Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran dan kesehatan
berkembang dengan pesat. Salah satunya adalah kemajuan dalam teknik
transplantasi organ. Transplantasi organ merupakan suatu teknologi medis untuk
penggantian organ tubuh pasien yang tidak berfungsi dengan organ dari individu
lain. Sejak kesuksesan transplantasi yang pertama kali berupa ginjal dari donor
kepada pasien gagal ginjal pada tahun 1954, perkembangan di bidang transpIantasi
maju dengan pesat. Kemajuan ilmu dan teknologi memungkinkan pengawetan
organ, penemuan obat-obatan anti penolakan yang semakin baik sehingga berbagai
organ dan jaringan dapat ditransplantasikan. Dewasa ini bahkan sedang dilakukan
uji klinis penggunaan hewan sebagai donor.
Dibalik kesuksesan dalam perkembangan transplantasi organ muncul berbagai
masalah. Semakin meningkatnya pasien yang membutuhkan tranplantasi,
penolakan organ, komplikasi pasca transplantasi, dan resiko yang mungkin timbul
akibat transplantasi telah memunculkan berbagai pertanyaan tentang etika,
legalitas dan kebijakan yang menyangkut penggunaan teknologi itu.
Pada makalah ini akan dibicarakan berbagai masalah etika yang timbul sejalan
dengan perkembangan ilmu dan teknologi transplantasi organ, masalah etika
utama dalam transplantasi, bagaimana kebijakan di Indonesia mengenai
transplantasi dan betapa pentingnya nilai-nilai etika dalam mempertahankan suatu
sistem nilai dan dalam penentuan kebijakan pemerintah.

B. Sejarah Transplantasi Organ


Sejarah dan Perkembangan Transplantasi Tahun 600 SM di India, Susruta telah
melakuakan transpalantasi kulit. Semantara jaman Renaissance, seorang ahli bedah
dari Itali bernama Gaspare Tagliacozzi juga telah melakukan hal yang sama.
Diduga John Hunter ( 1728 – 1793 ) adalah pioneer bedah eksperimental, termasuk
bedah transplantasi. Dia mampu membuat kriteria teknik bedah untuk
menghasilkan suatu jaringan trnsplantasi yang tumbuh di tempat baru. Akan tetapi
sistim golongan darah dan sistim histokompatibilitas yang erat hubungannya
dengan reaksi terhadap transplantasi belum ditemukan.
Pada abad ke – 20, Wiener dan Landsteiner menyokong perkembangan
transplantasi dengan menemukan golongan darah system ABO dan system Rhesus.
Saat ini perkembangan ilmu kekebalan tubuh makin berperan dalam keberhasilan
tindakan transplantasi.
Perkembangan teknologi kedokteran terus meningkat searah dengan
perkembangan teknik transplantasi. Ilmu transplantasi modern makin berkembeng
dengan ditemukannya metode - metode pencangkokan, seperti :
a. Pencangkokkan arteria mammaria interna di dalam operasi lintas koroner olah
Dr. George E. Green.
b. Pencangkokkan jantung, dari jantung kera kepada manusia oleh Dr. Cristian
Bernhard, walaupun resepiennya kemudian meninggal dalam waktu 18 hari.
c. Pencakokkan sel – sel substansia nigra dari bayi yang meninggal ke penderita
Parkinson oleh Dr. Andreas Bjornklund.

C. Tinjauan Pustaka
a. Pengertian
Transplantasi organ dan jaringan tubuh manusia merupakan tindakan medik yang
sangat bermanfaat bagi pasien dengan ganguan fungsi organ tubuh yang berat. Ini
adalah terapi pengganti (alternatif) yang merupakan upaya terbaik untuk menolong
pasien dengan kegagalan organnya,karena hasilnya lebih memuaskan
dibandingkan dengan yang lain dan hingga dewasa ini terus berkembang dalam
dunia kedokteran. Namun tindakan medik ini tidak dapat dilakukan begitu
saja,karena masih harus dipertimbangkan dari segi non medik, yaitu dari segi
agama, hukum, budaya, etika dan moral. Kendala lain yang dihadapi Indonesia
dewasa ini dalam menetapkan terapi transplatasi,adalah terbatasnya jumlah donor
keluarga (Living Related Donor, LRD) dan donasi organ jenazah, karena itu
diperlukan kerjasama yang saling mendukung antara para pakar terkait (hulum,
kedokteran, sosiologi, pemuka agama, pemuka masyarakat, pemerintah dan
swata).

Transplantasi Organ adalah rangkaian tindakan medis untuk memindahkan organ


dan atau jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang lain atau tubuh
sendiri dalam rangka pengobatan untuk menggantikan organ atau jaringan tubuh
yang tidak berfungsi dengan baik (pasal 1 butir 5 UUK).

Transplantasi adalah pemindahan suatu jaringan atau organ manusia tertentu dari
suatu tempat ke tempat lain pada tubuhnya sendiri atau tubuh orang lain dengan
persyaratan dan kondisi tertentu.

b. Macam - macam Transplantasi Organ

Transplantasi ditinjau dari sudut si penerima, dapat dibedakan menjadi :


1. TRANSPLANTASI AUTOLOGUS : yaitu perpindahan dari satu tempat ketempat lain
dalam tubuh itu sendiri, yang dikumpulkan sebelum pemberian kemoterapi.
2. TRANSPLANTASI ALOGENIK : yaitu perpindahan dari satu tubuh ke tubuh lain
yang sama spesiesnya, baik dengan hubungan keluarga atau tanpa hubungan
keluarga,
3. TRANSPLANTASI SINGENIK : yaitu perpindahan dari satu tubuh ke tubuh lain yang
identik, misalnya pada gambar identik.
4. TRANSPLANTASI XENOGRAFT : yaitu perpindahan dari satu tubuh ke tubuh lain
yang tidak sama spesiesnya.
Ada dua komponen penting yang mendasari tindakan transplantasi, yaitu :
1. Eksplantasi, yaitu usaha mengambil jaringan atau organ manusia yang hidup
atau yang sudah meninggal.
2. Implantasi, yaitu usaha menempatkan jaringan atau organ tubuh tersebut
kepada bagian tubuh sendiri atau tubuh orang lain.

Disamping itu, ada dua komponen penting yang menunjang keberhasilan tindakan
transplantasi,, yaitu :
1. Adaptasi donasi, yaitu usaha dan kemampuan menyesuaikan diri orang hidup
yang diambil jaringan atau organ tubuhnya, secara biologis dan psikis, untuk hidup
dengan kekurangan jaringan / organ.
2. Adaptasi resepien, yaitu usaha dan kemampuan diri dari penerima jaringan /
organ tubuh baru sehingga tubuhnya dapat menerima atau menolak jaringan /
organ tersebut, untuk berfungsi baik, mengganti yang sudah tidak dapat berfungsi
lagi.

C. Masalah Etik dan Moral dalam Transplantasi


Beberapa pihak yang ikut terlibat dalam usaha transplantasi adalah (a) donor hidup,
(b) jenazah dan donor mati, (c) keluarga dan ahli waris, (d) resepien, (e) dokter dan
pelaksana lain, dan (f) masyarakat. Hubungan pihak – pihak itu dengan masalah
etik dan moral dalam transplantasi akan dibicarakan dalam uraian dibawah ini.

a. Donor Hidup
Adalah orang yang memberikan jaringan / organnya kepada orang lain ( resepien ).
Sebelum memutuskan untuk menjadi donor, seseorang harus mengetahui dan
mengerti resiko yang dihadapi, baik resiko di bidang medis, pembedahan, maupun
resiko untuk kehidupannya lebih lanjut sebagai kekurangan jaringan / organ yang
telah dipindahkan. Disamping itu, untuk menjadi donor, sesorang tidak boleh
mengalami tekanan psikologis. Hubungan psikis dan omosi harus sudah dipikirkan
oleh donor hidup tersebut untuk mencegah timbulnya masalah.
b. Jenazah dan donor mati
Adalah orang yang semasa hidupnya telah mengizinkan atau berniat dengan
sungguh – sungguh untuk memberikan jaringan / organ tubuhnya kepada yang
memerlukan apabila ia telah meninggal kapan seorang donor itu dapat dikatakan
meninggal secara wajar, dan apabila sebelum meninggal, donor itu sakit, sudah
sejauh mana pertolongan dari dokter yang merawatnya. Semua itu untuk
mencegah adanya tuduhan dari keluarga donor atau pihak lain bahwa tim
pelaksana transplantasi telah melakukan upaya mempercepat kematian seseorang
hanya untuk mengejar organ yang akan ditransplantasikan
c. Keluarga donor dan ahli waris
Kesepakatan keluarga donor dan resipien sangat diperlukan untuk menciptakan
saling pengertian dan menghindari konflik semaksimal mungkin atau pun tekanan
psikis dan emosi di kemudian hari. Dari keluarga resepien sebenarnya hanya
dituntut suatu penghargaan kepada donor dan keluarganya dengan tulus. Alangkah
baiknya apabila dibuat suatu ketentuan untuk mencegah tinmulnya rasa tidak puas
kedua belah pihak.
d. Resipien
Adalah orang yang menerima jaringan / organ orang lain. Pada dasarnya, seorang
penderita mempunyai hak untuk mendapatkan perawatan yang dapat
memperpanjang hidup atau meringankan penderitaannya. Seorang resepien harus
benar – benar mengerti semua hal yang dijelaskan oleh tim pelaksana transplantasi.
Melalui tindakan transplantasi diharapkan dapat memberikan nilai yang besar bagi
kehidupan resepien. Akan tetapi, ia harus menyadari bahwa hasil transplantasi
terbatas dan ada kemungkinan gagal. Juga perlu didasari bahwa jika ia menerima
untuk transplantasi berarti ia dalam percobaan yang sangat berguna bagi
kepentingan orang banyak di masa yang akan datang.
e. Dokter dan tenaga pelaksana lain
Untuk melakukan suatu transplantasi, tim pelaksana harus mendapat parsetujuan
dari donor, resepien, maupun keluarga kedua belah pihak. Ia wajib menerangkan
hal – hal yang mungkin akan terjadi setelah dilakukan transplantasi sehingga
gangguan psikologis dan emosi di kemudian hari dapat dihindarkan. Tnaggung
jawab tim pelaksana adalah menolong pasien dan mengembangkan ilmu
pengetahuan untuk umat manusia. Dengan demikian, dalam melaksanakan tugas,
tim pelaksana hendaknya tidak dipengaruhi oleh pertimbangan - pertimbangan
kepentingan pribadi.
f. Masyarakat
Secara tidak sengaja masyarakat turut menentukan perkembangan transplantasi.
Kerjasama tim pelaksana dengan cara cendekiawan, pemuka masyarakat, atau
pemuka agama diperlukan unutk mendidik masyarakat agar lebih memahami
maksud dan tujuan luhur usaha transplantasi. Dengan adanya pengertian ini
kemungkinan penyediaan organ yang segera diperlikan, atas tujuan luhur, akan
dapat diperoleh. (http://tama-edogawa.blogspot.com/2010/05/makalah-
transplantasi-organ.html)

)SEJARAH
Yang memberikan ilham masalah transplantasi dalam Ilmu Kedokteran adalah:
1. Terciptanya Hawa dari tulang iga yang diambil dari tulang iga milik Adam.
2. Legenda taentang Icarus yang berhasil membuat sayap dari bulu burung garuda
lalu ditempelkan di badannya.
Kira-kira 2000 tahun sebelum Kristus, di Mesir ditemukan sebuah manuskrip yang
isinya antara lain uraian mengenai percobaan-percobaan transplantasi jaringan.
Sedang di India beberapa puluh tahun sebelum Kristus, seorang ali bedah bangsa
Hindu telah berhasil memperbaiki hidung seorang tahanan yang cacat akibat
siksaan, dengan cara mentransplantasikan sebagian kulit jaringan lemak di
bawahnya yang berasal dari lengannya. Pengalaman ini merangsang George
Tagliacosi, ahli bedah bangsa Italia, pada tahun 1597 mencoba memperbaiki cacat
pada hidung seseorang dengan menggunakan kulit milik kawannya.
Pada tahun 1863, Paul Bert, ahli fisiologi bangsa Perancis berpendapat transplantasi
jaringan antar individu yang sejenis akan mengalami kegagalan, tetapi dia tidak
dapat menjelaskan sebabnya. Kemudian pada tahun 1903, C.O. Jensen, seorang ahli
biologi dan tahun 1912, G. Schone, seorang ahli bedah; kedua-duanya bangsa
Jerman; menjelaskan mekanisme penolakan jaringan oleh resipien, yaitu karena
terjadi proses imunitas dalam tubuh resipien. John Murphy, ahli bedah bangsa
Amerika, pada tahun 1897 telah berhasil menyambung pembuluh darah pada
binatang percobaan. Prestasinya ini membawa perkembangan lebih pesat dan lebih
maju dalam bidang transplantasi dan menjadi tonggak diadakannya transplantasi
organ.
Pada tahun 1902 E. Ullman, ahli bedah bangsa Jerman, dan setahun kemudian
Claude Beck, ahli bedah bangsa Amerika, telah berhasil melakukan transplantasi
ginjal pada seekor anjing.Pada awal abad ke XX timbul pemikiran mengadakan
transplantasi jaringan atau organ pada dua individu kembar yang berasal dari satu
sel telur. Karena individu kembar yang berasal dari satu sel telur secara biologis
dapat dianggap satu individu. Berdasarkan kenyataan ini mendorong Dr. J.E. Murray
pada tahun 1954 untuk mengobati seorang anak yang menderita penyakit ginjal
dengan mentransplantasikan ginjal yang berasal dari sudara kembarnya.

2)DEFINISI TRANSPLANTASI
Di dalam dunia kedokteran, transplantasi (pencangkokan) dapat diartikan sebagai
usaha memindahkan sebagian dari bagian tubuh (jaringan atau organ) dari satu
tempat ke tempat lain. Dari pengertian tersebut transplantasi dapat dibagi menjadi
dua bagian:a.Transplantasi jaringan seperti pencangkokan kornea
mata.b.Transplantasi organ seperti pencangkokan ginjal, jantung, dan
sebagainyaBerdasarkan hubungan genetik antara donor dengan resipien, ada tiga
macam pencangkokan, yaitu:
1. Autotransplantasi
Yaitu transplantasi dimana donor dan resipiennya satu individu. Seperti seseorang
yang pipinya dioperasi untuk memulihkan bentuk, diambil daging dari bagian
tubuhnya yang lain.
2. Homotransplantasi (Allotransplantasi)
yaitu transplantasi dimana donor dan resipiennya individu yang sama jenisnya.
Homotransplantasi dapat terjadi pada dua individu yang masih hidup; bisa juga
antara donor yang sudah meninggal yang disebut cadaver donor sedang resipien
masih hidup.
3. Heterotransplantasi (Xenotransplantasi),
Yaitu transplantasi yang donor dan resipien nya adalah dua individu yang berbeda
jenisnya. Misalnya mentransplantasikan jaringan atau organ dari binatang ke
manusia.Indikasi utama transplantasi organ adalah ikhtiar pengobatan organ itu
(yang menderita penyakit sehingga merusak fungsinya) setelah semua ikhtiar
pengobatan lainnya dilakukan tetapi mengalami kegagalan.Melihat tingkatannya,
tujuan transplantasi untuk pengobatan mempunyai kedudukan yang berlainan; ada
yang semata-mata pengobatan dari sakit atau cacat yang kalau tidak dilakukan
dengan pencangkokan tidak akan menimbulkan kematian, tetapi akan
menimbulkan cacat atau ketidak sempurnaan badan, seperti pencangokan
menambal bibir sumbing, pencangkokan kornea untuk mengobati orang yang
korneanya rusak atau tidak dapat melihat. Kalau tidak dilakukan pencangkokan,
orang yang sumbing tetap sehat seluruh jasmaninya, hanya mukanya tidak
sebagaimana biasa. Mengenai pencangkokan kornea, jika tidak dilakukan tidak
akan mengalami kematian tetapi mengakibatkan kebutaan yang akan mengurangi
kegiatan dibanding orang yang lengkap seluruh anggota badannya.Pada
pencangkokan yang termasuk pengobatan yang jika tidak dilakukan akan
menimbulkan kematian, adalah seperti pencangkokan penggantian ginjal, hati,
jantung, dan sebagainya. Kalau tidak dialkukan pencangkokan akan mengakibatkan
kematian pasien.Melihat tingkatan itu, dapat diperinci, pada pencangkokan tingkat
pertama adalah tingkat dihajadkan, sedang tingkat kedua tingkat darurat.

3)ASPEK HUKUM TRANSPLANTASI


Pengaturan mengenai transplantasi organ dan atau jaringan tubuh manusia telah
diatur dalam hukum positif di Indonesia. Dalam peraturan tersebut diatur tentang
siapa yang berwenang melakukan tindakan transplantasi organ dan atau jaringan
tubuh manusia, bagaimana prosedur pelaksanaan tindakan medis transplantasi
organ dan atau jaringan tubuh manusia, juga tentang sanksi pidana. Dalam UU No.
23 Tahun 1992 tentang Kesehatan bagi pelaku pelanggaran baik yang tidak
memiliki keahlian dan kewenangan, melakukan transplantasi organ dan atau
jaringan tubuh manusia tanpa persetujuan donor atau ahli waris, memperjual
belikan organ dan atau jaringan tubuh manusia diancam pidana penjara paling lama
7 (tujuh ) tahun dan denda paling banyak Rp.140.000.000,- (seratus empat puluh
juta) sebagaimana diatur dalam Pasal 81 ayat (1)a, Pasal 81 ayat (2)a, Pasal 80
ayat (3), dan sanksi administratif terhadap pelaku pelanggaran yang melakukan
transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh manusia yang diatur dalam Pasal 20
ayat (2) PP No. 81 Tahun 1981 tentang Bedah Mayat Minis dan Bedah Mayat
Anatomis serta Transplantasi Alat dan/atau Jaringan Tubuh Manusia.
Untuk menanggulangi perdagangan gelap organ dan/atau jaringan tubuh manusia
diatur dalam UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Perdagangan Orang, yang berisi ketentuan mengenai jenis perbuatan dan sanksi
pidana bagi pelaku yang terdapat dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6,
Pasal 11, Pasal 13, dan Pasal 17, dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga)
tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp.
120.000.000, (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 600.000.000,
(enam ratus juta rupiah). Sedangkan sebagai bentuk perlindungan terhadap anak
yang juga rentan terhadap tindakan eksploitasi perdagangan gelap transplantasi
organ dan/atau jaringan tubuh telah diatur dalam Pasal 47 dan Pasal 85 UU NO. 23
Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, serta yang berisi ketentuan mengenai jenis
tindak pidana dan sanksi pidana yang dapat dikenakan terhadap pelakunya.
Dalam melakukan tindakan medis transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh
manusia seorang dokter harus melakukannya berdasarkan standart profesi serta
berpegang teguh pads Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI).

4) TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP TRANSPLANTASI


Mengenai pengobatan, dalam Al-Qur’an tidak disebutkan secara khusus , hanya ada
petunjuk bahwa diturunkannya Al-Qur’an sebagai penyembuh seperti pada surat Al-
Isra’ yang artinya adalah “
Al-Qur’an adalah penyembuh atau obat yang sempurna, obat rohani dan jasmani,
obat bagi dunia dan akhirat”

Ayat lain yang menganjurkan agar memelihara diri untuk tidak berbuat yang
mendatangkan kerusakan diri, seperti tersebut dalam surat Al-Baqarah ayat 195:
“ Janganlah kamu menjerumuskan diri dalam kerusakan”

Ayat di atas mengandung ketentuan agar kita tidak berbuat yang merusakkan diri,
termasuk dalam pengertian ini adalah larangan membiarkan diri tidak terpelihara,
sehingga menderita sakit, dan bila menderita sakitpun kita dilarang untuk
membiarkan diri untuk diobati. Dengan kata lain mengobati badan di waktu
menderita sakit merupakan perintah Tuhan.
Secara tegas Hadist Nabi berbunyi:
“Hendaklah kamu sekalian berobat, wahai hamba Allah, karena Allah tidak
menjadikan penyakit kecuali menjadikan pula obatnya, selain penyakit yang satu
yaitu penyakit tua.”

Hadist ini tidak termasuk hadist yang sahih Bukhari Muslim, tetapi isinya didukung
oleh hadist lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat diterapkan atas sesuatu penyakit, semoga
sembuh dengan izin Allah
.”Dari segi pengobatan maka pencangkokan itu dapat digolongkan hal yang
dianjurkan, melihat pada lafaz Hadist pertama di atas, yakni bentuk amar
(perintah).
Hukum yang ditunjuki oleh amar itu wajib. Melihat jiwa ayat dan hadist di atas,
serta mempertahankan qaidah di atas dapat ditetapkan sementara bahwa hukum
pencangkokan adalah wajib, sekurang-kurangnya sunnah.Tetapi belum dapat
berhenti sampai di sini, karena jika dilihat cara pencangkokan dan macamnya,
dokter yang melakukan pencangkokan itu harus melakukan operasi yang
memerlukan pembicaraan tersendiri, apalagi pada homotransplantsi dengan
cadaver donor. Dalam persoalan ini akan dijumpai nash umum baik Al-Qur’an
maupun Sunnah yang melarang adanya pelukaan, pengaliran darah, khususnya
pelukaan terhadap mayat. Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 84:
“Kamu sekalian tidak akan menumpahkan darah kamu”

Hadist Nabi antara lain:

“Maka sungguh darah kamu dan harta kamu serta hartabenda kamu diharamkan
bagi kamu (jangan diganggu)”.

Hadist tentang melukai mayat:


“Merusak tulang mayat adalah dosanya seperti merusak tulang orang yang masih
hidup.”

Memperhatikan nash-nash di atas, maka terlihat adanya taa’arudl (kontradiksi)


dengan nash sebelumnya yang menganjurkan berobat. Taa’rudl; karena nash-nash
di atas melarang orang mengalirkan darah atau melukai orang lain, sedang nash
sebelumnya menyuruh orang berobat, termasuk pencangkokan yang
pelaksanaannya melukai dan mengalirkan darah orang lain.Adapun pencangkokan
yang tujuannya pengobatan itu, dilakukan dengan mengadakan operasi jaringan
atau organ, bahkan kalau terpaksa dengan organ yang telah meninggal selaku
donornya; hal itu belum ada dalilnya dan perlu dicari.Dalil yang ada melarang
berbuat dan bertindak yang mendatangkan kerusakan.
Dalam mengadakan operasi atau pencangkokan memecahkan tulang atau organ
mayatpun dilarang oleh Hadist di atas karena mendatangkan kerusakan. Maka
terlihat dua masalah yang keduanya akan mendatangkan kerusakan. Yaitu bila
tidak dilakukan pencangkokan akan terdapat kemadharatan yakni kematian, bila
dilakukan pencangkokan akan terpaksa melakukan hal yang mendatangkan
kemadharatan yakni operasi pengambilan jaringan atau organ.
Dari Qaidah Fiqhiyyah didapati qaidah yang relevan dengan masalah ini, ialah:
“Kemadharatan dihilangkan”
“Kemadharatan dihilangkan sedapat mungkin”

Prinsip dalam Hukum Islam, bahwa segala yang menimbulkan kemadharatan harus
dihindari dan diusahakan hilangnya. Untuk dua masalah kemadharatan digunakan
qaidah:

“Kemadharatan yang lebih berat dihilangkan dengan kemadharatan yang lebih


ringan”
Sehingga dengan demikian hukum pencangkokan yang dilakukan untuk
menyelamatkan jiwa pasien, dengan tujuan pengobatan untuk menghindari cacat
tubuh adalah
mubah (http://hargablogmurah.blogspot.com/2010/04/transplantasi-organ.html)

Berdasarkan asumsi inilah pembahasan hukum transplantasi organ dilakukan sebagaimana


berikut ini:
Transplantasi organ ketika masih hidup,
Yang dimaksud disini adalah donor anggota tubuh bagi siapa saja yang memerlukan pada saat si
donor masih hidup. Donor semacam ini hukumnya boleh. Karena Allah Swt memperbolehkan
memberikan pengampunan terhadap qisash maupun diyat.
Allah Swt berfirman:
Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang
mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar
(diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah
suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas
sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. (TQS al-Baqarah [2]: 178)
Namun, donor seperti ini dibolehkan dengan syarat. Yaitu, donor tersebut tidak mengakibatkan
kematian si pendonor. Misalnya, dia mendonorkan jantung, limpha atau paru-parunya. Hal ini
akan mengakibatkan kematian pada diri si pendonor. Padahal manusia tidak boleh membunuh
dirinya, atau membiarkan orang lain membunuh dirinya; meski dengan kerelaannya.
Allah Swt berfirman:
Dan janganlah kamu membunuh dirimu. (TQS an-Nisa [4]: 29).
Selanjutnya Allah Swt berfirman:
Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya
maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah
(membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. (QS al-An’am [6]: 151)
Sebagaimana tidak bolehnya manusia mendonorkan anggota tubuhnya yang dapat
mengakibatkan terjadinya pencampur-adukan nasab atau keturunan. Misalnya, donor testis bagi
pria atau donor indung telur bagi perempuan. Sungguh Islam telah melarang untuk menisbahkan
dirinya pada selain bapak maupun ibunya.
Allah Swt berfirman:
Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. (TQS al-Mujadilah [58]:
2)
Selanjutnya Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa yang menasabkan dirinya pada selain bapaknya, atau mengurus sesuatu yang
bukan urusannya maka atas orang tersebut adalah laknat Allah, Malaikat dan seluruh
manusia”.
Sebagaiman sabda Nabi saw:
“Barang siapa yang dipanggil dengan (nama) selain bapaknya maka surga haram atasnya”
Begitu pula dinyatakan oleh beliau saw:
“Wanita manapun yang telah mamasukkan nasabnya pada suatu kaum padahal bukan bagian
dari kaum tersebut maka dia terputus dari Allah, dia tidak akan masuk surga; dan laki-laki
manapun yang menolak anaknya padahal dia mengetahui (bahwa anak tersebut anaknya) maka
Allah menghijab Diri-Nya dari laki-laki tersebut, dan Allah akan menelanjangi (aibnya)
dihadapan orang-orang yang terdahulu maupun yang kemudian”.
Adapun donor kedua testis maupun kedua indung telur, hal tersebut akan mengakibatkan
kemandulan; tentu hal ini bertentangan dengan perintah Islam untuk memelihara keturunan.
Transplantasi Organ yang dilakukan setelah mati
Adapun transplantasi setelah berakhirnya kehidupan; hukumnya berbeda dengan donor ketika (si
pendonor) masih hidup. Dengan asumsi bahwa disini diperlukan adanya penjelasan tentang
hukum pemilikan terhadap tubuh manusia setelah dia mati. Merupakan suatu hal yang tidak
diragukan lagi bahwa setelah kematiannya, manusia telah keluar dari kepemilikan serta
kekuasaannya terhadap semua hal; baik harta, tubuh, maupun istrinya. Dengan demikian, dia
tidak lagi memiliki hak terhadap tubuhnya. Maka ketika dia memberikan wasiat untuk
mendonorkan sebagian anggota tubuhnya, berarti dia telah mengatur sesuatu yang bukan haknya.
Jadi dia tidak lagi diperbolehkan untuk mendonorkan tubuhnya. Dengan sendirinya wasiatnya
dalam hal itu juga tidak sah. Memang dibolehkan untuk memberikan sebagian hartanya,
walaupunl harta tersebut akan keluar dari kepemilikannya ketika hidupnya berakhir. Tetapi itu
disebabkan karena syara’ memberikan izin pada manusia tentang perkara tersebut. Dan itu
merupakan izin khusus pada harta, tentu tidak dapat diberlakukan terhadap yang lain. Dengan
demikian manusia tidak diperbolehkan memberikan wasiat dengan mendonorkan sebagian
anggota tubuhnya setelah dia mati.
Adapun bagi ahli waris; sesungguhnya syara’ mewariskan pada mereka harta yang diwariskan
(oleh si mati). Namun syara’ tidak mewariskan jasadnya kepada mereka, sehingga mereka tidak
berhak untuk mendonorkan apapun dari si mati. Kalau terhadap ahli waris saja demikian, apalagi
dokter atau penguasa, mereka sama sekali tidak berhak untuk mentransplantasikan organ orang
setelah mati pada orang lain yang membutuhkan.
Terlebih lagi terdapat keharusan untuk menjaga kehormatan si mati serta adanya larangan untuk
menyakitinya sebagaimana larangan pada orang yang hidup. Rasulullah saw bersabda:
“Mematahkan tulang orang yang telah mati sama hukumnya dengan memotong tulangnya
ketika ia masih hidup”.
Dengan demikian Rasulullah saw melarang untuk merampas dan menyakiti (si mati). Memang
benar bahwa melampaui batas terhadap orang mati dengan melukai atau memotong atau bahkan
memecahkan (tulang) tidak ada jaminan (diyat) sebagaimana ketika dia masih hidup. Akan tetapi
jelas bahwa melampaui batas terhadap jasad si mati atau menyakitinya dengan cara mengambil
anggota tubuhnya adalah haram; dan haramnya bersifat pasti (qath’i).
Mengenai keadaan darurat yang telah dijadikan alasan oleh aparat negara, jajaran humas serta
muftinya-yang membolehkan transplantasi; hal tersebut membutuhkan kajian tentang keadaan
darurat serta penerapannya pada masalah transplantasi organ.
Sesungguhnya Allah Swt telah membolehkan orang dalam keadaan darurat hingga kehabisan
bekal dan hidupnya terancam kematian untuk makan apa saja yang dijumpainya. Meski makanan
tersebut diharamkan oleh Allah, namun (dalam kondisi darurat boleh-peny) dimakan sekedar
untuk memulihkan tenaganya serta agar tetap hidup. Maka illat bolehnya makan makanan haram
adalah untuk menjaga (eksistensi) kehidupan manusia. Dengan mengkaji anggota tubuh yang
akan ditransplantasikan, maupun maksud transplantasi maka adakalanya penyelamatan hidup
manusia tergantung pada tranplantasi (tentu berdasarkan dugaan kuat) seperti jantung, hati
maupun kedua ginjal. Atau ada kalanya tranplantasi anggota tubuh yang tidak berhubungan
langsung dengan penyelamatan hidup. Misalnya tranplantasi kornea, atau pupil atau mata secara
keseluruhan dari orang yang telah mati.
Adapun anggota tubuh -yang diduga kuat- dapat menyelamatkan kehidupan manusia maka illat-
nya dalam hal ini tidak sempurna. Karena kadang-kadang berhasil, kadang-kadang juga tidak.
Hal ini berbeda dengan illat memakan bangkai; yang secara pasti mampu menyelamatkan hidup
manusia. Terlebih lagi bahwa sebagian dari illah cabang (‘illat al-far’u)-dalam hal ini
transplantasi-adalah terbebas dari pertentangan (dalil) yang lebih kuat, yang mengharuskan
kebalikan dari perkara yang telah ditetapkan oleh ‘illat qiyas. ‘Illat qiyas dalam transplantasi
organ adalah untuk memelihara kehidupan manusia-sebagaimana pada kasus makan bangkai.
Padahal illat tersebut masih berupa ‘diduga kuat’. Ini bertentangan dengan (dalil) yang lebih kuat
yaitu kehormatan jenazah serta larangan menyakiti atau merusaknya. Berdasarkan hal ini tidak
diperbolehkan (baca: haram) melakukan transplantasi organ; yang dengan transplantasi tersebut
kehidupan seseorang tergantung padanya.
Sedangkan transplantasi organ yang penyelamatan kehidupan orang tidak tergantung padanya;
atau dengan kata lain kegagalan transplantasi tersebut tidak mengakibatkan kematian, maka illat
yang ada pada pokok (‘illah al-ashl) -pemeliharaan terhadap kehidupan manusia-tidak ada.
Dengan begitu hukum darurat tidak berlaku disini.
Dengan demikian maka tidak diperbolehkan melakukan tranplantasi organ dari seseorang yang
telah mati; sementara dia terpelihara darahnya–baik muslim, kafir dzimmi, mu’ahid maupun
musta’min-pada orang lain yang kehidupannya tergantung pada (keberhasilan) tranplantasi organ
tersebut. (http://osolihin.wordpress.com/2008/05/10/nasyrah-hukum-syara-transplantasi-organ-
tubuh/)
Transplantasi organ adalah transplantasi atau pemindahan seluruh atau
sebagian organ dari satu tubuh ke tubuh yang lain, atau dari suatu tempat
ke tempat yang lain pada tubuh yang sama. Transplantasi ini ditujukan
untuk menggantikan organ yang rusak atau tak befungsi pada penerima
dengan organ lain yang masih berfungsi dari donor. Donor organ dapat
merupakan orang yang masih hidup ataupun telah meninggal.

Penggunaan organ tubuh mayat manusia untuk pengobatan manusia dan


untuk kelangsungan hidupnya merupakan suatu kemaslahatan yang dituntut
syarak. Oleh sebab itu, menurutnya, dalam keadaan darurat organ tubuh
mayat boleh dimanfaatkan untuk pengobatan. Akan tetapi, pemanfaatan
organ tubuh mayat manusia sebagai obat tersebut harus memenuhi syarat-
syarat sebagai berikut:

- Pengobatan tidak bisa dilakukan, kecuali dengan organ tubuh mayat


manusia; - Manusia yang diobati itu adalah orang yang haram darahnya
(seorang muslim yang memelihara kehormatannya); apabila jiwa yang akan
diselamatkan itu adalah orang yang halal darahnya (seperti seseorang yang
telah melakukan pembunuhan dan akan dikenakan hukuman kisas, atau
seseorang yang akan dikenai hukuman rajam karena berbuat zina), maka
pemanfaatan organ tubuh mayat tidak dibolehkan baginya; - Penggunaan
organ tubuh manusia itu benar-benar dalam keadaan darurat; dan
penggunaan organ tubuh mayat manusia itu mendapatkan izin dari orang
tersebut (sebelum ia wafat) atau dari ahli warisnya (setelah ia wafat).

Kalangan ulama mazhab juga sependapat untuk tidak membolehkan


transplantasi organ tubuh manusia yang dalam keadaan koma atau hampir
meninggal (tipe kedua). Sekalipun harapan hidup bagi orang tersebut sangat
kecil, ia harus dihormati sebagai manusia sempurna. Dalam kaitan dengan
ini, Ibnu Nujaim (w. 970 H/1563 M) dan Ibnu Abidin (1198 H/1784 M-1252
H/1836 M), dua tokoh fikih Mazhab Hanafi, menyatakan bahwa organ tubuh
manusia yang masih hidup tidak boleh dimanfaatkan untuk pengobatan
manusia lainnya, karena kaidah fikih menyatakan: “suatu mudarat tidak bisa
dihilangkan dengan mudarat lainnya.” Pernyataan senada juga muncul dari
Ibnu Qudamah, tokoh fikih Mazhab Hanbali, dan Imam an-Nawawi, tokoh
fikih Mazhab Syafi’i. Akan tetapi, para ulama fikih berbeda pendapat
mengenai pengambilan organ tubuh untuk pengobatan dari orang yang telah
dijatuhi hukuman mati, seperti orang yang dikisas, dirajam karena berbuat
zina, atau murtad. Jumhur ulama Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, dan Mazhab
az-Zahiri, berpendapat bahwa sekalipun orang tersebut telah dijatuhi
hukuman mati, bagian tubuhnya tidak boleh dimanfaatkan untuk
pengobatan, walaupun dalam keadaan darurat. Sebaliknya, ulama Mazhab
Syafi’i dan Mazhab Hanbali berpendirian bahwa dalam keadaan darurat
organ tubuh orang yang telah dijatuhi hukuman mati boleh dimanfaatkan
untuk penyembuhan orang lain, dengan syarat bahwa pengambilan organ
tersebut dilakukan setelah ia wafat.

Dalam kaitan dengan ini, menurut Abu Hasan Ali asy-Syazili, tidak ada
salahnya apabila dokter melakukan pemeriksaan organ tubuh terpidana,
apakah bisa ditransplantasi atau tidak, sehingga pengambilan organ
tersebut tidak sia-sia. Di samping itu, pengambilan organ tubuh tersebut
harus diawasi oleh hakim dan dilakukan di bawah koordinasi dokter-dokter
spesialis.

Memperjualbelikan dan Menyumbangkan Organ Tubuh.

Persoalan lain yang menyangkut transplantasi organ tubuh adalah jual-beli


atau sumbang organ tubuh kepada orang yang memerlukannya. Dalam
berbagai literatur fikih ditemukan pernyataan para ulama fikih yang tidak
membolehkan seseorang memperjualbelikan organ tubuhnya karena hal itu
bisa mencelakakan dirinya sendiri. Sikap mencelakakan diri sendiri dikecam
oleh Allah SWT melalui firman-Nya dalam surah al-Baqarah (2) ayat 195
tersebut di atas. Jamaluddin Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf bin
Muhammad Ayyub bin Musa al-Hanafi az-Zaila’i (w. 762 H/1360 M), tokoh
fikih Mazhab Hanafi dalam kitab fikihnya, Path al-Qadir, menyatakan bahwa
ulama Mazhab Hanafi sepakat menyatakan bahwa tidak boleh
memperjualbelikan organ tubuh manusia. Pernyataan senada juga muncul
dari Imam al-Qarafi (w. 684 H/1285 M) dari kalangan Mazhab Maliki, Imam
Badruddin az-Zarkasyi (745-794 H) dari kalangan Mazhab Syafi’i, dan Ibnu
Qudamah dari kalangan Mazhab Hanbali. Organ tubuh manusia, menurut
mereka, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari manusia itu sendiri,
karena masing-masing organ tubuh mempunyai fungsi yang melekat dengan
manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, memperjualbelikan bagiannya sama
dengan memperjualbelikan manusia itu sendiri. Memperjualbelikan manusia
diharamkan oleh syarak.

Pendapat senada juga dikemukakan ulama Mazhab az-Zahiri. Menurut


mereka, seluruh benda yang haram dimakan, haram pula
diperjualbelikan. Pembahasan tentang menyumbangkan organ tubuh
manusia untuk kepentingan pengobatan orang lain dimulai oleh para ulama
fikih berdasarkan dua kaidah populer: (1) setiap yang boleh diperjualbelikan,
boleh disumbangkan; dan (2) orang yang tidak memiliki hak untuk bertindak
hukum pada suatu benda, tidak boleh memberi izin (memanfaatkan benda
itu) kepada orang lain. Kaidah pertama menunjukkan bahwa setiap benda
yang boleh diperjualbelikan boleh pula disumbangkan. Dalam pembahasan
di atas, seluruh ulama fikih menyatakan bahwa organ tubuh manusia tidak
boleh diperjualbelikan. Berdasarkan kaidah kedua, menurut para ulama fikih,
seseorang tidak memiliki hak bertindak hukum.

Sebuah berita mengejutkan muncul pada 5 Maret 2006 lalu. Koran mingguan
milik group media Chang Chun Daily “Cinema TV Library” dengan
berani menurunkan artikel berjudul “China menjadi pusat transplantasi
dunia”. Artikel yang ditulis oleh Zhan Yan Hui ini mencantumkan sub-judul
“Puluhan ribu pasien luar negeri menyerbu China untuk melakukan
cangkok organ, yang sumbernya kebanyakan dari terpidana mati”.

Disebutkan, saat ini Orient Organ Transplant Center di kota Tianjin, China
merupakan pusat transplantasi organ tubuh manusia yang terbesar di dunia.
Kepala pengelola rumah sakit Lilian kepada wartawan mengatakan bahwa
sejak tahun 2002, rumah sakit tersebut mulai menerima pasien dari Korea
dalam jumlah besar, akibatnya prasarana rumah sakit harus dibenahi. Lantai
4 sampai 7 gedung dikhususkan untuk pasien cangkok organ, ditambah
lantai 8 gedung operasi radio vascular, masih ditambah lantai 24-25 hotel-
hotel di sekitar rumah sakit dipinjam sebagai ruang penampung. Itu pun
masih tetap kekurangan kamar, sehingga pihak rumah sakit memutuskan
untuk menambah 500 kamar, yang akan siap pakai dalam bulan Mei 2006
ini.

Jika saja sebuah rumah sakit dapat menampung sekian banyak pasien dari
seluruh dunia, berapakah daya tampung pasien cangkok yang sesungguhnya
di China? Sebuah harian Korea memberitakan, hasil studi yang dilakukan
oleh Pusat Study transplantasi Korea Utara melaporkan, tahun 1999 pasien
asal Korea yang melakukan pencangkokan organ ke China berjumlah 2
orang, tahun 2000 hanya 1 orang, dan tahun 2001 meningkat sebanyak 4
orang.
Sejak 2002, jumlah pasien meningkat drastis. Berdasarkan keterangan
pengurus sebuah pusat transplantasi di Beijing, jumlah pasien asal korea
yang datang ke rumah sakit di Tianjin, Beijing, Shanghai, dan Hangzhou
setiap bulannya mencapai 70-80 orang. Jika itu termasuk rumah sakit
berskala menengah dan kecil, jumlah tersebut mencapai 1000 orang dalam
setahun! Jumlah itu belum termasuk yang berasal dari Jepang, India,
Malaysia, Indonesia, Saudi Arabia, Pakistan, Mesir, Amerika, Canada Hong
Kong, Macao, Taiwan dan sekitar 20 negara lainnya. Dari data tersebut, tidak
diragukan lagi bahwa China kini memang menjadi negara pusat penjual
organ manusia terbesar di dunia sejak 2002.

Tingginya Tingkat Operasi Bukti “Stock Organ” Berlimpah

Diungkapkan juga hingga 2004, Orient Organ Transplant Center telah


menyelesaikan sebanyak 1.500 kasus transplantasi, di antaranya 800 kasus
cangkok ginjal. Pada 2004, hanya dalam setahun melakukan 900 kasus
cangkok ginjal dan lever. Akhir 2005, kepala pusat Orient Organ Transplant
Center Shen Zhong Yang mengakui telah melakukan sebanyak 650 kasus
operasi. Lebih mengherankan lagi, hingga 16 Desember 2005, data yang ada
menunjukan sebanyak 597 kasus, tetapi hingga 30 Desember 2005,
jumlahnya berubah menjadi 650 kasus, yang itu berarti ada penambahan 53
kasus dalam waktu dua minggu.

Data tersebut hanya merupakan jumlah dari sebuah pusat transplantasi di


antara sekian banyak pusat sejenis yang tersebar di China. Kita tidak tahu
jumlah sebenarnya ada berapa banyak pusat pencangkokan sejenis di
seluruh negeri tirai bambu itu.

Untuk mengetahui legalitas dari organ yang diperjual belikan secara besar-
besaran itu sebenarnya mudah saja. Tinggal mencocokkan data yang
diperoleh dari pengadilan dan departemen perhubungan, tahun dan bulan,
berapa banyak dan kapan dilaksanakan eksekusi terhadap terpidana mati
yang sudah dijalani. Jika itu korban kecelakaan lalu lintas juga ada data
lengkap nama dan usia, serta bukti persetujuan jual-beli atau donasi organ
tubuhnya dari pihak keluarga korban.

Tetapi banyak kesaksian keluarga pasien yang mengatakan, organ manusia


bisa didapatkan dalam waktu sangat singkat. Hanya perlu 1 atau 2 hari saja,
padahal semua tahu, untuk mendapatkan organ yang cocok dengan tubuh
calon penerima tidaklah semudah memilih pakaian jadi. Jika “stock”
tidak benar-benar banyak, tidak mungkin dapat dilakukan dalam waktu
sesingkat itu. Kesimpulannya, persedian organ “segar” bukan hanya
banyak, tetapi “melimpah”, sepertinya bukan lagi si pasien yang
menunggu organ, tetapi sebaliknya, sebenarnya organ-organ itu yang
menunggu kedatangan pasien yang hendak operasi transplantasi.

Pasien yang menjalani operasi transplantasi pun sudah tidak


mmpertimbangkan efek dari pencangkokan itu. Seorang ahli psychology dari
Arizona State University Gary Schwartz dalam penyelidikannya selama lebih
dari 20 tahun, mengatakan lebih dari 70 kasus yang ditanganinya
menunjukkan adanya efek akibat transplantasi. Yakni sifat orang penerima
cangkok akan berubah sesuai karakter si pendonor, bahkan sampai kepada
ingatannya. Banyak kasus membuktikan, orang yang berubah sifat dan
wataknya setelah menerima cangkok ginjal, lever dan jantung. Pernahkah
membayangkan bagaimana jika mendapatkan donor dari seorang
pembunuh?

Fakta Sebenarnya Sumber Organ

Amnesti Internasional mengklaim, negara China dalam setahun


mengeksekusi 5000 orang atau lebih terpidana mati, yang kebanyakan
diambil organ tubuhnya tanpa sepengetahuan keluarga setelah hukuman
mati dijalankan, kemudian dijual kepada pasien dengan harga sangat tinggi.
Wakil Menteri Kesehatan China Jie Fuhuang mengakui, organ tubuh yang
diperjual belikan saat ini, 95% didapatkan dari tubuh terpidana mati. Hal ini
merupakan pengakuan resmi pertama kalinya yang keluar dari pemerintah
komunis di China, sekaligus menunjukan adanya kolusi antara pengusaha,
rumah sakit dan pemerintah sekaligus yang mensahkan perdagangan organ
tubuh.
Timbul pertanyaan dalam benak setiap orang, mengapa bisnis jual beli organ
di China baru marak beberapa tahun belakangan ini? Jika memang setiap
tahun ada 5000 orang dieksekusi mati, mengapa organ “melimpah”
dimulai pada 2002, dan perdagangan organ manusia maraknya juga di tahun
2002? Pertanyaan lainnya adalah, banyak tim medis dari China yang ke luar
negeri mempromosikan dan mencari pasien, serta menjamin organ selalu
dalam keadaan “segar”. Angka 5000 sudah tentu tidak dapat
mencukupi kebutuhan pasien yang berdatangan dari seluruh dunia, jadi
berapa sebenarnya “stock segar” organ yang ada di pasaran?

Seorang wartawan Jepang asal China belum lama ini mengungkapkan,


adanya kamp konsentrasi Sujiatun di kota Shenyang, Lioning. Dalam kamp
ini dikumpulkan sebanyak 6000 praktisi Falun Gong, mereka disiksa hingga
tak berdaya, dan diambil semua organ tubuh dalam keadaan masih hidup
sekarat, kemudian mayat langsung dikremasi. Semua itu dilakukan tanpa
sepengetahuan pihak keluarga korban, tujuannya untuk menghilangkan
bukti.
Fakta tersebut dibenarkan oleh World Organization to Investigate the
Persecution of Falun Gong (WOIPFG). Disebutkan praktek perdagangan organ
tubuh manusia hidup secara illegal tersebut sudah berjalan sejak 2001,
puncaknya pada 2002, yang dikoordinir dan mendapat izin langsung dari
pemerintahan pusat. Karena kekejamannya, banyak anggota tim medis yang
tidak tahan, diantaranya dengan cara mengundurkan diri dan pindah ke
negara demokrasi, ada yang menjadi depresi, stress, mimpi buruk bahkan
nekad bunuh diri karena perasaan bersalah yang mendalam.
Sudah pasti kepastian angka korban yang organ tubuhnya dijual akan
terkuak seiring dengan terungkapnya informasi rahasia yang bakal
bermunculan di kemudian hari. Dan ini merupakan bukti kejahatan yang
dilakukan oleh Partai Komunis China yang sekaligus menyeret pemerintahan
yang dikuasainya menjadi penjahat internasional.
Seluruh dunia mengetahui, presiden China Jiang Zemin telah menindas
praktisi Falun Gong sejak 20 Juli 1999, praktisi yang diculik, ditangkap dan
dipenjara tanpa diadili, tidak ada yang tahu persis berapa jumlahnya. Seiring
berjalannya waktu, dengan kegigihan dan belas kasih yang ditunjukkan oleh
praktisi Falun Gong di seluruh dunia, yang menceritakan fakta sebenarnya
kepada semua lapisan masyarakat dan pemerintahan, perlahan tapi pasti,
simpati telah bermunculan di setiap negara.

Pada 18 Desember 2004, diterbitkan serangkaian editorial “9 Komentar


Mengenai Partai Komunis”, dan Januari 2005 ke luar pernyataan dari
pendiri Falun Gong, Master Li Hongzhi yang memvonis mati PKC, karena
kejahatannya yang sudah tak terampuni. Dihimbau juga kepada rakyat China
untuk meninggalkan partai komunis China secepat mungkin, serta
ditunjukan aib yang akan menimpa orang-orang yang menaruh harapan
pada partai yang telah dikutuk oleh langit itu. Kini, sudah 9 juta anggota PKC
telah mengundurkan diri secara massal, melepaska diri dari belenggu
kejahatan partai yang haus darah tersebut.

Lepas dari masih banyaknya orang yang tidak percaya akan kebenaran
kutukan tersebut, kejadian yang terungkap diatas menunjukan adanya
ketakutan yang amat sangat dari petinggi PKC untuk menghilangkan jejak
bukti yang dapat dijadikan sebagai dakwaan hukum. Kenyataannya, para tim
medis China telah menyebar kemana-mana termasuk ke Indonesia, mencari
calon penerima donor organ, setiap calon penerima bisa mendapatkan organ
dalam keadaan “SEGAR”. Hal itu merupakan bukti kuat dari adanya
ketakutan rejim komunis sehingga merasa perlu melenyapkan bukti-bukti
dalam waktu singkat sekaligus mendapatkan devisa.

Mencangkok (transplantasi) organ dari tubuh seorang nonmuslim kepada


tubuh seorang muslim pada dasarnya tidak terlarang. Mengapa? Karena
organ tubuh manusia tidak diidentifikasi sebagai Islam atau kafir, ia hanya
merupakan alat bagi manusia yang dipergunakannya sesuai dengan akidah
dan pandangan hidupnya.

Apabila suatu organ tubuh dipindahkan dari orang kafir kepada orang
Muslim, maka ia menjadi bagian dari wujud si muslim itu dan menjadi
alat baginya untuk menjalankan misi hidupnya, sebagaimana yang
diperintahkan Allah SWT.
Hal ini sama dengan orang muslim yang mengambil senjata orang kafir. Dan
mempergunakannya untuk berperang fi sabilillah. Bahkan sesungguhnya
semua organ di dalam tubuh seorang kafir itu adalah pada hakikatnya
muslim (tunduk dan menyerah kepada Allah). Karena organ tubuh itu adalah
makhluk Allah, di mana benda-benda itu bertasbih dan bersujud kepada
Allah SWT, hanya saja kita tidak mengerti cara mereka bertasbih.

Kekafiran atau keIslaman seseorang tidak berpengaruh terhadap organ


tubuhnya, termasuk terhadap hatinya (organnya) sendiri. Memang AL-Quran
sering menyebut istilah hati yang sering diklasifikasikan sehat dan sakit,
iman dan ragu, mati dan hidup.

Namun sebenarnya yang dimaksud di sini bukanlah organ tubuh yang dapat
diraba (ditangkap dengan indra), bukan yang termasuk bidang garap dokter
spesialis dan ahli anatomi. Sebab yang demikian itu tidak berbeda antara
yang beriman dan yang kafir, serta antara yang taat dan yang bermaksiat.

Tetapi yang dimaksud dengan hati orang kafir di dalam istilah Al-Quran
adalah makna ruhiyahnya, yang dengannya manusia merasa, berpikir, dan
memahami sesuatu, sebagaimana firman Allah:

"Lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami
"(QS. Al-Hajj: 46)

"Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami


(ayat-ayat Allah) "(QS. Al-A`raf: 179)

Lalu bagaimana dengan firman Allah SWT yang menyebutkan bahwa Orang
musyrik itu najis?

Benar bahwa Allah SWT telah menyebutkan bahwa orang musyrik itu najis,
sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran:

"Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis" (QS. At-Taubah: 28)

Namun para ulama sepakat mengatakan bahwa 'najis' dalam ayat tersebut
bukanlah dimaksudkan untuk najis indrawi yang berhubungan Dengan
badan, melainkan najis maknawi yang berhubungan dengan hati dan akal
(pikiran). Karena itu tidak terdapat larangan bagi orang muslim untuk
memanfaatkan organ tubuh orang nonmuslim, apabila memang diperlukan.

Sebuah penawaran radikal baru-baru ini dilontarkan oleh sebuah rumah sakit
di New York. Mereka menawarkan alternatif yang baru pertama kali
dilakukan yaitu transplantasi uterus atau rahim pada wanita. Meski menuai
pro dan kontra dari banyak kalangan, namun eksperimen berani ini dinilai
memberikan harapan baru bagi wanita yang mengalami tidak bisa hamil
karena tidak memiliki rahim atau mengalami kerusakan.

Seperti lazimnya operasi transplantasi organ tubuh lain, proses pemindahan


rahim ini pun dilakukan dengan cara yang sama dengan mengambil organ
dari donor yang sudah meninggal. Namun, setelah berhasil mewujudkan
keinginan sang penerima rahim untuk melahirkan dan memiliki anak, organ
ini akan diangkat kembali pascakelahiran. Ini dilakukan agar sang penerima
tidak harus mengonsumsi obat antipenolakan organ seumur hidupnya.

Meski menuai pro dan kontra, namun tindakan ini telah mendapat
persetujuan dari pihak etis rumah sakit yang bersangkutan. Meski begitu,
direktur rumah sakit tersebut mengingatkan agar kaum wanita agar tidak
terjebak operasi ini. Pasalnya, proses ini diperkirakan belum bisa diwujudkan
dalam waktu dekat. Bukan hanya itu, para ahli juga mengingatkan bahwa
langkah ini masih butuh penelitian lebih lanjut.

Meski begitu, sang dokter kepala yang melakukan langkah ini tetap
menyatakan optimismenya. ''Saya percaya secara teknis ini merupakan
sesuatu yang bisa diwujudkan,'' ujar Dr Giuseppe Del Priore. Sang dokter
yang juga seorang spesialis kanker akan memimpin proyek ini beserta Dr
Jeanetta Stega, ahli bedah kandungan di rumah sakit New York Downtown.

Optimisme yang sama juga dilontarkan beberapa ilmuwan yang menyatakan


langkah ini sebagai upaya untuk membantu wanita agar bisa memiliki anak
lewat rahimnya. ''Jika ini menjadi sebuah keinginan menggebu dari wanita
yang kehilangan rahimnya, saya pikir ini merupakan sesuatu yang mereka
bisa wujudkan meski risikonya benar-benar harus diperhitungkan,'' ungkap
Julia Rowland, direktur National Cancer Institute's Office of Cancer
Survivorship.

Pasalnya, operasi tranplantasi rahim pertama yang pernah dilakukan di Arab


Saudi pada tahun 2000 berakhir dengan pendarahan hebat sang pasien.
Seorang wanita menjalani proses ini dengan mengambil rahim dari donor
yang masih hidup. Namun, setelah tiga bulan operasi, rahim yang
ditransplantasikan ke tubuh wanita itu harus diangkat kembali akibat
pendarahan hebat.

Menghadapi kemungkinan seperti ini, dengan yakin Dr Stega menyatakan


bahwa risiko ini bisa diminimalisir dengan melakukan lebih banyak
pemindahan pembuluh darah dan penggunaan obat antipendarahan untuk
mengurangi risiko.

Meski belum disetujui semua pihak, namun beberapa kandidat sudah


menyatakan kesediannya menjadi pasien percobaan dalam tranplantasi ini.
Mereka adalah wanita yang lahir tanpa memiliki rahim, yang mengalami
gangguan saluran indung telur atau endometriosis, dan juga wanita yang
kehilangan rahim akibat tumor yang disebut fibroid.

Pada hewan
Namun, beberapa ilmuwan menyatakan bahwa sebelum melakukannya pada
manusia, percobaan ini harus dilakukan pada hewan. Seorang ilmuwan asal
Universitas Pittsburgh, Stefan Schlatt menyatakan, masih butuh banyak
penelitian untuk mewujudkan hal itu. Ini ia ungkap setelah proses
transplantasi yang sama yang dilakukan pada monyet gagal dilakukan.

''Semua ini sangat rumit, dan saya pikir ini belum siap dilakukan dalam
waktu dekat,'' ujar Dr James Grifo, ahli kesuburan dari Universita New York.
Bahkan, meski menyatakan penelitian ini merupakan sebuah langkah
menarik sekaligus menjanjikan, namun pimpinan rumah sakit tempat Del
Priore bertugaspun mengingatkan bahwa setiap langkah dalam penelitian ini
harus dilakukan dengan hati-hati dan penuh perhitungan karena prioritas
utama adalah keselamatan nyawa pasien.

Selain faktor kesuksesan, hal lain yang juga dipertanyakan para ahli adalah
persoalan etis. Sebagian ilmuwan mempertanyakan apakah boleh
mengambil rahim seseorang kecuali si donor menyatakan persetujuannya
sebelum kematiannya.

''Sebelum diberi hak untuk menggunakan organ reproduksinya, apakah si


donor tidak memiliki hak untuk mengontrol hal tersebut,'' kata Arthur
Caplan, kepala bioetik di Universitas Pennsylvania. Apalagi, katanya,
tranplantasi rahim memiliki makna simbolik yang jauh lebih penting daripada
tranplantasi pankreas atau hati.

Sementara, ahli bioetik dari Universitas Wisconsin, R Alta Charo


mempertanyakan soal resiko keberhasilan operasi ini. ''Ini merupakan
sebuah langkah yang harus dibayar dengan harga yang sangat mahal untuk
mendapatkan anak sementara ada alternatif lain seperti adopsi dan ibu
pengganti masih bisa dilakukan,'' katanya.

Transplantasi organ biasanya dilakukan untuk menyelamatkan nyawa,


namun belakangan hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup
penderita. Namun langkah ini bukan tanpa risiko, salah satu yang paling
fatal adalah komplikasi pada organ tubuh. Belum lagi pasien harus
mengonsumsi obat untuk melemahkan imunitas tubuhnya guna mengurangi
risiko penolakan tubuh terhadap organ baru.

Proses operasi
Operasinya sendiri berjalan seperti proses transplantasi organ tubuh lainnya.
Untuk memindahkan rahim, tim dokter akan menyayat perut pasien
sepanjang enam inci (15,24 cm) mulai dari bawah pusar hingga tulang pubis.
Untuk itu, penerima organ harus berada dalam keadaan stabil dengan
mengonsumsi obat antipenolak organ minimal tiga bulan sebelum kehamilan
direncanakan.

Setelah itu, embrio yang sudah dibekukan akan ditransfer ke dalam rahim
baru dengan cara normal yaitu melalui vagina. Untuk mengurangi risiko
komplikasi dan kegagaglan kehamilan, setelah proses ini pasien diharapkan
tidak melakukan hubungan seksual untuk mengurangi potensi risiko.

Jika kehamilan terjadi, bayi yang lahir harus dikeluarkan lewat bedah caesar
untuk menghindari risiko. Satu atau dua tahun setelah kelahiran sang bayi
lahir atau jika kehamilan yang diharapkan tidak terjadi, rahim ini akan
kembali diangkat untuk meminimalisir risiko pemakaian obat anti penolakan
organ pada pasien.

Untuk melakukan langkah ini, Del Priore menyatakan biaya yang diperlukan
sekitar 500 ribu dolar AS. Ini termasuk biaya perawatan selama dua minggu
di rumah sakit. Namun, ia menyebut bahwa biaya ini bisa dibagi bersama
pihak rumah sakit, lembaga yang mendanai penelitian kesuburan, pasien,
dan ansuransi.

1. Transplantasi Organ Dari Donor Yang Masih Hidup :


Syara’ membolehkan seseorang pada saat hidupnya –dengan sukarela tanpa
ada paksaan siapa pun– untuk menyumbangkan sebuah organ tubuhnya
atau lebih kepada orang lain yang membutuhkan organ yang disumbangkan
itu, seperti tangan atau ginjal.

Ketentuan itu dikarenakan adanya hak bagi seseorang –yang tangannya


terpotong, atau tercongkel matanya akibat perbuatan orang lain– untuk
mengambil diyat (tebusan), atau memaafkan orang lain yang telah
memotong tangannya atau mencongkel matanya.

Memaafkan pemotongan tangan atau pencongkelan mata, hakekatnya


adalah tindakan menyumbangkan diyat. Sedangkan penyumbangan diyat itu
berarti menetapkan adanya pemilikan diyat, yang berarti pula menetapkan
adanya pemilikan organ tubuh yang akan disumbangkan dengan diyatnya
itu.

Adanya hak milik orang tersebut terhadap organ-organ tubuhnya berarti


telah memberinya hak untuk memanfaatkan organ-organ tersebut, yang
berarti ada kemubahan menyumbangkan organ tubuhnya kepada orang lain
yang membutuhkan organ tersebut. Dan dalam hal ini Allah SWT telah
membolehkan memberikan maaf dalam masalah qishash dan berbagai diyat.
Allah SWT berfirman :

“Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya,


hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan
hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf
dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan
dari Tuhan kalian dan suatu rahmat.” (QS. Al Baqarah : 178)

Syarat-Syarat Penyumbangan Organ Tubuh Bagi Donor Hidup

Syarat bagi kemubahan menyumbangkan organ tubuh pada saat seseorang


masih hidup, ialah bahwa organ yang disumbangkan bukan merupakan
organ vital yang menentukan kelangsungan hidup pihak penyumbang,
seperti jantung, hati, dan kedua paru-paru. Hal ini dikarenakan
penyumbangan organ-organ tersebut akan mengakibatkan kematian pihak
penyumbang, yang berarti dia telah membunuh dirinya sendiri. Padahal
seseorang tidak dibolehkan membunuh dirinya sendiri atau meminta dengan
sukarela kepada orang lain untuk membunuh dirinya. Allah SWT berfirman :
“Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian.” (QS. An Nisaa’ : 29)

Allah SWT berfirman pula :

“…dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah


(membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS. Al
An’aam : 151)

Keharaman membunuh orang yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya)


ini mencakup membunuh orang lain dan membunuh diri sendiri. Imam
Muslim meriwayatkan dari Tsabit bin Adl Dlahaak RA yang mengatakan
bahwa Rasulullah SAW bersabda : “…dan siapa saja yang membunuh dirinya
sendiri dengan sesuatu (alat/sarana), maka Allah akan menyiksa orang terse-
but dengan alat/sarana tersebut dalam neraka Jahannam.”
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA yang
mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Siapa saja yang menjatuhkan diri dari sebuah gunung dan membunuh
dirinya sendiri, maka dia akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam.”

Demikian pula seorang laki-laki tidak dibolehkan menyumbangkan dua testis


(zakar), meskipun hal ini tidak akan menyebabkan kematiannya, sebab
Rasulullah SAW telah melarang pengebirian/pemotongan testis (al khisha’),
yang akan menyebabkan kemandulan. Imam Bukahri meriwayatkan dari
Abdullah bin Mas’ud RA, dia berkata :

“Kami dahulu pernah berperang bersama Nabi SAW sementara pada kami
tidak ada isteri-isteri. Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah bolehkah kami
melakukan pengebirian ?’ Maka beliau melarang kami untuk melakukannya.”

Hukum ini dapat diterapkan juga untuk penyumbangan satu buah testis,
kendatipun hal ini tidak akan membuat penyumbangnya menjadi mandul. Ini
karena sel-sel kelamin yang terdapat dalam organ-organ reproduktif –yaitu
testis pada laki-laki dan indung telur pada perempuan– merupakan substansi
yang dapat menghasilkan anak, sebab kelahiran manusia memang berasal
dari sel-sel kelamin. Dalam testis terdapat sel-sel penghasil sel-sel sperma
mengingat testis merupakan pabrik penghasil sel sperma. Dan testis akan
tetap menjadi tempat penyimpanan –yakni pabrik penghasil sel sperma dari
sel-selnya– baik testis itu tetap pada pemiliknya atau pada orang yang
menerima transplantasi testis dari orang lain.

Atas dasar itu, maka kromosom anak-anak dari penerima transplantasi


testis, sebenarnya berasal dari orang penyumbang testis, sebab testis yang
telah dia sumbangkan itulah yang telah menghasilkan sel-sel sperma yang
akhirnya menjadi anak. Karena itu, anak-anak yang dilahirkan akan mewarisi
sifat-sifat dari penyumbang testis dan tidak mewarisi sedikitpun sifat-sifat
penerima sumbangan testis. Jadi pihak penyumbang testislah yang secara
biologis menjadi bapak mereka. Maka dari itu, tidak dibolehkan
menyumbangkan satu buah testis, sebagaimana tidak dibolehkan pula
menyumbangkan dua buah testis. Sebab, menyumbangkan dua buah testis
akan menyebabkan kemandulan pihak penyumbang. Di samping itu,
menyumbangkan satu atau dua buah testis akan menimbulkan
pencampuradukan dan penghilangan nasab. Padahal Islam telah
mengharamkan hal ini dan sebaliknya telah memerintahkan pemeliharaan
nasab. Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, dia mengatakan
bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang menghubungkan nasab
kepada orang yang bukan ayahnya, atau (seorang budak) bertuan
(loyal/taat) kepada selain tuannya, maka dia akan mendapat laknat dari
Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.”

Imam Ibnu Majah meriwayatkan pula dari Utsman An Nahri RA, dia berkata,
“Aku mendengar Sa’ad dan Abu Bakrah masing-masing berkata,’Kedua
telingaku telah mendengar dan hatiku telah menghayati sabda Muhammad
SAW :

“Siapa saja yang mengaku-ngaku (sebagai anak) kepada orang yang bukan
bapaknya, padahal dia tahu bahwa orang itu bukan bapaknya, maka surga
baginya haram.”

Demikian pula Islam telah melarang seorang wanita memasukkan ke dalam


kaumnya nasab yang bukan dari kaumnya, dan melarang seorang laki-laki
mengingkari anaknya sendiri. Imam Ad Darimi meriwayatkan dari Abu
Hurairah RA bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda tatkala turun
ayat li’an :

“Siapa saja perempuan yang memasukkan kepada suatu kaum nasab


(seseorang) yang bukan dari kalangan kaum itu, maka dia tidak akan
mendapat apa pun dari Allah dan Allah tidak akan pernah memasukkannya
ke dalam surga. Dan siapa saja laki-laki yang mengingkari anaknya sendiri
padahal dia melihat (kemiripan)nya, maka Allah akan tertutup darinya dan
Allah akan membeberkan perbuatannya itu di hadapan orang-orang yang
terdahulu dan kemudian (pada Hari Kiamat nanti).”

2. Hukum Transplantasi Dari Donor Yang Telah Meninggal :

Hukum tranplanstasi organ dari seseorang yang telah mati berbeda dengan
hukum transplantasi organ dari seseorang yang masih hidup. Untuk
mendapatkan kejelasan hukum trasnplantasi organ dari donor yang sudah
meninggal ini, terlebih dahulu harus diketahui hukum pemilikan tubuh
mayat, hukum kehormatan mayat, dan hukum keadaan darurat.

Mengenai hukum pemilikan tubuh seseorang yang telah meninggal, kami


berpendapat bahwa tubuh orang tersebut tidak lagi dimiliki oleh seorang
pun. Sebab dengan sekedar meninggalnya seseorang, sebenarnya dia tidak
lagi memiliki atau berkuasa terhadap sesuatu apapun, entah itu hartanya,
tubuhnya, ataupun isterinya. Oleh karena itu dia tidak lagi berhak
memanfaatkan tubuhnya, sehingga dia tidak berhak pula untuk
menyumbangkan salah satu organ tubuhnya atau mewasiatkan
penyumbangan organ tubuhnya.

Berdasarkan hal ini, maka seseorang yang sudah mati tidak dibolehkan
menyumbangkan organ tubuhnya dan tidak dibenarkan pula berwasiat untuk
menyumbangkannya. Sedangkan mengenai kemubahan mewasiatkan
sebagian hartanya, kendatipun harta bendanya sudah di luar kepemilikannya
sejak dia meninggal, hal ini karena Asy Syari’ (Allah) telah mengizinkan
seseorang untuk mewasiatkan sebagian hartanya hingga sepertiga tanpa
seizin ahli warisnya. Jika lebih dari sepertiga, harus seizin ahli warisnya.
Adanya izin dari Asy Syari’ hanya khusus untuk masalah harta benda dan
tidak mencakup hal-hal lain. Izin ini tidak mencakup pewasiatan tubuhnya.
Karena itu dia tidak berhak berwasiat untuk menyumbangkan salah satu
organ tubuhnya setelah kematiannya.

Mengenai hak ahli waris, maka Allah SWT telah mewariskan kepada mereka
harta benda si mayit, bukan tubuhnya. Dengan demikian, para ahli waris
tidak berhak menyumbangkan salah satu organ tubuh si mayit, karena
mereka tidak memiliki tubuh si mayit, sebagaimana mereka juga tidak
berhak memanfaatkan tubuh si mayit tersebut. Padahal syarat sah
menyumbangkan sesuatu benda, adalah bahwa pihak penyumbang
berstatus sebagai pemilik dari benda yang akan disumbangkan, dan bahwa
dia mempunyai hak untuk memanfaatkan benda tersebut. Dan selama hak
mewarisi tubuh si mayit tidak dimiliki oleh para ahli waris, maka hak
pemanfaatan tubuh si mayit lebih-lebih lagi tidak dimiliki oleh selain ahli
waris, bagaimanapun juga posisi atau status mereka. Karena itu, seorang
dokter atau seorang penguasa tidak berhak memanfaatkan salah satu organ
tubuh seseorang yang sudah meninggal untuk ditransplantasikan kepada
orang lain yang membutuhkannya. Adapun hukum kehormatan mayat dan
penganiayaan terhadapnya, maka Allah SWT telah menetapkan bahwa
mayat mempunyai kehormatan yang wajib dipelihara sebagaimana
kehormatan orang hidup. Dan Allah telah mengharamkan pelanggaran terha-
dap kehormatan mayat sebagaimana pelanggaran terhadap kehormatan
orang hidup. Allah menetapkan pula bahwa menganiaya mayat sama saja
dosanya dengan menganiaya orang hidup. Diriwayatkan dari A’isyah Ummul
Mu’minin RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Memecahkan tulang mayat itu sama dengan memecahkan tulang orang


hidup.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban).
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Amar bin Hazm Al Anshari RA, dia
berkata,”Rasulullah pernah melihatku sedang bersandar pada sebuah
kuburan. Maka beliau lalu bersabda :

“Janganlah kamu menyakiti penghuni kubur itu !”

Imam Muslim dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dia
berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda :

“Sungguh jika seorang dari kalian duduk di atas bara api yang
membakarnya, niscaya itu lebih baik baginya daripada dia duduk di atas
kuburan !”

Hadits-hadits di atas secara jelas menunjukkan bahwa mayat mempunyai


kehormatan sebagaimana orang hidup. Begitu pula melanggar kehormatan
dan menganiaya mayat adalah sama dengan melanggar kehormatan dan
menganiaya orang hidup. Dan sebagaimana tidak boleh menganiaya orang
hidup dengan membedah perutnya, atau memenggal lehernya, atau
mencongkel matanya, atau memecahkan tulangnya, maka begitu pula
segala penganiayaan tersebut tidak boleh dilakukan terhadap mayat.
Sebagaimana haram menyakiti orang hidup dengan mencaci maki,
memukul, atau melukainya, maka demikian pula segala perbuatan ini haram
dilakukan terhadap mayat.

Hanya saja penganiayaan terhadap mayat dengan memecahkan tulangnya,


memenggal lehernya, atau melukainya, tidak ada denda (dlamaan) padanya
sebagaimana denda pada penganiayaan orang hidup. Sebab Rasulullah SAW
tidak menetapkan adanya denda sedikit pun terhadap seseorang yang telah
memecahkan tulang mayat di hadapan beliau, ketika orang itu sedang
menggali kubur. Rasulullah SAW hanya memerintahkan orang itu untuk
memasukkan potongan-potongan tulang yang ada ke dalam tanah. Dan
Rasulullah menjelaskan kepadanya bahwa memecahkan tulang mayat itu
sama dengan memecahkan tulang hidup dari segi dosanya saja. Tindakan
mencongkel mata mayat, membedah perutnya untuk diambil jantungnya,
atau ginjalnya, atau hatinya, atau paru-parunya, untuk ditransplantasikan
kepada orang lain yang membutuhkannya, dapat dianggap sebagai
mencincang mayat. Padahal Islam telah melarang perbuatan ini. Imam
Bukhari telah meriwayatkan dari Abdullah bin Zaid Al Anshari ra, dia berkata,
“Rasulullah SAW telah melarang (mengambil) harta hasil rampasan dan
mencincang (mayat musuh).”

Imam Ahmad, Imam Ibnu Majah, dan Imam An Nasai meriwayatkan dari
Shafwan bin ‘Asaal RA, dia berkata,”Rasulullah SAW telah mengutus kami
dalam sebuah sariyah (divisi pasukan yang diutus Rasulullah), lalu beliau
bersabda :

“Majulah kalian dengan nama Allah dan di jalan Allah. Maka perangilah
orang-orang yang kafir terhadap Allah, dan janganlah kalian mencincang
(mayat musuh), melakukan pengkhianatan, dan membunuh anak-anak !”

Dengan penjelasan fakta hukum mengenai pelanggaran kehormatan mayat


dan penganiayaan terhadapnya ini, maka jelaslah bahwa tidak dibolehkan
membedah perut mayat dan mengambil sebuah organnya untuk
ditransplantasikan kepada orang lain. Ini karena tindakan tersebut dianggap
sebagai pelanggaran terhadap kehormatan mayat serta merupakan penga-
niayaan dan pencincangan terhadapnya. Padahal melanggar kehormatan
mayat dan mencincangnya telah diharamkan secara pasti oleh syara’.

Keadaan Darurat

Keadaan darurat adalah keadaan di mana Allah membolehkan seseorang


yang terpaksa –yang kehabisan bekal makanan, dan kehidupannya terancam
kematian– untuk memakan apa saja yang didapatinya dari makanan yang
diharamkan Allah, seperti bangkai, darah, daging babi, dan lain-lain. Apakah
dalam keadaan seperti ini dibolehkan mentransplantasikan salah satu organ
tubuh mayat untuk menyelamatkan kehidupan orang lain, yang
kelangsungan hidupnya tergantung pada organ yang akan dipindahkan
kepadanya ? Untuk menjawab pertanyaan itu harus diketahui terlebih dahulu
hukum darurat, sebagai langkah awal untuk dapat mengetahui hukum
transplantasi organ tubuh dari orang yang sudah mati kepada orang lain
yang membutuhkannya. Mengenai hukum darurat, maka Allah SWT telah
membolehkan orang yang terpaksa –yang telah kehabisan bekal makanan,
dan kehidupannya terancam kematian– untuk memakan apa saja yang
didapatinya dari makanan yang diharamkan Allah –seperti bangkai, darah,
daging babi, dan lain-lain– hingga dia dapat mempertahankan hidupnya.
Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagi kalian bangkai, darah,


daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain
Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaaan terpaksa (memakannya) sedang
dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak
ada dosa atasnya.” (QS. Al Baqarah : 173)

Maka orang yang terpaksa tersebut boleh memakan makanan haram apa
saja yang didapatinya, sehingga dia dapat memenuhi kebutuhannya dan
mempertahankan hidupnya. Kalau dia tidak mau memakan makanan
tersebut lalu mati, berarti dia telah berdosa dan membunuh dirinya sendiri.
Padahal Allah SWT berfirman :

“Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian.” (QS. An Nisaa’ : 29)

Dari penjelasan di atas, dapatkah hukum darurat tersebut diterapkan –


dengan jalan Qiyas– pada fakta transplantasi organ dari orang yang sudah
mati kepada orang lain yang membutuhkannya guna menyelamatkan
kehidupannya ? Jawabannya memerlukan pertimbangan, sebab syarat
penerapan hukum Qiyas dalam masalah ini ialah bahwa ‘illat (sebab
penetapan hukum) yang ada pada masalah cabang sebagai sasaran Qiyas –
yaitu transplantasi organ– harus juga sama-sama terdapat pada masalah
pokok yang menjadi sumber Qiyas –yaitu keadaan darurat bagi orang yang
kehabisan bekal makanan– baik pada ‘illat yang sama, maupun pada jenis
‘illatnya. Hal ini karena Qiyas sesungguhnya adalah menerapkan hukum
masalah pokok pada masalah cabang, dengan perantaraan ‘illat pada
masalah pokok. Maka jika ‘illat masalah cabang tidak sama-sama terdapat
pada masalah pokok –dalam sifat keumumannya atau kekhususannya– maka
berarti ‘illat masalah pokok tidak terdapat pada masalah cabang. Ini berarti
hukum masalah pokok tidak dapat diterapkan pada masalah cabang. Dalam
kaitannya dengan masalah transplantasi, organ yang ditransplantasikan
dapat merupakan organ vital yang diduga kuat akan dapat menyelamatkan
kehidupan, seperti jantung, hati, dua ginjal, dan dua paru-paru. Dapat pula
organ tersebut bukan organ vital yang dibutuhkan untuk menyelamatkan
kehidupan, seperti dua mata, ginjal kedua (untuk dipindahkan kepada orang
yang masih punya satu ginjal yang sehat), tangan, kaki, dan yang
semisalnya. Mengenai organ yang tidak menjadi tumpuan harapan
penyelamatan kehidupan dan ketiadaannya tidak akan membawa kematian,
berarti ‘illat masalah pokok –yaitu menyelamatkan kehidupan– tidak
terwujud pada masalah cabang (transplantasi). Dengan demikian, hukum
darurat tidak dapat diterapkan pada fakta transplantasi. Atas dasar itu, maka
menurut syara’ tidak dibolehkan mentransplantasikan mata, satu ginjal
(untuk dipindahkan kepada orang yang masih mempunyai satu ginjal yang
sehat), tangan, atau kaki, dari orang yang sudah meninggal kepada orang
lain yang membutuhkannya. Sedangkan organ yang diduga kuat menjadi
tumpuan harapan penyelamatan kehidupan, maka ada dua hal yang harus
diperhatikan :Pertama, ‘Illat yang terdapat pada masalah cabang (trans-
plantasi) –yaitu menyelamatkan dan mempertahankan kehidupan– tidak
selalu dapat dipastikan keberadaannya, berbeda halnya dengan keadaan
darurat. Sebab, tindakan orang yang terpaksa untuk memakan makanan
yang diharamkan Allah SWT, secara pasti akan menyelamatkan
kehidupannya. Sedangkan pada transplantasi jantung, hati, dua paru-paru,
atau dua ginjal, tidak secara pasti akan menyelamatkan kehidupan orang
penerima organ. Kadang-kadang jiwanya dapat diselamatkan dan kadang-
kadang tidak. Ini dapat dibuktikan dengan banyak fakta yang terjadi pada
orang-orang yang telah menerima transplantasi organ. Karena itu, ‘illat pada
masalah cabang (transplantasi) tidak terwujud dengan sempurna.Kedua, Ada
syarat lain dalam syarat-syarat masalah cabang dalam Qiyas, yaitu pada
masalah cabang tidak dibenarkan ada nash lebih kuat yang bertentangan
dengannya (ta’arudl raajih), yang berlawanan dengan apa yang dikehendaki
oleh ‘illat Qiyas. Dalam hal ini pada masalah cabang –yakni transplantasi
organ– telah terdapat nash yang lebih kuat yang berlawanan dengan apa
yang dikehendaki ‘illat Qiyas, yaitu keharaman melanggar kehormatan
mayat, atau keharaman menganiaya dan mencincangnya. Nash yang lebih
kuat ini, bertentangan dengan apa yang dikehendaki oleh ‘illat masalah
cabang (transplantasi organ), yaitu kebolehan melakukan transplantasi.
Berdasarkan dua hal di atas, maka tidak dibolehkan mentransplantasikan
organ tubuh yang menjadi tumpuan harapan penyelamatan kehidupan –
seperti jantung, hati, dua ginjal, dua paru-paru– dari orang yang sudah mati
yang terpelihara darahnya (ma’shumud dam) –baik dia seorang muslim,
ataupun seorang dzimmi*, seorang mu’ahid**, dan seorang musta’min*** —
kepada orang lain yang kehidupannya tergantung pada organ yang akan
ditransplantasikan kepadanya.

——-*dzimmi adalah orang kafir warga negara Khilafah Islamiyah.**mu’ahid


adalah seseorang warga negara tertentu yang mempunyai perjanjian dengan
Khilafah.***musta’min adalah orang yang mendapat jaminan keamanan dari
Khilafah.

Jawaban dikutip dari :


Abdul Qadim Zallum
Hukmu Asy Syar’i fi Al Istinsakh, Naqlul A’dlaa’, Al Ijhadl, Athfaalul Anabib,
Ajhizatul In’asy Ath Thibbiyah, Al Hayah wal Maut

Penerbit : Darul Ummah, Beirut, Libanon, Cetakan I, 1418/1997, 48 hal.


Penerjemah : Sigit Purnawan Jati, S.Si.
Penyunting : Muhammad Shiddiq Al Jawi
(http://baim32.multiply.com/journal/item/76/Transplantasi)

PENDAHULUAN
Teknologi makin berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan. Akhir-akhir ini
teknologi kedokteran modern mampu melakukan transplantasi organ. Secara faktual, hal ini
sangat membantu pihak-pihak yang menderita sakit untuk bisa sembuh kembali dengan
penggantian organnya yang sakit diganti dengan organ manusia lain yang sehat. Namun dalam
pelaksanaanya banyak kendala-kendala yang dihadapi. Maka dalam makalah ini kami akan
berusaha mengupas tentang permasalahan tranplantasi organ. Tentunya makalah ini banyak
sekali kekurangan-kekurangan, maka kami menerima masukan dari pembaca. Semoga makalah
ini bermanfaat bagi kita. Amiin..

PENGERTIAN
Tranplantasi adalah:penggantian organ atau jaringan tubuh yang fungsinya sudah tidak dapat
dipertahankan lagi dengan organatau jaringan sehat yang berasal dari orang lain atau tubuh
sendiri(nugroho, 1991).
Transplantasi adalah pemindahan organ tubuh dari orang sehat atau mayat yang organ tubuhnya
mempunyai daya hidup dan sehat kepada tubuh orang lain yang memiliki organ tubuh yang tidak
berfungsi lagi sehingga resipien (penerima organ tubuh) dapat bertahan hidup secara sehat

PERMASALAHAN
Dari segi hukum, permasalahan yang timbul adalah diperlukanya perangkat hukum yang
mengatur prosedur untuk menjadi donor. Prosedur operasi, perlindungan hukum bagi pelaksana
operasi dan masalah jual beli organ. Dari segi hukum pemerintah telah membuat peraturan yaitu
peraturan pemerinyah no. 18 tahun 1981 tentang bedah mayat klinis, bedah mayat anatomis serta
tranplantasi organ alat atau jaringan tubuh manusia.
Dari segi agama permasalahan yang timbul adalah belum adanya kesepakatan diantara para ahli
hukum islam dalam masalah transplantasi organ ini.
PEMBAGIAN TRANSPLANTASI
1. Orang hidup.
Yang dimaksud disini adalah donor anggota tubuh bagi siapa saja yang memerlukan pada saat si
donor masih hidup. Donor semacam ini hukumnya boleh. Karena Allah Swt memperbolehkan
memberikan pengampunan terhadap qisash maupun diyat. Memberikan pengampunan terhadap
qisash maupun diyat, hakekatnya adalah tindakan menyumbangkan diyat. Sedangkan
penyumbangan diyat itu berarti menetapkan adanya pemilikan diyat, yang berarti pula
menetapkan adanya pemilikan organ tubuh yang akan disumbangkan dengan diyatnya itu.
Adanya hak milik orang tersebut terhadap organ-organ tubuhnya berarti telah memberinya hak
untuk memanfaatkan organ-organ tersebut, yang berarti ada kemubahan menyumbangkan organ
tubuhnya kepada orang lain yang membutuhkan organ tersebut.
Allah Swt berfirman:
Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang
mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar
(diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu
keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu,
maka baginya siksa yang sangat pedih. ( al-Baqarah : 178)
Namun, donor seperti ini dibolehkan dengan syarat. Yaitu, donor tersebut tidak mengakibatkan
kematian si pendonor. Misalnya, dia mendonorkan jantung, limpha atau paru-parunya. Hal ini
akan mengakibatkan kematian pada diri si pendonor. Padahal manusia tidak boleh membunuh
dirinya, atau membiarkan orang lain membunuh dirinya; meski dengan kerelaannya.
Allah Swt berfirman:
Dan janganlah kamu membunuh dirimu. ( an-Nisa : 29).
2. Orang meninggal.
Hukum tranplanstasi organ dari seseorang yang telah mati berbeda dengan hukum transplantasi
organ dari seseorang yang masih hidup. Untuk mendapatkan kejelasan hukum trasnplantasi
organ dari donor yang sudah meninggal ini, terlebih dahulu harus diketahui hukum pemilikan
tubuh mayat, hukum kehormatan mayat, dan hukum keadaan darurat. Mengenai hukum
pemilikan tubuh seseorang yang telah meninggal, kami berpendapat bahwa tubuh orang tersebut
tidak lagi dimiliki oleh seorang pun. Sebab dengan sekedar meninggalnya seseorang, sebenarnya
dia tidak lagi memiliki atau berkuasa terhadap sesuatu apapun, entah itu hartanya, tubuhnya,
ataupun isterinya. Oleh karena itu dia tidak lagi berhak memanfaatkan tubuhnya, sehingga dia
tidak berhak pula untuk menyumbangkan salah satu organ tubuhnya atau mewasiatkan
penyumbangan organ tubuhnya. Berdasarkan hal ini, maka seseorang yang sudah mati tidak
dibolehkan menyumbangkan organ tubuhnya dan tidak dibenarkan pula berwasiat untuk
menyumbangkannya
3. Orang sekarat
Kalangan ulama mazhab tidak membolehkan transplantasi organ tubuh manusia yang dalam
keadaan koma atau hampir meninggal. Sekalipun harapan hidup bagi orang tersebut sangat kecil,
ia harus dihormati sebagai manusia sempurna

PENDAPAT-PENDAPAT
v Menurut Prof. Dr. Masjfruk zuhdi
Boleh tidaknya suatu transplantasi dilakukan tergantung pada kondisi donor. Pada donor hidup
dan donor dalam keadaan hampir meninggal, transplantasi tidak diperbolehkan dengan asumsi
bahwa hal tersebur akan membahayakan donor, sementara kaidah usul fiqh menyatakan ”
menghindari kerusakan didahulukan atas menarik kemaslahatan” dan ” bahaya tidak boleh
dihilangkan dengan bahaya lain.
v Menuurut Drs. Asymuni Abduk Rachman
Tidak mendasarkan pada kondisi donor, tapi pada kaidah usul bahwa ” kemudlaratan yang lebih
berat dihilangkan dengan kemudlaratan yang lebih ringan”
PEMBAHASAN
Islam memerintahkan agar setiap penyakit diobati. Membiarkan penyakit bersarang dalam tubuh
dapat berakibat fatal, yaitu kematian. Membiarkan diri terjerumus pada kematian adalah
perbuatan terlarang,"... dan janganlah kamu membunuh dirimu ! Sesungguhnya Allah Maha
Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa 4: 29) Maksudnya, apabila sakit, berobatlah secara optimal
sesuai dengan kemampuan karena setiap penyakit sudah ditentukan obatnya.
Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa seorang Arab Badui mendatangi Rasulullah saw.
seraya bertanya, Apakah kita harus berobat? Rasulullah menjawab, “Ya hamba Allah, berobatlah
kamu, sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit melainkan juga (menentukan) obatnya,
kecuali untuk satu penyakit.” Para shahabat bertanya, “Penyakit apa itu ya Rasulullah?” Beliau
menjawab, “Penyakit tua.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad) Nah,
transplantasi termasuk salah satu jenis pengobatan.
Dalam kaidah metode pengambilan hukum disebutkan Al-Ashlu fil mu’amalati al-ibaahah illa
ma dalla daliilun ‘ala nahyi. (Pada prinsipnya, urusan muamalah (duniawi) itu diperbolehkan
kecuali kalau ada dalil yang melarangnya). Maksudnya, urusan duniawi silakan dilakukan
selama tidak ada dalil baik Al Quran ataupun hadits yang melarangnya. Transplantasi bisa
dikategorikan urusan muamal (duniawi). Kalau kita amati, tidak ada dalil baik dari Al Qur’an
ataupun hadits yang melarangnya. Jadi trasplantasi itu urusan duniawi yang diperbolehkan.
Persoalannnya, bagaimana hukum mendonorkan organ tubuh untuk ditransplantasi? Islam
memerintahkan untuk saling menolong dalam kebaikan dan mengharamkannya dalam dosa dan
pelanggaran. "Dan tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan taqwa, dan jangan
tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (QS. Al-Maidah 5 :2) Menolong orang
lain adalah perbuatan mulia. Namun tetap harus memperhatikan kondisi pribadi. Artinya, tidak
dibenarkan menolong orang lain yang berakibat membinasakan diri sendiri, sebagaimana firman-
Nya, “…dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-
Baqarah 2: 195) Jadi, jika menurut perhitungan medis menyumbangkan organ tubuh itu tidak
membahayakan pendonor atau penyumbang, hukumnya boleh, bahkan dikategorikan ibadah
kalau dilakukan secara ikhlas. Namun, bila mencelakakannya, hukumnya haram.
Dari tinjauan terhadap medis dan tinjauan dari agama, maka dapat diambil kesimpulan bahwa
transplantasi dengan donor hidup diperbolehkan dengan prosedur medis dan huum yang jelas.
(http://zolopox.blogspot.com/2008/07/transplantasi-organ.html)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Transplantasi merupakan salah satu temuan teknologi kedokteran modern dengan metode kerja
berupa pemindahan jaringan atau organ tubuh dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal ini dapat
dilakukan pada satu individu atau dua individu. Transplantasi dilakukan dengan tujuan
pengobatan penyakit sebagai berikut :
1. Pengobatan serius, jika tidak dilakukan transplantasi maka akan berakibat pada kematian.
Seperti transplantasi jantung, ginjal dan hati.
2. Pengobatan yang dilakukan untuk menghindari cacat fisik yang akan menimbulkan gangguan
psikologi pada penderita, seperti transplantasi kornea mata, dan menambal bibir sumbing.
Transplantasi jenis ini dilakukan bukan untuk menghindari kematian, tetapi sekedar pengobatan
untuk menghindari cacat seumur hidup. Pada tahun 40-an telah diadakan pengujian transplantasi
organ hewan pada hewan juga kemudian disusul pada tahun 50-an dari hewan ke manusia dan
berhasil dan berkembang dari organ manusia kepada organ manusia.
Dari keberhasilan uji coba tersebut, timbul satu masalah baru yang perlu dikaji dalam kaitannya
dengan hukum Islam. Apakah transplantasi organ tubuh manusia kepada manusia dibolehkan
dalam hukum Islam atau tidak ?.
Kalau kita lihat dalam literatur Arab transplantasi bukan suatu hal yang baru. Karena, pada abad
VI H., masalah tersebut sudah dibahas dalam literatur Arab. Akan tetapi, transplantasi tidak
menjadi perbincangan publik karena transplantasi merupakan fiqh iftirad} (pengandaian) yang
biasa didapatkan dalam literatur Arab dan kemungkinan terjadinya tidak bisa dipastikan dengan
kapan dan di mana.

1.2 TUJUAN
Makalah ini disusun untuk mengetahui hukum transplantasi menurut agama islam.

1.3 RUMUSAN MASALAH


Dari uraian di atas, sebenarnya banyak masalah yang berkaitan dengan transplantasi yang harus
dikaji hukumnya khususnya yang berkaitan dengan hukum Islam. Dalam tulisan ini penulis
hanya fokus pada salah satu masalah atau bagian dari masalah-masalah transplantasi. Masalah
yang penulis akan kaji khususnya yang berkaitan dengan hukum Islam, ialah :
Bagaimana pendapat ulama fiqh (pakar hukum Islam) berkenaan dengan praktek transplantasi?.

1.4 MANFAAT
Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat bermanfaat, khususnya sebagai tenaga kesehatan
yang beragama islam harus mengetahui hukum- hukum transplantasi menurut agama islam.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN TRANSPLANTASI


Transplantasi berasal dari bahasa Inggris to transplant, yang berarti to move from one place to
another, bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Adapun pengertian menurut ahli ilmu
kedokteran, transplantasi itu ialah : Pemindahan jaringan atau organ dari tempat satu ke tempat
lain. Yang dimaksud jaringan di sini ialah : Kumpulan sel-sel (bagian terkecil dari individu) yang
sama mempunyai fungsi tertentu. Yang dimaksud organ ialah : Kumpulan jaringan yang
mempunyai fungsi berbeda sehingga merupakan satu kesatuan yang mempunyai fungsi tertentu,
seperti jantung, hati dan lain-lain.

2.2 PEMBAGIAN TRANSPLANTASI


Melihat dari pengertian di atas, transplantasi dapat dibedakan dalam 2 hal:
1. Transplantasi jaringan seperti pencangkokan kornea mata.
2. Transplantasi organ seperti pencangkokan organ ginjal, jantung dan sebagainya.
Melihat dari hubungan genetik antara donor (pemberi jaringan atau organ yang
ditransplantasikan) dari resipien (orang yang menerima pindahan jaringan atau organ), ada tiga
macam pencangkokan :
1. Auto transplantasi, yaitu transplantasi di mana donor resipiennya satu individu. Seperti
seorang yang pipinya dioperasi, untuk memulihkan bentuk, diambilkan daging dari bagian
badannya yang lain dalam badannya sendiri.
2. Homo transplantasi, yakni di mana transplantasi itu donor dan resipiennya individu yang sama
jenisnya, (jenis di sini bukan jenis kelamin, tetapi jenis manusia dengan manusia). Pada homo
transplantasi ini bisa terjadi donor dan resipiennya dua individu yang masih hidup, bisa juga
terjadi antara donor yang telah meninggal dunia yang disebut cadaver donor, sedang resipien
masih hidup.
3. Hetero transplantasi ialah yang donor dan resipiennya dua individu yang berlainan jenisnya,
seperti transplantasi yang donornya adalah hewan sedangkan resipiennya manusia. Pada auto
transplantasi hampir selalu tidak pernah mendatangkan reaksi penolakan, sehingga jaringan atau
organ yang ditransplantasikan hampir selalu dapat dipertahankan oleh resipien dalam jangka
waktu yang cukup lama.
Pada homo transplantasi dikenal tiga kemungkinan
1. Apabila resipien dan donor adalah saudara kembar yang berasal dari satu telur, maka
transplantasi hampir selalu tidak menyebabkan reaksi penolakan. Pada golongan ini hasil
transplantasinya serupa dengan hasil transplantasi pada auto transplantasi.
2. Apabila resipien dan donor adalah saudara kandung atau salah satunya adalah orang tuanya,
maka reaksi penolakan pada golongan ini lebih besar daripada golongan pertama, tetapi masih
lebih kecil daripada golongan ketiga.
3. Apabila resipien dan donor adalah dua orang yang tidak ada hubungan saudara, maka
kemungkinan besar transplantasi selalu menyebabkan reaksi penolakan.
Pada waktu sekarang homo transplantasi paling sering dikerjakan dalam klinik, terlebih-lebih
dengan menggunakan cadaver donor, karena :
1. Kebutuhan organ dengan mudah dapat dicukupi, karena donor tidak sulit dicari.
2. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, terutama dalam bidang
immunologi, maka reaksi penolakan dapat ditekan seminimal mungkin.
Pada hetero transplantasi hampir selalu meyebabkan timbulnya reaksi penolakan yang sangat
hebat dan sukar sekali diatasi. Maka itu, penggunaanya masih terbatas pada binatang percobaan.
Tetapi pernah diberitakan adanya percobaan mentransplantasikan kulit babi yang sudah di
iyophilisasi untuk menutup luka bakar yang sangat luas pada manusia.
Sekarang hampir semua organ telah dapat ditransplantasikan, sekalipun sebagian masih dalam
taraf menggunakan binatang percobaan, kecuali otak, karena memang tehnisnya amat sulit.
Namun demikian pernah diberitakan bahwa di Rusia sudah pernah dilakukan percobaan
mentransplantasikan kepala pada binatang dengan hasil baik.

2.3 HUKUM TRANSPLANTASI DALAM AGAMA ISLAM

Hukum Mendonorkan organ tubuh dari manusia yang masih hidup


Pendapat pertama,Hukum nya tidak Boleh (Haram). Meskipun pendonoran tersebut untuk
keperluan medis (pengobatan) bahkan sekalipun telah sampai dalam kondisi darurat.
Dalil pendapat pertama :
Firman Allah swt “dan jangan lah kamu membunuh dirimu sendiri,sesungguhnya Allah maha
penyayang kepadamu “ ( Q.S.An-Nisa’:4:29) dan Firman Allah swt “ Dan Jangan lah kamu
jatuhkan dirimu dalam kebinasaan dan berbuat baiklah sesungguhnya Allah mencintai orang-
orang yang berbuat baik” (Q.S.Al-Baqarah:2:195). Maksudnya Adalah bahwa Allah swt
melarang manusia untuk membunuh dirinya atau melakukan perbuatan yang membawa kepada
kehancuran dan kebinasaan. Sedangkan orang yang mendonorkan salah satu organ tubuhnya
secara tidak langsung telah melakukan perbuatan yang membawa kepada kehancuran dan
kebinasaan. Padahal manusia tidak disuruh berbuat demikian, manusia hanya disuruh untuk
menjaganya (organ tubuhnya) sesuai ayat di atas. Sesungguhnya perbuatan mengambil salah satu
organ tubuh manusia dapat membawa kepada kemudlaratan, sedangkan perbuatan yang
membawa kepada kemudlaratan merupakan perbuatan yang terlarang sesuai Hadist nabi
Muhammad saw “Tidak boleh melakukan pekerjaan yang membawa kemudlaratan dan tidak
boleh ada kemudlaratan”
Manusia tidak memiliki hak atas organ tubuhnya seluruhnya, karena pemilik organ tubuh
manusia Adalah Allah swt.
Pendapat kedua, Hukumnya ja’iz (boleh) namun memiliki syarat-syarat tertentu yaitu: Adanya
kerelaan dari si pendonor. Keinginan untuk mendonorkan organ tubuhnya memang muncul dari
keinginannya, tanpak ada paksaan. Serta kondisi si pendonor harus sudah baligh dan berakal.
Organ yang didonorkan bukanlah organ vital yang menentukan kelangsungan hidup seperti
Jantung,hati,paru-paru dan lain-lain. Hal ini dikarenakan penyumbangan organ-organ vital
tersebut dapat menyebabkan kematian bagi si pendonor. Sedangkan sesuatu yang membawa
kepada kehancuran atau kematian diri sendiri dilarang oleh agama sesuai firman Allah swt dalam
Al-qur’an Surat An-Nisa’ Ayat 29 “dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri…”
Pengobatan dengan transplantasi merupakan jalan terakhir yang memungkinkan untuk
mengobati orang yang menderita penyakit tersebut. Kemungkinan untuk keberhasilan proses
transplantasi lebih besar, artinya secara kebiasaan proses memotong organ sampai dengan proses
meletakkannnya pada si penderita penyakit memiliki kemungkinan keberhasilan yang tinggi.
Maka tidak boleh melakukan transplantasi oleh yang belum berpengalaman dan dengan cara
eksperimen. Si pendonor tidak boleh menuntut ganti secara finansial kepada si resipien ( yang
menerima organ),karena proses pendonoran adalah proses saling tolong – menolong antara
manusia, bukan proses jual-beli organ yang hukumnya haram dalam islam.
Dalil pendapat kedua : Setiap insan,meskipun bukan pemilik tubuhnya secara pribadi,namun
memiliki kehendak atas apa saja yang bersangkutan dengan tubuhnya,ditambah lagi bahwa Allah
telah memberikan kepada manusia hak untuk mengambil manfa’at dari tubuhnya, selama tidak
membawa kepada kehancuran, kebinasaan dan kematian dirinya (Qs.An-Nisa’ 29 dan al-Baqarah
95). oleh karena itu, jika pendonoran organ tubuhnya, atau kulitnya, atau darahnya tidak
membawa kepada kematian dirinya serta tidak membawa kepada kehancuran dirinya, ditambah
lagi pada waktu bersamaan pendonoran organnya dapat menyelamatkan manusia lainnya dari
kekhawatiran akan kematian, maka sesungguhnya perbuatan donor organ tubuhnya merupakan
perbuatan yang mulia.
Sesungguhnya memindahkan organ tubuh ketika darurat merupakan pekerjaan yang mubah
( boleh ) dengan dalil firman Allah Swt “Sesungguhnya Allah telah menjelaskan perbuatan-
perbuatan yang haram bagi mu kecuali ketika kamu dalam keadaan terpaksa (darurat)…”(Qs.Al-
An’am 119) Seseorang yang mendonorkan organ tubuhnya kepada orang lain untuk
menyelamatkan hidupnya merupakan perbuatan saling tolong – menolong atas kebaikan sesuai
firman Allah swt “ Dan saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan
janganlah kamu saling tolong monolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan” (Qs.Al-ma’idah
2) Hukum Mendonorkan organ tubuh dari manusia yang sudah meninggal.
Pendapat pertama,Hukumnya Haram
Dalil pendapat pertama : Kesucian tubuh manusia ;setiap bentuk agresi atas tubuh manusia
merupakan hal yang terlarang,karena ada beberapa perintah Al-Qur’an dan Hadist Yang
melarang.Diantara hadist yang terkenal “Mematahkan tulang mayat seseorang sama berdosanya
dan melanggarnya dengan mematahkan tulang orang tersebut ketika ia masih hidup” . Tubuh
manusia adalah amanah; Hidup,diri,dan tubuh manusia pada dasarnya bukanlah milik manusia
tapi merupakan amanah dari Allah yang harus dijaga,karena itu manusia tidak memiliki hak
untuk mendonorkan nya kepada orang lain . Tubuh manusia tidak boleh diperlakukan sebagai
benda material semata; transplantasi dilakukan dengan memotong organ tubuh seseorang untuk
diletakkan (dicangkokkan) pada tubuh orang lain,padahal tubuh manusia bukanlah benda
material semata yang dapat dipotong dan dipindah-pindahkan
Pendapat kedua,Hukumnya Boleh
Dalil pendapat kedua : Transplantasi merupakan salah satu jenis pengobatan, sedangkan
pengobatan merupakan hal yang disuruh dan disyari’atkan dalam islam. Terdapat dua hal yang
mudlarat dalam masalah ini yaitu antar memotong bagian tubuh yang suci dan dijaga dan antara
menyelamatkan kehidupan yang membutuhkan kepada organ tubuh mayat tersebut.Namun
kemudlaratan yang terbesar adalah kemudlaratan untuk menyelamatkan kehidupan
manusia.Maka dipilihlah sesuatu yang kemudlaratannya terbesar untuk dihilangkan yaitu
memotong organ mayat untuk menyelamatkan kehidupan manusia. Qiyas atas maslahat
membuka perut mayat wanita yang hamil yang lewat 6 bulan yang disangka kuat hidup anaknya.
Qiyas atas boleh membuka perut mayat jika di dalam perutnya terdapat harta orang lain.
Terdapat dua Hal kemaslahatan yaitu antara maslahah menjaga kesucian mayat dan antara
maslahah menyelamatkan nyawa manusia yang sakit dengan transplantasi organ mayat tersebut.
Namun pendapat yang membolehkan transplantasi organ mayat ini memiliki syarat-syarat yaitu :
Ada persetujuan/izin dari pemilik organ asli (atau wasiat ) atau dari ahli warisnya (sesuai
tingkatan ahli waris),tanpa paksaan ,Si resipien ( yang menerima donor ) telah mengetahui persis
segala implikasi pencangkokan . Pencangkokan dilakukan oleh yang ahli dalam ilmu
pencangkokan tersebut Tidak boleh menuntut ganti pendonoran organ dengan harta (uang dan
sebagainya) Organ tidak diperoleh melalui proses transaksi jual beli karena tidak sah menjual
belikan organ tubuh manusia. Seseorang muslim hanya boleh menerima organ dari muslim
lainnya kecuali dalam keadaan mendesak (tidak ada muslim yang cocok organnya atau tidak
bersedia di dinorkan dengan beberapa alasan).
Beberapa lembaga fatwa islam saat ini lebih dominan berpandangan mendukung bolehnya
transplantasi organ tubuh seperti Akademi Fiqh Islam (lembaga dibawah liga islam dunia di
Arab Saudi),aKademi fiqh Islam India,dan Darul Ifta’ (Lembagai otonom seperti MUI di Mesir
Yang diketuai Syaikh dari Universitas Al-Azhar.Namun tentunya mesti diingat bahwa proses
transplantasi harus melewati syarat-syarat diatas.Wallahu A’lam Bish-Shawab.
2.4 HUKUM TRANSPLANTASI ORGAN DARI NONMUSLIM
Mencangkok (transplantasi) organ dari tubuh seorang nonmuslim kepada tubuh seorang muslim
pada dasarnya tidak terlarang. Mengapa? Karena organ tubuh manusia tidak diidentifikasi
sebagai Islam atau kafir, ia hanya merupakan alat bagi manusia yang dipergunakannya sesuai
dengan akidah dan pandangan hidupnya.
Apabila suatu organ tubuh dipindahkan dari orang kafir kepada orang Muslim, maka ia menjadi
bagian dari wujud si muslim itu dan menjadi alat baginya untuk menjalankan misi hidupnya,
sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT.
Hal ini sama dengan orang muslim yang mengambil senjata orang kafir. Dan
mempergunakannya untuk berperang fi sabilillah. Bahkan sesungguhnya semua organ di dalam
tubuh seorang kafir itu adalah pada hakikatnya muslim (tunduk dan menyerah kepada Allah).
Karena organ tubuh itu adalah makhluk Allah, di mana benda-benda itu bertasbih dan bersujud
kepada Allah SWT, hanya saja kita tidak mengerti cara mereka bertasbih.
Kekafiran atau keIslaman seseorang tidak berpengaruh terhadap organ tubuhnya, termasuk
terhadap hatinya (organnya) sendiri. Memang AL-Quran sering menyebut istilah hati yang sering
diklasifikasikan sehat dan sakit, iman dan ragu, mati dan hidup.
Namun sebenarnya yang dimaksud di sini bukanlah organ tubuh yang dapat diraba (ditangkap
dengan indra), bukan yang termasuk bidang garap dokter spesialis dan ahli anatomi. Sebab yang
demikian itu tidak berbeda antara yang beriman dan yang kafir, serta antara yang taat dan yang
bermaksiat.
Tetapi yang dimaksud dengan hati orang kafir di dalam istilah Al-Quran adalah makna
ruhiyahnya, yang dengannya manusia merasa, berpikir, dan memahami sesuatu, sebagaimana
firman Allah:
“Lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami “(QS. Al-Hajj: 46)
“Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)
“(QS. Al-A`raf: 179)
Lalu bagaimana dengan firman Allah SWT yang menyebutkan bahwa Orang musyrik itu najis?
Benar bahwa Allah SWT telah menyebutkan bahwa orang musyrik itu najis, sebagaimana
disebutkan di dalam Al-Quran:
“Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis” (QS. At-Taubah: 28)
Namun para ulama sepakat mengatakan bahwa ‘najis’ dalam ayat tersebut bukanlah
dimaksudkan untuk najis indrawi yang berhubungan Dengan badan, melainkan najis maknawi
yang berhubungan dengan hati dan akal (pikiran). Karena itu tidak terdapat larangan bagi orang
muslim untuk memanfaatkan organ tubuh orang nonmuslim, apabila memang diperlukan.
Ketika Para Dokter dan Ahli Agama Berdiskusi tentang Transplantasi Organ. (artikel)
Perlu Payung hukum untuk Lindungi Para Dokter. Dari sisi skill, dokter Indonesia mestinya
mampu melakukan transplantasi. Hanya, ada celah yang dapat membahayakan dokter. Berikut
catatan dari diskusi yang diselenggarakan di Graha Pena Jumat lalu (16/11).
Transplantasi organ tubuh bisa dilakukan dengan dua cara. Mengambil organ dari tubuh manusia
yang masih hidup dan dari tubuh yang sudah mati. Hanya, definisi mati secara medis dan hukum
positif berbeda.
Anggota tim transplantasi Rumah Sakit dr Soetomo dr Tommy Sunartomo SpAn menjelaskan,
definisi meninggal dari sisi medis dan hukum positif berbeda. Seseorang dinyatakan meninggal
secara medis belum tentu sama jika dilihat secara hukum. Menurut dia, secara medis seseorang
dikatakan mati ketika batang otak tidak berfungsi. Saat itu, bagian tubuh yang lain, khususnya
jantung, bisa jadi masih berdenyut. “Namun, lambat laun akan ikut mati secara bertahap,”
tuturnya. Nah, sebelum semua organ itu mati, proses transplantasi bisa dilakukan.
Pada saat itulah, dokter berkesempatan untuk mengambil organ tubuh yang akan didonorkan.
Sebab, organ masih bisa disambungkan ke bagian tubuh penerima donor. “Waktunya tidak lama,
sekitar 30 menit. Tapi, kalau menggunakan mesin respirator, bisa bertahan sampai beberapa
hari,” tutur Tommy.
Sementara, menurut hukum positif di Indonesia, kematian seseorang dilihat dari detak
jantungnya. Ketika jantung berhenti berdenyut, seseorang dinyatakan telah mati. Hal tersebut
mengacu pada penerapan hukuman mati dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Definisi mati, menurut KUHP, sangat tidak sejalan dengan kebutuhan transplantasi. Menurut
Prof Dr dr Diany Yogiantoro SpM(K), ahli transplantasi kornea, ketika jantung berhenti
berdenyut, seluruh organ tubuh telah mati. Karena itulah, organ tubuhnya tidak bisa
ditransplantasikan ke orang lain. “Kala itu, tubuh telah menjadi bangkai. Kecuali kornea mata,”
jelasnya.
Perbedaan itulah, menurut ahli liver RSU dr Soetomo dr Poernomo Boedi SpPD, yang
membahayakan dokter. Dokter bisa dituntut secara hukum karena dianggap melukai atau bahkan
membunuh seseorang. Yaitu, ketika dokter mengambil organ tubuh dari tubuh seseorang yang
telah dinyatakan mati secara medis, tapi secara hukum, dia belum dianggap mati karena
jantungnya masih berfungsi.
Karena itu, transplantasi yang diambilkan dari orang yang dinyatakan mati secara medis (batang
otak tak berfungsi) potensial dipersoalkan. Dokter bisa disalahkan dan dijerat hukuman. “Ini
akan menjadi mainan bagi pengacara-pengacara,” katanya.
Akhirnya, para dokter tidak bisa leluasa dan takut melakukan transplantasi organ tubuh. Sebab,
bisa jadi keluarga si mayat tidak terima jika organ pada jasad saudaranya diambil. Ini bisa terjadi
kendati sebelumnya pemilik telah merelakan organ tubuhnya didonorkan. “Kasus ini banyak
terjadi di Indonesia,” kata Boedi.
Karena itulah, lanjut Boedi, dokter membutuhkan regulasi yang mendukung dan memayungi
terobosan-terobosan ilmu kedokteran, seperti transplantasi. Menurut dia, peraturan-peraturan
yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman seharusnya bisa diubah sehingga tidak
membatasi gerak ilmu pengetahuan.
Sementara itu, konsep mati menurut Islam mirip dan bahkan sama dengan konsep mati secara
medis. Saad Ibrahim, koordinator Bidang Tajdid dan Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah
Jatim, mengatakan bahwa dalam Islam, dikenal hukuman mati. “Pada masa Islam klasik, disebut
dengan pancung,” terangnya.
Tekniknya, memenggal kepala si terhukum hingga kepalanya terputus. Ketika kepala terpenggal,
otomatis dia dinyatakan mati. Untuk menyatakan mati tidaknya si terhukum, pemenggal kepala
tidak melihat apakah jantungnya masih berdetak atau tidak. “Karena parameter mati tidaknya
adalah kepala, maka sama dengan mati konsep medis, yaitu matinya batang otak,” katanya.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dari penjelasan di atas penulis mengesimpulkan bahwa transplantasi dalam hukum Islam terjadi
pertentangan di antara kalangan ulama apakah Boleh melakukan transplantasi atau tidak. Dalam
hal ini masih terjadi perbedaan pendapat antar ulama. Allahu ‘alam bissawab.
3.2 SARAN
Kita sebagai orang muslim harus memahami dengan seksama hukum- hukum islam mengenai
transplantasi, khususnya sebagai calon perawat yang bekerja di bidang kesehatan yang banyak
terdapat pertentangan dengan agama.

DAFTAR PUSTAKA
http://surabaya.detik.com/read/2010/04/24/123339/1344593/466/dihadiri-wagub-jatim-berharap-
cangkok-hati
lancarhttp://www.mahadalyalfithrah.co.cc/2010/04/hukum-transplantasi-dalam-hukum-
islam.html
http://baim32.multiply.com/journal/item/76/Transplantasi
http://zamzamisaleh.blogspot.com/2009/06/hukum-transplantasi-dalam-islam.html

. Pendahuluan
Akselerasi perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini, memiliki multi implikasi yang sangat
luas. Salah satu implikasinya ialah perlunya dirumuskan pandangan Islam tentang hal tersebut.
Demikian ini dimaksudkan agar orang mendapatkan pedoman agamis dalam memberikan respon
terhadap implikasi ilmu dan teknologi itu.
Salah satu hasil akselerasi perkembangan tersebut ialah ditemukannya teknologi transplantasi
(Demikhov, 1962:1-28; Largiarder, 1970:1-11; Najarian dan Simon, 1972:3-23). Transplantasi
ialah pengambilan dan penempelan organ, jaringan, atau sel, dari satu tempat ke tempat
lain(Largiarder, 1970:14; Ramali dan Pamuncak, 1982:216; I’shom, 1980:7). Jika pemindahan
itu masih berada pada tubuh yang satu, dalam arti donor dan resipient adalah satu individu,
disebut autotransplantasi. Jika pemindahan tersebut ke tubuh yang lain, dan sama-sama manusia,
disebut homotransplantasi, jika transplantnya berasal dari bukan manusia, disebut
heterotransplantasi (Largiarder, 1970:14-15; I’shom, 1980:7). Disebut living donor, jika obyek
pengambilan transplant dari makhluk hidup, dinamakan cadaver donor, jika berasal dari mayat
(I’shom, 1980:12). Transplantasi antara lain memiliki fungsi sebagai pengobatan (terpeutik),
optik, dan kosmetik atau tektonik – memperbaiki bentuk (Gunawan, 1980:23; Salim, 1969:70).
Sebagai pengobatan, adakalanya dalam skala emergensi, yang jika tidak dilakukan, berpeluang
besar berakhir dengan kematian. Ada kalanya, tidak sampai seperti itu, tetapi jika tidak dilakukan
akan berakibat penderitaan yang berkepanjangan (Rahman, 1980:33). Untuk fungsi optik
dimaksudkan sebagai upaya optimalisasi penglihatan (Salim, 1969:70). Sedangkan untuk fungsi
kosmetik, dimaksudkan agar, tampilan orang, lebih baik daripada tanpa transplantasi. Untuk
yang terakhir ini, sering disebut bedah plastik. Hanya untuk bedah plastik, demi kepentingan
estetika,kadang dilakukan dengan membuang bagian tertentu dari jaringan tubuh, bukan
kemudian ditempelkan ke tempat lain.
Makalah sederhana ini, ditulis untuk memberikan jawaban terhadap persoalan, apakah
transplantasi itu absah menurut pandangan Islam. Tentu saja dengan harapan makalah tersebut
menjadi bahan kajian pada pertemuan ini.

2. Transplantasi Skala Emergensi


Dalam situasi emergensi berlaku kaidah (al-Suyuthiy.1399 H:83; Ibn Nujaim. 1400 H: 85; dan
al-Buwrnuw, 1983:143 ):
ِ ‫ظوَرا‬
‫ت‬ ُ‫ح‬ ْ ‫ح اْلَم‬
ُ ‫ت ُتِبي‬
ُ ‫ضُروَرا‬ ّ ‫ال‬
Kaidah ini dibangun atas berbagai nash, antara lain al-Quran (Surat al-Baqarah Ayat 173.
‫عَلْيِه‬
َ ‫ل ِإْثَم‬
َ ‫عاٍد َف‬
َ ‫ل‬ َ ‫غ َو‬
ٍ ‫غْيَر َبا‬
َ ‫طّر‬
ُ‫ض‬ْ ‫نا‬
ِ ‫َفَم‬
Dengan demikian, transplantasi skala emergensi ini, dibolehkan, Bahkan dalam kaitannya
dengan maqashid al-syari’ah, memelihara nyawa adalah prioritas kedua dari lima hal,
memelihara agama, nyawa, akal, farj, dan harta. Oleh karena itu, tindakan itu wajib dilakukan,
jika hal tersebut merupakan satu-satunya jalan yang memiliki peluang besar untuk mengatasi
situasi emergensi itu. Akan tetapi, karena tindakan transplantasi ini juga melibatkan pihak donor,
dengan cara melukainya untuk mengambil transplant, yang pada dasarnya dilarang, maka hukum
wajib tadi berubah menjadi mubah. Sementara itu, larangan melukai tersebut, dengan
menggunakan manhaj istihsan, pengambilan transplant tersebut dibolehkan dengan catatan tidak
mengakibatkan berkurangnya kualitas hidup yang memadai bagi donor.
Dalam hal ini, jika transplant diambil dari cadaver donor, timbul masalah, sebab memecahkan
tulang orang yang mati, sama (dosanya) dengan memecahkan tulang orang yang hidup, demikian
menurut hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Aisyah dan juga dari Ummu
Salamah berikut.

ُ‫سول‬ ُ ‫ل َر‬ َ ‫ت َقا‬ْ ‫شَة َقاَل‬َ ‫عاِئ‬


َ ‫ن‬ ْ‫ع‬ َ َ‫عْمَرة‬ َ ‫ن‬ ْ‫ع‬ َ ‫سِعيٍد‬ َ ‫ن‬ ُ ‫سْعُد ْب‬َ ‫حّدَثَنا‬
َ ‫ل‬ َ ‫ي َقا‬ ّ ‫حّمٍد الّدَراَوْرِد‬َ ‫ن ُم‬ُ ‫عْبُد اْلَعِزيِز ْب‬
َ ‫حّدَثَنا‬َ ‫ل‬
َ ‫عّماٍر َقا‬
َ ‫ن‬ ُ ‫شاُم ْب‬َ ‫حّدَثَنا ِه‬
َ
‫حّيا‬
َ ‫سِرِه‬ ْ ‫ت َكَك‬ ِ ‫ظِم اْلَمّي‬
ْ ‫ع‬َ ‫سُر‬ ْ ‫سّلَم َك‬
َ ‫عَلْيِه َو‬
َ ‫ل‬ ُّ ‫صّلى ا‬ َ ِ‫ل‬ ّ ‫ا‬
‫سَلَمَة‬ َ ‫ن َأّم‬
ْ‫ع‬ َ ‫ن ُأّمِه‬ ْ‫ع‬َ ‫ن َزْمَعَة‬ ِ ‫ل ْب‬
ِّ ‫عْبِد ا‬
َ ‫ن‬ ُ ‫عَبْيَدَة ْب‬
ُ ‫خَبَرِني أَُبو‬ ْ ‫ن ِزَياٍد َأ‬ُ ‫ل ْب‬
ِّ ‫عْبُد ا‬
َ ‫حّدَثَنا‬
َ ‫ن َبْكٍر‬ُ ‫حّمُد ْب‬
َ ‫حّدَثَنا ُم‬
َ ‫ن َمْعَمٍر‬ُ ‫حّمُد ْب‬َ ‫حّدَثَنا ُم‬
َ
‫لْثِم‬ ِْ ‫ي ِفي ا‬ ّ‫ح‬ َ ‫ظِم اْل‬
ْ ‫ع‬َ ‫سِر‬ ْ ‫ت َكَك‬ِ ‫ظِم اْلَمّي‬
ْ ‫ع‬ َ ‫سُر‬ ْ ‫ل َك‬ َ ‫سلَّم َقا‬
َ ‫عَلْيِه َو‬َ ‫ل‬ ُّ ‫صّلى ا‬ َ ‫ي‬ ّ ‫ن الّنِب‬
ْ‫ع‬َ

Hanya kemudian orang harus mempertimbangkan bahwa konteks hadits itu terkait dengan orang
yang menggali kuburan, kemudian mendapatkan tulang belulang mayat, kemudian mematah-
matahkan sekedar iseng, tanpa tujuan. Oleh karena itu, dengan memakai manhaj al-istihsan,
dinyatakan bahwa menggunakan transplant dari cadaver donor untuk transplantasi skala
emergensi ini, dibolehkan.
Sementara itu jika transplant itu berasal dari orang hidup, maka baru diperkenankan jika
pengambilannya dan akibat sesudahnya tidak membahayakan nyawanya, atau menyengsarakan
hidupnya. Kaidah tentang ini berbunyi (al-Suyuthiy.1399 H:86; Ibn Nujaim. 1400 H: 87; dan al-
Buwrnuw, 1983:82 ):
‫ضَرِر‬
ّ ‫ل ِبال‬
ُ ‫ضَرُر لَ ُيَزا‬
ّ ‫ال‬
Kaidah ini diambil dari nash , antara lain hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh al-Hakim, la
dlarara wa la dlirar.
Jika transplantasi tersebut tergolong heterotransplantasi, maka sekalipun transplantnya berasal
dari jantung babi, maka tetap diperbolehkan. Dasar yang dipakai untuk natijah hukum ini, ialah
adanya situasi emergensi tersebut, membolehkan melanggar nash yang melarangnya.

3. Tansplantasi Skala Setingkat di Bawah Emergensi


Dalam khazanah hukum Islam, situasi setingkat di bawah emergensi ini, dikenal dengan sebutan
hajiy (need) yang dalam hal ini berlaku kaidah (al-Suyuthiy.1399.,84; Ibn Nujaim, 1400 H:. 86;
dan al-Buwrnuw, 1983:149 ): al-hajah tanzilu manzilah al-dlarurah. Dengan demikian natijah
hukum yang ada pada situasi emergensi, berlaku juga terhadap keadaan setingkat di bawahnya
yaitu, hajiy. Artinya transplantasi boleh dilakukan dalam kondisi, jika tidak dilakukan diduga
kuat akan berakibat penderitaan yang berkepanjangan. Misalnya, terhadap orang yang sumbing,
transplantasi diperbolehkan. Dalam hal ini, jalan yang aman ialah dengan mengambil transplant
dari diri sendiri, yang disebut autotransplantasi.

4. Transplantasi Skala Dua Tingkat di Bawah Emergensi


Situasi tingkat ini disebut tahsiniy. Dalam hal ini, transplantasi tidak diperkenankan, misalnya
memancungkan hidung, memperbesar payudara. Dasar yang dipergunakan ialah qiyas terhadap
pencukuran alis, sebagaimana dilarang oleh hadits riwayat al-Bukhariy berikut:
َ ‫عْنُه َقا‬
‫ل‬ َ ‫ل‬
ُّ ‫ي ا‬َ ِ‫سُعوٍد َرض‬ ْ ‫ن َم‬ ِ ‫ن اْب‬ْ‫ع‬ َ ‫عْلَقَمَة‬
َ ‫ن‬
ْ‫ع‬ َ ‫ن ِإْبَراِهيَم‬
ْ‫ع‬َ ‫صوٍر‬ ُ ‫ن َمْن‬ْ‫ع‬ َ ‫ن‬ُ ‫سْفَيا‬
ُ ‫خَبَرَنا‬ ْ ‫ل َأ‬
ِّ ‫عْبُد ا‬
َ ‫خَبَرَنا‬
ْ ‫ل َأ‬
ٍ ‫ن ُمَقاِت‬
ُ ‫حّمُد ْب‬
َ ‫حّدَثِني ُم‬ َ
ُّ ‫صّلى ا‬
‫ل‬ َ ‫ل‬ ِّ ‫ل ا‬
ُ ‫سو‬
ُ ‫ن َلَعَنُه َر‬
ْ ‫ن َم‬ ُ ‫ل َأْلَع‬
َ ‫ل َما ِلي‬
ِّ ‫ق ا‬َ ‫خْل‬
َ ‫ت‬ِ ‫ن اْلُمَغّيَرا‬
ِ‫س‬
ْ‫ح‬ ُ ‫ت ِلْل‬
ِ ‫جا‬
َ ‫ت َواْلُمَتَفّل‬
ِ ‫صا‬ َ ‫ت َواْلُمَتَنّم‬
ِ ‫شَما‬ ِ ‫سَتْو‬
ْ ‫ت َواْلُم‬ِ ‫شَما‬ ِ ‫ل اْلَوا‬
ُّ ‫ن ا‬
َ ‫َلَع‬
ِّ ‫ب ا‬
‫ل‬ ِ ‫سّلَم َوهَُو ِفي ِكَتا‬
َ ‫عَلْيِه َو‬
َ

Sekalipun demikian, untuk kasus seperti yang terdapat pada acara televisi bertajuk Swan, suatu
acara yang menampilkan semacam bedah rumah, yakni mengubahnya menjadi lebih baik, tetapi
yang diubah ialah bagian tertentu dari tubuh wanita melalui bedah plastik, dengan maksud demi
terwujudnya kerukunan sebuah rumah tangga, jika manhaj yang dipergunakan untuk menentukan
hukumnya adalah istihsan, maka hal tersebut diperbolehkan, karena adanya alasan yang kuat
untuk itu.

5. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, disimpulkan bahwa transplantasi pada tingkat emergensi (dlaruriy),
dan satu tingkat dibawahnya (hajiy), diperbolehkan, sedang untuk dua tingkat di bawahnya
(tahsiniy) tidak diperkenankan, kecuali jika ada alasan yang kuat, seperti demi menjaga keutuhan
rumah tangga .
Allah A’lam bi al-Shawab.

Malang, 29 Mei 2008.

Daftar Pustaka

al-Quran al-Karim.
Bukharbu ’Abdillah Muhammad bin Isma’il al-, Tanpa Tahun. Shahih al-Bukhariy. Tanpa
Tempat: al-Sya’b.
Buwrnuw, Muhammad Shidqiy bin Ahmad al-. 1983, al-Wajiz fi Idlah Qawa’id al-Fiqhiyyah al-
Kulliyyah. Riyadl : Mu’assasah al-Risalah.
Demikhov, V.P. 1962. Experimental Transplantation of Vital Organ, New York: Consultant
Bureau.
Gunawan. 1979. “Persoalan Pencangkokan Cornea”, dalam Keputusan Muktamar Tarjih
Muhammadiyah ke-21 di Klaten. 1980, Bayi Tabung dan Pencangkokan dalam Sorotan Hukum
Islam. Yogyakarta: Persatuan.
Hakim, al-. 1969. al-Mustadrak, Riyadl: al-Maktabah al-Mishriyyah al-Haditsah.
I’shom, H. Baried. 1979. ”Dasar Pengertian Mengenai Transplantasi” dalam Keputusan
Muktamar Tarjih Muhammadiyah ke-21 di Klaten. 1980, Bayi Tabung dan Pencangkokan dalam
Sorotan Hukum Islam. Yogyakarta: Persatuan.
Largiarder, Felix (Ed.). 1970. Organ Transplantation. Zurich: George Thieme Verlag Stutgart.
Majah, Muhammad bin Yazid Ibn. Tanpa Tahun. Sunan Ibn Majah. Tanpa Tempat: al-babiy al-
Halabiy.
Nujaym, Zainuddin bin Ibrahim, Ibn. 1400 H. Al-Asybah wa al-Nadhair. Bairut: Dar al-Kutub
al-’Ilmiyyah.
Rahman, Asymuni Abdur. Tanpa Tahun. ”Tansplantasi Dipandang dari Segi Hukum Islam”
dalam Keputusan Muktamar Tarjih Muhammadiyah ke-21 di Klaten. 1980, Bayi Tabung dan
Pencangkokan dalam Sorotan Hukum Islam. Yogyakarta: Persatuan.
Najarian, John S. and Richard L. Simon (Ed.). 1979. Transplantation. Philadelphia: LEA and
Febiger.
Salim, I. 1969. “Segi-segi Transplantasi Cornea” dalam Majalah Kedokteran Indonesia. Tanpa
Nomor (19 Maret, Tanpa Tahun Penerbitan). Jakarta.
Suyuthiy, Jalal al-Din ”Abd al-Rahman bin Abi Bakr al. 1399 H. Al-Asybah wa al-Nadhair.
Bairut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah.

·Makalah disampaikan dalam Kajian Dua Bulanan Oleh Majlis Tarjih dan Tajdid Pimpinan
Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, 31 Mei 2008 di Surabaya.
··Penulis adalah Anggota PWM Jawa Timur Kordinator Tarjih dan Tabligh, dan Dosen
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, tinggal di Vila Bukit Sengkaling AF 13 Landungsari
Dau Kab. Malang, Tilp. 0341 532215, HP. 08123 385138.

Transplantasi organ adalah transplantasi atau pemindahan seluruh atau sebagian organ dari satu
tubuh ke tubuh yang lain, atau dari suatu tempat ke tempat yang lain pada tubuh yang sama.
Transplantasi ini ditujukan untuk menggantikan organ yang rusak atau tak befungsi pada
penerima dengan organ lain yang masih berfungsi dari donor. Donor organ dapat merupakan
orang yang masih hidup ataupun telah meninggal.
http://id.wikipedia.org/wiki/Transplantasi_organ