Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam perkembangan sejarah dunia modern ada dua peristiwa penting yang merubah
konstelasi dari berbagai aspek kehidupan bernegara dan berbangsa di seluruh dunia, masing –
masing peristiwa tersebut adalah perang dunia pertama (1914-1918) dan perang dunia kedua
(1939 – 1945 ).
Dampak terbesar dari kedua perang tersebut adalah kehancuran dan penderitaaan bagi
peradaban manusia saat itu. Ambisi besar para tokoh yang ingin memperluas daerah
kekuasaannya berdampak pada hancurnya tatanan kehidupan masyarakat pada waktu itu
khususnya masyarakat Eropa, dalam dua kali edisi perang dunia, Jerman menjadi tokoh
utama yang antagonis, hal ini tidak terlepas dari penggunaan konsep fasisme dan
ultranasionalisme yang berkembang di Jerman saat itu. Meskipun demikian Jerman menjadi
pihak yang harus menanggung kekalahan pada perang dunia pertama dan kedua setelah
dihancurkan oleh pasukan sekutu dan Uni Soviet.

Dalam kurun pasca perang dunia selesai, berbagai cara dilakukan untuk
mengembalikan keadaan dunia yang telah porak poranda akibat kebengisan dan ambisi
segelintir orang, setelah perang dunia pertama misalnya, berbagai perjanjian antar negera
dilakukan untuk menghindari kemungkinan – kemungkinan terjadinya kembali perang dunia,
beberapa contoh perjanjian yang terjadi Perjanjian Versailles, Perjanjian Saint Germain,
Perjanjian Neuilly, Perjanjian Trianon dan perjanjian Serveres. Lebih dari itu, kehadiran Liga
Bangsa – Bangsa yang merupakan  organisasi internasional yang didirikan setelah Konferensi
Perdamaian Paris di tahun 1919, 10 Januari 1920. Dimana Fungsi-fungsi utamanya termasuk
melucuti senjata, mencegah perang melalui keamanan kolektif, menyelesaikan pertentangan
antara negara-negara melalui negosiasi dan diplomasi, serta memperbaiki kesejahteraan hidup
global.

Begitu pula setelah perang dunia kedua usai upaya – upaya pemulihan dilakukan
dengan beberapa pola yang sama seperti contoh pada penjelasan diatas, diantaranya yang
dilakukan Konferensi Postdam, Perjanjian San Francisco dan Perdamaian Paris. Dan pula
adapula sebuah organisasi internasional yang dibangun yang mirip dengan LBB, yakni
Perserikatan bangsa – bangsa dimana  anggotanya hampir seluruh negara di dunia. Lembaga
ini dibentuk untuk memfasilitasi dalam hukum internasional, keamanan

1
internasional, pengembangan ekonomi, perlindungan sosial, hak asasi dan pencapaian
perdamaian dunia. Perserikatan Bangsa-bangsa didirikan di San Francisco pada 24 Oktober
1945 setelah Konferensi Dumbarton Oaks di Washington DC.

Dengan demikian berbagai usaha dan upaya pembangunan politik dilakukan negara –
negara di dunia pasca dua perang besar dalam sejarah manusia yang terjadi dalam kurun 31
tahun (1914-1945) dengan menelan korban jiwa lebih kurang 200 juta jiwa serta kerugian
materil yang tidak terhitung jumlahnya.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Pembangunan Politik

 Dalam studi pembangunan politik sebelum menjelaskan definisi-defnisi


pembangunan politik ada beberapa konsep yang perlu di pahami, yaitu, perubahan,
pembangunan dan modernisasi politik.Pembangunan dan modernisasi politik merupakan
perubahan politik, bukan sebaliknya (Ramlan Surbakti, 1992). Perubahan politik dapat
diartikan sebagai terjadinya perbedaan karakteristik dari suatu sistem politik yang satu ke
sistem politik lain. Misalnya dari sistem politik monarki ke sistem politik demokrasi.
Persoalannya ialah apakah perubahan itu bersifat progresif yaitu menuju situasi yang lebih
baik dari yang sebelumnya ataukah bersifat regresif yaitu menuju situasi yang lebih buruk
dari sebelumnya. Disamping itu, menurut Hungtinton dan Dominguez (dalam Afan Gaffar,
1989) konsep pembangunan politik dikatakan mempunyai konotasi secara geografis,
derivatif, teologis dan fungsional:
1. Pembangunan politik secara geografis berarti proses perubahan politik pada negara
berkembang dengan menggunakan konsep dan metode yang pernah digunakan oleh
negara maju , seperti konsep mengenai sosialisasi politik, komunikasi politik, dan
sebagainya.

2. Pembangunan politik secara derivatif beratrti pembangunan politik merupakan aspek


dan konsekuensi politik dari proses perubahan yang menyeluruh,meliputi modernisasi
yang membawa konsekuensi pada pertumbuhan  ekonomi, urbanisasi, peningkatan
pendidikan, media massa, perubahan status sosial dan aspek-aspek lainnya.

3. Pembangunan politik secara teologis berarti proses perubahan menuju pada suatu atau
beberapa tujuan dari sistem politik. Tujuan tersebut meliputi stabilitas politik,
integrasi politik, demokrasi, partisipasi, mobilisasi dan sebagainya.

4. Pembangunan politik secara fungsional berarti suatu gerakan perubahan menuju


sistem politik ideal yang dikembangkan suatu negara untuk sistem politik demokrasi
konstitusional.

3
B.   Definisi Pembangunan Politik

Pembangunan politik adalah upaya suatu negara untuk dapat mengembangkan dan
memajukan kehidupan masyarakat dan warga negaranya. Pembangunan politik di
identifikasikan sebagai kemajuan dalam bidang ekonomi, mengingat bahwa aspek ekonomi
sangatlah berperan penting dalam kemajuan perpolitikan di suatu negara. Di dalam
pembangunan politik mempunyai arti yang berbeda dengan politik pembangunan. Politik
pembangunan mengandung pengertian tentang kebijakan-kebijakan pemerintah untuk
melaksanakan pembangunan, sedangkan pembangunan politik mengandung pengertian segala
kegiatan yang dilakukan untuk mengubah suatu keadaan menjadi lebih baik, sehingga
terwujudnya tingkat kehidupan masyarakat dan bangsa menjadi suatu bangsa yang modern,
yang mampu berhubungan dengan baik secara nasional maupun internasional dan
memperoleh kehormatan.

Dalam pembahasan mengenai defenisi pembangunan politik telah mengutip atau


menerjemakan defenisi pembangunan politik yang telah dikumpulkan oleh Lucian W. Pye.
(Pengembang Teori Pembangunan Politik), Lucian W. Pye (1966) berhasil mengumpulkan
sepuluh defenisi mengenai pembangunan politik dalam bukunya “aspects of Political
Develompment” dan telah diterjemahkan oleh para penulis Indonesia tersebut diatas sebagai
berikut :
1. Pembangunan Politik sebagai Prasarat Politik bagi Pembangunan Ekonomi.
2. Pembangunan Politik sebagai Ciri Khas Kehidupan Politik Masyarakat Industri.
3. Pembangunan Politik sebagai Modernisasi Politik
4. Pembangunan Politik sebagai Operasi Negara-Bangsa..
5. Pembangunan Politik sebagai Pembangunan Administrasi dan Hukum.
6. Pembangunan Politik sebagai Mobilisasi dan Partisipasi Massa.
7. Pembangunan Politik sebagai Pembinaan Kehidupan Demokrasi.
8. Pembangunan Politik sebagai Stabilitas dan Perubahan Teratur.
9. Pembangunan Politik sebagai Mobilisasi dan Kekuasaan.
10.Pembangunan Politik sebagai Satu Segi Proses Perubahan Sosial yang Multidimensi.

Akan tetapi dalam penjelasan makalah ini kami hanya membahas dua poin dari
pemaparan Lucian W. Pye.

4
1. Pembangunan Politik sebagai Prasyarat Politik bagi Pembangunan Ekonomi

Pembangunan politik dipandang sebagai keadaan masyarakat politik yang dapat


membantu jalannya pertumbuhan ekonomi. Para ahli ekonomi menunjukkan bahwa kondisi-
kondisi sosial dan politik dapat memainkan peranan penentu yang dapat menghalangi
ataupun membantu peningkatan pandangan per kapita.
Sehingga pantaslah bila pembangunan politik dipandang sebagai keadaan masyarakat
politik yang dapat membantu jalannya pertumbuhan ekonomi. Tapi secara operasional
pandangan tentang pembangunan politik seperti itu pada dasarnya bersifat negatif, sebab
lebih mudah bagi kita untuk dengan teliti mengetahui prestasi sistem politik yang mungkin
menghalangi atau menggagalkan pembangunan ekonomi daripada mejelaskan bagaimana
sistem politik itu membantu pertumbuhan ekonomi. Bukti historis menunjukkan bahwa
pertumbuhan ekonomi bisa terjadi dalam berbagai macam sistem politik, dengan berbagai
macam kebijaksanaan umum yang ditempuh.

2.  Pembangunan Politik sebagai Modernisasi Politik

Pandangan bahwa pembangunan politik merupakan kehidupan politik yang khas dan
ideal dari masyarakat industri berhubungan erat dengan pandangan bahwa pembangunan
politik sama dengan modernisasi politik. negara- negara industri maju adalah pembuat mode
dan pelopor dalam hampir setiap kehidupan sosial dan ekonomi, karena itu dapat dimengerti
bila banyak orang tang mengharapkan ahwa hal seperti itu juga terjadi dalam dunia politik.
tetapi justru penerimaan yang terlalu mudah atas pandangan ini mengundang tantangan dari
kelompok yang mempertahankan relativisme kebudayaan, yang mempermasalahkan
kebenaran dari identifikasi ciri-ciri masyarakat industri yaitu orang-orang barat, yang dipakai
sebagai standart kontemporer dan universil bagi setiap sistem politik.

5
C. Perang Dunia I dan Pembangunan Sesudahnya

Perang Dunia I (PD I) adalah sebuah perang global terpusat di Eropa yang dimulai


pada tanggal 28 Juli 1914 sampai 11 November 1918. Perang ini sering disebut Perang
Dunia atau Perang Besar sejak terjadi sampai dimulainya Perang Dunia II pada tahun 1939,
dan Perang Dunia Pertama atau Perang Dunia I setelah itu. Perang ini melibatkan
semua kekuatan besar dunia, yang terbagi menjadi dua aliansi bertentangan,
yaitu Sekutu (berdasarkan Entente Tiga yang terdiri dari Britania Raya,Perancis, dan Rusia)
dan Kekuatan Sentral (terpusat pada Aliansi Tiga yang terdiri dari Jerman, Austria-Hongaria,
dan Italia; namun saat Austria-Hongaria melakukan serangan sementara persekutuan ini
bersifat defensif, Italia tidak ikut berperang). Kedua aliansi ini melakukan reorganisasi (Italia
berada di pihak Sekutu) dan memperluas diri saat banyak negara ikut serta dalam perang.
Lebih dari 70 juta tentara militer, termasuk 60 juta orang Eropa, dimobilisasi dalam salah satu
perang terbesar dalam sejarah. Lebih dari 9 juta prajurit gugur, terutama akibat kemajuan
teknologi yang meningkatkan tingkat mematikannya suatu senjata tanpa mempertimbangkan
perbaikan perlindungan atau mobilitas. Perang Dunia I adalah konflik paling
mematikan keenam dalam sejarah dunia, sehingga membuka jalan untuk berbagai perubahan
politik seperti revolusi di beberapa negara yang terlibat.

Penyebab jangka panjang perang ini mencakup kebijakan luar


negeri imperialis kekuatan besar Eropa, termasuk Kekaisaran Jerman, Kekaisaran Austria-
Hongaria, Kesultanan Utsmaniyah, Kekaisaran Rusia, Imperium Britania, Republik Perancis,
dan Italia. Pembunuhan tanggal 28 Juni 1914 terhadap Adipati Agung Franz Ferdinand dari
Austria, pewaris tahta Austria-Hongaria, oleh seorang nasionalis Yugoslavia di Sarajevo,
Bosnia dan Herzegovina adalah pencetus perang ini. Pembunuhan tersebut berujung
pada ultimatum Habsburg terhadap Kerajaan Serbia. Sejumlah aliansi yang dibentuk selama
beberapa dasawarsa sebelumnya terguncang, sehingga dalam hitungan minggu semua
kekuatan besar terlibat dalam perang; melalui koloni mereka, konflik ini segera menyebar ke
seluruh dunia.

Pada tanggal 28 Juli, konflik ini dibuka dengan invasi ke Serbia oleh Austria-


Hongaria, diikuti invasi Jerman ke Belgia, Luksemburg, dan Perancis; dan serangan Rusia ke
Jerman. Setelah pawai Jerman di Paris tersendat, Front Barat melakukan pertempuran atrisi
statis dengan jalur parit yang mengubah sedikit suasana sampai tahun 1917. Di Timur,
angkatan darat Rusia berhasil mengalahkan pasukan Kesultanan Utsmaniyah, namun dipaksa
mundur dari Prusia Timur dan Polandia oleh angkatan darat Jerman. Front lainnya dibuka

6
setelah Kesultanan Utsmaniyah ikut serta dalam perang tahun 1914, Italia danBulgaria tahun
1915, dan Rumania tahun 1916. Kekaisaran Rusia runtuh bulan Maret 1917, dan Rusia
menarik diri dari perang setelah Revolusi Oktober pada akhir tahun itu. Setelah serangan
Jerman di sepanjang front barat tahun 1918, Sekutu memaksa pasukan Jerman mundur dalam
serangkaian serangan yang sukses dan pasukan Amerika Serikat mulai memasuki parit.
Jerman, yang bermasalah dengan revolusi pada saat itu, setuju melakukan gencatan senjata
pada tanggal 11 November 1918 yang kelak dikenal sebagai Hari Gencatan Senjata. Perang
ini berakhir dengan kemenangan di pihak Sekutu.

Peristiwa di front Britania sama rusuhnya seperti front depan, karena para pihak
terlibat berusaha memobilisasi tenaga manusia dan sumber daya ekonomi mereka untuk
melakukan perang total. Pada akhir perang, empat kekuatan imperial besar—Kekaisaran
Jerman, Rusia, Austria-Hongaria, dan Utsmaniyah—bubar. Negara pengganti dua kekaisaran
yang disebutkan pertama tadi kehilangan banyak sekali wilayah, sementara dua terakhir
bubar sepenuhnya. Eropa Tengah terpecah menjadi beberapa negara kecil. 

Setelah berakhirnya perang dunia I, maka dimulailah proses pembangunan untuk


menciptakan stabilitas dan recovery negara – negara yang dilanda kehancuran, ada beberapa
cara yang digunakan pada masa itu, dimana para kaum idealisme membentuk Liga Bangsa –
bangsa sebagai lembaga yang mampu menciptakan perdamaian diantara negara didunia di
samping Fungsi-fungsi utamanya termasuk melucuti senjata, mencegah perang melalui
keamanan kolektif, menyelesaikan pertentangan antara negara-negara melalui negosiasi dan
diplomasi, serta memperbaiki kesejahteraan hidup global. Kemudian lagi tujuan dari di
adakan Konfrensi Bretton Wood untuk mengantisipasi terjadinya perang dunia kedua.

Selain itu, berbagai perjanjian – perjanjian antar negara dilakukan khususnya terhadap
negara penderita kekalahan pada perang dunia pertama diantaranya.

1. Perjanjian Versailles

Perjanjian Versailles ditandatangani oleh German Reich yang diwakili oleh Hermann
Müller and Johannes Bell, dan Allies (British Empire, France, Japan, Italy, US, dll) di mana
Woodrow Wilson mewakili US, Loyd George mewakili Inggris, Clementeau mewakili
Perancis, dan Orlando mewakili Italia. Isi dari perjanjian Versailles, antara lain :

 Jerman menyerahkan daerah Elzas dan Lotharingen pada Perancis


 Jerman mengganti kerugian perang

7
 Jerman melepaskan semua daerah jajahan dan diserahkan pada sekutu
 Kapal-kapal dagang Jerman diserahkan kepada Inggris
 Angkatan perang Jerman diperkecil
 Danzig dan sekitarnya menjadi kota merdeka di bawah LBB.
 Jerman harus membayar ganti rugi perang sebesar 132 milyar Mark emas.
 Wilayah Saar diperintah oleh LBB selama 15 tahun.

2. Perjanjian Saint Germain

Perjanjian Saint Germain adalah kesepakatan yang ditandatangani oleh negara-negara


pemimpin Perang Dunia I dan Kaisar Austria, pada 10 September 1919.
Isi perjanjian itu menyepakati bahwa wilayah imperium Austria dibagi menjadi tiga bagian,
yaitu Autria, Hungaria, dan Cekoslovakia. Sedangkan beberapa bagian dari wilayah Austria
juga diserahkan kepada Italia, Yugoslavia, Polandia, Rusia, dan Rumania.
Selengkapnya, Perjanjian Saint Germain menyepakati poin-poin berikut:

 Austria mengakui kemerdekaan Hungaria, Cekoslovakia, dan Polandia;


 Austria kehilangan Tyrol, Istrie, dan sebagian daerah Sudenten;
 Diadakan demiliterisasi di Austria; dan
 Serbia ditambah Montenegro dan beberapa daerah Austria di Balkan menjadi daerah
Yugoslavia.

Penandatanganan perjanjian tersebut juga menyepakati pembatalan atas perjanjian antara


Jerman dan Austria yang telah ditandatangani sebelumnya. Pembatalan itu dimaksudkan
untuk mencegah Jerman dan Austria membentuk kekuatan besar kembali.

3. Perjanjian Neuilly

Perjanjian ini dilakukan pada tanggal 27 November 1919. perjanjian ini dilakukan oleh
Sekutu dan Bulgaria. Isi perjanjian ini adalah bahwa Bulgaria menyerahkan daerah pantai
Aegia kepada Yunani.

4. Perjanjian Trianon

Terjadi pada tanggal 4 Juni 1920, antara Sekutu dan Hongaria:

 Daerah Hongaria diperkecil.

8
 Keluarga Hapsburg tidak boleh menjadi raja di Austria-hongaria.

5. Perjanjian Sevres. 

Perjanjian Sevres dilakukan pada tanggal 20 agustus 1920. Negara yang berperan dalam
perjanjian ini adalah Sekutu dan Turki. Isi perjanjian adalah

 Daerah Turki diperkecil, sehingga tinggal Konstantinopel dan sekitarnya.


 Daerah yang penduduknya bukan orang Turki harus dilepaskan.
 Smyrna dan Thracia diduduki oleh Yunani.
 Dardanella, Laut Marmora, dan selat Bosporus harus dibuka untuk semua kapal dari
semua   bangsa.
 Armenia dan Kurdi diberi status merdeka.

D. Perang Dunia Kedua dan Pembangunan Politik Sesudahnya.

Perang Dunia II, atau Perang Dunia Kedua (PD II), adalah sebuah perang global yang
berlangsung mulai tahun 1939 sampai 1945. Perang ini melibatkan banyak sekali negara di
dunia —termasuk semua kekuatan besar—yang pada akhirnya membentuk dua aliansi militer
yang saling bertentangan: Sekutu dan Poros. Perang ini merupakan perang terluas dalam
sejarah yang melibatkan lebih dari 100 juta orang di berbagai pasukan militer. Dalam
keadaan "perang total", negara-negara besar memaksimalkan seluruh kemampuan ekonomi,
industri, dan ilmiahnya untuk keperluan perang, sehingga menghapus perbedaan antara
sumber daya sipil dan militer. Ditandai oleh sejumlah peristiwa penting yang melibatkan
kematian massal warga sipil, termasuk Holocaust dan pemakaian senjata nuklir dalam
peperangan, perang ini memakan korban jiwa sebanyak 50 juta sampai 70 juta jiwa. Jumlah
kematian ini menjadikan Perang Dunia II konflik paling mematikan sepanjang sejarah umat
manusia.

Kekaisaran Jepang berusaha mendominasi Asia Timur dan sudah memulai perang
dengan Republik Tiongkok pada tahun 1937, tetapi perang dunia secara umum pecah pada
tanggal 1 September 1939 dengan invasi ke Polandia oleh Jerman yang diikuti serangkaian
pernyataan perang terhadap Jerman oleh Perancis dan Britania. Sejak akhir 1939 hingga awal
1941, dalam serangkaian kampanye dan perjanjian, Jerman membentuk aliansi Poros bersama
Italia, menguasai atau menaklukkan sebagian besar benua Eropa. Setelah Pakta Molotov–

9
Ribbentrop, Jerman dan Uni Soviet berpisah dan menganeksasi wilayah negara-negara
tetangganya sendiri di Eropa, termasuk Polandia. Britania Raya, dengan imperium dan
Persemakmurannya, menjadi satu-satunya kekuatan besar Sekutu yang terus berperang
melawan blok Poros, dengan mengadakan pertempuran di Afrika Utara dan Pertempuran
Atlantik. Bulan Juni 1941, Poros Eropa melancarkan invasi terhadap Uni Soviet yang
menandakan terbukanya teater perang darat terbesar sepanjang sejarah, yang melibatkan
sebagian besar pasukan militer Poros sampai akhir perang. Pada bulan Desember 1941,
Jepang bergabung dengan blok Poros, menyerang Amerika Serikat dan teritori Eropa di
Samudra Pasifik, dan dengan cepat menguasai sebagian besar Pasifik Barat.

Serbuan Poros berhenti tahun 1942, setelah Jepang kalah dalam berbagai pertempuran
laut dan tentara Poros Eropa dikalahkan di Afrika Utara dan Stalingrad. Pada tahun 1943,
melalui serangkaian kekalahan Jerman di Eropa Timur, invasi Sekutu ke Italia, dan
kemenangan Amerika Serikat di Pasifik, Poros kehilangan inisiatif mereka dan mundur
secara strategis di semua front. Tahun 1944, Sekutu Barat menyerbu Perancis, sementara Uni
Soviet merebut kembali semua teritori yang pernah dicaplok dan menyerbu Jerman beserta
sekutunya. Perang di Eropa berakhir dengan pendudukan Berlin oleh tentara Soviet dan
Polandia dan penyerahan tanpa syarat Jerman pada tanggal 8 Mei 1945. Sepanjang 1944 dan
1945, Amerika Serikat mengalahkan Angkatan Laut Jepang dan menduduki beberapa pulau
di Pasifik Barat, menjatuhkan bom atom di negara itu menjelang invasi ke Kepulauan Jepang.
Uni Soviet kemudian mengikuti melalui negosiasi dengan menyatakan perang terhadap
Jepang dan menyerbu Manchuria. Kekaisaran Jepang menyerah pada tanggal 15 Agustus
1945, sehingga mengakhiri perang di Asia dan memperkuat kemenangan total Sekutu atas
Poros.

Perang Dunia II mengubah haluan politik dan struktur sosial dunia. Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) didirikan untuk memperkuat kerja sama internasional dan mencegah
konflik-konflik yang akan datang. Para kekuatan besar yang merupakan pemenang perang—
Amerika Serikat, Uni Soviet, Cina, Britania Raya, dan Perancis—menjadi anggota permanen
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Uni Soviet dan Amerika Serikat muncul
sebagai kekuatan super yang saling bersaing dan mendirikan panggung Perang Dunia yang
kelak bertahan selama 46 tahun selanjutnya. Sementara itu, pengaruh kekuatan-kekuatan
besar Eropa mulai melemah, dan dekolonisasi Asia dan Afrika dimulai. Kebanyakan negara
yang industrinya terkena dampak buruk mulai menjalani pemulihan ekonomi. Integrasi

10
politik, khususnya di Eropa, muncul sebagai upaya untuk menstabilkan hubungan
pascaperang.

Sejatinya, konsep pembangunan politik hadir pasca perang dunia kedua. Dimana,
setiap negara berusaha bangkit dan melakukan pembangunan disegala bidang, khususnya
bagi negara – negara yang baru saja mendapatkan kemerdekaan pasca kolonialisasi yang
dilakukan oleh bangsa penjajah. Akan tetapi hegemoni yang begitu besar dimainkan oleh
negara – negara adidaya dalam konstelasi perpolitikan dunia, dimana mereka membawa
perubahan yang sangat signifikan pada ‘wajah’ dunia.

Adapun dari beberapa pengaruh yang diaminkan tersebut menjadi indikator dari
pembangunan politik itu sendiri. Berikut indikator – indikator pembangunan politik :

1. Modernisasi, proses perubahan dari masyarakat yang bercorak tradisional kemasyarakat


yang bercirikan modern. Ciir modernisasi meliputi

 Modernisasi merupakan proses revolusioner.

 Modernisasi sekurang – kurangnya terdiri dari unsur industrialisasi, urbanisasi,


mobilisasi sosial, diferensiasi, perluasan media, peningkatan tingkat literasi, dan
perluasan partisipasi politik.

 Merupakan proses yang sistematis.

 Suatu proses global dalam jangka panjang, berkala.

 Proses homogenitas, bergerak kedepan serta progresif.

2. Ketergantungan, menurut beberapa ahli definisi ketergantungan sebagai berikut.

 Hendrique Cardoso (1973), pembangunan akan terjadi jika ada ekspor


komoditas atau investasi asing

 Frank A. Gunnar (1967), melihat ketergantungan dari perspektif struktur


metropolis- satelit dalam sistem kapitalis

 Dos Santos (1968), melihat ketergantungan tterjadi karena industri,


teknologi(ketergantungan baru) melalui MNC’s yang berinvestasi dipasar
internal di negara berkembang

3. Keterbelakangan, menurut beberapa ahli definisi ketergantungan sebagai berikut.

11
 Frank A. Gunnar (1967), keterbelakangan merupakan konsekuensi dari
hubungan antara negara metroplis dan satelit

 Walter Rooney (1972), keterbelakangan berhubungan dengan eksploitasi

4. Imperialisme, model kolonialisme bentuk baru

 Lenin (1996), Imperialisme ditandai oleh jaringan pengaliran modal kewilayah


koloni.

 James O’Connor (1970), Imperialisme sebagai kontrol terhadap sumber -


sumber ekonomi lokal dalam suatu cara yang menguntungkan kekuasaan
metropolis, dan merugikan ekonomi setempat.

5. Nasionalisme, akan memberikan rangsangan ideologis dan motivasi pembangunan


politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Setelah perang dunia kedua, melahirkan istilah negara dunia ketiga, dimana yang
termasuk kedalam golongan tersebut umumnya adalah negara - negara miskin yang berada di
kawasan Asia dan Afrika. Dalam proses kapitalisme yang digunakan Amerika Serikat
cenderung membuat negara – negara yang baru merdeka sulit untuk maju karena
sebagaimana yang dijelaskan di atas mengenai ketergantungan. Setelah mendapat
kemerdekaan banyak negara yang mengikuti pola demokrasi yang digunakan oleh US dan
UK yang menempatkan mereka sebagai sebagai negara maju, dengan harapan juga bisa maju
seperti kedua negara tersebut, dan mulailah negara – negara yang baru merdeka ikut kedalam
sistem GATT, WTO dan World Bank yang merupakan buah dari pertemuan Bretton Woods.
Menurut Prebisch, adalah sebuah kesalahn jika sebuah negara yang baru ikut kedalam sistem
tersebut, sebagaimana yang terjadi didunia selatan ( Amerika Selatan ).

Akan tetapi Sejalan dengan teori sistem dunia (TSD) yang dikemukakan oleh
Immanuel Wallerstain, teori ketergantungan dan ketergantungan baru hanya membahas
tentang kemiskinan, menurutnya pula harus dibahsa tentang negara agar bisa maju. Adapun
Immanuel Wallerstain mengajukan konsep naik turun kelas :

 Merebut kesempatan yang ada.

 Penglibatan aktif dalam industri.

 Menjalankan dasar memandirikan diri sendiri.

12
Teori sistem dunia telah mampu memberikan penjelasan keberhasilan pembangunan
ekonomi pada negara pinggiran dan semi pinggiran. Negara-negara sosialis, yang kemudian
terbukti juga menerima modal kapitalisme dunia, hanya dianggap satu unit saja dari tata
ekonomi kapitalis dunia.  Negara sosialis yang kemudian menerima dan masuk ke dalam
pasar kepitalis dunia adalah China, khususnya ketika periode pengintegrasian kembali
(Penelitian So dan Cho dalam  Suwarsono dan So, 1991). Teori ini yang melakukan analisa
dunia secara global, berkeyakinan bahwa tak ada negara yang dapat melepaskan diri dari
ekonomi kapitalis yang mendunia. kapitalisme yang pada awalnya hanyalah perubahan cara
produksi dari produksi untuk dipakai ke produksi untuk dijual, telah  merambah jauh jauh
menjadi dibolehkannya pemilikan barang sebanyak-banyaknya, bersama-sama juga
mengembangkan individualisme, komersialisme, liberalisasi, dan pasar bebas. Kapitalisme
tidak hanya merubah cara-cara produksi atau sistem ekonomi saja, namun bahkan memasuki
segala aspek kehidupan dan pranata dalam kehidupan masyarakat, dari hubungan antar
negara, bahkan sampai ke tingkat antar individu. Sehingga itulah, kita mengenal tidak hanya
perusahaan-perusahaan kapitalis, tapi juga struktur masyarakat dan bentuk negara.

13
BAB III
KESIMPULAN

Studi pembangunan politik sejatinya lahir pasca perang dunia kedua yang terjadi pada
kurun 1939 – 1945. Dimana tujuan dari setiap negara berusaha bangkit dan melakukan
pembangunan disegala bidang pasca kehancuran yang disebabkan oleh perang dunia,
khususnya bagi negara – negara yang baru saja mendapatkan kemerdekaan pasca
kolonialisasi yang dilakukan oleh bangsa penjajah. Lucian W. Pye (1966) berhasil
mengumpulkan sepuluh defenisi mengenai pembangunan politik dalam bukunya “Aspects of
Political Develompment” .

Dunia melewati dua peristiwa penting dalam sejarah dunia modern yakni Dalam
perkembangan sejarah dunia modern ada dua peristiwa penting yang merubah konstelasi dari
berbagai aspek kehidupan bernegara dan berbangsa di seluruh dunia, masing – masing
peristiwa tersebut adalah perang dunia pertama (1914-1918) dan perang dunia kedua (1939 –
1945 ).

Dampak terbesar dari kedua perang tersebut adalah kehancuran dan penderitaaan bagi
peradaban manusia saat itu. Ambisi besar para tokoh yang ingin memperluas daerah
kekuasaannya berdampak pada hancurnya tatanan kehidupan masyarakat pada waktu itu.

Akan tetapi, pasca perang dunia kedua hegemoni oleh kekuatan superpower
menghegemoni pembangunan politik di banyak negara, khususnya bagi negara yang
mendapat kemerdekaan setelah perang dunia kedua. Dunia terbagi kedalam tiga

 Negara Core

 Negara Semi Pheriphery

 Negara Pheriphery

Merujuk pada Teori sistem dunia, negara pada level pinggiran juga bisa naik menuju Core,
China dan Jepang dan pula juga bisa terjadi negara yang berada pada level Core turun kelas,
umumnya terjadi pada negara – negara koloni, Belanda, Turki , Portugis dan sebagainya.

14
DAFTAR PUSTAKA

Buku

Huntington, Samuel. 1991. Gelombang Demokratisasi Ketiga. Grafiti Press. Jakarta

Pathways to Democracy oleh James F. Hollifield dan Calvin Jillson, Routledge, 2000

Sudarsono, Juwono.1982. Pembangunan Politik dan Perubahan Politik. Penerbit PT


Gramedia Jakarta.
Sukarna.1990. Pembangunan Politik. Penerbit Mandar Maju Bandung.
Yahya Muhaimin, dan Colin McAndrews.1995. Masalah-masalah Pembangunan
Politik. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Internet

http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_I

http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_II

http://aguzssudrazat.blogspot.com/2013/08/pembangunan-politik-lucian-pye.html

15