Anda di halaman 1dari 10

PEMANFAATAN MINYAK GORENG BEKAS

(JELANTAH) MENJADI SHAMPO

PEMANFAATAN MINYAK GORENG BEKAS


(JELANTAH) MENJADI SHAMPO

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Praktikum Kimia Fisika II yang di Bina Oleh
Bapak Darsono Sigit

Disusun Oleh:
Kelompok 4
1. Linda Januar P. 307 332 405 163
2. Ajeng Asri H. 307 332 405 164
3. Rahmat Yudha Wibisono 307 332 405 165

Dosen Pengajar : Drs. Darsono Sigit; Drs. Ida Bagus Suryadharma.M.S.


Mata kuliah Praktikum Kimia Fisika KIU 422Sem.Genap 2008/9
JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHIAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG APRIL 2009
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
2009
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Untuk memenuhi kebutuhan akan pangan, masyarakat baik dalam skala rumah
tangga maupun industri banyak menggunakan minyak goreng sebagai media transfer
panas pada makanan. Minyak yang digunakan pun bermacam-macam, ada yang
terbuat dari kelapa, kelapa sawit, jagung, dll. Namun pada hakikatnya sebagian besar
minyak goreng terbuat dari tumbuhan atau bahan nabati, dan yang paling banyak
digunakan adalah minyak goreng yang terbuat dari kelapa sawit.
Sebagai media transfer panas, saat proses penggorengan berlangsung, minyak
goreng akan teradsorbsi pada makanan masuk mengisi ruang-ruang kosong pada
makanan sehingga hasil penggorengan mengandung 5-40% minyak. Dengan
demikian mau tidak mau minyak goreng ikut terkonsumsi dan masuk ke dalam tubuh.
Hal ini tidak akan menimbulkan masalah selama minyak yang digunakan untuk
menggoreng tidak rusak. Akan tetapi masyarakat kebanyakan tidak mengetahui hal
tersebut dan terus menggunakan minyak goreng hingga rusak sehingga minyak
goreng yang mereka konsumsi sudah tidak sehat lagi. Faktor penyebabnya sangatlah
bervariasi di antaranya adalah rasa sayang jika minyak goreng tidak digunakan
walaupun minyak tersebut sudah rusak dan tidak layak konsumsi.
Kerusakan minyak goreng terjadi atau berlangsung selama proses
penggorengan, hal itu mengakibatkan penurunan nilai gizi terhadap makanan yang
digoreng sehingga berpengaruh pada mutu makanan itu sendiri. Minyak goreng yang
rusak akan menyebabkan tekstur, penampilan, cita rasa dan bau yang kurang enak
pada makanan. Selain itu minyak goreng yang rusak bila dikonsumsi akan dapat
menyebabkan berbagai macam penyakit, seperti pengendapan lemak dalam pembuluh
darah (Artherosclerosis) dan penurunan nilai cerna lemak. Berdasarkan penelitian
juga menyebutkan bahwa kemungkinan adanya senyawa karsinogenik dalam minyak
yang dipanaskan, terbukti dengan adanya bahan pangan berlemak teroksidasi yang
dapat mengakibatkan pertumbuhan kanker hati. Terbentuknya akrolein saat
penggorengan juga sangat berbahaya karena akrolein yang terbentuk itu sendiri
bersifat racun dan menimbulkan rasa gatal pada tenggorokkan.
Oleh karena itulah perlu adanya upaya pemanfaat minyak goreng bekas atau
yang biasa disebut dengan “jelantah” agar tidak tetap dikonsumsi atau mencemari
lingkungan sehingga masyarakat terhindar dari bahaya minyak goreng bekas.
Pemanfaatan ini dimulai dengan pemurnian kembali minyak goreng bekas (jelantah)
agar dapat digunakan sebagai bahan dasar suatu produk yang dapat membuka peluang
usaha bagi masyarakat, misalnya saja shampo, sabun, atau bahan bakar diesel.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang dapat penulis ambil dari latar belakang di antara adalah
sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan minyak goreng bekas (jelantah) dan apa
karakteristiknya?
2. Bagaimana pemanfaatan minyak jelantah? Apa saja produk yang dapat
dihasilkan?
3. Apakah definisi dari shampo dan bagaimana karakteristiknya?
4. Bahan dasar dan alat apa saja yang diperlukan untuk membuat shampo?
Bagaimana proses pembuannya?
5. Apakah kelebihan dan kekurangan produk shampo dari bahan dasar minyak
jelantah?

1.3 Tujuan
Proposal kegiatan ini mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan dan mendefinisikan minyak goreng bekas (jelantah) serta
menjelaskan karakteristiknya
2. Menjelaskan cara pemanfaatan minyak goreng bekas atau jelantah dan
menyebutkan produk yang dapat dihasilkan dari pemanfaatan itu sendiri
3. Mendefinisikan shampo dan karakteristiknya
4. Menyebutkan dan menjelaskan bahan dasar serta peralatan untuk pembuatan
shampo
5. Menjelaskan kelebihan kekurangan produk shampo yang dihasilkan
BAB II
PEMBAHASAN

Pemurnian minyak merupakan tahap pertama dari suatu proses pemanfaatan


minyak goreng bekas, baik untuk dikonsumsi kembali maupun untuk digunakan
sebagai bahan baku produk. Tujuan utama pemurnian minyak goreng ini adalah
menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, warna yang kurang menarik dan
memperpanjang daya simpan sebelum digunakan kembali. Pemurnian minyak goreng
ini meliputi 4 tahap, yaitu penghilangan bumbu (despicing), netralisasi, pemucatan
(bleaching), dan penghilangan bau (deodorasi).
1. Penghilangan bumbu (despicing)
Despicing merupakan proses pengendapan dan pemisahan kotoran akibat
bumbu dan kotoran dari bahan pangan yang bertujuan menghilangkan partikel
halus bersuspensi atau membentuk koloid seperti protein, karbohidrat, garam,
gula, dan bumbu rempah-rempah yang digunakan menggoreng bahan pangan
tanpa mengurangi jumlah asam lemak bebas dalam minyak. Proses despicing ini
dilakukan dalam tempat logam atau kaca tahan panas yang berdiameter kecil
tetapi tinggi agar proses steaming dapat berlangsung secara maksimal. Dengan
pemansan pada proses despicing ini, bumbu dan semua kotoran yang ada dalam
minyak bekas akan mengendap dan minyak lebih mudah dipisahkan dari
pengotor-pengotornya.
2. Netralisasi
Netralisasi merupakan proses pemisahan asam lemak bebas dari minyak
dengan mereaksikan minyak tersebut dengan larutan basa dalam keadaan panas
dan diaduk dengan cepat sehingga minyak akan membebaskan asam lemak bebas
dan menjadi lebih jernih. Persamaan reaksi dari pembebasan asam lemak dalam
proses ini adalah sebagai berikut:
R-COOH (l) + NaOH(aq) RCOONa (s) + H2O

3. Pemucatan (bleaching)
Pemucatan adalah usaha untuk menghilangkan zat warna alami dan zat
warna lain yang merupakan degradasi zat alamiah, pengaruh logam dan warna
akibat oksidasi.
4. Penghilangan bau (deodorasi)
Deodorasi dilakukan untuk menghilangkan zat-zat yang menentukan rasa
dan bau tidak enak pada minyak.
Semua pemrosesan tersebut mulai dari tahap pertama hingga tahap
deodorisasi dilakukan pada suhu yang tidak terlalu tinggi dan cenderung konstan
agar hasil yang diperoleh dapat maksimal.

2.1 Keterangan Fungsi Bahan


Bahan-bahan yang diperlukan dalam pemanfaatan minyak goreng bekas menjadi
beberapa produk cukup mudah diperoleh di toko kimia. Adapun keterangan dari
fungsi bahan-bahan di antaranya:
- Arang aktif
I. Arang merupakan bahan padat berpori dan umumnya diperoleh dari hasil
pembakaran kayu atau bahan yang mengandung unsur berpori
II. Arang aktif merupakan karbon aktif yang telah mengalami proses aktivasi
untuk memperbesar luas permukaannya sehingga daya serapnya menjadi
lebih besar
III. Arang aktif mampu menyerap gas, cairan, dan zat terlarut lainnya. Bahan ini
dapat diperoleh dengan membuat sendiri atau membeli di toko bahan kimia.
- Surfaktan
Surfaktan berfungsi kemampuan mengikat dan mengikat kotoran. Dari bahan
surfaktan inilah shampo dapat menghasilkan busa.
- Parfum dan pewarna
Parfum merupakan bahan yang ditambahkan dalam suatu produk kosmetika
dengan tujuan untuk menutupi bau yang tidak enak dari bahan lain dan untuk
memerikan wangi yang menyenangkan terhadap pemakainya. Bahan ini dapat
diperoleh di toko parfum. Sedangkan pewarna digunakan untuk membuat produk
lebih menarik sehingga disukai konsumen. Pewarna dapat dibeli di toko bahan
makanan atau toko bahan kimia.
- Garam dapur atau Natrium Chlorida (NaCl)
Garam atau Natrium Klorida (NaCl) berperan untuk mengatur kekentalan.
Semakin kental produk shampo, dipersepsi penggunaannya semakin hemat,
kandungannya kaya dan disukai konsumen.
- Air
Produk yang berbentuk cair seperti shampo menggunakan air sebagai pelarutnya.
Untuk mendapatkan produk yang bagus, sebaiknya menggunakan aquades atau air
yang telah diproses, tapi untuk pembuatan skala kecil di sini cukup digunakan air
biasa.
- KOH
Penambahan KOH dalam pembuatan shampoo harus tepat, karena apabila terlalu
banyak akan memberi pengaruh negatif. Sedangkan bila terlalu sedikit maka
shampo yang dihasilkan akan mengandung asam lemak bebas tinggi yang
mengganggu proses emulsi shampo dan kotoran.

2.2 Proses Pembuatan Shampo Cair


Yang pertama kali dilakukan adalah pembuatan larutan KOH 32% dengan
cara melarutkan 32 gram KOH dengan air sehingga volume 100 ml dengan hati-hati.
Kemudian minyak goreng hasil reprosessing dipanaskan pada suhu ± 45ºC. Larutan
KOH 32% dipanaskan sampai suhu ± 35ºC (hangat-hangat kuku). Lalu larutan KOH
32% tersebut dimasukkan kedalam minyak dengan komposisi minyak: KOH = 100 g
= 60 mL. Campuran diaduk dengan cepat menggunakan mixer selama 90 menit,
pengadukan cepat ini bertujuan agar larutan basa KOH dengan minyak dapat
bercampur dengan sempurna. Penambahan KOH harus dengan tepat agar proses
emulsi shampo dengan kotoran saat shampo digunakan untuk keramas dapat
berlangsung dengan baik. Selanjutnya memasukkan air (58 mL air per 100 g
minyak), surfaktan Emal TD (40 g emal TD per 100 g minyak), sodium benzoat (0,4
g sodium benzoat per 100 g minyak), dan pewarna secukupnya. Mengaduk larutan
tersebut sambil dipanaskan samai suhu ± 50ºC. Penambahan surfaktan dilakukan
agar shampo atau produk yang akan dihasilkan dapat membersihkan dengan cara
mengikat kotoran. Pemanasan dilakukan secara perlahan dan cenderung konstan
sehingga bahan-bahan dapat tercampur tanpa adanya gumpalan. Mematikan api pada
suhu ± 50ºC dan melakukan pengadukan sampai suhu turun menjadi ± 30ºC, hal ini
akan mencegah adanya kemungkinan terjadinya hal yang tidak diinginkan selama
proses pembuatan shampo. Kemudian sementara itu membuat larutan garam NaCl
1% dengan melarutkan 1 g garam NaCl ke dalam 100 mL air setelah itu larutan
garam dicampurkan kedalam larutan shampo tadi(100 mL larutan garam per 100 g
minyak) dan parfum (0,1 g mL parfum per 100 g minyak) sambil dilakukan
pengadukan sampai terbentuk larutan jernih. Penambahan parfum adalah untuk
memberikan aroma terapi atau aroma yang menarik, sedangkan penambahan
pewarna untuk membuat warna shampo lebih menarik pula, dalam artian tidak pucat
pada produk shampo. Larutan yang telah jadi tersebut merupakan shampo yang
langsung bisa digunakan, sebaiknya shampo cair yang dihasilkan tadi disimpan
dalam wadah tertutup rapat.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1. Minyak goreng bekas (jelantah) merupakan bahan yang berbahaya
untuk dikonsumsi karena minyak goreng bekas (jelantah) dapat
menyebabkan berbagai macam penyakit, seperti pengendapan lemak
dalam pembuluh darah (Artherosclerosis) dan penurunan nilai cerna
lemak, dimungkinan adanya senyawa karsinogenik dalam minyak
yang dipanaskan, terbukti dengan adanya bahan pangan berlemak
teroksidasi yang dapat mengakibatkan pertumbuhan kanker hati.
Terbentuknya akrolein saat penggorengan juga sangat berbahaya
karena akrolein yang terbentuk itu sendiri bersifat racun dan
menimbulkan rasa gatal pada tenggorokkan.
2. Minyak gorang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan
shampo.
3. Dalam proses pembuatan shampo dari minyak goreng, arang aktif
dapat digunakan untuk memurnikan minyak jelantah dengan metode
adsorpsi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Menjernihkan Jelantah. Online(29 Maret 2009).


file://localhost/D:/je/menjernihkan_jelantah.htm.
Agus, wahyudi. Siswa SD Temukan Penyaring Jelantah. Online (29 Maret 2009).
file://localhost/D:/je/ban04.htm.