Anda di halaman 1dari 7

RMK Metodologi Penelitian Akuntansi

“PARADIGMA PENELITIAN ILMIAH”

Disusun oleh:

Moh. Gofaldi (A031191138)

Muh.Syukur (A031191077)

Andi Aisyah (A031191059)

ASMAH. G (A031191099)

Ahmad Nurul Fitrah H.s (A031191062)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2021
PARADIGMA DALAM PENELITIAN ILMIAH

A. Asumsi Filsafat

Dalam penelitian kualitatif, para penanya membuat asumsi-asumsi tertentu. Asumsi


filosofis ini terdiri dari sikap terhadap hakikat realitas (ontologi), bagaimana peneliti
mengetahuinya (episemologi), peran nilai dalam penelitian (aksiologi), Bahasa penelitian
(retorika), dan metode yang digunakan dalam proses (metodologi). (Creswell, 2003).

 Ontologi, berkaitan dengan hakikat realotan dan karakteristiknya. Saat melakukan


penelitian kualitatif, mereka merangkul gagasan tentang berbagi realitas.
 Epistemology, dalam praktiknya, peneliti kualitatif melakukan studi “lapangan”
sedekat mungkin dengan yang diteliti.
 Aksiologi, mengakui sifat studi yang sarat nilai dan secara aktif melaporkan nilai dan
bias mereka serta informasi yang sarat nilai yang dikumpulkan dari lapangan.
 Retorika, kebutuhan menjadi pribadi dan sastra dalam bentuk. Misalnya, mereka
menggunakan metafora, mereka menyebut diri mereka sendiri menggunakan kata
ganti orang pertama, mereka menceritakan cerita dengan awal, tengah, dan akhir
kadang-kadang dibuat secara kronologis.
 Metodologi, sebagau induktif, muncul, dan dibentuk oleh pengalaman peneliti dalam
mengumpulkan dan menganalisis data.

B. Paradigma atau Pandangan Dunia

Asumsi tersebut mencerminkan sikap tertentu yang dibuat peneliti Ketika mereka
memilih penelitian kualitatif. Setelah peneliti membuat pilihan ini, mereka kemuadian
membentuk penelitian mereka dengan membawa paradigma penyelidikan atau pandangan
dunia. Paradigma adalah seperangkat dasar keyakinan yang memandu tindakan (Guba,
1990, hlm.17). keyakinan ini disebut dengan paradigma (Lincoln & Guba 2000; mertens,
1998); asumsi filosofis, epistmologi, dan ontology (Crotty, 1998); metode penelitian dipahami
secara luas (Neuman, 2000); dalan claim pengetahuan alternatif (Creswell, 2003) paragraph
yang digunakan oleh peneliti kualitatif bervariasi dengan seperangkat keyakinan yang
mereka bawa ke penelitian, dan jenisnya terus berembang dari waktu ke waktu.

4 Paradigma Penelitian Kualitatif

1. Paradigma Post-positivisme
Asumsi-asumsi post-positivis merepresentaikan bentuk tradisional penelitian,
yang kebenarannya lebih sering disematkan untuk penelitian kuantitatif ketimbang
penelitian kualitatif. Pandangan dunia ini terkadang disebut sebagai metode saintifik
atau penelitian sains. Ada pula yang menyebutnya sebagai penelitian poritivis/post-
positivis,sains empiris, dan post positivisme, istilah terakhir disebut post-positivisme.
Kaum Post-Positivis mempertahankan filsafat deterministik bahwa sebab-sebab
(faktor-faktor kausatif ) sangat mungkin menentukan akibat atau hasil akhir.

Pengetahuan yang berkembang melalui kacamata kaum post-positivis selalu


didasarkan pada observasi dan pengujian yang sangat cermat terhadap realitas
objektif yang muncul di dunia ''luar sana.'' Untuk itulah, melakukan observasi dan
meneliti perilaku individu-individu dengan berlandaskan pada ukuran angka-angka
dianggap sebagai aktivitas yang amat penting bagi kaum post-positivis. Akibatnya,
muncul hukum-hukum atau teori-teori yangmengatur dunia, yang menuntut adanya
pengujian dan verifikasi atas kebenaran teori-teori tersebut agar dunia ini dapat
dipahami oleh manusia. Untuk itulah, dalam metode saintifik, salah satu pendekatan
penelitian yang telah disepakati oleh kaum post-positivis, seorang peneliti harus
mengawali penelitiannya dengan menguji teori tertentu, lalu mengumpulkan data
baik yang mendukung maupun yang membantah teori tersebut, baru kemudian
membuat perbaikan-perbaikan lanjutan sebelum dilakukan pengujian ulang.

Phillips dan Burbules ( 2000 ). Sejumlah asumsi dasar yang menjadi inti dalam
paradigma penelitian post-positivis, antara lain:

a) Pengetahuan bersifat konjektural/terkaan ( dan anti fondasional/tidak


berlandasan apapun ). Bahwa kita tidak akan pernah mendapatkan
kebenaran absolut. Untuk itulah, bukti yang dibangun dalam penelitian sering
kali lemah dan tidak sempurna. Karena alasan ini pula, banyak peneliti yang
berujar bahwa mereka tidak dapat membuktikan hipotesisnya; bahkan, tak
jarang mereka juga gagal untuk menyangkal hipotesisnya.
b) Penelitian merupakan proses membuat klaim-klaim, kemudian menyaring
sebagian klaim tersebut menjadi ''klain-klaim lain'' yang kebenarannya jauh
lebih kuat. Sebagian besar penelitian kuantitatif, misalnya, selalu diawali
dengan pengajuan atas suatu teori.
c) Pengetahuan dibentuk oleh data, bukti, dan pertimbangan-pertimbangan
logis. Dalam praktiknya, peneliti mengumpulkan informasi dengan
menggunakan instumen-instrumen pengukuran tertentu yang diisi oleh
partisipan atau dengan melakukan observasi mendalam di lokasi penelitian.
d) Penelitian harus mampu mengembangkan statemen-statemen yang dapat
menjelaskan situasi yang sebenernya atau dapat mendeskripsikan relasi
kausalitas dari suatu persoalan. Dalam penelitian kuantitatif, peneliti membuat
relasi antarvariabel dan mengemukakannya dalam bentuk pertanyaan dan
hipotesis.
e) Aspek terpenting dalam penelitian adalah sikap objektif; para peneliti harus
kembali menguji metode-metode dan kesimpulan-kesimpulan yang sekiranya
mengandung bias. Untuk itulah dalam penelitian kuantitatif, standar validitas
dan reliabilitas menjadi dua aspek penting yang wajib dipertimbangkan oleh
peneliti.

2. Paradigma Konstruktivisme Sosial


Konstruktivisme sosial meneguhkan bahwa individu-individu selalu berusaha
memahami dunia di mana mereka hidup dan bekerja.

Terkait dengan konstruktivisme ini, Crotty ( 1998 ) memperkenalkan sejumlah


asumsi :

 Makna-makna di konstruksi oleh manusia agar mereka bisa terlibat dengan


dunia yang tengah mereka tafsirkan . para peneliti kualitatif cenderung
menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka agar partisipan dapat
mengungkapkan pandangan-pandangannya.
 Manusia senantiasa terlibat dengan dunia mereka dan berusaha
memahaminya berdasar perspektif historis dan sosial mereka sendiri.
 Yang menciptakan makna pada dasarnya adalah lingkungan sosial, yang
muncul di dalam dan di luar interaksi dengan komunitas manusia.

3. Paradigma Advokasi dan Partisipatoris


Pandangan Dunia Advokasi dan Partisipatoris berasumsi bahwa penelitian
harus dihubungkan dengan politik dan agenda politis. Untuk itulah, penelitian ini
pada umumnya memiliki agenda aksi demi reformasi yang diharapkan dapat
mengubah kehidupan para partisipan, institusi-institusi di mana mereka hidup dan
bekerja, dan kehidupan peneliti sendiri.
Dalam penelitian ini, para peneliti harus bertindak secara kolaboratif agar
nantinya tidak ada partisipan yang terpinggirkan dalam hasil penelitian mereka.
Bahkan, para partisipan dapat membantu merancang pertanyaan-pertanyaan,
mengumpulkan data, menganalisis informasi, atau mencari hibah-hibah penelitian.
[ Penelitian advokasi menyediakan sarana bagi partisipan untuk menyuarakan
pendapat dan hak-hak mereka yang selama ini tergadaikan.

4. Paradigma Pragmatik
Pragmatisme sebagai pandangan dunia lahir dari tindakan-tindakan, situasi-situasi,
dan konsekuensi-konsekuensi yang sudah ada, dan bukan dari kondisi-kondisi
sebelumnya ( seperti dalam kondisi post-positivisme ). Sebagai salah satu paradigma
filosofis untuk penelitian metode campuran, Tashakkori dan Teddlie (1998), Morgan
(2007), dan Patton (1990) menekankan pentingnya paradigma pragmatik ini bagi para
metode campuran, yang pada umumnya harus berfokus pada masalah-masalah
penelitian dalam lmu sosial humaniora, kemudian menggunakan pendekatan beragam
untuk memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam tentang problem-problem
tersebut.

C. Komunitas Interpretasi
Operasi pada tingkat yang kurang filosofis adalah sebagai komunitas interpretative
untuk peneliti kualitatif (Denzin & Lincoln, 2005). Ruang tidak mengiizinkan melakukan
keadilan di sini untuk ruang lingkup dan masalah yang diangkat oleh komunitas
interpretatif.
Posisi interpretative pada semua aspek proyek penelitian kualitatif. Para peserta
dalam proyek-proyek interpretative ini mewakili kelompok-kelompok yang kurang terwakili
atau terpinggirkan, apakah perbedaan tersebut berupa gender, ras, kelas, agama,
seksualitas dan geografi (Ladson-Billings & Donnor, 2005). Masalah dan pertanyaan
penelitian yang dieksplorasi bertujuan untuk memahami masalah atau topik tertentu,
kondisi yang merugikan dan mengecualikan individu atau budaya, seperti hierarki,
hegemoni, rasisme, seksisme, hubungan yang tidak setara, identitas, ketidasetaraan
dalam masyarakat.
Prosedur penelitian, seperti pengumpulan data, analisis data, representasi materi
kepada khayalak, dan standar evaluasi dan etika, menekankan pada sikap interpretative.
Selama pengumpulan data, peneliti tidak memnggirkan partisipan, tetapi menghotmati
partisipan dan situs untuk penelitian. lebih lanjut, peneliti memberikan timbal balik dengan
memberi atau membayar Kembali mereka yang berpartisipasi dalam penelitian, mereka
berbagi perspektif individu dan yang menceritakan kisah tersebut.
Bagaimana penelitian disajikan dan digunakan juga penting. Penelitian dapat
disajikan dengan cara tradisional, seperti artikel jurnal, atau dalam pendekatan
eksperimental, seperti teater dan puisi.

Tinjuan Perspektif Teoritis

1. Perspektif Postmodern
Thomas (1993) menyebut postmodernis sebagai “ radikal kursi tangan” (hlm.
23) yang memfokuskan kritik mereka pada perubahan cara berfikir daripada
meyeruhkan Tindakan berdasarkan perubahan ini. Postmodernisme dapat dianggap
sebagai sebuah keluarga teori perspektif yang memiliki persamaan (Slife & Wiliams,
1995). Konsep dasarnya adalah bahwa klaim pengetahuan harus ditetapkan dalam
kondisi dunia saat ini dan dalam berbagai perspektiof, ras, jenis kelamin, dan afiliasi
kelompok lainnya.

2. Teori Feminisme
Feminisme mengacu pada orientasi teoritis dan pragmatis yang berbeda,
konteks nasional yang berbeda, dan pperkembangan dinamis (olesan, 2005). Pusat
pendekatan penelitian feminis dan membuat beragam situasi perempuan
bermasalah dan institusi yang membingkai situasi tersebut. Topik penelitian dapat
mencakup isu-isu kebijakan yang terkait dengan mewujudkan keadilan sosial bagi
perempuan dalam konteks tertentu dan pngetahuan tentang situasi yang menindas
perempuan (Olesan, 2005).

3. Teori Kritis dan Teori Ras Kritis (CRT)


Perspektif teori kritis berkaitan dengan kekuatan manusia untuk melampaui
Batasan yang ditempatkan pada mereka oleh ras, kelas, dan gender (fay, 1987).
Peneliti perlu mengakui kekuatan mereka sendiri, terlibat dalam dialog, dan
menggunakan teori untuk menafsirkan atau menerangi Tindakan sosial (madison,
2005).

4. Teori Queer
Teori queer dicirikan oleh berbagai metode dan strategi yang berhubungan
dengan identiras individu (Watson, 2005). Sebagai tubuh ia mengeksplorasikan
banyak sekali kompleksitas kontruksi, identitas, dan bagaiman identiras
memproduksi dan “tampil” di forum sosial.

5. Teori Disabilitas
Disabilitas penyedikan disabilitas membahas arti inklusi di sekolah dan
mencakup administer, guru, dan orang tua yang memiliki anak penyandangn
disabilitas (Mertens, 1998). Melihat individu penyandang disabilitas sebagai sesuatu
yang berbeda tercermin dalam proses penelitian, seperti dalam jenis pertanyaan
yang diajukan, label yang diterapkan oleh individu tersebut, pertimbangan tentang
bagaimana pengumpulan data akan bermanfaat komunitas, dan bagaiman cara
pengumpulan data.