Anda di halaman 1dari 19

TUGAS MAKALAH

KEPERAWATAN DASAR II
“Konsep Infeksi nosokomial dan Konsep Safe patient handling”

OLEH:
SOFIYA CHAIRANI
203310715

Dosen Pembimbing : Ns. YESSI FADRIYANTI, S.Kep, M.Kep.

PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN


POLTEKKES KEMENKES PADANG
TAHUN AJARAN 2021/2022
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami kirimkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa , karena atas rahmat dan
karunia-Nya kami dapat membuat dan menyelesaikan makalah kami yang berjudul “INFEKSI
NOSOKOMIAL DAN SAFE PATIENT HANDLING”.
Pada makalah ini kami tampilkan hasil diskusi kami, kami juga mengambil beberapa
kesimpulan dari hasil diskusi yang kami lakukan.Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai
pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan laporan ini, diantaranya:
Yang terhormat Ibu Ns. YESSI FADRIYANTI, S.Kep, M.Kep. selaku dosen mata kuliah
Keperawatan Dasar II
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan bagi para
pembaca dan dapat digunakan sebagai salah satu pedoman dalam proses pembelajaran. Namun,
kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan maupun pembahasan dalam
makalah ini,sehingga belum begitu sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan
saran dari pembaca agar kami dapat memperbaiki kekurangan- kekurangan tersebut sehingga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Padang, 26 januari 2021

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I 
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang .................................................................................. 
b. Rumusan Masalah .............................................................................. 
c. Tujuan ............................................................................................... 
BAB II PEMBAHASAN
Infeksi Nosocomial ........................................................................... 
a) Pengertian Infeksi Nosokomial ............................................ 
b) Kriteria Infeksi Nosocomial ................................................. 
c) Penularan Infeksi Nosocomial ............................................ 
d) Etiologi Infeksi Nosokomial ............................................... 
e) Patogenesis Dan Patofisiologi Infeksi Nosokomial ............
f) Siklus Terjadinya Infeksi Nosokomial ................................. 
g) Pengendalian Infeksi Nosokomial ..................................... 
h) Sumber Infeksi Nosokomial ...............................................
Safe Patient Handling ....................................................................... 
a. Standar Patient Safety ........................................................ 
b. Self Protection Dalam Pencegahan Infeksi Nasokomial .... 
BAB III PENUTUP
a. Kesimpulan ..................................................................................... 
b. Saran ................................................................................................ 
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan diberikan di berbagai fasilitas kesehatan, mulai dari fasilitas
yang mempunyai peralatan yang sangat sederhana, sampai yang memiliki teknologi modern.
Meskipun telah ada perkembangan dalam pelayanan di rumah sakit, dan fasilitas kesehatan
lainya, infeksi terus pula berkembang terutama pada pasien yang dirawat di rumah
sakit.Infeksi yang terjadi di rumah sakit disebut juga “Infeksi Nosokomial”, yaitu infeksi
yang diperoleh ketika seseorang dirawat di rumah sakit, tanpa adanya tanda-tanda infeksi
sebelumnya dan minimal terjadi 3 x 24 jam sesudah masuk kuman.Survey prevalensi yang
dilakukan oleh WHO terhadap 55 rumah sakit di 14 negara mewakili 14 daerah WHO
(Eropa, Mediterania timur, Asia Selatan –Timur, dan Pasifik Barat) menunjukkan rata-rata
8,7% pasien di rumah sakit menderita infeksi nosokomial.Tingkat infeksi nosokomial di Asia
dilaporkan lebih dari 40% (Alvarado 2000). Sebagian besar infeksi nosokomial dapat dicegah
dengan strategi-strategi yang sudah ada:
1. Menaati praktek-praktek pencegahan infeksi yang direkomendasikan,
khususnya cuci tangan dan pemakaian sarung tangan.
2. Memperhatikan proses dekontaminasi dan pembersihan alat-alat kotor yang
diikuti dengan sterilisasi dan desinfeksi.
3. Meningkatkan keamanan pada area-area yang beresiko tinggi terjadi infeksi
nosokomial.
rumah sakit yang sama pada waktu yang lalu, serta belum pernah dilaporkan sebagai infeksi
nosokomial.Infeksi rumah sakit sering terjadi pada pasien berisiko tinggi yaitu pasien dengan
karakteristik usia tua, berbaring lama, menggunakan obat imunosupresan dan/atau steroid, imunitas
turun misal pada pasien yang menderita luka bakar atau pasien yang mendapatkan tindakan invasif,
pemasangan infus yang lama, atau pemasangan kateter urin yang lama dan infeksi nosokomial pada
luka operasi (Depkes RI, 2001). Infeksi nosokomial dapat mengenai setiap organ tubuh, tetapi yang
paling banyak adalah infeksi nafas bagian bawah, infeksi saluran kemih, infeksi luka operasi, dan
infeksi aliran darah primer atau phlebitis (Depkes RI, 2003).

b. Rumusan Masalah
1. Apa itu Infeksi Nosokomial ?
2. Apa saja kriteria Infeksi Nosokomial ?
3. Bagaimana penularan infeksi nosokomial ?
4. Bagaimana etiologi infeksi nosokomial ?
5. Bagaimana pathogenesis dan patofisiologi infeksi nosokomial ?
6. Bagaimana siklus terjadinya infeksi nosokomial ?
7. Bagaimana Pengendalian Infeksi Nosokomial ?
8. Bagaimana sumber infeksi nosocomial ?
9. Bagaiman safe patient handling ?
10. Bagaimana standar patient safety ?
11. Bagaimana cara perawat untuk melindungi diri dari infeksi nosokomial
dan apa saja alat-alat yang digunakan dalam self protection ?

c. Tujuan
1. Memahami pengertian Infeksi Nosokomial
2. Mengetahui kriteria Infeksi Nosokomial
3. Mengetahui penularan infeksi nosokomial
4. Mengetahui etiologi infeksi nosokomial
5. Mengetahui pathogenesis dan patofisiologi infeksi nosocomial
6. Mengetahui siklus terjadinya infeksi nosokomial
7. Mengetahui pengendalian infeksi nosokomial
8. Mengetahui sumber infeksi nosocomial
9. Mengetahui safe patient handling
10. Mengetahui standar patient safety
11. Mengetahui cara perawat untuk melindungi diri dari infeksi nosokomial
dan apa saja alat-alat yang digunakan dalam self protection

BAB II
PEMBAHASAN
Infeksi Nosokomial

a) Pengertian Infenksi Nosokomial

Infeksi adalah peristiwa masuk dan penggandaan mikroorganisme didalam tubuh pejamu
yang mampu menyebabkan sakit (Perry & Potter, 2005; Linda Tietjen, 2004). Infeksi nosokomial
adalah infeksi yang didapat seseorang dalam waktu 3x24 jam sejak mereka masuk rumah sakit
(Depkes RI, 2003). Infeksi nosokomial diakibatkan oleh pemberian layanan kesehatan dalam fasilitas
perawatan kesehatan. Rumah sakit merupakan satu tempat yang paling mungkin mendapat infeksi
karena mengandung populasi mikroorganisme yang tinggi dengan jenis virulen yang mungkin
resisten terhadap antibiotik(Perry & Potter, 2005).

b) Kriteria Infeksi Nosokomial

Kriteria infeksi nosokomial (Depkes RI, 2003), antara lain:


1. Waktu mulai dirawat tidak didapat tanda-tanda klinik infeksi dan tidak sedang dalam masa
inkubasi infeksi tersebut.
2. Infeksi terjadi sekurang-kurangnya 3x24 jam (72 jam) sejak pasien mulai dirawat.
3. Infeksi terjadi pada pasien dengan masa perawatan yang lebih lama dari waktu inkubasi
infeksi tersebut.
4. Infeksi terjadi pada neonatus yang diperoleh dari ibunya pada saat persalinan atau selama
dirawat di rumah sakit.
5. Bila dirawat di rumah sakit sudah ada tanda-tanda infeksi dan terbukti infeksi tersebut
didapat penderita ketika dirawat

c) Penularan Infeksi Nosokomial

Cara penularan infeksi nosokomial antara lain :


1. Penularan secara kontak
Penularan ini dapat terjadi baik secara kontak langsung, kontak tidak langsung dan droplet.
Kontak langsung terjadi bila sumber infeksi berhubungan langsung dengan penjamu, misalnya
person to person pada penularan infeksi hepatitis A virus secara fekal oral. Kontak tidak langsung
terjadi apabila penularan membutuhkan objek perantara (biasanya benda mati). Hal ini terjadi
karena benda mati tersebut telah terkontaminasi oleh sumber infeksi, misalnya kontaminasi
peralatan medis oleh mikroorganisme (Uliyah dkk, 2006; Yohanes, 2010).
2. Penularan melalui common vehicle
Penularan ini melalui benda mati yang telah terkontaminasi oleh kuman dan dapat
menyebabkan penyakit pada lebih dari satu pejamu. Adapun jenis-jenis common vehicle adalah
darah/produk darah, cairan intra vena, obat-obatan, cairan antiseptik, dan sebagainya (Uliyah dkk,
2006; Yohanes, 2010).
3. Penularan melalui udara dan inhalasi
Penularan ini terjadi bila mikroorganisme mempunyai ukuran yang sangat kecil sehingga
dapat mengenai penjamu dalam jarak yang cukup jauh dan melalui saluran pernafasan. Misalnya
mikroorganisme yang terdapat dalam sel-sel kulit yang terlepas akan membentuk debu yang dapat
menyebar jauh (Staphylococcus) dan Tuberkulosis (Uliyah dkk, 2006 ; Yohanes, 2010).
4. Penularan dengan perantara vektor
Penularan ini dapat terjadi secara eksternal maupun internal. Disebut penularan secara
eksternal bila hanya terjadi pemindahan secara mekanis dari mikroorganime yang menempel pada
tubuh vektor, misalnya shigelladan salmonella oleh lalat. Penularan secara internal bila
mikroorganisme masuk kedalam tubuh vektor dan dapat terjadi perubahan biologik, misalnya
parasit malaria dalam nyamuk atau tidak mengalami perubahan biologik, misalnya Yersenia pestis
pada ginjal (flea) (Uliyah dkk, 2006; Yohanes, 2010).
5. Penularan melalui makanan dan minuman
Penyebaran mikroba patogen dapat melalui makanan atau minuman yang disajikan untuk
penderita. Mikroba patogen dapat ikut menyertainya sehingga menimbulkan gejala baik ringan
maupun berat (Uliyah dkk, 2006).
d) Etiologi
Mikroorganisme penyebab infeksi nosokomial (WHO, 2002):
a) Conventional pathogens
Menyebabkan penyakit pada orang sehat, karena tidak adanya kekebalan terhadap kuman
tersebut : Staphylococcus aureus, streptococcus, salmonella, shigella, virus influenza, virus hepatitis.
b) Conditional pathogens
Penyebab penyakit pada orang dengan penurunan daya tahan tubuh terhadap kuman
langsung masuk dalam jaringan tubuh yang tidak steril: pseudomonas, proteus, klebsiella, serratia,
dan enterobacter.
c) Opportunistic pathogen
Menyebabkan penyakit menyeluruh pada penderita dengan daya tahan tubuh sangat
menurun: mycobacteria, nocardia, pneumocytis.
e) Patogenesis dan Patofisiologi
Infeksi oleh populasi kuman rumah sakit terhadap seseorang pasien yang memang sudah
lemah fisiknya tidaklah terhindarkan. Lingkungan rumah sakit harus diusahakan agar sebersih
mungkin dan sesteril mungkin. Hal tersebut tidak selalu bisa sepenuhnya terlaksana, karenanya tak
mungkin infeksi nosokomial ini bisa diberantas secara total (Yohanes,2010).
Setiap langkah yang tampaknya mungkin, harus dikerjakan untuk menekan risiko terjadinya
infeksi nosokomial. Yang paling penting adalah kembali kepada kaidah sepsis dan antisepsis dan
perbaikan sikap / perilaku personil rumah sakit (dokter, perawat) (Yohanes,2010).
Pada pasien dengan daya tahan yang kurang oleh karena penyakit kronik, usia tua, dan
penggunaan imunosupresan, mikroorganisme yang awalnya non-patogen dan hidup simbiosis
berdampingan secara damai dengan penjamu, akibat daya tahan yang turun, dapat menimbulkan
infeksi oportunistik. Maka infeksi nosokomial bisa merupakan suatu infeksi oportunistik (Yohanes,
2010).
f) Siklus Terjadinya Infeksi Nosokomial
Mikroorganinisme dapat hidup di manapun dalam lingkungan kita. Pada manusia dapat
ditemukan pada kulit, saluran pernafasan bagian atas, usus, dan organ genital. Disamping itu
mikroorganisme juga dapat hidup pada hewan, tumbuhan, tanah, air, dan udara. Beberapa
mikroorganisme lebih patogen dari yang lain, atau lebih mungkin menyebabkan penyakit. Ketika
daya tahan manusia menurun, misalnya pada pasien dengan HIV/AIDS (Depkes, 2007).
Semua manusia rentan terhadap infeksi bakteri dan sebagian besar jenis virus. Jumlah
(dosis) mikroorganisme yang diperlukan untuk menyebabkan infeksi pada pejamu/host yang rentan
bervariasi sesuai dengan lokasi. Risiko infeksi cukup rendah ketika mikroorganisme kontak dengan
kulit yang utuh dan setiap hari manusia menyentuh benda di mana terdapat sejumlah
mikroorganisme di permukaannya. Risiko infeksi akan meningkat bila area kontak adalah membran
mukosa atau kulit yang tidak utuh. Risiko infeksi menjadi sangat meningkat ketika mikroorganisme
berkontak dengan area tubuh yang biasanya tidak steril, sehingga masuknya sejumlah kecil
mikroorganisme saja dapat menyebabkan infeksi (Depkes, 2007).
Agar bakteri, virus dan penyebab infeksi lain dapat bertahan hidup dan menyebar, sejumlah
faktor atau kondisi tertentu harus tersedia. Faktor-faktor penting dalam penularan mikroorganisme
yang dapat menyebabkan penyakit dari orang ke orang dapat dilihat

A. Reservoir Agen
Reservoir adalah tempat mikroorganisme patogen mampu bertahan hidup tetapi dapat atau
tidak dapat berkembang biak. Pseudomonas bertahan hidup dan berkembang biak dalam reservoir
nebuliser yang digunakan dalam perawatan pasien dengan gangguan pernafasan. Resevoir yang
paling umum adalah tubuh manusia. Berbagai mikroorganisme hidup pada kulit dan rongga tubuh,
cairan, dan keluaran. Adanya mikroorganisme tidak selalu menyebabkan seseorang menjadi sakit.
Carrier (penular) adalah manusia atau binatang yang tidak menunjukan gejala penyakit tetapi ada
mikroorganisme patogen dalam tubuh mereka yang dapat ditularkan ke orang lain. Misalnya,
seseorang dapat menjadi carrier virus hepatitis B tanpa ada tanda dan gejala infeksi. Binatang,
makanan, air, insekta, dan benda mati dapat juga menjadi reservoir bagi mikroorganisme infeksius.
Untuk berkembang biak dengan cepat, organisme memerlukan lingkungan yang sesuai, termasuk
makanan, oksigen, air, suhu yang tepat, pH, dan cahaya (Perry & Potter, 2005).

B. Portal keluar (Port of exit)


Setelah mikrooganisme menemukan tempat untuk tumbuh dan berkembang biak, mereka
harus menemukan jalan ke luar jika mereka masuk ke pejamu lain dan menyebabkan penyakit. Pintu
keluar masuk mikroorganisme dapat berupa saluran pencernaan, pernafasan, kulit, kelamin, dan
plasenta (Perry & Potter, 2005).

C. Cara penularan (Mode of transmision)


Cara penularan bisa langsung maupun tidak langsung. Secara langsung misalnya;
darah/cairan tubuh, dan hubungan kelamin, dan secara tidak langsung melalui manusia, binatang,
benda-benda mati, dan udara (Perry & Potter, 2005).

D. Portal masuk (Port of entry)


Sebelum infeksi, mikroorganisme harus memasuki tubuh. Kulit adalah bagian rentang
terhadap infeksi dan adanya luka pada kulit merupakan tempat masuk mikroorganisme.
Mikroorganisme dapat masuk melalui rute yang sama untuk keluarnya mikroorganisme (Perry &
Potter, 2005).

E. Kepekaan dari host (host susceptibility)


Seseorang terkena infeksi bergantung pada kerentanan terhadap agen infeksius. Kerentanan
tergantung pada derajat ketahanan individu terhadap mikroorganisme patogen. Semakin virulen
suatu mikroorganisme semakin besar kemungkinan kerentanan seseorang. Resistensi seseorang
terhadap agen infeksius ditingkatkan dengan vaksin (Perry & Potter, 2005).

g) Pengendalian Infeksi Nosokomial


Pengendalian infeksi nosokomial bertujuan untuk menekan dan memindahkan
perkembangan infeksi pada penderita yang sedang dirawat di rumah sakit ataupun mengurangi
angka infeksi yang terjadi di rumah sakit. Sebagian infeksi nosokomial ini dapat dicegah dengan
strategi yang telah tersedia secara relatif murah, yaitu:
a) Menaati praktik pencegahan infeksi yang dianjurkan, terutama kebersihan dan kesehatan
tangan serta pemakaian sarung tangan
b) Memperhatikandenganseksamaprosesyangtelahterbuktibermanfaat untuk dekontaminasi
dan pencucian peralatan dan benda lain yang kotor, diikuti dengan sterilisasi atau desinfektan
tingkat tinggi
c) Meningkatkan keamanan dalam ruang operasi dan area berisiko tinggi lainnya sebagaiman
kecelakaan perlukaan yang sangat serius dan paparan pada agen penyebab infeksi sering terjadi
(Linda Tietjen, 2004; Darmadi, 2008).

h). Sumber Infeksi Nosokomial


Sumber infeksi nosocomial dapat dibagi menjadi 4 bagian antara lain :
a. Petugas rumah sakit (prilaku)
 Kurang memahami cara penularan penyakit
 Kurang memperhatikan kebersihan
 Kurang atau tidak memperrhatikan teknik aseptic dan
 antiseptic
 Menderita penyakit tertentu
 Tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan
 pekerjaan

b. Alat yang dipakai


 Kotor
 Rusak
 Penyimpanan kurang baik
 Dipakai berulang kali
 Kadaluarsa
c. Pasien
 Kondisi yang sangat lemah
 Kebersihan kurang
 Menderita penyakit kronis
 Menderita penyakit menular
d. Lingkungan
 Tidak ada sinar matahari/ penerangan yang masuk
 Ventilasi udara kurang baik
 Tuangan lembab
 Banyak serangga

Safe Patient Handling

Keselamatan (safety) sangat penting dalam memberikan asuhan keperawatan baik dirumah
sakit, puskesmas dan lain – lain. Keselamatan pasien merupakan prioritas utama. Keamanan dan
keselamatan pasien merupakan hal yang mendasar yang perlu diperhatikan oleh tenaga medis saat
memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. (Depkes, 2008).
Setiap pelayanan yang diberikan kepada pasien hendaklah memberikan dampak positif dan
tidak merugikan pasien.oleh karena itu perlu adanya standar dalam pelayanan supaya dapat
melindungi hak pasien dan menerima pelayanan yang baik sebagai pedoman bagi tenaga kesehatan
keperawatan dalam memberi asuhan keperawatan kepada pasien.
Menurut uandang – undang kesehatan pasal 43 no 36 tahun 2009 yang dimaksud dengan
keselamatan pasien (patient safety) adalah proses dalam
rumah sakit yang memberikan pelayanan kepada pasien secara aman termasuk didalamnya
pengkajian mengenai resiko, identifikasi, menajemen resiko terhadap pasien, pelaporan dan analisis
insiden, kemampuan untuk belajar dan menindaklanjuti insiden.
Isu atau elemen penyebab kesalahan yang paling umum dalam pateient safety antara lain :
a. Adverse drug event (ADE)/ medication errors (ME) atau ketidakcocokan obat/
Kesalahan pengobatan
b. Restraint Use atau Kendali penggunaan
c. Nosocomial infections atau infeksi nosokomial
d. Kecelakaan operasi
e. Keamanan produk darah/ administrasi
f. Tekanan ulkus
g. Program imunisasi
h. Terjatuh

A. Standar pasient safety


Setiap perawat menerapkan prinsip keselamatan pasien antara lain :
a) Ketetapan identifikasi pasien
Kesalahan karena keliru pasien sebenarnya disemua aspek diagnosis dan pengobatan.
Keadaan dapat mengarahkan terjadinya error atau kesalahan dalam mengidentifikasi pasien dalam
keadaan terbius, mengalami disorientasi, atau dalam keadaan tidak sadar. Perawat harus
mengidentifikasi seluruh pasien yang di rawat di RS dengan benar :
 Memastikan identitas pasien sebagai individu yang akan menerima
pelayanan atau pengobatan
 Memastikan kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu
tersebut
 Proses identifikasi dilakukan untuk mengidentifikasi pasien pada saat :
  Pemberian obat, darah atau produk darah
  Pengambilan darah dan spesimen lain untuk
 pemeriksaan klinis; atau
  Tindakan lain (pembedahan, non pembedahan,
 pemeriksaan klinis dan penunjang)
 Identifikasi pasien mencakup 3 detail wajib yaitu Nama
pasien, Tanggal lahir / umur, Nomor rekam medis pasien.
b) Peningkatan Komunikasi Efektif
Komunikasi yang efektif, tepat waktu, akurat, lengkap dan jelas dan dipahami oleh penerima
pesan akan mengurangi kesalahan dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi
dapat secara elektronik, lisan atau tertulis. Komunikasi yang paling mudah mengalami kesalahan
adalah perintah diberikan secara lisan dan melalui telepon.
c) Peningkatan Keamanan Obat Yang Perlu Diwaspadai
Obat yang harus diwaspadai adalah obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan /
kesalahan serius (sentinel event) serta obat yang beresiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak
diinginkan.
d) Kepastian Tepat Lokasi, Tepat Prosedur, Tepat Pasien Operasi
Seorang perawat harus mengetahui lokasi pasien, mengetahui dengan benar dan baik
procedure menurut SOP dan tepat dalam mengeidentifikasi pasien yang akan dioperasi.
e) Pengurangan Resiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
Infeksi umumnya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi
saluran kemih – terkait kateter, infeksi aliran darah (blood stream infections) dan pneumonia
(seringkalidihubungkan dengan ventilasi mekanis).Pokok dari eliminasi infeksi adalah cuci tangan
(hand hygiene) yang tepat.
 Kebersihan tangan merupakan proses membersihkan tangan dengan
menggunakan sabun dan air yang menghalir (hand wash) atau dengan menggunakan
antiseptik berbasis alkohol (hand rub)
 Semua orang yang berada di RS wajib menjaga dan melaksanakan
kebersihan tangan
 Rumah Sakit memfasilitasi sarana prasarana kebersihan tangan yang
dibutuhkan.
f) Pengurangan Resiko Pasien Jatuh
Perawat wajib melakukan pengkajian resiko jatuh untuk setiap pasien yang dirawat, guna
meminimalkan resiko jatuh dengan metode “Morse Fall” untuk pasien dewasa dan metode “Humpty
Dumpty” untuk pasien anak.
B. Self Protection dalam Pengendalian/Pencegahan Infeksi.
Alat pelindung diri atau self protection adalah Peralatan yang dirancang untuk melindungi
pekerja dari kecelakaan atau penyakit yang serius di tempat kerja, akibat kontak dengan potensi
bahaya kimia, radiologik, fisik, elektronik mekanik atau potensi bahaya lainnya di tempat
kerja.Tujuan Penggunaan Alat Pelindung Diri adalah Untuk melindungi kulitdan membrane mukosa
(mata, bibir, mulut, hidung) petugas kesehatan dari risiko pajanan darah dan semua jenis cairan
tubuh, sekret, ekskreta, kulit yang tidak utuh dan selaput lendir pasien Indikasi Pemakaian Alat
Pelindung Diri adalah Alat pelindung didi dipakai tergantung pada jenis tindakan yang akan
dilakukan. Contohnya : apabila perawat akan memasang/mengangkat implznt, maka perawat cukup
memakai sarung tangan steril atau sarung tangan DDT saja. Namun apabila akan melakukan
pertolongan persalinan, maka perawat harus memakai semua alat pelinding diri untuk mengurangi
kemungkinan terpajan darah dan cairan tubuh lainnya.Langkah – langkah dan alat yang digunakan
dalam pelindung diri (self protection) yaitu sebagai berikut :

 Mencuci tangan
Tujuan mencuci tangan antara lain sebagai berikut :
a) Menghilangkan atau meminimalkan mikroorganisme di
tangan
b) Menghalau organisme yang diperoleh karena :
 Kontak dengan pasien terinfeksi
 Kontak dengan lingkungan serta menghilangkan bahan
 organik dari tangan
c) Mencegah perpindahan mikroorganisme dari lingkungan kepasien, dan dari pasien ke
petugas kesehatan.Cuci tangan dapat dikelompokkan kedalam cuci tangan rutin, cuci tangan
prosedural maupun mencuci tangan bedah. Cuci tangan perlu dilakukan oleh :
 Setiap orang yang konta langsung sengan pasien seperti : dokter, perawat,
bidan, dan petugas kesehatan lain (fisioterapist, radiologist, teknisi).
 Setiap orang yang ada kontak dengan pasien, meskipun tidak langsung
seperti : ahli gizi, petugas laboratorium, dan petugas farmasi.
 Setiap petugas yang berkontribusi dengan prosedur yang dilakukan terhadap
pasien.
 Setiap orang yang bekerja dirumah sakit.
 Pasien dan pengunjung pasien
Petugas kesehatan terutama perawat yang menangani dan menangani pasien dan menolong
persalinan wajib menjaga kebersihan diri pribadi. Oleh karena itu, perawat dan petugas kesehatan
lain perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
 Dianjurkan untuk tidak mengenakan atau tidak memakai perhiasan dan jam
tangan. Alasannya yaitu :
 Penelitian menunjukkan bahwa bagian bawah kulit di bawah perhiasan
dapat menjadi tempat kontaminasi kuman yang berat dan sulit untuk dibersihkan atau
didekontaminasi.
 Memakai perhiasan juga dapat menimbulkan kesulitan pada saat memakai
sarung tangan.
Menjaga kuku dan kulit tangan, antara lain :
 Selalu menjaga agar kuku tetap pendek dan bersih
 Dianjurkan untuk tidak memakai cat kuku, maupun kuku palsu
 Disarankan menggunakan lotion untuk meminimalkan iritasi atau dermatitis
kontak
d) Dalam penggunaan sabun :
 Apabila memakai sabun batang, dianjurkan untuk memakai sabun yang kecil
dan tempatnya berlubang pada bagian bawah
 Dianjurkan untuk memakai sabun cair
 Digunakan sebelum tindakan rutin pada kulit dan selaput lendir, misalnya
tindakan pemeriksaan dalam, tindakan merawat luka terbuka.
 Sarung tangan steril
 Sarung tangan yang telah disterilkan  Sarung tangan kemasan steril
 Digunakan pada tindakan bedah
 Sarung tangan rumah tangga
 Sarung terbuat dari bahan latex atau vinil tebal
 Dapat digunakan lagi setelah dicuci dan dibilas
 Digunakan untuk membersihkan alat kesehatan, membersihkan permukaan
meja
Indikasi pemakaian sarung tangan yaitu Harus dipakai pada saat melakukan tindakan yang
kontak atau diperkirakan akan terjadi kontak dengan darah, cairan tubuh, sekret, ekskreta, kulit yang
tidak utuh, selaput lendir Pasien, dan benda yang terkontaminasi.
Hal hal yang harus diperhatikan dalam pemakaian sarung tangan yaitu  Jauhkan sarung
tangan dari wajah
 Cuci tangan sebelum memakai dan sesudah melepaskan sarung tangan
 Gunakan sarung tangan berbeda untuk setiap pasien
 Hindari jamahan pada benda-benda lain
 Uji kebocoran saat proses pencucian
 Teknik memakai dan melepaskan sarung tangan harus dipahami
 Prosedur dalam pemasangan sarung tangan antara lain :  Lepaskan semua
acesoris/perhiasan
 Cuci tangan
 Pakai sarung tangan pada kedua tangany
 Ganti sarung tangan bila tampak rusak/bocor

 Segera lepas sarung tangan jika telah selesai tindakan


 Buang sarung tangan ke tempat pembuangan sampah sesuai prosedur
 Cuci tangan
Pelindung wajah
Tujuan dari pelindung wajah sebagai berikut:
 Melindungi selaput lendir hidung,mulut,dan mata petugas kesehatan dari
paparan darah atupun cairan tubuh pasien.
 Melindungi petugas dari infeksi yang ditularkan lewat darah/cairan tubuh
lain,serta infeksi yang ditularkan lewat udara.
Jenis Alat Yang Digunakan sebagi berikut :
 Masker
 Kaca mata  Visor
Standar dan Syarat Pelindung Wajah yaitu Pelindung wajah harus cukup besar untuk
menutupi hidung,wajah bagian bawah,rahang,dan rambut wajah,juga untuk mencegah percikan
darah atau cairan tubuh lain yang terkontaminasi ke hidung atau mulut petugas kesehatan.

Alat Pelindung Wajah Harus mencakup sebagai berikut :


o Terbuat dari bahan yang tahan air agar efektif untuk pencegahan tersebut
o Harus dipergunakan selama prosedur tindakan yang diperkirakan bisa
membuat percikan darah atupun cairan tubuh pasien o Alat pelindung harus sesuai
dan cocok
o Tembus pandang
o Tidah mudah berembun
o Tidah mudah berbentuk bentuk

Memperhatikan perlindungan maksimal,lapangan pandang dan kenyamanan kerja Indikasi


Penggunaan Pelindung wajah sebagi berikut :
1. Masker tanpa kacamata
 Digunakan pada saat tertentu,mis merawat pasien
 turbokolosis terbuka tanpa luka dibagian kulit atau perdarahan
 Digunakan pada jarak 1 meter dari pasien
2. Masker kacamata,pelindung wajah dipakai bersamaan
 bila digunakan bersamaan, maka pasangan masker, kacamata dan pelindung
wajah terlebih dahulu sebelum memakai baju pelindung,sarung tangan dan
sebelum melakukan cuci tangan bedah
 digunakan apabila bidan/petugas kesehatan lain akan melaksanakan
tindakan beresiko tinggi terpajan lama oleh darah atau cairan tubuih lain.
Penutup kepala /topi
Tujuan dari pemakaian penutup kepala yaitu Mencegah jatuhnya mikroorganisme yang ada
di rambut da kulit kepala petugas terhadap alat- alat daerah steril dan juga sebaliknya untuk
melindungi kepala/rambut petugas dari percikan bahan-bahan dari pasien.Indikasi dalam pemakaian
penutup kepala adalah :
 Digunakan pada pembedahan
 Menolong persalinan
 Harus menggunkana penutup kepala bagian petugas dan pasien di ruang ICU

Gown/ Baju pelindung


Tujuan dalam pemakaian gown atau baju pelindung adalah melindungi petugas dari
kemungkinan genangan atau percikan darah atau cairan tubuh lainnya yang dapat mencermati baju.
Jenis Baju Pelindung Di pandang dari Fungsi adalah :
o Seragam kerja
o Baju bedah
o Jasl laboratorium o Celemek
o Apron
Jenis Baju Pelindung Dari Berbagai Aspek adalah :
o Gaun pelindung tidak kedap air o Gaun pelindung kedap air
o Gaun steril
o Gaun non steril
Sepatu pelindung
Tujuan dari memakai sepatu pelindung adalah melindungi kaki petugas dari
tumpahan/percikan darah atau cairan ybuh lainnya dan mencegah dari kemungkinan tusukan benda
tajam atau kejatuhan alat kesehatan.
Indikasi dalam penggunaan sepatu pelindung :
a. Sepatu khusus yang digunakan oleh petugasyang bekerja diruangan tertentu,mis
ruang bedah dll
b. Sepatu hanya dipakai di ruang tersebut dan tidak boleh dipaakai diruangan lain
Bahan dan Syarat Sepatu Pelindung adalah :
a. Sepatu karet/plastik yang menutup seluruh ujung dan telapak kaki
b. Tidak dianjurkanmenggunakan sandal
Langkah - langkah penggunaan Alat pelindung diri :
1. Pemakaian di ruangan biasa (seperti rawat inap, rawat jalan) :  gaun/apron
 masker atau respirator
 goggles (kaca mata) atau face shield (perlindung wajah)  sarung tangan
2. Pada ruangan untuk isolasi ketat :  sepatu boot
 masker respirator  topi
 gaun/apron
 sarung tangan ke I  google/faceshiekl  sarung tangan ke II  masker bedah
3. Panduan CDC untuk pemulihan dan penggunaan alat pelindung diri dilingkungan
pelayanan kesehatan:
 sebelum dan setelah cuci tangan dengan bahan cuci tangan yang
mengandung chlorhexidine Gluconate
 baju pelindung
 Masker or respirator
 Google (kacamata) atau face shield (pelindung wajah)
 sarung tangan
4. Cara - cara menggunakan gaun/ baju pelindung (1) :  pilih gaun sesuai dengan jenis dan
ukuran
 buka bagian belakang gaun/apron
 ikatlah bagian leher dan pinggang
 bila gaun terlalu kecil, gunakan 2 gaun:  Gaun 1 diikat di bagian depan
 Gaun 2 diikat bagian belakang
5. Beberapa hal penting tentang APD (Alat pelindung diri )
 sarung tangan digunakan sebelum kontak dengan pasien
 gunakan secara hati-hati, hindari penyebaran/kontaminasi agen
infeksi buka dan buanglah secara hati-hati di pintu keluar atau
 secepatnyapada saat keluar kamar pasien, lepas respirator diluar kamar
pasien
 lakukan hand hygiene secepatnya
6. Cara menggunakan pakaian pelindung dikamar operasi (2) : kenakan baju operasi sebagai
lapisan pertama pakaian
pelindung
 kenakan sepatu bot
 kenakan masker
 kenakan penutup kepala
 kenakan celemek plastic
 kenakan sepasang sarung tangan pertama
 kenakan gaun luar
 kenakan alat pelindung mata
 kenakan sarung tangan kedua
7. Tindakan menggunakan baju pelindung steril (3):
Prinsip :
 cara pelindung dapat dipakai sendiri oleh pemakai atau dipakaikan oleh
orang lain satu gaun pelindung dipakai untuk menangani satu pasien
 cara memakai gaun pelindung/ bedah mengikuti proses tanpa singgung,
yaitu dengan mengusahakan agar bagian luar gaun tidak bersinggungan langsung dengan
kulit tubuh pemakai hanya bagian luar gaun saja yang boleh terkontaminasi, karena
 tujuan pemakaian gaun untuk melindungi pemakai dari infeksi
 hanya bagian depan atas gaun bedah ( di atas pinggang) saja yang dianggap
steril dan boleh bersinggungan dengan lapangan
 celemek kedar air di pakai di sebelah Persiapan :
 baju pelindung steril
 sarung tangan steril
 handuk /lap steril
 cuci tangan steril
Tindakan :
 keringkan tangan dan lengan satu persatu secara bergantian, dimulai dari
tangan, kemudian lengan bawah memakai handuk
 steril
 Jaga agar tangan tidak menyentuh gaun pelindung. Taruh lap/handuk steril
yang telah digunakan pada suatu wadah/ember
 ambil gaun pelindung dengan memegang bagian dalam, yaitu pada bagian
pundak
 biarkan gaun pelindung terbuka, masukkan tangan-tangan ke dalam lubang
 upayakan posisi lengan terletak setinggi dada, menjauh dari tubuh
 gerakkan lengan dan tangan ke dalam gaun pelindung
 tutup/ikat bagian belakang gaun dengan bantuan petugas lain yang tidak
steril

BAB III
PENUTUP

A. kesimpulan

Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat seseorang dalam waktu 3x24 jam sejak
mereka masuk rumah sakit (Depkes RI, 2003). Infeksi nosokomial diakibatkan oleh pemberian
layanan kesehatan dalam fasilitas perawatan kesehatan. Rumah sakit merupakan satu tempat yang
paling mungkin mendapat infeksi karena mengandung populasi mikroorganisme yang tinggi dengan
jenis virulen yang mungkin resisten terhadap antibiotik (Perry & Potter, 2005).

B. Saran

Bagi seorang perawat harus mengikuti SOP dan aturan yang telah dibuat baik Menkes RI
maupun organisasi PPNI sehingga dapat mencegah atau mengurangi terjadinya infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

Maryunani,Anik. 2011. keterampilan dalam Praktik Klinik Kebidanan. Jakarta : Trans Info
Media Potter , P.A & Peery, A.G 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan; Konsep, proses, dan
Praktik. Edisi 4. Volume 1. Alih Bhasa : Yusmin Asih, dkk. Jakarta : EGC. Rahma,futia. 2010. Infeksi
nosocomial. Unila.
https://id.scribd.com/document/405263334/makalah-a-docx
Referensi:

Anda mungkin juga menyukai