Anda di halaman 1dari 8

Analisa dan Perencanaan Manajemen Sumberdaya Air

1. Pendahuluan

1.1. Definisi
Perencanaan Manajemen Sumberdaya Air adalah proses pemilihan dengan cara
bagaimana sejumlah air dan produk-produk serta kemudahan yang berkaitan dengan
air dapat disediakan untuk pemakainya pada saat dan di tempat yang tertentu.
Sebagal contoh, susunan reservoir-reservoir dan prosedur operasi yang bagaimanakah
yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan air dan produk-produk serta kemudahan
(yang berkaitan dengan air) yang hari demi hari semakin meningkat.
Analisa adalah proses penurunan informasi yang diperlukan untuk menghasilkan
keputusan-keputusan perencanaan.
Ada 2 tipe perencanaan Sumberdaya air, yaitu
(a), perencanaan investasi dan,
(b). perencanaan operasional.
Perencanaan investasi berkaitan dengan perencanaan untuk memutuskan di-investasi-
kannya suatu sumber agar dapat dihasilkan air dan kemudahan-kemudahan (yang
berkaltan dengan air) sesuai dengan yang diinginkan.
Perencanaan operasional berkaitan dengan perencanaan operasi sistem sumberdaya
air harian yang telah ada.

1.2. Konteks Perencanaan Sumberdaya air


Perencanaan Sumberdaya Air dilaksanakan instansi-instansi pemerintah pada: tingkat
lokal/proyek ; tingkat regional; tingkat sektoral ; dan tingkat program nasional.
Informasi yang berhubungan dengan kebutuhan air serta kemungkinan-kemungkinan
pelaksanaan proyek berjalan ke atas mengikuti sistem hierarki pemerintahan ,
sedangkan informasi yang berhubungan dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan dan
pembatasan-pembatasan berjalan ke bawah.
Sektor swasta dapat dilibatkan dalam hal-hal sbb:
1. pelaksanaan proyek-proyek spesifik, misalnya, menyediakan air untuk keperluan
perkotaan, pembangunan dan pengoperasian pembangkit listrik tenaga hidro,
2. pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kuantitas dan/atau kualitas
ketersedkaan air,
3. pemanfaatan air sebagai masukan pada proses-proses produksi,
4. penyediaan air sebagai sesuatu yang diperlukan untuk membuang limbah-limbah
cair.
Pada tingkat nasional, perencanaan Sumberdaya air dapat disebut sebagai kegiatan
"tidak langsung" dan dapat pula disebut sebagai kegiatan “langsung".
Disebut sebagai keglatan “tidak langsung" apabila pelaksanaan perencanaan
Sumberdaya air merupakan suatu langkah lanjut dalam rangka mewujudkan rencana
pengembangan nasional yang diusulkan; sehingga perencanaan Sumberdaya air
terfokus pada penetapan bagaimana dan dengan biaya berapa kebutuhan air (yang

1
Analisa dan Perencanaan Manajemen Sumberdaya Air
dinyatakan secara langsung oleh hasil-hasil yang diproyeksikan dalam rencana
pengembangan ekonomi nasional) dapat dipenuhi.
Disebut sebagal kegiatan “langsung" apabila perencanaan Sumberdaya air ada dalam
suatu konteks dimana pemerintah bertanya sejauh mana pengembangan-
pengembangan sektor Sumberdaya air dapat mendukung pertumbuhan ekonomi
nasional.
Keterlibatan pemerintah dalam perencanaan Sumberdaya air dimulai paling tidak atas
dasar pertimbangan terhadap 5 faktor-faktor sebagai berikut :

1. Sejauh mana hasil sistem sumberdaya air dibutuhkan masyarakat. Yang dimaksud
adalah dalam pengadaan suatu bentuk pelayanan tertentu tidak selalu mungkin
untuk tidak memasukkan perorangan-perorangan atau kegiatan-kegiatan. Sebagal
contoh, apabila dilaksanakan proteksi banjir di suatu dataran banjir, semua kegiatan
di dataran tersebut, menghendaki atau tidak, akan mendapat proteksi tersebut.

2. Akibat darl tidak atau kurang mempertimbangkan kerugian external yang dapat
timbul, suatu kegiatan pemanfaatan air dapat menimbulkan dampak-dampak
merugikan bagi keglatan-kegiatan lainnya. Sebagal contoh: peluahan limbah ke
sungal berakibat memburuknya kualitas air di hilir, keadaan ini mengakibatkan
naiknya ongkos penjernihan air minum di daerah sebelah hilir. Untuk mengurangi
atau menghilangkan kerugian external semacam ini, umumnya, diperlukan campur-
tangan pemerintah.

3. Ada suatu sifat saling melengkapi diantara keluaran/produk sistem sumberdaya air.
Dalam beberapa keadaan, sejumlah air yang sama dapat menghasilkan beberapa
bentuk hasil. Sebagal contoh, satu meter kubik air yang dilepaskan dari waduk
melalui turbin dapat membangkitkan tenaga listrik hidro, kemudian dapat dipakal
untuk keperluan irigasi di sebelah hilir, air irigasi yang kemball ke sungal dapat
dimanfaatkan untuk memellhara ketersediaan air di sungai untuk keperluan
perikanan. Fihak swasta hampir tidak mungkin memasarkan semua jasa
pemakaian air seperti diatas, oleh karenanya diperlukan campur tangan pemerintah.

4. Sering terjadi, beberapa kelompok penduduk tidak dapat membiayai suatu


pengembangan sumberdaya air untuk pemenuhan kebutuhan manusiawinya yang
mendasar, misalnya, kebutuhan air minum/bersih, kebutuhan sistem-sistem
penyehatan. Jangkauan sejauh mana pemerintah dapat menanam investasi serta
membiayai ongkos operasi dan pemeliharaan suatu sistem dalam rangka
memenuhi kebutuhan seperti ini hanya dapat ditetapkan melalul keputusan-
keputusan yang dihasilkan dari proses-proses politis.

5. Perencanaan Sumberdaya air berkaitan erat dengan rencanarencana pemerintah di


sektor lainnya, misalnya, rencana pemanfaatan lahan, rencana dibidang
transportasi, rencana di bidang energi.

Dalam rencana-rencana nasional dan rencana-rencana sektoral Yang bersifat


menyeluruh, kemungkinan besar, didalamnya akan tertulis suatu tujuan-tujuan umum
Yang menyangkut berbagai sektor dan hanya mungkin dicapai dengan melaksanakan
rencana-rencana masing-masing sektor.
Tujuan-tujuan umum (seperti peningkatan standar-standar hidup, pemeliharaan sistem
lingkungan hidup, menciptakan sungai-sungai dapat menjadi tempat hidup ikan dan
2
Analisa dan Perencanaan Manajemen Sumberdaya Air
dapat dipakai berenang) harus diterjemahkan menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik,
agar dapat dilakukan analisa perencanaan Yang lebih tepat dan teliti.
Contoh-contoh tujuan spesifik; maksimumkan keuntungan. bersih (net benefit);
usahakan ongkos penyediaan air sebesar 50 liter per orang yang termurah;
perencanaan dan pembangunan pengaman banjir 50 tahunan dengan biaya terendah.
Suatu rencana umum mungkin saja bertujuan banyak dengan urutan prioritas
pencapaian masing-masing tujuan yang telah ditetapkan (biasanya ditetapkan melalui
suatu proses politis) atau mungkin pula suatu rencana umum bertujuan tunggal tapi
diberlakukan pembatasan-pembatasan dalam, misalnya, anggaran kapital, distribusi
keuntungan/hasil.
Pokok permasalahan dalam perencanaan Sumberdaya air adalah penciptaan
kesesuaian antara perencanaan sumberdaya air dengan Perencanaan-perencanaan di
sektor lain, misalnya, pemanfaatan hutan, transportasi, manajemen limbah padat.
Batas-batas daerah perencanaan (dan manajemen) untuk sektor yang berbeda tidak
selalu dan jarang sama.
Perencanaan sumberdaya air tidak hanya harus dikaitkan dengan Daerah Aliran
Sungai saja tapi juga harus dikaitkan dengan Daerah Tingkat I, Daerah TIngkat II,
Kecamatan, dst...

1.3. JANGKA WAKTU DAN HASIL-HASIL PERENCANAAN SUMBERDAYA AIR


Dalam butir 1.1. disebutkan bahwa ada 2 tipe perencanaan sumberdaya air,
perencanaan operasional dan perencanaan investasi.
Perencanaan operasional adalah perencanaan operasi harian sistem sumberdaya air
yang telah ada. Sebagai contoh:
• pada muka air banjir berapakah evakuasi dari dataran banjir harus mulai dilakukan
dan siapa yang bertanggung jawab untuk melakukan evaluasi dan memukimkan
kembali penduduk;
• slapakah yang akan memantau luah dari kegiatan industri dan menjatuhkan sanksi
apabila terjadi pelanggaran ketentuan standar luah industri;
• slapakah yang menentukan tingkat usaha penjernihan air perlu dirubah sehubungan
dengan berubahnya kualitas air baku.
Jadi, bentuk hasil perencanaan sumberdaya air operasional adalah sekumpulan
pedoman operasi, yaitu, kriteria spesifik yang menentukan bagaimana kegiatan-
kegiatan harus dijalankan, misalnya, pembukaan dan penutupan. klep-klep serta
pintupintu, pemancaran tanda bahaya banjir.
Jangka waktu yang diperhatikan untuk perencanaan investasl berkisar antara 20
sampal dengan 50 tahun. Secara umum, semakin banyak kapital yang diusulkan untuk
ditanamkan, semakin panjang pula horison waktu perencanaannya, walaupun
demikian, dalam masa-masa dimana ada kelangkaan kapital, horison waktu yang
dipakai cenderung semakin pendek,
Oleh karena investasi-investasl pada kebanyakan sistem sumberdaya air berasal dari
pinjaman antar negara, maka hasil dari proses perencanaan harus menyajikan, dalam
suatu bentuk tertentu, pola waktu kebutuhan air dan apa yang dapat dihasilkan serta
keuntungan/kemanfaatannya.
Proses perencanaan harus pula menyajikan pola waktu instalasi fasilitas, upaya-upaya
yang perlu dilakukan serta biayanya.
3
Analisa dan Perencanaan Manajemen Sumberdaya Air
Rencana perlu memuat, misalnya, hal-hal sebagai berikut dibawah ini:
• kapasitas tampungan masing-masing waduk;
• jumlah megawatt kapasitas pembangkit tenaga listrik hidro dan perkiraan energi
yang dapat dihasilkan pertahun;
• ukuran bangunan bagi irigasi, saluran Induk dan saluran cabang;
• pola musiman air irigasi yang perlu dialirkan;
• pola waktu pengembangan daerah irigasi baru, misalnya, N1 hektar ditahun
pertama, N2 hektar ditahun kedua dan seterusnya;
• perkiraan pola waktu penanaman kapital, biaya operasi dan pemeliharaan;
• serta sejauh mana darl pemasaran produk yang dihasilkan sistem dapat memenuhi
kewajiban pengemballan pinjaman.
Di tahun 50-an dan 60-an, hasil perencanaan investasi sumberdaya air seringkali
berbentuk jadwal pembangunan fasilitas-fasilitas dalam jangka waktu 50 tahun yang
disesuaikan dengan prakiraan pertumbuhan kebutuhan air dan kebutuhan produk-
produk (yang dapat dihasilkan).
Karena semakin meluasnya konteks perencanaan sumberdaya air (akibat perubahan
tuntutan sosial, tujuan serta perubahan teknologi dan sistem-sistem alami), maka
penekanan perencanaan sumberdaya air beralih pada penentuan tambahan-tambahan
"selanjutnya” yang segera dapat akan diberikan pada sistem sumberdaya air, misalnya,
untuk jangka waktu 5 sampai dengan 10 tahun mendatang.
Walaupun penekanan perencanaan ada pada jangka waktu 5-10 tahun, analisa yang
dilakukan tetap mencakup kerangka waktu yang lebih panjang, misalnya, 30 sampai
dengan 40 tahun, untuk menjamin adanya kemanfaatan apabila dilakukan
penambahan-penambahan selanjutnya pada sistem.
Pertimbangan semacam ini perlu untuk menghadapi situasi dimana kebutuhan dalam 5
sampai dengan 10 tahun pertama. meningkat lebih cepat dari yang diperkirakan.
Oleh karena itu hasil perencanaan investasi sumberdaya air harus terdiri dari:
• anggaran kapital untuk masa 5 sampai dengan 10 tahun;
• pedoman operasi fasilitas-fasilitas;
• biaya operasi dan pemeliharaan dalam kaitannya dengan fasilitas-fasilitas yang
dinyatakan dalam anggaran kapital untuk periode waktu 20 tahun;
• program pengumpulan data dan penelitian, jangka pendek dan jangka panjang;
• perkiraan keuntungan/kemanfaatan yang dapat dihasilkan;
• distribusi biaya;
• program pemantauan luah dan kualitas air disekitarnya;
• jadwal tahunan luas daerah yang akan di-irigasi dalam masa 20 tahun; dst

2. Analisa dalam manajemen Sumberdaya air.

2.1. Sifat manajemen


Manajemen sumberdaya air adalah kegiatan yang berkesinambungan, yang terdiri dari
sejumlah tugas harian yang harus dilaksanakan untuk dapat menghasilkan sesuatu
yang diinginkan.

4
Analisa dan Perencanaan Manajemen Sumberdaya Air
Oleh karena itu perencanaan dan komponen analisa perencanaan harus dilaksanakan
secara berkesinambungan.
Keputusan-keputusan perencanaan ditetapkan diberbagai waktu-waktu tertentu,
sesuai/berdasarkan analisa hasil pemantauan dan pertimbangan terhadap perubahan-
perubahan kondisi yang terjadi.
Contoh-contoh perubahan kondisi yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut
dibawah ini:
• Perubahan-perubahan kebutuhan :
o perkembangn ekonomi, misalnya, tingkat-tingkat produksi, karakteristik
produk;
o perubahan-perubahan dalam proses produksi;
o pertumbuhan penduduk;
o perkembangan pemanfaatan lahan, misalnya, pertanian, urbanisasi,
berkurangnya hutan.
• Perubahan-perubahan pada ketersediaan air akibat perkembangan alami dan
tindakan manusia di hulu, misalnya, perubahan kuantitas, kualitas dan pola waktu
ketersediaan, baik air permukaan maupun air tanah.
• Bertambahnya pilihan-pilihan teknologi yang dapat diterapkan sehubungan
berkaitan dengan tujuan dan kriteria.
• Perubahan-perubahan harga relatif masukan produksi dan harga relatif produk serta
biaya-biaya yang diperlukan.
Dari uraian diatas jelas kiranya bahwa, ditinjau dari karakteristik sistem sumberdaya air,
perencanaan harus memperhatikan dengan balk berbagai macam faktor. Uraian
dibawah ini memperlihatkan contoh-contoh tipikal dari faktor-faktor yang perlu
diperhatikan tersebut.

FAKTOR-FAKTOR ALAMI :
• kuantitas dan kualitas baik air permukaan maupun air tanah (hujan, debit sungai,
aliran air tanah);
• karakteristik geomorfologi dan geologi daerah (daerah aliran sungal) yang ditinjau;
• karakteristik hidrografi danau-danau. (misalnya, volume, luas, dalam);
• kondisi tanah dan vegetasi.

FAKTOR-FAKTOR TEKNIS :
• sifat-sifat hidrolis reservoir dan saluran;
• kapasitas tampungan dan luas permukaan reservoir;
• kapasitas stasiun pompa, bangunan pemasukan bangunan penjernihan air;
• lokasi dan karaktersistik fasilitas-fasilitas, seperti, bendung (weir), bendungan
(dam), jaringan pipa, reservoir, saluran, jaringan irigasi, pembangkit tenaga listrik;
• sistem-sistem pemanfaatan air didalam kegiatan-kegiatan, misalnya, metoda irigasi,
resirkulasi didalam industri;
• tempat-tempat yang mungkin untuk pembangunan infrastruktur, seperti: reservoir,
pembangkit tenaga listrik.

FAKTOR-FAKTOR SOSIAL-EKONOMI :

5
Analisa dan Perencanaan Manajemen Sumberdaya Air

• pola pemakaian air yang ada;


• karaKteristik kebutuhan air;
• tanggapan terhadap perubahan harga suatu produk yang merupakan masukan
suatu keglatan, misalnya, harga listrik;
• biaya/ongkos dan keuntungan/kemanfaatan yang berkaitan dengan pemakalan air.

FAKTOR-FAKTOR ADMINISTRATIF
• prosedur dan peraturan perundangan di bidang Manajemen Sumberdaya Air
yang ada;
• organisasi instansi/kelembagaan, misalnya, distribusi tugas, anggaran,
wewenang dan tanggung jawab;
• prosedur penetapan keputusan/kebijaksanaan;
• kaitan dengan kebijaksanaan pemerintah di bidang lain.

2.2. Syarat-syarat pokok analisa manajemen Sumberdaya air.


Analisa Manajemen Sumberdaya Air, seperti telah didefinisikan terdahulu, adalah
kegiatan yang menyajikan informasi-informasl kuantitatif untuk keperluan perumusan
dan evaluasi alternatif Strategi Manajemen Sumberdaya Air, agar dapat diperoleh
keputusan/kebijaksanaan yang lebih baik dalam proses perencanaan.
Beberapa syarat-syarat pokok suatu analisa Manajemen Sumberdaya Air adalah
sebagai berikut dibawah ini :
• Analisa harus berorlentasi manajemen. Seorang analis haruslah bertujuan utama
menyajikan informasi yang berketelitian dan berguna untuk proses penetapan
keputusan/kebijaksanaan perencanaan.
• Interaksi intensif antara analis dan para penetap keputusan/kebijaksanaan haruslah
sedemikian rupa:
o sehingga analis memperoleh wawasan dan pengetahuan mengenai proses
dan permasalahan penetapan keputusan/kebijaksanaan;
o sehingga para pembuat keputusan/kebijaksanaan memperoleh wawasan dan
pengetahuan mengenai:
 beban biaya dan konsekuensi daripada alternatif-alternatif Strategi
Manajemen Sumberdaya Air,
 kemungkinan-kemungkinan serta keterbatasan-keterbatasan teknik-
teknik dan analisa.
Salah satu yang diperlukan untuk menciptakan adanya interaksi seperti diatas
adalah adanya hal-hal sebagai berikut dibawah ini:
• rumusan yang jelas mengenai tahap-tahap analisa,
• deskripsi permasalahan yang spesifik,
• penjelasan mengenai jenis-jenis hasil analisa yang (akan) diperoleh,
• dan spesifikasi kondisi-kondisi anallsa.
Hal lain yang perlu adalah: adanya komite pengarah analisa yang beranggotakan
perwakilan-perwakilan langsung para penetap keputusan/kebijaksanaan.
• Kebutuhan air hendaknya tidak dipandang sebagai kondisi batas yang ditentukan,
misalnya, kebutuhan yang tetap. Disain strategi-strategi seperti yang di'definisikan
6
Analisa dan Perencanaan Manajemen Sumberdaya Air
diatas termasuk didalamnya perumusan "perangsang" untuk mengusahakan
perubahan sikap pemakai air. Dengan perubahan ini diharapkan akan ada
perubahan-perubahan kebutuhan air dan kebutuhan produk yang terkait dengan air.
• Analisa harus cukup luwes (flexible):
• untuk mempelajari berbagal alternatif strategi, untuk dapat memahami beban
biaya dan konsekuensi-konsekuensi yang berkaitan;
• meng-kuantitatif-kan pengembangan-pengembangan yang tidak tentu;
• untuk mempertimbangkan, jika diperlukan, interaksi-interaksi teknis antara air
tanah, air permukaan, serta kuantitas dan kualitasnya.
Pemakaian model-model matematik dapat merupakan hal yang paling membantu
untuk mendapatkan keluwesan (flexibility), akan tetapi pemakaian model-model
matematik ini tidak dapat dipandang sebagai suatu kebutuhan.
• Karena perencanaan merupakan proses yang berkesinambungan, analisa harus
dilakukan sedemikian rupa sehingga teknik-teknik analisa yang ditetapkan sesuai
dengan kerangka kerja analisa. yang disetujui para penetap
keputusan/kebijaksanaan serta secara berangsur-angsur dapat dikembangkan dan
disempurnakan sehingga. terus menerus dapat menyajikan informasi untuk
keperluan penetapan keputusan/kebijaksanaan.

3. Diterimanya hasil-hasil analisa.


Dalam melaksanakan suatu analisa perencanaan ada satu hal yang harus selalu
diperhatikan, yaitu: hasil analisa harus dapat diterima.
Ada beberapa analisa perencanaan yang baik tapi tidak menghasilkan strategi yang
dapat diterapkan hanya karena tidak cukup memperhatikan hal ini.
Tiga kelompok utama yang perlu diyakinkan bahwa hasil analisa perencanaan
bermanfaat dan perlu dilaksanakan adalah:
• para penetap keputusan/kebijaksanaan;
• instansi-instansi pelaksana (misalnya Departemen Pekerjaan Umum);
• kelompok/instansi yang berkepentingan (misalnya : pertanian, perikanan).
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengusahakan agar para penetap
keputusan/kebijaksanaan dapat menerima hasil yang diperoleh dalam analisa
perencanaan.
Langkah ini rumit, khususnya apabila hasil studi tidak seperti yang diharapkan penetap
keputusan/kebijaksanaan atau apabila hasil studi bersifat kontroversial.
Dalam keadaan seperti ini, kesimpulan-kesimpulan analisa akan ditolak apabila
penetap keputusan/kebijaksanaan tidak sepenuhnya memahami pendekatan yang
dipakai dalam analisa yang telah dilaksanakan.
Untuk menghindari terjadinya situasi yang seperti ini, pada masa pelaksanaan analisa,
analis harus selalu memelihara agar penetap keputusan/kebijaksanaan mendapat
cukup informasi, dimintai pendapat dan saran pada titik-titik kritis dalam studi.
Dengan kata lain penetap keputusan/kebijaksanaan harus diikutkan dan dilibatkan
dalam analisa.

7
Analisa dan Perencanaan Manajemen Sumberdaya Air
Ini tidak berarti ia harus mengikuti semua rekomendasi yang dihasilkan studi/analisa,
yang terpenting adalah asumsi-asumsi pendekatan analisa yang dipakai dan hasil-hasil
analisa/studi tidak dipersoalkan lebih lanjut di kemudian hari.
Keterlibatan penetap keputusan/kebijaksanaan yang dimaksud disini dapat diciptakan
dengan menyelenggarakan penjelasan singkat yang menyeluruh secara teratur,
misalnya setiap tiga bulan.
Selama periode studi dilaksanakan, analis tidak hanya memelihara agar penetap
keputusan/kebijaksanaan mengikuti kemajuan pekerjaan, tapi juga memelihara agar
penetap keputusan/kebijaksanaan mengikuti, memahami dan menyetujui asumsi-
asumsi, pendekatan yang dipakai dll.... dan dapat pula. dimintai pendapat dan
gagasan.
Kelompok kedua yang perlu diyakinkan adalah instansi-instansi yang harus
melaksanakan. usulan strategi-strategi Manajemen Sumberdaya Air yang dihasilkan
studi/analisa.
Disarankan, sejauh mungkin, untuk melibatkan instansi-instansi ini dalam proses
perencanaan dan proses penetapan keputusan.
Biasanya, disamping penetap keputusan/kebijaksanaan, kelompok ini dihadapkan pada
kesimpulan-kesimpulan praktis setiap hari.
Apabila mereka tidak diyakinkan bahwa perubahan-perubahan yang diusulkan adalah
benar-benar suatu perbaikan, perubahan-perubahan ini tidak akan atau dengan
enggan akan dilaksanakan.
Pendiktean/pemaksaan pelaksanaan suatu perubahan tanpa memahami latar belakang
dan alasannya, biasanya, tidak menghasilkan efek-efek sesuai yang diharapkan.
Untuk beralih darl pola sikap yang sudah menjadi kebiasaan, orang harus benar-benar
diyakinkan mengenai pentingnya peralihan tersebut.
Oleh karena itu kampanye penerangan yang sungguh-sungguh mungkin akan
diperlukan. Apabila tidak, atau aspek ini tidak cukup diperhatikan, yang akan tinggal
hanyalah suatu analisa yang bagus, dan mungkin diterima dengan baik oleh penetap
keputusan/kebijaksaan, akan tetapi keuntungan/kemanfaatan yang menurut analisa
akan diperoleh tidak akan pernah terwujud menjadi kenyataan.
Didalam kondisi-kondisi semacam ini fasilitas-fasilitas baru yang dibangun tidak akan
dimanfaatkan sebagaimana mestinya, dan akan terjadi ketidak layakan pemeliharaan
serta konstruksi akan rusak dengan cepat.
Kelompok yang ketiga adalah kelompok-kelompok yang mempunyai kepentingan-
kepentingan tertentu. Kelompok ini umumnya yang tersulit menghadapinya, khususnya
apabila hasil analisa perencanaan menghasilkan suatu strategi yang merugikan suatu
kelompok atau daerah.
Walaupun strategi keseluruhan amat jelas menguntungkan ditinjau secara nasional,
akan sulit bagi kelompok tersebut untuk menerima strategi yang bersifat menyerang
posisinya.
Penyajian permasalahan dengan hati-hati akan dapat sedikit memperbaiki suasana.
Retribusi keuntungan/kemanfaatan pokok dengan sistem pajak dan subsidi akan dapat
memecahkan permasalahan ini.
Apabila ada alasan-alasan, misalnya alasan politis, untuk redistribusl yang demikian,
upaya-upaya ini perlu dimasukkan dalam analisa perencanaan.
8