Anda di halaman 1dari 23

UNIVERSITAS ESA UNGGUL

LAPORAN RESIDENSI

Gambaran Manajemen Pemasaran


dan
Pelayanan Unit Hemodialisa
di Rumah Sakit Ananda

DISUSUN OLEH:
RATNA KARTIKA HADI PUTRI
NIM : 20190309184

PROGRAM PASCA SARJANA


PROGRAM STUDI MAGISTER ADMINISTRASI RUMAH SAKIT FAKULTAS ILMU-
ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
JAKARTA
2021
UNIVERSITAS ESA UNGGUL

LAPORAN RESIDENSI

Gambaran Manajemen Pemasaran dan Pelayanan Unit Hemodialisa


di Rumah Sakit Ananda

Laporan ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan mata kuliah Residensi
Program Pascar Sarjana Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Program Studi Magister Administrasi
Rumah Sakit

DISUSUN OLEH:
RATNA KARTIKA HADI PUTRI
NIM 20190309184

PROGRAM PASCA SARJANA


PROGRAM STUDI MAGISTER ADMINISTRASI RUMAH SAKIT FAKULTAS ILMU-
ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
JAKARTA
2021
ii
PERNYATAAN PERSETUJUAN

Laporan magang ini telah disetujui oleh pembimbing materi dan pembimbing lapangan
program magang mahasiswa Pascasarjana Peminatan Magister Administrasi Rumah Sakit
Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul

Jakarta, Agustus 2021


Pembimbing Residensi

M. Reza Hilmy, MARS, PHd


PERNYATAAN PERSETUJUAN

Laporan magang ini telah disetujui oleh pembimbing materi dan


pembimbing lapangan program magang mahasiswa Pascasarjana
Peminatan Magister Administrasi Rumah Sakit Fakultas Ilmu-ilmu
Kesehatan Universitas Esa Unggul

Bekasi, Agustus 2021


Pembimbing RS Ananda

Dr. Viky Santi Theresia, MARS


DAFRTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Ratna Kartika Hadi Putri


Alamat : Jl. Semangka 3 Blok C 27 no 12. Bekasi
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 08 Mei 1986
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan

Riwayat Pendidikan :
1. SDN Bhakti Handayani, Kota Bekasi : Tahun Lulus 1998
2. SMP Negeri 3 , Kota Bekasi : Tahun Lulus 2001
3. SMU Negeri 1 Babelan, Kabupaten Bekasi : Tahun Lulus 2004
4. FK Universitas YARSI : Tahun Lulus 2011
Riwayat Pekerjaan :
1. Dokter Umum di Klinik Seto Hasbadi November 2011 – Desember 2011,
Kota Bekasi
2. Dokter Umum di UGD/Poli/Rawat Inap RS Mekar Sari Januari 2012 –
Februari 2015
3. Dokter Umum di Rawat Inap RS Ananda Mei 2015 – Agustus 2015
4. Dokter Umum di UGD/Poli/Rawat Inap RS Mekar Sari September 2015 –
Sekarang
5. Kasie Rawat Inap RS Mekar Sari Februari 2019 – Sekarang
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT atas berkah, rahmat,
serta karunia-Nya, Penulis dapat menyelesaikan Laporan Residensi Berjudul :
“STANDAR KOMPETENSI TENAGA KEPERAWATAN DI INSTALASI
HEMODIALISA DAN MANAJEMEN PROMOSI MELALUI STRATEGI
BRANDING DI RS ANANDA” Banyak hal didapat dari Program Residensi,
penulis dapat melihat, mengamati serta mempelajari keadaan Ruang Hemodialisa
dan pelayanannya dalam melaksanakan kegiatan, program dan berbagai kendala
yang dihadapi serta upaya-upaya untuk mengatasi hambatan tersebut. Kami
ucapkan terima kasih kepada setiap pihak yang telah mendukung serta membantu
kami selama kegiatan residensi ini hingga rampungnya laporan residensi ini,
terutama kepada :
1. DR. Rokiah Kusumapradja, SKM, MHA selaku Ketua Program Studi
MARS Universitas Esa Unggul
2. M. Reza Hilmy, MARS, PhD selaku Pembimbing Akademik yang telah
membantu selama Residensi dan penyusunan Laporan Residensi
3. Dr. Viky Santi Theresia, MARS selaku Pembimbing Lapangan di RS
Ananda yang telah banyak membantu selama Residensi dan Penyusunan
Laporan Residensi
4. Dokter, Bidan, Perawat, dan Tenaga Non Medis di RS ANANDA yang
telah membantu selama pengumpulan data dalam kegiatan Residensi ini
5. Teman-teman Program Pasca Sarjana Program Studi Administrasi Rumah
Sakit Universitas Esa Unggul Angkatan VIII yang telah membantu demi
terselesaikannya Laporan Residensi ini
Dengan kerendahan hati, penulis meminta kesediaan pembaca untuk
memberikan kritik dan saran yang membangun penulisan Laporan ini. Kami
berharap semoga semua ilmu dan pengalaman yang didapatkan di RS
ANANDA dapat menjadi pedoman untuk menjadi manfaat untuk penulis
khususnya dan umumnya bagi kita semua

Jakarta, Agustus 2021


Ratna Kartika Hadi Putri

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG RESIDENSI


Salah satu pelayanan umum yang banyak dibutuhkan masyrakat
adalah Rumah Sakit, selain merupakan salah satu sarana kesehatan rumah
sakit juga nerupakan tempat penyelenggaraan dalam upaya kesehatan serta
suatu organisasi dengan sistem terbuka dan memiliki interaksi dengan
lingkungan sekitarnya untuk mencapai suatu keseimbangan yang dinamis dan
mempunyai fungsi utama melayani masyarakat yang membutuhkan
pelayanan.
Berdasarkan Undang Undang No. 44 Tahun 2009 Tentang Rumah
Sakit, dikatakan bahwa Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan
yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna
yang menyediakan pelayanan Rawat Inap, Rawat Jalan, dan Gawat Darurat.
Sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah
Sakit, Rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan, tempat
berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat, atau dapat menjadi tempat
penularan penyakit serta memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan
dan gangguan kesehatan.
Rumah Sakit Umum mempunyai misi memberikan pelayanan
kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tugas rumah sakit umum adalah
melaksanakan upaya pelayanan kesehatan secara berdaya guna dan berhasil
guna dengan mengutamakan penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan
secara serasi dan terpadu dengan peningkatan dan pencegahan serta
pelaksanaan upaya rujukan. Menurut undang-undang No. 44 tahun 2009
tentang rumah sakit, fungsi rumah sakit adalah :
1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan
seuai dengan standar pelayanan rumah sakit.
2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui
pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga
sesuai kebutuhan medis.
3. Penyelenggaaan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia
dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian
pelayanan kesehatn.
4. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan
teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan
kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahan bidang
kesehatan
Dalam upaya menyelenggarakan fungsinya, maka Rumah Sakit
umum menyelenggarakan kegiatan :

1. Pelayanan medis
2. Pelayanan dan asuhan keperawatan
3. Pelayanan penunjang medis dan nonmedis
4. Pelayanan kesehatan kemasyarakatan dan rujukan
5. Pendidikan, penelitian dan pengembangan
6. Administrasi umum dan keuangan

Kewajiban rumah sakit salah satunya adalah memberikan pelayanan kesehatan


yang bermutu, aman, efektif dan antidiskriminatif serta mengutamakan kepentingan
dan keselamatan pasien sesuai standar pelayanan Rumah Sakit. Yang dimaksud
pelayanan rumah sakit termasuk diantaranya adalah pelayanan rawat jalan, rawat inap,
penunjang medis, hemodialisa, fisioterapi dan beberapa pelayanan lainnya. Setiap
rumah sakit memiliki pelayanannya masing masing sesuai dengan fasilitas , sarana
dan prasarana dari rumah sakit.

Unit Hemodialisa adalah unit cuci darah yang diperlukan oleh pasien yang
menderita gagal ginjal sehingga tindakan tersebut berguna untuk menggantikan fungsi
ginjal untuk menyaring racun dalam darah. Pada kasus yang terdapat di rumah sakit
terbagi menjadi kasus GGA dan GGK. pada GGA pasien tersebut amat sangat
memerlukan tindakan hemodialisa.
Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan di unit hemodialisa
Rumah Sakit Ananda Bekasi, dapat diketahui SDM di unit tersebut terdapat dari 10
perawat dengan empat perawat bersertifikat khusus hemodialisa. Dengan jumlah
kunjungan rata-rata 400 per bulan dan semakin meningkat terutama di era pandemic
seperti sekarang. Dengan kapasitas 13 tempat tidur yang regular dan 3 tempat tidur
isolasi Covid, maka beban kerja setiap petugas menjadi semakin bertambah. Dengan
kemungkinan perawat bersertifikat belum memiliki kemahiran untuk melakukan
tindakan invasive, sehingga ketika berdinas yang seharusnya bisa 3 orang setiap shift
nya tanpa melihat ada atau tidaknya perawat mahir setiap shiftnya. Ini menjadi 3 orang
dengan perawat mahir atau yang sudah berpengalaman walau tidak bersertifikasi.
Keadaan seperti ini berisiko untuk terjadi penusukan atau tindakan awal sampai dua
kali.

Merujuk dari keadaan dan kondisi tersebut penulis tertarik untuk menganalisa
perawat unit hemodialisa yang bersertifikasi terkait komptensinya dalam pelayanan di
unit hemodilisa RS Ananda.

1.2 TUJUAN RESIDENSI

Sebagai salah satu kegiatan dalam proses belajar mengajar adalah kegiatan
Residensi Rumah Sakit. Residensi di rumah sakit adalah suatu proses belajar
mengajar yang melibatkan mahasiswa secara aktif dalam kegiatan
administrasi Rumah Sakit dalam rangka untuk memperoleh pengalaman
praktis tentang operasional pelayanan di rumah sakit dengan menggunakan
pendekatan sistem dan pemecahan masalah.
Tujuan Residensi adalah agar memahami masalah manajemen RS dalam
keadaan yang nyata, terlibat langsung dalam masalah manajemen sehari-hari,
mencari hubungan antara teori yang diperoleh di fakultas dengan kenyataan
(implementasi) di lapangan, sekaligus terlibat dalam pemecahan masalah,
sehingga setelah menyelesaikan pendidikan akan lebih siap menghadapi tugas
pekerjaan. Memahami pengelolaan dan memiliki bekal keterampilan dasar
untuk mengelola unit produksi dan penunjang di Rumah Sakit yang
didasarkan pada teori yang diperoleh saat kuliah dan menerapkannya di
lapangan.
1.3 MANFAAT RESIDENSI
Program Residensi sangat memberikan manfaat bagi penulis yang melaksanakan
program residensi, Rumah Sakit tempat pelaksanaan residensi, serta Universitas Esa
Unggul yang membuat Program Residensi pada Pasca Sarjana Magister Administrasi
Rumah Sakit.

1. Bagi mahasiswa

a. Mendapat pengalaman nyata dan terpapar dengan pelaksanaan manajemen


baik di unit kerja maupun di tingkat Rumah Sakit
b. Mendapat pengalaman mengenai penerapan teori yang didapatkan selama
kuliah
c. Mampu mengidentifikasi masalah-masalah manajemen secara komprehensif,
berdasarkan kajian dengan metode yang telah dipelajari, sekaligus mempunyai kesempatan
ikut serta dalam proses pemecahan masalah manajemen Rumah Sakit
d. Mempunyai kesempatan menggali isu-isu yang dapat dijadikan topik
penulisan tesis
e. Merupakan kesempatan untuk menunjukan kemampuan pribadi sebagai
seorang manager yang handal
2. Bagi Rumah Sakit tempat residensi

a. Dapat memanfaatkan tenaga terdidik untuk kepentingan Manajemen Rumah


Sakit
b. Mempunyai kesempatan untuk merekrut tenaga manajemen Rumah Sakit
c. Mempunyai sumber informasi tentang pendidikan di Pasca Sarjana Magister
Administrasi Rumah Sakit Universitas Esa Unggul, sehingga terbuka kemungkinan untuk
melakukan kerja sama lebih lanjut dalam bidang manajerial maupun perumahsakitan
3. Bagi program studi Pasca Sarjana Magister Administrasi Rumah Sakit Universitas
Esa Unggul

a. Dapat mengetahui kekurangan dalam pemberian materi kuliah dan


pembekalan kepada mahasiswa, sehingga mempunyai informasi untuk meningkatkan kualitas
pelayanan
b. Mempunyai data dan informasi yang lengkap tentang Rumah Sakit yang
dapat dijadikan base KARS
c. Terbinanya hubungan kerjasama yang saling menguntungkan bagi program
studi maupun Rumah Sakit
d. Mempunyai bahan dan kasus yang dapat diberikan kepada angkatan
berikutnya sebagai studi kasus
BAB II
GAMBARAN INSTALASI HEMODIALISA

II. 1 Pengertian Unit Hemodialisa

Unit Hemodialisa merupakan salah satu unit pelayanan RS Ananda yang


diperuntukkan bagi penderita gagal ginjal dalam melakukan cuci darah yang didukung
kerjasama tim yang beranggotakan dokter umum yang bersertifikat HD.
Hemodialisis / dialisis / cuci darah adalah suatu prosedur medis yang dilakukan untuk
tujuan 'mencuci' (memfilter) darah dan membuang kelebihan cairan tubuh.

Hemodialisis dengan menggunakan mesin hemodialisis merupakan salah satu


opsi pilihan terapi pengganti fungsi ginjal (renal replacement therapy) bagi mereka
yang mengalami kegagalan fungsi ginjal. Kegagalan fungsi ginjal dapat terjadi secara
akut (disebut sebagai gagal ginjal akut) serta dapat terjadi secara kronik (disebut
sebagai gagal ginjal kronik). Gagal ginjal kronik merupakan 'fase terminal' dari
perjalanan penyakit ginjal kronik. Perlu diketahui bahwa terapi pengganti fungsi ginjal
lainnya adalah peritoneal dialisis Pada proses hemodialisis, darah dialirkan melalui
alat dialyzer (mesis dialysis di luar tubuh) yang berisi membrane yang selektif-
permeabel dimana melalui membrane tersebut fusi zat-zat yang tidak dikehendaki
terjadi. Prosedur ini memerlukan jalan masuk ke aliran darah.

Pelayanan hemodialisa di RS Ananda adalah salah satu pelayanan yang


bertujuan untuk memberikan pelayanan prima dan berorientasi pada kepuasaan dan
keselamatan pasien. Sehingga untuk memenuhi standar mutu pelayananan tersebut RS
Ananda harus memenuhi standar pelayanan baik secara fasilitas dan sumber daya
manusianya. Fasilitas diruang hemodialisa dirancang memenuhi standar yaitu :

 Tersedia Generator listrik


 Tersedia fasilitas kebakaran(APAR / Hidran)
 Tempat penyimpananB3(MSDS & simbol)
 Jalur Evakuasi dan emergency Call sistem
 Tempat tidur/kursi pasien harus memiliki pengaman sesuai standar K3RS.
 Lingkungan aman, nyaman dan privasi pasien terjaga
 Peralatan medis standar seperti stetoskop, tensimeter, timbangan berat badan,
termometer dan sebagainya dengan jumlah sesuai kebutuhan.
 Ruang Reuse dan penyimpanan dialiser reuse, peralatan reuse dialiser manual atau
otomatis, ruangan pengolahan air. Ruangan sterilisasi alat ruangan penyimpanan
obat &alat
 Mempunyai sarana pembuangan dan pengolahan limbah medis

Peralatan yang ada di ruang hemodialisa adalah :

 Mesin hemodialisis yang siap pakai dan spesifikasi teknik sesuaistandar


keselamatan pasien
 Minimal terdapat 1 mesin cadangan
 Tersedia ruang untuk hemodialisa khusus covid-19
 Disinfeksi rutin mesin hemodialisis yangdilakukan sesuai SPO.
 Desinfeksi luar dan dalam mesin
 SPO selalu berada di ruang unit hemodialisa
 Kalibrasi mesin setiap 6 Bulan

Konsep pelayanan hemodialisa adalah dilakukan secara komperehensif,


pelayanan dilakukan sesuai standar profesi, peralatan yang etrsedia harus memenihi
ketetuan, semua tindakan harus terdokumentasi dengan baik, dan yang terakhir adalah
adanya sistem monitoring dan evaluasi terhadap unit hemodialisa ini.

11.2 Ketenagaan dan Struktur Organisasi Unit Hemodialisa


Sumber daya manusia di unit hemodialisa atau standar ketenagaan yang harus
ada di unit hemodialisa terdiri dari seorang konsultan ginjal hipertensi, dokter jaga,
perawat sertifikat pelatihan HD, teknisi, dan admnistrasi pendukung lainnya. Untuk
Komptensi perawat hemodialisa setidaknya memliki sertifikat pelatihan Ginjal
Hipertensi, sertifikat pelatihan BHD sampai BHL, uji komptensi kredensialing, dan
surat penugasan klinis. Pada pelaksanaanya unit Hemodialisa mengatur dan
merancang sistem ketenagaan (tabel 1), komptensi dan struktur organisasi (Gambar 1).
Tabel 1. Ketenagaan Unit Hemodialisa
Ketenagaan Kompetensi Jabatan
Tenaga medis - Dokter Sp.PD-KGH - Supervisor
- Dokter Sp.PD bersertifikat - Dokter penanggung
HD jawab

- Dokter pelaksana
HD
- Dokter umum bersertifikat
HD
Perawat - Perawat bersertifikat HD - Perawat mahir

- Perawat lulusan Akper - Perawat biasa yang


membantu tugas
perawat mahir
Teknisi Minimal SMU/STM Teknisi atau perawat
dengan pelatihan khusus
mesin dialisis dan
perlengkapannya, bertugas
menyiapkan mesin dan
perlengkapannya,
menjalankan dan merawat
mesin dialsis dan
pengolah air, bekerja
sama dengan teknisi pabrik
pembuatnya

Tenaga pendukung Sesuai kebutuhan


lain

SDM Instalasi Hemodialisa


Jabatan Jumlah Pendidikan Keterangan
Koordinator 1 D3 Keperawatan
8 D3 Keperawatan
Pelaksanan
1 S1 Keperawatan
Jumlah 10

Tabel 2. SDM Instalasi Hemodialisa

Dengan jumlah tenaga sepuluh dengan jumlah mesin dan tempat tidur lebih
dari sepuluh, membuat beban kerja dari setiap SDM bertambah, hal ini dibarengi
denga nada beberapa SDM yang masih perlu pengawasan.
Gambar 1. Struktrur Organisasi Unit Hemodialisa

II.3 Uraian Jabatan dan Tugas


Unit Hemodialisa memiliki 13 tempat tidur regular dan 3 tempat tidur isolasi
Covid – 19 dengan 10 perawat dan jumlah pasien kurang lebih 70.
a. Kepala Instalasi
Bertanggung jawab langsung kepada Wakil Direktur Pelayanan atas kelancaran
tugas dan peningkatan mutu Pelaksanaan pengelolaan kegiatan pelayanan
Hemodialisa di Rumah Sakit Ananda Bekasi. Dengan tugas pokok menjalankan,
mengkoordinasikan, mengamankan dan mengawasi tugas pekerjaan dan kegiatan
pengelolaan pelayanan Hemodialisa kepada pasien.
Uraian tugas kepala instalasi adalah :

1) Mengusulkan rencana program pengelolaan kegiatan pelayanan


Hemodialisa
2) Mengusulkan jumlah dan macam alat yang dibutuhkan untuk kegiatan
pelayanan Hemodialisa
3) Mengusulkan jumlah dan macam SDM yang dibutuhkan untuk kegiatan
pelayanan Hemodialisa serta menempatkannya sesuai kebutuhan.
4) Membuat perencanaan dan melaksanakan Sistem Manajemen Mutu dan
Keselamatan Pasien (Patient Safety) bersama-sama dengan yang berada di
bawahnya

b. Penanggung jawab shift


Dalam melaksanakan tugasnya Penanggung Jawab Shift ruang Hemodialisa
bertanggung jawab kepada kepala ruang hemodialisa. Dengan tugasnya memimpin
asuhan keperawatan dan administrasi keperawatan di ruang Hemodialisa ketika
kepala ruang tidak bertugas. Uraian tugas dari penanggung jawab shift adalah
1) Bertanggung jawab dalam persediaan obat, alat-alat medik dan non medik
yang tersedia di depo ruangan
2) Membuat rencana pembagian tugas pada pelaksana di luar tim serta
menggiatkan mereka dalam melaksanakan tugasnya
3) Membuat rencana penempatan pasien baru menurut kelas di ruangan
c. Perawat Pelaksana
Perawat pelaksana dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada
penanggung jawab shift. Dengan tugas pokoknya Melaksanakan dan mengusulkan
pelayanan perawat dan asuhan keperawatan serta pendokumentasian dan
administrasi pada pasien yang menjadi tanggung jawabnya. Uraian tugas perawat
pelaksana adalah :
1) Bertanggung jawab dan melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien yang
menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan rencana asuhan keperawatan yang
telah dibuat oleh Ketua Tim
2) Merawat pasien yang menjadi tanggungjawabnya dari masuk sampai pulang
3) Melaksanakan dokumentasi keperawatan pasien yang menjadi tanggung
jawabnya
4) Melaporkan pasien-pasien yang memerlukan perhatian khusus kepada
Penanggung Jawab Shift saat Ketua Tim tidak ada
5) Melaporkan pasien-pasien pada Ketua Tim saat operan dinas/pada kondisi
tertentu/pada saat menghadapi masalah yang tidak mampu ditanggulangi oleh
perawat Pelaksana
6) Mengajak seluruh pasien/keluarga yang menjadi tanggung jawabnya untuk
terlibat secara aktif dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
7) Mendiskusikan kepada Ketua Tim/Dokter yang merawat mengenai kondisi
pasien
8) Mengkoordinasikan proses pelayanan keperawatan kepada Ketua
Tim/Penanggung Jawab Shift di ruang Hemodialisa.
II.4 Alur Pelayanan

Gambar 2. Alur Pelayanan Hemodialisa

II.5 Data Kunjungan Instalasi Hemodialisa

NO BULAN
JUMLAH KUNJUNGAN

1 JANUARI 408

2 FEBRUARI 421
3 MARET 482

4 APRIL 485

5 MEI 492

6 JUNI 515

Dengan jumlah pasien kurang lebih tujuh puluh dan jumlah kunjungan hampir 400
setiap bulannya, dan dengan SDM yang ada sekarang membuat beban kerja di era pandemic
menjadi meningkat, sehingga manajemen terkait perlu melakukan strategi agar pelayanan
tetap berjalan sesuai standar

BAB III
IDENTIFIKASI MASALAH, PRIORITAS MASALAH
DAN ANALISA MASALAH
III. 1 PENENTUAN PRIOORITAS MASALAH DENGAN MATRIX TECHNIQUE
CRITERIA

Menetapkan prioritas masalah merupakan hal yang sangat penting, karena dari
daftar masalah yang telah ditentukan tidak semua masalah diselesaikan. Hal ini
dikarenakan antar masalah mungkin saja terdapat keterkaitan dan juga karena terbatasnya
SDM yang tersedia. Oleh sebab itu yang harus dilakukan adalah menyelesaikan masalah
yang menjadi prioritas. Masalah ini akan semakin terlihat jelas jika sudah dituangkan
dalam bentuk matriks yang kemudian dilanjutkan dengan menganalisa masalah tersebut
melalui 5 W + 1 H dan analisa SWOT. Untuk menentukan prioritas masalah, digunakan
beberapa kriteria yang tedapat dalam matrix atau yang lebih di kenal dengan teknik
kriteria matriks (criteria matrix technique), berikut ini adalah penjelasan tentang kriteria-
kriteria matriks diantaranya:
• Importancy (I)
Pada kriteria ini semakin pentingnya masalah tersebut, maka semakin diprioritaskan
penyelesaiannya. Ukuran yang digunakan pada kriteria ini terdiri dari beberapa macam
kategori, yaitu :
• Prevalency (P), yang menunjukan seberapa sering masalah tersebut terjadi dan
ditemukan
- Nilai 1 : Masalah tidak pernah ditemukan
- Nilai 2 : Masalah kurang sering ditemukan
- Nilai 3 : Masalah sering ditemukan
- Nilai 4 : Masalah sangat sering ditemukan
• Severity (Sv), yang menunjukan seberapa besar kerugian yang ditimbulkan oleh
masalah tersebut
- Nilai 1 : Akibat dari Masalah tersebut tidak serius
- Nilai 2 : Akibat dari Masalah tersebut kurang serius
- Nilai 3 : Akibat dari Masalah tersebut serius
- Nilai 4 : Akibat dari Masalah tersebut sangat serius
• Rate of Increase (R), yang menunjukan peningkatan kualitas dan intensitas
masalah tersebut
- Nilai 1 : Sangat tidak menunjukan peningkatan
- Nilai 2 : kurang sering menunjukan peningkatan
- Nilai 3 : sering menunjukan peningkatan
- Nilai 4 : sangat sering menunjukan peningkatan

• Techincal Feasibility (T):


Techincal Feasibility yaitu teknologi yang tersedia untuk mengatasi masalah
- Nilai 1 : Teknologi tidak tersedia
- Nilai 2 : Teknologi kurang tersedia
- Nilai 3 : Teknologi tersedia
- Nilai 4 : Teknologi sangat tersedia
• Resources Availability (R):
Resources Availability yaitu sumber daya yang tersedia untuk mengatasi masalah
- Nilai 1 : Dana, Sarana dan tenaga tidak tersedia
- Nilai 2 : Dana, Sarana dan tenaga kurang tersedia
- Nilai 3 : Dana, Sarana dan tenaga tersedia
- Nilai 4 : Dana, Sarana dan tenaga sangat tersedia

Setelah mengetahui besarnya masing-masing nilai untuk setiap masalah, maka


tiap-tiap masalah akan diberi nilai dan kemudian dikalikan. Masalah dengan hasil
perkalian terbesar akan menjadi prioritas masalah.

III.2 IDENTIFIKASI MASALAH INSTALASI HEMODIALISA

1. Prioritas Masalah
Dari hasil wawancara dan observaski yang dilakukan oleh penulis pada bulan
Agustus 2021 di Instalasi Hemodialisa, diidentifikasikan beberapa masalah yang perlu
dianalisis dan ditentukan prioritas masalah dengan metode Matrix Tecnique Criteria
berdasarkan prevalency, severity, rate of increase, technical feasibility dan resources
availability, yatitu sebagai berikut :

Permasalahan Ruang Hemodialisa


Masalah I T R Nilai Prioritas
P Sv R (IxTxR)
Masih Ada Perawat belum pelatihan HD 3 3 2 3 3 162 1
Masih dijumpai penusukan dua kali 2 3 2 3 3 108 2

Dari matriks ITR diatas didapatkan yang menjadi prioritas masalah berdasarkan skor
tertinggi adalah masih ada perawat belum pelatihan HD. Setelah itu, dicari penyebab
masalah dengan Analisa fishbone.
Diagaram fishbone atau Cause-and-Effect Diagram adalah salah satu langkah
identifikasi sebab potensial dari satu prioritas masalah yang dilakukan secara
brainstorming dari berbagai aspek yang mencakup Man, Money, Material, Method,
Machine, dan Organitation and Management. Analisis Fishbone masalah Masih ada
perawat belum pelatihan HD adalah sebagai berikut:
Methode MANc

Kebutuhan perawat
belum tercukupi
Masih ada perawat
berpengalaman
Perawat belum
antusias untuk Masih ada
pelatihan Perawat
belum
pelatihan
HD
belum ada jadwal Belum ada
diklat atau pembukaan
pelatihan staf pelatihan selama
pandemi

Manajemen ENVIRONMENT

Analisa SWOT
Strength (Kekuatan) Weakness (Kelemahan)
Jumlah tindakan lebih banyak dari jumlah
1. Beberapa staf sudah mendapatkan pelatihan 1. perawat
Hemodialisa
2. Loyalitas paaien terhadap pelayanan RS cukup 2 Belum adanya diklat rutin mengenai pelatihan
tinggi Hemodialisa
3 Ada ruangan hemodialisa khusus Covid-19

Opportunity (Peluang) Threat (Ancaman)


1. Di sekitar wilayah Bekasi RS Ananda salah satu 1. Saat kasus Covid meningkat kapaistas bed
Bisa tidak cukup untuk pasien CKD dengan
yang memiliki pelayanan Hemodialisa Covid
khusus Covid
BAB IV
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

IV.1 Analisa Pemecahan Masalah dengan Siklus PDCA


Dalam upaya pemencahan masalah digunakan metode siklus Deming atau sering
disebut siklus PDCA (Plan, Do, Check, Action). Saat ini, siklus PDCA telah dimodifikasi
menjadi PDSA (Plan, Do, Study, Action). Siklus tersebut merupakan empat langkah
interaktif dalam pengendalian kualitas.

5.2. PDCA Prioritas Masalah Instalasi Hemodialisa

Anda mungkin juga menyukai