Anda di halaman 1dari 7

c c c


   c  
 
 
  
     

A. Latar Belakang
Anak adalah individu yang mempunyai eksistensi yang mewakili jiwa sendiri, serta mempunyai
hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan iramanya masing-masing yang
khas. Mereka adalah individu yang utuh, yang bukan sekedar miniatur dari orang dewasa.
Mereka hidup dalam dunianya yang indah, yaitu dunia bermain (Wahyudi, 2003)
Pada umumnya anak yang sudah agak besar jika dirawat di rumah sakit akan timbul rasa takut
baik pada dokter maupun perawat, apalagi jika anak telah mempunyai pengalaman mendapatkan
imunisasi. Dalam bayangannya, perawat atau dokter akan menyakiti dan menyuntik. Selain itu
anak juga merasa terganggu hubungannya dengan orang tua atau saudaranya. Lingkungan di
rumah tentu berbeda bentuk dan suasananya dengan alat-alat yang ada diruang perawatan.
Apalagi jika di ruangan tersebut ada pasien yang payah dan mendapat infus atau O2 (kecuali bila
pasien datang dalam keadan payah). Reaksi pertama selain ketakutan juga pasien kurang nafsu
makan bahkan anak yang masih kecil menangis, tidak mau minum atau makanan yang diberikan.
Untuk menghadapi pasien seperti yang telah diutarakan ialah sifat kekeluargaan dan ramah.
(Ngastiyah, 2005)
Anak menunjukkan reaksi terhadap sakit dan dirawat di rumah sakit sebagai akibat perpisahan
dengan tingkah laku protes, putus asa, dan menolak. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan
usia, pengalaman sebelumnya terhadap sakit dan dirawat di rumah sakit, support sistem yang
tersedia serta katerampilan koping (Riasmini, 1992).
Bila anak harus dirawat di rumah sakit dan selama itu tidak boleh berhubungan denagn orang
tuanya, maka mungkin ia akan merasa bahwa ia telah ditolak sama sekali. Anak yang merasa
ditolak sewaktu dirawat di rumah sakit cenderung bereaksi dengan cara yang menunjukkan
adanya gangguan emosi waktu akhirnya ia kembali pada orang tuanya. Anak-anak pada
umumnya agak bereaksi negatif waktu pulang (Mc. Ghie, 1996).
Keluarga bertanggung jawab terhadap status kesehatan anggota keluarganya, dimana peran
seluruh anggota keluarga akan mempengaruhi setiap aspek perawatan kesehatan anggota
keluarga secara individu. Menurut Friedman (1992), salah satu tugas keluarga dibidang
kesehatan adalah memelihara kesehatan anggota keluarganya dan memberi perawatan serta
dukungan kepada anggota keluarga yang sakit dan tidak dapat membantu dirinya sendiri karena
cacat atau usia yang terlalu muda. Dukungan tersebut dapat berupa dukungan moril seperti
perhatian, kasih sayang, rasa aman, dan dukungan materil berupa usaha keluarga untuk
memenuhi kebutuhan anggota keluarganya (Bahson, 1987, dikutip dari Friedman, 1992).
Hospitalisasi atau dirawat di rumah sakit merupakan kejadian yang dapat menimbulkan
kecemasan baik bagi anak maupun orang tuanya. Idealnya, anak sakit seharusnya dirawat
dirumah dengan keluarganya. Namun kadang±kadang keluarga tidak dapat melakukannya karena
hambatan lingkungan, sosial dan pekerjaan atau karena keadaan anak cukup parah sehingga
butuh perawatan di rumah sakit. Orang tua seringkali merasa gagal dalam merawat anaknya
bilamana anak membutuhkan perawatan di rumah sakit, dan kadang±kadang mengalami
kecemasan jika anaknya dirawat dirumah sakit (Lewer, 1996)
Sakit dan hospitalisasi menimbulkan krisis pada kehidupan anak. Di rumah sakit, anak harus
menghadapi lingkungan yang asing, pemberi asuhan yang tidak dikenal, dan gangguan terhadap
gaya hidup mereka. Seringkali, mereka harus mengalami prosedur yang menimbulkan nyeri,
kehilangan kemandirian, dan berbagai hal yang tidak diketahui. ( Wong, 2003 )
Anak mengalami reaksi terhadap hospitalisasi, sebelum masuk, selama di rumah sakit dan
setelah pemulangan. sakit dari seorang anak bahkan lebih penting dari usianya dan kematangan
intelektual dalam memprediksikan tingkat penyesuaian sebelum di bawa ke rumah sakit. Ini
mungkin saja dipengaruhi oleh durasi, kondisi atau rawatan sebelumnya atau mungkin juga
tidak. Oleh karena itu perawat harus menghindari kesalahan menilai konsep sakit anak yang
pernah merasakan pengalaman medik sebelumnya (Whaley & Wong, 1999). Saat melakukan
asuhan keperawatan, perawat harus mempunyai pengetahuan dan sikap yang baik untuk
mengidentifikasi timbulnya dampak negatif tersebut agar dapat segera memberikan penanganan
dini.
Selama anak mengalami hospitalisasi, keluarga memainkan suatu peran bersifat mendukung
selama masa penyembuhan dan pemulihan anggota keluarga. Apabila dukungan semacam ini
tidak ada, maka keberhasilan penyembuhan/ pemulihan (rehabilitatif) sangat berkurang
(Friedman, 2003).
Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi keluarga terhadap penyakit anaknya adalah : keseriusan
penyakit yang mengancam anak, pengalaman dengan penyakit atau hospitalisasi prosedur medis
termasuk pengobatan dan diagnosis, sistem pendukung yang ada, kekuatan pribadi, kemampuan
koping stress tambahan pada keluarga, keyakinan agama dan latar belakang budaya dan pola
komunikasi diantara anggota keluarga (Whaley and Wong¶s, 1999)

A. Konsep Sistem Dukungan


1. Pengertian Dukungan
Sistem dukungan adalah segala fasilitas berupa dukungan yang diberikan kepada klien yang
bersumber dari keluarga, teman dan masyarakat disekitarnya (Stuart & Sundeen¶s, 1998). Model
terapi dukungan merupakan model psikoterapi baru yang mulai digunakan diberbagai negara
seperti rumah sakit, klinik psikiatri atau kehidupan masyarakat. Model perawatan ³supportive
therapy´ ini berbeda dengan model-model lain karena tidak bergantung pada konsep dan teori.
Teori tersebut menggunakan teori psikodinamis untuk memahami perubahan pada seseorang
(Stuar & Sundeen¶s, 1998).
Mishell (1984, dikutip dari Hincliff, Montague & Watson, 1996) menjelaskan hubungan yang
kuat antara ketidakpastian dan stres sebagai hasil dari kesulitan dalam menyesuaikan situasi di
rumah sakit.
Diantaranya:
1) Ketidaknyamanan, ketidakmampuan dan gejala penyakit lainnya.
2) Manajemen prosedur keperawatan khusus dan efek sampingnya.
3) Lingkungan teknikal termasuk hubungan dengan dokter dan penyedia perawatan kesehatan
lainnya.
4) Serta pengkajian dimasa depan dan kebebasan diri (privasi).
Keluarga termasuk dalam sistem dukungan yang dapat mempermudah dan mempertahankan
perubahan tingkah laku untuk membuat gaya hidup yang lebih sehat, contoh tekanan darah dapat
diturunkan dengan adanya dukungan dari keluarga dan anggota komunitas lainnya dengan
kegiatan seperti pelaksanaan diet yang tepat dan latihan-latihan fisik (Swanson & Nies, 1997).
Sebuah studi menunjukkan bahwa terapi dukungan ini sangat efisien untuk menangani kondisi
kejiwaan yang tidak menentu, stress traumatik dan efektif untuk mengatasi kecemasan serta
gangguan psikologis lainnya. Model terapi dukungan ini mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
1. Menambah kekuatan, keahlian dan kemampuan klien dalam menggunakan sumber daya
didalam dirinya.
2. Menurunkan tekanan distress klien serta respon maladaptif lainnya.
3. Membantu untuk meningkatkan kemandirian klien (Stuart & Sundeen¶s, 1998).
Sistem terapi dukungan dapat digunakan pada skala pencegahan (primary, secondary, tertiary).
Sebagai strategi pencegahan utama, sistem dukungan ini tidak berusaha untuk menurunkan
pencetus stres atau faktor resikonya, tetapi berusaha untuk meningkatkan dukungan sebagai salah
satu cara untuk menurunkan efek stres. Menurut Stuart dan Sundeen¶s (1998) terapi dukungan
mempunyai beberapa prinsip, yaitu : menolong klien dalam menangani perasaannya yang
bervariasi, berupa dukungan keluarga atau dukungan sosial, berfokus pada keadaan sekarang,
menurunkan kecemasan melalui sistem dukungan, menolong klien untuk menghindari krisis,
mengklarifikasi dan menyelesaikan masalah melalui dukungan, pendidikan dan perubahan
lingkungan.
Keluarga bertanggung jawab terhadap status kesehatan anggota keluarganya, dimana peran
seluruh anggota keluarga akan mempengaruhi setiap aspek perawatan kesehatan anggota
keluarga secara individu. Menurut Friedman (1992), salah satu tugas keluarga dibidang
kesehatan adalah memelihara kesehatan anggota keluarganya dan memberi perawatan serta
dukungan kepada anggota keluarga yang sakit dan tidak dapat membantu dirinya sendiri karena
cacat atau usia yang terlalu muda. Dukungan tersebut dapat berupa dukungan moril seperti
perhatian, kasih sayang, rasa aman, dan dukungan materil berupa usaha keluarga untuk
memenuhi kebutuhan anggota keluarganya (Bahson, 1987, dikutip dari Friedman, 1992).
Keluarga besar maupun keluarga inti berfungsi sebagai pendukung bagi anggota keluarganya.
Peran keluarga berbeda-beda tergantung pada sifat bantuan yang diberikan dan jarak geografis
yang jauh tidak menjadi halangan bagi anggota keluarganya. Ikatan keluarga yang kuat sangat
membantu anggota keluarga yang mengalami trauma, hal ini dikarenakan anggota membutuhkan
dukungan dari keluarganya (Figley, 1989, dikutip dari Friedman, 1999).
Keluarga dapat menjadi sumber kesehatan yang efektif dan utama, karena itu keluarga harus
lebih terlibat dalam tim perawatan kesehatan dan segala proses terapeutik. Ini memberi asuhan
keperawatan ketika kedua pihak bisa menegosiasi dan mengungkapkan kehadiran dan
kepentingan mereka secara terbuka. Menurut Pearlin dan Schooler (1978, dikutip dari Friedman,
1992) memasukkan kepercayaan diri dan upaya mencari bantuan dari orang lain, misal dari
dukungan sosial, dalam peran menjadi orang tua dan perkawinan. Percaya diri lebih efektif
dalam peran mengurangi stress dari pada mencari bantuan dan nasehat orang lain.
2. Fungsi dukungan keluarga
Keluarga mempunyai beberapa fungsi dukungan yang dapat dipergunakan untuk
mempertahankan keadaan homeostasis keluarga dan anggota keluarga. Fungsi tersebut antara
lain:
a. Dukungan Informasional
Ketika keluarga menyatakan bahwa anggota keluarganya sakit dan membutuhkan pertolongan,
maka keluarga mulai mencari informasi tentang penyakit yang diderita, cara penanganan dan
penyembuhannya. serta berusaha mencari berbagai nasehat dari tenaga professional yang ada.
b. Dukungan Penilaian
Keluarga berfungsi untuk membimbing dan menangani pemecahan masalah dan bertindak
sebagai sumber dan validator identitas dari anggota keluarganya. Keluarga cenderung terlibat
dalam pembuatan keputusan serta proses terapeutik pada setiap tahap sehat dan sakit dari
anggota keluarganya. Melalui dukungan ini, keluarga memutuskan dimana penanganan terhadap
anggota keluarga yang sakit harus dirawat; di rumah, di klinik atau di rumah sakit. Keputusan
menyangkut bagaimana penyakit dari seseorang anggota keluarga harus ditangani, cenderung
dirundingkan dikalangan keluarga.
c. Dukungan Instrumental
Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit. Melalui dukungan
instrumental keluarga diharapkan membantu anggota keluarganya yang sakit dalam
mempersiapkan atau menyimpan obat yang digunakan, serta menjaga kestrerilan alat-alat yang
berkaitan dengan pengobatan tersebut.
d. Dukungan Emosional
Dalam menghadapi problema kepatuhan dalam berobat, dibutuhkan motivasi yang kuat dari
klien yang bersumber dari keluarga atau orang terdekat lainnya. Dengan adanya dan motivasi
tersebut diharapkan klien tidak terlalu depresi dan dapat menghadapi penyakitnya dengan lebih
tabah. Keluarga juga sebagai tempat yang aman dan damai untuk klien beristirahat dan
pemulihan, serta membantu klien dalam menguasai emosinya (Caplan, 1976, dikutip dari
Friedman, 1999).
Dengan adanya dukungan dari keluarga diharapkan anggota keluarga yang sakit lebih patuh dan
bertanggung jawab dalam menjalani tindakan keperawatan sesuai dengan prosedur dan instruksi
yang diberikan oleh tenaga kesehatan, sehingga diharapkan dapat meminimalkan resiko
kegagalan dari tindakan keperawatan.

B. Konsep Sistem Kepatuhan


Menurut kamus umum Bahasa Indonesia, patuh adalah suka menurut (perintah); taat (kepada
perintah). Mematuhi adalah menuruti, mentaati (segala perintah). Kepatuhan adalah sifat patuh;
ketaatan (Poerwadarmita, 1999).
Pemberian penerangan atau informasi akan meningkatkan pemahaman atas tindakan
keperawatan yang dilakukan untuk dapat menarik klien atau penderita agar patuh terhadap
tindakan keperawatan. Sementara ketidakpatuhan banyak dipengaruhi oleh keadaan klien sendiri,
keluarga dan temannya. Kepatuhan muncul dari motivasi dalam diri klien pada tahap µdependent
role¶, klien yang masuk rumah sakit patuh terhadap keinginan dirinya untuk sembuh, dan patuh
terhadap pemberi pertolongan yang kompeten. (Masfuri, 1990, dikutip dari Iskandar, 1998)
Sebuah keluarga ditandai dengan komitmen, pengambilan keputusan bersama, membuat
berbagai tujuan. Intervensi keperawatan meningkatkan fungsi keluarga dalam mengatasi masalah
yang sedang dihadapi. Untuk masalah yang berkaitan dengan emosional, keluarga memiliki
tanggung jawab timbal balik dalam kontek µcaring¶ dan membina hubungan. Untuk itu
pemberian orientasi dan informasi pada saat klien/ keluarga dirawat di rumah sakit akan sangat
membantu peran µcaring¶ keluarga agar klien termotivasi untuk mematuhi asuhan keperawatan
yang diperlukan bagi klien dan keluarga. (Masfuri, 1990, dikutip dari Iskandar, 1998)
Keluarga berfungsi sebagai variabel intervensi kritis atau seperti pengarang lain
mengistilahkannya sebagai ³buffer´ atau sebagai ³agen penawaran´ antara masyarakat dan
individu. Dengan kata lain, tujuan utama keluarga adalah sebagai perantara yaitu menanggung
semua harapan-harapan dan kewajiban-kewajiban masyarakat serta membentuk dan
mengubahnya sampai taraf tertentu hingga dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan setiap
anggota individu dalam keluarga. Bersamaan dengan itu pula, keluarga mengadakan
³penerimaan´ baru bagi masyarakat, dan menyiapkan anak-anak untuk menerima peran-peran
dalam masyarakat (Williams dan Leaman, 1973, dikutip dari Friedman, 1998)
C. Konsep Sistem Keperawatan Anak
1. Pengertian
Perawatan adalah pelayanan esensial yang diberikan oleh perawat terhadap individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan. Pelayanan yang diberikan
adalah upaya untuk mencapai derajat kesehatan semaksimal mungkin sesuai dengan potensi yang
dimilki dalam menjalankan kegiatan dibidang promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif
dengan menggunakan proses keperawatan sebagai metode ilmiah keperawatan bekerjasama
dengan tim kesehatan lainnya dalam rangka mencapai tingkat kesehatan lainnya dalam rangka
mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Pelayanan keperawatan yang merupakan bagian
integral dari pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh perawat, dengan mengikut sertakan tim
kesehatan lainnya dan masyarakat untuk memperoleh tingkat kesehatan yang lebih tinggi dari
individu, keluarga dan masyarakat (Depkes RI, 1998).
Keperawatan adalah ilmu dan kiat yang berkenaan dengan masalah-masalah fisik, psikologis,
sosiologis, budaya dan spiritual individu. Ilmu keperawatan didasarkan pada kerangka teori yang
luas; kiat ini tergantung kepada keterampilan merawat dan kemampuan perawat secara individu
(Doenges, 2000).
Filosofi keperawatan anak merupakan keyakinan atau pandangan yang dimiliki perawat dalam
memberikan pelayanan keperawatan pada anak yang berfokus pada keluarga (family centered
care), pencegahan terhadap truma (atraumatic care), dan manajemen kasus ( Hidayat, 2005 ).
2. Ruang Lingkup Keperawatan Anak
Lingkup praktik merupakan hak dan otonomi dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang
berdasarkan atas kemampuan, tingkat pendidikan yang dimiliki, lingkup ini dilakukan selama
batas keprofesiannya. Sedangkan praktik keperawatan itu sendiri merupakan tindakan mandiri
perawat professional dengan melalui kerja sama secara kolaboratif dengan klien dan tenaga
kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan. Lingkup praktik keperawatan anak
merupakan batasan asuhan keperawatan yang diberikan pada klien anak usia 28 hari sampai 18
tahun atau usia bayi baru lahir sampai 12 tahun (Gartinah, dkk 1999, dikutip dari A. Aziz Alimul
Hidayat, 2005). Dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak harus berdasarkan kebutuhan
dasar anak yaitu kebutuhan untuk tumbuh kembang anak seperti asuh, asih, dan asah ( Sularyo,
1993 dikutip dari Hidayat, 2005).
a. Kebutuhan asuh
Kebutuhan dasar ini merupakan kebutuhan fisik yang harus dipenuhi dalam proses pertumbuhan
dan perkembangan. Kebutuhan ini dapat meliputi kebutuhan akan gizi atau nutrisi, kebutuhan
pemberian tindakan keperawatan dalam meningkatkan dan mencegah terhadap penyakit,
kebutuhan keperawatan dan pengobatan apabila sakit, kebutuhan akan tempat atau perlindungan
yang layak, kebutuhan hygiene perseorangan dan sanitasi lingkungan yang sehat, kebutuhan
akan pakaian, kebutuhan kesehatan jasmani dan akan rekreasi, dan lain-lain. Kesemuanya
merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi pada anak dalam memberikan asuhan
keperawatan pada anak.
b. Kebutuhan asih
Kebutuhan ini berdasarkan adanya pemberian kasih sayang pada anak atau memperbaiki
psikologi anak. Perkembangan anak dalam kehidupan banyak ditentukan perkembangan
psikologis yang termasuk di dalamnya adanya perasaan kasih sayang atau hubungan anak dengan
orang tua atau orang di sekelilingnya karena akan memperbaiki perkembangan psikososialnya.
Terpenuhinya kebutuhan ini akan meningkatkan ikatan kasih sayang yang erat (bonding) dan
terciptanya basic trus ( rasa percaya yang kuat ).
c. Kebutuhan asah
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi pada anak, untuk mencapai
pertumbuhan dan perkembangan secara optimal dan sesuai dengan usia tumbuh kembang.
Pemenuhan kebutuhan asah (stimulasi mental) akan memperbaiki perkembangan anak sejak dini
sehingga perkembangan psikososial, kecerdasan, kemandirian dan kreativitas pada anak akan
sesuai dengan harapan atau usia pertumbuhan dan perkembangan. ( Hidayat, 2005).

3. Prinsip-Prinsip Keperawatan Anak


Terdapat prinsip atau dasar dalam keperawatan anak yang dijadikan sebagai pedoman dalam
memahami filosofi keperawatan anak. Perawat harus memahaminya, mengingat ada beberapa
prinsip dalam asuhan keperawatan anak tersebut adalah pertama, anak bukan miniatur orang
dewasa tetapi sebagai individu yang unik. Prinsip dan pandangan ini mengandung arti bahwa
tidak boleh memandang anak dari ukuran fisik saja sebagaimana orang dewasa melainkan anak
sebagai individu yang unik yang mempunyai pola pertumbuhan dan perkembangan menuju
proses kematangan. Pola-pola inilah yang harus dijadikan ukuran, bukan hanya bentuk fisiknya
saja tetapi kemampuan dan kematangannya.
Kedua, anak adalah sebagai individu yang unik dan mempunyai kebutuhan sesuai dengan tahap
perkembangan. Sebagai individu yang unik anak memiliki berbagai kebutuhan yang berbeda satu
dengan yang lain sesuai dengan usia tumbuh kembang. Kebutuhan tersebut dapat meliputi
kebutuhan fisiologis seperti kebutuhan nutrisi dan cairan, aktivitas, eliminasi, istirahat, tidur dan
lain-lain. Selain kebutuhan fisiologis tersebut, anak juga sebagai individu yang juga
membutuhkan kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritual. Hal tersebut dapat terlihat pada tahap
usia tumbuh kembang anak. Pada saat yang bersamaan perlu memandang tingkat kebutuhan
khusus yang dialami oleh anak.
Ketiga, pelayanan keperawatan anak berorientasi pada upaya pencegahan penyakit dan
peningkatan derajat kesehatan, bukan hanya mengobati anak yang sakit. Upaya pencegahan
penyakit dan peningkatan derajat kesehatan bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan
kematian pada anak, mengingat anak adalah generasi penerus bangsa.
Keempat, keperawatan anak merupakan disiplin ilmu kesehatan yang berfokus pada
kesejahteraan anak sehingga perawat bertanggung jawab secara komprehensif dalam
memberikan asuhan keperawatan anak. Untuk mensejahterakan anak, keperawatan selalu
mengutamakan kepentingan anak. Anak dikatakan sejahtera berarti anak tidak merasakan
gangguan psikologis, seperti rasa cemas, takut maupun sejenisnya. Mereka selalu menikmati
masa-masa kecil dengan penuh kesenangan dan kasih sayang. Kemudian dalam upaya
menyejahterakan anak tersebut, tidak terlepas dari peran keluarga, sehingga dalam perbaikan
mutu keperawatan selalu melibatkan keluarga.
Kelima, praktik keperawatan anak mencakup kontrak dengan anak dan keluarga untuk
mencegah, mengkaji, mengintervensi, dan meningkatkan kesejahteraan hidup, dengan
menggunakan proses keperawatan yang sesuai dengan aspek moral (etik) dan aspek hukum
(legal). Sebagai bagian dari keluarga anak harus dilibatkan dalam pelayanan keperawatan, dalam
hal ini harus terjadi kesepakatan antara keluarga, anak dan tim kesehatan.
Keenam, tujuan keperawatan anak dan remaja adalah untuk meningkatkan maturasi atau
kematangan yang sehat bagi anak dan remaja sebagai makhluk biopsikososial dan spiritual dalam
konteks keluarga dan masyarakat. Upaya kematangan pada anak adalah selalu memperhatikan
lingkungan baik secara internal maupun eksternal karena kematangan anak sangat ditentukan
oleh lingkungan yang ada, baik anak sebagai individu maupun anak sebagai bagian dari
masyarakat.
Ketujuh, pada masa yang akan datang kecenderungan keperawatan anak berfokus pada ilmu
tumbuh kembang sebab ilmu tumbuh kembang ini yang akan mempelajari aspek kehidupan
anak.
Komponen ini merupakan bentuk pelayanan keperawatan yang diberikan kepada anak dalam
mencapai pertumbuhan dan perkembangan secara optimal dengan melibatkan keluarga seperti
adanya dukungan, pendidikan, kesehatan, dan upaya dalam rujukan ke tenaga kesehatan dalam
program perawatan anak. ( Hidayat, 2005).
Upaya tersebut dapat tercapai dengan keterlibatan secara langsung pada keluarga mengingat
keluarga merupakan sistim terbuka yang anggotanya dapat dirawat secara efektif, dan dalam
keperawatan anak keluarga sangat berperan dalam menentukan keberhasilan asuhan
keperawatan, disamping keluarga sendiri mempunyai peran untuk yang sangat penting bagi
perlindungan anak dan mempunyai peran untuk memenuhi kebutuhan anak, keluarga juga
mempunyai peran seperti peran dalam mempertahankan kelangsungan hidup bagi anak dan
keluarga, menjaga keselamatan anak dan mensejahterakan anak untuk mencapai masa depan
yang lebih baik, melalui interaksi tersebut dalam terwujud kesejahteraan anak ( Wong, 1995,
dikutip dari Hidayat, 2005).
Diposkan oleh salmandjuli di 01.13
|