Anda di halaman 1dari 13

Evidace Based Terkait Asuhan Pranikah dan Prakonsepsi

MAKALAH

Dosen : Dwi Rahmawati, S.ST, M.Keb

Penyusun :

Titha Aza Radita 193001070009


Sepia Rani Putri 193001070010

PRODI KEBIDANAN

FAKULTAS KESEHATAN DAN FARMASI

UNIVERSITAS ADIWANGSA JAMBI

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatnya
sehingga makalah tentang “Makalah Evidace based terkait asuhan pranikah
dan prakonsepsi” dapat tersusun hingga selesai. Penulis bersyukur kepada Allah
yang telah memberikan hidayahnya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan
makalah ini.

Harapan penulis semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman. Penulis masih


banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu penulis sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Jambi, 29 Juli 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I.......................................................................................................................1
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................................1
C. Tujuan Penulisan..........................................................................................2
D. Manfaat Penulisan........................................................................................2
BAB II.....................................................................................................................3
A. Definisi Evidence Based .............................................................................3
B. Pranikah.......................................................................................................3
C. Evidence Based Terkait Masa Pranikah............................................................4
D. Prakonsepsi..................................................................................................4
E. Evidence Based Terkait Masa Prakonsepsi.......................................................5
BAB III....................................................................................................................7
A. Kesimpulan..................................................................................................7
B. Saran.............................................................................................................7
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................8

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

(IBI) Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan Bidan yang
diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah Negara Republik Indonesia
serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan atau
secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan.

Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, tidak
hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan
ini mencakup pendidikan antenatal dan persiapan menjadi orang tua serta dapat
meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi
dan asuhan anak.
Bidan dapat praktik diberbagai tatanan pelayanan: termasuk di rumah,
masyarakat, Rumah Sakit, klinik atau unit kesehatan lainnya.

Wanita usia subur (WUS) didefinisikan oleh Kementerian Kesehatan RI sebagai


wanita yang berada dalam periode umur antara 15-49 tahun tanpa
memperhitungkan status perkawinannya. Jumlah WUS di Indonesia pada tahun
2010 sebanyak 66.326.200 jiwa. Jumlah WUS rata-rata mencapai sepertiga bagian
dari total populasi suatu daerah (Keputusan)

B. Rumusan masalah
1. Apa definisi evidance based practice ?
2. Apa definisi dari masa pranikah
3. Bagaimana evidance based terkait pada masa pranikah ?
4. Apa definisi dari masa prakonsepsi ?
5. Bagaimana evidance based terkait pada masa prakonsepsi ?

1
C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui definisi evidance based practice

2. Mengetahui dan memahami definisi dari masa pranikah

3. Memahami mengenai evidance based terkait pada masa pranikah

4. Mengetahui dan memahami definisi dari masa prakonsepsi

5. Memahami mengenai evidance based pada masa prakonsepsi

D. Manfaat penulisan

Menambah skill literasi dan menelaah jurnal

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Evidence Based

Evidence Based Midwifery (Practice) didirikan oleh Royal College of Midwives


atau RCM dalam rangka untuk membantu mengembangkan kuat profesional dan
ilmiah dasar untuk pertumbuhan tubuh bidan berorientasi akademis. EBM secara
resmi diluncurkan sebagai sebuah jurnal mandiri untuk penelitian murni bukti
pada konferensi tahunan di RCM Harrogate, Inggris pada tahun 2003 (Hemmings
et al, 2003). Dirancang untuk membantu bidan dalam mendorong maju yang
terikat pengetahuan kebidanan dengan tujuan utama meningkatkan perawatan
untuk ibu dan bayi (Silverton, 2003).

Evidencebased practice merupakan kerangka kerja praktik klinik yang dilakukan


berdasarkan bukti ilmiah terbaik yang didapat melalui penelitian, pengalaman
klinik perawat serta pilihan pasien dalam menentukan keputusan klinik dalam
pelayanan kesehatan (Carlson, 2010). Dimana tujuan dari penerapan evidence-
based practice ini adalah untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien.

B. Pranikah

Pra nikah tersusun dari dua kata yaitu “pra” dan “nikah”, kata “pra” sebagaimana
yang tercantum di dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia” ialah sebuah awalan
yang memiliki makna “sebelum” (Kbbi 1998).

Sedangkan kata “nikah” diartikan di dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia”


ialah sebagai sebuah ikatan atau perjanjian (akad) perkawinan antara seorang laki-
laki dan seorang perempuan yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan hokum
Negara dan agama.

Berdasarkan pengertian diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pendidikan


pra nikah merupakan sebuah proses atau upaya untuk memberikan perubahan atau
transformasi pengetahuan, nilai-nilai serta keterampilan yang lebih baik mengenai

3
pernikahan, sebelum pernikahan itu sendiri dilakukan terhadap calon mempelai.
Pendidikan pra nikah ini penting untuk dipelajari bagi setiap orang guna
membekali diri agar mampu menjalani kehidupan pernikahan dengan langgeng
(Dyah 2018).

Begitu juga dalam konteks konseling pranikah yang bisa di lakukan, Konseling
pranikah membantu Anda dan pasangan mengembangkan keterampilan untuk
berkompromi dan bekerja sama secara efektif dalam pernikahan nantinya. Hal ini
akan mendorong kalian untuk lebih memahami dan menerima perbedaan satu
sama lain (Rahmawati 2021).

C. Evidence Based terkait masa pranikah

(Ramadhanti 2019) Dalam menlaksanakan profesinya bidan memiliki peran


sebagai pelaksana,

pengelola, pendidik, dan peniliti, sebagai peran dan fungsi sebagai pelaksana

memberi pelayanan dasar pranikah pada anak remaja dan dengan melibatkan

mereka sebagai klien, mencakup:

a. Mengkaji status kesehatan dan kebutuhan anak remaja dan wanita dalam masa

pranikah.

b. Menentukan diagnosis dan kebutuhan pelayanan dasar.

c. Menyusun rencana tindakan/layanan sebagai prioritas mendasar bersama klien.

d. Melaksanakan tindakan/layanan sesuai dengan rencana.

e. Mengevaluasi hasil tindakan/layanan yang telah diberikan bersama klien.

f. Membuat rencana tindak lanjut tindakan/layanan bersama klien.

g. Membuat pencatatan dan pelaporan asuhan kebidanan.

D. Prakonsepsi

4
Masa prakonsepsi merupakan masa sebelum hamil,
wanita prakonsepsi diasumsikan sebagai wanita dewasa atau wanita usia subur
yang siap menjadi seorang ibu, dimana kebutuhan gizi pada masa ini berbeda
dengan masa anak-anak, remaja, ataupun lanjut usia (Zulfahani 2020).

Wanita usia subur sebagai calon ibu merupakan kelompok rawan yang harus
diperhatikan status kesehatannya, terutama status gizinya. Kualitas seorang
generasi penerus akan ditentukan oleh kondisi ibunya sejak sebelum hamil dan
selama kehamilan. Masa pranikah dapat dikaitkan dengan masa prakonsepsi,
karena setelah menikah wanita akan segera menjalani proses konsepsi. Kesehatan
prakonsepsi menjadi sangat penting untuk diperhatikan termasuk status gizinya,
terutama dalam upaya mempersiapkan kehamilan karena akan berkaitan erat
dengan outcome kehamilan (Paratmanitya dkk. 2012).

E. Evidence Based Terkait Prakonsepsi

Masalah kesehatan merupakan masalah yang kompleks, oleh karena itu perlu
diupayakan secara menyeluruh dan bersama-sama dengan masyarakat untuk
mengatasinya. Dalam pelaksanaannya, pelayanan kesehatan diupayakan dekat
dengan masyarakat, sehingga strategi pelayanan kesehatan yang utama merupakan
pendekatan yang juga menjadi acuan pelayanan kesehatan yang akan diberikan
(Karwati, 2011). Salah satu masalah kesehatan yang masih menjadi perhatian bagi
pemerintah adalah kematian ibu dan bayi. Angka kematian ibu dan bayi baru lahir
berdasarkan laporan evaluasi Millenium Development Goals tahun 2015 masih
tercatat sebesar 305/100.000 kelahiran hidup, padahal target yang dicanangkan
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) adalah 102 per 100.000 kelahiran (Achadi,
2019). Upaya menurunkan kematian ibu dan bayi tidak hanya dilakukan dengan
upaya kuratif dan rehabilitatif, tetapi juga melalui upaya preventif dan promotif
yang dapat menjadi tombak untuk menghilangkan penyebab kematian ibu dan
bayi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi faktor risiko
sebelum dimulainya kehamilan (pra konsepsi) sehingga asuhan yang tepat dapat
disiapkan sesuai kondisi ibu. Dalam kajian asuhan kebidanan, kesehatan pranikah
merupakan bagian dari asuhan prakonsepsi. Asuhan prakonsepsi memiliki banyak
keuntungan dan variasi, diantaranya memungkinkan identifikasi penyakit medis,

5
pengkajian kesiapan psikologis, keuangan dan pencapaian tujuan hidup (Varney
dalam Kriebs&Gegor, 2012). Penelitian Dean et al. (2013), mengemukakan
bahwa topik-topik penting yang disarankan dalam perawatan prakonsepsi meliputi
pendidikan kesehatan paada wanita dan pasangannya (health promotion),
identifikasi faktor risiko (risk assessment) dan asuhan sesuai dengan faktor risiko
(interventions) pada wanita dan pasangannya untuk mengurangi faktor risiko yang
dapat mempengaruhi kehamilannya pada masa yang akan datang. Asuhan
prakonsepsi adalah program yang dicanangkan oleh World Health Organisation
(WHO) pada tahun 2012 di Geneva yang bertujuan untuk menurunkan angka
kematian ibu, bayi dan kecacatan. Program ini dilaksanakan oleh semua negara di
dunia. Utamanya negara berpenghasilan rendaah dan menengah yang biasa
disebut Low and Middle Income Country (LMICs) salah satunya Indonesia.
Negara yang telah berhasil melaksanakan program ini adalah Italia, Belanda,
Amerika Serikat untuk negara maju dan Bangladesh, Filiphina, Sri Lanka untuk
negara berpenghasilan menengah rendah (WHO, 2013) Asuhan prakonsepsi
memiliki potensi untuk memberikan dampak positif bagi 208 juta kehamilan di
seluruh dunia setiap tahun (Dean et al., 2013). Asuhan prakonsepsi berguna untuk
mengidentifikasi hal-hal yang berkaitan dengan masalah kesehatan, kebiasaan
gaya hidup, atau masalah sosial yang kurang baik yang memungkinkan
mempengaruhi kehamilan (Dean et al., 2013). Adapun sasaran program asuhan
prakonsepsi adalah pasangan pengantin. Masa sebelum konsepsi bagi pasangan
pengantin sangat penting untuk diperhatikan dalam rangka mempersiapkan
kehamilan yang sehat. Menurut Kemenkes RI (2014), pelayanan kesehatan masa
sebelum hamil dilakukan untuk mempersiapkan perempuan dalam menjalani
kehamilan dan persalinan yang sehat dan selamat serta memperoleh bayi yang
sehat. Asuhan prakonsepsi merupakan bagian dari upaya preventif dan promotif
yang menjadi tombak untuk menghilangkan penyebab kematian ibu dan anak.
Faktor risiko yang mempengaruhi kehamilan seseorang dapat dikurangi dengan
cara mengidentifikasi faktor risiko tersebut sebelum dimulainya kehamilan.
Sehingga pelayanan kesehatan pada calon pengantin yang komprehensif
merupakan momentum yang tepat untuk mengawali pencegahan kehamilan
berisiko.

6
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Evidence based secara langsung bertujuan untuk mengatasi permasalahan


berkaitan dengan ibu di Indonesia.

B. Saran

(Puskesmas Manyaran 2019) Premarital check-up atau pemeriksaan kesehatan


pranikah dapat mengenali/ mendeteksi kondisi, risiko, maupun riwayat masalah
kesehatan yang dimiliki pasangan, sehingga tidak menularkan pada pasangannya
dan atau menurunkan pada anaknya. Hasil yang diharapkan adalah dapat
melakukan  upaya pencegahan dan penanganan sedini mungkin.

Melakukan premarital check up bukan berarti calon pengantin dicurigai


berpenyakit. Sebagai bentuk antisipasi saja, terutama jika ke depannya ingin
langsung memiliki keturunan. Pasalnya, faktor kesehatan akan sangat
mempengaruhi reproduksi kedua belah pihak, baik itu dari sisi perempuan
ataupun pria. Lingkungan yang semakin tercemar, makanan dan pola hidup yang
tidak sehat menjadi penyebab semakin banyak bermunculan penyakit. Maka dari
itu, setiap pasangan yang hendak menikah, dianjurkan untuk melakukan tes
kesehatan pranikah, khususnya kaum perempuan.

7
Daftar Pustaka

Achadi, Endang L. 2019. Materi Rakernas : Kematian Maternal dan Neonatal di


Indonesia. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesiahttp://www.depkes.go.id/resources/download/info-
terkini/rakerkesnas2019/SESI 1/Kelompok 1/1-Kematian-Maternal-dan-
Neonatal-diIndonesia.pdf diakses pada tanggal 8 Oktober 2019 pukul
20.00 WIB

Carlson, E. A. (2010). Evidence-Based Practice for Nurses: Appraisal and


Application of Research. Orthopaedic Nursing, 29(4), 283–284

Dean S, Imam A, Lassi Z, Bhutta Z. 2013. Importance of intervening in the


preconception period to impact pregnancy outcomes. Nestle Nutr Inst
Workshop Ser, vol 47,pp 63-73.

Dean S, Rudan I, Althabe F, Webb Girard A, Howson C, Langer A, et al. 2013.


Setting Research Priorities for Preconception Care in Low- and
MiddleIncome Countries: Aiming to Reduce Maternal and Child Mortality
and Morbidity. PLoS Med 10(9): e1001508.
https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1001508.

Definisi Bidan. https://ibi.or.id/id/article_view/a20150112004/definisi.html

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Balai


Pustaka, 1998), hlm. 44-55.

DYAH, AYU SRI HANDAYANI (2018) PERAN PENDIDIKAN PRA NIKAH


DALAM MEMBANGUN KESIAPAN MENIKAH DAN MEMBENTUK
KELUARGA SAKINAH (Studi Kasus Di Lembaga Klinik Nikah “KLIK”

8
Cabang Ponorogo). Thesis (S2) thesis, Universitas Muhammadiyah
Ponorogo.

Karwati, Pujiati D & Mujiwati S. 2011. Asuhan Kebidanan V (Kebidanan


Komunitas). Jakarta: Trans Info Media.

Kemenkes RI, 2014. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 97 Tahun 2014


Tentang Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil,
Persalinan, Dan Masa Sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan
Kontrasepsi, Serta Pelayanan Kesehatan Seksual. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.

Keputusan Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Nomor


HK.03.01/VI/432/2010 tentang Data Sasaran Program Kementerian
Kesehatan Tahun 2010.

Kriebs JM., Gegor CL. 2012. Asuhan Kebidanan Varney, Edisi 2. Jakarta: EGC.

Paratmanitya, Yhona dkk. 2012. “Citra tubuh, asupan makan, dan status gizi
wanita usia subur pranikah”. Jurnal Gizi. . (Online).
(file:///C:/Users/LENOVO/Downloads/18208-36380-1-SM.pdf, diunduh
pada tanggal 29 Juli 2021).

Puskesmas Manyaran. 2019. Semarang.


(https://semarangkota.go.id/p/965/pemeriksaan_kesehatan_pra_nikah_bagi
_pasangan_calon_pengantin , diunduh pada tanggal 29 Juli 2021).

Rahmawati, Dina. 2021. “Pentingnya Konseling Pranikah bagi Calon Pengantin”


Artikel Kesehatan . (Online). (https://www.sehatq.com/artikel/pentingnya-
konseling-pranikah-bagi-calon-pengantin , diunduh pada tanggal 29 Juli
2021).

Ramadhanti, Deliani. 2019. “Evidence Based Terkait Asuhan Remaja, Pranikah,


dan Prakonsepsi”. Makalah. SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
JENDERAL ACHMAD YANI.

9
Silverstone, P. H., & Salsali, M. (2003). Low self-esteem and psychiatric patients:
Part I – The relationship between low self-esteem and psychiatric
diagnosis. Annals of General Hospital Psychiatry, 2 (1), hlm. 1475-2832.

WHO. 2013. Meeting to Develop A Global Consensus On preconeption Care To


Reduce Maternal And Childhood Mortality And Mordibity. Geneva:
World Health Organization.

Zulfahani. 2020. “Perilaku Ibu Prakonsepsi untuk Kehamilan yang Sehat


Berdasarkan Budaya Melayu di Puskesmas Pagurawan Kec. Medang
Deras”. Skripsi. Medan: Universitas Sumatra Utara.

10