Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

KONSEP DASAR KEPERAWATAN II


CONCEPT MAPPING

Oleh :

INDAH NOVIA HENDRA


NIM : 203310698

DOSEN : Ns. YESSI FADRIYANTI, M. Kep

PROGRAM STUDI NERS


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG
PADANG
2021
KATA PENGANTAR

Dengan segala kerendahan hati, puji dan syukur penulis sampaikan atas kehadirat Allah
SWT yang telah melimpahkan rahmad dan karunia-Nya. Shalawat dan salam untuk Nabi
Muhammad SAW, sehingga penulis telah diberi kemudahan dalam menyusun makalah ini.
Adapun judul makalah ini adalah “concept mapping”. Makalah ini diajukan sebagai pemenuhan
tugas pada mata kuliah Konsep Dasar Keperawatan 2.

Dalam penulisan makalah ini banyak hambatan dan rintangan yang penulis hadapi. Namun,
berkat dorongan semua pihak, makalah ini akhirnya dapat penulis selesaikan. Maka pada
kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya
kepada Semua pihak yang ikut berpartisipasi dalam penulisan makalah ini.

Akhir kata penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
sempurna. Semoga makalah ini memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca.

Padang, Januari 2021

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………....ii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………..iii
BAB I : PENDAHULUAN……………………………………………………………………….1
1.1. Latar
Belakang……………………………………………………………………….1
1.2. Rumusan Masalah……………………………………………………………....
……2
1.3. Tujuan…………………………………………………………………………....
…..2
BAB II : PEMBAHASAN…………………………………………………………………....…..3
2.1. Pengertian Concept Mapping…………………………………………………....…...3
2.1.1. Macam- Macam Concept Mapping……………………………………………4
2.1.2. Ciri- Ciri Concept Mapping………………………………………………..…..4
2.2. Proses Keperawatan Dengan Memakai Concept Mapping………...……………....…5
BAB III : PENUTUP……………………………………………………………………………...9
3.1. Kesimpulan…………………………………………………………………………...9
3.2. Saran……………………………………………………………………………….....9
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………10

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pada zaman modern saat sekarang ini, masalah pendidikan merupakan suatu hal yang
sangat penting. Pada abad mendatang merupakan suatu tantangan bagi generasi yang akan
datang. Terutama bagi bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan nasional dan sumber daya
manusia yang berkualitas dan mampu bersaing dengan bangsa lain. Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa dan
martabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembang
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Belajar merupakan suatu kegiatan yang berproses karena dalam belajar terjadi sebuah
proses perubahan mental terhadap pengetahuan sebelumnya yang dialami oleh peserta didik.
Ketika proses pembelajaran berlangsung, seringkali dijumpai peseta didik mengalami
kesulitan yang cukup menghambat tercapainya tujuan yang telah direncanakan. Dalam
keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar dan mengajar merupakan kegiatan yang
paling pokok. Hal ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak
bergantung kepada bagaimana proses belajar mengajar dirancang dan dijalankan secara
profesional. Salah satu pernyataan dalam teori Ausubel adalah bahwa faktor yang paling
penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang diketahui peserta didik
(pengetahuan awal). Jadi, agar belajar jadi bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan
dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur kognitif peserta didik.
Untuk mempermudah peserta didik dalam mengikuti proses belajar diperlukannya
perencanaan dalam pembelajaran. Sebagai salah satunya adalah peta konsep (concept
mapping), karena peta konsep dapat digunakan sebagai perangkat perencanaan yang sangat
baik untuk proses belajar dan pembelajaran. Banyak orang yang keliru dengan pengertian
antara concept mapping dengan mind map. Concept mapping atau peta konsep memiliki
pengertian yang sama dengan mind map.

4
1.2. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan concept mapping?
2. Bagaimanakah proses keperawatan dengan memakai concept mapping?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari concept mapping
2. Untuk mengetahui proses keperawatan dengan memekai concept mapping
3.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Concept Mapping / Peta Konsep


Peta konsep adalah representasi visual dari masalah klien dan intervensi yang
menunjukkan hubungan satu dengan yang lain (Schuster, 2003). Adapun Pemetaan konsep
(concept mapping) adalah teknik berpikir kritis yang menggunakan diagram-diagram untuk
menenjukkan hubungan dari suatu konsep atau situasi ke berbagai konsep dan situasi lain
(Carpenito dan Moyet 2007).
Menurut Martin peta konsep adalah ilustrasi grafis kongkrit yang
mengindikasikan sebagaimana konsep tunggal dihubungkan ke konsep-konsep lain pada
kategori yang sama. Dari pendapat tersebut tersirat bahwa peta konsep merangkaikan
konsep satu dengan konsep lainnya sehingga akan terjadi keterkaitan antara konsep-konsep
tersebut. Dari penjelasan diatas dapat diartikan bahwa Concept mapping atau peta konsep
merupakan cara kreatif setiap peserta didik untuk mencatat pelajaran dan memudahkan
mereka untuk mengindentifikasi secara jelas dan kreatif yang telah mereka pelajari.
Sumaji, dkk (1997) juga menyatakan bahwa peta konsep dapat digunakan untuk
membantu siswa menyusun konsep dan menghindari miskonsepsi. Menurut Dahar (1989)
mengemukakan bahwa konsep-konsep merupakan dasar berpikir untuk belajar aturan-
aturan dan akhirnya memecahkan masalah. Hal ini berarti bahwa konsep merupakan dasar
bagi proses-proses mental yang lebih tinggi guna merumuskan prinsip-prinsip dan
generalisasi-generalisasi.
Terdapat kekeliruan pada peserta didik dalam membedakan antara concept
mapping dengan mind map, keduanya memiliki pengertian yang hampir sama yaitu
rangkuman materi yang disusun dalam bentuk visualisasi bagan, yang membedakan
keduanya adalah jika mind map lebih kepada visualisasi gambar sedangkan peta konsep
atau concept mapping menjelaskan kepada materi itu sendiri.
Tujuan utama dari pemetaan konsep adalah untuk menyintesis data yang relevan
tentang klien, termasuk data pengkajian, diagnosis keperawatan, kebutuhan perawatan,
intervensi keperawatan, dan evaluasi (Hill, 2006). Melalui penggambaran peta konsep,

6
Anda akan belajar menyusun dan menghubungkan informasi dengan cara yang unik,
sehingga informasi yang beragam akan mulai dapat dihubungkan satu sama lain dan
membentuk pola yang berarti atau konsep. Peta konsep bisa berbentuk format visual yang
beragam.
Pemetaan konsep akan memudahkan saat menghubungkan antara data, penyebab,
dan akibat. Teknik ini pun dapat menggali segala kemungkinan yang berhubungan dengan
masalah. Selain itu, penggunaan pemetaan konsep akan membantu dalam memahami
masalah dan memudahkan pencarian penyebab masalah secara sistematis.

2.1.1. Macam- Macam Concept Mapping / Peta Konsep


1. Pohon Jaringan
Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat sedangkan beberapa kata yang lain
dituliskan pada garis-garis penghubung. Garis-garis itu pada peta konsep
menunjukan hubungan antara ide-ide itu. Kata-kata yang ditulis pada garis
memberikan hubungan antara konsep - konsep.
2. Rantai Kejadian
Peta konsep rantai kejadian dapat digunakan untuk memberikan suatu urutan
kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur atau tahapan dalam proses.
3. Siklus
Rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil final. Kejadian terakhir
pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal karena tidak ada
hasil dan kejadian terakhir itu menghubungkan kembali ke siklus awal. Siklus
ini berulang dengan sendirinya.
4. Laba– laba
Digunakan untuk curah pendapat. Melakukan curah pendapat ide-ide berangkat
dari suatu ide sehingga dapat memperoleh ide yang bercampur aduk.

2.1.2. Ciri- Ciri Concept Mapping


a. Peta konsep adalah bentuk dari konsep-konsep atau proposisi-proposisi suatu
bidang studi agar lebih jelas dan bermakna, misalnya dalam bidang Studi
biologi, Fisika, Pendidikan Agama Islam dan lain sebagainya.

7
b. Peta konsep merupakan suatu gambar yang berbentuk dua dimensi dari suatu
bidang studi, atau bagian dari bidang studi yang memperlihat tata hubungan
antara konsep-konsep. Disamping itu juga memperlihat bentuk belajar
kebermaknaan dibanding dari cara belajar untuk lain dengan tidak
memperlihatkan hubungan-hubungan konsep-konsep. Peta konsep memperlihat
hubungan konsep antara satu dengan yang lainnya.
c. Setiap konsep memiliki bobot yang berbeda antar satu dengan lainnya, ia dapat
berbentuk aliran air, cabang pohon, urutan-urutan kronologis, dan lain
sebagainya.
d. Peta konsep berbentuk hirarkis, manakala suatu konsep dibawahnya terdapat
beberapa konsep, maka konsep itu akan lebih terurai secara jelas sehingga
apapun yang berkaitan dengan konsep tersebut akan timbul, seperti; fungsi,
bentuk, contoh, tempat dan sebagainya.

2.2 Proses Keperawatan Dengan Memakai Concept Mapping


Konsep berpikir kritis merupakan elemen penting dalam pemberian asuhan
keperawatan yang berkualitas. Proses pembelajaran di lingkungan klinik praktek
keperawatan harus didesign dengan metode pembelajaran yang efektif yang mendukung
berpikir kritis pada mahasiswa. Concept mapping merupakan alat yang digunakan untuk
mendukung berpikir kritis pada mahasiswa. Hal ini dapat diperoleh dengan
menghubungkan prior knowledge yang mereka peroleh sebelumnya dengan informasi
baru yang didapatkan untuk menyelesaikan masalah pasien.
Elemen inti pendidikan keperawatan terdapat pada pemilihan dan
penggunaan kegiatan pembelajaran yang mendukung konsep berpikir kritis yang
diperlukan dalam aplikasi proses keperawatan serta mendukung lingkungan
pembelajaran yang aktif (Kinchin, 2014). Lingkungan pembelajaran klinik yang
digunakan dalam proses pendidikan keperawatan akan membantu mahasiswa
meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam mengembangkan perawat dari
tingkat novice ke expert.
Mahasiswa akan mendapatkan pengalaman yang nyata secara langsung
tentang suatu konsep dalam keperawatan sehingga akan mendorong aplikasi

8
pemecahan masalah dengan menggunakan pengetahuan yang mereka dapat sebelumnya di
lingkungan akademik (Koontz, Mallory, Burns, & Chapman, 2010). Kegiatan
pembelajaran ini merangsang konsep berpikir kritis merupakan aspek penting dan
dasar dalam pendidikan keperawatan karena proses ini menggabungkan transformasi
pengetahuan kedalam keahlian memahami, mengaplikasikan, menganalisa, mensintesis,
dan mengevaluasi informasi yang diperoleh dari seorang klien sebagai pedoman
dalam memformulasikan suatu keputusan untuk memberikan asuhan keperawatan yang
bermutu.
Berbagai studi telah menyebutkan bahwa concept mapping mempunyai
kelebihan dalam memfasilitasi pembelajaran dalam berpikir kritis, pembelajaran
bermakna, dan pemecahan masalah dalam keperawatan yang akan dibutuhkan di dalam
praktek keperawatan serta memberikan dampak yang signifikan terhadap pembelajaran
mahasiswa. Ketiga aspek ini merupakan hal utama untuk mencapai pembelajaran
yang efektif, sehingga mahasiswa keperawatan akan mampu bertransformasi dari rote
learning menjadi meaningful learning.
Tiga hal yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan ini adalah dengan
menggabungkan konsep dan informasi dalam struktur kognitif, mengelompokkan
pengetahuan secara hirarki, serta menghubungkan setiap konsep dan ide yang ada
sehingga hasil akhir yang diciptakan adalah pembelajaran bermakna (Taie, 2014).
Namun penelitian terkait penggunaan concept mapping dalam pembelajaran klinik masih
terbatas (Hu & Wu, 2012) sehingga memberikan motivasi terhadap pengembangan
aplikasi concept mapping dalam lingkup pembelajaran klinik. Situasi klinik akan
memberikan kompleksitas masalah yang berhubungan dengan pasien, keluarga, dan tim
kesehatan yang lain, sehingga konsep berpikir kritis akan sangat diperlukan dalam
pembelajaran dalam keperawatan.
Pengambilan keputusan klinis yang tepat dan akurat merupakan salah satu
kompetensi perawat yang harus dimiliki, terlebih pada situasi dan kondisi yang
kritis. Praktek klinik merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan teori
yang didapat dikelas untuk menunjang pemberian asuhan keperawatan dan
memberikan pengalaman pribadi dan interpersonal. Berdasarkan studi pendahuluan pada
mahasiswa keperawatan yang sedang praktek keperawatan di ruang maternitas,

9
kemampuan berpikir kritis kurang bisa diliat jika hanya berdasarkan pada pembuatan
asuhan keperawatan.
Penggunaan konsep dan teori keperawatan yang diperoleh saat dikelas untuk
dihubungkan dengan informasi baru yang diperoleh dari klien sebagai landasan
penyelesaian masalah klien tidak bisa digali sejauh dan sedalam apa tingkatanya.
Saat dilakukan responsi, mahasiswa tidak bisa menjelaskan dengan baik konsep dan
teori keperawatan yang dipakai dalam penyusunan asuhan keperawatan. Berdasarkan
data ini, peneliti termotivasi untuk memfasilitasi mahasiswa keperawatan dengan
strategi pembelajaran yang efektif untuk mencapai pembelajaran bermakna dan
mengukur kemampuan berpikir kritis mahasiswa, dengan menggunakan concept
mapping.
Evaluasi tambahan yang didapat dari pembimbing klinik selama proses
pembelajaran praktek klinik, bahwa dalam melakukan tindakan keperawatan
mahasiswa tidak mengetahui alasan dan tujuan tindakan, serta konsep berpikir kritis
tidak terlihat dari asuhan keperawatan yang disusun oleh mahasiswa dan saat dilakukan
responsi mahasiswa tidak menguasai kasus yang dikelola dan masih lemah dalam
mengaplikasikan konsep dan teori keperawatan yang ada.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh aplikasi penerapan concept
mapping dalam pemberian asuhan keperawatan di stase maternitas untuk mahasiswa
keperawatan dalam pendidikan profesi. Penelitian ini akan memunculkan strategi
pembelajaran praktek klinik yang efektif bagi mahasiswa yang mampu memberikan
latihan berpikir kritis dalam pemecahan masalah keperawatan, terutama dalam lingkup
keperawatan kritis yang mempunyai kompleksitas masalah dan membutuhkan
pengambilan keputusan yang tepat dan akurat.
Konsep berpikir kritis dalam keperawatan harus sudah ditanamkan sejak dini
kepada mahasiswa sebagai dasar dalam penyelenggaraan layanan keperawatan,
sehingga diharapkan aplikasi concept mapping diharapkan mampu menjembatani
kebutuhan ini. Keutamaan yang lain adalah sebagai dasar evaluasi bagi
penyelenggaraan program profesi, sebagai bahan rujukan dan masukan untuk
pembuatan model pembelajaran klinik yang efektif. Strategi pembelajaran di praktek
klinik yang efektif akan memfasilitasi mahasiswa dalam peningkatan kemampuan

10
berpikir kritis, sehingga dengan concept mapping dapat mendukung konstruktivisme
dalam pembelajaran yang akan mengarahkan mahasiswa untuk membangun sendiri
pemahaman.
Kerangka pemikiran yang disusun oleh mahasiswa akan menjadi panduan bagi
pendidik dalam melakukan evaluasi tercapai tidaknya capaian pembelajaran yang
diinginkan. Sehingga seorang clinical instructor harus mempunyai kemampuan sebagai
seorang fasilitator dimana CI harus mampu bertanya untuk mengevaluasi pemahaman
mahasiswa, menjelaskan tentang hal-hal baru yang tidak dipahami oleh mahasiswa,
member penguatan dalam mengapresiasi kemajuan mahasiswa, mengadakan variasi
dalam penggunaan strategi pembelajaran yang tepat, mengelola kelas dan membimbing
diskusi mahasiswa.
Evaluasi pembelajaran klinik perlu untuk dilakukan terutama untuk mengukur
kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Salah satu komponen yang bisa dievaluasi
adalah asuhan keperawatan yang disusun oleh mahasiswa. Concept mapping yang
disusun mahasiswa dapat dijadikan pedoman bagi mahasiswa dalam memahami masalah
klien sehingga perumusan diagnose keperawatan akan lebih tepat dan menjamin
penyusunan intervensi keperawatan yang berkualitas.

11
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Proses keperawatan komunitas merupakan metode asuhan keperawatan yang bersifat
alamiah, sistematis, dinamis, kontinu, dan berkesinambungan dalam rangka memecahkan
masalah kesehatan klien, keluarga, kelompok serta masyarakat melalui langkah-langkah
seperti pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi keperawatan (Wahyudi,
2010).
Peta konsep adalah representasi visual dari masalah klien dan intervensi yang
menunjukkan hubungan satu dengan yang lain (Schuster, 2003). Adapun Pemetaan konsep
(concept mapping) adalah teknik berpikir kritis yang menggunakan diagram-diagram untuk
menenjukkan hubungan dari suatu konsep atau situasi ke berbagai konsepdan situasi lain
(Carpenito dan Moyet 2007). Pemikir yang kritis akan memperhatikan apa yang penting
dalam sebuah situasi, membayangkan dan mengeksplorasi semua alternative
mempertimbangkan kode etik, dan kemudian membuat suatu keputusan.
Penerapan peta konsep dapat meningkatkan kreativitas berfikir peserta didik dalam
proses pembelajaran. Penerapan peta konsep dapat meningkatkan penguasaan konsep
peserta didik terhadap materi pelajaran yang diberikan

3.2. Saran
Pemetaan konsep akan memudahkan saat menghubungkan antara data, penyebab,
dan akibat. Teknik ini pun dapat menggali segala kemungkinan yang berhubungan dengan
masalah. Selain itu, penggunaan pemetaan konsep akan membantu dalam memahami
masalah dan memudahkan pencarian penyebab masalah secara sistematis.
Mungkin dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu
kami mengharapkan, kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan
makalah ini. Agar dalam penulisan makalah kedepannya bisa lebih baik.

12
DAFTAR PUSTAKA

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran inovati-progresiv. Jakarta:Prenada Media

Buzan. Tony. 2004. Mind Map: Untuk meningkatkan Kreativitas. Gramedia Pustaka Utama:
Jakarta.

http://caramengajarefektif.blogspot.com/2016/03/metode-concept-map.html

https://id.scribd.com/document/374152122/konsep-pemetaan

Jurnal : CONCEPT MAPPING APPLICATION FOR NURSING CARE IN MATERNITY


STAGE (June, 2017). Link:
https://www.researchgate.net/publication/323240521_CONCEPT_MAPPING_APPLICATI
ON_FOR_NURSING_CARE_IN_MATERNITY_STAGE

13

Anda mungkin juga menyukai