Anda di halaman 1dari 12

SPESIFIKASI TEKNIS

PENGADAAN KAPAL < 20 GT KELOMPOK MUTIARA PUTIH KAB. PANGKEP

A. KASKO

I. UMUM
1 .Kapal yang akan dibangun adalah kapal penangkap ikan dengan bahan
dasar kayu yang dilengkapi dengan alat tangkap.
2 .Pembangunan kapal mengacu kepada Petunjuk teknis pembangunan
kapal perikanan tahun 2015 serta Pedoman Umum pembangunan
kapal
perikanan tahun 2015 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan
dan
Perikanan Direktorat Kapal Perikanan dan Alat Penangkap Ikan 2015
II. DIMENSI DAN DESAIN
UKURAN POKOK
Panjang Keseluruhan (LOA) 21 meter
Panjang Garis Air ( LWL) meter
Lebar Max (Bmax) 4,5 meter
Tinggi Geladak(H) 1,3 meter
Sarat Perencanaan(T) meter
Tonase 20-25 GT
Tenaga Penggerak(ME) 2 X 30 HP
Kecepatan Perencanaan(Vs) knots

2. Desain dan gambar kerja terdiri dari :


a. Gambar rencana garis (LinesPlan).
b. Gambar rencana umum (Generall Arrangement).
c. Gambar konstruksi memanjang (Profile Construction)
d. Gambar konstruksi profile(Profil Construction)

III. PERSYARATAN MATERIAL


i. Kayu
a. Material yang digunakan harus memenuhi criteria yang telah
ditetapkan dan dibuktikan dengan hasil pengujian laboratorium yang
kompeten dibidangnya.
b. Material utama dari kayu sesuai dengan gambar kerja dan spesifikasi
yang telah dibuat dimana semua material kayu yang digunakan
adalah jenis kayu kelas kuat I-II dan kelas kuat I-II sesuai dengan
syarat yang ditetapkan pada RKS serta memenuhi kriteria untuk
penggunaan kapal kayu sesuai standar biro klasifikasi dalam
peraturan konstruksi kapal kayu.
c. Material kayu dalam kondisi baik (Tidak pecah ataupun retak) dengan
kondisi kering siap pakai(Kadar air≤10%). Penggunaan kayu yang
bermata/ bergetah tidak dibenarkan
d. Penggunaan pakal hanya untuk sambungan antar papan, tidak
dibenarkan untuk menutup retak atau bagian papan yang
pecah.Papan atau balok yang retak atau pecah harus diganti dengan
yang baru.
e. Penyusunan dan pemasangan kulit lambung(kasko) beserta
pemakalannya harus dilakukan dengan benar, cermat dan rapi guna
menghindari perembesan air.
f. Peletakan sambungan papan ataupun balok tidak pada satu tempat
yang bertumpu, sambungan harus disebar sedemikian rupa untuk
mendapatkan kekuatan yang baik.
g. Jenis kayu untuk lunas harus menggunakan kayu kelas kuat I dan
Awet I (Jenis kayu Besi ) dan diupayakan berupa satu buah balok
utuh dan jika tidak memungkinkan menggunakan kayu utuh maka
harus dipasang sedemikian rupa dan tidak ditempatkan pada daerah
yang kritis seperti dibawah kamar mesin, sekat dll.
h. Papan kulit minimal sepanjang 8 jarak gading

i. Bahan baku harus mendapat persetujuan dari pihak pengawas


sebelum digunakan.
j. Jenis kayu yang digunakan menurut konstruksi adalah :
No Kelas Kayu
. Pemakaian
Kelas Jenis Kayu
1 Lunas I Ulin
2 Linggi I Ulin
3 Linggi Poros I Ulin
4 Gading II Bitti
5 Balok Pondasi I Ulin
7 Galar II Meranti Mamuju
8 Tiang & Bolder I Ulin
9 Balok Geladak II Meranti Mamuju
10 Papan Geladak II Meranti Mamuju
11 Kulit I Kaloju
Papan Bangunan
12 Atas II Meranti Mamuju
Balok Bangunan
13 Atas II Meranti Mamuju
14 Balok Sekat II Meranti Mamuju
15 Dinding Sekat II Meranti Mamuju

ii . Bahan Pengikat berupa :


a. Baut Galvanize
b. Baut Steinless steel.
c. Paku Galvanis.
d. Pasak dari Kayu kelas I.
iii . Bahan Perekat dan Cat :
a. Kulit Kayu (Baru).
b. Lem Epoxy , marine glue

c. Cat meni kayu,


d. Cat warna.
e. Cat anti Fouling untuk bagian lambung di bawah garis air.
iv . Kemudi
Daun kemudi terbuat dari plat Stainless steel dengan tebal minimal 10mm
dengan dimensi panjang 50 cm, tinggi 70 cm.Untuk tongkat kemudi
menggunakan pipa stainless steel dengan diameter rudder stock minimal 1 ½”
dimana kwadran kemudi dihubungkan keruang kemudi dengan menggunakan
wire rope atau chain yang dibuat sedemikian rupa agar dapat bekerja dengan
baik. Sistem kemudi harus diberikan pengaman sedemikian rupa agar
memberikan keamanan kepada awak saat bekerja diatas kapal.

v. Ukuran Konstruksi dan Pengerjaannya :

1. Ukuran Konstruksi :
No. Nama Ukuran(mm)
1 LUNAS LUAR 200 x 200
2 GADING LENGKUNG 130 x 130
3 PAPAN KULIT 60 x 220
4 BALOK GELADAK 80 x 120
5 GALAR 40 x 150
6 PEMBUJUR PALKA 200 x 120
7 PAPAN GELADAK 40 x 200
8 TUTUP SISI GELADAK 50 x 200
9 GADING-GADING RUANG IKAN 130 x 130
10 BALOK PONDASI MESIN 220 x200
11 GALAR BALOK BANGUNAN ATAS 90 x80
12 PEMBUJUR BANGUNAN ATAS 90 x80
13 PENEGAR BANGUNAN ATAS 60 x80
14 BALOK LANTAI BANGUNAN ATAS 60 x80
15 BALOK ATAP BANGUNAN ATAS 60 x80
16 SISI ATAP BANGUNAN ATAS 30 x 160
17 LANTAI BANGUNAN ATAS 25
18 SISI/DEPAN/BELAKANG BANGUNAN 25
19 ATAP BANGUNAN ATAS 25
B. Pengerjaan
1) Pembuatan Lunas, Linggi dan Balok Poros.
a. Lunas menggunakan kayu kelas kuat I dan awet I berupa satu buah balok
utuh tanpa sambungan dan diperkuat dengan selubung lunas pada
sambungan antara lunas dan linggi.
b. Lunas lengkung pada linggi haluan adalah kayu utuh dengan ukuran
panjang keatas keatas 1,5 Meter dan panjang kebawah 1 Meter.
c. Penyambungan harus dibuat sedemikian rupa dan diikat dengan mur-baut
secara sempurna dengan pertimbangan keamanan dan keselamatan
kapal.
d. Linggi terbuat dari balok melengkung tanpa sambungan, kemudian diikat
pada lunas dengan menggunakan baut dan diberi plat selubung. Jika tidak
memungkinkan maka sambungan harus diperkuat dengan menggunakan
Lutut Siku kemudian diikat pada lunas dengan menggunakan baut serta
diberi plat selubung.
e. Balok linggi poros disusun dan dipasang sesuai kemiringan stern tube
kemudian diikat dengan balok lunas menggunakan mur-baut steinless
steel dengan bentuk sesuai gambar dan dibentuk sedemikian rupa agar
memberi jaminan kekuatan konstruksi.

2) Pembuatan Gading, Balok Geladak dan Kulit


a. Gading-gading terbuat dari balok yang melengkung dan disusun
sedemikian rupa sehingga membentuk profil sesuai gambar pada
mouldloft. Seluruh bagian papan kulit kapal harus rapat dengan
sempurna ke gading-gading.
b. Jika Kulit kapal tidak rapat sempurna ke gading maka harus dibuatkan
gading pengganti dan tidak dibenarkan mengisi space(nut) dengan
dempul,potongan kayu ataupun bahan lainnya.
c. Pengikatan gading ke kulit kapal menggunakan pasak, baut dan paku
dengan bahan yang tahan terhadap karat.
d. Jumlah baut yang digunakan adalah sejumlah pertemuan antara
gading dan kulit kapal dengan jarak antara satu pertemuan.
e. Balok geladak dibuat melengkung ke arah sisi kapal (chamber) sesuai
gambar kerja agar air yang tersisa digeladak dapat mengalir sempurna
ke scupper yang tersedia di sisi kapal.
f. Sambungan gading dengan balok geladak menggunakan baut.
g. Untuk kulit kapal menggunakan kayu kelas kuat I dan awet I (kayu
Besi) dimana kulit kapal diusahakan sepanjang mungkin minimal
mencapai 8 jarak gading.
h. Kulit kapal dibawah garis air diberikan perlindungan tambahan berupa
lapisan anti fouling guna mencegah tumbuhnya tumbuhan laut(tritip)
i. Sambungan kulit kapal harus berada tepat pada gading-gading dan
harus disebar sehingga tidak ada sambungan yang berurutan pada
satu gading.
j. Sambungan antar kulit kapal harus rapat pada bagian dalam
sedangkan bagian luar dari kulit kapal memiliki kerenggangan 1-2 mm
untuk keperluan pemasangan pakal.
k. Posisi sambungan harus menyebar ( tidak dalam posisi satu garis
lurus yang berurutan ) serta dihindarkan untuk ditempatkan pada
bagian-bagian kapal yang menerima beban besar seperti ruang mesin,
tangki, dll.
l. Ketebalan dari kulit kapal, gading-gading serta balok geladak harus
sesuai dengan gambar kerja dan spesifikasi dalam keadaan terpasang
sehingga penggunaan kayu harus memperhitungkan pengurangan
ketebalan kayu akibat pengolahan kayu:
m.Untuk menghindari kayu pecah maka pemasangan paku, pasak dan baut
harus
menggunakan bor(driller). Semua baut dan paku harus dibenamkan
sedalam 5 mm pada kulit kapal yang berfungsi sebagai nut dan akan
ditutup dengan dempul.
3). Sambungan Balok
a. Pada dasarnya sambungan balok hanya digunakan pada keadaan
yang tidak dikehendaki.
b. Semua sambungan balok harus menggunakan model sambungan
berkait ganda dengan panjang minimal 25cm, kemudian dilapisi
dengan meni kayu dan diperkuat dengan baut.
c.Posisi sambungan harus dibuat menyebar (tidak dalam posisi satu
garis lurus yang berurutan)serta dihindarkan untuk ditempatkan pada
bagian bagian kapal yang mendapatkan beban besar seperti ruang
mesin, tangki dll.

4). Pemasangan Galar dan Sekat


a. Papan galar diusahakan sepanjang mungkin minimal mencapai 10
jarak gading. Apabila menggunakan sambungan maka harus disebar
sehingga sambungan tidak berada pada satu gading.saja.
b. Galar diikat pada dan kulit kapal dengan menggunakan baut galvanize.
c. Gading kiri dan kanan kapal pada lunas diikat dengan baut galvanize.
d. Rangka sekat menggunakan balok kemudian diikat pada gading dan
balok geladak menggunakan baut dan paku.

5) . Pemasangan Palka ikan.

a. Palka Ikan sebanyak 3 buah dengan masing-masing ukuran sesuai


dengan gambar kerja dimana system insulasi palka. untuk menjaga
mutu hasil tangkapan dan pada bagian yang bersinggungan
dengan muatan agar dilapisi dengan spon sesuai dengan gambar
kerja dan diharapkan mampu mempertahankan mutu hasil
tangkapan hingga tiba dipelabuhan pangkalan(pendaratan ikan).
b. Palka ikan dilengkapi dengan system drain(Pipa pengering)
sehingga saat palka dibersihkan palka dapat kering dengan
sempurna

6). Pemasangan Mesin, Pondasi Mesin dan Stern Tube serta Perlengkapan Lainnnya.
a. Kapal digerakkan oleh dua buah mesin diesel type 6 langkah khusus
penggunaan di laut (Marine Engine) dengan daya 2X30 HP dan
dilengkapi dengan system untuk pendingin mesin. Mesin penggerak
dilengkapi dengan system propullsor yang dipasang sedemikian rupa
sehingga mampu memberikan kecepatan operasional 8-10(Nautical
speed).
System transmisi daya menggunakan gearbox serta shaft sesuai
dengan gambar kerja yang dipasang sedemikian rupa dengan
memperhatikan torque dari mesin agar mampu memberikan kecepatan
operasional . Shaft bracket, Sterntube berikut gland serta system
pengedapannya dipasang sedemikian rupa agar aligment sehingga
getaran tidak akan mempengaruhi konstruksi kapal.

b. Mesin yang digunakan adalah mesin yang memiliki sertifikat marine


engine dengan garansi penuh selama 1 tahun dan mendapatkan
jaminan purna jual(after sales service) berupa jaminan ketersediaan
spare parts selama 5 tahun dari agen tunggal.

c. Mesin didukung dengan sistem pendingin dan penukar kalor ( Heat


Exchanger ) yang dihubungkan dengan sea chest(kran air laut ).

d. Operasional mesin harus didukung dengan Sistem filter bahan bakar (


Fuel racor ) sehingga mampu menjaga mutu bahan bakar.

e. Pondasi mesin dipasang sedemikian rupa dengan kemiringan sesuai


gambar dan segaris dengan poros(alligment). Penggunaan Adjuster
Plat (Lena) untuk menyesuaikan kemiringan dengan ketebalan
maksimal 10 mm kemudian di berikan fast coke agar kemiringan tidak
berubah.Pondasi mesin dari kayu kelas kuat I dan awet I (ulin atau
sejenis) diletakkan minimal pada 10 buah gading kemudian diikat
dengan baut galvanis.

f. Panel instrument untuk monotir engine terpasang di dalam kamar mesin


dan ruang kemudi dengan sempurna.Mesin bantu untuk pembangkit
listrik(Generator set) yang digunakan dengan kapasitas output generator 5
KVA. Supply listrik ke tempat tempat yang membutuhkan diatur
sedemikian rupa agar terpasang rapi dan aman sehingga tidak
membahayakan awak kapal.Pompa-pompa yang digunakan adalah
pompa listrik dengan keandalan yang telah teruji digunakan diatas
kapal.Seluruh peralatan komunikasi dan navigasi, serta alat keselamatan
yang digunakan harus memenuhi standar pelayaran nasional .

g. Sistem gas buang dibuat sedemikaian rupa agar tidak mengganggu


kinerja mesin kemudian pipa gas buang dilapisi dengan asbestos dan
diperkuat dengan kawat ram sehingga memberikan keamanan kepada
awak kapal saat berada didalam kamar mesin.Ujung muffler dari dari
sistem gas buang harus diberi pengaman dan dibuat sedemikan rupa
sehingga air hujan tidak masuk ke dalam pipa gas buang.Pipa-pipa air
pendingin menggunakan sambungan karet untuk menghindari
kebocoran akibat getaran mesin.

h. Pembuatan lubang stern tube menggunakan bor( driller ) dengan


ukuran dan kemiringan yang tepat sehingga stern tube dapat
terpasang dengan rapat pada balok poros dengan kemiringan yang
segaris dengan poros(alligment).

7. Pakal, Dempul dan Cat


a. Seluruh sambungan papan harus dipakal dengan sempurna dimana
sebelum pemakalan sambungan terlebih dahulu telah diberi meni kayu.
b. Pemakalan dilakukan berlapis-lapis hingga mencapai sisa kedalaman 5
mm untuk penutupan dengan menggunakan lem epoxy.
c. Papan yang pecah harus diganti dan tidak boleh dipakal.
d. Sebelum dilakukan penutupan Nut, pastikan bahwa semua kepala paku
dan baut telah terbenam 5 mm ke dalam kayu.
e. Semua permukaan kapal di bagian luar harus diberi under coating khusus
kayu secara merata dan diyakini telah menutupi pori kayu dengan
sempurna.
f. Pengecatan baru dapat dilakukan apabila permukaan kayu dan under
coating telah rata dan licin. Lapisan cat minimal 3 lapis.
g. Bangunan atas dibuat sesuai dengan gambar kerja dengan tujuan
memudahkan pergerakan awak diatas kapal,bagian atas kapal(top deck)
diberi perlindungan terhadap bocor dan rembes. Top deck dibuat camber
dengan sudut yang cukup agar air dapat mengalir ke sisi-sisi kapal.
h. Warna yang digunakan sesuai dengan warna yang ditetapkan oleh Dinas
Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan dengan logo Dinas
Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan.
8. Instalasi Pendukung
A. Semua peralatan instalasi yang digunakan haruslah merupakan
material dengan kualitas baik dan khusus untuk penggunaan laut dan
dibuktikan dengan sertifikat marine used.
B. Instalasi listrik dengan system isolasi yang baik, sekring, saklar,
switch stop kontak dan Main Switch Board dengan bahan sesuai
standart SII.
C. Tangki bahan bakar yaitu dari drum kapasitas 200 liter.
D. 1 Buah tangki harian kapasitas 200 Liter lengkap denga instalasinya
dipasang pada bagian depan kamar mesin.

C. PERLENGKAPAN KAPAL
1. Navigasi dan komunikasi
1. 15 bh Life Jacket
2. 2 bh LifeBuoy (Ringbuoy) + Tali
3. 1 bh Portable Fire Extinguisher @ 3 Kg
4. 1 bh Bendera Nasional
5. 1 bh Lampu senter
6. 1 bh Kotak P3K
7. 1 bh Flare
8. 1 bh Marine Compass 4"

2.Perlengkapan Lambung

1. 3 Bh Tiang Bolder
2. 1 bh Jam Dinding
3. 4 bh Dampra Ban
4. 10 m Tali Tambat 14mm
5. 20 m Tali Jangkar Nylon 20 mm
6. 2 bh Jangkar 20 kg
3. Sistem Kelistrikan, Perpipaan, Tangki Dan Pompa

1. 8 Bh Saklar
2. 1 Set Lampu Kabin
3. 2 Bh Lampu sorot 500 watt
4. 1 Set Lampu Navigasi
5. 1 Set Lampu Penerangan Ruang Mesin
6. 1 BhTangki BBM Drum 200 Liter
7. 1 Bh Tangki Air Tawar FRP 200 liter
8. 1 Set Pompa Bilga
9. 1 Bh Hand Pump
10. 1 Set Pompa Dinas Umum (GS)

4.Permesinan dan Sistem Propulsi

1. 2 Unit Mesin penggerak Jiandong ZH 1125 Starter + Gearbox


2. 1 Set Mesin Darat (paus) 7500 untuk genset
3. 2 Bh Battery Accu 12/24 V - 100 Ah
4. 1 Set Whell Rotary 8" dan Instalasi
5. 1 Set Kwadran & Kemudi stainless steel
6. 1 Set Switch Panel, Saklar dan Pengaman
7. 2 S et Pompa Air Sirkulasi air dingin (Keong)
8. 1 Set Tool Kit

5. Alat Tangkap Dan Alat Bantu Penangkapan

1. 1 Set Jiandong ZH 1125 + Perlengkapan Winch (Penarik dan rangka )


2. 18 Set Jaring No.9 Diameter 1,5 (Roll Besar)
3. 5 Set Jaring No.9 Diameter 1,5 (Roll Kecil)
4. 5 Roll Tali PE No.7
5. 1 Roll m Tali PE N0.18
6. 1 mTali PE No.20
7. 200 kg Timah Cincin
8. 500 bh Pelampung (F17) Putih Lonjong
9. 385 bh Lampu Kerja 11 watt Inlite
10. Box Styrofoam 8 Buah
D. KETENTUAN-KETENTUAN LAIN

A. Serah terima pekerjaan pengadaan wajib dilaksanakan setelah


dilaksanakan pengujian sea trial yang disaksikan oleh pemilik pekerjaan
untuk menguji
kemampuan olah gerak, uji stabilitas, kemampuan akselerasi ,uji
kebisingan dan getaran serta uji kebocoran dan kemudian dituangkan
dalam Berita Acara Sea trial yang ditanda tangani oleh kedua belah pihak.
B. Sea Trial dilaksanakan dengan disaksikan oleh konsultan pengawas dan
perwakilan dari pemilik pekerjaan untuk memastikan kesempurnaan
operasional kapal.
C. Pihak pelaksana berkewajiban memfasilitasi kelompok penerima kapal
untuk ikut serta memonitoring pekerjaan sebanyak 2 kali guna menjamin
hasil pekerjaan sesuai dengan keinginan dari kelompok nelayan
penerima kapal.
D. Pihak rekanan harus menyiapkan semua dokumen pendukung yang
membuktikan material yang terpasang diatas kapal adalah material
khusus untuk penggunaan dilaut
E. RKS ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kontrak desain
sehingga bersifat mengikat kedua belah pihak.
F. Dalam hal terjadi perselisihan antara pemberi kerja dan yang diberi kerja
maka penyelesaian akan dilakukan dengan musyawarah – mufakat. Jika
musyawarah – mufakat itu tidak mencapai kesepakatan maka
penyelesaian harus dilakukan di Pengadilan Negeri terdekat dan putusan
tersebut mengikat secara mutlak kedua belah pihak.
Makassar, 29 April 2021

Ditetapkan oleh :