Anda di halaman 1dari 20

PENYESUAIAN LEKSIKOGRAMATIKAL WAJIB

(OBLIGATORY LEXICO-GRAMMATICAL ADJUSTMENT)


DALAM PENERJEMAHAN INDONESIA-INGGRIS

Ida Bagus Putra Yadnya


Universitas Udayana

Abstrak
Produk suatu penerjemahan muncul di permukaan berupa transcoding,
yakni penyesuaian sistem bahasa sumber ke dalam sistem bahasa
target. Dalam proses penerjemahan Indonesia-Inggris yang secara
tipologi merupakan dua bahasa yang berbeda sampai batas-batas
tertentu penyesuaian leksikogramatikal bersifat wajib seperti
penambahan, penghilangan, dan pergeseran atau transposisi.

Kata kunci: penyesuaian leksikogramatikal, penambahan, penghilangan,


dan pergeseran/ transposisi

Abstract
Translation is a product of transcoding, i.e. the adjustment of a source
language system into the target language system. In the process of
Indonesian-English translation (typologically, between two different
languages) lexico-grammatical adjustments, to some extent, are
required, inevitable, and mandatory including addition, subtraction, and
shifts or transposition.

1. Pendahuluan
Penerjemahan pada hakekatnya adalah usaha mencapai tingkat kesepadanan ideal
antara bahasa sumber dengan bahasa target.Fitur-fitur umum yang dimiliki oleh
terjemahan mencakup: (a) adanya pengalihan bahasa (dari bahasa sumber ke bahasa
target); (b) adanya pengalihan isi (content); dan (c) adanya keharusan atau tuntutan untuk
menemukan padanan yang mempertahankan fitur-fitur keasliannya.1 Meskipun secara
teoritis kesepadanan bisa dicapai akibat adanya sifat universal bahasa dan konvergensi
budaya tetapi dua penutur bahasa yang berbeda memiliki suatu budaya yang sering amat
berbeda satu sama lainnya. Untuk menangani masalah kesenjangan (mismatch) bahasa
dan budaya inilah perlu dilakukan penyesuaian (adjustment) melalui suatu strategi
penerjemahan yang sangat ditentukan oleh kompetensi penerjemah, metode
penerjemahan dan sasaran terjemahan yang akhirnya menjadikan pemadanan sesuatu
yang dinamis
Dalam konteks penerjemahan pemadanan mengandung pengertian ‘pencarian
padanan representasi makna teks bahasa sumber dalam bahasa target’. Dengan demikian

1
Catford (1965:1) menekankan pada medium, yakni melihat penrjemahan sebagai pengalihan bahasa dan
mendefinisikan terjemahan sebagai “an operation performed on language: a process of substituting a
text in one language for a text in another”. Nida dan Taber (1974) lebih menekankan pada pesan dan
mengemukakan bahwa penerjemahan adalah upaya mengungkapkan kembali pesan yang terkandung
dalam bahasa sumber ke dalam bahasa target dengan menggunakan padanan yang wajar dan terdekat.
Tidak jauh berbeda dengan Nida dan Taber, Larson (1984:17) memandang penerjemahan sebagai
pengalihan pesan dari bahasa sumber ke bahasa target dengan menggunakan struktur gramatikal dan
leksikon yang sesuai dalam bahasa target dan konteks budayanya

1
pemadanan menyangkut pengalihan makna dari suatu bahasa dan budaya ke dalam
bahasa dan budaya lain. Secara leksikal kata “pengalihan” memiliki nosi adanya proses
pemindahan, penggantian, dan pengubahan. Nosi pemindahan mengacu pada konsep
bahwa penerjemahan adalah penyesuaian budaya berbahasa bahasa sumber ke dalam
budaya berbahasa bahasa target. Seperti yang dinyatakan Catford (1965:1), bahasa
adalah tingkah laku manusia yang berpola. Bahasa sebagai salah satu subsistem
kebudayaan memiliki aturan-aturan dalam pemakaiannya. Di dalam kebudayaan
manapun orang berbicara dalam bahasa dan bereaksi dalam pola kebudayaannya sendiri.
Nida (1964:147—149) menunjukkan bahwa penerima pesan atau amanat hanya bisa
bereaksi terhadap pesan yang dikomunikasikan padanya dalam bahasanya sendiri dan
hanya bisa mengekspresikan respon tersebut dalam konteks budaya di mana mereka
hidup. Dalam proses penyusunan kembali bangun budaya secara kebahasaan diperlukan
penggantian sebagai konsekuensi dari kenyataan bahwa penerjemahan (Indonesia-
Inggris) melibatkan dua bahasa yang tidak serumpun dan bertipologi berbeda. Produk
pengalihan makna muncul di permukaan (dalam surface structure) berupa transcoding,
yakni penggantian satu kode dengan kode yang lain (sistem bahasa sumber ke dalam
sistem bahasa target). Perbedaan sistem linguistik sebagai refleksi sifat arbitrer dan sui
generis bahasa menjadikan pengalihan muncul sebagai pemadanan dan di dalam
pencaharian padanan tersebut diperlukan pengubahan yang sampai batas-batas tertentu
bersifat wajib sehingga terjadi pergeseran bentuk dan makna.
Tulisan ini mencoba mengkaji sejumlah kasus penyesuaian leksikogramatikal
yang bersifat wajib dalam proses penerjemahan Indonesia-Inggris. Korpus data dalam
kajian terjemahan ini berupa korpus bilingual paralel (paralel bilingual corpora) yang
terdiri dari teks asli (berbahasa Indonesia sebagai teks sumber) dan versi terjemahannya
(dalam bahasa Inggris sebagai teks target).2

2. Kajian Pustaka dan Kerangka Teori


Padanan adalah suatu bentuk dalam bahasa target dilihat dari segi semantik
sepadan dengan suatu bentuk teks bahasa sumber.3 Masalah kesepadanan bukanlah
identik dengan kesamaan karena perdebatan mengenai kedua konsep tersebut lebih
banyak terkait dengan penerjemahan karya sastra khususnya puisi yang melihat
kesepadanan sebagai tuntutan untuk menghasilkan kesamaan (lihat Machali, 2000:106).
Analisis terjemahan bertumpu pada pengertian padanan tekstual dan
korespondensi formal (Catford, 1965 : 27). Padanan tekstual adalah teks atau bagian teks
bahasa target yang mengandung pesan yang sama dengan teks atau bagian teks bahasa
sumber (Untuk menyatakan kasus yang sama Nida dan Taber (1974: 23-24)
menggunakan istilah padanan dinamis). Korespondensi formal memiliki pengertian
kesesuaian struktur teks sumber dengan teks sasaran. Kesesuaian struktur ini terjadi bila
unsur kedua bahasa menduduki kategori yang sama dalam kedudukan masing-masing
sebagai bahasa sumber dan bahasa target (Lihat Catford, 1965:32).
2
Hatim (2001:152) mengelompokkan korpus data kajian terjemahan ke dalam (1) paralel bilingual
corpora yang terdiri dari teks asli dan versi terjemahannya; (2) multilingual corpora yang terdiri dari satu
teks asli dengan versi terjemahan dalam lebih dari satu bahasa; dan (3) comparable corpora yang
mengacu pada dua koleksi teks terpisah dalam satu bahasa yang satu teks asli (teks sumber) dan yang
lainnya teks terjemahan dalam bahasa itu sendiri
3
Padanan (equivalence) dipahami sebagai “accuracy”, “adequacy”, “correctness”,
“correspondence”, “fidelity”, atau “identity” (lihat Venuti, 2000:5)

2
Dilema utama dalam proses penerjemahan adalah tegangan antara bentuk dan
makna khususnya pada penerjemahan dari teks bahasa sumber yang secara tipologi
berbeda dengan bahasa target. Penerjemah dihadapkan pada keharusan untuk
memprioritaskan pencaharian padanan makna/ pesan teks bahasa sumber dalam bahasa
target dengan konsekuensi mengorbankan bentuk. Pemberian prioritas pada pencapaian
kesepadanan mutlak akan berdampak pada pengabaian formal dan begitu sebaliknya
dengan mementingkan bentuk dalam proses penerjemahan akan menghasilkan
penerjemahan literal yang kaku dan bahkan menimbulkan distorsi makna. Dengan
demikian teks target dapat dilihat sebagai produk restrukturisasi dari suatu proses
penerjemahan dalam bentuk penyesuaian kembali struktur komponen.
Melalui tinjauan pustaka, Suryoputro (1995:15) mencatat tiga tipe penyesuaian
atau redistribusi struktur komponen dalam proses penerjemahan, yakni (1) redestribusi
analitik, (2) redistribusi sintesis, dan (3) redistribusi total. Redistribusi analitik adalah
jenis penyesuaian kembali struktur komponen di mana apa yang tersirat pada bahasa
sumber sebagai suatu kata tersebar atau tersurat dalam beberapa komponen (kata) dalam
bahasa target seperti yang terlihat pada contoh berikut:

TS : ‘Lelaki itu telah mendukunimu’


TT : That fellow has had magic worked on you,

Dalam contoh tersebut kata mendukunimu dalam bahasa Indonesia berpadanan dengan
frasa had magic worked on you dalam bahasa Inggris, memperlihatkan redistribusi
analitik di mana padanan teks sumber (satu kata) tersurat dalam struktur yang terdiri dari
beberapa komponen (lima kata).
Kedua, yang merupakan kebalikan redistribusi analitik adalah redistribusi sintesis.
Fenomena ini muncul di permukaan sebagai struktur komponen yang terdiri dari
beberapa kata dalam bahasa sumber yang dialihkan ke dalam bahasa target ke dalam satu
kata seperti yang terlihat dalam ilustrasi berikut:

TS : Orang tuanya memberi nama Luh Sekarwati.


TT : They had named her Luh Sekarwati.

Ketiga, redistribusi total (complete distribution) yakni redistribusi yang dilakukan


terhadap bentuk dan makna teks bahasa sumber disesuaikan dengan konteks situasi dan
budaya bahasa target seperti yang dijumpai dalam penerjemahan idiom berikut:

TS : He is a book worm
TT : 1. ? ‘Dia (adalah) (seorang/seekor) cacing buku’.
2. ‘Dia (adalah) orang yang suka membaca buku’
3. ‘Dia kutu buku’

Penerjemahan ungkapan bahasa Inggris book worm ke dalam bahasa Indonesia tidaklah
bisa secara literal ke dalam ‘Dia (adalah) (seorang/seekor) cacing buku’. Redistribusi
menyeluruh harus dilakukan untuk mempertahankan pesan, keterbacaan dan kealamiahan
bahasa target. Melalui penyesuaian kontekstual dan kultural. Dari sudut konteks secara
logika tidak terdapat hubungan antara Dia dan cacing (ataupun keduanya bisa disamakan)
dalam kalimat (teks) sumber. Makna kontekstual dari ungkapan book worm tersebut

3
adalah ‘orang yang suka membaca buku’. Dari perspektif kultural ungkapan tersebut
memerlukan penyesuaian sejalan dengan budaya linguistik (linguistic culture) untuk
mempertahankan keterbacaan dan kealamiahan bahasa target. Padanan kultural dari
ungkapan bahasa Inggris book worm pada contoh di atas adalah ‘kutu buku’ karena
dalam budaya linguistik Indonesia ungkapan atau makna serupa diekspresikan dengan
‘kutu buku’ bukan ‘cacing buku’.
Sampai batas-batas tertentu penerjemahan menuntut tindakan penyesuaian yang
muncul berupa pergeseran (shifts) yang mengindikasikan adanya titik-titik perbedaan
antara teks sumber dan teks target. Titik-titik perbedaan antara teks sumber dan teks
target dijelaskan oleh Povovič (1970) sebagai ‘shifts of expression’.4 Kajian
penerjemahan yang memfokuskan pada kesepadanan atau kesamaan menganggap
pergeseran sebagai suatu penyimpangan. Bahkan Zellermeyer (1987:76) mensinyalir
pergeseran dipersepsikan oleh teori terjemahan sebagai “signs of an inevitable evil”,
yakni suatu kegagalan penerjemah untuk mencapai kesepadanan. Pandangan terhadap
pergeseran seharusnya tidaklah demikian karena pergeseran pada hakekatnya merupakan
bagian melekat dari proses penerjemahan. Senada dengan pandangan Povovič (1970)
yang menyatakan teks terjemahan adalah sebuah metateks atau teks tentang sebuah teks,
Zellermeyer (1987:76) memandang pergeseran (shifts) sebagai “metamessages”. Menurut
pandangan ini penambahan (addition), penghilangan (delition), substitusi (substitution)
dan penyusunan kembali (reordering) informasi pada teks target memberikan informasi
mengenai apa yang dipandang perlu dijelaskan, apa yang tidak bisa diterima dan apa
yang bisa diterima dalam bentuk yang berbeda dalam teks target. Persepsi Zellermeyer
mengenai kebermaknaan pergeseran dalam penerjemahan dibangun dari teori
metakomunikasi (metacommunication) dari Beteston (1972, 1979) yang menekankan
bahwa perbedaan antara pelibat dalam interaksi (interactants) dalam komunikasi
interpersonal atau interkultural tidak selalu harus berakhir dengan kegagalan komunikasi
karena persyaratan keberhasilan suatu hubungan antara pelibat dalam interaksi
(interactants) bukanlah karena kemiripan tetapi kesalingpahaman terhadap perbedaannya.
Dengan demikian pergeseran dalam penerjemahan bisa dipandang sebagai penanda dari
kesalingpahaman tersebut.
Pengertian dasar pergeseran (shifts) melibatkan perubahan bentuk dan makna
bahasa sumber ke dalam bahasa target. Konsep pergeseran bisa dilihat dari dua perspektif
yang berbeda tentang terjemahan: (1) terjemahan sebagai produk dan (2) terjemahan
sebagai suatu proses. Sebagai produk konsep pergeseran (formal) identik dengan konsep
‘shift’ yang diberikan oleh Catford (1965) yakni suatu konsep abstrak dalam teori
terjemahan yang mengacu pada suatu peristiwa atau keadaan di mana sebuah padanan
terjemahan yang diseleksi dari bahasa target dalam proses penerjemahan tidak
menunjukkan kesejajaran bentuk terhadap bentuk teks (unit, struktur, ataupun kelas)
dalam behasa sumber. Konsep ini merupakan kebalikan atau penyimpangan dari konsep
korespondensi formal yang oleh Catford didefinisikan sebagai kategori apa saja dari
sistem bahasa target yang dalam sistem bahasa tersebut dapat dianggap menempati suatu
tempat, atau menunjukkan distribusi, ataupun mempunyai fungsi yang relatif sejajar atau
identik dengan posisi, atau distribusi, ataupun fungsi yang dimiliki oleh suatu kategori
bahasa sumber dalam sistem bahasa sumber tersebut (Catford, 1965:32). Sebagai suatu

4
Dikutip oleh Zellermayer dalam Gideon Toury (ed.), 1987. “Translation Across Cultures.” New Delhi:
Bahri Publications (pp 75—90).

4
proses, pengertian pergeseran formal sejajar dengan istilah transposisi (transposition)
yang dikemukakan oleh Newmark (1988) yakni suatu prosedur atau cara penerjemahan
melalui penyesuaian bentuk gramatikal dari bahasa sumber ke dalam bahasa target.
Catford membedakan pergeseran dalam terjemahan ke dalam dua jenis: (1) level
shift yang muncul di permukaan dalam bentuk item bahasa sumber pada level linguistik
tertentu memiliki padanan dalam level yang berbeda (Misalnya tataran grammar
berpadanan dengan leksis) dan (2) category shift, suatu istilah generik yang mengacu
pada pergeseran yang mencakup empat kategori, yakni (a) pergeseran struktur yang
menyangkut perubahan gramatikal antara struktur teks sumber dan teks target, (b)
pergeseran kelas bila item bahasa sumber dipadankan dengan item bahasa target yang
memiliki kelas gramatikal yang berbeda seperti misalnya sebuah verba diterjemahkan
dengan nomina, (c) pergeseran unit yang menyangkut perubahan rank, dan (d) pergeseran
intra-sistem yang terjadi bila secara formal bahasa sumber dan bahasa target memiliki
kondisi yang kelihatannya sejajar tetapi secara konstituen memiliki perbedaan (misalnya
tata urutan konstituen berbeda antara bahasa sumber dengan padanannya dalam bahasa
target, bentuk tunggal (singular) bahasa sumber menjadi jamak (plural) dalam bahasa
target).
Kritik utama yang dilontarkan terhadap pendekatan yang digunakan Catford
dalam mengkaji terjemahan terletak pada cara Catford melihat perpadanan sebagai
sesuatu yang bersifat kuantitatif sehingga penerjemahan semata-mata merupakan masalah
mengganti setiap item bahasa sumber dengan item padanan bahasa target yang paling
sesuai.5 Di samping itu pergeseran (shifts) yang dijelaskan oleh Catford hampir
seluruhnya murni berifat linguistik sementara faktor-faktor yang penting sekali seperti
faktor kultural, tekstual dan situasional lainnya diabaikan (Lihat Hatim, 2001:16—17).
Menurut penulis kritik tersebut memang beralasan mengingat hakekat pergeseran (shifts)
adalah berlapis-lapis (Hatim, 2001:59). Dalam proses penerjemahan selalu terjadi secara
bersamaan pergeseran dari suatu sistem linguistik ke dalam sistem linguistik yang lain,
dari satu sistem sosio-kultural ke dalam sistem sosio-kultural yang lain, dan dari satu
sistem sastra atau puitik ke dalam sistem sastra atau puitik yang lain. Bahkan
sebagaimana dikutip oleh Hatim (2001:59), Holmes (1972/1994) menyatakan bahwa
sistem sosio-kultural ini terdiri dari objek, simbol dan konsep-konsep abstrak yang tidak
lepas dari perbedaan antara satu masyarakat dan budaya dengan masyarakat dan budaya
yang lainnya sehingga pilihan dalam penerjemahan harus dibuat dalam koridor sistem-
sistem tersebut tidak secara terpisah tetapi secara padu dan berbarengan (unison).
Pergeseran (shifts) merupakan konsekuensi dari usaha penerjemah dalam mencari
padanan terjemahan antara dua sistem bahasa yang berbeda. Oleh karena itu Al-Zoubi
dan Al-Hassnawi (2001) mengusulkan bahwa pergeseran dalam penerjemahan harus
diredefinisikan secara positif dengan melihat penerjemahan sebagai proses. Berangkat
dari pandangan bahwa penerjemahan merupakan fenomena yang sangat komplek yang
melibatkan berbagai variabel Al-Zoubi dan Al-Hassnawi (2001) mendefinisikan
pergeseran (shifts) sebagai tindakan wajib (mandatory actions) yang ditentukan oleh
adanya perbedaan struktural antara dua sistem bahasa yang terlibat dalam proses
5
Misalnya dalam kajian terjemahan Perancis-Inggris Catford memberikan analisis kuantitatif terhadap
kemungkinan padanan item bahasa Perancis dans dalam bahasa Inggris. Dalam koleksi teks bahasa
Inggrisnya tercatat bahwa tingkat kemungkinan (probability) dans menjadi in dalam bahasa Inaggris
73%, menjadi into 19%, from 1.5%, dan about/inside 0.75% (Catford, 1965:30).

5
penerjemahan dan tindakan opsional (optional actions) yang ditentukan oleh preferensi
personal dan stilistik yang dilakukan secara sadar untuk menghasilkan terjemahan yang
alamiah dan komunikatif dari bahasa sumber ke dalam bahasa target. Kedua ahli ini
membedakan pergeseran ke dalam dua jenis, yakni (1) pergeseran mikro (micro shift) dan
(2) pergeseran makro (macro shift). Pergeseran mikro bisa berujud pergeseran vertikal
yang mengarah ke atas atau ke bawah dan pergeseran horizontal. Pergeseran vertikal
yang mengarah ke atas terjadi bila unit bahasa sumber disubstitusi dengan unit yang lebih
tinggi rank-nya dalam bahasa target sementara sebaliknya pergeseran yang mengarah ke
bawah, unit bahasa sumber disubstitusi dengan unit yang lebih rendah rank-nya dalam
bahasa target. Pengertian pergeseran horizontal identik dengan konsep intra system shift
dari Catford yang berujud realisasi padanan yang berbeda dari suatu unit bahasa sumber
dalam bahasa target pada rank yang sama. Pergeseran makro bergerak dalam kawasan
ranah teks yang melibatkan semua variabel tekstur, budaya, gaya dan retorik yang
memungkinkan terjadinya pergeseran pada tataran selain tataran sintaksis (seperti
komponen semantik, tekstual, pragmatik dan retorik).

3. Kasus-kasus Penyesuaian LeksikoGramatikal yang Bersifat Wajib dalam


Terjemahan Indonesia- Inggris
Masalah utama yang dihadapi seorang penerjemah dalam proses pemadanan
makna bahasa sumber ke dalam bahasa target adalah kesenjangan linguistik dan budaya.
Kesenjangan ini tentu saja memerlukan suatu penyesuaian yang sampai batas-batas
tertentu bersifat wajib. Sejumlah data pemadanan teks sumber berbahasa Indonesia ke
dalam bahasa Inggris menunjukkan penyesuaian (termasuk dalam bentuk pergeseran)
yang bersifat wajib. Penyesuaian wajib ini disebabkan oleh perbedaan sistem bahasa
Indonesia dengan bahasa Inggris. Penerjemah dalam hal ini tidak mempunyai pilihan lain
selain melakukan pergeseran tersebut. Fenomena wajib tersebut terjadi pada tataran unit,
aspek struktur dan kelas. Ketika pemadanan literal atau linear tidak dimungkinkan akibat
kendala bahasa dan budaya tersebut penerjemah dihadapkan pada kenyataan harus
mengambil keputusan dari berbagai alternatif yang tersedia untuk mencapai tingkat
kesepadanan yang paling mendekati antara makna bahasa sumber dan bahasa target.
Dengan kata lain untuk menjembatani kesenjangan tersebut penerjemah harus
menggunakan suatu strategi pemadanan.
Walaupun keputusan penerapan suatu strategi pemadanan terletak pada masing-
masing penerjemah yang didasarkan pada kemampuan memahami teks sumber dan
kreatitifitas berbahasa dalam menerjemahkan pesan dalam teks sumber ke dalam bahasa
target, namun strategi yang digunakan tetap dapat dikelompokkan dalam dua strategi
dasar, yakni (1) strategi struktural yang berkenaan dengan struktur kalimat, dan (2)
strategi semantis yang langsung terkait dengan makna kata atau kalimat yang sedang
diterjemahkan (Periksa Suryawinata dan Hariyanto, 2003:67—76). Strategi dasar yang
berkenaan dengan masalah struktur mencakup (1) penambahan (addition), (2)
pengurangan (substraction), dan (3) transposisi (transposition). Sementara itu strategi
semantis diterapkan atas pertimbangan makna dan beroperasi pada tataran kata, frasa
maupun klausa atau kalimat. Oleh karena itu dalam kajian ini penulis membatasi
jangkauan pembicaraan hanya pada 3 kasus menonjol, yakni penyesuaian dalam bentuk
penambahan, pengurangan atau penghilangan, dan pergeseran.

6
3.1 Penambahan (Addition)
Strategi penambahan dalam proses pemadanan biasanya bersifat wajib dengan
menambahkan kata-kata sebagai upaya untuk menyesuaikan padanan dengan kaedah
bahasa target. Dalam korpus data sangat banyak ditemukan kasus-kasus penambahan dan
berikut adalah sejumlah contoh yang teridentifikasi:

a. TS : Juga di sana menata banten dan ayahnya membuat lawar pada hari raya (OS1)6
TT : There she would arrange offerings, and on holidays her father would prepare
special ceremonial dishes (MZ)7

b. TS : "Tuhan lebih kuasa dari dukun itu Tini” (OS2)8


TT : "God is far more powerful than the dukun Tini,"... (VC)9

c. TS : Dukun yang dikerahkan untuk menceraikan kita tidak ada tanda-tanda akan
berhasil (OS2)
TT : The dukun they consulted hasn't succeeded in separating us. (VC)

d. TS : Kalau ibunya hendak menurunkan padi dari perut lumbung selalu melarangnya
untuk ikut naik, sebab khawatir jatuh. (OS 1)
TT : When her mother wanted to take down some rice from the store she was
forbidden to go up with her for fear she’d fall down. (VC)

e. TS : “Menurut beli Nyoman bagaimana?"


“Kita bakar." (OS2)
TT : "What do you think, Nyoman?"
"Lets burn it." (VC)

f. TS : Orang tuanya memberi nama Luh Sekarwati. (OS1)


TT : ‘They had named her Luh Sekarwati’. (VC)

Secara gramatikal penambahan would dalam contoh (a) di atas harus dilakukan
untuk menandai suatu kebiasaan yang dilakukan dalam masa lampau dalam bahasa
Inggris sementara dalam bahasa Indonesia kala tidaklah ditandai secara gramatikal.
Dalam bahasa Indonesia predikat non-verba tidaklah ditandai atau dengan kata lain
Subjek boleh diikuti langsung oleh predikat verba dan non-verba sementara dalam bahasa
Inggris tidak. Predikat non-verba dalam bahasa Inggris berwujud kata bantu verba
(auxiliary). Oleh karena itu dalam pemadanan teks sumber contoh (b) ke dalam bahasa
Inggris di atas diikuti oleh penambahan elemen struktur is untuk Subjek orang ke tiga
sesuai dengan kaedah persesuaian (concord/agreement) dalam tatabahasa Inggris.
Informasi lama dan baru dalam bahasa Inggris ditandai secara gramatikal melalui articles
(kata sandang) yang kehadirannya bersifat wajib sementara dalam bahasa Indonesia
ditandai secara leksikal. Oleh karena itu penambahan kata sandang tentu the dalam teks
6
OS 1 adalah data kasus yang diambil dari cerpen Oka Sukanta berjudul Luh Galuh sebagai teks sumber
yang diterjemahkan oleh Mary Zurbuchen dan Vern Cork dengan judul yang sama
7
MZ : teks terjemahan Mary Zurbuchen sebagai teks target.
8
OS2 : adalah data kasus yang diambil dari cerpen Oka Sukanta berjudul Mega Hitam Pulau Kahyangan
sebagai teks sumber yang diterjemahkan oleh Vern Cork ke dalam Storm Clouds over the Island of
Paradise
9
VC : teks terjemahan Vern Cork sebagai teks target

7
padanan berbahasa Inggris dalam contoh (c) harus dilakukan untuk menunjukkan bahwa
dukun adalah informasi lama.
Penambahan wajib yang lain akibat perbedaan sistem bahasa sumber dan bahasa
target diperlihatkan oleh contoh (d), (e), dan (f) di atas. Pada contoh (d), penambahan to
dalam teks padanan berbahasa Inggris merupakan keharusan karena dalam bahasa Inggris
Subjek tidak bisa langsung diikuti oleh dua verba berturut-turut seperti dalam bahasa
Indonesia (dalam teks sumber “Ibunya hendak menurunkan”). Dalam bahasa Inggris
verba kedua selalu dalam bentuk to infinitive (dalam teks target her mother wanted to
take down). Kata some dalam teks target (some rice) juga merupakan penambahan wajib
sebagai padanan kata padi dalam teks sumber karena dalam bahasa Inggris mengenal
persesuaian nomina dan nomina terhitung (countable) dan tak terhitung (uncountable).
Contoh (e) memperlihatkan perbedaan sistem transitivitas verba bahasa Indonesia dengan
bahasa Inggris. Kehadiran Objek pada klausa “Kita bakar." bersifat opsional secara
gramatikal (walaupun verba bakar memiliki dua valensi) karena sudah dimengerti
konteksnya tetapi dalam bahasa Inggris kehadiran Objek bersifat wajib. Oleh karena itu
penambahan it atau pengeksplisitan Objek dalam teks target harus dilakukan mengingat
kata burn sebagai padanan kata bakar juga memiliki dua valensi. Identik dengan contoh
(e), contoh (f) juga menunjukkan kewajiban eksplisitasi Objek dalam teks padanan
berbahasa Inggris melalui penambahan her setelah verba name yang memiliki dua
valensi. Di samping itu contoh (f) juga menunjukkan kewajiban melakukan penambahan
elemen struktur berupa penanda kala lampau (past tense) dan aspek perfek(perfect
aspect) untuk menunjukkan makna kejadian sudah lampau dan telah berakhir yang
dimiliki teks sumber dalam bahasa target (Inggris) seperti terlihat dalam konstruksi had
named .
Bahasa sumber (Indonesia) tidak mengenal nominal concord atau agreement,
yakni persesuaian bentuk antara bilangan yang menyatakan jamak atau kata lain yang
menunjukkan jamak dengan bendanya sedangkan bahasa target (Inggris) mengenal
nominal concord itu. Dalam bahasa Inggris bentuk jamak ditandai secara morfologis dan
sistaksis. Oleh karena itu dalam pemadanan konsep jamak dalam bahasa sumber ke
dalam bahasa Inggris pergeseran bentuk tidak bisa dihindari atau bersifat otomatis. Kasus
pergeseran bentuk dalam pemadanan konsep jamak dapat dilihat dalam beberapa data
berikut:

a. TS : Juga di sana menata banten dan ayahnya membuat lawar pada hari raya (OS1)
TT : There she would arrange offerings, and on holidays her father would prepare
special ceremonial dishes (MZ)

b TS : Dan gerobak pengangkut hasil bumi sudah lama pensiun dimakan rayap
disebelah rumah pemiliknya.(OS1)
TT : And the hand-pushed carts used to transport goods had been pensioned off and
were now rotting beside their owners' homes. (VC)

c. TS : Juga di malam hari orang tidak usah sibuk menyalakan lampu sentir (OS1)
TT : At night, too, people no longer had to be bothered with flashlights; (MZ)

d. TS : Arti lesung itu begitu besar bagi Luh Galuh . (OS1)


TT : They held great significance for Luh Galuh. (VC)

8
Makna jamak dalam teks sumber, banten dan lawar dalam contoh (a), gerobak
dalam (b), dan lampu sentir dalam (c) tidaklah ditandai secara morfologis dalam struktur
kalimat di mana item-item leksikal tersebut berada. Namun dalam bahasa Inggris makna
jamak tersebut ditandai secara morfologis dengan sufiks –s yang melekat pada nomina
padanan (offerings dan special ceremonial dishes pada contoh (a), the hand-push carts
dalam (b), dan flashlights dalam (c)). Persesuaian tersebut tidak saja terjadi pada nomina
tetapi juga pada pronomina seperti yang terlihat pada contoh (d), di mana lesung itu tidak
bermarkah jamak harus dipadankan dengan pronomina jamak they. Contoh tersebut di
atas merupakan salah satu konsekuensi dari perbedaan sistem antara bahasa sumber
(Indonesia) dengan bahasa target (Inggris) di mana dalam bahasa sumber tidak mengenal
number sedangkan dalam bahasa target konsep number sangat berpengaruh pada struktur
luar teks. Ilustrasi teoritis yang lebih meyakinkan bahwa pergeseran otomatis (wajib)
harus dilakukan dalam penerjemahan Indonesia-Inggris yang berhubungan dengan
number bisa diamati melalui contoh berikut:

TS TT
Sebuah kaca mata A pair of glasses
Sebuah celana A pair of trousers
Anjing adalah binatang yang cerdas Dogs are intelligent animals, atau
A dog is an intelligent animal

Artikel tak tentu (a atau an) dalam bahasa Inggris selain menyatakan pengertian
tunggal (singular) juga mengacu pada pengertian umum atau pengertian konseptual yang
ada dalam pikiran saja sementara bendanya atau realitas luar tidak harus ada. Di samping
sebagai pengungkap pengetian umum atau konseptual, a/an juga berfungsi sebagai piranti
wacana, yakni sebagai penanda informasi baru yang belum pernah disebutkan
sebelumnya. Oleh karena itu dalam pemadanan pengertian konseptual dalam bahasa
sumber (yang berupa informasi baru dalam wacana) ditandai dengan pemunculan artikel
tak tentu a/an dalam bahasa target seperti yang terlihat dalam beberapa data berikut:

a. TS : "Kalau laki-laki, ia dapat mengangkat istrinya yang berasal dari jabe ke kasta
kita. (OS2)
TT : "A man can raise the status of his wife if she's from a lower caste," her mother
said. (VC)

b. TS : Ia mengerti. Dukun sudah mulai diundang untuk menggempur hatinya (OS2)


TT : She knew what was happening, They had asked a dukun - a medicine man - to
try to influence her feelings (VC)

c. TS : Semuanya sudah berlalu. Sama seperti kejayaannya sebagai penari arja. (OS1)
TT : All that was over. The same as her fame as an arja dancer. (VC)

Artikel tidak definit a dalam a lower caste pada contoh (a), dalam a dukun – a medicine
man pada contoh (b), dan artikel tidak definit –an dalam an arja dancer pada contoh (c)
tidaklah mengacu pada pengertian tunggal (sebuah) tetapi mengacu pada pengertian
konseptual yang ada dalam pikiran. Bandingkanlah dengan contoh berikut:

9
d. TS : Kapal telah ditambatkan di pelabuhan Gilimanuk. Sebuah candi bentar
menghadang para penumpang. (OS2)
TT : The ship had berthed at the port of Gilimanuk, and the passengers were
confronted by a Balinese split gate (VC)

Dalam contoh (d) di atas a dalam FN target a Balinese split gate adalah padanan sebuah
dalam FN sumber sebuah candi bentar bukan mengacu pada pengertian konseptual.
Pengungkapan informasi baru atau lama dalam bahasa Inggris ditandai secara
sintaksis melalui penggunaan artikel sementara dalam bahasa Indonesia tidak. Pengetian
lama dan baru dalam tulisan ini dimaksudkan apakah bendanya (konsep) baru pertama
kali disebutkan atau sebelumnya sudah pernah dibicarakan. Kalau informasi baru ditandai
oleh artikel tak tentu a/an, sebaliknya informasi lama ditandai oleh artikel tentu the
sebagai pemodifikasi (M) dalam bahasa Inggris. Dalam hal ini the menunjukkan bahwa
bendanya (konsepnya) tertentu (sudah jelas) dari konteks situasinya dalam wacana.
Beberapa data berikut menunjukkan pergeseran wajib yang harus dilakukan dalam
pemadanan konsep atau informasi yang sudah tentu.

a. TS : Dukun yang dikerahkan untuk menceraikan kita tidak ada tanda-tanda akan
berhasil (OS2)
TT : The dukun they consulted hasn't succeeded in separating us. (VC)

b. TS : Sementara itu sesajen telah siap. la mengikuti perintah neneknya yang


memimpin upacara itu. (OS2)
TT : In the meantime, the offerings had been finalised, and she followed the
instructions of her grandmother who was the person in charge of the
proceedings. (VC)

c. TS : Sore-sore ia suka menyendiri di sudut balai banjar.


TT : In the late afternoons he would often go off alone to a corner of the community
hall, (MZ)

Makna definit yang tersirat dalam item-item leksikal dukun (a), sesajen (b) dan balai
banjar (c) ditandai secara eksplisit (sintaksis) dalam bahasa target dengan menggunakan
artikel definit dalam bahasa Inggris. Dalam penerjemahan balik penanda lama baru tidak
selalu dimunculkan.

3.2 Pengurangan (Substraction)


Berlawanan dengan strategi penambahan, strategi pengurangan (substraction)
merupakan keputusan yang diambil oleh penerjemah dalam proses pemadanan dengan
mengurangi elemen struktural dalam bahasa target akibat tuntutan wajib kaedah bahasa
target dan kewajaran ungkapan. Dalam proses pemadanan terjadinya kasus pengurangan
elemen struktural lebih terbatas dan bersifat penghilangan manasuka sejumlah elemen
struktur untuk menghindarkan atau membatasi kemubasiran dan repetisi. Berikut adalah
dua kasus pengurangan yang bisa diidentifikasi dalam korpus data.

a. TS : " Engkau diseret ke bawah, engkau akan kehilangan martabatmu. Apakah


engkau tidak malu? Kami akan malu." (OS2)

10
TT : " You'd be dragged down. Down! Wouldn't you feel ashamed? We would."
(VC)

b. TS : “Itu baru saja diterima dari Bali. Jangan Dayu Tut apa-apakan. Demi
keselamatan," bibinya tanpa ditanya sudah nyerocos.(OS2)
TT : "That just came from Bali. Don't touch it. For safety's sake," her aunt warned
her, immediately on the defensive. (VC)

Pengurangan atau lebih cocok penghilangan unsur predikat dalam teks target (feel
ashamed) sebagai padanan zero kata malu dalam teks sumber didasarkan atas pemikiran
kewajaran ungkapan yang dimaksudkan untuk menghindari repetisi karena dalam klausa
sebelumnya sudah dinyatakan (Wouldn't you feel ashamed?). Contoh (b) sangat menarik
untuk dicermati karena dalam pemadanan “Jangan Dayu Tut apa-apakan.” ke dalam
“Don't touch it” dua pernyataan bisa diberikan dalam bingkai strategi penerjemahan. Di
satu sisi kasus ini bisa dianggap sebagai strategi pengurangan (penghilangan) Subjek
karena dalam teks padanan Dayu Tut (Subjek dalam kalimat imperatif tersebut atau
lawan bicara pada tataran wacana) tidak muncul. Di sisi lain kasus ini juga bisa dikatakan
sebagai strategi penambahan mengingat dalam teks padanan muncul it yang menduduki
fungsi Objek dalam klausa inperatif padanan atau yang dibicarakan dalam tataran
wacana.

3.3 Pergeseran (Shift)/ Transposisi (Transposition)


Sebagaimana yang telah diungkapkan sebelumnya kecenderungan penyesuaian
penerjemahan mengarah pada redistribusi analitik di mana padanan muncul dalam
struktur komponen yang lebih banyak/ panjang. Kecenderungan ini mengindikasikan
tidak tercapainya korespondensi formal. Dengan tidak tercapainya korespondensi formal
maka gejala selanjutnya yang bisa direkam adalah dalam penerjemahan Indonesia-Inggris
cenderung pula terjadi pergeseran formal yang disebut oleh Al-Zoubi dan Al-Hasnawi
(2001) sebagai pergeseran mikro (micro shift) dan sejajar dengan istilah transposisi
(transposition) yang dikemukakan oleh Newmark (1988) yakni suatu prosedur atau cara
penerjemahan melalui pengubahan bentuk gramatikal dari bahasa sumber ke dalam
bahasa target. Dalam pembahasan pergeseran ini penulis menggunakan kedua perspektif
terjemahan sebagai suatu produk dan proses. Dengan demikian pengertian pergeseran di
sini mengacu pada konsep formal shift yang dikemukakan Catford (1965), micro shift
oleh Al-Zoubi dan Al-Hasnawi (2001), dan transposition oleh Newmark (1988) untuk
menganalisis dua fenomena penyesuaian leksikogramatikal, yakni (1) pergeseran struktur
internal (inta system shifts) dan (2) pengedepanan (fronting).10

3.3.1 Pergeseran Struktur Internal


Pergeseran formal dalam proses penerjemahan tidak saja terjadi pada tingkat unit
di mana suatu unit tertentu dalam tataran gramatikal berubah menjadi unit yang lebih
tinggi/ besar atau sebaliknya menjadi lebih rendah/kecil. Pergeseran formal juga terjadi
pada tingkat struktur internal yang membangun suatu unit dalam teks sumber dalam unit
padanan dalam teks target. Kasus yang paling jelas adalah pergeseran struktur internal
10
Fenomena pergeseran formal seperti pergeseran unit dan kelas tidak disertakan dengan pemikiran bahwa
kedua jenis pergeseran ini cenderung lebih bersifat manasuka (optional action)..

11
(Dalam kasus ini hanya diilustrasikan Frasa Nomina yang disingkat FN). Paling sedikit
teridentifikasi empat variasi kasus pergeseran struktur internal FN, yakni (1) IQ → MI;
(2) IQ → Mn..M1 I; (3) IQ →M I Q; dan (4) IQ → IQ (I singkatan eksponen Inti; Q,
pengkualifikasi; dan M, pemodifikasi; sedangkan→ dibaca ‘menjadi’ ). Deskripsi berikut
secara berturut-turut akan memperlihatkan kasus pergeseran struktur internal FN yang
bisa direkam dalam data.

(1) IQ →MI

a. TS : Ia mengusap-usap punggung kakinya yang setiap malam dibalur beras kencur


buatannya sendiri. (OS1)
TT : She carefully rubbed her foot with rice paste every evening (VC)

b. TS : Pekak Landuh juga kurang suka pada cucu dari anaknya yang pertama ini.
(AS)11
TT : Old Landuh was also not particularly fond of the kids - his grandduldren -
either. (JL)12

Terdapat dua hal yang perlu diungkapkan pada kasus pergeseran struktur internal
dalam data di atas. Pertama, kedua contoh menunjukkan pergeseran struktur FN
berstruktur IQ dalam teks sumber mengalami pergeseran struktur dalam bahasa target
menjadi FN berstruktur MI. Dalam hal ini frasa sumber beras kencur dan Pekak Landuh
yang memiliki struktur IQ berpadanan berturut-turut dengan rice paste dan Old Landuh
yang memiliki struktur internal minimal MI. Kedua, di samping memperlihatkan
perubahan struktur perluasan elemen, yakni dalam bahasa sumber ke arah ke kanan
(belakang) elemen I menjadi ke arah kiri (depan) I dalam bahasa target, kedua data
tersebut juga menunjukkan perubahan fungsi I dalam bahasa sumber menjadi non-I
dalam padanan teks bahasa target. Beras pada frasa beras kencur yang menduduki fungsi
I menjadi non-I, yakni M pada frasa target rice paste. Begitu juga halnya dengan
Landuh dalam frasa Pekak Landuh yang menduduki fungsi non-I menjadi I pada struktur
padanannya, yakni Old Landuh

(2) IQ → Mn..M1 I
Kedua data sebelumnya menunjukkan pergeseran struktur internal minimal FN
sumber menjadi FN target berstruktur internal minimal. Sejumlah data lain juga
menunjukkan pergeseran struktur internal minimal (IQ) menjadi struktur FN target yang
memiliki elemen M lebih dari satu (di atas minimal). Korpus berikut memperlihatkan
pergeseran struktur IQ → Mn..M1 I.

a. TS : Sore-sore ia suka menyendiri di sudut balai banjar. (AS)


TT : In the late afternoons he would often go off alone to a corner of the community
hall, (VC)

11
AS : adalah data kasus yang diambil dari cerpen Aryantha Soethama berjudul Mati “Salah
Pati”sebagai teks sumber yang diterjemahkan oleh Jennifer Lindsay dengan judul The Wrong
Kind of Death dan oleh Vern Cork dengan judul Death by Misfortune.
12
JL : teks terjemahan Jennifer Lindsay sebagai teks target.

12
b. TS : Semuanya sudah berlalu. Sama seperti kejayaannya sebagai penari arja. (OS1)
TT : All that was over. The same as her fame as an arja dancer. (VC)

c. TS : Perempuan dan anak-anak gadis berkerumun di ledeng umum mengambil air.


Perkumpulan gong di balai banjar. (OS1)
TT : Women and their daughters crowding around the public faucet getting water.
The gamelan group at the community hall. (MZ)

d. TS : Diangkat ke mana engkau oleh lelaki jabe itu? Engkau diseret ke bawah engkau
akan kehilangan martabatmu. Apakah engkau tidak malu? Kami akan malu."
(OS2)
TT : But with you, it would be the opposite. You'd lose your status with a low caste
man! You'd be dragged down. Down! Wouldn't you feel ashamed? We
would."(VC)

e. TS : Kapal telah ditambatkan di pelabuhan Gilimanuk. Sebuah candi bentar


menghadang para penumpang. (OS2)
TT : The ship had berthed at the port of Gilimanuk, and the passengers were
confronted by a Balinese split gate (VC)

Contoh (a), (b) dan (c) di atas memperlihatkan pergeseran FN sumber yang memiliki
struktur yang dibangun dari dua elemen, yakni I (masing-masing balai, penari, dan
perkumpulan) dan Q yang hanya diisi oleh epitet (banjar, arja, dan gong secara berturut-
turut) menjadi FN target yang memiliki struktur internal yang dibangun oleh tiga
elemen yakni I dan masing-masing dua M yang diisi oleh artikel (the dan an) sebagai
M2 dan epitet (community, arja, dan gamelan secara berturut-turut) sebagai M1. Bahkan
contoh (d) menunjukkan suatu pergeseran struktur internal minimal frasa sumber
menjadi FN target yang memiliki struktur internal yang dibangun oleh empat elemen (I
dan tiga elemen M). Lelaki jabe yang memiliki dua elemen struktur menjadi FN
berstruktur empat elemen a low caste man. Begitu juga halnya dengan candi bentar
pada contoh (e) menjadi FN yang berstruktur internal terdiri dari empat elemen, a
Balinese split gate.

(3) IQ → IQ
Pada umumnya struktur minimal sebuah frasa Indonesia dibangun berdasarkan
hukum DM (diterangkan-menerangkan) yang memiliki struktur IQ sementara frasa
Inggris dibangun berdasarkan hukum MD (menerangkan-diterangkan) yang memiliki
struktur MI. Dengan demikian pergeseran formal yang normal unit FN sumber (yang
memiliki struktur IQ) akan menjadi FN target yang memiliki struktur MI seperti dalam
contoh frasa Indonesia gadis cantik (berstruktur IQ) akan menjadi beautiful girl
(berstruktur MI) dalam bahasa Inggris. Namun demikian sejumlah data berikut
menunjukkan FN sumber berstruktur internal IQ memiliki padanan FN target berstruktur
IQ pula.

a. TS : Perempuan dan anak-anak gadis berkerumun di ledeng umum mengambil air.


Perkumpulan gong di balai banjar. (OS1)
TT : .. the women and children who crowded around the public water-tap to get
water, groups playing the gamelan in the neighbourhood meeting halls. . (VC)

13
b. TS : Untuk ke kaki bukit.banyak motor nambang. Tidak usah lagi berjalan kaki.
(OS1)
TT : There were many motorcycles in operation, in use as far away as the foot of
the hills, so you didn't need to walk anymore (MZ)

Kalau berbicara dari sudut pandang unit, kedua data tersebut di atas
menunjukkan bahwa dalam penerjemahan FN sumber terjadi korespondensi formal
karena padanannya juga berupa unit FN. Dengan demikian tidak terjadi suatu pergeseran
formal. Begitu pula halnya dari segi struktur pernyataan tidak adanya pergeseran formal
juga bisa dibuat dengan argumentasi bahwa dalam penerjemahan FN sumber ke dalam
bahasa target terjadi padanan yang isomorfis. Dalam hal ini baik teks sumber maupun
teks target masing-masing berupa unit FN yang memiliki struktur sama yakni IQ. Namun
kalau dianalisis lebih dalam pernyataan bahwa telah terjadi pergeseran struktur internal
dalam penerjemahan FN sumber ke dalam FN target pada korpus di atas bisa dibuat.
Pembernaran terhadap pernyataan telah terjadi pergeseran struktur internal tersebut bisa
diberikan dengan memperhatikan sifat hubungan ekponensial pengisi elemen struktur FN
teks sumber dan teks target. Unit FN sumber memiliki struktur IQ yang diisi oleh kata
yang memiliki hubungan eksponensial normal sebagai unit pembentuk frasa. Tetapi Unit
FN target sebagai padanannya memiliki struktur IQ yang diisi oleh pendukung yang
memiliki hubungan eksponensial non-normal sebagai unit pembentuk frasa. FN target
tidak dibangun oleh eksponen kata saja tetapi oleh kata dan bukan kata. Sebagai FN yang
normal Perkumpulan gong, dalam contoh (a) di atas dibangun oleh eksponen kata
(perkumpulan sebagai I dan gong sebagai Q sedangkan padanannya berupa FN
berstruktur IQ yang dibangun oleh eksponen kata dan klausa. FN padanan groups
playing the gamelan dibangun oleh groups sebagai I dan playing the gamelan sebagai Q
yang berupa klausa relatif partisipial. Begitu pula halnya dengan contoh (b) , FN sumber
motor nambang yang dibangun oleh unit kata saja (motor sebagai I dan nambang sebagai
Q memiliki padanan berupa FN yang dibangun oleh unit kata dan frasa (motorcycles)
sebagai I dan frasa berpreposisi in operation sebagai Q. Dalam dua contoh ini telah
terjadi pergeseran struktur internal di mana unit yang lebih tinggi (klausa pada contoh
(a)) dan unit yang sama (frasa pada contoh (b)) beroperasi pada tataran frasa yang
biasanya dibentuk dari hubungan eksponensial kata. Dengan demikian pergeseran IQ →
IQ ditandai oleh rank-shifted (rs) dalam struktur padanan. Untuk memberikan ilustrasi
yang lebih jelas mengenai pergeseran struktur internal FN pada ke dua contoh di atas
berikut akan disajikan diagram pohon yang merupakan analisis hubungan langsung -
(immediate constituents) pembentuk FN bahasa sumber dan padanannya yang sama-
sama memiliki struktur IQ.

FN FN
rs

N N N Klausa Dependen

FV FN

14
Art. N

Perkumpulan gong Groups playing the gamelan

Diagram tersebut di atas menunjukkan bahwa walaupun kelihatannya terjadi


korespondensi formal (FN berpadanan dengan FN yang sama-sama juga memiliki
struktur IQ tetapi dalam struktur padanannya terjadi hubungan eksponen non-normal di
mana klausa dependen beroperasi dalam tatanan frasa. Berbeda dengan kasus contoh (a),
pada pemadanan contoh (b) terjadi pergeseran struktur internal di mana frasa beroperasi
dalam tataran frasa seperti yang ditunjukkan dalam diagram berikut.

FN FN
rs

N N N FP

Prep. N

motor nambang motorcycles in operation

(4) IQ → M I Q
Kerlompok data terakhir berikut menunjukkan pergeseran struktur internal FN
sumber yang memiliki hanya elemen IQ menjadi FN yang memiliki sruktur internal
lengkap (MIQ).

a. TS : Tapi tidak terlintas dalam pikirannya kalau malam ini, di Manis Galungan, ia
kedatangan tamu. (OS2)
TT : But it never passed through her mind that that evening, the day after Galungan,
she would receive visitors like this (VC)

b. TS : Tidak dapat diterima oleh pikirannya, mengapa kakaknya yang laki-laki boleh
kawin dengan gadis jabe. Sedangkan ia sebagai seorang wanita Brahmana
selalu dihalangi menikah dengan lelaki jabe. Mengapa? Lagi pula di jaman
sudah maju kayak sekarang. (OS2)
TT : It didn't make sense to her that her older brother had been able to marry a girl
of lower caste, while she, as a woman of high Brahmana caste, found her
desire to marry a man of lower caste constantly thwarted. And for what
reason? Especially in these more progressive times. (VC)

c. TS : … Ia diundang oleh saudaranya untuk membuat banten potong gigi anaknya


yang ke tiga.
TT : … she was invited by her brother …. to make the offerings for the tooth filing
ceremony for his third child. (VC)

15
Keseluruhan data yang menjadi padanan dari struktur IQ pada contoh di atas bisa
ditabulasikan ke dalam pola struktur padanan M yang diisi oleh artikel (definit, the dan
tidak definit a), diikuti oleh I berupa N (day, girl, woman, man, dan offerings) serta
diikuti oleh elemen Q yang diisi oleh frasa deskriptif berpreposisi (after, of, dan for).
Kesamaan dari struktur padanan ke tiga kasus di atas diperlihatkan oleh pengembangan
struktur melalui penambahan pemodifikasi berupa artikel (definit pada contoh (a) dan (c)
sedangkan artikel tidak definit pada contoh (b)). Hal ini merupakan pergeseran yang
bersifat wajib mengingat sifat-sifat bahasa Inggris yang mengenal sistem artikel, yakni a
untuk entitas yang baru diperkenalkan dalam suatu kalimat dan the untuk mengacu entitas
yang sudah disebutkan sebelumnya. Di samping itu dalam ke tiga kasus pemadanan
tersebut di atas terjadi rank shifted dan bahkan pada contoh (c) pergeseran struktur
internal yang terjadi ditandai oleh rank shifted yang bertingkat seperti terlihat dalam
diagram pohon (unsur langsung) berikut:

(c)
FN FN

rs
N N Artikel Indef. N FP

rs1
Prep. NP
rs2

Adj. NP

N N

wanita Brahmana ‘A woman of high Brahmana caste’

3.3.2 Pengedepanan (Fronting)


Pergeseran wajib lain yang juga harus dilakukan sebagai akibat dari tidak adanya
suatu struktur bahasa sumber dalam bahasa target adalah kasus pengedepanan patient
(Objek) dalam bahasa sumber seperti terlihat pada kasus-kasus berikut:

a. TS : Maka niat itu ia batalkan. (AS)


TT : He gave up that idea. (JL)

b. TS : Dan jimat yang terakhir ini telah kita taklukkan.


TT : And we've overcome the last magic token. (VC)

c. TS : Bungkusan putih itu ia ambil dan disimpannya di dada. (OS2)


TT : Tini took the white package and held it close to her breast. (VC)

d. TS : Mata dikatupkannya rapat-rapat. (OS2)

16
TT : She closed her eyes, but found it impossible to sleep. (VC)

Peletakan patient di latar depan dalam bahasa Indonesia (dengan struktur Object +Subjek
+ Predikat) tidak ditemukan dalam bahasa Inggris sehingga penyesuaian harus dilakukan
melalui pergeseran struktur internal dengan menjadikan padanan konstruksi bahasa
sumber ke dalam struktur kalimat deklaratif biasa (Subjek + Predikat + Objek) dalam
bahasa target (Inggris). Pergeseran tersebut bisa digambarkan ke dalam model berikut:

Object +Subjek + Predikat (Bahasa Indonesia)

Subjek + Predikat + Object (Bahasa Inggris)

Pengedepanan patient dalam struktur bahasa sumber (Indonesia) yang tercermin


dalam data ditandai oleh posisi agent dalam kaitannya dengan predikat. Agent bisa
berwujud item leksikal (ProN) dan muncul di depan verba dan sufiks –nya yang melekat
pada verba. Pergeseran dari pengedepanan patient (O) dalam bahasa sumber menjadi
struktur deklaratif normal dalam bahasa target bisa dipolakan sebagai berikut:
a. Patient + (Aspek) + Agent + Predikat → Agent + Predikat + Patient
Niat itu ia batalkan He gave up that idea
Bungkusan putih itu ia ambil Tini took the white package
Jimat yang terakhir ini telah kita taklukkan We ’ve overcome the magixc token
b. Patient + Predikat - Agent Marker → Agent + Predikat + Patient
Mata dikatupkannya She closed her eyes
Bungkusan putih itu disimpannya di dada Tini held it close to her breast

Di samping pengedepanan patient, kesenjangan struktur bahasa sumber


(Indonesia) dengan bahasa target (Inggris) yang mengakibatkan harus dilakukannya
pergeseran oleh penerjemah adalah pengedepanan Predikat (predicate fronting). Kasus
ini ditemukan pada bahasa sumber yang berstruktur verba + -lah dan verba + -nya seperti
yang ditunjukkan data berikut:

a. TS : Dan berangkatlah ia. (OS2)


TT : And so she left (VC)

b. TS : Digaruknya berulang kali tetapi tak ada seekor kutu atau semutpun didapat.
(OS1)
TT : She scratched again and again but found not one louse or ant. (MZ)

c. TS : Diludahinya tangannya dan kemudian ludah itu dioleskan pada torehan-torehan


itu. (OS1)
TT : She spat on her hand and rubbed the spit into the stinging scratches. (VC)

Secara umum dapat dikatakan bahwa ketiga contoh tersebut di atas menunjukkan
adanya pengedepanan Predikat (predicate fronting) dan mengindikasikan bahwa dalam
kasus penerjemahannya ketiga teks sumber dipadankan dengan struktur deklaratif normal
dalam bahasa target seperti kasus pengedepanan patient di atas. Walaupun demikian

17
kalau dicermati teks bahasa sumber kedua pemarkah (-lah dan –nya) memiliki
karakteristik yang masing-masing berbeda satu sama lainnya. Pemarkah –lah adalah
penanda fokus yang diikuti oleh agent sedangkan -nya penanda fokus diikuti oleh
patient (karena –nya itu sendiri sekaligus penanda fokus dan agent). Kasus pergeseran
dalam pemadanan predicate fronting tersebut dapat dimodelkan sebagai berikut:

Predikat – fokus marker + Agent


Berangkatlah ia
Agent + Predikat
She left
Predikat – Agent marker + Patient She spat on her hand
Diludahinyalah tangannya

Tetapi perlu dicatat bahwa bila -lah didahului oleh predikat pasif (di- + V + -nya) dalam
bahasa sumber maka predikat akan diikuti oleh patient

4. Simpulan
Penerjemahan merupakan keputusan yang diambil oleh penerjemah dari
keterbukaan alternatif yang tersedia untuk mengungkapkan kembali suatu pesan tertentu
dengan berbagai struktur. Walaupun demikian keputusan yang diambil oleh penerjemah
ditentukan oleh tingkat keuniversalan dan konvergensi antara bahasa dan budaya sumber
dengan bahasa dan budaya target. Meskipun secara teoritis kesepadanan bisa dicapai
akibat adanya sifat universal bahasa dan konvergensi budaya tetapi dua penutur bahasa
yang berbeda memiliki suatu budaya yang sering amat berbeda satu sama lainnya. Untuk
menangani masalah kesenjangan (mismatch) bahasa dan budaya inilah perlu dilakukan
penyesuaian (adjustment) berwujud (1) keputusan yang bersifat wajib (obligatory/
mandatory) yang harus diambil penerjemah dalam pemadanan teks sumber ke dalam teks
target untuk menyesuaikan sistem bahasa sumber dengan sistem bahasa target dan (2)
keputusan manasuka (optional) yang diambil oleh penerjemah berdasarkan alternatif
yang tersedia bagi pemadanan teks sumber ke dalam teks target sesuai dengan
kemampuan penerjemah, karakteristik teks, tujuan penerjemahan, dan sasaran terjemahan
(target audience) serta gaya penerjemah.

18
5. Pustaka Acuan
Al-Zoubi, Mohammad Q.R, dan Ali Rasheed Al-Hasnawi. 2001. Constructing a Model
for Shift Analysis in Translation dalam Translation Journal and the Authors
2001 Volume 5, No. 4 October 2001; Available from:
URL:http://accurapid.com/journal/htm
Baker, Mona. 1991. In Other Words: A Coursebook on Translation. London and New
York: Routledge.
Bassnett, McGuire, S. 1980. Translation Studies. London and New York: Methuen,
revised edition 1991,Routledge
_______, Susan dan André Lefevere (Eds.). 1995. Translation, History and Culture.
USA: Cassell.
Bell, Roger T. 1991. Translation and Translating: Theory and Practice. London:
Longman
Catford, J.C. 1965. A Linguistic Theory of Translation. London: Oxford University Press.
Cork, Vern.1999. The Sweat of Pearls. Australia: Darma Printing
Gentzler, Edwin. 1993. Contemporary Translation Theories. London and New York:
Routledge.
Hatim, Basil dan Ian Mason. 1990. Discourse and the Translator. London: Longman
_____, Basil 1999. The Translator as Communicator. New York:Routledge.
__________. 2001. Teaching and Researching Translation. England: Pearson Education
Limited.
Hohullin, E. Lou. 1992. “Gramatika Teks dalam Penerjemahan” dalam Richard B. Noss
(Ed.) . Sepuluh Makalah Mengenai Penerjemahan, Diterjemahkan oleh
Kentjanawati Gunawan, Jakarta:Pt. Rebia Indah Perkasa.pp. 83—101.
Houbert, Frederic. 1998 , Translation as a Communication Process dalam Translation
Journal and the Authors 1998 Volume 2, No. 3 July 1998; Available from:
URL:http://accurapid.com/journal/htm
Hu, Helen Chau. 1999. Cohesion and Coherence in Translation Theory and Pedagogy,
dalam WORD, Volume 50. Number 1, April 1999, pp. 33—45.
Jakobson, Roman. (1959). 2000. “On Linguistic Aspects of Translation” dalam
Lawerence Venuti (Ed.). The Translation Studies Reader, pp113-118. New
York:Routledge.
James, Kate .2002, Cultural Implications for translation dalam Translation Journal and
the Authors 2002 Volume 6, No. 4 October 2002; Available from:
URL:http://accurapid.com/journal/htm
Karamanian, Alejandra Patricia. 2002. Translation and Culture dalam Translation
Journal and the Authors 2002 Volume 6, No. 1
January 2002. Available from: URL:http://accurapid.com/journal/htm
Larson, Mildred L. 1998. Meaning-Based Translation: A Guide to Cross-Language
Lefevere, André. 1995. “Translation: Geneology in the West” dalam Bassnett, Susan dan
André Lefevere (Eds.). 1995. Translation, History and Culture. USA: Cassell
Leonardi, Vanessa. 2000. Equivalence in Translation: Between Myth and Reality dalam
Translation Journal and the Authors 2000 Volume 4, No. 4 October 2000
2002. Available from: URL:http://accurapid.com/journal/htm
Machali, Rochayah. 2000. Pedoman Bagi Penerjemah. Jakarta:Penerbit PT Grasindo

19
Macura, Vladimír. 1995. “Culture as Translation” dalam Bassnett, Susan dan André
Lefevere (Eds.). 1995. Translation, History and Culture. USA: Cassell.
Newmark, P. 1988. A Textbook of Translation. London: Prentice-Hall.
Nida, Eugene (1964). 2000. “Principles of Correspondence” dalam Lawerence Venuti
(Ed.). The Translation Studies Reader, pp.126—147. New York:Routledge.
____ dan Charles Taber. 1974. The Theory and Practice of Translation. Leiden: E.J.
Brill.
Oka Sukanta, Putu. 1991. Keringat Mutiara. Jakarta: Yayasan Kalyanamitra Pusat
Komunikasi dan Informasi Perempuan
Soethama, Gde Aryantha. 1994. “Mati Salah Pati” dalam Lampor : Cerpen Pilihan
KOMPAS 1994 Jakarta: Harian Kompas.
Suryawinata, Zuchridin dan Sugeng Hariyanto. 2003. Translation: Bahasa Teori dan
Penuntun Praktis Menerjemahkan.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Suryoputro, Gunawan. 1995. Translating English Collocations into Indonesian. Jakarta:
Program Pascasarjana Universitas Katolik Atma Jaya.
Toury, Gideon (1995). 2000. “The Nature and Role of Norms in Translation” dalam
Lawerence Venuti (Ed.). The Translation Studies Reader, pp199—211. New
York:Routledge.
Thriveni, C. 2002, Cultural Elements in Translation: The Indian Perspective dalam
Translation Journal and the Authors 2002 Volume 6, No. 1 January 2002;
Available from: URL:http://accurapid.com/journal/htm
Venuti, Lawrence (Ed.) 2000. The Translation Studies Reader. New York:Routledge.
Vinay, Jean-Paul dan Jean Darbelnet.(1995). 2000. “A Methodology for Translation”
Diterjemahkan oleh Juan C. Sager dan M.J. Hamel dalam Lawerence Venuti
(Ed.). The Translation Studies Reader, pp. 84—112. New York:Routledge.
Zellermayer, Michael. 1987. “On Comments Made by Shifts in Translation” dalam
Gideon Toury (Ed.) Translation Across Cultures. New Delhi: Bahri
Publications.

20