescuer

"Ada apa Mr. Dante memanggilku?" tanyaku heran.

"Ck. Mana aku tau? Cepat sedikit! Jangan membuat Mr. Dante
menunggu!" suara ketus Sherine membuatku menghela nafas.

"Baiklah," sahutku akhirnya.

Dengan bertanya-tanya aku menuju ke lantai dua belas, di mana


ruangan Mr. Dante berada.

Pintu lift terbuka dan wajah keruh Sherine langsung terlihat. Ia tengah
mengetik sesuatu sambil sesekali menatap layar komputernya. Ia
berdecak begitu melihatku mendatanginya.

"Apa kau selalu lambat begini?" cetusnya sinis.

Aku menaikkan alisku. Seingatku, ia hanya dua kali berinteraksi


denganku, yaitu saat aku pertama kali datang kemari. Itupun hanya saat
aku masuk ke ruangan Mr. Dante dan saat keluar. Tapi sepertinya
Sherine melihatku dengan kecurigaan yang berlebihan dan terkesan
mencari kesalahanku.

"Maaf. Tapi aku langsung kemari begitu teleponmu tertutup," sahutku


mengedikkan bahu.

"Ck! Sana cepat masuk!"

Aku mengedikkan bahu, mengangguk dan berjalan ke pintu. Mengetuk


pintu kayu tebal itu dan membukanya perlahan setelah samar-samar
kudengar suara Mr. Dante mempersilakanku masuk.

Mr. Dante tengah menunduk, membaca sesuatu di atas map yang


terbuka lebar. Ia mendongak sesaat kemudian. Aku gugup. Ia
tersenyum tipis.

"Masuk, Calista."

18
Mr. Rescuer

Aku mengangguk dan melangkah lebih dalam, hingga berdiri di depan


mejanya dengan kikuk.

"Duduk," perintahnya singkat dan pelan, namun tegas dan penuh


wibawa.

Aku kembali mengangguk dan menarik kursi di depan meja besar


miliknya dan duduk dengan gugup.

Mr. Dante berdiri, keluar dari area duduknya dan berjalan ke pintu, lalu
menutup pintu tebal yang masih terbuka. Jantungku berdetak keras.
Apakah aku sudah melakukan kesalahan? Kenapa ini terasa sangat
menegangkan?

Kulihat Mr. Dante berjalan kembali ke tempat duduknya. Ia


memandangku lama. Punggungnya disandarkan pada sandaran kursi,
tubuhnya sedikit bergoyang memantul. Semua yang terjadi seperti
gerak slowmotion di mataku. Menegangkan.

Aku canggung dengan keheningan ini. Mr. Dante masih memandangiku,


membuat keringatku mulai bermunculan. Kuremas ujung bawahanku
untuk sekedar mempertahankan diri untuk tidak pingsan di hadapannya.

Ini interaksiku yang pertama dengannya setelah hari pertama aku


masuk dan bekerja untuknya. Dan selama itu, aku hanya berkutat di
ruang tempatku bekerja, hanya keluar ke divisi lain jika diperlukan dan
tentu saja ke kantin untuk makan siang, atau ke lobby jika datang dan
pulang.

"Calista, kamu dari Indonesia bukan?"

Aku mengangguk. Masih tegang.

"Aku membutuhkanmu untuk membuka cabangku di sana."

Aku? Apa aku harus kembali ke sana?

19
Mr. Rescuer

"Maksud anda, Sir?"

"Aku akan membuka cabang baru untuk hotelku. Dan kurasa pilihan kali
ini adalah Indonesia. Negara berkembang yang pangsa pasarnya cukup
menjanjikan. Aku membutuhkanmu untuk ikut dalam tim, untuk
menjajaki dan sekaligus mencari lokasi," jelasnya. Matanya tetap lurus
menatapku.

"A-apa yang bisa saya lakukan dalam tim itu, Sir?" tanyaku gugup. Ini
diluar dugaan.

Mr. Dante mengerutkan kening. Ia menegakkan punggungnya dan kini


kedua sikunya ditumpukan di atas meja. Aku menahan nafas. Apakah
ucapanku salah?

"Calista, kamu tentu mengenal negaramu sendiri, bukan?"

Aku mengangguk dengan panik. Ada sesuatu yang membuat


peerasaanku kacau secara tiba-tiba.

"Nah, aku membutuhkanmu, selain karena kamu dari Indonesia, lebih


mengenal bagaimana kultur dan budayanya, sekaligus menjadi
penterjemah untukku," terangnya lebih jauh.

“Tapi Sir-“

“Ini atas rekomendasi Mr. Rega,” potongnya memupuskan niatku


menolak.

"Baik Sir," akhirnya aku pasrah. Aku hanya staff dan dia pemilik
perusahaan. Apakah aku bisa menolak?

"Good! Persiapkan dirimu, dua hari lagi kita berangkat!"

Aku membelalak.

20
Mr. Rescuer

"Dua hari lagi?"

Tubuhku lemas ketika melihat anggukan Mr. Dante.

---o0o---

21
Mr. Rescuer

BAB 2

Kami berangkat ke Indonesia bertujuh. Tiga di antara kami


adalah bodyguard Mr. Dante. Dua orang lagi adalah Mr. Robert dan Mr.
Howard.

Aku berharap tidak bertemu dengan orang-orang dari masa laluku.


Kenangan itu masih menyakitkan dan aku sama sekali belum bisa
menetralisir rasa sakit itu. Aku merindukan kedua orang tuaku. Itu jelas.
Aku merindukan sahabat-sahabatku. Dan aku merindukannya. Apa
kabar laki-laki itu? Apakah dia sudah menikah? Calista bodoh, tentu saja
mereka sudah menikah!

Ternyata tujuh bulan berlalu tidak mengubah apapun. Luka hati ini
masih berdarah. Lalu sampai kapan aku bisa membuat luka ini
mengering?

"Perhatikan jalanmu!"

Aku menoleh.

Mr. Dante menegurku.

Sejak kapan ia menjajariku? Bukankah tadi ia sudah berjalan di depan


bersama Mr.Howard dan Mr. Robert sejak kami turun dari pesawat?

"Apakah ada masalah?" tanyanya dengan suara rendah.

"Tidak. Tidak ada, Sir," gelengku pelan.

22
Mr. Rescuer

Tiba-tiba telapak tangannya menyentuh punggungku bagian bawah,


sedikit mendorong hingga mau tidak mau aku mempercepat langkahku
menyamainya.

"Howard dan Robert langsung ke lokasi. Kamu ikut aku ke hotel,"


katanya memberitahu. Aku hanya bisa mengangguk dan menurut.

Kami naik mobil terpisah. Mr. Howard dan Mr. Robert langsung menuju
ke lokasi, sementara aku dan Mr. Dante menuju hotel dengan diiringi
tiga bodyguard-nya.

Selama perjalanan ke hotel, aku hanya diam, sedikit jetlag. Mr. Dante
menatap serius ipad di tangannya. Di depan, seorang bodyguard dan
driver tampak sesekali berbincang pelan. Dua bodyguard lainnya
mengikuti dengan mobil lain.

"Bagaimana menurutmu jika aku membangun tiga hotel sekaligus?"

Dengan gugup aku menoleh. Memastikan bahwa ia berbicara padaku.


Tatapan Mr. Dante tetap pada layar ipad-nya. Aku ragu untuk
menjawab.

Mr. Dante mengangkat wajahnya dan menoleh padaku, menungguku


menjawabnya.

"Oh, ehm, a-apakah uhm... maksud saya, di kota mana saja?" sial,
kenapa aku begitu gugup?

Mr. Dante mengernyit menatapku heran, lalu menyugar rambutnya


sambil menghela nafas.

"Yang pasti Jakarta dan Bali. Menurutmu, satu kota lagi dimana?"

"Uhm... Yogyakarta? Atau... Surabaya?" tanyaku balik sembari memberi


alternatif.

23
Mr. Rescuer

"Dari keduanya, mana yang menurutmu lebih menjanjikan?"

"Tergantung pasar yang dibidik. Kalau untuk pariwisata, jelas


Yogyakarta lebih unggul. Tapi kalau dari sisi bisnis, Surabaya lebih
unggul."

Mr. Dante mengangguk-angguk. Dahinya berkerut, nampak berpikir.

"Kita perlu membahas ini lebih lanjut, Calista. Keduanya menarik


bagiku."

"Baik Sir," sahutku mengangguk.

Mobil sudah memasuki pelataran hotel dan berhenti di lobby. Driver dan
bodyguard yang duduk di depan segera membukakan pintu untuk Mr.
Dante dan aku.

Aku berjenggit ketika lagi-lagi telapak tangan Mr. Dante berada di


punggungku dan sedikit mendorong agar aku berjalan sejajar
dengannya.

---o0o---

Dua lokasi yang menjadi bidikan Mr. Dante sudah di dapat. Mr. Dante
memutuskan untuk terlebih dahulu merealisasikan keduanya, sementara
ia menentukan lokasi berikutya.

Kami ber-empat baru saja selesai makan malam. Besok pagi, Mr.
Howard dan Mr. Robert ada meeting dengan pihak kontraktor dan
penanam saham. Aku tidak begitu paham dengan itu semua.
Keberadaanku di sini hanyalah sebagai penterjemah bagi Mr. Dante.

24
Mr. Rescuer

"Baiklah, kami permisi dulu Mr. Dante," Mr. Robert berdiri di susul oleh
Mr. Howard.

Mr. Dante mengangguk dan kedua petinggi perusahaan itu segera


berlalu, menyisakan aku dan Mr. Dante. Tiga orang bodyguard-nya
duduk agak jauh dari kami.

"Calista, aku ingin melihat-lihat dua kota yang kamu sebutkan. Mana
yang harus kita tuju pertama kali?" tanyanya menoleh tiba-tiba.

"Oh, kalau dari sini, sebaiknya ke Yogyakarta dulu baru ke Surabaya,


Mr. Dante." sahutku cepat. Untung pikiranku sedang tidak melantur
kemana-mana.

"Baik. Besok kita berangkat."

Aku hanya mengangguk. Sebenarnya, Mr. Dante itu sekaya apa? Kata
Om Rega, dia punya beberapa perusahaan selain penerbitan. Aku yang
memang tidak tertarik mengetahui kehidupannya, tidak ingin mengorek
lebih jauh. Hanya saja, setelah ia mengikut sertakan aku dalam rencana
pelebaran sayap perhotelannya, mau tidak mau aku jadi berpikir ke arah
itu.

Bagaimana tidak? Bayangkan saja, masa dia mau membangun hotelnya


di tiga tempat secara bersamaan? Kalau dia tidak kaya raya, apa
mungkin itu bisa terjadi?

"Masih jam delapan. Mau menemaniku melihat kota?" tanya Mr. Dante
melihat arloji di pergelangan tangannya.

"Boleh Mr. Dante," sebenarnya aku ingin segera masuk ke kamar dan
beristirahat, namun aku merasa tidak enak jika menolak.

Akhirnya aku menemani Mr. Dante berkeliling kota Jakarta. Suasana


Jakarta di malam hari memang lebih semarak dengan lampu-lampunya.

25
Mr. Rescuer

Tapi tidak lepas dari keruwetannya. Kali ini Mr. Dante hanya membawa
satu bodyguard-nya saja.

Dua jam lebih kami berputar-putar. Hingga akhirnya aku bisa


menghembuskan nafas lega saat Mr. Dante memerintahkan untuk
kembali ke hotel tempat kami menginap. Bahkan ia mengantar sampai
di depan kamarku.

Aku berjalan di sampingnya dengan kikuk. Mr. Dante berhenti di depan


kamarku.

"Masuklah dan istirahat!" suaranya memerintah.

"Selamat malam, Mr. Dante," anggukku lalu membuka pintu dan masuk.

"Tutup dan kunci pintunya. Kita berangkat jam sepuluh pagi. Jangan
terlambat!"

"Baik Sir," anggukku lalu menutup pintu dan menguncinya.

---o0o---

Kami sampai di Yogyakarta siang hari. Mr. Dante langsung menuju ke


hotel yang entah kapan dipesannya. Kurasa semua sudah di atur oleh
Sherine dari London sana.

Aku sendiri heran, kenapa Mr. Dante tidak mengajak Sherine yang
notabene sekretarisnya untuk mengurus semua keperluannya? Tapi
tentu saja aku tidak mempunyai keberanian untuk bertanya padanya.

Sore ini aku menemaninya berkeliling Yogyakarta. Aku seperti


seorang tour guide yang menemani turis liburan. Namun tentu saja kami

26
Mr. Rescuer

menjadi pusat perhatian karena di manapun Mr. Dante, selalu ada


tiga bodyguard yang mengikuti. Belum lagi pakaian yang mereka
kenakan terlalu formal untuk berjalan di sepanjang Malioboro.

Besok masih ada waktu sehari untuk berkeliling Yogyakarta sebelum


kami terbang ke Surabaya dan kembali ke Jakarta.

Mr. Dante kerap bertanya apapun yang ia ingin tau tentang kota
Yogyakarta, di sela kesibukannya menerima panggilan di telepon
genggamnya.

Waktu sudah hampir jam sebelas malam, namun tidak ada tanda-tanda
Mr. Dante berkeinginan kembali ke hotel. Mataku sudah pedih karena
mengantuk dan kelelahan. Padahal kami hanya berjalan sepanjang
Malioboro, lalu kembali naik mobil memutari kota di sisi lain.

Dinginnya AC dalam mobil dan suasana hening karena Mr. Dante sedang
sibuk memeriksa email dari Ipad-nya membuatku makin terseret kantuk.
Aku menguap berkali-kali. Kulirik Mr. Dante. Ia masih fokus pada layar
benda tipis segi empat itu.

Aku berusaha bertahan dengan menegakkan tubuhku berkali-kali,


namun sepertinya rasa lelah terlalu menguasaiku.

---o0o---

Mataku mengerjap. Aku di mana?

Ruangan ini... tunggu! Bukankah terakhir kali aku bersama Mr. Dante di
mobil? Tapi kenapa sekarang aku tidur di kamar? Eeehh.... tapi.... tidak,
ini bukan kamarku!

27
Mr. Rescuer

Suara dengkur halus itu membuatku menoleh dan tersergap rasa panik.

Mr.Dante?
Astaga! Apa yang terjadi? Bagaimana bisa aku berada di kamar Mr.
Dante? Dan.... tangannya... melingkari perutku!

Aku memekik dan buru-buru menutup mulutku dengan telapak tangan.

Dahi Mr. Dante mengerut, ia seperti terusik, lalu bergerak dan matanya
mengerjap terbuka. Pandangan kami bertemu. Jantungku serasa ingin
melompat keluar melihat tatapannya. Ia tersenyum tipis, menguraikan
pelukannya.

"Kamu terbangun?"

Wajahku terasa panas. Aku gugup, risih dan malu. Buru-buru aku duduk
dan bergeser sedikit menjauh.

"Kamu pulas sekali semalam. Aku tidak tega membangunkanmu. Jadi


kubawa ke kamarku," jelasnya tanpa kuminta namun sangat ingin
kutau. Mr. Dante ikut duduk dan memandangku.

"Ehm, maaf sudah menyusahkan anda," aku benar-benar gugup.


Bayangkan kami masih di atas ranjang yang sama dengan kondisi baru
bangun tidur dan Mr. Dante tampak begitu..... errr.... seksi!
Tubuh shirtless-nya dengan perut beralur kotak-kotak, sungguh
memanjakan mata. Dan aku malu karena ini pertama kalinya aku
melihat tubuh pria tanpa baju. Kecuali papaku tentu saja. Aku menggigit
bibir dan menunduk saat menyadari pikiranku sudah melantur kemana
mana.

Mr. Dante tersenyum lebar. Matanya berbinar geli. Tangannya terulur


mengacak rambutku.

"Menggemaskan!"

28
Mr. Rescuer

Aku makin salah tingkah.

"Uhm... saya... saya ke kamar mandi dulu," ujarku terbata, menyibakkan


selimut dan memekik. Bajuku bukan baju yang semalam aku gunakan,
tetapi kaus kebesaran.

"Maaf, aku terpaksa memberimu kaus-ku. Kupikir pasti tidak nyaman


tidur dengan mengenakan bajumu semalam," lagi-lagi Mr. Dante
menjelaskan tanpa perlu kutanya.

"Hah? Ap-apakah...apakah-"

"Jangan khawatir, aku meminta room service wanita untuk


menggantikan bajumu," terangnya membuatku menarik nafas lega.
Namun aku tetap saja merasa malu mengenakan kaus kebesaran milik
Mr. Dante yang saat aku tidur tentu saja tersingkap meskipun ditutupi
selimut.

Aku hanya mengangguk jengah, lalu buru-buru melompat dari ranjang


dan berlari menuju ke kamar mandi. Kudengar Mr. Dante terkekeh geli.
Duh! Memalukan sekali aku!

---o0o---

Setelah melihat di beberapa lokasi, Mr. Dante mengajakku lanjut ke


Surabaya. Kami menuju ke beberapa lokasi. Aku tidak tau dari mana Mr.
Dante bisa mendapatkan lokasi-lokasi itu dengan cepat.

Dari lokasi itu, kami check in ke hotel yang lagi-lagi sudah dipesan oleh
Mr. Dante. Dan kali ini aku tidak perlu menebak-nebak karena ternyata
salah satu bodyguard Mr. Dante yang melakukannya.

29
Mr. Rescuer

"Istirahatlah. Dua jam lagi kita harus bertemu seseorang untuk


membicarakan tanah yang akan dipakai join untuk pembangunan hotel
di Bali," kata Mr. Dante di depan kamar saat ia mengantarku.

"Baik Mr. Dante," anggukku lalu masuk ke kamarku.

Jujur saja, sejak insiden aku ketiduran itu membuatku canggung bila
berinteraksi dengan Mr. Dante. Meskipun Mr. Dante bersikap biasa saja
padaku, namun tetap saja aku masih merasa tidak enak.

Kugunakan waktu dua jam itu sebaik mungkin. Benar-benar kugunakan


untuk beristirahat, sehingga saat Mr. Dante menghubungiku untuk
berangkat, aku sudah segar. Aku tidak mau kejadian ketiduran itu
terulang lagi.

Dan di sinilah kami berada setelah dua jam itu berlalu. Mr. Dante
sesekali melihat arlojinya. Tentu saja bagi Mr. Dante waktu sangat
berharga. Dan orang yang kami tunggu sudah terlambat lima menit.

"Kita tunggu sepuluh menit lagi, Calista. Jika tidak datang, sebaiknya
kita cari alternatif lain."

"Baik Mr. Dante," anggukku.

Mr. Dante kembali menekuri ipad-nya, sementara aku memainkan


ponselku.

"Maaf terlambat. Sedikit macet karena ada kecelakaan sekeluarnya dari


tol."

Suara itu membuatku dan Mr. Dante mengangkat kepala dan berdiri
bersamaan. Mr. Dante segera menyambut uluran tangan dua laki-laki di
depan kami, sementara aku mematung tidak percaya.

Dunia seluas ini masih saja membuatku kembali bertemu dengannya.

30
Mr. Rescuer

Ya, dia Oris dan Papanya, Hendi Patriajaya.

"Calista, perkenalkan, mereka yang akan join dengan hotel kita," suara
Mr. Dante membuatku tersentak.

"Caca?"

Jantungku berdetak keras. Panggilan penuh ketidak percayaan itu,


masih sama efeknya padaku seperti berbulan-bulan yang lalu.

Tubuhku kaku. Kenapa dari sekian banyak orang, harus mereka yang
akan bekerja sama dengan Mr. Dante?

"Caca? Kalian saling kenal?"

Aku menoleh gugup pada Mr. Dante.

"Kami.... ber-teman. Uhm... silakan dimulai saja pembicaraan bisnisnya,"


sahutku tergagap.

Mr. Dante memandangku menyelidik, lalu mengangguk sambil menepuk


ringan bahuku.

Mereka mulai membicarakan bisnis, sementara aku duduk dengan kaku.


Saat ini aku hanya pendengar karena Om Hendi fasih berbahasa inggris,
sehingga aku tidak diperlukan di sini.

Sesekali mataku menemukan Oris menatapku dengan tatapan yang....


Tidak, aku tidak boleh mengharapkannya lagi. Dia milik Bia. Jantungku
serasa diremas dengan kuat. Meskipun berkali-kali menghela nafas
panjang, tidak juga membuat kesesakan di dadaku terurai. Kutahan rasa
nyeri yang ternyata masih tetap kadar kesakitannya.

"Kamu baik-baik saja?" suara Mr. Dante dan sentuhan ringannya di


lenganku membuatku lagi-lagi tersentak.

31
Mr. Rescuer

"Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali?" tanya Mr. Dante mengabaikan


kedua tamunya.

Aku menggeleng.

"Saya... saya..."

"Kamu kenapa? Sakit?"

Aku bingung harus bereaksi apa. Di satu sisi aku harus menemani Mr.
Dante, di sisi lain, keberadaan Oris membuatku tidak berkutik. Perasaan
itu tidak mudah hilang. Aku dan Oris pernah punya cerita bersama. Dan
kenangan itu tidak akan mungkin kulupakan dengan mudah kecuali aku
amnesia. Dan saat ini, aku ingin hal itu terjadi padaku, agar aku bisa
menghadapi mereka tanpa rasa sakit.

Akhirnya aku menggeleng.

"Saya ijin ke toilet sebentar," aku berdiri, dan begitu melihat anggukan
Mr Dante, aku langsung berbalik, meninggalkan lobby menuju restroom.

Aku sengaja berlama-lama berdiam diri di sana. Menenangkan gemuruh


yang menyerbu. Aku tidak siap melihatnya lagi. Kubasuh wajahku dan
memperbaiki make up-ku saat aku sudah merasa sedikit tenang. Kuhela
nafas berulang-ulang, mencoba menguatkan hati.

Aku keluar dari restroom khusus wanita, namun kakiku goyah


menemukan Oris berdiri bersandar di dinding depan pintu restroom.
Terkejut melihat tatapannya padaku yang penuh kerinduan.

"Caca," aku mematung ketika dalam hitungan detik ia menghambur


memelukku erat.

"Aku merindukanmu. Kenapa kau menghilang begitu saja?" bisikan itu


mengguyurkan cuka di atas luka hatiku.

32
Mr. Rescuer

"Aku tidak akan melepasmu lagi, Ca. Aku mencintaimu. Aku tidak
bahagia bersama Bia. Dia sudah kuanggap adikku sendiri. Kau yang
kucintai, Ca," suaranya sedikit teredam di ceruk leherku.

Kupejamkan mataku. Dekapannya membuatku teringat saat kami masih


bersama. Ia selalu manis. Selalu memperhatikan apa yang kurasakan.
Apa yang kusukai dan tidak kusukai. Ia begitu mengerti aku.

Sekelebat wajah Bia muncul tiba-tiba. Refleks aku mendorong tubuh


Oris. Ia mundur selangkah. Aku menatapnya nanar. Ini tidak benar!

---o0o---

33
Mr. Rescuer

BAB 3

Aku tidak tau harus senang atau sedih. Saat aku mendorong Oris, aku
baru menyadari bahwa Mr. Dante berdiri di belakang Oris dan
memandang kami dengan tatapan tajam.

Dan saat ini, aku duduk dengan kaku. Di depanku, Mr. Dante duduk
bersandar di sofa dengan kaki disilangkan.

"Calista," aku mengangkat wajahku dan langsung menunduk lagi.

Kudengar helaan nafas Mr. Dante.

"Aku tidak ingin ikut campur dengan urusan pribadimu. Tapi apa yang
kuamati, membuatku tidak bisa tinggal diam. Saat ini, kamu berada di
bawah tanggung jawabku. Selain kamu adalah keponakan Mr. Rega,
kamu juga staff-ku. Apakah Mr. Patriajaya mengganggumu? Aku bisa
membatalkan kerja sama kami kalau benar itu terjadi," ujarnya tegas.

Aku buru-buru menggeleng. Masa hanya gara-gara aku, mereka


membatalkan kerja sama? Ini bisnis besar Mr. Dante. Siapalah aku ini?
Hanya salah satu karyawan biasa di perusahaan penerbitan yang
kebetulan berasal dari Indonesia.

"Calista-"

"Maaf Mr. Dante, sungguh saya tidak apa-apa. Kami hanya berteman,"
potongku cepat.

Mr. Dante mengerutkan dahi, lalu menggeleng.

34
Mr. Rescuer

"Baiklah. Aku berikan waktu untuk menyelesaikan apa yang menjadi


masalah di antara kalian. Temui Mr. Patriajaya," suruhnya menatap
tajam padaku.

Aku menggeleng.

"Saya... saya tidak perlu menemuinya. Saya tidak ada hubungan apa
apa lagi dengannya," mungkin ada perkataanku yang salah, karena
sekarang Mr. Dante justru memandangku dengan tatapan curiga.

Mr. Dante bergerak, mengubah posisi duduknya, menumpukan sikunya


pada lutut dengan tubuh sedikit membungkuk. Matanya menyipit.

"Jadi kamu memang pernah ada apa-apa dengan pria itu bukan?"

Aku menggeleng kuat. Air mataku sudah mengambang di pelupuk mata.


Pertahananku sudah di ambang batas. Dindingnya terlalu rapuh untuk
menahan luka hati lebih lama.

"Calista, tidak benar menghindari masalah. Hadapi dan selesaikan, maka


kamu akan lebih tenang menjalani hari-hari ke depan."

Dan bobol sudah pertahananku. Aku terisak hebat. Semua rasa sakit
yang kupendam, muncul ke perrmukaan begitu cepat. Semuanya.
Termasuk ingatan dimana aku mematung dengan rasa nyeri yang
menyebar dari hati hingga ke seluruh sel-sel tubuhku mendengar
keputusan yang terucapkan oleh Om Hendi. Seperti sebilah pisau tajam
yang menyayat dagingku secara perlahan dan dalam. Lalu adegan itu
berputar kembali seperti nyata di kepalaku.

Flashback

"Kau sudah dijodohkan dengan Bia. Itu mutlak dan jangan membantah!"

"Tapi aku mencintai Caca, Pa. Bukan Bia!"

35
Mr. Rescuer

"Anggap saja hubunganmu dengan Calista selama ini hanya sebuah


selingan. Kau anak laki-laki satu-satunya, pewaris keluarga Patriajaya!"

"Tidak bisa, Pa! Aku mencintai Caca!"

"Cinta bisa muncul dengan sendirinya karena terbiasa, Oris. Kau hanya
perlu membiasakan diri dengan Bia."

"Kenapa Papa dan Mama tidak pernah mengatakan semua ini? Kenapa
saat hatiku sudah memilih Caca, rencana perjodohan ini baru
diungkap?" suara Oris meninggi.

"Pa, Oris mencintai Caca!" kali ini Orin yang berbicara.

Tante Ratri menoleh padaku yang masih berdiri mematung, lalu


menghampiriku.

"Calista, Tante mohon lepaskan Oris. Dia milik Bia. Kami sengaja
membiarkan Oris dekat denganmu karena kami ingin Oris menikmati
masa mudanya sebelum ia menikah dengan Bia dan memikul tanggung
jawab keluarga," ucapan lembut itu seperti dorongan pada sebilah belati
yang tertancap di hatiku. Mendorong dan membuat luka itu makin
dalam.

"Ma!"

"Tante!"

Suara-suara tinggi bersamaan itu aku tau berasal dari Orin, Oris dan Bia
yang entah sejak kapan berada di ruang keluarga Patriajaya yang luas
itu. Semuanya seperti dengungan di telingaku. Dadaku sesak. Aku ingin
menangis meraung-raung. Apakah mereka anggap aku ini tidak punya
perasaan. Dua tahun aku menjalin kasih dengan Oris. Mereka
membiarkan perasaan kami berkembang, lalu dengan kejam mencabut
paksa dan membuang perasaan itu begitu saja. Aku bergeming kaku.
Tidak ada setetes air matapun yang mengalir dari mataku.

36
Mr. Rescuer

Aku menatap Oris yang terduduk lesu. Lalu Bia dengan mata indahnya
yang berkaca-kaca. Ia mendekat padaku.

"Tante, aku dan Caca bersahabat. Aku tidak bisa menikah dengan Oris.
Oris mencintai Caca, Tante, Om," Bia memelukku. Ia menangis.

Seharusnya aku ikut menangis. Tapi tidak. Air mataku seperti membeku.

"Tidak Bia. Perjodohan itu harus tetap dilaksanakan. Itu amanat. Tidak
boleh dilanggar. Dan Calista, maafkan kami sudah memberikan harapan
padamu," tepukan di bahuku oleh Om Hendi membuat tubuhku yang
kaku bergetar.

Aku menatap mereka satu persatu. Aku terlalu menyayangi mereka


semua.

Lalu aku mengangguk pelan.

"Demi kalian semua, aku mundur. Aku menyayangi kalian. Permisi," aku
berbalik meninggalkan ruangan besar penuh drama itu.

Hatiku hancur. Tangisku tumpah ketika aku sampai di kamarku sendiri,


mengunci pintu rapat-rapat. Tidak akan kubiarkan mereka tau, seberapa
hancurnya aku. Semua demi Bia, Oris dan Orin.

Flashback off.

---o0o---

Pada akhirnya, aku menuruti apa kata Mr. Dante.

37
Mr. Rescuer

Setelah melhatku menangis, ia mendekapku, membiarkanku


menumpahkan semua kesedihanku. Membiarkan air mataku membasahi,
mengotori jas abu-abunya yang lembut. Usapannya di punggung dan
bahuku begitu menenangkan. Hangat, dan damai. Membuatku merona
malu sesudahnya karena menunjukkan sisi diriku yang rapuh.

Dan di sinilah aku berada sekarang. Di dalam ruang meeting kecil hotel
yang awalnya dipesan oleh Mr. Dante untuk pembicaraan bisnis mereka.
Berhadapan dengan Oris yang nampak muram.

"Aku masih tetap mencintaimu, Caca," Oris memecah keheningan.

"Tidak sepantasnya, Ris. Bia. Bia yang seharusnya mendapatkan


perasaan itu darimu," kukuatkan hatiku. Kebersamaanku dengannya
bukan waktu yang singkat. Banyak kenangan manis kami lewati
bersama. Dan tidak mudah menghapusnya. Tidak akan bisa.

"Cinta tidak bisa dipaksakan, Ca," gelengnya pelan. Matanya menatapku


dengan sedih.

"Tapi bisa dipupuk dan dibiasakan, Ris. Kau hanya tinggal membuka hati
dan biarkan Bia memasukinya dengan perlahan. Tidak sulit mencintai
Bia.," aku menekan semua kesakitanku. Berbicara memang mudah
bukan?

"Saat pertunanganku, kau tidak hadir. Saat itu pula, aku ingin
membatalkan semuanya. Tapi Papa memaksaku untuk menyelesaikan
acara itu. Orin bahkan memarahiku karena aku hampir mengacaukan
pertunangan itu," Oris menyugar rambutnya.

Aku menunduk, menenangkan hatiku sebelum kembali menatap


wajahnya.

"Dan, tentu sekarang kalian sudah menikah bukan?" kucoba untuk


tersenyum.

38
Mr. Rescuer

"Hanya dengan menikahi Bia, Papa memberikan kebebasan untuk


mengejarmu lagi," sahutnya ragu.

"Apa maksudmu?"

"Caca, aku mencintaimu! Pernikahanku dengan Bia hanya caraku agar


Papa membiarkanku bersamamu lagi. Papa berjanji tidak akan
menghalangiku bersamamu asal aku menikah dengan Bia."

Aku terperangah. Apa mereka sudah gila?

"Oris, pernikahan bukan untuk main-main. Apa kau tidak kasihan pada
Bia?"

"Aku sudah membicarakannya dengan Bia. Dan dia setuju," Oris


berusaha meyakinkanku.

"Maksudmu? Menduakan Bia? Menjadikanku orang ketiga dalam


hubungan kalian?"

"Tidak seperti itu, Ca. Bia mengerti kalau aku kacau berpisah denganmu.
Apalagi ketika aku sama sekali tidak bisa menghubungimu. Saat aku
mengajukan rencana menikahinya agar aku mendapatkan kebebasan
dari Papa, Bia setuju. Aku berusaha mencarimu, tapi kau menghilang
tanpa jejak. Nomor teleponmu tidak aktif. Papa dan Mamamu tidak mau
memberi tau di mana keberadaanmu. Aku kalut. Kenapa kau
menghilang, Ca? Bukankah aku sudah mengatakan akan mencari cara
agar kita bisa bersama lagi?"

"Oris, ini tidak benar. Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan
Bia? Melihat suaminya masih memikirkan dan mencintai perempuan
lain?" aku menatap Oris tidak percaya.

"Caca, mengertilah. Aku melakukan semua ini agar kita bisa bersama
lagi!"

39
Mr. Rescuer

Aku terdiam. Aku masih tidak mengerti jalan pikiran Oris. Aku
mencintainya? Ya. Aku memang masih mencintainya hingga detik ini.
Tapi apa yang ia lakukan agar kami bersama, itu yang membuatku tidak
mengerti. Meskipun Bia menyetujui apa yang Oris lakukan, tapi tetap
saja hal itu akan menyakiti Bia. Pernikahan mereka adalah suatu ikatan
yang tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Pernikahan itu adalah
sesuatu yang sakral. Perjanjian antara sepasang manusia di hadapan
Tuhan. Pernikahan adalah suatu ikatan suci yang tidak untuk
dipermainkan.

"Ca," sentuhan di jariku membuatku berjenggit dan refleks menarik


tanganku.

Oris menatapku muram. Ada kekecewaan di sinar matanya melihatku


menarik tanganku.

"Selesaikan bisnis kalian dengan Mr. Dante. Aku tau kalian sangat
mengharapkan bisa mendapatkan kerja sama itu," aku menarik nafas
dan berdiri, hendak menyudahi pertemuanku dengan Oris. Aku perlu
berpikir jernih. Terlalu banyak kejutan hari ini.

"Tapi Ca, kita-"

"Beri aku waktu untuk berpikir."

Oris menatapku sendu, ia berdiri dan mendekatiku. Spontan aku


mundur, membuatnya tertegun dengan pias. Lalu ia mengangguk pelan.

"Baiklah. Besok kita bertemu lagi. Aku akan membuktikan padamu,


bahwa aku benar-benar mencintaimu, Ca," ujarnya lesu.

---o0o---

40
Mr. Rescuer

Mr. Dante menyipitkan matanya. Ia menatapku penuh selidik.

"Ada yang perlu aku tau?" tanyanya.

Aku menelan ludah. Mungkin aku terlalu lancang.

"Ha-hanya.... uhm... sa-saya... saya terlalu lama meninggalkan


pekerjaan," sahutku menunduk dalam-dalam.

Mr. Dante menghela nafas.

"Calista, kamu kemari bersamaku, maka kembalipun harus bersamaku.


Ada perubahan rencana. Setelah Howard dan Robert menyelesaikan
semuanya, mereka akan langsung kemari, baru setelahnya kita kembali.
Dan sementara menunggu, kurasa kita bisa mencari alternatif lain. Aku
ingin lebih mengenal negara asalmu ini, Calista," katanya kemudian.

Aku panik. Keberadaanku di Indonesia sudah diketahui Oris. Dan aku


tau, ia tidak akan berhenti. Aku tidak ingin menyakiti Bia. Aku tetap
menyayangi Bia meskipun takdir menempatkan kami di posisi yang
sedemikian rupa.

"Ada apa?" kali ini Mr. Dante mengernyit.

Helaan nafas itu terdengar lagi.

"Aku tidak bisa membantumu kalau kau diam saja begitu."

Aku ragu. Apa aku harus menceritakan masa laluku padanya? Dia
atasanku. Pemilik perusahaan tempat aku bekerja.

"Katakan saja, Calista. Aku tidak menggigit. Ceritakan apapun yang


kamu mau. Dengar, aku mengenal Mr. Rega dengan sangat baik. Aku
juga tau dia sangat menyayangimu. Dia sering bercerita tentangmu.
Keponakan yang spesial untuknya. Ya, dia sering bercerita tentangmu
padaku jauh sebelum kamu bekerja padaku. Jadi, jangan khawatir. Aku

41
Mr. Rescuer

tidak akan membuka rahasiamu," Mr. Dante sedikit condong padaku


ketika berbisik dikalimatnya yang terakhir, membuatku mau tidak mau
tersenyum geli.

Aku tidak tau Mr. Dante mempunyai kekuatan apa, karena yang pasti
setelahnya dari bibirku sudah mengalir cerita masa lalu yang
membuatku berdarah-darah. Bukan hanya bibirku yang bercerita, tetapi
mataku-pun ikut ambil bagian dengan sangat memalukan, menangis
tergugu, seolah-olah hatiku memberontak oleh tekanan dan ketidak
berdayaan.

Mr. Dante tidak menyela sedikitpun. Ia pendengar yang baik. Kisahku


meluncur begitu saja, seperti sudah seharusnya aku bercerita padanya.
Sesekali ia mengangguk, menampilkan rasa simpatinya, membuatku
merasa didengar dan dihargai.

"Maaf, saya... saya..."

"Kamu masih mencintainya?"

"Sa-ya...."

"Tidak mudah memang melupakan cinta pertama. Apalagi kisah yang


begitu manis tanpa riak yang berarti. Sekarang, apa yang akan kamu
lakukan?"

Aku menggeleng pelan. Aku benci tidak bisa menghentikan tangisku.


Bukankah ini menandakan bahwa aku lemah?

"Saya... saya tidak mau merusak pernikahan mereka. Meskipun saya


sangat tersakiti, namun bagaimanapun juga mereka sudah menikah.
Pernikahan yang sah di mata hukum dan agama. Saya tidak mau
menyakiti Bia," aku begitu frustrasi. Kurasa aku nampak sangat
menyedihkan di mata Mr. Dante.

"Jadi?"

42
Mr. Rescuer

"Jadi?" aku tidak mengerti apa maksud pertanyaannya.

"Ya, bukankah kamu harus segera membuat keputusan yang tepat? Jika
memang kamu tidak ingin menyakiti sahabatmu, kamu harus rela
kehilangan orang yang kamu cintai. Tapi jika kamu memilih bersama
dengan orang yang kamu cintai, maka kamu akan menyakiti
sahabatmu."

Mr. Dante benar. Aku tidak boleh menunda. Aku sudah memilih. Aku
harap pilihanku ini tepat dan benar.

"Saya sudah memutuskan," anggukku.

---o0o---

Kutatap mata hitam kelam yang dulu pernah membuat hari-hariku


berwarna. Ada binar penuh harap membias dari sana.

Mr. Dante menyuruhku menggunakan ruang tamu di suite room-nya.


Aku bersyukur dan berterima kasih karenanya.

Kuhirup udara dalam-dalam, mengisi rongga dadaku yang sesak.


Kubulatkan tekadku untuk menyelesaikan semuanya.

"Oris," aku menelan ludah, membasahi tenggorokanku yang mendadak


kering.

"Ca, percaya padaku. Bia sudah setuju. Papa dan Mama juga sudah
membebaskanku untuk tetap mengejarmu, selama Bia menjadi istriku."

Aku memejamkan mata, berusaha menahan diri untuk tidak meneriaki


Oris dengan makian. Sungguh, apa yang ia lihat padaku? Apa dipikirnya

43
Mr. Rescuer

aku akan tersanjung karena ia tetap terus memilihku meskipun ia sudah


menikahi Bia? Apa dipikirnya aku akan bangga menjadi orang ketiga
dalam pernikahannya? Apakah ia ingin menunjukkan betapa besar
cintanya untukku dengan merendahkanku seperti ini?

"Oris, aku...," kubuka mataku perlahan, menahan diri untuk tidak


menangis karena mataku sudah terasa memanas. Hatiku lebih sakit saat
ini.

Oris beranjak dari duduknya, meraih jemariku. Ia berlutut di depanku,


menengadah menatapku lekat. Sorot matanya memandangku mesra
dan penuh harap.

"Aku tidak bisa bersamamu," akhirnya kalimat itu keluar dari mulutku.

Mata Oris membelalak. Ia memandangku tidak percaya.

"Caca! Tapi.... tapi kenapa?" ia pasti tidak menyangka aku akan


menolaknya.

Kulepaskan genggaman tangannya dan menggeleng perlahan.

"Istri mana yang rela menerima suaminya mendua, Oris. Begitupun


dengan Bia. Aku dan Bia bersahabat. Bia pasti tersakiti jika kita
bersama," aku merasakan setetes air mata mengalir di pipiku yang
dengan segera kuhapus sebelum menganak sungai.

"Tapi Bia sudah setuju, Ca. A-aku akan menyuruhnya kemari


menemuimu jika kau masih tidak percaya," serunya panik.

"Tidak perlu. Anggap saja kita tidak berjodoh. Jadi, hapus keinginanmu
untuk tetap mengejarku. Asal kau tau, aku tidak suka menjadi yang
kedua. Dan aku tidak sudi menjadi orang ketiga dalam sebuah
hubungan. Jadi kita berdua sudah tidak mungkin bisa bersama. Maafkan
aku," aku berdiri, hendak menyudahi pertemuan ini.

44
Mr. Rescuer

Kurasa sudah cukup dan kuharap Oris mau mengerti dengan apa yang
menjadi keputusanku. Meskipun menyakitkan untukku, tapi aku tetap
tidak ingin menyakiti Bia, Orin, Om Hendi dan Tante Ratri. Apapun yang
sudah kedua orang tua Oris putuskan, pasti untuk kebaikan Oris. Dan
aku menghormati itu.

Aku berjalan, hendak membuka pintu. Namun sebelum tanganku


menyentuh handle-nya, Oris menarikku, bersamaan dengan suara pintu
terbuka.

"Oris!" aku menolak pelukannya.

"CALISTA!"

Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku.

"Mr. Dante!" aku memandangnya, berharap ia mengeluarkanku dari


situasi ini.

---o0o---

45
Mr. Rescuer

BAB 4

"Lepaskan Calista," suara datar namun penuh wibawa itu seperti


membekukan Oris.

Aku menggunakan kesempatan itu untuk mendorong Oris dan berlari ke


balik punggung Mr. Dante.

"Maaf Mr. Dante, pembicaraan kami belum selesai. Bisakah anda


memberi kami sedikit waktu lagi?" tanya Oris. Matanya tarus
menatapku.

"Apakah kamu masih ingin berbicara dengannya, Calista?" Mr. Dante


memiringkan kepalanya, berusaha melihatku tanpa menggerakkan
tubuhnya.

"Ti-dak Sir , ka- kami sudah selesai," sahutku terbata.

"Tidak, Ca. Kita masih belum selesai! Dengar, aku akan membawa Bia
untuk menyakinkanmu bahwa ia benar-benar setuju dan rela kita
bersama lagi!" Oris sedikit meninggikan suaranya.

"Sudah, Ris. Aku tidak ingin kembali. Jangan menyakiti lebih banyak
lagi," air mataku mengalir tak tertahankan.

"Mr. Patriajaya, Calista sudah tidak bersedia berbicara dengan anda.


Mohon pengertiannya," Mr. Dante berbicara dengan penuh tekanan. Ada
nada ancaman yang terkandung dalam setiap tekanannya.

46
Mr. Rescuer

Oris mengangguk, lalu berjalan menuju pintu. Aku mengikuti Mr. Dante
yang bergeser menyingkir dari pintu yang terbuka lebar. Posisiku tetap
berada di belakangnya. Oris berhenti sejenak memandangku.

"Aku akan membawa Bia ke hadapanmu, Ca. Selamat siang Mr. Dante,"
Oris lalu berderap meninggalkan kamar Mr. Dante.

Mr. Dante menutup pintu, lalu berbalik menatapku.

"Kamu baik-baik saja?" tanyanya sedikit membungkuk.

Aku mengangguk, mengusap air mataku, berusaha menghentikan isak


tangisku yang sulit kuhentikan. Lalu rengkuhan itu kurasakan. Usapan
tangannya di punggungku menenangkan, membuat air mataku mengalir
deras. Namun pada akhirnya melapangkan hati.

---o0o---

Malam ini Mr. Dante mengajakku berjalan-jalan menikmati kota


Surabaya. Kota ini begitu cepat berganti rupa. Saat malam hari, lampu
lampu kota dan taman menyala, menghasilkan nuansa gemerlap.

Aku mengiringi langkah kaki Mr. Dante di sepanjang jalan Tunjungan.


Mr. Dante berjalan santai, sehingga aku tidak kesulitan mengimbangi
langkahnya. Bahkan Mr. Dante tidak mengenakan pakaian formalnya.
Malam ini ia hanya mengenakan celana panjang yang dipadukan dengan
polo shirt.

Ketiga bodyguard Mr. Dante berjalan agak jauh di belakang. Aku yakin,
Mr. Dante yang menginstruksikan mereka.

"Calista, pusat oleh-oleh ada di mana?"

47
Mr. Rescuer

Aku menoleh dan sejenak tertegun. Oleh-oleh? Mr. Dante akan membeli
oleh-oleh? Orang sesibuk dia?

"Calista?"

"Oh, uhm... pusat oleh-oleh ada di jalan Genteng, Mr. Dante. Apakah
Mr. Dante akan membeli oleh-oleh?"

"Nanti saja. Kita tunggu kabar Howard dan Robert. Mereka bilang besok
mereka akan melakukan pertemuan dengan beberapa perusahaan
konstruksi untuk menentukan siapa yang berhak atas tender itu," jawab
Mr. Dante.

Aku mengangguk saja.

"Hmm.... Calista?"

"Ya Mr. Dante?"

"Apa kamu senang bekerja di perusahaan penerbitan?"

"Tentu saja, Mr. Dante. Dan terima kasih karena sudah membantu saya
mengurus semua perijinannya," aku tersenyum mengangguk.

"Tidak masalah, Calista. Apakah kamu tidak ingin bertemu orang tuamu?
Kita sedang di sini. Kalau kamu mau, kamu bisa mengunjungi mereka,"
ucapan Mr. Dante membuatku membelalak. Dia benar-benar Boss yang
baik!

"Orang tua saya berada di Bali, Mr. Dante. Dan itu jauh dari sini.
Lagipula, saya kembali ke Indonesia dalam rangka pekerjaan. Jadi-"

"Besok kita ke Bali. Jam sebelas siang pesawat kita akan siap."

Aku kembali membelalak takjub.

48
Mr. Rescuer

"Ke Bali? Besok?"

Mr. Dante mengangguk.

"Tidak apa-apa. Sekalian aku akan melihat lokasi hotel yang akan kita
bangun," katanya tersenyum tipis.

Ke Bali? Pulang? Aku merindukan kedua orang tuaku tentu saja. Tapi
kembali ke Bali, dimana di sana ada kenangan yang tidak akan mungkin
kulupakan. Kenangan manis dan pahit. Bahkan dua hari terakhir ini aku
begitu lelah dengan luka yang kembali terbuka.

Tapi aku bisa apa selain mengangguk? Tentu saja aku tidak boleh
melupakan keberadaanku di sini adalah mendampingi Mr. Dante dan
menjadi penterjemahnya. Padahal setahuku, Mr. Dante bisa berinteraksi
dengan baik tanpa aku. Sesekali aku mendengar ia mengucapkan
beberapa kalimat berbahasa Indonesia meskipun dengan logat Inggris
nya yang kental, namun tetap bisa dimengerti. Jadi sebenarnya ia tidak
membutuhkanku bukan?

---o0o---

Menginjakkan kaki di tanah kelahiran membuatku terharu. Aku


merindukan kedua orang tuaku. Namun kerinduan itu harus tertahan
oleh masa lalu yang ingin kutinggalkan.

Kami berlima, Mr. Dante, aku dan ketiga bodyguard sudah mendapat
kamar. Aku sudah menerima keycard kamarku yang bersebelahan
dengan Mr. Dante, sedangkan ketiga bodyguard itu mendapat kamar di
depan kamar Mr. Dante.

49
Mr. Rescuer

"Calista, kamu bisa mengunjungi orang tuamu. Kita tidak ada acara
sampai besok."

Aku termangu. Kalau tidak ada acara, kenapa Mr. Dante mengajakku ke
Bali?

"Atau kamu mau kutemani?"

Aku menggeleng cepat.

"Terima kasih, saya berangkat sendiri saja."

Mr. Dante mengangguk dan mengulas senyum tipis, lalu masuk ke


kamarnya.

Aku sendiri setelah cukup beristirahat, segera bersiap mengunjungi


orang tuaku. Memesan taksi online dan bergegas menuju ke lobby.

Jalanan sedang lumayan lengang. Butuh waktu satu setengah jam untuk
sampai ke Ubud.

Aku turun dari taksi setelah membayar, lalu menapaki jalan setapak
berkerikil. Semua masih sama. Aku menoleh ke sebelah kanan. Sebuah
rumah megah nampak dari tempatku berdiri. Rumah itu, rumah dimana
aku dulu sering datang ke sana. Rumah keluarga Patriajaya yang
tersohor. Semua masih nampak sama.

Perlahan kubuka pintu kayu di depanku. Kulihat Papa sedang membaca


koran sorenya di teras.

"Pa," kulihat Papa mengangkat wajahnya, terkejut dan meletakkan


korannya, lalu tergesa menghampiriku.

"Calista? MAAAA.... CALISTA PULAAANG...." Papa berteriak memanggil


Mama sambil menuju ke arahku.

50
Mr. Rescuer

Aku menghambur dalam pelukan Papa.

"CALIS!" Mama tergopoh-gopoh mendekat dan ikut memelukku.

Rasa rindu yang menggunung membuncah begitu saja. Aku mencintai


mereka. Aku menyesal meninggalkan mereka demi menyembuhkan
hatiku yang tidak kunjung pulih. Pengertian dan pemahaman mereka
tentangku membuatku terharu dan semakin menyayangi lebih dalam
lagi.

---o0o---

Tubuhku kaku, menatap nanar pada perempuan cantik di depanku. Ia


masih sama seperti dulu. Lesung pipi-nya tercetak secara tersamar.
Matanya berkaca-kaca.

"Caca," desisnya sebelum menghambur memelukku.

Kupejamkan mataku, menghalau air mata yang mengambang dengan


tiba-tiba di pelupuk mata. Perlahan aku melepaskan pelukannya.

"Apa kabar, Bia," kupasang wajah ceria dan senyum lebar.

Aku baru saja berbincang melepas rindu dengan Mama dan Papa ketika
suara lembut Bia menyapa. Ia dan Orin memang terbiasa keluar masuk
rumah kami dengan leluasa. Sama seperti dulu ketika aku terbiasa
keluar masuk rumahnya dan Orin.

"Kenapa tidak mengabariku kalau kau pulang?"

51
Mr. Rescuer

"Sebenarnya aku tidak pulang. Ini juga dalam rangka bekerja. Kebetulan
dan Boss-ku berbaik hati memberiku kesempatan untuk mengunjungi
Papa dan Mama."

"Kata Oris, kau bekerja di perusahaan yang akan join dengan Papa
Hendi dan Oris?" tanya Bia.

Aku tersenyum mengangguk. Kulirik ke tempat dimana Papa dan Mama


duduk, namun mereka sudah pergi. Mungkin ingin memberi kami
kesempatan untuk berbicara.

"Apa kabar Orin?" tanyaku menghelanya duduk di ruang tamu.

"Baik. Dia sudah punya pacar sekarang," senyum Bia menghilang


perlahan. Ia menatapku, meraih tanganku hingga jemari kami
bertautan. Ada sinar muram di mata indahnya.

"Ca, kenapa kau menolak Oris?"

Aku membelalak.

"Dia begitu frustrasi. Oris masih mencintaimu, Ca."

"Apa maksudmu, Bia? Bukankah kalian sudah menikah? Kenapa kau


bertanya seperti itu?"

"Pernikahan pura-pura," wajahnya nampak murung.

"Apa maksudmu?"

"Oris menikahiku agar ia bebas mengejarmu. Itu syarat dari Papa Hendi.
Setidaknya wasiat Papaku sudah kami penuhi," Bia menunduk,
melepaskan tautan tangan kami dan meremas jemarinya sendiri.
Sesekali ia memutar-mutar cincin di jari manisnya tanpa sadar.

52
Mr. Rescuer

Aku memandang Bia, bertanya-tanya dalam hati, apakah Bia mencintai


Oris? Ia nampak sangat gelisah. Aku gelagapan ketika Bia tiba-tiba
mengangkat wajah memergokiku yang sedang menatapnya dengan
kening berkerut, menyelidik.

"Aku harap kau mau menerima Oris, Ca. Dia sangat mencintaimu. Aku
merasa bersalah sudah menjadi alasan kalian berpisah. Aku sedih
melihat Oris. Ia kacau karena kehilanganmu," sebulir bening air mata
meluncur di pipi Bia yang halus.

Aku tertegun. Bia rela Oris bersamaku karena melihat Oris kacau,
bukankah itu menandakan bahwa ia mencintai Oris? Dan apakah aku
sebegitu tidak punya hati jika menerima Oris sementara Bia akan
merasakan sakit hati berkepanjangan melihat kami bersama?

"Bia," kurangkum jemarinya sambil memantapkan hati.

Bia menatapku penuh harap.

"Kau mau menerima Oris kembali kan, Ca? Tidak apa-apa, aku akan
bahagia jika Oris bahagia. Kita bertiga bisa bersama-sama," Bia terlihat
bersemangat membujukku.

"Bia, aku tau bagaimana rasanya jika orang yang kita cintai bersama
dengan orang lain. Kita bersahabat. Dan aku sudah memutuskan untuk
mundur demi persahabatan kita. Kau berhak bahagia bersama Oris,
Bia."

"Caca, kalau kau mengatas namakan persahabatan kita untuk memilih


mundur, aku juga bisa mengatas namakan persahabatan kita untuk
membagi Oris denganmu. Meskipun pada akhirnya Oris akan lebih
memilih menghabiskan lebih banyak waktunya denganmu, setidaknya
aku bisa melihatnya bahagia," Bia membalas remasan jemariku.

"Apa kau tidak akan sakit hati melihat Oris kembali padaku?"

53
Mr. Rescuer

"Aku akan bahagia jika kalian bahagia!"

"Tapi aku tidak akan bahagia, Bia," gelengku menarik nafas gusar
dengan kenaifan Bia.

"Caca-"

Aku menoleh nyaris bersamaan dengan Bia. Mataku melebar melihat


siapa yang berdiri di ambang pintu. Aku dan Bia memekik tertahan
bersaamaan.

"ORIS?"

---o0o---

Raut wajah Papa menyiratkan ketidak sukaan yang sangat kentara.


Namun Papa terpaksa membiarkan aku menyelesaikan permasalahan
yang menjerat kami semua. Menyerahkan segala keputusan dan sikap
yang akan kuambil padaku sepenuhnya.

Papa dan Mama masuk ke dalam rumah, sementara di gazebo sudut


taman depan, aku, Bia, Oris dan Orin duduk di sana. Ini seperti kembali
ke masa lalu. Bedanya, kalau dulu aku dan Oris berstatus sebagai
pasangan, namun sekarang pasangannya adalah Bia dan Oris.
Sementara Orin hanya sebagai pendengar. Suasana menjadi sangat
canggung.

"Jadi, seperti yang kita bicarakan sebelumnya, Caca, mau kan


mengabulkan permohonanku?" Bia membuka suara, memecah
keheningan.

54
Mr. Rescuer

Aku menatap mereka bertiga bergantian. Sebenarnya keputusanku


sudah final, namun mereka berusaha menggoyahkanku. Bagaimanapun,
perasaan itu tidak mudah untuk dihapus begitu saja.

"Ca, percayalah, ini yang terbaik. Kita akan bersama seperti dulu," bujuk
Bia melihatku terdiam.

"Caca, Bia sudah menyampaikan kesediaannya bukan? Kita bisa


bersama lagi. Kalian juga tetap bersahabat dekat seperti dulu," Oris
menambahkan.

Aku menghela nafas. Melirik Orin yang bersandar di sudut gazebo sambil
menatapku. Menunggu.

"Aku-"

Kutarik lagi nafas dalam-dalam, mengisi seluruh rongga dadaku


sepenuh-penuhnya dengan oksigen.

"Aki tidak bisa. Maaf. Aku tidak ingin menyakiti dan disakiti. Jika aku
menyetujui permintaan kalian, akan ada banyak luka dan kebencian.
Tapi jika aku menolak, tidak akan ada banyak luka. Tidak ada
kebencian. Karena itu, keputusanku sudah bulat. Jangan mencoba
menggoyahkanku. Aku sudah memilih jalan hidupku sendiri," aku
menghembuskan nafas. Lega rasanya menyampaikan ini di hadapan
mereka semua.

"Caca, itu hanya ketakutanmu saja. Tidak akan ada yang terluka atau
kebencian yang akan terjadi," suara Oris meninggi dan mendesak.

Aku tersenyum getir.

"Ada. Akan ada banyak luka dan kebencian. Bia akan tersakiti karena
suaminya mendua," aku mengangkat tangan menghentikan Bia yang
akan menyela, "Orin akan membenciku meski tidak ia perlihatkan. Juga
Om Hendy dan Tante. Karena mereka menganggap aku merusak rumah

55
Mr. Rescuer

tangga Bia dan Oris. Mama dan Papaku, mereka akan mendapat cibiran
karena aku menjadi orang ketiga yang merusak hubungan kalian. Oris,
tidak bisakah kita saja yang tersakiti? Aku yakin, sakit itu tidak akan
lama jika kau mau menerima keberadaan Bia di sisimu dengan tulus
ikhlas."

"Caca, kenapa kau bersikukuh menolakku?"

Aku memejamkan mata sesaat. Menarik nafas kuat-kuat, lalu


menghembuskannya dengan kasar. Kenapa Oris terus mendesakku?
Kenapa ia tidak juga mau mengerti bahwa akan ada banyak kebencian
dan luka jika kami bersama?

"Karena aku mulai jatuh cinta pada orang lain," sahutku akhirnya.
Mungkin memang aku harus mengakhiri semua ini dengan kebohongan.
Tapi jika ini bisa membuat mereka berhenti mendesakku, akan
kulakukan.

"Tidak mungkin!" desis Oris tidak terima.

"Apanya yang tidak mungkin? Kita sudah berpisah hampir satu tahun.
Ada banyak kemungkinan yang terjadi. Maaf, aku tidak lagi
mencintaimu, Oris. Maaf," kuharap aktingku bisa mengelabuhi mereka.

"Aku tetap tidak percaya! Kau hanya berbohong agar aku berhenti,
bukan?" Oris megguncang lenganku.

"Caca, aku mohon. Apa kau tidak melihat bagaimana Oris


mencintaimu?" Bia ikut meraih lenganku.

"Bia, Oris milikmu. Dia suamimu! Sudah seharusnya kau


mempertahankannya, bukan malah menuruti dan mendorongnya untuk
terus mengejarku!

"Ca, please... kembali padaku!"

56
Mr. Rescuer

"Aku tidak bisa, Ris. Maaf," aku menunduk.

"Sekarang katakan, siapa laki-laki yang bisa membuatmu berpaling


dariku? Katakan!"

Aku menggigit bibir. Bingung. Pria mana yang akan aku jadikan kambing
hitam? Aku tidak sedang dekat dengan siapapun.

"Tidak ada bukan? Kau berbohong agar aku menyerah. Benar kan?"

Aku terdesak. Tidak! Aku tidak akan merusak pernikahan mereka


dengan kehadiranku. Aku tidak mau Om Hendi dan Tante Ratri
membenciku karena membuat Bia tersakiti.

"Aku tidak bohong, Ris!" kubuang pandanganku darinya.

Oris sangat mengenalku. Ia tentu akan menyadari jika aku berbohong.


Ia tidak akan menyerah. Aku harus bisa meyakinkan Oris.

"Tatap aku, katakan kalau kau sudah mencintai orang lain," ujarnya
menantangku.

Aku menelan ludah. Aku pasti akan ketahuan berbohong. Kupejamkan


mataku sesaat, menguatkan hati dan perlahan menatapnya.

"Aku-"

"Calista!"

---o0o---

57
Mr. Rescuer

BAB 5

"Calista."

Serempak kami berempat menoleh ke arah suara yang memotong


ucapanku.

"Mr. Dante!" aku membelalak, buru-buru berdiri. Kenapa dia ada di sini?

Langkah tegapnya menghampiriku yang termangu menatapnya dalam


balutan pakaian kasual yang mencetak dada bidangnya. Ia merangkum
jemariku dan meremasnya lembut, seolah memberikan ketenangan dan
memberitahuku bahwa semua akan terselesaikan dengan baik.

"Calista, kenapa kamu ragu mengatakan pada Mr. Patriajaya bahwa kita
ada hubungan spesial?"

Aku tertegun. Mataku membulat mendengar ucapannya. Apa maksud


Mr. Dante? Hubungan spesial? Aku dan dia? Sejak kapan?

"Sweetheart, aku tidak akan marah jika kamu mengumumkan pada


semua orang tentang hubungan kita di luar pekerjaan," Mr. Dante
tersenyum, mengedipkan sebelah matanya padaku.

Suara kesiap di belakangku membuatku tau efek dari perkataan Mr.


Dante. Aku gelagapan. Apakah ia mendengar pembicaraan kami?
Apakah ia hendak membantuku menghindar dari desakan Bia dan Oris?

"Tap-tapi..." aku benar-benar gugup dan bingung.

58
Mr. Rescuer

"Sweetheart, apapun yang akan kamu lakukan, aku akan


mendukungmu," Mr. Dante memelukku sesaat, lalu membalikkan
tubuhku agar kembali menghadap pada Oris, Bia dan Orin, sambil
tangannya merangkul bahuku.

Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan,


mengumpulkan keberanian.

"Oris, Bia, Orin, perkenalkan.... dia, Mr. Dante. Atasan sekaligus orang
yang kumaksud," akhirnya aku mengucapkan kalimat itu. Aku tidak tau
bagaimana warna wajahku, tapi aku harus melakukannya,

Oris menatapku tajam. Sementara di sebelahku Mr. Dante tertawa


pelan.

"Sweetheart, mereka sahabat-sahabatmu bukan? Kenapa kamu masih


memanggilku dengan sebutan Mr? Kebiasaan!" wajahku terasa panas
ketika Mr. Dante mengatakan itu sambil mencubit pucuk hidungku.

"Caca, benarkah?" Oris mundur selangkah sedikit terhuyung.

"Caca! Aaahh.... aku bahagia untukmu," tiba-tiba Orin yang sejak tadi
terdiam, memekik, menghambur begitu saja memelukku, membuat
rangkulan Mr. Dante terlepas dari bahuku.

Aku hanya bisa membalas pelukan Orin dan tersenyum tipis.

"Bukankah ini luar biasa? Kita harus merayakan ini. Let's triple date!"
teriaknya terlalu bersemangat.

Mr. Dante lagi-lagi tertawa. Ia mengangguk-angguk.

Oris dan Bia masih menatapku tidak percaya.

---o0o---

59
Mr. Rescuer

Kami berenam saat ini sedang berada di sebuah resto di Jimbaran.


Karena Mr. Dante menyetujui usul Orin untuk triple date, maka di sinilah
kami berada.

Orin dan kekasihnya serta Oris dan Bia sudah terlebih dahulu datang,
sementara aku dan Mr. Dante datang kemudian. Sepanjang perjalanan,
Mr. Dante menenangkanku, mengatakan semua akan baik-baik saja.
Bahkan saat kutanya bagaimana ia bisa menemukan rumahku, ia hanya
mengatakan jika Om Rega yang memberitahunya. Aku belum
menanyakan lebih lanjut. Belum, karena aku masih panik
dengan triple date yang akan kami jalani.

Matahari perlahan tenggelam, menyisakan semburat merah di langit dan


lautan. Pemandangan yang sangat indah jika saja aku menikmatinya
dengan hati yang tenang dan damai. Sayang sekali saat ini justru aku
sibuk menenangkan keresahanku karena di depanku, Oris
memandangku penuh selidik, sementara di sebelahku, Mr. Dante tidak
melepaskan rangkulannya di bahuku.

Beberapa makanan disajikan. Aku tidak tau siapa yang memesan, tapi
kebanyakan adalah makanan kesukaanku.

Aku mencuri pandang pada Oris. Apakah dia? Sorot mata kami
berbenturan. Buru-buru aku mengalihkan pandanganku.

"Sweetheart," aku menoleh pada Mr. Dante, "Aku sudah memesankan


makanan kesukaanmu. Kau harus makan banyak. Paling tidak, kau
harus menambah berat badanmu lima kilo lagi."

Mataku membola. Jadi Mr. Dante yang memesan makanan ini? Dari
mana dia tau kalau aku menyukai makanan-makanan itu?

"Whoaaa... Mr. Dante, anda pasti cinta sekali dengan Calista ya? Sampai
makanan favoritnya saja hafal," celetuk Orin keras.

60
Mr. Rescuer

"Sure. Dia istimewa untuk saya," sahut Mr. Dante mengusap bahuku
sambil tersenyum memandangku.

Pipiku serasa panas. Akting Mr. Dante terlihat natural untuk ukuran
pengusaha muda yang sibuk sepertinya,

"Kau juga menganggapku istimewa bukan, Sayang?" Orin mengerling


pada Matt, kekasihnya.

"Tentu saja," Matt tertawa mengacak rambut Orin.

Aku mengambil sepiring kepiting yang terlihat menggiurkan dan


meletakkannya di depanku.

"Wait," aku menoleh tidak mengerti. Namun Mr. Dante sudah


mengambil piring kepiting itu, mulai memisahkan cangkang dari
dagingnya dan meletakkan daging kepiting itu ke piringku.

"Sa-eh... a-aku bisa sendiri," bisikku canggung. Tidak enak rasanya jika
pemilik perusahaan tempatmu bekerja memperlakukanmu seperti ratu
sekalipun itu hanya sandiwara bukan?

"No. Aku tidak mau jarimu terluka. Sudah makan saja," suruhnya
dengan nada lembut dan tersenyum padaku.

Kami semua menikmati makanan yang kami pesan. Aku malu dan
canggung dengan Mr. Dante yang terus-menerus melayaniku,
mengiriskan steak, khusus memesankanku lobster, sesekali mengusap
sudut bibirku yang cemong karena saus kepiting dengan tissue, bahkan
menyuapiku.

Belum lagi Oris yang berulang kali mencuri pandang padaku. Aku benar
benar tidak nyaman. Tapi untuk meyakinkan mereka, aku terpaksa
menurut apapun perlakuan Mr. Dante.

---o0o---

61
Mr. Rescuer

Aku menoleh ke belakang. Jejak-jejak dua pasang kaki dengan cepat


memudar setelah tersapu riak ombak. Malam semakin larut, namun
Jimbaran tetap hidup.

Telapak tanganku sudah basah oleh keringat karena gugup. Mr. Dante
menggandeng tanganku. Aku tidak bisa melepaskannya atau
sandiwaraku akan terbongkar. Orin dan Matt entah kemana, tetapi di
belakang, dalam jarak kira-kira sepuluh meter Oris dan Bia mengikuti
kami.

"Santai saja, Calista," Mr. Dante mengeratkan genggamannya.

"Sa-saya.... maaf... saya sudah menyusahkan anda," kataku merasa


tidak enak

"Tidak apa-apa. Kamu nikmati saja," sahutnya tersenyum.

"Tapi-"

"Bahkan jika aku harus menjadikan hubungan ini nyata, aku tidak
keberatan," ujarnya sedikit berbisik.

Mataku membola. Apa aku tidak salah dengar?

"Mak-maksud Mr. Dante?"

"Yeah... kalau kamu memerlukan sandiwara ini menjadi sungguhan, aku


akan dengan senang hati menyetujui," katanya menoleh padaku,
memberikan senyum tulusnya yang sampai ke matanya.

Aku berhenti melangkah. Tertegun, belum bisa mencerna ucapan Mr.


Dante. Kami berdiri berhadapan sekarang. Mr. Dante meraih kedua
bahuku, lalu mengecup keningku.

Aku mengerjap tidak pecaya. Tubuhku kaku. Jantungku berdegup dua


kali lebih cepat. Aku gugup.

62
Mr. Rescuer

"Mereka mengawasi kita," bisik Mr. Dante, lalu menarik dirinya dan
menggandeng tanganku lagi, meneruskan langkah yang terhenti.

"Mmm... Mr. Dante, maaf... sa-saya tid-dak bermaksud ingin membawa


anda dalam masalah s-saya," aku bingung harus bereaksi apa. Ini diluar
dugaan.

"It's okay, Calista. Aku sudah katakan padamu, aku mendukungmu.


Kamu tidak perlu khawatir," Mr Dante menepuk pelan kepalaku,
merangkul bahuku dan meneruskan langkah kami menyusuri pantai
yang makin gelap.

---o0o---

Mr. Dante pamit kembali ke hotel. Setelah pulang dari Jimbaran, Mr.
Dante sempat berbincang-bincang dengan Papa dan Mama. Aku
menunggu mobil yang ditumpangi Mr. Dante menjauh dan hilang dari
pandangan, lalu aku berbalik.

"ASTAGA!" aku melompat mundur. Terkejut melihat sosok tinggi


menjulang Oris.

"Oris? Mau apa kemari?" tanyaku menenangkan detak jantungku.

"Calista, kita butuh bicara berdua!"

Aku menggeleng pelan. Ini tidak baik. Oris tidak pernah memanggilku
dengan nama panjangku kecuali ia sedang marah. Dan sekarang aku
tau ia sedang marah.

63
Mr. Rescuer

"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kau sudah mendengar dan
melihat. Kita punya kehidupan masing-masing sekarang," gelengku
mundur selangkah.

"Tidak! Kau berbohong padaku! Kau hanya sedang menghukumku


karena aku menikahi Bia, bukan?"

Aku mengerutkan kening. Justru aku melakukan ini semua untuk mereka
semua!

"Kau salah, Oris. Aku tidak pernah berniat menghukummu. Untuk apa?
Aku terlanjur menyayangi kalian semua. Bia, Orin, Om Hendi, Tante
Ratri dan kau. Oris, mengapa kita tidak mengikhlaskan saja semuanya.
Jalani hidupmu dengan Bia. Berusahalah mencintainya. Aku yakin,
lambat laun cintamu pada Bia akan tumbuh. Dia gadis yang mudah
untuk dicintai."

"Kenapa kau tidak ingin bahagia bersamaku, Ca?"

Aku menarik nafas dalam-dalam. Ada sebongkah batu besar menindih,


menyesakkan dada.

"Kalau saja tidak ada wasiat perjodohan itu, mungkin aku mau meraih
bahagia bersamamu. Tapi Oris, aku menyayangi Bia. Dia yatim piatu.
Dan mungkin sudah menjadi garis takdir bahwa kalian harus bersama.
Mungkin Tuhan percaya kau akan menjadi sandaran yang tepat untuk
Bia. Pikirkanlah, Ris. Raih kebahagiaanmu bersama Bia. Jangan
mengejarku lagi," bagaimana aku tidak menangis mengatakan itu
semua? Meskipun aku bisa mengatakan dengan lancar, namun hatiku
seperti tersayat-sayat. Beginikah rasanya berkorban untuk kebahagiaan
orang lain?

"Caca, kau tau bukan kalau kebahagiaanku itu bersamamu? Katakan,


apa yang harus kulakukan untukmu agar kau mau kembali padaku? Aku
akan melakukan apapun," Oris meraih jemariku dan menggenggamnya
erat.

64
Mr. Rescuer

"Maaf, aku tidak bisa," aku menunduk tergugu. Ini adalah final dari
hubungan kami. Tidak ada celah dan harapan lagi. Sudah ada dinding
tebal yang memisahkan.

Aku berusaha melepaskan genggamannya, sementara ia


menggenggamnya semakin erat.

"Caca please-"

"Tidak! Aku tidak bisa," kugelengkan kepala lemah.

Mendadak Oris menyentakkan genggamannya hingga aku terjerembab


dalam pelukannya. Ia makin mengeratkan dekapannya ketika aku
berusaha melepaskan diri.

"Aku mencintaimu, Ca. Sangat," bisik Oris membenamkan wajahnya di


rambutku.

---o0o---

Dengan gugup aku turun dari mobil. Malam ini terasa sedikit lebih
dingin. Mr. Dante memutari mobil dan memakaikan jas-nya ke tubuhku
yang menggigil.

Mr. Dante muncul dan membawaku pergi ketika Oris memelukku erat
dan berkata bahwa ia tidak akan berhenti mengejarku. Aku frustrasi.
Aku takut jika Oris terus menggempurku dengan terus mengejar dan
membujukku kembali, aku akan goyah yang pada akhirnya akan
membuat banyak orang sakit hati.

"Aku antar ke kamarmu," kata Mr. Dante menyentuh punggungku.

65
Mr. Rescuer

Aku menurut, berjalan menuju ke kamarku yang berada di hotel yang


sama dengan Mr. Dante. Ia mengatakan pada Papa dan Mama bahwa ia
terpaksa membawaku ke hotel karena besok pagi sekali ia
memerlukanku dalam meeting-nya dengan beberapa relasi. Padahal
beberapa kali aku memergoki ia cukup fasih berbicara dalam bahasa
Indonesia.

"Uhm... kenapa anda kembali lagi, Sir?" tanyaku pelan ketika pintu lift
mulai tertutup.

"Aku hanya merasa kamu memerlukanku," jawabnya menyugar


rambutnya yang tebal.

"Apakah anda sudah lama di sana?" tanyaku lagi. Ingin tau seberapa
banyak yang ia dengar dari percakapanku dengan Oris.

"Lumayan untuk mengerti bahwa kamu sedang berada di posisi yang


sulit," sahuthya memandangku.

"Terima kasih atas bantuan anda, Sir," kataku menarik sudut bibirku
sedikit ke atas.

"Tidak apa."

Lift masih merambat naik dengan keheningan yang tercipta mendadak.

"Calista," panggilnya membuatku menoleh. Raut wajahnya nampak


sedikit ragu.

"Ya?"

"Gunakan aku untuk keluar dari masalahmu."

Aku terdiam mencerna ucapannya. Apa maksudnya?

"Aku tidak keberatan kamu mempergunakan apapun yang kumiliki."

66
Mr. Rescuer

"Saya... saya tidak mengerti Mr. ..."

"Aku tidak bisa melihatmu terus menerus bersedih. Aku tidak tau
seberapa dalam kamu mencintai Mr. Patriajaya. Yang aku kagumi
darimu, kamu rela tersakiti demi kebahagiaan mereka. Kamu menolak
menjadi orang ketiga di antara mereka meskipun kamu tau, Mr.
Pariajaya masih mencintaimu dan istrinya rela berbagi suami denganmu.
Karena itu...." Mr. Dante menarik nafas, menatapku dengan pandangan
teduhnya.

Jantungku berdesir. Sungguh, aku tidak bisa memalingkan mataku dari


sorot matanya. Ia seperti mengunci indra penglihatanku untuk terus
menatap matanya.

"Menikahlah denganku, Calista."

Mataku melebar. Aku tertegun. Menikah? Dengannya? Kepalaku


berrgerak pelan, menggeleng tidak percaya dengan ucapannya.

"Jika kamu menikah denganku, Mr. Patriajaya tidak akan berani


mengejarmu lagi."

Aku masih terdiam. Kali ini pandanganku terpaku pada bibirnya yang
mengucapkan kalimat yang masih berdengung membingungkan di
otakku.

---o0o---

Kaki telanjangku menyusuri pantai yang berpasir putih. Pembicaraanku


dengan Mr. Dante berakhir dengan perkataanku yang akan memikirkan
solusi darinya.

67
Mr. Rescuer

Jalan keluar yang Mr. Dante ajukan benar-benar di luar nalarku.


Bagaimana bisa aku menikah dengan Boss pemilik perusahaan tempatku
bekerja hanya untuk menghentikan Oris?

Hatiku terasa sesak dengan kenyataan yang terpampang di hadapanku.


Dari sisiku, tidak mudah menghapus perasaan cinta pertama yang
begitu indah. Cinta yang dipisahkan oleh sebuah perjodohan. Namun
begitu, aku rela melepaskan cinta itu untuk Bia. Untuk orang-orang yang
sudah terlanjur aku sayangi. Sementara dari sisi Oris, ia sepertinya tidak
terima cinta yang kami punya direnggut begitu saja. Ia ingin
memperjuangkan perasaannya.

Seharusnya aku bahagia mengetahui bahwa Oris sangat mencintaiku.


Namun yang kurasakan justru kesedihan dan kebimbangan. Aku yakin,
meskipun kedua orang tua Oris membiarkan Oris mengejarku, mereka
pasti berharap pernikahan Oris dan Bia tidak akan terusik oleh orang
ketiga. Apalagi orang ketiga itu aku. Miris bukan?

"CACA!"

Refleks aku memutar tubuhku, membelalakkan mata saat melihat siapa


yang memanggilku. Padahal jarak tempat ini dan rumahnya sangat jauh,
tapi kenapa ia bisa ada di sini?

Aku tersenyum dan menunggunya mendekat.

"Ca," nafasnya sedikit tersengal karena ia setengah berlari.

"Orin? Ada apa? Ini sudah sangat malam!" aku mendelik padanya.

"Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu."

"Ya?"

"Please, lepaskan Oris!"

68
Mr. Rescuer

Mataku melebar. Apakah ia tidak tau jika aku sudah melepaskan Oris
sejak pertama kali kata perjodohan itu kudengar?

"Kenapa kau meminta hal itu padaku?"

"Oris sudah menikah dengan Bia. Jangan ganggu pernikahan mereka,"


sorot mata Orin tampak membias tidak suka.

"Orin, aku-"

"Aku tau kau membohongi kami dengan sandiwaramu. Sayang sekali,


kau tidak pandai berakting, Ca. Tentu saja Oris akan curiga. Kau pikir
kedekatan kalian selama dua tahun tidak membuat Oris hafal dengan
kebiasaanmu? Apa kau ingin membalas sakit hatimu pada Bia? Demi
Tuhan, Caca, Bia tidak bersalah! Apa kau tidak punya hati dengan terus
menerus memberi Oris harapan?"

"Rin! Aku tidak pernah memberi Oris harapan! Aku-"

"Tingkahmu, kesendirianmu, semua memberi Oris harapan, Ca!"

Aku terengah. Orin mencecarku tanpa memberiku kesempatan membela


diri dan menjelaskan padanya. Hatiku terasa sakit ketika Orin
menuduhku. Bulir air mataku sudah meluncur deras.

"Kau menyakiti Bia, Ca! Bukan hanya Bia, tapi juga Mama dan Papaku.
Apa kau berpikir bahwa Mama dan Papa benar-benar membiarkan Oris
mengejarmu jika ia mau menikah dengan Bia? Itu hanya alasan Mama
dan Papa agar Oris mau menikahi Bia! Mama dan Papa tidak akan
senang jika kau hadir di antara mereka! Apa kau tidak mengerti?"

Aku tergugu. Tidak menyangka jika Orin sanggup mengeluarkan kalimat


yang sangat menyakitkan untukku. Apa arti persahabatan kami?

"Orin, demi apapun juga, aku sudah berusaha menjauh-"

69
Mr. Rescuer

"Kau tidak bersungguh-sungguh berusaha! Kau masih mencintai Oris


dan masih berharap bersama Oris bukan?" tuduh Orin membuatku
meluruh. Sangat sakit.

"Laki-laki di dunia ini banyak, Ca. Biarkan Bia bahagia bersama Oris.
Suaminya!"

"CUKUP!"

---o0o---

70
Mr. Rescuer

BAB 6

“CUKUP!"

Bentakan itu membuatku dan Orin serentak menoleh. Tampak Mr. Dante
mengetatkan gerahamnya. Wajahnya kaku, seolah menahan
kemarahan.

Ia melangkah lebar sambil melepaskan jaketnya. Menghampiriku dan


melingkupiku dengan jaket itu, lalu lengannya melingkari bahuku. Ia
menatap Orin dengan tajam.

"Berhenti menyudutkan Calista!"

Orin membelalak kaget.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Mr. Dante membuatku mengangguk pelan.


Dengan lembut Mr. Dante menyentuh pipiku, mengusap dengan ibu
jarinya.

"Sa-saya baik-baik saja," suaraku tercekat merasakan desiran di dadaku


menerima perhatian Mr. Dante.

"Jangan menangis," bisiknya sebelum merengkuhku.

Aku sudah tidak tahan. Kubenamkan wajahku ke dadanya yang bidang.


Sepertinya aku harus menghabiskan tangisku saat ini, agar tidak terjadi
lagi hal memalukan seperti ini.

"Sebaiknya anda pulang! Selarut ini anda menemui Calista hanya untuk
mencacinya? Picik! Pulang atau saya akan batalkan kerja sama dengan

71
Mr. Rescuer

perusahaan ayah dan saudara anda!" suara tegas Mr. Dante penuh
ancaman.

"Saya hanya memperingatkan saja. Saudara kembar saya dan Bia sudah
menikah. Permisi," lalu terdengar suara langkah sayup menjauh.

Dekapan yang menyelimutiku menguat.

"Maafkan aku. Seharusnya aku tidak mengajakmu ke sini," ujar Mr.


Dante lirih.

Aku menggeleng, melepaskan diri dari pelukannya dan menengadah


memandangnya.

"A-apakah... apakah tawaran anda kemarin masih berlaku?" jantungku


berdetak cepat. Aku putus asa. Apa mungkin ini jalan satu-satunya agar
Oris berhenti?

Mr. Dante menatapku sedikit bingung, lalu menarik nafas begitu ia


mengingat sesuatu.

"Tentu."

Aku mengusap air mataku, memantapkan hati untuk membuat satu


keputusan penting dalam hidupku. Tidak ada cara lain.

"Mr. Dante, nikahi saya. Saya berjanji akan mengabdi pada anda
seumur hidup saya," akhirnya kalimat itu terucap. Tidak ada jalan untuk
kembali.

---o0o---

72
Mr. Rescuer

Secepat keputusan itu kubuat, secepat itu pula Mr. Dante bergerak. Ia
melamarku pada Mama dan Papa, menyuruh Mr. Robert dan Mr. Howard
kembali ke London terlebih dulu. Seminggu kemudian, Mr. Howard
kembali bersama Om Rega dan Tante Martha serta seorang gadis
berwajah mirip Mr. Dante. Ia memperkenalkan diri sebagai Deanna
Valleryn Javonne, adik Mr. Dante.

Sementara itu, Mama, Papa dan Mr. Dante sudah melakukan semua
persiapan pernikahan. Tidak ada yang tau bagaimana Mr. Dante
melakukannya, tetapi sepaket undangan pernikahan itu tiba di rumah
Papa hanya tiga hari setelah Mr. Dante melamarku secara resmi pada
Mama dan Papa.

Pantai di belakang hotel tempat Mr. Dante menginap sudah disulap


sedemikian indahnya untuk pernikahan kami. Bunga-bunga berwarna
putih dan merah muda pucat menjadi dekorasi yang membuatku jatuh
hati.

Aku sudah selesai di make up dan mengenakan gaun broken white


dengan taburan swarovski di sana sini yang memeluk tubuhku seolah
memang dirancang untukku seorang. Gaun ini datang bersamaan
dengan kedatangan Om Rega, Tante Martha dan Deanne.

Mataku tidak bosan melihat keindahan tempat yang akan menjadi pusat
di mana pernikahan kami berlangsung dari kamarku. Sebenarnya ini
kamar Mr. Dante, tetapi ia memberikannya padaku sementara ia
menempati kamarku. Dan aku tidak tau harus membalas dengan apa
semua kebaikannya padaku.

"Calista, sudah siap?" aku menoleh dan tersenyum mendapati Mama


berdiri dengan anggun, mengenakan gaun pemberian Mr. Dante. Gaun
senada dengan yang dikenakan oleh Deanna, hanya beda pada
modelnya saja.

"Sudah, Ma," Mama menghampiriku dan memelukku dengan sayang.

73
Mr. Rescuer

"Tinggalkan semua kesedihan, Calista. Biarkan dia tinggal di masa lalu.


Mama yakin, Dante pasti akan membuatmu lupa akan kesedihan yang
kamu rasakan," Mama mengusap sudut matanya. Kebiasaan selalu
terbuka pada kedua orang tuaku membuat mereka mengetahui apa
yang kualami dan rasakan. Aku tidak ingin Mama dan Papa terus
bersedih karenaku.

"Doakan Calista ya Ma," kutahan air mata yang menggenang di pelupuk


mataku.

"Sssttt.... sudah . Pengantin tidak boleh menangis. Nanti make up-nya


berantakan," aku tersenyum mendengar ucapan Mama. Padahal Mama
sendiri juga menangis.

Kami berdua sibuk mengeringkan air mata, lalu Mama memanggil orang
yang tadi meriasku untuk membetulkan riasan yang sebenarnya
menurutku tidak berubah apapun karena aku hanya menempel
nempelkan tissue dengan ringan dan hati-hati di sudut mataku.

Setelah selesai, Mama membawaku keluar kamar. Papa sudah


menunggu dengan jas formalnya.

"Putri Papa sudah dewasa," senyum Papa lebar. Papa membawaku


turun melalui lift, menuju belakang hotel. Ternyata Mr. Dante
menempatkan dua pengawalnya untuk menjagaku. Buktinya begitu
keluar kamar, keduanya langsung sigap. Satu di belakangku, dan satu
lagi di depanku.

Dan di sana, di ujung karpet merah yang bertabur mawar putih, ada Mr.
Dante yang berdiri gagah dalam balutan tuxedo warna broken white,
senada dengan gaun yang kukenakan.

---o0o---

74
Mr. Rescuer

Prosesi demi prosesi kulalui. Tidak sedetikpun Mr. Dante beranjak dari
sisiku. Ia begitu sabar. Membetulkan bagian bawah gaunku yang
sempat terbelit terinjak heels yang kukenakan sendiri, menyuapiku
ketika ia tau sedari pagi perutku hanya terisi teh hangat saja,
membawakan hand bouquet-ku dan menggandengku ketika aku
kesulitan berjalan dengan heels sambil harus memegang gaun bawahku
agar lebih mudah berjalan menghampiri beberapa tamu.
Konsep standing party ini memang impianku dulu, meskipun pengantin
prianya berbeda. Namun Mr. Dante mampu mewujudkan semuanya.

Mataku membentur orang-orang yang bergerombol di ujung belakang.


Jantungku berdegup kencang. Aku harus bisa melakukan ini sampai
selesai dengan benar.

Keluarga besar Patriajaya terlihat baru saja datang. Papa dan Mama
menyalami Om Hendi dan Tante Ratri, Oris dan Bia, Orin dan Matt.
Wajah Papa terlihat tegang. Gestur tubuhnya kaku menyambut tamu di
hadapannya dengan terpaksa. Kurasakan lengan Mr. Dante melingkari
pinggangku, menarikku agar mendekat padanya. Lalu ia membawaku
beranjak mendekati keluarga itu.

"Mr. Patriajaya, senang sekali anda bisa hadir di pernikahan kami,"


senyum Mr Dante merekah, menyalami Om Hendi dan Tante Ratri, lalu
beralih pada Oris, Bia, Orin dan terakhir Matt.

Aku berusaha untuk tidak menatap Oris, meskipun aku merasakan


tatapan tajamnya padaku.

"Mr. Dante, saya tidak menduga bahwa anda akan menikah dengan
Calista secepat ini. Dia gadis yang sangat beruntung," tawa basa basi
Om Hendi membuat Mr. Dante tersenyum, mengeratkan gamitan
lengannya di pinggangku, mengalirkan rasa hangat dan kekuatan untuk
bertahan.

75
Mr. Rescuer

"Terima kasih Mr. Patriajaya. Tetapi sebenarnya, sayalah yang


beruntung dapat menikahi Calista," Mr. Dante mengangguk sopan,
sementara Mama dan Papa memandang Mr. Dante dengan tatapan
penuh haru dan terima kasih, tidak menduga dengan jawaban yang pria
itu lontarkan.

"Mr. Dante terlalu merendah. Tentunya sebuah kehormatan bagi kawan


saya ini mendapatkan menantu yang luar biasa seperti anda," ujar Om
Hendi terkekeh menepuk bahu Papa yang nampak tidak nyaman.

"Anda salah, Mr. Patriajaya. Sungguh suatu kehormatan yang sangat


besar bagi saya mendapatkan kepercayaan yang begitu hebat dari Papa
Gio untuk menjaga dan mencintai putri mereka satu-satunya, yaitu istri
saya, Calista," ucapan Mr. Dante membuat wajah Om Hendi sedikit
memerah.

Kulihat mata Papa tampak berkaca-kaca. Mr. Dante sudah mengangkat


harga diri Papa setinggi langit sebagai seorang ayah yang putrinya telah
sangat dipandang remeh oleh keluarga temannya. Pertemanan Papa
dan Om Hendi memang tidak sedekat pertemanan Om Hendi dengan
Papa Bia, namun hal yang sudah dilakukan oleh Om Hendi dan Tante
Ratri padaku sangat melukai hati Papa.

"Silakan... silakan... ayo cicipi hidangan ala kadarnya ini," Mama


memecah kecanggungan yang terjadi. Tante Ratri dan Om Hendi
mengangguk. Mereka menuju ke hamparan meja yang penuh dengan
masakan lezat dan mewah.

Aku mendongak menatap Mr. Dante, tepat saat ia menunduk


memandangku.

"Terima kasih. Terima kasih sudah membuat Papa saya memperoleh


kembali harga dirinya," bisikku terharu.

76
Mr. Rescuer

"Tidak perlu berterima kasih, Calista. Apa yang kukatakan itu kenyataan.
Benar-benar suatu kehormatan, Papamu mempercayaiku untuk
menjagamu," sahut Mr. Dante mengusap pipiku sekilas.

Aku merona. Raut wajah Papa memang langsung berbinar ketika Mr.
Dante melamarku. Meskipun Papa mengatakan semua keputusan
berada di tanganku, tetapi aku tau, Papa senang dan bahagia. Entah
apa yang dikatakan Mr. Dante sebelumnya karena aku baru bergabung
dengan mereka di ruang tamu setelah Mr. Dante mengutarakan
lamarannya.

---o0o---

Para tamu undangan sudah pulang. Suasana meriah pesta sudah usai.
Mama, Papa dan Mr. Dante sedang berbincang di salah satu meja yang
tersedia, agak jauh di dekat pelaminan, sementara aku meluruskan
kakiku yang pegal.

"Ca," aku mendongak mendapati sosok Oris yang menjulang tinggi.

"Oris?" aku menelan ludah. Kenapa ia bisa ada di sini? Bukankah mereka
sekeluarga sudah pamit pulang sejak tadi?

"Apa artinya ini? Kenapa tiba-tiba kau memutuskan menikah? Aku tau,
kau sakit hati dengan pernikahanku. Tapi itu kulakukan agar aku bebas
mengejarmu," Oris menarik kursi dan duduk di hadapanku.

Aku gelisah. Saat ini aku tidak ingin berada dalam radius sedekat ini
dengannya. Telapak tanganku terasa lembab.

"Aku menikah karena memang aku ingin menikah," sahutku pelan.

77
Mr. Rescuer

"Aku bisa menikahimu! Kita saling mencintai, Ca. Apakah kau akan
bahagia hidup dengannya? Orang yang kau cintai itu aku. Aku, Ca!"

"Oris, aku-"

"Mr. Patriajaya, anda masih di sini?"

Aku menengadah menatap Mr. Dante yang tau-tau sudah berdiri di


belakang Oris, berharap ia melepaskanku dari situasi ini.

Oris berdiri perlahan, lalu berbalik, berhadapan dengan Mr. Dante.

"Maaf Mr. Dante. Saya mencintai Calista. Dan Calista mencintai saya.
Pernikahan kalian tidak akan berhasil karena orang yang ia cintai itu
saya," Oris berkata penuh percaya diri.

Mr. Dante tersenyum sinis. Ini pertama kalinya aku melihat kesinisan di
wajahnya.

"Anda tidak pantas untuk Calista. Anda dan keluarga anda sudah
menginjak-injak harga diri keluarga Calista," geram Mr. Dante. Ia
bergerak menutupiku dengan dirinya dari pandangan Oris.

"Anda tidak tau apa-apa tentang kami, Mr. Dante," aku tau, Oris sedang
menahan diri untuk tidak berteriak.

"Tentu saya tidak tau tentang anda. Tapi saya tau tentang Calista..
Bukankah suami yang baik harus mengetahui apapun tentang istrinya?
Apakah anda mengenal istri anda dengan baik?"

"Mr. Dante, apa yang anda harapkan dengan menikahi gadis yang jelas
jelas tidak mencintaì anda?"

"Dan apa yang anda harapkan dengan menikahi gadis yang tidak anda
cintai?"

78
Mr. Rescuer

"Anda

"STOP!" aku tidak tahan lagi. Aku berdiri dengan cepat, meringis dan
sedikit limbung merasakan heels yang menjepit kakiku terasa menyiksa.

Mr. Dante segera meraih pinggangku, menopang tubuhku agar


bersandar padanya.

Mata Oris melotot kesal.

"Caca, katakan padanya bahwa kita saling mencintai!"

"Oris, kita sudah selesai! Kau sudah menikah dengan Bia. Aku juga
sudah sah menjadi istri Mr. Dante. Aku harus mencintai laki-laki yang
menjadi suamiku," seruku kesal dengan kebebalannya.

"Pulanglah Mr. Patriajaya. Lupakan keinginanmu memiliki Calista. Dia


istri saya sekarang, dan saya tidak berniat melepaskannya, apalagi
untuk pecundang seperti anda!" ucapan Mr. Dante membuat wajah Oris
merah padam.

---o0o---

"Kamu baik-baik saja?" sentuhan lembutnya di pipiku membuat


jantungku berdesir. Kupejamkan mataku sejenak, lalu kutatap matanya
yang teduh.

Kami berada di kamar sekarang. Resepsi pernikahan sudah usai. Deanne


yang tidak mau tidur di hotel, justru meminta ijin untuk tidur di rumah
Mama dan Papa. Tentu saja Mama dan Papa dengan senang hati
mengabulkan, bahkan dengan cepat sudah menganggap Deanna seperti
putrinya sendiri. Deanna memang gadis yang menyenangkan. Begitu

79
Mr. Rescuer

juga dengan Om Rega dan Tante Martha ikut menginap di rumah Mama
dan Papa.

"Saya baik-baik saja, Sir," anggukku menunduk, menghindar dari


tatapannya yang berbias geli.

"Calista, kita sudah menikah. Aku suamimu sekarang. Kenapa masih


formal padaku?"

Pipiku menghangat.

"Kamu menginginkan sesuatu? Seharian ini kamu hanya makan sedikit."

"Saya tidak lapar Sir," sahutku pelan.

Mr. Dante menghela nafas. Ia menepuk kepalaku pelan.

"Nyonya Dante Gregory Javonne, sampai kapan kamu memanggil


suamimu dengan sebutan Sir dan berbicara formal?"

Aku gugup. Sungguh aku tidak tau bagaimana harus memanggilnya? Dia
Boss-ku!

Tiba-tiba ia terkekeh, lalu merangkumku dalam pelukan hangatnya.

"Sepertinya aku harus memberimu waktu untuk membiasakan diri ya?"

"Saya-eh... a-aku tidak tau harus memanggil apa," aku yakin wajahku
sudah semerah tomat matang.

Mr. Dante tersenyum lebar, ia sedikit membungkuk, menyamakan


tingginya denganku.

"Bagaimana kalau 'Honey'? Atau... Emmm.... husband?"

80
Mr. Rescuer

"Eh? I-itu... emmm... sa-eh... aku..." aku benar-benar gugup dan panik.
Wajah Mr. Dante yang sejajar dengan wajahku terlihat sangat dekat.
Jantungku berdegup seperti hendak meloncat keluar dari tubuhku.

"Hahaha... wajah kamu merah, Calista. Sangat menggemaskan!"


serunya tertawa lepas.

"A-ku ehmm.... terima kasih sudah bersedia menikahiku dan


membantuku. Dan maaf sudah merepotkan," aku menunduk malu.

Sepertinya aku baru menyadari kemungkinan-kemungkinan lain yang


bisa saja terjadi. Bukankah bisa saja Mr. Dante sudah punya kekasih?
Atau, bisa saja Mr. Dante sudah mempunyai pilihan hidupnya sendiri
dan aku mengacaukannya? Oh, kenapa baru terpikirkan olehku?

Mr. Dante menangkup kedua pipiku, membuatku terpaksa menatap


mata kelam dan teduhnya. Senyum lebarnya perlahan memudar..
Wsjahnya begitu dekat hingga aku mampu merasakan hembusan nafas
hangatnya.

Detak jantungku menggila.

"May I kiss you, Calista?"

Tubuhku menegang sesaat. Tentu ia berhak menciumku bukan?


Perlahan tubuhku me-rileks. Aku mengangguk kecil dan ia tersenyum
tipis, lalu merunduk lebih dalam.

Aku menutup mataku seiring sentuhan bibirnya mencecap bibirku.


Lembut, tanpa tergesa, namun efeknya membuat dadaku membuncah
hebat.

Kubuka mataku saat kurasakan ia menyudahi ciumannya. Mataku


membentur sorot kelamnya. Ia menarik nafas, lalu kembali menautkan
bibirnya ke bibirku. Kali ini bukan hanya kecupan dan ciuman bibir saja,

81
Mr. Rescuer

sapuan lidahnya mulai kurasakan mendesak. Pasrah, kubuka celah


bibirku, membiarkan ia melakukan lebih intens.

Tubuhku menggigil. Reaksi tubuhku benar-benar memalukan.


Kugerakkan bibirku membalas lumatannya. Euforia-nya sangat jauh
berbeda dengan saat Oris menciumku dulu. Ciuman Mr. Dante serupa
wine yang manis dan memabukkan. Tubuhku gemetar dan lemas.
Kakiku seperti tak bertulang saat Mr. Dante melingkarkan lengan
kokohnya memeluk tubuhku dan mengerat setiap kali ia lebih intens
menggeraklan lidahnya dalam rongga mulutku. Kutautkan kedua
lenganku melingkari lehernya, berpegangan, bertahan agar tubuhku
tidak merosot luruh.

Seolah memahami apa yang kurasakan, Mr. Dante makin erat


mendekapku. Ia hanya melepaskan bibirku sejenak ketika merasakan
pasokan udara di paru-paruku mulai nenipis.

Aku terlena. Terbuai oleh segala kelembutan dan sikap manisnya


memperlakukanku.

"Calista, bolehkah aku memilikimu seutuhnya?"

Suara seraknya menyusup ke telingaku. Tubuhku kembali menegang.

---o0o---

82
Mr. Rescuer

BAB 7

"Calista, bolehkah aku memilikimu seutuhnya?"

Suara seraknya menyusup ke telingaku. Tubuhku kembali menegang.


Mataku terbuka, menatap mata kelam yang saat ini berlumur gairah.

Dia suamiku. Apapun alasan yang ada di balik pernikahan ini, dia adalah
satu-satunya pria yang berhak memiliki seluruh tubuhku. Seperti janjiku,
aku akan mengabdi padanya seumur hidupku.

Dan dengan berpegang pada janji itulah aku mengangguk.

"A-aku milikmu," bbirku bergetar saat mengucapkan itu. Kupejamkan


kembali mataku. Suasana hatiku tidak menentu.

Kurasakan usapan lembut di pipiku.

"Jangan takut, aku tidak akan memaksamu. Jika kamu tidak


menginginkan ini, katakan saja," ucapannya membuka mata juga hatiku.
Laki-laki yang memelukku ini adalah laki-laki terbaik yang pernah
kutemui. Sejak awal mula, dia adalah orang yang selalu menolongku
dari situasi yang menyedihkan.

"Mr.- ehm... A-aku tidak merasa terpaksa. Lakukan apa yang menjadi
keinginanmu. A-aku s-siap-," kueratkan tautan tanganku di lehernya,
menariknya turun sementara aku berjinjit, melabuhkan bibirku pada
bibirnya ketika kabut keraguan itu terbaca dalam sinar matanya.

83
Mr. Rescuer

Mr. Dante mengerang lirih. Pelukannya menguat beberapa saat.


Perlahan menjauh, ia melepaskan pelukannya, lalu mulai melepaskan
gaunku.

Aku tersipu, menutup wajahku ketika tubuhku mulai terekspos di


hadapannya. Ia membaringkanku di ranjang, mulai mencumbuku
dengan kelembutan yang mengejutkan. Ia benar-benar memperhatikan
dan mendahulukan kepentinganku.

Setiap sentuhannya mengalirkan rasa yang mengharu biru. Membuatku


merasa disayangi dengan setulus hati.

"Kamu cantik," bisiknya lalu melumat bibirku. Tangannya menjelajahi


tubuhku, melepas sisa pakaian yang melekat padaku. Tubuhku
menggelenyar di setiap bekas sentuhannya.

Mataku terbuka saat kurasakan kecupannya terlepas dari bibirku, lalu


mulai turun. Wajahku terasa sangat panas menyadari pakaian yang
dikenakannya tadi sudah terlepas dari tubuh kokohnya. Kami berdua
seperti bayi polos yang baru lahir. Tanpa sehelai benang-pun.

"Akhh.... Sir… a-aku..." aku memekik ketika hasrat menggulungku


dengan cepat, membawaku melambung begitu tinggi dan membuncah
di sana.

"Sebut namaku, Sayang."

"Oohhh.... D-Dan-teee...."

"Sweetheart... aku tidak tahan lagi, bolehkah aku...uhh..." ia bertumpu


dengan lututnya.

Aku membelalak melihatnya. Astaga! I-itu....

84
Mr. Rescuer

Dengan menahan ngeri aku mengangguk. Nafasku tercekat di


tenggorokan. Kucengkeram sprei kusut di bawahku dengan kuat ketika
Mr. Dante mulai bergerak, membenamkan diri perlahan.

Kugigit bibirku menahan sakit yang mulai mendera.

"Relax, Sayang. Hanya sebentar," ia mengecup bibirku, lalu kembali


fokus. Keringatnya bermunculan di dahinya.

Aku mengangguk pasrah. Cengkeramanku semakin kuat ketika miliknya


semakin dalam. Ahh.... aku mulai panik.

"Teriak saja, Sayang. Jangan ditahan," ia mengecup lagi bibirku, lalu


semakin mendorong.

"Aaawhh... it's hurt..." air mataku mulai merebak.

"I'm so sorry," ia menarik dirinya sedikit, lalu menghentak kuat dan


cepat.

"AAARRGHHH...." tubuhku terangkat, melengkung dan terhempas.


Rasanya seperti terbelah menjadi dua bagian.

"Oohhh... Calista sayang, i-ini sangat luar biasa..." ia mengecupi air


mataku, lalu menciumku berlama-lama, melumat bibirku hingga nyeri
dan sesak yang membuatku tidak nyaman itu terlupakan.

Aku benar-benar menjadi miliknya sekarang.

---o0o---

85
Mr. Rescuer

Aku menggeliat dan tersentak merasakan pelukan hangat melingkupi


tubuhku. Lalu ingatanku mulai menyadarkanku bahwa pria yang
lengannya memelukku posesif ini adalah suamiku.

Matanya terpejam. Dengkur halusnya terdengar seiring gerakan tubuh


atasnya yang seirama dengan nafasnya. Alisnya yang tebal,
menyempurnakan wajah dengan rahang yang kokoh, menyuguhkan
pemandangan yang begitu maskulin.

Pria sempurna ini yang semalam menyentuhku begitu mesra dan lembut
padaku. Pria hebat inilah yang sudah memilikiku seutuhnya, membuatku
merasa tersanjung menyandang status sebagai istrinya.

Tanpa sadar kuangkat tanganku. Menyentuh rahang dan tulang pipinya


ringan. Dahinya bergerak menciptakan gurat kerut yang samar. Buru
buru aku menjauhkan tanganku dengan wajah memanas. Aku malu
menyadari posisi kami yang begitu lekat satu sama lain. Tubuh polos
kami hanya tertutup selimut setinggi pinggang, sementara tubuh atas
kami saling menempel.

Jantungku bergemuruh. Posisi ini sangat intim dan... oh, aku malu
sekali.

Perlahan aku beringsut, hendak melepaskan diri dari rasa canggung dan
malu karena kondisi ini. Miliknya di bawah sana yang menekan perutku,
seperti mengeras kembali.

"Morning, Sweetheart." ucapnya tanpa membuka mata.

Aku gugup.

"M-morning..."

Ia mengerang pelan, lalu mengerjap, tersenyum saat sorot matanya


bertemu denganku. Aku tersipu.

86
Mr. Rescuer

"Hmm... sexy..." bisknya membuatku makin merasa gugup.

Ia berguling dengan aku masih dalam pelukannya. Sekarang aku berada


di atas tubuh liatnya. Ah, aku malu!

"I-ini... uhm... ak-aku..."

Ia terkekeh, mengecup bibirku sekilas.

"Kenapa masih gugup dan canggung? Kamu milikku sekarang. Dan aku
milikmu. Hmm... apakah masih terasa sakit?"

Wajahku terasa panas. Ia sangat memperhatikanku.

"Sedikit," desisku terengah ketika ia bergerak membetulkan letak


posisiku hingga miliknya menyentuh permukaan area sensitifku.

"Mr. Dan-"

"Panggil Dante saja jika kau keberatan memanggilku suami atau kata
sayang lainnya," katanya rendah, lalu mengecup lagi.

Aku gugup lagi. Tidak sopan memanggilnya hanya nama saja. Dia lebih
tua dariku sebelas tahun!

"Hon-ney," putusku dengan lidah kaku.

Ia tersenyum mengusap puncak kepalaku.

"Jangan dipaksakan. Biarkan mengalir saja," ia tersenyum maklum.

Aku mengangguk, lalu mengernyit merasakan sesuatu.

"Eemhhh.... i-itu.... uhmmm...." aku harus mengatakan apa? Tapi..

Suamiku terkekeh.

87
Mr. Rescuer

"I want you again, Sweetheart," perkataannya membuatku tersipu.

"I'm yours now," bisikku malu-malu.

"Mau di atas?" kerlingnya.

Aku menggeleng cepat. Kusembunyikan wajahku di dadanya.

Ia terkekeh lagi, lalu secepat kilat membalikkan posisi.

"Mungkin lain kali. Tapi kamu harus mencoba," seringainya lucu.

Entah apa warna wajahku. Tapi sebentar kemudian, laki-laki gagah ini
sudah membuatku kembali mendesah dan memekik penuh gairah.

---o0o---

Satu minggu setelah menikah, selama itu kuhabiskan waktu bersama


suamiku, Dante Gregory Javonne. Setiap berada bersamanya, sanggup
membuatku melupakan Oris. Bahkan aku sudah mulai terbiasa
dengannya.

Hari ini aku menghabiskan waktuku di rumah Mama dan Papa karena
besok aku harus mengikuti suamiku kembali ke Inggris.

"Jangan khawatir kakak ipar, aku berkeinginan tinggal di sini. Kupikir


aku bisa memegang cabang hotel kakakku yang akan di bangun di sini,"
tawa Deanne renyah. Ia cepat sekali akrab dengan lingkungan di sekitar
rumahku. Bahkan dengan bangganya ia memperkenalkan diri sebagai
putri kedua dari Mama dan Papa.

88
Mr. Rescuer

Tentu saja Mama dan Papa sangat senang dengan keberadaan Deanne.
Dan aku lega karena Mama dan Papa tidak lagi bersedih karena
memikirkanku. Sudah ada Dante yang menjaga dan melindungiku.

"Masih lama, Deanne," sahut Dante. Lengannya yang melingkari bahuku


mengusap pelan.

"Bukankah sudah ada penawaran yang di sini?" tanya Deanne.

Dante menggeleng.

"Kubatalkan."

Aku menoleh cepat.

"Batal?"

Dante menatapku, lalu tersenyum tipis, mengusap rambutku.

"Jangan dipikirkan. Aku sudah menemukan tempat yang lebih baik,"


ujarnya menepuk ringan kepalaku.

"Tapi bukannya kalian sudah sepakat?"

"Belum ada penandatanganan kontrak kerjasama," sahut Dante santai.

Aku memicing curiga. Dante tergelak.

"Wow, senang sekali melihat kakakku bisa tertawa lepas begitu," celetuk
Deanne.

Dante menghentikan tawanya dan berdehem, lalu tersenyum lebar.

Aku mencebik.

"Ah, istriku terlalu cerdas untuk dibohongi," keluhnya pura-pura sedih.

89
Mr. Rescuer

Benar bukan kalau dia bohong?

"Jadi, berapa kerugian yang harus dibayar?"

"Tidak ada, Sayang. Howard sudah menyelesaikannya. Tanah yang akan


dipakai untuk hotel diubah lokasinya. Ada tanah di Lombok yang lebih
menguntungkan baik dari segi lokasi maupun penawaran. Nah, tanah itu
yang akan dibangun hotel," jelasnya sabar.

"Yang di sini?"

"Howard dan Robert sudah menemukan lokasi lain yang lebih bagus."

Aku memandangnya menyelidik.

"Apakah alasan di balik keputusan itu adalah aku?"

"Hmm... salah satunya," ia mengerutkan dahinya seperti berpikir


sebelum mengangguk.

"Dante, aku tidak mau ka-"

"Tenanglah Kakak Ipar. Kau harus terbiasa dengan semua sikap kakakku
yang over protective dan possessive," celetuk Deanne meringis
mengangkat dua jari ketika Dante berdehem dan melotot padanya,
sementara tangannya mengusap-usap punggungku.

---o0o---

Aku hendak menyingkir masuk ke kamarku ketika Om Hendi, Tante


Ratri, Orin, Oris dan Bia datang ke rumah. Namun Dante menahanku. Ia

90
Mr. Rescuer

justru melingkarkan lengannya ke bahuku, menarik dengan kuat hingga


aku bersandar padanya.

Wajah Papa tampak tegang. Ada gurat ketidak sukaan yang tidak
berusaha disembunyikan. Mama mengusap-usap lengan Papa, mencoba
menyabarkan.

"Mau apa kalian kemari?" tanya Papa geram.

"Maaf Gio, kami ada sedikit keperluan dengan menantumu," Kata Om


Hendi.

Papa mendengus, lalu menoleh pada Dante, bertanya lewat tatapan


matanya kalau-kalau Dante memerlukan privasi untuk berbicara dengan
tamunya.

"Tidak ada hal penting, Pa. Papa di sini saja."

Papa mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya yang tadinya tegak ke


sandaran sofa, mencoba relax.

"Silakan duduk," Dante mempersilakan mereka duduk. Aku yang akan


beranjak hendak mengambil kursi tambahan di tahan olehnya.

"Aku mau ambil kursi tambahan, Dante," bisikku agar ia melepaskan


pelukannya.

"Di sini saja," katanya lalu mengecup pelipisku. Aku merona melihat
sikap atraktifnya.

Dua orang bodyguard Dante datang dengan beberapa kursi tambahan


yang diambil dari ruang tengah.

Tatapanku berbenturan dengan Dante dan ia tersenyum manis,


mengusap-usap lenganku. Otomatis aku membalas senyumnya.

91
Mr. Rescuer

"Ehem... Mr. Dante, maafkan saya. Saya tau anda sedang dalam masa
bulan madu, tapi saya pikir ini persoalan yang sangat penting," Om
Hendi berhenti sesaat, menarik nafas, " Ini tentang kerjasama kita."

Dante menolehkan kepalanya yang semula memandangku, beralih pada


Om Hendi. Ia menautkan alisnya tanpa berkata apapun. Ia hanya
menunggu.

"Ehm... begini Mr. Dante, penawaran saya bukankah sangat bagus?


Mengapa anda membatalkannya? Apakah ada yang meminta anda untuk
membatalkan?" Om Hendi melirikku dan Papa.

"KAU-"

Aku menahan nafas, mencuri pandang pada Papa yang tampak makin
geram atas tuduhan Om Hendi. Tangannya mengepal. Deanne pun ikut
berpindah duduk di dekat Papa, merangkul dan ikut mencoba
menenangkan.

"Mr. Patriajaya, tidak ada seorangpun yang meminta pada saya untuk
membatalkan kerjasama. Pada dasarnya kita belum membuat
kesepakatan apapun. Dan kebetulan, saya tidak menyukai putra anda
yang terus mendekati istri saya meskipun istri saya sudah dengan jelas
menolak. Itu melukai ego saya sebagai lelaki. Jadi saya pikir, saya
berhak mencari lokasi lain," raut Dante berubah menegang.

"Mr. Dante, saya bisa jelaskan tentang hal ini. Mereka.... dulu berteman
dekat dan saling jatuh cinta. Kemudian-"

"Saya tidak tau dan tidak ingin tau apa yang sudah terjadi di masa lalu.
Tapi sekarang, Calista istri saya. Saya menghormati dia. Saya tidak bisa
melihat istri saya merasa tidak nyaman," potong Dante tajam.

"Saya... minta maaf atas nama putra saya. Saya berjanji tidak akan
membiarkan putra saya mendekati istri anda lagi," kata Om Hendi
dengan wajah pias.

92
Mr. Rescuer

"Pa! Papa sudah berjanji padaku!" protes Oris nyaris berteriak.

"Diamlah Oris!" sentak Om Hendi.

Kulihat Bia menunduk dalam. Aku tidak tau bagaimana perasaannya.


Kami belum berbicara secara dekat lagi setelah kedatangannya waktu
itu.

"Tapi Pa-"

"DIAM!"

Mata Oris menyambarku nyalang. Secara naluri, aku menggeser tubuhku


lebih merapat pada Dante.

Dante menoleh melihatku. Ia mengeratkan pelukannya, memberi tahuku


secara sikap, seakan mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja.

"Mr. Dante, saya mohon anda bersedia meninjau kembali keputusan


anda," pinta Om Hendi.

Dante menatap tajam Om Hendi dan Oris. Ia mengusap dagunya seolah


sedang menimbang sesuatu.

"Saya bisa meninjau ulang, Mr. Patriajaya. Tapi saya membutuhkan


jaminan. Apa jaminan anda mengenai putra anda?" mata Dante
menyipit, suaranya terdengar dingin. Ia bukan seperti Dante yang
kukenal selama ini.

---o0o---

93
Mr. Rescuer

Aku menatap bola mata resah di hadapanku. Resepsionis menelepon ke


kamar, memberitahukan bahwa ada yang ingin bertemu dengan Nyonya
Dante. Dan itu berarti aku bukan?

“Bia? Dengan siapa kemari?” kuajak ia duduk di sofa yang berada di


sudut lobby.

“Calista,” aku menoleh. Ia terlihat begitu gugup, tidak menjawabku. Ada


apa dengannya?

“Ada apa Bia?” kusentuh pelan punggung tangannya yang terlipat di


atas pangkuannya.

Tiba-tiba Bia menangis sesenggukan. Tentu saja aku terkejut


melihatnya. Refleks aku memeluknya.

“Katakan ada apa, Bia? Kenapa menangis seperti ini?”

Bia mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Ia terlihat
sangat menyedihkan.

“Oris.... Oris marah padaku. Ia menuduhku merusak impiannya.... a-aku


harus apa, Ca?”

Tangisan Bia menyayat hatiku. Sakit. Aku merasakan itu.

“Aku- aku bahkan rela ketika ia mengatakan akan mengejarmu,


memperbaiki hubungan kalian yang terputus karena perjodohan kami.
Aku bahkan juga pernah memohon padamu untuk kembali padanya. Ca,
kenapa? Kenapa kau tidak mau menerima Oris lagi dan justru menikah
dengan atasanmu? Aku tau, kau masih mencintai Oris. Tapi kenapa kau
menolaknya?”

Aku menarik nafas panjang, sedikit berharap bisa melonggarkan


kesesakan di hatiku.

94
Mr. Rescuer

“Bia, aku menyayangimu seperti saudara yang tidak pernah kupunya.


Aku mencintai kalian semua. Tapi, posisiku tidak pernah penting di mata
Om Hendi dan Tante Ratri. Bahkan Om Hendi tidak memandang penting
persahabatannya dengan Papa. Kami, aku, Papa dan Mama sudah
menerima itu semua. Perasaanku pada Oris hanya sebagai pelengkap
masa muda Oris. Om Hendi dan Tante Ratri lebih memilihmu yang lebih
pantas untuk mendampingi Oris. Dan aku sudah menerima kenyataan
itu.”

“Hatimu pasti sangat sakit, Ca. Maafkan kami,” Bia memelukku erat.

“Aku sudah merelakan semuanya, Bia. Aku yakin, ada rencana yang
lebih baik dan indah untukku di balik semua kepahitan yang kuterima.
Aku tetap menyayangi kalian semua. Masa-masa kebersamaan kita
terlalu indah untuk dilupakan, meskipun pada akhirnya menyisakan
kesedihan.”

“Ca, kenapa kau tidak mau menjadi bagian dari hidup Oris?”

Kutatap wajah sendunya. Menguatkan hati.

“Karena aku menyayangimu. Karena aku tidak mau menjadi orang


ketiga. Dan karena kedua orang tua Oris tidak pernah menganggapku
ada,” aku tidak tahan untuk tidak menangis. Karena itu benar-benar
menyakitkan.

---o0o---

95
Mr. Rescuer

BAB 8

Aku tersenyum melihat wajah Dante yang terlelap. Tampan. Hidungnya


menjulang memberikan nilai tambah untuknya. Juga bentuk bibirnya.
Tanganku masih setia membelai rambut pendeknya.

Kami sedang bersantai setelah melalui perjalanan panjang dari


Indonesia kembali ke Inggris. Dan tiba-tiba saja Dante berubah manja.
Merebahkan dirinya, meletakkan kepalanya di pangkuanku. Lengannya
melingkari pinggangku, menyurukkan wajahnya di perutku. Dia manis
sekali jika seperti ini.

Teringat Bia yang menangis dan masih berusaha membujukku untuk


menerima Oris kembali, membuatku menghela nafas berat. Aku merasa
kasihan pada Bia. Dia terlalu lemah. Seharusnya ia mempertahankan
hak-nya sebagai istri Oris, bukan malah mendukung suaminya mengejar
wanita lain meskipun itu cinta pertama suaminya.

Kadangkala, aku bertanya-tanya pada hati kecilku, bagaimana bisa aku


setegar ini. Padahal aku sudah terlalu kacau sejak bertemu dengan Oris
lagi. Namun perlahan, aku semakin merasa kuat. Hatiku tidaklah sesakit
dulu. Aku bahkan sudah bisa menerima bahwa aku dan Oris memang
tidak berjodoh. Lalu, apa mungkin Dante jodohku?

Kami menikah dengan suatu alasan. Aku tidak tau apa alasannya mau
menikah denganku. Tapi yang pasti, aku tau alasanku menikah
dengannya. Ya, aku tidak ingin menjadi perusak pernikahan Bia. Aku
tidak mau Om Hendi dan Tante Ratri semakin menganggapku rendah.
Aku tidak ingin Papa dan Mama terlarut dalam kesedihan karena putri
satu-satunya tidak dianggap oleh orang yang sudah diperlakukan
sebagai sahabat oleh mereka.

96
Mr. Rescuer

Gerakan kecil di pinggangku membuatku kembali tersenyum. Dante


menguselkan wajahnya semakin merapat ke perutku. Ia terlihat polos
sekali jika begini.

Tadi, begitu pesawat mendarat, ia langsung memerintahkan supirnya


untuk membawa kami ke mansionnya yang ternyata terletak tidak jauh
dari rumah Om Rega yang berada sedikit di pinggiran kota. Ia
memperkenalkanku pada seisi rumahnya yang menyambut kami dengan
antusias. Hatiku menghangat. Aku merasa sangat diterima di sini.

Dante bergerak lagi. Ia menggeliat, mengerjapkan mata lalu


memandangku. Ia tersenyum, mengusap pipiku.

"Maaf, aku ketiduran," katanya lalu menutup mulutnya yang sedang


menguap.

"Lelah?" tanyaku menyibakkan rambut depannya yang menutupi dahi.

"Hmm," ia mengangguk kecil.

"Mau kubuatkan sesuatu? Kopi mungkin?"

Matanya berbinar.

"Boleh, jika kamu tidak keberatan," sahutnya mengangkat kepalanya,


lalu merubah posisinya menjadi duduk, sementara aku beranjak menuju
pantry.

Aku takjub melihat isi pantry. Benar-benar bersih dan terawat. Beberapa
pelayan tersenyum sopan padaku. Aku mengangguk dan menanyakan
letak kopi. Mereka dengan ramah menunjukkan dimana letak kopi dan
apapun yang kuperlukan.

Dante sedang membaca surat kabar hari ini yang belum sempat ia baca.
Dahinya berkerut, nampak serius.

97
Mr. Rescuer

"Ada berita apa?" tanyaku meletakkan kopi pesanannya di meja.

Dante melipat surat kabarnya, tersenyum memandangku dan


mengambil kopinya.

"Pernikahan kita. Sudah lebih dari satu minggu, tapi masih juga masuk
pemberitaan," sahutnya menyeruput kopinya.

Mataku membola. Pernikahan kami masuk koran? Buru-buru kuraih


surat kabar yang tadi dilipat oleh Dante. Astaga! Setenar itukah Dante?

"Duh," tanpa sadar aku mengeluh. Aku melupakan sesuatu.

"Kenapa?" tanya Dante menyelipkan sejumput rambutku yang meluruh


di wajahku.

"Berarti seluruh karyawan tau kalau kita-," aku menggigit bibir.

Hubungan sebagai atasan dan bawahan saja sudah membuat Sherine


ketus dan tidak menyukaiku. Apalagi sekarang? Apa kata Sherine? Gadis
itu pasti akan makin membenciku. Dan mungkin juga beberapa
karyawati lainnya yang menyukai Dante.

---o0o---

Dante mengenggam tanganku yang basah. Pintu lift terbuka, Dante


menarikku untuk berjalan di sisinya. Tapi aku gugup dan salah tingkah.
Khawatir dengan reaksi teman-teman di kantor.

Dante mengantarku hingga ke divisi tempatku bekerja. Ia berhenti tepat


di depan pintu dan memutar tubuhnya ke arahku.

98
Mr. Rescuer

"Jangan khawatir. Tidak akan apa-apa," ujarnya tersenyum mengusap


pipiku dengan ibu jarinya, lalu menangkup wajahku

Ia merunduk, hendak mengecupku. Aku menahan dadanya. Dante


mengerutkan kening.

"Malu," bisikku dengan wajah memanas.

Dante menegakkan tubuhnya. Senyumnya mengembang geli.

"Kita sudah menikah, remember? Tidak ada yang perlu kamu


cemaskan."

"Tapi-"

Cup!

Aku membelalak. Dante mengecupku tepat ketika pintu divisi-ku dibuka


dari dalam. Dante tertawa kecil, membelai kepalaku, lalu menegakkan
tubuhnya lagi.

"Wah ada pengantin baru!" kudengar celetukan keras Felix disambut


tepuk tangan riuh dari Katherine dan seorang pria yang baru kulihat kali
ini.

Aku menoleh pada Dante dengan panik.

"Seluruh perusahaan sudah tau kita menikah, Sweetheart," beritahunya


mengulas senyum geli.

Katherine maju, menyalamiku dan memelukku.

"Sudah kuduga, Mr. Dante tidak akan segampang itu menerima pegawai
di penerbitan ini," bisiknya membuatku mengerutkan dahi mengetahui
satu hal yang baru kusadari.

99
Mr. Rescuer

"Selamat datang, Mr. Dante," sebuah suara menginterupsi.

Kami semua menoleh. Seorang laki-laki berpenampilan sopan. Wajah


tampannya semakin nampak serius dengan kaca mata berbingkai emas
yang melindungi kedua mata jernihnya, menggambarkan wajah pria
berdarah Asia itu dengan jelas.

"Vincent?"

"Saya Vincent, Sir. Sekretaris anda yang baru," ia membungkuk hormat.

Dante mengangguk-angguk paham. Lalu menoleh padaku.

"Calista, dia sekretaris baruku. Pengganti Sherine."

Aku tertegun. Kenapa Sherine diganti? Dan... apakah aku tidak salah
dengar? Ada nada tidak suka saat Dante menyebut nama Sherine.

"Baiklah, aku harus mengurus sesuatu. Selamat bekerja," Dante


tersenyum menepuk pelan punggungku, lalu melangkah menuju ke
ruangannya diikuti oleh pria bernama Vincent itu.

"Woooaahhh.... bagaimana bisa kau menikahi Mr. Dante, Calista?"


Katherine memekik, menarikku masuk dalam ruangan kami.

Felix ikut menyeret dan mendudukkanku di kursi. Mereka terlhat sangat


penasaran. Lalu aku menoleh pada laki-laki yang baru hari ini kulihat
yang saat ini berdiri di belakang Felix. Siapa dia?

Seperti mengetahui keherananku, Felix dan Katherine tersenyum


menarik laki-laki itu lebih mendekat.

"Perkenalkan, dia Stephen. Seminggu yang lalu, HRD membawanya


kemari untuk bergabung dengan tim kita," jelas Katherine.

100
Mr. Rescuer

"Dan ketika itulah HRD juga mengumumkan bahwa kalian sudah


menikah di Indonesia," sambung Felix. Ia masih memandangku takjub.

"Oh, hai Stephen, selamat bergabung," kuulurkan tanganku menjabat


tangannya.

"Terima kasih," ucap Stephen tersenyum lebar. Ia laki-laki yang ramah.

"Oke, sudah perkenalannya. Sekarang ceritakan, bagaimana kalian bisa


menikah?" desak Katherine tidak sabar. Ia sudah menarik satu kursi dan
duduk di dekatku.

Aku bingung menjawab pertanyaan mereka. Bagaimana aku harus


cerita? Bukankah pernikahan kami terjadi karena situasi? Aku dan Dante
bahkan tidak saling mencintai.

---o0o---

Aku menarik nafas lega. Serbuan pertanyaan itu bisa kuhindari karena
Vincent, sekretaris Mr. Dante yang baru datang dan mengatakan bahwa
Mr. Dante memanggilku.

Perlahan aku memasuki ruangan besar milik Mr. Dante. Vincent


membuka pintu lebih lebar, dengan sabar membiarkan aku berjalan
masuk penuh keraguan, lalu menutup pintu dari luar setelah aku berdiri
sepenuhnya di dalam ruangan.

"Kemarilah," panggil Dante. Senyumnya terulas sejak melihatku


memasuki ruangannya.

Aku mendekat dan berdiri kira-kira tiga langkah darinya.

101
Mr. Rescuer

Dante berdiri, menghelaku untuk duduk di sofa, dan ia menyusul


kemudian, meraih jemariku dan digenggamnya.

"Ada apa memanggilku?" tanyaku bingung setelah beberapa saat kami


duduk dan Dante hanya diam sambil mengusap punggung tanganku
dengan ibu jarinya.

"Sebentar lagi kita ke auditorium. Mereka sudah menunggu kita,"


katanya menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajahku.

"Hah? Untuk apa?" apakah ada hal penting yang aku tidak tau?

"Aku tidak ingin mereka memojokkanmu dan menerka-nerka latar


belakang pernikahan kita," sahutnya tersenyum tipis.

"Tapi-"

"Mereka harus tau kalau kamu itu istriku, Sweetheart. Aku tidak ingin
ada kesalah pahaman dan ketidak jelasan yang membuat kacau. Biarkan
mereka semua tau. Itu akan lebih baik," Dante tidak ingin dibantah.

Aku terdiam. Percuma juga membantah ucapannya. Dia Boss di sini.


Bukankah Boss itu ucapannya selalu benar? Lalu aku teringat sesatu.

"Uhm... Dante, boleh aku bertanya?"

"Bertanya saja."

"Ehm... itu eh... Sherine... kemana dia? Apa dia dipindahkan ke divisi
lain?" tanyaku hati-hati.

"Aku memerintahkan HRD untuk memecatnya," sahut Dante kalem.

"Dipecat?" aku terkejut. Apa kesalahan Sherine sangat fatal?

102
Mr. Rescuer

"Sikapnya selama ini terhadapmu sangat tidak kusuka. Aku sudah ingin
memecatnya sejak dulu. Terakhir aku mendapatkan laporan, ia terbukti
menyebarkan gosip yang memfitnahmu setelah pernikahan kita
diumumkan. Dan kupikir, kenapa aku harus mempertahankan karyawan
yang akan mengganggu ketenangan perusahaanku?"

Aku membelalak mendengar ucapannya. Apakah ia memperhatikan


setiap Sherine membentak dan tidak menyukaiku? Apakah ia
seperhatian itu terhadap kesejahteraan seluruh karyawannya?

"Tapi dia hanya bersikap seperti itu padaku. Tidak pada yang lainnya.
Mungkin dia memang tidak suka padaku. Kamu tidak harus memecatnya
selama kinerjanya baik, bukan?"

"Kamu istriku. Tidak ada seorangpun yang boleh menjelek-jelekkan


Nyonya Dante!" ujarnya tegas.

Aku tertegun. Pria di hadapanku ini sanggup melelehkan hatiku.


Sikapnya benar-benar sikap seorang pria sejati. Melindungi wanitanya,
menangkis setiap hal buruk yang akan melukai istrinya. Aku terharu.
Dante membuka mataku, menyadarkan betapa beruntungnya aku
menikah dengannya.

Sepuluh menit kemudian, Vincent mengabarkan kalau seluruh karyawan


sudah berkumpul dan hanya tinggal menunggu kami.

Dante menggandengku menuju auditorium. Ia tidak melepaskan


tanganku sedikitpun. Kami sampai di auditorium yang bisa dipastikan
sudah diisi dengan seluruh karyawan dan karyawati di sini.

Dante berdiri di podium dengan aura dan wibawa yang luar biasa
menakjubkan.

"Selamat pagi," suara Dante menggema ke seluruh penjuru auditorium.


Dengung gumaman para karyawan berubah menjadi hening.

103
Mr. Rescuer

"Saya mengumpulkan anda sekalian di sini untuk menjelaskan dan


meluruskan berita simpang siur yang akhir-akhir ini beredar di seluruh
penjuru perusahaan. Saya sudah menikah dengan Calista. Gosip yang
selama ini beredar tidaklah benar. Calista tidak menjebak ataupun
menggoda saya. Saya menikahi Calista karena memang saya
mencintainya. Calista tidak memanfaatkan apapun dari saya. Untuk itu,
saya tidak ingin mendengar lagi desas-desus miring tentang istri saya.
Saya tidak akan mentolerir siapapun yang mencemarkan nama baik istri
saya. Saya rasa cukup sekian, terima kasih atas waktunya, dan kalian
bisa kembali bekerja," Dante menutup pernyataannya lalu menoleh
padaku.

Aku masih terdiam. Belum bisa mencerna ucapannya. Dante


mencintaiku? Ah, pasti itu hanya untuk melindungiku dan nama baiknya
saja bukan?

Dante menggenggam tanganku, menghelaku keluar dari auditorium


dengan lembut dan membawaku kembali ke ruangannya.

---o0o---

Aku menatap Dante. Ia mendekat dan sedikit membungkuk,


menyamakan tingginya denganku.

"Ada apa?" tanyanya mengerutkan kening.

Seharusnya aku tidak memikirkan ucapannya di auditorium tadi. Dante


pasti mengatakan demikian hanya untuk meredam desas-desus yang
berhembus santer di kantor. Tapi mendengarnya mengumumkan
dengan tegas dan gamblang seperti itu membuatku tidak bisa
melupakan begitu saja ataupun mengabaikannya. Apakah aku harus
menanyakannya?

104
Mr. Rescuer

Akhirnya kuputuskan untuk menggeleng.

Dante tersenyum menepuk pelan kepalaku, lalu meraih tanganku dan


menggandengku menuju lift.

"Mau kemana?" tanyaku bingung.

"Ke kantorku yang lain," sahutnya kalem.

Aku membelalak. Jadi dia bermaksud memperkenalkan aku pada seluruh


karyawan di semua perusahaan miliknya? Astaga!

"Tapi-"

"Tenanglah. Ada aku. Jangan cemas," katanya menenangkan.

"Bukan itu. Aku... aku merasa-"

Tiba-tiba Dante memegang bahuku, memutarnya dan membuatku


berhadapan dengannya.

"Calista, kamu istriku. Seluruh karyawanku sudah tau aku menikah. Dan
mereka juga harus mengenalmu. Aku tidak ingin terjadi suatu kesalah
pahaman dikemudian hari. Lagipula, bukankah sudah seharusnya
mereka mengenal Nyonya Dante Gregory Javonne?"

"Dante, i-ini tidak perlu. Sungguh, aku tidak ingin menyusahkanmu.


Aku-"

"Calista dengar, kamu sama sekali tidak menyusahkanku. Dan untukku,


aku merasa perlu melakukan hal ini," Dante menangkup pipiku,
meyakinkanku agar aku bersedia menerima dan mengikuti apa yang
hendak ia lakukan.

"Tapi kita...uhm... bukankah kita menikah hanya karena-"

105
Mr. Rescuer

Pintu lift terbuka. Beberapa karyawan berdiri di luar lift melihatku dan
Dante yang masih berdiri di dalam lift. Wajah Dante tampak mengeras.
Apakah ia marah? Aku menelan ludah.

Dengan wajah kaku, Dante menarikku keluar dari lift, mengabaikan


tatapan beberapa karyawan yang masih berdiri di tempatnya. Di depan
lobby, sudah menunggu mobil hitam miliknya.

"Masuklah," perintahnya datar sambil membukakan pintu untukku.

Tidak ingin membantah, aku menurut. Setengah berlari, Dante memutar


dan mengambil duduk di sebelahku.

"Rumah!" perintahnya pada driver di belakang kemudi.

Aku memutar leherku, memandangnya heran. Bukankah tadi ia akan


membawaku ke kantornya yang lain?

Rahang Dante masih mengetat. Sepanjang perjalanan, ia hanya


berdiam diri. Akupun tidak berani berinteraksi dengannya.

Sepertinya aku sudah salah bicara. Aku mencoba mengingat-ingat.


Kupikir tidak ada yang salah dengan perkataanku.

Sampai di rumah pun Dante tidak banyak bicara. Ia langsung masuk ke


ruang kerjanya. Aku yang bingung hendak melakukan apa akhirnya
berjalan ke arah kamar.

---o0o---

Aku nekat mengetuk pintu tebal di depanku. Vincent sudah mengatakan


kalau Dante ada di ruangan dan tidak ingin diganggu. Tapi aku perlu

106
Mr. Rescuer

bertemu dengannya. Surat yang diberikan Mr. Johnson sungguh tidak


masuk akal untukku, dan aku harus membicarakannya dengan Dante.
Sudah kucoba berulang kali, namun pintu itu terkunci,

"Mrs. Javonne, Mr. Dante sudah berpesan tidak ingin diganggu,"


Vincent lagi-lagi menghalangiku.

"Tapi aku harus menemuinya, Vincent," desakku.

"Beliau sudah berpesan tidak seorangpun boleh mengganggunya," sahut


Vincent bersikukuh.

"Vincent, ini penting. Kau tidak bisa melarangku!" ucapku mulai kesal.

"Biar saya tanyakan terlebih dahulu," Vincent akhirnya menyerah,


meraih gagang telepon dan menghubungi Dante melalui saluran
internal.

Aku tidak tau apa jawaban Dante, aku sudah tidak sabar. Segera
kurebut telepon dari tangan Vincent.

"Dante, apa istrimu juga tidak boleh menemuimu?" tanyaku kesal.

Tidak ada jawaban dari Dante. Tapi aku tau ia mendengarkan.

"Dante-"

"Masuklah," akhirnya kudengar suaranya mengijinkanku masuk.

Aku mendengus, menutup telepon dan melangkah ke pintu yang tadi


tidak bisa kubuka dan sekarang dengan mudah aku bisa membukanya.

Kulihat ia tengah duduk menekuri berkas di mejanya.

"Tutup pintunya!" ujarnya dingin tanpa melihat ke arahku.

107
Mr. Rescuer

Aku menurut. Kututup pintunya dan melangkah hingga ke tengah


ruangan.

Terdengar bunyi pintu terkunci otomatis. Aku tidak peduli. Aku hanya
ingin ia menjelaskan tentang surat yang diberikan Mr. Johnson padaku.

"Apa maksudmu dengan surat ini?" tanyaku meletakkan surat yang


kubawa ke atas mejanya.

Ia menelengkan kepalanya melihat surat itu, lalu beralih menatapku.

"Kenapa dengan surat itu?" tanyanya datar.

"Kenapa? Kamu memutasiku!"

---o0o---

108
Mr. Rescuer

BAB 9

Dante berdiri, melangkah keluar dari tempatnya dan bersandar di


mejanya. Tangannya terlipat dengan tatapan lurus ke manik mataku.

"Kenapa baru sekarang kamu mengakui kalau kamu istriku?"

"Hah?" aku tidak mengerti arah pembicaraannya.

"Bukankah seharusnya kamu menyadarinya sejak pertama kali kita


menikah?"

"Dante, aku kemari ingin menanyakan tentang surat dari Mr. Johnson.
Kenapa aku dimutasikan mendadak? Apakah pekerjaanku buruk?" aku
tidak mengerti maksud Dante. Aku hanya ingin tau, mengapa tiba-tiba ia
memindahkanku ke perusahaannya yang lain? Apa maksudnya?

Dante menghela nafas. Ia memejamkan matanya sejenak, lalu


menatapku dalam-dalam.

"Aku memang memindahkanmu ke perusahaanku yang lain. Jave


Corporation memerlukanku. Aku ingin kamu berada di dekatku,"
jelasnya masih memandang lekat manik mataku.

"J-Jave Corporation?" Aku membelalak. Jadi Jave Corporation itu


miliknya? Astaga! Aku menelan ludah. Siapa pria yang kunikahi ini?
Sepertinya aku sudah lancang sampai berani memohon untuk dinikahi
oleh pemilik Jave Corporation!

Dante mengangguk.

109
Mr. Rescuer

Aku tau Dante kaya dan punya beberapa perusahaan. Tapi aku sama
sekali tidak menyangka jika ia adalah pemilik perusahaan raksasa yang
bergerak di multi bidang.

"Kamu istriku, Calista. Aku tidak bisa membiarkanmu tetap bekerja di


sini sementara aku mengurus Jave Corporation," sepertinya Dante
mencoba memberi pengertian padaku.

"Tapi Dante, aku... aku tidak pantas-"

"Siapa bilang? Kamu istriku. Tidak bekerjapun kamu pantas. Sudah


seharusnya kamu menikmati hasil jerih payahku. Bahkan aku berharap
kamu berhenti bekerja dan menungguku di rumah. Tapi semua itu
kembali padamu. Kalau kamu nyaman bekerja, tidak apa-apa. Aku tidak
akan memaksakan kehendakku. Tapi setidaknya, ikutlah aku ke
perusahaan pusat. Aku akan merasa tenang jika kamu berada
bersamaku," katanya meraih bahuku, memberi sedikit tekanan yang
menunjukkan bahwa ia serius mengharap aku menurut padanya.

"Apa... apa tidak bisa aku tetap di sini?" tanyaku lirih.

Dante menarik nafas sambil memejamkan matanya.

Apakah aku mempersulitnya?

"Jika kamu tetap di sini, apakah aku harus memindahkan kantor pusat
kemari?" tanyanya. Ada nada putus ada dalam suaranya.

Aku tercenung. Apakah aku sudah keterlaluan? Aku sudah banyak


berhutang budi padanya. Bukankah seharusnya aku tidak terus-menerus
menyusahkannya?

Aku mendongak, menatapnya dengan sebuah keputusan yang kubuat


dalam waktu singkat dan berharap tidak menyesali di kemudian hari.

"Aku akan ikut denganmu."

110
Mr. Rescuer

Wajah Dante berubah cerah. Senyumnya terbit dengan begitu indah. Ia


menarikku dalam pelukannya.

"Terima kasih," bisiknya pelan, mengecup keningku.

"Tapi apakah aku berkompeten di Jave Corporation? Setahuku, setiap


orang yang melamar bekerja di sana harus melalui tes yang sulit,"
tanyaku was-was. Aku tidak ingin mempersulitnya.

"Tentu saja. Kamu istriku. Aku membutuhkanmu di dekatku. Kurasa


Gustav akan senang jika pekerjaannya diringankan olehmu," ujarnya
tertawa lirih.

"Maksudmu?"

"Tidak ada tempat yang lebih baik selain menjadi sekretarisku, Calista.
Aku bisa setiap saat melihatmu," jelasnya mengusap rambutku.

"Apa aku bisa? Aku tidak punya pengalaman menjadi sekretaris,"


kataku ragu. Aku takut mengecewakannya.

"Jangan khawatir. Gustav bisa mengajarimu."

Aku mengangguk dan Dante tersenyum lega.

---o0o---

111
Mr. Rescuer

"Kita bersulang!" seru Felix mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.

Katherine dan Stephen ikut berdiri dan melakukan hal yang sama
dengan Felix.

Aku tersenyum menyambut mereka.

"Semoga sukses di sana, Calista," ucap Katherine.

"Selamat Mrs. Boss," Stephen tertawa kecil melihatku cemberut


mendengar panggilannya.

"Semoga selalu rukun dengan Mr. Dante dan tetap ingat pada kami,"
seru Felix lagi.

Kami bersulang. Mereka memaksa mengadakan acara perpisahan kecil


untukku.

Aku memang ijin pada Dante untuk bertemu dan makan malam bersama
rekan se-divisiku. Dante sendiri masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia
hanya mengatakan bahwa ia akan segera menyusulku setelah selesai.

"Hei, bukankah itu Sherine?" aku menoleh ke arah Katherine menunjuk.

Benar. Itu Sherine! Ia terlihat sedang menelepon seseorang. Lalu mata


kami bertemu. Sherine terlihat geram dan menuju ke arah meja kami.

Serentak kami berempat berdiri.

PLAK!
Kepalaku terjajar ke samping. Rasa panas menyengat pipiku. Suara
kesiap di sekelilingku menandakan mereka terkejut dan tidak
menyangka Sherine akan berani menamparku. Refleks aku menangkup
pipiku.

112
Mr. Rescuer

"Perempuan sial! Gara-gara kau, Mr Dante memecatku!" teriaknya


marah.

"SHERINE! APA-APAAN KAU?!" seru Felix membentak Sherine.

"Kenapa? Memang dia yang membuatku dipecat bukan? Dia


menyingkirkanku dengan licik!" Sherine menudingku.

"Sherine, aku tidak pernah me-"

"AKU MEMBENCIMU, SIALAN!" Sherine menjerit. Matanya melotot


memandangku berapi-api.

"Kau sendiri yang membuat masalah, Sherine," bela Katherine.

"Jangan ikut campur!" sentak Sherine menudingkan telunjuknya pada


Katherine, lalu ia beralih memandangku dengan sinis.

"Aku sudah menduga sejak awal. Kau memang berniat menggoda Mr.
Dante, bukan? Dasar jalang! Setelah berhasil memikat Mr. Dante, kau
menghasutnya untuk memecatku! Perempuan sial!" Sherine berteriak
teriak murka.

"Sherine, aku tidak pernah-"

"Sherine, Calista tidak pernah menggoda Mr. Dante. Bukankah kau


sendiri yang sering mencoba menggoda Mr. Dante?" tanya Felix
mencibir.

"Kau membela perempuan busuk ini, Felix?" ejek Sherine.

"Aku tidak membela siapapun. Aku hanya ingin memberitahumu jika


tuduhanmu itu tidak benar," ujar Felix lagi.

"Tuduhan mana yang tidak benar? Buktinya, Mr. Dante menikahinya


ketika mereka dalam perrjalanan dinas. Jika perempuan sial ini tidak

113
Mr. Rescuer

menggoda dan menjebak Mr. Dante, tidak mungkin Mr. Dante akan
menikahinya!"

Air mataku sudah menggantung di pelupuk mata. Tuduhan itu sangat


menyakitkan. Tapi semua itu memang salahku. Seharusnya aku tidak
meminta Mr. Dante menikahiku. Seharusnya aku bertahan membantu
Tante Martha mengurus catering dan tidak meminta tolong Om Rega
untuk mencarikan pekerjaan.

"Calista tidak begitu!" suara keras Katherine membuatku harus segera


menyudahi pertengkaran ini. Mereka teman-teman yang baik. Aku tidak
bisa membiarkan mereka bertengkar dengan Sherine.

"Cih! Kau sama sja! Bukankah kau merebut Felix dari Sarah?" cibir
Sherine.

"Hentikan!"

Kini mereka semua melihatku.

"Hentikan! Cukup! Ini tempat umum. Malu dilihat orang," aku menarik
mundur Katherine agar tidak menjadi korban kemarahan Sherine.

"Malu? Huh! Mungkin hanya kau yang malu! Kau takut kalau semua
orang tau bahwa kau perempuan murahan?" cerca Sherine.

"Sherine, aku tidak pernah membuat masalah denganmu. Kenapa kau


membenciku?"

"Huh, bagus sekali aktingmu? Pura-pura polos, tidak mengerti dimana


letak kesalahanmu. Kau menjual tubuhmu dan menjebak Mr. Dante,
bukan? Mengaku saja! Dasar murahan!" tangan Sherine terangkat lagi.
Aku memejamkan mata, ketika Sherine melayangkan tangannya kembali
untuk menamparku.

PLAKK!

114
Mr. Rescuer

Terdengar suara kesiap lalu hening. Aku membuka mataku perlahan dan
membelalak.

Di depanku, Dante berdiri dengan kepala menoleh ke samping. Kulihat


Stephen dan Felix terdiam dan Katherine menutup bibirnya.

"Mr. Dante?" Sherine mencicit, memandang Dante dengan ngeri.

Tangan Dante terkepal.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dante menoleh memandangku saat aku


memegang lengannya.

Aku menggeleng pelan. Dante kembali memandang ke depan, ke arah


Sherine yang berdiri dengan wajah pucat.

"Puas?" suara rendah penuh tekanan Dante mengintimisasi.

"Mmmm... Mr. Dante.... s-saya ti-dak bermaksud... sa-ya-"

"Pengacara saya akan menghubungi anda,"ucap Dante datar.

"Mr. Dante, maaf, maafkan saya. Jangan laporkan saya. Tolong,"


Sherine kini menangis mengiba.

"Kenapa anda tidak berpikir terlebih dulu sebelum melakukan hal buruk
seperti ini? lagi-lagi suara dingin Dante terdengar.

"Saya-"

"Calista istri saya. Siapa anda hingga berani mencacinya?"

"Dante," aku kasihan melihat wajah pucat pasi milik Sherine. Aku
mengerti bagaimana perasaan Sherine. Ia sudah lama menyukai Dante.
Sayang sekali Dante tidak mempunyai perasaan yang sama. Laki-laki itu
lebih suka bergelut dengan pekerjaannya daripada memikirkan wanita.

115
Mr. Rescuer

"Mari kita pulang, Sweetheart," ia menuntunku keluar dari resto setelah


aku berpamitan pada teman-temanku.

---o0o---

Wajah Dante merah padam. Ia mengusap pipiku dengan rahang


mengetat.

"Dia melakukan ini padamu?" geramnya.

Aku hanya diam memandangnya. Dante terlihat kesal.

"Aku akan membuatnya tidak bisa melupakan apa akibatnya jika ia


menyakiti istriku!"

"Sudahlah, aku tidak apa-apa," aku melengos, menghindar. Aku tidak


mau memperpanjang masalah.

"Kenapa tadi tidak mengatakan apa-apa?"

Aku menggeleng. Dante memandangku berlama-lama hingga wajahku


memanas karena jengah.

"Maafkan aku, tidak bisa menjagamu. Seharusnya tadi aku ikut


denganmu. Ini pasti sakit sekali," katanya dengan sorot muram.

Aku tersenyum tipis mengusap pipinya yang juga memerah karena


bekas tamparan Sherine.

"Ini juga pasti sakit. Seharusnya kamu tidak perlu menahannya


untukku," kataku memandang manik matanya.

116
Mr. Rescuer

"Aku laki-laki. Sudah sewajarnya aku melindungimu. Kamu istriku,"


jawabnya tanpa ragu.

Aku terharu mendengarnya.

"Terima kasih sudah melindungiku," kucium sudut bibirnya, lalu


kutundukan wajahku yang menghangat ketika menyadari apa yang
kulakukan membuat Dante tertegun. Apakah aku terlalu agresif?

Dante mengangkat daguku. Matanya sekelam malam, menatapku lekat


dan dalam. Nafas hangatnya menyapu wajahku. Ia menunduk,
menyentuhkan bibirnya ke bibirku.

Saat kupejamkan mataku, Dante memperdalam ciumannya. Tidak


menggebu, tetapi sangat lembut. Dan dengan mudahnya aku terhanyut.

"Aku menginginkanmu," desisnya merengkuh tubuhku.

Aku mengangguk, "Aku milikmu."

Dante melenguh pelan, kembali mencecahkan bibirnya atasku,


merangkumku dan membuaiku. Kelembutannya membuatku merasa
sangat dikasihi. Sentuhannya semakin melambungkanku dalam angan
dan harapan akan perasaan yang mulai tumbuh dan berkembang.
Kurasa aku mulai mencintainya. Dan bukankah Dante sangat mudah
untuk dicintai?

---o0o---

Mataku nyaris terpejam lelap karena kelelahan ketika kurasakan


keningku dikecup.

117
Mr. Rescuer

"Terima kasih. Aku mencintaimu."

Aku membuka mataku, hingga pandangan kami bertemu. Benarkah


yang kudengar? Dante mengatakan cinta padaku?

"Dante?"

"Hmm?" Dante mengusap lembut rambutku yang terasa lembag,


menyingkirkan setiap helai yang menjuntai di wajahku.

"Uhm... a-apa yang kamu katakan?"

Alis mata Dante terangkat.

Wajahku menghangat mendapati tatapan teduhnya yang kini lekat


memandangku.

Dante menariķku dalam pelukannya, kembali memberikan kecupan


hangat dan lembut di keningku.

"Aku mencintaimu," ulangnya tanpa ragu.

"Be-benarkah?" aku menengadah menatapnya tidak percaya.

Dante tersenyum tipis, membalas tatapanku dengan pandangan geli.

"Kenapa? Tidak percaya?" ia terkekeh lirih.

Aku menelan ludah. Bagaimana bisa?

"Aku sudah jatuh hati padamu sejak Mr. Rega menceritakan keponakan
kesayangannya. Matanya selalu berbinar setiap kali bercerita
tentangmu. Awalnya kukira ini hanya perasaan simpati karena
mendengar cerita sedih yang kamu alami. Lalu suatu sore, kami
bertemu dan Mr. Rega mengatakan jika keponakan kesayangannya
berada di rumahnya demi melarikan diri dari masa lalu yang

118
Mr. Rescuer

menyakitkan. Kamu tau, betapa aku ingin menemuimu dan mengatakan


bahwa kamu terlalu berharga, dan orang-orang yang menyakitimu itu
tidak pantas mendapatkanmu," Dante menarik nafas dalam-dalam,
seperti hendak menguraikan kesesakan di dalam dadanya.

"Mana mungkin kamu jatuh hati padaku sejak saat itu? Kamu bahkan
belum pernah melihatku," gumamku merapatkan diriku padanya.

"Aku tidak tau. Perasaan itu muncul begitu saja. Dan aku semakin yakin
dengan perasaanku ketika Mr. Rega mempertemukanku denganmu. Dia
bilang, kamu membutuhkan pekerjaan untuk mengalihkan pikiranmu
dari kenangan buruk," Dante menarik nafas lagi. Ia seperti menahan
kegeraman yang tiba-tiba muncul.

"Sebenarnya, terbuat dari apa hati mereka? Besi? Kenapa mereka tega
memperlakukanmu seperti itu?" gumamnya kesal, menautkan alis
tebalnya.

"Itu sudah berlalu," sahutku mengulurkan tangan, mengusap dahinya


hingga kerutan itu memudar. Ia meraih tanganku dan mengecup
jemariku, lalu mengeratkan pelukannya.

"Aku akan terus berusaha membuatmu jatuh cinta padaku, melupakan


kepahitan dan rasa sakit di masa lalu. Aku akan terus berusaha agar
kamu hanya melihatku saja," ujarnya tersenyum begitu tampan.

"Dante, uhm... apakah... apakah rencana untuk membuka cabang hotel


dan mengajakku waktu itu, kamu... sudah tau siapa orang di masa
laluku?" tanyaku hati-hati. Aku ragu, apakah ia akan marah jika di saat
seperti ini aku mengungkit masa lalu?

Dante menarik nafas dan menggeleng.

"Tidak. Aku sama sekali tidak tau siapa orang yang dengan bodohnya
memperlakukanmu seperti itu. Tapi saat aku melihat perubahan

119
Mr. Rescuer

wajahmu ketika melihat Mr Patriajaya, aku bisa menebak jika masa


lalumu berhubungan dengannya."

Aku tercenung. Apakah begitu terlihat?

"Sweetheart, maukah kamu membuka hati untukku? Memberiku


kesempatan untuk menunjukkan bagaimana berharganya kamu
untukku? Kesempatan untuk menunjukkan cinta yang kupunya
untukmu?"

Mata Dante memandangku penuh harapan. Aku tau, semua ini benar.

"Dante, aku sudah membuka hatiku sejak aku memutuskan untuk


menikah denganmu," kataku menyandarkan kepalaku di dada
bidangnya.

Dante mengusap lembut bahuku dan mengecup puncak kepalaku.

"Tetaplah di sisiku," bisiknya memelukku lebih erat.

---o0o---

120
Mr. Rescuer

BAB 10

Gustav berdecak ketika lagi-lagi Dante mengajakku keluar kantor


menemui klien. Secara otomatis, pekerjaanku di kantor menjadi
tanggung jawab Gustav. Dan hari ini, pekerjaanku sedang banyak
banyaknya karena setelah meeting dengan pada kepala divisi, aku harus
membuat laporannya.

"Kau ingin aku bawakan apa?" tanyaku. Melihat Gustav cemberut,


sedikit merasa bersalah, namun juga geli.

"Katakan saja pada si Boss kalau aku butuh cuti dan terlepas dari
limpahan pekerjaan," dengus Gustav menghenyakkan diri di depan
komputer dan mulai mengerjakan pekerjaan yang seharusnya milikku.

"Aku akan memberimu cuti nanti. Sekarang bisakah aku membawa


istriku?" tiba-tiba Dante muncul dan menjawab perkataan Gustav.

Gustav buru-buru berdiri dan mengangguk dengan wajah kaku. Aku


tertawa lirih melihatnya salah tingkah.

Dante mendengus, melirik tajam pada Gustav sambil lengannya


menggamit pinggangku dan melangkah meninggalkan Gustav yang
menggerutu lirih. Bukan Dante tidak mendengar, tapi ia mengabaikan
sementara aku terkikik geli.

Sudah hampir satu bulan aku pindah ke kantor di mana Jave corporation
berpusat. Aku berusaha keras agar dapat segera menguasai
pekerjaanku.

"Kasihan Gustav," aku berkomentar saat pintu lift tertutup.

121
Mr. Rescuer

Dante menoleh, lalu menarik pinggangku lebih mendekat padanya.

"Itu pekerjaannya sebelum kamu membantunya. Jadi tidak perlu merasa


bersalah dan kasihan," ujarnya mengecup pelipisku.

"Tapi pekerjaanku hari ini sangat banyak. Aku bahkan belum membuat
laporan meeting pagi tadi," kataku terkikik geli membayangkan
kekesalan Gustav karena harus mengerjakan pekerjaanku.

"Keberadaanmu sudah banyak meringankan dia, hingga dia kini lebih


banyak waktu untuk berkencan. Jangan merasa tidak enak untuk
merepotkannya, Calista," senyum Dante mengusap kepalaku.

Begitu pintu lift terbuka, ia menggamit kembali pinggangku dan


membawaku ke mobilnya yang sudah siap di depan lobby. Beberapa
orang menyapa kami, yang kubalas dengan anggukan dan senyum kecil
sementara Dante hanya menatap lurus.

Ia membukakanku pintu, menungguku hingga duduk manis di dalam


mobil sebelum ia sendiri masuk. Driver yang sudah standby segera
melajukan mobil menuju ke tempat yang dimaksudkan Dante.

---o0o---

Aku melirik diam-diam pada perempuan semampai yang sangat cantik


di depanku. Aku mencatat setiap poin pembicaraan antara Dante dan
perempuan berambut pirang itu meskipun Dante juga memberiku alat
perekam suara yang biasa kupakai di setiap meeting untuk
mempermudahkanku membuat laporan. Gestur tubuh perempuan itu
membuatku tidak nyaman.

122
Mr. Rescuer

Sesekali perempuan itu menggerakkan tangannya seperti tidak sengaja


menyentuh tangan Dante. Pakaiannya sebenarnya cukup sopan, ia
mengenakan atasan dan bawahan formal dengan dilengkapi blazer
berwarna biru. Hanya saja, dua kancing blouse-nya terbuka,
menampilkan belahan dadanya yang menyembul montok. Bawahannya
setinggi setengah paha dengan kaki disilangkan.

"Oke, saya rasa pembicaraan kita sudah cukup. Saya menunggu


proposal anda," ujar Dante akhirnya membuatku menarik nafas,
membuang pandangan saat wanita itu tersenyum manis sedikit
membungkuk, mempertontonkan belahannya. Lalu seolah tidak sengaja,
ia menggesekkan dada besarnya ke lengan Dante.

Aku mendengus kesal. Saat melihat wajah datar Dante, membuatku


makin mendongkol. Kenapa ia sama sekali tidak menjauh? Apakah
Dante menikmati sentuhan penuh godaan dari perempuan itu?

"Baik. Saya akan menyerahkannya sesegera mungkin pada anda. Saya


yakin, anda tidak akan menolak tawaran saya," perempuan itu
tersenyum sedikit mencondongkan tubuhnya, mengulurkan tangannya
yang disambut oleh Dante.

Setelah mengucapkan salam, perempuan itu berbalik dan melenggang


menuju mobilnya dengan goyangan pinggul dan pantat sexy-nya yang
menggoda.

"Sweetheart, kita pulang," ajaknya meraih tanganku hendak


menggandengku.

Refleks aku menghindar, hanya mengangguk dan berjalan cepat menuju


ke mobil, membiarkan Dante menyusulku dengan wajah keheranan.

"Ada yang ingin kamu katakan?" tanyanya begitu mobil membawa kami
kembali bergumul dalam deretan panjang di jalan raya.

"Tidak," sahutku singkat sambil memandang ke luar jendela.

123
Mr. Rescuer

"Sikapmu berbeda. Ada apa?" tanyanya lagi.

"Hanya lelah," kataku menoleh sekejap dan kembali pada posisiku


semula.

---o0o---

Tawaku menggema ketika Gustav mendelik gusar padaku. Ini sudah


kelima kalinya Dante menyuruhnya ini dan itu yang seharusnya menjadi
tugasku, sementara aku hanya duduk manis melihatnya menggerutu
tidak jelas.

"Sebenarnya suamimu itu kenapa? Dari tadi memerintahku ini itu tidak
berhenti. Katanya di sini kau meringankan pekerjaanku, tapi kenapa hari
ini aku yang mengerjakan semuanya?" keluhnya dengan nada jengkel.

"Bukankah sebelum aku di sini, kau terbiasa mengerjakannya sendiri?"


ejekku geli.

"Sebenarnya ada apa?" Gustav duduk di dekatku, memandangku


menuntut jawaban.

"Aku tidak tau. Tapi kemungkinan besar karena aku mengatakan


padanya kalau aku lelah saat ia bertanya tentang sikap diamku setelah
pertemuannya dengan Miss Shanon tadi siang," kukedikkan bahuku.

"Astaga! Dan kau senang melihatku kerepotan seperti ini?" Gustav


mendengus mengangkat alisnya.

"Hahaha... tentu saja tidak. Tapi... sepertinya sedikit menghibur,"


tawaku kembali pecah.

124
Mr. Rescuer

"Hmm... Calista, bukankah Miss Shanon itu sexy? Dia sangat cantik,
kan? Dia menyukai Mr. Dante sejak lama. Sejak ayahnya, Mr. Bradley
bekerja sama dengan Mr. Dante pertama kali. Kalau tidak salah, itu
sekitar dua tahun yang lalu," beritahu Gustav menggeser kursinya
mendekat dan sedikit berbisik.

"Benarkah?" tanyaku melebarkan mata.

Gustav mengangguk yakin.

"Pantas saja tadi sikapnya seperti menggoda begitu," gumamku


mengingat bagaimana perempuan itu menggesekkan dada montoknya
ke lengan Dante.

"Oya? Kau melihatnya menggoda Mr. Dante? Menggoda suamimu? Lalu


kau diam saja?"

"Aku harus apa? Bukankah mereka membahas bisnis?" kukerutkan


dahiku memandang Gustav yang menggeser kursinya hingga menempel
ke kursiku.

"Hati-hati, Calista. Kudengar, Miss Shanon itu rela memutuskan


pacarnya yang petinggi kerajaan itu demi mendekati Mr. Dante.
Lagipula, apa kau tidak khawatir jika Mr. Dante tergoda?" Gustav
memanasiku.

Mungkin. Kemungkinan itu selalu ada. Bukankah Miss Shanon itu sosok
yang mudah membuat laki-laki tergoda? Tubuhnya yang menggiurkan
dan wajahnya yang sangat cantik bak boneka Barbie, tentu mudah
baginya untuk menjerat laki-laki manapun.

"Jangan memanasiku. Aku tidak akan terpengaruh. Kerjakan saja apa


yang diminta Mr. Dante," kupukul Gustav hingga ia meringis mengusap
lengannya.

"Kau makan apa? Kenapa tenagamu kuat sekali?" gerutunya.

125
Mr. Rescuer

Aku tertawa lagi.

Gustav melirikku, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku.

"Bagaimana kalau Mr. Dante tergoda oleh Miss Shanon?" bisiknya lagi
dengan pertanyaan sama.

"Sedang apa kalian?"

Suara dingin Dante membuat Gustav menarik kursi dan duduknya


menjauh dariku, pura-pura sibuk mengerjakan pekerjaannya.

Aku menahan senyumku melihat tingkah Gustav.

"Calista, masuk ruanganku!"

Aku merengut, terpaksa mengikuti Dante masuk ke ruangannya. Kutoleh


Gustav yang menaik-naikkan alisnya dan mengedip menggodaku. Dia
pasti berpikiran yang tidak-tidak!

---o0o---

"Aku akan memindahkan mejamu di dalam ruanganku."

Aku membelalak.

"Kenapa?"

"Agar Gustav tidak bisa seenaknya dekat-dekat denganmu!"

126
Mr. Rescuer

"Tapi kenapa? Aku dan Gustav tidak melakukan apa-apa," protesku.


Membayangkan satu ruangan dengan Dante, membuatku bergidik tanpa
sadar.

Ia tidak tau saja jika akhir-akhir ini berdekatan dengannya membawa


efek yang aneh padaku.

"Oya? Lalu tadi itu apa? Kalian duduk sangat dekat, berbisik-bisik, lalu
kamu tertawa begitu lepas," kata Dante bersedekap. Matanya lurus
memandangku.

"Ya itu karena menurutku dia lucu," sahutku asal. Tidak mungkin bukan
aku mengatakan kalau kami sedang membicarakannya dan Miss
Shanon?

"Lucu? Gustav tidak pernah melucu selama ini."

"Dia lucu," anggukku.

"Sudahlah. Mulai besok kamu bekerja di sini, bersamaku," putusnya.

"Aku tidak akan nyaman bekerja di dalam ruanganmu," aku kembali


memprotes.

"Aku tidak suka kalian terlalu dekat."

"Aku dan Gustav hanya rekan kerja!"suaraku sedikit naik. Aku tidak mau
satu ruangan dengan Dante.

"Kalian terlalu dekat."

"Kami hanya berteman, Mr. Dante," kataku kesal karena ia tidak mau
mengerti.

"Aku tidak mau tau, Sweetheart. Mulai besok, kamu pindah di ruangan
ini," ujarnya bersikukuh.

127
Mr. Rescuer

"Aku tidak nyaman!"

Dante mendekat hingga hanya berjarak sejengkal. Nafasku tercekat. Ini


tidak boleh. Kami masih di kantor. Lagipula, Dante akan menganggapku
aneh jika aku melakukan hal-hal yang kini berputar-putar di otakku.

"Dan-Dante? Kamu mau apa?" aku gugup ketika Dante meraih


pinggangku dan merapatkan tubuhku padanya. Keinginan untuk
menyusurkan lenganku di dada liatnya dan merasakan bibir kenyalnya
kutahan mati-matian.

"Kamu mengabaikanku sejak siang, tapi bersikap manis pada Gustav.


Ada apa?" gerutunya menggumam, mendekatkan wajahnya. Nafasnya
menyapu hangat wajahku.

"A-aku tidak mengabaikanmu," dengan terbata aku berusaha


mendorong dadanya. Namun percikan api dalam tubuhku semakin liar.

"Sepulang dari bertemu klien, kamu menghindariku. Tidak mau


melihatku. Ada apa?"

Wajah Dante hanya tinggal sesenti. Sedikit saja bergerak maju, bibir
kami sudah saling menempel. Jantungku berdegup makin menggila.
Hasrat untuk menyentuhnya makin membelenggu.

"A-aku tidak-"

Akhirnya kurasakan bibir kenyal Dante. Tubuh Dante menegang, lalu


perlahan mengendur dan kedua lengannya merengkuhku makin erat.
Bibirnya bergerak seirama bibirku. Astaga! Apakah aku yang mulai
menciumnya? Ah, aku tidak peduli. Ini yang ingin kulakukan sejak tadi.

Tanganku yang semula di dadanya, kini merayap membuka kancing


kemejanya satu persatu, menyusup meraba kulit dadanya, merasai
liatnya otot Dante. Desiran itu berubah membakarku.

128
Mr. Rescuer

"Dan-teee...." lenguhku ketika ia mencecap sisi leherku dan menghisap


kuat di sana.

"Kamu membuatku merasa panas, Calista sayang," desisnya melepaskan


jas dan kemejanya.

Tubuh shirtless Dante membuatku makin bergairah.

Lenganku menyusuri lengannya, ke atas dan melingkari lehernya,


bergelayut rapat dengan bibirku mengecupi dadanya, menjilat
putingnya. Sungguh, aku tidak tau mengapa aku bisa setidak tau malu
seperti ini. Agresif dan liar.

Dante mendorong, menghimpitku antara dirinya dan meja kerja. Ia


menaikkan rok-ku hingga ke pinggang, menyusupkan jemarinya
menggoda area sensitifku yang sudah basah karena menginginkannya.
Ia mengangkatku hingga bergelayut dengan kaki melingkari pinggulnya.

Suara zipper diturunkan membuat dadaku bergemuruh. Dante


menyelipkan miliknya yang keras menerobosku melalui
pinggiran panties yang kukenakan.

Aku memekik terengah, merasa begitu penuh. Hentakan demi hentakan


yang Dante buat, benar-benar membuatku terbakar. Lenguhanku
semakin membuat Dante mempercepat gerakannya.

---o0o---

Aku dan Dante masih terengah, mengatur nafas yang menderu dan
memburu. Setelah pergulatan panas di ruangan Dante, kami berakhir
dengan posisi aku terlentang di atas meja dengan Dante tertelungkup di
atasku.

129
Mr. Rescuer

"Jadi, kenapa kamu mengabaikanku, Sayang?"

"Aku tidak mengabaikanmu."

"Kamu bisa tertawa bersama Gustav, tapi denganku, kamu diam sejak
siang tadi," Dante memprotes.

"Hanya sedang lelah," mood-ku kembali turun mengingat interaksi


Dante dengan Miss Shanon siang tadi.

"Jangan bohong. Aku tau saat kamu merasa tidak nyaman. Jadi jangan
katakan hanya lelah," Dante mengecup rahangku.

"Aku hanya sedang lelah, Dante. Mungkin itu sebabnya aku lebih banyak
diam sepanjang perjalanan," sahutku mengelak.

"Tapi saat bersama Gustav-"

CUP!

"Jangan katakan kamu cemburu pada Gustav," aku merona malu setelah
dengan berani mengecup Dante, menghentikannya mencecarku.

Dante tertegun beberapa saat, lalu ia tersenyum menatapku takjub. Ia


menciumku lembut, dan melepskannya dengan binar senang di mata
abu-abunya.

"Tentu saja aku cemburu, Sweetheart. Kamu istriku. Aku mencintaimu.


Apa itu salah?" tanyanya merajuk.

Aku mendorong tubuhnya perlahan, tersipu dengan keadaan kami saat


ini. Pakaianku sangat berantakan, dengan kancing terbuka dan rok yang
tersingkap hingga ke pinggang. Sementara Dante pun tidak kalah
berantakan. Jas dan kemejanya tergeletak mengenaskan di lantai,
retsleting celana terbuka.

130
Mr. Rescuer

Dante bergerak malas.

Aku melirik jam di pergelangan tanganku, sambil melorot turun dari


meja Dante.

"Astaga! Sudah malam. Apakah Gustav-"

"Kamu terlalu sering menyebut nama Gustav sehari ini, Sayang" gerutu
Dante membetulkan celananya dan menyambar kemeja serta jasnya.

"Kukira perkataan Deanne tentangmu hanya bercanda, tapi sepertinya


aku harus percaya padanya," aku melirik Dante sambil membenahi
pakaianku dan memasuki kamar mandi yang terletak di dalam kamar
tempatnya beristirahat yang berada di belakang meja kerjanya. Kamar
yang tidak semua orang tau karena pintunya bersamar dengan bentuk
rak buku dan beberapa pernik pajangan.

Kubersihkan diriku, merapikan pakaianku sebisa mungkin karena


pakaianku kini sudah sangat kusut. Sebaiknya aku mengganti pakaianku
sebelum pulang. Dan untungnya aku menyediakan beberapa pakaianku
dan Dante untuk berjaga-jaga jika kami harus menghadiri pertemuan
penting tanpa bisa pulang terlebih dulu.

Jika kupikir-pikir, aku harus bersyukur, Dante membawaku pindah ke


perusahaan ini. Bayangkan saja jika kami bercinta di ruang kerjanya
yang di perusahaan penerbitan. Aku pasti akan malu keluar ruangan
dengan baju kusut begini. Karena di sana ruang kerja Dante tidak
selengkap dan semewah di sini. Tidak ada kamar khusus di balik ruang
kerja Dante di sana.

Aku sedang mengganti pakaian ketika Dante masuk dan memberikan


secarik memo padaku.

"Ini apa?"

131
Mr. Rescuer

"Kutemukan menempel di pintu. Pasti Gustav pelakunya," ujar Dante


menerima kemeja yan kuberikan, lalu masuk ke kamar mandi.

Aku menatap memo itu dengan bingung, lalu mulai membaca tulisan
rapi di sana.

'Dear Mr. and Mrs. Javonne,

Saya sudah mengetuk pintu hingga tangan saya hampir patah, dan saya
tidak bisa menunggu lebih lama. Saya pamit pulang dulu. Selamat
bersenang-senang.

-G

Wajahku memerah membaca tulisan tangan Gustav. Astaga! Apakah aku


dan Dante terlalu menggebu bercinta hingga kami tidak mendengar
ketukan Gustav?

“Astaga! Aku malu!” pekikku dengan pipi terasa panas.

“Abaikan saja. Anggap dia manekin atau radio rusak jika ia mengoceh
besok,” kata Dante melongok dari kamar mandi sebelum ia masuk lagi.

Cepat-cepat aku menganti pakaianku dan merapikan riasan wajahku lalu


keluar dari kamar, memutuskan untuk menunggu Dante di ruang
kerjanya.

Ternyata Dante sudah membersihkan dan merapikan kembali


ruangannya dari kekacauan yang kami buat sebelumnya.

---o0o---

132
Mr. Rescuer

BAB 11

Aku baru saja melangkah ke mejaku dan mendapati cengiran Gustav.


Aku memang datang terlambat karena sedikit ada masalah dengan
lambungku. Dan Dante yang awalnya menyuruhku untuk beristirahat
saja di rumah harus mengalah dengan kekeras kepalaanku yang ingin
tetap berangkat kerja meskipun terlambat.

"Apa Mr. Boss ada tamu?" tanyaku melirik pintu ruangan Dante yang
tertutup.

Gustav mengangguk, lalu sedikit menarik kursinya mendekat dan


mencondongkan badannya.

"Sebaiknya kau segera masuk. Kau tau siapa tamunya? Si sexy yang
cantik, Miss Shanon," bisiknya memprovokasiku.

"Mungkin melanjutkan pembicaraan kemarin," komentarku mengedik.


Aku tidak mau berburuk sangka pada mereka bukan? Siapa tau Miss
Shanon memang sedang membicarakan bisnis dengan Dante.

"Whoaaa... kau tidak takut suami kerenmu itu digoda Miss Shanon?"

Aku membuka file di mejaku, pura-pura mengabaikan ucapan Gustav.


Aku mulai terpengaruh dan tidak tenang.

"Kau tau pakaian Miss Shanon? Fiuuuu.... Belahan dadanya terlihat


menggiurkan. Pahanya putih mulus, menantang untuk dibelai.
Lengannya halus. Lehernya jenjang. Punggungnya... wooow.... seperti
pualam," Gustav makin menjadi.

133
Mr. Rescuer

Aku mendengus dan berdiri, meraih map yang bertumpuk di depanku


tanpa membuka isinya dan melenggang masuk tanpa mengetuk pintu
ruangan Dante.

Mataku melotot melihat pemandangan di dalam. Miss Shanon dengan


pakaian minim, tengah membungkuk di dekat Dante, tampak menunjuk
ke berkas terbuka di hadapan Dante. Gaun bagian bawahnya tertarik
nyaris memperlihatkan celana dalamnya, itupun jika ia memakai celana
dalam. Dadanya yang montok seolah disodorkan pada Dante.

"Ehem... Maaf mengganggu, Mr. Dante," usikku membuat perempuan


itu menegakkan punggungnya dan menoleh padaku dengan pandangan
tidak suka.

"Calista?" Dante menghembuskan nafas lega.

Aku tersenyum canggung dan berjalan mendekat.

"Ada apa?" tanya Dante memberiku isyarat untuk mendekat dengan


sorot matanya.

"Ada laporan yang memerlukan tanda tangan anda segera," kuletakkan


setumpuk map yang kubawa di mejanya.

Dante meraih dan membuka map teratas, dahinya berkerut, ia


memandangku sejenak, lalu menutup map itu kembali.

"Sepertinya kita harus mendiskusikan laporan ini terlebih dahulu,


Calista," Dante menggerakkan tangannya, menyuruhku duduk.

Kulihat Miss Shanon berdiri di dekat Dante, memandangku sinis.

"Maaf Miss Bradley, mungkin anda bisa memperbaiki proposal anda dan
jika sudah selesai, anda bisa menghubungi Gustav untuk mengambil
dokumen ke kantor anda," ujar Dante sambil berdiri, dengan sopan

134
Mr. Rescuer

mempersilakan tamunya yang sexy menurut Gustav itu keluar dari


ruangannya.

Miss Shanon mengangguk dengan senyum dipaksakan, lalu mendengus


sebal melirikku. Ia keluar dengan membawa proposalnya yang
diserahkan oleh Dante.

Setelah tamunya keluar dan pintu kembali tertutup, Dante


menyandarkan pinggulnya ke meja, bersedekap memandangku.

"Jadi, mana yang harus aku tanda tangani, Calista? Dokumen yang
kamu bawa itu sudah kuperiksa dan kutanda tangani. Apakah ada yang
kurang? Atau kamu tidak memeriksanya terlebih dulu?" Dante
mengambil salah satu dari dokumen yang kubawa dan membukanya,
menunjukkan padaku.

Wajahku memanas. Benar kata Dante, dokumen yang kubawa itu sudah
selesai ia tanda tangani tanpa terlewat. Ah, bodohnya aku!

---o0o---

"Jadi?" sudut bibir Dante terangkat.

Aku sudah seperti tikus kecil terperangkap di antara kursi dan lengan
kokoh Dante menutup aksesku untuk berlari keluar karena malu.

"Apa?" aku pura-pura tidak tau apa maksudnya.

"Apa aku boleh mengartikan bahwa kamu cemburu?" Dante menaikkan


alisnya.

"Tidak," sahutku cemberut.

135
Mr. Rescuer

"Benarkah?" Dante menurunkan sedikit wajahnya.

"Tentu saja," aku semakin menempelkan diri, mencoba lebih tenggelam


ke kursi meskipun aku sudah tidak bisa mundur menjauh lagi.

"Lalu kenapa kamu memberikan dokumen itu padaku?"

"A-aku salah ambil. Ya, salah ambil," kudorong dada Dante, namun ia
tetap bergeming.

"Salah ambil? Dengan kata lain, kamu tidak memeriksanya terlebih


dulu?" Dante menyipitkan matanya.

Aku mengangguk pelan sambil menelan ludah. Apakah Dante akan


menilaiku ceroboh?

"Bukan kebiasaanmu, Calista," mata Dante bersorot geli.

"Gu-Gustav memberitahuku kalau kamu berduaan dengan Miss sexy


kurang bahan itu. Ia memanasiku dengan mengatakan
bagaimana sexy dan mulusnya wanita itu. Dan-" astaga! Kenapa aku
mengatakan itu? Bukankah itu berarti aku mengakui bahwa aku
terpengaruh dengan pancingan Gustav yang memprovokasiku?

"Dan?"

Kudorong lagi tubuh tinggi besar yang mengungkungku. Kali ini Dante
menegakan tubuhnya dan bersedekap, menyandarkan pinggulnya
kembali ke meja. Matanya yang membiaskan rasa geli makin kentara
terlihat. Sudut bibirnya berkedut, membuatku menggigit bibir
menginginkannya.

"Tidak ada 'dan'. A-aku akan lanjut bekerja," aku terlalu cepat berdiri,
hingga limbung dan nyaris terduduk lagi jika Dante tidak menahan
dengan meraih pinggangku.

136
Mr. Rescuer

"Jangan terburu-buru. Apa kamu masih sakit?" raut wajahnya berubah


khawatir.

Aku menggeleng.

"Sudah kubilang untuk beristirahat saja di rumah. Kenapa tetap masuk


kerja?" gerutu Dante melepaskanku perlahan setelah memastikan aku
baik-baik saja.

"Aku sudah tidak apa-apa," bantahku.

"Benar?"

Aku mengangguk meyakinkannya.

"Berarti kita bisa mengulang seperti kemarin?" Dante menaikkan sebelah


alisnya.

"Kemarin? Astaga!" aku menutup bibirku. Aku malu teringat bagaimana


aku menyerangnya terlebih dulu hingga kami bercinta di atas meja
kerjanya.

"Bagaimana?"

"Uh... ti-dak. Uhmm..." aku menghindari tatapannya. Wajahku rasanya


sudah sangat panas.

"Bohong."

"Ti-dak," kugigit bibir bawahku sedikit keras. Aku gugup. Nalar dan
hatiku bertolak belakang.

"Kenapa tidak jujur saja?"

"Kamu sendiri tidak jujur-ups," aku menutup mulutku.

137
Mr. Rescuer

Dante mengerutkan kening.

"Aku tidak jujur padamu?"

Aku terdiam, merutuki kelancanganku yang masih terngiang ucapan


Gustav tentang Miss Sexy kurang bahan itu sudah sejak lama menyukai
Dante. Dan aku tidak suka mendengar kenyataan itu dan melihat gadis
itu masih berupaya memikat Dante meskipun tau bahwa Dante sudah
beristri.

---o0o---

Aku baru saja keluar dari kamar mandi. Dante buru-buru meletakkan
Ipad-nya dan memandangku. Kucoba mengabaikannya. Ia terus
medesakku untuk mengatakan hal tidak jujur apa yang aku tuduhkan
padanya hingga kami kembali ke rumah.

Tentu saja aku tidak mau mengatakannya. Memalukan! Membuatku


seperti seorang istri pencemburu yang posesif pada suaminya. Aku
masih gamang dengan perasaanku. Mungkin aku sudah jatuh cinta
padanya dan melupakan perasanku pada Oris. Tetapi apakah secepat
itu?

Tatapan Dante membuatku salah tingkah. Dengan gugup aku berdiri


dan melangkah keluar kamar menuju pantry. Mencoba menenangkan
diri dengan membuat secangkir jasmine tea hangat. Menyesapnya
perlahan. Namun tetap saja aku gugup. Bagaimana tidak? Pasalnya
Dante terus mengekoriku. Ini tidak bisa dibiarkan. Ia tidak akan
membiarkanku tenang sebelum aku menceritakan sebab dan muasal
tuduhanku padanya.

Mataku bertemu dengannya.

138
Mr. Rescuer

Cukup. Aku tidak tahan lagi.

"Mau sampai kapan kamu mengekoriku seperti ini?" tanyaku menyerah.

"Sampai kamu mengatakan ketidak jujuran apa yang aku lakukan


padamu," sahutnya berjalan ke belakangku dan melingkarkan
lengannya, menangkupkan kedua telapak tangannya di perutku.

"Katakan padaku, Sweetheart. Seingatku, aku tidak pernah


membohongimu," bisiknya mengeratkan pelukan.

"Mmm... Miss Shanon... menyukaimu sejak lama...." akhirnya aku


mengucapkan kalimat itu.

Dante mengernyitkan dahi.

"Lalu, apa masalahnya?"

Aku menunduk, gelisah.

"Dia... menyukaimu. Mencintaimu. Uhm... apakah...apakah kamu dan


dia-"

"Tidak. Aku dan Miss Bradley tidak pernah menjalin hubungan, jika itu
yang kamu ingin tau," potong Dante cepat.

"Bukan itu. Aku... uhm..." aku bingung harus mengatakan apa. Tapi
setiap mereka berdua terlihat dekat, aku merasakan ada sesuatu yang
asing, yang tidak kusuka dalam hatiku.

"Lalu apa?" tanya Dante membalikkanku hingga kami berhadapan. Ia


membungkukkan badannya, menyetarakan wajahnya sejajar denganku,

"Apakah... kalian akan menikah?" tiba-tiba saja kurasakan perutku


bergolak. Aku menahannya sekuatku.

139
Mr. Rescuer

"Siapa?" Dante memandangku bingung.

"Kamu. Dan Miss Shanon," kupejamkan mataku, mencoba meredam


mual yang mendera.

"Hei? Kenapa kamu berpikir aku akan menikahinya? Bukankah kita


sudah menikah?" kernyitan di dahi Dante makin jelas.

"K-kata Gustav, ia menyukaimu sejak kamu bekerja sama dengan


ayahnya dua tahun lalu," aku menelan ludah.

Dante terdiam memandangku. Lalu matanya berbinar dengan bibir


sedikit tertarik ke atas. Ada kedutan samar di sudut-sudutnya.

"Apakah aku harus menikahi semua wanita yang menyukaiku? Aku tidak
mungkin menikahi mereka semua, Calista. Lagipula, aku sangat
mencintai istriku. Sebaliknya, aku yang khawatir kamu akan
meninggalkanku," Dante mengecup pucuk hidungku, lalu menyentuhkan
hidungnya ke hidungku.

Jantungku berdetak kencang. Kupejamkan mataku.

"Aku sudah berjanji untuk mengabdi padamu seumur hidupku," sahutku


lirih.

"Aku berharap tidak terlalu lama untuk bisa membuatmu jatuh cinta
padaku," ujar Dante pelan.

Kubuka mataku perlahan, sedikit menjauhkan wajahku. Memandang


mata bersorot sendu di depanku.

"Aku sudah menyerahkan diriku seutuhnya padamu, Dante. Apakah itu


tidak membuatmu tenang?"

"Akan lebih menenangkan jika kamu juga mencintaiku, Sweetheart,"

140
Mr. Rescuer

Kuselami sinar matanya yang meneduhkan. Apakah aku sudah benar


benar mencintai Dante?

"Kupikir.... a-aku... mencintaimu, Dante," ucapku gugup.

Dante terdiam sejenak, menghela nafas, menegakkan punggungnya,


lalu menepuk kepalaku pelan.

"Jangan dipaksakan. Aku akan sabar menunggu rasa itu hadir di


hatimu," katanya mengulas senyum maklum.

---o0o---

Interaksi kedua orang yang berjarak empat meter di depanku itu benar
benar menyakitkan mata dan hati. Yang wanita, dengan segala
kemampuan dan aset yang ia punya, berusaha menarik perhatian sang
lelaki. Bahasa tubuhnya menunjukkan bahwa ia menjadikan sang lelaki
target utama untuk menjadi pasangannya, tidak peduli status sang lelaki
adalah suami orang.

Sang lelaki, fokus dengan file terbuka di hadapannya.

Ya, kedua orang itu adalah Miss Shanon dan Dante. Sejak mejaku
dipindahkan menjadi satu ruang dengan Dante, sudah tiga kali ini aku
melihat pemandangan seperti itu. Dan sepertinya aku belum juga
terbiasa. Rasanya masih sama. Menyakitkn mata dan hati. Semakin lama
bukannya semakin terbiasa, justru semakin sakit. Dan setiap kali aku
merasakan hatiku sakit, lambungku ikut berulah. Rasanya menjadi mual
dan ingin muntah.

Kali ini aku tidak tahan lagi. Dengan terburu-buru aku bangkit dan
berlari keluar, menuju toilet yang terletak di ujung lantai dua puluh lima

141
Mr. Rescuer

ini. Tepatnya berseberangan sekitar dua puluh lima meter dari meja
Gustav.

Hampir lima belas menit aku di toilet, mengeluarkan isi perutku hingga
tenggorokanku terasa sakit, akhirnya aku keluar sambil menyeka peluh
dan menutup mulutku dengan tissue.

Aku berhenti ketika melihat wajah cemas Dante yang berdiri di depan
pintu luar toilet.

"Kamu sakit?" tanyanya khawatir.

"Kamu kenapa di sini?" aku balik bertanya.

"Aku melihatmu berlari keluar. Itu membuatku khawatir. Apalagi


kudengar kamu muntah. Sebaiknya kuantar kamu ke dokter, Calista,"
Dante menyentuhkan punggung tangannya ke dahi, lalu pipiku.

"Aku tidak apa-apa. Kenapa Miss Shanon ditinggalkan sendiri?" aku


tersadar, bagaimana dengan Miss Shanon jika Dante berada di sini
bersamaku?

"Dia pulang," sahut Dante tak acuh, lalu wajahnya kembali menunjukkan
kecemasan.

"Pulang?"

"Benar kamu tidak apa-apa?" tanya Dante mengabaikan keherananku


dan melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Aku mengulas senyum dan menggeleng. Aneh. Kenapa mualku tiba-tiba


hilang?

"Aku sudah tidak mual lagi," jawabku masuk dalam rangkuman


hangatnya, menghirup aroma maskulin tubuhnya yang khas.

142
Mr. Rescuer

"Sungguh?"

Aku menngangguk meyakinknnya.

"Beristirahat saja di kamar. Biar Gustav yang meng-handle semua


pekerjaanmu," Dante membawaku masuk kembali dalam ruangannya.

"Aku tidak enak dengan Gustav. Dia pasti kerepotan," kulihat tidak ada
Gustav di mejanya. Kemana dia?

"Tentu dia kerepotan. Tapi tidak apa-apa. Kali ini dia pasti senang
dengan kerepotannya," Dante terkekeh kecil.

Aku mengernyit tidak mengerti maksud Dante, tapi Dante hanya fokus
membawaku ke kamar di balik ruangannya. Dengan hati-hati ia
membaringkanku di tempat tidur, menyelimutiku dan mengecup
keningku.

"Dante, aku tidak apa-apa," protesku. Ia menahanku untuk tetap


berbaring.

"Istirahat. Aku akan memesan makanan untukmu. Perutmu pasti kosong


sekarang," katanya lalu keluar tanpa mau mendengar penolakanku.

---o0o---

Aku menggenggam pensil di tanganku dengan erat. Kulirik wajah Dante


yang terlihat sedikit menegang.

Perutku bergolak lagi. Sebisa mungkin, kutahan rasa mual yang mulai
menyerangku. Aku tidak mau membuat Dante cemas dan mengabaikan
peekerjaannya. Saat ini ia tengah menerima telepon dari Miss Shanon.

143
Mr. Rescuer

Sepertinya wanita itu berusaha membujuk Dante agar proposalnya


diterima.

Perlahan aku bangkit dari dudukku, melangkah keluar dengan membawa


berkas yang akan kuserahkan pada Gustav. Aku berharap Dante tidak
curiga.

Keringat mulai membasahi telapak tangan dan keningku. Mual ini terasa
menyiksa.

Kuletakkan berkas di meja Gustav dan tanpa berkata apapun, aku


berjalan cepat masuk ke toilet, mengabaikan tatapan heran laki-laki ittu.

Aku ini kenapa sebenarnya? Kenapa akhir-akhir ini aku sering merasa
mual? Dan anehnya, mual itu muncul jika melihat Miss Shanon ataupun
mendengar apapun tentang wanita itu.

Hampir sepuluh menit, akhirnya aku mendesah lega saat kurasakan aksi
lambungku perlahan mulai mereda. Setelah berkumur dan merapikan
diriku yang sedikit berantakan, aku segera keluar dari toilet.

Mataku membelalak melihat Dante berdiri di depan ruangannya dan


tergesa menghampiriku dengan wajah cemas.

“Kamu kenapa? Kata Gustav kamu buru-buru ke toilet. Sakit lagi?


Astaga, wajahmu pucat,” Dante meraihku, membawaku kembali ke
ruangannya. Kuabaikan tatapan Gustav yang menyipit penuh selidik.

Aku menggeleng. Tubuhku sedikit lemas.

“Tidur saja,” ujar Dante, lalu meninggalkanku sendiri di kamarnya.

Ia masuk lagi setelah sekitar lima belas menit membiarkanku hanya


berguling-guling di kasur tanpa tau harus berbuat apa. Di belakangnya
nampak seorang wanita kira-kira berusia sepantaran dengan Dante.
Wanita itu mengenakan jas berwarna putih.

144
Mr. Rescuer

Wanita tersebut menghampiriku dan membuka tas hitamnya,


mengeluarkan stetoskop dan mulai memeriksaku dengan cermat. Aku
hanya diam saja. Percuma mengatakan bahwa aku baik-baik saja
sementara Dante memergokiku muntah dan wajah pucat. Tapi
sebenarnya aku tidak merasakan sakit pada tubuhku. Hanya mual di
saat-saat tertentu.

Dokter wanita itu membereskan peralatannya setelah memeriksaku dan


tersenyum.

“Tidak apa-apa,” ia menepuk lenganku ringan, lalu menoleh pada Dante,


“Sebaiknya kau bawa istrimu ke dokter kandungan.”

---o0o---

145
Mr. Rescuer

BAB 12

Kuhirup aroma maskulin suamiku. Menenangkan.

Setelah memeriksakan diri dan aku dinyatakan positif hamil, Dante


semakin posesif dan protektif. Ia bahkan membatasi ruang gerakku.
Apalagi setelah menyadari bahwa aku selalu merasa mual jika melihat
Miss Shanon. Jangankan melihat, mendengar Dante menyebutkan
namanya atau yang berhubungan dengan wanita itu saja, aku langsung
merasa mual.

Pernah aku meminta Dante untuk kembali mempekerjakanku di


penerbitan agar aku tidak membuatnya khawatir dan menghambat kerja
samanya dengan perusahaan milik Miss Shanon, tetapi Dante menolak
keras. Ia bersikukuh menempatkanku dalam ruang kerjanya agar ia bisa
memantau kondisiku.

Sejak mengetahui aku hamil dan menyadari kondisi anehku jika


berhubungan dengan Miss Shanon, Dante selalu menolak kunjungan
wanita itu dan memerintahkan Gustav untuk menggantikannya bertemu
dengan wanita itu.

Aku mengeratkan pelukanku. Rasanya nyaman. Mungkin bayi yang


kukandung ini sangat menyayangi ayahnya sehingga ia selalu ingin
berada dekat dengan sang ayah. Bagaimana tidak, semakin hari aku

146
Mr. Rescuer

semakin tidak bisa jauh dari Dante. Tidak bisa tidur jika tidak dalam
pelukan Dante, nafsu makanku lenyap jika tidak bersama Dante.

"Jadi, mau kan?"

Aku mengangkat wajahku, memandang wajah tampan dan maskulin


milik suamiku.

"Katakan kemana dulu."

"Kalau kukatakan, tidak akan surprise, Sweetheart," Dante menjentik


puncak hidungku.

"Tapi aku mau jalan-jalan ke Mall," rengekku. Hufftt... satu lagi, aku
menjadi manja pada Dante.

"Nanti kamu kecapekan," tolak Dante.

Aku cemberut, melepaskan diri dari pelukan Dante.

"Hei, jangan marah," Dante berusaha menarikku kembali, tetapi aku


tetap bergeser menjauh.

Libur weekend seperti ini biasanya kubuat bersantai di rumah. Tetapi


hari ini aku ingin berjalan-jalan ditemani Dante.

"Oke oke, jangan marah. Kita ke mall. Kamu mau belanja apa?"

Yesss! Akhirnya Dante mengalah.

147
Mr. Rescuer

"Belum tau. Saat ini aku cuma ingin jalan-jalan," sahutku senang.

"Baiklah. Tapi jangan sampai kelelahan, oke?"

Aku mengangguk dengan antusias, menghambur memeluknya dan


mengecup bibirnya.

Ketika aku hendak melepaskan pelukanku, Dante menahan punggung


dan tengkukku. Ia memiringkan kepalanya dan menciumku lebih dalam.

---o0o---

Westfield Stratford City sangat ramai. Dante berjalan sambil


merangkulku dengan protektif. Yang membuat aku sedikit kesal adalah
empat bodyguard yang mengekori kami. Namun itu syarat dari Dante
jika aku bersikeras berjalan-jalan di mall yang ramai pengunjung seperti
ini.

Dante membawaku ke sebuah toko pakaian. Aku ngeri menatap label


harga yang terpasang di setiap baju. Dan jadilah setiap kali Dante
menunjukkan pakaian padaku, kujawab dengan gelengan keras.

Setelah beberapa kali menawarkan pilihannya dan selalu kubalas dengan


gelengan, Dante mendesah pasrah dan membawaku ke foodcourt.

148
Mr. Rescuer

"Mau makan apa?" tanyanya mengedarkan pandangannya, mencari


tempat yang kosong.

"Aku mau itu," aku menunjuk ke salah satu gerai.

"Baik, kita tunggu di sini," Dante mengatakan sesuatu pada salah


satu bodyguard yang ada di dekatnya.

"Dante, aku mau ikut ke sana," pintaku.

Dante menggeleng tegas.

"Tidak bisa Sweetheart. Terlalu berbahaya," katanya menolak


keinginanku.

"Tapi-"

"Tunggu di sini atau tidak sama sekali."

Dengan cemberut, aku duduk di kursi yang tersedia. Salah


satu bodyguard Dante dengan sigap sudah mencari tempat yang sedikit
lebih lapang.

Dante sedang memberikan instruksinya ketika sebuah suara menyapa,


hampir bersamaan dengan suara yang lain.

"Dante."

"Caca."

149
Mr. Rescuer

Aku dan Dante menoleh bersamaan. Dari arah yang berbeda, Miss
Shanon dan Oris tengah berdiri dan mulai mendekat ke arah kami.

Perutku mulai bergolak. Dante buru-buru mendekapku posesif.


Bagaimana bisa kami bertemu dengan mereka diwaktu yang
bersamaan?

Kuhirup dalam-dalam bau tubuh Dante yang bercampur parfumnya. Dan


ajaib, mualku perlahan berkurang dan hilang.

"Dante, aku ingin bicara denganmu," Miss Shanon melangkah lebih


dekat.

"Ca," bersamaan Oris memanggilku.

"Tidak ada yang bisa kita bicarakan saat ini. Maaf, istriku sedang hamil
muda. Kami harus pulang sekarang," putus Dante membuat
para bodyguard-nya bersiaga.

"Ca, aku hanya minta waktu sebentar," pinta Oris mengiba.

"Maaf, saya tidak mengijinkan istri saya berbicara berdua dengan anda,"
sambar Dante dengan nada tidak suka yang terdengar jelas.

"Saya hanya ingin minta maaf," sahut Oris. Ia menunduk sesaat


sebelum kembali memandangku dan selangkah lebih mendekat,

"Dante, aku juga ingin bicara denganmu," Miss Shanon mengentakkan


kaki dengan kesal. Tatapannya menyiratkan ketidak-senangan padaku.

150
Mr. Rescuer

Aku dan Dante saling memandang. Aku tau, Dante tidak suka dengan
keberadaan Oris yang tiba-tiba muncul di London. Dan aku juga tidak
suka dengan keberadaan Miss Shanon di sekitar Dante.

---o0o---

Aku mengerucutkan bibir, melirik ke meja sebelah berkali-kali. Dante


terlihat serius berbicara dengan Miss Shanon. Rasa mual yang tadi
perlahan menghilang, kini mulai muncul kembali.

Àkhirnya kami sepakat untuk menyelesaikan masalah apapun yang


menyangkut Miss Shanon dan Oris di sini, di foodcourt yang beresiko
didengar orang lain. Namun itu lebih baik daripada ditempat yang hanya
ada Dante dan Miss Shanon saja. Sebenarnya masalahku dan Oris sudah
selesai sejak terakhir keluarga Oris menemui Dante di rumah Papa
setelah pernikahanku dan Dante.

Dari sana aku menyadari bahwa perasaanku pada Oris perlahan mulai
terkikis.

Sentuhan di punggung tanganku membuatku berjingkat. Reflek kutarik


tanganku dan kutautkan di pangkuanku?

Oris menatapku sendu dan menarik nafas dalam-dalam.

"Aku benar-benar sudah kehilanganmu ya?"

151
Mr. Rescuer

Kuangkat kepalaku.

"Ada apa ke London?" kuabaikan pertanyaannya.

"Merindukanmu,"sahutnya memajukan tubuh, menumpukan sikunya di


atas meja.

"Oris, berhenti menyakiti dirimu sendiri," aku memandang Oris dengan


iba.

"Aku masih mencintaimu, Ca," suaranya pelan dan menggumam.

Aku melirik lagi ke meja dimana Dante dan Miss Shanon tengah bicara,
lalu menghela nafas memfokuskan diri pada Oris sambil menahan mual.
Astaga! Aku baru sadar kalau bayi dalam kandunganku menambah satu
orang lagi yang tidak disukainya!

"Oris, kita sudah mempunyai jalan hidup masing-masing. Kembalilah


pada Bia. Jangan sampai kau menyesal karena sudah menyia
nyiakannya. Dan bicara mengenai kehilangan, sebenarnya kita sudah
sama-sama kehilangan sejak perjodohanmu diumumkan," aku menarik
nafas lagi. Ingin rasanya menghambur memeluk Dante, menghirup
aroma tubuhnya yang membuat mualku hilang.

"Kau mencintainya, Ca?"

"Bukan urusanmu, Ris," aku menoleh, melihat interaksi Dante dan Miss
Shanon. Terlihat rahang Dante mengetat.

152
Mr. Rescuer

"Urusanku. Karena aku tidak bisa menghapus bayangan kesakitan di


wajahmu ketika mendengar perjodohan itu. Urusanku karena aku masih
belum bisa melupakanmu."

Kutundukkan wajahku, menarik nafas lebih dalam sambil memejamkan


mataku, lalu menghembuskannafas perlahan bersamaan dengan mataku
yang kubuka.

"Jika itu bisa membuatmu kembali pada Bia dan berhenti mengusikku,
maka jawabannya adalah iya. Dante adalah pria yang mudah dicintai.
Dan ya, aku sudah jatuh cinta padanya," kutatap mata Oris lurus-lurus.

Wajahnya menampakkan kekecewaan. Ia mengangguk.

"Akhirnya, aku tau sesakit apa hatimu, Ca. Maafkan kedua orang tuaku.
Maafkan juga aku yang tidak bisa tegas menentang mereka. Terima
kasih sudah memberiku kesempatan mengukir kenangan manis dan
menjadi bagian dari hidupmu di masa lalu. Aku akan pulang ke
Indonesia. Doakan, agar aku bisa mencintai Bia seperti kau bisa
mencintai suamimu," kutegarkan hatiku melihat wajah kalah Oris.

"Jaga Bia baik-baik, Ris. Sebenarnya, Bia lebih menderita daripada kita,"
kataku berdiri mengikuti Oris.

Ia mohon diri dan menghilang di antara orang-orang yang berlalu


lalang.

---o0o---

153
Mr. Rescuer

Aku melirik Dante yang terdiam menatap lurus ke depan. Air mukanya
datar, tak terbaca. Kami sedang dalam perjalanan pulang. Pertemuan
dengan Oris membuatku berharap, Oris bisa melupakanku dan mulai
menerima Bia.

Aku melirik Dante lagi. Ia masih di posisi yang sama. Perutku masih
bergejolak meskipun aku menahannya. Apakah ia dan Miss Shanon...

"Bertanya saja," kata Dante.

Kunaikkan alisku.

"Huh?"

"Dari pada kamu terus-menerus melirikku curiga," ujar Dante


membuatku menunduk malu karena ketahuan meliriknya diam-diam.

"Ih, siapa yang melirikmu?" elakku menyembunyikan rona merah


wajahku.

Dante menarikku hingga aku bersandar padanya, menahanku agar tidak


menjauh darinya.

"Kamu tau, aku menunggumu mencemburuiku," katanya sedikit


menggumam lalu mengecup puncak kepalaku.

Tanpa bisa kutahan, kusurukkan wajahku ke dada bidangnya,


menghirup aroma khasnya yang meluruhkan rasa mual yang kurasakan
sejak tadi. Lega rasanya.

154
Mr. Rescuer

"Aku sudah membereskan semuanya. Aku memberitahukan padanya


kalau aku terlampau cinta dan tidak bisa jika tidak denganmu," bisik
Dante menenangkanku.

Aku memeluknya.

"Aku juga sudah menegaskan pada Oris, bahwa aku sudah jatuh cinta
sejatuh-jatuhnya pada suamiku," ucapku pelan.

Hening.

Perlahan aku melepaskan pelukanku. Apakah aku salah berkata-kata?

"Kenapa?" tanyaku pelan.

"Apa... apakah yang kamu katakan itu sungguh, atau hanya untuk
menghindari Oris?"

Wajahku menghangat. Baru sadar bahwa hingga kini Dante belum


mengetahui bahwa aku sudah jatuh cinta padanya. Aku pernah
mengatakannya dan ia menganggap bahwa aku hanya terpaksa
mengatakan untuk menyenangkannya saja.

"Menurutmu?" aku menunduk, menyembunyikan raut jengah yang


sudah pasti menampakkan rona merah pada kedua pipiku.

Dante menarik nafas , mengangkat daguku, menatapku begitu dalam.

155
Mr. Rescuer

"Selama apapun kamu membutuhkan waktu, aku akan menunggumu


untuk jatuh cinta padaku," ujarnya pelan.

Nah, benar bukan? Ia masih tidak mempercayai ucapanku. Aku harus


memberitahunya kalau aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya dan
bukan pura-pura.

Kutarik nafas dalam-dalam, menepis rasa malu, aku beranjak menaiki


pangkuannya. Jari telunjukku meraba tombol di dekat Dante hingga
penyekat ruang belakang mobil ini naik dan membuat batas dengan
ruang kemudi..

Mata Dante membola sesaat, namun ia diam menunggu.

Kutatap matanya, membelai pipi dan rahangnya, lalu mencecahkan


kecupan pada bibirnya, melumat sepenuh perasaan yang kupunya
untuknya.

Dante memejamkan matanya ketika dengan nekat kususupkan lidahku,


mengait lidahnya, mengulum dengan jantung berdetak kencang.

Kulepaskan tautan bibirnya sesaat setelah ia membalas ciumanku.


Matanya terbuka dan berkabut.

"Aku jujur padamu, Dante. Aku sudah mencintaimu. Sungguh," bisikku


kembali mengecup bibirnya.

Dante menjauhkan kepalanya, memandang jauh ke dalam mataku. Lalu


ia memejamkan mata sejenak, merengkuhku dan menciumku dalam.
Dan tentu saja aku dengan segera menyambutnya. Perpaduan

156
Mr. Rescuer

kelembutan dan gairahnya menjadi candu tersendiri untukku. Tanpa


sadar, aku benar-benar sudah mencintainya begitu dalam.

---o0o---

Aku membuka mata dalam pelukan Dante. Begitu menenangkan dan


damai.

Masih kuingat bagaimana Dante menggendongku sesampainya kami di


rumah. Membawaku ke kamar, memperlakukanku dengan lembut dan
menyatukan diri denganku dalam helaan nafas seirama.

Satu kecupan mendarat di dahiku. Aku mendongak, mendapatinya


tengah tersenyum memandangku. Senyum meneduhkan yang
membuatku selalu merindu.

"Apa aku menyakitimu?" tanyanya pelan.

Aku menggeleng dan menggeliat.

"Ayo bangun. Aku punya kejutan untukmu," Dante menepuk lenganku


pelan.

Dengan enggan aku kembali menggeliat, menyusupkan wajahku ke


dadanya yang bidang.

157
Mr. Rescuer

"Atau aku saja yang pergi? Kamu istirahat saja di rumah," katanya
mengecup pelipisku.

"Mau kemana?" kulingkarkan tanganku, menahannya yang ingin


beranjak dari tempat tidur.

"Mandi. Mau ikut?"

"Tidak," wajahku menghangat, melepaskan pelukanku dan menutupi


wajahku dengan bantal. Kudengar Dante terkekeh menjauh. Aku baru
menyingkirkan bantal dari wajahku setelah mendengar pintu kamar
mandi ditutup.

Kututup wajahku dengan kedua tanganku. Sungguh, jatuh cinta pada


suami sendiri itu rasanya campur aduk. Aneka rasa. Manisnya lebih
menggigit. Dan aku tidak bisa mengendalikan rona di wajahku pada
setiap godaan yang Dante lakukan.

---o0o---

Kedatangan Mama, Papa dan Deanne menjadi surprise yang sukses dari
Dante untukku. Ia memberikan kebahagiaan bertubi-tubi padaku.

“Sweetheart, jangan lari!” seru Dante melihatku berlari menghambur


memeluk Mama dan Papa.

158
Mr. Rescuer

Akhirnya memang aku tetap di rumah, sementara Dante pergi dengan


alasan mengurus sesuatu. Dan ternyata ia menjemput Mama, Papa dan
Deanne di Bandara.

“Aku tidak lari, Dante,” sahutku bergelayut di lengan Papa yang


terkekeh mengusap kepalaku, persis seperti ketika aku masih kecil dulu.

“Jelas-jelas kamu lari, Sweetheart,” Dante menghembuskan nafas.


Sepertinya ia sedikit kesal melihatku membantah.

“Dengarkan suamimu, Sayang.” Kata Mama seraya mengikuti Deanne


menuju ke kamar yang rupanya sudah disiapkan Dante tanpa
sepengetahuanku.

“Jangan membuat suamimu khawatir, Calista,” Papa menasehatiku.

“Aku tidak membuatnya khawatir, Pa. Aku terlalu senang bertemu Mama
dan Papa,” bagaimanapun, aku ini anak tunggal. Bermanja pada Papa
adalah hal biasa yang kulakukan sejak kecil. Dan kurasa, saat ini aku
sedang merindukan masa kecilku dulu.

“Kamu sedang hamil, Calista. Wajar kalau Dante mengkhawatirkanmu,”


Papa mencubit pipiku gemas, lalu mengikuti Dante yang menunjukkan
kamar dimana Mama sudah lebih dulu masuk.

Dante keluar dari kamar Mama dan Papa, lalu menghampiriku.

“Jangan membuatku khawatir,” Ia memelukku, membelai rambutku


penuh sayang.

159
Mr. Rescuer

“Maaf. Aku terlalu senang,” kukalungkan lenganku ke lehernya, berjinjit


mengecup bibirnya.

“Ehem!”

Deanne terkikik saat Dante memelototinya, sementara aku


menyembunyikan wajahku di balik tubuh Dante.

“Ck, pengganggu,” gerutu Dante kesal.

“Kalian bahagia sekali ya?”

“Kenapa ikut kemari? Bukankah aku hanya memintamu mengurus tiket


dan visa Mama dan Papa saja?” tanya Dante datar, mengabaikan
ucapan Deanne yang sedikit meledek kakaknya.

“Aku juga merindukan kakak iparku. Berapa bulan lagi keponakanku


lahir?”

“Masih lama. Kenapa? Kamu mau menunggu sampai anakku lahir?”

“Kalau boleh,” ringis Deanne.

“Lalu persiapan hotel di sana siapa yang mengurus?”

“Ada Michael yang bisa mengurusnya,” sahut Deanne santai.

“Kenapa jadi Michael yang mengurus? Bukannya kamu yang mau


mengurusnya?” alis Dante bertaut.

160
Mr. Rescuer

“Kakakku yang tampan, Mama dan Papa di sini. Apa kamu tega
membiarkanku sendiri di sana?”

“Hotel itu akan segera diresmikan begitu semuanya siap. Tapi kamu
malah berada di sini?”

“Dante, aku bisa mati kesepian merindukan Mama, Papa dan kalian!”
seru Deanne mengerucutkan bibirnya.

Kulingkarkan tanganku ke lengan Dante, membuatnya menoleh padaku.

“Biarkan Deanne di sini selama ia mau. Aku jadi punya teman kalau dia
di sini,” bujukku agar ia membiarkan Deanne tinggal.

Dante menatapku sejenak sebelum kembali menoleh pada Deanne.

“Baiklah. Kamu bisa tinggal. Tapi di apartemenmu sendiri,” ujar Dante


mengalah.

“Tidak! Aku mau di sini! Mama dan Papa di sini, Dante!” rengek Deanne
membuatku tersenyum.

Deanne sangat menyayangi Mama dan Papa. Ia dan Dante sudah


kehilangan kasih sayang kedua orang tua mereka sejak Deanne kecil.
Apalagi Mama dan Papa juga menyayanginya.

“Dante, biarkan saja Deanne tinggal di sini,” bujukku lagi.

161
Mr. Rescuer

“Dia akan mengganggu kita, Sweetheart,” keluh Dante melirik kesal


pada Deanne.

“Aku janji tidak akan mengganggu jika kalian bermesraan,” cetus


Deanne cepat sambil mengangkat dua jarinya.

“Terima kasih, Sayang,” aku berjinjit mengecup pipinya, sebelum


kusembunyikan wajah meronaku ke punggungnya.

“Baiklah,” Dante menyerah sementara Deanne bersorak senang.

---o0o---

162
Mr. Rescuer

BAB 13

Dante menarik pinggangku, merapatkan ke tubuhnya. Aku mengangkat


wajahku menerima ciumannya. Menggerakkan bibirnya, berlama-lama
melumat hingga terdengar suara ketukan di pintu.

Dante melepaskan bibirku, menatapku dengan sorot mata beriak. Ada


percik gairah di sana. Aku kembali duduk dengan wajah merona,
sementara Dante berbalik ke mejanya.

"Masuk!"

Pintu terbuka, kepala Gustav menyembul terlebih dulu sebelum akhirnya


seluruh tubuhnya ikut masuk.

Ia memicing memandangku curiga, lalu tersenyum meledek.

"Ada apa?" dengus Dante ketika Gustav tidak segera menghampiri meja
Dante, tetapi justru melemparkan seringai menggodaku. Ia pasti
berasumsi bahwa aku dan Dante sedang make out ketika ia mengetuk
pintu dan mengganggu.

163
Mr. Rescuer

"Ehm... proposal Miss Shanon masih belum dikirim. Jika sampai nanti
sore proposal itu tidak masuk, apakah besok masih tetap meeting?"
tanya Gustav kini menghadap sepenuhnya pada Dante.

"Tentu. Jave Corporation tidak bergantung pada satu proposal bukan?"


Dante bersedekap memandang lurus pada sekretarisnya.

"Baik Mr. Dante. Saya akan segera kirimkan email undangannya, minus
Miss Shanon," Gustav mengangguk.

Aku berdiri dn bergegas masuk ke toilet di balik rak buku di belakang


Dante duduk. Rasa mual mendera, mengharuskanku menuntaskannya di
toilet.

Pijitan di tengkukku menyadarkanku bahwa Dante pasti cemas dan


menyusulku.

"Aku sudah memarahi Gustav. Tidak seharusnya ia menyebut nama


wanita itu di depanmu," bisiknya lembut.

Aku berkumur membersihkan mulutku, lalu berbalik menyusup ke dada


Dante, menghirup aromanya. Obat mujarab untuk mualku. Aneh?
Mungkin, tapi aku mengalaminya.

"Sudah baikan?"

Aku mengangguk. Enggan melepaskan pelukan Dante.

164
Mr. Rescuer

"Aku akan beristirahat di sini. Selesaikan pembicaraan kalian,"


kurebahkan diriku ke ranjang empuk Dante.

Dante mengecup keningku dan meninggalkanku setelah memastikan


aku baik-baik saja.

---o0o---

Kami tengah makan malam merayakan ulang tahun Mama di sebuah


resto yang telah dipesan Dante dua hari yang lalu. Mama terlihat begitu
bahagia. Kedekatan Deanne dengan Mama dan Papa membuatku
tersenyum lega. Setidaknya Mama dan Papa tidak lagi terlalu sedih
mengkhawatirkanku.

Sepertinya keberadaan Dante di sisiku dan Deanne bersama mereka


memberikan efek positif.

"Sekarang sudah tenang kan Kak? Sebentar lagi juga punya cucu," kata
Om Rega yang dibalas senyum oleh Papa.

"Sering main-main ke rumah, Calis. Itu rumahmu juga," pinta Tante


Martha.

165
Mr. Rescuer

"Iya. Sudah tiga hari kalian di sini, tapi tidak mampir ke rumah," ujar
Om Rega lagi.

"Biar besok aku saja yang mengantar Mama dan Papa ke rumah Om dan
Tante," seru Deanne bersemangat.

"Boleh. Kita menginap saja beberapa hari," angguk Mama dengan mata
berbinar senang. Papa juga ikut mengangguk mengiyakan.

Aku menendang kaki Dante pelan. Ia meletakkan garpu dan pisau steak
nya, lalu menoleh padaku.

"Ada apa?" tanyanya pelan.

"Aku boleh ikut mereka besok?" tanyaku berbisik, sementara semua


masih riuh mengobrol. Selalu begini jika Mama bertemu Tante Martha
dan Om Rega. Sementara Papa hanya tersenyum sambil sesekali
menimpali.

"Tidak."

"Dante, aku juga ingin ke rumah Om Rega," bisikku lagi merengek.

"Oke. Kamu boleh ikut mereka. Tapi buat surat resign dulu," sahut
Dante pelan lalu kembali menyuapkan potongan daging sapi itu ke
mulutnya.

Aku mengerucutkan bibir, meliriknya kesal.

166
Mr. Rescuer

"Besok bukan hari libur, Sweetheart. Aku harus bekerja," kata Dante
memberi pengertian padaku.

"Aku kan bisa cuti, Dante. Kamu tidak perlu khawatir. Ada Papa, Mama,
Om, Tante dan Deanne yang akan menjagaku," bujukku, berharap
Dante mengabulkan keinginanku.

"Aku tidak bisa mempercayakanmu pada Deanne," Dante meletakkan


alat makannya dan memandangku sepenuhnya.

Aku menatapnya, mengedip polos, berharap ia luluh dan mengijinkanku.

"Kita akan menyusul mereka saat weekend," putusnya membuatku


cemberut.

"Besok baru hari Rabu, Dante," aku merengek lagi.

"Take it or leave it," kata Dante meraih gelasnya dan meminum isinya.

Rasanya aku ingin menangis karena kesal. Tapi aku tidak mau mereka
tau.

"Aku ke toilet dulu," aku berdiri dan berjalan menuju toilet tanpa
menunggu jawaban dari mereka semua.

Aku menangis sambil mengusap-usap perutku. Belum terlihat besar,


hanya sedikit membuncit meskipun tidak nampak jika aku mengenakan
gaun dengan model 'A' begini. Setelah puas menangis, aku mulai

167
Mr. Rescuer

memperbaiki make up-ku. Sebenarnya tidak sampai tersedu heboh.


Hanya isakan kecil. Tapi cukup melegakan.

Aku terkejut ketika melihat Dante berdiri dengan gelisah sekeluarku dari
toilet. Ia menarik dan menatapku dari atas kepala sampai kaki.

"Kamu kenapa? Mual lagi?" tanyanya cemas.

Aku menggeleng.

"Hanya sedikit kesal," sahutku sambil menatap matanya.

"Maaf kalau aku membuatmu kesal. Tapi aku sangat mencintaimu,


Sweetheart. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan calon anak kita.
Aku janji akan mengantarmu ke rumah Mr. Rega weekend nanti. Please,
dengarkan aku," Dante merangkumku dalam pelukannya.

Aku mengangguk, mengerti akan kecemasannya.

"Iya. Tapi janji ya, weekend nanti kita ke rumah Om Rega," kataku
akhirnya.

Dante menjauhkan tubuhku dan menatapku dengan senyum senang.

"Tentu," angguknya lalu mengecup bibirku, membuatku tersipu.

---o0o---

168
Mr. Rescuer

Kuketuklan jariku ke atas meja, membentuk irama monoton. Aku bosan.


Tidak ada yang kukerjakan. Meja Dante kosong. Dante dan Gustav
sedang meeting. Sudah sejak jam sembilan pagi tadi.

Aku melirik jam tanganku. Sudah hampir jam satu dan mereka belum
kembali. Kupandangi makanan yang tergeletak di meja sofa. Makanan
itu sudah diantar satu jam yang lalu. Dan Dante sudah mengirimku
pesan untuk makan terlebih dulu. Tapi mana enak kalau makan
sendirian? Huh, sejak bersama Dante, aku terbiasa makan berdua
dengannya. Dan jika makan sendirian, rasanya ada yang kurang.

Pintu terbuka. Aku menoleh dan membelalak melihat siapa yang masuk.
Perutku bergolak. Astaga, kenapa Miss Shanon bisa masuk kemari?

"Miss Shanon? Selamat siang," aku berdiri buru-buru menyapanya demi


kesopanan.

"Mana Dante?"

"Mr. Dante sedang ada meeting penting, Miss."

"Kenapa dia tidak menunggu proposal dariku? Meninggalkanku begitu


saja? Apa ini gara-garamu?" ia menudingku.

Aku menggeleng, terdiam dalam keterkejutanku.

Miss Shanon berderap ke arahku. Wajahnya nampak merah karena


menahan amarah.

169
Mr. Rescuer

"Aku tidak tau apa yang Dante lihat darimu. Kau sama sekali tidak
pantas menjadi istri Dante! Atau... jangan-jangan apa yang kudengar
dari Sherine itu benar? Kau menjebak Dante!" Miss Shanon bersedekap,
menyipitkan mata, memandangku sinis.

Aku berusaha mati-matian menahan mual yang makin menggelegak.


Aku bergeser hendak ke toilet, namun Miss Shanon menghalangi
langkahku. Aku bergeser ke kiri, ia ikut. Aku ke kanan, ia ikut lagi.
Padahal rasanya aku sudah siap mengeluarkan isi perutku.

"Permisi Miss, saya harus ke kamar mandi," aku membekap mulutku,


mengambil minyak aroma terapi dan kuhirup, mencoba menghilangkan
mual.

"Perempuan sial! Kau pikir badanku bau, sampai kau harus membaui
minyak aroma terapi?" serunya sengit.

"Bu-bukan...."

Miss Shanon merampas minyak aroma terapi yang kuhirup, lalu


membantingnya hingga pecah. Aku panik. Perutku makin bergolak.

"Please Miss, saya harus ke toilet," aku membekap mulutku lagi. Aku
benar-benar tersiksa.

"Dasar perempuan tidak punya etika! Perempuan sepertimu ini yang


sering mengambil keuntungan dari pria-pria macam Dante. Aku harus
memberimu pelajaran!" tangan Miss Shanon terangkat bersiap hendak
menamparku.

170
Mr. Rescuer

Aku sudah tidak tahan lagi. Kudorong tubuhnya sekuat tenaga, lalu
berlari keluar dari ruangan Dante, berniat menuju toilet di ujung lorong.
Teriakan kesal Miss Shanon tidak kuhiraukan.

Dan...

BRUKK!!

---o0o---

Pelukan hangat dalam rangkuman aroma maskulin yang khas ini


menenangkanku. Terkadang aku bertanya-tanya, kenapa aku bisa
begitu menyukai aroma ini. Aroma menenangkan yang mengalahkan
minyak aroma terapi.

"Kamu baik-baik saja?"

Aku mendongak, memberikan senyum terbaikku.

"Aku baik-baik saja."

"Kenapa tidak meneleponku?"

171
Mr. Rescuer

"Tidak sempat. Keburu mual," aku menyusupkan wajahku dalam


pelukannya lagi.

Saat aku berlari keluar tadi, aku menubruk Dante yang hendak masuk
ke dalam ruanganya. Rupanya meeting-nya sudah selesai. Dan Gustav
buru-buru masuk begitu mendengar teriakan Miss Shanon. Yang aku tau
hanya Dante memelukku erat, membenamkan wajahku di dada
bidangnya dan menutup kedua telingaku, sementara Gustav membawa
Miss Shanon keluar dari ruangan Dante. Dan aku tidak tau kemana
Gustav membawa Miss Shanon setelahnya.

"Aku akan menyiagakan satu security di depan," Dante menggumam


jelas.

"Untuk apa?" aku semakin meringkuk.

"Agar tidak ada yang berani sembarangan masuk seperti tadi,"


jawabnya mengecup puncak kepalaku, mengusap-usap bahuku.

"Tadi bukan orang sembarangan, Dante. Miss Shanon ingin bertemu


denganmu," kulingkarkan lenganku memeluknya, menghirup dalam
dalam aromanya lagi.

"Sudahlah, jangan membicarakannya. Biar Gustav yang mengurusnya.


Kita pulang saja," putusnya.

Aku menjauhkan diri dan mengernyit memandangnya.

172
Mr. Rescuer

"Ada pertemuan dengan Mr. Valdo satu jam lagi," kataku


memperingatkan.

"Gustav sudah mengurusnya. Kamu mau ke rumah Mr. Rega kan? Kita
pulang dan bersiap-siap."

Aku mengerjap bingung. Bukankah ia menjanjikan weekend? Tapi ini...

"Jadi menyusul Mama dan Papa tidak?" tanya Dante mengulum senyum.

"Jadi. Tapi-"

"Ya sudah, tunggu apa lagi?"

"Kukira kita akan berangkat besok lusa."

"Sepertinya tidak apa-apa kita libur sehari," Dante tersenyum


mengerling.

Aku memekik, menghambur memeluknya senang.

"Terima kasih," bisikku mengeratkan pelukan.

Dante hanya tertawa.

---o0o---

173
Mr. Rescuer

"Jangan lari-"

Aku sudah menubruk Papa yang menyambutku di depan rumah Om


Rega. Aku meringis melihat Dante mengelus dada melihat tingkahku. Ia
terlalu mencemaskanku, padahal aku masih bisa berlari.

"Dasar anak nakal, suka sekali membuat suamimu jantungan," Papa


menjentikkan jarinya di dahiku, membuatku mengaduh pelan.

Dante membawa koperku masuk, membiarkanku bersama Papa.

Di dalam rumah, Mama dan Tante Martha menyambut Dante,


menggiringnya ke kamar dimana aku dulu tinggal. Sepertinya Dante
sudah menjadi idola Mama dan Tante Martha.

Papa membawaku duduk di sofa dan aku masih menempel memeluknya


ketika Dante keluar dari kamar dan bergabung dengan kami.

"Mr. Rega dan Deanne kemana, Pa?" tanya Dante menoleh kekanan dan
kiri, mencari dua sosok yang sedari kami datang, tidak nampak batang
hidungnya.

"Deanne ikut Om Rega membeli beberapa keperluan," sahut Papa.


Tangannya mengusap-usap kepalaku, membuatku nyaman dan makin
mendekap Papa.

Dante memandangku dengan tatapan aneh. Aku tidak bisa menebak.


Hanya saja rasanya seperti ada sepercik ketidak senangan. Hanya
sepercik, namun cukup membuatku tidak nyaman.

174
Mr. Rescuer

"Kenapa sudah menyusul kemari? Bukankah weeekend masih besok?"


tanya Tante Martha.

Dante hanya memandangku, tidak berkata apa-apa.

"Dante mengajakku libur dan datang lebih awal, Tante," aku yang
menjawab. Dante duduk dengan mata lurus memandangku.

"Hei, keponakanku sudah datang?"

Aku menoleh ke arah pintu dan segera berdiri menghambur pada Om


Rega yang muncul diikuti cengiran Deanne. Om Rega terkekeh
menyambutku, memeluk dan membawaku duduk di dekat Dante yang
refleks bergeser memberiku ruang, lalu menarikku dalam pelukannya.
Sedangkan Deanne langsung ke pantry sambil membawa kantung
belanjaan.

"Sudah lama?" tanya Om Rega.

"Baru saja," jawab Dante mengangguk kecil.

"Om mau bantu Mama dan Tante kamu. Kalian istirahat saja di kamar,"
Om Rega dan Papa berdiri setelah Dante mengangguk. Mereka
meninggalkan kami berdua.

"Ayo," Dante menarik tanganku.

Aku menggeleng.

175
Mr. Rescuer

Dante berdecak, lalu membungkuk, meletakkan tangannya di punggung


dan lekuk bawah lututku, lalu membopongku ke kamar.

"Dante! Turunkan, aku mau bantu mereka," protesku mencoba turun


dari gendongan Dante.

"Tidak!" ia membaringkanku di ranjang. Tempat tidur single yang dulu


kutempati, kini berubah menjadi ukuran besar.

"Dante, malu! Mereka semua sibuk menyiapkan makan siang, dan kita
enak-enakan di kamar?"

"Mereka maklum."

"Tapi-"

CUP!

Aku terdiam. Kecupan Dante yang tiba-tiba membuatku tersipu.

"Istriku menggemaskan," katanya lalu menunduk, menyentuhkan


bibirnya ke bibirku. Kali ini bukan hanya kecupan, melainkan ciuman
yang dalam dan panas.

Dante menjauhkan wajahnya, menatap bibirku yang terasa kebas dan


basah

176
Mr. Rescuer

"Jangan memeluk laki-laki lain," ujarnya menatapku lekat.

"Aku? Aku tidak memeluk laki-laki lain," kilahku dengan mata melebar.

"Kamu memeluk siapa saja hari ini?" tanyanya mendekatkan wajahnya


lagi.

"Hanya Papa dan Om Rega," jawabku bingung. Apa maksudnya?

"Aku cemburu."

"Ha?"

"Aku hanya ingin kamu nyaman dalam pelukanku saja,"

Astaga! Kenapa Dante jadi semanis ini? Eh? Dari dulu dia manis padaku.
Tapi ini.... aku bisa diabetes kalau dia terus seperti ini. Kulingkarkan
kedua lenganku di lehernya, menariknya lebih dekat.

"Mereka keluargaku, Dante," aku tertawa geli.

"Aku tau. Hanya- ah, sudahlah. Jangan sering-sering. Kamu bisa


memelukku kapanpun," Dante mengecup keningku.

Aku mengangguk mengiyakan agar ia lega. Lalu Dante menjauhkan


wajahnya. Tangannya mengusap perutku yang sedikit membuncit.

177
Mr. Rescuer

"Kalian baik-baik saja kan?"

"Tentu, Daddy,"sahutku menirukan suara anak kecil.

Dante tertawa, dan aku selalu takjub karenanya.

Dante bukanlah seorang yang periang, murah senyum dan pandai


berbasa basi demi menyenangkan orang lain. Dia juga bukan tipe laki
laki kurang ajar dan semaunya. Dante selalu bisa bersikap dewasa dan
bijak menempatkan diri dimana ia berada. Ia mampu menjaga rona
wajahnya tetap tenang meskipun sesungguhnya hatinya bertentangan.
Ia juga tidak pernah tertawa lepas.

Namun saat bersamaku, aku melihat sisi lain darinya. Dante mudah
tersenyum bahkan tertawa. Kadang ia juga bersikap manja, childish dan
over protektif. Dan satu lagi yang kurasa saat ini, dia begitu
menggemaskan dengan rasa cemburunya yang tanpa pandang bulu.
Bahkan dengan Papa dan Om Rega pun ia cemburu.

"Aku menyayangi kalian berdua," bisiknya menarikku dan


mendudukkanku ke pangkuannya.

"Hanya sayang?" godaku menaikkan kedua alisku.

"Semua ungkapan yang bisa mewakili perasaanku dengan kata sangat,"


jawabnya mengecup bibirku beberapa kali sebelum ia menggelamkanku
dalam ciuman panjang.

178
Mr. Rescuer

Hampir saja kami berbuat lebih jauh ketika ketukan Deanne di pintu
terdengar dan ia berteriak memberitahukan bahwa makan siang sudah
siap.

Aku dan Dante saling pandang, lalu tertawa geli.

--- T H E E N D ---

179
Mr. Rescuer

EPILOG

Sebuah tangan melingkari pinggangku. Aku terkekeh, meletakkan


pengaduk yang kupegang dan berbalik, hingga pelukan itu terlepas dan
aku menemukan mata kebiruan didepanku berbinar ceria

"Ada apa, Sayang?"

"Lapar," bisiknya.

Aku tersenyum mengusap pipinya lembut.

"Sebentar lagi matang."

"Masak apa?"

"Kesukaanmu, Sayang," aku tersenyum geli melihatnya.

"Spaghetti?"

180
Mr. Rescuer

Aku mengangguk.

"Saus bolognaise dengan banyak daging?"

Aku mengangguk lagi tanpa melepaskan senyum.

"Diangelo, jangan ganggu Mommy!"

Aku mendongak mendapati Dante bersedekap menyandarkan bahunya


di kusen pintu.

"Aku lapar Dad. Dan Mommy membuatkanku spaghetti," serunya girang.

"Sekarang selesaikan tugas rumahmu. Jangan ganggu Mommy-mu!"

Diangelo mengangguk patuh dan menoleh padaku.

"Panggil aku jika sudah selesai, Mom."

"Tentu Sayang," kukecup pipi gembilnya dan tertawa kecil melihatnya


berlari keluar pantry, lalu aku berbalik meneruskan merebus spaghetti.

Dante melingkarkan lengannya dan menangkup perutku yang


membuncit. Mengendus dan mengecup tengkukku.

181
Mr. Rescuer

"Jangan terlalu memanjakannya," kata Dante rendah.

"Kamu terlalu keras mendidiknya," balasku mematikan kompor dan


mulai meniriskan pasta.

"Diangelo laki-laki, Sweetheart. Dia harus tangguh dan bertanggung


jawab. Aku ingin ia menjadi laki-laki yang mandiri dan kuat," kini bibir
Dante menyusuri bahuku.

"Hmm... tidak ada alasan lain? Dia masih terlalu kecil, Dante,"
kuletakkan pasta spaghetti dan sausnya di meja saat Dante membalik
tubuhku menghadapnya.

"Ya, ada. Aku tidak suka dia sering-sering memelukmu," bisiknya


mengecup bibirku.

"Astaga! Elo anak kita, Dante," kupukul gemas lengannya.

"Tapi dia laki-laki. Kamu tau kan, aku selalu cemburu pada siapapun
yang memelukmu?"

"Ck. Masa mencemburui anak sendiri?"

Dante mengedikkan bahunya dan mendekatkan wajahnya, meraih


bibirku dan mengulumnya. Ia mengeratkan pelukannya. Lidahnya
menyeruak dan bermain di rongga mulutku. Kami berciuman sangat
panas, sampai aku teringat masakanku.

182
Mr. Rescuer

"Dan-te... uhm... makan siang-"

Dante memandangku dengan binar mata penuh gairah.

"Aku mau kamu siang ini," suara seraknya menggelitikku.

"Panggil Elo. Kita makan siang bersama, setelah itu, terserah apa
maumu, Mr. Dante," kukedipkan mataku sambil tersenyum genit.

Dante menyeringai.

"Kupegang ucapanmu, Sweetheart," ia melepaskanku dan berderap


menuju kamar Elo.

Aku mengusap perut buncitku. Menurut dokter, bayi keduaku ini


perempuan. Usianya enam bulan. Tidak rewel, dan Dante menjadi lebih
manja dan makin posesif.

Anak pertama kami, Diangelo Jeofre Javonne, kini berusia tujuh tahun
dan bersekolah di sekolah dasar. Wajahnya banyak mirip denganku,
namun sifat dan postur tubuhnya seperti Dante. Matanya kebiruan,
sangat Dante.

---o0o---

183
Mr. Rescuer

Delapan tahun sesudahnya...

Dante memelukku erat. Deru nafas hangatnya menyapu tengkukku.


Kubiarkan sambil kedua tanganku terus bekerja. Aku tidak lagi bekerja
di kantor sejak melahirkan anak kedua kami, Elara Stellina Javonne.
Dante dengan senang hati menyetujui keinginanku. Ia selalu berusaha
meluangkan waktu untuk pulang dan makan siang bersama.

"Aku sudah mengatur liburan untuk kita berdua," bisiknya mengecup


lekuk leherku.

"Hanya berdua?"

"Ya. Hanya berdua. Aku ingin memilikimu untukku sendiri meskipun


hanya beberapa hari," bibirnya menyentuh telingaku, sementara
tangannya merayap naik.

"Anak-anak? Mereka sedang masa liburan, Dante."

"Deanne akan menjemput mereka besok. Dan kita akan menjemput


mereka di Bali setelah honeymoon kedua kita selesai," lidah Dante
menggelitik telingaku, hingga aku menggeliat kegelian.

"Dan-te.... lepaskan aku dulu, aku masih memasak," aku mencoba


menghindar.

"Maria!" Dante berteriak memanggil salah satu pelayan yang langsung


tergopoh-gopoh datang.

184
Mr. Rescuer

"Ya Mr. Dante," wajah Maria nampak gugup.

"Tunggu hingga matang, lalu bereskan!"

"Baik Mr. Dante," Maria mengangguk.

Dante menarikku sebelum aku sempat memprotes. Ia membawaku ke


ruang kerjanya, mengunci pintu dan memandangku.

"Aku merindukanmu," Dante meraihku dan menciumku. Rakus dan


sedikit kasar, sebelum kemudian melembut dan membuaiku.

"Kenapa di sini?" tanyaku terengah. Aku tentu saja heran, kenapa Dante
justru membawaku ke ruang kerjanya alih-alih ke kamar kami.

"Karena anak-anak tidak akan berani masuk kemari. Jadi kita aman,"
seringainya sambil berusaha melepaskan pakaianku.

""Dante, ini hampir waktu makan siang. Anak-anak pasti sudah lapar,"
aku mengingatkan.

Tangan Dante terhenti. Ia menatapku sejenak, lalu menarikku ke sofa


dan memangku-ku melingkari pinggangku erat. Wajahnya tetap tampan
meskipun usianya tidak lagi muda. Usia Diangelo sudah lima belas
tahun, sementara Elara tiga bulan lagi berusia delapan tahun. Tidak
terasa, kebersamaan kami sudah enam belas tahun dan tidak ada
pertengkaran yang berarti selama itu.

185
Mr. Rescuer

"Aku merindukan masa-masa dimana kamu hanya milikku, Sweetheart.


Sebelum kamu disibukkan oleh anak-anak," katanya pelan.

Aku tersenyum, menangkup kedua belah pipinya. Kuakui, perhatianku


pada Dante banyak tersita oleh anak-anak. Mereka sedang dalam masa
pertumbuhan, dimana aku harus lebih banyak memberikan ekstra
perhatian.

"Maafkan aku. Kapan kita berangkat?" tanyaku mendekatkan wajahku


dan berhenti saat wajah kami sudah hampir menempel satu sama lain.

"Tiga hari lagi."

"Berapa lama kita pergi?"

"Hmm.... dua minggu tidak terlalu lama, bukan?"

Aku pura-pura berpikir, lalu mengangguk.

"Baiklah Mr. Dante. Saya siap menjadi sekretaris anda selama dua
minggu nanti. Kemana perjalanan bisnis anda kali ini?"

Danter tertawa senang.

"Tidak ada bisnis. Aku akan membuatmu benar-benar hanya miliku, dan
aku milikmu. Dan.... aku benar-benar tidak sabar menunggu tiga hari
lagi," ujarnya mengetatkan pelukannya hingga bibir kami bersentuhan.

186
Mr. Rescuer

Dante tidak menunggu lama. Ia menciumku dengan lembut dan aku


menyambut gerakan bibirnya dengan senang hati. Suara decapan,
belitan lidah dan lumatan bibir mulai menyalakan gairah.

Dante melepaskanku, memandangku dalam kobaran api yang mulai


membara.

"Tunggulah di meja makan, aku akan memanggil anak-anak," ucapnya


serak, mendorongku pelan untuk berdiri.

"Apakah tidak apa-apa?" aku melirik tubuh bawahnya.

"Aku masih bisa menahannya," ia meringis menepuk lenganku dan


menggamitku keluar ruang kerjanya.

---o0o---

Aku bergelung nyaman dalam dekapan Dante. Hangat dan damai.


Sudah seminggu kami berdua, menikmati kembali kebersamaan yang
selama lima belas tahun ini nyaris tidak kami dapatkan. Anak-anak?
Tentu saja aku dan Dante sangat merindukan mereka berdua. Kami
sesekali melakukan video call dengan mereka. Namun aku sudah
berjanji pada diriku sendiri, bahwa dua minggu honeymoon kedua kami
ini, aku akan fokus pada Dante dan kebersamaan kami.

187
Mr. Rescuer

Diangelo dan Elara memang buah cinta kami. Aku dan Dante
menyayangi dan mengasihi mereka sepenuh hati. Namun
bagaimanapun, Dante adalah suamiku. Aku ada untuk melengkapi
hidupnya, begitupun Dante yang ada untuk melengkapi hidupku. Kami
akan menua bersama, sementara anak-anak akan mempunyai
kehidupan mereka sendiri.

Kuamati wajah tampan Dante. Diusianya yang hampir empat puluh


tujuh ini, ia masih tampak bugar dan segar. Ia semakin matang
dan sexy. Aku tidak tahan untuk tidak menyentuhkan jariku ke
hidungnya yang terpahat begitu sempurna. Bibirnya yang sedikit tebal,
namun mampu membawaku menembus awan saat menyentuhku.
Rahangnya kokoh, menggambarkan perlindungannya yang total pada
keluarga kecil kami.

Dahi Dante berkerut, ia menggeliat dan mengerjap. Ah, aku


mengganggu tidur pulasnya.

"Morning," suara seraknya menyertai senyuman yang disuguhkannya


padaku pagi ini.

"Morning," sambutku membalas senyumnya.

Dante mengetatkan pelukannya dan mengecupku.

"Bagaimana perasaanmu pagi ini, Mrs Javonne?"

"Hmm.... nyaman dan sedikit pegal-pegal," jawabku menahan nafas


sesaat.

188
Mr. Rescuer

"Maaf, aku terlalu bersemangat semalam," ringisnya lucu.

"Apa kamu mau membuatku hamil lagi, Mr. Dante?" tanyaku


mengerutkan kening merasakan geliat dan gerakan menusuk di bawah
sana.

"Apa kamu hamil?"

"Jika kamu terus menerus seperti ini," sahutku menggigit bibir. Tusukan
di pahaku makin terasa.

"Apa kamu keberatan?"

Aku menggeleng, lalu memukul bahu Dante pelan ketika dengan


nakalnya ia menyusupkan tangannya, menyelipkan miliknya diantara
pahaku.

"Kamu bilang tidak keberatan, Sweetheart," seringainya sambil


menggulirkan tubuhnya menindih separuh tubuhku.

"Ya ampun! Apakah hari ini kamu berniat mengurungku seharian? Ini
sudah hampir lewat makan pagi, Dante," protesku.

"Waktu dua minggu terlalu singkat untuk dilalui, Sweetheart."

Aku menyerah. Dante dan gairahnya adalah perpaduan yang tidak bisa
ditolak.

189
Mr. Rescuer

Aku tersenyum menyambut sentuhannya. Dante dengan segala


kelebihannya dan aku tidak tau apakah ia punya kekurangan atau tidak,
karena sampai saat ini, aku belum menemukan kekurangannya. Ia laki
laki sempurna yang ditakdirkan untukku. Dan aku bersyukur karenanya.

I Love you so much, Mr. Rescuer.

--- FIN.---

190