Anda di halaman 1dari 17

Pengantar manajemen sumberdaya air

1. Pendahuluan.
Sumberdaya air selalu memainkan peranan yang penting dalam kegiatan-kegiatan
manusia. Meningkatnya kebutuhan air dan penurunan kualitas air yang terus menerus,
sebagai akibat pertambahan penduduk dan meningkatnya kegiatan produksi,
mengakibatkan situasi sistem-sistem yang telah ada, yang kebanyakan bersifat lokal,
fungsinya menjadi tidak lagi memadai.
Rencana-rencana sistem-sistem Sumberdaya Air yang baru, yang lebih luas, lebih
rumit dan ambisius didisain, dibangun dan dioperasikan. Rencana-rencana semacam
ini, misalnya pembangunan reservoir-reservoir dan jaringan irigasi yang berukuran
besar, dalam skala satu daerah, daerah aliran sungai, atau beberapa daerah aliran
sungai.
Tujuan dari rencana-rencana ini adalah tersedianya air dengan kualitas dan kuantitas
yang memadai, pada saat yang diperlukan dan di tempat yang tepat, serta bernilai
sesuai dengan segala biaya dan pengorbanan yang diperlukan untuk memperolehnya.
Pergeseran dari sistem Sumberdaya Air lokal ke sistem dengan daerah yang lebih luas
berakibat merenggangkan jarak antara perencana dengan para pemakai air. Selain
itu, dalam rangka mengelola dan mengoperasikannya, perlu dibentuk instansi/lembaga
yang lebih rumit.
Keadaan ini sering kali berakibat suatu pengembangan tidak menghasilkan tingkat
produk seperti yang diharapkan serta berdampak lingkungan dan sosial yang negatif
dan serius.
Dampak-dampak yang merugikan ini sering kali muncul akibat :
• perencanaan yang tidak/kurang mempertimbangkan dampak-dampak
lingkungan yang mungkin timbul,
• perencanaan kurang sesuai dengan keadaan setempat,
• pembentukan/pengaturan kelembagaan yang sebenarnya perlu dilakukan tidak
cukup mendapat perhatian.
Oleh karena itu, untuk menghindari kesalahan-kesalahan seperti ini, perencanaan-
perencanaan dewasa ini haruslah memperhatikan aspek-aspek sosial ekonomi,
lingkungan dan kelembagaan manajemen sumberdaya air.
Para perencana sumberdaya air menghadapi permasalahan yang kompleks. Mereka
harus menguasai/memahami dan sejauh mungkin harus dapat meng-kuantitatif-kan
aspek-aspek manajemen sumberdaya air, selain itu, merekapun harus mampu
mengetahui dan memahami keterkaitan yang ada di antara aspek-aspek tersebut.
Khusus dalam studi perencanaan dengan cakupan daerah yang luas, para perencana
dihadapkan pada ragam dan variasi alternatif sistem sumberdaya air dan alternatif
strategi manajemen yang dapat dikatakan tak terbatas jumlahnya. Para perencana
berkewajiban menetapkan pilihan alternatif yang terbaik.
Bertambah rumitnya permasalahan manajemen sumberdaya air memaksa para analis
mencari metode untuk mempermudah pelaksanaan tugas yang dihadapinya. Metode
analisis sistem merupakan sesuatu yang berarti dalam menyempurnakan analisis
manajemen sumberdaya air.
Tulisan ini akan membahas Sistem Sumberdaya Air sebagai sistem masukan-keluaran
( bab 2 ), Manajemen Sumberdaya Air sebagai keseluruhan tugas dalam rangka

1
Pengantar manajemen sumberdaya air
mengusahakan Sistem Sumberdaya Air menghasilkan produk sesuai dengan yang
dikehendaki ( bab 3 ).
Bab 4 membahas beberapa aspek permasalahan Manajemen Sumberdaya Air dan bab
5 membahas secara singkat aplikasi analisis sistem dalam Manajemen Sumberdaya
Air, sebagai suatu pendahuluan untuk pembahasan yang lebih rinci.

2. Sistem Sumberdaya Air.

2.1. Umum.

Sistem Sumberdaya Air berkaitan dengan penyediaan air dan berkaitan dengan
pendukung kegiatan-kegiatan manusia yang berhubungan dengan air, dalam kaitannya
baik dengan air tanah maupun dengan air permukaan.
Air yang dimaksud di sini adalah air dengan termasuk seluruh komponen fisik, kimiawi
dan komponen biologis yang terkandung di dalamnya, serta merupakan masukan
pada, sebagai contoh, proses-proses pertanian dan industri, perikanan dan produksi air
minum serta sedimentasi di dataran banjir.
Yang dimaksud dengan kegiatan manusia yang berhubungan dengan air misalnya :
rekreasi air, transportasi sungai.
Yang termasuk Sistem Sumberdaya Air adalah elemen yang diperlukan untuk
menghasilkan air, barang dan kemudahan yang berkaitan dengan air.
Sistem Sumberdaya Air terdiri dari :
• elemen-elemen alam, seperti : sungai, danau ;
• elemen-elemen buatan manusia, seperti : bendung, saluran ;
• elemen-elemen administratif, seperti : peraturan perundangan, struktur
organisasi, kelembagaan.
Air serta barang dan jasa yang berkaitan dengan air, sebagai produk/keluaran Sistem
Sumberdaya Air, merupakan masukan bagi berbagai kegiatan manusia dan berbagai
proses alam yang menghasilkan benda dan kemudahan yang diperlukan masyarakat,
misalnya : produk-produk pertanian, listrik.
Kegiatan manusia seperti ini disebut juga sebagai kelompok pemakaian air.

2.2. Definisi dan deskripsi Sistem Sumberdaya Air.

Untuk pelaksanaan analisis Manajemen Sumberdaya Air diperlukan definisi dan


deskripsi Sistem Sumberdaya Air yang akan dianalisis.
Dalam definisi dan deskripsi ini ada 3 komponen penting yang perlu termasuk di
dalamnya, yaitu :
• dimensi spasial ( dimensi tata ruang ),
• elemen-elemen yang akan diperhatikan,
• dimensi waktu.
2
Pengantar manajemen sumberdaya air

2.2.1. dimensi spasial ( dimensi tata ruang )


Dimensi spasial (tata ruang) dinyatakan dengan batas-batas sistem dan subsistem.
Batas ini dapat digambarkan atas dasar sudut pandang yang berlainan, misalnya,
berdasarkan kondisi topografi, berdasarkan kegiatan ekonomi, berdasarkan susunan
kelembagaan, dll... Dalam prakteknya tidak selalu mungkin hanya mempergunakan
satu sistem batas, pemakaian beberapa sistem batas sangat lazim dipakai dalam
Analisis Manajemen Sumberdaya Air.

2.2.2. elemen-elemen yang akan diperhatikan.


Yang dibahas dalam konteks ini adalah menetapkan elemen-elemen yang manakah
yang harus lebih diperhatikan, misalnya, dalam mencari alternatif, elemen-elemen
manakah yang akan dianggap mempunyai nilai tetap. Sebagai contoh :
• apakah sistem produksi dan irigasi ditingkat petani akan diperhatikan atau hanya
akan dianggap bahwa masing-masing pintu utama petani mempunyai kebutuhan
air yang tetap,
• apakah alternatif manajemen daerah pengaliran. di sebelah udik reservoir akan
diperhatikan dengan teliti,
• apakah analisis akan memperhatikan. dengan teliti masukan selain air seperti
bibit, pupuk, pestisida dan penyuluhan teknik atau semua itu dianggap sudah
pasti tersedia sebagaimana mestinya dan hanya faktor air saja yang akan
diperhatikan dengan teliti,
• apakah analisis transportasi, pengolahan dan pemasaran produk petani akan
dimasukkan, sehingga dapat ditelaah nilai produk petani (farm output), atau.
untuk nilai ini secara sederhana diambil suatu anggapan,
• apakah pengalokasian tugas di antara berbagai tingkat organisasi pemerintah
akan diperhatikan dengan teliti, dalam kkaitannya dengan usaha memperoleh
air, barang, jasa dan kemudahan yang berhubungan dengan air seperti yang
diharapkan.

2.2.3. Dimensi waktu.


Mengenai dimensi waktu ini ada dua aspek penting. Yang pertama adalah pemilihan
horison waktu analisis, misalnya, saat ini, 10 tahun yang akan datang, 20 tahun yang
akan datang. Yang kedua adalah memilih BAGAIMANA horison waktu akan dianalisis.
Tujuannya adalah menganalisis bagaimana Sistem Sumberdaya Air bereaksi/berjalan
dari waktu ke waktu, misalnya: produk produk apakah yang dapat dihasilkan Sistem
Sumberdaya Air dari waktu ke waktu untuk suatu masukan hidrologis tertentu.
Kedua aspek yang diuraikan di atas menentukan pendekatan. atau pendekatan-
pendekatan yang akan dipakai dalam melaksanakan analisis.
Sebagal contoh, suatu analisa Sistem Sumberdaya Air yang berkaitan dengan
manajemen kualitas air dapat mempergunakan satu harga aliran, atau sekumpulan
harga aliran yang masuk ke dalam sistem dari berbagal titik, atau dapat pula
mempergunakan harga aliran terendah, atau aliran 1O %. Kumpulan keadaan aliran ini
merupakan masukan pada sistem untuk analisa situasi saat ini, situasi 10 tahun yang
akan datang ataupun situasi 20 tahun yang akan datang.

3
Pengantar manajemen sumberdaya air
Analisa Sistem Sumberdaya Air yang menghasilkan beberapa keluaran, misalnya
informasi mengenai pembangkitan tenaga listrik hidro, reduksi bencana banjir, irigasi,
mungkin akan mempergunakan data hidrologi sintetis dengan urutan selama 500 tahun
yang dibagi dalam 10 periode masing-masing 50 tahun. Analisa semacam Ini sangat
relevan dan diperlukan untuk kasus dengan iklim yang sangat bervariasi.
Data dengan urutan 500 tahun yang sama dapat dipakai untuk kasus saat ini, kasus
dengan tingkat dan distribusi spasial kegiatan yang ada saat ini; kasus 10 tahun yang
akan datang dan kasus 20 tahun yang akan datang.
Pendekatan yang diuraikan di atas mungkin dapat disebut sebagal pendekatan "quasi-
dynamic atau "quasi-static", pendekatan dengan data masukan hidrologis yang
bervariasi sedangkan kegiatan ekonomi tetap tidak berubah untuk beberapa "run".
Pendekatan yang paling rumit adalah apabila harus dilakukan variasi baik pada data
masukan hidrologis maupun pada kegiatan-kegiatan ekonomi untuk berbagai “run".
Sebagal contoh, data masukan hidrologis 500 tahun dipakai dengan kebutuhan air
yang berubah setiap tahun mulai saat ini sampai 20 tahun yang akan datang.
Perlu dicatat bahwa baik untuk pendekatan yang kedua ataupun ketiga yang dijelaskan
di atas, tergantung pada kombinasi keluaran yang diperlukan, kemungkinan akan
terdapat pembagian tahap waktu yang berlainan di dalam suatu "run".
Sebagal contoh, data aliran-aliran bulanan dipakai sampai saatnya terjadi banjir,
kemudian untuk saat terjadi banjir diubah memakai, misalnya, data aliran 6 jam-an.
Kemungkinan lain,. analisa banjir dan reduksi kerusakan akibat banjir dilakukan
terpisah dari analisa sistem jangka panjang yang mempergunakan data aliran bulanan.
Pilihan tentang bagaimana Sistem Sumberdaya Air didefinisikan sehubungan dengan
batas-batas sistem, elemen-elemen yang perlu diperhatikan, dan tahap waktu yang
akan dipakai tergantung pada persoalan spesifik yang harus dipecahkan atau dianalisa.
Secara umum, yang terpenting adalah: jangan mendefinisikan sistem terlalu sempit
karena yang demikian ini dapat mengakibatkan elemen-elemen yang penting tidak
termasukkan ke dalam analisa.

2.3. Sistem Sumberdaya Air sebagai sistem masukan-keluaran.


Dari sudut pandang seorang analis sistem, Sistem Sumberdaya Air dapat dipandang
sebagai sistem masukan-keluaran yang menghasilkan air serta barang dan
jasa/kemudahan yang berhubungan dengan air (gambar 1).
Sistem Sumberdaya Air merubah karakteristik kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi
sumber-sumber air permukaan dan air tanah menjadi air, produk dan jasa/kemudahan
yang terkait dengan air dengan karakteristik kuantitas, kualitas, waktu dan tempat
sesuai dengan yang diinginkan.
Keluaran sistem dapat berbentuk, antara lain : air irigasi, kemungkinan transportasi air,
peluang rekreasi air, air untuk keperluan Industri, listrik tenaga-hidro.
Keluaran-keluaran ini merupakan masukan bagi apa yang disebut kegiatan-kegiatan
pemakaian air seperti perikanan, proses-proses industri dan pertanian, transportasi dan
reduksl bencana banjir.
Serupa dengan industri atau sistem produksi lainnya, produksi suatu hasil yang
dikehendaki sepertl diuraikan diatas juga menghasilkan apa yang disebut "non product
output".
4
Pengantar manajemen sumberdaya air
Untuk Sistem Sumberdaya Air, yang termasuk "non product output" antara lain:
akumulasi lumpur (silt) didalam reservoir, gerusan dasar sungai, lumpur buangan dari
penjernihan air, pengembangan pedesaan akibat kegiatan pembangunan,
pengoperasian infrastruktur, reduksi endapan silt di dataran banjir.
Masukan pada Sistim Sumberdaya Air adalah:
• air dari luar batas sistem (debit sungal, presipitasi),
• luah limbah kedalam air,
• sumber-sumber utama, misalnya;
o berbagai jenis tanah,
o buruh,
o kapital dengan mana Sistem Sumberdaya Air dibangun dan dioperasikan,
o strategi-strategi manajemen,
Menurut konsepsi Sistem Sumberdaya Air seperti yang diuraikan diatas, maka Sistem
Sumberdaya Air, pada dasarnya, terdiri dari lima komponen sebagai berikut dibawah
ini:
1. keseluruhan air dan komponen fisik, kimiawi dan biologisnya didalam dan diatas
tanah di daerah yang ditinjau;
2. subsistem alam : sungal, danau, akuifer air tanah, struktur topografi, vegetasi, tanah
dan struktur geologi;
3. subsistem infrastruktur (buatan manusia) seperti saluran, bendung pengalih aliran,
jaringan pipa, stasiun pompa, bangunan penjernihan air, jaringan pemantauan;
4. prosedur-prosedur pengoperasian subsistem infrastruktur;
5. subsistem administratif, peraturan perundangan yang ada, pungutan-pungutan,
sanksi-sanksi, pajak dan subsidi yang dikenakan/diberikan kepada para pemakai
produk Sistim Sumberdaya Air, dan kerangka kerja instansi-instansi yang terdiri dari
instansi, lembaga atau badan lain yang terlibat dalam manajemen air tanah dan air
permukaan, baik kualitatif maupun kuantitatif.

5
Pengantar manajemen sumberdaya air

6
Pengantar manajemen sumberdaya air

7
Pengantar manajemen sumberdaya air
3. Manajemen Sumberdaya Air.

3.1. Umum.
Manajemen Sumber-sumber Air (sumberdaya air) didefinisikan sebagai keseluruhan
tugas yang diperlukan untuk menghasilkan air, barang dan jasa/kemudahan (yang
berhubungan dengan air).
Konteks umum Manajemen Sumberdaya Air, secara ringkas, diperlihatkan dalam
gambar 2.
Aspek-aspek utama Manajemen Sumberdaya Air adalah Sistim Sumberdaya Air dan
kelompok pemakaian air.
Seperti diperlihatkan dalam gambar 2, terdapat adanya hubungan kebutuhan-
penyediaan (demand-supply relationship) diantara kedua aspek utama tersebut.
Kelompok-kelompok pemakaian air membutuhkan air, barang dan jasa/kemudahan
(yang berhubungan dengan air) untuk dapat menghasilkan suatu produk (produk
pertanian, peluang rekreasi air, dll , yang disebut sebagai kebutuhan akhir).
Sistem Sumberdaya Air inilah yang menyediakan kebutuhan diatas.
Yang merupakan masukan pada Sistem Sumberdaya Air adalah: air dan limbah dari
luar batas sistem; sumber-sumber lain seperti buruh, tanah, energi; dan manajemen
(rencana dan peraturan).
Untuk menghasilkan suatu produk, sekumpulan tugas-tugas harus dilaksanakan.
Persepsi permasalahan Manajemen Sumberdaya Air didasarkan pada:
i. pengaruh/effek/dampak, yang ditimbulkan oleh Sistem alam, terhadap kegiatan-
kegiatan manusia;
ii. situasi dimana produk yang dihasilkan kelompok pemakaian air hanya dapat
memenuhi "kebutuhan akhir" sampai tingkat tertentu saja, sebagai akibat dari
masukan-masukan (yang berkaitan dengan air) pada kegiatan-kegiatan (yang
memerlukan) lebih sedikit (dalam kuantitas dan/atau kualitas) daripada yang
diperlukan.
Penyelesaian permasalahan memerlukan perencanaan dan analisa misalnya
perumusan, evaluasi dan pemilihan strategi.
Hasil perencanaan dan analisa ini merupakan suatu masukan-masukan manajemen
yang dapat mempengaruhi penyediaan (Sistem Sumberdaya Air) dan juga kebutuhan
(kelompok pemakalan air).
Keterkaitan antara masukan-masukan manajemen, sistem Sumberdaya Air dan
kelompok pemakalan air membentuk suatu "loop" seperti yang diperlihatkan dalam
gambar 2.
Manajemen Sumberdaya Air umumnya berkaitan dengan situasi-situasi yang rumit,
antara lain seperti contoh situasi-situasi seperti berikut dibawah ini:
• air permukaan, air tanah, serta aspek-aspek kuantitasnya dan kualitas sering
kali saling berkaitan;
• elemen-elemen waktu dan ruang memerlukan penguraian, dan kadang-kadang
memerlukan pendekatan dinamis;

8
Pengantar manajemen sumberdaya air
• melibatkan beberapa kegiatan pemakalan air, masing-masing dengan
kepentingan yang spesifik, beberapa diantaranya dapat saling bertentangan;
• tugas-tugas Manajemen Sumberdaya Air umumnya tidak dilaksanakan oleh satu
Instansi pemerintah, untuk suatu sifat permasalahan-permasalahan dan
kepentingan-kepentingan tertentu yang dilibatkan, tugas-tugas Manajemen
Sumberdaya Air dibagi diantara beberapa Instansi dan berbagai tingkat
administratif, misalnya beberapa departemen, badan-badan yang mengelola air,
proplnsi, lembaga pelestarian lingkungan, daerah-daerah irigasi, otorita daerah
aliran sungai;
• pembatasan/batasan anggaran dan kebijaksanaan pemerintah yang
berhubungan dengan kepentingan-kepentingan nasional dapat merupakan suatu
kondisi- kondisi pembatas.
Manajemen Sumberdaya Air berkaitan dengan sektor-sektor kepentingan masyarakat
lainnya, dimana pemerintah merupakan fihak yang paling bertanggung jawab.
Sektor-sektor tersebut antara lain: perencanaan pemanfaatan lahan, pelestarlan
lingkungan, produksi industri, transportasi dan rekreasi.
Disamping bidang-bidang sektoral ini masih ada beberapa bidang-bidang yang
berkaitan dengan Manajemen Sumberdaya Air yang lebih umum, yang diperhatikan
secara nasional, misalnya kesejahteraan sosial, perkembangan/pengembangan
ekonomi nasional dan kesehatan masyarakat,
Bldang-bidang sektoral dan bidang-bidang yang lebih umum seperti diatas sulit untuk
dipisah-pisahkan. Pada dasarnya, ada beberapa aspek sosial, ekonomi dan
keselaatan masyarakat yang berkaitan dengan seluruh bidang-bidang sektoral.
Dalam kaitan ini, hierarki tujuan-tujuan nasional perlu dijabarkan, sebagal contoh:
tujuan dasar nasional seperti “meningkatkan tingkat kesejahteraan dan
kemakmuran", dapat diterjemahkan menjadi tujuan yang lebih spesifik yang
berkaitan dengan situasi sosial-ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, dan
kemudian dapat dinyatakan lagi dalam hubungannya dengan lingkungan produksi
pangan, penyediaan air minum dst.
Melihat observasi-observasi diatas, agak jelas kiranya bahwa tugas-tugas
pemerintahan tidak dapat dilaksanakan secara “dadakan”, tetapi membutuhkan
pendekatan yang sistimatis dan mantap.
Hal ini tidak hanya berlaku pada tugas-tugas nyata Manajemen Sumberdaya Air, tapi
juga berlaku untuk proses pengintegrasian Manajemen Sumberdaya Air dengan
bidang-bidang lain yang menjadi perhatian pemerintah dan berkaitan. Yang terakhir ini
memerlukan kondisi-kondisi batas/pembatas masing-masing bidang/sektor yang tegas.
Penelitian ilmiah dan teknik-teknik analisa merupakan sarana bantu yang sangat
berharga dalam mendukung kegiatan-kegiatan penetapan keputusan/kebijaksanaan
dalam Manajemen Sumberdaya Air.

3.2. Aspek-aspek Manajemen Sumberdaya Air.


Aspek-aspek utama Manajemen Sumberdaya Air adalah kebutuhan dan penyediaan
serta tugas-tugas untuk menciptakan keseimbangan diantara kebutuhan dan
penyediaan tersebut.
Sumberdaya Air harus dipandang sebagai suatu sumber ekonomi dan tunduk pada
hukum-hukum ekonomi seperti barang-barang ekonomi lainnya.
9
Pengantar manajemen sumberdaya air
Oleh karena itu kebutuhan air tidak pernah tetap tapi tergantung pada kesediaan para
pemakai untuk membeli air serta benda dan kemudahan yang terkait dengan air, yang
tergantung dari harga yang harus dibayar.
Kebutuhan dapat dipengaruhi dengan penerapan "perangsang" untuk mengajak para
pemakai air bersikap seperti yang diinginkan sehubungan dengan air yang dipakainya,
Contoh-contoh yang dimaksud "perangsang" misalnya: pungutan, kuota, pajak atau
subsidi.
Dibawah ini akan diuraikan beberapa catatan mengenai kebutuhan dan penyediaan.
Kebutuhan:
• kebutuhan harus didefinisikan menurut dimensi spasial (tata ruang) dan dimensi
waktu;
• kebutuhan, umumnya, berhubungan dengan kuantitas dan kualitas;
• sejauh mana sesuatu dapat mempengaruhi kebutuhan tergantung pada
alternatif-alternatif yang tersedia bagi para pemakai air;
• suatu kebutuhan air, misalnya untuk suatu Industri, mempunyai. beberapa
dimensi, contohnya kebutuhan pengambilan air, kebutuhan kotor air, kebutuhan
konsumtif pemakaian air, kebutuhan pembuangan air limbah;
• untuk menganalisa kebutuhan, yang perlu difahami adalah: variabel-variabel
yang menentukan kebutuhan, sebagal contoh: ekonomi, politik, dan teknologi.
Penyediaan:
• penyedlaan juga berkaitan dengan kuantitas, kualitas (fisik, kimlawi dan
biologis), pola waktu dan lokasi;
• penyediaan mempunyai sifat "stochastic" yang dapat dirubah dengan alat-alat
teknis,- sebagai contoh, reservoir.

3.3. Proses Manaiemen Sumberdaya Air


Manajemen Sumberdaya Air harus dipandang sebagal proses yang melibatkan
tahapan-tahapan sepertl diperlihatkan dalam gambar 3; perencanaan, disain,
konstruksi, operasi dan pemeliharaan.
Dalam beberapa kasus, penekanan yang berlebihan diberikan pada aspek-aspek dsain
dan konstruksi Manajemen Sumberdaya Air, dengan merugikan aspek-aspek operasl
dan pemeliharaan.
Penekanan yang berlebihan ini dimulai dalam tahap perencanaan, dimana perhatian
terlalu sedikit diberikan untuk:
• aspek-aspek implementasi/penerapan;
• upaya-upaya yang perlu dilakukan, seperti perangsang-perangsang untuk
mengusahakan sikap-sikap yang dikehendaki,
• pembentukan/pengaturan kelembagaan sebagai mana yang diperlukan.

10
Pengantar manajemen sumberdaya air

3.4. Stuktur hierarki Manajemen Sumberdaya Air


Komponen-komponen administratif dan organisatoris Sistem Sumberdaya Air
menggambarkan bagaimana rumitnya:
• komponen-komponen alam dan komponen fisik yang membentuknya;
• bervariasinya kebutuhan air, kebutuhan produk dan layanan/ kemudahan yang
berkaitan dengan air;
• serta kepentlngan-kepentingan lainnya yang terlibat.
11
Pengantar manajemen sumberdaya air
Karena Manajemen Sumberdaya Air melibatkan keputusan-keputusan/kebijaksanaan-
kebijaksanaan dan tindakan-tindakan pada skala geografis yang berbeda dan
sehubungan dengan beragamnya tugas-tugas yang perlu dilaksanakan, maka
Manajemen Sumberdaya Air melibatkan instansi/lembaga di semua tingkat
pemerintahan baik nasional, regional maupun lokal ditambah dengan kelompok-
kelompok pemakai air (swasta/ perorangan).
Perencanaan dan kegiatan-kegiatan penetapan keputusan/ kebijaksanaan yang lebih
rinci dilaksanakan di tingkat regional, menghasilkan sekumpulan kondisi-kondisi batas
untuk -tugas-tugas Manajemen Sumberdaya Air di tingkat lokal.
Dari atas ke bawah, keterlibatan administratif cenderung semakin nyata dan lebih
bersifat operasi dan pelaksanaan, seperti halnya kebanyakan tugas-tugas
pemerintahan.
Untuk berbagai kepentingan yang berbeda yang berkaitan dengan Manajemen
Sumberdaya Air, berbagai instansi pemerintah biasanya dilibatkan, misalnya, salah
satu instansi bertanggung jawab untuk masalah lingkungan, instansi-instans! lainnya
bertanggung jawab untuk masalah pertanian, transportasi, masalah ekonomi ... dst
Instansi-instansi pemerintah ini mungkin mempunyai, mungkin juga tidak mempunyai,
struktur hierarki yang memungkinkan keterlibatan sampal tingkat administratif yang
lebih rendah.
Sebagal akibat dari struktur administrarif yang kurang lebih rumit Ini, tugas-tugas
operasional tidak berada pada suatu instans! pemerintah dan juga tidak pada tingkat
yang sama.
Alokasi tugas-tugas Manajemen Sumberdaya Air berubah-ubah dari satu negara ke.
negara lain, bahkan seringkall demikian halnya didalam satu negara.
Beberapa kegiatan (tugas) dilaksanakan oleh instansi-instansi pemerintah tingkat
nasional, beberapa lainnya dilaksanakan oleh instansi-instansi pemerintah tingkat
propinsi, pemerintah tingkat kabupaten dan mungkin juga oleh swasta.
Dibawah ini akan diuraikan contoh pengalokasian tugas manajemen sumberdaya air
untuk kasus-kasus reduksi bencana banjir, penyedlaan air irigasi dan manajemen
kualitas air.
Perlu dicatat bahwa instasi pemerintah di semua tingkat dapat terlibat (bertanggung
jawab dan/atau melaksanakan kegiatan) pada bagian air yang sama,
Sebagai contoh, instansi tingkat nasional mengoperasikan fasilitas-fasilitas navigasi di
suatu sungai; instansi tingkat propinsi menerbitkan izin-izin peluahan dan bertanggung
jawab untuk manajemen kualitas air di sungai; instansi tingkat Kabupaten
melaksanakan penetapan batas-batas dataran banjir sepanjang sungai.

KASUS REDUKSI BENCANA BANJIR.


Instansl-Instansi tingkat nasional kemungkinan akan melaksanakan tugas-tugas
sebagal berikut:
• pembuatan peta-peta yang memperlihatkan dataran banjir di daerah-daerah
perkotaan;
• pengembangan program asuransi banjir dan mensubsidi suku bunga asuransi;
• melakukan penelitian mengenai anallsa frekuensi banjir;
• penyusunan data untuk mengetahui kemungkinan/distribusi banjir;

12
Pengantar manajemen sumberdaya air
• pengembangan prosedur prakiraan banjir dan pelaksanaannya; perencanaan,
disain, pengawasan konstruksi tanggul pengamanan banjir;
• pada saat banjir, membantu evakuasi/pengungsian penduduk, ternak, dan
barang-barang;
• membantu rekonstruksi;
• penyediaan bantuan dana untuk membangun kembali setelah banjir.
Instansi tingkat propinsi mungkin juga melaksanakan analisa frekuensi banjir,
perencanaan/disain/pengawasan konstruksi tanggul, dan lain-lain.
Instansi tingkat kabupaten atau lokal melaksanakan tugas-tugas sebagai berikut:
• menetapkan batas daerah dataran banjir,
• menjalankan aturan-aturan mengenal konstruksi-konstruksi di dataran banjir
atau gangguan-gangguan pada aliran-aliran di saluran/sungai,
• menyebarkan tanda bahaya banjir di tempat-tempat yang rawan banjir,
• pengungsian dan pemukiman penduduk,
• penyediaan perumahan darurat.

KASUS PENYEDIAAN AIR IRIGASI.


Di Amerika Serikat, kelompok-kelompok perseorangan membentuk semacam
perusahaan-perusahaan air yang saling bekerja sama merencanakan, mendesain,
mengkonstruksi dan mengoperasikan reservoir-reservoir, bangunan-bangunan bagi,
saluran-saluran, dalam rangka menyediakan air irigasi bagi para anggotanya.
Yang lebih tipikal dewasa ini ialah instansi-instansi nasional, seperti Biro Reklamasi di
Amerika Serikat, atau otorita daerah aliran sungai, merencanakan, mendisain,
mengawasi pelaksanaan konstruksl dam dan reservoir, bangunan bagi saluran induk
dan cabang dalam suatu sistim irigasi.
Pemerintah tingkat nasional menetapkan berapa bagian dari ongkos-ongkos (costs)
dibebankan kepada para pemakal air (petani-petani lrigasi).
Petanl-petani berorganisasi dalam suatu perkumpulan, sepertl distrik irigasl, dengan
mana instansi-instasi pusat dapat membahas permasalahan pengembalian ongkos-
ongkos yang dialokasikan untuk irigasi.
Dlstrik Irigasi bertanggung jawab untuk menyalurkan air ke unit-unit petani perorangan,
pemeliharaan saluran, pompa dan fasilitas-fasilltas sistem distribusi lainnya.
Para petani bertanggung jawab untuk memellhara fasilitas-fasilitas tingkat petani (on-
farm), biasanya dengan bantuan teknis, kadang-kadang bantuan peralatan dari distrik.
Pemerintah pusat melakukan penelitian mengenal disain dam, metoda konstruksi,
metoda irigasi dan penjadwalan penyaluran air.
Kegiatan-kegiatan penelitian semacam ini dapat juga dilakukan oleh instansi-instansi
tingkat propinsl atau oleh otorita daerah aliran sungai.

KASUS MANAJEMEN KUALITAS AIR,


Instansi-instansi tingkat pusat dapat melakukan penelitian mengenai metoda-metoda
mereduksi peluahan, dengan bekerja sama dengan Instansi-instansi daerah, swasta
atau dengan sumber peluahan itu sendiri.

13
Pengantar manajemen sumberdaya air
Instansi-instansi tingkat pusat dapat mengembangkan pedoman standar peluahan
untuk berbagai kegiatan-kegiatan Industri.
Instansi-Instansi daerah mengeluarkan ijin-ijin kegiatan-kegiatan peluahan, memantau
peluahan dan mengeluarkan sanksi-sanksi.
Instansi-Instansi daerah atau swasta mendisain dan membangun sarana pengolahan
air limbah dan memantau peluahan air limbah.
Pemerintah pusat dapat memberikan bantuan dana untuk pemerintah daerah serta
memutuskan pemberian subsidi untuk kegiatan-kegiatan sektor swasta.

4. Penggolongan permasalahan sumber-sumber air.


Manajemen Sumberdaya Air, dan khususnya perencanaan Manajemen Sumberdaya
Air, berkaitan dengan tindakan-tindakan atau upaya-upaya untuk mengurangi atau
meredakan permasalahan sumberdaya air.
Pada umumnya, permasalahan-permasalahan membentuk suatu dasar untuk memulai
suatu studi Manajemen Sumberdaya Air.
Dalam kaitan ini perlu disadari bahwa aspek-aspek permasalahan Manajemen
Sumberdaya Air dibawah ini perlu dapat dibedakan satu dengan yang lainnya:
• fenomena-fisik: banjlr, erosi yang berakibat menurunnya produktifitas setempat,
sedimentasi di hilir,
• penyebab: ditinggalinya dataran banjir, pengembalaan ternak yang berlebihan,
• dampak sosial-ekonomi
Pemahaman dampak-dampak sosial-ekonomi permasalahan merupakan hal yang
penting karena dampak-dampak ini menyebabkan penetap keputusan/kebijaksanaan
mengambil tindakan dan tidak demikian halnya dengan fenomena fisik dan penyebab.
Dampak sosial-ekonomi merupakan rangsangan nyata untuk dilaksanakannya usaha-
usaha perencanaan dan pelaksanaan upaya pemecahan masalah.
Menyatakan permasalahan sumber-sumber air dalam kaitannya dengan dampak-
dampak sosial-ekonomi merupakan penyempurnaan pertama dari pengidentifikasian
secara sederhana permasalahan-permasalahan dalam peristilahan fisik.
Tahap selanjutnya yang perlu dilaksanakan adalah mengkaitkan permasalahan-
permasalahan ini dengan akibat-akibatnya/ pengaruh-pengaruhnya pada Manajemen
Sumberdaya Air dan pada penataan organisasi dan administrasi.
Kelemahan kelembagaan menjurus pada lemahnya Manajemen Sumberdaya Air dan
akhirnya menjurus pada timbulnya permasalahan sumberdaya air, seperti yang
digambarkan pada gambar 4.
Suatu contoh hubungan seperti yang dimaksud dalam uraian diatas adalah sebagai
berikut:
Permasalahan sumber air, didefinisikan sebagai berkurangnya produk pertanian
akibat banjir.
Setelah diusut ternyata hal ini diakibatkan oleh lemahnya Manaiemen Sumberdaya
Air, dalam hal ini buruknya pengoperasian reservoir di udik dalam kaitannya dengan
pereduksian (meredam) aliran banjir.

14
Pengantar manajemen sumberdaya air
Dan setelah diusut lebih lanjut lagi ternyata pengoperaslan reservoir ini merupakan
tanggung jawab perusahaan air minum.
Dalam kasus seperti yang diuraikan diatas penyelesalan pokok masalah adalah
dengan menyempurnaan susunan organisasi dan administratif, dalam kasus-kasus
lainnya mungkin saja upaya-upaya yang diperlukan berhubungan dengan masalah
infrastruktur.

15
Pengantar manajemen sumberdaya air

16
Pengantar manajemen sumberdaya air

5. Aplikasi analisa sistem dalam Manajemen Sumberdaya Air


Seorang analis sistem dapat berperan penting dalam dua tahap utama Manajemen
Sumberdaya Air, yaitu pada tahap perencanaan dan tahap pengoperasian/operasi
(gambar 3).
Perencanaan terdiri dari perumusan, evaluasi dan pemilihan strategi-strategi
Manajemen Sumberdaya Air.
Analis sistem dapat menyajikan kerangka kerja yang sistimatis untuk keperluan
perencanaan dalam bentuk:
• kerangka kerja analisa (urutan tahap-tahap yang terkoordinasi);
• kerangka kerja komputasi (kumpulan teknik-teknik komputasi yang bertahan
secara logis).

6. Daftar Pustaka.

• BOWER, Blair T., Maynard M. HUFSCHMIDT, A conceptual framework for analysis


of Water Resources in Asia, East-West Center, Hawaii, UK-FORUM, Fall 1984-
issue.
• KOUDSTAAL, R, and H.A. PENNEKAMP, Planning for Water Resources
Management, Framework for Analysis, second draft S445-D83/001, Delft
Hydraulycs Laboratory, the Netherlands, April 1983.

17