Anda di halaman 1dari 2

PELAYANAN HEMODIALISIS PASIEN

KASUS PROBABLE COVID-19

Nomor Revisi : Halaman :


Nomor Dokumen :
RUMAH SAKIT 00 1/2
UMUM DAERAH
PEMANGKAT

Ditetapkan
Tanggal Terbit : DIREKTUR
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

dr. ACHMAD HARDIN, Sp. PD, FINASIM,


NIP. 197409282002121003
PENGERTIAN 1. Kasus probable COVID-19 adalah seseorang yang memiliki salah
satu dari kriteria berikut
a. Seseorang yang memenuhi kriteria klinis (Demam akut (≥ 380
C)/riwayat demam* dan batuk;
ATAU
Terdapat 3 atau lebih gejala/tanda akut berikut:
demam/riwayat demam, batuk, kelelahan (fatigue), sakit kepala,
myalgia, nyeri tenggorokan, coryza/ pilek/ hidung tersumbat, sesak
nafas, anoreksia/mual/muntah, diare, penurunan kesadaran)
DAN
memiliki riwayat kontak erat dengan kasus probable; ATAU
terkonfirmasi; ATAU berkaitan dengan cluster COVID-
19.
b. Kasus suspek dengan gambaran radiologis sugestif ke arah
COVID-19.
c. Seseorang dengan gejala akut anosmia (hilangnya kemampuan
indra penciuman) atau ageusia (hilangnya kemampuan indra
perasa) dengan tidak ada penyebab lain yang dapat
diidentifikasi
d. Orang dewasa yang meninggal dengan distres pernapasan
DAN
memiliki riwayat kontak erat dengan kasus probable atau
terkonfirmasi, atau berkaitan dengan cluster COVID-19
2. APD (Alat Pelindung Diri) level 2 adalah alat pelindung diri yang
terdiri dari penutup kepala, goggle, masker N95, handschoen,
apron/gaun bedah, alas kaki.
3. Keadaan pasien memburuk:
 Gagal napas atau ancaman gagal napas
 Hemodinamik tidak stabil
 Penurunan kesadaran

Sebagai panduan pelayanan hemodialisis pasien kasus probable


TUJUAN
COVID-19.
Keputusan Direktur RSUD Pemangkat nomor….tahun…. tentang Panduan
KEBIJAKAN
Praktik Klinik COVID-19.
1. Pasien kasus probable COVID-19 yang memerlukan tindakan
hemodialisis dilakukan hemodialisis pada shift sore di mana
tidak ada pasien lain yang bukan probable atau terkonfirmasi
COVID-19.
2. Bila terdapat dua atau lebih pasien kasus probable COVID-19
yang memerlukan tindakan hemodialisis dilakukan hemodialisis
pada shift sore yang sama.
3. Dokter pelaksana dan perawat pelaksana menggunakan APD
level 2 selama sesi hemodialisis pada pasien kasus probable
COVID-19 .
4. Bila telah keluar hasil RT-PCR negatif atau hasil rapid antigen
SARS-CoV-2 negatif, maka pasien dapat dikembalikan pada
jadwal semula.
PROSEDUR 5. Bila selama hemodialisis, keadaan pasien memburuk, maka sesi
dialisis diakhiri, dilakukan tindakan penanganan kegawatan, dan
selanjutnya:
a. Bila pasien rawat jalan, maka masuk ke ruang rawat inap
melalui Instalasi Gawat Darurat.
b. Bila pasien rawat inap, maka Dokter pelaksana
mengonsulkan kepada Dokter Penanggung Jawab Pasien
untuk mendapat instruksi lanjutan.
6. Bila pasien kasus probable COVID-19 meninggal saat sesi
hemodialisis, maka dilakukan pemulasaraan di ruang
hemodialisis dengan berkoordinasi dengan Instalasi
Pemulasaraan Jenazah.
7. Setelah sesi dialisis berakhir, maka dilakukan disinfeksi ruang
hemodialisis.
1. Instalasi Gawat Darurat,
2. Instalasi Rawat Inap, ,
3. Instalasi Rawat Intensif,
UNIT TERKAIT
4. Ruang Isolasi,
5. Instalasi Pemulasaraan Jenazah,
6. Komite PPI