Anda di halaman 1dari 14

96

Edukids volume 17 (2) tahun 2020


EDUKIDS: Jurnal Pertumbuhan, Perkembangan, dan Pendidikan Anak Usia Dini

Jln. Dr. Setiabudhi No. 229 Kota Bandung 40154. e-mail: edukid@upi.edu
website: http://ejournal.upi.edu/index.php/edukid

STUDY KASUS KEMANDIRIAN ANAK DOWN SYNDROME USIA 8 TAHUN


Oleh :

Sriyanti Rahmatunnisa, Diah Andika Sari, Iswan, Munifah Bahfen, Fildzah


Rizki
Program Studi Pendidikan Guru Pendiddikan Anak Usia Dini
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Jakarta
e-mail: sriyanti_rachmatunnisa@yahoo.com

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemandirian anak penyandang
down syndrome yang orang tuanya tergabung dalam komunitas Persatuan Orang Tua Anak
Dengan down syndrom. Penyandang down syndrome dianggap sulit untuk dilatih dan dibentuk
kemandiriannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif.
Subjek penelitian ini adalah NN anak perempuan down syndrome usia 8 tahun dan GR anak laki-
laki down syndrome usia 8 tahun. Penelitian ini dilakukan di Rumah Ceria Down Syndrome
(RCDS) serta di kediaman NN dan GR. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa anak down
syndrome seperti NN dan GR, bisa mencapai kemandiriannya dengan baik, sesuai dengan potensi
dan karakteristik khusus yang dimilikinya. Kemandirian NN dan GR ditinjau dari aspek fisik,
intelektual, emosional dan sosial, seperti dapat merawat dan mengurus kebutuhan diri sendiri,
disiplin, percaya diri, dapat mengikuti arahan sesuai instruksi, dan dapat menepati janji.
Kemandirian NN dan GR dapat dicapai karena dukungan dari berbagai pihak, secara kolaboratif
dan berkesinambungan, seperti dukungan Rumah Ceria Down Syndrome, pelatih musik djembe,
orang tua, serta pendidik yang membiasakan dan mengembangkan kemandirian anak down
syndrome dengan memfasilitasi dan memberikan kesempatan sesuai potensi yang dimiliki anak

Kata Kunci: down syndrome, kemandirian, djembe

Abstract: The purpose of this study is to determine the independence of children with Down
syndrome whose parents are members of the Parents Association of Children with Down
syndrome community. People with Down syndrome are considered difficult to train and develop
their independence. The method used in this research is descriptive qualitative method. The
subjects of this study were NN girls with Down syndrome aged 8 years and GR boys with Down
syndrome aged 8 years. This research was conducted at the Down Syndrome Cheerful Home
(RCDS) and at the residence of NN and GR. The results showed that children with Down
syndrome, such as NN and GR, could achieve their independence well, according to their potential
and special characteristics. The independence of NN and GR in terms of physical, intellectual,
emotional and social aspects, such as being able to care for and taking care of one's own needs,
discipline, self-confidence, being able to follow directions according to instructions, and being
able to keep promises. The independence of NN and GR can be achieved because of the support
from various parties, collaboratively and continuously, such as the support of Rumah Ceria Down
Syndrome, djembe music coaches, parents, and educators who familiarize and develop
independence of children with Down syndrome by facilitating and providing opportunities
according to the potential of the child.

Keywords: down syndrome, independence, djembe


97

PENDAHULUAN paling krusial, yaitu pada usia dini.


Anak berkebutuhan khusus (Special Intervensi yang diberikan harus holistik-
Needs Children) adalah anak yang integratif. Intervensi dini dapat dilakukan
memiliki keterbatasan atau keluar dengan sebelumnya melakukan
biasaan, baik fisik, mental, intelektual, konsultasi dilanjutkan dengan erapi
sosial, maupun emosional. Keadaan ini sedini mungkin, sehingga dapat
akan mempengaruhi secara signifikan dilakukan penangan yang komprehensif.
dalam proses pertumbuhan dan Di Provinsi DKI Jakarta, ada
perkembangannya dibandingkan dengan sebuah wadah yang menaungi orang tua
anak-anak normal yang seusia yang memiliki anak penyandang Down
dengannya. Salah satu penyandang ABK Syndrome, yayasan tersebut bernama
adalah anak down syndrome yang Persatuan Orang Tua Anak Down
memiliki hambatan dan keterlambatan Syndrome (POTADS) yang hadir sebagai
dalam hampir seluruh aspek solusi untuk membantu orang tua dalam
perkembangan, yang diakibatkan adanya menerima kehadiran anak dengan down
abnormalitas perkembangan kromosom. syndrome dalam melatih dan
Banyak orang tua yang memiliki anak mengembangkan potensi yang dimiliki
down syndrome tidak dapat menerima anak agar berkembang dengan lebih baik.
keberadaannya, baik secara psikologis Yayasan POTADS berusaha membantu
maupun sosial, bahkan ada orang tua mengembalikan kepercayaan diri para
yang cenderung menyembunyikan anak orang tua agar dapat mendidik juga
penyandang down syndrome, hingga anak melatih anak-anak menjadi mandiri dan
tidak memiliki kesempatan untuk bisa berprestasi layaknya anak normal
bersosialisasi dengan lingkup sosialnya. pada umumnya.
Sebagian orang tua juga berpikir bahwa Anak Down Syndrome
karena keterbatasannya, anak penyandang Pengertian Anak Down Syndrome
down syndrome tidak dapat mandiri, Menurut Beirne-Smith, Ittenbach
sehingga anak diasuh dengan pola asuh dan Patton dalam Mangungsong
over protektif dengan melindungi anak (2014:145), down syndrome atau sering
secara berlebihan atau over toleransi, disebut juga Trisomy 21, merupakan
anak tidak dilatih dan dibiasakan untuk bentuk keterbelakangan mental paling
mandiri. umum yang terjadi pada saat lahir.
Anak down syndrome memang Menurut POTADS (2019:5), secara
memiliki karakteristik khusus yang harfiah syndrome diartikan sebagai suatu
berbeda dengan rata-rata anak seusianya, gelaja atau tanda yang muncul secara
karenanya memerlukan penanganan bersama-sama dan menandai ketidak
khusus, namun bukan berarti mereka normalan tertentu, penyandang down
tidak dapat berkembang sama sekali, syndrome sering disebut Mongoloid, hal
mereka juga dapat tumbuh kembang ini berkaitan dengan ciri-ciri fisik yang
optimal sesuai dengan potensi yang mirip orang Mongolia. Data World
dimilikinya, dengan cara mendapat Health Organization (WHO) dalam
stimulasi yang tepat dari lingkungan Winurini (2018:14) memperkirakan
terdekat dengan anak, terutama terdapat 8 juta penyandang down
lingkungan keluarga sebagai lingkungan syndrome di dunia. Spesifiknya, ada
pertama dan utama dalam kehidupan 3.000-5.000 anak lahir dengan kelainan
anak. Anak juga memerlukan intervensi kromosom per-tahunnya. Riset Kesehatan
dini yang didesain sedemikian rupa untuk Dasar (Riskesdas) Kementerian
mengoptimalkan pengalaman belajar Kesehatan menyebutkan di Indonesia,
anak selama periode perkembangan terdapat 0,12% penyandang Down
98

Syndrome pada tahun 2010. Angka itu pada setiap sel manusia terdapat 46
meningkat hingga 0,13% di tahun 2013. kromosom. Kromosom menentukan
Dengan kata lain, terdapat 0,13% anak penampilan diri seperti bentuk wajah,
usia 24-59 bulan di Indonesia yang juga menentukan ciri-ciri dan sifat
menderita down syndrome. Sumber yang manusia, seperti karakter, bakat dan sifat,
sama menyebutkan bahwa prevelensi ini karena dalam kromosom ini terdapat
anak down syndrome di Indonesia unsur-unsur keturunan. Kinerja otak akan
mencapai 300.000 jiwa dengan berubah jika terdapat kromosom ekstra
perbandingan 1:1000 kelahiran bayi. atau tidak normal dan itulah penyebab
Sedangkan menurut catatan Indonesia down syndrome. Menurut Dewi
Center for Biodiversity dan (2010:13) down syndrome merupakan
Biotechnology (ICBB) Bogor dalam bentuk abnormalitas kromosom yang
Lestari (2015:143) di Indonesia terdapat berdampak pada keterlambatan
dari 300 ribu anak penyandang down perkembangan fisik dan mental.
syndrome sementara itu, angka kejadian Abnormalitas kromosom karena adanya
penderita down syndrome di seluruh jumlah kromosom ke 21 yang berlebih
dunia diperkiran mencapai 8 juta jiwa yakni berjumlah 3 disebut sehingga
angka kejadian 1 dalam 1000 kelahiran. disebut trisomy, ini yang membuat
Di Amerika Serikat, setiap tahun lahir jumlahnya menjadi 47 kromosom.
3000 sampai 5000 anak dengan kelainan Sedangkan pada manusia yang normal
ini sedangkan, di Indonesia pravelensinya terdapat 46 kromosom dalam sel anak
lebih dari 300 ribu jiwa. Menurut yang diwariskan, yakni masing-masing
https://www.gulfbend.org, (di akses 29 23 pasang kromosom dari ayah dan ibu.
Agustus 2019) dalam DSM V Dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini.
mempunyai penjelasan kriteria diagnostik
dan disabilitas kecerdasan intelektual.
Ada dua asosiasi profesional masing-
masing telah mengembangkan kriteria
diagnostik untuk cacat intelektual
(Intellectual disbalities) yaitu The
American Psychiantric Association
(APA) dan The American Association on
Intellectual and Developmental
Disabbilities (AAIDD).
Dapat disimpulkan down
syndrome merupakan keterbelakangan
mental yang mengalami defisit intelektual
dan defisit gangguan fungsi adaptif
dengan efek akan menurunnya Gambar 1. Down syndrome karyotype
keterampilan konseptual, keterampilan Sumber:https://id.pinterest.com/pin/9021279
sosial dan ketempilan praktis. 8757826632/

Penyebab Anak Down Syndrome Penyebab down syndrome


menurut Rina (2016:218), antara lain
Mangungsong (2014:146) karena: a). faktor biologis, berdasarkan
menjelaskan bahwa penyebab down penelitian yang dilakukan oleh Jerome
syndrome berawal dari terbentuknya Lejuene seorang ahli genetik prancis,
manusia. Tubuh terdiri dari sel-sel yang bahwa anak yang mongoloid memiliki 47
mengandung kromosom-kromosom dan kromosom daripada 46 kromosom yang
99

dimiliki orang normal. 0.5 sampai dengan pengaruh dari ayah. Penelitian sitogenetik
1 persen ditemukan adanya pada orang tua dari anak dengan down
penyimpangan kromosom pada bayi yang syndrome mendapat bahwa 20-30% kasus
diindentikan dengan retardasi mental, ekstra kromosom 21 bersumber dari
fertilitas, dan penyimpangan yang ayahnya. Tetapi kolerasinya tidak
multiple. Salah satu dari penyimpangan setinggi dengan umur ibu. c). Radiasi,
tersebut adalah trisomy 21, dengan salah satu penyebab pada down syndrome
adanya malformation dari mervus central ini menyatakan bahwa 305 ibu yang
sehingga mempengaruhi perkembangan. melahirkan anak dengan down syndrome,
Birth injuries dan komplikasi dapat pernah mengalami radiasi didaerah perut
menyebabkan retardasi. Salah satunya sebelum terjadinya konsepsi. d).
adalah anoxia, yaitu kekurangan supply Autoimun, diperkiran sebagai penyebab
oksigen. Adanya malnutrisi dalam down, terutama autoimun tiroid atau
perkembangan kognitif sangat berbahaya, penyakit yang dikaitkan dengan tiroid.
yaitu lima bulan sebelum kelahiran dan Penelitian Fialkow dalam Rina
sepuluh bulan setelah kelahiran. b). (2016:218), secara konsisten terdapat
Faktor Hereditas dan Cultur Family, perbedaan auto anti body tiroid pada ibu
berdasar penelitian yang dilakukan pada yang melahirkan anak dengan dengan ibu
88 ibu dengan kelas ekonomi rendah dan down syndrome kontrol yang sama.
586 anak dengan komposisi: setengah Dapat disimpulkan bahwa
dari sampel itu memiliki IQ dibawah 80 penyebab terjadinya anak down syndrome
dan setenganya lagi memiliki IQ diatas adalah bentuk abnormalitas kromosom
80. Ternyata dari hasil penelitian yang berdampak pada keterlambatan
membuktikan bahwa anak yang memiliki perkembangan fisik dan mental. Kelainan
ibu dengan IQ dibawah 80, memiliki kromosom ini, karena adanya jumlah
penurunan IQ selama memasuki masa kromosom ke 21 yang berlebih yakni
sekolah. 1-2 persen dari populasi yang berjumlah 3 (trisomy) membuat
memiliki retardasi mental akan jumlahnya menjadi 47 kromosom. Faktor
menghasilkan 36% generasi retardasi penyebab lain adalah: endogen, faktor
mental pada periode selanjutnya, biologis, radiasi dan autoimun.
sedangkan populasi secara keselurahan
80-90% akan menghasilkan 64% anak Karakteristik Anak Down Syndrome
yang retardasi mental. Menurut Selikowitz dalam
Selikowitz dalam Rahmatunnisa Romadheny (2016:70-71) karakteristik
(2017:220-223), penyebab anak down yang muncul pada anak down syndrome
syndrome adalah: a). Faktor Endogen, bervariasi, mulai dari yang tidak nampak
down syndrome merupakan kelainan sama sekali, tampak minimal, hingga
kromosom yang paling banyak terjadi muncul tanda yang khas. Ciri-ciri down
pada manusia. Diperkiran angka syndrome yang tampak khas yaitu ciri
kejadiannya terakhir adalah 1,0-1,2 per fisiknya yang dapat diamati antara lain:
1000 kelahiran hidup, dimana 20 tahun a). Kepala dan Wajah, penampilan fisik
sebelumnya dilaporkan 1,6 per 1000. dari kepala yang relatif lebih kecil dari
Penurunan ini diperkirakan berkaitan normal (microchepaly) dengan bagian
dengan menurunnya kelahiran dari wanita anteroposterior kepala mendatar dengan
yang berumur. Diperkirakan 20% faktor paras wajah yang mirip seperti orang
penyebab anak dengan down syndrome mongol, hidung, sela hidung datar dan
karena dilahirkan oleh ibu diatas 35 pangkal hidung pesek, telinga, lebih
tahun. Selain pengaruh umur ibu terhadap rendah dan leher agak pendek dan lebar,
down syndrome, juga dilaporkan adanya mata, jarak antara dua mata jauh dengan
100

mata sipit dengan sudut bagian tengah kongenital yang berat lainnya, akan
membentuk lipatan (epicanthol folds) terjadi gangguan pertumbuhan pada masa
sebesar 80%. mulut, ukuran mulutnya bayi/prasekolah. Sebaliknya ada juga
kecil, tetapi ukuran lidah besar dan kasus justru terjadinya obesitas pada
menyebabkan lidah selalu menjulur masa remaja atau setengah dewasa.
(macroglossia) dengan pertumbuhan gigi Dalam Rohmadheny (2016:68-69)
yang lambat dan tidak teratur dan down Penyandang down syndrome mempunyai
syndrome mengalami gangguan risiko tinggi mendapat Leukimia
mengunyah, menelan dan bicara, Rambut (Leukimia Limfoblastik akut dan
anak down syndrome biasanya lemas dan Leukemia Myeloid), penyandang down
lurus. b). Kulit, anak down syndrome syndrome mempunya risiko 12 kali lebih
memiliki kulit lembut, kering dan tipis. tinggi dibandingkan orang normal untuk
Sementara itu, lapisan kulit biasanya mendapat infeksi karena mereka
tampak keriput (dermatologlyhics). c). mempunyai respons sistem imun yang
Tangan dan kaki, memiliki tangan yang rendah, diperikirakan sekitar 18-38%
pendek, jarak antara ruas-ruas jarinya anak down syndrome risiko mendapat
pendek, mempunyai jari-jari yang pendek gangguan psikis. Masalah perkembangan
dan jari kelingking membengkok ke belajar anak down syndrome secara
dalam, tapak tangan biasanya hanya keseluruhan mengalami keterbelakangan
terdapat satu garisan urat dinamakan perkembangan dan kelemahan akal,
“simian crease”, kaki agak pendek dan karena anak down syndrome memiliki IQ
jarak antara ibu jari kaki dan jari kaki rata-rata 35-50. Pada tahap awal
keduanya agak jauh terpisah. d). Otot perkembangannya, mereka mengalami
dan tulang, otot down syndrome lemah masalah dalam semua aspek
sehingga mereka menjadi agak lemah perkembangan, yaitu lambat untuk
untuk menghadapi masalah dalam berjalan, mengalami gangguan
perkembangan motorik kasar. Masalah mengunyah, menelan dan berbicara, anak
yang berkaitan seperti masalah kelainan down syndrome juga memiliki
organ terutama jantung dan usus. Tulang- keterlambatan purbertas. Pada saat
tulang kecil dibagian leher tidak stabil berusia 30 tahun, mereka kemungkinan
sehingga menyebabkan berlakunya dapat mengalami demensia (hilang
penyakit lumpuh (atlantaoxial ingatan, penurunan kecerdasan dan
instability). Selain ciri-ciri fisik yang perubahan kepribadian).
nampak, anak down syndrome juga Dapat disimpulkan bahwa
memiliki tanda-tanda yang tidak nampak karakteristik anak down syndrome
atau penyakit penyerta lainnya. Dalam mempunyai ciri-ciri yang khas dilihat
Potads (2019:26-31), penyakit jantung dari fisiknya antara lain wajah, mata,
kongenital sering ditemukan pada down rambut, tangan, kaki, kulit, mulut, leher.
syndrome dengan prevelensi 40-50%, Anak down syndrome juga mempunyai
juga gangguan pendengaran dan penyakit penyerta lainnya seperti
penglihatan. Dalam Rahmatunnisa pendengaran, penglihatan, nutrisi, mudah
(2017:231-232), 70-80% anak dengan infeksi, penyakit leukimia, penyakit
down syndrome memiliki gangguan tulang, keterampilan sosial dan perilaku.
pendengaran karena memiliki rongga
hidung kecil, yang membuat lebih sulit Klasifikasi Anak Down Syndrome
bagi mereka untuk melawan flu dan The American Psychological Association
infeksi, serta sering mengalami gangguan (APA) dalam Rina (2016:217)
penglihatan atau katarak. Beberapa kasus, Mengklasifikasi retardasi mental
terutama yang disertai kelainan berdasarkan tingkat keparahannya, seperti
101

yang akan ditunjukkan pada tabel mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan
dibawah ini: dari orang lain, d). Profound Mental
Retardation/parah. Pada tingkat ini
Tabel 1. Klasifikasi Anak Tunagrahita / mereka memiliki problem yang serius,
Down Syndrome berdasarkan skor IQ baik itu menyangkut fisik, intelegensi,
No Derajat Perkiraan Jumlah serta program pendidikan yang tepat bagi
Keparahan Rentang kasus mereka. Pada umumnya mereka
IQ memperlihatkan kerusakan pada otak
1 Retardasi 50-55 Kira-kira
serta kelainan fisik yang nyata, seperti
mental sekitar 85%
ringan (Mild) sampai 70
hydrocephal, mongoloism, dan
2 Retardasi 35-40 10% sebagainya. Mereka dapat makan dan
mental sampai 50- berjalan sendiri, namun kemampuan
sedang 55 berbicara dan berbahasa mereka sangat
(Moderate) rendah, begitupun dalam berinteraksi
3 Retardasi 20-25 3-4% sangat terbatas. Mereka juga sangat
mental berat sampai 35- kurang dalam penyesuaian diri, tidak
(Severe) 40 dapat berdiri sendiri tanpa bantuan orang
4 Retardasi Di bawah 1-2% lain, sehingga membutuhkan bantuan
mental parah 20 atau 25 pelayanan medis yang baik dan intensif.
(Profound)
Hakikat Kemandirian Anak Down
Syndrome
Klasifikasi menurut
Pengertian Kemandirian
Mangungsong (2014:131-134), bahwa
Menurut Nurfalah dalam Yuliani
anak down syndrome memiliki IQ yang
dkk (2010:12), kemandirian berasal dari
berkisar antara mild dan moderate mental
kata mandiri berarti berdiri sendiri atau
retardation. a). Mild Mental
tidak tergantung orang lain. Menurut
Retardation/ringan, mereka juga tidak
Steinberg dalam Jannah (2013:2),
memperlihatkan kelainan fisik yang
kemandirian secara umum merujuk pada
mencolok dalam segi pendidikan mereka
kemampuan individu melakukan sendiri
termasuk yang bisa di didik di sekolah
aktivitas hidup, tanpa bergantung pada
umum, meskipun hasilnya sedikit rendah
orang lain. Menurut Parker dalam
dibanding anak-anak normal pada
Komala (2015:33) kemandirian adalah
umumnya, rentang perhatian pendek
kemampuan untuk mengelola semua
sehingga sulit berkonsentrasi dalam
milik kita, tahu bagaimana mengelola
jangka waktu lama, b). Moderate Mental
waktu, berjalan dan berfikir secara
Retardation/menengah, pada tingkatan
mandiri, disertai kemampuan untuk
ini dapat dilatih untuk beberapa
mengambil resiko dan memecahkan
keterampilan tertentu, seperti membaca
masalah. Suardani dalam Sarah, dkk
dan menulis sederhana. Mereka memiliki
(2018:3) Kemandirian merupakan
kekurangan dalam kemampuan
kemampuan atau keterampilan yang
mengingat, bahasa, konseptual,
dimiliki oleh anak untuk melakukan
perseptual, dan kreativitas, sehingga perlu
segala sesuatunya sendiri, baik yang
diberikan tugas yang lebih ringan,
terkait dengan aktivitas bantu diri (self
memiliki koordinasi fisik yang buruk dan
help) maupun aktivitas kesehariannya
mengalami masalah situasi sosial. c).
tanpa tergantungan dengan orang lain.
Severe Mental Retardation/berat, pada
Menurut Hapsara (2015:15), model
tingkatan ini mereka membutuhkan
pemberdayaan yang bisa dijadikan
perlindungan dan pengawasan yang lebih
dimensi kemandirian meliputi 3 tahapan
teliti, pelayanan, dan pemeliharaan yang
yaitu: tahapan 1 penyadaran untuk mejadi
terus menerus karena mereka tidak dapat
102

mandiri, tahapan 2 pengkapasitasan untuk adalah mencapai kemandirian. Penelitian


orang tua dan lingkungan sekitarnya Hamonangan dalam Suparmi (2018:142),
membantu untuk mandiri dan tahapan 3 sebagian anak dengan down syndrome
pemberian daya atau kekuatan untuk bisa mampu keluar dari label ketergantungan,
melaksanakan sesuatu dengan mandiri. dan menjadi individu mandiri sesuai
Menurut Zainun dalam Sa’diyah dengan kapasitasnya, melakukan berbagai
(2017:35), Kemandirian merupakan suatu keterampilan hidup sehari-hari tanpa
sikap yang diperoleh secara kumulatif dibantu, bisa memilih atau menentukan
melalui proses yang dialami seseorang apa yang ingin dilakukannya. Saat orang
dalam perkembangannya. Dalam proses tua memandang anaknya yang
menuju kemandirian, individu belajar berkebutuhan khusus secara positif, maka
untuk menghadapi berbagai situasi dalam orang tua akan memberikan cinta tanpa
lingkungannya sampai ia mampu berpikir syarat dan memberikan stimulasi tanpa
dan mengambil tindakan yang baik dalam lelah agar anaknya tumbuh menjadi anak
mengatasi setiap situasi. Barnadib dalam yang mandiri. Whenmeyer dalam
Komala (2018:33), kemandirian meliputi Suparmi (2018:142) melalui teori the self
perilaku berinisiatif, mampu mengatasi functional of self determination,
hambatan atau masalah, mempunyai rasa mengatakan bahwa pembentukan
percaya diri dan dapat melakukan sesuatu kemandirian anak-anak dengan
sendiri tanpa bantuan orang lain. ketidakmampuan intelektual dipengaruhi
Dapat disimpulkan bahwa oleh pemberian kesempatan dan
kemandirian anak merupakan dukungan lingkungan. Kirana (2018:51),
kemampuan untuk berfikir, merasakan aspek pemberian pemahaman
serta anak melakukan segala sesuatu atas pembelajaran kepada anak down
dorongan diri sendiri tanpa tergantung syndrome bertujuan untuk menggali
orang lain, baik yang terkait dengan potensi yang dimiliki setiap anak,
melakukan kewajiban aktivitas bantu diri menstimulasi berbagai kegiatan untuk
(self help) dan melakukan kegiatan mencapai tugas perkembangan, terutama
sehari-hari sendiri. untuk bekal kemandirian hidup yang
mendasar untuk membentuk kepribadian
Kemandirian Anak Down Syndrome anak. Pengasuhan berpengaruh terhadap
Menurut Selikowitz dalam Rina kemandirian anak down syndrome.
(2016:216), anak down syndrome dan Romadheny (2016:71), pada anak usia
anak normal pada dasarnya memiliki dini yang mengalami down syndrome,
tujuan yang sama dalam tugas terapi yang diberikan dari orang tua atau
perkembangan, yaitu mencapai orang dewasa yang ahli seperti
kemandirian, karena perkembangan anak guru/pelatih adalah terapi fisik untuk
down syndrome lebih lambat, maka dapat melatih keterampilan motoriknya,
diperlukan suatu terapi untuk seperti mengajarkan beberapa hal,
meningkatkan kemandiriannya. Menurut diantaranya: gerakan tari atau melakukan
Cohen dalam Hasanah (2016:68), anak gerakan olahraga lainnya. Latihan ini
dengan down syndrome perlu untuk secara tidak langsung juga membangun
mencapai tingkat kemandiriannya, karakter anak down syndrome, karena
walaupun mereka memiliki mereka akan merasa percaya diri
keterlambatan, namun mereka tetap bisa melakukannya. Anak down syndrome
melakukan aktivitas-aktivitas tertentu juga belajar terapi bicara agar dapat
oleh diri mereka sendiri. Tidak selalu berinteraksi sosial dengan orang lain,
menggantungkan pada orang lain. Tugas terapi okupasi untuk membekali anak
utama dihadapi seseorang disabilitas agar dapat melakukan beberapa hal yang
103

berkaitan dengan keperluan pribadi didampingi orang lain disekitarnya. c).


mereka secara mandiri. Dukungan dari Kemandirian sosial, ditandai dengan
orang tua sangat dibutuhkan dalam hal kemampuan anak bersosialisasi dengan
ini. lingkungan sekitarnya, misalnya dapat
dengan sabar menunggu giliran, dapat
Menurut Bruni dalam Rina bergantian ketika bermain, meminjamkan
(2016:216), bahwa anak down syndrome mainan pada anak lain, dan sebagainya.
dapat melakukan program yang dibuat Anak mampu berinteraksi dengan anak
orang tua dirumah atau the house model lain ataupun orang dewasa. d).
of fine motor skill. Orang tua merupakan Kemandirian intelektual ditunjukkan
salah satu faktor yang mempengaruhi dengan kemampuan mengatasi masalah
kemandirian anak. Pada anak down yang dihadapi. Yuyun Nurfalah
syndrome orang tua diharapkan bisa (2010:13) dalam Yualini dkk, dimensi
membantu menentukan aktivitas sehari- atau bentuk kemandirian anak yaitu: a).
hari yang bisa dikenalkan terlebih dahulu, Kemandirian fisik, kemampuan untuk
yaitu dengan kemampuan daily living mengurus dirinya sendiri. b).
skill. Kemampuan daily living skill ini Kemandirian psikologis (sosial
bertujuan untuk menolong diri (help self), emosional) yaitu kemampuan untuk
hidup mandiri dalam kehidupan rutin membuat keputusan dan memecahkan
setiap hari seperti makan, minum, mandi, masalah yang dihadapi. Contohnya: anak
pergi ke toilet, membersihkan diri setelah yang bisa masuk ke kelas dengan nyaman
BAK dan BAB, mandi, memakai dan karena mampu mengontrol dirinya, anak
melepas baju, kaos kaki dan lain-lain. mampu berhubungan dengan orang lain
Tujuan lain adalah melatih kemampukan secara independen sebagai individu dan
anak dalam melakukan tugas-tugas tidak selalu hanya berinteraksi dengan
sekolah yang berhubungan dengan orang tua dan pengasuhnya. Kemandirian
perkembangan motorik halus dan kasar. secara fisik sangat berpengaruh terhadap
Menurut Erikson dalam Komala kemandirian secara psikologis. Menurut
(2015:38) dalam teori perkembangan, Steinberg dalam Jannah (2013:2-3)
bahwa dimensi kemandirian anak kemandirian anak ada tiga bentuk, yaitu:
hakikatnya bersifat jamak tidak hanya a). kemandirian emosi, yakni aspek
dilihat dari satu dimensi tetapi dilihat dari kemandirian yang berhubungan dengan
dimensi fisik, matang secara sosial, perubahan kedekatan atau keterikatan
emosional, moral dan mental dimana hubungan emosional individu, terutama
kemandirian merupakan pintu gerbang sekali orang tua atau orang dewasa yang
menuju kedewasaan. Menurut Havighurst banyak melakukan interaksi dengannya.
dalam Sa’diyah (2017:37-39), ada empat b). kemandirian kognitif, yakni suatu
dimensi kemandirian anak yaitu: a). kemampuan sejak usia dini dalam
Kemandirian secara fisik, dalam konteks bertindak untuk membuat keputusan-
keterampilan hidup, yaitu apabila anak keputusan secara bebas tanpa terlalu
sudah dapat melakukan hal-hal sederhana bergantung pada orang lain. c).
dalam rangka merawat dirinya sendiri kemandirian nilai, yakni kebebasan untuk
tanpa bantuan orang lain. b). memaknai seperangkat benar dan salah
Kemandirian emosional, ketika anak serta baik dan bentuk apa yang berguna
mampu mengatasi atau mengelola dan sia-sia bagi dirinya sendiri.
perasaannya sendiri khususnya perasaan
negatif seperti takut dan sedih serta anak Indikator kemandirian anak down
juga dapat merasa aman dan nyaman syndrome menurut Rina (2016:216),
dengan dirinya sendiri tanpa harus bahwa anak down syndrome perlu
104

mencapai tingkat kemandiriannya dengan disiplin, mengendalikan emosi seperti:


berbagai aktivitas untuk mencapainya. mampu menahan diri dan mengelola
secara fisik dalam konteks keterampilan emosi contoh: sabar menunggu giliran,
hidup yang mampu mengatur dan memiliki rasa takut, malu, memiliki
mengurus diri sendiri dari kegiatan empati terhadap orang lain atau memiliki
sehari-hari dari seperti; makan sendiri rasa duka cita jika suatu hal terjadi seperti
tanpa disuapi, berpakaian sendiri tanpa rasa senang dan sedih.
dibantu, mandi dan buang air besar dan
kecil sendiri dan lain-lain. Menurut Dapat disimpulkan bahwa anak
(Sa’diyah:2017:36), kemandirian anak down syndrome perlu untuk mencapai
down syndrome secara fisik adalah, tingkat kemandirian karena tugas utama
melakukan tugas-tugas sekolah yang seorang disabilitas adalah mencapai
berhubungan dengan perkembangan kemandiriannya sesuai kapasitasnya
motorik halus dan kasar termasuk melalui stimulasi dan dilatih secara lebih
preprinting, printing, menggambar, khusus untuk membentuk kebiasaan.
mewarnai, menggunting dan menulis, Dimensi kemandirian anak meliputi:
melakukan aktifitas bermain seperti kemandirian fisik dengan indikator:
melakukan hobinya, bermain musik dan mampu mengurus diri sendiri, intelektual
olahraga serta pekerjaan rutin rumah (koginitif atau nilai) dengan indikator:
tangga dan pekerjaan sehari-hari yang mampu untuk mengatasi berbagai
menjadi bagian dari orang dewasa dan masalah yang dihadapi, kemandirian
anak-anak. Indikator kemandirian emosi: mampu mengontrol emosi,
Intektual atau kognitif menurut Sarah dkk kemandirian sosial: mampu berinteraksi
(2018:4), meliputi kemampuan mengatasi dan berkomunikasi dengan lingkup
berbagai masalah, seperti: mengikuti sosialnya.
arahan sesuai instruksi, dapat memahami
Faktor – faktor yang mempengaruhi
dan mengerti suatu hal atau
kemandirian anak
pembelajaran, dapat mengingat dan
Menurut Santrock dalam Sa’diyah
menghafal pembelajaran dengan
(2017:39), faktor-faktor yang
sederhana, selalu berusaha untuk
mempengaruhi kemandirian adalah: a).
melakukan sesuatu sendiri tidak
Lingkungan keluarga (internal) dan
bergantung dengan orang lain seperti;
masyarat (eksternal), b). Pola asuh orang
menyiapkan atau mempersiapkan benda
tua sangat berpengaruh dalam penanaman
dalam suatu kegiatan, serta memiliki
nilai-nilai kemandirian seorang anak. c).
keinginan untuk memilih maupun
Pendidikan memiliki sumbangan yang
melakukan sesuatu yang diinginkan.
berarti dalam perkembangan
Indikator kemandirian secara sosial,
terbentuknya kemandirian pada diri
menurut Diane dalam Komala (2015:35)
seorang, d). Interaksi sosial, melatih anak
dan Brewer dalam Mayar (2013:416),
menyesuaikan diri dan bertanggungjawab
meliputi: percaya diri, seperti dengan
atas apa yang dilakukan sehinggga
bersikap berani, bertanggungjawab untuk
diharapkan anak mampu menyelesaikan
diri sendiri maupun orang lain,
masalah yang dihadapi. e). Intelegensi
berinteraksi dengan orang lain seperti:
merupakan faktor penting yang
berinisiatif untuk bersikap sopan santun
berpengaruh terhadap proses penentuan
dengan memberi salam, bermain dengan
sikap, pengambilan keputusan,
temannya, saling berbagi dan tolong
penyelesaian masalah serta penyesuaian
menolong, bekerja sama. Indikator
diri.
kemandirian secara emosional, menurut
Menurut Chaeffer dalam Komala
Diane dalam Komala (2015:35), meliputi:
(2015:39), penting menanamkan
105

kemandirian pada anak sejak dini seperti: semangat orang tua dan anak sehingga
a). Kepercayaan, perlu ditanamkan rasa akan selalu berusaha mencapai yang
percaya diri dalam diri anak-anak dengan terbaik. Yayasan POTADS juga
memberikan kepercayaan untuk mempunyai logo yang menyimbolkan
melakukan sesuatu yang mampu dan menjadi ciri khas dari anak down
dilakukan sendiri. b). Kebiasaan, dengan syndrome dan orang tua.
memberikan kebiasaan yang baik kepada
anak sesuai dengan usia dan tingkat
perkembangannya, misalnya membuang
sampah pada tempatnya, melayani diri
sendiri, mencuci tangan, meletakkan alat
permainan pada tempatnya, dll. c).
Komunikasi, merupakan hal penting
dalam menjelaskan tentang kemandirian
kepada anak dengan bahasa yang mudah
dipahami. d). Disiplin, kemandirian erat Gambar 2. Logo POTADS
kaitannya dengan disiplin yang Sumber: www.potads.or.id
merupakan proses yang dilakukan oleh
pengawasan dan bimbingan orang tua dan Visi Misi Yayasan POTADS
guru yang konsisten. Visi Yayasan POTADS, adalah menjadi
pusat informasi dan konsultasi terlengkap
Yayasan POTADS tentang down syndrome di Indonesia.
Rumah Ceria Down Syndrome 1) Memiliki dan menyediakan pusat
(RCDS) merupakan bagian dari Yayasan informasi terkini yang bisa diakses 24
POTADS yang berperan sebagai wadah jam baik melalui surat, telepon,
untuk kegiatan yang mengembangkan internet atau media komunikasi
keterampilan anak down syndrome. lainnya tentang perkembangan down
Yayasan POTADS adalah Persatuan syndrome baik secara ilmiah maupun
Orang tua Anak Down Syndrome yang dari pengalaman orang lain.
asal mula sejarah berdirinya berawal dari 2) Menyebarluaskan informasi mengenai
orang tua anak dengan down syndrome down syndrome kepada anggota yang
yang berdiskusi sambil menunggu anak membutuhkan dan tempat-tempat
yang mengikuti terapi di Klinik Khusus yang akan diakses oleh para orangtua
Tumbuh Kembang Anak (KKTK) Rumah yang memiliki anak dengan down
Sakit Harapan Kita. Tujuan dibentuknya syndrome, seperti Rumah Sakit,
Yayasan POTADS adalah Klinik, Puskesmas sampai ke
memberdayakan orang tua anak dengan Posyandu.
down syndrome agar selalu bersemangat 3) Memberikan konsultasi secara
untuk membantu tumbuh kembang anak kelompok maupun individu sesuai
spesialnya secara maksimal, sehingga dengan kebutuhan.
mereka mampu menjadi pribadi yang 4) Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan
mandiri, bahkan bisa berprestasi sehingga yang mendukung penyebarluasan
dapat diterima masyarakat luas, karena informasi tentang down syndrome
anak dengan down syndrome memiliki kepada masyarakat luas.
hak yang sama dengan anak-anak 5) Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan
lainnya. yang akan mendorong masyarakat
Yayasan POTADS mempunyai untuk lebih peduli dan menghargai,
Motto yaitu “AKU ADA AKU BISA”. sehingga mereka dapat memberi
Kalimat tersebut untuk membangkitkan kesempatan yang sama ntuk
berkembang dalam berbagai bidang
106

yaitu pendidikan, seni & budaya, dan 8) Mendata anak dengan down syndrome
lain-lain. di seluruh Indonesia dengan
menggunakan jaringan para orang
Program Yayasan POTADS tua, guru/terapis, SLB, Klinik
Program POTADS antara lain: Tumbuh Kembang, Mahasiswa dan
1) Mendirikan Pusat Informasi dan pemerhati down syndrome.
Kegiatan (PIK) POTADS di seluruh
Indonesia. Saat ini PIK POTADS
sudah ada di Medan, Bandung, METODE
Yogjakarta, Surabaya dan Bali. Metode penelitian yang digunakan
2) Menyelenggarakan pertemuan dengan peneliti adalah penelitian kualitatif
para orang tua anak down syndrome deskriptif yang meneliti tentang
bekerjasama dengan para ahli yang Kemandirian Anak down syndrome di
terkait dengan tumbuh kembang anak Rumah Ceria Down Syndrome (RCDS).
dengan down syndrome (dokter, Subjek penelitian adalah anak-anak
psikolog, terapis, dan lain-lain). penyandang down syndrome yang
3) Memberdayakan para orang tua anak tergabung di yayasan POTADS by RCDS
dengan down syndrome agar mereka yang berusia 8 tahun terdiri dari: NN
selalu bersemangat dalam mengawal seorang anak perempuan dan GR seorang
tumbuh kembang anaknya dengan anak laki-laki. Narasumber yang akan
sebutan MLM Hati, selain itu dengan menjadi sumber data dalam penelitian ini
melalui berbagai macam media, yaitu adalah Pelatih perkusi djimbe dan orang
telephone, e-mail, mailing list, tua anak down syndrome yang mengikuti
website, jaringan sosial media seperti kegiatan perkusi djimbe di RCDS.
FB, Twitter. Penelitian ini dilaksanakan di
4) Membuat buku panduan tumbuh Kantor Pusat POTADS dan Rumah Ceria
kembang anak dengan down Down Syndrome by POTADS, dengan
syndrome yang diambil dari alamat Jalan Pejaten Barat 16E, Pasar
pengalaman para orang tua dengan Minggu, Jakarta Selatan dan kediaman
down syndrome dan menerjemahkan pribadi anak dua anak penyandang down
buku bahasa asing tentang down syndrome, pertama, kediaman NN di Vila
syndrome ke dalam bahasa Indonesia. Inti Persada, Pamulang Timur, Tangerang
5) Membangun dan mengembangkan Selatan. Kedua kediaman GR di
Website POTADS sebagai wadah Perumahan Harapan Baru, Bekasi Utara.
informasi dan komunikasi tentang Teknik pengumpulan data pada
down syndrome untuk seluruh penelitian kualitatif dilakukan dengan
masyarakat Indonesia. observasi (pengamatan), interview
6) Membuat wadah kegiatan/sanggar (wawancara), dokumentasi dan gabungan
untuk mengembangkan keterampilan ketiganya atau triangulasi.
anak dengan down syndrome dengan
membuat Rumah Ceria Down HASIL DAN PEMBAHASAN
Syndrome (RCDS). Kemandirian Anak Down Syndrome Di
7) Membuat video tutorial terapi anak Rumah.
dengan down syndrome. Menjangkau Kemandirian NN. Kemandirian NN
dan memberikan informasi pada dapat dilihat dari kemampuan fisik dalam
Rumah Sakit, Rumah Bersalin, Klinik konteks keterampilan hidup, NN sudah
dan tempat terapi tentang down dapat melakukan hal-hal sederhana dalam
syndrome dan keberadaan POTADS. rangka merawat dirinya sendiri tanpa
bantuan orang lain. NN dapat melakukan
107

aktivitas untuk merawat dan mengurus belum bisa mengendalikan emosinya


kebutuhan diri sendiri, seperti karena apabila GR marah, maka ia akan
membersihkan diri saat BAK dan BAB, berteriak karena ibunya belum
mandi, melepas dan memakai pakaian, membiasakan GR untuk lebih bersabar.
makan, membereskan mainan saat habis Kemandirian kemampuan sosial,
digunakan, menyiapkan peralatan belajar GR belum bisa berinteraksi baik dengan
saat guru home schoolingnya datang, teman karena Ibu GR hanya
menyiapkan peralatan untuk mengikuti membiasakan berinteraksi dengan
kelas Djimbe, walaupun masih dibantu adiknya, jadi saat GR bersama teman-
ibu dan pengasuh. kemandirian NN temannya GR belum bisa berinteraksi
dilihat dari kemandirian emosional, NN dengan baik.
mampu mengatasi dan mengelola Kemandirian dalam kemampuan
perasaannya sendiri khususnya perasaan intelektual, terlihat dari dapat mengikuti
negatif, NN tidak takut saat ditinggal ibu arahan sesuai instruksi, GR sudah mampu
berkegiatan dan hanya ditemani untuk mengambilkan sesuatu dengan
pengasuh, berani tidur di kamarnya instruksi sederhana seperti mengambil
sendiri, merasa aman dan nyaman saat baju sendiri, tetapi GR belum bisa
belajar dengan guru home schooling mengingat dan menghafal suatu pelajaran
sendiri tanpa didampingi orang lain yang diberikan oleh guru privat.
disekitarnya. Kemandirian sosial, NN
dapat bersosialisasi dengan sepupunya Kemandirian Anak Down Syndrome di
yang datang berkunjung ke rumah, Rumah Ceria Down Syndrome (RCDS)
berinteraksi baik dengan pengasuh, sabar Kemandirian GR dan NN
jika meminta sesuatu tapi pengasuhnya berkembang sangat baik sesuai dengan
masih mengerjakan pekerjaan lain. karakteristik dan potensi yang
Kemandirian intelektual, NN sudah dapat dimilikinya. GR dan NR sudah dapat
mengerjakan sesuatu sesuai instruksi, berperilaku disiplin, berinteraksi dan
mampu mengatasi masalah sederhana bersosialisasi dengan teman-temannya
yang dihadapi, seperti: saat makanan sesama down syndrome, percaya diri dan
tumpah NN tahu bagaimana dapat bekerja sama dengan teman-
menyelesaikan masalah yang dihadapi, temannya. Saat tampil pentas di atas
yaitu dengan segera membersihkan panggung dengan banyak penonton NN
walaupun dengan dibantu pengasuh. Saat dan GR menunjukkan rasa percaya diri,
peneliti mengajak bermain puzzle, NN berani memperkenalkan diri ke penonton.
dapat menyusun dengan benar kepingan GR dan NN juga menunjukkan tanggung
puzzle. \ jawab dalam membawa alat djembenya
ke atas panggung dan menurunkan
Kemandirian GR kembali saat turun dari pangung,
Kemampuan fisik, GR bisa Kemampuan intelektualnya juga
melakukan beberapa aktivitas untuk berkembang baik, NN dan GR dapat
merawat dan mengurus kebutuhan diri memainkan djembe dengan sempurna
sendiri seperti: berpakaian sendiri, saat tampil, karena sudah hafal dan
memakai dan melepas sepatu, mandi, mengingat ketukan dengan tetap
BAK dan BAB Tetapi GR masih banyak mengikuti arahan pelatih S. Kemandirian
perlu dibantu ibu dalam aktivitas lainnya. GR dan NN dapat berkembang optimal,
Kemandirian GR secara emosional, GR karena pelatih terus menerapkan untuk
terbiasa bersikap disiplin, tertib menaruh interaksi dan kerja sama dalam latihan
sepatu ketempatnya dan menaruh tas ke bermain musik djembe.
kamar saat pulang sekolah, tetapi GR
108

SIMPULAN Asuh Orang Tua dan Guru, Tunas


Kemandirian NN dan GR dapat Siliwangi. Vol.1(1):31-45
berkembang optimal sesuai potensi yang Jannah M, 2013. Perkembangan
dimilikinya, karena dukungan semua Kemandirian Anak Usia Dini
pihak secara kolaboratif antara orang tua (Usia 4-6 Tahun) Di Taman
dan RCDS yang memberikan stimulasi Kanak-Kanak As-Salam
secara holistik-integratif pada semua Surabaya. Perkembangan
aspek perkembangan anak, baik fisik Kemandirian, Volome 01:03
motorik dengan keterampilan hidup Lestari FA, Mariyati LI. 2015. Resiliensi
sehari-hari, intelektual dengan Ibu yang Memiliki Anak Down
kemampuan berfikir sederhana, sosial Syndrome di Sidoarjo. Psikologia
dengan membiasakan anak bersosialisasi 3(1):142-148.
dan emosional agar anak mampu Mangungsong, F. 2014. Psikologi dan
mengolah emosinya sesuai Pendidikan Anak Berkebutuhan
kemampuannya. RCDS sebagai wadah Khusus. Depok: Lembaga
bagi anak penyandang down syndrome Pengembangan Sarana
memberikan kesempatan yang luas untuk Pengukuran dan Pendidikan
dapat menampilkan bakatnya pada acara- Psikologi (LPS3) Fakultas
acara yang diselenggarakan, seperti Psikologi Universitas Indonesia.
pentas seni. Mayar F. 2013. Perkembangan Sosial
Anak Usia Dini sebagai Bibit
DAFTAR RUJUKAN untuk Depan Depan Bangsa.
Dewi, EK. (2010). Ayo Bersahabat Jurnal Al-Ta’lim 1(6):459-464.
dengan Down Syndrome. Jakarta Potads. 2010. Tentang Kami Potads.
Barat: San-J Publisher. (https://potads.or.id/tentang-
Gambar Down Syndrome Karyotype kami/). Diakses 20 Mei 2019
(female), Potads. 2019. Trisomy 21 Down
https://id.pinterest.com/pin/90212 Syndrome: Potads (Persatuan
798757826632/. Dikases 30 Orang Tua Anak Down
Agustus 2019 Syndrome. Jakarta: Elex Media
Hapsara, Sunartini. (2015). Komputindo
Pemberdayaan Anak dengan Rahmatunnisa, S. 2017. Pendidikan
Intelectual Disabilities dari Sudut Inklusif. Jakarta: Fakultas Ilmu
Pandang Kesehatan Anak. Pendidikan Universitas
Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Gadjah Mada:1-5. Rohmadheny PS. 2016. Studi Kasus
Hasanah NU, Humaedi S dan Wibowo H. Anak Down Syndrome. Jurnal
Pola Pengasuhan Orang Tua CARE Edisi Khusus Temu Ilmiah
dalam Upaya Pembentukan Anak 03(3):67-76.
Down Syndrome. Share Social Reynolds T, Dkk (2019). Depression:
Work Jurnal 5 (1):65-70. Depression & Related Confitions
Kirana A, Dewi NFK. 2018. Penerapan Diagnostic Criteria For
Metode untuk Anak Down Intellectual Disabilities DSM 5
Syndrome. Jurnal Program Studi Criteria.
Pendidikan Anak Usia Dini (https://www.gulfbend.org/poc/vi
8(1):50-55. ew_doc.php?type=doc&id=10348
Komala, Hj. 2015. Mengenal dan &cn=5). Diakses 29 Agustus
Mengembangkan Kemandirian 2019.
Anak Usia Dini Melalui Pola
109

Reynolds T, Dkk. (2019). Depression: Pendidikan Dan Pembelajaran


Depresion & Related Condition Anak Usia Dini 03(0)
The American Assocition on Suparmi, Ekowarni E, Adiyati MG dan
Intellectual and Deveploment Helmi AF. 2018. Pengasuhan
Disabilities (AAID) Diagnostic Sebagai Mediator Nilai Anak
Criteria For Intellectual dalam Memengaruhi Kemandirian
Disability. Anak dengan Down
(https://www.gulfbend.org/poc/vi Syndrome. Jurnal Psikologi
ew_doc.php?type=doc&id=10349 45(2):141-150.
&cn=5). Di akses 29 Agustus Winurini S. 2018. Tantangan Pemerintah
2019. dalam Mendukung Penyandang
Rina AP. 2016. Meningkatkan Life Skill Down Syndrome (DS) di
Pada anak Down Syndrome Indonesia. Kajian Singkat
dengan Teknik Modelling. terhadap Isu Aktual dan Strategis
Persona, Jurnal Psikologi 10(6):13-18.
Indonesia 5(03):215-225. Yuliani Atik, Hufad, A dan Sardin.
Sa’diyah R. 2017. Pentingnya Melatih Penanaman Nilai Kemandirian
Kemandirian Anak. Kordinat, Anak Usia Dini (Studi Pada
FAI, Universitas Muhammadiyah Keluarga Sindangkasih
Jakarta. XVI:1(33-39). Kecamatan Beber Cirebon).
Sarah EH, 2018. Pengaruh Pola Asuh Pengelola Program Pemberdayaan
Orang Tua Terhadap Kemandirian Masyarakat di Kabupaten
dan Kemampuan Regulasi Emosi Cirebon. Departemen Pendidikan
Anak. Jurnal warna: Jurnal Luar Sekolah FIP UPI.