Anda di halaman 1dari 52

|i

PROFIL
UPT PUSKESMAS DAWE
TAHUN 2020

PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS


DINAS KESEHATAN
UPTD PUSKESMAS DAWE
Jl. Lapangan Cendono – Dawe, Telp. (0291) 420257 Kode Pos 59353
Email: pkmdawe@gmail.com. Website:http//pkmdawe.web.id
| ii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah S.W.T. atas rahmat dan
hidayah-Nya Profil Kesehatan UPTD Puskesmas Dawe tahun 2021 ini dapat
diselesaikan.
Profil kesehatan puskesmas ini disusun dalam rangka memantau dan
mengevaluasi pencapaian program yang telah dilaksanakan UPTD Puskesmas
Dawe tahun 2021.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih dan penghargaan
yang setinggi tingginya kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan buku profil ini.
Kami menyadari bahwa profil kesehatan ini masih jauh dari kesempurnaan
yang disebabkan karena berbagai keterbatasan yang ada, oleh karena itu kami
sangat mengharapkan bimbingan dan saran guna memperbaiki buku profil ini.
Semoga apa yang kami laporkan ini dapat bermanfaat bagi kami dan
semua pihak yang berkepentingan pada umumnya, khususnya dalam upaya
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Wassalamualaikum Wr.Wb.

Kudus, JULI 2021


KEPALA UPT PUSKESMAS DAWE

dr. Achmat Luthfi Yakim, M.K.M


NIP. 19840520 201406 1 001
| iii

DAFTAR ISI
Halaman Judul ................................................................................................... i
Kata Pengantar................................................................................................... ii
Daftar isi ............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................................ 1
B. Tujuan ..................................................................................................... 1
C. Visi, Misi, Motto, Komitmen Bersama dan Tata Nilai ............................. 2
D. Sistematika Penulisan ............................................................................ 3
BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH KERJA PUSKESMAS DAWE.............. 4
A. Letak Geografis ...................................................................................... 4
B. Kependudukan ........................................................................................ 4
C. Mata Pencaharian ................................................................................... 6
BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS DAWE 7
A. Mortalitas/Kematian ................................................................................ 7
B. Status Gizi Bayi dan Balita ..................................................................... 10
C. Mobiditas/Kesakitan ................................................................................ 11
D. Penyakit PD3I ......................................................................................... 18
E. Penyakit Bersumber Binatang ................................................................ 19
BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN DI PUSKESMAS DAWE .................... 21
A. Pelayanan Kesehatan Dasar .................................................................. 21
B. Pelayanan Kesehatan Rujukan .............................................................. 29
C. Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat .......................................... 29
D. Perbaikan Gizi Masyarakat ..................................................................... 31
E. Keadaan Kesehatan Lingkungan ........................................................... 33
F. Keadaan Perilaku Masyarakat ................................................................ 36
BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN DI PUSKESMAS DAWE ....... 38
A. Sarana Kesehatan .................................................................................. 38
B. Sumber Daya Puskesmas ...................................................................... 38
C. Ketersediaan Obat .................................................................................. 41
D. Pembiayaan Kesehatan .......................................................................... 41
KESIMPULAN ................................................................................................... 42
PENUTUP .......................................................................................................... 45
LAMPIRAN ...................................................................................................... 46
|1

BAB
PENDAHULUAN I

A. Latar Belakang
Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 23 tahun 1994 tentang
susunan organisasi dan tata kerja pusat kesehatan masyarakat pasal 1 ayat D
yang menyatakan bahwa pusat kesehatan masyarakat adalah unit pelaksana
teknis dinas kesehatan daerah yang melaksanakan pelayanan upaya kesehatan
secara paripurna kepada masyarakat diwilayah kerja tertentu yang selanjutnya
disebut puskesmas, dan didalam UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan
menyatakan bahwa setiap warga Negara mempunyai hak yang sama dalam
memperoleh derajat kesehatan yang optimal.
Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional
diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup
sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal. Keberhasilan pembangunan kesehatan merupakan unsur yang tak
terpisahkan untuk mencapai keberhasilan pembangunan nasional.
Peran puskesmas sebagai unit pelayanan terdepan akan sangat
menentukan dalam mencapai tujuan pembangunan nasional serta pusat
pengembangan kesehatan sehingga peran puskesmas menempati posisi yang
strategis. Untuk merealisasikan peran dan fungsi puskesmas maka diperlukan
perangkat manejemen yang baik dan sistim informasi kesehatan yang akurat demi
penyelenggaraan kegiatan secara menyeluruh dan terpadu.
Dalam rangka memberikan gambaran situasi kesehatan diwilayah kerja UPT
Puskesmas Dawe Kabupaten Kudus tahun 2020, maka disusunlah buku profil
kesehatan UPT Puskesmas Dawe Kabupaten Kudus Tahun 2020 ini yang
merupakan salah satu sarana untuk menilai pencapaian kinerja pembangunan
kesehatan di UPT Puskesmas Dawe.

B. Tujuan
Tujuan disusunnya profil kesehatan UPT Puskesmas Dawe tahun 2020
adalah :
1. Tersedianya data yang relevan, akurat, tepat waktu, dan sesuai kebutuhan
sehingga dapat dimanfaatkan dalam penyusunan perencanaan
|2

pembangunan daerah dalam rangka meningkatkan kemampuan manejemen


kesehatan secara berhasilguna dan berdayaguna sebagai upaya menuju
kecamatan sehat.
2. Tersedianya informasi yang mampu memotivasi para pemegang kebijakan
dalam mengatasi permasalahan kesehatan dan dapat digunakan sebagai
alat untuk memantau dan mengevaluasi upaya kesehatan sehingga dapat
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

C. Visi, Misi, Motto, Komitmen Bersama dan Tata Nilai


1. Visi
Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat UPT
Puskesmas Dawe memiliki visi "Kudus Bangkit Menuju Kabupaten
Modern, Religius, Cerdas dan Sejahtera"

2. Misi

Guna mencapai visi yang telah ditentukan UPT Puskesmas Dawe membuat
misi yaitu “ Mewujudkan Masyarakat Kudus yang Berkualitas, Kreatif,
Inovatif dengan Memanfaatkan Teknologi dan Multimedia”.

3. Motto
UPT Puskesmas Dawe dalam memberikan pelyanan kepada masyarakat
memiliki motto 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sentuh Sembuh). Dengan filosofi
untuk membangun motivasi guna mengoptimalkan potensi pegawai UPT
Puskesmas Dawe dalam etos kerja dan berupaya untuk memberikan pelayanan
kesehatan yg terbaik demi terwujudnya masyarakat Dawe yang sehat.

4. Komitmen Bersama :
UPT Puskesmas Dawe berkomitmen untuk :
a. Melaksanakan tugas dengan baik, jujur, dan tanggungjawab
b. Memberikan pelayanan terbaik kepada pasien dan masyarakat
c. Selalu menjaga kekompakan dan kebersamaan antar karyawan
d. Menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan secara berkelanjutan
|3

5. Tata Nilai
Dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan, seluruh
karyawan UPT Puskesmas Dawe menerapkan tatanilai WISATA, yaitu :

WI (WIcara) : Berbahasa atau bertutur kata yang baik


sesuai dengan budaya timur
S (Santun) : Bersikap opan dan santun kepada semua
pelanggan
A (Amanah) : Menjaga kerahasiaan pelanggan puskesmas
TA (TAnggung jawab) : Sesuai dengan peraturan dan perundang
undangan yang berlaku

D. Sistematika Penulisan
Untuk lebih menggambarkan situasi derajat kesehatan, peningkatkan upaya
kesehatan dan sumberdaya kesehatan di Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus
pada tahun 2020, maka disusunlah Profil Kesehatan UPT Puskesmas Dawe
Kabupaten Kudus dengan sistematika sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH KERJA UPT PUSKESMAS DAWE
BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN WILAYAH KERJA UPT PUSKESMAS
DAWE
BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN DI UPT PUSKESMAS DAWE
BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
BAB VI KESIMPULAN
BABVII PENUTUP
LAMPIRAN
|4

GAMBARAN UMUM WILAYAH KERJA BAB


II
UPT PUSKESMAS DAWE

A. Keadaan Geografis
1. Letak
UPT Puskesmas Dawe terletak pada koordinat -6.704.855 lintang selatan
dan 110.898.766 bujur timur. Mempunyai batas-batas sebagai berikut :
- Utara : Kabupaten Jepara
- Selatan : Kecamatan Bae
- Timur : Wilayah kerja UPT Puskesmas Rejosari
- Barat : Kecamatan Gondosari
Secara Geografis UPT Puskesmas Dawe terletak diwilayah Desa Cendono
Dawe RT. 03 RW. 02 Kecamatan Dawe Telp. (0291) 420257.

2. Luas Wilayah
UPT Puskesmas Dawe sebagai salah satu puskesmas yang berada
diwilayah Kecamatan Dawe, yang merupakan puskesmas rawat jalan dan rawat
inap untuk umum. Ditinjau dari letaknya UPT Puskesmas Dawe cukup strategis,
dengan luas wilayah 22 Km Persegi. Wilayah kerja UPT Puskesmas Dawe adalah
9 desa dari 18 Desa yang ada di Kecamatan Dawe, yaitu :
1. Desa Cendono
2. Desa Margorejo
3. Desa Kajar
4. Desa Lau
5. Desa Piji
6. Desa Samirejo
7. Desa Ternadi
8. Desa Puyoh
9. Desa Soco

B. Kependudukan
Jumlah keseluruhan RW /RT di UPT Puskesmas Dawe yaitu :
1. Desa Cendono : Rw. IX, Rt. 51
2. Desa Margorejo : Rw. XI, Rt. 57
|5

3. Desa Kajar : Rw. IV, Rt. 22


4. Desa Lau : Rw. VII, Rt. 52
5. Desa Piji : Rw. VIII, Rt. 48
6. Desa SamiRejo : Rw. VI, Rt. 17
7. Desa Ternadi : Rw. IV, Rt. 18
8. Desa Puyoh : Rw. VIII, Rt. 37
9. Desa Soco : Rw. VI, Rt. 32
Berdasarkan data monografi kecamatan Dawe tahun 2020 bahwa jumlah
penduduk dalam wilayah kerja UPT Puskesmas Dawe sebanyak 68.035 jiwa dan
21.845 KK, sebagaimana tersaji pada tabel berikut.
Tabel 2.1. Jumlah penduduk menurut jenis kelamin diwilayah kerja UPT
Puskesmas Dawe Tahun 2020

No Desa Lak-Laki Perempuan Jumlah

1 Samirejo 2.293 2.459 4.852


2 Cendono 6.058 6.068 12.126
3 Margorejo 5.522 5.382 10.904
4 Piji 4.285 4.328 8.613
5 Lau 5.749 5.726 11.475
6 Kajar 2.257 2275 4.532
7 Puyoh 3.744 3.702 7.446
8 Soco 2.462 2.394 4.856
9 Ternadi 1.595 1.636 3,231
JUMLAH 34.065 33.970 68.035

Dari tabel diatas dapat diketahui jumlah di wilayah kerja UPT Puskesmas
Dawe, jenis kelamin perempuan lebih sedikit dibanding laki-laki.

C. Mata Pencaharian
Sebagian besar mata pencaharian penduduk adalah petani (46,98%) dan
buruh pabrik (14,30%) .
|6

SITUASI DERAJAT KESEHATAN WILAYAH KERJA BAB


III
UPT PUSKESMAS DAWE

Terdapat beberapa indikator yang mencerminkan kondisi untuk menilai derajat


kesehatan masyarakat, yaitu mortalitas (kematian), status gizi dan morbiditas
(kesakitan). Pada bagian ini, derajat kesehatan masyarakat di Indonesia
digambarkan melalui Angka Mortalitas; terdiri atas Angka Kematian Bayi (AKB),
Angka Kematian Balita (AKABA), dan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Morbiditas;
angka kesakitan beberapa penyakit serta Status Gizi pada balita dan dewasa.
A. Mortalitas/Kematian
Mortalitas dapat dijelaskan sebagai kejadian kematian pada suatu
masyarakat dari waktu ke waktu dan tempat tertentu yang dapat menggambarkan
status kesehatan masyarakat secara kasar, kondisi/tingkat permasalahan
kesehatan, kondisi lingkungan fisik dan biologik secara tidak langsung. Selain itu
dapat pula digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan
kesehatan dan program pembangunan kesehatan.
1. Kematian Ibu Maternal
Angka Kematian Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indikator penting dari
derajat kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan jumlah wanita yang
meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan
atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama
kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan)
tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup. AKI juga
dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan.
Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara umum, pendidikan dan
pelayanan selama kehamilan dan melahirkan. Sensitivitas AKI terhadap
perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan
pembangunan sektor kesehatan.
Berdasarkan laporan dari Upaya KIA pada tahun 2020 di UPT Puskesmas
Dawe ada kematian ibu maternal kasus dari 1.204 jumlah kelahiran hidup atau
sekitar 0 per 100.000 KH. Angka kematian Ibu (AKI) tidak mengalami
Peningkatan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu 133,16
per 100.000 KH pada tahun 2015. Jika dilihat dari jumlah kematian Ibu, terdapat
|7

penurunan yaitu 0 kasus pada tahun 2020 dan 2019 sejumlah 3 kasus, Berikut
grafik jumlah kematian ibu tahun 2014 – 2020.

Column1
3

0
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Gambar 3.1. Grafik jumlah kematian ibu maternal UPT Puskesmas Dawe
periode 2014-2020 (Sumber: Upaya KIA)

2. Kematian bayi dan balita


Angka kematian bayi adalah jumlah penduduk yang meninggal sebelum
mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup pada
tahun yang sama. Usia bayi merupakan kondisi yang rentan baik terhadap
kesakitan maupun kematian. Angka kematian bayi merupakan salah satu
Indikator dari tujuan MDG’s 2015 yang ke 4.
Berdasarkan hasil laporan UKM KIA, pada tahun 2020 jumlah kematian
bayi yang terjadi di UPT Puskesmas Dawe sebanyak 5 dari 1.204 kelahiran
hidup, sehingga didapatkan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 9,50 per
1.000 KH. Jumlah kematian bayi di UPT Puskesmas Dawe terjadi penurunan
dibanding tahun 2017 yaitu dari 5 kasus di tahun 2018 menjadi 3 kasus ditahun
2019. Jika dibandingkan dengan target MDGs yang menetapkan bahwa pada
tahun 2015 target AKB di bawah 23 per 1.000 KH, maka AKB UPT Puskesmas
Dawe telah mencapai target.
|8

kematian bayi
14
12
12

10
8
8 7 kematian bayi

6 5

4
2
2

0
2014 2015 2016 2017 2018

Gambar 3.2. Grafik jumlah kematian bayi UPT Puskesmas Dawe periode
2014-2020 (Sumber: Upaya KIA)

Angka Kematian Balita (AKBa) adalah jumlah anak yang meninggal


sebelum mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1.000
kelahiran hidup. AKBa merepresentasikan risiko terjadinya kematian pada fase
antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun. Berdasarkan data kasus kematian
Anak Balita di UPT Puskesmas Dawe, jumlah Kematian Balita di UPT
Puskesmas Dawe tahun 2019 adalah sebanyak 1 kasus dari 842 kelahiran
hidup, sehingga didapatkan Angka Kematian Balita (AKBa) Puskesmas Dawe
sebesar 0 per 1.000 kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan target MDGs
yang menetapkan bahwa AKBa tahun 2015 dibawah 32 per 1.000 KH, maka
AKBa UPT Puskesmas Dawe telah mencapai target.
|9

1.2
1 1 1 1 1
1

0.8
kematian balita
0.6

0.4

0.2
0 0
0
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Gambar 3.3. Grafik jumlah kematian balita UPT Puskesmas Dawe periode
2014-2020 (Sumber: Upaya KIA)

B. Status Gizi Bayi dan Balita


Perkembangan keadaan gizi masyarakat dapat dipantau melalui hasil
pencatatan dan pelaporan program perbaikan gizi masyarakat yang tercermin
dalam hasil penimbangan bayi dan balita setiap bulan di posyandu.
Untuk kasus bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada tahun
2020 yaitu sebanyak 32 bayi (3,5%) yang terdiri dari 17 bayi laki-laki dan 15 bayi
perempuan. Upaya masyarakat untuk memantau pertumbuhan dan
perkembangan bayi salah satunya dengan penimbangan bayi dan balita di
Posyandu. Jumlah Balita yang datang dan ditimbang (D) di Posyandu dari seluruh
balita yang ada yaitu sejumlah 2.073 balita (80%) dengan rincian jumlah balita
yang naik berat badannya sebanyak 2.812 anak (86,0%) dan Bawah Garis Merah
(BGM) sebanyak 12 anak (0,6%).
| 10

KASUS
2.5

1.5
KASUS

0.5

0
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Gambar 3.4. Jumlah balita gizi buruk UPT Puskesmas Dawe periode 2014-2020
(Sumber: Upaya Gizi)
Jika dilihat dari grafik diatas terlihat adanya peningkatan jumlah balita
dengan status gizi buruk yaitu 0 kasus di tahun 2020.
Gizi buruk terjadi bukan hanya karena permasalahan-permasalahan
kurangnya konsumsi gizi dan atau ada infeksi atau penyakit. Kurang konsumsi gizi
di sebabkan karena sosial ekonomi yang kurang dan pengetahuan tentang gizi
yang masih minim. Sedangkan penyebab infeksi karena lingkungan yang kurang
sehat.

Gambar 3.5. Grafik status gizi balita UPT Puskesmas Dawe tahun 2020
(Sumber: Upaya Gizi)
| 11

Jumlah tersebut semua mendapat perawatan (100%) yang meliputi


pemeriksaan gizi buruk secara komprehensif, program ini merupakan upaya
perbaikan status gizi pada balita gizi buruk yang telah di pusatkan di UPT
Puskesmas Dawe. Pada penanganan gizi buruk dilakukan bersama dengan lintas
sektoral, lintas program, organisasi profesi dan LSM.

C. Morbiditas/Kesakitan
Morbiditas adalah angka kesakitan, dapat berupa angka insidensi maupun
angka prevalensi dari suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan kejadian
penyakit dalam suatu populasi dan pada kurun waktu tertentu. Morbiditas juga
berperan dalam penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat di suatu
wilayah.
1. 10 besar penyakit Puskesmas Dawe
Populasi data pasien rawat jalan dan rawat inap menggambarkan
bagaimana pola kunjungan pasien selama kurun waktu 2020. Berikut ini kami
sajikan gambaran 10 besar kunjungan pasien di UPT Puskesmas Dawe.

Tabel 3.1. 10 besar penyakit UPT Puskesmas Dawe Tahun 2020


No Diagnosa Penyakit Kode Jumlah
ICD X
1 Headache R15 32,976
2 Myalgia M79.1 6,504
3 Cough R05 5,856
4 Fever,unspecifiied R50.9 3,624
5 Acute nasopharyngitis (common cold) J00 2,652
6 Atopic dermatitis, unspecified L20.9 2,304
7 Gastritis, unspecified K29.7 1,812
8 Suvervision of normal pregnancy, unspecified Z34.9 492
9 Ucate upper respiratory infection, unspecified J06.9 324
10 Diarrhoea and gastroenteritis of presumed A09 288
infectious origin
Sumber: SIMPUS
Dari tabel diatas terlihat bahwa kunjungan tertinggi adalah penyakit
faringitis (R15). Selanjutnya berturut-turut diikuti oleh penyakit Myalgia, batuk
dan flu, Panas tanpa sebab.
2. Penyakit Menular
a. Tuberculosis
| 12

1) Cakupan penderita
Cakupan CDR tuberculosis UPT Puskesmas Dawe dalam kurun
waktu 3 tahun terakhir terus mengalami penurunan cakupan. Namun
demikian cakupan 5 tahun terakhir belum mencapai target yang
ditetapkan. Berikut ini adalah grafik cakupan CDR tuberculosis UPT
Puskesmas Dawe periode 2014-2020.
60

50

40

30 Target
BTA +
20

10

0
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Gambar 3.6. Grafik target dan jumlah kasus TB BTA (+) UPT Puskesmas
Dawe periode 2014-2020 (Sumber: Upaya P2P)
Namun demikian terjadi penurunan temuan TB BTA (+) hal ini
dikarenakan adanya inovasi program Warga Peduli TB (Gardu-TB), yaitu
program dengan melibatkan warga dan adanya pemeriksaan Tes Cepat
Molekuler (TCM) bagi suspek. Masih rendahnya cakupan dikarenakan
masih kurang mendalamnya anamnesa pada penderita suspek. Selain itu,
faktor sulitnya penderita mengeluarkan sputum juga member kontribusi
dalam rendahnya capaian tersebut.
| 13

Gambar 3.7. Persentase pasien TB BTA (+) UPT Puskesmas Dawe


berdasarkan jenis kelamin (Sumber: Upaya P2P)

Jika dilihat dari karakteristik jenis kelamin, jumlah kasus BTA (+)
terbanyak yang ditemukan adalah perempuan yaitu sebesar 63%,
sedangkan sisanya sebanyak 37% adalah penderita laki-laki.
500
450
400
350
300
250 BTA +
SUSPEK
200
150
100
50
0
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Gambar 3.8. Capaian Suspek TB UPT Puskesmas Dawe periode 2014-


2020
(Sumber: Upaya P2P)
Cakupan suspek yang diperoleh tahun 2020 mengalami kenaikan
dibanding tahun 2019.

2) Angka kesembuhan
Angka kesembuhan pasien TB BTA (+) UPT Puskesmas Dawe
tahun 2020 sudah mencapai target nasional, yaitu 85%. Pencapaian
angka kesembuhan pasien TB BTA (+) pada tahun 2020 sebesar 90%.
| 14

Angka Kesembuhan
120%

100%

80%

60%

40%

20%

0%
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Gambar 3.9. Grafik angka kesembuhan pasien TB BTA (+) UPT


Puskesmas Dawe periode 2014-2020 (Sumber: Upaya P2P)
b. HIV/AIDS
Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dulu dinyatakan
sebagai HIV positif. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat
diketahui melalui 3 metode, yaitu pada layanan Voluntary, Counseling, and
Testing (VCT), sero survey, dan Survei Terpadu Biologis dan Perilaku
(STBP).
3.5
PENDERITA HIV
3

2.5

1.5

0.5

0
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Gambar 3.10. Grafik penderita HIV UPT Puskesmas Dawe periode 2014-
2020 (Sumber: Upaya P2P)
Dari grafik diatas terlihat bahwa jumlah penderita HIV pada tahun 2020
sama dengan tahun 2019, hal ini dikarenakan tidak adanya penderita baru
yang ditemukan.
| 15

3. Pneumonia

2500

2000

1500

1000 Target
Temuan
500

0 Temuan
1 2 3 4 5 6 7

Gambar 3.11. Grafik target dan temuan penderita pneumonia pada balita UPT
Puskesmas Dawe periode 2014-2020 (Sumber: Upaya P2P)

Dari grafik diatas terlihat bahwa capaian temuan penderita pneumonia


balita pada tahun 2020 mendekati target yang ditetapkan. Hal ini karena sudah
maksimalnya penerapan MTBS/MTBM di UPT Puskesmas Dawe dan
Puskesmas Pembantu.

4. Kusta

PB
MB
JUMLAH

0
1 2 3 4 5 6 7

Gambar 3.12. Grafik temuan penderita kusta UPT Puskesmas Dawe periode
2014-2020 (Sumber: Upaya P2P)
Berdasarkan grafik di atas penemuan kasus di UPT Puskesmas Dawe
tahun 2020 berjumlah 0 kasus, sama dibandingkan dengan tahun 2019
sebanyak 0 kasus. sedangkan kasus kusta tipe PB tidak ditemukan pada tahun
2020.
5. Diare
| 16

Dari table di bawah terlihat bahwa selama perioe 2014-2020 capaian


temuan penderita diare tidak pernah tercapai. Selanjutnya pada tahun 2020,
penemuan kasus diare sangat jauh dibandingkan dengan jumlah perkiraan
kasus. Hal ini terjadi karena adanya metode perhitungan perkiraan baru yang
diterapkan mulai tahun 2018.

perkiraan
ditemukan
kematian

1 2 3 4 5 6 7

Gambar 3.13. Grafik perkiraan, penemuan dan kematian penderita diare BLUD
UPT Puskesmas Dawe periode 2014-2020 (Sumber: Upaya P2P)
D. Penyakit PD3I
Untuk tahun 2020, tidak ada (Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi) yang ditemukan di UPT Puskesmas Dawe.
16
14
12
10
8
Column1
6
4
2
0
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Gambar 3.14.Grafik kasus campak klinis UPT Puskesmas Dawe periode 2014-
2020 (Sumber: Upaya P2P)

Dari grafik diatas terlihat bahwa jumlah kasus campak periode 2014-2020
bersifat fluktuatif. Temuan kasus campak klinis tertinggi yaitu pada tahun 2014.

E. Penyakit Bersumber Binatang


a. Malaria
| 17

Kasus malaria yang ditemukan di UPT Puskesmas Dawe periode 2014-


2020 hanya ditemukan pada tahun 2014 (1 kasus) sedangkan untuk tahun
2017, tidak ditemukan kasus. Kasus malaria yang ditemukan merupakan kasus
import (bawaan) dari daerah endemis malaria seperti Kalimantan, Papua dan
sebagainya.
Penemuan penderita malaria diwilayah UPT Puskesmas Dawe
menggunakan indicator Annual Paracite Incidence (API) atau angka parasit
malaria per 1.000 penduduk. Pada tahun 2020, angka API UPT Puskesmas
Dawe adalah sama dengan tahun 2019. Capaian API 0 per 1.000 penduduk
sudah dicapai dalam kurun waktu 3 tahun berturut-turut (2015-2017).

Kasus Malaria
2500
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
2000
1500 Kasus
Meninggal
1000
500
10 00 00 00 00 00 00
0
1 2 3 4 5 6 7

Gambar 3.15. Grafik kasus malaria dan kematian UPT Puskesmas Dawe
periode 2014-2020 (Sumber: Upaya P2P)

b. Demam berdarah
| 18

KASUS DBD
2500

2000

1500 Kasus
Meninggal
1000

500

0
1 2 3 4 5 6 7

Gambar 3.16.Grafik kasus DBD dan kematian UPT Puskesmas Dawe periode
2014-2020 (Sumber: Upaya P2P)
Dari grafik terlihat bahwa kasus DBD Puskesmas Dawe tahun 2020
sebanyak 61 kasus dengan kematian 1 kasus.
| 19

SITUASI UPAYA KESEHATAN BAB


IV
DI UPT PUSKESMAS DAWE

Secara umum upaya kesehatan terdiri dari atas dua unsur utama, yaitu upaya
kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan. Upaya kesehatan
masyarakat adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau
masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta
mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat. Upaya
kesehatan masyarakat mencakup upaya-upaya promosi kesehatan, kesehatan
lingkungan, pencegahan dan pemberantasan penyakit, perbaikan gizi masyarakat,
kesehatan ibu dan anak serta kegiatan UKM pengembangan.
Upaya kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh
pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan
kesehatan perorangan. Upaya kesehatan perorangan mencakup upaya-upaya
pencegahan penyakit, pengobatan rawat jalan, pengobatan rawat inap, pembatasan
dan pemulihan kecacatan yang ditujukan terhadap perorangan.
Berikut ini diuraikan upaya kesehatan yang dilakukan selama beberapa tahun
terakhir, pada tahun 2020.
A. Pelayanan Kesehatan Dasar
1. Pelayanan KIA
a. Pelayanan antenatal care
Cakupan pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan
kunjungan baru ibu hamil K1 untuk melihat akses dan pelayanan kesehatan
ibu hamil sesuai standar, yaitu paling sedikit empat kali (K4) dengan
distribusi sekali pada triwulan pertama, sekali pada triwulan kedua dan dua
kali pada triwulan ketiga.
Cakupan K1 sebagai indikator akses pelayanan antenatal pertama
pada ibu hamil di suatu wilayah, sedangkan cakupan K4 digunakan untuk
mengetahui cakupan pelayanan antenatal secara lengkap (memenuhi
standar pelayanan dan menepati waktu yang ditetapkan) yang
menggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil dan keberlangsungan
program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
| 20

Pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan pada ibu hamil yang
berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan atau antenatal care (ANC)
meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, pengukuran
tinggi fundus uteri, pemeriksaan kehamilannya, pemberian tablet besi,
pemberian imunisasi Td, pemeriksaan Hb, konsultasi, dan pemeriksaan lain
sesuai dengan keadaan ibu hamil.
Cakupan kunjungan ibu hamil K4 UPT Puskesmas Dawe pada tahun
2020 adalah 100,1% (1291 kunjungan) mengalami kenaikan sebesar 6,18%
dibanding dengan tahun 2016 yaitu 97,0% (784 kunjungan bumil). Angka
tersebut sudah mencapai target SPM tahun 2017 yaitu 95%. Faktor
pendukung dalam hal ini antara lain oleh karena meningkatnya kesadaran
ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya ke sarana pelayanan
kesehatandan adanya dukungan peningkatan kualitas pelayanan ANC oleh
petugas kesehatan khususnya gasurkes.
b. Pelayanan kesehatan ibu bersalin
Upaya untuk menurunkan Angka Kematian Bayi dan Ibu Maternal,
salah satunya melalui persalinan yang sehat dan aman, yaitu persalinan
yang ditolong oleh tenaga kesehatan (dokter spesialis kebidanan, dokter,
bidan).
Jumlah persalinan dengan pertolongan tenaga kesehatan di UPT
Puskesmas Dawe pada tahun 2020 adalah 1209 (98,2%). Angka ini sama
jika dibandingkan tahun 2016 yaitu sebanyak 748(100%). Angka ini sudah
melampaui target SPM tahun 2017 (100%). Disamping itu jumlah Rumah
Sakit dan Rumah Bersalin di Kabupaten Kudus yang telah mencukupi juga
mendukung capaian tersebut.
Dengan indikator ini dapat diperkirakan proporsi persalinan yang
ditangani oleh tenaga kesehatan dan juga menggambarkan kemampuan
manajemen KIA dalam pertolongan KIA sesuai standar. Gambaran
pencapaian persalinan oleh tenaga kesehatan di UPT Puskesmas Dawe
dalam jangka waktu 5 (lima) tahun berturut-turut dapat dilihat pada gambar
berikut.
| 21

DATA PERSALIANAN
2500

2000

1500

1000

500

0
1 2 3 4 5 6 7

Gambar 4.1. Grafik persalinan ditolong tenaga kesehatan UPT Puskesmas


Dawe periode 2014-2020 (Sumber: Upaya KIA)

c. Pelayanan kesehatan ibu nifas


Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan
pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan pemeriksaan nifas
minimal sebanyak 3 kali dengan ketentuan waktu :
1) Kunjungan pertama (KF1) : 6 jam – 3 hari setelah persalinan
2) Kunjungan kedua (KF2) : 8 - 14 hari setelah persalinan
3) Kunjungan ketiga (KF3) : 30 - 42 hari setelah persalinan

Gambar 4.2. Grafik kunjungan pertama (KF1) ibu nifas UPT Puskesmas
Dawe periode 2014-2020 (Sumber: Upaya KIA)
| 22

Pada gambar 4.2 menunjukkan bahwa cakupan KF1 mengalami


kenaikan sejak tahun 2014 sampai dengan tahun 2020 sudah di atas target
(90%). Hal ini menunjukkan semakin meningkatnya pengetahuan
masyarakat akan pentingnya melakukan pemeriksaan pada masa nifas.
Selain itu, adanya peningkatan cakupan KF dikarenakan adanya kunjungan
petugas Puskesmas dengan menggunakan dana BOK dan pendampingan
ibu hamil dan kader kesehatan.
d. Pelayanan komplikasi maternal
Kehamilan dapat memungkinkan seorang ibu mengalami komplikasi
selama masa kehamilannya. Yang dimaksud dengan komplikasi kebidanan
adalah kesakitan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas yang dapat
mengancam jiwa ibu dan/atau bayi dalam kandungan. Komplikasi kehamilan
yang sering dialami oleh ibu hamil antara lain pre eklamsia dan eklamsia,
penyakit kronis, dan jenis komplikasi yang lain. Disamping itu, ibu hamil
memiliki kondisi yang dapat berisiko memperberat kehamilannya, misalnya
usia ibu terlalu tua (>35 tahun), usia ibu terlalu muda (< 20 tahun), jarak
kehamilan terlalu dekat (< 2 tahun), terlalu sering melahirkan (jumlah anak >
3), Kurang Energi Kronis (KEK), anemia, dan lain-lain. Target sasaran ibu
hamil risiko tinggi adalah 20% dari ibu hamil yang ada di masyarakat. Pada
tahun 2018 jumlah kasus komplikasi yang ditangani sebesar 245 kasus atau
95% dari total kasus komplikasi kebidanan. Adapun jumlah total ibu hamil
adalah 1290 orang.
e. Pelayanan neonatal komplikasi
Neonatal komplikasi adalah bayi baru lahir dengan penyakit dan
kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan, kecacatan, dan kematian.
Neonatus dengan komplikasi seperti asfiksia, ikterus, hipotermia, tetanus
neonatorum, infeksi/sepsis, trauma lahir, BBLR (berat badan lahir rendah
<2500 gr), sindroma gangguan pernafasan, kelainan kongenital, dan lain-
lain. Pada tahun 2018 jumlah neonatal risti yang ditangani sesuai dengan
standar oleh tenaga kesehatan terlatih di seluruh sarana pelayanan
kesehatan sebesar 93 kasus atau 86,9% dari kasus neonatal risti. Jumlah ini
mengalami kenaikan dari tahun 2015 yaitu jumlah neonatal risti yang
ditangani sebesar 96 kasus atau 88,1% dari total perkiraan 109 neonatal risti.
| 23

f. Kunjungan neonatal
Neonatus adalah bayi usia 0 – 28 hari, dimana usia ini masuk dalam
kategori usia rawan, sehingga perlu dilakukan pemantauan secara intensif,
Cakupan Kunjungan Neonatus dipantau dari cakupan Kunjungan Neonatus 1
(KN1), Kunjungan Neonatus 2 (KN2) dan Kunjungan Neonatus 3 (KN3).
Cakupan kunjungan neonatus (KN 1) UPT Puskesmas Dawe tahun
2020 adalah 1.204 atau (100%) dari bayi lahir hidup, hal ini sama dengan
capaian pada tahun 2019 yaitu 842 atau (100%) dari bayi lahir hidup.
Sedangkang KN3 tahun 2020 adalah 1.204 (99.08%), mengalami kenaikan
yang sedikit dibanding tahun 2019 yaitu sebesar 828 (98%).

2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

KN1
KN2

80%
70% 86%
80% 90%
85% 95%
93% 100% 100%
95% 99%
0%

1 2 3 4 5 6 7

Gambar 4.3. Grafik KN1 dan KN3 (lengkap) UPT Puskesmas Dawe periode
2014-2020 (Sumber: Upaya KIA)
Capaian cakupan KN Lengkap Tahun 2020 sebesar 99,83% sudah
mencapai target di tingkat Kabupaten Kudus 100% maupun target Provinsi
Jawa Tengah yaitu sebesar 100%. Hal ini bisa dikarenakan data laporan dari
BPM dan RS sudah terlaporkan secara akurat melalui gasurkes.
Usaha dalam upaya untuk selalu meningkatkan kesadaran masyarakat
akan kesehatan neonatus harus terus digalakkan, antara lain peningkatan
pelayanan kesehatan terutama kesehatan anak (neonatus, bayi, balita) di
Puskesmas, dan adanya pemeriksaan kunjungan ke rumah oleh tenaga
kesehatan bagi neonatus yang tidak dapat berkunjung ke puskesmas serta
sistem pencatatan dan pelaporan (PWS KIA) yang baik.
g. Pelayanan kesehatan bayi
Dalam rangka menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) maka
diperlukan pemantauan secara intensif oleh petugas kesehatan sebanyak 4
| 24

kali, yatu : 1 kali pada umur 29 hari – 2 bulan, 1 kali pada umur 3 – 5 bulan, 1
kali pada umur 6 – 8 bulan, dan 1 kali pada umur 9 – 11 bulan.
Cakupan Kunjungan Bayi di UPT Puskesmas Dawe tahun 2020 adalah
sebesar 1.161 kunjungan (96,91%) dari 1.198 bayi yang ada. Dibandingkan
tahun 2017, dengan 710 kunjungan atau 95,4 % dari 744 bayi yang ada,
artinya jumlah ini mengalami penurunan yang sangat signifikan yaitu sebesar
11,6%, dan capaian ini berada dibawah target Renstra Kabupaten Kudus
yaitu 94%.
h. Cakupan kesehatan balita
Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) anak balita dan pra sekolah
adalah anak umur 1 – 6 tahun yang dideteksi dini tumbuh kembang sesuai
dengan standar oleh tenaga kesehatan, paling sedikit 8 kali. Pelayanan
DDTK anak balita dan prasekolah meliputi kegiatan deteksi dini masalah
kesehatan anak menggunakan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS),
monitoring pertumbuhan menggunakan Buku KIA/KMS dan pemantauan
perkembangan (motorik kasar, motorik halus, bahasa dan sosialisasi dan
kemandirian), penanganan penyakit sesuai MTBS, penanganan masalah
pertumbuhan, stimulasi perkembangan anak balita dan prasekolah,
pelayanan rujukan ke tingkat yang lebih mampu.
Cakupan Pelayanan kesehatan Anak Balita di UPT Puskesmas Dawe
sudah mencapai target. Seperti terlihat gambar dibawah ini.

1 2 3 4 5 6 7

Gambar 4.4 Grafik kunjungan balita minimal 8 kali di UPT Puskesmas Dawe
periode 2014-2020 (Sumber: Upaya KIA)

Hasil pelayanan kesehatan balita minimal 8 kali di peroleh cakupan


tahun 2020 adalah 4.689 atau (96,91%).
| 25

Adapun jumlah balita yang ditimbang bulan ini dikurangi dengan jumlah
balita yang dilaporkan(D) adalah 2.591. Dari angka tersebut sebanyak 2.073
(80,0%) balita dengan BB naik. Sedangkan yang mengalami BGM adalah 12
(0,6%).
i. Pelayanan kesehatan siswa SD
Pelayanan kesehatan pada siswa SD kelas 1 & sederajat yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas diperoleh hasil
sebanyak 1.034 murid SD atau 96,3% dari 1..074 murid SD keseluruhan.
Dari capaian ini dapat disimpulkan bahwa pelayanan kesehatan pada siswa
SD kelas 1 belum optimal.

2. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)


Sebagai upaya mengendalikan jumlah kelahiran dan mewujudkan
keluarga kecil yang sehat dan sejahtera, pemerintah melakukan konsep
pengaturan jarak kelahiran atau pembatasan kelahiran dengan program
Keluarga Berencana (KB).
a. Pasangan usia subur (PUS)
Pada tahun 2020, jumlah PUS yang berhasil didata oleh UPT
Puskesmas Dawe sebanyak 11.399, angka ini mengalami peningkatan jika
dibandingkan dengan tahun 2019, yaitu sebanyak 11.365. Yang menjadi
peserta KB baru sebanyak 1.157 orang (10,15%) dengan jumlah peserta KB
aktif yang dibina sebesar 9.161 orang (80,37%).

b. Peserta KB baru
Dari 1.157 peserta KB Baru, secara rinci mix kontrasepsi yang
digunakan adalah sebagai berikut.
| 26

Gambar 4.5. Persentase penggunaan metode KB pada peserta KB baru di


UPT Puskesmas Dawe (Sumber: Upaya KIA)

c. Peserta KB Aktif
Hasil pembinaan peserta KB Aktif selama tahun 2020 sebesar 9.161
dengan mix kontrasepsi sebagai berikut.

Gambar 4.6. Persentase penggunaan metode KB pada peserta KB aktif di


UPT Puskesmas Dawe (Sumber: Upaya KIA)

Gambar 4.6 menunjukkan bahwa selama tahun 2020, suntik masih


menjadi metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh masyarakat
UPT Puskesmas Dawe karena sifatnya yang praktis dan juga cepat dalam
| 27

mendapatkan pelayanannya. Apabila dibandingkan dengan data tahun 2017,


kontrasepsi suntik juga masih menduduki peringkat teratas, sedangkan
kontrasepsi pria merupakan yang paling sedikit digunakan yaitu MOP. Hal ini
disebabkan banyak suami masih menganggap bahwa istri saja yang
mempunyai kewajiban untuk menggunakan kontrasepsi sebagai upaya
pengaturan kelahiran.
Angka cakupan peserta KB aktif pada tahun 2020 sebesar 80,37%,
angka ini mengalami penurunan dari tahun 2019 yaitu sebesar 92,7% dan
hal ini sudah melebihi SPM Kabupaten Kudus yaitu 70%. Hal ini
menunjukkan kesadaran masyarakat khususnya pasangan usia subur dalam
menggunakan KB sudah baik.
d. Pelayanan imunisasi
Untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan bayi
serta anak balita perlu dilaksanakan program imunisasi untuk penyakit-
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti penyakit TBC,
Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, Polio dan campak. Idealnya bayi harus
mendapat imunisasi dasar lengkap terdiri dari BCG 1 kali, DPT 3 kali, Polio 4
kali, HB 4 kali, Hib 3 kali dan campak 1 kali. Untuk menilai kelengkapan
imunisasi dasar bagi bayi, biasanya dilihat dari cakupan imunisasi DPT-HB-
Hib3, Polio 4 dan Campak 80%.
Dengan sasaran bayi sejumlah 1.198 anak, cakupan bayi yang
diimunisasi DPT-HB-Hib3 pada tahun 2020 sebesar 1.191 (99,92%)
mengalami kenaikan jika dibanding tahun 2019 sebesar 1.043 (89%).
Cakupan imunisasi campak sebesar 1.192 (99,50%) bertambah dari tahun
2019 yaitu 1.150 (98%).
Program imunisasi dapat berjalan secara efektif dan memberikan
dampak penurunan kejadian penyakit apabila kelengkapan imunisasi telah
terlaksana dan mutu pelayanan imunisasi diterapkan sesuai standar,
terutama dalam penanganan cool chain. Strategi operasional pencapaian
cakupan tinggi dan merata dapat dilihat dari pencapaian Universal Child
Immunization (UCI) desa/kelurahan. Tahun 2020 jumlah desa yang sudah
mencapai UCI dengan kriteria cakupan DPT-HB-Hib3, polio dan Campak
100%, sebanyak 9 desa (100%) dari 9 desa yang ada.
Selain pada bayi, imunisasi juga dilakukan pada ibu yaitu imunisasi TT.
Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil sebanyak 5 dosis dengan interval
| 28

tertentu (yang dimulai saat dan atau sebelum kehamilan) yang berguna bagi
kekebalan seumur hidup. Cakupan ibu hamil tahun 2020 sejumlah 1.347,
hasil imunisasi TT 4 ibu hamil pada tahun 2020 sebesar 871 (64,7%), dan
TT5 sebesar 422 (31,3%). Sedangkan ibu hamil yang telah mempunyai
status imunisasi TT2 sampai dengan TT5 (TT 2+) pada tahun 2020 sebesar
1.293 (96,0%). Cakupan imunisasi TT 2+ pada ibu hamil sudah diatas target
yang diinginkan yaitu 80%.

B. Pelayanan Kesehatan Rujukan


1. Kunjungan pelayanan kesehatan
Cakupan kunjungan pelayanan kesehatan oleh penduduk dapat
diperoleh dari data kunjungan di sarana pelayanan kesehatan baik
kunjungan rawat jalan dan rawat inap. Pada tahun 2020 total kunjungan
pasien rawat jalan di puskesmas mencapai 16.703 kunjungan. Jumlah ini
menurun dibandingkan dengan kunjungan rawat jalan pada tahun 2019 , hal
ini dikarenakan masa pandemic covid-19. Untuk kunjungan rawat inap
mencapai 705, hal ini menunjukan bahwa UKM di UPT puskesmas Dawe
sudah berjalan baik, paradigma sehat sudah mulai tampak.
2. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut
Kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang dilaksanakan di
sarana pelayanan kesehatan pada tahun 2020 meliputi pelayanan tumpatan
gigi tetap sejumlah 43 kasus, pencabutan gigi tetap 29 kasus, dengan rasio
untuk tumpatan/pencabutan sebesar 1,5.
Berdasarkan data yang ada, upaya pelayanan UKGS di sekolah dasar,
telah dilaksanakan pemeriksaan kesehatan gigi terhadap 5.457 siswa
(100%), dari total 5.457 anak SD/MI. Dari jumlah tersebut terdapat 3.852
siswa perlu perawatan dan yang telah mendapatkan perawatan sebanyak
2.525 siswa (65,6%). Berkaitan dengan kegiatan sikat gigi massal, diperoleh
hasil sejumlah 49 SD/MI (100%) telah melakukan kegiatan tersebut.
Berdasarkan data yang ada kesehatan gigi dan mulut masih belum
menjadi alasan penting masyarakat untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan. Selain itu pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan gigi
dan mulut masih belum terlaksana dengan baik sehingga sering terjadi
keterlambatan dalam pelaporannya. Untuk itu perlu adanya peningkatan
pelayanan kesehatan gigi mulut khususnya pada upaya kesehatan secara
| 29

promotif dan preventif, peningkatan kemampuan tenaga kesehatan serta


peningkatan kualitas pencatatan dan pelaporan yang ada.

C. Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat


Sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 dan
regulasi yang ada, pelaksanaan Jaminan Kesehatan secara nasional didasarkan
pada beberapa dasar hukum yang ada. Program Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN) dan sejak 1 Januari 2014 program tersebut telah diselenggarakan oleh
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
yang diselenggarakan dengan menggunakkan mekanisme asuransi kesehatan
sosial yang bersifat wajib (Maandatory). Program Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN) dilaksanakan dengan prinsip kegotongroyongan, nirlaba, keterbukaan,
kehati hatian, akuntabilitas, portabilitas, bersifat wajib, dana amanat dan hasil
pengelolaan dana jaminan sosial dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan
program dan sebesar besarnya untuk kepentingan peserta.
Jumlah peserta BPJS Kesehatan yang terdaftar di UPT Puskesmas Dawe
pada akhir tahun mencapai 12.833. Dari 12.833 peserta terdaftar terbagi menjadi
peserta penerima bayar iur (PBI) yang dibiayai oleh negara dan peserta non
penerima bayar iur (Non PBI) yang membayar sendiri. Berikut adalah
perbandingan peserta BPJS Kesehatan berdasarkan cara iur.

Gambar 4.7. Persentase peserta BPJS Kesehatan yang terdaftar di UPT


Puskesmas Dawe tahun 2020 berdasarkan cara iur (Sumber: Pcare)
| 30

Kabupaten Kudus merupakan salah satu daerah otonomi di Provinsi Jawa


Tengah yang telah mengembangkan sistem jaminan sosial bagi masyarakatnya.
Sistem jaminan kesehatan di Kabupaten Kudus dikenal dengan nama Pelayanan
Kesehatan Gratis di seluruh puskesmas kabupaten kudus dan pelayanan kelas III
di Rumah sakit Pemerintah. Sistem Jaminan Kesehatan Masyarakat Kabupaten
Kudus yang dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Kudus bertujuan untuk
memfasilitasi masyarakat miskin Kabupaten Kudus yang tidak masuk ke dalam
kepesertaan Jamkesmas untuk memperoleh pelayanan gratis.
Pemanfaatan (utility) pelayanan kesehatan Jamkesmas oleh warga miskin di
UPT Puskesmas Dawe tahun 2020 sebanyak 18.231 orang mendapat pelayanan
di Puskesmas Dawe.Sedangkan warga miskin yang mendapat pelayanan di
tingkat 2 (rujukan) sebanyak 494 orang.

D. Perbaikan Gizi Masyarakat


1. Pemberian Tablet Tambah Darah Pada Ibu Hamil (Fe)
Pemberian tablet Fe pada ibu hamil merupakan upaya penanggulangan
anemia gizi besi yang diberikan pada trimester I sampai dengan trimester III
yang meliputi Fe 30 tablet, Fe 90 tablet. Cakupan ibu hamil mendapat tablet Fe
30 dan Fe 90 di UPT Puskesmas Dawe tahun 2014 - 2020 dapat dilihat pada
gambar di bawah ini.

Gambar 4.8. Persentase cakupanpemberian Fe30 dan Fe90 pada ibu hamil di
UPT Puskesmas Dawe periode 2014-2020 (Sumber: Upaya Gizi)
| 31

Cakupan pemberian Fe30 pada ibu hamil di tahun 2020 sebesar 101,94%
mengalami penurunan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2019 (110%),
dan sedah mencapai target Renstra Kabupaten Kudus (96%). Cakupan
pemberian Fe90 pada ibu hamil di tahun 2020 sebesar 100% menunjukan
kenaikan dari tahun 2019 dan sudah mencapai target Renstra Kabupaten
Kudus (96%).
Tingginya capaian ini disebabkan karena sasaran bumil yang ditetapkan di
awal tahun lebih rendah dibandingkan dengan capaian di akhir tahun. Ibu hamil
yang memeriksakan kehamilan di luar Puskesmas sudah terlaporkan dengan
tertibnya pengiriman laporan ke Puskesmas dari Bidan Praktik Mandiri, RS,
RSB, RSIA ke Puskesmas. Keadaan ini bisa menjadi salah satu faktor
penyebab terjadinya anemia pada ibu hamil dan berdampak terhadap berat
badan bayi lahir rendah, perdarahan dan menjadi penyebab tidak langsung
kematian ibu.
2. Pemberian kapsul vitamin A
Salah satu upaya program penanggulangan kekurangan vitamin A adalah
pemberian suplementasi vitamin A dosis tinggi (200.000 SI) pada ibu nifas.
Dosis yang diberikan sebanyak 2 kapsul. Pencapaian pemberian vitamin A ibu
nifas di UPT Puskesmas Dawe tahun 2020 sebesar 97% dari 1.200 ibu nifas,
capaian ini berbeda dengan capaian tahun 2019 yaitu sebesar 100% dari 846
orang ibu nifas. Angka ini sudah memenuhi target Renstra Kabupaten Kudus
(90%).
Berdasarkan data yang dilaporkan oleh Puskesmas diperoleh bahwa
cakupan pemberian vitamin A pada bayi umur 6-11 bulan sebesar 100% dari
482 bayi yang ada. Sedangkan cakupan pemberian vitamin A yang diberikan 2
kali kepada anak balita (1-4 tahun) sebesar 100% dari 3.595 sasaran anak
balita yang ada.
3. Pemberian ASI ekslusif
Pemberian ASI sangat perlu diberikan secara ekslusif sampai umur 6
(enam) bulan dan dapat dilanjutkan sampai anak berumur 2 (dua) tahun. ASI
(Air Susu Ibu) merupakan salah satu makanan yang sempurna dan terbaik bagi
bayi karena mengandung unsur-unsur gizi yang dibutuhkan oleh bayi untuk
pertumbuhan dan perkembangan bayi guna mencapai pertumbuhan dan
perkembangan bayi yang optimal. Walaupun demikian masih terdapatkendala
dalam pemantauan pemberian ASI Ekslusif karena belum ada sistem yang
| 32

dapat diandalkan. Selama ini pemantauan tingkat pencapaian ASI Ekslusif


dilakukan melalui laporan puskesmas yang diperoleh dari hasil wawancara
pada waktu kunjungan bayi di Puskesmas.
Berdasarkan hasil laporan UPT Puskesmas Dawe tahun 2020, pemberian
ASI Ekslusif pada bayi umur 0-6 bulan sejumlah 206 bayi atau 60,1% dari 343
sasaran bayi. Pemberian ASI Eksklusif pada bayi 0-6 bulan di Puskesmas
Dawe belum mencapai target Renstra Kabupaten Kudus (55%). Sedangkan bila
dibandingkan dengan pencapaian tahun 2019 terjadi penurunan dalam jumlah
bayi 0-6 bulan yang diberi ASI eksklusif yaitu sebesar 70,1% bayi (460). Hal ini
disebabkan karena adanya komitmen petugas kesehatan untuk membantu ibu
yang mengalami kesulitan dalam menyusui, ada peningkatan pengetahuan ibu
tentang manfaat menyusui dan cara menyusui yang tepat dan dukungan dari
keluarga.
Pencapaian dalam program ASI Ekslusif ini harus mendapatkan perhatian
khusus dan memerlukan pemikiran dalam mencari upaya-upaya terobosan
serta tindakan nyata yang harus dilakukan oleh provider di bidang kesehatan
dan semua komponen masyarakat dalam rangka penyampaian informasi
maupun sosialisasi guna meningkatkan pengetahuan dan kesadaran
masyarakat.

4. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut (Usila)


Pelayanan kesehatan usila yang dimaksudkan adalah penduduk usia 60
tahun ke atas yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar oleh
tenaga kesehatan baik di Puskesmas maupun di Posyandu Kelompok Usia
Lanjut (Poksila). Cakupan kegiatan pelayanan kesehatan Usila di Puskesmas
Dawe pada tahun 2020 sebesar 100% atau sejumlah 4.265 orang sudah
mendapat pelayanan dari 4.265 usila yang ada. Angka ini mengalami kenaikan
dari tahun 2019 yaitu sebesar 67,8% atau 1.275 usila dari 1.880 usila yang ada.
Penurunan ini disebabkan karena turunnya kunjungan lansia di puskesmas
maupun di posyandu lansia.
5. Pelayanan kesehatan jiwa
Selain menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara umum, sarana
kesehatan yang ada juga memberikan pelayanan terhadap kesehatan jiwa.
Berdasarkan data yang berhasil didapat, pelayanan kesehatan jiwa pada UPT
Puskesmas Dawe pada tahun 2020 yang diwakili dengan jumlah kunjungan
| 33

gangguan jiwa menunjukkan 61 kunjungan pasien. Namun demikian angka ini


merupakan angka gabungan dari orang dengan gangguan jiwa ringan dan dan
orang memiliki resiko gangguan jiwa yang mendapatkan pelayanan di UPT
Puskesmas Dawe.

E. Keadaan Kesehatan Lingkungan


Lingkungan merupakan salah satu variabel yang perlu mendapat perhatian
khusus dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat. Bersama dengan faktor
perilaku, pelayanan kesehatan dan genetik, lingkungan mempengaruhi derajat
kesehatan masyarakat. Untuk menggambarkan keadaan lingkungan, akan
disajikan indikator -indikator seperti: akses terhadap air bersih dan air minum
berkualitas dan akses terhadap sanitasi layak.
1. Sarana air bersih dan akses air minum berkualitas
a. Penduduk dengan akses berkelanjutan dengan air layak
Air adalah salah satu sumber kehidupan, dan setiap manusia
memerlukan air bersih Oleh karena itu air bersih harus selalu tersedia
dalam jumlah yang cukup dan memenuhi syarat kesehatan (syarat fisik,
kimiawi, dan bakteriologi). Tahun 2020 jumlah penduduk yang memiliki
akses air minum sebesar 95%. Adapun cakupan prosentase air bersih
menurut jenis sarananya adalah sebagai berikut.

Gambar 4.9. Persentase penduduk pengguna sumber air minum


berkualitas di UPT Puskesmas Dawe tahun 2020
berdasarkan sumber airyang memenuhi syarat
(Sumber: Upaya Kesling)
Dari data yang ada, suplai air bersih rumah tangga terbesar di
Puskesmas Dawe berasal dari jalur perpipaan 67%, diikuti oleh sumur bor
pompa15%.
| 34

Upaya peningkatan kualitas air bersih akan meningkat apabila diikuti


upaya perbaikan sanitasi (sarana pembuangan kotoran manusia, sampah,
air limbah). Selain itu adanya peran serta dan kesadaran sektor swasta
penyedia air bersih yang meningkat berkenaan dengan kualitas air bersih.
b. Kualitas Air Minum di Penyelenggara Air Minum
Tahun 2020 jumlah sampel yang diperiksa dari penyelenggara air
minum adalah 5 buah (100%) dari 5 penyelenggara air minum. Dari data
tersebut yang memenuhi syarat fisik, bakteriologi, dan kimia sejumlah 5 unit
(100%).
2. Sarana dan akses terhadap sanitasi dasar
a. Rumah sehat
Rumah adalah kebutuhan dasar manusia, dan lingkungan yang sehat
dapat berawal dari rumah yang sehat. Rumah tidak hanya sebatas tempat
berteduh semata, rumah juga salah satu pembentuk karakter individu untuk
berperilaku sehat. Di UPT Puskesmas Dawe pada tahun 2020, jumlah
rumah yang dibina memenuhi syarat adalah 100% dari 1.074 rumah dibina,
dari jumlah tersebut diperoleh jumlah rumah yang sehat adalah 100%.
b. Keluarga dengan jamban sehat
Jamban Sehat adalah salah satu syarat rumah sehat. Pengelolaan
sebuah jamban yang memenuhi syarat kesehatan diperlukan sebagai
upaya untuk mencegah terjadinya penularan penyakit. Berdasarkan laporan
puskesmas, Jumlah penduduk dengan akses sanitasi layak sejumlah 5.384
atau 96,7%, dengan masing-masing pengguna sanitasi yang memenuhi
syarat sebagai berikut: jamban komunal 2,09%, Jamban leher angsa 97,9%
dan jamban plengsengan sebesar 0,01%.
Selain itu di wilayah kerja UPT Puskesmas Dawe dari 9 desa yang ada
seluruhnya (100%) sudah menjalankan STBM.
c. Tempat – Tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan (TTU dan
TUPM)
Pengawasan sanitasi tempat umum bertujuan untuk mewujudkan
kondisi tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan agar masyarakat
pengunjung terhindar dari kemungkinan bahaya penularan penyakit serta
tidak menjadi sarang vektor penyakit yang dapat menimbulkan
menyebabkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat di sekitarnya.
Tempat-tempat umum merupakan tempat kegiatan bagi umum yang
| 35

disediakan oleh badan – badan pemerintah, swasta atau perorangan yang


langsung digunakan oleh masyarakat yang mempunyai tempat dan
kegiatan tetap, memiliki fasilitas sanitasi (jamban, tempat pembuangan
sampah dan limbah) untuk kebersihan dan kesehatan di lingkungan.
Tempat-tempat umum yang sehat berpengaruh cukup besar di masyarakat
karena masyarakat menggunakan fasilitas umum tersebut untuk berbagai
kepentingan.
Pengawasan sanitasi tempat umum meliputi sarana pendidikan,
sarana kesehatan, hotel, dan tempat umum lain dilakukan sejumlah 58 TTU
(100%) dari 55 TTU yang ada. Adapun yang memenuhi syarat kesehatan
dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 4.10. Persentase TTU yang memenuhi syarat di UPT Puskesmas


Dawe tahun 2020 (Sumber: Upaya Kesling)

Sedangkan pengawasan tempat pengelolaan makanan meliputi Jasa


boga, rumah makan/restoran, depot air minum, dan makanan jajanan. TPM
yang memenuhi syarat higiene sanitasi sejumlah 93 (93%) dari 100 TPM
yang diperiksa dari 188 TPM yang ada, dengan komposisi sebagai berikut.
| 36

15%

28%

Jasa Boga
Rumah makan/restoran
22% DAM
Jajanan

35%

Gambar 4.11. Persentase TPM yang memenuhi syarat di UPT Puskesmas


Dawe tahun 2020 (Sumber: Upaya Kesling)
F. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT
1. Rumah Tangga Ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Perilaku masyarakat adalah faktor penyebab utama permasalahan
kesehatan, sehingga masyarakat sendiri yang dapat menyelesaikan
masalahnya dengan pendampingan/bimbingan pemerintah. Keterbatasan
sumberdaya pemerintah dalam mengatasi permasalahan kesehatan semakin
kompleks sedangkan masyarakat mempunyai potensi cukup besar untuk
dimobilisasi dalam upaya pencegahan di wilayahnya.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku
yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang
menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang
kesehatan dan berperan-aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya.
Upaya pencegahan lebih efektif dan efisien dibanding upaya pengobatan,
masyarakat mempunyai kemampuan melakukan upaya pencegahan apabila
melalui upaya pemberdayaan masyarakat terutama untuk ber-perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS).
Jumlah rumah tangga yang dilakukan survei PHBS tatanan rumah tangga
tahun 2018 dilakukan pada 3.886 rumah tangga dan yang memenuhi syarat
PHBS adalah sebanyak 3.886 atau sebesar 100%.
2. Posyandu Purnama dan Mandiri
Posyandu memiliki peran yang sangat penting dalam sistem
penyelenggaraan pelayanan kebutuhan dasar dalam rangka meningkatkan
kualitas sumber daya manusia secara dini serta merupakan lini terdepan dari
| 37

deteksi dini di bidang kesehatan yang dilakukan oleh masyarakat. Agar


posyandu dapat melakukan fungsi dasarnya, dimana posyandu mempunyai
daya ungkit yang sangat besar terhadap penurunan Angka Kematian Bayi,
Angka Kematian Balita dan Angka Kematian Ibu, maka perlu adanya upaya
untuk memantau dan mendorong tingkat perkembangan posyandu.
Jumlah posyandu di UPT Puskesmas Dawe tahun 2020 tidak mengalami
perubahan, pada tahun 2019 jumlah posyandu tercatat 52 buah dengan
posyandu aktif sejumlah 52 buah.

Gambar 4.12. Persentase posyandu di UPT Puskesmas Dawe tahun 2020


berdasarkan strata posyandu (Sumber: Upaya Promkes)
| 38

SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN BAB


V
DI UPT PUSKESMAS DAWE

Sumber daya kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung dalam


penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas, yang diharapkan dapat
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pada bab ini, sumber daya kesehatan
diulas dengan menyajikan gambaran keadaan sarana kesehatan, tenaga kesehatan,
perbekalan kesehatan dan pembiayaan kesehatan.
A. SARANA KESEHATAN
Untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat
perlu didukung oleh adanya sarana kesehatan yang memadai dan memiliki
kualitas pelayanan yang baik. Sarana kesehatan dasar yang ada di UPT
Puskesmas Dawe pada tahun 2020 terdiri dari:
Tabel 5.1. Sarana kesehatan yang ada di wilayah Puskesmas Dawe
No Nama Jumlah
1 Puskesmas Perawatan (IGD&PONED) 1
2 Puskesmas pembantu 3
3 Dokter umum praktek perorangan 6
4 Dokter spesialis praktek perorangan 0
5 Bidan praktek mandiri 9
6 Apotek 2

Desa Siaga, merupakan desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber


daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-
masalah kesehatan secara mandiri. Sebuah desa dikatakan menjadi desa siaga
apabila desa tersebut telah memiliki minimal sebuah Pos Kesehatan Desa
(Poskesdes). Jumlah desa siaga yang ada di UPT Puskesmas Dawe tahun 2020
sebanyak 9 Desa, artinya semua desa di UPT Puskesmas Dawe telah menjadi
desa siaga.

B. Sumber Daya Puskesmas


1. Lokasi
UPT Puskesmas Dawe didirikan di lokasi datar, tidak berbahaya, yaitu: tidak
di tepi lereng, tidak dekat kaki gunung yang rawan terhadap tanah longsor, tidak
dekat anak sungai, sungai atau badan air yang dapat mengikis pondasi, tidak di
| 39

atas atau dekat dengan jalur patahan aktif, tidak di daerah rawan tsunami, tidak di
daerah rawan banjir, tidak dalam zona topan, tidak di daerah rawan badai, dan
lain-lain.
Untuk jalur transportasi UPT Puskesmas Dawe didirikan di lokasi yang
mudah dijangkau oleh masyarakat dan dapat diakses dengan mudah
menggunakan transportasi umum. Tersedia jalur untuk pejalan kaki walaupun
jalur-jalur yang aksesibel untuk penyandang disabilitas belum tersedia
sepenuhnya dengan kontur tanah yang baik dan fasilitas parkir yang memadai
dengan pagar keliling untuk keamanan aset puskesmas, dengan tersedianya
utilitas publik (PAM, Llistrik, telfon, IPAL).
UPT Puskesmas Dawe juga tidak didirikan di area sekitar Saluran Udara
Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).
2. Denah Puskesmas Dawe
UPT Puskesmas Daw selain puskesmas rawat jalan juga merupakan
puskesmas rawat inap, IGD 24 jam, dan puskesmas PONED dimana semua
ruang sudah memenuhi permenkes No. 43 tahun 2019 tentang puskesmas.

DENAH
| 40

UPT
PUSKESMAS RUANG RUANG RU
RUANG
KLINIK RUANG

DAWE GIGI KLINIK SANITASI


KESMAS
AN
G
PENDAFTA
RAN
IGD
UMUM GIZI SA
NIT UGD
RUANG
U KLINIK IBU & KB

P R. APOTEK RUANG
RUANG
KONSULTASI O
TBMBS PONED
S J
R. TU

R.ADMIN R. TB
RUANG
ADMINISTRASI
RUANG
DAP OBAT
UR

KM
R. RAPAT
KM
R. KEPALA MUS
HOLA
RUANG RUANG
RUANG
RUANG
RUANG
INAP INAP
NIFAS
PERISTI
BERSALIN

RUMAH RUANG
APOTEK

DINAS

GENSET
IPAL
KM

RUANG
RUANG
LABORATORIUM
ANAK

ARSIPKM
Gambar 5.1. Denah ruangan UPT Puskesmas Dawe

UPT Puskesmas Dawe selain puskesmas rawat jalan juga merupakan


puskesmas rawat inap, IGD 24 jam, dan puskesmas PONED dimana semua
ruang sudah memenuhi permenkes 43 tahun 2019 tentang puskesmas.

3. Ketenagaan
| 41

Berikut ini jumlah tenaga kesehatan yang ada di UPT Puskesmas Dawe
berdasarkan analisa beban kerja.
Tabel 3.2. Kondisi SDM UPT Puskesmas Dawe Tahun 2020 berdasarkan
analisa beban kerja
N JENIS SDM Jumlah Sesuai Kekuran Usul
O Tenaga ABK gan/ Forma
yang ada Kebutuh si
an
1 Kepala Puskesmas 1 1 0 0
2 Ka. Sub. Bag Tata 1 1 0 0
Usaha
JFT :
1 Dokter spesialis 0 0 0 0
2 Dokter Umum 4 4 1 1
3 Dokter gigi 1 1 0 0
4 Perawat 18 14 0 0
5 Perawat Gigi 1 1 0 0
6 Bidan 25 14 0 0
7 Apoteker 1 0 0 0
8 Ass Apoteker 2 2 0 0
9 Epidemiologis 1 1 0 0
Kesehatan
10 Entomologis 0 0 0 0
Kesehatan
11 Penyuluh Kesehatan 2 2 0 0
12 Sanitarian 0 1 0 0
13 Nutrisionis 1 2 0 0
14 Analis Kesehatan 2 1 0 0
(Pranata Labkes)
15 Perekam Medis 0 1 1 1
JFU :
1 Pengadministrasi 2 2 0 0
umum
2 Pengemudi 2 3 0 0
3 Petugas Keamanan 0 3 3 3
4 Petugas Loket 0 4 4 4
5 Bendahara 0 1 1 1
6 Pengadministrasi 1 1 0 0
Kepegawaian
7 Pengelola ruang 1 2 2 2
masak/
Penyelenggara
Makanan
8 Pengelola Sampah 0 1 1 1
9 Petugas Kebersihan 4 4 0 0
JUMLAH 85 67 14 20
| 42

Sedangkan berdasarkan standar Permenkes No. 43 tahun 2019 untuk


puskesmas kawasan perKabupatenan rawat inap diperoleh hasil analisa
sebagai berikut.
Tabel 3.3. Kondisi SDM Puskesmas Dawe Tahun 2020 berdasarkan
Permenkes No. 43 tahun 2019
N JENIS SDM STAND SDM KURA LEBIH
O AR YG NG
ADA
1 Tenaga Kesehatan 2 2 - -
Masyarakat
2 Dokter Umum/Fungsional 2 3 - -
3 Dokter gigi 1 1 - -
4 Bidan 7 25 - -
5 Perawat 8 18 - -
6 Tenaga Kesehatan 1 1 - -
Lingkungan
7 Ahli Teknologi laboratorium 1 2 - -
medik
8 Tenaga Gizi 2 2 - -
9 Tenaga Kefarmasian 2 3 - -
10 Tenaga Administrasi 3 5 - -
11 Pekarya 2 0 - -
12 Perawat Gigi 0 1 - -
13 Pengemudi 0 2 - -
14 Penjaga malam 0 0 - -
15 Petugas Kebersihan 0 4 - -
16 Petugas masak/ pramusaji 0 0 - -
TOTAL 31 69 - -

Dari kedua tabel diatas dapat diambil kesimpulan bahwa UPT


Puskesmas Dawe yang merupakan puskesmas rawat inap kawasan
perKabupatenan masih memiliki kekurangan dan kelebihan tenaga di formasi
tertentu.

C. Ketersediaan Obat
Berdasarkan data ketersediaan obat pada tahun 2020 di UPT
Puskesmas Dawe Kabupaten Kudus bahwa jumlah jenis obat yang dibutuhkan
oleh puskesmas rata-rata 227 item, sedangkan jenis obat yang tersedia di
puskesmas rata-rata 232 item. Jika dibandingkan antara kebutuhan obat dengan
persediaan yang ada diperoleh ketersediaan obat secara keseluruhan sebesar
102,2%, berarti secara umum kebutuhan obat di puskesmas Dawe telah
terpenuhi (tersedia).
| 43

D. Pembiayaan Kesehatan
Kebutuhan operasional puskesmas ditunjang dari berbagai sumber
danayaitu: APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah), BOK (Bantuan
Operasional Kesehatan), dan BLU (Badan Layanan Umum). Mulai tahun 2014-
2020 jumlah dana dari ketiga sumber diatas mengalami kenaikan. Hal ini
dilakukan semata-mata karena komitmen pemerintah dalam bidang kesehatan
untuk memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi masyarakat
Kabupaten Kudus.
| 44

KESIMPULAN BAB
VI

Berbagai upaya yang telah dilaksanakan dalam pembangunan kesehatan,


antara lain upaya peningkatan dan perbaikan terhadap derajat kesehatan
masyarakat, upaya pelayanan kesehatan, sarana kesehatan dan sumber daya
kesehatan. Hasil-hasil kegiatan pembangunan kesehatan di semua wilayah kerja
UPT Puskesmas Dawe yang tersebar di 9 desa selama periode 1 (satu) tahun
tergambar dalam Profil Kesehatan Puskesmas Dawe tahun 2020.
Secara umum upaya-upaya yang telah dilakukan dalam pembangunan
kesehatan telah menunjukkan hasil yang cukup baik, namun masih ada beberapa
program kesehatan yang belum mencapai hasil yang optimal. Keberhasilan maupun
kekurangan dalam pencapaian upaya-upaya pembangunan kesehatan di UPT
Puskesmas Dawe selama tahun 2020 adalah sebagai berikut :
1. Jumlah kematian Ibu maternal, berdasarkan laporan upaya KIA pada tahun
2020 sebanyak 0 kasus dari 1.204 jumlah kelahiran hidup atau sekitar 0 per
100.000 KH.
2. Jumlah Kematian Bayi, berdasarkan hasil laporan upaya KIA yang terjadi di
UPTPuskesmas Dawe Tahun 2020 sebanyak 3 dari 1.204 kelahiran hidup,
sehingga didapatkan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 1,70 per 1.000 KH.
3. Jumlah Kematian Balita di UPT Puskesmas Dawe Tahun 2020 sebanyak 1
kasus dari 1.204 kelahiran hidup, sehingga didapatkan Angka Kematian Balita
(AKBa) Puskesmas Dawe sebesar 1,70 per 1.000 kelahiran hidup.
4. Jumlah kasus bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) tahun 2020
sebesar 32 bayi (3,5%).
5. Jumlah Balita dengan status bawah garis merah (BGM) di UPT Puskesmas
Dawe sebanyak 8 anak (0,6%) dari 2.073 balita yang datang dan ditimbang (D) di
posyandu.
6. Jumlah kasus gizi buruk balita yang ditemukan tahun 2020 di UPT Puskesmas
Dawe sejumlah 0 kasus.
7. Jumlah penderita TB Paru yang ditemukan tahun 2020 dengan status supek
sebesar 53 orang, penderita BTA (+) sebesar 10 orang. Angka kesembuhan tahun
2020 sebesar 100%.
8. Jumlah kasus HIV yang ditemukan tahun 2020 sebesar 0 orang, sedangkan yang
meninggal adalah 0 orang.
| 45

9. Jumlah kasus pneumonia balita tahun 2020 adalah 0 anak dan seluruhnya
mendapat penanganan.
10. Jumlah Posyandu tahun 2020 sebanyak 52 buah, dengan strata posyandu
purnama 12 (16,9%), posyandu purnama 21 (29,6%) dan posyandu mandiri 38
(53,5%).
11. Total alokasi anggaran kesehatan UPT Puskesmas Dawe pada tahun 2020
sebesar Rp 8.512.464.000
| 46

PENUTUP BAB
VII

Demikian profil kesehatan UPT Puskesmas Dawe ini kami buat dalam
rangka memantau dan mengevaluasi pencapaian program yang telah
dilaksanakan UPT Puskesmas Dawe selama tahun 2020.
Dengan tersusunnya profil kesehatan ini dapat bermanfaat sebagai
masukan. Maka akhirnya diharapkan adanya peningkatkan derajat kesehatan
dan mutu pelayanan kesehatan untuk dapat mewujudkan kesehatan keluarga,
masyarakat dan bangsa secara merata dan optimal.
Semoga profil kesehatan ini dapat bermanfaat sebagai masukan dalam
upaya meningkatkan peran serta masyarakat demi meningkatnya derajat
kesehatan masyarakat khususnya di UPT Puskesmas Dawe.

KEPALA UPT PUSKESMAS DAWE

SARDI, SKM
NIP. 19640319 198612 1 001
| 47
| 48

Anda mungkin juga menyukai