Anda di halaman 1dari 2

Penerapan Teori X dan Y dalam pengelolaan pendidikan sebagai

berikut:

1. Kepala Sekolah tehadap Pendidik


Dalam lingkup pendidikan/ sekolah, setiap pendidik
memiliki karakter yang berbeda-beda dan rasa tanggung jawab yang
berbeda pula. Dengan demikian, kepala sekolah harus mengambil
tindakan yang tegas pada pendidik yang memiliki perilaku seperti
teori X, pendidik harus terus diawasi, diberi peringatan serta
diarahkan agar dapat bekerja sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan oleh lembaga.
Lain halnya dengan pendidik yang memiliki perilaku seperti
teori Y. Mereka lebih dominan pada rasa tanggung jawab yang
tinggi terhadap pekerjaannya, dapat dipercaya, memiliki
kemampuan, kreatifitas, imajinasi, dan kepandaian. Mereka tidak
perlu terlalu diawasi secara ketat layaknya teori X, karena mereka
memiliki pengendalian serta pengerahan diri untuk bekerja sesuai
visi, misi, dan tujuan pendidikan.
2. Pendidik terhadap Siswa
Dalam konteks ini, setiap individu atau siswa memiliki
perilaku, karakter, dan kemampuan berbeda-beda dalam tiap-tiap
kelas, sehingga seorang guru harus memahami perilaku siswa secara
individu. Pada siswa yang pemalas, dan tidak memiliki rasa
tanggung jawab terhadap tugasnya sebagai pelajar, pendidik harus
memberikan pengawasan yang ketat, tugas-tugas yang jelas,
menetapkan imbalan atau hukuman, memberi arahan, memberi
motivasi, dsn jugs diancam agar mereka mau belajar.
Berbanding terbalik dengan siswa yang memiliki rasa
tanggung jawab tinggi, dapat dipercaya, rajin dan memahami
hakikatnya sebagai seorang siswa, mereka tidak perlu diawasi dan
sebagainya seperti halnya siswa yang dominan pada teori X, siswa
yang dominan pada teori Y cukup diberi motivasi secara tepat agar
mau belajar untuk mencapai tujuan pendidikan.

1
Penerapan Teori 2 Faktor
1. Teori Dua-Faktor menyiratkan bahwa kepala sekolah harus fokus untuk
menjamin kecukupan faktor hygiene (faktor kesehatan) guna menghindari
ketidakpuasan para guru. Juga, kepala sekolah harus memastikan bahwa
pekerjaan sebagai perangsang dan bermanfaat sehingga karyawan
termotivasi untuk bekerja dan melakukannya lebih keras dan lebih baik.
Teori ini menekankan pada kerja pengayaan sehingga memotivasi para
guru. Pekerjaan harus memanfaatkan keterampilan karyawan dan
kompetensi mereka secara maksimal. Berfokus pada faktor-faktor motivasi
dapat meningkatkan kerja berkualitas.
2. Memberikan kompensasi yang cukup dan senantiasa memberikan
lingkungan kerja yang nyaman bagi para guru