Anda di halaman 1dari 3

Simak Nih!

Strategi Untuk
Tingkatkan Brand Value
Dan Marketing Di Masa
Pandemi Covid-19

Rahajeng Putri Arini, Jurnalis · Senin 02 Agustus 2021 13.45 WIB

JAKARTA - Masa pandemi Covid-19 ini telah banyak mengubah beberapa


aspek kehidupan secara luas bahkan global. Perubahan yang terjadi saat ini
tentu sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan beberapa aktivitas
bisnis. Terdapat berbagai penerapan kebijakan seperti physical and social
distancing di Indonesia yang telah membuat gaya hidup serta cara pandang
baru tehadap banyak hal. Tentunya hal ini membawa perubahan pada
aktivitas bisnis yang turut menyebabkan krisis eksistensial bagi mayoritas
perusahaan baik di Indonesia maupun di dunia.

Berbagai tantangan dihadapi oleh perusahaan, salah satu tantangan


terbesarnya yakni bagaimana cara memberikan pengalaman terbaik kepada
pelanggan (customer experience) agar dinilai tetap konsisten dan bermakna
di tengah ketidakpastian kondisi pandemi saat ini guna mempertahankan
brand value dari perusahaan.

Membangun brand value menjadi hal yang penting bagi beberapa


perusahaan. Brand value di dalamnya mencakup berbagai nilai dari
perusahaan itu sendiri juga nilai dari sebuah produk yang tawarkan oleh
perusahaan. Brand value juga dapat diartikan sebagai citra dari perusahaan,
atau bagaimana perusahaan ingin dinilai oleh publik.

Disamping itu, Banyak pihak yang menganggap tidak penting untuk


melakukan branding dalam kondisi pandemi seperti ini.

Padahal, Amalia E Maulana Brand Consultant & Ethnographer dari


Etnomark Consulting mengatakan justru di kedaan seperti ini, pelaku usaha
juga perlu untuk tetap melakukan branding. Brandingnya pun jangan hanya
diartikan dengan beriklan atau berjualan tetapi value atau nilai apa yang
akan ditawarkan kepada masyarakat, dan itu harus disesuaikan dengan
kontekstual.

“Dalam kondisi saat ini kita harus mengangkat beberapa value yang
diinginkan oleh konsumen yaitu functional, emotional, dan experiential,”
ujarnya.

Survei yang dilakukan McKinsey & Company bertajuk Implications of


COVID-19 for Retail & Consumer Goods in Indonesia menunjukkan,
perilaku konsumen berubah ke arah value.

Sejumlah bisnis yang saat ini sedang turun, namun tidak harus menghilang
sama sekali. Justru kondisi ini, pelaku usaha bisa melakukan beberapa
aktivitas branding, dalam artian bukan berjualan atau menyerang melainkan
untuk bertahan agar tetap diingat oleh konsumen.

Saat ini, media komunikasi digital merupakan pilihan yang efektif dan
efisien untuk berkomunikasi dengan komunitas. Oleh karena itu, perubahan
pola dan penggunaan media komunikasi yang digunakan oleh komunitas
perlu dipahami dengan baik.

Hal sama dikemukakan Richard Robot, Chief Strategy Officer DT Group.


Perusahaan dalam hal ini bisa menggunakan berbagai pendekatan
tergantung situasi yang berkembang di masyarakat. Misalnya penggunaan
pendekatan Shoppers Marketing setelah diketahui masyarakat masih tetap
berbelanja secara offline untuk kebutuhan pokoknya, berarti masih ada arus
konsumen yang datang ke toko retail biasa dimana berarti tetap ada peluang
bagi perusahaan/brand untuk mempunyai strategi komunikasi khusus.
“Digitalisasi merupakan jawaban dari kebijakan karantina, sehingga
brand tetap memberikan informasi yang akurat, menarik dan bermanfaat.
Format pemasaran offline juga dapat di-adjust menjadi inisiatif online yang
dapat dikombinasikan dengan kekuatan community management,” jelas
Richard.

Richard juga menyebutkan pentingnya bagi perusahaan untuk selalu


memperhatikan perkembangan terbaru, mendengarkan suara dari komunitas
dan selalu mengukur dampak hal tersebut terhadap inisiatif marketing
communication yang sedang dijalankan.

“Selalu miliki partner yang tepat untuk mengeksekusi seluruh inisiatif


yang direncanakan, terutama yang terkait dengan community marketing,
karena partner yang tepat akan memudahkan proses menyeimbangkan
tujuan antara perusahaan dengan komunitas sehingga kerja sama dapat
berjalan dengan baik ," kata Richard.

“Misalnya saja untuk perusahaan travel, memang saat ini sedang turun,
tetapi bukan berarti akan tutup selamanya. Nanti akan ada masanya kembali
sehingga di sinilah waktunya untuk tetap menunjukkan bahwa kita tetap
ada, misalnya melalui CSR atau mengirimkan email kepada pelanggan
mengenai informasi-informasi terkini,” ujarnya. Selain itu, untuk bisa tetap
bertahan, pelaku usaha juga dapat melakukan strategi misalnya dengan
menghilangkan portofolio bisnis yang tidak dibutuhkan dan fokus yang
sedang dibutuhkan masyarakat sehingga bisnisnya dapat tetap bertahan.